Posts tagged ‘hasan ali’

7 Oktober 2012

Kitab tentang Thoriqoh Shiddiqiyyah

oleh alifbraja

 

(1.)  Dalam kitab   “Tanwirul Qulub Fi Mu’amalati ‘allamil Ghuyub” karangan Syaih   Muhammad Amin Kurdi Al Arbili, pada bab “Faslun Fi Adaabil Murid Ma’a   Ikhwanihi” halaman 539 disebutkan demikian:
“Ketahuilah   bahwa sesungguhnya julukannya silsilah itu berbeda-beda, disebabkan   perbedaannya kurun waktu, silsilah dari sahabat Abu Bakar Shiddiq R.A sampai   kepada syaih Thoifur bin Isa Abi Yazied Al Busthomi dinamakan   SHIDDIQIYYAH.”  
Silsilah Thoriqoh   Shiddiqiyyah melalui Sahabat Salman Al Farisi sampai pada Syekh Muhammad Amin   Al Kurdi Al Irbil, dari Kitab Tanwirul Qulub.
Alloh Ta’ala.
Jibril ‘alaihi Salam.
Muhammad Rosululloh SAW.
Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A.
Salman Al Farisi R.A.
Qosim Bin Muhammad bin Abu        Bakar Ash-Shiddiq R.A.
Imam Ja’far Shodiq Siwa        Sayyidina Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq R.A. (Silsilah        ini dinamakan Thoriqoh Shiddiqiyyah)
Syaikh Abi Yasid Thifur bin        Isa bin Adam bin Sarusyan Al Busthomi.
Syaikh Abil Hasan Ali bin        Abi Ja’far Al Khorqoni.
Syaikh Abi Ali Al Fadlol        bin Muhammad Ath Thusi Al Farmadi.
Syaikh Abi Ya’qub Yusuf Al        Hamdani. ( Thoriqoh At Thoifuriyyah).
Syaikh Abdul Kholiq        Al-Ghojduwani Ibnul Imam Abdul Jalil.
Syaikh ‘Arif Arriwikari.
Syaikh Mahmud Al-Anjari        Faghnawi.
Syaikh Ali Ar Rumaitani Al        Mansyur Bil’Azizaani.
Syaikh Muhammad Baabas        Samaasi.
Syaikh Amir Kullaali Ibnu        Sayyid Hamzah, ( Thoriqoh Al Khuwaajikaaniyyah).
Syaikh Muhammad Baha’uddin        An-Naqsyabandi bin Muhammad bin Muhammad Syarif Al-Husain Al-Ausi        Al-Bukhori.
Syaikh Muhammad bin        ‘Alaaiddin Al Athori.
Syaikh Ya’qub Al Jarkhi, (        Dinamakan Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah).
Syaikh Nashiruddin        Ubaidillah Al-Ahror As-Samarqondi bin Mahmud bin Syihabuddin.
Syaikh Muhammad Azzaahid.
Syaikh Darwis Muhammad        As-Samarqondi.
Syaikh Muhammad        Al-Khowaajaki Al-Amkani As Samarqondi.
Asy-Syaikh Muhammad Albaaqi        Billah, (Disebut Thoriqoh Ahroriyyah).
Asy-Syaikh Ahmad Al Faruqi        As-Sirhindi.
Asy-Syaikh Muhammad        Ma’shum.
Asy-Syaikh Muhammad        Syaifuddien.
Asy-Syaikh Muhammad Nurul        Badwani.
Asy-Syaikh Habibulloh        Jaanijanaani Munthohir.
Asy-Syaikh Abdillah        Addahlawi, ( Thoriqoh Mujaddadiyyah).
Asy-Syaikh Kholid        Dliyaa’uddien.
Asy-Syaikh Utsman Sirojul        Millah.
Asy-Syaikh Umar Al-Qothbul        Irsyad.
Asy-Syaikh Muhammad Amin        Al-Kurdi Al-Irbil, ( Thoriqoh Kholidiyyah).
 
(2.)  Thoriqoh Shiddiqiyyah dalam Ensiklopedi Islam, penerbit PT. Ichtiar Van Hoeven (Jilid 5, hal. 67)

(3). THORIQOH SHIDDIQIYYAH Dalam buku “Hakekat Thoriqot Naqsabandiyah” (Penerbit PT. Al Hasan Dzikro, karangan H.A. Fu’ad Sa’id)
Di halaman  44 disebutkan sebagai berikut:
Periode antara ABUBAKAR SHIDDIQ sampai Syaikh THOIFUR BIN ABI YAZID BASTHOMI dinamakan “SHIDDIQIYYAH”
Periode antara Syaikh THOIFUR sampai KHOWAJAH Syaikh ABDUL KHOLIQ AL-FAJDUWANI dinamakan “THOIFURIYYAH”
Periode antara Syaikh ABDUL KHOLIQ AL-FAJDUWANI sampai Syaikh MUHAMMAD BAHA’UDDIN AL-HUSAIN AL UWASI AL BUKHORI dinamakan “KHUWAJIKANIYYAH”
Periode antara Syaikh  BAHA’UDDIN sampai Syaikh UBAIDILLAH AL AKHROR dinamakan “NAQSABANDIYYAH”
Periode antara Syaikh UBAIDILLAH AL AKHROR sampai Al Imam Robbani Syaikh AHMAD AL FARUQI dinamakan “AKHRORIYYAH”
Periode antara Syaikh AHMAD AL FARUQI sampai Maulana Syaikh KHOLID  dinamakan “MUJADDADIYYAH”
Periode antara Syaikh KHOLID sampai dewasa ini dinamakan “KHOLIDIYYAH”

 

 

Iklan
3 Oktober 2012

Penulis Risalah Tasawuf Tertua Dalam Bahasa Persia

oleh alifbraja
Syekh Hujwiry: Penulis Risalah Tasawuf Tertua Dalam Bahasa Persia
 
Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan ‘Ali ibn Utsman ibn Ali al-Ghaznawi Al-Jullabi al-Hujwiry. Di India beliau lebih dikenal sebagai “Data Ganj Bakhsh” (penyebar khazanah tanpa batas), julukan yang diberikan oleh Syekh Khwaja Mu’inuddin Chisti. Beliau sangat terkenal sebagai penulis risalah tasawuf tertua dalam bahasa Persia, yang diberi judul Kasyf al-Mahjub li Arbab al-Qulub. Beliau juga yang menjelaskan panjang lebar untuk doktrin fana di India untuk pertama kalinyanya. Beliau berpendapat bahwa makna sesungguhnya dari ajaran Islam bisa dijumpai dalam inti ajaran Tasawuf. Mengenai deskripsi Tasawuf, beliau mengutip pernyataan al-Junayd al-Baghdad:
Tasawuf didasarkan pada delapan sifat yang dicontohkan oleh delapan rasul: kedermawanan Ibrahim, yang mengorbankan putranya; kepasrahan Ismail, yang menyerahkan dirinya pada perintah Tuhan dan menyerahkan hidupnya; kesabaran Ayub, yang sabar menahan penderitaan penyakit borok dan kecemburuan dari Yang Maha Pemurah; perlambang Zakaria, yang menerima sabda Tuhan, “Kau tak akan bicara dengan manusia selama 3 hari kecuali dengan menggunakan lambang-lambangmu” (Q. S. 3: 36) dan “tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (Q. S. 19:2); keterasingan Yahya, yang terasing di negerinya sendiri dan di tengah kaumnya sendiri; perjalanan ruhani Isa, yang meninggalkan benda duniawi sehingga ia hanya menggunakan sebuah cangkir dan sebuah sisir – bahkan cangkir itu dibuangnya ketika melihat seseorang minum dengan telapak tangannya, dan dibuang pula sisirnya ketika dia melihat seseorang menyisir dengan jemarinya; jubah wool Musa; dan kefakiran Muhammad, yang dianugerahi kunci segala harta yang ada di muka bumi, di mana Allah bersabda, “Jangan menyusahkan diri sendiri, tetapi nikmati kemewahan ini,” namun Rasulullah menjawab, “Ya Allah, hamba tidak menghendakinya; biarkan hamba sehari kenyang dan sehari lapar.”
Meski terkenal, namun tidak banyak yang diketahui tentang kehidupannya. Beliau dilahirkan di Ghazna, Afghanistan, sekitar tahun 1000 M. Diperkirakan beliau pernah mengembara dari Syria hingga Turkistan, dan dari Lembah Hindus sampai ke Laut Kaspia. Sepanjang perjalanannya ini dia bertemu dengan banyak sufi dan wali Allah. Tempat-tempat yang disinggahinya terutama adalah Azerbaijan, makam Syekh Abu Yazid al-Bisthami, Damaskus, Ramalah, Bayt al-Jinn di Syria, Thus, makam Abu Sa’id ibn Abd al-Khayr di Mihna dan Jabal al-Buttam. Menurut keterangan, beliau pernah menikah meski usia perkawinannya tidak lama. Beliau berguru terutama kepada Syekh Abu al-Fadhl Muhammad ibn al-Hasan al-Khuttali, Syekh Abu al-Qasim al-Gurgani (seorang mursyid tarekat Naqsyabandiyah) dan Khwaja Muzhaffar.
Gurunya meminta beliau bermukim di Lahore. Pada awalnya beliau tidak mau karena di sana telah ada Syekh Hasan Zanjani. Tetapi karenanya dipaksa beliau akhirnya pergi ke Lahore. Sesampainya di sana beliau menyaksikan pemakaman Syekh Hasan Zanjani. Akhirnya beliau menetap di dekat Bhati, Lahore. Beliau meninggal sekitar tahun 1063 atau 1064 (456 H) atau 1071 (465 H). Makamnya menjadi salah satu makam keramat yang tenar. Banyak wali-wali besar India yang menziarahi makamnya, termasuk Syekh Mu’inuddin Chisti, sesepuh Tarekat Chistiyah, yang melakukan khalwat dan disiplin riyadhah berat di makam Syekh al-Hujwiry. Bahkan selama beberapa abad kemudian sudah menjadi kelaziman bagi para Sufi yang masuk ke wilayah India dari barat laut untuk mengunjungi makam ini dengan maksud meminta “izin” dan berkah.
Meski banyak menulis risalah, namun tidak banyak yang tersisa, seperti Minhaj al-Din (tentang metode Tasawuf), Asrar al-Khirqa wa al-Ma’unat, Kitab al-bayan li ahl al-Iyan, Bahr al-Qulub, Al-Ri’ayat li-Huquq Allah dan Kitab-i fana u baqa. Untungnya kitab Kasyf al-Mahjub masih lestari dan menjadi rujukan penting bagi generasi Sufi selanjutnya, terutama di kawasan India dan sekitarnya. Menurut al-Hujwiry, tujuannya menulis kitab ini adalah untuk mengemukakan sebuah “sistem” tasawuf yang komprehensif, jadi bukan sekedar menghimpun sejumlah besar ujaran Syekh Sufi dan Wali Allah. Beliau menjelaskan banyak doktrin dan praktik Sufi. Bab yang amat mengagumkan dalam Kasyaf al-Mahjub adalah bab yang membahas “Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab Sufi,” di mana beliau mencantumkan 12 mazhab tasawuf dan menguraikan doktrin-doktrin khususnya.

 

%d blogger menyukai ini: