Posts tagged ‘Kata’

28 Oktober 2012

Rahasia dibalik Dzikir Jahar

oleh alifbraja

Hingga kini, masih banyak orang yang under estimate, merasa tidak mempercayai dengan dalil suudzon dan syak wasangka, apakah benar ada yang dinamakan dzikir jahar atau dzikir keras. Kebanyakan dari mereka, mengira bahwa yang dinamakan dzikir keras itu sesuatu yang tidak ada riwayat dari Rasulnya. Benarkah?

Sebagai ilustrasi, sebagaimana orang bijak pernah berkata, bahwa manusia akan dikumpulkan dengan orang yang disukainya. Jika ia mencintai musik, maka ia akan berkumpul dengan para pecinta musik. Jika ia mencintai hobi motor cross misalnya, maka ia akan berkumpul dengan mereka yang mencitai hobi yang sama. Tidak perduli dengan suara bising dan dentuman musik yang menjadi-jadi. Bagi mereka yang penting adalah mencari kenikmatan.

Ya, begitulah bahwa manusia akan dikumpulkan bersama dengan orang yang memiliki hobi dan minat yang sama. Demikian juga dengan dzikir, atau bagi mereka yang menyukai dzikir. Timbulnya pertanyaan, benarkah ada dzikir jahar, ialah keluar dari mereka yang memang belum mencintai apa itu dzikir jahar. Padahal, Allah sendiri adalah firman-Nya menyatakan bahwa orang yang beriman yang memiliki hati suci, jika mendengar dzikir akan tersentuh dan gemetar hatinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” (QS. Al Anfal ayat 2).

Dalam ayat ini, Allah memberi isyarat bahwa mereka yang beriman tidak akan merasa resah tetapi akan tersentuh hati dan jiwanya jika mendengarkan dzikir. Dari ayat ini yang menjadi titik tekan adalah dalam kata dzukiro, yang berarti dzikir itu dibacakan. Berarti orang yang beriman itu mendengar bacaan dzikir, lalu mereka bergetar hatinya. Kemudian, kita bisa menyimpulkan bahwa apa pun yang bisa didengar atau terdengar itu adalah suara yang dinyaringkan atau dikeraskan. Berarti dzikir dalam ayat tersebut adalah dzikir jahar atau dzikir yang dinyaringkan. Untuk lebih jelasnya, maka kita uraikan satu per satu ayat Al Quran dan Hadits yang menerangkan tentang dzikir jahar.

 

HUKUM DZIKIR KERAS (JAHAR) DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITSHUKUM DZIKIR JAHAR DALAM AQUR’AN

 

– 1. Q.S. AL-‘AROF AYAT 204 :

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat .”

 

Penjelasan ayat ini bukan menunjukan dzikir dalam hati tapi dzikir yang terdengar atau dzikir keras. Namun, Ayat di atas seakan bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits yang lain tentang anjuran untuk berdzikir dalam hati seperti Q.S.Al-‘Arof ayat 205: “Sebutlah nama Allah di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tidak dengan suara yang keras dari pagi sampai petang, Dan janganlah dirimu menjadi golongan yang lupa (lalai).”

Sebenarnya Ayat 205 ini tidaklah bertentangan dengan ayat 204 yang menunjukan akan diperintahkannya dzikir jahar. Dan ayat 205 ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang dzikir keras karena akan bertentangan dengan dzikir yang telah umum yang biasa dibaca dengan suara keras, seperti takbiran, adzan, membaca talbiyah ketika pelaksanakan haji, membaca al-qur’an dengan dikeraskan atau dilagukan, membaca sholawat dangan suara keras dan lain-lain. Hanya saja, Q.S Al’Arof ayat 205 ini hanya menjelaskan tentang dzikir yang tidak memakai gerak lidah yaitu dzikir dalam hati atau khofi. Jadi penjelasan Ayat 205 ini menunjukan, bagaimanapun bentuknya dzikir jika dibaca dalam hati pasti tidak akan mengeluarkan suara karena dzikirnya sudah menggunakan hati, bahkan sudah tidak menggunakan gerak lidah.

Kesimpulan dari dua ayat itu, Allah menunjukan adanya perintah dibolehkannya berdzikir dengan jahar (keras) maupun dzikir dalam hati (khofi) yang tidak memakai gerak lidah.

 

 

 

– 2. Q.S.AL-BAQOROH AYAT 200 :

“Apabila engkau telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menywebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau bahkan berdzikirlah lebih (nyaring dan banyak) daripada itu.”

Menurut Ibnu Katsir, latar belakang turunnya ayat ini ialah kebiasaan bangsa Arab, baik suku quraisy maupun lainnya pada musim haji mereka biasanya berkumpul di Mudzalifah setelah wukuf di Arafah. Disitu mereka membanggakan kebesaran nenek moyang mereka dengan cara menyebut-nyebut kebesaran nenek moyang mereka itu dalam pidato mereka. Ketika telah memeluk agama Islam, Nabi memerintahkan mereka hadir di Arafah untuk wukuf kemudian menuju mudzdalifah. Setelah mabit di mudzdalifah mereka diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu dengan tidak menunjukan perbedaan diantara mereka (dengan cara menyebut kebesaran nenek moyang) seperti yang mereka lakukan pada masa pra Islam.

Berbeda dengan Ibnu Katsir, yaitu Mahmud Hijazi menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, bila kamu selesai mengerjakan haji maka berdzikirlah kepada Tuhanmu dengan baik (dengan cara menyebut-nyebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu sewaktu kamu jahiliyah atau sebutlah nama Allah itu lebih keras daripada kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu itu. Begitu pun penafsiran Ibnu Abbas, seperti terdapat dalam kitab Tanwir al Miqbas ketika menafsirkan kata aw asyadda dzikro yang berarti menyebut Allah dengan mengatakan “Ya Abba” seperti menyebut nenek moyang “Ya Allah”.

Dua pendapat mufasir di atas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa menyebut nama Allah dalam pengertian dzikrullah dianjurkan setelah menunaikan ibadah haji,. Dzikrullah tersebut dikerjakan dengan suara keras, bahkan boleh dengan suara yang lebih keras daripada suara jahiliyah tatkala mereka menyebut nama nenek moyang mereka ketika berhaji.

 

 

 

 

 

– 3. Q.S. AL-BAQOROH AYAT 114 :

“ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalangi-halangi menyebut nama Allah di dalam mesjid-mesjid-Nya ..”

 

– 4. Q.S. AN-NUR AYAT 36 :

Didalam semua rumah Allah diijinkan meninggikan (mengagungkan) suara untuk berdzikir dengan menyebut nama-Nya dalam mensucikan-Nya sepanjang pagi dan petang.”

 

– 5. Dan lain-lain

 

HUKUM DZIKIR JAHAR MENURUT HADITS ROSUL

 

HADITS KE SATU

Dalam Kitab Bukhori jilid 1:

Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas ra., berkata: “Inna rof’ash shauti bidzdzikri hiina yanshorifunnaasu minal maktuubati kaana ‘ala ‘ahdi Rosuulillaahi sholallaahu alaihi wasallam kuntu ‘alamu idzaanshorrofuu bidzaalika sami’tuhu.” Artinya :“Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir setelah manusia-manusia selesai dari sholat fardlu yang lima waktu benar-benar terjadi pada zaman Nabi Saw. Saya (ibnu Abbas) mengetahui para sahabat melakukan hal itu karena saya mendengarnya .”

Selanjutnya dalam hadits :“Suara yang keras dalam berdzikir bersama-sama pada waktu tertentu atau ba’da waktu sholat fardhu, akan berbekas dalam menyingkap hijab, menghasilkan nur dzikir” (HR. Bukhari).

 

 

– HADITS KE DUA

Dari Abu Khurairah ra, katanya Rasulullah bersabda: “Allah berfirman; ‘Aku berada di dalam sangkaan hamba-Ku tentang diri-Ku, Aku menyertainya ketika dia menyebut-Ku, jika dia menyebut-Ku kepada dirinya, maka Aku menyebutnya kepda diri-Ku. Maka jika menyebut-tu di depan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik daripada mereka” (HR. Bukhari). Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut ‘di depan orang banyak’, berarti dzikir tersebut dilakukan secara jahar.

 

– HADITS KE TIGA

Diriwayatkan di dalam Al Mustadrak dan dianggap saheh, dari Jabir ra. berkata: “Rasulullah keluar menjumpai kami dan bersabda: ‘Wahai saudara-saudara, Allah memiliki malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis-majlis dzikir di dunia. Maka penuhilah taman-taman syurga’. Mereka bertanya:’Dimanakah taman-taman syurga itu?’. Rasulullah menjawab: ‘Majlis-majlis dzikir.’ Kunjungilah dan hiburlah diri dengan dzikir kepada Allah” (HR. Al Badzar dan Al Hakim).

Penjelasan hadits ini, bahwa dalam kalimat ‘malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis dzikir di dunia’ maksudnya berarti dzikir dalam hal ini adalah dzikir jahar yang dilakukan manusia. Karena malaikat hanya mengetahui dzikir jahar dan tidak mampu mengetahui dzikir khofi. Hal ini sebagaimana sabda Rasul: “Adapun dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat yakni dzikir khofi atau dzikir dalam hati yakni dzikir yang memiliki keutamaan 70x lipat dari dzikir yang diucapkan” (HR. Imam Baihaqi dalam Kitab Tanwirul Qulub hal.509).

 

 

– HADITS KE EMPAT

Hadits yang dishohehkan oleh An Nasai dan Ibdu Majjah dari As Sa’ib dari Rasululah SAW, beliau bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘Perintahkanlah kepada sahabat-sahabatmu untuk mengeraskan suaranya di dalam takbir”(HR. Imam Ahmad Abu Daud At Tirmidzi).

Penjelasan hadits ini, bahwa sangat jelas tidak dilarangnya dzikir keras tetapi dianjurkan untuk melakukan dzikir jahar.

 

– HADITS KE LIMA

Didalam kitab Sya’bil Iman dari Abil Jauza’ ra. berkata :“Nabi Saw, bersabda, “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” (H.R.Baihaqi)

Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut “orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” Hadits ini menunjukan dzikir jahar karena dengan dzikir jahar (terdengar) itulah orang munafik akhirnya menyebutnya ria .

 

– HADIITS KE ENAM

Juga dalam kitab Sya’bil Iman yang di shohehkan oleh Al-Hakim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., berkata :“Nabi Saw, bersabda,” Perbanyaklah dzikir kepada Allah kendati kalian dikatakan gila”. (H.R.Al-Hakim danAl-Baihaqi)

 

– HADITS KE TUJUH,

Dari Jabir bin Abdullahra, berkata :“Ada seorang yang mengeraskan suaranya dalam berdzikir, maka seorang berkata, “ semestinya dia merendahkan suaranya.” Rosulullah bersabda,” Biarkanlah dia,sebab sesungguhnya dia adalah lebih baik.“ (Al-Baihaqi). Dari Sa’id bin Aslam ra., katanya Ibnu Adra’ berkata, “ Aku menyertai Nabi Saw. Pada suatu malam, lalu melewati seseorang di mesjid yang mengeraskan suaranya, lalu aku berkata, “ Wahai Rosulullah, tidaklah ia termasuk orang ria ? “ Beliau menjawab, “ Tidak,tetapi dia pengeluh,” (H.R.Baihaqi).

 

 

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG DZIKIR JAHAR

Imam An-Nawawi berkata : Bahwa bacaan dzikir sir (samar) lebih utama apabila takut ria, atau khawatir mengganggu orang yang sedang sholat atau tidur. Sedangkan yang jahar (dzikir keras) lebih baik apabila tidak ada kekhawatiran tentang hal ini, mengingat amalan di dalamnya lebih banyak manfaatnya, karena ia dapat membangkitkan kalbu orang yang membaca atau yang berdzikir, ia mengumpulkan semangat untuk berfikir, mengalahkan pendengaran kepadanya, mengusir tidur, dan menambah kegiatan” (dalam Kitab Haqiqot Al-Tawwasulu wa Al-Wasilat Al-Adlow’il kitabi wa As-Sunnah).

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih didalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang kepada Allah yang telah menjadikan hati jadi keras bagaikan batu, penghalangnya yaitu seperti sipat malas, sombong, ria, iri dengki dan sebagainya)

Imam Al-Ghozali r.a. mengatakan: “Sunnat dzikir keras (jahar) diberjemaahkan di mesjid karena dengan banyak suara keras akan memudahkan cepat hancurnya hati yang keras bagaikan batu, seperti satu batu dipukul oleh orang banyak maka akan cepat hancur”.

 

KENAPA MESTI DZIKIR KERAS?

Ulama ahli ma’rifat mengatakan bahwa untuk mencapai ma’rifat kepada Allah bisa diperoleh dengan kebeningan hati. Sedangkan kebeningan hati itu bisa dicapai dengan suatu thoriqoh (cara), diantaranya banyak berdzikir kepada Allah. Jadi, ma’rifattidak akan bisa diperoleh jika hati kita busuk penuh dengan kesombongan, ria, takabur, iri dengki, dendam, pemarah, malas beribadah dan lain-lain. Oleh sebab itu dzikir diantara salah satu cara (thiriqoh) untuk membersihkan hati.

Sebab, manusia sering menyalahgunakan fitrah yang diberikan Tuhan, sehingga hati mereka menjadi keras. Sifat-sifat yang tidak terpuji tersebut, mendorong manusia memiliki hati yang keras melebihi batu. Hal tersebut sebagaimana kalimat yang tercantum dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 74: “tsumma qosat quluubukum minba’di dzaalika fahiya kal hijaaroti aw asyaddu qoswatun”, artinya “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu,bahkan lebih keras lagi”.Dari ayat tersebut hati manusia yang membangkang terhadap Allah menjadikan hatinya keras bagaikan batu bahkan lebih keras daripada batu.

Maka, jalan keluarnya untuk melembutkan hati yang telah keras bagaikan batu sehingga kembali tunduk kepada Allah, sebagaimana Ulama ahli ma’rifat mengatakan penafsirkan ayat tersebut, sebagaimana dalam kitab miftahu Ash-Sshudur karya Sulthon Awliya Assayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “fakamaa annal hajaro laa yankasiru illa biquwwatin dlorbil muawwil fakadzaalikal qolbu laayankasiru illa biquwwati ”, artinya “sebagaimana batu tidak pecah kecuali bila dipukul dengan tenaga penuh pukulan palunya, demikian hati yang membatu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan kuatnya suara dzikir. “liannadz dzikro laa yu’tsiru fiijam’i tsanaati qolbi shohibihi illa biquwwatin”, artinya “ Demikian pula dzikir tak akan memberi dampak dalam menghimpun fokus hati pendzikirnya yang terpecah pada Allah kecuali dengan suara keras”.

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih di dalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang yang akan menghalangi kita dekat kepada Allah, seperti sifat-sifat jelek manusia: iri, dengki, sombong, takabur,dll yang disumberkan oleh hati yang keras).

 

CARA BERDZIKIR DENGAN KERAS YANG DIAJARKAN ROSUL

Dalam hadits shohihnya, dari Yusuf Al-Kaorani : “Sesungguhnya Sayyidina ‘Ali r.a. telah bertanya pada Nabi Saw. : Wahai Rosulullah, tunjukkanlah kepadaku macam-macam thoriqot (jalan) yang paling dekat menuju Allah dan yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama di sisi Allah, maka Nabi Saw menjawab: wajiblah atas kamu mendawamkan dzikkrullah: Sayyidina ‘Ali r.a bertanya lagi: Bagaimana cara berdzikirnya ya Rosulallah? Maka Nabi menjawab: pejamkan kedua matamu, dan dengarkan (ucapan) dariku tiga kali, kemudian ucapkan olehmu tiga kali, dan aku akan mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali sambil memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sedangkan Sayyidina ‘Ali r.a mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali, sedangkan Nabi Saw memdengarkannya”. (Hadits dengan sanad sahih, dalam kitab Jami’ul Ushul Auliya)

 

Dalam kitab Tanwirul Quluub dijelaskan cara gerakan dzikir agar terjaga dari datangnya Syetan, merujuk Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al’Arof ayat 17: “Demi Allah (kami Syetan) akan datang kepada manusia melalui arah depan, arah belakang, arah kanan dan arah kiri”. Ayat ini menunjukan arah datangnya syetan untuk menggoda manusia agar menjadi ingkar terhadap Allah. Jelas, sasarannya manusia melalui empat arah; 1. Depan 2.Belakang 3.Kanan 4.Kiri.Maka, dzikirnya pun harus menutup empat arah. Dalam kitab Tanwirul Qulub: ucapkan kalimat “LAA” dengan diarahkan dari bawah pusat tarik sampai otak hal ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah depan dan belakang. Adapun ditarik kalimat itu ke otak karena syetan mengganggu otak/pikiran kita sehingga banyak pikiran kotor atau selalu suuddzon. Dan “ILAA” dengan diarahkan ke susu kanan atas, dan kalimat “HA” diarahkan ke arah susu kanan bagian bawah adapun ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah kanan. Dan “ILLALLAH” diarahkan ke susu kiri yang bagian atas serta bawahnya, hal ini untuk menutup pintu syetan yang datangnya dari arah kiri, namun lapadz jalalah yaitu lapadz “ALLAAH”nya diarahkan dengan agak keras ke susu kiri bagian bawah sekitar dua jari, karena disanalah letaknya jantung atau hati (keras bagaikan batu) sebagaimana pendapat Imam Al-ghozali.

Syarat berdzikir menurut para Ulama Tasawuf:

1. Dengan berwudlu sempurna

2. Dengan suara kuat/ keras

3. Dengan pukulan yang tepat ke hati sanubari

 

 

 

MANA YANG PALING UTAMA, DZIKIR KERAS (JAHAR) ATAU DZIKIR HATI (KHOFI)?

Dalam kitab ulfatu mutabarikin dan kitab makanatu Adz-dzikri bahwasanya Rosul pernah bersabda: “sebaik-baik dzikir adalah dalam hati”. Dalam kitab tersebut dijelaskan hal itu bagi orang yang telah mencapai kelembutan bersama Allah, hati bersih dari penyakit, hati yang sudah lembut. Sedangkan dzikir keras itu lebih utama bagi orang yang hatinya keras bagaikan batu, sehingga sulit untuk tunduk pada perintah Allah karena sudah dikuasai oleh nafsunya.

Dalam kitab Miftahu Ash-Shudur karya Sulthon Auliya As-Sayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “ Sulthon Awliya As-Sayyid Syekh Abu A-Mawahib Asy-Syadzili r.a. berkata: “Para ulama toriqoh berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama, apakah dzikir sir (hati) atau dzikir jahar (keras), menurut pendapat saya bahwa dzikir jahar lebih utama bagi pendzikir tingkat pemula (bidayah) yang memang hanya dapat meraih dampak dzikir dengan suara keras dan bahwa dzikir sir (pelan) lebih utama bagi pendzikir tingkat akhir (nihayah) yang telah meraih Al-Jam’iyyah (keteguhan hati kepada Allah)” .

Imam Bukhori, dalam kitab Sahihnya bab dzikir setelah salat fardlu, berkata: “ Ishaq ibnu Nasr memberitahu kami, dia berkata’Amru memberitahu saya bahwa Abu Ma’bad, pelayan Ibnu Abbas, semoga Allah meridloi keduanya, memberitahu Ibnu Abbas bahwa “Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jama’ah selesai dan shalat fardlu sudah biasa dilakukan pada masa Nabi Muhammad. Ibnu Abbas berkata: “Aku tahu hal itu, saat mereka selesai shalat karena aku mendengarnya”. Sayyid Ahmad Qusyayi. Q.s., berkata: ”inilah dalil keutamaan dzikir keras (jahar) yang didengar orang lain, dengan demikian ia membuat orang lain berdzikir kepada Allah dengan dzikirnya kepada Allah“.

 

DZIKIR KERAS MERESAHKAN?

Dzikir keras tidak akan meresahkan atau mengganggu orang yang hatinya penuh dengan cinta kepada Allah. Dengan terdengarnya dzikir menjadi magnet (daya tarik) yang kuat bagi orang yang beriman, bahkan menjadi kenikmatan tersendiri. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an QS.Al-Anfal ayat 2 :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” .

 

ALLAH TIDAK TULI

Ada anekdot dari seorang Ulama Tasawuf pengamal thoriqoh: suatu hari ada dialog antara mahasiswi dan ulama tasawuf. Mahasiswi bertanya: “Pak Kiai, kenapa dzikir mesti keras (jahar) padahal Allah itu tidak tuli?”. Ulama Tasawuf menjawab dengan membalikan pertanyaan: “yang bisa kena sifat tuli itu yang memiliki telinga atau tidak?”. Mahasiswi menjawab: “iya yang punya telinga”. Ulama Tasawuf kembali bertanya: “Kalau Allah punya telinga tidak?”. Mahasiswi menjawab: “tidak punya”. Ulama tasawuf kembali bertanya lagi: “apakah dengan suara keras makhluk akan merusak pendengaran Allah?”. Mahasiswi menjawab: “tidak Pak Kiai”.

Selanjutnya Ulama Tasawuf mengatakan: “oleh sebab itu istighfarlah dan bersyahadatlah dengan baik, bagaimanapun Allah tidak akan tuli dan tidak akan rusak pendengaran-Nya oleh suara kerasnya makhluk. Bagi-Nya suara keras maupun pelan terdengar oleh Allah sama. Hanya saja, hati manusia yang tuli akan perintah Allah. Jadi, dzikir keras bukan untuk Allah dan bukan ingin didengar oleh Allah karena Allah sudah tahu. Tapi tujuan dzikir keras itu diarahkan untuk hati yang tuli kepada Allah yang keras bagaikan batu sedangkan kita tahu batu itu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan yang kuat, begitupun hati yang keras bagaikan batu tidak akan hancur kecuali dengan suara pukulan dzikir yang kuat. Jadi, Allah tidak butuh akan dzikir kita, sebaliknya kitalah yang butuh akan dzikir kepada Allah supaya hati menjadi lembut, bersih dan ma’rifat kepada Allah.

24 Oktober 2012

TEMPAT-TEMPAT YANG TERDAPAT DI ‘ALAM LANGIT

oleh alifbraja

TEMPAT  YANG TERDAPAT DI ‘ALAM LANGIT?…


JARAK ANTARA BUMI KE LANGIT DUNYA ADALAH LIMA RATUS TAHUN PERJALANAN; AND JARAK ANTARA LANGIT KE LANGIT YANG LAIN ADALAH LIMA RATUS TAHUN; AND JARAK ANTARA LAPISAN LANGIT YANG KETUJUH KE KURSIY ALLAH ADALAH LIMA RATUS TAHUN PERJALANAN; AND JARAK ANTARA KURSIY ALLAH KE AIR ADALAH LIMA RATUS TAHUN PERJALANAN; AND JARAK ANTARA AIR KE 'ARSY ALLAH ADALAH LIMA RATUS TAHUN PERJALANAN; AND ALLAH TA'ALA SANG TUHAN SEMESTA 'ALAM ADA DI ATAS 'ARSY!

ANTARIKSA!

Wahai para pembaca yang Budiman, sesungguhnya langit itu adalah tempat yang benar-benar luas dan bahkan selalu melebar dan meluas sesuai dengan firman-Nya!
Allah Ta’ala berfirman: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya!”. (Qs Adz-Dzariyat: 47).
Namun ketahuilah!, di atas ke tujuh lapisan langit itu ternyata masih ada tempat-tempat lain and ‘alam-’alam lain selain ‘alam langit, yaitu: Mustawa; Sharirul Aqlam; Hadhratul Qudus; Hadhratul Rabbul Arbab; Sidratul Muntaha; Baitul Makmur; Lauhul Mahfudz; Ma’arij; Kursiy; Air; dan ‘Arsy.
.

KITAB SUCI AL-QUR'AN!

– Dalil-dalil seputar Kursiy; Air; dan ‘Arsy!
Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Rahman, Yang bersemayam di atas ‘Arsy!”. (Qs Thaha: 5).
Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?…”. (Qs As-Sajdah: 4).
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): ‘Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati’, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’!”. (Qs Hud: 7).
Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar!”. (Qs Al-Baqarah: 255).
Nabi Muhammad Rasulullah Saw bersabda: “Arsy itu di atas air, sedangkan Allah di atas ‘Arsy dan Dia mengetahui apa yang kamu di atasnya!”. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud).
“Jadi ‘Arsy adalah sebuah tempat persemayaman Allah yang berada di atas air. Maksudnya adalah langit yang sering Anda lihat ternyata bertingkat-tingkat hingga mencapai tingkat yang ke tujuh dan tiap tingkat langit mempunyai pintu kemudian diatas langit ke tujuh itu ada kursiy dan diatas kursiy itu ada air dan diatas air itu ada ‘Arsy Allah Azza Wajjalla (singgasana Allah). Sebuah hal yang sangat mengagumkan, bahwa jarak antara langit dengan langit yang lain; dan langit ke tujuh dengan kursiy, kursiy dengan air; dan air dengan ‘arsy-Nya adalah 500 tahun perjalanan!”. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Khuzaimah; Thabrani; dan Ibnu Mahdi).
Dari Jabir bin ‘Abdillah Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Telah dizinkan kepadaku untuk bercerita tentang seorang dari Malaikat-Malaikat Allah azza wajalla yang bertugas sebagai pemikul ‘Arsy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh perjalanan 700 tahun. (Didalam riwayat lain: 700 tahun burung terbang dengan cepat)!”. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud).
Dari Sa’id bin Jubair; Dari Ibnu Abbas Ra, dia menerangkan tentang ayaat tersebut: “Kursiy ialah tempat meletakkan kaki Allah…!”. (Hadits Shahih didalam Kitab Silsilah ahaadits ash-shahiihah dari shahabat Abu Dzar Al-Ghifari Ra).
Dan Kursiy adalah Makhluk Allah (ciptaan Allah). Kata “Kursiy” tidak boleh ditafsirkan sebagai “Ilmu Allah” sehingga maknanya menjadi “Ilmu-Nya meliputi langit dan bumi” dan ini adalah penafsiran yang salah sebagaimana yang telah dijelaskan secara ringkas oleh Syaikh Fauzan -semoga Allah menjaganya- (beliau adalah seorang ulama besar di Arab Saudi) didalam syarah beliau terhadap kitab Al-Aqidah Thahawiyah karya Abu Ja’far ath Thahawi -semoga Allah merahmatinya-.
Jadi, “Kursiy Allah” adalah tempat dimana Allah Swt meletakkan kaki-Nya. Dan ini menjadi dalil bahwa Allah Swt mempunyai kaki, akan tetapi kaki Allah Swt tidak sama dengan kaki Anda atau saya atau kaki-kaki makhluk lainnya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman dalam surah Asy-Syura ayaat 11 yang artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…!”.
.

LANGIT DUNYA!

– Dalil-dalil mengenai jarak antara bumi ke langit dan langit ke langit yang lain dan langit yang ketujuh ke ‘alam lain!

Dari Abbas bin Abdul Muththalib ra, “Rasulullah SAW bertanya,’Apakah kalian mengetahui berapa jarak antara langit dengan bumi?’ Kami menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui hal itu!’ Rasulullah Saw bersabda: ‘Jarak antara keduanya adalah lima ratus tahun perjalanan, dan antara langit yang satu dengan langit yang lainnya itu lima ratus tahun perjalanan, dan tebal setiap langit adalah lima ratus tahun perjalanan!”. (Hadits Riwayat Ahmad; Abu Dawud; dan Tirmidzi).
Didalam riwayat lainnya dari sanad yang lain: “Antara langit dan bumi adalah lima ratus tahun perjalanan dan tebal setiap langit itu lima ratus tahun perjalanan!”. (Hadits Riwayat Thabrani).
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Antara langit dengan langit di atasnya adalah lima ratus tahun perjalanan, dan jarak antara langit dengan bumi adalah lima ratus tahun perjalanan, antara langit yang ke tujuh dengan kursiy adalah lima ratus tahun perjalanan, antara Kursiy dengan air adalah lima ratus tahun perjalanan, dan ‘Arsy berada di atas air, dan Allah berada di atas ‘Arsy. Tidak ada satupun dari amal perbuatan kalian yang tersamar dihadapan-Nya!”. (Hadits Riwayat Darimi; Ibnu Khuzaimah; Thabrani; Baihaqi; dan Al-Khathib).
.

GALAKSI SPIRAL!

– Penjelasan mengenai adanya Sharirul Aqlam; Hadhratul Qudus; Hadhratul Rabbul Arbab; Mustawa; Baitul Makmur; dan Sidratul Muntaha!
“Setelah Abu Thalib dan Khadijah yang menjadi pelindung naiknya kedudukan Rasulullah Saw di Mekkah itu semakin terdesak dengan gangguan terus-menerus oleh kaum Kuraisy. Dalam kesedihan yang amat sangat, suatu malam pada tahun 621 Masehi ketika Rasulullah berada di rumah saudara sepupu nya, Hindun Abu Talib, Baginda telah didatangi oleh Malaikat Jibril dengan diiringi Israfil lalu diisra’kan menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Madinah, Bukit Tursina, Baitul Laham dan berakhir di Masjidil Aqsa. Dari Masjidil Aqsa, Rasulullah Saw dimikrajkan ke langit dengan menaiki tangga yang diturunkan daripada Jannah (Syurga) ke Baitul Makmur (betul-betul di atas Baitullah, Mekkah); Sidratul Muntaha; Mustawa; Sharirul Aqlam; Hadhratul Qudus; dan Hadhratul Rabbul Arbab, dan disanalah Beliau Saw bertemu dan berdailog dengan Allah Swt!”. (Sirah Rasulullah Saw).
Lantas apakah yang dimaksud dengan Baitul Makmur; Mustawa; Sidratul Muntaha; Sharirul Aqlam; Hadhratul Qudus; dan juga Hadhratul Rabbul Arbab?…
– Baitul Makmur = Secara bahasa artinya adalah rumah yang sering dikunjungi. Baitul Makmur adalah sebuah tempat yang terletak di atas langit yang ke tujuh, dan sesungguhnya Baitul Makmur adalah kiblat bagi para malaikat Allah. Di langit yang ke tujuh Nabi Ibrahim As pun bersandar ke suatu tempat, dan tempat yang disandari oleh Nabi Ibrahim As tersebut adalah Baitul Makmur. Di tempat inilah Rasulullah Saw melaksanakan sholat.
– Mustawa = Mustawa adalah suatu tempat yang mahatinggi lagi mahaluas dan sangat terang bercahaya. Di tempat itu, Rasulullah Saw mendengar suara Qalam, yang bergerak-gerak di atas Lauhul Mahfuzh.
– Sharirul Aqlam = Sharirul Aqlam artinya adalah Dencitan Qalam (Dencitan firman Allah). Sharirul Aqlam adalah sebuah tempat yang berada di atas langit yang ke tujuh, dan tempat ini pernah dilalui oleh Rasulullah Saw ketika Beliau Saw berMi’raj ke atas langit yang ketujuh.
– Hadhratul Qudus = Hadhratul Qudus artinya adalah Kepada kesucian. Hadhratul Qudus adalah sebuah tempat yang berada di atas langit yang ke tujuh, dan tempat ini pernah dilalui oleh Rasulullah Saw ketika Beliau Saw berMi’raj ke atas langit yang ketujuh.
– Hadhratul Rabbul Arbab = Hadrhrat Rabbul Arbab adalah Kepada Tuhan dari segala Tuhan. Hadhratul Rabbul Arbab adalah sebuah tempat yang berada di atas langit yang ke tujuh, dan tempat ini pernah dilalui oleh Rasulullah Saw ketika Beliau Saw berMi’raj ke atas langit yang ketujuh. Di lokasi inilah Rasulullah Saw berdialog dengan Allah Ta’ala sang Tuhan semesta ‘alam.
– Sidratul Muntaha = Secara bahasa artinya adalah pohon bidara. Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon bidara yang menandai akhir dari langit yang ke tujuh, sebuah batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya.
.

LANGIT AND BUMI!

– Dalil mengenai Lauhul Mahfudz!
Allah Ta’ala berfirman: “Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) didalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)!”. (Qs An-Naml: 75).
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu didalam induk Al-Kitab (Lauhul Mahfudz) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah!”. (Qs Az-Zukhruf: 4).
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat) (Kitab Lauhul Mahfudz)!”. (Qaf: 4).
Lauhul Mahfudz adalah kitab Allah yang terdapat di atas langit yang ke tujuh. Kitab Lauhul Mahfudz adalah tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/catatan kejadian di alam semesta dan di kosmos ini dari dulu hingga seterusnya.
.

QS AL-MA'ARIJ!

– Dalil mengenai Ma’arij!
Allah Ta’ala berfirman: “(Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai Ma’arij (tempat-tempat naik)!”. (Qs Al-Ma’arij: 3).
Ma’arij adalah tempat-tempat yang naik, dan tempat ini berada di langit.
.

.

KESIMPULAN!

.

GAMBARAN TUJUH LAPIS LANGIT AND PLANET BUMI ADALAH TEMPAT YANG TERLETAK DI BAGIAN YANG PALING BAWAH!

WORMHOL MA'ARIJ!

Wahai para pembaca yang Budiman, maka itulah tempat-tempat atau ‘alam-’alam yang berada di langit atau di atas langit yang ketujuh!
Ternyata dari ke tujuh lapisan langit yang sangat luas itu masih ada juga tempat-tempat lain yang berada di atas lapisan langit yang ke tujuh, sesuai dengan apa yang telah aku terangkan di atas.
Dan sesungguhnya seluruh benda-benda langit itu tidak lain hanyalah penghuni langit dunya, yakni penghuni lapisan langit yang ke satu!
Dan sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas tempat-tempat tersebut yang berada di atas lapisan langit yang ketujuh, karena Rasulullah Saw bersabda: “‘Arsy Allah berada di atas semua itu dan Allah berada di atas arsy!”. (Hadits Shahih, dan hadits shahih ini dishahihkan oleh Adz-Dzahabi dan Ibnul Qayyim).
Wallahu’alam!
Semoga bermanfa’at!
Wassalam!

 

23 Oktober 2012

Antara muhammad dan alloh ada siapa?

oleh alifbraja

1.Antara muhammad dan alloh ada siapa?

2.antara tuhan dan alloh ada siapa?

Ringkas nya antara ke-dua-duanya. yang ada hanya diri yang wajib maujud. hanya tuhan (zat, sifat, asma, af’al).

Muhammad/insan kamil merupakan kenyataan diri nya maujud, dari pada zat, sifat, asma dan af’al nya. dan alloh nama jabatan/ismun kabir/nama kebesaran bagi tuhan.dan tuhan (zat, sifat, asma, af’al) pangkat nya.

ANA ANTA BIMA AYYADTUKA WA ANTA BIMA QOLLANTUKA{aku ialah engkau,dengan ke kuatan ku yang ada pada engkau. dan engkau ialah aku dengan pertalian ku pada engkau}.

MAJOHARTU PI SAY’IN KAJUHRI PIL INSAN{tiada nyata ku kepada se suatu seperti pada insan}.

walau sangat terang dan nyata lengkap DIA pada insan/muhammad. dan pernyataan nya AKU adalah ENGKAU dan ENGKAU adalah AKU. serupa tapi tidak sebanding, ia tidak bisa dinyata kan DIA yang sebenar nya.tetapi tidak laen dari pada DIA tadi. karena martabat di sini, ada perkara QADIM dan MUHADAST dan di martabat ANA ANTA ini.

DIA bukan ZAT lagi, setelah bertajalinya. lalu yang mana DIA sebenar nya? ini lah rahasia.???.zat bukan, kerna di martabat zat atau ahdah tuhan, di situ LA’TANYIN/TIADA’TAPI NYATA.

belum lagi ada sifat, asma dan af’al nya. tidak bisa dikata kan sempurna. dan bertajali beberapa martabat, baru dia sempurna,tapi diri nya bukan zat lagi.

ahmad/muhammad awal juga bukan DIA sebenar nya. yang merupakan tajalinya, martabat sifat bagi nya. nur muhammad/muhammad akhir juga bukan DIA sebenar nya, yang merupakan tajalinya, martabat asma bagi nya.

ruh juga bukan DIA sebenar nya, yang merupakan tajalinya, martabat af’al bagi nya, dan muhammad juga bukan DIA sebenar nya, yang merupakan maujud zat, sifat, asma dan af’al nya. tetapi semua itu tidak laen daripada DIA.

kalau dari semua martabat dan ber pasal-pasal dan perincian/proses tajalinya, di dilihat nampak diri nya,.tetapi di katakan dirinya sebenar nya bukan lah seperti proses ke adaan perincian/tajalinya. itu cuma kisah.

tetapi diri nya sekarang ibarat biji telah menjadi pokok. jadi yang dilihat nampak pada perincian/tajalinya tadi. ibarat proses biji menjadi pokok. dan sempurna dia, DIA yang menjadi pokok sekarang. dan pokok bukan biji lagi.

pokok merupakan sempurna dimana terhimpun zat, sifat, asma dan af’al. itu lah yang dinyata kan diri nya seberna. dan diri nya, laisya, qadim, dan muhalapah.

masalah semua pendapat itu adanya benar semua, benarnya menurut ilmunya, dan keyakinannya, dan tingkat maqam kedudukan nya. walau jalan berbeda, tetapi hasil nya, tetap satu…

Dan yang diperintahkan wajib tuk di kenal itu tuhan alloh ta’ala, bukan zat. zat memang tak bisa di kenal. buat apa mikir kan zat.
Dan benar sempurna nya, maripat kepada alloh harus’ awal, zahir, batin dan akhir.

pokok yang di maksud di sini, pokok diri sebernanya diri yang baginya zat, sifat, asma, af’al. yang qadim, muhallapah, bukan diri pokok yang maujud dirinya pada zat, sifat, asma dan af’al. yang muhaddast

Dan pokok pastilah dari pada biji. dan Biji telah menjadi pokok, (sempurna). lalu pokok itu bukan biji lagi. dan di diri pokok tidak ada biji lagi. karena biji sudah jadi pokok. dan kenyataan sekarang yang ada hanyalah diri si pokok tadi (tuhan yang sempurna dan bernama alloh). yang sekarang maujud zat, sifat, asma dan af’al nya, pada alam semesta beserta isinya. jadi sekarang yang ada dan maujud hanyalah diri si pokok.tidak layak lagi kenyataan itu disebut biji. dan sekarang biji itu hanya tinggal’menjadi kisah, proses awal kejadian, tajali nya dirinya. proses biji menjadi pokok.

Rasullah sendiri sampai kepada tuhan tanpa ilmu, beliau hanya bertafakur di gua hirak. sehingga alloh membuka kan rahasia nya kepada rasulullah. dalam hal ini rasulullah hanya baru sampae kepada martabat nya, perjalan poroses tajali2nya, masih di biji. belum bertemu dengan diri nya tuhan atau diri pokok lagi. dan rasulullah baru bertemu dengan tuhan nya (diri pokok) . secara ruh dan jasad, di peristiwa isro miraj nabi. di peringkat ini makam tertinggi, makam puncak nya rasullah, mengenal dan bertemu, siapa diri alloh taala sebenarnya.

{Biji benih yang telah tumbuh, membesar menjadi “pokok”,

setelah benih menjadi pokok, maka ia tidak lagi dipanggil/(bernama) benih tetapi pokok.}

tapi dzatnya tetap sama, walaupun berapa banyak tajalinya, zatnya tidak berubah kerana dia sekarang seperti dia dahulu juga, dan dia dahulu seperti seperti dia sekarang juga,

jikalau ada perubahan dalam dzatnya semasa pentajalian maka itu bukanlah tajali.
kerana dzatnya telah berubah.

dari pokok dijadikan kayu, dari kayu dijadikan pelbagai barang, seperti meja, kerusi, papan rumah, dan bermacam-macam lagi,

walaupun perabot (kerusi) itu disalut perak atau emas, tatapi dzatnya tidak berubah, dzatnya tetap dzat kayu dan pokok.

jikalau dzat tidak ada bolehkah kerusi ujud, kerana tanpa Kayu (dzat) kerusi tidak akan wujud. kerusi hanyalah khayalan fikirran apabila kerusi binasa apakah yang tinggal? sudah pasti dzat, kayu.

jadi jangan keliru tuhan itu adalah dzat wajibal wujud yang berasal dari dzat mutlak, tanpa dzat tiada satupun yang ada di semesta alam ini.

apabila dzat wajibal wujud hadir barulah sifat, asma dan afaal hadir,
tetapi sifat, asma dan afaal tidak akan ujud tanpa wujud dzat.

Yang ana maksud pokok di sini, sebenar nya diri nya, yang bernama alloh. yang bagi nya, zat, sifat, asma, af’al. bukan nya kenyataan maujud darinya yang muhadast, seperti alam semesta, beserta isi nya. tetapi biji yang jadi pokok. sempurna diri nya di nyatakan tuhan alloh ‘esa diri nya’ pada zat, sifat, asma af’al {terhimpun}, dan juga laisya, qadim dan muhalapah.alloh ta’ala sebenar nya.

yang wajib bagi mu’min maripat kepada nya. dan kenyataan sekarang yang ada dan maujud itu alloh ta’ala. diri nya bukan zat lagi. karena ada sifat, asma dan af’al nya. memang itu semua dari pada zat nya,.

Lalu yang dinamakan alloh ta’ala, bagi diri nya zat, sifat, asma, af’al. lalu tanyakan pada batin ente, siapa gerangan ‘alloh ta’ala sebernar nya siapa???

itu lah yang ana maksud pokok itu. yang bagi nya laisya, qadim dan muhalafah. dan diri nya bukan zat, bukan juga sifat, dan juga bukan asma, dan juga bukan af’al.

dan apabila batin itu, menyatakan diri nya, msih ada perinciin/perjalanan/ ada nya hakikat. diri nya baru memperkenal kan/baru membukakan rahasia nya, tentang asal kejadian/proses tajali nya. dan untuk kenyataan sekarang ini hanyalah menjadi kisah/cerita,(kisah proses biji menjadi pokok).

dan yang di nyata kan itu wal awalu (biji), bukan wal akhiru (pokok) zat, sifat, asma, af’al (sempurna nya)…dan apabila batin itu, menyata kan tanpa ada perinciin/perjalanan lagi, dan tidak ada lagi hakikat2.

alhammdulillah, diri nya telah memperkenal kan dirinya, membuka kan rahasia nya, dan dia menyatakan diri nya sebenarnya. bertemu dengan dirinya (pokok). dan ke nyataan diri nya sekarang ada nya, terang dan nyata, diri nya dan ujud nya esa.

inilah puncak maripat kepada alloh. mengenal dan bertemu dengan tuhan alloh swt sebenar nya. dan yang pasti ini.ARAPTU ROBBY BI ROBBY{aku kenal tuhan dengan pengenalan tuhan}.

Dan tentang apa yang di kata dan di rasa. ALLISANU TARJUMANUL QOLBI WAL QOLBI TARJUMANUL HIDAYAH WAL HIDAYAH MIN NURIL QODIM.{lisan terjemahan dari hati, dan hati terjemahan dari hidayah, dan hidayah dari pada nur yang qodim}.

WA ZAUKU PI NAPSI BI ZAUKI.{dan pengrasa pada insan itu pengrasa aku}.

setiap yg ujud pasti bernama
asal allah ialah zat yg maha suci yang bernama?
usul allah ialah sifat yg kamalat
asal manusia ialah roh
usul manusia ialah hati yg menjadi nilai disisi tuhan
awal alloh tiada permulaan
akhir alloh tiada kesudahan
awal manusia ada permulaan
akhir manusia tidak ada kesudahan
zahir alloh dgn nama?
batin alloh dgn nama robbi

Dan zat ialah sama dengan ujud/diri.. dan ujud/diri itu ialah si hayun yang maha suci ada nya. karena semua nya, tajali dan maujud dari pada si hayun/maha hidup.

ZAT merupakan sama dengan DIRI. dan DIRI ialah si HAYUN. jadi zat=ujud/diri. dan ujud /diri itu bukan zat. jadi zat=ujud/diri. dan ujud /diri ialah si hayun.

Kenapa diri nya bukan zat?. karena pada zaman sekarang. zat itu dapat di analisa atau di sensor oleh teknologi. walau pun zat tidak berupa dan berbentuk tidak dapat di lihat. tetapi dia menempati ruang/tempat.

contoh nya, zat kabohidrat dan zat protein. seperti nasi mengandung zat karbohidrat. dan telur mengandung zat protein. dan dimana antara nasi dan telur zat kandungan nya berbeda. zat kandungan yang ada pada nasi ber beda dengan yang ada pada telur.

itu membukti kan zat, menempati ruang/tempat. dan keberadaan nya, bisa di analisa dan di sensor oleh alat. dan seperti udara juga tidak berupa dan berbentuk, dan tidak dapat di lihat.tetapi dia menempati ruang dan tempat.

Jadi ZAT= UJUD/DIRI. dan UJUD/DIRI ialah si HAYUN. itu biji. dan sekarang yang perlu di maripati si HAYUN yang sempurna, ada sifat,asma dan af’al. yang bernama tuhan yang ber asma kan alloh ta’ala.

 

23 Oktober 2012

TINGKATAN ULAMA AKHIRAT

oleh alifbraja

Dalam dunia transenden, jiwa manusia bekerja sama dengan tubuh duniawi melalui suatu mukjizat, yang rahasianya hanya dapat diketahui oleh Tuhan sehingga mewujudkan kehidupannya didunia yang lebih rendah. Meski demikian, jiwa akan selalu mengenang asal kediaman tanah air sejatinya, sungguhpun terbatas pada dunia material.

Dalam dunia transenden jiwa manusia melakukan pendakian melewati rintangan kezuhudan dan disiplin spiritual, yang tingkatan pertamanya “Sayr wa Suluk” (perjalanan spiritual) dari seorang ulama. Walaupun ada berbagai cara penggambaran dan penjelasan tentang jalan menuju persatuan dengan Tuhan YANG MAHA ESA, yang semuanya dapat diringkas dalam tiga tingkatan ulama yang utama.

Tingkat pertama adalah “Qabdh Latha’if” (penyusutan dalam esensi lembut-halus). Dalam tingkatan ini, aspek tertentu dari jiwa seorang ulama akan berhubungan dengan kezuhudan dan kesalehan serta manifestasi teofani dari nama-nama Tuhan Yang Maha Lembut dan Maha Halus.

Pada tingkatan inilah di dalam diri seorang ulama akan ditemukan sifat yang lemah lembut berlandaskan kasih sayang dan kebajikan yang luhur, sehingga dirinya tidak pernah melakukan fitnah keji kepada kaum muslim lainnya.

Tingkatan “Qabdh Latha’if” (penyusutan dalam esensi lembut-halus) merupakan perjuangan spiritual (mujahadah) yang mendefinisikan berbagai kelembutan dan kehalusan dalam diri ulama, dalam diri kaum arif dan pecinta Allah.

Bagi seorang ulama dalam tingkatan ini, ia melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, sehingga mukjizat yang berada dalam tubuh akan terungkap meski hanya sekejap dan memungkinkan burung jiwa dapat membentangkan sayapnya dan terbang ke dunia spiritual yang sangat luas tiada batasannya dan menikmati alunan simfoni keabadian serta ekstase yang merupakan aspek esensi dari dunia ini.

Seorang ulama akhirat yang sudah mencapai tingkatan “Qabdh Latha’if” ini, tentunya tidak memerlukan tunggangan atau sarana apapun, karena dia sendiri memiliki daya untuk terbang menuju dunia transenden melalui rahasia perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan.

Tingkatan kedua adalah “Basth Kasyf Imani” (perluasan penyingkapan melalui keimanan). Dalam tingkatan ini, aspek dari jiwa ulama mendapat keluasan dan diperluas. Sehingga eksistensinya melampaui batasan dirinya sendiri hingga dia memeluk seluruh alam semesta melalui ketulusan iman.

Kadar intesitas tingkatan Basth Kasyf Imani ini dapat berfungsi sebagai katalisator yang mengaktifkan sang ulama untuk lebih banyak lagi mencari ilmu (pengetahuan) yang berkaitan dengan segala maujud dalam kosmos sewaktu ia berada dalam ekstase (wajd) dibawah pengaruh kuat suatu keadaan spiritual (hal), sehingga tubuh jasmaninya akan tampak meluruh seperti debu primordial (al habah).

Dan menyatu dengan lingkungan alam sekelilingnya. Maka inilah kebenaran bagi hati manusia yang sederhana, yang bebas dari rasa keakuan, keserakahan dan dari berbagai cinta serta gairah yang dapat mempengaruhinya “

Namun apabila ia tidak terbebas dari hal-hal itu, dan ia terisi sesuatu selain Allah dihatinya, maka sesuatu itu akan bergerak dan berpengaruh sebagaimana api yang kian berkobar.

Ulama dalam tingkatan “Basth Kasyf Imani” ini adalah manusia yang sudah terlepas dari jurang dunia material yang sangat dalam dan telah berhasil dalam penyempurnaan jiwanya sebagai penakluk nafsu-nafsu hewani“, sehingga dirinya akan terbebas dari rasa keakuan yang ingin selalu dihormati oleh semua orang, dengan tanpa memperhatikan cacat bathin yang mengeram didalam hatinya.

Tingkatan ketiga adalah; “Wishalbi Al Haqq” (persatuan dengan Yang Maha Benar). Dalam tingkatan ini, seorang ulama harus melalui pencapaian tingkat peleburan (fana) dan kekekalan (baqa). Karena pada tingkatan ini, dirinya telah dapat melewati seluruh maqamat (tingkatan) lainnya dan dia dapat merenungkan wajah sang kekasih (Allah SWT). Penampakkan luarnya yang sedih tak lain merupakan prawacana untuk ketakterlukiskan kebahagiaan yang tersembunyi didalamnya.

Seorang ulama dalam tingkatan ini, akan menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan, menempatkan diri sepenuhnya dalam genggaman Tuhan. Dan menjadi sumber gita-gita yang menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan serta menuntun orang lain ke tempat primordial dan kediaman akhirnya, agar dapat membebaskan dirinya dari nafsu keinginan yang tanpa batas itu.

Dirinya bagaikan sebuah tempat perlindungan diantara badai yang mengerikan dan oase yang menyejukkan di tengah-tengah tandusnya gurun pasir serta dapat dijadikan sebagai mata air yang penuh barakah untuk menghilangkan kebingungan dan kehausan jiwa.

Maka pada tingkatan yang terakhir inilah, seorang ulama akan mampu menguak selubung keterpisahan eksistensi dan bersatu dengan asal serta sifat primordialnya melalui penyerahan kemauannya sendiri kepada kehendak Tuhan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam genggaman Tuhan.

Ulama dalam tingkatan ini akan selalu menyatukan visi antar sesama ulama lainnya agar bersinergi dalam membentuk ummah yang penuh dedikasi tinggi dan menjalin tali persatuan sesama ummat Islam dengan berlandaskan keilmuan (pengetahuan).

Sehingga dirinya akan dipersatukan dengan getaran kehidupan alam (mikrokosmos bersatu dengan makrokosmos) yang didalam diri seseorang selalu ada dalam bentuk getaran hati, sehingga jiwanya mengalami perluasan dan mencapai kebahagiaan dan ekstrase yang melingkupi dunia. Sehingga dirinya akan terbebaskan dari belenggu diri yang membatasi penilaiannya terhadap sesuatu hal.

Dalam tingkatan inilah seorang ulama akhirat akan bersikap obyektif dan tidak terlalu kukuh dengan faham yang dimilikinya ketika melihat seseorang atau suatu kelompok memiliki perbedaan faham dengan dirinya. Bagi kaum muslim, mereka (ulama akhirat) adalah sarana potensial untuk menyadari nilai warisan masa lampau dari Muhammad Rasuulullah SAW yang sangat berharga.

Lisan mereka (para ulama akhirat) memiliki sifat realitas batin yang pasti meninggalkan pengaruh pada jiwa pendengarnya. Karena segala ucapan mereka itu merupakan nyanyian abadi dalam dunia, ruang dan waktu, karena segala ucapannya telah terbebas dari rasa kebencian dan kecurigaan yang berlebihan terhadap sesama ummat Islam. Bahkan para ulama akhirat telah menjauhkan diri mereka dari para penguasa yang hendak memanfaatkannya.

Nabi SAW bersabda; “Seburuk-buruknya ulama adalah ulama yang mengunjungi penguasa. Dan sebaik-baiknya penguasa adalah, penguasa yang mengunjungi ulama.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra, dari Abu Thalhah ra dan Dari ibnu Abbas ra, bahwasanya nabi SAW bersabda; “ada tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti yang tidak akan diajak biara, tidak dilihat dan tidak diampuni dosa mereka oleh Allah, bahkan mereka abadi selamanya didalam neraka dengan siksaan yang pedih.” (Nabi SAW mengulangi sabdanya sampai 3x).

Ibnu Abbas berkata; “siapakah mereka?” Nabi SAW bersabda; “yaitu para ulama yang mencari dunia dengan menjual agamanya, Para penguasa yang memberlakukan undang-undang yang mengakibatkan kesengsaraan bagi raknyatnya dan para penyebar fitnah” (HR Bukhari & Muslim)

“Para Ulama akhirat tidaklah akan mengalami proses kemunduran atau perubahan, mereka selalu sejuk menyejukkan dalam ucapan maupun ajarannya,laksana kilau mentari pagi dipermukaan air yang jernih “
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Ulama yang baik dan benar adalah ulama akhirat yang membawa kemasylahatan bagi ummat, dan bukannya membawa kemudharatan yang memicu pertikaian antar sesama ummat Islam pada khususnya dan antar sesama ummat beragama pada umumnya.

Mengenai kriteria tingkatan para ulama yang telah saya sebutkan diatas adalah; mereka yang hidup dijaman para sahabat, tabi’ien dan tabi’ien tabi’iet. Dan semoga ulama-ulama kita sekarang ini termasuk dalam salah satu kriteria tingkatan ulama akhirat tersebut diatas. Insya Allah ….. !!!.

17 Oktober 2012

Manifestasi Makrifat

oleh alifbraja

Berbagai pilihan AMAL ADALAH KARENA BERBAGAI-BAGAI AHWAL (HAL-HAL)

 

Ini dalam membicarakan tentang makrifat tentang gambaran makrifat tetapi tidak dikatakan makrifat dan tidak diuraikan secara terus terang sebaliknya dikatakan sebagai ahwal. Ahwal adalah jamak untuk kata hal. Hikmat ini membawa arti hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau perilaku lahiriah dan hal adalah suasana atau perilaku hati. Amal terkait dengan “lahiriah” manakala hal terkait dengan “batiniah.” Karena hati menguasai sekalian anggota maka kelakuan hati yaitu hal menentukan bentuk amal yaitu perbuatan lahiriah.

Dalam pandangan tasawuf, hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. Hal merupakan zauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah). Karena itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak diperoleh makrifat. Ahli ilmu membangun makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasauf bermakrifat melalui pengalaman lansung tentang hakikat.

Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli spiritual terlebih dahulu memperoleh kasyaf yaitu terbuka kegaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk gaib seperti jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya setan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang mengakui sesuatu, walau apa rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara kerohanian. Rasulullah saw sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibril as dalam rupanya yang asli dua kali saja, meskipun pada setiap kali Jibril as menemui Rasulullah saw dengan rupa yang berbeda, Rasulullah saw tetap mengenalinya sebagai Jibril as Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya setan yang menjelma dalam berbagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang tampak alim dan wara ‘.

 

AL-ALIM.

Bila seseorang ahli kerohanian memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau zauk yaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan. Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelum ini pernah dinyatakan bahwa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai hampir dengan pintu gerbangnya. Ketika sampai di situ seseorang hanya menanti karunia Allah, semata-mata karunia Allah yang membawa ma’rifat kepada hamba-hamba-Nya. Karunia Allah yang mengandung makrifat itu dinamakan hal. Allah memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahwa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi efeknya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil sampai dia jatuh pingsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zauk atau merasakan keperkasaan Allah dan pengalaman ini dinamakan hakikat, yaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperoleh dari zauk hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu disebut makrifat. Orang yang terkait dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah Jadi untuk mencapai makrifat seseorang itu haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi. Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu bisa didapat dengan belajar, sementara secara zauk tersedia tanpa belajar (laduni). Ahli tasawuf tidak berhenti sejauh makrifat secara ilmu malah mereka mempersiapkan hati mereka agar sesuai menerima kedatangan ma’rifat secara zauk.

Ada orang yang memperoleh hal sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam tempuh tertentu dan ada juga yang berkelanjutan di dalam hal. Hal yang berkelanjutan atau berkelanjutan dinamakan wisal yaitu penyerapan hal menerus, permanen atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang terkait. Hal-hal (ahwal) dan wisal bisa dibagi lima jenis:

1: Abid:

Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau zauk yang membuat dia merasakan secara bersangatan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, kemampuan, bakat-bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang dari Allah Semuanya itu adalah karunia-Nya semata. Allah sebagai Pemilik yang sebenarnya, ketika Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali setiap waktu yang dikehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah sehingga jika dia melepaskan cadangan itu dia akan jatuh, tidak berdaya, tidak bisa bergerak, karena dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah swt Hal atau suasana yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat beribadah, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak mengambil bagian dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah dan gemar sendirian. Dia merasakan apa saja yang selain Allah akan menjauhkan dirinya dari Allah

2: Asyikin:

Asyikin adalah orang yang mendapat asyik dengan sifat Keindahan Allah Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah di dalamnya. Amal atau perilaku asyikin adalah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah pada apa yang disaksikannya. Dia bisa duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang terlihat adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan aturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini. Dia memiliki alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah

3: Muttakhaliq:

Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan berubah sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana qurbi Faraidh atau qurbi nawafil. Dalam qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mau terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengendalikan atau mempengaruhinya. Hal qurbi Faraidh adalah dia melihat bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah, dan diamnya ini adalah gerakan Allah Orang ini tidak memiliki kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir. Apa yang mengenai dirinya, seperti kata dan perbuatan, terjadi secara spontan. Perilaku atau amal qurbi Faraidh adalah bercampur-campur antara logika dengan tidak logis, menurut adat dengan merombak adat, perilaku alim dengan jahil. Dalam banyak hal penjelasan yang bisa diberikannya adalah, “Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki “.

Dalam suasana qurbi nawafil, pula muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah yang menguasai bakat dan kemampuan pada sekalian anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal qurbi nawafil adalah berbuat dengan izin Allah karena Allah mengaruniakan kepadanya kemampuan untuk berbuat sesuatu. Contoh qurbi nawafil adalah perilaku Nabi Isa as yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah, juga perilaku beliau as menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa as melihat sifat-sifat Allah yang diizinkan menjadi bakat dan kemampuan beliau as, sebab itu beliau as tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah SWT

4: muwahhid:

Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid adalah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan sekalian maujud. Perilaku atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Ahmad, dan jika ditanya kepadanya di mana Ahmad, maka dia akan menjawab Ahmad tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke’Ahmad-an ‘dan benar-benar dikuasai oleh ke’Allah-an’. Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas dari beban hukum. Dia mungkin meneriakkan, “Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku! “Dia telah fana dari ‘aku’ dirinya dan dikuasai oleh keberadaan ‘Aku Hakiki’. Akan tetapi sikap dan perilakunya dia tetap dalam ridha Allah Bila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi anggota syariat yang taat. Perlu diketahui bahwa hal tidak bisa dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak bisa menahannya. Ahli hal karam dalam perbuatan Allah s.w.t. Kapan dia meneriakkan, “Akulah Allah!” Bukan berarti dia mengaku telah menjadi Tuhan, tetapi dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah Allah yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu.

Berbeda pula kaum Mulhid. Si Mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada zauk, tetapi berkelakuan dan berbicara seperti orang yang di dalam zauk. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara zauk. Si Mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata. Dia puas berbicara tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini berbicara sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesadaran kemanusiaan, masih gelojoh dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi sepakat mengatakan bahwa barangsiapa yang mengatakan, “Ana al-Haq!” Sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang tersebut adalah sesat dan kufur!

5: Mutahaqqiq:

Mutahaqqiq adalah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali ke kesadaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diurus. Dalam kesadaran zat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu orang yang demikian tidak bisa dijadikan pemimpin. Dia harus turun ke kesadaran sifat barulah dia bisa memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang ditunjuk oleh Allah menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah Orang inilah yang menjadi anggota makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, anggota tarekat yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani tingkat tertinggi adalah para nabi-nabi dan Allah karuniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi ditunjuk sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.

Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeda, dengan itu akan mencetuskan kelakuan amal yang berbeda. Ahwal harus dipahami dengan sebenarnya oleh orang yang memasuki pelatihan tarekat spiritual, supaya dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan shalat, zikir atau puasa. Dia harus berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak.

————————–

1: Penjelasan, memori, tarik dan keinginan terhadap benda-benda alam seperti harta, wanita, pangkat dan lain-lain.

2: Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang diinginkan.

3: Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah

4: Dosa yang tidak dicuci dengan taubat masih mengotori hati.

Diri manusia tersusun dari anasir

i.tanah,

ii.air,

iii.api dan

iv.angin.

Ia juga diresapi oleh unsur-unsur alam seperti mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, setan dan malaikat. Setiap anasir dan unsur itu menarik hati kepada diri masing-masing. Tarik menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima sinar nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengobati kekacauan hati adalah penting untuk membukakannya untuk menerima informasi dari alam malakut. Hati yang kacau itu bisa distabilkan dengan cara menundukkan semua anasir dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang mencoba menawan hati. Penting bagi seorang murid yang menjalani jalan spiritual menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmoniskan perjalanan anasir-anasir dan daya-daya yang menyerap ke dalam diri agar cermin hatinya bebas dari gambar-gambar virtual. Bila cermin hati sudah bebas dari gambar-gambar dan atraksi tersebut, hati dapat menghadap ke Hadrat Ilahi.

Selain atraksi benda-benda alam, hati bisa juga tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan saja rangsangan nafsu yang rendah. Semua bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan aturan Allah serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak reda dengan keputusan Allah Seseorang yang mau menuju Allah harus melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan keinginan diri sendiri, lalu masuk ke dalam benteng Aslim yaitu berserah diri kepada Allah dan reda dengan takdir-Nya.

Hal berikutnya yang yang dikatakan sebagai ilmu hikmatialah junubbatin tidak suci dan dilarang melakukan ibadah atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pula tertegah dari memasuki Hadrat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin yaitu default hati, posisinya seperti orang yang berjunub lahir, di mana amal ibadatnya tidak diterima. Allah mengancam untuk menjatuhkan orang yang shalat dengan default (dalam kondisi berjunub batin) ke dalam neraka wil. Begitu hebat sekali ancaman Allah kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.

Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah kepada orang yang lalai? Bayangkan hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita lahir. Hati yang khusyuk adalah umpama orang yang menghadap Allah dengan mukanya, duduk dengan tertib, berbicara dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Kaisar Yang Maha Agung. Hati yang lalai pula adalah umpama orang yang menghadap dengan belakangnya, duduk secara biadab, bertutur kata tidak tentu ujung pangkal dan perilakunya sangat tidak sopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja didunia murka dengan perbuatan demikian maka Raja kepada sekalian raja-raja lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang biadab itu dan layaklah jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wil. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu bersopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke Hadrat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu bersopan santun tidak layak mendekati-Nya.

Yang ke empat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia mencegah seseorang dari memahami rahasia-rahasia yang halus-halus. Pintu ke Perbendaharaan Allah yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyuci-bersihkan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahasia Allah selagi dia belum bertaubat, samalah seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan hutangnya terpaksa menunggu di luar surga. Jika dia mau masuk ke dalam Perbendaharaan Allah yang tersembunyi yang mengandung rahasia yang halus-halus wajib bertobat. Taubat itu sendiri merupakan rahasia yang halus. Orang yang tidak memahami rahasia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah yang tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon ampunan sedangkan sekalipun beliau berdosa semuanya diampuni Allah Apakah Rasulullah saw tidak yakin bahwa Allah mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan beliau (jika ada)?

Maksud taubat adalah kembali, yaitu kembali kepada Allah Orang yang melakukan dosa tercampak jauh dari Allah Meskipun orang ini sudah berhenti melakukan dosa malah dia sudah melakukan amal ibadat dengan banyaknya namun, tanpa taubat dia tetap tinggal berjauhan dari Allah Dia telah masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah Taubat yang lebih halus adalah pengayatan kalimat:

“Laa Hau la wala quwata illa billah.”

Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah

“Inna Lillillahi wa-inna ilai-irajiun”

Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.

Segala sesuatu datangnya dari Allah, baik kehendak maupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa saja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa saja yang terbit dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah memberikan kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. Jadi, ubudiyah berkewajiban mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon ampunan dan bertobat sebagai menampung cacat. Segala urusan dikembalikan kepada Allah s.w.t. Semakin tinggi makrifat seseorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin sering dia memohon ampunan dari Allah, mengembalikan setiap urusan kepada Allah, sumber datangnya segala urusan.

Bila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah maka Allah sendiri yang akan mengajarkan Ilmu-Nya yang halus-halus agar kehendak hamba itu sesuai dengan Iradat Allah, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah, dengan itu jadilah hamba mendengar karena Sama ‘Allah, melihat karena Basar Allah dan berkata-kata karena Kalam Allah Setelah semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahasia Allah).

MAHA SUCI ALLAH YANG MENUTUPI RAHASIA KEISTIMEWAAN (PARA WALI) DENGAN diperlihatkan SIFAT KEMANUSIAAN BIASA bagi masyarakat dan TERNYATA KEBESARAN KETUHANAN ALLAH SWT DALAM memperlihatkan sifat kehambaan (PADA WALI-NYA). Orang yang jahil dan lemah imannya mudah terlintas sangkaan saat menghadapi kejadian yang luar biasa yang terzahir dari seseorang manusia. Nabi Ia as dilahirkan secara luar biasa, dan padanya terzahir mukjizat yang luar biasa, menyebabkan sekelompok manusia menganggap beliau as sebagai anak Tuhan. Uzair yang ditidurkan oleh Allah selama seratus tahun dan dijagakan di kalangan generasi yang sudah melupakan Taurat, lalu Uzair membacakan isi Taurat dengan lancar. Penonton pun menganggap Uzair sebagai luar biasa, lalu mengangkatnya sebagai anak Tuhan. Orang sering mengagungkan manusia yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Terkadang cara pengagungan itu sangat keterlaluan sehingga orang yang diagungkan itu didudukkan pada taraf yang melebihi standar manusia. Selain dianggap sebagai anak Tuhan, ada juga yang dianggap sebagai penjelmaan Tuhan. Timbul juga penabalan sebagai Imam Mahadi yang dijanjikan Tuhan. Efek pemujaan sesama manusia banyak terdapat di lembaran sejarah. Pemujaan yang demikian dianggap Allah sebagai menyembah makhluk. Hal ini terjadi karena salah menafsirkan kejadian luar biasa yang terzahir pada orang tersebut, meskipun mereka tidak meminta diagungkan. Hal luar biasa yang terjadi pada nabi-nabi disebut mukjizat dan yang terjadi pada wali-wali dinamakan keramat. Mukjizat menjadi bagian dari bukti atau argumen kepada publik tentang kebenaran kenabian. Fungsi utama mukjizat adalah memperkuat keyakinan publik kepada seseorang nabi itu. Sesuai dengan fungsinya mukjizat terjadi secara terbuka dan diketahui publik. Keramat pula merupakan karunia khusus kepada para wali. Tujuan utamanya adalah untuk menambahkan keyakinan wali itu sendiri. Tidak dimaksudkan untuk membuktikan posisi wali itu kepada orang banyak. Kekeramatan banyak terjadi pada zaman akhir ini, jarang terjadi pada zaman Rasulullah saw dan para sahabat, sedangkan para sahabat beliau adalah aulia Allah yang agung. Sebagian dari mereka telah dinyatakan sebagai anggota surga ketika mereka masih hidup lagi. Mereka sudah memiliki iman yang sangat teguh, tidak perlu ke kekeramatan untuk menguatkannya. Jaminan surga yang diberikan oleh Rasulullah saw tidak membuat mereka mengurangi layanan bakti mereka kepada Allah Umat ​​yang terakhir ini tidak memiliki hati sebagaimana umat pada zaman Rasulullah saw Umat ​​zaman akhir ini membutuhkan kekeramatan sebagai penawar yang menguatkan hati mereka. Karena kekeramatan itu lebih berguna untuk diri sendiri, maka ia lebih banyak terjadi secara tersembunyi, hanya sejumlah kecil yang menyaksikannya atau kadang-kadang tidak ada yang melihatnya. Sifat kewalian ditampakkan kepada wali Allah itu sendiri sedangkan pada orang ditampakkan sifat manusia biasa, sehingga masyarakat tidak mengetahui posisinya yang sebenarnya. Dengan demikian seseorang wali Allah itu diberi layanan sebagai manusia biasa. Dia harus hidup dan mengelola kehidupan seperti orang. Perilakunya yang memakai kemanusiaan biasa menjadi contoh kepada masyarakat, bagaimana mau menjalani kehidupan di dunia dengan mentaati Allah Rasulullah menjalani kehidupan sebagai manusia biasa di mana beliau terpaksa mengikat perut dengan kain untuk menahan lapar, padahal dengan hanya berdoa kepada Allah beliau bisa menjadi kenyang tanpa makan. Para nabi dan para wali adalah manusia yang menjadi model untuk diikuti oleh orang banyak. Jika mereka hidup secara khusus seperti bergerak secepat kilat dan kenyang tanpa makan, sudah tentu tidak ada manusia yang dapat mengikuti mereka. Jadi ketika Allah memakaikan sifat kehambaan seperti orang kepada para nabi dan para wali-Nya itu adalah untuk kebaikan manusia umum. Orang bisa mengikuti contoh yang mudah dan tidak timbul pemujaan sesama manusia yang bisa membawa kepada syirik.

16 Oktober 2012

KITA INI PENGIKUT SIAPA???

oleh alifbraja

Para salaf kita sangat tekun mengamalkan sunah dan salat malam. Habib Segaf bin Muhammad Assegaf berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan qiyamullail sejak usia 7 tahun.” Dalam Risalatul Qusyairiyah seorang saleh berkata, “Sejak usia 3 tahun, aku tidak pernah meninggalkan qiyamullail.”

Di masa kanak-kanaknya, Abu Yazid Al-Busthami belajar mengaji Quran pada seorang guru. Suatu saat ia sampai pada firman Allah: “Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), yaitu seperduanya atau kurangi sedikit dari seperdua itu.” (QS Al-Muzzammil, 73:1-3)

Sepulangnya dari belajar, ia bertanya kepada ayahnya, “Ayah, siapakah orang yang diperintahkan oleh Allah untuk bangun malam?” “Anakku, beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Aku dan kamu tidak mampu meneladani perbuatan beliau,” jawab ayahnya.  Abu Yazid terdiam.

Pada pelajaran berikutnya, ia membaca ayat: Dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. (QS Al-Muzzammil, 73:20)
Sepulangnya dari belajar, ia bertanya lagi kepada ayahnya.
“Siapakah yang bangun malam bersama Nabi SAW?”

“Anakku, mereka adalah sahabat-sahabat beliau.”
“Ayah, jika kita tidak seperti nabi dan tidak pula seperti sahabat-sahabat beliau, lalu kita ini seperti siapa?”

Mendengar ucapan ini, tergeraklah hati sang ayah untuk bangun malam. Hari itu juga, ia mulai salat malam. Si kecil Abu Yazid ikut bangun.
“Tidurlah anakku, engkau kan masih kecil,” bujuk ayahnya.
“Ayah, ijinkanlah aku salat bersama ayah, kalau tidak, aku akan mengadukan ayah kepada Tuhanku,” jawabnya.
“Tidak demi Allah, aku tidak ingin kamu mengadukan aku kepada Tuhanmu. Mulai malam ini salatlah bersamaku.”

Abu Yazid selalu bermujahadah hingga ia mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Pernah diriwayatkan bahwa suatu hari ia berkata, “Barangsiapa mengetahui namaku dan nama ayahku akan masuk surga.” Nama Abu Yazid dan ayahnya adalah Thoifur bin Isa.

Tingkat ketekunan
menentukan derajat ketinggian.
Siapa ingin kemuliaan
janganlah tidur malam.

Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan memperoleh yang diinginkan. Barangsiapa mengetuk pintu, ia akan masuk. Barang siapa menempuh perjalanan, ia akan sampai dan akan menganggap kecil apa yang telah dikorbankan.

Penuntut ilmu hendaknya bangun sebelum fajar, walaupun hanya setengah jam sebelumnya. Jika ia bangun setelah fajar, maka setan telah kencing di telinganya. Dan barang siapa telinganya dikencingi setan, ia akan memulai harinya dengan perasaan malas. Syeikh Ahmad bin Hajar berkata bahwa setan benar-benar telah mengencingi telinga orang itu, namun ia tidak wajib menyucikannya karena kejadian itu bersifat batiniah.

——————–
Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul

13 Oktober 2012

Antara Sufi dan Sufisme

oleh alifbraja
Sebelum membahas lebih dalam siapa saja tokoh-tokoh tasawwuf yang memaparkan pemikirannya dalam tasawwuf, perlu diketahui bahwa pada dasarnya para tokoh pemikir tasawwuf tersebut mempunyai tujuan sama yaitu untuk mewujudkan sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah semata.
Para sufi yang mempunyai pemikiran tentang tasawwuf antara lain, Rabi’ah al-Adawiyah, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali,Zun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansur al-Hallaj, Muhyiddin Ibn Arabi.
1. Rabi’ah al-Adawiyah (mahabbah)
Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang zahid perempuan yang amat besar dari Bashrah, Irak. Ia hidup antara tahun 713-801 H13. Sumber lain menyebutkan bahwa ia meninggal pada tahun185 H14. Latar belakang hidupnya berawal dari seorang hamba atau budak yang dibebaskan. Di kehidupan selanjutnya ia banyak beribadat dan bertaubat, meninggalkan urusan duniawi. Hidupnya dalam kesederhanaan, menolak bantuan orang berupa material yang diberikan kepadanya. Dalam semua do’a yang pernah dipanjatkannya ia tidak pernah meminta yang bersifat materi kepada Allah. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Allah.
Hampir seluruh literatur tasawwuf menyebutkan bahwa tokoh yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Hal ini didasarkan pada ungkapan-ungkapan yang menggambarkan bahwa ia menganut paham tersebut.
Kata mahabbah sendiri berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Selain itu mahabbah juga dapat berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan, dengan tujuan memperoleh kebutuhan yamg bersifat material maupun spiritual, seperti cinta seseorang kepada kekasihnya, cinta orang tua pada anaknya, cinta seorang sahabat. Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh seseorang untuk mendapatkan tingkat rohaniah yang tinggi dengan tercapainya gambaran Yang Mutlak, yaitu cinta kepada Allah.
Dilihat dari tingkatannya, menurut al-Saraj ada tiga macam, yaitu mahabbah orang biasa, mahabbah orang shidiq dan mahabbah orang arif.
Mahabbah orang biasa mengambil bentuk selalu mengingat Allah dengan dzikir, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Allah dan senantiasa memuji Allah. Selanjutnya mahabbah rang shidiq, adalah cinta orang yang kenal pada Allah, kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya, pada ilmu-Nya, dan lain-lain. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta tingkat kedua ini mampu menghilangkan kehendak orang dan sifat-sifatnya sendiri. Sedangkan cinta orang yang arif adalah cinta seseorang yang benar-benar tahu pada Allah. Yang dilihat dan yang dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat yang dicintai masuk kedalam diri yang mencintai.
Sementara pendapat lain menyatakan bahwa mahabbah adalah satu istilah yang hampir selalu berdampingan dengan ma’rifah, baik dalam kedudukannya maupun dalam pengertiannya. Ma’rifah merupakan tingkat pengetahuan kepada Tuhan melalui mata hati (al-qalb), maka mahabbah adalah perasaan kedekatan kepada Tuhan melalui cinta (roh).
2. Al-Ghazali dan Zun al-Nun al-Misri (ma’rifah)
Al-ghazali mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad al-Ghazali lahir pada tahun 1059 M. di Ghazelah, kota kecil terletak di dekat Tus di Khurasan. Ia pernah belajar pada Imam al-Haramain al-Juwaini, guru besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyafur. Setelah mempelajari ilmu agama, ia mempelajari teologi, ilmu pengetahuan alam, filsafat dan lain-lain, akhirnya ia memilih tasawwuf sebagai jalan hidupnya. Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi, ia kembali ke Tus di tahu 1105 M. dan meninggal disana pada tahun 1111 M.
Sedangkan Zun al-Misri bearsal dari Naubah, suatu negri yang terletak Sudan dan Mesir. Tahun kelahirannya tidak banyak diketahui, yang diketahui hanya tahun wafatnya, yaitu 860 M. menurut beberapa pendapat beliaulah puncaknya kaum Sufi dalan abad ketiga hijrah. Beliaulah yang banyak sekali menambahkan jalan buat menuju Tuhan.
Dari segi bahasa ma’rifah yang artinya pengetahuan atau pengalaman. Dan dapat pula berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang biasa didapati oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifah adalah pengetahuan yang objeknya bukan pada hal-hal yang bersifat dzahir, tetapi lebih mendalam terhadap batinnya dengan mengetahui rahasianya. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahuihakikat ketuhanan, dan hakikat itu satu, dan segala yang maujud berasal dari yang satu.
Selanjutnya ma’rifah digunakan untuk menunjukkan pada salah satu tingkatan dalam tasawwuf. Dalam arti sufistik ini ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari. Pengetahuan itu demikian lengkap dan jelas, sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu, yaitu Tuhan.
Dari beberapa definisi tersebut dapat diketahui bahwa ma’rifah adalah mengetahui rahasia-rahasia tuhan dengan menggunakan hati sanubari. Dengan demikian tujuan yang ingin dicapai oleh ma’rifah ini adalah mengetahui rahasia-rahasia yang terdapat pada diri Tuhan.
3. Abu Yazid al-Bustami (fana)
Dalam sejarah tasawwuf, Abu Yazid al-Bustami dikenal sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan paham fana dan baqa. Nama kecilnya adalagh Thaifur. Nama beliau sangat istimewa dalam hati kaum sufi seluruhnya. Bermacam-macam pula anggapan orang-orang tentang pendiriannya. Ia pernah mengatakan: “Kalau kamu lihat seseorang dapat melakukan pekerjaan keramat yang besar-besar, walaupun ia sanggup terbang di udara, maka janganlah kamu tertipu sebelum kamu melihat bagaimana ia mengikuti perintah syariat dan menjauhi batas-batas yang dilarang syari’at”.
Dari segi bahasa al-fana berarti hilangnya wujud sesuatu. Fana berbeda pengertiannya dengan al-fasad (rusak). Fana artinya tidak tampaknya sesuatu, sedangkan rusak adalah berubahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Dalam hal ini Ibnu Sina ketika membedakan benda-benda yang bersifat samawiyah dan benda-benda yang bersifat alam, mengatakan bahwa benda-benda yang bersifat alam itu atas dasar permulaannya bukan atas dasar perubahan bentuk dari bentuk satu ke bentuk lain, dan hilangnya benda alam itu dengan cara fana bukan dengan cara rusak.
Adapun arti fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan yang lazim digunakan pada diri. Menurut pendapat lain fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan. Dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat yang tercela.
Dalam pada itu Musthafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud fana adalah lenyapnya inderawi atau kebasyariahan, yaitu sifat sebagai manusia biasa yang mempunyai dan menyukai syahwat dan nafsu. Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan sehingga tiada lagi melihat daripada alam baharu, alam rupa dan alam wujud ini maka dikatakan ia telah fana dari alam cipta atau alam mahluk.
Sebagai akibat dari sifat fana adalah baqa. Secara harfiah, baqa berarti kekal. Namun menurut yang dimaksuk para sufi, baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia.
Ketika Abu Yazid telah fana dan mencapai baqa maka, muncullah kata-kata yang ganjil, yang jika tidak hati-hati memahami akan menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengaku dirinya sebagai Tuhan. Diantara ucapan ganjil yang keluar dari mulutnya : “Tidak ada Tuhan selain saya. Sembahlah saya, amat sucilah saya, alangkah besarnya kuasaku”.
Ucapan yang keluar dari mulut Abu Yazid itu bukanlah kata-katanya sendiri, tetapi kata-kata yang diucapkan melalui diri Tuhan dalam ittihad yang dicapainya dengan Tuhan. Itihad yaitu penyatuan batin atau rohaniah dengan Tuhan. Dengan demikian sebenarnya Abu Yazid tidak mengaku bahwa dirinya sebagai Tuhan.
4. Husein bin Mansur Al-Hallaj (al-hulul)
Tokoh yang mengembangkan paham al-Hulul adalah al-Hallaj, nama lengkapnya adalah Husein bin Mansur Al-Hallaj. Ia lahir tahun 244 H. di negri Baidha, salah satu kota kecil yang yang terletak di Persia. Dia tinggal sampai dewasa di Wasith, dekat Baghdad dan dalam usia 16 tahun ia telah belajar pada seorang Sufi yang terbesar dan terkenal bernama Sahl bin Abdullah al-Tustur di negeri Ahwaz. Selanjutnya ia pergi ke Bashrah dan belajar pada seorang Sufi bernama Amr al-Maliki, dan pada tahun 264 H ia masuk kota Baghdad dan belajar pada al-Junaid yang juga merupakan seorang Sufi. Selain itu ia juga pernah melaksanakan ibadah haji tiga kali di Mekkah. Dengan riwayat hidup yang singkat ini jelas bahwa ia memiliki dasar pengetahuan tentang tasawwuf yang cukup kuat dan mendalam.
Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Menurut keterangan Abu Nashr al-Tusi dalam al-Luma’ sebagai dikutip Harun Nasution, adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalam setelah kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
Paham bahwa Allah dapat mengambil tempat pada diri manusia ini, bertolak dari pemikiran al-Hallaj yang menyatakan bahwa pada diri manusia terdapat dua sifat dasar, yaitu lahut yang berarti ketuhanan, dan nasut yang berarti kemanusiaan.
Al-hallaj mempunyai kesimpulan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan (lahut) dan dalam diri Tuhan juga tedapat sifat kemanusiaan (nasut). Jika sifat ketuhanan yang ada pada diri manusia bersatu dengan sifat kemanusiaan yang ada pada diri Tuhan maka terjadilah hulul. Untuk sampai ketahap ini manusia harus terlebih dahulu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui proses al-Fana.
Berdasarkan uraian di atas maka al-Hulul dapat dikatakan sebagai suatu proses yang dimana manusia dan Tuhan bersatu secara rohaniah. Dalam hal ini hulul pada hakikatnya merupakan nama lain dari al-Ittihad. Sedangkan tujuan dari hulul adalah mencapai persatuan secara batin.
5. Muhyiddin Ibnu Arabi (Wahdat Al-Wujud)
Wahdat al-Wujud merupakan ungkapan yang terdiri dari dua kata yaitu wahdat dan al-Wujud. Wahdat berarti tunggal atau kesatuan, sedangkan al-Wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-Wujud berarti kesatuan wujud. Kata wahadah selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam, di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak bisa dibagi-bagi pada bagian yang lebih kecil. Selain itu kata al-Wahdah digunakan pula oleh ahli filsafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan anatra materi dan roh, substansi (hakikat), dan forma (bentuk), anatara yang tampak (lahir) dan yang batin, antar alam dam Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan.
Pengertian yang terakhir dari dari wahdatul wujud itulah yang dijadikan para sufi, yaitu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Menurut paham ini tiap-tiaop yang ada mempunyai dua aspek, yaitu aspek luar yang disebut al-Khalq yang berarti makhluk al-‘arad yaitu kenyataan luar, dan aspek dalam yang disebut al-Haq yaitu Tuhan al-jauhar yaitu hakikat dan al-bati yang berarti dalam.
Selanjutnya paham ini juga mengambil pendirian bahwa dari kedua aspek tersebut yang sebenarnya ada dan yang terpenting adalah aspek batin atau al-haqq yang merupakan hakikat, ekstensi atau substansi. Sedang aspek al-khalq luar atau yang tampak merupakan bayangan yang ada karena aspek pertama yaitu al-haqq.
Paham Wahdatul Wujud diwah oleh Muhyiddin Ibnu Arabi yang lahir di Murcia, Spanyol pada tahun 1165. Setelah selesai studi di Seville, ia pindah ke Tunis di tahun 1145, dan disana ia masuk aliran sufi. Pada tahun 1202 M ia pergi ke Mekkah dan meninggal di Damaskuspada tahun 1240 M.
Selain sebagai sufi, Ibnu Arabi juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Jumlah buku yang dikarang menurut perhitungan mencapai lebih dari 200, diantaranya ada yang hanya terdiri dari 10 halaman, tetapi ada pula yang merupakan ensiklopedia tentang sufisme seperti kitab Futuhah al-Makkah. Disamping buku ini, bukunya yang termasyhur ialah Fusus al-Hikam yang juga berisi tentang tasawwuf.
Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa paham-paham tasawwuf yang dianut oleh para sufi mempunyai tujuan yang sama, yaitu tasawwuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Atau dalam arti lain tasawwuf merupakan upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehinggatercermin akhlakyang mulia dan dekat dengan Alla SWT. Dengan kata lain, tasawwuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan.
13 Oktober 2012

Syair ini karangan Hamzah Fansuri 1

oleh alifbraja

1 permanen;
C a t a t an
Sya ir ini ka r angan Hamz ah F ansu ri yai tu s eor ang ahlu suluk ya ng termasyhur, yang hidup pa da penghabisan abad keen umum belas dan permula an abad
k e t u j uh be l a s. T emp at kediamann ya IAL ah Barus, ia s angat bany ak me ngu nj un gi negeri asing: P ahang, B antan, K udus, S ya rh Nawi (temp at Keduduk an
raja S i a m), Mekah dan Me d i n a h. I l mu batinn ya tenta ng sifat T uhan, dun ia
d an manus ia tia da diter ima ul ama – ul ama agama I sl am zam an it u. T e r u t a ma
Sye ch N uru ‘dd in al Rani ri seorang ula ma Islam yang termasyh ur di Ac eh,
sela lu membant ah dan meme ran gi i lniu Hamz ah F ansu ri ser ta S jamsu ‘dd in al
S umatrani, s eor ang ahli sul uk ya ng sef aham dengan Hamz ah F angsur i. Demik ianl ah S ult an Ac eh menyur uh bak ar kitab – kit ab ka r angan ked ua anggota sul uk
i t u. T eta pi meskip un demiki an Hamz ah F ansu ri termasyh ur s amp ai kemanama na d an pengaruhn ya s amp ai ke pul au J aw a.
41 Bismillahi R Rahmanir RAHIMI
Subhanallah terlalu kamil. ‘
Menjadikan insan alam dan jahil,
Dengan hambaNya daim
 2
 la Wasil
 3
Itulah Mahbub
 4
 bernama Adil.
Mahbub itu tidak berlawan,
Lagi alim lagi bangsawan,
Kasihnya banyak lagi gunawan,
Aulad
 5
 itu bisa t e r t awan.
Bersunting bunga lagi bumalai
 6
 ,
Kainnya warna berbagai,
Tau be rbunyi di dalam sagai,
 7
Olehnya itu orang teralah.
Ingat-ingat kau lalu-lalang,
Berlekas-lekaslah jangan amang,
 8
Suluh Muhammad yugia kau pasang,
Supaya salim
 9
 jalanmu datang.
kamil (b hs Ar b) – s e m p u r h a.
d a im (b hs A r b) – s enant i a s a.
Wasil (b hs Ar b) – s amp a i.
4
  m a h b ub (b hs A r b) – k e k a s i h.
s
 Au l ab (b hs A r b) – p a ra ahak.
  B u m a l ai (b hs Mly. L ama) – e lok.
sagai – hal amb a.
8
ama ng – angan-angan,
salim (b hs Ar b) – s e j aht e r a.
42 Rumahnya ‘ali
1
 be rpa t umum birai.
2
Lakunya cerdas sempurna bisai.
3
Tudungnya halus terlalu pipai.
4
Daim be rbuni di luar tirai.
Jika sungguh engkau asyik mabuk.
Memakai c andi
5
 pergi menjaluk.
6
Ke dalam pagar supaya kau masuk.
Barang ghairallah
7
 sekeliannya amuk.
Berjalan engkau rajin-rajin.
Mencari guru yang t ahu akan batin
Yugia kau t u n t ut jalan yang amin.
Agar dapat lekas kau kahwin
8
Berahimu daim akan orang kaya.
Manakan dapat tidak berbahaya.
Ajib segala akan ha ti sahaya.
Hendak be rdapat dengan maya raya.
1
 ali (b hs Ar a b) – yang tihggi.
birai – hiasan,
bisai – p a n d a i.
4
 pipai – licin.
5
  c a n di – t e l e k u n g.
6
 menj a luk – mi n t a.
7
 ghairallah (b hs A rb) – selain da ri Al l ah.
8
  amin (b hs Ar b) – y a ng a m a n. Tiada kau t ahu akan agamamu.
Terlalu ghurur
9
 dengan ha r t amu.
Nafsu dan syahwat daim sertamu.
Asyik dan mabuk bukan kerjamu.
Rantaikan kehendak sekelian musuh.
Anjing tunggal yugia kau b u n u h.
Dengan Mahbubmu seperti suluh.
Supaya d a p at berdakap t u b u h.
Dunia nan kau sandang-sandang.
Manakan d a p at ke b u k it rentang.
Angan-anganmu terlalu panjang.
Manakan d a p at segera memandang.
Dunia jangan kau t a ruh.
Sehingga hampir Mahbub yang j a u h.
Indah segala akan kalah-kaluh.
Ke dalam api pergi be r l abuh.
. IggfuM »nav – (d ß ta tdo)
. Naaeiri – ‘uni
. i s b n aq – iaaid
 E
. Ni-jif – ieqiq *
. Jjnurfsfsi – ibntw *
. Nlnim – jiulßinam
 d
lialiA hal ub nia ba – (d ia arid) rißliBiiBdig
 r
9
  g h u r ur (b h s) – t e r t i p u.
44 Hamzah miskin hina dan ka r umum.
Bermain ma ta dengan Rabul Alam.
Selamanya sangat terlalu da l am.
Seperti mayat sudah t e r t a n umum.
Allah Maujud ‘terlalu baqi.
2
Dari enam jihad kenahinya cali.
Wa Huwal Auwalu
3
 sempurna ‘ali.
4
Wa Huwal Akhi ru ‘daim nur ani.
Nurani itu hakikat k h a t umum.
Pertama terang di l aut dalam.
Menjadi makhluk sekelian alam.
Itulah bangsa Hawa dan Adam.
Te r t entu awal sua tu cahaya.
Itulah cermin yang mulia raya.
Terlihat di sana miskin dan kaya.
Menjadi dua Tuhan dan sahaya.
1
 maujud (bhs Arb) – yang ada.
2
 baqi (bhs Arb) – yang kewal.
 Wa huwal auwalu (bhs Arb) – ia yang awal.
ali (bhs Arb) – yang tinggi.
45 Nurani itu terlalu zahir
Bernama Ahma d ‘dari cahaya satir.
2
Peniuru alam keduanya hadir.
Itulah makna awal dan akhir.
Awal dan akhir asmanya
3
 jarak.
Zahir dan batin warnanya banyak.
Meskipun dua ibu dan anak.
Keduanya cahaya di sana banyak.
Yugia kau pandang kapas dan kam,
Keduanya wahid
4
 asmanya lain,
Wahidkan hendak lahir dan batin,
Itulah ilmu ke sudahannya main.
Anggamu
5
 itu asalnya t ahi r.
6
Batinnya arak zahirnya takir,
Lagi kau saqi
7
 lagi kau sakir
Itulah Mansyur menjadi nazir.
1
  A hm ad – n ama lain da ri Nabi M uhamma d.
2
 satir (b hs Ar b) – yang byrsembuny i.
3
  a sma (b hs Ar b) – n ama.
4
 wahid (b hs Ar b) – s a t u.
* A n g g a – a n g g o t a.
6
  t a h ir (b hs A r b) – suc i.
7
 saqi (b hs Ar b) – y a ng m e m i n u m.
8
 na z ir (b hs A r b) – p e n i l iw.
46 hunuskan ma ta t u n u k an sarung.
I sba tkan
1
 Allah nafikan
2
 pa tung.
Laut t auhid yugia kau harung.
Itulah ilmu t emp at bernaung.
Rupamu zahir kau sangka t anah.
Itulah cermin sudah terasah.
Jangan kau pandang j auh be rpayah.
Mahbubmu hampir serta ramah.
Kerjamu mudah periksamu kurang.
Kau sangka tasbih
3
 membilang tulang.
Ilmumu baha ru berorang-orang.
Lupakan fardu yang tersedia hut ang.
J a u h a rmu lengkap dengan t u b u h.
Warnanya nyala seperti suluh.
Lupakan nafsu yang tersedia musuh.
Manakan d a p at adamu gugur.
1
 isbatkan (bhs Arb) – memastikan adanya Allah.
2
 nafi (bhs Arb) – meniadawan.
3
 tasbih – buah tasbih alat penghitung zikir.
47 J auhar yang mulia meskipun sangat.
Akan orang muda kasih akan alat.
Akan ilmu Allah ingin kau pe rdapa t.
Mangkanya sampai pulangmu r aha t.
4
Hamzah Nuwi zahirnya J awi.
5
Batinnya cahaya Ahmad yang saf i.
6
Meskipun ia hina j a t i.
Asyiknya daim akan Zatul Bari.
7
Sidang fakir emp u n ya ka t a.
Tuhanmu lahir terlalu nya t a.
Jika sungguh engkau be rma t a.
Lihatlah dirimu rata-rata.
Kenal dirimu hai anak j amu.
Jangan lupa akan diri kamu.
Ilmu hakikat yugia kau r amu.
8
Supaya terkenal’ali adamu.
4
  r a h at (b hs Ar b) – s Enang.
5
  J awi – m a k s u d n ya o r a ng My l a y u.
6
 safi (b hs A r b) – b e r s i h.
7
  Z a t ul Bari (b hs A r b) – Z at Allah.
8 ra mu – mengumpulk an bahan – baha n.
48 Jikalau terkenal dirimu baqi.
Elokmu i tu t i ada berbagi.
Hamba dan Tuhan daim berdami.
Memandang diri jangan kau lali.
Kenal dirimu hai anak dagang.
Menafikan diri jangan kau sayang.
Suluh isbat yugia kau pasang.
Supaya d a p at mudah kau da t ang.
Dengarkan sini hai anak r a t u.
Ombak dan airnya asalnya satu.
Seperti manikam Muhith
9
– Dengan b a t u.
Inilah tamsil engkau dan r a tu.
J ika terdengar olehmu firman.
Pada taur at Injil dan F u r q a n.
3
Wa Huwa ma ‘akum pada ayat Quran.
Bikulli syaiin muhi th terlalu ‘i y a n.
4
1 berda mi – tid ak be rcerai, bersat u.
2 m u h i th (b hs Ar b) me l i p u t i.
3 F urq an – nama lain dari Qurajv ^ ^ A n ^ m
^ ^ S ^ ^ ^ ^ ^ ^ i. “
Dan, angit bumi m ya
A llah – d an Al l ah itu me Lipu ti segala sesua tu
Wa Huwa M a ‘ak um – Al l ah itu bers amamu, iy an – nyat a. pa s t,.
49 Syari’at Muhammad ambilkan suluh.
Ilmu hakikat yugia kau p e r t u b u h.
Nafsumu itu yugia kau b u n u h.
Makanya d a p at sekelian gugur.
3
Mencari dunia berkawan-kawan.
Oleh nafsu khabis
4
 engkau t e r t awan.
Nafsumu itu yugia kau lawan.
Mangkanya sampai engkau bangsawan.
Mahbubmu itu tidak berhasil.
5
Fa ainama tuwallu
6
 jangan kau ghafil.
7
Fa samma Wajhullah
8
 sempurna Wasil.
9
Inilah jalan orang kamil.
1
 °
Kekasihmu lahir terlalu terang.
Pada kedua alam nya ta t e rbent ang.
Ahlul Makrifah ‘terlalu menang.
Wasilnya daim tidak berselang.
3
luruh – l enyap, fana.
4
 khabis (Ar b) – b u s u k, j a h a t,
h a il (A r b) – tirai, p e m b a t a s.
fa a inama tuwa l lu – kutip an ay at Qu r an dari sur ah Al B a ^ ar ah ay at 1 15
yang terj ema h an sel engkap ay at berbunyi: “K epunya an Allah tim ur d an
b a r a t: ke r ana. tu, ke ma na saja engkau menghadap, di sana terdap at Wajah
7 A llah: sesungguhn ya Allah mempuny ai ilmu ya ng luas “
Ghafil (Ar b) – lupa.
J fa s amma Wajhullah bagi an ay at 1 15 sur ah Al B aqara hal. s epe r ti pada n o ta 6
^ Wasil (Ar b) – s amp a i.
kamil (A rb) – sempurna, ma ks ud di sini Ins an Kami l.
50 Hempaskan akal dan rasamu.
Lenyapkan badan dan nyawamu.
Pejamkan ingin dua ma t amu.
Di sana lihat peri r u p amu.
Adamu itu yugia kau serang.
Supaya d a p at negeri yang henang.
3
Seperti Ali t a tka la perang.
Melepaskan duldul t i ada berkekang.
Hamzah miskin orang’uryani.
4
Seperti Ismail jadi qurbani.
5
Bukannya Ajam dan A ‘r abi.
Nantiasa Wasil dengan yang baqi.
-Habis-
3
 henang – tetap.
4
 uryani (Arb) – telanjang.
5
 qurbani (Arb) – korban. Maksudnya: seperti Nabi Ismail yang rela mengorbankan dirinya demi memenuhi mimpi ayahnya Ibrahim.
51 SYAIR NAMA-NAMA TUHAN
Aho segala ki ta yang menyembah nama
Yogya dike t ahui apa Yang Pertama
Karena Tuhan ki ta yang Sedia Lama
Dengan ketujuh sifat bersama-sama
Kunjung-kunjung di b u k it yang Mahatinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada t u b u h n ya
Nurani haqiqat kha t umum
Supaya terang laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi Sultan kedua alam
Tuhan ki ta Empunya Dhat
Awwainya Hayy pe r t ama bilang Sifat
Keduanya Ilmu dan Rupa Ma’lumat
Ketiga Murid ‘kan sekalian I r adat
52 Keempat Qadir dengan Qudr a tnya tamam
Kelimanya sifat bernama Kalam
Keenamnya Sami ‘dengan adanya dawam
Ketujuhnya Basir akan halal dan haram
Ketujuhnya i tu adanya qadim
Akan istidat allamin sempurna Alim
Karena sifat ini dengan Kamal al-hakim
Bernama Bismillahi ‘l-Rahmani’ l-Rahim.
Ilmu ini Haqiqat Muhammad a l – N a bi
Menurutkan Ma’lum dengan lengkapnya qawi
Dari Haqiqa tnya itu jahil dan wali
Beroleh i’tibarnya dengan sekalian peri
Tuhan ki ta itu empunya Kamal
Di dalam tertandingi tidak panah zawal
Rahman da l umumnya pe rhimpunan Jalai
Beserta dengan Rahim sekalian Jamal
53 Tuhan ki ta itu yang bernama Aliyy
Dengan sekalian Zat senantiasa baqi
Alajamiil alamin Atha rnNya jadi
Dari Sittu j ihat sebab itulah khali
Cahaya AtharNya tidak padam
memberikan wujud pada sekalian alam
menjadikan mahluq siang dan malam
IIA abadi ‘l-abad tidak kan karam
Tuhan ki ta itu seperti Bahr-al ‘amiq
Ombaknya penuh pada sekalian tariq
Laut dan ombak keduanya rafiq
Akhir ke dalamnya jua ombaknya ghariq
Lautnya ‘Alim ha lunnya Ma’lum
Kondisinya Qasim ombaknya Maqsum
Tuhannya Hakim s h u ‘u n n ya Mahkum
Pada sekalian ‘alamin inilah rusum
54 Jikalau sini kamu tahu akan ada
Itulah t emp at kamu shuhud
Singkirkan rupamu dari sekalian quyud
Agar dapat ke dalam diri qu’ud
Pada wujud Allah itulah yogya kau qa’im
Singkirkan rupa dan namamu da’im
Nafikan rasamu dari Makhdum dan khadim
Agar sampai kepada Amal yang Khatim
Jika engkau belum t e t ap seperti batu
Hukum dua lagi khadim dan ratu
Setelah lupa engkau dari emas dan mati
Mangkanya d a p at menjadi satu
Jika belum fana dari ribu dan r a tus
Tiadakan dapat adamu kau hapus
Nafikan rasamu dari kasar dan halus
Agar dapat barang ka t amu harus Hamzah Fansuri sungguh pun da’if
Haqiqa tnya hampir di Dhat al-Sharif
Sungguh pun habab rupanya khatif
Wasilnya da ‘im dengan Bahr al-Latif
Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Senantiasa Wasil dengan Yang Baqi
Hamzah Fansuri terlalu karam
Di dalam laut yang mahadalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi sultan kedua alam
56 SYAIR a’yan THABITAH
Aho segala kamu yang bernama taulan!
T u n t ut ma’rifat pada mengenal a’yan
Karena disana sekalian ‘arifan
Barang ka t anya setengah dengan firman.
A’yan thabi t ah bukankah shu’un dha t iyyah?
Mengapa pulang dika ta ada ‘ilmiyyah!
Tatakala awwal baru muqabalah
Olehnya janggal sebab lagi me n t a h.
A’yan thabi t ah bukankah suwari?
Mengapa pulang dika ta sifat Wahyi!
Tatakala awwal baru tafsil ‘ilmi
Olehnya janggal tidak mengetahui.
A’yan thabi t ah bukankah mahiyyat al-mumkinat?
Mengapa pulang dika ta mus t ahi l a t!
Tatakala awwal telah bernama ma ‘lumat
Olehnya janggal tidak mendapa t.
57 a’yan thabi t ah bukankah makhluq?
Mengapa pulang dika ta ma ‘shuq!
Tatakala awwal baru masbuq
Olehnya janggal lalu t a f a ruq.
A’yan thabi t ah bukankah mi r ‘a t?
Mengapa pulang dika tak adamiyya t!
Tatakala awwal be rnama furuf ‘aliyat
Olehnya janggal menjadi dalalat.
A’yan thabi t ah bukankah ‘alam?
Mengapa pulang dika ta ‘adam!
Tatakala awwal telah sudah mutalazam
Olehnya janggal penglihatnya kelam.
A’yan thabi t ah bukankah ‘ashiq?
Mengapa pulang dika ta Khaliq!
Tatakala awwal baru mutalahiq
Olehnya janggal lalu mufariq.
58 a’yan thabi t ah bukankah ma ‘lum?
Mengapa pulang dika ta ma ‘d um!
Tatakala awwal telah sudah t e n n a q s um
Olehnya janggal tidak mafhum.
A’yan thabi t ah bukankah faqir?
Mengapa pulang dika ta amir!
Tatakala awwal baru hadir
Olehnya janggal menjadi khasir.
A’yan thabi t ah bukankah ja’izul ‘1-ada?
Mengapa pulang dika ta mumtani’u’l-ada!
Tatakala awwal telah sudah mawjud
Olehnya janggal menjadi j u h u d.
A’yan thabi t ah bukankah sh’un t h u b u t i?
Mengapa pulang dika ta ‘adam mahdi!
Tatakala awwal sudah mujmali
Olehnya janggal menjadi Mu’tazili. A’yan thabi t ah bukankah ‘adam mumkin?
Mengapa pulang dika ta ‘adam sakin!
Tatakala awwal telah menjadi cermin
Olehnya janggal lalu ngerin.
‘Adam mimkin awwalnya ma’ d um
Disana faqir sekalian antum
Didalam ‘ilmu sekaliannya ma’lum
Itulah murad wa huwa ma’akum aynama kuntum.
Dari Hamzah s Sha’irs (Coo. Or. 2 atau 6, Cod. Or. 3374, Cod. Or.
3 3 7 2, Library, Universitas Leiden)
60 SYAIR RUH ID AFI
T a ‘a y y un awwal ada yang j ami’ i
Pertama disana nya ta Ruh Idafi
Semesta ‘alam sana lagi ijmali
Itulah bernama Haqiqat Muhammad al-Nabi.
Ta ‘ayyun thani ada yang tamyizi
Disana terperi sekalian ruhi
Semesta ‘alam sana tafsil yang mujmali
Itulah bernama haqiqat insani.
Ta ‘ayyun tha l i th ada yang mufassali
Ia itulah penghargaan dari karunia Ilahi
Semesta ‘alam sana tafsil fi’li
Itulah bernama a’yan khariji.
Rahasia ini yogya dike t ahui
Pada kita sekalian yang me n u n t u ti
Demikianlah kelakuannya tanazzul dan taraqqi
Dari sanalah kita sekalian menjadi. Pada kunhinya i tu belum be rke t ahuan
Demikianlah ma r t a b at asal awal
Bernama wahdat t a t aka la zaman
Itulah ‘ashiq sifat menya t akan.
Wahdat itulah bernama Kamal dhati
Menyatakan sana Ruh Muhammad al-Nabi
Tatakala i tu be rnama Ruh Idafi
I tul ah ma h k o ta Qurayshi dan ‘Arabi.
Wahdat itulah sifat yang Keesaan
Memberikan wujud pada sekalian manusia
MuhitNya lengkap pada sekalian zaman
Olehnya itu tidak Ia bermakan.
Wahdat itulah yang pe r t ama nya ta
Didalamnya mawjud sekalian r a ta
MuhitNya lengkap pada sekalian anggota
Demikianlah ump ama chahaya dan pe rma t a.
62 wahdat itulah bernama Kunhi Sifat
Tidak ada bererai dengan itlaq Ahadiyyat
Tanzih dan tashbih disana ma ‘iyyat
Demikianlah sekarang zahir [2 8] pada ta ‘ayyuna t.
Wahdat itulah bernama bayang-bayang
Disana nya ta Wayang dan Dalang
MuhitNya lengkap pada sekalian padang
Mushahadat disana jangan kepalang.
Wahdat itulah yang pertama awwal
Ijmal dan tafsil sana mujmal
MuhitNya lengkap pada sekalian a f al
Itulah ma r t a b at usul dan asal.
Wahdat itulah yang pe r t ama tanazzul
Ijmal dan tafsil sana maqbul
MuhitNya lengkap pada sekalian maf’ul
Itulah Haqiqat Junjungan Rasul.
63 wahdat itulah yang pe r t ama tajalh
Tidak ada bererai dengan Wujud Mutlaqi
Ijmal dan tafsil didalam ‘ilmi
Itulah ma r t a b at kejadian Ruh Idafi.
Wahdat itulah yang pe r t ama taqayyid
Disana idafat lam yulad dan lam yalid
Pada sekalian t a ‘a y y un jangan kau taqlid
Mangkanya sampai bernama tajrid.
Wahdat itulah sifat yang t a l ahuq
Tanzih dan tashbih sana cluk
MuhitNya nya ta tatakala masuk
Itulah pe r t emuan Khaliq dan Makhluq.
Wahdat itulah sifat yang talazum
Tanzih dan tashbih sana malzum
MuhitNya lengap pada sekalian ma ‘lum
Itulah pe r t emuan Qasim d an Maqsiim. Wahdat itulah sifat yang taqarun
Tanzih dan tashbih sana maqrun
MuhitNya lengkap pada sekalian mudabbirun.
Itulah murad: Wa fi anfusikum-a fa la tubsirun.
65
J SYAIR IBA HATI
Tuhan ki ta yang be rnama Qadim
Pada sekalian makhluq terlalu karim
Tandanya qadir lagi dan hakim
Menjadikan ‘alam dari al-Rahman al-Rahim.
Rahman itulah yang bernama sifat
Tidak ada bererai dengan kunhi Dhat
Dhat disana pe rhimpunan sekalian ‘iba r at
Itulah haqiqat yang bernama ma ‘l uma t.
Rahman itulah yang bernama ada
Kondisi Tuhan yang tersedia ma ‘b ud
Kenyataan Islam Nasrani dan Yahud
Dari Rahman itulah sekalian mawjud.
Ma’bud itulah terlalu bayan
Pada kedua ‘alam kulla yawmin huwa fi shan
Ayat ini dari Surat al-Rahman
Sekalian ‘alam disana hayr an.
66 Ma’bud itulah yang bernama haqiq
Sekalian ‘alam didalamnya ghariq
Olehnya itu sekalian fariq
Pada kunhinya itu tidak mendapat tariq
Haqiqat itulah terlalu ‘ayan
Pada rupa kita sekalian insanAynama tuwallu suatu burhan
Fa thamma wajhu ‘Llah pada sekalian makan.
Insan itu terlalu ‘ali
Haqiqatnya Rahman yang Maha Baqi
Ahsanu taqwimin itu rabbani
Akan kenyataan Tuhan yang bernama Subhani.
Subhani itulah terlalu ‘ajib
Dari habli’l-Warid puh ia qarib
Indah sekali Qadi dan kha t ib
Demikian hampir tidak mendapat nasib.
67 Aho segala kita yang ‘ashiqi
Ingatkan ma ‘na insani
Jika sungguh engkau bangsa ruhani
Jadikan dirimu akan rupa Sultani.
Kenal dirimu hai anak ‘alim!
Supaya engkau nentiasa salim
Dengan dirimu itu yogya kau qa’im
Itulah haqiqat salat dan sa’im.
. Dirimu itu bernama khalil
Tidak ada bererai dengan Rabb [a l -] Jalil
Jika ma ‘na dirimu dapat akan dalil
Tidak berguna madhhab dan sabil.
Kullu man ‘alayha fan / ayat min Rabbihi
Menyatakan ma ‘na irjiH Ha aslihi
Akan insan yang deroleh tawfiqi
Supaya karam dalam sirru sirrihi. Situlah ada sekalian funun
Tinggallah engkau dari mal wa’1-banun
Engkaulah ‘ashiq terlalu j u n un
Inna IVLlahi wa inna ilayhi raji’un.

11 Oktober 2012

Kajian tembang Cublak Cublak Suweng

oleh alifbraja

Cublak cublak suweng

Suwenge tinggelenter

Mambu ketundung gudhel

Pak empong lera lere

Sopo ngunyu ndelek ake

Sir, sirpong dele kopong

Sir, sirpong dele kopong

Sopo ngguyu ndelek ake,…

Mungkin arti lagu tersebut adalah seperti ini :

cublak cublak suweng……
kata “cublak” adalah sebuah kata kebiasan atau idium yang digunakan untuk sebuah permainan saling tebak, sedang kata suweng artinya adalah hiasan telinga (bukan anting anting atau giwang) (ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting”

Suwenge tinggelenter………..
Seperti diatas suweng artinya adalah sebuah informasi yang penting, tinggelenter artinya adalah banyak tersebar berserakan… jadi kalo digabungkan kedua kata tersebut ditemukan arti : “informasi penting (ini) (sebenarnya) tersebar disegala tempat.”mambu ketundung gudhel……….
Mambu artinya adala tercium atau terdeteksi, ketundung artinya adalah diusir/dihilangkan, gudhel artinya adalah anak sapi, cuman saya merasa kata “gudhel” adalah sebuah kata kata idium yang mengartikan orang bodhoh atau orang yang sok tau akan tetapi tidak tau…. Kenapa koq artinya begitu….. gudhel adalah anak kerbau, kerbau adalah hewan yang sangat bermanfaat khusus nya masyarakat pertanian, disamping manfaat daging dan tenaga nya biasanya juga dimanfaat kan. akan tetapi “gudhel” memang benar adalah anak kerbau (hewan yang sangat bermanfaat) akan tetapi ketika masih “gudhel” (ketika kerbau masih kecil) kerbu kecil tersebut taunya cuman makan dan bermain (masih belum bisa dimanfaatkan… tenaganya masih kecil, dagingnya masih sedikit). Jadi arti kata “mambu ketundung gudhel”

Pak empong lera lere………
Pak empong adalah idium kata dari dewasa/kedewasaan… sebab artinya empong adalah ompong untuk penyebutan prang yang sudah berumur,…….. sedang disebut pak adalah artinya tua yang memiliki arti juga sudah menjadi dewasa …. Jadi kata “pak empong” adalah merujuk pada kata “orang yang dewasa dikrenakan mempunyai banyak pengalaman” kemudian lera lere artiya adalah menoleh kanan kiri atau memilih milih. Jadi kata “pak empong lera lere” adalah “orang dewasa yang sudah banyak pengalaman (mencari dengan) memilah milih (secara cermat)”.

Sopo nggunyu ndelek ake…..
artinya… “siapa yang tertawa (pasti) menyembunyikan”, memiliki persamaan arti sama seperti “siapa yang tertawa/menertawakan pasti mengetahui (kebohongan) yang ada” atau kalo lebih dipermudah kalo dibaca akan ketemu kata seperti ini “siapa yang (mengetahui pasti akan)(ketika) mengetahui (kebohongan) yang ada”

Sir, sirpong dele kopong…
kalo kata “sir pong dele kopong” kurang lebih artinya emmm … pong adalah sesuatu hal seperti bola yang kosong didalam nya, sedang dele (kedelai) kopong adalah kedelai yang mengambang diatas air…..kalau ga salah sih artinya menjadi seperti ini…. “(sesuatu) yang dianggap besar tersebut sebenarnya tidak ada isinya” atau memiliki persamaan arti dengan ini (biar nyambung sama kalimat kalimat terdahulunya, sebab ini adalah rangkaian sebuah tembang) “informasi yang dianggap benar sekarang ini, sebenarnya adalah kebohongan”

jadi kalo digabungkan semua katanya dan disusun sesuai susunan “tembang Cublak Cublak suweng” membentuk kalimat seperti ini :

(ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting (sebenarnya) informasi penting (ini) (sudah) tersebar disegala tempat ) tetapi ketahuilah) kalo ketahuan (informasi penting ini) bakalan diusir/dihilangkan/dirusak oleh orang orang yang tidak mengerti (bodoh) orang dewasa yang sudah banyak pengalaman/”ilmu” (mencari dengan) memilah milih (secara cermat) “siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan) informasi yang dianggap benar (secara umum) sekarang ini sebenarnya adalah kebohongan informasi yang dianggap benar (secara umum) sekarang ini sebenarnya adalah kebohongan siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan)

Kalo memang benar seperti itu arti dari Tembang “Cublak Cublak Suweng”……. wuih keren ya permainan kata dari bahasa jawa…….ya..coba aja deh…..diambil dari beberapa sumber di internet

suweng adalah hiasan telinga yang di cantelkan di daun telinga…. Mungkin artinya kata dari idium tersebuat adalah sebuah informasi yang penting. Jadi ditemukan kata artinya seperti ini : “ artinya adalah “kalo ketahuan bakalan diusir/dihilangkan/dirusak oleh orang orang yang tidak mengerti (bodoh)” tertawa/menertawakan yang ada” yang ada”

Artikel ini diambil dari berbagai sumber dan melalui beberapa editing, Apabila ada kesalahan  mohon maaf yang sebesar-besarnya ( Saya manusia yang ta’  luput dari salah & dosa )

11 Oktober 2012

Perbedaan Pengisian dan Pengijazahan Suatu Keilmuan

oleh alifbraja

Mungkin kita pernah mendengar atau mungkin membaca di artikel, di koran, website atau iklan klenik tentang kata-kata pengijazahan akbar hizb, pengijazahan asmak, pengisian ilmu A, pengisian ilmu B  dan pengijazahan atau pengisian ilmu metafisika lainnya, namun tahukah anda bahwa definisi dan arti pengijazahan dan atau pengisian keilmuan metafisika baik itu hizb, asmak, mantra dan lainnya memiliki arti yang berbeda.

Pada artikel kali ini akan menjelaskan perbedaan antara  ” pengisian ” dan ” pengijazahan ” pada suatu keilmuan sesuai apa yang saya pahami, tanpa bermaksud menyinggung atau merendahkan orang lain, artikel ini hanya sebatas pengetahuan saja agar kita faham arti perbedaan adri dua kata tersebut.

Pengijazahan Suatu Keilmuan

Dalam dunia metafisika sering kita dengar kata pengijazahan, arti ijazah itu sendiri bisa dibilang wewenang atau hak, sama seperti kita sekolah demi mendapat ijazah atau hak atas status kita sebagai murid sekolah atau perguruan tinggi tertentu.

Pengijazahan dalam dunia metafisika tak lain adalah diberikannya wewenang kepada kita atas amalan seseorang entah itu Ulama’, Syekh, Kyai, Paranormal, Bomoh alias Dukun, Ustad atau lainnya, artinya pemilik amalan tertentu seperti Hizib, Asmak, dll telah memberikan izin kepada pihak lain untuk mengamalkan amalan yang dia miliki untuk diamalkan .

Jadi bisa dibilang pengijazahan hanya sebatas pemberian hak untuk di  amalkannya suatu disiplin ilmu tanpa adanya pengisian atau transfer energi, dan syarat untuk  mengijazahkan suatu keilmuan pengijazah ilmu harus sudah pernah mengamalkan ilmu yang di ijazahkan walaupun hanya 1x saja seumur hidup, jika pemberi ijazah belum pernah mengamalkan amalan yang di ijazahkan sama sekali itu tidak lagi disebut pengijazahan tetapi sebatas pemberian informasi , logikanya bagaimana seorang guru menyarankan muridnya untuk belajar suatu keilmuan tetapi gurunya sendiri belum pernah memahami atau bahkan menguasai keilmuan tersebut, resikonya apa dan bagaimana, kesalahan otomatis guru tidak bisa menjawabnya karena dia sendiri belum tahu plus minus dari ilmu tersebut.

Pengisian Suatu Keilmuan

Dilihat dari kalimatnya ” pengisian suatu keilmuan ” nampaknya tak ubahnya mengisi air dalam gelas atau mengisi suatu benda kedalam wadah kok bisa bisa ilmu di isikan .. ? hebat dong bisa mengisi keilmuan, kalau gitu saya juga minta di isikan ilmu metamatika atau fisika biar gak usah belajar.. he he he tidaklah seperti itu pemahamannya, pengisian suatu keilmuan bukanlah mengisi keilmuan jadi seperti mengisi ilmu matematika langsung dimasukkan tanpa belajar, kalau mengisi keilmuan seperti ini bisa mana mungkin ada orang bodoh semua pasti pintar.

Lantas bagaimana maksudnya?

Pengisian suatu keilmuan Hizib, Asmak, dll pada dasarnya yang di isikan adalah energi mentahnya bisa dibilang khadamnya jadi bukan di isikan utuh keilmuannya.

Seperti kita yang pernah kita dengar mengenai kata mie instan, makanan instan dan segala instan-instan yang lainnya, apakah dengan kata dan definisi ” makanan instan ” maka makanan tersebut langsung siap di makan? seperti mie instan. apa mungkin kita beli langsung dimakan, tanpa diolah? tentu tidak meskipun makanan tersebut sudah siap saji alias instan tetapi tetap harus kita olah sesuai petunjuk dari merk produk tersebut seperti di masak sekian menit, campur bumbu dan petunjuk lainnya.

Begitu juga dengan pengisian keilmuan metafisika, walaupun energi amalan, wirid atau do’a dimasukkan tentunya harus di kelola terlebih dahulu agar ilmu yang di isikan bisa dirasakan tuah maupun manfaatnya, lantas bagaimana mengelolanya? tentunya yang bisa menjawab adalah masing masing pengisi keilmuan.

Pengisian keilmuan ini bisa menjadi aktif bisa juga menjadi pasif, aktif dengan kata lain energi yang diisikan bisa digunakan kapanpun ketika kita menginginkannya, dan pasif artinya kekuatan yang diisikan hanya akan keluar ketika dalam keadaan tertentu semisal dalam keadaan terjepit bahaya, kepepet, terpojok dan lain sebagainya.

Itulah sekilas penjabaran serta perbedaan antara ” pengijazahan dan pengisian ” yang sering diiklankan oleh paranormal, jadi agar tidak salah tafsir pengijazahan yaitu diberikannya hak kepada kita agar kita mengamalkan keilmuan mereka, dan mereka pemilik keilmuan tidak mengisikan energi keilmuan tersebut kepada kita,  pengisian yaitu kita di isikan energi dari amalan atau do’a tertentu agar kita memiliki kemampuan dari kekuatan ilmu tersebut, umumnya pengisian disertai pengijazahan yaitu kita di beri energi kekuatan amalan dan diberikan hak untuk mengamalkan amalan tersebut agar energi yang diisikan semakin kuat, tetapi ada juga yang pengisian tanpa disertai pengijazahan yaitu kita hanya diisi energi (seperti kebal) tetapi tidak diberi amalannya, jadi cuman diberi energinya saja.

Lalu manakah yang terbaik antara, pangijazahan, pengisian biasa atau pengisian yang disertai pengijazahan? tergantung kondisi, semua bisa mengatakan pengijazahan terbaik, pengisian terbaik atau bahkan pengisian dengan pengijazahan yang terbaik, namun bagi saya pribadi pengisian dan pengiijazahan itu yang terbaik karena disamping kita sudah memperoleh energi amalan suatun ilmu maka kita tinggal meneruskan dengan disiplin dan aturan ilmu tersebut seperti membaca atau mewiridkan amalan misalnya , kalaupun  harus dilakukan tirakat dalam suatu keilmuan tertentu maka pengisian yang disertai pengijazahan akan lebih cepat berhasil daripada pengijazahan biasa.

%d blogger menyukai ini: