Posts tagged ‘kokoh’

17 September 2012

Derajat kita di sisi Allah

oleh alifbraja

Di manakah posisi/derajat kita di sisi Allah saat kini ?

Firman Allah yang artinya,

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS. Al-Hujurat: 13)

Sebagian kita memahami “di sisi” Allah adalah semata-mata kejadian kelak di akhirat nanti. Namun sesungguhnya posisi/derajat manusia di sisi Allah berlangsung ketika kehidupan di dunia.

Ada sebagian muslim “berani” melakukan perbuatan yang dilarang Allah, sesungguhnya karena tidak merasakan “di sisi” Allah.  Padahal Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Sedangkan ada sebagian muslim karena posisi/derajat nya lebih mulia “di sisi” Allah  maka Allah berikan jalan keluar dan Allah berikan rezeki  dari arah yang tidak disangka dan Allah mencukupkan (keperluan)nya

Sesuai dengan firman Allah yang artinya,

Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.(QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Benarlah, manusia di sisi Allah ketika kehidupan di dunia bahkan dimulai sejak manusia diciptakan.

Menurut para ahli Tasawuf, hakikat manusia dibagi menjadi dua bangunan utama, yaitu bangunan jasmani dan rohani. Bangunan jasmani manusia diciptakan melalui enam proses kejadian yaitu:

  1. Sari pati tanah
  2. Nuftah
  3. Segumpal darah
  4. Segumpal daging
  5. Pertumbuhan tulang-belulang
  6. Pembungkusan tulang-belulang

Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari sari pati tanah. Kami jadikan sari pati tanah itu air mani yang ditempatkan dengan kokoh di tempat yang teguh. Kemudian air mani itu kami jadiukan segumpal darah, dari segumpal darah itu, Kami jadikan segumpal daging, Kami jadikan pula tulang-belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging (QS Al Mu-minun (23): 12-14)

Setelah melalui enam tahap proses tersebut maka jasmani manusia boleh dikatakan sebagai makhluk yang sempurna apabila dipandang dari sudut jasmaniah, tetapi apabila dipandang dari sudut Rohaniah, manusia yang belum ditiupkan Roh-Ku belumlah dapat disebut manusia sempurna. Oleh karenanya itu, pada proses kejadian yang ketujuh, Allah meniupkan sebagian Roh-Nya kepada jasmani manusia. Pada saat itulah manusia tersebut bisa dikatakan sebagai manusia yang sempurna baik jasmani maupun rohani.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka jika Aku telah menyempyurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. (QS Al Hijr (15):28-30)

Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.

“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

Menurut tinjauan ahli Tasawuf, di bagian kepala manusia terdapat tujuh buah lubang (pintu) sebagai sumber rasa inderawi, yaitu,

  1. Dua lubang telinga sebagai sumber (alat) pendengaran.
  2. Satu lubang mulut sebagai sumber (alat) pengucapan dan pengecapan
  3. Dua lubang mata sebagai sumber (alat) penglihatan
  4. Dua lubang hidung sebagai sumber (alat) pernapasan.

Ketujuh buah lubang (pintu) yang ada di kepala manusia tersebut secara simbolis diinformasikan Allah dalam al-Qur’an dengan istilah “tujuh buah jalan” yang ada di atas badan manusia.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas (badan) kamu tujuh buah jalan dan kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” (QS Al-Mu’minun (23):17)

Tujuh lubang ini disebut juga sebagai “pembuka”, karena dengan tujuh lubang inilah, manusia berhasil membuka segala rahasia pengetahuan, baik yang bersifat lahir maupun batin.

Proses terjadinya aktifitas alat inderawi tersebut yang terwujudkan dalam bentuk pendengaran, pengucapan atau pengecapan, penglihatan dan pernapasan inilah yang disebut kiasan “tujuh buah jalan” yang dapat memberi petunjuk karena dengan adanya empat inderawi tersebut maka manusia mendapatkan pengetahuan tentang masalah apapun yang sedang dipelajarinya.

Pada tubuh manusia, total keseluruhan terdapat sepuluh lubang inderawi, yaitu tujuh di kepala dan tiga lubang dibagian badan yaitu lubang pusar, lubang anus dan lubang kemaluan. Khusus untuk lubang pusar sudah tidak berfungsi sejak manusia dilahirkan. Sehingga yang berfungsi secara maksimal adalah Sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia.

Apabila dikaitkan dengan keadaan bayi dalam kandungan maka dapat terlihat bahwa Sembilan lubang yang ada pada tubuh bayi tidaklah berfungsi, hal ini dikarenakan seorang bayi dalam kandungan berada di dalam air ketuban (omnium water). Sehingga seorang bayi dalam kandungan tidak melakukan aktifitas inderawi secara sempurna. Dengan kata lain seorang bayi tidak makan dan tidak minum atau berbicara dengan mulut, tidak bernapas dengan hidung, tidak melihat dengan mata, tidak mendengar dengan telinga, dan tidak buang air besar atau kecil melalui anus atau kemaluan. Tetapi bayi tersebut mendapatkan semua kebutuhan jasmaninya melalui saluran plasenta yang menghubungkan antara pusar bayi dengan dinding rahim ibu.

Dalam kandungan, seorang bayi juga tidak berpikir dikarenakan fungsi otaknya belum sempurna, tetapi kemampuan rohani bayi telah hidup sempurna. Peristiwa ini dialami oleh seorang bayi selama kurang lebih sembilan bulan.  Dalam bahasa Tasawuf, keadaan ini disebut dengan peristiwa dimana seorang bayi berada dalam Janah yang berada  di bawah telapak kaki ibu selama Sembilan bulan.

Sayangnya setelah bayi itu tumbuh dewasa, dia tidak dapat mengingat perjalanannya ketika berada dalam kandungan rahim ibunya. Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan,agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada saat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” (QS Al An’am 6: 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: “ Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu” (QS Al Kahfi 18:48).

Sejak bayi dalam kandungan yang bersih dan suci telah keadaan  “menemui” Allah.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Setelah anak manusia terlahir ke dunia,  keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak.

Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi. Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama.

Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak.

Di dalam Islam, sistem pendidikan dalam keluarga menjadi penentu masa depan anak. Apakah anak akan menjadi shaleh, baik, santun, penyayang atau kurang ajar, kasar, bengis, semuanya tergantung pada tangan-tangan pertama yang mendidiknya, yakni orang tuanya.

Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani atau seorang Majusi.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Yang dimaksud adalah anak-anak yang baru dilahirkan memiliki fitrah yang bersih dan suci, yaitu beriman kepada Allah SWT. Orang tua memiliki peran dalam mengarahkan fitrah anak. Apakah akan tetap bersih, murni dan bersinar? Ataukah cahayanya akan memudar, bahkan hilang.

Lalu bagaimana arah tujuan pendidikan anak berdasarkan Islam

Kalau mengacu kepada al Qur’an, maka al Qur’an memberi tuntunan bagaimana  seharusnya tujuan pendidikan anak.

Allah SWT berfirman  yang artinya, “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al Furqaan  25: 74)

“Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur”” (QS. Al A’raf  7: 189)

…“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

Ini sebenarnya inti dari kurikulum pendidikan anak: (1) menjadikan anak-anak kita sebagai penyenang hati / penyejuk mata dan  orang-orang bertaqwa (2) Menjadikan anak-anak kita sebagai anak-anak yang shaleh (3) Menjadikan anak-anak kita sebagai umat terbaik yang akan mengemban dakwah Islam, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar

Kemudian setelah anak dewasa dan mampu dengan bekal pengetahuan dan pendidikan yang didapatnya mereka akan mengarungi kehidupan dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadist.

Dengan kemampuan merekalah mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan Hadist, mengupayakan posisi/derajat di sisi Allah. Sebagian mereka yang dianugerahi Allah ilmu pengetahuan mendapatkan posisi/derajat yang lebih baik sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Mujaadilah 58: 11)

Upaya kitamendapatkan posisi/derajat yang lebih baik di sisi Allah, salah satunya  dengan mengendalikan hawa nafsu atau mengendalikan tujuh buah lubang (pintu) sebagai sumber rasa inderawi.

Hawa nafsu yang bersarang pada jasmani kita, dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:

1. Nafsu Amarah yang bentuk perwujudannya berupa sifat marah, dengki, ujub dan syirik. Nafsu ini sumbernya di telinga  yang dapat timbul melalui hantaran pendengaran. (Dua lubang telinga, disimbolkan pintu Umar bin Khatab)

2. Nafsu Lawamah yang termanifestasikan dalam bentuk sifat rakus, tamak, loba dan malas. Nafsu ini sumbernya di mulut   yang dapat dimbul melalui hantaran pengucapan atau peengecapan.  (Satu lubang mulut disimbolkan  pintu Ali bin Thalib)

3. Nafsu Sufiyah yang termanifestasikan dalam bentuk sifat cinta, kekaguman, dan keindahan. Nafsu tersebut berada pada mata  yang akan timbul melalui hantaran penglihatan. (Dua lubang mata disimbolkan pintu Usman bin Affan)

4. Nafsu Mutmainah yang termanifestasikan dalam sifat ketenangan dan kedamaian. Nafsu tersebut berada di hidung  yang dapat timbul melalui hantaran pernafasan. (Dua lubang  hidung disimbolkan pintu Abu Bakar)

Ke empat nafsu yang termanifestaasikan dalam bentuk pendengaran, pengucapan (pengecapan), penglihatan dan pernafasan, pada akhirnya akan menimbulkan “hawa” yang berbentuk rasa jasmani yakni

  1. Rasa Pendengaran.
  2. Rasa Pengecapan ataiu pengucapan
  3. Rasa Penglihatan
  4. Rasa Pernafasan atau penciuman

Semua bentuk “rasa” tersebut bersifat ghaib atau bathin yang tidak berwujud tetapi bisa dirasakan keberadaannya. Ke-empat rasa dari nafsu tersebut dapat dimatikan maupun dihidupkan, tergantung dari bagaimana kita menutup atau membuka “pintu” keluar masuknya rasa dari sumber nafsu tersebut.

Cara menutup pintu hawa nafsu tersebut, dengan mempergunakan “alat” yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap manusia, sesuai firman Allah yang artinya:

Carilah Akhirat dengan “alat” yang telah Kami anugerahkan kepadamu dan janganlah kamu lupakan kenikmatan dunia” (QS Al Qashash 28: 77)

Tatkala aku berada di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba beliau bertanya : Adakah orang asing diantara kamu ?” lantas beliau memerintahkan supaya pintu di tutup dan bersabda “Angkat tangan kamu” (HR Al Hakim)

“Tutup pintumu dan ingatlah Allah”. (HR Bukhari).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi saw ” Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”

Prosesi “menutup pintu” hawa nafsu yang ada pada kepala manusia, inilah yang dinamakan dengan “Takbiratul Ihram”,  (Takbir Larangan) yang mempunyai arti bahwa ketika kita mengangkat kedua telapak tangan kita saat mengawali sholat, kita diharamkan atau dilarang untuk melakukan aktifitas inderawi seperti mendengar, melihat, dan berbicara  kecuali bernafas (simbol pintu Abu Bakar), karena kita sedang berhadapan dengan Allah Swt (bertawajuh).  Hal ini sesuai dengan firmanNya yang artinya,

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS Al An’am 6: 79)

Ayat di atas merupakan pernyataan setiap kali kita sholat, bahwa kita menyadari sedang menghadapkan wajah kita kepada Allah, yang Maha Suci (bertawajuh). Kemudian dilanjutkan dengan penegasan bahwa “Sholatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku semata-mata hanya untuk Allah semata”. Jika keadaan ini terjadi, tak mungkin akal kita berkeliaran tak terkendali mengingat selain Allah. Kita juga tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar tuntunan Allah.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikan sholat. Sesungguhya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah dalam (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain)” (QS Al Ankabut 29: 45)

Allah memberikan gelar kepada orang yang shalat tidak sesuai dengan ikrar/sumpahnya sebagai sholatnya orang munafik.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk Sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka dzikrullah (menyebut Allah)  kecuali hanya sedikit sekali” (QS An-Nisa 4: 142)

Ketika melakukan sholat, ada kalanya mengalami rasa jenuh dan tidak kusyu’, padahal dalam doa iftitah kita telah berikrar bahwa kita sedang menghadapkan wajah kita kepada Allah. Hal ini terjadi karena tidak mengetahui bagaimana cara melakukan Takbiratul Ihram dengan baik.

Nabi Muhammad Saw bersabda, bahwa “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin”.   Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.

Apakah kita bisa “bertemu”  dengan Allah ketika Sholat ?

Sebagian orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori dan berkeyakinan bahwa manusia tidak mungkin bertemu dengan Allah di dunia. Akibatnya kebanyakan orang tak mau pusing mengenai hakikat Sholat atau bahkan hanya menganggap sholat sebagai kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.

Dilain pihak ada orang yang melakukan sholat, telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai kusyu’, akan tetapi tetap saja pikiran masih menerawang tidak karuan sehingga tanpa disadari sudah keluar dari “kesadaran sholat”. Allah telah mengingatkan hal ini, bahwa banyak orang sholat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan sholat itu sendiri, yaitu bergeser niatnya bukan lagi karena Allah.

‘…. maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya” (QS Al-Ma’un 107: 4-6)

Perihal itu terjadi bagi orang yang dalam sholatnya tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya sehingga pikirannya melayang liar tanpa kendali. Sholat yang demikian adalah sholat yang shahun. Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menghendaki sholat sebagai jalan untuk mengingat Allah.

“… maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku” (QS Thaha 20: 14)

“… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”(QS Al A’raaf 7: 205)

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah sholat, yaitu untuk mengingat Allah, bukan sekedar membungkuk, bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan yang dilakukan. Sholat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan orang, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, yaitu tercegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Jangan engkau mendekati sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar)… “ (QS An nisa 4: 43)

Nahyi (larangan) ditujukan kepada mushalilin agar tidak melakukan sholat jika masih belum sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Sang Khaliq.  Larangan itu merupakan syarat mutlak dari Allah. Coba kita renungkan, untuk mendekati saja kita dilarang, apalagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan maka Allah akan murka, yang ditunjukkan dengan perkataan yaitu “maka celakalah orang yang sholat,  (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya dan orang-orang yang berbuat riya” (QS Al-ma’un 107: 4-6)”

Allah juga memberikan pujian kepada orang-orang mukmin yang khusyu dalam sholatnya

“Sungguh beruntunglah mereka yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya” (QS Al Mukminun 23: 1-2)

Al-Quran menyebutkan penyebab dicabutnya ilmu khusyu’, yaitu karena memperturutkan hawa nafsu dan melalaikan sholatnya. Dalam Al-Qur’an Allah juga telah menunjukkan jalan bagi yang mendapatkan kekhusyu’an

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al Baqarah 2: 45-46)

Semoga kita dapat merasakan menemui Allah,  kedekatan dengan Allah, mengetahui posisi/derajat kita di sisi Allah.

Semakin kita dekat dengan Allah maka kita akan semakin sibuk dengan Allah, semakin jauh kita dengan Allah maka kita akan semakin sibuk dengan diri kita sendiri.

Semakin kita dekat dengan Allah maka kita yakin bahwa segala keperluan kita didunia , Allah akan mencukupkannya, sedangkan semakin jauh kita dengan Allah maka kita akan “kepayahan” dengan upaya sendiri memenuhi segala keperluan kita di dunia.

Orang yang dekat dengan Allah dikenal sebagai orang-orang Arif.

Orang-orang Arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan jika Allah yang berkenan bukan karena keinginan mereka sendiri.

Mereka paham bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Jalan untuk dapat selalu menyibukkan diri dengan Allah atau mengetahui apa yang Allah berkenan adalah dengan “mengenal” Allah, yakni yang kita kenal marifatullah.  Dengan mengenal Allah (marifatullah) maka kita bisa memahami apa yang Allah berkenan.

Ilmu untuk mempelajari  tentang marifatullah itulah Ilmu Tasawuf.

Untuk mencapai pemahaman orang-orang arif tidak cukup dengan metode pemahaman secara harfiah atau tekstual akan tetapi melalui metode pemahaman yang lebih dalam / maknawi atau dikenal “mengambil pelajaran” dengan hikmah.

Sesuai dengan firman Allah,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)

Wassalam.

Iklan
25 Agustus 2012

Jalan untuk Meraih Ilmu yang Bermanfaat

oleh alifbraja

Jalan untuk Meraih Ilmu yang Bermanfaat

 
 

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya, Bagaimana cara yang benar yang mesti ditempuh oleh seorang yang mempelajari Islam (tholibul ‘ilmi) sehingga ia bisa meraih ridho Allah subhanahu wa ta’ala, bisa meraih ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan kaum muslimin? Apa cara yang bisa menolong seorang yang mempelajari Islam agar kuat dalam hafalan, pintar dalam memahami masalah dan tidak mudah lupa?
Beliau rahimahullah menjawab,

Sebab utama untuk meraih ilmu yang bermanfaat adalah bertakwa pada Allah, dengan mentaati-Nya dan meninggalkan berbagai maksiat. Juga hendaklah ia ikhlas, banyak bertaubat serta banyak memohon pertolongan dan taufik Allah. Kemudian hendaklah ia banyak perhatian pada pelajaran dan banyak mengulang-ngulang. Tak lupa pula ia harus pandai mengatur waktu. Inilah sebab utama.
Sebab lainnya lagi yang bisa membantu adalah seringnya mengulang-ngulang pelajaran bersama teman karib, juga semangat mencatat faedah ilmu sehingga ilmu yang diperoleh semakin mantap (kokoh). Jadi tidaklah cukup hanya dengan menghadiri majelis ilmu dan belajar dari ustadz (guru). Bahkan sangat perlu seseorang untuk banyak mengulang pelajaran bersama teman karibnya sehingga terselesaikanlah hal-hal yang masih belum dipahami. Dengan demikian, ilmunya akan semakin kokoh dalam benaknya.
[Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah, Jilid ke-23.

Nasehat di atas adalah termasuk nasehat untuk kami pribadi. Semoga Alloh melimpahkan pada kita sekalian ilmu yang bermanfaat, ilmu yang bukan sekedar teori, namun direalisasikan dalam praktek dan amalan.
20 Juli 2012

ARGUMEN TAUHID DAN SEBAB-SEBAB KEMUSYRIKAN

oleh alifbraja

ARGUMEN TAUHID DAN SEBAB-SEBAB KEMUSYRIKAN

 
 

 

Mukadimah 

Pada beberapa kajian yang telah lalu, telah kita buktikan kemestian adanya Tuhan Pencipta alam semesta dan pencipta manusia. Setiap insan, dengan akalnya yang sehat dan normal, atau dengan fitrahnya yang suci, pasti meyakini adanya Tuhan Pencipta. Sebagaimana ia meyakini keberadaan dirinya dan yang di sekitarnya. Dengan beberapa argumen rasional, telah ktia buktikan wujud Tuhan Yang Mahatahu, Mahakuasa dan memiliki seluruh sifat kesempurnaan serta ternafikan dari segala sifat kekurangan. Dialah yang menciptakan, memelihara dan mengatur alam semesta ini. Lebih dari itu, kami juga telah memaparkan pandangan dunia Materialisme terhadap alam  semesta. Dan melalui catatan kritis kami terhadap beberapa pandangan tersebut, menjadi jelas bagi kita, bahwa kemestian adanya alam semesta tanpa Tuhan Pencipta, adalah merupakan kemestian yang irrasional dan penafsiran yang tidak mungkin dapat diterima oleh setiap insan yang berakal sehat.

Selanjutnya, pada kesempatan ini dan pada kajian berikutnya, kami akan membahas tema Tauhid, sekaligus menyanggah pandangan dan keyakinan orang-orang musyrik.

Perkembangan kemusyrikan atau syirik kepada Tuhan Yang Esa, tidak bisa dilepaskan dari perkembangan keyakinan di masyarakat. Para sosiolog mengajukan berbagai macam pandangan seputar perkembangan keyakinan-keyakinan syirik di masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan silih-berganti. Tetapi, pandangan dan penafsiran itu  tidak berdasarkan dalil yang kokoh dan akurat.

Sehubungan dengan hal itu, pertanyaan yang layak dilontarkan adalah: Bagaimanakah, dan kapankan kecendrungan masyarakat kepada kemusyrikan itu mulai timbul? Atau: faktor apakah yang menjadi sebab utama terjadinya kemusyrikan dan meyakini banyak Tuhan tersebut? Ada kemungkinan, bahwa faktor  pertama kecenderungan syirik dan keyakinan pada banyak Tuhan, adalah tatkala seseorang melihat banyak dan beragamnya realitas-realitas di langit dan di bumi. Mulai dari situlah mereka berkeyakinan, bahwa setiap bagian realitas itu tunduk di bawah pengaturan Tuhan tertentu. Misalnya matahari memiliki Tuhan tertentu yang mengaturnya. Rembulan tunduk dibawah pengaturan Tuhan yang lainnya. Dan begitulah seterusnya bagi benda-benda dan realitas-realitas lainnya, baik yang berada di bumi maupun yang di langit. Masing-masing memiliki Tuhan tertentu yang mengawasi dan mengaturnya. Bahkan, sebagian dari mereka percaya, bahwa seluruh kebaikan itu bersumber dari Tuhan kebaikan. Sementara seluruh keburukan berasal dari Tuhan keburukan. Berangkat dari sinilah, mereka yakin bahwa alam semesta ini memiliki dua sumber wujud dan pencipta; Pencipta kebaikan dan Pencipta keburukan

Demikian pula pengamatan mereka terhadap pengaruh sinar matahari, bulan dan bintang-bintang terhadap realitas bumi. sehingga -dari satu sisi-mereka memandang bahwa benda-benda tersebut memiliki suatu bentuk pengaturan terhadap apa yang ada di bumi. Dari sisi lain, bahwa kecendrungan manusia untuk menyembah sembahan yang dapat diindera, mendorong mereka untuk membuat berbagai lambang dan simbol bagi Tuhan-Tuhan yang mereka anggap layak untuk mereka sembah. Lambang-lambang itu, lambat laun, mendarah daging dan terukir di hati orang-orang yang pikirannya lemah. Selanjutnya setiap bangsa, bahkan suku, membuat ritual keagamaan tertentu -sesuai dengan anggapan mereka masing-masing- yang bertujuan untuk menyembah lambang tersebut. Dengan cara itulah mereka  dapat memenuhi desakan fitrah -untuk menyembah Tuhan Pencipta- dari dalam diri mereka.

Lebih dari itu, mereka pun berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan hewani dan hawa nafsunya dalam bentuk kesucian agama. Dan sebagian dari ritual-ritual keagamaan tersebut, masih berlanjut hingga sekarang, yang disertai dengan berbagai macam tarian, nyanyian, minum khamar, hubungan seks dan perilaku hewani lainnya, yang semua itu mewarnai suasana ritual keagamaan para penyembah lambang tersebut. Di negara kita Indonesia misalnya, fenomena semacam itu masih dapat kita saksikan, atau paling tidak kita dengar, di daerah-daerah pedalaman Kalimantan atau Sumatera dan di tempat-tempat lainnya.

Di samping itu semua, adanya tujuan para penguasa zalim, congkak dan tamak, yang sengaja ingin memanfaatkan keyakinan dan pemikiran masyarakat awam demi memenuhi ambisi busuk mereka, mengokohkan dan memperluas daerah kekuasaan mereka. Untuk tujuan itulah mereka menebarkan keyakinan-keyakinan syirik, menurunkan pengaturan alam di bawah kuasa mereka, dan menjadikan raja-raja yang zalim sebagai sembahan dan bagian dari upacara keagamaan. Kenyataan ini tampak begitu jelas pada raja-raja dan sultan-sultan di Cina, India, Iran, Mesir dan negeri-negeri yang lain.

Dengan demikian, dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bahwa  keyakinan-keyakinan dan dasar-dasar syirik itu telah tumbuh dan berkembang di tengah umat manusia karena faktor yang beragam. Lalu, keyakinan-keyakinan itu tersebar luas, sehingga menjadi kendala bagi proses kesempurnaan  hakiki umat manusia, yaitu proses yang hanya dapat dicapai melalui ajaran Ilahi  dan Tauhid. Oleh karena itu, para nabi dan utusan Tuhan, mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk memberantas syirik.

Pada dasarnya, keyakinan-keyakinan dan dasar-dasar syirik itu, bertumpu pada kepercayaan adanya pengatur alam selain Tuhan Yang Esa. Di samping itu, banyak kaum musyrik yang percaya, bahwa pencipta alam semesta adalah satu. Buktinya adalah bahwa mereka mempercayai konsep Tauhid dalam penciptaan. Tetapi pada saat yang sama, mereka pun meyakini adanya Tuhan-Tuhan sebagai pengatur alam secara mandiri. Dan mereka juga menamakan Tuhan Pencipta sebagai “Tuhan di atas Tuhan-Tuhan pengatur”.

Sebagian mereka menganggap, bahwa Tuhan-Tuhan pengatur itu adalah malaikat. Musyrikin Arab percaya, bahwa Tuhan-Tuhan pengatur itu adalah putri-putri Allah. Sebagian lainnya percaya, bahwa mereka itu adalah jin. Di antara mereka ada pula yang percaya, bahwa mereka itu adalah ruh bintang-bintang, atau ruh orang-orang terdahulu, atau bentuk-bentuk maujud yang abstrak.

Sebagaimana pernah kami singgung, bahwa sebenarnya terdapat kaitan yang erat antara penciptaan (Khaliqiyah) dengan pengaturan (Rububiyah) yang hakiki. Sehingga keimanan pada penciptaan dan pengaturan itu tidak dapat dipisahkan sama sekali. Dan keimanan kepada Allah sebagai pencipta alam raya ini, tidak sejalan dengan kepercayaan kepada selain Allah sebagai pengaturnya. Mereka yang memiliki keyakinan adanya dua Tuhan; Tuhan Pencipta dan Tuhan Pengatur, sesungguhnya belum menyadari adanya kontradiksi di dalamnya. Untuk menyanggah keyakinan mereka, cukuplah dengan mengangkat poin kontradiksi tersebut.

Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil atas Tauhid kepada Allah yang telah dipaparkan di berbagai kitab Teologi dan Filsafat. Di sini, kami hanya akan membawakan satu dalil saja, yang secara langsung menunjukkan Tauhid dalam pengaturan, sekaligus menyanggah keyakinan-keyakinan kaum musyrik.

 

Argumen atas Tauhid kepada Allah

Sesungguhnya memestikan dan meyakini banyak Tuhan bagi alam semesta ini, tidak keluar dari beberapa asumsi berikut ini:

Pertama: Kita memestikan bahwa setiap realitas alam ini merupakan akibat dan diciptakan oleh seluruh Tuhan tersebut.  

Kedua: Setiap unit atau kelompok realitas alam ini, adalah akibat dan diciptakan oleh satu Tuhan di antara Tuhan-Tuhan yang banyak itu.

Ketiga: Semua realitas di alam ini, diciptakan oleh Tuhan Yang Esa, sementarta Tuhan-Tuhan yang lain, berperan sebagai pengatur mereka.

Asumsi bahwa setiap realitas alam ini memiliki banyak Tuhan sebagai Tuhan-Tuhan Pencipta, adalah asumsi yang mustahil. Sebab, keyakinan ini berarti memestikan ada dua Tuhan atau lebih, sebagai pencipta dan sebagai sebab-pewujud. Artinya bahwa, setiap Tuhan itu memberi wujud kepada setiap realitas alam. Konsekuensinya adalah bahwa  setiap realitas itu memiliki Tuhan-Tuhan yang banyak sekali, sebanyak bilangan yang diasumsikan. Padahal kenyataannya sudah jelas, bahwa setiap realitas, hanya memiliki satu wujud saja. Tidak lebih dari satu wujud.Karena jika tidak demikian, tentu setiap realitas tidak lagi satu. 

Adapun asumsi bahwa setiap Tuhan itu menciptakan satu makhluk, atau menciptakan sekelompok makhluk tertentu, hal ini berarti, bahwa masing-masing makhluk itu bergantung hanya kepada  penciptanya saja, dan tidak butuh kepada maujud yang lain, kecuali dalam hal-hal yang kebutuhannya itu berakhir kepada penciptanya. Dan ini merupakan kebutuhan yang khas bagi makhluk-makhluknya. Dengan kata lain, asumsi kedua itu melazimkan  pula adanya sistem yang banyak di dalam alam raya ini. Dan setiap sistem itu, mandiri dan terpisah dari yang lain. Padahal alam ini, jelas, hanya memiliki satu sistem. Buktinya adalah adanya hubungan di antara realitas-realitas alam pada satu zaman, yang setiap mereka butuh kepada yang lain. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada hubungan di antara realitas-realitas sebelumnya dengan realitas-realitas yang sedang berlangsung. Demikian juga, antara realitas-realitas yang sedang berlangsung dengan yang berikutnya. Dan setiap realitas yang lalu, merupakan prasyarat bagi wujud yang berikutnya. Dengan cara seperti itu, alam yang terdiri dari bagian-bagian ini, saling berhubungan dan berkait yang diatur oleh satu sistem yang tidak mungkin sebagai akibat dari beberapa sebab pengada.                 

Adapun asumsi bahwa Pencipta seluruh makhluk adalah Tuhan Yang Esa, sedangkan Tuhan-Tuhan yang lain bertugas mengatur alam, adalah asumsi yang keliru. Karena seluruh wujud dan aktifitas setiap akibat itu, bergantung kepada sebab yang mengadakannya. Artinya, tidak ada celah bagi maujud mandiri apa pun, untuk ikut campur dalam urusan tersebut, selain interaksi antara sesama akibat-akibat dari satu sebab. Dan tentunya, seluruh akibat-akibat tersebut tunduk kepada sebab pengada mereka dan tidak keluar dari wilayah kekuasaan-Nya. Satu pun tidak akan terjadi, kecuali dengan izin-Nya.

Dengan demikian, Tuhan-Tuhan itu -selain Tuhan Pencipta dan Pewujud- bukan Tuhan dalam arti yang sebenarnya. Karena, makna Tuhan yang sebenarnya adalah Dzat yang dapat memperlakukan segala makhluk-Nya secara mandiri. Sedangkan pada asumsi di atas, Tuhan-Tuhan itu tidak mandiri dalam meng-aktifkan kekuasaan mereka. Bahkan mereka itu adalah serpihan dari rububiyah Pencipta Sejati. Dan akan menjadi aktif dengan kekuatan yang Dia berikan kepada mereka. Tanpa anugerah-Nya, segala aktifitas apa pun tidak akan terwujud.

Dengan demikian, bahwa asumsi adanya Tuhan-Tuhan pengatur alam yang tidak mandiri, tidak menafikan Tauhid Rububiyah (tauhid dalam pengaturan). Sebagaimana suatu penciptaan yang terjadi dengan izin Allah pun tidak menafikan Tauhid Khaliqiyyah-Nya. Di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis, terdapat ungkapan yang menunjukkan ketetapan penciptaan atau pengaturan vertikal (taba’i) dan tidak mandiri pada sebagian hamba-hamba Allah. Sekaitan dengan ihwal Nabi Isa a.s., Allah swt. berfirman:

“Dan ingatlah ketika kamu menciptakan dari tanah seperti bentuk burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniupkan padanya, lalu ciptaan itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku.”  (Qs. Al-Maidah: 110)

Di  ayat lain Allah Swt. berfirman:

 “Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur suatu urusan.” (Qs. An-Nazi’at: 5).

Alhasil, dugaan tentang kemungkinan adanya Tuhan-Tuhan bagi alam ini, muncul dari menyerupakan Allah dengan sebab-sebab material dan sebab-sebab penyiap, sehingga  dapat dikatakan bahwa Tuhan itu bisa berbilang bagi satu akibat. Tetapi, kita tidak mungkin dapat menyerupakan sebab pewujud dengan sebab-sebab tersebut. Sebagaimana kita juga tidak mungkin mengasumsikan diwujudkannya suatu akibat oleh sejumlah sebab pewujud dan sejumlah pengatur yang mandiri.

Jadi, untuk menyanggah dugaan tersebut, kita mesti berpikir lebih dalam tentang konsep sebab pengada dan ciri-ciri khasnya, sehingga kita mengetahui kemustahilan berbilangnya sebab bagi satu akibat. Demikian pula,  kita harus memperhatikan bahwa saling terkaitnya sesama realitas alam, tampak  jelas, bahwa sistem yang saling terpadu di alam semesta ini, tidak mungkin diciptakan oleh banyak Tuhan. Dan tidak mungkin juga tunduk pada pengaturan banyak pengatur yang mandiri.

Dari uraian di atas menjadi jelas pula, bahwa keyakinan terhadap wilayah takwiniyah (kekuasaan cipta) pada sebagian hamba yang saleh, tidak menafikan keimanan terhadap Tauhid. Tetapi yang penting adalah -sehubngan denganwilayah takwiniyah- jangan sampai kita menafsirkan wilayah ini, dengan makna penciptaan atau pengaturan yang mandiri. Sebagaimana keyakinan terhadap wilayah tasyri’iyah (kekuasaan hukum) pada Nabi saw dan para imam maksum as, juga tidak menafikan pengaturan kekuasaan hukum Allah (tasyri’iyah Ilahiyyah). Karena wilayah itu diwujudkan oleh Allah, dengan izin-Nya, dan bersumber dari-Nya.

27 Juni 2012

Tiga Surat Bersejarah Rasulullah Saw

oleh alifbraja

Tiga Surat Bersejarah Rasulullah Saw

Islam merupakan agama universal dan lengkap, sejak awal kemunculannya tidak terbatas pada sekup kesukuan atau kabilah. Oleh karenanya, dalam rangka menyampaikan risalah universal tersebut, Rasulullah Saw pada tahun VI Hijriyah menyerukan Islam kepada para penguasa negeri-negeri tetangga negeri Hijaz.

Seorang sejarawan terkenal yang bernama Al-Thabari mencatat tiga teks surat Rasulullah Saw untuk penguasa Ethiopia (Najasyi), penguasa Iran (Khoshrou Parviz) dan raja Romawi Timur (Heraclius) dalam kitab sejarahnya yang terkenal. Makalah ini akan membahas dan meneliti secara khusus hal-ihwal tiga surat Rasulullah Saw tersebut.

Seiring dengan bertambahnya tekanan kaum musyrikin Mekkah terhadap Rasulullah Saw dan pembela setianya, belum lagi kekacauan yang diciptakan oleh orang-orang Quraisy dalam rangka membendung kecenderungan kepada Islam, Rasulullah Saw mencari kota lain untuk membangun basis kekuatan Islam sehingga, dengan cara ini, selain kaum Muslimin dapat terlepas dari gangguan kaum musyrikin, beliau juga dapat membangun pondasi yang kokoh untuk penyebaran Islam di Jazirah Arab. Oleh karena itu, beliau meninggalkan kota Mekkah menuju kota Yatsrib (Madinah) dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut pada tahun ketiga belas dari kenabian beliau. Beliau membentuk kota baru itu dengan tatanan baru dalam pembangunan sosial dan budaya yang khas yang menjadi basis ideologi yang kokoh, dan menyatukan kaum Muhajirin dan kaum Anshar menjadi bangsa bersatu sebagai komponen utama kota. Maka tidak lama kemudian, madinah berubah menjadi basis yang kokoh dibandingkan kota Mekah. Dari kota inilah ajaran-ajaran Islam tersiar ke seluruh dataran Jazirah Arab.

Rasulullah Saw tidak diutus untuk kaum dan kabilah tertentu sehingga risalah beliau hanya untuk mereka saja. Berdasarkan ajaran Al-Quran(1), beliau diutus untuk menyampaikan risalah Ilahi kepada seluruh masyarakat, terlepas dari perbedaan suku, kabilah dan bahasa. Oleh karenanya, beliau telah mengambil langkah penting dalam politik eksternal pada tahun VI H dalam rangka penyebaran misi universal beliau dengan mengirimkan surat-surat kepada para penguasa di sekitar negeri Hijaz kala itu. Pada saat itu, beliau tidak begitu khawatir terhadap teror yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi kota Madinah. Ikatan perjanjian Hudaibiyah antara beliau dengan mereka menekan kemungkinan ancaman serius dari kaum Musyrikin, sehingga beliau mengajak para penguasa negeri tetangga untuk memeluk Islam melalui surat-surat yang beliau kirimkan kepada mereka(2).

Bertolak dari buku sejarah Al-Thabari akan kita pahami bahwa Al-Thabari hanya mencatat tiga surat Rasulullah Saw yang ditujukan kepada penguasa Etopia (Najasyi), penguasa Persia-Iran (Khoshrou Parviz) dan raja Romawi Timur (Heraclius). Adapun berkenaan dengan surat Rasulullah Saw yang ditujukan kepada penguasa Mesir (Mocuces), dua orang pemimpin Oman putra Jalandi (Jifar dan Abd) dan gubernur Khoshrou di Bahrain (Monzer bin Savi), Al-Thabari hanya menukil dari perkataan singkat Ibnu Ishak dan tidak mencantumkan teks surat-surat tersebut. Oleh karena itu, kita akan meneliti surat Rasulullah Saw yang ditujukan kepada penguasa Habasyah, Romawi dan Persia-Iran dalam tulisan ini.

Surat pertama menyangkut kejadian tahun VI H yang dicatat oleh Al-Thabari, yaitu surat Rasulullah Saw untuk penguasa Romawi Timur (Heraclius) yang disampaikan melalui Dihyah Al-Kalbi. Al-Thabari mengutip teks surat tersebut sebagai berikut :

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

“Dari Muhammad bin Abdillah, Utusan Allah, kepada Heraclius, Penguasa Romawi.

Salam sejahtera kepada orang-orang yang mengikuti jalan petunjuk. Amma ba‘du. Sesungguhnya aku mengajak Anda kepada Islam, masuklah Islam agar Anda selamat, niscaya Allah Swt memberikan kelipatan pahala kepada Anda. Apabila Anda berpaling dari Islam, maka dosa para petani (rakyat) akan menjadi tanggungan Anda.”(3)

Surat kedua Rasulullah Saw yang menarik perhatian Al-Thabari ialah yang ditulis beliau untuk Najasyi, penguasa Habasyah, dan disampaikan oleh Umar bin Abi Umayyah Al-Dhamri. Al-Thabari mengutip teks surat tersebut sebagai berikut :

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

“Dari Utusan Allah kepada Al-Najasyi Al-Ashham, Penguasa Habasyah.

Masuklah Anda ke dalam Islam. Segala puji bagi Allah, Raja Diraja, Yang Mahasuci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Mengawasi dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah Ruh Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan melalui Maryam, wanita yang tidak menikah dan suci yang telah mengandung Isa dimana Allah telah menciptakannya dari ruh-Nya sebagaimana Adam as yang telah diciptakan dengan ruh-Nya. Aku mengajak Anda untuk taat pada Allah Yang Maha Tunggal dan tanpa sekutu dengan mengikutiku, beriman kepada Allah Yang telah mengutusku. Aku adalah utusan Allah dan aku telah mengirimkan kepada Anda putra pamanku, Ja`far, berserta rombongan Muslimin, dan terimalah mereka ketika sampai di sana. Tinggalkan kesombongan karena aku mengajak Anda beserta bala tentara Anda untuk beriman kepada Allah. Aku telah sampaikan pesan Allah kepada Anda dan telah memberikan nasehat kepada Anda. Untuk itu, terimalah nasehatku dan selamatlah bagi mereka yang telah mengikuti jalan petunjuk.”(4)

Al-Thabari mengutip surat ketiga Rasulullah Saw untuk Khosrou Parviz yang disampaikan oleh Abdullah bin Hudzafah Al-Sahmi sebagai berikut :

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

“Dari Muhammad Rasulullah untuk Khosrou, Penguasa Persia.

Selamat bagi orang yang telah mengikuti jalan petunjuk, beriman kepada Allah, utusan-Nya, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Aku diutus Allah untuk memberikan peringatan kepada seluruh manusia yang masih hidup dan untuk membuktikan kebenaran ucapanku atas orang-orang kafir, maka masuklah Islam, niscaya Anda selamat. Namun apabila Anda berpaling, maka dosa kaum Zoroaster akan menjadi tanggungan Anda.”(5)

Analisis atas Surat-surat Rasulullah Saw
Bagian pendahuluan ketiga surat di atas dibuka dengan kalimat bismillah. Benar bahwa kaum Muslimin berdasarkan ajaran-ajaran Islam memulai pekerjaan mereka dengan bismillah untuk memperoleh berkah(6). Adapun tentang apakah Rasulullah Saw sejak awal membuka suratnya dengan kalimat bismillah terdapat perbedaan pendapat. Suyuthi dalam tafsir Al-Durr Al-Mantsûr menyebutkan bahwa Rasulullah Saw mengawali suratnya untuk masyarakat Najran dengan kalimat Bismi ilâhi Ibrôhîm (dengan nama Tuhan Ibrahim), sebelum turunnya surah Al-Naml(7). Sebagian orang meyakini bahwa Rasulullah Saw mengawali suratnya dengan kalimat Bismika Allâhumma (dengan Nama-Mu, ya Allah) sebelum diturunnya ayat, “Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalam bahtera itu dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(8), Namun pasca turunnya ayat tersebut beliau menggunakan kalimat bismillah sebagai permulaan suratnya. Dan pasca turunnya ayat yang berbunyi, “Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Al-Rahman”(9), beliau mengawali suratnya dengan menulis kalimat Bismillahirrahman (Dengan Nama Allah Yang Maha Penyayang). Pada akhirnya pasca turunnya ayat, “Sesungguhnya surat itu berasal dari Sulaiman dan isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”(10), beliau memulai suratnya dengan kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).(11)

Selepas judul surat yang mendahulukan nama pengirim atas nama penerima (Dari Muhammad, utusan Allah, kepada …) dan juga bergandengan dengan kalimat seru “masuklah Anda ke dalam Islam” atau kalimat “Selamat bagi orang yang telah mengikuti jalan petunjuk”, tuntaslah bagian pendahuluan surat Rasulullah Saw lalu dimulailah isi surat penting beliau yang terkandung di dalamnya keinginan dan maksud beliau. Teks ketiga surat tersebut singkat, simpel dan lugas, tanpa kerumitan kata maupun makna. Titik persamaan ketiga surat tersebut ialah bersandar pada keesaan Tuhan dan seruan kepada Islam. Apabila kebijakan eksternal beliau kita anggap sebagai referensi tindakan sebuah negara dalam interaksi internasional dengan tujuan meraih maslahat, maka perilaku Rasulullah Saw ini terkait dengan tujuan apa saja. Tanpa ragu lagi, Rasulullah Saw hendak menunjukkan bahwa kebijakan eksternal beliau berdasarkan pada penyebaran dan pengagungan Tauhid; mata air pengetahuan yang tercemar dengan kotoran syirik akan dibersihkan dengan air yang jernih dan sari Tauhid, serta mengingatkan orang-orang yang penuh kegelapan dan kebodohan akan Ikrar Fitrah Ketuhanan.

Dalam ketegasan Al-Quran, Rasulullah Saw dijuluki sebagai pembawa berita gembira, pembawa peringatan, dan dalam penyebaran dan penyampaian Islam beliau menggunakan dua kata efektif: harapan dan peringatan, yang dapat berpengaruh dalam pembangunan budaya saat itu. Oleh karenanya, dalam surat beliau kepada Heraclius dan Khoshrou, pertama-tama beliau memberikan berita gembira dan harapan (masuklah ke dalam Islam niscaya Anda akan selamat), kemudian dilanjutkan dengan peringatan, yaitu bahwa dosa kaum Zoroaster dan rakyat (para petani) menjadi tanggungan mereka tatkala tidak menerima Islam. Beliau memahami dengan benar bahwa apabila seruan Tauhid telah menembus puncak piramida masyarakat Persia-Iran dan Romawi hingga dapat diterima mereka, maka kendala dan rintangan dalam struktur sistem piramida pun akan hilang dan senantiasa akan menciptakan peluang untuk membuka hati-hati dan semaksimal mungkin akan mengarahkan mereka kepada Tauhid, sebab pesan Tauhid akan memberikan kemuliaan dan kebebasan kepada manusia serta akan membebaskan mereka dari penghambaan kepada selain Tuhan.

Di samping tauhid teoretis yang menafikan penghambaan selain kepada Allah Swt, tauhid sosial pun menyerukan kesetaraan, keadilan sosial dan tidak mengunggulkan etnis tertentu atas yang lain kecuali dalam ketakwaan. Hal penting ini merupakan kabar gembira bagi sebagian besar manusia yang sejak dahulu hidup di bawah cengkeraman kekuatan yang sewenang-wenang agar mereka terbebas dari diskriminasi dan perbudakan yang menghinakan. Benar, berdasarkan hal ini, delapan tahun kemudian tepatnya pada tahun IV H, tatkala komandan pasukan Iran yang bernama Rostam Farakhzad di Ghadesiyeh bertanya kepada utusan kaum Muslimin yang bernama Rub’i bin Amir, “Apa tujuan Anda dari operasi ekpedisi ini?” Ia menjawab, “Kami datang untuk memotivasi hamba-hamba yang menghamba kepada selain Allah Swt agar menghamba kepada Allah Swt”, yakni mengeluarkan hamba-hamba dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah Swt.(12).

Pada prinsipnya, menerima tauhid dalam konsep monoteis dan asas “Tiada Tuhan selain Allah” merupakan bagian dari hak asasi manusia, dan kapan saja hak asasi dan kemanusiaan ini dilanggar, atau para pemerkosa hak asasi dan kemanusiaan sengaja menghalangi sampainya pesan yang mengandung kebabasan dan kebahagiaan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya dan orang-orang yang memiliki kepentingan, maka membela hak-hak asasi itu dan menghancurkan penghalang tersebut merupakan keniscayaan. Seperti inilah perjuangan yang telah dilakukan oleh kaum Muslimin dalam rangka terciptanya medan dakwah Islam dan memerdekakan umat manusia dari perbudakan yang hina di bawah rezim pemerintahan zalim (13).

Tentu saja, tidak sepatutnya lengah bahwa tujuan jihad dan kemenangan bukanlah untuk pemaksaan, sebab Al-Quran secara jelas menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama(15). Iman merupakan ketetapan batin dan kecenderungan kepada sebuah doktrin. Menerima keyakinan bertumpu pada dua pilar rasional dan hati yang tulus; kedua hal ini benar-benar di luar lingkup unsur pemaksaan, sebab pemikiran mengikuti logika dan jiwa mengikuti perasaan dan dua hal ini jauh dari area pemaksaan. Pada prinsipnya keyakinan itu dihasilkan dari pemikiran yang bebas, sedangkan pemikiran yang terkekang tidak akan menghasilkan keyakinan sebagaimana yang dituntut Islam(16). Dengan demikian, jika tauhid dianggap sebagai bagian dari hak asasi manusia, maka sebuah bangsa tidak boleh berperang dengan bangsa lain untuk memaksakan tauhid, sebab tauhid dan iman bukanlah dua perkara yang dapat dipaksakan. Akan tetapi kita bisa memerangi orang-orang musyrik untuk menghilangkan kemusyrikan. Dengan demikian, perang yang dilakukan ini adalah dalam rangka membela kehormatan tauhid dari kemusyrikan (17).

Penekanan Rasulullah Saw dalam surat beliau kepada Khoshrou dan Heraclius bahwa tatkala mereka tidak menerima Tauhid, maka mereka menanggung dosa kaum Zoroaster dan para petani. Yakni, apabila sebuah pemerintahan menghalangi penyebaran dakwah kebenaran dalam masyarakat dengan menciptakan situasi mencekam dan melemahkan daya fikir orang-orang dengan membuat berbagai kendala, maka ia telah melakukan pelanggaran dan kejahatan kemanusiaan yang akan berbuntut pada balasan di dunia dan siksaan di akhirat.

Lepas dari itu, kita akan menjumpai nuansa lain tatkala kita mencermati surat Rasulullah Saw untuk Najasyi. Penggunaan dan pemilihan kata dalam surat ini secara implisit merupakan bentuk penghormatan yang istimewa kepada Najasyi. Penggunaan kalimat “Salam sejahtera bagimu” di awal surat dan tidak menggunakan kalimat “Terimalah Islam, niscaya Anda akan selamat” sebagaimana dalam surat beliau yang lain menguatkan makna ini. Seolah-olah Rasulullah Saw telah membaca gelagat baik Najasyi terhadap kaum Muslimin di saat menulis surat ini, sebab Najasyi telah memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin tatkala mereka tidak mendapatkan perlindungan dan menyelamatkan kaum Muslimin dari ancaman kaum musyrikin, serta melumpuhkan upaya utusan Quraisy dalam upaya mengembalikan kaum Muslimin ke kota Mekkah. Setelah mengenalkan sosok asli Isa Al-Masih, Rasulullah Saw dalam surat ini mengajak penguasa itu dan bala tentara Habasyah kepada Islam dan menghendaki mereka agar menerima seruan dan nasehat beliau (18).

Poin lain dalam surat Rasulullah Saw kepada Najasyi yang patut direnungkan secara teliti adalah permohonan beliau kepada Najasyi agar menerima Ja`far bin Abi Thalib beserta rombongannya. Sebagaimana yang telah dicatat oleh para sejarawan, hijrah kaum Muslimin, termasuk Ja`far bin Abi Thalib, ke negeri Habasyah terjadi beberapa tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Tampaknya, kaum Muslimin dengan membawa surat Rasulullah Saw untuk Najasyi berharap agar dapat diterima baik olehnya ketika berhijrah ke Habasyah. Surat Rasulullah Saw ini berbeda dengan surat beliau yang dikirimkan kepada Najasyi pada tahun VI H dalam rangka mengajaknya masuk Islam. Oleh karena itu, adanya beberapa bagian dari surat (yang dibawa oleh kaum Muslimin ketika berhijrah ke Habasyah) dalam surat yang disampaikan oleh Umar bin Abi Umaiyah Dhamri pada tahun VI H tidaklah memiliki nilai validitas dan bukti sejarah. Hal ini disebabkan oleh kesalahan para penyalin dokumen sejarah hingga mencampuradukkan isi dan urutan satu teks surat ke dalam teks surat lainnya, atau adanya faktor yang menggugurkan catatan seorang perawi, atau juga tidak adanya komitmen dalam menyampaikan isi riwayat.

Alhasil, Thabari telah mencatat berita ini dalam kitabnya tanpa mengevaluasi apa pun dalam menimbang kritik historisnya. Selain itu juga ia cantumkan tiga surat Rasulullah Saw tersebut pada bab “Pasca Insiden-insiden Tahun VI Hijriyah”, tanpa memperhatikan kronologisnya, juga tanpa menyebutkan hari dan bulan secara detail. Jika dugaan ini benar bahwa orang-orang Arab sampai sebelum diletakkannya kalender pada masa khalifah kedua, yakni menjadikan hijrah Rasulullah Saw sebagai penanggalan, tidak terbiasa menulis tanggal dalam surat-surat mereka, maka kekeliruan ini tidak akan dapat ditujukan kepada Al-Thabari.

Dalam kitab Al-Thabari disebutkan bahwa tiga surat Rasulullah Saw tersebut diakhiri tanpa tercantum nama penulis, tanda tangan dan penutupannya, sedangkan Muhammad Hamidullah—dengan bersandar kepada sejumlah surat-surat yang menunjukkan asalnya dari Rasulullah Saw, mengklaim bahwa beliau mengakhiri surat-suratnya dengan tanda tangan dan nama “Muhammad utusan Allah”(19).

___________________________________

1. “Dan tidak Kami utus engkau kecuali untuk segenap manusia sebagai pembawa harapan dan ancaman” (Saba: 28).

2. Surat-surat Rasulullah Saw dalam Ensklopedia “Makâtib Al-Rasûl”, karya Ali Ahmadi, cetakan 1363 H. Dalam hal ini juga disusun sebuah disertasi berjudul “Surat-surat dan Perjanjian-perjanjian Nabi Muhammad Saw” karya Dr. Muhammad Hamidullah yang diterjemahkan ke bahasa Persia dengan dua judul: “Watsa’iq” oleh Dr. Mahmud Mahdawi Damghani, dan “Surat-surat dan Perjanjian-perjanjian Politik Nabi Muhammad Saw dan Dokumen-dokumen Awal Islam” oleh Dr. Sayid Muhammad Husaini.

3. Muhammad bin Jarir, Al-Thabari, Târîkh Al-Rosûl wa Al-Mulûk, Pasca Insiden-insiden Tahun VI H.

4. Ibid.

5. Ibid.

6. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw bahwa pekerjaan yang tidak diawali dengan nama Allah adalah pekerjaan yang terputus. Silahkan merujuk Ali Muttaqi, Kanz Al-‘Ummâl: jld. 1, hlm. 555.

7. Ali Ahmadi, Ali, Makâtib Al-Rosûl, jld. 2, hlm. 38.

8. Hud: 41.

9. QS. Al-Isra` [17]: 110.

10. QS. Al-Naml []: 30.

11. Mas`udi, Ali bin Husain, Al-Tanbîh wa Al-Asyrôf, hlm. 238.

12. Muhammad bin Jarir Al-Thabari, Pasca Insiden-insiden Tahun IV H.

13. Mutahhari Murtadha, Jihod, hlm. 46.

14. Untuk lebih lengkapnya tentang bab penaklukan hati, silahkan merujuk Ayenehwand, “Kemenangan-kemenangan dalam Islam”, dalam buletin Sejarah Islam, no. 2, 1379.

15. QS. Al-Baqarah [2]: 256, “Tidak ada paksaan dalam agama.

16. Murtadha Muthahhari, Jihod, hlm. 50.

17. Ibid., hlm. 51.

18. Najasyi juga telah menerima nasehat Nabi Saw dan memberitahukan kepada beliau bahwa dirinya telah menerima Islam melalui surat yang ia kirimkan ke Madinah. Silahkan merujuk Muhammad bin Jarir Al-Thabari, Pasca Insiden-insiden Tahun VI H.

19. Silahkan merujuk Muhammad Hamidullah, Surat dan Perjanjian Politik Nabi Muhammad Saw dan Dokumen-dokumen Awal Islam, terj. Sayid Muhammad Husaini, Teheran, Soroush, 1374.

Referensi :

– Ahmadi, Ali, Makâtib Al-Rosûl, Yasin, Teheran, 1363.

– Hamidullah, Muhammad, Nomeh-ha va Paemanha-e Siyosi Hadhrat-e Muhammad va Asnad-e Shadr-e Islom, terj. Sayid Muhammad Husaini, Sorousy, Teheran, 1374.

– Thabari, Muhammad bin Jarir, Târîkh Al-Rosûl wa Al-Mulûk, diteliti oleh Muhammad Abul Fadzl Ibrahim, Dar Al-Turots, Beirut, 1378, pasca insiden-insiden tahun VI H.

– Muttaqi, Ali, Kanz Al-‘Ummâl, diteliti oleh Bukra Hayyani, Muassasah Al-Risalah, Bairut, 1405.

– Mas`udi, Ali bin Husain, Al-Tanbîh wa Al-Asyrôf, terj. Abul Qasim Pabandeh, Intisyarat Ilmi wa Farhanggi, Teheran, 1365.

– Mutahhari Murtadha, Jihod, Nasyre Nuwid, Syiraz, 1368.

25 Juni 2012

Istiqomah

oleh alifbraja

Istiqomah


Pengertian Istiqomah
Istiqomah adalah berpegang teguh dengan agama dan kokoh (tegar dan tidak goyah) di atasnya.

Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam bukunya “Jami’ul Ulum wal Hikam” mengatakan:”Istiqomah adalah penempuhan jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa adanya pembengkokan ke kanan maupun ke kiri. Dan hal itu mencakup ketaatan secara keseluruhan, baik lahir maupun bathin, serta meninggalkan segala bentuk larangan.

Hukum Istiqomah
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikut beliau untuk beristiqomah baik dalam aqidah, syari’at, pedoman hidup, maupun dalam manhaj. Dan supaya mereka menjauhi sikap berlebih-lebihan dan supaya mereka menghindari hawa nafsu para wali-wali syaitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{ فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ } [ سورة هود :112] .

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud:112)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk kokoh dan senantiasa istiqomah, dan itu termasuk cara terbesar untuk mendapatkan kemenangan atas musuh-musuh mereka dan untuk menyelisihi lawan-lawan mereka. Dan Dia melarang mereka dari perbuatan ghuluw yaitu perbuatan melampui batas, karena sesungguhnya hal itu (ghuluw) adalah kematian/musibah sekalipun (perbuatan ghuluw) itu terhadap orang musyrik.Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia Maha Melihat amalan hamba-hamba-Nya, Dia tidak lalai dari sesuatu sekecil apapun dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya hal sekecil apapun.”

Buah Istiqomah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَدَّعُونَ {31} نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ {32}

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushilat: 30-32)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأَسْقَيْنَاهُم مَّآءً غَدَقًا {16}

Dan bahwasannya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)”. (QS. Al-Jin:16)

Dari ayat-ayat yang mulia di atas kita bisa mengambil beberapa faidah/buah dari Istiqomah diantaranya:

Pertama, Malaikat turun kepada mereka
Kedua, mendapatkan thuma’ninah (kedamaian) dan ketenangan
Ketiga, baginya kabar gembira dengan Surga.
Keempat, diberikan keluasan rizki dan kehidupan yang lapang.
Kelima, diampuni dosa-dosanya

Jalan menempuh Istiqomah
1. Melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh di dalamnya dan memaksa hawa nafsu untuk taat kepada-Nya.
2. Ilmu, karena bagaimana kita bisa istiqomah kalau tidak dilandasi dengan ilmua.
3. Ikhlash
4. Mengikuti/mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
5. Seimbang dan pertengahan, tidak ghuluw dan tidak meremehkan.
6. Doa
7. Bergaul dan bersahabat dengan ortang-orang shalih.
8. Selalu ada ikatan dengan al-Qur’an, baik dengan membaca, menghafal, mentadabburi dan mengamalkannya.

Dampak Istiqomah dalam kehidupan seorang muslim
1. Memperoleh tauhid yang murni.
2. Mendorong untuk berdakwah kepada jalan Allah.
3. Memiliki kesungguhan dan semangat/cita-cita yang tinggi.
4. Kokoh dan teguh di atas kebenaran.
5. Merasa kurang dalam beribadah (tidak pernah merasa telah beribadah dengan sempurna)

Penghalang-penghalang Istiqomah
1. Menganggap enteng perbuatan maksiat.
2. Menyibukkan diri dengan dunia dan melupakan akhirat.
3. Berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan)
4. Sifat tengah-tengah (pertengahan) yang buruk.

Cerminan para Salaf dalam Istiqomah mereka
Istiqomah dalam ucapan. Imam al-Bukhari rahimahullah berkata:”Aku berharap berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla dan Dia tidak menghisabku (menghitungku) telah menggunjing (ghibah) satu orangpun.”

Istiqomah dalam rasa khawatir atau gundah
Dalam biografi Sahabat mulia Jam’ah bin Abi Jam’ah ada riwayat bahwasanya dia bermalam di rumah salah seorang Tabi’in bernama Haram bin Hayyan al-‘Abdi, maka dia melihat Jam’ah menangis semalam suntuk, maka Haram berkata kepadanya:”Apa yang membuatmu menangis?” Dia berkata:”Aku teringat suatu malam yang mana pada pagi harinya dibangkitkan manusia dari kubur-kubur mereka.” Kemudian dia bermalam di rumahnya pada malam berikutnya, lalu diapun menangis, maka Haram pun bertanya kepadanya lalu diapun menjawab:”Aku teringat suatu malam yang pagi harinya bintang-bintang berjatuhan.”

Kokoh dan tegar dalam Istiqomah
Sikap Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika dikucilkan oleh manusia (para Sahabat radhiyallahu’anhum) dan manusia yang paling dekat dengannya pun keras (dalam sikap) kepadanya. Dan ketika beliau menolak surat tawaran dari Raja Ghassan yang datang kepada beliau yang di dalamnya ada tawaran yang menggiurkan dan kemewahan, akan tetapi tungku api adalah jawaban yang paling tegas terhadap tawaran yang menggiurkan itu (maksudnya beliau tidak menghiraukan tawaran itu dan beliau lebih memilih membakar surat tawaran itu).

Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terhadap orang-orang murtad dan yang tidak mau membayar zakat setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka nampak dengan jelas kejujuran tekad dan keteguhan beliau radhiyallahu ‘anhu dalam membela agama Allah. Dan ketika itu jazirah Arab goncang dengan adanya kemurtadan dan kemunafikan, maka beliau tetap tegar seperti gunung yang kokoh, tidak mau mengalah (menggugurkan zakat) walaupun hanya seekor anak unta sekalipun, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memenangkannya dan jadilah beliau tanda dan simbol bagi setiap orang yang menginginkan Istiqomah dan mencari teladan yang shalih.

Hadits-hadits seputar Istiqomah
Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu berkata, aku berkata:”Wahai Rasulullah, katakana kepadaku suatu perkataan dalam Islam, aku tidak tanyakan tentang hal itu kepada seorang pun selain engkau –dalam sebuah riwayat yang lain: setelah engkau-“ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

( قل آمنت بالله ثم استقم ) .

”Katakanlah aku beriman kepada Allah, lalu Istiqomahlah.”
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
( لا يستقيم إيمان عبدٍ حتى يستقيم قلبه ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه ) .

Tidak Istiqomah (lurus) keimanan seorang hamba sebelum Istiqomah hatinya, dan tidak akan Istiqomah hatinya sebelum Istiqomah lisannya.” (HR. Imam Ahmad)
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( استقيموا ولن تُحصوا واعلموا أن خير أعمالكم الصلاة ، ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن ) .

Istiqomahlah kalian dan kalian tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna, dan ketahuilah bahwa sesunguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah sholat, dan tidak menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.” (HR. at-Tirmidzi, Malik dll)

Makna ولن تُحصوا disebutkan di dalam kitab al-Muntaqo syarah (penjelasan) terhadap kitab al-Muwatho beberapa makna diantaranya: Kalian tidak akan sanggup untuk menjangkau semua perbuatan amal shalih, atau kalian tidak akan bisa menghitung pahala dari Istiqomah apabila engkau melakukannya. Sedangkan dalam kitab Murqotul Mashaabih syarah terhadap kitab Misykatul Mashaabih disebutkan bahwa maknanya adalah engkau tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna.
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu (secara mauquf maupun marfu’):

( إذا أصبح ابن آدم ؛ فإن الأعضاء كلها تُكفر اللسان ، فتقول : اتق الله فينا ؛ فإنما نحن بك ؛ فإن استقمت استقمنا وإن اعوججت اعوججنا ) .

Jika waktu pagi tiba seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan dengan mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami karena kami hanyalah mengikutimu. Jika engkau baik maka kami akan baik. Sebaliknya jika kamu melenceng maka kami pun akan ikut melenceng” (HR Tirmidzi no 2407 )

Makna sabda Nabi فإن الأعضاء كلها تُكفر اللسان adalah bahwa semua anggota badan tunduk dan merendahkan diri di hadapan lisan seraya mengucapkan ucapan tersebut di atas, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi. Wallahu A’lam

24 Juni 2012

Lafaz INSYA ALLAH Bisa Menjebol Tembok Ya’juj dan Ma’juj

oleh alifbraja
Di antara bangsa-bangsa manusia, tidak ada bangsa yang sekuat ya’juj ma’juj, sekejam ya’juj ma’juj, dan sebanyak ya’juj ma’juj. Namun tidak disangka, bahwa kelak yang membebaskan mereka dari tembok kokoh Dzulqarnain adalah kalimat ‘Insya Allah’.
 
Nabi Muhammad SAW pernah ditanya oleh An-Nadhar bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Ani Mu’ith sebagai utusan kaum kafir Quraisy. Pertanyaan yang diajukan oleh kedua orang ini adalah bagaimana kisah Ashabul Kahfi?, Bagaimana kisah Dzulqarnain?, dan Apa yang dimaksud dengan Ruh?.
 
Rasulullah SAW bersabda kepada dua orang itu, “Besok akan saya ceritakan dan saya jawab.” Akan tetapi Rasulullah SAW lupa mengucapkan “Insya Allah”. Akibatnya wahyu yang datang setiap kali beliau menghadapi masalah pasti terputus selama 15 hari.
 
Sedangkan orang Quraisy setiap hari selalu menagih janji kepada Rasulullah saw dan berkata “Mana ceritanya? besok..besok..besok..” Ketika itu Rasulullah saw sangat bersedih. Akhirnya Allah menurunkan wahyu surat Al-Kahfi yang berisi jawaban kedua pertanyaan pertama, pertanyaan ketiga berada dalam surat Al-Israa ayat 85.
 
Allah berfirman pada akhir surat Al-Kahfii :
“Janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘Sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok,’ kecuali dengan mengatakan Insya Allah.” (QS Al-Kahfi :23-24)
 
Sebuah kalimat yang sering kita salah artikan tetapi orang yang paling mulia disisiNya, yang telah diampuni dosanya baik yang telah lalu dan yang akan datang pun ditegur oleh Allah SWT karena lupa mengucapkan “Insyaa Allah”. Ada rahasia besar apa dibalik kalimat Insya Allah?
 
Perhatikan petikan ayat diatas, di ayat tersebut Allah memerintahkan manusia ketika semua rencana sudah matang dan pasti janganlah mengatakan “Sesungguhnya aku akan mengerjakan besok” tetapi harus diikuti dengan ucapan Insya Allah.
 
Sebab ucapan “Sesungguhnya aku akan mengerjakan besok” adalah sebuah ‘ucapan kepastian’, keyakinan diri jika hal itu benar-benar akan dilakukannya, bukan keraguan-keraguannya.
 
Benar, Insya Allah adalah penegas ucapan kepastian dan keyakinan. Bukan keragu-raguan. Dari situlah tubuh kita mengeluarkan semacam kekuatan dan kepasrahan total yang tidak kita sadari sebagai syarat utama tercapainya sebuah keberhasilan.
 
Manusia hanya berencana dan berikhtiar, Allah yang menentukan hasilnya. Manusia terlalu lemah untuk mengucapkan ‘pasti’, karena Allah sebagai sang pemilik tubuh ini dapat berkehendak lain.
 
Ingat baik baik! Jika kalian tidak yakin atau tidak dapat memastikan sebuah rencana, maka jangan pernah mengatakan Insya Allah, cukup katakan saja “Maaf, saya tidak bisa” atau “Maaf, saya tidak dapat menghadiri …”
 
Tetapi bila kalian yakin bisa melakukan rencana itu, maka katakanlah “Insya Allah”, niscaya kalian akan melihat sebuah ketentuan Allah sesuai dengan apa yang telah dijanjikan oleh-Nya.
 
“Mereka (Ya’juj & Ma’juj) berusaha untuk keluar dengan berbagai cara, hingga sampai saat matahari akan terbenam mereka telah dapat membuat sebuah lobang kecil untuk keluar. Lalu pemimpinnya berkata,’Besok kita lanjutkan kembali pekerjaan kita dan besok kita pasti bisa keluar dari sini.”
 
“Namun keesokkan harinya lubang kecil itu sudah tertutup kembali seperti sedia kala atas kehendak Allah. Mereka pun bingung tetapi mereka bekerja kembali untuk membuat lubang untuk keluar. Demikian kejadian tersebuat terjadi berulang-ulang.”
“Hingga kelak menjelang Kiamat, di akhir sore setelah membuat lubang kecil pemimpin mereka tanpa sengaja berkata, “Insya Allah, Besok kita lanjutkan kembali pekerjaan kita dan besok kita bisa keluar dari sini.”
 
“Maka keesokan paginya lubang kecil itu ternyata masih tetap ada, kemudian terbukalah dinding tersebut sekaligus kegaibannya dari penglihatan masyarakat luar sebelumnya.”
“Dan Kaum Ya’juj dan Ma’juj yang selama ribuan tahun terkurung telah berkembang pesat jumlahnya akan turun bagaikan air bah memuaskan nafsu makan dan minumnya di segala tempat yang dapat mereka jangkau di bumi.”
 
Jika kaum perusak sekelas ya’juj dan ma’juj saja bisa berhasil meskipun tanpa sengaja mengucapkan Insya Allah, bagaimanakah halnya dengan kita. Apalagi jika disertai dengan kesadaran dan penuh kepastian mengucapkannya. Yakinlah, janji Allah SWT selalu benar, Dia-lah sebaik baik penepat janji.
 
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Harmalah dari bibinya berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Kamu mengatakan tidak ada permusuhan, padahal sesungguhnya kamu senantiasa memerangi musuh, sehingga datanglah Ya’juj dan Ma’juj; yang lebar jidatnya, sipit matanya, menyala (merah) rambutnya, mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi, wajahnya seperti martil.”
Waallahu ‘alam.
%d blogger menyukai ini: