Posts tagged ‘Lee Taemin’

28 Oktober 2012

Rahasia dibalik Dzikir Jahar

oleh alifbraja

Hingga kini, masih banyak orang yang under estimate, merasa tidak mempercayai dengan dalil suudzon dan syak wasangka, apakah benar ada yang dinamakan dzikir jahar atau dzikir keras. Kebanyakan dari mereka, mengira bahwa yang dinamakan dzikir keras itu sesuatu yang tidak ada riwayat dari Rasulnya. Benarkah?

Sebagai ilustrasi, sebagaimana orang bijak pernah berkata, bahwa manusia akan dikumpulkan dengan orang yang disukainya. Jika ia mencintai musik, maka ia akan berkumpul dengan para pecinta musik. Jika ia mencintai hobi motor cross misalnya, maka ia akan berkumpul dengan mereka yang mencitai hobi yang sama. Tidak perduli dengan suara bising dan dentuman musik yang menjadi-jadi. Bagi mereka yang penting adalah mencari kenikmatan.

Ya, begitulah bahwa manusia akan dikumpulkan bersama dengan orang yang memiliki hobi dan minat yang sama. Demikian juga dengan dzikir, atau bagi mereka yang menyukai dzikir. Timbulnya pertanyaan, benarkah ada dzikir jahar, ialah keluar dari mereka yang memang belum mencintai apa itu dzikir jahar. Padahal, Allah sendiri adalah firman-Nya menyatakan bahwa orang yang beriman yang memiliki hati suci, jika mendengar dzikir akan tersentuh dan gemetar hatinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” (QS. Al Anfal ayat 2).

Dalam ayat ini, Allah memberi isyarat bahwa mereka yang beriman tidak akan merasa resah tetapi akan tersentuh hati dan jiwanya jika mendengarkan dzikir. Dari ayat ini yang menjadi titik tekan adalah dalam kata dzukiro, yang berarti dzikir itu dibacakan. Berarti orang yang beriman itu mendengar bacaan dzikir, lalu mereka bergetar hatinya. Kemudian, kita bisa menyimpulkan bahwa apa pun yang bisa didengar atau terdengar itu adalah suara yang dinyaringkan atau dikeraskan. Berarti dzikir dalam ayat tersebut adalah dzikir jahar atau dzikir yang dinyaringkan. Untuk lebih jelasnya, maka kita uraikan satu per satu ayat Al Quran dan Hadits yang menerangkan tentang dzikir jahar.

 

HUKUM DZIKIR KERAS (JAHAR) DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITSHUKUM DZIKIR JAHAR DALAM AQUR’AN

 

– 1. Q.S. AL-‘AROF AYAT 204 :

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat .”

 

Penjelasan ayat ini bukan menunjukan dzikir dalam hati tapi dzikir yang terdengar atau dzikir keras. Namun, Ayat di atas seakan bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits yang lain tentang anjuran untuk berdzikir dalam hati seperti Q.S.Al-‘Arof ayat 205: “Sebutlah nama Allah di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tidak dengan suara yang keras dari pagi sampai petang, Dan janganlah dirimu menjadi golongan yang lupa (lalai).”

Sebenarnya Ayat 205 ini tidaklah bertentangan dengan ayat 204 yang menunjukan akan diperintahkannya dzikir jahar. Dan ayat 205 ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang dzikir keras karena akan bertentangan dengan dzikir yang telah umum yang biasa dibaca dengan suara keras, seperti takbiran, adzan, membaca talbiyah ketika pelaksanakan haji, membaca al-qur’an dengan dikeraskan atau dilagukan, membaca sholawat dangan suara keras dan lain-lain. Hanya saja, Q.S Al’Arof ayat 205 ini hanya menjelaskan tentang dzikir yang tidak memakai gerak lidah yaitu dzikir dalam hati atau khofi. Jadi penjelasan Ayat 205 ini menunjukan, bagaimanapun bentuknya dzikir jika dibaca dalam hati pasti tidak akan mengeluarkan suara karena dzikirnya sudah menggunakan hati, bahkan sudah tidak menggunakan gerak lidah.

Kesimpulan dari dua ayat itu, Allah menunjukan adanya perintah dibolehkannya berdzikir dengan jahar (keras) maupun dzikir dalam hati (khofi) yang tidak memakai gerak lidah.

 

 

 

– 2. Q.S.AL-BAQOROH AYAT 200 :

“Apabila engkau telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menywebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau bahkan berdzikirlah lebih (nyaring dan banyak) daripada itu.”

Menurut Ibnu Katsir, latar belakang turunnya ayat ini ialah kebiasaan bangsa Arab, baik suku quraisy maupun lainnya pada musim haji mereka biasanya berkumpul di Mudzalifah setelah wukuf di Arafah. Disitu mereka membanggakan kebesaran nenek moyang mereka dengan cara menyebut-nyebut kebesaran nenek moyang mereka itu dalam pidato mereka. Ketika telah memeluk agama Islam, Nabi memerintahkan mereka hadir di Arafah untuk wukuf kemudian menuju mudzdalifah. Setelah mabit di mudzdalifah mereka diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu dengan tidak menunjukan perbedaan diantara mereka (dengan cara menyebut kebesaran nenek moyang) seperti yang mereka lakukan pada masa pra Islam.

Berbeda dengan Ibnu Katsir, yaitu Mahmud Hijazi menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, bila kamu selesai mengerjakan haji maka berdzikirlah kepada Tuhanmu dengan baik (dengan cara menyebut-nyebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu sewaktu kamu jahiliyah atau sebutlah nama Allah itu lebih keras daripada kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu itu. Begitu pun penafsiran Ibnu Abbas, seperti terdapat dalam kitab Tanwir al Miqbas ketika menafsirkan kata aw asyadda dzikro yang berarti menyebut Allah dengan mengatakan “Ya Abba” seperti menyebut nenek moyang “Ya Allah”.

Dua pendapat mufasir di atas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa menyebut nama Allah dalam pengertian dzikrullah dianjurkan setelah menunaikan ibadah haji,. Dzikrullah tersebut dikerjakan dengan suara keras, bahkan boleh dengan suara yang lebih keras daripada suara jahiliyah tatkala mereka menyebut nama nenek moyang mereka ketika berhaji.

 

 

 

 

 

– 3. Q.S. AL-BAQOROH AYAT 114 :

“ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalangi-halangi menyebut nama Allah di dalam mesjid-mesjid-Nya ..”

 

– 4. Q.S. AN-NUR AYAT 36 :

Didalam semua rumah Allah diijinkan meninggikan (mengagungkan) suara untuk berdzikir dengan menyebut nama-Nya dalam mensucikan-Nya sepanjang pagi dan petang.”

 

– 5. Dan lain-lain

 

HUKUM DZIKIR JAHAR MENURUT HADITS ROSUL

 

HADITS KE SATU

Dalam Kitab Bukhori jilid 1:

Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas ra., berkata: “Inna rof’ash shauti bidzdzikri hiina yanshorifunnaasu minal maktuubati kaana ‘ala ‘ahdi Rosuulillaahi sholallaahu alaihi wasallam kuntu ‘alamu idzaanshorrofuu bidzaalika sami’tuhu.” Artinya :“Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir setelah manusia-manusia selesai dari sholat fardlu yang lima waktu benar-benar terjadi pada zaman Nabi Saw. Saya (ibnu Abbas) mengetahui para sahabat melakukan hal itu karena saya mendengarnya .”

Selanjutnya dalam hadits :“Suara yang keras dalam berdzikir bersama-sama pada waktu tertentu atau ba’da waktu sholat fardhu, akan berbekas dalam menyingkap hijab, menghasilkan nur dzikir” (HR. Bukhari).

 

 

– HADITS KE DUA

Dari Abu Khurairah ra, katanya Rasulullah bersabda: “Allah berfirman; ‘Aku berada di dalam sangkaan hamba-Ku tentang diri-Ku, Aku menyertainya ketika dia menyebut-Ku, jika dia menyebut-Ku kepada dirinya, maka Aku menyebutnya kepda diri-Ku. Maka jika menyebut-tu di depan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik daripada mereka” (HR. Bukhari). Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut ‘di depan orang banyak’, berarti dzikir tersebut dilakukan secara jahar.

 

– HADITS KE TIGA

Diriwayatkan di dalam Al Mustadrak dan dianggap saheh, dari Jabir ra. berkata: “Rasulullah keluar menjumpai kami dan bersabda: ‘Wahai saudara-saudara, Allah memiliki malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis-majlis dzikir di dunia. Maka penuhilah taman-taman syurga’. Mereka bertanya:’Dimanakah taman-taman syurga itu?’. Rasulullah menjawab: ‘Majlis-majlis dzikir.’ Kunjungilah dan hiburlah diri dengan dzikir kepada Allah” (HR. Al Badzar dan Al Hakim).

Penjelasan hadits ini, bahwa dalam kalimat ‘malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis dzikir di dunia’ maksudnya berarti dzikir dalam hal ini adalah dzikir jahar yang dilakukan manusia. Karena malaikat hanya mengetahui dzikir jahar dan tidak mampu mengetahui dzikir khofi. Hal ini sebagaimana sabda Rasul: “Adapun dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat yakni dzikir khofi atau dzikir dalam hati yakni dzikir yang memiliki keutamaan 70x lipat dari dzikir yang diucapkan” (HR. Imam Baihaqi dalam Kitab Tanwirul Qulub hal.509).

 

 

– HADITS KE EMPAT

Hadits yang dishohehkan oleh An Nasai dan Ibdu Majjah dari As Sa’ib dari Rasululah SAW, beliau bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘Perintahkanlah kepada sahabat-sahabatmu untuk mengeraskan suaranya di dalam takbir”(HR. Imam Ahmad Abu Daud At Tirmidzi).

Penjelasan hadits ini, bahwa sangat jelas tidak dilarangnya dzikir keras tetapi dianjurkan untuk melakukan dzikir jahar.

 

– HADITS KE LIMA

Didalam kitab Sya’bil Iman dari Abil Jauza’ ra. berkata :“Nabi Saw, bersabda, “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” (H.R.Baihaqi)

Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut “orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” Hadits ini menunjukan dzikir jahar karena dengan dzikir jahar (terdengar) itulah orang munafik akhirnya menyebutnya ria .

 

– HADIITS KE ENAM

Juga dalam kitab Sya’bil Iman yang di shohehkan oleh Al-Hakim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., berkata :“Nabi Saw, bersabda,” Perbanyaklah dzikir kepada Allah kendati kalian dikatakan gila”. (H.R.Al-Hakim danAl-Baihaqi)

 

– HADITS KE TUJUH,

Dari Jabir bin Abdullahra, berkata :“Ada seorang yang mengeraskan suaranya dalam berdzikir, maka seorang berkata, “ semestinya dia merendahkan suaranya.” Rosulullah bersabda,” Biarkanlah dia,sebab sesungguhnya dia adalah lebih baik.“ (Al-Baihaqi). Dari Sa’id bin Aslam ra., katanya Ibnu Adra’ berkata, “ Aku menyertai Nabi Saw. Pada suatu malam, lalu melewati seseorang di mesjid yang mengeraskan suaranya, lalu aku berkata, “ Wahai Rosulullah, tidaklah ia termasuk orang ria ? “ Beliau menjawab, “ Tidak,tetapi dia pengeluh,” (H.R.Baihaqi).

 

 

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG DZIKIR JAHAR

Imam An-Nawawi berkata : Bahwa bacaan dzikir sir (samar) lebih utama apabila takut ria, atau khawatir mengganggu orang yang sedang sholat atau tidur. Sedangkan yang jahar (dzikir keras) lebih baik apabila tidak ada kekhawatiran tentang hal ini, mengingat amalan di dalamnya lebih banyak manfaatnya, karena ia dapat membangkitkan kalbu orang yang membaca atau yang berdzikir, ia mengumpulkan semangat untuk berfikir, mengalahkan pendengaran kepadanya, mengusir tidur, dan menambah kegiatan” (dalam Kitab Haqiqot Al-Tawwasulu wa Al-Wasilat Al-Adlow’il kitabi wa As-Sunnah).

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih didalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang kepada Allah yang telah menjadikan hati jadi keras bagaikan batu, penghalangnya yaitu seperti sipat malas, sombong, ria, iri dengki dan sebagainya)

Imam Al-Ghozali r.a. mengatakan: “Sunnat dzikir keras (jahar) diberjemaahkan di mesjid karena dengan banyak suara keras akan memudahkan cepat hancurnya hati yang keras bagaikan batu, seperti satu batu dipukul oleh orang banyak maka akan cepat hancur”.

 

KENAPA MESTI DZIKIR KERAS?

Ulama ahli ma’rifat mengatakan bahwa untuk mencapai ma’rifat kepada Allah bisa diperoleh dengan kebeningan hati. Sedangkan kebeningan hati itu bisa dicapai dengan suatu thoriqoh (cara), diantaranya banyak berdzikir kepada Allah. Jadi, ma’rifattidak akan bisa diperoleh jika hati kita busuk penuh dengan kesombongan, ria, takabur, iri dengki, dendam, pemarah, malas beribadah dan lain-lain. Oleh sebab itu dzikir diantara salah satu cara (thiriqoh) untuk membersihkan hati.

Sebab, manusia sering menyalahgunakan fitrah yang diberikan Tuhan, sehingga hati mereka menjadi keras. Sifat-sifat yang tidak terpuji tersebut, mendorong manusia memiliki hati yang keras melebihi batu. Hal tersebut sebagaimana kalimat yang tercantum dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 74: “tsumma qosat quluubukum minba’di dzaalika fahiya kal hijaaroti aw asyaddu qoswatun”, artinya “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu,bahkan lebih keras lagi”.Dari ayat tersebut hati manusia yang membangkang terhadap Allah menjadikan hatinya keras bagaikan batu bahkan lebih keras daripada batu.

Maka, jalan keluarnya untuk melembutkan hati yang telah keras bagaikan batu sehingga kembali tunduk kepada Allah, sebagaimana Ulama ahli ma’rifat mengatakan penafsirkan ayat tersebut, sebagaimana dalam kitab miftahu Ash-Sshudur karya Sulthon Awliya Assayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “fakamaa annal hajaro laa yankasiru illa biquwwatin dlorbil muawwil fakadzaalikal qolbu laayankasiru illa biquwwati ”, artinya “sebagaimana batu tidak pecah kecuali bila dipukul dengan tenaga penuh pukulan palunya, demikian hati yang membatu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan kuatnya suara dzikir. “liannadz dzikro laa yu’tsiru fiijam’i tsanaati qolbi shohibihi illa biquwwatin”, artinya “ Demikian pula dzikir tak akan memberi dampak dalam menghimpun fokus hati pendzikirnya yang terpecah pada Allah kecuali dengan suara keras”.

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih di dalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang yang akan menghalangi kita dekat kepada Allah, seperti sifat-sifat jelek manusia: iri, dengki, sombong, takabur,dll yang disumberkan oleh hati yang keras).

 

CARA BERDZIKIR DENGAN KERAS YANG DIAJARKAN ROSUL

Dalam hadits shohihnya, dari Yusuf Al-Kaorani : “Sesungguhnya Sayyidina ‘Ali r.a. telah bertanya pada Nabi Saw. : Wahai Rosulullah, tunjukkanlah kepadaku macam-macam thoriqot (jalan) yang paling dekat menuju Allah dan yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama di sisi Allah, maka Nabi Saw menjawab: wajiblah atas kamu mendawamkan dzikkrullah: Sayyidina ‘Ali r.a bertanya lagi: Bagaimana cara berdzikirnya ya Rosulallah? Maka Nabi menjawab: pejamkan kedua matamu, dan dengarkan (ucapan) dariku tiga kali, kemudian ucapkan olehmu tiga kali, dan aku akan mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali sambil memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sedangkan Sayyidina ‘Ali r.a mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali, sedangkan Nabi Saw memdengarkannya”. (Hadits dengan sanad sahih, dalam kitab Jami’ul Ushul Auliya)

 

Dalam kitab Tanwirul Quluub dijelaskan cara gerakan dzikir agar terjaga dari datangnya Syetan, merujuk Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al’Arof ayat 17: “Demi Allah (kami Syetan) akan datang kepada manusia melalui arah depan, arah belakang, arah kanan dan arah kiri”. Ayat ini menunjukan arah datangnya syetan untuk menggoda manusia agar menjadi ingkar terhadap Allah. Jelas, sasarannya manusia melalui empat arah; 1. Depan 2.Belakang 3.Kanan 4.Kiri.Maka, dzikirnya pun harus menutup empat arah. Dalam kitab Tanwirul Qulub: ucapkan kalimat “LAA” dengan diarahkan dari bawah pusat tarik sampai otak hal ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah depan dan belakang. Adapun ditarik kalimat itu ke otak karena syetan mengganggu otak/pikiran kita sehingga banyak pikiran kotor atau selalu suuddzon. Dan “ILAA” dengan diarahkan ke susu kanan atas, dan kalimat “HA” diarahkan ke arah susu kanan bagian bawah adapun ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah kanan. Dan “ILLALLAH” diarahkan ke susu kiri yang bagian atas serta bawahnya, hal ini untuk menutup pintu syetan yang datangnya dari arah kiri, namun lapadz jalalah yaitu lapadz “ALLAAH”nya diarahkan dengan agak keras ke susu kiri bagian bawah sekitar dua jari, karena disanalah letaknya jantung atau hati (keras bagaikan batu) sebagaimana pendapat Imam Al-ghozali.

Syarat berdzikir menurut para Ulama Tasawuf:

1. Dengan berwudlu sempurna

2. Dengan suara kuat/ keras

3. Dengan pukulan yang tepat ke hati sanubari

 

 

 

MANA YANG PALING UTAMA, DZIKIR KERAS (JAHAR) ATAU DZIKIR HATI (KHOFI)?

Dalam kitab ulfatu mutabarikin dan kitab makanatu Adz-dzikri bahwasanya Rosul pernah bersabda: “sebaik-baik dzikir adalah dalam hati”. Dalam kitab tersebut dijelaskan hal itu bagi orang yang telah mencapai kelembutan bersama Allah, hati bersih dari penyakit, hati yang sudah lembut. Sedangkan dzikir keras itu lebih utama bagi orang yang hatinya keras bagaikan batu, sehingga sulit untuk tunduk pada perintah Allah karena sudah dikuasai oleh nafsunya.

Dalam kitab Miftahu Ash-Shudur karya Sulthon Auliya As-Sayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “ Sulthon Awliya As-Sayyid Syekh Abu A-Mawahib Asy-Syadzili r.a. berkata: “Para ulama toriqoh berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama, apakah dzikir sir (hati) atau dzikir jahar (keras), menurut pendapat saya bahwa dzikir jahar lebih utama bagi pendzikir tingkat pemula (bidayah) yang memang hanya dapat meraih dampak dzikir dengan suara keras dan bahwa dzikir sir (pelan) lebih utama bagi pendzikir tingkat akhir (nihayah) yang telah meraih Al-Jam’iyyah (keteguhan hati kepada Allah)” .

Imam Bukhori, dalam kitab Sahihnya bab dzikir setelah salat fardlu, berkata: “ Ishaq ibnu Nasr memberitahu kami, dia berkata’Amru memberitahu saya bahwa Abu Ma’bad, pelayan Ibnu Abbas, semoga Allah meridloi keduanya, memberitahu Ibnu Abbas bahwa “Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jama’ah selesai dan shalat fardlu sudah biasa dilakukan pada masa Nabi Muhammad. Ibnu Abbas berkata: “Aku tahu hal itu, saat mereka selesai shalat karena aku mendengarnya”. Sayyid Ahmad Qusyayi. Q.s., berkata: ”inilah dalil keutamaan dzikir keras (jahar) yang didengar orang lain, dengan demikian ia membuat orang lain berdzikir kepada Allah dengan dzikirnya kepada Allah“.

 

DZIKIR KERAS MERESAHKAN?

Dzikir keras tidak akan meresahkan atau mengganggu orang yang hatinya penuh dengan cinta kepada Allah. Dengan terdengarnya dzikir menjadi magnet (daya tarik) yang kuat bagi orang yang beriman, bahkan menjadi kenikmatan tersendiri. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an QS.Al-Anfal ayat 2 :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” .

 

ALLAH TIDAK TULI

Ada anekdot dari seorang Ulama Tasawuf pengamal thoriqoh: suatu hari ada dialog antara mahasiswi dan ulama tasawuf. Mahasiswi bertanya: “Pak Kiai, kenapa dzikir mesti keras (jahar) padahal Allah itu tidak tuli?”. Ulama Tasawuf menjawab dengan membalikan pertanyaan: “yang bisa kena sifat tuli itu yang memiliki telinga atau tidak?”. Mahasiswi menjawab: “iya yang punya telinga”. Ulama Tasawuf kembali bertanya: “Kalau Allah punya telinga tidak?”. Mahasiswi menjawab: “tidak punya”. Ulama tasawuf kembali bertanya lagi: “apakah dengan suara keras makhluk akan merusak pendengaran Allah?”. Mahasiswi menjawab: “tidak Pak Kiai”.

Selanjutnya Ulama Tasawuf mengatakan: “oleh sebab itu istighfarlah dan bersyahadatlah dengan baik, bagaimanapun Allah tidak akan tuli dan tidak akan rusak pendengaran-Nya oleh suara kerasnya makhluk. Bagi-Nya suara keras maupun pelan terdengar oleh Allah sama. Hanya saja, hati manusia yang tuli akan perintah Allah. Jadi, dzikir keras bukan untuk Allah dan bukan ingin didengar oleh Allah karena Allah sudah tahu. Tapi tujuan dzikir keras itu diarahkan untuk hati yang tuli kepada Allah yang keras bagaikan batu sedangkan kita tahu batu itu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan yang kuat, begitupun hati yang keras bagaikan batu tidak akan hancur kecuali dengan suara pukulan dzikir yang kuat. Jadi, Allah tidak butuh akan dzikir kita, sebaliknya kitalah yang butuh akan dzikir kepada Allah supaya hati menjadi lembut, bersih dan ma’rifat kepada Allah.

Iklan
13 Oktober 2012

Syair ini karangan Hamzah Fansuri 1

oleh alifbraja

1 permanen;
C a t a t an
Sya ir ini ka r angan Hamz ah F ansu ri yai tu s eor ang ahlu suluk ya ng termasyhur, yang hidup pa da penghabisan abad keen umum belas dan permula an abad
k e t u j uh be l a s. T emp at kediamann ya IAL ah Barus, ia s angat bany ak me ngu nj un gi negeri asing: P ahang, B antan, K udus, S ya rh Nawi (temp at Keduduk an
raja S i a m), Mekah dan Me d i n a h. I l mu batinn ya tenta ng sifat T uhan, dun ia
d an manus ia tia da diter ima ul ama – ul ama agama I sl am zam an it u. T e r u t a ma
Sye ch N uru ‘dd in al Rani ri seorang ula ma Islam yang termasyh ur di Ac eh,
sela lu membant ah dan meme ran gi i lniu Hamz ah F ansu ri ser ta S jamsu ‘dd in al
S umatrani, s eor ang ahli sul uk ya ng sef aham dengan Hamz ah F angsur i. Demik ianl ah S ult an Ac eh menyur uh bak ar kitab – kit ab ka r angan ked ua anggota sul uk
i t u. T eta pi meskip un demiki an Hamz ah F ansu ri termasyh ur s amp ai kemanama na d an pengaruhn ya s amp ai ke pul au J aw a.
41 Bismillahi R Rahmanir RAHIMI
Subhanallah terlalu kamil. ‘
Menjadikan insan alam dan jahil,
Dengan hambaNya daim
 2
 la Wasil
 3
Itulah Mahbub
 4
 bernama Adil.
Mahbub itu tidak berlawan,
Lagi alim lagi bangsawan,
Kasihnya banyak lagi gunawan,
Aulad
 5
 itu bisa t e r t awan.
Bersunting bunga lagi bumalai
 6
 ,
Kainnya warna berbagai,
Tau be rbunyi di dalam sagai,
 7
Olehnya itu orang teralah.
Ingat-ingat kau lalu-lalang,
Berlekas-lekaslah jangan amang,
 8
Suluh Muhammad yugia kau pasang,
Supaya salim
 9
 jalanmu datang.
kamil (b hs Ar b) – s e m p u r h a.
d a im (b hs A r b) – s enant i a s a.
Wasil (b hs Ar b) – s amp a i.
4
  m a h b ub (b hs A r b) – k e k a s i h.
s
 Au l ab (b hs A r b) – p a ra ahak.
  B u m a l ai (b hs Mly. L ama) – e lok.
sagai – hal amb a.
8
ama ng – angan-angan,
salim (b hs Ar b) – s e j aht e r a.
42 Rumahnya ‘ali
1
 be rpa t umum birai.
2
Lakunya cerdas sempurna bisai.
3
Tudungnya halus terlalu pipai.
4
Daim be rbuni di luar tirai.
Jika sungguh engkau asyik mabuk.
Memakai c andi
5
 pergi menjaluk.
6
Ke dalam pagar supaya kau masuk.
Barang ghairallah
7
 sekeliannya amuk.
Berjalan engkau rajin-rajin.
Mencari guru yang t ahu akan batin
Yugia kau t u n t ut jalan yang amin.
Agar dapat lekas kau kahwin
8
Berahimu daim akan orang kaya.
Manakan dapat tidak berbahaya.
Ajib segala akan ha ti sahaya.
Hendak be rdapat dengan maya raya.
1
 ali (b hs Ar a b) – yang tihggi.
birai – hiasan,
bisai – p a n d a i.
4
 pipai – licin.
5
  c a n di – t e l e k u n g.
6
 menj a luk – mi n t a.
7
 ghairallah (b hs A rb) – selain da ri Al l ah.
8
  amin (b hs Ar b) – y a ng a m a n. Tiada kau t ahu akan agamamu.
Terlalu ghurur
9
 dengan ha r t amu.
Nafsu dan syahwat daim sertamu.
Asyik dan mabuk bukan kerjamu.
Rantaikan kehendak sekelian musuh.
Anjing tunggal yugia kau b u n u h.
Dengan Mahbubmu seperti suluh.
Supaya d a p at berdakap t u b u h.
Dunia nan kau sandang-sandang.
Manakan d a p at ke b u k it rentang.
Angan-anganmu terlalu panjang.
Manakan d a p at segera memandang.
Dunia jangan kau t a ruh.
Sehingga hampir Mahbub yang j a u h.
Indah segala akan kalah-kaluh.
Ke dalam api pergi be r l abuh.
. IggfuM »nav – (d ß ta tdo)
. Naaeiri – ‘uni
. i s b n aq – iaaid
 E
. Ni-jif – ieqiq *
. Jjnurfsfsi – ibntw *
. Nlnim – jiulßinam
 d
lialiA hal ub nia ba – (d ia arid) rißliBiiBdig
 r
9
  g h u r ur (b h s) – t e r t i p u.
44 Hamzah miskin hina dan ka r umum.
Bermain ma ta dengan Rabul Alam.
Selamanya sangat terlalu da l am.
Seperti mayat sudah t e r t a n umum.
Allah Maujud ‘terlalu baqi.
2
Dari enam jihad kenahinya cali.
Wa Huwal Auwalu
3
 sempurna ‘ali.
4
Wa Huwal Akhi ru ‘daim nur ani.
Nurani itu hakikat k h a t umum.
Pertama terang di l aut dalam.
Menjadi makhluk sekelian alam.
Itulah bangsa Hawa dan Adam.
Te r t entu awal sua tu cahaya.
Itulah cermin yang mulia raya.
Terlihat di sana miskin dan kaya.
Menjadi dua Tuhan dan sahaya.
1
 maujud (bhs Arb) – yang ada.
2
 baqi (bhs Arb) – yang kewal.
 Wa huwal auwalu (bhs Arb) – ia yang awal.
ali (bhs Arb) – yang tinggi.
45 Nurani itu terlalu zahir
Bernama Ahma d ‘dari cahaya satir.
2
Peniuru alam keduanya hadir.
Itulah makna awal dan akhir.
Awal dan akhir asmanya
3
 jarak.
Zahir dan batin warnanya banyak.
Meskipun dua ibu dan anak.
Keduanya cahaya di sana banyak.
Yugia kau pandang kapas dan kam,
Keduanya wahid
4
 asmanya lain,
Wahidkan hendak lahir dan batin,
Itulah ilmu ke sudahannya main.
Anggamu
5
 itu asalnya t ahi r.
6
Batinnya arak zahirnya takir,
Lagi kau saqi
7
 lagi kau sakir
Itulah Mansyur menjadi nazir.
1
  A hm ad – n ama lain da ri Nabi M uhamma d.
2
 satir (b hs Ar b) – yang byrsembuny i.
3
  a sma (b hs Ar b) – n ama.
4
 wahid (b hs Ar b) – s a t u.
* A n g g a – a n g g o t a.
6
  t a h ir (b hs A r b) – suc i.
7
 saqi (b hs Ar b) – y a ng m e m i n u m.
8
 na z ir (b hs A r b) – p e n i l iw.
46 hunuskan ma ta t u n u k an sarung.
I sba tkan
1
 Allah nafikan
2
 pa tung.
Laut t auhid yugia kau harung.
Itulah ilmu t emp at bernaung.
Rupamu zahir kau sangka t anah.
Itulah cermin sudah terasah.
Jangan kau pandang j auh be rpayah.
Mahbubmu hampir serta ramah.
Kerjamu mudah periksamu kurang.
Kau sangka tasbih
3
 membilang tulang.
Ilmumu baha ru berorang-orang.
Lupakan fardu yang tersedia hut ang.
J a u h a rmu lengkap dengan t u b u h.
Warnanya nyala seperti suluh.
Lupakan nafsu yang tersedia musuh.
Manakan d a p at adamu gugur.
1
 isbatkan (bhs Arb) – memastikan adanya Allah.
2
 nafi (bhs Arb) – meniadawan.
3
 tasbih – buah tasbih alat penghitung zikir.
47 J auhar yang mulia meskipun sangat.
Akan orang muda kasih akan alat.
Akan ilmu Allah ingin kau pe rdapa t.
Mangkanya sampai pulangmu r aha t.
4
Hamzah Nuwi zahirnya J awi.
5
Batinnya cahaya Ahmad yang saf i.
6
Meskipun ia hina j a t i.
Asyiknya daim akan Zatul Bari.
7
Sidang fakir emp u n ya ka t a.
Tuhanmu lahir terlalu nya t a.
Jika sungguh engkau be rma t a.
Lihatlah dirimu rata-rata.
Kenal dirimu hai anak j amu.
Jangan lupa akan diri kamu.
Ilmu hakikat yugia kau r amu.
8
Supaya terkenal’ali adamu.
4
  r a h at (b hs Ar b) – s Enang.
5
  J awi – m a k s u d n ya o r a ng My l a y u.
6
 safi (b hs A r b) – b e r s i h.
7
  Z a t ul Bari (b hs A r b) – Z at Allah.
8 ra mu – mengumpulk an bahan – baha n.
48 Jikalau terkenal dirimu baqi.
Elokmu i tu t i ada berbagi.
Hamba dan Tuhan daim berdami.
Memandang diri jangan kau lali.
Kenal dirimu hai anak dagang.
Menafikan diri jangan kau sayang.
Suluh isbat yugia kau pasang.
Supaya d a p at mudah kau da t ang.
Dengarkan sini hai anak r a t u.
Ombak dan airnya asalnya satu.
Seperti manikam Muhith
9
– Dengan b a t u.
Inilah tamsil engkau dan r a tu.
J ika terdengar olehmu firman.
Pada taur at Injil dan F u r q a n.
3
Wa Huwa ma ‘akum pada ayat Quran.
Bikulli syaiin muhi th terlalu ‘i y a n.
4
1 berda mi – tid ak be rcerai, bersat u.
2 m u h i th (b hs Ar b) me l i p u t i.
3 F urq an – nama lain dari Qurajv ^ ^ A n ^ m
^ ^ S ^ ^ ^ ^ ^ ^ i. “
Dan, angit bumi m ya
A llah – d an Al l ah itu me Lipu ti segala sesua tu
Wa Huwa M a ‘ak um – Al l ah itu bers amamu, iy an – nyat a. pa s t,.
49 Syari’at Muhammad ambilkan suluh.
Ilmu hakikat yugia kau p e r t u b u h.
Nafsumu itu yugia kau b u n u h.
Makanya d a p at sekelian gugur.
3
Mencari dunia berkawan-kawan.
Oleh nafsu khabis
4
 engkau t e r t awan.
Nafsumu itu yugia kau lawan.
Mangkanya sampai engkau bangsawan.
Mahbubmu itu tidak berhasil.
5
Fa ainama tuwallu
6
 jangan kau ghafil.
7
Fa samma Wajhullah
8
 sempurna Wasil.
9
Inilah jalan orang kamil.
1
 °
Kekasihmu lahir terlalu terang.
Pada kedua alam nya ta t e rbent ang.
Ahlul Makrifah ‘terlalu menang.
Wasilnya daim tidak berselang.
3
luruh – l enyap, fana.
4
 khabis (Ar b) – b u s u k, j a h a t,
h a il (A r b) – tirai, p e m b a t a s.
fa a inama tuwa l lu – kutip an ay at Qu r an dari sur ah Al B a ^ ar ah ay at 1 15
yang terj ema h an sel engkap ay at berbunyi: “K epunya an Allah tim ur d an
b a r a t: ke r ana. tu, ke ma na saja engkau menghadap, di sana terdap at Wajah
7 A llah: sesungguhn ya Allah mempuny ai ilmu ya ng luas “
Ghafil (Ar b) – lupa.
J fa s amma Wajhullah bagi an ay at 1 15 sur ah Al B aqara hal. s epe r ti pada n o ta 6
^ Wasil (Ar b) – s amp a i.
kamil (A rb) – sempurna, ma ks ud di sini Ins an Kami l.
50 Hempaskan akal dan rasamu.
Lenyapkan badan dan nyawamu.
Pejamkan ingin dua ma t amu.
Di sana lihat peri r u p amu.
Adamu itu yugia kau serang.
Supaya d a p at negeri yang henang.
3
Seperti Ali t a tka la perang.
Melepaskan duldul t i ada berkekang.
Hamzah miskin orang’uryani.
4
Seperti Ismail jadi qurbani.
5
Bukannya Ajam dan A ‘r abi.
Nantiasa Wasil dengan yang baqi.
-Habis-
3
 henang – tetap.
4
 uryani (Arb) – telanjang.
5
 qurbani (Arb) – korban. Maksudnya: seperti Nabi Ismail yang rela mengorbankan dirinya demi memenuhi mimpi ayahnya Ibrahim.
51 SYAIR NAMA-NAMA TUHAN
Aho segala ki ta yang menyembah nama
Yogya dike t ahui apa Yang Pertama
Karena Tuhan ki ta yang Sedia Lama
Dengan ketujuh sifat bersama-sama
Kunjung-kunjung di b u k it yang Mahatinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada t u b u h n ya
Nurani haqiqat kha t umum
Supaya terang laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi Sultan kedua alam
Tuhan ki ta Empunya Dhat
Awwainya Hayy pe r t ama bilang Sifat
Keduanya Ilmu dan Rupa Ma’lumat
Ketiga Murid ‘kan sekalian I r adat
52 Keempat Qadir dengan Qudr a tnya tamam
Kelimanya sifat bernama Kalam
Keenamnya Sami ‘dengan adanya dawam
Ketujuhnya Basir akan halal dan haram
Ketujuhnya i tu adanya qadim
Akan istidat allamin sempurna Alim
Karena sifat ini dengan Kamal al-hakim
Bernama Bismillahi ‘l-Rahmani’ l-Rahim.
Ilmu ini Haqiqat Muhammad a l – N a bi
Menurutkan Ma’lum dengan lengkapnya qawi
Dari Haqiqa tnya itu jahil dan wali
Beroleh i’tibarnya dengan sekalian peri
Tuhan ki ta itu empunya Kamal
Di dalam tertandingi tidak panah zawal
Rahman da l umumnya pe rhimpunan Jalai
Beserta dengan Rahim sekalian Jamal
53 Tuhan ki ta itu yang bernama Aliyy
Dengan sekalian Zat senantiasa baqi
Alajamiil alamin Atha rnNya jadi
Dari Sittu j ihat sebab itulah khali
Cahaya AtharNya tidak padam
memberikan wujud pada sekalian alam
menjadikan mahluq siang dan malam
IIA abadi ‘l-abad tidak kan karam
Tuhan ki ta itu seperti Bahr-al ‘amiq
Ombaknya penuh pada sekalian tariq
Laut dan ombak keduanya rafiq
Akhir ke dalamnya jua ombaknya ghariq
Lautnya ‘Alim ha lunnya Ma’lum
Kondisinya Qasim ombaknya Maqsum
Tuhannya Hakim s h u ‘u n n ya Mahkum
Pada sekalian ‘alamin inilah rusum
54 Jikalau sini kamu tahu akan ada
Itulah t emp at kamu shuhud
Singkirkan rupamu dari sekalian quyud
Agar dapat ke dalam diri qu’ud
Pada wujud Allah itulah yogya kau qa’im
Singkirkan rupa dan namamu da’im
Nafikan rasamu dari Makhdum dan khadim
Agar sampai kepada Amal yang Khatim
Jika engkau belum t e t ap seperti batu
Hukum dua lagi khadim dan ratu
Setelah lupa engkau dari emas dan mati
Mangkanya d a p at menjadi satu
Jika belum fana dari ribu dan r a tus
Tiadakan dapat adamu kau hapus
Nafikan rasamu dari kasar dan halus
Agar dapat barang ka t amu harus Hamzah Fansuri sungguh pun da’if
Haqiqa tnya hampir di Dhat al-Sharif
Sungguh pun habab rupanya khatif
Wasilnya da ‘im dengan Bahr al-Latif
Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Senantiasa Wasil dengan Yang Baqi
Hamzah Fansuri terlalu karam
Di dalam laut yang mahadalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi sultan kedua alam
56 SYAIR a’yan THABITAH
Aho segala kamu yang bernama taulan!
T u n t ut ma’rifat pada mengenal a’yan
Karena disana sekalian ‘arifan
Barang ka t anya setengah dengan firman.
A’yan thabi t ah bukankah shu’un dha t iyyah?
Mengapa pulang dika ta ada ‘ilmiyyah!
Tatakala awwal baru muqabalah
Olehnya janggal sebab lagi me n t a h.
A’yan thabi t ah bukankah suwari?
Mengapa pulang dika ta sifat Wahyi!
Tatakala awwal baru tafsil ‘ilmi
Olehnya janggal tidak mengetahui.
A’yan thabi t ah bukankah mahiyyat al-mumkinat?
Mengapa pulang dika ta mus t ahi l a t!
Tatakala awwal telah bernama ma ‘lumat
Olehnya janggal tidak mendapa t.
57 a’yan thabi t ah bukankah makhluq?
Mengapa pulang dika ta ma ‘shuq!
Tatakala awwal baru masbuq
Olehnya janggal lalu t a f a ruq.
A’yan thabi t ah bukankah mi r ‘a t?
Mengapa pulang dika tak adamiyya t!
Tatakala awwal be rnama furuf ‘aliyat
Olehnya janggal menjadi dalalat.
A’yan thabi t ah bukankah ‘alam?
Mengapa pulang dika ta ‘adam!
Tatakala awwal telah sudah mutalazam
Olehnya janggal penglihatnya kelam.
A’yan thabi t ah bukankah ‘ashiq?
Mengapa pulang dika ta Khaliq!
Tatakala awwal baru mutalahiq
Olehnya janggal lalu mufariq.
58 a’yan thabi t ah bukankah ma ‘lum?
Mengapa pulang dika ta ma ‘d um!
Tatakala awwal telah sudah t e n n a q s um
Olehnya janggal tidak mafhum.
A’yan thabi t ah bukankah faqir?
Mengapa pulang dika ta amir!
Tatakala awwal baru hadir
Olehnya janggal menjadi khasir.
A’yan thabi t ah bukankah ja’izul ‘1-ada?
Mengapa pulang dika ta mumtani’u’l-ada!
Tatakala awwal telah sudah mawjud
Olehnya janggal menjadi j u h u d.
A’yan thabi t ah bukankah sh’un t h u b u t i?
Mengapa pulang dika ta ‘adam mahdi!
Tatakala awwal sudah mujmali
Olehnya janggal menjadi Mu’tazili. A’yan thabi t ah bukankah ‘adam mumkin?
Mengapa pulang dika ta ‘adam sakin!
Tatakala awwal telah menjadi cermin
Olehnya janggal lalu ngerin.
‘Adam mimkin awwalnya ma’ d um
Disana faqir sekalian antum
Didalam ‘ilmu sekaliannya ma’lum
Itulah murad wa huwa ma’akum aynama kuntum.
Dari Hamzah s Sha’irs (Coo. Or. 2 atau 6, Cod. Or. 3374, Cod. Or.
3 3 7 2, Library, Universitas Leiden)
60 SYAIR RUH ID AFI
T a ‘a y y un awwal ada yang j ami’ i
Pertama disana nya ta Ruh Idafi
Semesta ‘alam sana lagi ijmali
Itulah bernama Haqiqat Muhammad al-Nabi.
Ta ‘ayyun thani ada yang tamyizi
Disana terperi sekalian ruhi
Semesta ‘alam sana tafsil yang mujmali
Itulah bernama haqiqat insani.
Ta ‘ayyun tha l i th ada yang mufassali
Ia itulah penghargaan dari karunia Ilahi
Semesta ‘alam sana tafsil fi’li
Itulah bernama a’yan khariji.
Rahasia ini yogya dike t ahui
Pada kita sekalian yang me n u n t u ti
Demikianlah kelakuannya tanazzul dan taraqqi
Dari sanalah kita sekalian menjadi. Pada kunhinya i tu belum be rke t ahuan
Demikianlah ma r t a b at asal awal
Bernama wahdat t a t aka la zaman
Itulah ‘ashiq sifat menya t akan.
Wahdat itulah bernama Kamal dhati
Menyatakan sana Ruh Muhammad al-Nabi
Tatakala i tu be rnama Ruh Idafi
I tul ah ma h k o ta Qurayshi dan ‘Arabi.
Wahdat itulah sifat yang Keesaan
Memberikan wujud pada sekalian manusia
MuhitNya lengkap pada sekalian zaman
Olehnya itu tidak Ia bermakan.
Wahdat itulah yang pe r t ama nya ta
Didalamnya mawjud sekalian r a ta
MuhitNya lengkap pada sekalian anggota
Demikianlah ump ama chahaya dan pe rma t a.
62 wahdat itulah bernama Kunhi Sifat
Tidak ada bererai dengan itlaq Ahadiyyat
Tanzih dan tashbih disana ma ‘iyyat
Demikianlah sekarang zahir [2 8] pada ta ‘ayyuna t.
Wahdat itulah bernama bayang-bayang
Disana nya ta Wayang dan Dalang
MuhitNya lengkap pada sekalian padang
Mushahadat disana jangan kepalang.
Wahdat itulah yang pertama awwal
Ijmal dan tafsil sana mujmal
MuhitNya lengkap pada sekalian a f al
Itulah ma r t a b at usul dan asal.
Wahdat itulah yang pe r t ama tanazzul
Ijmal dan tafsil sana maqbul
MuhitNya lengkap pada sekalian maf’ul
Itulah Haqiqat Junjungan Rasul.
63 wahdat itulah yang pe r t ama tajalh
Tidak ada bererai dengan Wujud Mutlaqi
Ijmal dan tafsil didalam ‘ilmi
Itulah ma r t a b at kejadian Ruh Idafi.
Wahdat itulah yang pe r t ama taqayyid
Disana idafat lam yulad dan lam yalid
Pada sekalian t a ‘a y y un jangan kau taqlid
Mangkanya sampai bernama tajrid.
Wahdat itulah sifat yang t a l ahuq
Tanzih dan tashbih sana cluk
MuhitNya nya ta tatakala masuk
Itulah pe r t emuan Khaliq dan Makhluq.
Wahdat itulah sifat yang talazum
Tanzih dan tashbih sana malzum
MuhitNya lengap pada sekalian ma ‘lum
Itulah pe r t emuan Qasim d an Maqsiim. Wahdat itulah sifat yang taqarun
Tanzih dan tashbih sana maqrun
MuhitNya lengkap pada sekalian mudabbirun.
Itulah murad: Wa fi anfusikum-a fa la tubsirun.
65
J SYAIR IBA HATI
Tuhan ki ta yang be rnama Qadim
Pada sekalian makhluq terlalu karim
Tandanya qadir lagi dan hakim
Menjadikan ‘alam dari al-Rahman al-Rahim.
Rahman itulah yang bernama sifat
Tidak ada bererai dengan kunhi Dhat
Dhat disana pe rhimpunan sekalian ‘iba r at
Itulah haqiqat yang bernama ma ‘l uma t.
Rahman itulah yang bernama ada
Kondisi Tuhan yang tersedia ma ‘b ud
Kenyataan Islam Nasrani dan Yahud
Dari Rahman itulah sekalian mawjud.
Ma’bud itulah terlalu bayan
Pada kedua ‘alam kulla yawmin huwa fi shan
Ayat ini dari Surat al-Rahman
Sekalian ‘alam disana hayr an.
66 Ma’bud itulah yang bernama haqiq
Sekalian ‘alam didalamnya ghariq
Olehnya itu sekalian fariq
Pada kunhinya itu tidak mendapat tariq
Haqiqat itulah terlalu ‘ayan
Pada rupa kita sekalian insanAynama tuwallu suatu burhan
Fa thamma wajhu ‘Llah pada sekalian makan.
Insan itu terlalu ‘ali
Haqiqatnya Rahman yang Maha Baqi
Ahsanu taqwimin itu rabbani
Akan kenyataan Tuhan yang bernama Subhani.
Subhani itulah terlalu ‘ajib
Dari habli’l-Warid puh ia qarib
Indah sekali Qadi dan kha t ib
Demikian hampir tidak mendapat nasib.
67 Aho segala kita yang ‘ashiqi
Ingatkan ma ‘na insani
Jika sungguh engkau bangsa ruhani
Jadikan dirimu akan rupa Sultani.
Kenal dirimu hai anak ‘alim!
Supaya engkau nentiasa salim
Dengan dirimu itu yogya kau qa’im
Itulah haqiqat salat dan sa’im.
. Dirimu itu bernama khalil
Tidak ada bererai dengan Rabb [a l -] Jalil
Jika ma ‘na dirimu dapat akan dalil
Tidak berguna madhhab dan sabil.
Kullu man ‘alayha fan / ayat min Rabbihi
Menyatakan ma ‘na irjiH Ha aslihi
Akan insan yang deroleh tawfiqi
Supaya karam dalam sirru sirrihi. Situlah ada sekalian funun
Tinggallah engkau dari mal wa’1-banun
Engkaulah ‘ashiq terlalu j u n un
Inna IVLlahi wa inna ilayhi raji’un.

3 Oktober 2012

POHON FIRQAH

oleh alifbraja
(6 FIRQAH DAN CABANG-CABANGNYA)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan tentang 6 firqah dan berikut cabang-cabangnya (pecahannya) ketika Baliau menafsirkan ayat Alloh Ta’ala yang artinya : “ Dan berpegang teguhlah kepada tali agama Alloh dan jangan kalian bercerai berai.”
Dan beliau juga mmengisaratkan kepada hadits iftiroqul ummah (perpecahan ummat) “Ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan.”(jilid 4 hal 158). Dan beliau juga menyebutkan i’tiqod (prinsip kepercayaan) masing-masing kelompok secara ringkas.
Teruntuk saudaraku kaum muslimin agar berhati-hati jangan sampai terjerumus didalamnya. Dan tidak ada yang tersembunyi bahwa pada zaman ini telah muncul berbagai kelompok dengan penampilan baju yangDan tidak ada yang tersembunyi bahwa pada zaman ini telah muncul berbagai kelompok dengan penampilan baju yang berbeda isi ajarannya sama. Maka kaum muslimin wajib memiliki semangat yang kuat untuk mengikuti manhaj yang lurus (jalan yang lurus).
Dibawah ini adalah gambar tentang 6 firqah yang memiliki banyak cabang-cabanya  dari masing-masing firqah . Semoga kita tidak tertipu,dan semoga kita tidak terjerumus didalamnya
 

11 September 2012

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso”

oleh alifbraja

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso”
Beragama yang Tidak Korupsi

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu:  pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?“

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.
“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

 

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga  harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid,
melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit,  dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.  Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat,
baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik VS Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.  Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.
Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.  Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.  Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri.  Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

23 Agustus 2012

Sang Guru Murshid

oleh alifbraja

Sebenarnya Sukma sejati, sukma jati, guru sejati atau guru murshid sama saja…cuma sebutannya saja yang berbeda…..ada juga yang menyebutnya dengan Nur Muhammad yang disebut Ruh idhlafi yang merupakan Hakikat Sukma dan ini merupakan kehendak dari Dzat Yang Maha Suci.

Nur Muhammad adalah hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat dan merupakan perbuatan Atma dan menjadi Wahana dalam Alam Arwah (Martabat 7) dan dari Nur Muhammad inilah yang menimbulkan Unsur-unsur Kehidupan yang menjadi Asal muasal Kehidupan.

Sukma sejati adanya pada kedalaman pribadi yang di pegang oleh Sang Pribadi…..melalui proses pengenalan diri sendiri maka muncullah cermin memalukan yang memberikan kenyataan kesadaran bahwa kotornya diri kita dan melalui proses selanjutnya maka kita bisa mulai mencari dan menemukan Sang Sukma sejati atau Adam Makna ……sama saja.

Dan dalam proses menemukan yang di butuhkan adalah totalitas Kesadaran, Keikhlasan, Ketulusan dan Kebulatan Tekad hanya untuk MencintaiNya seutuhnya ……tanpa ketakutan akan neraka atau keinginan akan sorga….yang ada hanya Dia.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma (sukma sejati) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma (sukma sejati) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kenapa saya sebut sebuah perjalanan.

Karena ini semua harus kita jalani sendiri, dengan mulai dari sebuah keraguan, pencarian, penemuan, pemahaman, kesadaran dan penyatuan…..dalam sebuah cinta kasih yang tulus, dengan pengorbanan yang tak terkira untuk sampai kesana…untuk sampai ke pantai dan melihat samudera…untuk melihat dimana semua sungai bermuara   (  kembali ).

Seperti Bima bertemu Dewa Ruci.

Bagaimana pertama kali kita akan dihadang oleh nafsu 4 perkara…..mula-mula sinar lutam, sinar merah, sinar kuning, sinar putih.

Berakhirnya perjalanan ….Pada zaman karamatullah kelak, waktunya maqamijabah, yakni terkabulnya segala sesuatu, segala apa yang dikehendaki terlaksana, karena lenyapnya Mutdah yang merupakan Dzat hamba, tinggallah Wajah yaitu Dzat Tuhan yang bersifat kekal.

Menuju cinta sejati …..adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup di kuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.

Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang dinamakan Kesadaran…

Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ; ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg sebenarnya.

Dalam Kehidupan ini faktor yang sering dilupakan kita sebagai manusia yang kadang mentang-mentang sebagai khalifah ( pemimpin ) dan merupakan Tajali ( perwujudan ) dari Sang Maha Sempurna, adalah dari mana kita ” berasal ” dan bagaimana kita ” kembali ke asal “.

Sehingga kadang kita melupakan bahwa bahwa kita terdiri dari 2 bagian…..yaitu yg bernama “Jasad” (rag ) dan “Ruh” (jiwa)… dan dalam menempuh hidup dan kehidupan, biasanya kita lebih banyak termakan dogma dari sebuah kehidupan yang mengandalkan atau menampilkan baju dari masing-masing sehingga hakikat atau makna dari dalam bajunya jarang tersentuh.

Bagaimana Jasad atau raga itu adalah sebagai baju dari Ruh atau jiwa….jiwa menemukan raga begitu di dunia…..dahulu disana tiadalah memerlukan baju atau apapun, raga memerlukan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya untuk bertahan di dunia, sedangkan jiwa merindukan tempatnya yang dahulu, dimana tidak memerlukan apapun di alam adam makdum….. Bagaimana sebuah raga begitu memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia sehingga akhirnya kadang berbenturan dengan keinginan ruh yang tidak merindukan apa-apa, tetapi ruh tanpa raga adalah bukan siapa-siapa karena Keagungan Perwujudan Dzatullah tidak akan terlihat.

Demi menjaga keseimbangan haruslah kita mempertimbangkan tentang keduanya.  bagaimana begitu kita berwujud sudah berbekal 4 nafsu inti, lawwammah, amarah, sufian dan muthmainah, yg apabila bicara seharusnya……dan harusnya dalam wacana mematikan nafsu 4 perkara: Mati nafsunya, setiap nafsu akan merasakan maut. Mati rohnya, maksudnya yang hilang rahsanya. Mati ilmunya, maksudnya yang mati atau yang berjurang imannya. Mati hatinya, maksudnya yang mati ucapannya dengan lisan.

Dan yang melandasi hukumnya adalah ; Jalan untuk kesempurnaan Pati itu adalah Hidayatullah yang menandakan tempat yang telah diatur, serta hakikat hidup yang berada pada manusia. Kedudukan Pati petunjuk Allah taala, selamat dalam keadaan jati maksudnya bijaksana terhadap kesempurnaan sangkan paran. Bertemunya Pati itu tawakal maksudnya berserah diri kepada Allah taala, adapun bertemunya apti itu iradat Allah. Perkara Pati perbuatan Allah maksudnya merapakan kesempurnaan Dza yang bersifat Esa.

Janganlah kita terpaku pada sebuah nama atau sebutan…..karena pasti akan menimbulkan perbedaan bahkan kekacauan dan berujung kehancuran.

Dalam khasanah jawa disebut sukma sejati dan sejatining sukma, dalam khasanah islam disebut ruh idhafi atau nur muhammad atau ruh al quds (ruh suci), dalam nasrani di sebut ruh kudus, dalam hindhu atma.

Dalam perjalanannya kenapa disebut guru sejati atau guru mushid…..adalah pada saat kita mencari sesuatu yang murni atau sejati, abadi…..bahwa kita harus menyadari bahwa DzatNya ada pada sifat hidup kita dan yang pantas kita jadikan guru adalah hanya itu…..bukan yang lain yang sama dengan kita yang akan menjadi tanah lagi atau bahkan dari bangsa dilura manusia.

Dalam khasanah yang berbeda keberadaan sukma sejati tidak bisa dilepaskan dari asal mula Tuhan menciptakan Ruh suci ini dalam bentuk makhluk untuk meneruskan penzhahiran yang [paling sempurna dalam peringkat Alam Ketuhanan Dzat Yang Maha Tinggi. Dan Tuhan menhendaki ruh itu turun ke alam fana ini di peringkat paling rendah, yaitu alam Ajsam (alam kokret) … yang tujuan utamanya adalah untuk memberi pelajaran kepada Ruh suci itu dan untuk mengetahui pengalamannya dalam mencari jalan kembali kepada Tuhan.

Dan dalam perjalanannya …dari tingkat yang paling tinggi sampai ke tingkat paling rendah , ruh suci menempuh berbagai alam atau peringkat….mulai dari semula turun ke peringkat Akal Semesta atau Kesatuan atau Hakikat Muhammad.

Dan Ruh suci ini dihantarkan ke tempat yang paling rendah agar ia mencari jalan ke asalnya yaitu berpadu atau berdampingan denagn Tuhan seperti ketika ia berada dalam pakaian daging, darah, dan tulang itu. Melalui hati yang ada dalam badan kasar ini, wajar bila ia menanam benih rasa kesatuan dan keesaan, dan ia akan berusaha menyuburkan rasa berpadu dan berdampingan dengan Tuhan yang menciptakannya.

Dalam bumi hati itu ruh suci menanam benih keyakinan yang telah dibekalkan kepadanya oleh Tuhan dari alam Maha Tinggi dan benih itu diharapkan menjadi pokok keyakinan yang akan menghasilkan buah-buahan yang rasanya kelak akan membawa Ruh itu kembali naikke tingkat demi tingkat hingga sampai ke hadirat Tuhan.

Penciptaan badan agar sukma sejati (ruh) dapat masuk dan menetap didalamnya, dan setiap ruh mempunyai nama tersendiri, dan Tuhan menyusun ruang-ruang dalam badan dan meletakkan ruh manusia diantara daging dan darah, dan meletakkan ruh suci ditengah hati manusia suatu ruang yang indah dan halus untuk menyimpan rahasia antara Tuhan dan hambaNya.

Ruh-ruh itu berdiam diberbagai bagian anggota badan dengan tugas masing-masing. Keberadaannya seolah-olah berlaku sebagai pembeli dan penjual bermacam barang yang mendatangkan berbagai hasil. Perniagaan semacam inilah yang mendatangkan bentuk rahmat dan berkat dari Tuhan.

Seharusnya manusia mengetahui kebutuhan dalam ruhaninya masing-masing, seharusnya tidak mengubah apa yang sudah ditetapkan atau ditakdirkan Tuhan kepadanya.

Dada adalah tempat bersemayamnya ruh dalam diri setiap insan manusia, tempat yang berhubungan dengan panca indera ini bertugas mengatur segala hal yang berkaitan dengan masalah syariat…..karena dengan ini Tuhan mengatur keharmonisan alam nyata. Ruh tidak pernah mengingkari perintah Tuhan, tidak mengatakan tindakannya itu sebagai tindakannya sendiri, tetapi lebih karena ia tidak mampu bercerai dengan Tuhan.

Tuhan memberikan beberapa kelebihan bagi manusia yang memiliki ruhani yang tinggi pula ; pertama, kemampuan melihat bukti-bukti wujud keberadaan Tuhan didunia yang manifestasikan dalam sifat-sifat Tuhan, kedua…kemampuan melihat hal yang jamak dalam sesuatu yang tunggal dan sebaliknya dimata orang awam, ketiga…kemampuan melihat hakikat dibalik alam nyata dan keempat…perasaan dekat dengan Tuhan….inilah ganjaran karena keikhlasan dan ketulusan mencintaiNya dan berbuat semata-mata karena Dia.

Namun inipun masih berkaitan dengan alam kebendaan, begitu pula hal2 yang dianggap luar biasa oleh sebagian orang seperti berjalan diatas air, terbang diudara, mendengar suara2 gaib, membaca sesuatu yang berada dibenak orang lain, dll…ini masih berpijak pada kebendaan atau alam nyata.

Hendaknya dalam beramal shalih manusia tidak seperti “Pedagang” …yang selalu dalam melakukan sesuatu haruslah ada untungnya, apalagi ini dengan Tuhan.

Ruh dalam Hati

Hati adalah tempat bergeraknya ruh, dan ilmu yang mengulas tentang gerakan hati disebut ilmu thariqah. Kerjanya berkaitan dengan 4 nama Allah. Sebagaimana dengan 12 nama Dzat…4 nama ini tidak berhuruf dan tidak berbunyi, sehingga nama-nama itu tidak dapat diucapkan.

Pada setiap peringkat (dari 4 tingkatan) yang dilalui oleh ruh terdapat 3 buah nama yang berbeda. Dan dengan cara ini Tuhan dapat memegang hati kekasihNya yang sedang dalam perjalanan cinta menuju kepadaNya.

Ada 7 titik, yang 3 merupakan titik inti dan yang 4 adalah pendamping dan apabila diolah nantinya akan akan berhubungan dengan 9 lubang di badan kita.

Cara pengolahannya ada beberapa cara:

1. Dengan berpuasa lahir dan batin, bukan berpuasa hanya puasa lahir tapi batin juga karena lahir hanya menggembleng lahir saja (jasmani ), tetapi batin akan meggembleng lahir dan batin.

2. Meditasi, dengan pengolahan nafas secara benar dan teratur, kontinyu, karena nafas adalah tali jiwa.

3. Dengan adanya pembukaan titik melalui orang lain yang bisa membukanya…..tetapi biasanya ini kurang membuat kita lebih matang dan kurang bisa mengolahnya dengan baik nantinya….karena kendala setelah itu akan banyak.

Dalam islam, kalimat La ilaaha illallaah itu melahirkan 12 nama Allah, setiap nama tercantum pada setiap hurufyang menyusun kalimat tersebut. Dan Allah akan memeberikan nama kepada setiap huruf dalam proses kemajuan hati seseorang itu.

1. Lailaha illallaah: Tiada Ilah kecuali Allah

2. Allah: Nama Dzat

3. Huwa: Dia

4. Al-Haqq: Yang Benar

5. Al-Hayy: Yang Hidup

6. Al- Qayyum: Yang berdiri sendiri kepadaNya segala sesuatu bergantung

7. Al-Qahar: Yang Maha Berkuasa dan Perkasa

8. Al-Wahab: Yang Maha Pemberi

9. Al-Fattah: Yang Maha Pembuka

10. Al-Wahid: Yang Satu

11. Al-Ahad: Yang Maha Esa

12. As-Shamad: Sumber, puncak segala sesuatu

Hati adalah tempat bergeraknya ruh dan ruh selalu memandang ke alam ‘ Malakut’ yang identik dengan kebaikan, dan dialam ini ruh dapat melihat surga alam malakut beserta para penghuninya, cahaya, dan para malaikat yang ada didalamnya.

Dan dialam inilah ruh ruh bergerak dan melakukan percakapan-percakapan tanpa kata dan suara, dan dalam percakapan itu pikiran akan selalu berputarmencari rahasia-rahasia atau makna dalam batin. Ruha yang bergerak akan melalui berbagai tingkatan dalam perjalanannya. Dan tempat ruh yang telah mencapai tingkatan tinggi adalah di tengah hati, yaitu Hati bagi Hati.

Yang sangat berhubungan dengan Sukma Sejati adalah bagaimana kita mengetahui dan memahami tentang “Rasa Sejati” …..bagaimana pembentukan rasa sejati adalah sebagai berikut:

Eka Kamandhanu, artinya kandungan berumur satu bulan mulai bersatunya kama laki-laki dan perempuan. Dari detik ke detik, kama tersebut menggumpal dan merajut angan-angan untuk mencipta embrio. Kama tersebut menyatu padu dalam kandungan ibu menjadi benih unggul dan keadaan benih belum begitu kelihatan besar dalam perut ibunya. Saat itu biasanya wajah ibu berseri-seri karena itu sering dinamakan Eka Padmasari artinya sari-sari bunga sedang berkumpul dalam kandungan ibu, dalam keadaan penuh kegembiraan. Pada saat ini hubungan seksual masih diperbolehkan, bahkan dimungkinkan hubungan akan semakin hangat karena kedua pasangan tengah akan menikmati anugerah Tuhan yang sebelumnya telah dinanti-nantikan. Detik keberhasilan hubungan seksual ini akan menjadi spirit hidup sebuah pasangan.

Dwi Panunggal, umur kandungan dua bulan. Pada saati ini juga boleh melakukan hubungan seks. Dalam istilah jawa disebut nyepuh ibarat seorang empu sedang membuat keris, semakin banyak nyepuh artinya menambah kekuatan magis keris, keris akan semakin ampuh. Juga hubungan seks pada waktu hamil muda akan semakin hangat dan menarik kedua pasangan, biasanya seorang wanita pada tahap ini ingin jalan-jalan pagi, ingin plesir ke tempat yang sejuk, indah dan mempesona, karena itu disebut pula dwi amratani, artinya rata kemana-mana, bepergian kemana-mana sebagai ungkapan kesenangan dan juga sambil memikirkan nama yang mungkin akan diberikan kepada anaknya kelak.

Tri Lokamaya, artinya umur benih tiga bulan kandungan, dan benih masih berada dalam alam maya. Benih belum ada roh yang ditiupkan, karena itu suasananya gondar-gandir atau gawat. Jika hubungan seks tidak hati-hati kemungkinan besar benih tadi bisa gugur dan terjadi pendarahan. Maka ada baiknya mengurangi kuantitas hubungan seks, dan menghindari percekcokan atau sering marah-marah, karena secara psikologis akan mengakibatkan benih gugur karena merasa panas, ini artinya hubungan yang harmonis dalam keluarga amat menentukan kondisi benih yang dikandungan. Pada saat ini sikap selalu bersolek diri seseorang pasangan sangat menentukan. Karena itu candra benih tiga bulan sering dinamakan trikawula busana, artinya wanita sudah berpikir masalah pakaian seperti daster, pakaian bayi, dll, hal ini memungkinkan wajah wanita akan lebih berseri-seri bagai bulan purnama dan lebih cantik jelita.

Catur Anggajati, benih berumur empat bulan mulai terbentuk organ-organ tubuh secara lengkap. Benih unggul telah berbentuk manusia. Karena itu telah menghisap sari-sari makanan melalui sang ibu, umur seperti ini juga sudah ditiupkan roh sehingga benih telah hidup, sebagai tandanya sering bergerak. Karena itu hubungan seks yang berlebihan kurang baik pada saat ini, bahkan hubungan seks atas bawah akan berbahaya bagi benih dalam kandungan. Saat ini pula benih mulai merekam denyut hidup kedua pasangan. Karenanya kedua pasangan jangan berbuat hal-hal yang tidak baik atau terjadi penyelewengan akan berbahaya bagi benih bayi tersebut. Candra benih berumur empat bulan disebut catur wanara rukem, artinya tingkah laku ibu akan seperti kera yang sedang diatas pohon rukem, dia mulai nyidam buah-buahan yang asam dengan cara lotisan dan akan sangat aneh-aneh sehingga membutuhkan kesabaran bagi pasangan, kadang kurang wajar. Ia mendapat tambahan otak, karena itu sudah punya keinginan.

Panca Yitmayajati, artinya benih berumur lima bulan, dan benar-benar telah hidup, dan hubungan seks harus dilakukan lebih hati-hati, agar memperhatikan posisi sehingga tidak merugikan benih, dan pasangan harus telah tumbuh keberanian untuk menghadapi resiko lahirnya seorang bayi nanti. Karenanya candra benih berumur lima bulan sering dinamakan panca sura panggah, ada keteguhan dan keberanian menghadapi rintangan apapun ketika pasangan hamil lima bulan, tentu saja dari aspek materi jelas memerlukan persiapan berbagai hal. Mendapatkan tambahan otot mulai bergerak erlahan-lahan.

Sad Lokajati, benih berumur enam bulan semakin besar, karena itu kedua pasangan harus lebih berhati-hati. Karena itu candra benih dinamakan sad guna weweka, artinya mulai bersikap hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, jika diantara pasangan ada yang berbuat kasar, mencaci maki apalagi berbuat keji akan mengakibatkan benih yang dikandung tidak baik, bahkan suami dilarang membunuh binatang karena secara insting benih sudah dapat merekam keadaan sekelilingnya. Mendapatkan tambahan tulang karena itu ia bisa naik turun, jungkir balik.

Sapta Kawasajati, umur benih tujuh bulan telah lengkap semua organ dan cipta, rasa, serta karsa, karena itu apabila ada bayi yang lahir pada umur tujuh bulanpun dimungkinkan. Dalam tradisi jawa sering dilakukan ritual mitoni dengan maksud memohon agar bayi yang akan lahir diberi kelancaran, dan pada waktu ini hubungan seks dilarang sama sekali, kalaupun dilakukan harus diperhatikan secara ekstra hati-hati ( posisi diperhatikan ). Karena candra bayi tuuh bulan adalah sapta kulilawarsa artinya seperti burung yang terguyur air hujan, merasa letih. Lelah, dan sedikit pucat, kurang bergairah dan perlu pengertian dari pasangan. Dan ia memperoleh tambahan rupa, dan mendapat tambahan Kodrat dari Allah Ta’ala sperti rambut, darah dan daging.

Astha Sabdajati, benih berumur delapan bulan biasanya siap lahir, siap menuju dunia besar setelah bertapa dalam kandungan. Bayi hampir weruh padange hawa, ingin menghirup udara dunia yang sesungguhnya. Saat ini hanya timbul sikap pasrah untuk menghadapi perang sabil. Candra bayi adalah astha sacara-cara, artinya terjadi sikap berserah diri dengan cara apapun bayi akan lahir ibunya telah siap sedia bahkan siap berkorban jiwa raga. Manakala bayi umur delapan bulan belum mapan posisinya, tentu sang ibu akan gelisah. Untuk itu ada gugon tuhon juga agar ibu dilarang makan buah yang melintang posisinya, seperti kepel, agar posisi bayi tidak melintang yang akan menyulitkan kelahiran. Calon anak sudah dapat mengoperasikan saudara yang empat, sbb;

Pertama: kakawah ( air ketuban )

Kedua : bungkus

Ketiga: ari-ari

Keempat: darah

Kakawah artinya menjadi pengasih, bungkus menjadi kekuatan, darah menjadi waliyas mati, harus diketahui bahwa Kakawah itu adalah malaikat Jibril, bungkus adalah Mikail, ari-ari adalah Malaikat Israfil, dan darah adalah malaikat Izrail.

Jibril pada kulit, Mikail pada tulang, Israfil pada otot, Izrail pada dagingakhirnya selamatlah sentosa, semua itu tidak kelihatan karena Kodrat Allah.

Nawapurnajati, bayi telah mendekati detik-detik lahir, yaitu sembilan bulan, dan tentu yang tepat sembilan bulan sangat jarang. Pada saat itu memang keadaan bayi dan ibunya sangat lelah, karena itu candra suasana disebut nawa gralupa artinya keaaan sangat lemas, tak berdaya, seperti orang lapar dan dahaga. Apalagi setelah sembilan bulan sepuluh hari dengan candra khusus dasa yaksa mati, artinya seperti raksasa mati terbunuh ksatria-seorang ibu setelah melahirkan bayi. Oleh karena itu hubungan seksual sangat dilarang, paling tidak kurang lebih 40 hari seorang suami harus berpuasa.

Sembilan langkah tersebut diatas di harapkan pasangan suami istri dapat menjalankan sesirik ( prihatin ), ibarat sedang bertapa gaib. Segala tingkah laku akan menjadi cerminan hidup anak yang masih dalam kandungan. Itulah sebabnya sikap dan perilaku dijaga baik-baik dengan tujuan manembah dan karyenak tyasing sesama, maksudnya hubungan vertikal selalu harus terus menerus dan hubungan dengan sesama mahkluk agar jangan sampai berbuat diluar kewajaran. Ada empat yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan KodratNya ;

Pertama: Budi

Kedua: Rahsa

Ketiga: Angan-angan

Keempat: Hidup

23 Agustus 2012

Serat Kekiyasaning Pangracutan, karya Sultan Agung Hanyakrakusuma

oleh alifbraja

Serat Kekiyasaning Pangracutan adalah salah satu buah karya sastra Sultan Agung Raja Mataram (1613-1645) dan sumber penulisan Serat Wirid Hidayat Jati yang dikarang oleh R.Ng Ronggowarsito karena ada beberapa bab yang terdapat pada Serat Kekiyasaning Pangracutan terdapat pula pada Serat Wirid Hidayat Jati. Pada manuskrip huruf Jawa Serat Kekiyasaning Pangracutan tersebut telah ditulis kembali pada tahun shaka 1857 / 1935 masehi. Disyahkan oleh pujangga di Surakarta  R. Ng. Rongowarsito

SARASEHAN ILMU KESAMPURNAAN

Ini adalah keterangan Serat tentang Pangracutan yang telah disusun Baginda Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma Panatagama di Mataram atas perkenan Beliau membicarakan dan temu nalar dalam hal ilmu yang sangat rahasia, untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan dengan harapan dengan para ahli ilmu kasampurnaan.

Adapun mereka yang diundang dalam temu nalar itu oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma Panatagama adalah:

I. Panembahan Purbaya

II. Panembahan Juminah

III. Panembahan Ratu Pekik di Surabaya

IV. Panembahan Juru Kithing

V. Pangeran Kadilangu

VI. Pangeran Kudus

VII. Pangeran Tembayat

VIII. Pangeran Kajuran

IX. Pangeran Wangga

X. Kyai Pengulu Ahmad Kategan

***

A. Berbagai kejadian pada jenasah

Adapun yang menjadi pembicaraan, Beliau menanyakan apa yang telah terjadi setelah manusia itu meninggal dunia, ternyata mengalami bermacam-macam kejadian pada jenazahnya.

a. Ada yang langsung membusuk

b. Ada jenasah yang masih utuh

c. Ada yang hilang bentuk jenasahnya? tidak berbentuk lagi

d. Ada yang meleleh menjadi cair

e. Ada yang menjadi mustika (permata)

f. Istimewanya ada yang menjadi hantu

g. Bahkan ada pula yang menjelma menjadi hewan

Masih banyak pula kejadian lainnya, bagaimana itu bisa terjadi, apa penyebabnya. Ini disebabkan adanya kelainan atau salah kejadian (tidak wajar), makanya pada waktu hidup berbuat dosa, setelah menjadi mayat pun akan mengalami sesuatu, masuk kedalam alam penasaran. Karena pada saat proses sakaratul maut hatinya menjadi ragu, takut, kurang kuat tekadnya, tidak dapat memusatkan pikiran hanya pada satu jalan yaitu menghadapi maut, seperti yang akan diutarakan dibawah ini:

a) Pada waktu masih hidup, siapapun yang senang, tenggelam dalam kekayaan, kemewahan, tidak mengenal tapa brata, setelah mencapai akhir hayatnya, maka jenasahnya akan menjadi busuk dan kemudian menjadi tanah liat, sukmanya melayang gentayangan, diumpamakan bagai rama-rama tanpa mata. Sebaliknya bila pada saat hidupnya gemar menyucikan diri lahir batin, hal itu sudah termasuk lampah, maka kejadiannya tidak demikian.

b) Pada waktu masih hidup bagi mereka yang kuat puasa tetapi tidak mengenal batas waktunya, bila telah tiba saat kematiannya, maka mayatnya akan teronggok menjadi batu dan membuat tanah pekuburannya menjadi sangar, adapun rohnya akan menjadi Danyang Semorobumi. Walaupun begitu, bila pada masa hidupnya mempunyai sifat nerima, sabar, artinya makan, tidur, tidak bermewah-mewah, cukup seadanya dengan perasaan tulus lahir batin kemungkinanya tidak akan seperti diatas kejadian di akhir hidupnya.

c) Pada masa hidupnya seseorang yang menjalani lampah tidak tidur, tetapi tanpa batas waktu tertentu, pada umumnya disaat kematian kelak jenasahnya akan keluar dan menjadi berbagai hantu yang menakutkan. Adapun sukmanya menitis pada hewan. Walaupun begitu bila pada masa hidupnya disertai sifat rela dan ada batas waktunya, yang demikian itu pada waktu meninggal tidak akan keliru jalannya.

d) Siapapun yang melantur dalam mencegah syahwat atau hubungan seks, tanpa mengenal waktu, pada saat kematian kelak jenasahnya akan lenyap melayang, masuk kedalam alamnya jin setan dan roh halus lainnya, sukmanya sering menjelma dan menjadi semacam benalu atau menempel pada orang, seperti genderuwo dan sebagainya yang masih senang menggangu wanita, kalau berada dipohon yang besar, kalau pohon dipotong maka benalu tadi akan ikut mati. Walaupun begitu, bila pada masa masih hidup disertakan sifat jujur, tidak berbuat mesum, tidak berzinah, bermain seks dengan wanita yang bukan haknya, semua itu bila tidak dilanggar tidak akan begitu kejadiannya.

e) Pada waktu masih hidup selalu sabar dan tawakal, dapat menahan hawa nafsu, berani dalam lampah dan menjalani mati didalam hidupnya, misal mengharapkan agar jangan berbudi rendah, rona muka manis, tutur kata sopan, sabar dan sederhana, semuanya itu jangan sampai berlebihan dan haruslah tahu tempatnya situasi dan kondisi, yang demikian itu maka keadaan jenasahnya akan mendapat kemulyaan sempurna dalam keadaan yang hakiki, kembali menyatu dengan Dzat Pangeran Yang Maha Agung, yang dapat menghukum, dapat menciptakan apa saja, ada bila menghendaki, datang menurut kemauannya.

Apalagi disertakan sifat welas asih, akan abadilah menyatu Kawula Gusti.

B. Berbagai jenis Kematian.

a) Mati Kisas adalah suatu jenis kematian karena hukuman mati. Akibat dari perbuatan orang itu karena membunuh, kemudian dijatuhi hukuman karena keputusan pengadilan atas wewenang raja.

b) Mati Kias adalah jenis kematian yang diakibatkan oleh suatu perbuatan, misalnya menahan nafas atau mati karena melahirkan.

c) Mati Syahid adalah jenis kematian karena gugur dalam perang, dibajak, dirampok dan disamun.

d) Mati Salih adalah suatu jenis kematian karena kelaparan, bunuh diri, karena mendapat aib atau sangat bersedih.

e) Mati Tiwas adalah suatu jenis kematian karena tenggelam, tersambar petir, tertimpa pohon, jatuh karena memanjat pohon, dan sebagainya.

f) Mati Apes adalah suatu jenis kematian karena ambah-ambahan, epidemi, santet, tenung dari orang lain, yang demikian itu benar-benar tidak dapat sampai pada “Kematian yang Sempurna” atau keadaan Jati bahkan dekat sekali dengan alam penasaran.

Berkatalah Beliau: “Sebab-sebab kematian tadi yang mengakibatkan kejadiannya lalu apakah tidak ada perbedaannya antara yang berilmu dengan yang bodoh? Andaikan yang menerima akibat dari kematian seornag pakarnya ilmu mistik, mengapa tidak dapat mencabut seketika itu juga?”

Dijawab oleh yang menghadap: “Yang begitu itu mungkin disebabkan karena terkejut menghadapi hal-hal yang tiba-tiba. Maka tidak teringat lagi dengan ilmu yang diyakininya dalam batin yang dirasakan hanyalah penderitaan dan rasa sakit saja. Andaikan dia mengingat keyakinan ilmunya mungkin akan kacau didalam melaksanakannya tetapi kalau selalu ingat petunjuk-petunjuk dari gurunya maka kemungkinan besar dapat mencabut seketika itu juga”.

Setelah mendengar jawaban itu beliau merasa masih kurang puas menurut pendaat beliau bahwa sebelum seseorang terkena bencana apakah tidak ada suatu firasat dalam batin dan pikiran, kok tidak terasa kalau hanya begitu saja beliau kurang sependapat oleh karenanya Beliau mengharapkan untuk dimusyawarahkan sampai tuntas dan mendapatkan suatu pendapat yang lebih masuk akal.

Kyai Ahmad Katengan menghaturkan sembah: “Sabda paduka adalah benar, karena sebenarnya semua itu masih belum tentu , hanyalah Kangjeng Susuhunan Kalijogo sendiri yang dapat melaksanakan ngracut”.

Sebab-sebab inilah yang membuat dan mengakibatkan kejadian, seandainya dapat meracut seketika dalam keadaan terkejut atau tiba-tiba, teringat dengan apa yang diyakininya akan ilmunya maka akan dapat meracut seketika.

C. Wedaran Angracut Jasad.

Pangracutan Jasad yang dipergunakan oleh Susuhunan Kalijogo dan Syekh Siti Jenar adalah sama, karena hanya mereka yang dapat meracut seketika dan tiba-tiba, seperti dibawah ini ;

“Badaningsun jasmani wus suci, ingsun gawa marang kaanan (kahanan) jati tanpa jalaran pati, bisa mulya sampurna waluya urip salawase, ana ing ‘alam donya ingsun urip tumekane ‘alam kaanan (kahanan) jati ingsun urip, saka kodrat iradatingsun, dadi sakciptaningsun, ana sasedyaningsun, teka sakarsaningsun.”

“Badan jasmaniku telah suci, kubawa dalam keadaan nyata (hidup yang sesungguhnya), tidak diakibatkan kematian, dapat mulai sempurna hidup abadi selamanya, di dunia aku hidup, sampai dialam nyata (hidup yang sesungguhnya, akherat=Akhiring  Rat) aku juga hidup, dari kodrat iradatku, terjadi apa yang kuciptakan,  apa yang kuinginkan ada  dan datang apa yang kukehendaki”.

D. Wedaran Menghacurkan Jasad.

Adapun pesan beliau Kangjeng Susuhunan di Kalijogo sebagai berikut: “Siapapun yang menginginkan dapat menghancurkan tubuh seketika atau terjadinya mukjijat seperti para Nabi, mendatangkan keramat seperti para Wali, mendatangkan ma’unah seperti para Mukmin Khas, dengan cara menjalani tapa brata seperti pesan dari Kangjeng Susuhunan di Ampel Denta”.

a. Menahan hawa nafsu, selama seribu hari siang dan malam sekalian

b. Menahan Syahwat (Seks), selama seratus hari siang dan malam

c. Tidak berbicara, artinya membisu dalam empatpuluh hari siang dan malam

d. Puasa padam api (pati geni) tujuh hari tujuh malam

e. Jaga, lamanya tiga hari tiga malam

f. Mati raga, tidak bergerak-gerak lamanya sehari semalam

Adapun pembagian waktunya dalam lampah seribu hari seribu malam itu begini caranya:

a. Menahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari, lalu diteruskan dengan

b. Menahan syahwat selama 40 hari lalu dirangkap juga dengan

c. Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari. Adapun membisu bila sampai pada 33 hari dilanjutkan dengan,

d. Pati geni selama 7 hari tujuh malam, setelah mendapat 4 hari 4 malam dilanjutkan dengan

e. Jaga selama 3 hari tiga malam, bila sudah mendapatkan 2 hari 2 malam dilanutkan dengan

f. Pati raga sehari semalam.

Adapun caranya untuk Pati raga adalah Tangan bersidakep kaki membujur lurus dan menutup 9 lubang di tubuh, tidak bergerak-gerak, menahan berdehem, batuk, tidak meludah, tidak berak, tidak kencing selama sehari semalam. Yang bergerak hanya kedipan mata, tarikan nafas, anafas, tanafas, nufus, artinya tinggal keluar masuknya nafas yang tenang jangan sampai tersengal sengal campur baur.

Dengan ini dapat melimpahkan rasa syukur kepada anak cucu yang akan ditinggal dan bahwa pemberian ampunan tu hanya pada waktu saat-saat memasuki alam Sakaratulmaut tadi. Baginda Sultan Agung bertanya: “Apakah manfaatnya Pati Raga itu?”

Kyai Penghulu Ahmad Kategan menjawab: “Adapun perlunya pati raga itu, sebagai sarana melatih kenyataan, supaya dapat mengetahui pisah dan kumpulnya Kawula Gusti, bagi para pakar ilmu kebatinan pada jaman kuno dulu dinamakan dapat Meraga Sukma, artinya berbadan sukma, oleh karenanya dapat mendekatkan yang jauh, apa yang dicipta jadi, mengadakan apapun yang dikehendaki, mendatangkan sekehendaknya, semuanya itu dapat dijadikan suatu sarana pada awal akhir. Bila dipergunakan ketika masih hidup di dunia ada manfaatnya, begitu juga dipergunakan kelak bila telah sampai pada sakaratul maut.

Urutan dalam Kematian dan Apa yang harus Dilakukan

Walaupun hanya panuwunan, yang dilewati juga alam kematian, kalau sampai lengah juga berakhir mati atau mati benar-benar. Adapun tata caranya begini:

Sedakep dengan kaki lurus berdempet, menutup kesemua lubang, jari-jari kedua belah tangan saling bersilang, ibu jari bertemu keduanya, lalu ditumpangkan di dada. Dalam sikap tidur itu kedua belah kaki diluruskan, ibu jari kaki saling bertemu, kontol ditarik keatas dan zakarnya sekalian, jangan sampai terhimpit paha. Pandangan memandang lurus dari ujung hidung lurus ke dada hingga tampak lurus melalui pusar hingga memandang ujung jari. Setelah semuanya dapat terlihat lurus maka memulai menarik nafas tadi. Dari kiri tariklah kekanan dan dari arah kanan tariklah kekiri. Kumpulnya menjadi satu berada di pusar beberapa saat lamanya, maka tariklah keatas pelan-pelan jangan tergesa-gesa. Kumpulkan nafas, tanafas, anafas, nufus diciptakan menjadi perkara gaib. Lalu memejamkan mata dengan perlahan-lahan, mengatubkan bibir dengan rapat, gigi dengan gigi bertemu. Pada saat itulah mengheningkan cipta, menyerah dengan segenap perasaan yang telah menyatu, pasrah kepada Pangeran kita pribadi. Setelah itu, lalu memantrapkan adanya Dzat, seperti dibawah ini:

Anjumenengkan Dzat :

“Ingsun Dzating Gusti Kang Asifat Esa, anglimputi ing kawulaningsun, tunggal dadi sakahanan, sampurna saka ing kudratingsun”.

“Aku mengumpulkan Kawula Gusti yang bersifat Esa, meliputi dalam kawulaku, satu dalam satu keadaan dari kodrat-Ku”.

Mensucikan Dzat:

“Ingsun Dzat Kang Amaha Suci Kang Sifat Langgeng, kang amurba amisesa kang kawasa, kang sampurna nilmala waluya ing jatiningsun kalawan kudratingsun.”

“Aku sebenarnya Dzat Yang Maha Suci, bersifat kekal, menguasai segala sesuatu, sempurna tanpa cacat, kembali pada hakekat-Ku, karena kodrat-Ku.”

Mengatur Istana :

“Ingsun Dzat Kang Maha Luhur Kang Jumeneng Ratu Agung, kang amurba amisesa kang kawasa, andadekake ing karatoningsun kanga gung kang amaha mulya. Ingsun wengku sampurna sakapraboningsun, sangkep, saisen-isening karatoningsun, pepak sabalaningsun, kabeh ora ana kang kekurangan, byar gumelar dadi saciptaningsun kabeh saka ing kudratingsun.”

“Aku Dzat yang Maha Luhur, yang menjadi Raja Agung. Yang menguasai segala sesuatu, yang kuasa menjadikan istana-Ku, yang Agung Maha Mulia, Ku Kuasai dengan sempurna dari kebesaran-Ku, lengkap dengan segala isinya Keraton-Ku, lengkap dengan bala tentara-Ku, tidak ada kekurangan, terbentang jadilah semua ciptaanKu, ada segala yang Ku-inginkan, karena kodrat-Ku.”

Meracut Jisim :

“Jisimingsun kang kari ana ing alam dunya, yen wis ana jaman karamat kang amaha mulya, wulu kulit daging getih balung sungsum sapanunggalane kabeh, asale saka ing cahya muliha maring cahya, sampurna bali Ingsun maneh, saka ing kodratingsun.”

“Aku meracut jisim-Ku yang masih tertinggal di alam dunia, bila telah tiba di zaman keramatullah yang Maha Mulia, bulu, kulit, kuku, darah, daging, tulang, sungsum keseluruhannya, yang berasal dari cahaya, yang berasal dari bumi, api, angin, bayu kalau sudah kembali kepada anasir-Ku sendiri-sendiri, lalu aku racut menjadi satu dengan sempurna kembali kepada-Ku, karena kodrat-Ku.”

Menarik Anak :

“Aku menarik anak-Ku yang sudah pulang kerahmatullah, kaki, nini, ayah, ibu, anak dan isteri, semua darah-Ku yang memang salah tempatnya, semuanya Aku tarik menjadi satu dengan keadaan-Ku, mulia sempurna karena kodrat-Ku.”

Mengukut keadaan Dunia:

“Aku mengukut keadaan dunia, Aku jadikan satu dengan keadaanKu, karena kodrat-Ku.”

Mendo’akan Keturunan:

“Keturunanku yang masih tertinggal di alam dunia, semuanya semoga mendapatkan kebahagiaan, kaya dan terhormat, jangan sampai ada yang kekurangan, dari kodrat-Ku.”

Mengamalkan Aji Pengasihan:

“Aku mengamalkan Aji pengasih, kepada semua mahkluk-Ku, besar, kecil, tua, muda, laki-laki, perempuan, yang mendengar dan melihat semoga welas asih padaKu, karena kodrat-Ku.”

Menerapkan Daya Kesaktian:

“Aku menerapkan Daya Kesaktian, kepada semua mahkluk-Ku, barang siapa yang tidak mengindahkan Aku, akan terkena akibat dari kesaktian-Ku, karena kodrat-Ku.”

Setelah begitu, maras menutup di hati, menimbulkan rasa sesak nafas, oleh karenanya harus selalu ingat dan sentosa, jangan sampai kacau balau pernapasannya, tanafas, anpas, nuppus tadi, karena nafas itu ikatan jisim, berada di hati suweddha, artinya menjembatani fikiran yang suci, keadaanya jadilah angin yang keluar saja. Tannapas itu talinya hati siri, letaknya di pusar, keadaannya menjadi hawa yang berada dalam tubuh saja. Anpas itu adalah talinya Roh, berada di dalam jantung, keadaannya hanyalah menjadi angin di dalam saja. Nupus itu tali Rahsa, artinya berkaitan dengan Atma, berada di dalam hati pusat yang putih, berada di pembuluh jantung, keadaannya menjadi angin yang kekiri kekanan, dari ulah perbuatannya itu dapat meliputi segenap organ tubuh dan rokhani.

Bila sudah begitu roh larut lalu terasalah kram seluruh organ tubuh, mengakibatkan mata menjadi kabur, telinga menjadi lemas, hidungpun lemah lubang hidung menciut, lidah mengerut, akhirnya cahaya suram, suara hilang, yang tinggal hanyalah hidupnya fikir saja, karena sudah dikumpulkan urutan syare’at, hakekat, tarekat, dan makrifat.

  1. Syare’at itu lampahnya badan, berada di mulut
  2. Hakekat itu lampahnya nyawa, berada di telinga
  3. Tarekat itu lampahnya hari, berda di hidung
  4. Makrifat itu lampahnya rahsa, berada di mata

Adapun yang ditarik terlebih dahulu adalah penglihatannya mata, diumpamakan kaburnya kaca Wirangi, atau asalnya air Zam-zam Lalu rasanya mulut, diumpamakan rusaknya jembatan Siratalmustakim, atau Ka’batullah.

Lalu penciumannya hidung, yang diumpamakan gugurnya gunung Tursina atau robohnya gunung Ikrap Lalu pendengarannya telinga, diumpamakan hancurnya sajaratulmuntaha, atau melorotnya Hajaratu’l Aswad. Kemudian tinggallah merasakan nikmat pada seluruh bagian tubuh, melebihi kenikmatan ketika sedang bersenggama pada saat sedang mengeluarkan rahsa, pada saat itulah batinlah suatu tekad yang kuat, seperti diibaratkan huruf Alif yang berjabar (berfathah), diejer (kasroh ), da diepes ( berdlomah ) bunyinya menjadi: A. I. U

  1. A artinya : Aku
  2. I artinya : Ini
  3. U artinya : Hidup ( urip )

Setelah itu menciptakan kerinduan kepada Dzat, bagaikan merindukan kepada Dyah Ayu, supaya jangan sampai ingat kepada anak cucu yang ditinggalkan. Karena akan keliru ciptanya yang akhirnya mengakibatkan melesetnya dari tujuan yang sebenarnya. Semua itu tinggal menimbang pertimbangannya ciptanya pribadi, didalam tiga pangkat :

a. Yang pertama, bila benar-benar sentausa, akan mendapatkan anugerah dari Pangeran, dapat hidup diawal akhir, langgeng tidak mengalami perubahan.

b. Yang kedua, berhubung dicapai waluya sejati, padahal tidak mengalami menderita sakit, atau tidak mempuyai dosa, maka dapat melakukan berbadan sukma.

c. Yang ketiga, bila didalam ciptanya masih ada rasa ragu-ragu, bimbang, pada akhirnya hayatnya pasti akan menemukan tiwas ke tempat yang salah.

Perbedaan Waktu di Akhirat dan di alam Dunia.

Di dunia sehari, diakhirat sebualan, di dunia sebulan di akhirat satu tahun, sedangkan di Dunia satu tahun di Akhirat Sewindu, saksinya seperti orang waktu mimpi.

Alam setelah Kematian

a. Kepala, adalah keadaan Baitulmakmur.

b. Otak, keadaannya Kanto, menyebabkan adanya Cahaya, menjadi terbuka wajahnya.

c. Manik, keadaannya Pramana, menyebabkan adanya Warna, menjadi terbukanya penglihatan.

d. Budi, keadaannya Pranawa, menyebabkan adanya Karsa, menjadi terbukanya bicara.

e. Nafsu, keadaanya Hawa, menyebabkan adanya Suara, menjadi terbukanya pendengaran.

f. Sukma, keadaannya Nyawa, menyebabkan adanya Cipta, menjadi terbukanya penciuman.

g. Rahsa, keadaannya Atma, menyebabkan adanya Wisesa, menjadi terbukanya perasa.

Inilah yang menjadi 3 larangan perbuatan yang menyimpan 3 keadaan; (1) jangan mengumpat, jangan mengucapkan kata-kata cabul dan terhanyut pada pemikiran yang tidak baik. (2) Jangan menimbulkan Budi yang bukan-bukan. (3) Jangan melakukan perzinahan dengan bukan haknya atau akan menimbulkan gangguan dalam kehidupannya membuat gelap alam sampai akhir hayatnya.

Karena keadaan Akherat yang akan dilalui 7 perkara, maka jangan dianggap remeh :

“ Sesungguhnya Aku Dzat ysang Maha Pencipta dan Maha Kuasa, yang Berkuasa menciptakan segala sesuatu, terjadi dalam seketika, sempurna karena kodratKu, disitu sudah terbukti atas perbuatanKu, sebagai kenyataan kehendakKu, terlebih dahulu Ku- ciptakan Hayyu bernama Sajaratul Yakin yang tumbuh dalam alam Adam-makdum yang azali abadi. Setelah itu cahaya bernama Nur Muhammad, lalu kaca bernama Mir’atul haya’i, kemudian nyawa bernama roh idlafi, lalu lampu kandi, lalu permata bernama Darrah, akhirnya dinding-jalal bernama Hijab, itulah yang menjadi penutup keberadaanKu”.

Penjelasannya satu-persatu begini :

1. Sajaratul Yakin, yang tumbuh dalam alam Adam-makdum yang azali abadi, artinya pohon kehidupan yang berada dalam jagad yang sunyi senyap segalanya, dan belum ada sesuatu apapun. Merupakan hakekat Dzat mutlak yang kadim. Artinya; hakekat Dzat yang lebih dulu, yaitu Dzat Atma, yang menjadi wahana alam Ahadiyat.

2. Nur Muhammad, artinya cahaya yang terpuji. Diceritakan dalam hadits seperti burung Merak, berada dalam permata putih, berada pada arah sajaratul yakin, itulah hakekatnya cahaya, yang diakui sebagai tajalinya Dzat di dalam nukat gaib, sebagai sifatnya Atma, menyebabkan adanya alam Wahdat

3. Mir’atul haya’I, artinya kaca wirangi, tersebut dalam hadits berada di depan Nur Muhammad, itulah hakekatnya pramana, diakui sebagai rahsa Dzat, sebagai nama Atma, menyebabkan adanya alam Wahadiyat.

4. Roh Idlafi, artinya nyawa yang jernih, berasal dari Nur Muhammad, itulah hakekat Sukma yang diakui sebagai keadaan Dzat sebagai tabirnya Atma, menyebabkan adanya alam Arwah.

5. Kandil, artinya lampu tanpa api, berupa permata yang berkilauan tergantung tanpa pengait disitulah keadaan nur muhammaddan tempat berkumpulnya darah seluruhnya adalah hakekat angan-angan yang diakui sebagai bayangan Dzat, sebagai ikatannya Atma, menyebabkan adanya alam Mitsal.

6. Darah, artinya permata, mempunyai sinar lima warna, satu tempat dengan malaikat adalah hakekat Budi, diakui sebagai hiasannya Dzat, sebagai pintunya Atma, menyebabkan adanya alam Ajsam.

7. Kijab, disebut dinding jalal, artinya tabir yang agung, keluar dari permata yang lima warna pada waktu bergerak menimbulkan buih, asap, air, itulah hakekat Jasad, yang diakui sebagai Wahana Dzat, sebagai tempat Atma, menyebabkan adanya alam Insan Kamil. Inilah Jumenengnya Maghligainya Dzat, ditata dalam Baiutllah menjadi 3 keadaan yang disebut dengan; Wedaran Triloka, Wejangan Tribawana, Isinya 3 Dunia.

H. Wedaran Tribawana.

a) Ayat pertama, dinamakan terbukanya tata mahgligai Baitumakmur, sebagai berikut;  “Sebenarnya Aku mengatur singgasana didalam Baitulmakmur, disitulah tempat kesenangan-Ku, berada didalam kepala Adam, yang di dalam kepala itu yaitu dimak yaitu otak, yang berada dalam dimak itu manik, di dalam manik itu pramana, adalah pranawa, di dalam pranawa itu sukma, didalam sukma ada rahsa, didalam rahsa itu ada Aku, tidak ada Pangeran hanya Aku Dzat yang meliputi di semua keadaan”.

b) Ayat kedua, dinamakan terbukanya susunan singgasana dalam Baitulmuharram, sebagai berikut;  ” Sebenarnya Aku menata singgasana dalam Baitulmukharram, itulah tempat larangan-laranganKu, yang berada didada Adam. Yang berada di dada Adam itu hati, yang berada diantara hati itu jantung, di dalam jantung itu budi, didalam budi itu jinem, di dalam jinem itu sukma, di dalam sukma itu rahsa, dan di dalam rahsa itu Aku, tidak ada Tuhan kecuali Aku, Dzat yang meliputi keadaan”.

c) Ayat ketiga, dinamakan terbukanya susunan singgasana dalam Baitulmuqadas, sebagai berikut;  “Sebenarnya Aku menata singgasana dalam Bitulmuqadas, rumah tempat yang Aku sucikan, berada di dalam kontolnya Adam, yang berada dalam kontol itu pelir, yang berada dalam pelir itu mutfah yakni mani, yang berada dalam mutfah adalah madi, dalam madi itu manikem, dalam manikem itu rahsa, dalam rahsa itu Aku, tidak ada Tuhan kecuali Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan”.

I. Surga dan Neraka.

Surga atau sarwa arga, semua yang diperbuat selalu kebaikan semua orang memujinya, sampai akhir hidup selalu dibicarakan orang dan kematiannya akan disesali, disayangkan dan orang akan selalu membicarakan tentang kebaikan-kebaikannya.

Neraka adalah perwujudan dari watak seseorang yang berkelakuan jelek maka hidunya akan cacad di dunia bahkan sampai akhir hidupnya.

Maka dalam kitab Hidayatul hak kaik menyebutkan bahwa di zaman Kelanggengan suatu sarana agar dapat naik ke surga haruslah naik Buraq atau burung merak. Demikian tadi hanyalah merupakan perumpamaan saja. Buraq artinya orang dapat masuk hati orang lain, membuat hati orang lain senang itulah merak ati.

J. Tempatnya Iman, Tauhid dan Ma’rifat.

“Adapun letak Iman di dalam Eneng, letak Tauhid dalam Ening, letak ma’rifat dalam enget”

K. Arti Jalal, Jamal, Kahar dan Kamal.

Adalah sebutah Tuhan dalam 4 bab, yaitu :

1. Tuhan Yang Maha Suci itu bersfat Jalal, artinya Besar, yang besar itu Dzat-Nya, karena dapat meliputi seluruh alam.

2. Tuhan Yang Maha Suci itu bersifat jamal, artinya bagus, yang bagus itu sifatNya, bukan pria, bukan wanita, juga bukan banci. Tidak ada asal, tidak ada tempat, juga tidak hidup dan tidak mati, mustahil tidak ada pasti adanya-Nya.

3.  Tuhan Yang Maha Suci bersifat Kahar, artinya Maha Kuasa, itu namaNya, tidak menggunakan nama siapa-siapa hanya gaibnya Dzat Allah.

4.  Tuhan Yang Maha Suci itu bersifat Kamal, artinya Sempurna, yang sempurna itu af’alNya, dapat menggelar dan menciptakan seketika dari kuasanya tanpa mengalami kesulitan, maka diibaratkan Dzat Allah itu karena besarnya hingga meliputi yang menyaksikannya.

L. Pria dan Wanita Yang Sejati.

Yang bernama roh idlafi itu adalah roh Wanita tetapi berada pada Pria.

Wanita itu Rohnya adalah Roh Kudus yang sebenarnya adalah roh pria yang berada dalam wanita, yang disucikan dalam jinem, bertempat dalam junup, maka dapat membangkitkan keinginan sendiri-sendiri,

Karena rohnya wanita dipakai pria, sebaliknya rohnya pria dipakai wanita, karena rasa kangen akan menarik rohnya masing-masing, tetapi akhirnya timbullah persenggamaan yang dinamakan lambangsari yang akibatnya dapat mewujudkan suatu wujud. Maka dinamakan sanggama artinya hanya satu yang benar, atau saresmi artinya bercampurnya ari menjadi satu hingga masing-masing mendapatkan kepuasan. Karena dikabulkan oleh Tuhan akan menjadi Bapak/Ibu, maka bagi mereka yang dapat menandai terjadinya suatu sebelum sanggama, dapat pula mengetahui macam apakah anak yang akan terlahir nanti.

Misal, dalam 35 hari sepasang suami istri tadi yang mempunyai keinginan seks terlebih dahulu siapa, ada rasa kangen terlebih dahulu, bila menjelma biji maka akan terlahir laki- laki apabila sang suami yang terlebih dahulu. Tetapi keadaan ini harus berimbang dalam batin sama merasakan puas karena kalau tidak menyatu dalam rasa dan fikiran maka akan lain jadinya, adapun cacad, wujud lainnya.

Cacad karena ketidakseimbangan kemauan suami istri dalam senggama adalah sebagai berikut :

1) Bila merasa kecewa dalam hati, tidak senang dalam bersenggama, dikemudian hari akan timbul watak pada si anak;  sering kecewa, bahkan dapat pula mendatangkan selalu susah seumur hidupnya.

2) Bila punya perasaan tidak senang atau marah tetapi hanya di batin saja, akan terlahir anak yang pemarah, senang berkelahi, bahkan dalam hidupnya akan mengalami kerugian.

3) Bila dalam bersenggama ada salah satu yang kurang jujur maka begitu lahir apabila suami yang tidak jujur maka anak perempuan senang berbohong atau tidak jujur dan sebaliknya.

Adapun suami istri harus saling mengisi, menghormati, membutuhkan, istri tidak boleh memperlihatkan nafsunya dan suami memperhatikan gelagat istrinya, sekiranya sehari itu tidak terjadi apa-apa tidak pula ada perasaan susah dari keduanya, suatu tanda bahwa pada saat itulah Tuhan akan menurunkan Wiji Wijanging Sasami, artinya adalah manusia pilihan, Trimurti.

M. Mengenai Keadaan Kematian.

Keadaan kematian bagi mereka yang sering berbuat dosa atau kesalahan dengan yang diterima atau tanpa dosa dalam kematian. Membagi-bagi keadaannya dalam alam kematian;

Setiap orang pasti akan berbeda dalam menghadapi kematian, karena salah dalam fikirnya ketika mengalami sakaratul maut, hidup ini berbeda-beda ciptanya ada yang membantah dan menantang adanya kematian dengan mengandalkan ilmunya, adapula yang malah menyingkirkan ilmunya hanya menyerah kepada Tuhan. Orang yang bodoh dapat diterima juga ada karena hanya mengandalkan pada sifat lugu dan jujur saja, ada juga bodoh yang terjerumus, bahkan banyak juga orang bodoh malah memberi contoh karena enggang disebiut bodoh,  Maka dalam kematian ada sebutannya;

1. Dinamakan Kasunyataning pati, hanyalah menetapi sebutan saja, hidup pasti mengalami mati, artinya hanyalah nama tempatnya ‘ajal ulihan’ atau mati kembali.

2. Dinamakan Padhanging pati, artinya mengetahui tanda-tandanya dari Dzat Tuhan, maka dapat sampai pada kenyataannya, jadi dapat mengatur keadaannya.

3. Pepetenging pati, artinya hilang tanpa mengetahui berakhirnya hidup berarti tidak mengetahui keadaannya sendiri.

4. Pagaweaning pati, artinya hanya mati biasa, jadi tidak mengetahui dalam keadaan gerak dan keadaannya Kawula Gusti.

5. Rowanging pati, artinya kematian yang hanya menerima Kasih sayangNya, jadi hanya menerima nikmatnya Dzatullah saja.

6. Rasaning pati, adalah mereka yang sudah percaya dengan keterangan dari sang guru, tempatnya sudahlah pasti.

7. Purbaning pati, yang sudah diaku sebagai rahsanya Dzat, berada dalam hidayatullahu, tetap langgeng tidak ada perubahan di kemudian.

8. Pastining pati, artinya bagi mereka yang sudah memenuhi suratan dalam lokhil makful, jadi sudah sesuai garis patinya.

9. Jalaraning pati, artinya yang lugu karena kehendak Tuhan, jadi dapat menyatu dengan Dzatullah dialam akhirat.

10. Anganggo sihing pati, artinya yang dirasakannya hanyalah pada musnahnya badan, hanya Dzatullah yang mengadakankarena tidak berdosa.

11. Marganing pati, artinya yang sudah mengetahui jalannya, maka dapat langsung masuk ke dalam hidayatullah yang akan menemui kelanggengan di akhirat.

12. Pilungguhing pati, artinya menjalani petunjuk Allah, akan mencapai keselamatan di akhirat dan mencapai kesempurnaan.

13. Pinangihing pati, artinya bertawakal, berpasarah diri kepada Tuhan, dapat dekat dan masuk ke dalam hidayatullah karena yang begini tidak berharap, hanya mengutamakan jalannya takdir.

14. Enggoning pati, artinya menunjukkan perbuatan Dzat yang sempurna, sempurnanya sifat langgeng, hanya terdapat pada kebenaran ilmu, ini sempurna menjadi pesertanya nafi Jinis.

15. Sesandhaning pati, artinya adalah yang sudah melaksanakansemua petunjuk guru, menjalanka laku jujur dalam hidup, dan dalam kematian sudah tidak punya rasa takut, bahkan sudah dapat membedakan buruk dan baik, juga mengetahui awal dan akhir Sebanyak ini keadaan kematian diakibatkan terjadinya karena adanya dosa, dari cara kita memusatkan fikiran walaupun sudah diberi petunjuk, namun pada saatnya akan banyak gangguannya, yang sebenarnya hanyalah terletak pada Dzat saja.

Padahal yang dinamakan ilmu itu adalah pengetahuan, yang maksudnya ketahuilah dalam kehidupan hingga kematian. Awal penyebab kematian, karena kurang teliti dalam suatu perbuatan dan meneliti suatu kejadian. Datangnya susah disebabkan adanya kegembiraan, asalnya lupa karena tidak mengetahui tujuan hidupnya, padahal manusia sebenarnya dapat langgeng tanpa mengalami perubahan, hanya selamat tanpa menderita, hidup terus tanpa mati, dengan suatu bukti bahwa manusia itu dengan umat lainnya berbeda sendiri, maka dinamakan manusia, itu artinya insan (unusan) atau pilihan.

Saksinya kalau khalifah yang diakui sebagai Rahsanya Dzat Allah artinya hanya satu belaka. Tuhan itu dalam sifat hidupNya adalah manusia, suatu bukti kalau Manunggaling Kawula Gusti, yang dapat menguasai memerintah dan menghukum di dalam alam raya seluruhnya. Oleh karenanya menjadi suatu kenyataan bahwa Tuhan tidak dapat melihat, tetapi tidak buta, tetapi melihat dari mata kita, Tuhan tidak mendengar tetapi tidak tuli, karena mendengar lewat telinga kita. Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi tidak bodoh, segala yang diperbuatnya menggunakan af’al kita. Maka dapat menciptakan seluruh dunia seisinya dalam waktu seketika.

N. Manusia terdiri dari 4 anasir.

Dalam kitab Ma’lumatu’lhuhiyah dan kitab Hidayatul Khakaik menjelaskan bahwa manusia berasal dari 4 unsur :

1. Berasal dari sarinya Tanah, tetapi bukan tanah yang kita pijak ini.

2. Berasal ari Api, tetapi bukan api yang dipergunakan untuk membakar.

3. Berasal dari Angin, tetapi bukan angin yang mendesau itu.

4. Berasal dari Air, tetapi bukan air yang meluap mengalir.

Semua ini merupakan lambang saja, maka setelah mempunyai perwujudan, lalu mempunyai tujuh perkara :

1. Hayyu, artinya hidup.

2. Masuklah Nur, artinya Cahaya.

3. Kemasukan sir artinya Cipta.

4. Kemasukan pula roh, artinya Nyawa.

5. Kemasukan nafsu, artinya Angkara Murka

6. Kemasukan akal, artinya Budhi.

7. Kemasukan kehendak, artinya Angen-angen.

Itulah wujud yang Dzat Yang Maha Agung, sebenarnya nafi yang baik, maka diibaratkan bahwa nafi walaupun dekat tetapi tidak bersinggungan, jauh tak terduga jauhnya, dan nafi itu pasti ada tidak mungkin tidak ada. Adanya hanya karena terlihat saja. Jadi kumpulnya Kawula Gusti merupakan dua jadi satu dan satu satu belaka.

O. Berbagai macam Wahyu.

Pancaran tiga warna pertanda wahyu, biasanya pada pukul 3 dini hari :

1. Wahyu Nurbuwah, artinya wahyunya Kraton Bintoro, dapat menjadi Raja Paranpara (utama) yang mempunyai jiwa terbuka dan wujudnya wahyu, cahaya kemilau bagaikan permata indah.

2. Wahyu Kukumah, warnanya bagaikan berlian yang telah digosok, sebuah pertanda telah terbukanya tirai Tuhan dan diperbolehkan menjadi Ratu Adil yang menguasai jawa dan dibenarkan untuk menguasai ilmu untuk kearah kebaikan.

3. Wahyu Wilayah, warnanya bagaikan jamrud, bercampur berlian biru yang sangat indah warnanya, sebagai tanda kalau sudah diteima sebagai Waiullah.

23 Agustus 2012

Filsafat Islam dan Tassawuf

oleh alifbraja

Pembahasan tentang filsafat adalah pembahasan yang identik dengan polemik, debat dan kritik. Banyak kalangan yang menuduh kajian filsafat sebagai sesuatu yang tiada guna. Belajar filsafat pun sering diibaratkan seperti mencari kucing hitam di dalam ruangan yang gelap, bahkan tidak sedikit yang menyebut kajian filsafat dalam Islam identik dengan kekufuran.

Memang kajian filsafat dalam Islam tidak lepas dari polemik, terutama jika pembahasannya terkait dengan masalah Ketuhanan, kenabian dan alam akhirat. Imam al-Ghazali misalnya, telah menulis sebuah buku yang berjudul Tahafut al Falasifah dan al Munqidh min al Dalal yang isinya adalah kritik terhadap pemikiran beberapa filosuf muslim atas beberapa masalah yang dianggap telah menyesatkan umat Islam.

Tuduhan negatif yang diarahkan kepada filsafat juga dirasakan oleh Muhammad ‘Abduh, di mana ketika hendak melanjutkan studinya di Universitas al-Azhar Kairo pada jurusan filsafat, ia mendapat teguran dari orang tuanya dan menasehatinya agar mengurungkan niatnya belajar filsafat. Padahal, sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hayyan al-Tawhidi, berfilsafat adalah salah satu bentuk dari pemanfa’atan nikmat Allah yang berupa akal sesuai dengan fungsinya, di mana akal oleh al-Tawhidi diibaratkan sebagai cahaya bagi kehidupan manusia, sehingga dengan menggunakan akal untuk berpikir, manusia menjadi lebih mulia dari binatang.

Ahmad Amin dalam Mabadi’ al Falsafah mengatakan bahwa semua manusia di dunia ini tanpa terkecuali sedang berfilsafat. Alasannya, semua manusia di dunia ini pasti berpikir, dari mulai yang sederhana hingga pada masalah yang mendalam, karena berpikir adalah bagian dari kehidupan manusia. Berpikir adalah arti sederhana dari berfilsafat, sehingga seseorang yang menolak filsafat dengan berbagai macam argumentasinya, sesungguhnya tanpa disadari ia sendiri telah berfilsafat.

Memang filsafat dalam Islam lahir dari spekulasi filosofis tentang warisan filsafat Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada sekitar abad ke-3 H atau abad ke-9 M ketika puncuk kekuasaan khilafah dalam Islam dipegang oleh al-Ma’mun. Akan tetapi terdapat perbedaan di antara keduanya, di mana filsafat Islam menjadikan al-Qur’an dan hadith atau wahyu sebagai sumber sentral bagi spekulasi filosofisnya, sementara filsafat Yunani menjadikan akal sebagai sumber tunggal bagi spekulasi filosofisnya. Maka inti daripada kajian filsafat dalam Islam sebenarnya adalah mengantarkan umat Islam untuk memahami keberadaan Tuhan, sehingga bisa menjadi semakin dekat dengan Allah bukan sebaliknya. Maka dalam filsafat Islam ditemukan sebuah kajian yang bertujuan untuk mengajak manusia agar selalu dekat dengan Allah. Kajian itu biasa disebut dengan tasawuf.

Oleh karena itu kajian tentang hubungan antara filsafat Islam dengan tasawuf sungguh sangat menarik untuk dilakukan, sehingga tuduhan negatif yang diarahkan kepada filsafat Islam dapat segera dilurushkan. Tulisan ini mencoba untuk mengupas pembahasan tersebut sehingga dapat ditemukan pemahaman minimal yang dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk kajian lanjutan.

Hubungan antara Filsafat dan Tasawuf
‘Abd al-Halim Mahmud, dalam al Tafkir al Falsafi fi al Islam, memunculkan sebuah pertanyaan, apakah terdapat korelasi antara filsafat dan tasawuf? Jika ada, bagaimana bentuk korelasinya?

Dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa kata filsafat (al falsafah) berasal dari bahasa Yunani yang sudah mengalami Arabisasi, yaitu berasal dari kata philo yang berarti mencintai dan Sophia yang berarti kebijaksanaan. Lalu apa yang disebut dengan kebijaksanaan? ‘Abd al-Halim Mahmud dengan merujuk pada pemikiran Ibn Sina mengatakan bahwa kebijaksanaan (hikmah) adalah penyempurnaan jiwa manusia dengan cara menganalisa segala perkara yang dihadapinya dan meyakini segala bentuk kebenaran teoritik maupun praktis sesuai dengan kemampuan dirinya sebagai manusia, sehingga dapat memahami dengan baik bagaimana hidup bermasyarakat, berkeluarga, mana yang baik dan mana yang buruk. Semua itu, menurut ‘Abd al-Halim Mahmud dapat dilakukan oleh manusia jika ia mengetahui keberadaan Allah (al ma’rifah bi Allah), karena dengan mengetahui keberadaan Allah, manusia akan menjauhi perbuatan yang buruk untuk melakukan perbuatan yang baik.

Maka inti daripada filsafat Islam adalah mengungkap kebaradaan Allah. Artinya, filsafat adalah sarana untuk mencapai pengenalan diri dengan Allah.
Sementara tasawuf atau sufisme dapat dideskripsikan sebagai interiosasi dan intensifikasi dari keyakinan dan praktik Islam. Memang belum ditemukan kata sepakat di antara peneliti tentang arti sebenarnya dari sufisme, baik pada tataran etimologis maupun terminologis. Tidak adanya kesepakatan definisi dari tasawuf itu dapat dilihat dari beberapa istilah yang beragam, terkadang disebut sebagai mistisisme Islam, terkadang pula disebut sebagai esoterisisme Islam. Pada tataran etimologis sering ditemukan pendapat yang menyebut tasawuf berasal dari kata sawf yang berarti wol, artinya seorang sufi adalah seseorang yang berbusana wol.

Pada abad ke-8 kata tersebut digunakan untuk menyebut orang muslim yang karena kecenderungan asketisnya menggunakan pakaian wol yang kasar dan tidak nyaman. Tetapi secara bertahap istilah ini digunakan untuk menunjuk sekelompok orang muslim yang membedakan dirinya dari yang lain dengan cara menekankan ajaran-ajaran dan praktik-praktik khusus dari al-Qur’an dan sunnah.

Tidak ditemukannya kata sepakat terhadap definisi tasawuf, menyulitkan kita untuk membedakan mana yang sufi dan mana yang bukan. Menjadi sufi tentu saja tidak berkaitan dengan pemisahan diri dari Sunni atau Shi’ah ataupun dengan madzhab-madzhab fiqh dalam Islam.

Secara umum, istilah tasawuf sering digunakan untuk menyebut sekelompok muslim yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh seruan Allah untuk menyadari kehadiranNya, baik di dunia maupun di akhirat, di mana mereka lebih menekankan hal-hal batiniah di atas lahiriah, kontemplasi di atas tindakan, perkembangan spiritual di atas aturan hukum dan pembinaan jiwa di atas interaksi sosial. Pada tingkat teologi misalnya tasawuf berbicara perihal ampunan, keagungan dan keindahan Tuhan.

Intinya adalah mendekatkan diri kepada Allah sehingga dapat selalu merasakan bahwa Allah selalu hadir bersama manusia. Keyakinan ini biasa digambarkan dalam konsep yang biasa disebut dengan istilah ihsan. Untuk menumbuhkan konsep ihsan pada diri setiap muslim, Nabi mengajarkannya melalui hadithnya an ta’bud Allah ka annaka tarahu fa in lam takun tarahu fa innahu yaraka (beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihatNya, jika tidak mampu, dengan menumbuhkan keyakinan bahwa Allah Melihat kita). Konsep ini dimunculkan berdasarkan pada kayakinan bahwa sebab manusia melakukan keburukan adalah karena kurang memiliki keyakinan bahwa Allah selalu melihatnya.

Pentingnya ajaran tasawuf dalam Islam tidak lepas dari adanya dua unsur yang saling melengkapi, yaitu unsur lahir dan unsur batin. Unsur lahir diwakili oleh shari’ah, sementara unsur batin diwakili oleh haqiqah. Shari’ah merupakan pintu masuk menuju haqiqah, dan haqiqah merupakan tujuan yang dari pelaksanaan shari’ah.

Perbedaan antara shari’ah dan haqiqah dapat diibaratkan seperti kulit dan isi atau lingkaran dan titik tengahnya. Rene Guenon, seorang tokoh ternama dalam mistisisme Kristen yang kemudian masuk Islam melalui pendekatan sufisme mengatakan bahwa antara shari’ah dan haqiqah tidak dapat dipisahkan. Demikian pula dengan Abu ‘Ali al-Daqqaq juga mengatakan bahwa antara shari’ah dan haqiqah tidak dapat dipisahkan dalam Islam. Ia menggambarkan bahwa ayat iyyaka na’bud sebagai ayat yang berkonotasi shari’ah, sementara iyyaka nasta’in sebagai ayat yang berkonotasi haqiqah.

Memang banyak kalangan, terutama orientalis, mengatakan bahwa ajaran tasawuf bersumber dari agama Hindu atau Budha. Adapula yang menyebut bahwa tasawuf bersumber dari ajaran Kristen. Memang tuduhan itu sangat berasalan, karena antara ajaran tasawuf dalam Islam dan mistisisme dalam Kristen, Hindu dan Budha terdapat kesamaan, seperti konsep wahdat al wujud, yang dalam ajaran Hindu atau Budha disebut dengan Vedanta. Selain itu banyak tokoh sufi dalam Islam yang berasal dari non-Arab, seperti Ibrahim bin Adham, Shaqiq al-Balkhi, Abu Yazid al-Bustami, Yahya bin Mu’adh dan lain sebagainya. Di samping itu ajaran tasawuf tumbuh dan berkembang di Khurasan, sebuah kawasan di Persia yang erat sekali dengan budaya Hindu dan Budha.

Kesimpulan

Jika dilihat tujuan dari kajian filsafat dalam Islam dan tasawuf dapat ditarik kesimpulan bahwa keduanya sama-sama berupaya untuk mengantarkan manusia memahami keberadaan Allah, sehingga mau melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Upaya untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan itulah yang dapat mengantarkan manusia kepada kesempurnaan jiwa.

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa korelasi antara filsafat dalam Islam dan tasawuf adalah sebagai berikut; filsafat lebih bersifat teoritik, sementara tasawuf lebih bersifat praktis. Artinya, antara filsafat Islam dan tasawuf sama-sama berupaya untuk mengantarkan manusia agar memahami keberadaan Allah, di mana filsafat sebagai sarana teoritis yang dapat mengantarkan manusia kepada keyakinan praktis. Keyakinan praktis inilah yang menjadi wilayah tasawuf. Jadi tujuan belajar filsafat Islam adalah untuk mencapai wilayah tasawuf.

23 Agustus 2012

Serat Wulang, karya Paku Buwana II

oleh alifbraja

/1/ poma sira ngawruhana, éling-éling manungsaning Hyang Widhi, kang samya kang ngudi tuwuh, sedaya nora béda, tuwuh iku apan kathah liripun, ana cukul ing sesawah, ana cukul ing mas picis.

bersungguh-aungguhlah untuk kau ketahui, sadarlah bahwa manusia milik Tuhan, juga semua yang tumbuh berkembang, semua tidak berbeda, sesuatu yang tumbuh berkembang itu banyak bentuknya, ada yang tumbuh di persawahan, ada yang berkembang dari uang emas.

/2/ ana cukul ing derajat, atenapi cukul ingkang kasektin, myang cukul ing bongsa luhur, ingkang satunggal-tunggal, awiwita nora sangking nalar busuk, undhaking ing saban – saban, amarga sangking berbudi.

ada yang tumbuh dalam kepangkatan, tidak terkecuali tumbuh dalam hal kesaktian, serta tumbuh sebagai golongan orang luhur, yang satu lagi, mulailah dengan tidak membiarkan kebodohan, perkembangan yang setiap waktu (terjadi), karena dari sifat murah hati.

/3/ kathah lelepéyan ira, utamané wuruking mata kuping, rahina wengi kadulu, datan sah kapiyarsa, gunging urip sedaya pan amrih ontung, untungé wong anéng donya, malah ta ginawa mati.

banyak kelalaianmu, terutama pelajaran bagi mata dan telinga, siang malam yang dilihat, adalah yang tidak sah, seluruh manusia semua menginginkan untung, keberuntungan orang di dunia, bahkan dibawa mati.

/4/ néng donya tanpa cilaka, néng ngakérat lestari kadya nguni, apa sapratingkahipun, sayekti nora béda, malah-malah yén ing gesang during migruh, wewalesing nalar mulya,ngakérat pesthi (17)pinanggih.

di dunia tanpa celaka, di akherat lestari seperti dulu, apa pun yang dilakukan, benar-benar tidak berbeda, bahkan apabila ketika masih hidup belum meninggalkan kewajiban, balasannya kemulyaan pikiran, pasti bertemu di akhirat.

/5/ myang saturun-turun tedhak, anglabeti sangking penggawé becik, yén cubluk ing uripipun, amesthi tur cilaka, néng ngakérat melarat kebacut-bacut, cures ponang turun tedhak, ajember awor lan najis.

dan seluruh keturunannya, mendapat kebahagiaan juga karena perbuatan baik tersebut, apabila bodoh dalam kehidupannya, pasti celaka, di akherat sengsara terlunta-lunta, para keturunannya benar-benar habis (sangat menderita), sangat kotor bercampur dengan najis.

/6/ ndah ojat saisining rat, sastra kidung perlambang miwah mingsil, aja pepéka ing ratu,rumegsa ing nalar mulya, endi lire ingkang anjodheri laku, kang ngasoraken cilaka, ambubrah ing nalar becik.

menjadi pembicaraan seisi dunia, pengetahuan dari kidung perlambang serta nasihat, jangan sembrono terhadap raja, jagalah dengan akal mulia, manakah sesungguhnya yang menganggu perjalanan, yang mengalahkan celaka, yang menghancurkan akal baik.

/7/ tuwa anom éstri lanang, gedhé cilik sudagar miwah tani, nadyan ingkang bongsa luhur, yén ngambah bebotoha, ngadu-adu rérékan apus ing apus, kurang gawéné wong gesang, dadi karem ing bilahi.

tua- muda, pria-wanita, besar-kecil, pedagang serta petani, walupun dari golongan orang luhur, namun bila terlibat perjudian, dalam aduan tipu muslihat, bagi orang hidup itu kurang kerjaan, menjadi tenggelam dalam kesengsaran.

/8/ wus pesthi ing alam donya, sajeg urip tuman dadi gegingsir, yén wus tuman anelutuh, mungguh wong lara awak, nora kena tinambanan saya ngrutuh, goroh cilakané muyab, lumuh seka lir ing kardi.

sudah pasti di dunia, selama hidup ketagihan tidak berubah, apabila sudah ketagihan maka keterusan, ibarat orang yang sedang sakit, tidak dapat diobati justru semakin menjadi-jadi,  bohong celakanya kemudian,  enggan terhadap semua pekerjaan.

/9/ lumuh saka liring sukma, lawan lumuh penggawé sangking gusti, lumuh mikir somah sunu, lumuh tani nyudagar, lumuh lumrah tata kramaning wong ngurus, tan kena angambah praja, néng désa dadi waweri.

enggan terhadap Tuhan, serta enggan terhadap pekerjaan dari atasan (pimpinan), enggan memikirkan anak istri, enggan bertani dan berdagang, enggan melaksanakan tatakrama yang lumrah terhadap orang-orang berperilaku baik, (orang tersebut) tidak boleh menapakkan kaki di kerajaan, di desa menjadi perusuh.

/10/ kena wilalat ing jagat, wus pinesthi tan kena awor jalmi, ngakena mari tan tuhu, manungsa papesotan (18), léwér sembér anduwéni wirang wedhus, kekéwan kena dén ajar, botoh nora kena mari.

terkena pengaruh negative dunia, sudah pasti tidak boleh berbaur dengan manusia, mengaku sudah berhenti namun sebenarnya tidak, manusia atau setan yang sangat kacau, kambing pun memiliki perasaan malu, hewan dapat diajari, penjudi tidak dapat berhenti.

/11/ marine sangking panggobal, mlocot cancut sinarang ing sasami, jajedhegé ngapus-apus, wus kepatén pasaban, dheradhasan kapipit adiling ratu, yén agarab harta suwang, sekala akumat malih.

berhenti dari pekerjaan itu, ibarat kulit tersayat segera dijauhi teman-temannya, berbohong tidak bisa apa-apa lagi, tidak memiliki tempat berinteraksi, dan lagi telah tersudut oleh pengadilan raja, bila mendapat uang, langsung kambuh kembali.

/12/ tobating batoh keparat, ngaku mari yén durung pendhak warsi, sayekti aja ginunggung, lawan ananing jagat, kuna mula yén bebatoh luput-luput, kang nyina ing solah nétya, kaliwat tal amor jalmi.

tobatnya penjudi busuk, mengaku telah berhenti jika belum satu tahun, sungguh jangan dihitung, dengan keberadaan dunia, pada zaman dahulu jika berjudi bisa-bisa terhina, dengan raut muka, sangat dijauhi manusia.

/13/ malih margining cilaka, yén wong urip/é/ nyenyekrok amadati, gegulang mangan naptyan, iku bubrah kang tata, raga rusak bencirih ing karya ngepluk, bolnya kinarya kasukan, umur ira mendap-mendip.

lagi penyebab celaka, yaitu apabila seseorang hidupnya untuk menghisap candu, senang memakan candu yang belum dimasak,  itu merusak aturan,  badan rusak mudah terkena penyakit, malas bekerja,  hanya dibuat bersenang-senang,  umurmu tinggal sebentar lagi.

/14/ yén koncat taklir wong payah, petagiyan conto sebarang kardi, riyak umbel dadi mungsuh, Allahnya derodosan, prembah-prembéh ngising papedhotan usus, dalinding awor lane rah, yékti aji tai anjing.

jika kehilangan nyawa seperti orang yang menderita, pengambilan kembali segala pekerjaan, dahak, ingus menjadi musuh, Allah mengejar dosa-dosanya, buang air besar kesakitan hampir menangis, ususnya terputus, tanda-tandanya bercampur darah, sungguh masih berharga kotoran anjing.

/15/ kari animpal kéwala, nora kenan dén ukumi wong urip, yén wus nyerat masang angkuh, kaya wong dhéwé lanang, pengrasané sapa sira sapa ingsun, aku wong guna istiyar, wruh rasané luwih-luwih.

tinggal membuang saja, tidak bisa dihukum oleh manusia, apabila telah menghisap candu kemudian berbuat angkuh, seperti laki-laki sendiri, yang dipirkan adalah siapa diri mu siapa diriku, saya adalah orang yang telah mengusahakan berbagai macam kebisaan, tahu rasanya hal-hal yang istimewa.

/16/ umuk ngupaya wang gangsar, sugih sanak lan wong saba bengi, (19) pengrasa tan ana ratu, Hyang Allah Rasulolah, mung dhéwéké kang jumeneng bérak basu, iku sarta lir wong édan, tangané pating guriming.

memperlihatkan kemudahan dalam berusaha mencari uang, banyak saudara dan orang yang senang keluar malam, perasaannya merasa bahwa tidak ada raja, Allah dan Rasulullah, hanya dirinyalah yang berdiri sebagai kotoran anjing, itu seperti orang gila, tangannya ke sana ke mari.

/17/ dhidhis sarya salusuran, bliyar bliyur napasé menggrak-menggrik, jelajor jégang atimpuh, yén sampun mendem niba, dén grijaga déning gajah wolung puluh, éca kepati anéndra, wus lali lamun wong urip.

duduk santai tidak beraturan, lemah nafasnya tersengal-sengal, lemah nafasnya tersengal-sengal, duduk selonjor mengangkat kaki bertimpuh, bila telah mabuk langsung jatuh, merasa dijaga gajah sebanyak delapan puluh ekor, tidur enak seperti orang mati, sudah lupa bahwa sedang menjadi di manusia.

/18/ iku penggawé cilaka, iku nistha kekompra gembring baring, nora kalap kayanipun, mung mendem patagiyan, sajeg jumleg nora kedunungan patut, datan angsal pangawula, nora tepung ing sasami.

itu perbuatan yang mencelakakan, itu hal yang nista, ceroboh, setengah gila, tidak ada gunanya, hanya mabuk ketagihan, selamanya tidak memiliki kepatutan, tidak mendapat pengabdian, tidak kenal sesama.

/19/ sinarang déning kaka/n/dang, sagunging wong samya ngipat-ipati, ajember ngethuh tur kepluk, jero ing ngadhem panas, jrih ing karya wedi alelungan nglurug, kantar ngaus sampun lepas, katanggor awrat kapesing.

disingkiri sanak saudara, semua orang menyumpah serapahi, kotor, ceroboh, lagi pula malas, merasa dalam suasana panas dingin, takut terhadap pekerjaan, takut penempuh perjalanan jauh, perasaannya telah mumpuni, namun demikian mendapat kendala buang air besar.

/20/ yén tuwuk panyekrok ira, pangisingé saejam wurung uwis, mokrang dangu prengat-prengut, nadyan ginebugan, tinabokan binada sayekti tutut, nglakoni pretahing bérak,  dhedhel mengkelang (20) tan mijil.

bila telah makan kenyang, buang air besarnya satu jam belum selesai, berjongkok lama dengan muka masam, walaupun dipukuli, ditempeleng, diikat sungguh tetap menurut, saat ingin buang air besar, sembelit, keras, tidak keluar.

/21/ andadra angombra-ombra, apanas kéh ingkang samya kemelip, lawan kéwan- /kéwan/ sanésipun, manungsa pan sinungan, nampik milih istiyar saurung kuntung, aja kongsi kaya kéwan, wruhnya sawusé pinanggih.

semakin menjadi-jadi, di antara sejumlah makhluk hidup, dan hewan-hewan lainnya, manusia diberi hak, untuk menolak, memilih, berusaha sebelum datang keberuntungan, jangan sampai seperti hewan, yang baru tahu setelah mengalami.

/22/ yén tan énget sakan paran, nora kétung gesang wekasan pati, datan welas mring nak putu, satemah sia-sia, yékti nora ngemungaken raganipun, datan kena sinelakan, tedhak turun anglabeti.

apabila tidak menyadari asal mula dan tujuan hidup, tidak memperhitungkan bahwa hidup berakhir dengan kematian, tidak kasihan terhadap anak cucu, yang mengalami penderitaan, sungguh tidak hanya badan pribadi (yang menderita), yang tidak dapat dielakkan, keturunannya pun ikut terpengaruh.

/23/ angluwihi sia-sia, nganiaya marang kang kari-kari, sadéné mring jasatipun, rusak tanpa karana, awiwitan marga sangking nalar busuk, memadati lawan bangsat, katula katali-tali.

lebih dari menderita, menganiaya pada keturunannya yang kemudian, alasan jasatnya, rusak tanpa sebab, bermula karena nalar yang bodoh, menghisap candu bersama (teman) bangsat, (akhirnya) sengsara terlunta-lunta.

/24/ nelutuh jembering jagat, donya kerat anéng sasoring jenis, krerana manungsa iku, sinilih ing datolah, misah ngumpul kalawan sipat rong puluh, yén salah luwih cilaka, yén mulya luwih kakasih.

jorok, mengotori dunia, di dunia akherat berada di bawah sesama, sebenarnya manusia itu, dipinjami oleh Dzatullah, yang terpisah dan sekaligus menyatu dengan keduapuluh sifat, jika melakukan kesalahan akibatnya lebih celaka, bila mulia akan lebih disayangi.

/25/ pitung bumi pitung jagat, kamulyané kang gadhuh wong angsal sih, bédha lan sanésipun, kéwan myang (21) cecukulan, nora duwé siksa myang ganjaranipun, wus narima ing satitah, tur tan pinilihing widi.

tujuh bumi tujuh dunia, kemuliaan orang yang (menyadari telah) meminjam mendapat kasih sayang, berbeda dengan makhluk lainnya, hewan dan tumbuhan, tidak memiliki siksa dan pahala, hanya menerima apa adanya, lagipula tidak dipilih Tuhan.

/26/ sanadyan para malékat, widadari tan luwih sangking jalmi, lamun pinintanan agung,sapakoning Hyang Suksma, dalil Kuran kang kasebut kun pa ya kun, sarupané kadadéyan, kang gumelar bumi langit.

walaupun para malaikat, atau bidadari tidak lebih dari manusia, tetapi tempat bagi permintaan Tuhan, perintah Tuhan, dalam ayat Quran ada disebutkan dengan qun fayakun, segala kejadian, yang terhampar di bumi dan langit.

/27/ tan luwih sangking manungsa, sihing suksma réh sinung nampik milih, nata prenataning tuwuh, ajaga jejeging rat, namung ngejem mempre mirip karkatipu, punika lamun jin Islam, nanging tan padha lan jalmi.

tidak ada yang melebihi manusia, karena mendapat kasih sayang Tuhan (manusia) diberi hak menolak, memilih, raja mengatur kehidupan, menjaga dunia supaya berdiri tegak, hanya mempunyai niat menyerupai, itu tempat bagi jin Islam, tetapi tidak sama dengan manusia.

/28/ mila lamun ana tindak, ngrusak urus dadya suckering bumi, sangar sinangar ing tuwuh, kena ing penagiyan, tan rumongsa kinarsan ingkang panebut, sinilih dating pangéran, dilalah milih bilahi.

asal ada tempat melangkah, merusak aturan, menjadi kotoran bumi, menyebabkan celaka, maka disingkiri makhluk hidup, mendapatkan balasan, tidak merasa bahwa, meminjam kepada Tuhan, kebetulan memilih celaka.

/29/ nadyan ta samya manungsa, mongka wonten pinilih dadya ngarsi, niyaka nira reh rahayu, among saliring titah, pangkat-pangkat tinundha kang undha usuk, nabi wali myang ulama, ratu satriya bupati.

meskipun semua manusia, tetapi ada yang dipilih menjadi resi, penuntun mencapai keselamatan, memikirkan takdir diri sendiri, urut-urutan golongan yang berbeda-beda, nabi, wali, dan ulama, ratu, satria, bupati.

/30/ padhané sayekti padha, namung kari jujuluk ulul amri, ing rubyat sampun kasebut, pethétaning manu(ng)sa,sadurungé bumi langit kasebut, ulul amri wus pininta ulul amri, maréntah sakéhing urip.

pada akhirnya sama, hanya mempunyai sebutan ulul amri, di dalam rubiyat sudah disebut, penciptaan manusia,  sebelum bumi, langit diciptakan, sudah diminta, memerintah sepanjang hidup.

/31/ U(22) rip samya ing nguripan, déning suksma amrih karkating bumi, mila sagunging tumuwuh, aja anilar warah, susar -susur yén kesarung temah busuk, nora ngrungoaken ujar, wuruking mata lan kuping.

hidup karena dihidupi, oleh Tuhan supaya menjadi berkah dunia, oleh sebab itu makhluk hidup, jangan meninggalkan petunjuk, bila salah kemudian terjerumus akhirnya akan tertimpa musibah, tidak mendengarkan perkataan, pemberitahuan mata dan telinga.

/32/ iku wong datan panalar, mungkir lamun Allah Subkanalahi, wong bener wenang aprunggal, kang jember néng naraka, nalar iku luwih santosaning tuduh, kang duwé kang murbéng alam, pagéné nora ngéstuti.

itu adalah orang yang tidak menggunakan akal, memungkiri Allah sebagai Tuhan yang Maha Suci, orang yang benar berhak terputus jarak, yang lebar dengan neraka, akal merupakan petunjuk yang sentaosa, yang memiliki yang memelihara dunia, namun mengapa tidak menurut?.

/33/ pamuji lawan panembah, sangking nalar tuwuh néng wong berbudi, nora sangking kompra penggung, gegembring tanpa iman, dalil Kuran Alahu Samat kasebut, sapinuduh dén lakoni.

pemujaan dan penyembahan, tumbuh dari pada orang yang memiliki sifat ikhlas, bukan dari orang yang ceroboh, bodoh, gila tanpa kepercayaan, ayat Al Quran dari Allah Subhanawataala menyebutkan nora kena sesembranan tidak boleh menyepelekan, semua petunjuk dan harus dijalani.

/34/ saraté  samat pranyata, anglangkepi mengku salir kumelip, yén manungsa ora urus, agolék nalar liyan, pralambangnya lir mina milar ing ranu, amesthi luwih cilaka, buthuk binadhong ing anjing.

sebab syaratnya jelas, melengkapi dan menjaga segala makhluk hidup, jika manusia tidak memeliharanya, mencari pemikiran lain, ibarat seperti ikan yang melompat dan minggir dari air, pasti lebih celaka, membusuk dan dimakan anjing.

/35/ nabi wali myang ulama, para ratu satriya myang bupati, Allah tan milih kang busuk, tan liyan /kang/ berbudiman, karantené yén ana wong gemblung bingung, maido kodrat iradad, wong lumaku dén jajuwing.

nabi, wali, dan alim ulama, para raja, satria, dan bupati, Allah tidak akan memilih dari mereka yang bodoh, namun tidak lain dari orang yang baik hati, oleh sebab itu bila ada orang yang bodoh dan bingung, tidak mempercayai kodrat dan iradat, orang yang berbuat demikian akan dihancurkan.

/36/ wong tuman kasurang-surang, yén tan arsa ngrungu pitutur becik, yén wong tan (23) wruh ujar-ujar, bongga degsura pugal, wuta magagob mogira amberung, karem marang kaluputan, muyab tur kena ing sarik.

orang yang terus melakukannya akan terlunta-lunta, jika tidak mau mendengarkan nasihat yang baik, jika orang itu tidak mengerti perkataan yang baik, sombong, sok, kasar, buta mata, tangan menyerang, seperti kerbau gila yang tidak menurut, menyukai kesalahan, dengki, maka akan tertimpa bencana.

/37/ andadra ing ngombra-ngombra, bosen urip lumuh mangan rejeki, wong kapengin di kakepruk, binebek punang sirah, dén pepukang pinurakéng marga catur, kinarya pangéwan éwan, amrih aja dén ulari.

lama kelamaan justru semakin menjadi-jadi, bosan hidup enggan makan rezeki, orang itu ingin dipukul, dipukuli kepalanya, dijadikan seperti monyet yang sangat menyedihkan di perempatan jalan, sebagai bahan ketidaksenangan, supaya jangan menulari.

/38/ lirna ing aran kukumbah, nora tanpik tinandhesaning adil, drubegsa ambubrah urus,manungsa cacah-cucah, nyunyukeri angambah buminé /ng/ ratu, ngrariwuk ngrubéda nalar, jajelantah wong gegingsir.

oleh sebab itu disebut dihukum, tidak menolak (sesuatu) didasarkan hasil, makhluk halus penunggu hutan merusak aturan aturan yang baik, manusia menjadi sangat buruk, mengotori ketika menginjak tanah milik raja, menganggu dan mengacaukan pikiran, perbuatan buruknya telah diketahui orang sehingga (dia) menyingkir.

23 Agustus 2012

Membuka Rahasia Kasampurnan

oleh alifbraja

Ketika selesai membangun pesantren, Raden Paku teringat salah satu bungkusan yang harus dibukanya. Ia ingat kata-kata ayahnya kalau bingkisan itu berisi rahasia ilmu sejati yang harus dibacanya. Dengan hati-hati dibukanya bungkusan tersebut. Didalamnya ada beberapa lembar daun lontar bertuliskan huruf arab pegon. Segera dibacanya tulisan tersebut.

A. Tentang Macam Ilmu Manusia

Adalah suatu yang pasti terjadi anakku, ketahuilah ini, renungkan demi kasampurnaan ilmumu. Di dunia ini, entah kapan, sakit, dan mati pasti terjadi. Maka hendaklah waspada, tidak urung kita juga akan mati, jangan lupa pada sangkan paran dumadi. Untuk itu, di dunia ini hendaklah selalu prihatin; agar benar-benar sempurna engkau berilmu.

Dalam memperbincangkan ilmu kasempurnaan ini, jangan lupa arti bahasanya jika engkau mempertanyakannya. Karena mengetahui arti bahasa adalah kuncinya. Kesungguhanlah yang pasti, itulah yang perlu benar-benar engkau mengerti. Jangan takut pada biaya. Bukan emas, bukan dirham, dan bukan pula harta benda. Namun hanya niat ikhlas saja yang diperlukan.

Adapun ilmu manusia itu ada-ada, anakku. Yang pertama adalah ilmu kamanungsan yang lahir dari jalan indrawi dan melalui laku kemanungsan. Yang kedua adalah ilmu kasampurnaan yang lahir melalui pembelajaran langsung dari Sang Khalik. Untuk yang kedua ini, ia terjadi melalui dua cara, yaitu dari luar dan dari dalam. Yang dari luar, dilalui dengan cara belajar. Sedangkan yang dari dalam, dilalui dengan cara menyibukan diri dengan jalan bertapa (bertafakur).

Adapun bertafakur secara batin itu sepadan dengan belajar secara lahir. Belajar memilki arti pengambilan manfaat oleh seorang murid dari gerak seorang guru. Sedangkan tafakur memilki makna batin, yaitu suksma seorang murid yang mengambil manfaat dari suksma sejati, ialah jiwa sejati.

Suksma sejati dalam olah ngelmu memilki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan berbagai nasehat dari ahli ilmu dan ahli nalar. Ilmu-ilmu seperti itu tersimpan kuat pada pangkal suksma, bagaikan benih yang tertanam dalam tanah, atau mutiara di dasar laut.

Ketahuilah anakku, kewajiban orang hidup tidak lain adalah selalu berusaha menjadikan daya potensial yang ada di dalam dirinya menjadi suatu bentuk aksi (perbuatan) yang bermanfaat. Sebagaimana engkau juga wajib mengubah daya potensial yang ada dalam dirimu menjadi perbuatan, melalui belajar. Sejatinya dalam belajar, suksma sang murid menyerupai dan berdekatan dengan suksma sang guru. Sebagai yang memberi manfaat, guru laksana petani. Dan sebagai yang meminta manfaat, murid ibarat bumi atau tanah.

Anakku ketahuilah, ilmu merupakan kekuatan seperti benih atau tepatnya seperti tumbuh-tumbuhan. Apabila suksma sang murid sudah matang, ia akan menjadi seperti pohon yang berbuah, atau seperti mutiara yang sudah dikeluarkan dari dasar laut. Jika kekuatan badaniah mengalahkan jiwa, berarti murid masih harus terus menjalani laku prihatin dalam olah ngelmu dengan menyelami kesulitan demi kesulitan dan kepenatan demi kepenatan, dalam rangka menggapai manfaat.

Jika Cahaya Rasa mengalahkan macam-macam indra, berarti murid lebih membutuhkan sedikit tafakur ketimbang banyak belajar. Sebab suksma yang cair atau dalam bahasa arab disebut nafs al-qabil akan berhasil menggapai manfaat walau hanya dengan berfikir sesaat, ketimbang proses belajar setahun yang dilakukan oleh suksma yang beku nafs al-jamid.

Jadi, engkau bisa meraih ilmu dengan cara belajar, dan bisa juga mendapatkannya dengan cara bertafakur. Walaupun sebenarnya dalam belajar itu juga memerlukan proses tafakur. Dan dengan tafakur engkau tahu manusia hanya bisa mempelajari sebagian saja dari seluruh ilmu dan tidak bisa semuanya.

Banyak ilmu-ilmu mendasar atau yang disebut annazhariyyah dan penemuan-penemuan baru, berhasil dikuak oleh orang-orang yg memilki kearifan. Dengan kejernihan otak, kekuatan daya fikir dan ketajaman batin, mereka berhasil menguak hal-hal tersebut tanpa proses belajar dan usaha pencapaian ilmu yg berlebihan.

Cara bertafakur, manusia berhasil menguak ajaran sangkan paraning dumadi . Dengan begitu terbukalah asumsi dasar dari keilmuan sehingga persoalan tidak berlarut-larut dan segera tersingkap kebodohan yang menyelimuti kalbu.

Seperti telah kuberitahukan sebelumnya anakku, suksma tidak bisa mempelajari semua yang diinginkan, baik yang bersifat sebagian (juz’i / parsial) maupun yang menyeluruh (kulli /universal) dengan cara belajar. Ia harus mempelajari dengan induksi, sebagian dari deduksi sebagaimana umumnya manusia dan sebagian lagi dengan analogi yang membutuhkan kejernihan berfikir. Berdasarkan hal ini, ahli ilmu terus membentangkan kaidah-kaidah keilmuan.

Ketahuilah anakku, seorang ahli ilmu tidak bisa mempelajari apa yang dibutuhkan seluruh hidupnya. Ia hanya bisa mempelajari keilmuan umum dan beragam bentuk yang merupakan turunannya dan hal itu menjadi dasar untuk melakukan qiyas terhadap berbagi persoalan lainnya. Begitu pula para tabib, tidaklah bisa mempelajari seluruh unsur obat-obatan untuk orang lain. Meraka hanya mempelajari gejala-gejala umum. Dan setiap orang diobati menurut sifat masing-masing. Demikian juga para ahli perbintangan, mereka mempelajari hal-hal umum yg berkaitan dengan bintang, kemudian berfikir dan memutuskan berbagai hukum. Demikian juga halnya seorang ahli fikih dan pujangga. Begitu seterusnya, imajinasi dan karsa yang indah-indah berjalan. Yang satu menggunakan tafakur sebagai alat pukul, semacam lidi, sedangkan yang lain menggunakan alat bantu lain untuk merealisasikan.

Anakku jika pintu suksma terbuka, ia akan tahu bagaimana cara bertafakur dengan benar dan selanjutnya ia bisa memahami bagaimana merealisasikan apa yang diinginkan. Karena itu hati pun menjadi lapang, pikiran jadi terbuka dan daya potensial yg ada dalam diri akan lahir menjadi aksi (perbuatan) yang berkelanjutan dan tak mengenal lelah.

B. Memahami Ilmu Kasampurnaan

Ketahuilah anakku bahwa ilmu kasampurnaan itu ada dua macam,

Pertama, diberikan melalui wahyu.

Apabila suksma manusia telah sempurna, niscaya akan sirna segala sesuatu yang dapat mengotori watak, seperti halnya sikap rakus dan impian semu. Suksma akan menghadap Sang Pencipta, merengkuh cintaNya dan berharap manfaat serta limpahan cahayaNya.

Allah akan menyambut suksma itu secara total. Tatapan Ketuhanan memandanginya dan menjadikannya seperti papan. kemudian Allah akan menjadikan pena dari suskma sejati. Dan pena itu diukirkan ilmu pada papan tadi.

Suksma sejati laksana guru, suksma manusia suci ibarat sang murid. Sehingga dicapailah seluruh ilmu, dan padanya semua bentuk terukir tanpa proses belajar maupun berfikir. Dalilnya : “Dan Dialah yg mengajarkanmu apa-apa yang tidak kamu ketahui” (QS. An-Nisa:213).

Ilmu para nabi lebih tinggi derajatnya dibandingkan ilmu mahluk-mahluk yang lain. Karena ilmu tersebut diperoleh langsung dari Yang Maha Esa tanpa perantara. Kau bisa memahami dalam kisah para malaikat dengan kanjeng Nabi Adam. Sepanjang usianya para malaikat terus belajar. Dan dengan berbagai cara mereka berhasil mendapatkan banyak macam ilmu, sehingga mereka menjadi mahluk yang paling berilmu dan mahluk paling berpengetahuan.

Sementara itu, Adam tidaklah tergolong ahli ngelmu karena ia tidak pernah belajar dan berjumpa dengan seorang guru. Malaikat bangga dan dengan besar hati mereka berkata: “padahal kami Senantisa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” (QS. Al-Baqarah:30).

Kanjeng Nabi Adam kembali menuju Sang Pencipta. Lantas beberapa bagian dalam hati Kanjeng Nabi oleh Allah dikeluarkan ketika ia menghadap dan memohon pertolongan kepada Tuhan. Lalu Allah ajarkan seluruh nama-nama benda. “Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat, lantas Allah berfirman: “Sebutkanlah kepadaku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar” (QS. Al-Baqarah:31).

Ketahuilah, malaikat menjadi kerdil dihadapan Adam. Ilmu mereka menjadi terlihat sempit. Mereka tak bisa berbangga dan besar hati, justru yang ada hanya rasa tak berdaya. “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yg Engkau ajarkan kepada kami” (QS. Al-Baqarah:32).

Maka kepada mereka Adam diberitahukan beberapa bagian ilmu dan hal-hal yang masih tersembunyi. Akhirnya jelaslah bagi kaum berakal, bahwa ilmu gaib yang bersumber dari wahyu lebih kuat dan lebih sempurna dibandingkan ilmu yang diperoleh dengan penglihatan langsung.

Ilmu yang diperoleh melalui wahyu merupakan warisan dari hak para nabi. Namun mulai masa Kanjeng Nabi Muhammad pintu wahyu telah ditutup oleh Allah. Sebab Muhammad adalah penutup para nabi. Dia mewakili sosok paling berilmu dan paling fasih dikalangan manusia. Allah telah mendidiknya dengan budi pekertinya menjadi baik.

Ketahuilah anakku, Ilmu Rasul itu lebih sempurna, lebih mulia, dan kuat. Karena ilmu tersebut diperoleh langsung dari Sang Khalik. Beliau sama sekali tidak pernah menjalankan proses belajar-mengajar insani.

Ilmu Kasampurnaan yg Kedua, disampaikan sebagai ilham yaitu peringatan suksma sejati terhadap suksma manusia berdasarkan kadar kejernihan, penerimaan dan daya kesiapannya. Ilham boleh dikatakan mengiringi wahyu. Kalau wahyu merupakan penegasan perkara gaib, maka ilham merupakan penjelasannya. Ilmu yg diperoleh dengan wahyu itulah sejatinya ilmu kenabian, sedangkan yang diperoleh dengan ilham itulah sejatinya ilmu kewalian.

Ilmu kewalian diperoleh secara langsung, tanpa perantara antara suksma dan Sang Pencipta. Ilmu Kasampurnaan itu laksana secercah cahaya dari alam gaib, yang datang menerpa hati yg jernih, hampa dan lembut.

Semua ilmu merupakan produk pengetahuan yg diperoleh dari suksma sejati yang terdapat dalam inti sangkan paraning dumadi dengan menisbatkan pada RASA SEJATI, seperti penisbatan Siti Hawa kepada Kanjeng Nabi Adam.

Ketahuilah anakku, rasa sejati lebih mulia, lebih sempurna dan lebih kuat dari disisi Allah dibandingkan suksma sejati. Sedangkan suksma sejati lebih terhormat, lebih lembut dan lebih mulia dibandingkan mahluk-mahluk lain.

Adapun ilham itu terlahir dari melimpahnya rasa sejati dan juga terlahir dari melimpahnya pancaran sinar suksma sejati. Jika wahyu menjadi perhiasan para nabi, maka ilham menjadi perhiasan para wali. Adapun ilmu yg diperoleh dari wahyu adalah sebagaimana suksma tanpa rasa atau wali tanpa nabi. Begitu pula ilham tanpa wahyu akan menjadi lemah. Ilmu akan menjadi kuat jika dinisbatkan kepada wahyu yang bersandar pada penglihatan ruhani. Itulah ilmu para nabi dan wali.

Ketahuilah, ilmu yang diperoleh dengan wahyu hanya khusus bagi para rasul, seperti diberikan kepada Adam, Musa, Ibrahim, Isa, Muhammad saw dan para rasul lain. Itulah yang menbedakan antara risalah dengan nubuwwah . Adapun nubuwwah adalah perolehan hakikat dari ilmu dan rasionalitas-rasionalitas oleh suksma yang suci kepada orang-orang yang mengambil manfaat. Barangkali perolehan semacam itu didapat salah satu suksma, tetapi ia tidak berkewajiban menyebarkannya karena suatu alasan dan oleh sebab-sebab tertentu.

Ilmu kasampurnaan menjadi milik seorang nabi dan wali, sebagaimana dimilki Khidir a.s. Hal itu terdapat pd dalil: “Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Al-Kahfi:65).

Ingatlah ketika khalifah Ali berujar: “Kumasukan lisanku kemulutku, hingga terbukalah dihatiku seribu pintu ilmu, yang pada setiap pintu terdapat seribu pintu yang lain”. Dan ia berkata: “Andai kuletakkan bantal dan aku duduk diatasnya, niscaya aku akan mengambil putusan hukum bagi penganut Taurat berdasarkan Taurat mereka, bagi penganut Injil berdasarkan Injil mereka, dan bagi penganut al-Quran berdasarkan al-Quran mereka”.

Derajat seperti ini tidak bisa diterima dengan melalui ilmu kemanungsan semata yg hanya dari pembelajaran insani. Pastilah seseorang yg telah mencapai derajat tersebut telah dikarunia ilmu kasampurnaan.

Jika Allah mengkehendaki kebaikan pada dirimu, Dia akan menyingkap tabir atau hijab yg menghalangi dirimu dengan suksma yang menjadi papan itu. Dengan demikian, sebagian rahasia dari apa-apa yang tersembunyi akan ditampakan padamu.  Segenap makna yg terkandung didalam rahasia tersebut akan terpahat pada suksmamu. Dan suksma itupun mengungkapkan sebagaimana engkau ingin karena dikehendakiNya.

Sejatinya, kearifan bisa lahir dari ilmu kasampurnaan. Selama engkau belum mencapai derajat atau tingkatan ini, engkau tidak akan menjadi seorang arif. Karena kearifan merupakan pemberian Hyang Widi. Dalilnya : “Allah menganugrahkan al-hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang2 yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran ” (QS. Al-Baqarah:269).

Hal itu karena orang-orang yg berhasil mencapai ilmu kasampurnaan tidak perlu lagi banyak berusaha memahami ilmu secara induktif dan berpayah-payah belajar. Orang yg demikian sedikit belajar, banyak mengajar, sedikit capai, banyak istirahat.

Ketahuilah anakku, setelah wahyu terputus dan sesudah pintu risalah ditutup, umat manusia tidak lagi membutuhkan kehadiran rasul atau utusan. Mereka tidak lagi memerlukan penampakan dakwah setelah penyempurnaan agama. Bukanlah termasuk kearifan menampakan nilai lebih tidak berdasarkan kebutuhan.

Tapi ketahuilah anakku, pintu ilham itu tidak pernah ditutup. Pancaran cahaya suksma sejati tidak pernah terputus. Karena suksma terus membutuhkan arahan, pembaharuan dan peringatan. Umat manusia tidak memerlukan risalah dan dakwah, tetapi masih membutuhkan peringatan sebagai akibat dari tenggelamnya mereka pada rasa was-was dan terhanyut oleh gelombang syahwat.

Karena itu Allah menutup pintu wahyu sebagai pertanda bagi hamba-Nya dan membuka pintu ilham sebagai rahmat serta menyiapkan segala sesuatu menyusun tingkatan-tingkatan supaya mereka tahu bahwa Allah Maha Lembut kepada hamba-hambaNya, memberikan rezeki kepada siapa saja yang dikendaki tanpa perhitungan. Selesai sudah nasehatku tentang kawruh kesejatian yang kubeberkan padamu. Hendaklah engkau bisa menggunakan sebaik mungkin.

Dengan sikap takzim, Raden Paku (Sunan Giri) menerawang ke depan membayangkan wajah ayahandanya mengucapkan sendiri kata-kata yang barusan dibacanya. Digengamnya erat2 lembaran lontar itu, lalu didekapkan didada serasa hendak menggoreskan makna dalam hatinya. Suatu makna dari nasehat orang suci yg tak lain adalah ayahandanya sendiri Syeh Wali Lanang/Syeh Awallul Islam ( Maulana Ishak ), lelaki suci keturunan manusia

23 Agustus 2012

Intisari Bhagavad Gita

oleh alifbraja

I.

Why do you worry without a cause?

Whom do you fear without reason?

Who can kill you?

The soul is neither born, nor does it die.

Mengapa kamu khawatir tanpa alasan?
Siapa yang kamu takutkan tanpa alasan?
Siapa yang bisa membunuh Anda?
Jiwa tidak dilahirkan, juga tidak pernah mati.

Whatever happened,

Happened for good,

Whatever is happening,

Is happening for good,

Whatever will happen,

Will also for good only.

Apa pun yang terjadi,
adalah untuk kebaikan,
apapun yang sedang terjadi,
adalah untuk kebaikan,
apapun yang akan terjadi,
juga akan untuk kebaikan saja.

II.

You need not have any regrets for the past,

You need not worry for the future,

The present is happening,

What did you lose that you cry about?

Anda tidak perlu menyesal untuk masa lalu,
Anda tidak perlu khawatir untuk masa depan,
sekarang ini sedang  terjadi,
Apa yang Anda kehilangan dan membuat Anda menangis?

What did you bring with you

which you think you have lost?

Apa yang Anda bawa
yang membuat Anda pikir telah kehilangan?

III.

What did you produce

which you think got destroyed?

Apa yang Anda hasilkan
yang menurut Anda dihancurkan?

You did not bring anything,

what you have, you received from here,

whatever you have given, you have given only here.

Anda tidak membawa apa-apa,
apa yang Anda miliki, Anda terima dari sini,
apapun yang telah Anda berikan, Anda hanya diberikan di sini.

Whatever you took, you took from God,

Whatever you gave, you gave it to Him,

You came empty handed,

You will leave empty handed.

Apa pun yang Anda ambil, Anda mengambil dari Allah,
Apa pun yang Anda berikan, Anda memberikannya kepada-Nya,
Kau datang dengan tangan kosong,
Anda akan pergi dengan tangan kosong.

IV.

What is yours today,

belonged to someone else yesterday,

and will belong to someone else

the day after tomorrow.

Apa yg disebut milik Anda hari ini,
adalah milik orang lain kemarin,
dan akan menjadi milik orang lain

pada lusa nanti

You are mistakenly enjoying the thought,

that this is yours.

Anda keliru menikmati pikiran,
bahwa ini adalah milikmu.

It is this false happiness that is

the cause of your own sorrows.

Inilah kebahagiaan palsu yang
penyebab penderitaan Anda sendiri.

V.

Change is the law of the universe.

What you think of as death,

is indeed life.

Perubahan adalah hukum alam semesta.
Apa yang Anda anggap sebagai kematian,
sebenarnya adalah “hidup”.

In one instance you can be a millionaire,

and in other instance, you can steeped in poverty.

Dalam satu contoh Anda bisa menjadi jutawan,
dan dalam hal lain, Anda bisa tenggelam dalam kemiskinan.

%d blogger menyukai ini: