Posts tagged ‘maha suci allah’

10 Oktober 2012

Kisah Isra’ Mi’raj

oleh alifbraja

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa yang agung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang meyakini kisah yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab. Benarkah demikian? Bagaimanakah cerita kisah ini? Kapan sebenarnya  terjadinya kisah ini? Bagaimana pula hukum merayakan perayaan Isra’ Mi’raj? Simak  pembahasannya dalam tulisan yang ringkas ini.

Pengertian Isra’ Mi’raj

Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى  

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)

Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm ayat 1-18.[1]

Kisah Isra’ Mi’raj

Secara umum, kisah yang menakjubkan ini  disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur`an dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Juga dalam firman-Nya:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)

Adapun rincian dan urutan kejadiannya banyak terdapat dalam hadits yang shahih dengan berbagai riwayat. Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab beliau yang berjudul Al Isra` wal Mi’raj menyebutkan 16 shahabat yang meriwayatkan kisah ini. Mereka adalah: Anas bin Malik, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Buraidah ibnul Hushaib Al-Aslamy, Hudzaifah ibnul Yaman, Syaddad bin Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Qurath, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, ‘Ali, dan ‘Umar radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Di antara hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :D ari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril  ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi  khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam  meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan  Harun alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Mamuur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul MuntahaTernyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

 Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalamKemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.  Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968 dan 3598 dan Shahih Muslim nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini. Terdapat pula tambahan riwayat tentang kisah ini yang tidak disebutkan dalam hadits di atas.

Kapankah Isra` dan Mi’raj?

Sebagian orang meyakini bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Padahal, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kejadian kisah ini. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj , yaitu[2] :

  1. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nubuwah (kenabian). Ini adalah pendapat Imam Ath Thabari rahimahullah.
  2. Perisitiwa tersebut terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Imam An Nawawi dan Al Qurthubi rahimahumallah.
  3. Peristiwa tersebut terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh Bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian. Ini adalah pendapat Al Allamah Al Manshurfuri rahimahullah.
  4. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  5. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  6. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas setelah kenabian.

Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri hafidzahullah menjelaskan : “Tiga pendapat pertama tertolak. Alasannya karena Khadijah radhiyallahu ‘anha meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian, sementara ketika beliau meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu. Juga tidak ada perbedaan pendapat bahwa diwajibkannya shalat lima waktu adalah pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sedangakan tiga pendapat lainnya, aku  tidak mengetahui mana yang lebih rajih. Namun jika dilihat dari kandungan surat Al Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada masa-masa akhir sebelum hijrah.”

Dapat kita simpulkan dari penjelasan di atas bahwa Isra` dan Mi’raj tidak diketahui secara pasti pada kapan waktu terjadinya. Ini menunjukkan bahwa mengetahui kapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj bukanlah suatu hal yang penting. Lagipula, tidak terdapat  sedikitpun faedah keagamaan dengan mengetahuinya. Seandainya ada faidahnya maka pasti Allah akan menjelaskannya kepada kita. Maka memastikan kejadian Isra’ Mi’raj terjadi pada Bulan Rajab adalah suatu kekeliruan. Wallahu ‘alam..

Sikap Seorang Muslim Terhadap Kisah Isra’ Mi’raj

Berita-berita yang datang dalam kisah Isra’ Miraj seperti sampainya beliau ke Baitul Maqdis, kemudian berjumpa dengan para nabi dan shalat mengimami mereka, serta berita-berita lain yang terdapat dalam hadits- hadits yang shahih merupakan perkara ghaib. Sikap ahlussunnah wal jama’ah terhadap kisah-kisah seperti ini harus mencakup kaedah berikut :

  1. Menerima berita tersebut.
  2. Mengimani tentang kebenaran berita tersebut.
  3. Tidak menolak berita tersebut atau mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.

Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan berita yang datang terhadap seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah Ta’ala kabarkan kepada kita atau dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3]

Hendaknya kita meneladani sifat para sahabt radhiyallahu ‘anhum terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.  Mereka mengatakan : “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!” Abu Bakar berkata : “Apa yang beliau ucapkan?”. Orang-orang musyrik berkata : “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam”. Abu Bakar berkata : “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”. Orang-orang musyrik kembali bertanya: “Mengapa demikian?”. Abu Bakar menjawab: “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (Hadits diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha).[4]

Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terhadap berita yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Beliau langsung membenarkan dan mempercayai berita tersebut. Beliau tidak banyak bertanya, meskipun peristiwa tersebut mustahil dilakukan dengan teknologi pada saat itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim terhadap setiap berita yang shahih dari Allah dan rasul-Nya.

Hikmah Terjadinya Isra`

Apakah hikmah terjadinya Isra`, kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak Mi’raj langsung dari Mekkah padahal hal tersebut memungkinkan? Para ulama menyebutkan ada beberapa hikmah terjadinya peristiwa  Isra`, yaitu:

  1. Perjalanan  Isra’ di bumi dari Mekkah ke Baitul Maqdis lebih memperkuat hujjah bagi orang-orang musyrik. Jika beliau langsung Mi’raj ke langit,  seandainya ditanya oleh orang-orang musyrik maka beliau tidak mempunyai alasan yang memperkuat kisah perjalanan yang beliau alami.  Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik datang dan bertanya kepada beliau, beliau menceritakan tentang kafilah yang beliau temui selama perjalanan Isra’. Tatkala kafilah tersebut pulang dan orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, orang-orang musyrik baru mengetahui benarlah apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Untuk menampakkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin. Tidaklah pengikut para nabi menghadapkan wajah mereka untuk beribadah keculali ke Baitul Maqdis dan Makkah Al Mukarramah. Sekaligus ini menujukkan keutamaan beliau melihat kedua kiblat dalam satu malam.
  3. Untuk menampakkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan para nabi yang lainnya. Beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau shalat mengimami mereka.[5]

Faedah Kisah

Kisah yang agung ini sarat akan banyak faedah, di antaranya :

  1. Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam
  3. Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhumMereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.
  4. Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Penyebutan kata ‘hamba’ digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang terdapat dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa salaam melakukan Isra` dan Mi’raj dengan jasad beliau dalam keadaan terjaga.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’atul I’tiqad “… Contohnya hadits Isra` dan Mi’raj, beliau mengalaminya dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, karena (kafir) Quraisy mengingkari dan sombong terhadapnya (peristiwa itu), padahal mereka tidak mengingkari mimpi”[6]

Imam Ath Thahawi rahimahullah berkata : “Mi’raj adalah benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam telah melakukan Isra` dan Mi’raj dengan tubuh beliau dalam keadaan terjaga ke atas langit…”[7]

  1. Penetapan akan ketinggian Allah Ta’ala dengan ketinggian zat-Nya dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan Allah, yakni Allah  tinggi berada di atas langit ketujuh, di atas ‘arsy-Nya. Ini merupakan akidah kaum muslimin seluruhnya dari dahulu hingga sekarang.
  2. Mengimani perkara-perkara ghaib yang disebutkan dalam hadits di atas, seperti: BuraaqMi’raj, para malaikat penjaga langit, adanya pintu-pintu langit, Baitul Ma’murSidratul Muntaha beserta sifat-sifatnya, surga, dan selainnya.
  3. Penetapan tentang hidupnya para Nabi ‘alaihimus salaam di kubur-kubur mereka, akan tetapi dengan kehidupan barzakhiah, bukan seperti kehidupan mereka di dunia. Oleh karena itulah, di sini tidak ada dalil yang membolehkan seseorang untuk berdoa, bertawasul, atau meminta syafa’at kepada para Nabi dengan alasan mereka masih hidup. Syaikh Shalih Alu Syaikh rahimahullah menjelaskan  bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salaam dalam Mi’raj menemui ruh para Nabi kecuali Nabi Isa ‘alaihis salaam. Nabi menemui jasad Nabi Isa  karena jasad dan ruh beliau dibawa ke langit dan beliau belum wafat.[8]
  4. Banyaknya jumlah para malaikat dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah.
  5. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah kalimur Rahman (orang yang diajak bicara langsung oleh Ar Rahman).
  6. Allah Ta’ala memiliki sifat kalam (berbicara) dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya.
  7. Tingginya kedudukan shalat wajib dalam Islam, karena Allah langsung yang memerintahkan kewajiban ini.
  8. Kasih sayang dan perhatian Nabi Musa’alaihis salaam terhadap umat Islam, ketika beliau menyuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diringankan kewajiban shalat.
  9. Penetapan adanya nasakh (penghapusan hukum) dalam syariat Islam, serta bolehnya me-nasakh suatu perintah walaupun belum sempat dikerjakan sebelumnya, yakni tentang kewajiban shalat yang awalnya lima puluh rakaat menjadi lima rakaat.
  10. Surga dan neraka sudah ada sekarang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat keduanya ketika Mi’raj.
  11. Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi melihat Allah pada saat Mi’raj. Ada tiga pendapat yang populer : Nabi melihat Allah dengan penglihatan, Nabi melihat Allah dengan hati, dan Nabi tidak melihat Allah namun hanya mendengar kalam Allah.
  12. Pendapat yang benar bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj hanya berlangusng satu kali saja dan tidak berulang.
  13. Barangsiapa yang mengingkari Isra`, maka dia telah kafir, karena dia berarti menganggap Allah berdusta. Barangsiapa yang mengingkari Mi’raj maka tidak dikafirkan kecuali setelah ditegakkan padanya hujjah serta dijelaskan padanya kebenaran.

Hukum Mengadakan Perayaan Isra` Mi’raj

Bagaimana hukum mengadakan perayaan Isra’ Mi’raj? Berdasarkan dari penjelasan di atas, nampak jelas bagi kita bahwa perayaan Isra` Mi’raj tidak boleh dikerjakan, bahkan merupakan perkara bid’ah, karena dua alasan :

1.   Malam Isra` Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Banyaknya perselisihan di kalangan para ulama, bahkan para sahabat dalam penentuan kapan terjadinya Isra` dan Mi’raj, merupakan dalil yang sangat jelas menunjukkan bahwa mereka tidaklah menaruh perhatian yang besar tentang waktu terjadinya. Jika waktu terjadinya saja tidak disepakati, bagaimana mungkin bisa dilakukan perayaan Isra’ Mi’raj?

2.   Dari sisi syari’at, perayaan ini juga tidak memiliki landasan. Seandainya perayaan tersebut adalah bagian dari syariat Allah, maka pasti akan dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, atau minimal beliau sampaikan kepada ummatnya. Seandainya beliau dan para sahabat  mengerjakannya atau menyampaikannya, maka ajaran tersebut akan sampai kepada kita.

Jadi, tatkala tidak ada sedikitpun dalil tentang hal tersebut,  maka perayaan Isra’ Mi’raj  bukan bagian dari ajaran Islam. Jika dia bukan bagian dari agama Islam, maka tidak boleh bagi kita untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah Ta’ala dengan perbuatan tersebut. Bahkan merayakannya termasuk perbuatan bid’ah yang tercela.

Berikut di antara  fatwa ulama dalam masalah ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya : ”Pertanyaan ini tentang perayaan malam Isra’ Mi’raj yang terjadi di Sudan. Kami merayakan malam Isra’ Mi’raj rutin setiap tahun,  Apakah perayaan tersebut memiliki sumber dari Al Qur’an dan As Sunnah atau pernah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin atau pada zaman tabi’in? Berilah petunjuk kepadaku karena saya bingung dalam masalah ini. Terimakasih atas jawaban Anda.”

Jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Perayaan seperti itu tidak memiliki dasar dari Al Qur’an dan As Sunnah dan tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin . Petunjuk yang ada dalam Al Qur’an  dan sunnah rasul-Nya justru menolak perbuatn bid’ah tersebut karena Allah Ta’ala mengingkari orang-orang  yang menjadikan syariat bagi mereka selain syariat Allah termasuk perbuatan syirik, sebagaimana firman Allah :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّه

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy Syuura:21)

Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“ Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah dan rasul-Nya maka amalan tersebut tertolak “.

Perayaan malam Isra’ Mi’raj bukan merupakan perintah Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya dalam setiap khutbah Jum’at melalui sabda beliau :

أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah  dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara baru dalam agama, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[9]

Semoga paparan ringkas ini dapat menambah ilmu dan wawsan kita, serta dapat menambah keimanan kita. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad

Penyusun : Adika Mionaki

Sumber: Muslim.Or.Id


[1] Lihat Syarh Lumatil I’tiqaad li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 58-59

[2] Lihat pembahsan ini dalam Ar Rahiqul Makhtum 108

[3] Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 444

[4] Lihat Syarh Al Ushuul Ats Tsalatsah li Syaikh Shalih Fauzan 201

[5] Lihat  Syarh Al ‘Aqidah  Ath Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 451-452

[6] Lihat dalam Syarh Lum’atil I’tiqad li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 58

[7] Matan ‘Al Aqidah Ath Thahawiyah

[8] Lihat dalam Syarh  Al Aqidah Ath Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 454

[9] Penggalan dari fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin  rahimahullah dalam Fatawa Nuur ‘alaa Ad Darb.

Iklan
3 September 2012

Kehancuran Sunnah

oleh alifbraja

Maha Suci Allah Yang Maha Menguasai setiap sudut Angkasa Raya semesta yang Tunggal adalah milik Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Tunggal menghamparkan Jagad Raya dengan kemegahan dan kesempurnaan, Maha Suci Allah Yang Maha Abadi dalam Kesempurnaan dan Keindahan Nya,Segala Puji Bagi Allah Yang Menyemarakkan Angkasa Raya dengan cahaya Keagungan Nya, Segala Puji Bagi Allah Yang Menampilkan keajaiban ciptaan Nya di segenap langit dan bumi, Allah.. Nama Yang Maha Abadi dan Tunggal dalam Kekuasaan, Allah.. Nama Yang Maha Abadi dan Tunggal dalam Menentukan, Gema kewibawaan Nya menundukkan seluruh Alam Semesta, ketika kekuatan Nya ditampilkan Nya maka runtuhlah benteng kekuatan hamba Nya, direnggut Nya kekuasaan Raja penguasa dengan kematian.., mereka terenggut dari singgasana mulia untuk berlutut ketakutan mempertanggungjawabkan setiap nafasnya,

Telah Kuciptakan engkau dari ketiadaan, kutumbuhkan sel dirimu pada tubuh ayahmu, lalu kubenamkan sel dirimu di rahim ibumu, lalu Aku Mengasuhmu siang dan malam di rahim ibumu dalam kesendirian, hingga terangkailah 40 hari sebagai air mani, 40 hari kemudian sebagai gumpalan darah, 40 hari kemudian menjadi gumpalan daging, 40 hari kemudian kupecah-pecah bentuk tubuhmu dengan panca indera, lalu kuhembuskan padamu ruh.. (rujuk shahih Bukhari hadits no.3036, 3154, 6221, 7016).

Lalu kubuat kau lahir ke muka bumiku, hidup, makan dan minum dari rizki yang kuciptakan, engkau bertebaran diatas bumiku, kusiapkan untukmu nafkahmu, ayah ibu yang menyayangimu, teman-teman yang menemanimu, pohon-pohon yang menaungimu, kubuat kau melihat dan mendengar, kuciptakan dua kaki agar kau bisa berjalan, kujadikan milyaran sel tubuhmu taat pada keinginanmu?

Akan datang waktu Aku akan memanggilmu, Kuperintah Kau untuk menghadap Ku dengan perintah yang tak mampu kau tolak, kau harus berpisah dengan penglihatanmu, pendengaranmu, hartamu, kerabatmu, kehidupanmu, karena itu semua memang bukan milikmu, itu semua adalah Milik Ku, dan dirimu pun sepenuhnya adalah Milik Ku..

?Apakah manusia tidak memandang bahwa sungguh kami menciptakannya dari air mani, maka kemudian ia hidup dan mendebat (menentang dan membangkang) pada kami? (QS Yaasiin 77). ?Sungguh mereka melihatnya jauh (hari kiamat) dan kami melihatnya (hari kiamat) sangat dekat, hari dimana langit luluh mencair, dan jadilah gunung-gunung bagai debu berserakan, maka saat itu para bunda yang mengasuh bayinya tak lagi memperdulikan bayi yang diasuhnya, ketika diperlihatkan atas mereka, hari saat para pendosa bermaksud menukar azab dengan anak-anaknya, atau menukar azab itu dengan suami atau istrinya, atau dengan kelompok teman-temannya yang dahulu bersamanya, atau menukar azab dengan seluruh penduduk di bumi asal ia selamat sendiri, sungguh itu sia-sia.., namun itulah Api yang bergejolak, (Api yang demikian dahsyatnya) Mencerai beraikan tulang rusuk satu sama lain, Bergemuruh memanggil mereka yang berbuat jahat dan berpaling dari kebenaran, (QS Alma?arij 1-17).

Saudara-saudaraku yang kumuliakan, sungguh musuh-musuh islam terus mengobarkan api kegelapan yang menghanguskan sunnah Muhammad saw, alangkah mengejutkannya ketika justru dirimu terlibat dalam penghancuran sunnah Nabi kita saw, kita jadikan bibir ini terlibat menghancurkan sunnah Nabi kita saw, kita jadikan akal logika kita untuk merubuhkan sunnah Nabi kita saw, Saudara-saudaraku yang kumuliakan, sungguh Poligami adalah salah satu dari ajaran Nabi Kita Muhammad saw, dan telah berjaya diatas ummat ini berabad-abad lamanya, namun hari-hari ini muncullah musuh-musuh islam yang mengobarkan api itu, maka kitapun bermunculan pula untuk mendukung mereka menghancurkan ajaran Nabi kita saw, Tak ada ikhtilaf oleh seluruh Ulama, Muhaddistin, para Imam, sahabat, yang punya satu pendapatpun melarang poligami, hanya muncul di zaman kita ini yang mengingkari ajaran Nabi kita saw, Poligami diperbolehkan tanpa syarat apapun selain syarat akad nikah biasa..,

Sungguh.. kita ini diperintahkan menyembah Allah dan bukan menyembah logika, apakah kita harus menjadikan hukum Nya itu dibawah logika kita?, kita tak perlu menjadikan hikmah yang tersimpan dalam poligami atau sunnah lainnya sebagai syarat untuk membenarkannya, lalu bila hikmahnya belum kita temukan maka kita kufur dan menolaknya, kita menyembah Nya dan sungguh Dzat Nya swt tak terpecahkan oleh Logika, karena yang paling gaib adalah Dia swt, maka bila kita menolak hukum hanya karena tak masuk akal, maka kita sudah menentang Nya, menyembah akal kita dan tidak beriman kepada Nya dan tidak pula mengakui Muhammad saw sebagai utusan Nya, karena ada hal yang kita akui merupakan kesalahan dari ajaran sang Nabi saw,

Sungguh.. Poligami ini menjadi momok yang mengerikan bagi kaum istri, mengapa?, bukankah Allah Yang Maha menentukan segala-galanya, dan selama ini semua orang tahu bahwa poligami adalah boleh dalam islam, namun barangkali tidak 1 dari 1000 suami yang melakukan poligami walaupun itu diperbolehkan, lalu apa yang mereka risaukan?, seakan mereka sudah tidak punya tuhan untuk dijadikan sandaran perlindungan, Betul, banyak kaum istri yang belum mampu bersabar dalam hal ini, namun belum mampu bukanlah menginkari, sama halnya dengan orang yang tak punya uang untuk Umrah dan haji yang sunnah (sudah melakukan yang wajibnya), maka apakah kita mengatakan haji sunnah itu batil dan dilarang?, apa hak kita mengatakan batil pada sunnah Nabi saw?, jauh beda antara yang tidak mampu dengan yang mengingkari,

Betul.. poligami banyak diselewengkan oleh para suami, hingga dijadikan alat pengumbar syahwat, merebut kekayaan, menyombongkan diri, berkhianat pada istri, dan contoh lainnya, dan banyak pula diselewengkan oleh istri muda untuk merebut harta atau lainnya, namun itu semua adalah oknum, dan penyelewengan itu terjadi dalam segala hal dan bukan hanya dalam poligami, contohnya dalam pernikahan monogami pun demikian, banyak terdapat penyelewengan dalam pernikahan yang demi keduniawian atau demi kelicikan, atau demi syahwat dan lainnya, demikian pula pada shalat, bisa saja diselewengkan dengan untuk mencari perhatian misalnya, atau agar dianggap shalih, atau lainnya, demikian pula puasa, haji, zakat dan lainnya, penyelewengan mestilah ada, dan penyelewengan oknum tak dapat menafikan (menghapuskan) suatu ajaran syariah, kesalahan adalah pada oknum dan bukan pada hukum,

Tak mustahil sebentar lagi akan bermunculan pula pendapat mengingkari hal-hal yang fardhu, tak mustahil pula pendapat kelak mengingkari puasa, kenapa harus menahan lapar?, atau mengingkari haji, kenapa harus tawaf dan sa?i?, kenapa harus melempar batu di Mina dengan 7 batu selama 3 hari berturut-turut..?, kenapa harus berpanas-panas terik berdesak-desakan bahkan bisa mati terinjak injak hanya sekedar untuk melempar batu-batu kerikil?, bukankah ini merusak kulit?, bisa pula tertular wabah batuk, atau penyakit-penyakit yang dibawa dari seluruh dunia..?, akhirnya kita akan terjebak pada puncak kekufuran, yaitu.. : kenapa aku menyembah sesuatu yang tak terlihat.., tak terdengar, tak terasa, kenapa harus menyembunyikan diri Nya, kenapa tak tunjukkan..?

Maka jadilah logika kita menjadi tuhan kita, runtuhlah seluruh kemuliaan iman dan tauhid dari sanubari kita, sirnalah seluruh amal ibadah kita, dalam jurang kemurtadan yang menuju kehinaan yang abadi.. diawali dari hembusan penolakan pada Poligami, yang kita turut berperan serta untuk menghancurkan sunnah Nabi saw, ketika dipadang Mahsyar kelak.., ketika terdengar seruan.., Fulan bin fulan maju kehadapan Allah..!, maka satu wajah tertunduk maju.. maka Allah swt berkata : Engkau.., Engkau.., Engkau kah yang terlibat menghancurkan sunnah Nabi Ku?, Engkau? Engkau.. engkau kah yang turut mencari 1000 dalil agar sunnah Nabi Ku diubah..?

Saudaraku, adakah kau calonkan dirimu sebagai pengkhianat Nabimu?, Naudzubillah dari hal ini.., saudara-saudaraku bangkitlah.., saudari-saudariku bangunlah.. bela sunnah Nabimu, mereka sedang menghanguskan bendera sunnah Nabimu saw, mereka menginjak panji sunnahnya saw, siapa mereka?, mereka saudara-saudaramu, kerabatmu, tetanggamu, teman-temanmu.. Saudaraku bangkitlah.. jangan berpangku tangan atas penghinaan pada sunnah Nabimu saw, tunjukkan baktimu pada nabi kita saw.

Katakanlah : ?AKU MENCINTAI SUNNAH NABIKU MUHAMMAD SAW, WALAUPUN SELURUH BARAT DAN TIMUR MENGANGGAPNYA BURUK, DIMATAKU TETAP SUNNAH NABIKU JAUH LEBIH AGUNG DIATAS SEMILYAR LOGIKA KUFFAR..! AKU BERIDOLAKAN NABIKU MUHAMMAD SAW, DAN BAGIKU SEMUA SUNNAH NYA INDAH, DAN TAK ADA YANG LEBIH INDAH DIMATAKU SELAIN SUNNAH NABIKU SAW..!”,

Dan ketika namamu terpanggil bertemu dengan nabimu Muhammad saw, jelanglah wajahnya dengan gembira, katakanlah : ?WAHAI KEKASIHKU, WAHAI NABIKU, WAHAI KEBANGGAANKU, AKU DIKELOMPOK PEMBELA SUNNAHMU SAAT BANYAK ORANG MENGINKARINYA..!?

Sabda Rasulullah saw : ?Barangsiapa yang bepaling dari sunnahku maka ia bukan dari golonganku? (shahih Bukhari hadits no. 4776, shahih Muslim hadits no.1401), ?Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku maka sungguh ia mencintaiku, dan yang mencintaiku akan bersamaku di sorga? (HR Tirmidziy) ?Barangsiapa yang berpegang pada sunnahku dimasa rusaknya ummatku, maka baginya pahala 100 orang yang mati syahid? (Azzuhdulkabir hadits no.207).

Dalam kegelapan di lobang kubur yang panas dan sempit terdengarlah rintihan memelas? Gusti? kasihanilah aku.. yang telah lancang menolak kemuliaan-kemuliaan yang diajarkan Nabi Mu saw.. Gusti? adakah kesalahan lebih besar kuperbuat daripada menentang sunnah Nabi Mu.. Gusti? aku telah berani mengangkat akalku diatas hukum Mu dan menganggap buruk apa-apa yang kau muliakan, Gusti? ada apakah pada diriku ini.. Gusti.. hanya engkaulah yang memiliki diriku sepenuhnya, maafkan hamba, kasihani hamba..

?Mereka beriman kepada Rasul dengan apa-apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya dan juga orang-orang mukmin, kesemuanya beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, dan Rasul-Rasul Nya, (mereka berkata), kami tidak membeda-bedakan (mendustakan) diantara Rasul-Rasul Nya, dan mereka berkata : Kami dengar maka kami taat, maka pengampunan Mu wahai Tuhan Kami dan hanya kepada Mu lah kami kembali, tiadalah Allah memaksa seseorang kecuali menurut kemampuannya, maka baginya pahala semua yang ia kerjakan dan baginya dosa yang dikerjakannya, Wahai Tuhan Kami Jangan Kau siksa kami bila kami lupa atau kami salah, Wahai Tuhan Kami jangan Kau bebani kami beban berat sebagai beban yang telah kau bebankan pada mereka yang sebelum kami, Wahai Tuhan Kami janganlah kau bebani kami apa-apa yang kami tak mampu menanggungnya, maafkanlah kami, ampunilah kami, kasihanilah kami, Engkaulah Tuan kami, maka tolonglah kami atas orang-orang kafir (QS Albaqarah 285-286).

3 September 2012

Tujuh Pesan Rasulullah SAW

oleh alifbraja

Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih

Limpahan puji kehadhirat Allah SWT, yang memuliakan kita dengan undangan agung, berkumpul dalam bangunan yang paling agung, dari segenap yang dibangun dibumi Allah, yaitu bait min buyuutillah (rumah dari rumahnya Allah SWT).

Hadirin-hadirot yang dimuliakan Allah, Maha suci Allah SWT, yang memberikan kesejukkan kepada jiwa hamba-hambanya yang beriman, Maha suci Allah SWT, yang selalu mengundang hamba-hambanya kepada taubah, dan ketahuilah, dengan seseorang bertaubah itu, terangkatlah derajatnya, dari hamba yang dimurkai menjadi hamba yang dicintai, dalam sekejap berbalik keadaannya, dari maghdub ila mahbub (dari hamba yang jauh dari rahmatnya Allah), menjadi hamba yang sangat dicintai Allah.
Taubah tidak harus dengan dosa, karena idola kita panutan kita sayyidina Muhammad SAW, diriwayatkan didalam shohihain Bukhori dan Muslim, bertaubat setiap hari lebih dari 100 kali, padahal beliau tidak pernah berbuat dosa, karena apa? karena beliau tahu cintanya Allah kepada orang yang bertaubat, cintanya Allah kepada orang yang bertaubat inilah, yang dikehendaki oleh sang Nabi, beliau makhluk yang paling dicintai Allah, tapi ingin selalu dicintai Allah dan selalu mengejar rahasia kemuliaan taubat.

Hadirin hadirot, ketika seorang hamba sering bertaubat kepada Allah, maka ia diangkat semakin dekat kepada Allah, semakin dekat ia kepada Allah, semakin jauh ia dari dosa-dosa kepada Allah, hadirin hadirot, ketika muncul kerinduan kepada Allah SWT, maka cahaya iman akan menerangi jiwanya dan teranglah jiwanya dengan nama-nama Allah, teranglah sanubarinya dengan cahaya nama-nama Allah SWT, ketika jiwa terang benderang dengan cahaya nama Allah SWT, maka mengalirlah rahasia keagungan nama-Nya, kepada jiwanya, kepada dirinya, ia mengenal Allah sehingga terbit matahari keindahan Allah dalam jiwanya, akan muncul rahasia kemuliaan nama-nama Allah, dalam sifatnya, dalam ucapannya, dalam gerak-geriknya, dalam hari-harinya, muncul sifat kasih sayang pada seluruh hambanya Allah, tiba-tiba sirna kebenciannya kepada musuhnya, berganti dengan doa untuk mereka, ini hadirin, bukan hal yang kecil, tapi memuncul dari cahaya Allah yang ada didalam jiwa, ketika ia berubah menjadi lembut dan berkasih sayang kepada sesama, ketika ia menjadi pemaaf, ketika ia menjadi dermawan, ketika ia jadi idaman Allah, ketika terus dan terus sifat-sifat mulia dari cahaya kemuliaan Allah muncul dalam hari-harinya, ini semua datang dari cahaya khusu’, berawal dari taubat, berawal dari shobba (Rindu kepada Allah), berawal dari sholat, yang setiap ibadah sholat itu merupakan cahaya kerinduan kepada Allah SWT, bukankah sholat itu adalah pelampiasan rindu kepada Allah?
Kita tidak bisa jumpa kepada yang kita rindukan, tapi kita telah berizin menghadapnya, walau belum dengan panca indra, dengan jiwa. Ada orang-orang yang rindu kepada Allah, mereka melampiaskannya dengan sholat, demikian Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih seraya bersabda: “ Ji’lah qurrotu’ain sholah” dijadikan hal yang paling kucintai adalah sholat”, hal yang paling kucintai adalah shalat kata sang Nabi, karena apa? Karena beliau ini orang yang paling mencintai Allah, dan paling dicintai Allah, Allah jadikan yang paling ia cintai dalam perbuatannya adalah sholat, karena sholat adalah pelampiasan ruh Muhammad kepada Allah.

Hadirin hadirot yang dimulaikan Allah, Allah SWT yang sangat merindukan hamba-hambanya ini, sehingga mengundang hambanya 50 kali setiap hari untuk menghadapnya, demi Allah inign dekat kepada hamba-hambanya umat Nabi Muhammad SAW, maka ketika sang Nabi meminta keringanan, maka Allah mengurangkannya sampai 5 waktu, tapi sama dengan 50 waktu, padahal Allah Maha Tahu, bahwa sholat ini akan 5 waktu nantinya, tapi Allah jadikan 50 waktu terlebih dahulu, agar mereka tahu setiap raka’at ini, bagaimana cintaKu dan rinduKu kepada mereka, agar mereka yang Kuberi penglihatan, pendengaran, kehidupan, dan hari-harinya itu dimuka bumi, memahami betapa rinduKu kepada mereka, lantas Allah mengurangkannya menjadi 5 waktu, tapi sama dengan 50 waktu, merugi mereka yang mengecewakan cintanya Allah, yang memutus cintanya Allah SWT, karena dalam setiap terbit dan terbenamnya matahari, kau digulung dengan cinta Allah SWT, dalam ruku’ dan sujud, itulah ucapan-ucapan manusia yang paling agung, tidak pernah kita ucapkan kepada sesama makhluk “Subhaana Robbiyal a’la wa bihamdih” tidak pernah kita ucapkan kepada sesama makhluk “Subhaana Robbiyal ‘azhimi wa bihamdih” ini ucapan-ucapan cinta dan rindu hamba, yang diajarkan Allah untuk hamba-Nya,

Allah yang mengajarkan, ini yang mesti kalian ucapkan, wahai yang Ku cintai, untuk berjumpa dengan cintaKu Allah SWT, hadapilah cintaNya didalam sholat fardhu, itulah lambang keridhoan Ilahi Jalla wa ‘ala, yang merupakan imaduddin, yang merupakan tiangnya agama, karena dari dasar perbuatan inilah maka muncul sifat-sifat luhur dalam perbuatan kita, bila kita temukan perbuatan munkar dalam perbuatan kita, Allah memberikan obatnya, yaitu sempurnakan lagi sholat kita, muncul pertanyaan dalam jiwa banyak dari kita, aku punya maksiat ini, tapi kau tidak bisa kulawan, aku punya dosa ini, tapi aku tidak bisa menghindarinya, obati dengan sholat “Innasholaata tanha ‘anil fahsyaai wal munkar” sebagian orang berkata; untuk apa sholat kalau masih terus bermaksiat? justru terbalik, dengan banyaknya maksiat itu, obati dengan menyempurnakan sholat, obati dengan khusu’ obati dengan ucapan ruku’ dan sujud yang didalami makna, obati dengan kedalaman jiwa, saat menghadapi cinta dan rindunya Allah SWT.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Pada perjumpaan kita yang lalu, saya menukil salah satu pesan dari Nabi Muhammad SAW, berupa tujuh pesan wasiat Nabi Muhammad SAW yang belum diselesaikan, kita lanjutkan lagi tujuh pesan itu, adalah ’iyaadatul mariidh” mengunjungi orang yang sakit, dan ini telah saya jelaskan malam selasa yang lalu, dan yang kedua adalah “Ittiba’il janazah” mengikuti jenazah dan mengantarnya” ini telah dijelaskan, dan yang ketiga “Tasymitul ‘aathis” mendoakan orang yang bersin”, orang yang sakitnya paling ringan itu ya bersin, sakit yang paling ringan, kita doakan, ini warisan dari indahnya akhlak sang Nabi, dan yang empat adalah “ibroorilqosim” , yaitu “menjalankan sumpah” , mereka yang bersumpah dengan nama Allah SWT wajib untuk melakukannya dan bila mereka tidak mampu melakukan apa yang telah ia sumpahkan maka kafaratnya berpuasa empat hari, hadirin hadirot yang dimuliakan Allah yang selanjutnya yang kelima adalah “Nasrul mazhlum” menolong orang yang dizholimi” , ini adalah salah satu sifat agung, yang sangat dicintai Allah, karena Allah Maha menolong hamba-hamba yang dizholimi, sehingga dalam beberapa majlis yang lalu, kita telah mendengar hadits Nabi Muhammad SAW riwayat Shohih Bukhori “Ittaquu da’watal madzlum fainnahu laisa bainahu wa bainallahi hijaab“ berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT” . Allah menjawab doa orang yang dizholimi, walaupun dari orang yang diluar Islam.

Hadirin hadirot, demikian jumhur (kesepakatan/ kebanyakan pendapat) para ulama, bahwa orang yang dizholimi itu dikabul doanya oleh Allah, walaupun ia diluar Islam, karena apa? Bukan karena ia diterima imannya oleh Allah, tapi keadilan Allah SWT kepada hambaNya, sebagaimana sang Nabi pun, ketika orang-orang non muslim dizholimi oleh orang muslim, sang Nabi menghukumnya, sang Nabi membela orang tersebut, ia mengadu sebagaimana riwayat Shohih Bukhori “salah seorang Yahudi datang kepada sang Nabi, ya Rasulullah, ada dari shahabatmu menamparku, kenapa kau ditampar? Karena aku berkata; Nabi Musa lebih mulia dari engkau, tentunya menurut agamakan kepercayaannya, maka Rasul memanggil Shahabat itu kehadapan sang Nabi, sekarang wahai Yahudi, tampar balik shahabatku ini, demikian qishosh (hukum timbal balik) sang Nabi, membela orang non muslim yang dizholimi, demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.

Demikian pula Allah, ketika Nabiyyullah Musa AS menghadapi Qorun yang sangat kaya raya, dan ia itu kufur kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa memerintahkannya bertaubat, dan Qorun pun menolak, maka Musa AS berdoa kepada Allah “wahai bumi telanlah Qorun ini sampai kelututnya” maka bumi menelannya sampai kelutut, dan Qorun tetap tidak mau bertaubat maka Nabi Musa berkata “wahai bumi pendam ia sampai keperutnya” maka bumi memendamnya sampai keperutnya, dan Qorun tetap belum bertaubat, lantas Musa AS berkata “wahai bumi pendam ia sampai kelehernya” dan setelah itu Qorun berkata “yaa Musa (wahai Musa)…”, Nabi Musa berkata “wahai bumi pendam ia dengan seluruh tumpukkan hartanya”, maka disaat itu Allah menurunkan malaikat kepada Nabi Musa dan menegur Musa “ya Musa Lau da’aanii fa ajabtu” wahai Musa kalau Qorun ini memanggil namaKu akan kujawab taubatnya.

Demikian hadirin hadirot, Maha Indahnya Allah, Maha Lembutnya Allah kepada orang-orang yang telah kufur kepada Allah SWT. Allah sangat lembut kepada hamba-hambanya, diriwayatkan dalam Shohih Bukhori ketika salah seorang Nabi, yang ia itu digigit oleh seekor semut yang berbisa, dibawah sebuah pohon, maka sang Nabi memerintahkan umatnya untuk membakar pohon tersebut, maka turunlah malaikat mengatakan “Allah menyampaikan salam kepadamu; “fahalla namlatun waahidah” kau membakar seluruh Negara semut padahal hanya satu yang berbuat kesalahan” perbuatan sang Nabi itu, (bukan sang Nabi Muhammad SAW), sebelum beliau, perbuatan Nabi itu adalah benar, karena ia mengetahui bahwa seekor semut yang berbisa ini membahayakan umatnya kelak, semua yang duduk ditempat itu akan terbahayakan.
Al-hafizh al-Imam ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul barii bi syarah Shohihul Bukhori, menjelaskan kejadian ini, bahwa yang dimaksud oleh Allah menurunkan malaikat dan mengatakan “fahalla namlatun waahidah” bukankah yang bersalah cuma seekor semut saja? Adalah tahdid, untuk mengangkat akhlak dan budi pekerti sang Nabi itu kepada yang lebih lembut dan kasih sayang kepada Allah, tapi perbuatannya tidak salah, karena perbuatan para Nabi itu ma’sum (tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa), perbuatannya adalah demi keamanan bagi manusia, akan tetapi Allah menegurnya, menunjukkan Maha lembutnya Allah, bukankah hanya seekor semut saja kata Allah SWT dan kau membunuh sedemikian banyak semut lainnya.

Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, “Nasrul mazhlum” menolong orang-orang yang dizholimi adalah perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah, sehingga diriwayatkan didalam Shohih Bukhori “ketika ada orang yang ketika dihari kiamat ia kehabisan amal, maka ia berkata kepada Allah; ya Robb aku dahulu, si fulan didalam kesulitan aku membantunya, fulan dalam kesulitan aku membantunya, fulan dalam kesedihan aku menghiburnya, maka Allah SWT berkata kepada para malaikat; “Tajaawaz ‘anhu” maka tolonglah dia, kata Allah; tolonglah dia, demikian hadirin hadirot Allah memuliakan orang-orang yang menolong orang-orang yang zholim dan Rasul tidak menyisakan satu kemuliaan pun dalam kehidupan ini terkecuali telah diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW,

Kunci-kunci keridhoan Ilahi SWT dan yang keenam adalah “wa roddissalam” menjawab salam”, menjawab salam ini kecil hadirin hadirot, sebenarnya remeh saja, tapi kalau kita renungkan, ini menyambung silaturrahmi pada orang-orang yang tidak kita kenal, karena salam bukan hanya untuk orang yang kita kenal, untuk semua orang yang tidak kenal, yang kenal dan tidak kenal maka ia menjawab salam, kita bertemu dengan seseorang yang tidak kita kenal, kita ucapkan salam hormat padanya, ia menjawab, selesai, satu dua tahun lagi misalnya berjumpa lagi, ia akan kenali orang yang mengucap salam padaku padahal aku tidak kenal padanya , ketika ia terjebak dalam kesulitan orang itu akan menolongnya, ini orang berakhlak baik, ia tidak kenal padaku, ia berikan salam hormat padaku, hubungan kasih sayang, antara umat Nabi Muhammad SAW satu sama lain, tanpa mengenalnya, tanpa perlu pengakraban, tapi ucapan salam itu yang menyambung mereka satu sama lain, demikian hadirin hadirot Allah menginginkan ucapan salam sejahtera yang berasal dari nama-Nya yang Maha Agung, Maha Penyejahtera, disebarkan antara muslimin muslmat satu sama lain, bahkan kapada sholihin yang telah wafat, didalam sholat kita selalu mengucapkan “assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahishoolihin“
Rasul bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori “barang siapa yang mengucap ‘assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahishoolihin’ didalam sholatnya, maka Allah SWT menyampaikan salamnya kepada seluruh hamba Allah yang sholeh dilangit dan bumi”. Demikian hadirin hadirot, satu ucapan itu, menyambung silaturrahmi kita kepada seluruh hamba Allah yang sholeh, yang masih hidup dan yang telah wafat, untuk nanti dihari kiamat, orang-orang sholeh semua mengenal umat Nabi Muhammad SAW, ia bersalam kepada kami, disampaikan salamnya oleh Allah kepada kami tanpa kita mengenalnya, muncul nanti umat akhiruzzaman (akhir zaman) sudah satu kelompok dengan orang-orang yang sholeh, sudah dikenal dan berkenalan dengan orang yang sholeh karena selalu menyampaikan salam kepada mereka, demikian hebatnya Allah menyambung kemulian umat ini satu sama lain, bertemu seluruh hamba Allah yang sholeh dilangit dan bumi.

“Wa roddissalam wa ijaabatuddaa’i; dan mendatangi undangan-undangan”, yaitu undangan walimah, undangan akad nikah, ini adalah hal yang sangat disarankan oleh sang Nabi untuk dihadiri, sebagian ulama mengatakan haram orang yang tidak mendatangi undangan walimah tanpa uzur, ini tujuh wasiat dari Nabi kita Muhammad SAW. Mengenai hadits yang kita baca ini, telah dijelaskan dengan gamblang dimalam selasa yang lalu, dibawa kertas ini pada yang telah menikah, maka ia membawanya, dan yang belum menikah simpan sampai waktunya menikah, akan muncul keturunan-keturunanmu yang terjaga dari kekuatan syaithon, akan dijaga oleh Allah SWT, sebagai mana sabda sang Nabi “Lam yadhurrahusyaithoonu abadaa”, syaithon tidak akan bisa membawa mudhorot kepadanya, banyak muslimin muslimat sekarang yang sudah dihancur leburkan oleh syaithon, dengan hartakah, kedudukan kah, dengan apapun, dengan hawa nafsu, sehingga mereka hancur lebur, akan muncul insya Allah keturunan-keturunan kita kelak yang tidak bisa diganggu oleh syaithon selama-lamanya, ya Robb ya Rahman ya Rahim.
Nabi kita Muhammad SAW adalah semulia-mulia manusia, sangat mengajarkan kesederhanaan, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori : “ketika Rasul SAW menikah, bagaimana sang Nabi SAW menikah? Bagaimana jamuan makanan, jamuan makan saat pernikahan sang Nabi? Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, ketika Rasul menikah, jamuan makannya adalah dua genggam “sya’iir” muddain minasya’iir” dua genggam terigu”. Dua genggam terigu itu, yang ada untuk masakan menyambut hari pernikahan sang Nabi, dua genggam tergu itu hadirin, kalau dibikin roti, kira-kira jadi sepuluh potong saja, roti tanpa ada lauknya sama sekali, kalau kita bertanya, bagaimana jamuan pernikahan sang Nabi? itulah jamuan pernikahan Rasulullah SAW, hari pernikahan Rasulullah SAW seperti itu, ini sunnah yang sangat-sangat hampir punah dimasa kita, muslimin muslimat sekarang malu mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW, para aslafunasshoolihin sebagian dari ulama-ulama kita salafussholeh masih mengamalkan ini, mereka masih membawakan jamuan lain karena memang ada keluasan harta, jamuan lain mereka munculkan, tapi tetap mereka memasak dua genggam terigu, sehingga menjadi beberapa potong roti, untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, karena inilah sunnahnya Rasulullah SAW, sebagian besar muslimin merasa hina jika mengamalkan sunnah Nabinya, hadirin hadirot jika kita belum mampu mengamalkannya, paling tidak kita tahu ini sunnah Nabi Muhammad SAW. Sunnah Rasul bukanlah dengan jamuan yang mewah disaat pernikahan, bukan itu sunah sang Nabi, demikian sederhananya Nabi kita dan idola kita Muhammad Rasulullah SAW.

Dan beliau SAW bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori : ”Syarrutho’aam tho’aamulwaliimah di’aa fiihal’afaani wa yutrokul fukoro”, seburuk-buruk hidangan adalah hidangan pernikahan yang didalamnya hanya diundang orang-orang kaya saja tanpa mengundang orang-orang fuqoro”, ini seburuk-buruk hidangan kata Nabi Muhammad SAW, bukan berarti haram tentunya, bukan berarti haram tentunya, tetap halal, akan tetapi sang Nabi bicara seperti ini, menuntun umatnya agar muncul keseimbangan antara fuqoro (miskin) dan aghniya (kaya orang mampu), bisa saja Rasul mengatakan wajib, bisa saja orang berkata ; aku mengundang tamu-tamuku saja ini orang-orang mampu, orang-orang fuqoro nanti bisa sedekah sebanyak-banyaknya, tidak demikian, karena apa? Karena Rasul memahami keseimbangan hidup dan keberkahan pernikahan.
Orang-orang fuqoro ketika diundang jamuan pernikahan orang-orang kaya, barang kali ada yang lima enam tahun tidak pernah menyentuh makanan ini, seumur hidupnya belum pernah kenal dengan makanan model seperti itu, jika menyantapnya, maka ia akan berkata, masyaAllah Alhamdulillah berkah ini berkah, demikian hebatnya sang Nabi SAW menyatukan doa-doa para fuqoro, agar membawa keberkahan bagi kedua mempelai, demikian hebatnya sang Nabi SAW, tidak perlu berkata minta doa pada fuqoro karena doa mereka qobul, tidak demikian, Rasul menyeimbangkannya agar mereka tetap makan makanan para aghniya dalam undangan itu, membawa keberkahan bagi kedua mempelai, demikian indahnya Nabi kita Muhammad SAW, dalam setiap sunnah beliau tersimpan sedemikian banyak hikmah Ilahiyyah.
Diriwayatkan didalam Shohihul Bukhori Rasul SAW menyampaikan (yang sampai) kepada kita betapa indahnya budi pekerti beliau, ketika orang-orang dalam keramaian “Urs, ‘urs itu pesta pernikahan Anshor, diMadinatul Munawarah dari zaman dahulu sudah ada pesta pernikahan, zaman dahulu sudah ada kegembiraan dalam pernikahan, nah didalam kegembiraan itu tentunya para shahabat ingin tahu, kegembiraan seperti ini disetujui tidak oleh sang Nabi, padahal itu, pesta seperti itu tentunya merujuk kepada ghoflah (lupa dari Allah), tertawa terbahak-bahak dan lain sebagainya dalam pesta, barangkali ada lawaknya barangkali ada pentasnya dan lainnya, itu membuat seseorang lupa dari Allah, tapi bagaimana sang Nabi berbuat, apa beliau berkata ini munkar munkar bubarkan, tidak demikian, sang Nabi duduk ditempat yang jauh, melihat mereka yang berada dalam pernikahan itu dan mereka keluar, kau meninggalkan anak-anakmu pulang dari pada jamuan pesta pernikahan itu, Nabi SAW berbuat memalingkan konsentrasi mereka kepada khusu’ seraya berdiri dan berkata “Allahumma innak wa muhabbinnaas ilayya” demi Allah sungguh kalian ini orang yang paling kucintai”, coba hadirin hadirot kita bertanya, hubungannya apa antara pesta pernikahan dengan ucapan sang Nabi, wahai Allah sungguh mereka inilah orang yang paling kucintai, bagaimana nyambungnya kejadian ini, ini sang Nabi ingin membalilkkan jiwa mereka dari ghoflah kepada cinta kepada Nabi Muhammad SAW, dari mereka yang sedang tenggelam dalam hal-hal yang barangkali melupakan mereka dari khusu’nya sholat dari dzikirnya dipalingkan kembali dengan mendengar ucapan itu tentunya jiwa mereka berbalik, lebih mencintai sang Nabi,
Masya Allah kita yang keluar dari acara, kalau bahasa kita seakan-akan mau dimahari oleh sang Nabi atau diomeli oleh sang Nabi karena sudah berbuat acara besar-besaran perayaan pernikahan, ternyata tidak demikian, Nabi kita malah berkata; wahai Allah sungguh kalian adalah orang yang paling kucintai, rahasia kedalaman tarbiyah dan pendidikan qolbiyah yang mengajak jiwa mereka kembali pada kecintaan pada Nabi kita Muhammad SAW, demikian hebatnya tarbiyah sang Nabi dan bimbingan beliau untuk menghalau umatnya ini dari kemunkaran. Bagaimana orang kalau tenggelam dalam kemunkaran zaman sekarang misalnya ada orang yang tenggelam dalam mabuk-mabukan didiskoti atau dikafe-kafe, apa yang kita ucapkan? Barangkali kita menyindirnya, ini orang ahli munkar, pendosa, penjahat, ini ahli maksiat, tapi tidak demikian akhlak sang Nabi hadirin hadirot, bagaimana cara mereka kembali pada kemuliaan?

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, diriwayatkan ketika al-Imam Hasan al-Bashri, dilapori tentang suatu kelompok ditepi pantai yang dipenuhi dengan maksiat dan kejahatan, ini menganggu masyarakat sekitar, kerjanya cuma mabuk-mabukan dan berbuat dosa, Imam Hasan al-Bashri berkata “bangkit sekarang, kita datangi, maka semua murid-muridnya dan masyarakat bangkit, tentunya dikira akan dihancurkan, zaman sekarangkan berlakunya demikian sebagian saudara kita, akan tetapi Iman Hasan al-Bashri sampai disana seraya mengangkat kedua telapak tangannya ”Allahumma kamaa farrohtahum fiddunia farrih hum fil akhiroh” Wahai Allah sebagaimana Kau buat mereka gembira di dunia kami ingin mereka gembira juga di akhirat”, doa ini hadirin hadirot langsung kehadiratullah, dari jiwa yang ikhlas, akhlak pilihan. Kita sudah berbuat dosa dan maksiat, yang datang Imam Hasan al-Bashri, takut semuanya, tahu karena ini imam besar, akan tetapi bukan malah marah tetapi didoakan mereka ini, maka semuanya bertaubat kepada Allah SWT, demikian hebatnya akhlak Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih.
Hadirn hadirot, Nabi kita diriwayatkan didalam Shohih Bukhori; beliau ingin membantu pekerjaan isterinya dirumah, bila tidak ada kesibukan beliau pun bersama isterinya bahkan mencuci pakaian, atau pun menambal sandal atau pun berbuat apapun dirumah, turut membantu isterinya dirumah, bila azan beliau tinggalkan seluruh aktifitas untuk menuju sholat, demikian indahnya idola kita sayyidina wa maulana Muhammad SAW wa barak’alaih, dan beliau ini sangat-sangat dermawan, hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, dan jangan dikira Nabi ini miskin, Nabi itu hadirin hadirot setelah fatha Makkah kaya raya, tapi beliau tidak mau menggunakan hartanya, sangat kaya raya, beliau membagi-bagikan banyak kepada para fuqoro, bahkan seraya berani berkata setelah fatha Makkah, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, beliau bersabda: “Seandainya diantara kalian wafat, masih meninggalkan harta, silahkan bagikan hartanya, kalau meninggalkan hutang (falyahtinii wa ana maulaahu)” demikian diriwayatkan didalam shohih bukhori, masih ada muslimin punya hutang, datang padaku, aku yang akan menyelesaikannya, demikian jiwa besar Nabiyyuna Muhammad SAW wa barok’alaihi wa ‘ala alaih,
akan tetapi dalam kesederhanaannya, dalam cara pernikahannya, hanya sekelumit (sedikit) orang-orang ini saja, itulah yang tidak pernah kita temukan ditimur dan barat sepanjang zaman, mereka yang mengikutinya pasti dicintainya, mereka yang mengikutinya dicintai fiddunia wal akhiroh dan masih dicintai oleh Allah SWT, karena Allah SWT telah menjamin “Inkuntum tuhibbuunallah fattabi’uunii yuhbib kumullah” , jika kalian mencintai Allah, ikutilah Nabi Muhammad SAW, kalian akan dicintai oleh Allah, semakin kita mengikuti budi pekerti beliau ini, tidak mampu 100 persen sunnahnya, tidak mampu setengahnya, atau sedikit saja yang kita ikuti dari perbuatan sang Nabi, ada bentuk cintanya Allah yang menjanjikan untukmu, makin besar perbuatan kita mengamalkan sunnah makin besar cintanya Allah, alangkah indahnya orang yang memahami, ingin dicintai Allah adalah dengan mengikuti Muhammad Rasulullah SAW wa barok’alaihi wa ‘ala alaih.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori; dimana Rasul SAW sangat menjaga umat, jangan sampai berlebihan ibadah, jangan sampai berlebihan didalam maksiat, diriwayatkan ketika salah seorang sahabat ra berpuasa disiang hari setiap hari dan ia melakukan sholat malam setiap malam sepanjang malam, Rasul SAW memanggilnya “engkau yang kudengar setiap hari berpuasa dan setiap malam beribadah sepanjang malam?”, “Betul wahai Rasulullah SAW,” Rasul berkata “fala taf’al (jangan kau perbuat), shum wa afthir wa kum wa nam” bangun malam tapi juga ada tidurnya, tidurlah juga diantara bangun malammu dimalam hari, puasa boleh tapi jangan setiap hari mesti ada bukanya, demikian indahnya, sang Nabi seraya bersabda: “inna li jasadika ‘alaika haqqo wa inna li ‘ainika ‘alaika haqqo wa inna li zaujika ‘alaika haqqo” Dan sungguh tubuhmu itu mempunyai hak pada dirimu, matamu mempunyai hak, isterimu (keluargamu) mempunyai hak.
Demikian indahnya, Nabi kita Muhammad SAW mengajari kita, sehingga kita terpacu untuk selalu beribadah tapi jangan lupa, mata kita mempunyai hak , tubuh kita mempunyai hak untuk ibadah juga, jangan dipakai terus untuk maksiat siang dan malam, mata ini butuh air mata khusu’, demikian tubuh membutuhkan ruku’ dan sujud, makin besar dosa-dosa kita maka perbanyak ibadah kita, dan kita mempunyai keluarga yang keluarga kita mempunyai hak atas diri kita, jangan sampai kita jadikan keluarga kita itu, adalah hanya tuntunan dosa dan keduniawian, ajarkan mereka kemuliaan, ajarkan mereka keluhuran. Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah indah sekali tuntunan Nabi kita Muhammad SAW, inilah semulia-mulia idola, inilah semulia-mulia kekasih yang dengan mengikutinya akan terbit cahaya kecintaan Allah SWT kepada kita. Hadirin hadirot bangkitkan jiwa kita dengan lantunan nama Allah, terangilah jiwamu dengan nama-nama Allah SWT, yang Allah SWT telah berfirman “Wa lillaahil asmaail husna fad’uhu biha” Sungguh Allah itu mempunyai nama-nama yang agung maka serulah Dia” Yang meminta kita memanggil nama-Nya.
Bangkitlah (wahai) hadirin hadirot, bangkitlah dengan keagungan nama Allah, bangkitkan kekhusu’an dengan keagungan nama Allah, bangkitkan kebahagiaan dalam hidupmu dengan keagungan nama Allah, bangkitkan pengampunan-Nya dengan memanggil nama Alah, bangkitkan kekuatan dunia dan akhirat, kesejukan jiwa, kebahagiaan dunia, tercapainya hajat, kebahagiaan kekal dan abadi diakhirat, lepas dari siksa kubur, bangkitkan itu semua beserta kemuliaannya dengan memanggil nama Allahu Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, kita telah dengar firman-Nya: ”Walillahil amsail husna fad’uhu biha” Allah memberi nama-nama yang indah yaitu asmaul husna maka serulah dia, perintah dari Robbul’alamin, mengundang yang terpanggil dalam kemuliaan untuk memanggil nama-Nya. Kita mengenal 99 nama Alah, diriwayatkan didalam riwayat yang shohih “Barang siapa yang menghapalnya, tidak akan pernah menyentuh api neraka selama-lamanya” dan satu dari 99 nama Allah itu adalah Allah, ini adalah “sulthoonudzikir” (raja dari semua dzikir) kepada al-ma’rifatillah, karena berkumpul seluruh keagungan nama Allah pada kalimat Allah, maka hadirin hadirot kita bermunajat memanggil nama-Nya, menenangkan jiwa kita, menenangkan keadaan kita, menenangkan kerisauan kita, menenangkan permasalahan kita, menenangkan kehidupan kita, maka jadilah terbit dan terbenamnya matahari kesejukan dan kebahagian bagi kita, ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Rahman ya Rahim ya Dzaljalaali wal ikroom. Hadirin hadirot seluruh kenikmatan dunia dan akhirat berawal dari Allah SWT, seluruh kebahagiaan dunia dan akhirat dari Allah SWT, yang menerbitkan matahari dan membuat alam semesta ini ada, yang menciptakan milyaran planet terhampar dialam semesta bertasbih mengagungkan nama-Nya, sehingga jiwa kita didalam pelita-Nya yang terang benderang dengan nama Allah SWT.

3 September 2012

Pahala Bagi Yang Memperbaiki Keislamannya

oleh alifbraja

 

0
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: :
إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا
( صحيح البخاري )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila salah seorang dari kamu sekalian membaguskan keislamannya maka pada setiap kebaikan yang dia perbuat akan dilipat gandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan kejahatan yang dia perbuat akan dibalas sepadan dengan kejahatannya”.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذِهِ الْجَلْسَةِ الْمُبَارَكَةِ
Limpahan puji kehadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa tunggal nan abadi yang menyeru hamba-hambaNya kepada keluhuran, menuntun kepada kebahagiaan dunia dan akhirah, mengutus sang pembawa tuntunan kebahagiaan dunia dan akhirah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maha suci Allah yang menjadikan kenikmatan akan berlipat ganda menjadi kenikmatan yang lebih besar jika ia bersyukur dan memuji Allah. Rahasia dari bertambahnya kenikmatan adalah dengan bersyukur dan memuji Allah, pujian kepada Allah membuka rahasia kenikmatan yang baru setelah kenikmatan yang telah ada. Maha suci Allah yang maha membuka kesempatan bagi hamba-hambaNya untuk mendapatkan limpahan anugerah diatas anugerah dengan ia memuji Allah, dengan ia mencintai Allah, dengan ia mengagungkan Allah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Fahamilah rahasia kekuasaan sang pemilik dunia dan akhirah yang memiliki segala kenikmatan, yang maha merubah kehidupan menjadi kehidupan yang lebih indah atau berubah menjadi kematian dan setelah itu selesai kehidupan selanjutnya.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ، إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ، فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ، الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ( قريش: 1-4 )
“Karena kebiasaan dan kenikmatan pada orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, maka hendaklahpara hamba menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kabah), yang telah memberi makanan kepada mereka saat mereka lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. ( QS. Qurays: 1-4 )
Firman Allah untuk orang qurays agar tenang dan bersabar, sebagaiamana mereka tenang dan santai saat melewati hari-hari di musim panas dan musim dingin, maka hendaklah mereka (bukan hanya orang qurays saja, melainkan semua hamba Allah ) untuk menyembah Sang pemilik Ka’bah Al Musyarrafah yaitu Allah. Siapakah Allah?, maka Allah mengenalkan dzatNya, Dialah Allah yang memberi mereka makan saat mereka lapar, dan memberi mereka keamanan saat mereka dalam kerisauan. Tidak ada manusia yang bisa makan kecuali ia telah diizinkan oleh Allah, walaupun ia dalam keadaan lapar dan makanan ada dihadapannya, tapi bukankah seluruh sel adalah milik Allah, dan jika Allah berkehendak dalam sekejap tubuhnya lumpuh maka ia tidak akan bisa menyentuh makanan yang ada dihadapannya, jika Allah kehendaki bibirnya sakit maka tidak satu suapan atau bahkan sebutir nasi pun yang bisa melewati tenggorokannya.
Maka Allah lah yang menyuapi kita hingga sampai makanan ke mulut kita, mulai dari makanan itu ditanam, kemudian tumbuh lalu dimasak dengan api yang juga milik Allah, Allah yang menciptakannya, Allah pula yang menciptakan air, Allah yang menciptakan matahari, Allah yang menciptakan hewan, Allah yang menciptakan tumbuhan, sedangkan kita hanya menternaknya, kita hanya memperbanyaknya, kita hanya menanamnya, namun asal muasalnya bukan dari kita, tapi dari sang maha memberi, Allah subhanahu waa’ala.
Mulai dari kita menanamnya maka berapa ribu kenikmatan yang terus berlimpah kepada kita hingga makanan itu sampai ke mulut kita. Walaupun seseorang memiliki harta yang berlimpah jika Allah tidak mengizinkan ia makan maka berhari-hari ia akan kelaparan dan tetap tidak diperbolehkan makan karena penyakit yang dideritanya.
Dikatakan oleh hujjatul islam Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali At Thusiy rahimahullah, ia menjelaskan bahwa tiadalah rizki yang akan sampai ke mulut kita kecuali telah tertulis nama kita pada rizki itu, jika itu buah pisang atau sebutir beras pun maka telah tertulis nama kita bahwa rizki ini akan sampai ke mulut si fulan bin fulan, maka hal yang demikian sudah ditentukan oleh Allah.
Walaupun ia berada di tempat yang sangat dekat dengan makanan itu tetapi itu bukan rizkinya, maka makanan itu tidak akan sampai ke mulutnya, entah makanan itu dicuri, atau ia ada kesibukan lain sehingga makanan itu ia tinggalkan, atau makanan itu tumpah dan lainnya, karena dalam rizki itu tertulis milik hewan, mungkin milik kucing, milik ikan, milik anjing dan yang lainnya, maka makanan itu bukan rizkinya walaupun sudah ada dihadapannya, rizkinya adalah makanan yang telah sampai ke mulutnya dan yang ia telan, yang pada hakikatnya ia diberi makan oleh Allah subhanahu wata’ala, namun sebagian orang tidak mau menembus hakikat kehidupan ini, hakikat datangnya makanan, hakikat datangnya minuman, hakikat kehidupannya datangnya dari mana dan lain sebagainya, padahal jika ia renungkan ia akan temukan bahwa Allah sang maha raja langit dan bumi, dan maha mengamankan mereka dari kerisauan.
Surat Quraiys ini banyak dibaca oleh para ‘arif billah (ulama shalihin) untuk mengabulkan hajatnya, untuk memperluas rizkinya dan untuk mengamankannya dari kerisauan. Surat Qurays ini ada di juz 30 dalam Al qur’an dan termasuk surat pendek yang hanya 4 ayat, terletak beberapa surat dari surat An Naas. Maka renungkan kemuliaannya, dapatkan keluhuran dan keberkahannya dengan memperbanyak membaca surat ini, insyaallah rizki Allah dan rasa aman dari kerisauan akan didapatkan.
Tetapi mengapa masih banyak orang miskin yang kelaparan?!, ingatlah tanpa kita ketahui bahwa mungkin Allah tidak mau memberinya makan pada saat itu, namun kita jangan berkata bahwa kaum fuqara’ tidak ada yang memperhatikan, karena banyak pula orang kaya yang kelaparan dan kehausan (karena penyakit yg dideritanya).
Maka fahamilah, barangkali orang yang merasa lapar saat ini Allah tunda rizkinya hingga esok di hari kiamat atau mungkin di masa mendatangnya Allah tumpahkan rizki yang luas untuknya. Dan sebaliknya orang yang sedang dalam kenikmatan berhati-hatilah karena bisa saja Allah merubah keadaannya. Hadirin hadirat, sampai kabar kepada saya lewat surat, sms, dan email dari adik-adik kita yang bersyukur karena lulus dalam ujian, dan banyak juga yang mengeluh karena tidak lulus. Jangan risau jika tidak lulus karena hal itu adalah cobaan dari Allah subhanahu wata’ala, dan jika kau sabar dan tenang maka kau akan mendapatkan kesuksesan yang hanya milik Allah subhanahu wata’ala, kesuksesan bukan milik siapa-siapa tetapi hanya milik Allah, jadi jika tidak lulus ujian atau yang lainnya maka teruslah berusaha untuk lulus, teruslah berusaha untuk sukses di dunia ini namun jangan menentang tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dengan menjauhi hal-hal yang haram maka engkau akan mendapatkan kesuksesan, terlebih lagi para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dikatakan oleh para ulama’ kita: “Barangsiapa yang cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia aman dan berada dalam keselamatan dunia dan akhirah”.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Maka betapa meruginya mereka-mereka yang terus berpaling dari keluhuran, menampik rahasia kelembutan Allah dan tidak mau mendekat kepada Allah, sungguh kasihan mereka yang selalu menolak untuk mendapatkan kemuliaan dan selalu ingin melangkah ke tempat yang penuh dengan kehinaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَوْلَا أَنْ تَدَافَنُوْا لَسَأَلتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ
” Jika seandainya aku tidak khawatir kalian meninggal/hilang pendengaran kalian aku akan meminta kepada Allah agar memeperdengarkan kepada kalian siksa kubur.”(Shahih Muslim)
Namun hal itu tidak diinginkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau tidak ingin ummatnya merasa ketakutan, tetapi beliau lebih menginginkan mendoakan ummatnya dengan keluhuran dan pengampunan dan jangan sampai suara siksaan ahli kubur terdengar oleh mereka. Hadirin hadirat, mereka yang memenuhi panggung-panggung dosa di dalam kehinaan dan menyanjung orang-orang yang tidak pernah bersujud kepada Allah, jika mereka mendengar suara temannya yang menggelepar di dalam kubur maka mereka akan lari ke majelis dzikir untuk menyelamatkan diri dari kemurkaan Allah, mereka akan berlari ke majelis-mejelis seperti ini untuk bernaung di bawah keridhaan Ilahi. Namun mereka yang seperti itu bukan untuk dibenci atau dicaci tetapi untuk didoakan dan dikasihani, semoga Allah melimpahkan hidayah kepada mereka.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari:
أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ اْلقَلْبُ
“Ingatlah bahwa didalam tubuh ini ada segumpal darah, yang apabila segumpal darah itu baik maka akan menjadi baik pula seluruh tubuh ini, dan apabila segumpal darah itu buruk maka akan menjadi buruk pula seluruh tubuh ini. Ingatlah bahwa segumpal darah itu adalah hati.”
Hadirin hadirat, ketahuilah bahwa getaran sanubari kita itulah yang menjadi nakhoda bagi perbuatan tubuh kita dan bersatu dengan alam pemikiran, dua hal inilah yang menguasai, dan kekuasaan tertinggi ada pada sanubari kita, jika sanubari kita baik maka ucapannya pun baik, yang ia dengarkan baik, perbuatannya baik, dan segala-galanya baik, dan ia menjadi rahasia kebaikan dan menjadi sumber kebaikan jika ia adalah orang yang mau mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia menjadi gerbang kebaikan pula untuk yang lainnya, sebagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bagaimana mulianya duduk bersama dengan orang shalih dan bagaimana meruginya bersama orang yang selalu berbuat maksiat. Dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa orang yang duduk bersama para shalihin bagaikan orang yang duduk dengan penjual minyak wangi, walaupun ia tidak membelinya ia akan kebagian wanginya. Dan orang yang duduk dengan orang yang sedang berbuat dosa maka ia seperti orang yang duduk dengan orang pandai besi, meskipun ia tidak membeli besinya ia akan terkena pecahan bara apinya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dari itulah kita memahami bahwa semerbak wangi tersebar dari para shalihin kepada orang yang duduk disekitarnya, dan juga orang yang duduk bersama ahli dzikir, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan firman Allah subhanahu wata’ala di dalam hadits Qudsy riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata’ala berfirman kepada para malaikat yang hadir di majelis dzikir:
أُشْهِدُكُمْ يَامَلَائِكَتِيْ إِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ
” Aku jadikan kalian saksi wahai malaikatKu, sungguh Aku telah mengampuni mereka “
Maka para malaikat berkata: ” wahai Allah, ada diantara mereka yang kehadirannya tidak ikhlas dan bukan untuk dzikir “, maka Allah berfirman kepada malaikat:
هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ
“Mereka yang sama-sama duduk itu tidak akan celaka oleh teman duduk mereka”
Mereka yang duduk bersama ahli dzikir tidak akan dihinakan oleh Allah. Dihinakan, maksudnya bisa kehinaan dunia atau kehinaan akhirah. Di akhirat kelak ada orang-orang yang ditimpa musibah sehingga amal pahalanya sangat sedikit dan ia harus masuk ke neraka terlebih dahulu jika ia muslim, maka dikatakan kepada semua orang yang menyaksikan di padang mahsyar ” Fulan bin fulan dalam kehinaan dan tidak akan menemukan kebaikan selama-lamanya”, maka ia pun digiring kedalam neraka. Dan dipanggil lagi yang lainnya: ” fulan bin fulan ….dan seterusnya, hingga tibalah giliran orang yang mulia dipanggil untuk menghadap Allah, maka dikatakan kepadanya: ” fulan bin fulan dalam kemuliaan dan tidak akan mendapatkan kehinaan selama-lamanya”, hal ini dikatakan oleh Allah untuk mereka yang duduk bersama orang yang berdzikir di majelis dzikir, hanya duduk saja dan diam tanpa ikut berdzikir, maka mereka tidak akan dihinakan oleh Allah. Mereka yang berteman dengan ahli dzikir, yang berteman dengan para shalihin, yang berteman dengan para ulama’ , yang dekat dan duduk dengan guru-guru yang mulia maka sungguh beruntunglah mereka, karena mereka tidak akan mendapatkan kehinaan. Apa kehinaan itu? Kehinaan itu sangat banyak dan kehinaan yang terbesar adalah api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
” Seseorang bersama orang yang dicintai “
Maka benahilah sanubari kita, benahilah hati kita karena jika hati kita baik maka baik pula perbuatan kita, dan jika hati ini buruk maka buruk pula perbuatan kita, muncul banyak pertanyaan tentang bagaimana membenahi hati, seperti memerangi riya’, memerangi ‘ujub, memerangi sombong, memerangi hasad, memerangi iri atau dengki dan lain sebagainya dari penyakit-penyakit hati. Kalau kita berbicara secara tafsil (terperinci) maka obatnya kita temukan di kitab Ihya Ulumuddin, itu adalah obatnya hati. Namun jika kita ringkas maka jawabannya adalah ” Mahabbah kepada Allah dan RasulNya”. Maka kita akan terkikis dari segala macam penyakit hati dengan cinta dan rindu kepada Allah dan RasulNya. Sayyid Al Imam Abu Bakr Al Aidarus Ibn Abdullah Al ‘aidarus Al Akbar Ar, dia adalah seorang anak yang masih kecil dan ayahnya ( Al Imam Abdullah Al ‘Aidarus ) adalah seorang ‘arif billah berkata: ” aku sudah membaca kitab Ihya ulumuddin, aku sudah menghafalnya, dan aku pun telah mengamalkannya”, maka putranya Al Imam Abu Bakr ketika masih kecil sudah diajarkan Al qur’an, setelah ia hafal Al qur’an ayahnya mulai membacakan kitab Ihya ulumuddin yang menjelaskan tentang mengobati penyakit-penyakit hati, seperti riya’ mengobatinya begini, sombong mengobatinya begini, iri dan dengki mengobatinya begini, dan lain sebagainya, maka berkata Al Imam Abu Bakr: ” Ayah apakah ada orang yang semacam ini?”, subhanallah kenapa ia bertanya demikian?, karena di hatinya tidak ada penyakit seperti itu, sejak kecil sudah dididik mencintai Allah dan RasulNya maka tidak ada penyakit hati di hatinya, maka ayahnya pun terdiam kemudian berkata: ” sekarang engkau pergilah ke pasar dan carilah orang yang lebih hina darimu”, maka ia pun pergi ke pasar dan sesampainya di pasar ia melihat orang yang sedang berbuat jahat, ia berkata pada dirinya: ” orang ini lebih hina daripada aku, tetapi jika ia bertobat dan beribadah kepada Allah dan ia lebih taat daripada aku maka berarti ia lebih mulia daripada aku”, terus ia mencari lagi tetapi tidak ia temukan orang yang lebih hina darinya. Semua pendosa bisa saja Allah terima tobatnya dan Allah memberinya hidayah kemudian ia berubah menjadi orang shalih, maka akhirnya ia menemukan seekor anjing yang penyakitan, ia berkata: ” aku pasti lebih mulia darinya, tetapi jika aku harus melewati neraka terlebih dahulu berarti anjing itu yang lebih mulia”, karena anjing tidak masuk neraka, maka ia kembali kepada ayahnya dan ayahnya bertanya : ” apakah sudah engkau temukan orang yang lebih hina darimu?”, maka ia pun menjawab: ” tidak ada wahai ayah”, ayahnya bertanya lagi: ” dalam satu pasar tidakkah kau temukan seorang pun yang lebih hina darimu? “, ia menjawab: ” tidak ada ayah, walaupun ia adalah orang yang berbuat dosa, tetapi jika ia bertobat dan Allah terima tobatnya dan ia dimuliakan oleh Allah maka ia akan lebih mulia daripada aku, lalu aku menemukan seekor anjing yang penyakitan dan kukatakan bahwa anjing itu lebih hina daripada aku, lalu aku berfikir wahai ayah, kalau senadainya aku masuk neraka maka tentunya anjing itu akan lebih mulia daripada aku, karena ia tidak masuk kedalam neraka”, mendengar hal itu maka ayahnya berkata: ” sekarang engkau keluar dari Tarim untuk melanjutkan belajarmu di luar bimbinganku”, maka setelah selesai dengan tarbiyah yang suci dari sang ayah ia pun menuju guru-gurunya yang lain.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rahasia keberkahan dari kaum shalihin membawa keberkahan pada alam sekitar bahkan kepada non muslim, diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika para sahabat berdakwah ke wilayah-wilayah kuffar quraiys, saat itu pemimpin qabilah quraisy sakit, maka para rakyatnya datang kepada para sahabat dan berkata: ” wahai kalian, sepertinya kalian adalah orang-orang yang baik, kepala suku kami sedang sakit bisakah kalian mengobatinya?”, maka para sahabat saling memandang, kemudian diantara mereka ada yang berkata barangkali jika mereka mengobati kepala suku itu dan ia sembuh kemudian ia akan masuk Islam, maka diambillah air dan dibacakan surah Al Fatihah dan diminumkan kepada kepala suku itu dan akhirnya sembuh, kemudian ia dan semua suku-sukunya masuk Islam. Al Imam Ibn Hajar Al ‘Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari dan para muhaddits lainnya mensyarahkan makna hadits ini bahwa diperbolehkannya untuk memberikan doa bagi orang-orang non muslim berupa air, atau berupa doa langsung jika diharapkan mereka bisa mendapatkan hidayah, karena hal itu justru diperbuat oleh para sahabat Ra. Dan kemudian mereka diberi hadiah kambing dan mereka bawa pulang ke Madinah Al Munawwarah. Maka salah seorang diantara mereka berkata: ” kita sembelih saja kambing ini “,, sahabat yang lain berkata : ” tunggu, kita tanyakan kepada Rasulullah dulu apakah beliau ridha dengan apa yang telah kita lakukan, jangan-jangan beliau tidak ridha kita mengobati orang non muslim tadi “, setelah ditanyakan kepada Rasulullah beliau tersenyum dan berkata: ” sembelihlah kambing itu kemudian makanlah dan sisakan sedikit untukku”. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Al Bukahri menjelaskan bahwa ucapan Rasulullah itu bukanlah untuk meminta bagian dari kambing itu, tetapi menenangkan para sahabat dikarenakan sebagian sahabat masih risau dan bingung dengan hadiah dari non muslim tadi apakah mereka memakannya atau tidak, sehingga jika disisakan untuk Rasulullah maka beliau pun akan memakannya, dan para sahabat akan merasa tenang dan tidak ada kerisauan atas sembelihan itu karena Rasulullah juga memakannya, jika sembelihan oleh orang muslim maka hal itu boleh dan halal. Tetapi jika sembelihan itu dari orang yahudi yang diperuntukkan untuk penyembahan berhala, maka hal itu tidak diperbolehkan di dalam syariah karena disembelih atas nama selain Allah subhanahu wata’ala. Dan mengenai sembelihan orang non muslim dalam hal ini para ulama’ berbeda pendapat, sebagian ulama’ berpegang pada hadits Shahih Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari didatangi oleh para sahabat yang kebingungan karena mereka diberi daging dari seseorang yang tidak jelas apakah dia muslim atau non muslim dan yang jelas agama Islam belum masuk ke wilayah itu, maka Rasulullah berkata: ” Makanlah dan bacalah Bismillah, jika mereka menyembelihnya tidak mengucapkan nama Allah maka kalian yang memakannya menyebut nama Allah ” , namun dalam hal ini para imam madzhab berbeda pendapat, diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Bari bahwa hal itu terjadi di masa awal Islam, tetapi di masa setelah kejayaan Islam dan setelah menyebarnya Islam sebagian imam mengatakan tidak dihalalkan memakan sembelihan orang-orang yang non muslim, namun sebagian ulama’ mengatakan “boleh” dengan dalil hadits ini: ” Makanlah dan bacalah Bismillah, jika mereka menyembelihnya tidak mengucapkan nama Allah maka kalian yang memakannya menyebut nama Allah ” . Tetapi sebagian besar dalam madzhab syafi’i tidak membenarkan hal ini, mereka mengambil pendapat yang kedua yaitu tidak memakan sembelihan orang non muslim.
Inilah rahasia keberkahan para shalihin yang sampai kepada mereka, bahkan kepada yang non muslim pun keberkahannya sampai, dari doa dan fatihah yang dibacakan untuknya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu kemuliaan mereka itu di dunia dan akhirah, di masa hidupnya dan setelah wafatnya. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Musa As ketika ia didatangi oleh malaikat Izrail, maka ia meminta untuk diperpanjang umurnya maka malaikat Izrail menghadap kepada Allah, kemudian Allah berkata: ” wahai Izrail katakan kepada Musa jika ia ingin umurnya diperpanjang maka sentuhkan telapak tangannya di kulit kerbau dan seberapa banyak rambut kerbau yang tersentuh tangannya maka sebanyak itulah umurnya bertambah”, setelah malaikat Izrail menyampaikan hal itu kepada Musa As, maka nabi Musa As berkata: “lalu setelah itu apa yang akan terjadi?”, malaikat Izrail menjawab: ” setelah itu kau akan wafat”, maka nabi Musa berkata: ” jika demikian, maka lebih baik aku wafat sekarang”, dan dikatakan ketika itu ia memohon kepada Allah agar dimakamkan di tanah yang dekat tanah suci, demikian yang dikatakan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany riwayat Shahih Al Bukhari, hal ini merupakan dalil yang jelas atas diperbolehkannya bertabarruk pada kuburan para shalihin, bahkan para nabi pun ingin dimakamkan di tempat yang dekat dengan tanah suci.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Maha raja langit dan bumi yang maha lembut telah menyampaikan kepada utusanNya, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasulullah menyampaikan kepada kita hadits yang telah kita baca tadi:
إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا
“Apabila salah seorang dari kamu sekalian membaguskan keislamannya maka pada setiap kebaikan yang dia perbuat akan dilipat gandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan kejahatan yang dia perbuat akan dibalas sepadan dengan kejahatannya”.
Barangsiapa yang memperbaiki keislamannya kemudian ia beramal shalih, maka Allah lipatgandakan amalnya dengan sepuluh kali lipat dari amal pahalanya, jika ia shalat satu kali maka pahalanya dikalikan sepuluh, jika ia shalat 5 waktu maka pahalanya sama dengan shalat 50 waktu, sekali ia memuji Allah maka pahalanya dikalikan sepuluh dan itu adalah perhitungan minimal, karena kebaikan yang dilakukan akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat. Maka amal yang dilipatgandakan 700 kali lipat itu amal yang seperti apa? Sebagian muhaddits mengatakan hal itu tergantung niatnya, semakin indah niatnya maka semakin dilipatgandakan pahalanya. Para muhaddits yang lain mengatakan hal itu tergantung waktu, di waktu-waktu mustajabah seperti bulan Ramadha, lailatul qadr, malam jum’at atau hari jum’at, hari ‘Arafah dan hari-hari mulia yang lainnya, maka di waktu-waktu itulah amal ibadah dikalikan hingga 700 kali lipat. Dan ada juga yang mengatakan tergantung tempat, seperti di Masjidil Haram, di Masjid Nabawy, di Masjid Al Aqsha, di masjid masjid, di makam para shalihin jika ia berdoa kepada Allah, dan tempat-tempat mulia yang lainnya, dan juga disebutkan oleh Al Imam An Nawawy dalam Syarh Nawawiyah ‘ala Shahih Muslim, bahwa di majelis-majelis dzikir juga termasuk tempat yang dilipatgandakannya pahala oleh Allah subhanahu wata’ala .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dan kita dapatkan kesemuanya itu sekarang di majelis dzikir ini, tempat kita sekarang di baitullah (masjid), tinggallah kita memeperbaiki niat untuk apa kita hadir di tempat ini, mudah saja kita memperbaiki niat kita dengan niat yang indah, karena kita rindu kepada Allah subhanahu wata’ala, rindu kepada dzikir dan shalawat, asyik dengan dzikir, shalawat dan hadits nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam maka kita hadir dan duduk di tempat ini, padahal disini tidak ada jamuan apa-apa yang ada hanya desak-desakan dengan para jama’ah, tidak ada yang kita dapatkan dari hal-hal yang bersifat duniawi di tempat ini, oleh sebab itu sangat mudah untuk meluruskan niat. Maka yang hadir disini insyaallah semuanya hadir dengan niat yang suci, jika demikian maka kesemua syarat pahala dilipatgandakan hingga 700 kali kita dapatkan, kita hadir di tempat yang mulia (masjid) dan di waktu dzikir dengan niat yang sempurna, maka kita hadir di majelis dzikir di malam ini seperti hadir 700 kali di majelis dzikir. Hadirin hadirat, ada yang mengeluh kepada saya: ” Habib, dikarenakan saya tidak lulus ujian, maka orang tua saya tidak lagi mengizinkan saya untuk hadir di majelis”, saudara-saudaraku, sampaikan kepada ayah ibu dengan lemah lembut bahwa “kesuksesan itu bukan karena selembar kertas, saya akan berusaha lebih giat lagi supaya lulus di masa yang akan datang, tetapi jika saya tidak lagi hadir ke majelis ta’lim, hati saya merasa risau dan khawatir selalu berbuat dosa, khawatir jika saya terjebak dalam narkotika, miras , perzinahan dan lainnya maka ayah ibu juga yang akan malu, oleh karena itu lebih baik saya hadir ke majelis ta’lim”. Hadirin hadirat, taat kepada orang tua bukan berarti harus patuh sepenuhnya, tetapi berlemah lembut ketika berbicara kepada mereka, karena percuma jika kita patuh tetapi dengan cara yang bengis kepada mereka, maka hal itu tidaklah berguna. Jadi taat kepada orang tua itu bukanlah syarat berbakti kepada orang tua, tetapi yang menjadi syarat adalah jangan menyakiti perasaannya, jika menyakiti perasaan orangtua hal itulah yang durhaka. Jadi jika pendapat kita bertentangan dengan pendapat orang tua kita, maka hadapilah dengan lemah lembut jangan dengan suara keras, bentakan atau yang lainnya, tetapi berlemah lembutlah, bawakan hadiah yang mereka suka karena hal yang seperti itu akan membuka hati mereka, dan hakikatnya orangtua lebih mencintai kepada anaknya, karena orangtua jauh lebih tua dari anaknya maka biasanya mereka selalu mau mengalah kepada anaknya, apalagi jika anaknya selalu berlemah lembut. Hadirin hadirat, semoga yang lulus saat ini diberi kesuksesan oleh Allah subhanahu wata’ala di masa mendatang, dan bagi yang belum lulus semoga diberi kelulusan di masa mendatang dan diberi kesuksesan yang lebih oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ( السجدة: 17 )
“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. ( QS. As Sajadah : 17 )
Manusia tidak tahu apa yang disembunyikan oleh Allah untuk mereka dari hal-hal yang sangat menggembirakan mereka, balasan atas perbuatan mereka, jika mereka bersabar dan bersyukur serta mau beribadah kepada Allah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kelanjutan hadits tadi, adapun bagi mereka yang berbuat dosa, Allah hanya menuliskan satu dosa saja. Oleh sebab itu, para malaikat berkata: ” hal yang sangat mengherankan bagi ummat nabi Muhammad jika masih ada yang menyentuh neraka “, karena setiap kebaikan dikalikan sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipat sedangkan perbuatan dosa hanya ditulis satu dosa saja, tidak cukup itu saja tetapi untuk mereka selalu ada pengampunan, setiap mereka selesai shalat mereka dapatkan pengampunan dosa, ketika berdzikir mereka dapatkan pengampunan dosa, selalu penuh dengan pengampunan dosa.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika imam shalat ruku’ kemudian mengangkat kepalanya dan mnegucapkan:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
kemudian makmum mengucapkan:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا….. إلخ
Ketika ucapan itu berpadu dengan ucapan malaikat di saat itu, maka ia diampuni dosa-dosanya sebelum ia sampai di tempat sujudnya. Dalam hadits lain riwayat Shahih Al Bukhari juga disebutkan: ” barangsiapa yang mengucapkan ” Amin ” bersamaan dengan ucapan “Amin” imam shalat, maka diampuni dosa-dosanya karena ucapan “Amin” bersamaan dengan ucapan “Amin” para malaikat”. Maka ikhlas di dalam shalat pun penuh dengan pengampunan, demikian seterusnya dalam setiap shalat lima waktu pengampunan terus ada, dalam shalat jum’at pun ada pengampunan dosa, di setiap akhir bulan ramadhan ada pengampunan dosa, di hari ‘Arafah ada pengampunan, terus dan terus pengampunan selalu ada untuk ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sangat menakjubkan jika masih ada ummat nabi Muhammad yang masuk neraka. Hadirin hadirat, sungguh sangat memalukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ummat yang masih masuk neraka dan sangat menyakiti perasaan beliau, namun nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika ummatnya dikumpulkan bersama beliau, dan sebagian diusir dari shaf beliau maka beliau berkata: ” wahai kalian mau kemana keluar dari shafku, mau dibawa kemana ummatku itu?”, maka Jibril berkata: ” wahai Rasulullah mereka banyak berbuat dosa setelah engkau wafat”, maka Rasulullah berkata: “terserah mau dibawa kemana mereka”, akhirnya mereka lari kepada nabi Adam tetapi ditolak, lari kepada nabi Isa pun ditolak, dan semua nabi menolaknya, kemudian mereka kembali kepada nabi Muhammad, mereka terusir dari shaf Rasulullah dan beliau juga marah karena ummatnya banyak berbuat dosa, namun Rasulullah merasa tidak tega, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ( التوبة: 128 )
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. ( QS. At Taubah: 128 )
Sungguh telah datang kepada kita seorang Rasul yang sangat berlemah lembut dan selalu peduli atas musibah yang menimpa ummatnya, sangat menjaga kita dan sangat berlemah lembut kepada orang-orang yang beriman dari ummatnya. Hadirin hadirat, kita tidak bisa melihat wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, seandainya kita bisa melihat kehadiran beliau yang tersenyum kepada kita semua di malam hari ini,14 abad setelah beliau wafat , kita masih hadir di majelis dzikir mendengarkan hadits beliau semoga cinta dan rindu serta sambutan hangat dari beliau selalu untuk kita, amin ya rabbal ‘alamin. Maka orang-orang yang terusir dari shaf Rasulullah itu pun kembali kepada Rasulullah dan berkata: ” wahai Rasulullah, kami ditolak oleh semua nabi, kami ditolak oleh nabi Adam Abul basyar, kami ditolak oleh nabi Ibrahim waliyullah, kami ditolak oleh nabi Musa Kalimullah, kami ditolak oleh nabi Isa Ruuhullah”, maka Rasulullah berkata: ” baiklah aku yang akan memohonkan pengampunan untuk kalian kepada Allah”, maka merekapun harus masuk kedalam neraka dan berpisah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah bersujud kepada Allah memohonkan ampunan untuk mereka. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :
يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيْرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ.
” Akan keluar dari Neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji jewawut. Keluar dari Neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum. Keluar dari Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji dzarrah”.
Maka ummat nabi Muhammad yang tidak menyembah selain Allah mereka keluar dari api neraka, walaupun mereka hanya mempunyai kebaikan sebesar biji gandum saja mereka dikeluarkan dari api neraka dengan syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Rasulullah kembali lagi kepada Allah untuk memintakan syafaat bagi ummatnya, maka Allah berkata: ” Angkat kepalamu wahai Muhammad, berilah syafaat bagi siapa saja yang engkau ingin beri syafaat”, terus demikian Rasulullah memohon kepada Allah untuk memberi syafaat kepada ummatnya, sehingga seseorang yang hanya memiliki kebaikan lebih kecil dari biji kacang hijau pun dikeluarkan dari neraka, kemudian Rasulullah memohon lagi kepada Allah sehingga orang yang hanya memiliki kebaikan lebih kecil dari debu pun dikeluarkan dari neraka, mungkin amal pahalanya banyak tetapi habis karena terlalu banyak berbuat dosa atau banyak menzhalimi orang lain, atau memang hanya sedikit amal pahalanya, tetapi Allah keluarkan juga dari neraka dengan syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan setelah itu para malaikat pun memberi syafaat, para nabi memberi syafaat, para shalihin memberi syafaat, para syuhada’ memberi syafaat, dan semuanya memberi syafaat mengangkat mereka dari neraka, subhanallah cinta Allah kepada ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan hanya Rasulullah yang memberi syafaat tetapi beliau adalah yang pertama kali memberi syafaat, kemudian dibagikan kepada ummatnya untuk memberikan syafaat juga kepada yang lainnya. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika tiada lagi tersisa manusia kecuali orang yang sama sekali tidak mempunyai amal baik sekecil apapun, sampai tiba waktu yang Allah kehendaki, maka Allah subhanahu wata’ala berkata: ” sekarang Aku yang akan memberi syafaat” , maka Allah mengeluarkan semua yang tidak menyembah selainNya dan yang mengakui Muhammad utusan Allah subhanahu wata’ala dari neraka kemudian dimasukkan kedalam surga setelah dibersihkan dari dosa-dosa dan dimandikan , maka disaat itu penduduk surga berkata: ” Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan oleh Allah, padahal mereka sama sekali tidak mempunyai amal kebaikan tetapi mereka tidak menyembah selain Allah dan mengakui nabi Muhammad sebagai utusan Allah”.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Inilah hadits terakhir yang saya sampaikan, dan tentunya maksud saya dengan menyampaikan hadits ini bukan berarti supaya kita tidak perlu repot-repot beramal baik karena kita pasti masuk surga, tidak demikian. Tetapi ingatlah karena banyak berbuat dosa bisa menjadikan kita tidak bisa mengakui ” Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah” saat wafat nanti, hal ini yang sangat menakutkan yaitu kematian suul khatimah, kematian suul khatimah adalah kematian orang yang meremehkan dosa hingga sampai pada saat kematian Allah tidak mengizinkannya mengucapakan ” Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah”, maka ia akan kemana, ia akan kekal dimana?!. Oleh sebab itu Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan dari hadits ini bahwa menjadi kebiasaan yang mulia untuk mengucapkan kalimah “Laa ilaaha illallah” dengan berulang-ulang didalam setiap kesempatan , karena itu adalah sumpah setia seorang hamba kepada Allah, dan sumpah setia Allah kepada hamba. Jika kita telah mengakui tiada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad utusan Allah, maka saat itu pula Allah telah bersumpah untuk tidak membuat kita kekal di neraka. Itulah sumpah setia Allah kepada kita, dan maksud saya menyampaikan hal ini adalah untuk memberikan semangat bagi hadirin hadirat, bahwa tuhan ku dan kalian adalah maha pemurah, jika orang yang tidak mempunyai amal baik sama sekali pun dimuliakan oleh Allah, maka terlebih lagi orang yang selalu memperbanyak amal baik, terlebih lagi yang rindu kepada Allah, terlebih lagi yang cinta kepada Rasulullah, terlebih lagi yang di hari kiamat datang terang benderang dengan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukannya mereka hanya diberi syafaat tetapi mereka diberi syafaat untuk memberi syafaat lagi kepada orang lain, maka betapa bangganya ayah ibumu, betapa bangganya teman dan kerabatmu jika engkau yang menyelamatkannya dari api neraka karena cintamu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan banyaknya engkau beramal ibadah.
Hadirin hadirat, kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala agar Allah menangkan hati kita, mengabulkan setiap hajat kita, semoga Allah membukakan gerbang kebahagiaan, gerbang ketenangan, kedamaian, keluhuran dan melimpahkan cahaya kebahagiaan di dunia dan di akhirah kepada kita. Wahai sang pemilik dunia dan akhirah, kami menyebut namaMu yang maha luhur, dan terluhurkan yang memanggil namaMu di dunia dan akhirah, maka muliakan kami dengan anugerah-anugerahMu di dunia dan akhirah dengan anugerah yang belum terbayang oleh kami keindahannya, wahai sang pemilik anugerah yang tiada henti-hentinya melimpahkan anugerah sepanjang waktu dan zaman..
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Yang ingin saya sampaikan saat ini adalah bagi mereka yang tidak lulus jangan berputus asa, dan yang lulus hati-hati jangan berpesta pora: ” kita sudah lulus mari kita berpesta, maksiat dan lainnya”, hati-hati karena setiap dosa itu menciptakan musibah di masa mendatang, karena musibah itu datang untuk menghapus dosa, jadi orang yang berbuat dosa itu berarti dia telah membuat musibah untuk masa mendatangnya, maka perbanyaklah istighfar supaya musibah itu sirna, dan sekedar memberi semangat bagi yang tidak lulus, saya dulu ketika sekolah waktu itu saya melihat pelajaran Biologi dan saya tidak lulus karena memang saya malas, maunya hadir maulid terus, belajar juga malas maka guru pun marah kepada saya, dan saya pun kesal, dan saya meminta waktu 3 hari untuk mengulang ujian dan guru pun memperbolehkans, dan dalam 3 hari saya hafalkan kira-kira 15 halaman, saya kesal karena guru mencaci dan mencela orang yang cinta kepada Rasul, maka akan saya buktikan, dan dalam 3 hari saya hafal semua itu, maka saya pun meminta untuk ujian lagi dan ternyata nilai saya 100, lalu guru menyangka bahwa saya pasti menyontek, maka saya katakana jika tidak percaya silahkan ujian lisan, maka 3 guru yang menguji saya saat itu dan semuanya membawa buku, dan nilai saya 100 lagi, akhirnya guru itu berkata dengan kesal ” kamu sebenarnya bisa cuma pemalas.. (ucapan habibana dalam santai berceloteh)
Hadirin hadirat, sebenarnya orang yang banyak berdzikir sebenarnya lebih cerdas dari yang lain karena hatinya tenang, cuma barangkali kalian tidak lulus hanya karena kalian kurang giat, jika kalian lebih giat pasti kalian lebih mudah belajar daripada yang lainnya yang tidak pernah hadir di majelis-majelis dzikir, kalian lebih cerdas karena hati kalian lebih tenang, lebih sejuk dan lebih mudah untuk menghafal daripada orang-orang yang tenggelam dalam banyak dosa. Hadirin hadirat, yang kedua masalah helm mohon diperhatikan jika ke majelis ta’lim mohon dipakai helmnya, yang tidak mempunyai helm dan tidak punya dana untuk membelinya semoga Allah memberikan keluasan rizki dan keberkahan, karena yang malu saya ketika ada ucapan-ucapan yang menghina majelis ta’lim jika ada yang hadir ke majelis dengan tidak tertib. Yang terakhir doa kita untuk kesuksesan acara kedatangan guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad Al Hafizh yang akan datang insyaallah di pertengahan Juni, dan kita mempunyai dua acara akbar yaitu di hari beliau datang dan di hari beliau pulang, kebetulan kepulangan beliau jam 12.40 malam jadi disempatkan hadir dulu di majelis kita di Monas, dan kedatangan beliau hari Kamis dan malamnya rencana kita adalah acara di Gelora Bung Karno insyaallah sukses, acara di Monas ketika kepulangan beliau insyaallah sukses, setelah itu Isra’ Mi’raj 8 Juli semoga sukses, setelah itu Nisfu Sya’ban semoga sukses, kemudian haul Ahlul Badr 17 Ramadhan semoga sukses, tidak henti-hentinya kita membenahi diri kita , wilayah dan bangsa kita dengan kedamaian, dzikir dan panggung-panggung sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga dzikir dan shalawat kepada Rasulullah semakin menggemuruh dan menggema membawa kedamaian dan keberkahan, amin allahumma amin. Selanjutnya kalimat talqin oleh Al Habib Hud bin Baqir Al Atthas dan doa penutup oleh Al Habib Sofyan Basyaiban, falyatafaddhal.

7 Agustus 2012

BERGURU KEPADA ALLAH

oleh alifbraja
 
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui” (QS 96:1-5) 
 

Ayat diatas jelas sekali bagaimana Allah mengajarkan membaca dengan melihat suatu kejadian penciptaan “manusia” mulai dari bentuk mudhgah (segumpal darah) sehingga menjadi bentuk manusia yang sempurna. Kalau kita runtun serangkaian kejadian tersebut dengan teliti dan kita bisa cerita kembali dengan orang lain secara tidak sadar kita megajarkan sebuah ilmu. Dan kalau kita khususkan lebih dalam penelitian kita atas peristiwa kelahiran manusia mungkin kita akan lebih banyak mengetahui seperti halnya kejadian yang akan kita perhatikan. Onum atau sel produksi wanita yang telah dewasa itu ditempatkan dalam jaringan yang berbentuk bisul dipermukaan indung telur. Pada saatnya yang tepat, terbukalah pintu, dan ovum itu bergerak maju kebagian ruang peranakan. Sangat mengherankan, sel tersebut tidak musnah di sini, tetapi diarahkan keujung saluran indung telur, yaitu satu pipa saluran menuju kandungan.
Mari kita pertegas lagi dengan surat Al Mu’minuun ayat 12-14:” Dengan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh  (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik (QS 23:12-14)

Banyak orang mengajarkan ilmu kepada muridnya namun ia tidak mampu memberikan kefahaman,…banyak guru mengajarkan agama namun ia tidak bisa memberikan secuil iman, dan banyak guru mengajarkan shalat dan rukunya namun ia tidak bisa memberikan kekhusyu’an. Dan banyak majelis pembersihan jiwa namun ia tidak bisa membersihkan jiwanya (QS 24:21).

Ada yang ingin saya ungkapkan sebuah rahasia Allah, saat kita bertutur mengenai perilaku binatang dan tumbuh-tumbuhan, bagaimana lebah menciptakan sarangnya denga struktur yang indah, para semut yang bekerja dengan tekun dan kompak serta mengelompokan dalam pekerjaan dengan manajemen yang sangat rapih. Dan kita perhatikan seperti apakah sarang semut itu? Mereka membuat sarang terdiri dari ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai gudang tempat penyimpanan makanan, ruang untuk menyimpan larva, ruang makan ratu semut yang dilayani semut pekerja dan tempat bertelur, kemudian telur semut tersebut dibawah oleh pekerja ke ruangan khusus penyimpanan telur. Ruang semut jantan dan ruang semut betinah terpisah, kepompong yang sudah menjadi semut sempurna diletakkan pada ruangan tersendiri dan para semut yang ada yang bertugas merobek kepompong untuk mengeluarkan semut-semut yang masih bayi. Kita lihat diruangan yang lain, semut-semut ini memelihara kepompong kupu-kupu hairstreak. Mereka merawat dan memberikan makanan layaknya bayi sendiri. Mereka mengharapkan kelak anak angkatnya ini mampu membalas jasa baiknya dengan memberi madu yang manis.

Mari kita tinggalkan rumah semut yang damai dan sejahtera, menuju istana rayap yang penuh keajaiban. Sebuah gundukan tanah sarang rayap, yang kelihatanya sepele ternyata ada sebuah kecerdasan yang mengalir pada diri para penghuninya… bagaimana tidak, saat suhu luar bergerak anatar 35 derajat (pada malam hari) hingga 104 derajat farenheit (pada siang hari), suhu suhu didalam sarang tetap stabil. Kira- kira hanya 87 fareinheit kehebatan ini yang membuat para arsitek Zimbabwe berguru kepada rayap. Mereka ingin membuat rumah yang dingin seperti rumah rayap. Ternyata lubang angin dibawah gundukan ..udara yang hangat disiang hari mengalir keseluruh ruang. Sementara ruang-ruang itu telah basah oleh lumpur yang dibawah oleh rayap dari genangan dibawah tanah, makanya di dalam sarang udara tetap lembab. Jadi tak heran jika jamur yang dibutuhkan rayap sebagai makanan tumbuh subur di sini.

Kita perhatikan makhluk yang tidak memiliki akal dan tiada mampu berfikir (klick), makhluk yang tiada daya namun siapa yang membekali ia kempuan bersiasat, berpengertian? Memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. Bagaimana mereka mendapatkan kecerdasan dan pengertian tersebut. Apakah mereka bisa dengan sendirinya. (Harap direnungkan…)
Allah-lah yang bertutur kata kepada semua makhluknya. Allah yang memberikan wahyu kepada para Nabi, kepada ibu Musa, kepada lebah, kepada semut, kepada langit dan bumi, kepada manusia, kepada pencuri sekalipun..!!!

Semua makhluk telah mengikuti kehendak Ilahi dan perintah Ilahi dengan terpaksa ataupun suka cita. Allah membuat hukum yang harus diikuti semua makhluk, hal ini bisa kita rasakan dalam ruangan hening…kita perhatikan keluar masuknya nafas..kedip mata dan degub jantung yang bergerak mengaliri darah sambil mengirimkan nutrisi menggantikan sel-sel yang hilang… indahnya penglihatan memandang alam…suara debur ombak menggema menembus telinga… dan lidah merasakan lezatnya buah-buahan dan biji-bijian. Oh alangkah indahnya semuanya ini, manusia hanya bisa merasakan dan menyaksikan. Tidak sedikitpun kita andil dalam membuat rasa semua ini !!!
Rasakan dengan penuh hikma bahwa kita sebenarnya hanya diam terpaku dalam kesibukan Allah (Af’alullah), Allah yang menggerakkan bumi dan bintang-bintang, Allah menggerakkan semua makhluknya yang Dia ciptakan, Allah yang mengatur senyawa bereaksi dan butiran atom bergerak pada porosnya. “dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta pikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur” (QS 16:78).

Firman Allah :
Kemudian Dia mengarahkan kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan pada bumi; silakan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa jawab mereka : kami mengikuti dengan suka hati” (QS 41:11)

Allah mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya. Allah-lah yang menuntun manusia, memberikan inspirasi, ilham dan wahyu. Tubuhnya patuh mengikuti perintah Tuhannya tidak terkecuali orang kafir. Sunnah-sunnah Allah berlaku kepada alam semesta baik yang mikro maupun yang makro.

Wassalam.

6 Agustus 2012

MENGAPA TAUHID DIBAGI TIGA

oleh alifbraja

MENGAPA TAUHID DIBAGI TIGA

 

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, semoga kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, shalawat serta salam semoga tercurah kepada imamnya para rasul, pilihan Rabb Semesta Alam, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya.

 

Amma ba’du.

Risalah ini merupakan paparan ringkas, lembaran-lembaran yang sederhana dalam menerangkan sebagian penjelasan dan dalil-dalil yang menunjukkan pembagian tauhid, dan benarnya pembagiannya menjadi tiga bagian:

 

• Tauhidur-rububiyah

• Tauhid al-uluhiyah

• Tauhid al-asma wash-shifat

 

 

PENJELASAN RINGKAS TENTANG PEMBAGIAN TAUHID

 

• Bagian Pertama: Tauhidur-Rububiyah

 

Tauhidur-rububiyah adalah penetapan bahwa Allah ta‘ala adalah Rabb, Penguasa,Pencipta serta Pemberi Rezeki dari segala sesuatu. Dan juga menetapkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Pemberi Kemanfaatan dan Kemudhorotan, yang Maha Esa dalam mengkabulan doa bagi orang yang membutuhkan. BagiNya-lah segala urusan, dan di tanganNya-lah segala kebaikan. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagi-Nya sekutu dalam hal tersebut. Dan ke-imanan kepada takdir termasuk dalam tauhid ini.

 

• Bagian Kedua: Tauhid Al-Asma wash Shifat

 

Tauhid al-asma wash shifat merupakan penetapan bahwasanya Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dialah Dzat Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus makhluk-makhlukNya, Yang Tidak Mengantuk dan Tidak Tidur. Bagi-Nya lah kehendak yang berlaku serta hikmah yang jelas.

 

Dan Allah ta’ala adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Maha Berbelas Kasih dan Maha Penyayang. Allah Yang ber-istiwa di atas arsy-Nya, Maha Sempurna Kekuasaan-Nya. Dialah Yang Maha Menguasai, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

 

Demikian pula dengan asmaul husna yang selain di atas, serta sifat-sifat yang tinggi. Dan beriman dengan kokoh kepada hal tersebut tanpa tahrif (penyelewengan makna), ta’thil (pengingkaran), takyif (mempertanyakan tentang keadaannya), ataupun tamtsil (penyerupaan).

 

• Bagian Ketiga: Tauhid Al-Uluhiyah

 

Tauhid al-uluhiyah dibangun di atas keikhlasan dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Dalam kecintaan, khauf (takut), roja’ (harapan), tawakal, roghbah (permohonan dengan sungguh-sungguh), rohbah (perasaan cemas), dan doa hanya bagi Allah satu-satunya. Serta memurnikan ibadah-ibadah seluruhnya, baik ibadah yang lahir maupun yang batin hanya bagi Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Serta tidak menjadikan hal tersebut untuk selain-Nya. Tidak untuk malaikat yang dekat dengan Allah ta’ala, tidak pula bagi para nabi yang diutus. Terlebih lagi bagi selain keduanya.

 

Tauhid ini merupakan kandungan dari firman Allah tabaraka wa ta’ala: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (Al-Fatihah: 5)

 

Tauhid ini merupakan pucak awal dan akhir dari agama, baik secara batin maupun lahirnya, dan merupakan awal serta akhir dari dakwah para Rasul. Ini juga merupakan makna dari ucapan La Ilaha illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Karena Al-Ilah artinya sesuatu yang disembah dan diibadahi dengan rasa cinta, takut, penghormatan, pengagungan, serta dengan seluruh jenis peribadatan.

 

Karena tauhid inilah para makhluk diciptakan, para rasul diutus, dan kitab-kitab suci diturunkan. Sehingga dengannya manusia terbagi menjadi kaum beriman atau kaum kafir, menjadi orang yang berbahagia di surga atau orang yang menderita di neraka.

 

 

LAWAN-LAWAN DARI PEMBAGIAN TAUHID

 

Ada lawan bagi setiap bagian dari pembagian tauhid. Apabila anda telah mengetahui bahwa Tauhidur-rububiyah adalah penetapan bahwa Allah ta’ala adalah Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan dan Mematikan, Pengurus segala urusan, Yang Mengatur semua makhluk-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya. Maka lawan dari itu semua adalah seorang hamba berkeyakinan adanya pengatur selain Allah, yang mengatur bersama Allah dalam urusan yang tidak bisa dilakukan melainkan hanya oleh Allah ‘azza wa jalla saja.

 

Jika anda telah mengetahui bahwa tauhid al-asma wash shifat adalah kita mengakui Allah dengan apa yang telah Allah namakan untuk diri-Nya. Dan mensifati Allah dengan apa-apa yang telah Allah sifatkan bagi diri-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta menafikan dari-Nya penyerupaan dan permisalan. Maka lawannya ada dua hal. Dan keduanya termaktub dalam makna ilhad (penyelewengan).

 

Yang Pertama: Menafikan hal tersebut dari Allah ‘azza wa jalla, serta mengingkari sifat-sifat yang sempurna dan mulia yang telah ditetapkan di dalam Al-Quran dan Sunnah.

 

Yang Kedua: Menyerupakan sifat Allah ta’ala dengan sifat makhluk-Nya.

 

Allah ta’ala telah berfirman: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy-Syuro: 11)

 

Dan juga firman-Nya, Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada dibelakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (Thoha:110)

 

Apabila engkau telah mengetahui bahwa tauhid al-uluhiyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam seluruh jenis peribadahan serta menafikan peribadahan kepada yang selain Allah tabaraka wata’ala, maka lawan dari hal tersebut adalah: memalingkan salah satu dari jenis peribadahan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, dan Ini adalah perkara yang mendominasi keumuman kaum musyrikin. Dan juga karena hal itu terjadilah permusuhan di antara seluruh nabi dengan umat-umat mereka .

 

 

TAUHIDUR-RUBUBIYAH SAJA TIDAKLAH CUKUP

 

Telah menceritakan di dalam kitab-Nya tentang keadaan kaum Allah musyrikin yang sesungguhnya mereka telah mengikrarkan Tauhidur-rububiyah.

 

Allah berfirman, Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?”Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Yunus:31)

 

Dan sungguh jika kalian bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”. (Az-Zukhruf:87)

 

Dan sesungguhnya jika kalian menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?”Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (Al-Ankabut:63)

 

Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sesembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kalian mengingati (Nya). (An-Naml:62)

 

Mereka dahulu mengenal Allah dan mengetahui tentang rububiyah, kekuasaan serta pengaturanNya. Walaupun demikian, sekedar pengakuan tidaklah mencukupi dan menyelamatkan mereka. Hal ini dikarenakan kesyirikan mereka dalam tauhid al-ibadah yang merupakan makna “La Ilaha illallah”. Karena itu Allah ta’ala berfirman tentang mereka:

 

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (Yusuf:106)

 

Ibnu Abbas berkata, “Termasuk keimanan mereka yaitu apabila ditanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit, bumi dan gunung-gunung? Mereka menjawab: ‘Allah’. Dan mereka adalah orang-orang yang musyrik.

 

Ikrimah berkata, “Mereka ditanya siapa yang menciptakan mereka dan siapa yang menciptakan langit dan bumi. Maka mereka menjawab, ‘Allah’. Ini adalah keimanan mereka kepada Allah, dan mereka juga beribadah kepada yang selain-Nya”.

 

Mujahid berkata, “Iman mereka kepada Allah adalah perkataan mereka: Allah yang menciptakan, memberikan rizqi, dan yang mematikan kami. Ini adalah keimanan mereka yang ikuti dengan mempersekutukan peribadahan kepada yang selain-Nya”.

 

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Tidak ada seorang-pun yang menyembah Allah dan juga menyembah yang selainNya, melainkan dia meyakini Allah dan mengetahui bahwa Allah adalah sebagai Rabb,dan Penciptanya, yang memberikan rizqi kepadanya, tetapi keadaannya adalah sebagai orang yang mempersekutukanNya. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana ucapan Ibrahim,

 

“Maka apakah kalian tidak memperhatikan apa yang kalian sembah.,kalian dan nenek moyang kalian yang dahulu?. Karena sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam”. (Asy-Syuaro: 75-77)

 

Ibrahim telah mengetahui bahwa mereka ber-ibadah kepada Rabb semesta alam bersamaan dengan apa yang mereka sembah (selain Allah -pent). Tidaklah seorang berbuat syirik melainkan disisi lain dia meyakini adanya Allah. Tidaklah anda perhatikan bagaimana dulu Bangsa Arab bertalbiah. Mereka mengucapkan: “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, melainkan sekutu yang diperuntukkan bagi-Mu, Engkau menguasainya dan apa yang dia kuasai”. Dahulu kaum musyrikin mengatakan hal tersebut” .

 

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, Karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (Al-Baqarah:22)

 

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata, “Maksudnya janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan yang selain-Nya, berupa tandingan-tandingan yang tidaklah dapat memberikan manfaat dan menimbulkan kemudaratan. Dan kalian mengetahui bahwasanya tidak ada Rabb bagi kalian, yang memberikan rezeki selain Allah, Dan sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa yang diserukan oleh Rasulullah kepada kalian yaitu mentauhidkan adalah suatu kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya”.

 

Qatadah berkata, “Maksud dari ayat tersebut adalah: kalian mengetahui bahwa Allah-lah yang menciptakan kalian dan menciptakan langit-langit dan bumi, kemudian kalian jadikan bagiNya tandingan-tandingan” .

 

Ibnul Qayyim membawakan perkataan Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma dalam tafsir dari firman Allah ta’ala, Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit-langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan Rabb mereka. (Al-An’am:1)

 

Beliau berkata, “Yang diinginkan di sini adalah: ‘Mereka mempersekutukan Aku dengan ciptaan-Ku, berupa batu-batu dan berhala-berhala setelah mereka mengakui nikmat kekuasaan-Ku’.”

 

Yang menjadi inti pembahasan disini adalah, keadaan kaum musyirikin yang mengetahui rububiyah Allah, sebagaimana Perkataan Zuhair bin Abu Salma dari tulisan syairnya yang masyhur: Janganlah kalian menutupi apa yang ada pada diri kalian dari Allah. Walaupun kalian menyembunyikan dan menutupi maka niscaya Allah mengetahuinya. Akan di-akhirkan, ditulis dalam suatu catatan dan disimpan. Untuk suatu hari perhitungan atau disegerakan dalam pembalasan

 

Berkata Ibnu Katsir setelah membawakan dua bait syair di atas: “Sesungguhnya penyair jahiliyah ini telah mengakui keberadaan pencipta yang mengetahui segala perkara secara detail, adanya hari kebangkitan, pembalasan, serta penulisan seluruh amalan di lembaran-lembaran pada hari kiamat” .

 

Ibnu Jarir berkata, “Telah dilantunkan pada masa jahiliyah bait syair: Sungguh telah berlaku kehinaan bagi budak perempuan itu. Sungguh Ar-Rahman Rabbku telah memotong keberuntungannya

 

Salamah bin Jandal Ath-Thohawi berkata: Kalian mendahului kami, dari ketergesaan kami atas kalian. Apa yang diinginkan Ar-Rahman bisa Dia ikat dan bisa Dia lepas.

 

Hal-hal yang membuktikan permasalahan ini sangatlah banyak. Akan tetapi mereka tetap sebagai orang-orang yang musyrik, karena mereka menyembah Allah dan menyertakan yang selain-Nya.

 

 

BEBERAPA DALIL YANG MENUNJUKKAN PEMBAGIAN TAUHID

 

Terdapat banyak dalil-dalil dan petunjuk dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pembagian tauhid menjadi tiga macam. Sungguh hal ini akan diketahui oleh seseorang yang memiliki perhatian terhadap nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah walaupun pengetahuannya tidak maksimal, bahkan barangsiapa yang menghafal Surat Al-Fatihah dan Surat An-Nas akan menemukan apa yang akan memuaskan dan mencukupi dirinya dari jelasnya dalil dan gamblangnya penjelasan terhadap permasalahan pembagian tauhid ini. Bahkan hal ini adalah suatu puncak hakikat syariat yang senantiasa ditekankan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

 

1. Dalil-dalil yang menunjukkan Tauhidur-rububiyah

 

Firman Allah tabaraka wa ta’ala, Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. (Al-Fatihah: 1)

 

Ingatlah, bahwa menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. (Al-A’raf: 54)

 

Katakanlah: “Siapakah Rabb langit-langit dan bumi?”Jawablah: “Allah.” (Ar-Rad: 16)

 

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?”Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”Katakanlah: “Maka apakah kalian tidak ingat?”. Katakanlah: “Siapakah Yang menguasai langit-langit yang tujuh dan Yang menguasai `Arsy yang besar?”Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”Katakanlah: “Maka apakah kalian tidak bertakwa?”Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab) -Nya, jika kalian mengetahui?”Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?”(Al-Mu’minun:84-89)

 

Yang demikian itu adalah Allah Rabbmu, Maha Agung Allah, Rabb semesta alam. (Al-Mu’min / Ghofir: 64)

 

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az-Zumar: 62)

 

Begitu pula dalam ayat-ayat Al-Quran yang lainnya.

 

2. Dalil-dalil yang menunjukkan tauhid al-uluhiyah

 

Firman Allah tabaraka wa ta’ala: Segala puji bagi Allah (Al-Fatihah:1)

 

Makna Allah adalah Al-Ma’luh (Yang Disembah) dan Al-Ma’bud (Yang Diibadahi). Begitu juga firman-Nya,

 

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah: 4)

 

Hai manusia, sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Al-Baqarah: 21)

 

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Az-Zumar: 2-3)

 

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kalian kehendaki selain Dia. (Az-Zumar: 14-15)

 

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah: 5)

 

Begitu pula dalam ayat-ayat Al-Quran yang lainnya.

 

3. Dalil-dalil yang menunjukkan tauhid al-asma wash shifat

 

Firman Allah tabaraka wa ta’ala, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. (Al-Fatihah: 2-3)

 

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) (Al-Isro:110)

 

Apakah kalian mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (Maryam: 65)

 

Dialah Allah, tidak ada Sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al-asmaaul husna (nama-nama yang baik). (Thoha: 8)

 

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy-Syuro: 11)

 

Begitu juga pada akhir surat Al-Hasyr, dan yang selainnya dari ayat-ayat Al-Quran.

 

 

AYAT-AYAT YANG TERKUMPULKAN DI DALAMNYA PEMBAGIAN KETIGA TAUHID

 

Termasuk ayat-ayat yang mengumpulkan pembagian tauhid yang tiga adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam Surat Maryam.

 

Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kalian mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (Maryam: 65)

 

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdurrohman bin Sa’di rahimahullah (berkata) ketika menerangkan bentuk pendalilan dari ayat di atas:

“Ayat ini mengandung prinsip yang agung yaitu: tauhidur- rububiyah, dan Allah ta’ala adalah Rabb, Pencipta, Pemberi rezeki, serta Pengatur segala sesuatu, dan tauhid aluluhiyah wal ibadah. Allah ta’ala adalah Sesembahan yang Berhak untuk Diibadahi. Dan sungguh Rububiyah Allah mewajibkan adanya per-ibadahan serta pentauhidan-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat tersebut terdapat fa’ dalam firmannya. Ini menunjukkan kepada suatu sebab, yang maksudnya: karena Allah adalah Rabb bagi segala sesuatu maka Allah pulalah Dzat yang pantas disembah, maka sembahlah Allah.

 

Termasuk kandungan ayat tersebut adalah: berteguh hati di dalam beribadah kepada Allah ta’ala dan ini merupakan suatu upaya yang kokoh, serta selalu melatih dan menjaga jiwa agar selalu ber-ibadah kepada Allah ta’ala. Maka termasuk ke dalam hal ini suatu jenis kesabaran yang paling tinggi. Yaitu sabar di dalam perkara-perkara yang wajib dan mustahab, serta sabar dari perkara-perkara yang haram dan makruh, bahkan masuk kedalamnya sabar dalam menghadapi berbagai cobaan. Karena sabar terhadap berbagai cobaan tanpa adanya rasa murka, dan selalu ridho darinya kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang terbesar yang masuk ke dalam firman Allah:“berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya”

 

Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, sifat yang penuh dengan ke-agungan, serta kekuasaan yang mulia. Dalam permasalahan ini tidak ada bagi-Nya sesuatu yang serupa, sepadan, yang menyamai. Bahkan Allah ta’ala telah menyendiri dengan kesempurnaan yang mutlak dari berbagai sudut dan sisi” .

 

 

SELURUH AYAT AL-QURAN MENETAPKAN TENTANG PEMBAGIAN TAUHID TERSEBUT

 

Di dalam menerangkan dalil-dalil Al-Quran yang menunjukkan pembagian tauhid, Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim berkata, setelah menyebutkan semua golongan yang kebatilannya disebut sebagai tauhid: “Adapun tauhid yang diserukan oleh seluruh utusan Allah dan diturunkan dengannya kitabullah sangat bertentangan dengan itu semua (kebatilan yang dianggap tauhid-ed). Tauhid itu ada dua jenisnya: Tauhid fil ma’rifat wal itsbat (tauhid pengenalan dan penetapan) serta tauhid fith tholab wal qasd (tauhid permintaan dan tujuan).

 

Adapun yang pertama: merupakan hakikat dari Dzat Rabb ta’ala, nama-namanya, sifat-sifatnya, perbuatannya, ketinggian-Nya di atas arsy-Nya yang ada di atas langit. Pembicaraan-Nya melalui kitab-Nya, dan Dia mengajak bicara terhadap orang yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya, serta ketentuanNya yang bersifat menyeluruh, dan ber-ragam hikmah-hikmah-Nya. Al-Quran telah benar-benar menjelaskan jenis ini dengan penjelasan yang begitu gamblang. Sebagaimana di awal Surat Al-Hadid, dan Surat Thoha.Pada akhir Surat Al-Hasyr dan awal Surat Tanzilus Sajdah. Awal surat Ali Imron dan seluruh ayat dari Surat Al-Ikhlas dan yang selainnya.

 

Jenis yang kedua, seperti yang terkandung didalam Surat Qul Ya Ayyuhal Kafirun (Al-Kafirun), dan di dalam firman-Nya,

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian”. (Ali Imron: 64)

 

Begitu juga pada awal Surat Tanzilul Kitab dan akhirnya. Awal surat Yunus, bagian tengah dan akhirnya. Awal surat Al-A’raf dan akhirnya. Sejumlah ayat dari surat Al-An’am. Dan pada kebanyakan dari surat-surat yang ada dalam Al-Quran, bahkan pada seluruh surat di dalam Al-Quran terkandung dua jenis tauhid ini.

 

Lebih dari itu, bahkan kita katakan dengan perkataan yang menyeluruh: bahwasanya seluruh ayat di dalam Al-Quran terkandung padanya at-tauhid, yang mempersaksikan dan yang selalu menyeru kepadanya. Karena Al-Quran isinya kalau bukan pemberitaan tentang Allah, nama-nama, sifat-sifat serta perbuatanNya dan ini adalah tauhid al-ilmi wal khobari (ilmu dan pemberitaan), maka isinya adalah dakwah kepada peribadahan untuk Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dan meninggalkan semua yang disembah selain Allah dan ini adalah tauhid al-irodiy wath-tholabiy (kehendak dan tuntutan).

 

Selain itu isi Al-Quran kalau bukan perintah, larangan dan kewajiban untuk mentaati Allah dalam larangan dan perintahnya dan ini adalah hak-hak tauhid dan penyempurnanya, maka isinya adalah pemberitaan tentang karomah Allah terhadap orang-orang yang bertauhid dan taat kepada-Nya, dan apa-apa yang tentukan baginya di dunia dan perkara-perkara apa yang menyebabkan mereka menjadi mulia di akhirat dan ini adalah balasan mentauhidkan Allah.

 

Al-Quran juga mengandung pemberitaan tentang pelaku kesyirikan dan apa-apa yang Allah tentukan baginya di dunia serta berbagai balasan di dunia yang menyengsarakan mereka, dan apa saja yang akan menimpa mereka kelak dari berbagai adzab, ini merupakan pemberitaan tentang orang yang keluar dari ketentuan hukum tauhid. Maka seluruh Al-Quran mengandung perkara tauhid, hak-haknya dan balasan-balasannya. Begitu juga perkara syirik, pelakunya, serta balasan untuk mereka. Di dalam ayat:

 

(Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam) adalah tauhid.

 

(Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah tauhid.

 

(Yang menguasai hari pembalasan) padanya ada tauhid.

 

(Hanya kepada Engkaulah kami menyembah) merupakan tauhid.

 

(Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan) adalah tauhid.

 

(Tunjukilah kami jalan yang lurus) merupakan tauhid yang berkaitan dengan permintaan petunjuk kepada jalannya para pengikut tauhid yang diberi nikmat oleh Allah.

 

(Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat). Yaitu orang-orang yang meninggalkan tauhid .

 

Asy-Syaukani Rahimahullah berkata di dalam muqaddimah kitab beliau yang mulia, Irsyaduts-Tsiqot ila Ittifaqisy-syaro’i’ ‘ala Tauhid wal-Miad wan-nubuwaat :

 

“Dan ketahuilah bahwa penyebutan ayat-ayat Al-Quran yang telah menjelaskan/menetapkan semua maksud dari tujuan-tujuan (tentang tauhid. Pent), dan juga penetapan tentang samanya syariat-syariat dalam perkara ini. Tidaklah menyulitkan bagi mereka yang membaca Al-Quranul Azhim. Karena jika dia mengambil mushaf yang mulia kemudian berhenti di bagian yang dia inginkan, atau tempat yang dia suka, atau posisi yang dia kehendaki, niscaya dia akan menemukannya (perkara tauhid. pent) dalam keadaan terbentang luas di dalam Al-Quran, dari pembukaan sampai akhirnya”.

 

 

PEMBAGIAN TAUHID MERUPAKAN SUATU KEBENARAN YANG SYAR’I YANG AKAN DIKETAHUI DENGAN SUATU PENELAHAAN

 

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya penelaahan terhadap Al-Quranul Azhim telah menunjukkan bahwa mentauhidkan Allah itu terbagi menjadi tiga bentuk:

 

Yang pertama: Tauhid dalam Rububiyah. Ini merupakan jenis tauhid yang ter-bentuk dalam fitrahnya orang-orang yang berakal.

 

Allah ta’ala berfirman, Dan sungguh jika kalian bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah” (Az-zukhruf:87)

 

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang ber-kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?”Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?”(Yunus:31)

 

Adapun tentang pengingkaran Fir’aun terhadap jenis tauhid ini dalam ucapannya, Fir`aun bertanya: “Siapa Rabb semesta alam itu?”(Asy-Syu’aro: 23)

 

Ini merupakan perihal kebohongan, yang pura-pura tidak tahu, dalam keadaan dia telah mengetahui bahwa dia adalah se-orang hamba yang dipelihara oleh Rabbnya.

 

Dengan dalil firman Allah ta’ala, Musa menjawab: “Sesungguhnya kalian telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu`jizat-mu`jizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. (Al-Isro’:102)

 

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya (An-Naml: 14)

 

Ini merupakan jenis tauhid yang tidak akan memberikan manfaat kecuali disertai dengan memurnikan peribadahan kepada Allah saja.

 

Sebagaimana firman Allah ta’ala, Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (Yusuf: 106)

 

Dan ayat-ayat yang menunjukkan tentang tauhid ini banyak sekali.

 

Yang kedua: Mentauhid-kan Allah ta’ala dalam peribadahan kepada-Nya.

 

Batasan tauhid jenis ini adalah perealisasian makna “La ilaha illallah”, yang tergabung di dalamnya penafian dan penetapan. Makna penafian dari perkataan tersebut adalah: melepaskan seluruh jenis sesembahan selain Allah, apapun bentuknya, dalam seluruh jenis peribadahan apapun bentuknya.

 

Adapun makna penetapan dari kalimat ‘La ilaha illallah’ adalah: meng-esakan Allah jalla wa’ala satu-satunya dalam semua jenis ibadah dengan ikhlas, dalam ketentuan yang telah disyariatkan oleh Allah melalui Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam , dan mayoritas ayat Al-Quran berbicara tentang jenis tauhid ini, dan hal ini merupakan sebab terjadinya peperangan antara para Rasul dan Umatnya:

 

Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi Sesembahan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (Shod: 5)

 

Dan di antara ayat-ayat yang menunjukkan jenis tauhid ini adalah firman Allah ta’ala, Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Sesembahan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu (Muhammad: 19).

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu (An-Nahl: 36).

 

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kalian, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al-Anbiya: 25)

 

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kalian: “Adakah Kami menentukan sesembahan- sesembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”(Az-Zukhruf: 45)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Ilahmu adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kalian berserah diri (kepada-Nya)”. (Al Anbiya: 108)

 

Di dalam ayat yang mulia tersebut, telah diperintahkan untuk mengatakan: Sesungguhnya apa yang diwahyukan kepadanya terbingkai dalam jenis tauhid ini. Hal tersebut Karena kesempurnaan kalimat “La ilaha illallah”yang tercakup didalam semua kitab yang ada. Hal ini mengharuskan untuk taat kepada Allah dengan hanya ber-ibadah kepadaNya saja, dan perkara ini mencakup semua perkara aqidah, perintah serta larangan dan apa yang mengikutinya dari pahala dan hukuman. Banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang tauhid ini.

 

Yang ketiga: Mentauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

 

Tauhid jenis ini dibangun di atas dua prinsip:

 

Pertama: Mensucikan Allah jalla wa ‘ala dari Men-serupakanNya dengan sifat-sifat makhluk-makhluk, Sebagaimana Allah berfirman,

 

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Asy-Syuro:11)

 

Kedua: Beriman dengan apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya atau disifatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya. Sebagaimana di dalam firman-Nya:

 

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia: dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy-Syuro:11)

 

Bersamaan dengan hal tersebut dilarang berusaha untuk mencari bagaimana hakekat sifat Allah (sehingga keluar dari keyakinan para salaf. Pent).

Allah berfirman:

 

Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.(Thooha:110)

 

Dan sudah kami paparkan pembahasan ini secara lengkap dan luas melalui ayat Al-Quran dalam surat Al-A’raf.

 

Di dalam Al-Quranul-Azhim terdapat banyak keterangan tentang orang-orang kafir dan pengakuan mereka terhadap rububiyah Allah jalla wa’ala serta wajibnya mentauhidkan-Nya dalam peribadahan kepadaNya. Oleh karena itulah Allah mengajak bicara mereka dalam permasalahan tauhid rububiyah dengan menggunakan istifham at-taqrir (dalam bentuk pertanyaan yang bersifat ketetapan. Pent). Ketika mereka mengakui rububiyah Allah maka dengan tauhid rubiyah tersebut mereka seharusnya mengakui juga bahwa Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, Dan Allah mencela mereka serta mengingkari atas kesyirikan mereka terhadap Allah dengan sesuatu yang lain, hal ini bersamaan dengan pengakuan mereka bahwasanya Allah adalah Rabb mereka satu-satunya. Karena barangsiapa yang mengakui bahwa Allah adalah Rabb satu-satunya, mengharuskan dari pengakuan mereka untuk meyakini: bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah.

 

Termasuk contoh-contoh dalam perkara ini adalah firman Allah :

 

• Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizqi kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan”(Yunus:31)

 

Sampai dengan firman-Nya: Maka mereka akan menjawab: “Allah”

 

Setelah mereka mengakui rububiyahNya, maka Allah mencela mereka sebagai pengingkaran atas tindakan kesyirikan mereka terhadap Allah dengan yang selain-Nya melalui firman-Nya: Maka katakanlah: “Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

 

• Dan termasuk juga dalam hal ini firman Allah: Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?”Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

 

Setelah mereka mengakui (rububiyahNya), Allah mencela mereka sebagai pengingkaran atas kesyirikan mereka dengan firman-Nya, Katakanlah: “Maka apakah kalian tidak ingat?”

 

• Kemudian Allah berfirman, Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?”Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

 

Sesudah mereka mengakui (rububiyah Allah), Allah cela mereka sebagai pengingkaran atas kesyirikan mereka dengan firman-Nya: Katakanlah: “Maka apakah kalian tidak bertakwa?”

 

• Kemudian Allah berfirman: Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab) -Nya, jika kalian mengetahui?”Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

 

Setelah mereka mengakui (rububiyah Allah), Allah mencela mereka sebagai pengingkaran atas kesyirikan mereka dengan firman-Nya: Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?”(Al-Mu’minun:84-89)

 

• Termasuk juga firman Allah ta’ala: Katakanlah: “Siapakah Rabb langit dan bumi?”Jawabnya: “Allah”.

 

Setelah benar pengakuan mereka (terhadap rububiyahNya), Allah mencela mereka sebagai pengingkaran atas kesyirikan mereka dengan firman-Nya: Katakanlah: “Maka patutkah kalian mengambil pelindung-pelindung kalian dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. (Ar-Ra’d: 16)

 

• Termasuk juga firman Allah ta’ala, Dan sesungguhnya jika kalian tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?”Tentu mereka akan menjawab: “Allah”.

 

Setelah benar pengakuan mereka (terhadap rububiyahNya), Allah mencela mereka sebagai pengingkaran atas kesyirikan mereka dengan firman-Nya: Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (Al-Ankabut: 61)

 

• Firman Allah ta’ala: Dan sesungguhnya jika kalian menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?”Tentu mereka akan menjawab: “Allah”.

 

Setelah benar pengakuan mereka (terhadap rububiyahNya), Allah mencela mereka sebagai pengingkaran atas kesyirikan mereka dengan firman-Nya: Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya). (Al-Ankabut:63)

 

• Dan firman Allah, Dan sesungguhnya jika kalian tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”Tentu mereka akan menjawab: “Allah”.

 

Setelah benar pengakuan mereka (terhadap rububiyahNya), Allah mencela mereka sebagai pengingkaran atas kesyirikan mereka dengan firman-Nya: Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Luqman: 25)

 

• Dan firman-Nya, Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?”Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untuk kalian dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kalian sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya?

 

Tidak diragukan lagi bahwa jawabannya yang tidak ada jawaban yang lainnya kecuali: Dia adalah yang Maha Berkuasa atas penciptaan langit dan bumi, dan apa-apa yang disebut bersamanya, adalah sesuatu yang lebih baik dari benda mati yang tidak mampu berbuat apapun. Setelah jelas pengakuan mereka,maka

Allah mencela mereka sebagai mengingkari atas perbuatan mereka dengan firman-Nya: Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orangorang yang menyimpang (dari kebenaran).

 

• Setelah itu Allah berfirman: Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?

 

Tidak diragukan lagi bahwa jawabannya yang tidak ada lagi jawaban yang lainnya kecuali seperti yang sebelumnya. Setelah menunjukkan pengakuan mereka terhadap hal tersebut, maka Allah mencela mereka dengan firman-Nya: Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

 

• Selanjutnya Allah jalla wa’ala berfirman: Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi?

 

Tidak diragukan lagi bahwa jawabannya adalah seperti yang sebelumnya. Setekah menunjukkan pengakuan mereka terhadap hal tersebut, Allah mencela mereka dengan firman-Nya: Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Amat sedikitlah kalian mengingati (Nya).

 

• Kemudian Allah berfirman: Atau siapakah yang memberikan petunjuk kepada kalian dalam kegelapan di daratan dan laut dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya?

 

Tidak diragukan lagi bahwa jawabannya seperti yang sebelumnya. Setelah menunjukkan pengakuan mereka terhadap hal tersebut, Allah mencela mereka dengan firman-Nya: Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).

 

• Setelah itu Allah berfirman: Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rizqi kepada kalian dari langit dan bumi?

 

Tidak diragukan lagi bahwa jawabannya seperti yang sebelumnya. Setelah menunjukkan pengakuan mereka terhadap hal tersebut, Allah mencela mereka dengan firman-Nya: Apakah di samping Allah

23 Juli 2012

HAKEKAT MUHAMMAD DAN WIHDATUL WUJUD

oleh alifbraja

hakikat muhammad

Ketahuilah, semoga engkau diberi taufiq kepada segala yang dicintai dan diridhai Allah. Makhluk yang pertama yang diciptakan Allah adalah Ruh Muhammad s.a.w. Ia diciptakan daripada cahaya Jamal Allah. Sebagaimana firman Allah di dalam Hadits Qudsi: “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-Ku”. Nabi s.a.w. bersabda:

“Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah akal.”

Ruh, cahaya, qalam, dan akal pada dasarnya adalah satu, yaitu hakikat Muhammad. Hakikat Muhammad disebut nur, karena bersih dari segala kegelapan yang menghalangi sebagaimana firman Allah:

“Telah datang kepadamu cahaya dan kitab penerang dari Allah”.

Hakikat Muhammad disebut juga akal, karena ia yang menemukan segala sesuatu. Hakikat Muhammad disebut qalam, karena ia yang menjadi sebab perpindahan ilmu seperti halnya mata pena sebagai pengalih ilmu di dalam huruf (pengetahuan yang tertulis). Ruh Muhammad adalah ruh yang termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sesuai dengan sabda Rasul s.a.w.:

“Aku dari Allah dan makhluk lain dari aku.”

Dan dari ruh Muhammad itulah Allah menciptakan semua ruh di alam Lahut dalam bentuk yang terbaik yang hakiki. Itulah nama seluruh manusia di alam Lahut. Alam Lahut adalah negeri asal setelah 4.000 tahun dari penciptaan Ruh Muhammad maka Allah menciptakan Arasy dari Nur Muhammad. Begitu pula seluruh makhluk lainnya diciptakan dari Nur Muhammad.

Selanjutnya ruh-ruh diturunkan ke alam yang terendah, dimasukkan pada makhluk yang terendah, yaitu jasad. Sebagaimana firman Allah: “Kemudian Ku turunkan manusia ke tempat yang terendah”. Proses turunnya adalah setelah ruh diciptakan di alam Lahut, maka diturunkan ke alam Jabarut dan dibalut dengan cahaya Jabarut. Sebagai pakaian antara dua haram lapis kedua ini disebut ruh Sultani. Selanjutnya diturunkan lagi ke alam Malakut dan dibalut dengan cahaya Malakut yang disebut ruh Ruhani. Kemudian diturunkan lagi ke alam Mulki dan dibalut dengan cahaya Mulki. Lapis keempat ini disebut ruh Jismani.

Selanjutnya Allah menciptakan badan (jasad) dan Mulki (bumi), sebagaimana firman Allah:

Dari bumi Aku mencipta kamu. Kepada bumi Aku mengembalikanmu. Dan dari bumi pulalah Aku mengelurkanmu.”

Setelah terwujud jasad, maka Allah memerintahkan ruh agar masuk ke dalam jasad dan ruh masuk ke dalam jasad, sebagaimana firman Allah: “Ku tiupkan ruh dari-Ku dalam jasad”.

Ketika ruh berada di dalam jasad dan merasa senang berada pada jaad, ruh lupa akan perjanjian awal di alam Lahut, yaitu hari perjanjian: “Alastu birabbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?) Ruh menjawab: “Benar, Engkau adalah Tuhan kami”. Karena ruh lupa pada perjanjian awal, maka ruh tidak dapat kembali ke dalam Lahut sebagai tempat awal. Dengan kasihnya Allah menolong mereka dengan menurunkan kitab-kitab samawi sebagai peringatan tentang negeri asal bagi mereka, sesuai dengan firman Allah: “Berikanlah peringatan pada mereka tentang hari-hari Allah”, yaitu hari pertemuan antara Allah dengan seluruh arwah di alam Lahut. Lain halnya dengan para nabi, mereka datang ke bumi, dan kembali ke akhirat badannya di bumi, sedangkan ruh intinya berada di negeri asal karena adanya peringatan ini. Sangat sedikit orang yang sadar dan kembali serta berkeinginan dan sampai ke alam asal.

Karena sedikitnya manusia yang mampu kembali ke alam asal, maka Allah melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad Rasulullah. Penutup penunjuk jalan dari kesesatan ke alam terang. Ia diutus untuk mengingatkan mereka yang lupa dan membuka hatinya. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai serta bertemu dengan Jamal Allah yang azali, sesuai dengan firman Allah:

“Katakanlah: ini adalah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah dengan pandangan yang jelas. Aku dan para pengikutku”.

Nabi bersabda:

“Para sahabatku seperti bintang-bintang, mengikut yang mana pun kamu akan mendapat petunjuk”.

Pada ayat tadi dijelaskan bahwa Nabi mengajak manusia kembali kepada Allah dengan pandangan yang jelas, yang di dalam Al-Quran disebut basyirah. Basyirah ini adalah ruh asli yang terbuka pada mata hati bagi para aulia. Basyirah tidak akan terbuka hanya dengan ilmu zahir sahaja, tetapi untuk membukanya harus dengan ilmu Ladunni batin (ilmu yang langsung dari Allah). Sesuai dengan firman Allah: “Kepada dia Ku berikan ilmu yang langsung dari Aku.” Untuk menghasilkan basyirah manusia mengambilnya dari ahli basyirah dengan mengambil talqin dari seorang wali mursyid yang dapat menunjukkan dari alam Lahut.

Wahai saudaraku, sadarlah dan bergegaslah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu, sebagaimana firman Allah:

“Bergegaslah kamu untuk mendapat ampunan dari Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Wahai saudaraku, masuklah pada tariq (jalan kembali kepada Allah) dan kembalilah kepada Tuhanmu bersama golongan ahli ruhani. Waktu sangat sempit, jalan hampir tertutup dan sulit mencari teman untuk kembali ke negeri asal (alam Lahut). Keberadaan kita di bumi yang hina dan yang akan hancur ini tidak hanya untuk berpangku dengan makan, minum dan memenuhi nafsu belaka.

Seorang ahli Sya’ir berkata: “Nabimu selalu menunggu, sangat khawatir memikirkanmu”. Sabda Nabi: “Aku mengkhawatirkan umatku yang ada di akhir zaman”.

Ada dua macam ilmu yang diturunkan kepada kita, yaitu:

  1. Ilmu zahir, yakni syariat.
  2. Ilmu batin, yakni ma’rifat.

Syariat untuk jasad kita dan ma’rifat untuk batin. Kedua-duanya harus dipadu dan dari perpaduannya membuahkan hakikat, seperti halnya pohon dan daun yang menghasilkan buah, sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-rahman ayat 19-20:

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”.

Dengan ilmu zahir sahaja manusia tidak akan mencapai hakikat dan tidak akan sampai pada inti tujuan ibadah. Ibadah yang sempurna hanya dapat diwujudkan oleh perpaduan antara ilmu zahir dan ilmu batin, sebagaimana firman Allah dalam surah Az-dzariyat ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan mereka supaya menyembah-Ku”.

Yang dimaksudkan dengan ibadah di sini ialah ma’rifat. Manusia tidak akan beribadah secara sempurna kepadanya tanpa ma’rifat yang sesungguhnya. Ma’rifat dapat berwujud setelah hilangnya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati dengan terus berupaya membersihkannya sehingga manusia dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam dan tertutup di dalam rasa di lubuk hati. Firman Allah dalam Hadits Qudsi:

“Aku adalah Kanzun Mahfiyya (yang terpendam dan tertutup). Aku ingin ditemukan dan dikenali. Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”.

Maka jelaslah bahwa tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia ma’rifat kepada Allah. Ma’rifat itu ada dua macam, yaitu ma’rifat sifat Allah dan ma’rifat zat Allah. Ma’rifat sifat adalah tugas jasad di dunia dan akhirat (di alam Lahut, sejak manusia hidup di dunia), sebagaimana firman Allah:

“Ku perkuat manusia dengan ruh Al-Qudsi” (Surat Al-Baqarah ayat 87).

Seluruh manusia dalam dirinya diperkuat oleh ruh Al-Qudsi. Ma’rifat sifat dan ma’rifat zat hanya dapat dicapai dengan perpaduan antara ilmu zahir dan ilmu batin. Rasul bersabda:

“Ilmu itu ada dua macam. Pertama: Ilmu lisan, sebagai hujjah Allah dan kepada hambanya. Kedua: Ilmu batin yang bersumber di lubuk hati, ilmu inilah yang berguna untuk mencapai tujuan pokok dalam ibadah”.

Mula-mula manusia memerlukan ilmu syariat agar badannya mempunyai kegiatan dalam mencari ma’rifat pada ma’rifat sifat, yaitu darajat. Kemudian memerlukan ilmu batin agar ruhnya mempunyai kegiatan untuk mencapai ma’rifatnya pada ma’rifat zat. Untuk mencapai tujuan ini manusia harus meninggalkan segala sesuatu yang menyalahi syariat dan tariqat. Hal ini akan dapat dicapai dengan melatih diri meninggalkan keinginan nafsu walaupun terasa pahit dan melakukan kegiatan ruhaniyyah dengan tujuan mencapai ridha Allah serta bersih dari riya’ (ingin dipuji orang lain) dan sum’ah (mencari kemasyhuran). Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 110:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal soleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Yang dimaksudkan dengan alam ma’rifat adalah alam Lahut, yaitu negeri asal tempat diciptakan ruh Al-Qudsi dalam wujud terbaik. Yang dimaksudkan ruh Al-Qudsi ialah hakikat manusia yang disimpan di lubuk hati; keberadaannya akan diketahui dengan taubat dan talqin dan mudawamah (mengamalkan dengan terus-menerus) kalimat “Laa Ilaha Illallah”. Pertama dengan lidah fisiknya, kemudian bila hatinya sudah hidup beralih dengan lidah hatinya. Ahli tasauf menamakan ruh Al-Qudsi dengan sebutan Tiflul Ma’ani (bayi ma’nawi) karena ia dari ma’nawiyah qudsiyyah. Pemberian nama tiflul ma’ani didasarkan kepada:

  1. Ia lahir dari hati, seperti lahirnya bayi dari rahim seorang ibu dan ia diurus dan dibesarkan hingga dewasa.
  2. Dalam mendidik anak-anak tentang keislaman, ilmu yang didahulukan adalah ilmu ma’rifat. Begitu pula bagi bayi ma’nawi ini.
  3. Bayi bersih dari segala kotoran dosa lahiriyah. Begitu pula bayi ma’nawi, ia bersih dari syirik (menyekutukan Allah) dan ghaflah (lupa kepada Allah).
  4. Perumpamaan bayi ma’nawi merupakan gambaran kesucian karena anak-anak lebih banyak yang suci daripada yang lainnya. Oleh karena itu bayi ma’nawi terlihat dalam mimpi dengan rupa yang indan dan tampan.
  5. Ahli surga disifati dengan sifat anak-anak, sebagaimana firman Allah: “Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap mudanya” (Surah Waqi’ah: 17). Firman Allah: “Anak-anak muda melayani mereka, bagai mutiara yang terpendam” (Ath-Thur: 24).
  6. Karena bayi ma’nawi itu halus dan suci.

Penggunaan nama tiflul ma’ani adalah majazi ditinjau dari kaitannya dengan badan, ia berwujud seperti rupa manusia, juga karena manisnya bukan karena kecilnya: dan dilihat dari awal adanya, ia adalah manusia hakiki karena dialah yang berhubungan langsung dengan Allah, sedangkan badan dan ruh jasmani bukan mahramnya bagi Dia berdasarkan Hadits Nabi s.a.w.: “Aku punya waktu khusus dengan Allah; malaikat terdekat, nabi dan rasul tidak akan dapat memilikinya”. Yang dimaksudkan dengan malaikat terdekat dalam hadits tadi adalah ruh ruhani yang diciptakan di alam Jabarut, seperti halnya malaikat dapat masuk ke alam Lahut. Sabda Nabi s.a.w.: “Allah memiliki surga yang tanpa bidadari dan istana serta tanpa madu dan susu. Kenikmatan di surga itu hanya satu, yaitu melihat zat Allah”. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran: “Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri” (Al-Qiyamah: 22). Juga dijelaskan dalam Hadits Nabi s.a.w.: “Kamu sekalian akan melihat Tuhanmu, seperti kamu melihat sinar bulan purnama”. Bila malak jasmani, yakni segala sesuatu selain ruh Al-Qudsi masuk di alam Lahut, maka pasti akan terbakar.

WIHDATUL WUJUD

Konsep Wihdatul Wujud adalah konsep yang dirumuskan oleh Ibnu Arabi, beliau mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya.

Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna, menurutnya.

Ibn Al-‘Arabi adalah pendiri faham Tauhid Wujudi bahkan ia merupakan panutan dalam pemikiran ini. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum fuqoha. Pemikiran inilah yang menjadi landasan konsep pendidikannya bahkan semua pola pikirnya berporos pada pemahaman ini. Perlu digaris bawahi bahwa Ibn Arabi belum pernah menyebutkan istilah wahdatul wujud dalam kitabnya namun istilah ini dicetuskan oleh orientalis/ kafirin. Namun dari berbagai ajarannya bisa dikatakan bahwa pemahamannya adalah wahdatul wujud.

Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud Ibn Arabi mengungkapkan:

“ketahuilah bahwa wujud ini satu namun Dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan asma (nama-nama), dan memiliki pemisah yang disebut dengan barzakh yang menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang dikenal dengan Insan Kamil”.

Ia juga menjelaskan:

“Ketahuilah bahwa Tuhan segala Tuhan adalah Allah Swt. Sebagai Nama Yang Teragung dan sebagai ta’ayun (pernyataan) yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama, dan tujuan terakhir dari segala tujuan, dan arah dari segala keinginan, serta mencakup segala tuntutan, kepadaNya lah isyarat yang difirmankan Allah kepada RasulNya Saw -bahwa kepada Tuhanmulah tujuan terakhir- karena Muhammad adalah mazhar dari pernyataan pertama (ta’ayyun awwal), dan Tuhan yang khusus baginya adalah Ketuhanan Yang Teragung ini. Ketahuilah bahwa segala nama dari nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah yang bernama dengan ‘mahiat’ atau ‘ain sabitah’ (esensi yang tetap). Setiap nama juga memiliki gambaran di luar yang diberi nama dengan mazahir (penampakan atau fenomena) dan segala nama tadi merupakan pengatur dari mazahir (fenomena-fenomena) ini. Sedang Haqiqat Muhammadiyah merupakan gambaran dari nama ‘Allah’ yang menghimpun segala nama ketuhanan yang darinya muncul limpahan atas segala yang ada dan Allah Swt sebagai Tuhannya. Haqiqat Muhammadiyah yang mengatur gambaran alam seluruhnya dengan Tuhan yang tampil padanya, disebut dengan Rab al-arbab (Allah Swt).”

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan Haqiqat Muhammadiyah di sini bukan hanya Nabi Muhammad sebagai manusianya namun Haqiqat Muhammadiayah adalah Asma dan Sifat Allah serta Akhlaqnya. Nabi muhammad disebut dengan Muhammad karena Beliau mampu berakhlaq dengan seluruh akhlaq ketuhanan tersebut.

Selanjutnya Ibn Arabi juga mengatakan:

“ketahuilah bahwa yang ada hanya sifat-sifatNya Allah, af’alNya maka semuanya adalah Dia, denganNya, dariNya dan kepadaNya. Kalaulah ia terhijab dari alam ini walaupun sekejap maka binasalah alam ini secara keselurhan, kekalnya alam ini dengan penjagaanNYa dan penglihatanNya kepada alam. Akan tetapi jika sesuatu sangat tampak jelas dengan cahayaNya hingga pemahaman tidak mampu untuk mengetahuinya maka penampakan itulah yang disebut dengan hijab.”

Jadi asma dan sifat itulah yang disebut dengan Haqiqat Muhammadiyah, dan alam muncul dari hakikat tersebut. Oleh sebab itu Ibn Arabi mengungkapkan:

“Alam pada hakikatnya adalah satu namun yang hilang dan muncul adalah gambarnya saja”.

Maksudnya hakikat alam tadi berasal dari Zat Yang Satu, yang pada dasarnya gambaran alam tadi hilang dan muncul, artinya alam itu pada hakikatnya tiada berupa gambar saja. Dalam hal ini ia menyatakan:

“Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu Dialah segala sesuatu tadi.”

Artinya penampakannya tiada lain Dia juga, yang tampil dariNya adalah Dia juga.

Lebih jelasnya Syaikh Abd Ar-Rauf Singkil menjelaskan dalam sebuah karyanya:

“wujud alam ini tidak benar-benar sendiri, melainkan terjadi melalui pancaran. Yang dimaksud dengan memancar di sini adalah bagaikan memancarnya pengetahuan dari Allah Ta’ala. Seperti halnya alam ini bukan benar-benar Zat Allah, karena ia merupakan wujud yang baru, alam juga tidak benar-benar lain dariNya. Karena ia bukan wujud kedua yang berdiri sendiri disamping Allah.”

Jadi alam bukanlah sebenarnya Allah namun pancarannNya dengan kata lain hijabnya. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan Willian dalam salah satu karyanya mengenai Ibn Arabi: “Hanya satu wujud dan seluruh eksistensi tiada lain adalah pancaran dari Wujud Yang Satu.” Kesimpulannya yang tampak itulah makhluk cipatanNya sedang ZatNya tetaplah ghaib. Hal ini dijelaskan oelh Ibn Arabi sebagai berikut:

“Allah nyata ditinjau dari penampakanNya pada cipatanNya dan batin dari segi Zatnya.”

Untuk lebih jelasnya, Tajalliyat Allah pada lingkatan wujud adalah merupakan penampakan Allah berupa kesempurnaan dan keagungan yang abadi. Zatnya merupakan sumber pancaran yang tak pernah habis keindahan dan keagunganNya. Ia merupakan perbendaharaan yang tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin membuka perbendahataan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan dan kesempurnaanNya dalam pentas alam yang maha luas.

Ibn Arabi berkata: “Alam maujud atau mengada denganNya”.

Tajalliyat al-Wujud dengan gambaran global dalam tiga hadirat: Hadirat Zat (Tajalliyat Wujudiya Zatiya) yaitu pernyataan dengan diriNya untuk diriNya dari diriNya. Dalam hal ini Ia terbebas dari segala gambaran dan penampakan. Ini dikenal dengan Ahadiyat. Pada keadaan ini tampak Zat Allah terbebas dari segala sifat, nama, kualitas, dan gambaran. Ia merupakan Zat Yang Suci yang dikenal dengan rahasia dari segala rahasia, gaib dari segala yang gaib, sebagaimana ia merupakan penampakan Zat, atau cermin yang terpantul darinya hakikat keberadaan yang mutlak. Tajalliyat Wujudiya Sifatiya yang merupakan pernyataan Allah dengan diriNya, untuk diriNya, pada penampakan kesempurnaanNya (asma) dan penampakan sifat-sifatNya yang azali. Keadaan ini dikenal dengan wahdah. Pada hal ini tampak hakikat keberadaan yang mutlah dalam hiasan kesempurnaan ini lah yang dikenal dedngan Haqiqat Muhammadiyah (kebenaran yang terpuji), setelah ia tersembunyi pada rahasia gaib yang mutlak denganjalan faid al-aqdas (atau limpahan yang paling suci karena ia langsung dari Zat Allah). Dalam keadaan ini tampillah al-A’yan as-Sabitah (esensi-esensi yang tetap) atau ma’lumat Allah. Tajalliyat Wujudiyah Fi’liyah (af’aliyah) yaitu pernyataan Haq dengan diriNya untuk diriNya dalam fenomena esensi-esensi yang luar (A’yan Kharijah) atau hakikat-hakikat alam semesta. Keadaan ini dikenal dengan mutlaq dengan ZatNya, sifatNya dan perbuatanNya dengan jalan limpahan yang suci (al-faid al-muqaddas). Allah pun tampak pada gambaran esensi-esensi luar (A’yan Kharijah), baik yang abstrak maupun yang kongkrit yang merupakan asal dari alam semesta seluruhnya.

 

Allah Swt merupakan awal dari tajalliyat wujud segala fenomenanya dan dimensinya. Jadi Dia tidak berasal dari ketiadaan dan tidak berakhir kepada ketiadaan pula. Ia merupakan karya absolut yang berada pada lingkatan yang absolut, ia berasal dari yang Haq dengan Haq dan kepada yang Haq, baik dalam tahap Zat, Sifat dan Af’al. semuanya adalah penampakan dari hakikat yang satu.

Namun apakah berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Bisa dikatakan ‘ya’ atau ‘tidak’, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam salah satu karyanya:

“Dalam hal ini ada sebagian golongan sufi yang terpeleset jatuh dalam kekhilafan dari yang sebenarnya, mereka berkata tidak ada kecuali apa yang engkau lihat bahwa alam adalah Allah dan Allah adalah alam tiada lain. Sebabnya kesaksian ini terjadi karena mereka belim benar benar mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqun. Kalau mereka mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqin maka meraka tidak akan berkata demikian dan menetapkan segala hakikat pada tempatnya dan mengetahuinya dengan ilmu dan penyingkapan.”

Disamping itu penyatuan antara manusia dan hamba adalah mustahil ataupun Allah bertempat adalah juga mustahil. Hal ini ia jelaskan dalam sebuah kitabnya:

“Ittihad adalah mustahil karena dua zat menjadi satu, tidak akan mungkin bertemu antara hamba dan Tuhan pada satu wajah selamanya ditinjau dari ZatNya.”

Dari pernyataan ini jelas beliau tidak berpaham panteisme, jadi bagaimana menafsirkan wahdatulwujud tersebut? Sebagaimana yang diungkapkan sebelumnya bahwa Zat Allah adalah sumber segalanya. Jadi yang disebut eksistensi atau wujud adalah Zat tersebut. Sedangkan keadaan yang dikenal dngan Haqiqat Muhammadiyah (A’yan sabitah, wahdah, tajalliyat wjudiyah sifatiyah) merupakan penampakan atau bayangan dari Zat Yang Suci yang bernama Allah. Kemudian keadaan yang bernama Wahdaniyat (tajalliyat wujudiyah fi’liyah atau a’yan kharijiyah) adalah bayangan dari wahdah atau Haqiqat Muhammadiyah. Jadi seluruhnya bayangan dari Zat Yang Suci. Lebih jelasnya alam ini (a’yan kharijiyah) penampakan atau bayangan dari Asma Allah yang dikenal dengan Haqiqat Muhammdiyah ataupaun A’yan Sabitah. Sedangkan Asma adalah penampakan dari Zat Yang Maha Suci. Jadi bayangan adalah sesuatu yang pada hakikatnya tiada namun ia ada bergantung kepada Zat Allah, sebagaimana bayangan suatu benda.

Penjelasan diatas dikuatkan dengan perkataan Ibn Arabi dalam kitab Futuhat:

Jika Engkau nyatakan: “Tiada sesuatupun yang setara denganNya maka hilanglah bayangan sementara bayangan terbentang maka hendaklah engkau memperhatikan lebih teliti.”

Dalam kitab Al-Jalalah beliau menjelaskan:

“Segala sesuatu memiliki bayangan dan bayangan Allah adalah Arasy. Akan tetapi bukanlah setiap bayangan terbentang. Arasy bagi Tuhan adalah bayangan yang tidak terbentang, apakah engkau tidak memperhatikan bahwa jisim yang memiliki bayangan apabila diliputi oleh cahaya maka bayangannya ada padanya.”

Bayanganyang dimaksud di sini adalah alam semesta. Manusia memiliki banyak bayangan jika dia disinari oleh beberapa cahaya yang datang dari berbagai arah, wajahnya akan muncul dalam berbagai cermin yang pada hakikatnya ia adalah satu namun dipatulkan oleh beraam cermin. Begitu pula Allah Esa dari segi ZatNya dan berbilang dari segi penampakanNya dalam gambaran serta bayanganNya dalam cahaya. Jadi jelas bahwa sebenarnya alam ini adalah bayangan yang hakikatnya tiada atau dikenal dengan batil. Ibn Arabi menjelaskan:

“sebenar-benar ungkapan yang dikatakan oleh orang Arab bahwa; “segala sesuatu selain Allah adalah batil” karena siapa yang keberadannya tergantung kepada yang lain maka dia adalah tiada.”

Ia juga mengungkapkan dalam Risalah al-Wujudiyah:

“Sesungguhnya engkau tidak pernah ada sama sekali dan bukan pula engkau ada dengan dirimu atau ada di dalamNya atau bersamaNya dan bukan pula engkau binasa ataupun ada.”

Untuk menjelaskan perkataan ini ia mengutip perkataan Abu Said Al-Kharraj menyatakan: “Aku mengenal Allah dengan menghimpun segala dua hal yang bertentangan.” Artinya Dialah Yang Lahir dan Yang Batin tanpa keadaan yang lain. Dijelaskan juga dalam kitabnya Ar-risalah Al-Wujudiyah:

“Dialah Yang Awal tanpa berawal, Yang Akhir tanpa berakhir, Yang Lahir tanpa jelas, Yang Batin tanpa tersembunyi.”

Hal ini jika difahami berarti bahwa manusia tidak memiliki keberadaanyang independen dalam arti kata keberadaannya pada hakikatnya adalah bayangan dari keadaan Allah. Karena pada hakikatnya manusia tiada yang ada Allah. Jadi manusia adalah penampakan, bayangan atau ayat Allah yang pada hakikata adalah tiada atau khayal. Karena suatu yang sifatnya khayal berjumpa dengan khayal seolah kelihatan nyata.

Dalam Fusus al-Hikam Ibn Arabi mengungkapkan:

“Ketahuilah bahwa hadirat khayal merupakan hadirat yang menghimpun dan mencakup segal seuatu dan yang bukan sesuatu.”

Jadi jelas bahwa alam ini adalah fana atau khayal danyang kekal dan tampak adalah ZatNya Yang Suci dengan penampakan-penampakan yang indah dan agung yang mewujudkan kesempurnaanNya yang tiada batas.”

Di lain bukunya Ibn Arabi mengungkapkan:

“Tidak ada dalam wujud ini selain Allah, kita walupun ada (Maujudun) maka sesungguhnya keberadaan kita denganNya, barang siap yang keberadaannya dengan selain Allah maka ia masuk dalam hukum ketiadaan.”

Maksudnya ialah bahwa Allah ada dengan sendiriNya dan tidak mengambil keberadaannya dari yagn lain. Sedangkan alam adalah ada karena Allah mengadakannya. Jadi alam adalah keberadaanyang mungkin ada yang pada hakikatnya tiada. Di sini kita harus membedakan antara wujud dan maujud. Wujud merupakan isim masdar yang berarti keadaan dan Maujud merupakan isim maf’ul berarti sesuatu yang mengada karena pengaruh lain . Bisa ditafsirkan bahwa Allah adalah keberadaan itu sendiri atau Zat Yang Maha Ada, sedang maujud adalah sesuatu yang menjadi ada disebabkan hal lain. Maujud merupakan ‘objek’ yang berarti sesuatu yang menerima pengaruh perbuatan yang lain. Jadi sesuatu yang menjadi ada karena adanya keberadaan yang lain bukanlah keberadaan yang sejati namun keberadannya bergantung kepada Wujud Yang Sejati. Keberadaannya disebut dengan khayal, artinya ia ada karena bergantung pada Wujud Sejati. Namun jia sesuatu tidak bergantung kepada Wujud Sejati tentu dia tiada, karena siapa yang akan memberikannya keberadaan? Jadi jelas yang dimaksud dengan Wahdat al-Wujud adalah bahwa wujud yang sejati adalah satu. Bukan berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam.

Dalam menerangkan wahdatulwujud Ibnu Arabi kadang mengutip kuplet berikut, sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Alif: Dalam segala sesuatu Dia memiliki ayat Menunjukkan kenyataan bahwa Dia adalah Satu.

 

Kesatuan wujud ini juga dapat difahami dari sebuah hadis yang sering dikutip Ibn Arabi dalam menerangkan masalah Wahdat al-Wujud yaitu: Kanallahu wala syai’a ma’ahu artinya ‘dahulu Allah tiada sesuatu apapun besertaNya’. Disempurnakan dengan perkataan wahuwal aana ‘ala makaana artinya ‘sekarang Ia sebagaimana keadaanNya dahulu’. Maksud dari kedua pernyataan ini tidak ada sesuatu apapun yang menyertai Allah selamanya dan segalaNya pada sisiNya adalah tiada. ‘Tiada Tuhan selain Allah’ artinya segala sesuatu berupa alam yang gaib dan nyata adalah bayangan Allah yang pada hakikatnya tiada. Karena segala sesuatu yang tiada bisa dijadikan Tuhan oleh manusia dan yang pada hakikatnya yang ada hanya Zat Allah Yang Maha Suci yang bernama Allah.

Yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas ialah, alam bisa dikatakan Allah dan bisa juga tidak. Dilihat dari keterbatasan alam dan hakikatnya yang merupakan khayal semata maka alam bukanlah Allah. Namun jika dilihat bahwa alam tidak akan muncul dengan sendirinya dan mustahil ada wujid disamping Allah ataupun diataNya atau dibawahNya atau ditengahNya atau didalamNya atau diluarNya maka alam adalah penampakan Allah. Penampakan itu tiada lain allah jua adanya.

Dibalik itu semua dalam memahami hal ini bukanlah cukup dengan logika namun harus dibuktikan dengan penyaksian sebagaimana pernyataan Ibn Arabi:

“Tauhid adalah penyaksian danbukan pengetahuan, barang siapa menyaksikan maka ia telah bertauhid barang siapa hanya mengetahui ia belum bertauhid.”

Jadi beginilah yang dapat difahami dari Wahdat al-Wujud. Permasalahan Tanzih dan Tasybih akan lebih menjelaskan konsep Wahdat Wujud.

 

Al-Hirah (Ketakjuban, Kebingungan, Laut Tanpa Pantai, Anggur Keabadian)

AL-Hirah merupakan ketakjuban dan puncak dari pengenalan akan Allah yang dalam hal ini Ibn Arabi menjelaskan:

“Uluhiyyat (ketuhanan) dapat dikatakan karena ia merupakan tawajjuh (kehendak) Zat untuk mewujudkan semua hal yang mungkin, adapun Zat tidaklah dapat dikatakan namaun disaksikan.”

Hal ini mungkin dapat dijelaskan sebagai berikut:

Zat Allah Esa dan Tunggal adanya namun tidaksatu makhlukpun dapat mengetahui hakikat Zat tersebut serta segala potensi yang ada pada Zat Allah. Penyaksian akan ZatNya bisa terjadi pada orang tertentu dan penyaksian itu bukanlah meluputi akan keadaan ZatNya. Ol;eh sebab itu tidak bisa dikatakan karena segalanya luluh dan fana ketika penyaksian itu terjadi. Sedangkan Uluhiyat bisa dikatakan karena Ia berhubungan dengan segala yang mungkin. Dalam al-Quran Allah berfirman:

Wayuhazzirukumullahu nafsah

Artinya: Allah melarang kamu untuk berpikir tentang diri (Zat)Nya. Ali Imran 28.

Pada ayat yang lain, Allah berfirman:

Wamaa qadarullahu haqqa qadrih

Artinya: dan mereka tidak mampu memperkirakan Allah dengan sebenar-benar perkiraan, Al-An’am 91.

Di samping itu Kalimat Allah atau seala yang mewujud karenaNya atau segala yang berasal dariNya tidak terhingga atau tidak terbats, oleh sebab itu tidak ada bats dalam mengenal Allah Swt. Jadi yang diketahui hanya keesaanNya sedang kuasaNya tanpa batas.

Ibn Arabi menjelaskan dalam tafsirnya mengenai ayat terakhir daru surat al-Kahfi:

“Katakanlah jika lautan huyuli (asal keberadaan alam semesta) yang menerima berbagi macam gambar yang mewuudkan segala ilmu Allah dijadikan sebagai tinta untuk menuliskan segala makna dan hakikat dan roh yang ada pada ZatNya maka air lautan akan habis sebelum habisnya kalimat Allah, karena ia tidak terhingga adanya. Tidak mungkin satu yang terbatas bisa mengibaratkan Yang Tidak Terbatas.”

Jika dikaitkan dengan dua aspek yaitu tanzih dan tasybih, maka aspek tanzihNya adalah ketidak terbatasan Zat Allah atau Maha SuciNya Ia dari segala ikatan dan keterbatasan. Sedang aspek tasybihNya adalah kalimatNya atau fenomena segala alam ini yang mewujud denganNya. Alam ini sendiri juga tidak terbatas, sebagaimana kalimat Allah tidak terbatas. Jadi puncak pengenalan akan Allah adalah ketidak mampuan untuk mengenalNya dan ketakjban akan keMaha BesaranNya. Sebagaimana Nabi bersabda:

Allahumma la nuhshi tsanaan ‘alaika anta kama atsnaita ‘ala nafsika

Artinya: “Ya Tuhan kami kami tidak mampu menghumpun pujian kepadaMua sebagaimana Engakau memuji diriMu Sendiri.”

Abu Bakar berkata: “ketidak sanggupan untuk mengenal Allah adalah pengenalan. Oleh sebab itu Abu Talib al-Makki berkata: “tidak mengenal Allah selain Allah.” Nabi Saw juga pernah bersabda: “Rabbi zidni fika tahayyuran” yang artinya : “Wahai Tuhanku tambakanlah kepadaku keta’juban.” Hal ini dita’wilkan oleh Ib Arabi sebagai kesinambunan takalliyat Allah kepada Nabi Saw. Kesinambungan tajalliyat adalah bertambahnya senantiasa ilmu pengenalan akan Allah dan itu tentunya tiada batas.

Nabi Muhammad Saw merupakan jalan petunjuk kepada ketakjubanyang membaw panji pujian kelak dihari kiamat. Ialah hamba yang paling mengenal Allah. Oleh sebab itu seorang tidak akan mampau mengenal Allah kecuali melalui jalan atau cermin Muhammad Saw. Ibn Arabi menjelaskan dalam kitab fusus al-Hikam:

“Allah berfirman: “sesungguhnya sahabatmu tidaklah sesat dan salah: an-an’am 2, atau Ia tidak takut dalam keheranannya karena Ia mengetahi bahwa puncak dalam pengenalan akan Allah adalah hirah (ketakjuban). Maka barang siapa yang sampai dalam keadaan ini maka ia telah beroleh petunjuk dan dia adalah yang menunjuki dan menjelaskan dalam penetapan ketakjuban.”

Ibn Arabi menyebutkan: “ Yang Haq adalah lautan dasarnya adalah azali pantainya adalah abadi.” Inilah lautan yang tiada tepi, ia melantunkan syair dalam ketakjuban: Aku terkesima pada Samudera dantap pantai dan Pantai tanpa samudera Pada Cahaya pagi tanpa kegelapan dan Malam tanpa fajar Pada dunia tanpa tempat yang diketahui oleh pagan dan pendeta Pada kubah biri langit, menjulang tinggi dan berputar Kemahakuasaan adalah pusatNya dan pada bumi yang subur tanpa kubah dan tempat, tersembunyi rahasia.

 

Tasybih dan Tanzih

Permasalahan Tasybi dan Tanzi juga merupakan polemik dari daulu ingga sekarang. Dalam al ini Ibn Arabi berpendapat bahwa dalam mengenal Allah manusia harus melihat TanzihNya (Kesecuian Allah dari segala sifat yang baharu) pada TasybihNya (KeserupaanNya dengan yang baharu) dan tasybihNya pada tanzihNya. Artinya untuk mengenal Allah harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus. Ibn Arabi sering mengutip perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj: “ Aku mengenal Allah dengan menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang menganal Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi kemutlakanNya. Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah seperti yang dilakukan ole kalangan Mu’tazila yang melucuti Tuhan dari segala sifat, hingga Allah menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Al ini mengakibatkan terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika hanya mengenal Allah dalam aspek tasybih saja seperti yang dilakukan kalangan al_mujassimah maka mengakibatkan keserupaan Tuhan dengan yang baharu.

Dalam kitab Fusus al-Hikam Ia mengatakan:

“Pensucian dari orang yang mensucikan merupakan pembatasan bagi yang disucikan, karena ia telah mengistimewakan Allah dan memisahkanNya dari sesuatu yang menyerupai, jadi pensucianNya dari suatu sifat yang wajib merupakan keterikatan dan keterbatasan, maka tidak ada di sana kecualai Yang terikat dan Maha Tinggi dengan kemutlakanNya dan ketidak terbatasanNya.”

‘Abd al_raziq al-Qasyani menjelaskan mengenai hal ini bahwa tanzih berarti mengistimewakan Allah dari segala yang baharu yang sifatnya materi dan dari segala yang tidak pantas baginya pensucian dari sigat materi, hal ini berarti bahawa setiap seuatu yang berbeda dari yang lain maka ia tentu memiliki sigat yang bertentangan dari yang lain tersebut. Dengan begitu ia menjadi teriakt denagn suatu sifat dan erbatas dengan satu batasan. Jadi tanzih tersebut merupakan pembatasan. Lebih jelasnya, bahwa yang mensucikan telah mensucikan Allah dari sifat materi dan menyamakanNya dengan sifat rohani yang suci. Dengan begitu ia telah mensucikan Allah dari keterbatasan namun dengan sendirinya ia telah membatasNya dengan kemutlakan, sedang Allah Maha Suci dari ikatan keterbatasan dan kemutlakan, akan tetapi Ia Maha Mutlaq tidak terikat oleh tanzih maupun tasybih juga tidak menafikan keduanya. Ibn Arabi juga menjelaskan:

“Tidak ada yang serupa denganNya” potongan ayat ini mengisyaratkan tanzih, dan “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” potongan ayat ini mengisyaratkan tasybih.

Abd Karim al-Jily menerangkan mengenai hal ini sebagai berikut:

“Yang mensucikan mengosongkan Tuhan dari segala sifat sehingga dia menghilangkan kuasa Tuhan, yang menyerupakan Tuhan menghiasaiNya dengan sifat yang tak pantas aritnya memakaikan Tuhan dengan sifat selainNya (Mujassimah) sedang yang berada di antara keduanya (tidak mengosongkan dan tidak memakaikan) artinya seorang yang ‘arif yang beada antara tasybih dan tanzih tidak menanggalkan apa yang pantas bagi Allah dan menyifatiNya dengan pakaian atau sifat yang tidak pantas bagiNya. Bahkan ia berkata Allah adalah Yang Lahir dan Yang Batin atau ia menyifati Allah dengan Lahir dan Batin. Aspek Batin merupakan hukum kesempurnaan bagiNya sedang aspek Lahir merupakan nyatanya Ia dalam segala yang ada.”

Ibn Arabi menjelaskan dalam sebuah syair: jika engkau mengatakan dengan tanzih maka engakau membuatNya terikat jika engkau mengatakan dengan tasybih engkau membuatNya terbatas jika engakau katana dengan dua hal tadi maka engkau benar engkau menjadi imam dalam ma’rifat dan menjadi penghulu.

 

Penafsiran Ibn Arabi tentang tanzih dan tasybih sesuai dengan doktrin ontologisnya tentang wahdatulwujud, yang bertumpu pada perumusan ambiguous:

“Dia dan bukan Dia” (huwa la huwa) sebagai jawaban atas persoalan apakah alam identik dengan Tuhan. Dalam perumusanini terkadnung dua bagian jawaban:

bagian positif, yaitu ‘Dia’ dan bagian negatif, yaitu ‘bukan Dia’.

Bagian pertama menyatakan bahwa alam identik dengan Tuhan. Bagian terakhir menegaskan aspek tanzih Tuhan. Dapat pula dikatakan bahwa penafsiran Ibn Arabi tentang tanzih dan tasybih sejalan denagn prinsip memadukan segala hal yang bertentangan. Misalnya antara Yang Satu dan yang banyak, Yang Lahir dan Yang Batin. Oleh sebab itu dinaytakan Hakikat Muhammad lah yang menghimpun antar aspek tanzih dan tasybih antara Qran dan Furqan antara Jama’ dan Tafsil.

Ada ungkapan-ungkapan kaum sufi yang mengisyaratkan tasybih yang dikenal dengan syatahat seperti ungkapan Biyazid: “Maha Suci Aku betapa Agung keadaanKu.” Begitu juga imam Junaid: “Tidak ada dalam jubah ini selain Allah.” Al-Hallaj juga berkata: “Ana al-Haq.” Abu Bakar as-Syibli berkata: “Aku adalah titik dibawah Ba.” Perkatan ini semua mengandung tasybih al-Haq dengan yang baharu. Ada sebagian kaum yang mengkafifkan orang yang berkata demikian dan ada yang menta’wilkan. Kaum sufi berkata demikian dalam keadaan iluminasi dan menyaksikan Wajah Yang Satu hingga mereka menyatakan ungkapan syatahat (ungkapanyang janggal dalam keadaan fana). Sedangkan Fir’aun mengatakannya dalam kesadaran penuh akan keberadaan nafsunya dan keberadaan dirinya sebagi Tuhan dan tidak mengaku adanya Allah.

Ini semua berkaitan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Sepanjang sejarah pembicaraan ini taidak pernah habisnya, karena kasus Keesaan Tuhan terus bergulir. Ulama salaf mengimani ayat mutasyabihat dalam batasan tdiak menta’wilkan sebagaimana ungkapan Imam Malik: “Istiwa’ itu diketahui artinya, kaifiyyahnya tidak diketahui,beriman dengannya wajib, bertanya mengenainya bid’ah.” Ulama khalaf menta’wilkannya, ada yang menta’wilkannya dengan berkuasa dan mengatur. Sedang kaum Mu’tazilah mensucikan Tuhandari segala sifat apa lagi sifat yang bahari dengan alsan jika sifat itu qadim maka akan banyaklah yang qadim. Kaum mujassimah menyamakanNya dengan yang baharu dan seterusnya.

Berkaitan dengan muhkamat dan mutasyabihat ini dijelaskan dalam al-Quran surat Ali-Imran ayat 7:

Huwal lazi anzala…..

Artinya: Dialah yang menurunkan al-Quran kepadamu diantaranya ada yang muhkamat itulah ummul kitab (induk kiab) dan yang lainnya mutasyabihat.”

Jadi ayat yang muhkamat mewakili aspek tanzih sedang yang mutasyabihat mewakili aspek tasybih. Mengenai ayat ini Ibn Arabi menafsirkan ayat muhkamat adalah yang mengandung makna yang satu yang merupakan asal kitab dan tidak dimasuki penyerupaan dengan yang baharu, sedang yang lain mutasyabihat. Mutasyabihat ini yang mungkin memiliki dua makna atau lebih atas samr di situ antara yang haq dan yang batil, hal ini dikarenakan bahwa Allah memiliki Wajah Yang Esa dan Kekal setelah fananya makhluk yang tidak mengandung pluralitas dan keterbilangan disamping itu Allah juga memiliki wajah-wajah yang banyak sesuai dengan cermin-cermin penampakanNya berdasarkan potensi penampakanNya dan seluruhnya bersumber dari Wajah Yang Satu tadi. Pada wajah yang banyak inilah samar antara Haq dan yang batil maka turunlah ayat al-Quran agar ayat-ayat mutasyabihat diletakkan pada wajah-wajah yang sesuai dengan potensinya hingga setiap sesuatu berkaitan dengan yang lain sesuai dengan kesiapannya. Maka dari sinilah timbul ujian dan cobaan. Adapun orang ‘arif yang muhaqqa yang mengenal Wajah Yang Kekal dalam berbagai gambaran dan bentuk mengenal wajah tersebut dari wajah-wajah yang mustasyabihat maka ia mengembalikannya kepada muhkamat melaksanakan perkataan penyari:

“Sungguh Wajah hanyalah Saturda

Namun jika engkau perbanyak cermin Ia menjadi terbilang.”

Adapun orang yang terhijab (atau orang yang bengkok hatinya) dari kebenaran maka dia akam mengikuti yang mutasyabihat karena ia terhijab dari Yang Satu oleh yang banyak dan memilih keyakinan sesuai dengan seleranya untuk menyebarkan fitnah.

Jalan untuk mengenal yang muhkamat dan mutasyabihat adalah lewat cermin Muhammad Saw mengikuti ajarannya dengan memasrahkan pengetahun mengenai hal tersebut kepada Allah agar Allah membukakan kepad akita dan mengenalkan diriNya kepada kita. Hal ini yang dijelaskan oleh Ibn Arabi dalam kitabya Fusus al-Hikam dalam Fas Nuh As:

“Ketahuilah bahwa Allah menuntut dari hambanya untuk mengenalNya sebagaimana yang telah diterangkan oleh Lisan segala syariat dalam menyifatiNya, maka akal tidaklah boleh melampauiNya sebelum datangnya syariat, ilmu mengenaiNya pensucian dari sifat-sifat baharu, jadi seorang ‘arif adalah orang yang memiliki dua pengenalan tentang Allah: pengenalan sebelum datangnya syariat dan pengenalan yang ia peroleh dari syara’, akan tetapi syaratnya hendaklah ia menyerahkan ilmu tersebut kepada Allah, jika Allah menyingkapkan baginya tentang ilmu itu maka hal itu merupakan anugrah dari pintu pemberian Zat Allah.”

Kesimpulannya Allah Mutlak dengan keterbatasanNya dan Terbatas dengan kemutlakanNya. Dalam kata lain Allah Mutlak dari segi ZatNya Yang Maha Suci dari seala sifat dan terbatas dalam kemutlakan dengan nama-nama, sifat-sifat, af’al, dan mazahir kauniyah (fenomena-fenomena alam) yang merupakan tajalliyatNya yang tak terhingga. Jadi penampakanNya itu sendiri tidak terbatas, karena kalimatNya tidak pernah habis. Inilah yang disebut sebagai lautan yang tak bertepi.Dialah Yang Maha Esa dalam banyak rupa dan rupa yang banyak adalah pada hakikatnya wajah-wajah dari Zat Yang Esa. Yang banyak adalah tiada dan yang ada hanya Zat yang Esa. Dialah jami’ atau penghimpun segalanya dan fariq yang membedakan segalanya dalam berbagai rupa. Aspek JamalNya (keindahan) mewakili tasybih dan aspek JalalNya (keagungan) mewakili tanzih keduanya mewujudkan Kamal (kesempurnaan) bagi ZatNya. Namun keseluruhannya itu menunjukkan kemutlakan yang tak terhingga.

Di atas semua itu pengenalan akan Allah adalah ketidak tahuan. Kelemahan untuk mengenalNya adalah pengenalan. Mengutip perkataan Abu Talib al-Makki: “Tiada ada yang mampu mengenal, “tidak ada yagn setata denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat” kecuali “Tidak ada yang setara denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.

 

WIHDATUL SYUHUD

Wahdat al-syuhud merupakan salah satu konsep dalam tasawuf falsafi, sebagaimana konsep ittihad-nya Abu Yazid al-Busthami, konsep hulul-nya Al-Hallaj, atau juga wahdat al-wujud-nya Ibn ‘Arabi. Kajian tentang wahdat al-syuhud oleh para ilmuwan menunjukkan bahwa konsep ini mirip dengan dan mendapat pengaruh besar dari paham wahdat al-wujud, ajaran yang dicetuskan oleh Ibn ‘Arabi.

Konsep ini bermula dari rasa cinta Ibn al-Faridh yang sangat mendalam kepada Tuhan hingga mencapai syauq (rindu-dendam), dan kemudian meningkat menjadi pengalaman uns (), yakni kegilaan dalam asyik-masyuk (intim) dengan Tuhannya. Dalam Risalah al-Qusyairiyah dinukil ungkapan para sufi sebagai berikut :

 

Pecinta itu syaratnya sampai mabuk (gila) cinta, bila belum sampai seperti itu, cintanya belum benar-benar (belum sempurna).

Jelasnya, mendalamnya cinta rindu terhadap Tuhan menurut ajaran tasawuf para sufi sampai mabuk cinta, sehingga meningkat menjadi wahdat al-syuhud, yakni segala yang mereka pandang tampak wajah Tuhan.

Kesatuan dalam terminology Ibn al-Faridh bukan penyatuan dua wujud, tetapi penyatuan dalam arti yang disaksikan hanya satu, yaitu Wujud Yang Maha Esa. Pluralitas yang tadinya nampak menjadi lenyap sehingga segala sesuatu nampaknya satu kesatuan karena ia telah mampu “menghadirkan” Tuhan dalam dirinya melalui tajalliyat Ilahi.

Menurut pemahaman Musthafa Helmi, tajalli dalam konsep Ibn al-Faridh ada dua segi, yaitu : pertama, tajalli secara zhahir, yakni melihat Yang Esa pada yang aneka; yang kedua, tajalli secara batin, yakni melihat yang aneka pada Yang Esa. Dengan kata lain, barangkali dapat dianalogikan dengan makro dan mikro. Dengan memperhatikan makro kosmos dapat “melihat” mikro kosmos dan sebaliknya. Pengalaman yang demikian dimungkinkan karena fananya yang asyik mencinta ke dalam yang dicinta sehingga ia tenggelam dalam kemanunggalan dan tidak merasakan serta tidak melihat (syuhud) sesuatu selain Allah Yang Maha Tunggal.

Dalam kumpulan syairnya al-Diwan, Ibn al-Faridh melukiskan proses fana secara jelas. Proses awal dari fana adalah melihat Tuhan secara jelas dan pasti dalam setiap benda yang ia lihat. Bahkan dalam setiap pandangannya ke arah mana saja, yang ia lihat hanya Tuhan. Pengalaman yang demikian menyebabkan Ibn al-Faridh merasa satu dengan yang ia cintai. Pada saat dia sadar dari fananya, yang tinggal dalam jiwa dan penghayatan hanyalah sang kekasih, yakni Allah. Inilah yang ia maksud dengan melalui fana ia mengalami kesatuan dengan Allah dan kemudian merasakan cinta yang sejati. Kefanaan bukan keleburan wujud jasmaninya, tetapi kefanaan dari kesadaran dan kemauan serta penanggapan indera keakuannya. Demikian juga dengan penyatuan di dalam Tuhan adalah searti dengan tersingkapnya tabir penghalang sehingga Dzat Yang Mutlak hadir dalam mata hatinya. Situasi yang demikian bukanlah sesuatu yang tidak mungkin karena si penyair (Ibn al-Faridh) sedang dalam kondisi spiritual yang mistis.

 

Wahdatu al-Syuhud yang secara harfiah mengandung arti keesaan penyaksian adalah satu paham dalam tasawuf tentang keesaan Tuhan sekaligus keesaan wujud yang tampak dalam penyaksian hati nurani. Menurut paham wahdatu al-Syuhud, keesaan Allah disaksikan oleh mata batin manusia yang mampu menfanakan dirinya di dalam Tuhan atau sesudah lenyapnya (fana) hijab atau dinding yang membatasi mata hati dengan Tuhan. Sebagai akibat dari penyaksian mata batin itu, keyakinan tentang keesaan Allah meningkat ke tarap yang tertinggi atau dengan kata lain lebih tinggi dari tarap keyakinan yang hanya berupa membenarkan berita al-Qur’an dan Hadis yang diperkuat dengan argumentasi rasional. Penyaksian keesaan Tuhan sekaligus berarti pengakuan satu-satunya wujud yang hakiki hanya Allah yang disaksikan oleh mata batin seseorang yang memperoleh kasyaf. Wujud semua alam empiris termasuk dirinya pada saat itu lenyap, baik dari mata batin maupun dari mata hati.

 

Kehadiran Tuhan dalam penyaksian batin seseorang telah menyebabkan lenyapnya kehadiran alam empiris dan dirinya sendiri yang dicontohkan seperti kehadiran matahari yang terang benderang yang menyebabkan lenyapnya bintang-bintang dari mata kepala manusia. Perona keindahan wuud Tuhan sehingga dapat menyerap segenap perhatian hati orang yang menyaksikannya dengan kepalanya. Kendatipun tempak masih terbuka dan berhadapan dengan alam empiris menjadi tertutup oleh kehadiran wujud-Nya dalam penyaksian mata hatinya. Keberadaan alam empiris dan dirinya menjadi tersembunyi di balik kehadiran wujud Tuhan. Hanya wujud Tuhan saja dengan berbagai rahasia-Nya yang tampak oleh penyaksian mata batinnya. Bila kasyaf atau penyaksian atau telah berakhir alam empiris dan dirinya kembali tampak oleh mata kepalanya atau hadir dalam kesadarannya yang biasa.

 

Dengan demikian semakin jelas terlihat, bahwa konsep wahdat al-syuhud ini berbeda dari doktrin al-hulul. Sebab, dalam konsep ini penyatuan itu bukan pada substansi manusia yang melebur ke dalam dzat Tuhan, tetapi fananya seluruh yang ada dari kesadaran dan penglihatan sehingga yang nampak ada hanyalah Dzat Yang Esa dan karenanya disebut wahdat al-syuhud bukan wahdat al-wujud. Dari sini nampak bahwa dalam pemahaman Ibn al-Faridh antara bukan wahdat al-wujud. Dari sini nampak bahwa dalam pemahaman Ibn al-Faridh antara wahdat al-syuhud dan wahdat al-wujud itu berbeda. Sementara dalam pemahaman Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wahdat al-syuhud merupakan bagian dari wahdat al-wujud. Menurut Ibn al-Faridh, bagi mereka yang sudah menemukan cinta Ilahi yang sejati, wahdat al-syuhud ini dapat dialami dalam keadaan sadar (al-mahwu) dan atau dalam situasi sakr.

 

D.Kesimpulan

Wahdat al-syuhud merupakan salah satu dari konsep-konsep yang ada dalam tasawuf falsafi. Konsepsi yang dibangun atas dasar rasa cinta yang mendalam kepada Allah ini dicetuskan pertma kali oleh Ibn al-Faridh. Berbeda dengan konsep wahdat al-wujud-nya Ibn ‘Arabi, konsep wahdat al-syuhud berpendapat bahwa kesatuan bukanlah meleburnya manusia dengan Tuhan secara jasmani, melainkan tersingkapnya rahasia wajah Tuhan setelah fananya kesadaran dan kemauan manusia, serta fananya segala penglihatan di sekitarnya, yang nampak hanyalah wajah Tuhan.

KONSEP WAHDATUL WUJŪD MENURUT IBN ‘ARÂBÎ
 
Ajaran sentral Ibn Arâbî adalah tentang wahdatul al-wujûd yang istilahnya bukan berasal dari Ibn Arâbî sendiri melainkan berasal da’i Ibnu taimiyah tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentralnya tersebut. Ibnu taimiyah telah berjasa dalam mempopulerkan wahdatul al-wujûd ke dalam masyarakat islam meskipun tujuannya negatif.
Kaum atheis dan golongan madzhab wahdatul wujûd mengemukakan fana wujud selain Allah dalam kitab “Fushûshul hikâm” dan orang-orang yang sepadan dengannya mengatakan bahwa wujud khalik adalah wujud makhluk. Dipahami dari ucapan mereka itu bahwa mereka tidak mengakui adanya wujud selain Allah. Ucapan ini hanya lahir dari mulut orang kafir seperti yahudi, nasarani, dan penyembah berhala, orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhan dan hamba tidak ada perbedaan antara keduanya, ucapan ini sebenarnya menunjukan kekafiran yang nyata terutama apabila yang dimaksudkan seluruh makhluk meskipun yang dimaksud adalah para wali Allah yang beriman dan bertaqwa, kita tidak bisa langsung memfonis Ibn Arâbî dan orang-orang sehaluannya adalah kafir, namun bukan berarti kita harus menerima mentah-mentah hasil ijtihad mereka dibidangnya masing-masing khusunya tasawuf ini, karena kita yakin bahwa mereka umumnya adalah terdiri dari mutjahid islam di bidangnya. Dari hasil pengkajian ijtihad dan maka ajaran tasawuf seperti ittihad, hûlûl, waḫdtul wujûd dan sejenisnya perlu di kaji ulang.
Menurut Ibnu taimiyah wahdatul wujûd adalah penyamaan Tuhan dengan alam, dia menilai bahwa ajaran Ibn Arâbî adalah dari aspek tasybihnya (penyerupaan) khalik dengan makhluknya.[1] Ia belum menilai dari aspek tanzihnya (penyucian khalik). Menuru Ibn Arâbî wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik pula, tidak ada perbedaan diantaranya dari segi hakikatnya, dan kalaupun di lihat dari sudut pandang panca indra. Wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah dan Allah adalah hakikat alam. Tidak ada perbedaan antara wujud yang qodim dengan yang baru atau dengan kata l;ain tidak ada perbedaan antara ‘abîd (menyembah) dan ma’bûd (yang di sembah)
Kalau khalik dan makhluk bersatu dalam wujudnya mengapa telihat dua? Menurut       Ibn Arâbî tidak memandangnya dari sisi satu, tetapi memandang keduanya bahwa khalik dari sisi satu dan makhluk dari sisi yang lain. Jika mereka memandang dari sisi yang lain mereka pasti mengetahui  hakikat keduanya yakni dzatnya satu yang tak terbilang dan terpisah. Wujud Tuhan juga wujud alam dan wujud Tuhan bersatu dengan wujud alam yang dalam istilah barat disebut panteisme, yang di definisikan oleh Henry C.Theissen. panteisme adalah teori yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terbatas adalah aspek modifikasi atau bagian dari satu wujud yang kekal dan ada dengan sendirinya.
Ibn Arâbî menyebut wujud, maksudnya adalah wujud yang mutlak yaitu wujud Tuhan, satu-satunya wujud menurut Ibn Arâbî adalah wujud tuhan, tidak ada wujud selain wujud-Nya. Kesimpulannya kata wujud tidak diberikan kepada selain tuhan. Dalam bentuk lain dapat dijelaskan bahwa makhluk diciptakan oleh tuhan dan wujudnya bergantung pada wujud tuhan.
Dengan demikian, Ibn Arâbî menolak ajaran yang mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dari tiada. Ia mengatakan bahwa nur Muhammad itu qodim dan merupakan sumber emanasi dengan berbagai kesempurnaan ilmiah dan alamiah yang terealisasikan pada dari pada nabi adam sampai nabi Muhammad dan dari nabi Muhammad pada diri pengikutnya yaitu para wali.
Dari konsep-konsep wahdat al-wujûd Ibn Arâbî ini muncul dua konsep yang sekaligus merupakan lanjutan atau cabang  dari konsep dari wahdatul al-wujud itu, yaitu konsep al-hakikat al-muhammadiyah dan konsep wahdat al-adyan (kesamaan agama).
Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujûd Ibn Arâbî mengungkapkan bahwa wujud ini satu, namun dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan asma yang memiliki pemisah yang disebut dengan barzah atau menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang di sebut dengan insan kâmil.[2]
            Ia juga menjelaskan bahwa tuhan segala tuhan adalah Allah SWT. Sebagai nama yang teragung dan sebagai ta’ayun (pernyataan) yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama dan tujuan akhir dari segala tujuan dan arah dari segala keinginan serta mencakup segala tuntutan, kepada-Nyalah isyarat yang difirmankan Allah kepada rasulnya, bahwa kepada Tuhan-Mu lah tujuan akhir karena Muhammad adalah mazhar dari pernyataan yang pertama, dan tuhan yang khusus baginya adalah ketuhanan yang agung ini. Ketahuilah bahwa segala nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah. Sedangkan hakikat muhammadiyah merupakan gambaran dari nama Allah yang menghimpun segala nama ketuhanan yang darinya muncul limpahan atas segala yang ada dan Allah sebagai tuhannya. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan hakikat muhammadiyah disini bukanlah nabi Muhammad sebagai manusianya, namun hakikat muhammadiyah adalah asma dan sifat Allah serta akhlaknya. Nabi Muhammad disebut dengan Muhammad karena beliau mampu berakhlak dengan seluruh akhlak ketuhanan tersebut.
Dalam Filsafat Hikmah Mulla Shadra juga mengemuka konsep wahdatul wujud. Sesuai dengan penjelasan para pemerhati Filsafat Hikmah, Mulla Shadra dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud banyak terpengaruh oleh pandangan Ibn Arâbî.
Perbedaan asasi antara Ibn Arâbî dan Mulla Shadra terletak pada penekanan Ibn Arâbî atas “thuri warai thur aql” konsep wahdatul wujud. Mulla Shadra meyakini bahwa konsep wahdatul wujud dapat dijelaskan secara filosofis. Atas dasar ini, sistem filsafat Mulla Shadra berdasarkan dan berpijak pada masalah kehakikian wujud (ashalatul wujud) dan wahdatul wujud.

Disebutkan bahwa masalah wahdatul wujud bagi urafa sekali-kali tidak dikemukakan sebagai satu konsep murni filosofis dan terpisah dari realitas kehidupan. Masalah wahdatul wujud merupakan pengungkap tertinggi derajat kemurnian dan ketulusannya dalam bertauhid kepada Allah Swt. Kehidupan yang sarat dengan cinta dan harapan urafa Ilahi sejatinya merupakan jelmaan kehidupan yang berdasarkan wahdatul wujud

PENYELESAIAN MASALAH

Wahdatul Wujud
Selama ini sering rancu apakah Wahdatul Wujud itu sama dengan Pantheisme. Konsep Wahdatul Wujud menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang mempunyai wujud yang hakiki atau mutlak kecuali Allah. Wujud Mutlak adalah wujud yang keberadaannya independen (tidak bergantung pada apapun), tidak berawal, tidak membutuhkan wujud lain untuk membuatNya berawal (karena Dia memang tidak berawal). Adanya Wujud Mutlak ini ialah keniscayaan bagi keberadaan wujud-wujud lain yang berawal. Alam semesta dan segala sesuatu selain Allah adalah wujud yang tidak hakiki, karena keberadaannya tergantung kepada Wujud Mutlak.
Oleh para sufi segala wujud selain Allah itu disebut wujud al mukmin. Berbeda dengan Wujud Mutlak, wujud al mukmin ini adalah wujud yang berawal, artinya baru ada pada waktu awal tertentu. Misalnya alam semesta yang baru ada pada saat Big Bang(terjadinya ledakan besar, yaitu yang dianggap awal mula terjadinya bumi oleh para ilmuwan), yang oleh para kosmolog diperkirakan terjadi 10 milyar tahun yang lalu. Oleh karena itu, alam semesta ialah wujud al mukmin, karena keberadaannya diwujudkan (maujud) oleh Allah.
Harus dipahami bahwa paham Ibnu ‘Araby ini tidak menyamakan segala sesuatu yang tampak sebagai bukan Allah itu dengan Allah. Sebab jika kita misalnya mengatakan bahwa manusia adalah Allah dan Allah adalah manusia, maka kita akan jelas-jelas terjebak ke dalam Pantheisme. Menurut Ibnu ‘Araby, keterbatasan persepsi manusia telah gagal untuk melihat kaitan intregal antara keberadaan selain Allah dengan keberadaan Allah sendiri.
Jelas ada perbedaan prinsipil antara Wahdatul Wujud dengan Pantheisme. Pantheisme menganggap bahwa wujud Tuhan itu bersatu dengan wujud makhluk, sedangkan Wahdatul Wujud menganggap bahwa wujud Tuhan itu terpisah dari wujud  makhluk. Jadi, bagi penganut Pantheisme, wujud Tuhan itu tidak ada, karena Tuhan adalah alam, dan alam adalah Tuhan. Jelas dari sisi logika maupun dalil kepercayaan Pantheisme ini adalah sesat.
Doktrin wahdatul wujud Ibnu ‘Araby bersifat monorealistik, yakni menegaskan ketunggalan yang ada dan mengada (tauhid wujudi). Teori Wahdatul Wujud menekankan pada unitas wujud yang hadir pada segala sesuatu yang disebut sebagai maujud. Tuhan berwujud, manusia berwujud, benda-benda mati berwujud, dsb. Maka akan timbul pertanyaan, apa yang membedakan antara wujud Tuhan dengan wujud selainnya ?
Untuk menjawab persoalan yang dikenal dengan istilah problem multiplisitas dengan unitas wujudiyah yang menerangkan tentang dua perkara yang cukup fundamental. Pertama, ada yang disebut dengan istilah maujud murakkab, dimana keberadaan entitas tersebut bergantung pada unsur-unsur pokoknya. Segala sesuatu yang masuk dalam kategori ini pasti akan terbatas. Kedua, maujud Basit, dimana jenis wujudnya tak pernah bergantung pada unsur-unsur. Karenanya Ia tidak pernah terbatas. Wujud ini (maujud Basit) hanya milik Allah SWT saja, dimana wujudnya merupakan maujudnya itu sendiri.
Menurut Ibnu Araby, tahap tertinggi yang bisa dicapai manusia adalah pengalaman langsung (dzauq).  Ibnu Araby memandang pengalaman langsung sebagai tujuan tertingginya. Menurutnya, saat mencapai tahap tersebut, jiwa berarti telah mencapai kondisi peniadaan-diri (fana’). Dan pada saat itulah ia akan mampu secara visual menyaksikan kesatuan segala sesuatu, yaitu kesatuan antara Yang Mencipta dengan yang dicipta, dan Yang Abadi dengan yang binasa.
Karya-Karya Ibnu Araby
Ibnu Araby menghasilkan banyak karya. Menurut penelitian para ulama dan orientalis, Ibnu Araby mempunyai sedikitnya 560 kitab dalam berbgai disiplin ilmu keagamaan dan umum. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa risalah-risalah kecil Ibnu Araby mencapai 2000 judul. Diantara semua kitab-kitab yang dikarangnya, Futuhat al Makkiyah adalah merupakan karya terbesarnya, yang mana di dalamnya terdapat uraian tentang inti dari ajaran mistismenya. Ada juga Fushus al Hikam yang membahas tentang penyingkapan hikmah ketuhanan para nabi. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al Kabir yang terdiri atas 90 jilid. Terdapat pula kitab yang berisi sekumpulan syair-syair cinta spiritual, yaitu Tarjumanul al Asywaq.
 
 
 
 
PENUTUP
 
Kesimpulan
Ibnu Araby merupakan tokoh sufi yang  berorientasi pada filsafat (tasawuf falsafi). Menurutnya tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yaitu: Bawa’its, Dawa’i, Akhlaq, dan Hakikat-hakikat.
Ibnu Araby sangat dikenal dengan konsep Wahdatul Wujud-nya. Beliau lah mengajarkan bahwa tidak ada sesuatupun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriyah dariNya.
Perkembangan puncak dari tasawuf falsafi, sebenarnya telah di capai dalam konsepsi Wahdatul Wujud sebagai karya piker mistik ibnu Araby. Sebelum ibnu Arab,  sudah muncul teori dari seorang sufi yakni penyaoir dari mesir ibnu Al-Faridh yang mengembangkan teori yang sama yaitu Wahda Asy-syuhud.
Tasawuf falsafi juga di kenal dengan nama tasawuf syi’I karena konsep-konsep tasawuf falsafi berkembang dari kaum syiah dan bermadzhabkan Mu’tazilah.
Konsep Wahdatul Wujud adalah bukan merupakan pantheisme. Pantheisme menganggap bahwa wujud Tuhan itu bersatu dengan wujud makhluk, sedangkan Wahdatul Wujud menganggap bahwa wujud Tuhan itu terpisah dari wujud makhluk
Konsep Wahdatul Wujud milik ibnu Arabi bukanlah suatu pemikiran yang menyesatkan pengikutnya.

  Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan makalah tersebut maka dapat  ditarik kesimpulan bahwa konsep tasawuf Ibn al-‘Arabi adalah wahdat al-wujud yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang maujud di alam ini pada hakikatnya adalah satu yaitu wujud Tuhan. Sedangkan maujud yang lain hanyalah merupakan bayang-bayang dari wujud yang satu tersebut.

 

27 Juni 2012

Nama-nama Al-Quran

oleh alifbraja

Al-Quran merupakan Kalam Allah yang mengandungi ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibrail untuk disampaikan kepada semua manusia. Al-Quran merupakan mukjizat yang paling agung yang telah mendapat jaminan daripada Allah SWT akan kekal terpelihara.

Terdapat lebih daripada 10 nama Al-Quran dirakamkan oleh Allah dalam kitabNya. Nama-nama itu menepati ciri-ciri dan kriteria Al-Quran itu sendiri.

1. Al-Kitab (Kitab)

Perkataan Kitab di dalam bahasa Arab dengan baris tanwin di akhirnya (kitabun) memberikan makna umum iaitu sebuah kitab yang tidak tertentu. Apabila ditambah dengan alif dan lam di depannya menjadi (Al Kitab) ia telah berubah menjadi suatu yang khusus (kata nama tertentu). Dalam hubungan ini, nama lain bagi Al-Quran itu disebut oleh Allah adalah Al-Kitab.

 

Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, (menjadi) petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (al-Baqarah: 2)

 

2. Al-Hudaa (Petunjuk)

Allah SWT telah menyatakan bahawa Al-Quran itu adalah petunjuk. Dalam satu ayat Allah menyatakan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia (2:185) dan dalam satu ayat yang lain Allah nyatakan ia sebagai petunjuk bagi orang-orang betaqwa. (3:138 )

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) … (al-Baqarah: 185)

 

3. Al-Furqan (Pembeda)

Allah SWT memberi nama lain bagi Al-Quran dengan Al-Furqan beerti Al-Quran sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil. Mengenali Al-Quran maka kesannya sewajarnya dapat mengenal Al-Haq dan dapat membedakannya dengan kebatilan.

 

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hambaNya (Muhammad) … (al-Furqan: 1)

4. Ar-Rahmah (Rahmat)

Allah menamakan Al-Quran dengan rahmat kerana dengan Al-Quran ini akan melahirkan iman dan hikmah. Bagi manusia yang beriman dan berpegang kepada Al-Quran ini mereka akan mencari kebaikan dan cenderung kepada kebaikan tersebut.

 

Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar serta rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian. (al-Isra: 82)

5. An-Nuur (Cahaya)

Panduan yang Allah gariskan dalam Al-Quran menjadi cahaya dalam kehidupan dengan mengeluarkan manusia daripada taghut kepada cahaya kebenaran, daripada kesesatan dan kejahilan kepada kebenaran ilmu, daripada perhambaan sesame manusia kepada mengabdikan diri semata-mata kepada Yang Maha Mencipta dan daripada kesempitan dunia kepada keluasan dunia dan akhirat.

Dengan kitab itulah Allah member petunjuk kepada orang yang mengikuti keredhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari kegelapaan kepada cahaya dengan izinNya dan menunjukkan ke jalan yang lurus. (al-Maidah: 17)

 

6. Ar-Ruuh (Roh)

Allah SWT telah menamakan wahyu yang diturunkan kepada rasulNya sebagai roh. Sifat roh adalah menghidupkan sesuatu. Seperti jasad manusia tanpa roh akanmati, busuk dan tidak berguna. Dalam hubungan ini, menurut ulama, Al-Quran mampu menghidupkan hati-hati yang mati sehingga dekat dengan Penciptanya.

 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) Ruuh (Al-Quran) dengan perintah Kami, … (ash-Shura: 52)

 

7. Asy-Syifaa’ (Penawar)

Allah SWT telah mensifatkan bahawa Al-Quran yang diturunkan kepada umat manusia melalui perantara nabi Muhammad SAW sebagai penawar dan penyembuh. Bila disebut penawar tentu ada kaitannya dengan penyakit. Dalam tafsir Ibnu Kathir dinyatakan bahawa Al-Quran adalah penyembuh dari penyakit-pnyakit yang ada dalam hati manusia seperti syirik, sombong, bongkak, ragu dan sebagainya.

 

Wahai manusia! Sungguh, telah Kami datangkan kepadamu pelajaran (Al-Quran) dari Tuhanmu, penawar bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. (Yunus: 57)

8. Al-Haq (Kebenaran)

Al-Quran dinamakan dengan Al-Haq kerana dari awal hingga akhirnya, kandungan Al-Quran adalah semuanya benar. Kebenaran ini adalah datang daripada Allah yang mencipta manusia dan mangatur system hidup manusia dan Dia Maha Mengetahui segala-galanya. Oleh itu, ukuran dan pandangan dari Al-Quran adalah sesuatu yang sebenarnya mesti diikuti dan dijadikan priority yang paling utama dalam mempertimbangkan sesuatu.

 

Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu. (al-Baqarah: 147)

9. Al-Bayaan (Keterangan)

Al-Quran adalah kitab yang menyatakan keterangan dan penjelasan kepada manusia tentang apa yang baik dan buruk untuk mereka. Menjelaskan antara yang haq dan yang batil, yang benar dan yang palsu, jalan yang lurus dan jalan yang sesat. Selain itu Al-Quran juga menerangkan kisah-kisah uma terdahulu yang pernah mengingkari perintah Allah lalu ditimpakan dengan berbagai azab yang tidak terduga.

 

Inilah (Al-Quran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk kepada seta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah: 138 )

 

10. Al-Mau’izhah (Pengajaran)

Al-Quran yang diturunkan oleh Allah adalah untuk kegunaan dan keperluan manusia, kerana manusia sentiasa memerlukan peringatan dan pelajaran yang akan membawa mereka kembali kepada tujuan penciptaan yang sebenarnya. Tanpa bahan-bahan pengajaran dan peringatan itu, manusia akan terlalai dan alpha dari tugasnya kerana manusia sering didorong oleh nafsu dan dihasut oleh syaitan dari mengingati dan mentaati suruhan Allah.

 

Dan sungguh Kami telah mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mahu mengambil pelajaran? (daripada Al-Quran ini).(al-Qamar: 22)

 

11. Adz-Dzikr (Pemberi Peringatan)

Allah SWT menyifatkan Al-Quran sebagai adz-dzikra (peringatan) kerana sebetulnya Al-Quran itu sentiasa memberikan peringatan kepada manusia kerana sifat lupa yang tidak pernah lekang daripada manusia. Manusia mudah lupa dalam berbagai hal, baik dalam hubungan dengan Allah, hubungan sesame manusia mahupun lupa terhadap tuntutan-tututan yang sepatutnya ditunaikan oleh manusia. Oleh itu golongan yang beriman dituntut agar sentiasa mendampingi Al-Quran. Selain sebagai ibadah, Al-Quran itu sentiasa memperingatkan kita kepada tanggungjawab kita.

 

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-zikra (Al-Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya (Al-Quran). (al-Hijr: 9)

 

12. Al-Busyraa (Berita Gembira)

Al-Quran sering menceritakan khabar gembira bagi mereka yang beriman kepada Allah dan menjalani hidup menurut kehendak dan jalan yang telah diatur oleh Al-Quran. Khabar-khabar ini menyampaikan pengakhiran yang baik dan balasan yang menggembirakan bagi orang-orang yang patuh dengan intipati Al-Quran. Telalu banyak janji-janji gembiran yang pasti dari Allah untuk mereka yang beriman dengan ayat-ayatNya.

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim). (an-Nahl: 89)

%d blogger menyukai ini: