Posts tagged ‘Martial Arts’

29 Oktober 2012

KITA SEJATINYA ADALAH TAMU HARTA KITA HANYA PINJAMAN

oleh alifbraja

Saudaraku…
Kala hidup kita identik dengan kesuksesan, kejayaan dan kemenangan. Seperti menduduki sebuah jabatan penting. Baju kekuasaan yang dikenakan. Asset bertebaran di mana-mana. Berbagai macam investasi dibuat. Laba bisnis yang tak pernah surut. Popularitas yang semakin mengkilap. Prestasi puncak di dunia pendidikan. Dan yang senada dengan itu.

Hal itu sering membuat kita silau dan terpesona dengan dunia. Kita lupa bahwa pada hakikatnya kita adalah tamu yang sedang bertandang ke rumah salah seorang sahabat kita. Kita tak sadar bahwa harta yang kita punya, seberapapun jumlah dan kwantitasnya hanya sekadar titipan dan pinjaman dari yang Maha Kaya.

Abdullah bin Mas’ud ra pernah menasihati kita:

“Tidak seorang pun yang berada di pagi hari melainkan ia adalah sebagai seorang tamu dan hartanya adalah pinjaman. Seorang tamu seharusnya sadar bahwa beberapa saat lagi ia akan meninggalkan rumah yang ia singgahi. Dan hartanya sewaktu-waktu akan dikembalikan kepada pemiliknya.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Tamu yang baik adalah tamu yang menjaga adab-adab Islam dalam bertamu. Seperti; tidak berlama-lama dalam bertamu. Mata terpelihara dari mengamati perabot dan perhiasan milik tuan rumah. Jika terpaksa harus bermalam, maka tidak lebih dari tiga malam.

Jika keberadaan kita di dunia ini diumpamakan seperti tamu, yang hanya singgah beberapa saat lamanya. Maka tentu kita ingin memberikan kesan seindah dan seelok mungkin kepada tuan rumah. Dan kita sadar, bahwa tamu yang baik adalah tamu yang bersikap sopan santun, memahami aturan, dan tidak menyulitkan serta menyusahkan tuan rumah.

Demikianlah dunia tempat kita hidup sekarang ini, hanya seperti tempat persinggahan sementara. Setelah waktu istirahat dirasa cukup, maka kita akan melanjutkan perjalanan yang hakiki. Perjalanan menuju Allah swt. Safar menuju tempat yang kekal abadi.

Maka pada saat kita terlena. Dan menjadikan tempat persinggahan sebagai tempat menetap, maka hal itu merupakan awal dari bencana yang besar. Dan pangkal dari kesengsaraan abadi.

Allah swt membuat ilustrasi tentang kehidupan dunia dalam sebuah firman-Nya, “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal di dunia melainkan sesaat di waktu petang atau pagi hari.” An Nazi’at: 46.

Saudaraku…
Harta benda yang kita kumpulkan siang dan malam. Pagi, siang dan petang hari. Hakikatnya adalah titipan dan pinjaman Allah swt. Walau terkadang kita meraihnya dengan perahan keringat. Meskipun terkadang kita harus mengaisnya ke luar daerah dan bahkan ke luar negeri.

Seperti titipan dan pinjaman lainnya, jika sewaktu-waktu pemiliknya mengambilnya dari kita, maka kita tak bisa menolaknya atau menahannya. Harta kita sesungguhnya, yang akan kita bawa sampai kita menutup mata adalah harta yang kita kembalikan kepada pemiliknya. Berupa zakat, sedekah, infaq, menolong orang yang kesusahan, membantu orang yang tak mampu dan seterusnya.

Selebihnya akan kita tinggalkan. Tidak kita bawa ke liang lahat. Dan bahkan bisa jadi sepeninggal kita, harta peninggalan kita justru menjadi barang rebutan bagi ahli waris kita.

Saudaraku..
Sadarkah kita bahwa sebenarnya kita adalah tamu? Yang mungkin esok atau lusa kita harus pamit kepada tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan yang sangat jauh. Lebih jauh dari jangkauan pandangan mata kita.

Dan pernahkah kita menghitung harta titipan dan pinjaman Allah swt yang ada di tangan kita? Kapan kita akan mengembalikannya kepada pemiliknya? Wallahu a’lam bishawab.

13 Oktober 2012

Sekilas Pandang Tentang Hamzah Fansuri

oleh alifbraja

1. Sekilas Tentang Syeikh Hamzah Fansuri

Fansuri dua bersaudara itu, Ali dan Hamzah, berasal dari Parsia. Pada zaman Kerajaan Islam Samudra/Pasai diperintah Sulthan Alaiddin Malikussalih (659 – 688 H. = 1261 – 1289 M.) banyak Ulama Besar dari Negeri Parsi yang datang ke sana, baik untuk mengajar pada pusat-pusat Pendidikan Islam yang bernama “‘Dayah”, maupun untuk menyumbangkan tenaganya pada lembagalembaga pemerintahan. Salah seorang di antara Ulama Besar, yaitu “nenekmoyangnya” Ali dan Hamzah, dipercayakan oleh Kerajaan untuk memimpin Pusat Pendidikan yang bernama DAYAH BLANG PRIA. Ulama Besar tersebut terkenal dengan nama Syekh Al Fansuri, hatta keturunannya yang menjadi Ulama memakai “Fansuri” di ujung namanya.

Pada masa Sulthan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil memerintah Kerajaan Aceh Darussalam (997 — 1011 H. = 1589 -1604 M.), dua orang Ulama turunan Syekh Al Fansuri mendirikan dua buah Pusat Pendidikan Islam di pantai barat Tanah Aceh, yaitu di Daerah Singkel. Ali yang telah menjadi Syekh Ali Fansuri mendirikan Dayah Lipat Kajang di Simpang Kanan, sementara adiknya, Hamzah, yang telah menjadi Syekh Hamzah Fansuri mendirikan Dayah Oboh di Simpang Kiri Rundeng. Dalam tahun 1001 H. = 1592 M., Syekh Ali Fansuri dikurniai seorang putera dan diberi nama Abdurrauf, yang kemudian menjadi seorang Ulama Besar yang bergelar Syekh Abdurrauf Fansuri dan lebih terkenal dengan lakab Teungku Syiahkuala. Abdurrauf Syiahkuala kemudian menjadi lawan terbesar dari”Filsafat Ketuhanan” Wahdatul Wujud yang dianut pamannya, Syekh Hamzah Fansuri, dan Khalifahnya yang terkenal Syekh Syamsuddin Sumatrani.

Syeikh Abdurrauf Fansuri dan Nuruddin Ar Raniri adalah dua tokoh Ulama Besar penganut dan penegak Filsafat Ketuhanan Isnainiyatul Wujud. Apabila dan dimana tempat lahir Hamzah Fansuri, belum diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan di Samura/Pasai dan ada pula yang mengatakan di Singkel. Dalam serangkum sajaknya, Hamzah menjelaskan tentangasal-usulnya :

Hamzah ini asalnya Fansuri,

Mendapat wujud di tanah Syahr Nawi,

Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali,

Daripada Abdulqadir Saiyid Jailani.

Dalam sajak tersebut, kecuali menerangkan bahwa nenekmoyangnya ialah Syekh Al Fansuri, juga Hamzah menjelaskan bahwa beliau adalah pengikut Tharikat Abdulqadir Jailani, seorang Ulama Tasawuf terkenal.

 

2. Pemikiran Hamzah Fansuri Tentang Zuhud, Wara` dan Cinta Dunia

Dalam banyak risalah tasawuf yang awal, pembicaraan tentang zuhd (selanjutnya zuhud) dan faqr (selanjutnya faqir), kerap disajikan pada bab-bab permulaan. Misalnya dalam kitab Kashf al-Mahjub, karangan sufi Persia abad ke-11 M Ali Utsman al-Hujwiri. Dalam fasal yang membahas masalah itu di antaranya terdapat kutian ucapan Warraq al-Tirmidhi, “Mereka yang puas dengan ilmu kalam dalam menerangkan pengetahuan agama, namun tidak mengamalkan zuhud dia akan menjadi zindiq; dan mereka yang puas dengan fiqih, tanpa mengamalkan wara` akan tercela sifatnya.” (KM 17). Sedangkan Abu Nashr al-Sarraj (w. 389 H) dalam Kitab al-Luma`, lebih memperhatikan persoalan faqir dan wara`, sedangkan pengertian dengan zuhud atau penyangkalan terhadap dunia dilakukan secara tersirat saja. Ini dapat dimengerti karena para sufi tidak mau disamakan dengan golongan zuhudiyah.

Dalam Syrah al-Arba`in Haditsan Ayatullah Khomeini membicarakan zuhud pada bagian akkhir bukunya, dan menyebutnya sebagai tingkatan tertentu dari sikap wara`. Wara` diartikan sebagai “Kehati-hatian yang tinggi disertai rasa takut atau disiplin ketat untuk memuliakan Allah.” Beliau membagi peringkat-peringkat wara` sebagai berikut: Pada orang awam artinya meninggalkan dosa-dosa besar. Pada orang terpilih artinya ialah berpantang dari hal-hal yang syubhat karena kuatir tergerlincir pada hal-hal yang dilarang agama. Pada ahli zuhud artinya ialah berpantang dari hal-hal yang diperbolehkan oleh agama untuk menghindari beban berat dari akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan. Pada penempuh jalan `irfan ia berarti berpantang dari memandang dunia demi mencapai pelbagai maqam. Pada orang yang hatinya telah tertawan dalam wujud Ilahiyah (majdhub) artinya ialah membebaskan diri dari maqam atau peringkat ruhani yang dicapainya untuk menyaksikan keindahan-Nya (SAH 574-5).

Tetapi menurutnya yang paling utama ialah wara` dalam arti bersikap hati-hati terhadap apa yang telah dilarang Allah. Hati orang yang tidak hati-hati terhadap apa yang diharamkan itu akan menjadi gelap dan penuh karat.

Walaupun Ayatullah Khomeini tidak membicarakan zuhud secara tersirat, kecuali yang berkaitan dengan wara’, tetapi dalam sebuah fasal awal dari tafsir hadisnya beliau menguraikan makna hermeneutik dari sebuah hadis yang menerangkan tercelanya sifat orang yang cinta berlebihan kepada dunia, suatu sikap yang mendorong berkembangnya konsep zuhud pada permulaan lahirnya gerakan tasawuf. Hal yang sama juga dibahas oleh Hamzah Fansuri dalam Sharab al-`Ashiqin.

Dalam bab dua risalahnya itu Syekh Hamzah Fansuri menghubungkan makna zuhud dengan orang yang menyucikan hatinya dari pamrih-pamrih duniawi bagi segala ibadah dan pekerjaannya di dunia. Dia mengatakan bahwa, “Ilmu suluk atau tariqat itu tark al-dunya (tanggal dari dunia), yakni tidak menimbun harta banyak untuk kepentingan diri sendiri lebih daripada cukup untuk makan dan berkain”. Dengan mengutip sebuah hadis, dia mengatakan bahwa mencintai dunia merupakan pangkal kejahatan (Abdul Hadi WM 1995:70-1). Ini berulang kali dikemukakan dalam bait-bait syair makrifatnya.

Ayatullah Khomeini dalam fasal bukunya yang telah disebutkan, memulai telaahnya dengan menjernihkan terlebih dulu pengertian ‘dunia’ dan ‘akhirat’. Sebab ‘dunia’ yang dimaksud para fuqaha` dan mutakalimun dalam wacana-wacana mereka , sangat berbeda dengan yang dimengerti oleh penempuh jalan makrifat (`irfan) namun telah disalah artikan oleh para fuqaha’ dan mutakallimun sebagai sikap yang membenci dan menolak dunia, yang kemudian menyebabkan ahli-ahli `irfan dan sufi dituduh sebagai sumber kemunduran Islam.

Menurut Ayatullah Khomeini, dunia yang dimaksud oleh para penempuh `irfan dalam wacana-wacana mereka ialah “dunia yang tercela”, yaitu sifat-sifat yang harus dijauhi oleh orang yang mencari akhirat. Dunia semacam itulah yang dikutuk dalam al-Qur`an dan Hadis. Ia adalah dunia dalam arti ‘keseluruhan dari hal-hal yang menghalangi manusia dari menaati Allah dan mencegahnya dari cinta kepada-Nya, serta mencegahnya dari mencari akhirat’. Adapun pengertian ‘akhirat’ adalah sebaliknya. Ia adalah apa saja yang menyebabkan keridhaan Allah dan kedekatan manusia kepada-Nya, walaupun tampak seakan-akan masalah dunia seperti perdagangan, industri, pertanian, dan kerajinan yang tujuannya ialah untuk menjamin kehidupan keluarga agar mereka senantasa taat kepada perintah Allah. Begitu juga kegiatan yang seolah-olah tampak seperti masalah dunia dapat disebut sebagai ‘akhirat; apabila tujuannya untuk membelanjakan harta untuk beramal, membuat sejahtera orang miskin dan papa, serta untuk mencegah ketergantungan kepada orang lain, seperti penguasa yang zalim.

Beliau mengutip seorang arif yang mengatakan bahwa ‘dunia’ dan ‘akhirat’ dalam wacana `irfan itu merupakan dua keadaan batin dari hati manusia. Hati yang keadaannya merasa dekat dan terpaut pada kehidupan sebelum mati adalah ‘dunia’ namanya, sedangkan keadaan-keadaan hati yang terpaut pada kehidupan sesudah mati ialah ‘akhirat’ Yang disebut dunia adalah sesuatu yang membangkitkan hawa nafsu dan yang menyebabkan hawa nafsu menguasai jiwa seseorang (SAH 136).

Seraya menyebut dirinya faqr, Ayatullah Khomeini mengatakan bahwa apa yang disebut dunia bisa diartikan sebagai tingkat paling rendah dari keberadaan, tempat perubahan, peralihan dan kemusnhan. Sedangkan ‘akhirat’ ialah perjalanan kembali dari tingkat keberadaan terrendah tersebut menuju tingkat keberadaan atau alam kehidupan yang lebih tinggi. Yang pertama ialah segala sesuatu yang bersifat kebendaan. Karena itu yang dimaksud zuhud ialah penolakan terhadap materialisme dan hedonisme yang membawa kepada pendangkalan akidah, dekadensi moral, dan pembusukan sosial. Yang kedua, ialah peringkat keberadaan yang lebih tinggi dan tersembunyi, yaitu kehidupan batin yang bersih dari pamrih dan nafsu keduniaan. Dengan demikian, yang dimaksud sebagai ‘dunia yang tercela’ dalam al-Qur`an dan Hadis tidak berlaku bagi dunia itu sendiri, tetapi yang dimaksud ialah ketenggelaman, kecintaan, dan keterikatan manusia kepadanya.” (SAH 137).

Penjelasan Ayatullah Khomeini dapat dirujuk pada apa yang dikatakan Fariduddin al-`Attar (w. 1220 M) sebagaimana saya terjemahkan dari esai Sayyid Murtadha Muttahari Introduction to `Irfan, sebagai berikut:

Ketika Singa Tuhan Imam Ali hadir di sebuah majlis
Seseorang melontarkan kutukan pada dunia
Haidar menjawab, “Dunia, Nak, bukan untuk dikutuk”
Celakalah kau jika mengucilkan diri dari hikmah
Dunia ini seisinya adalah hamparan ladang
Untuk didatangi siang dan malam
Segala yang memancar dari martabat dan kekayaan iman
Seluruhnya dari dunia ini
Buah hari esok adalah kembang dari benih hari ini
Orang yang ragu akan merasakan pahitnya buah penyesalan
Dunia ini adalah tempat terbaik bagimu
Di dalamnya bekal di hari kemudian dapat kausiapkan
Pergilah ke dunia, namun jangan dalam hawa nafsu tenggelam
Dan siapkan dirimu bagi dunia yang lain
Jika demikian, maka dunia itu akan pantas bagimu
Berkariblah dengan dunia, demi tujuan semua itu

Makna zuhud sebagaimana dipahami ahli tasawuf dan `irfan, jelas bukan sikap memusuhi dan membenci dunia.

4. Faqr Dalam Tasawuf Hamzah Fansuri

Uraian tentang faqir sebagai salah satu konsep kunci tasawuf bertalian dengan maqamat, terutama sekali gambarannya secara simbolik, dijumpai banyak sekali dalam syair-syair Hamzah Fansuri. Kata-kata faqir bahkan dijadikan penanda kesufian atau kepengarangan, sering pula ditamsilkan sebagai anak dagang atau anak jamu (orang yang bertamu). Penamsilan ini diambil dari al-Qur’ an dan Hadis, dan memiliki kontek sejarah, khususnya sejarah penyebaran Islam di kepulauan Nusantara.

Telah banyak yang mengetahui bahwa agama ini tersebar dan berkembang pesat di Asia Tenggara bersamaan dengan pesatnya kegiatan perdagangan internasional yang dilakukan pedagang Muslim Arab dan Persia sejak abad ke-13 M. Sejak itu satu persatu kerajaan-kerajaan Islam berdiri di kota-kota pelabuhan seperti Samudra Pasai (1270-1514 M), Malaka (1400-1511 M) dan Aceh Darussalam (1516-1700 M) di kepulauan Melayu. Di pulau Jawa kerajaan-kerajaan Islam juga muncul di pesisir seperti Demak, Cirebon, Gresik, Banten, Tuban, dan lain-lain. Pada mulanya kegiatan perdagangan itu hanya melibatkan pedagang Arab, Turki dan Persia. Tetapi kemudian melibatkan juga pedagang-pedagang Nusantara yang telah memeluk agama Islam. Seraya berniaga mereka menjadi pendakwah, membangun jaringan perdagangan dan persaudaraan sufi. Dengan itu lembaga pendidikan Islam dapat didirikan di pusat-pusat komunitas Islam, dan tradisi intelektual pun lantas berkembang.

Arti kata dagang dalam bahasa Melayu pada mulanya ialah merantau ke tempat lain dan menjadi orang asing di tempat tinggalnya yang baru. Kata-kata ini diterjemahkan dari kata Arab gharib (asing) dan selalu dirujuk pada Hadis, ”Kun fi al-dunya ka’annaka gharibun aw ’abiru sablin wa `udhdha nafsahu min ashabi al-qubur” (”Jadilah orang asing atau dagang di dunia ini, singgahlah sementara dalam perjalananmu, dan ingatlah akan azhab kubur.”). Hamzah Fansuri menulis dalam sebuah syairnya:

Hadis ini daripada Nabi al-Habib
Qawl kun fi al-dunya ka’annaka gharib
Barang siapa da’im kepada dunia qarib
Manakan dapat menjadi habib. (Ik. VIII Ms. Jak. Mal. 83)

Lawan dari orang yang dicintai Tuhan ialah mereka yang mencintai dunia. Dagang atau faqir ialah dia yang karib dengan Tuhannya dan asing serta tidak lagi terpaut pada dunia. Kata gharib, yang diterjemahkan menjadi dagang, ditafsirkan sebagai ”Orang atau diri yang asing terhadap dunia” (al-Attas 1971:8), seperti ahli suluk yang insaf bahwa di dunia ini ia adalah orang asing yang sedang merantau atau singgah sementara di negeri orang untuk mengumpulkan bekal yang kelak akan dibawa pulang ke kampung halamannya. Kampung halaman manusia yang sebenarnya bukan di dunia, tetapi di akhirat. Ini dapat dirujuk pada apa yang dikatakan Imam al-Ghazali dalam Kimiya-i Sa`ada. Kata filosof sufi dari Tus, Persia itu: “Dunia ini adalah sebuah pentas aatau pasar yang disinggahi oleh para musafir dalam perjalanannya menuju ke negeri lain. Di sini mereka membekali diri dengan berbagai bekal agar supaya tujuan perjalanan tercapai” (Mohammad Bagir 1984:39). Hamzah Fansuri menulis:

Pada dunia nin jangan kau amin
Lenyap pergi seperti angin
Kuntu kanzan tempat yang batin
Di sana da’im yogya kau sakin

Lemak manis terlalu nyaman
Oleh nafsumu engkau tertawan
Sakarat al-mawt sukarnya jalan
Lenyap di sana berkawan-kawan

Hidup dalam dunia upama dagang
Datang musim kita ’kan pulang
La tasta’khiruna sa’atan lagi kan datang
Mencari ma`rifat Allah jangan alang-alang

La tasta’khiruna sa`atan (Q 34:30) artinya tidak dapat ditunda waktunya. Di sini anak dagan, diberi arti lebih kurang sebagai seseorang yang benar-benar memahami bahwa hakikat kehidupan dan kebahagian yang sejati dijumpai dalam persatuan hamba dengan Tuhannya. Tanda anak dagang sejati ialah kecintaan dan penyerahannya yang penuh kepada Tuhan, ikhtiarnya yang sungguh-sungguh menegakkan kebenaran agama yang diyakininya.

Begitu pula pengertian faqir. Dalam tasawuf ia diartikan sebagai pribadi yang tidak lagi terpaut pada dunia. Keterpautannya semata-mata ke pada Tuhan. Dua ayat al-Qur`an yang dijadikan rujukan, yaitu Q 2:268 dan Q 35-15. Dalam Q 2:268, Allah berfirman, ”Setan mengancammu dengan ketiadaan milik (al-faqr) dan menyuruhmu melakukan perbuatan keji. Tetapi Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepadamu dari-Nya sendiri dan Allah maha luas pengetahuan-Nya.” Dalam Q 35 :15, ”Hai manusia ! Kamulah yang memerlukan (fuqara’) Allah. Sedangkan Allah, Dialah yang maha kaya lagi maha terpuji.” (Yusuf Ali 1983: 109 dan 1157-8).

Mengikuti pengertian ini Hamzah Fansuri menyatakan bahwa faqir yang sejati ialah Nabi Muhammad s.a.w. Dalam seluruh aspek kehidupannya beliau benar-benar hanya tergantung kepada Tuhan. Ini ditunjukkan pada keteguhan imannya. Kata penyair:

Rasul Allah itulah yang tiada berlawan
Meninggalkan tha`am (tamak) sungguh pun makan
`Uzlat dan tunggal di dalam kawan
Olehnya duduk waktu berjalan

Perkataan ”`Uzlat dan tunggal di dalam kawan” dapat ditafsirkan bahwa, walaupun Nabi seorang zahid dan wara`, tetapi beliau tidak meninggalkan kewajibannya sebagai pemimpin umat. Sedangkan perkataan ”Olehnya duduk waktu berjalan” dapat ditafsirkan bahwa, walaupun hatinya hanya terpaut pada Tuhan, namun beliau tetap aktif mengerjakan urusan dunia dengan penuh kesungguhan dan pengabdian. Kata ’duduk’, arti harfiahnya tidak bergerak dan tidak berjalan, yakni keyakinannya kepada Allah s.w.t sangat kuat.

Dalam syairnya yang lain, seorang faqir diumpamakan sebagai galuh-galuh atau laron yang berani terjun ke dalam nyala api. Laron adalah lambang pengurbanan diri. Pengurbanan itu dilakukan disebabkan cinta dan keyakinannya yang mendalam kepada cahaya, simbol pencerahan, hikmah dan petunjuk Tuhan. Jelas bahwa faqir adalah pribadi berani mengurbankan kepentingan diri demi cita-cita yang luhur.

Dunia nin jangan kau taruh-taruh
Supaya dekat mahbub yang jauh
Indah sekali akan galuh-galuh
Ke dalam api pergi berlabuh

Hamzah miskin hina dan karam
Bermain mata dengan Rabb al-`Alam
Selamnya sangat terlalu dalam
Seperti mayat sudah tertanam

Anak dagang juga digambarkan sebagai anak mu’alim yang tahu jalan, orang yang pengetahuan dan wawasannya luas. Hamzah Fansuri menulis:

Kenali dirimu hai anak dagang
Jadikan markab (kapal) tempat berpulang
Kemudi tinggal jangan kau goyang
Supaya dapat dekat kau pulang

Fawq al-markab (di geladak kapal) yogya kau jalis (duduk)
Sauhmu da’im baikkan habis
Rubing syari`at yogya kau labis
Supaya jangan markabmu palis

Jika hendak engkau menjeling sawang
Ingat-ingat akan ujung karang
Jabat kemudi jangan kau mamang
Supaya betul ke bandar kau datang

Anak mu`allim tahu akan jalan
Da’im berjalan di laut nyaman
Markabmu tiada berpapan
Olehnya itu tiada berlawan

Dalam syair lain tamsil anak dagang diganti anak jamu: “Dengarkan hai anak jamu/ Unggas itu sekalian kamu/ `Ilmunya yogya kau ramu /Supaya jadi mulia adamu.” Anak jamu diumpamakan juga sebagai unggas yang tinggal dalam kandang syariat dan memliki berbagai kelengkapan ruhani:

`Ilm al-yaqin nama `ilmunya
`Ayn al-yaqin hasil tahunya
Haqq al-yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya

Syari`at akan tirainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqat akan ripainya (ripinya)
Ma`rifat akan isainya (isinya)

Jelaslah bahwa yang dimaksud faqir bukanlah orang miskin dalam artian harfiah. Ibn Abu `Ishaq al-Kalabadhi dalam bukunya al-Ta`arruf li Madzzhabi ahl al-Tashawwuf )abad ke-11 M) mengutip Ibn al-Jalla yang mengatakan, ’Kefaqiran ialah bahwa tiada sesuatu pun yang menjadi milikmu, atau jika memang ada sesuatu, itu tidak boleh menjadi milikmu’. Ini sejalan dengan firman Tuhan, ’Sedangkan mereka lebih mengutamakan kepentingan orang banyak, dibanding semata-mata kepentingan mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesukaran’” (Arberry 1976:118).

Ali Uthman al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub, mengutip seorang sufi yang mengatakan, ”Laysa al-faqr man khala min al-zad, inna-ma al-faqr man khala min al-murad, yakni ’Faqir bukan orang yang tak punya rezeki/penghasilan, melainkan yang pembawaan dirinya hampa dari nafsu rendah’.” Dia juga mengutip Syekh Ruwaym, ”Min na`t al-faqr hifzzhu sirrihi wa syanatu nafsihi wa ada’u fazi dhatihi’, yakni ’Ciri faqir ialah hatinya terlindung dari kepentingan diri, dan jiwanya terjaga dari kecemaran serta tetap melaksanakan kewajiban agama.” (Nicholson 1982:35).

Hamzah Fansuri menggambarkan bahwa faqir merupakan pribadi yang indah sebab seluruh dirinya telah fana` (hapus) dalam tujuan spiritual kehidupan yang berufuk dalam Tawhid, kesaksian bahwa Allah itu esa. Katanya:

Sidang faqir empunya kata
Tuhanmu zahir terlalu nyata
Jika sungguh engkau bermata
Lihatlah dirimu rata-rata

Kekasihmu zahir terlalu terang
Pada kedua `alam nyata terbentang
Ahl al-Ma`rifa terlalu menang
Washilnya da’im tiada berselang

Hamzah miskin orang`uryani
Seperti Isma`il jadi qurbani
Bukannya `Ajami lagi `Arabi
Nentiasa washil dengan Yang Baqi

Arti harfiah `uryan ialah telanjang, arti batinnya tulus dan ikhlas. Contoh faqir agung ialah Nabi Ismail a.s. yang bersedia dikurbankan oleh ayahnya Nabi Ibrahim a.s. karena itu yang diperintahkan oleh Tuhan. Seorang faqir menurut Hamzah adalah pribadi universal yang tidak terikat lagi pada warna kulit, ras dan kebangsaan. Apa artinya sebutan Arab, Parsi, Melayu, Jawa, atau Cina bagi seseorang yang telah wasil dengan Tuhan? Perjuangannya untuk menegakkan kebenaran juga bukan hanya untuk bangsa atau kaumnya, tetapi untuk seluruh umat manusia.

 

3. Karya-karya Syekh Hamzah Fansuri

 

Karya-karya Hamzah Fansuri dapat disebutkan, di antaranya yang berbentuk syair antara lain Syair Burung Pinggai, Syair Burung Pungguk, Syair Perahu, dan Syair Dagang. Adapun yang berbentuk prosa di antaranya Asrar al Arifin fi Bayan Ilmi as Suluk wa at Tauhid (keterangan mengenai perjalanan ilmu suluk dan keesaan Tuhan) dan Syarah al Asyiqin (minuman orang-orang yang cinta kepada Tuhan).

Kecuali Syair Dagang, syair-syair Hamzah Fansuri bersifat mistis dan melambangkan hubungan Tuhan dengan manusia. Syair Dagang bercerita tentang kesengsaraan seorang anak dagang yang hidup di rantau. Syair Burung Pinggai bercerita tentang burung pinggai yang melambangkan jiwa manusia dan Tuhan. Dalam syair itu, Hamzah Fansuri Mengangkat satu masalah yang banyak dibahas dalam tasawuf, yaitu hubungan satu dan banyak. Yang esa adalah Tuhan dengan alamnya yang beraneka ragam. Adapun puisinya Syair Perahu melambangkan tubuh manusia sebagai perahu layar di laut. Pelayaran itu penuh marabahaya. Apabila manusia kuat memegang keyakinan akan Tuhan maka dapat dicapai suatu tahap yang menunjukkan tidak adanya perbedaan antara Tuhan dengan Hambanya.

Prosa Asrar al Arifin fi Bayan Ilmi as Suluk wa at-Tauhid antara lain berisi pandangan Hamzah Fansuri tentang makrifat Tuhan, sifat Tuhan, dan nama Tuhan. Dalam karya ini ia mengatakan bahwa pada dasarnya syariat, hakikat, dan makrifat adalah sama. Syarah al Asyiqin atau sering disebut Asrar al Asyiqin (rahasia orang-orang yang mencintai Tuhan) danZinal al Muwahhidin (perhiasan orang yang mengesakan Tuhan). Buku itu berisi antara lain tentang perbuatan syariat, perbuatan tarikat, perbuatan hakikat, perbuatan makrifat, kenyataan zat Tuhan, dan sifat-sifat Tuhan. Di sini Hamzah Fansuri memandang Tuhan sebagai yang maha sempurna dan yang maha mutlak. Dalam kesempurnaan itu, Tuhan mencakup segala-galanya. Apabila tidak mencakup segala-galanya, Tuhan dapat disebut maha sempurna dan maha mutlak, karena mencakup segalagalanya maka manusia juga termasuk dalam Tuhan.

  • · Asraarul Arifiin Fi Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid, yang membahas masalah-masalah ilmu tauhid dan ilmu thariqat. Dalam kitab ini tersimpan ajaran-ajaran beliau.
  • · Syaraabul Asyiqin, yang membicarakan masalah-masalah thariqat, syariat, haqiqat dan makrifat.· Syair Burung Unggas, juga sajak sufi yang dalam maksudnya. Menurut Hamzah Fansuri, bahwa manusia yang telah menjadi “Insan Kamil” tidak ada lagi pembatas antara dia dan Mahbubnya, karena Insan Kamil telah menfanakan dirinya ke dalam diri Kekasih yang dirindukannya :
    • · Al Muntahi, yang membicarakan masalah-masalah tasauwuf.
    • · RubaH Hamzah Fansuri, syair sufi yang penuh butir-butir filsafat.

Mahbubmu itu tiada berhasil,

Pada ainama tawallu jangan mau ghafil,

Fa samma Wajhullah sempurna wasil,

Inilah jalan orang kamil.

Kekasihmu dlahir terlalu terang,

Pada kedua alam nyata terbentang,

Ahlul Makrifah terlalu menang,

Wasilnya daim tiada berselang.

Hempaskan akal dan rasamu,

Lenyapkan badan dan nyawamu,

Pejamkan hendak kedua matamu,

Di sana lihat peri rupamu.

Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri, yaitu Ruba’i yang telah disyarahkan oleh Syekh Saymsuddin Sumatrani, Khalifahnya yangutama, saya dapati dalam kumpulan beberapa Karya Tulis karangan Syekh Abdurrauf Syiahkuala, yang saya pinjam dari AlmarhumTeungku Muhammad Yunus Jamil. Syarah Ruba’i Hamzah Fansurisetelah saya fotokopikan, kemudian menganalisanya menjadisebuah buku dengan judul : Ruba’i Hamzah Fansuri Karya SastraSufi Abad XVII, dan dalam tahun 1976 telah diterbitkan di Kuala Lumpur oleh Dewan Bahasa Dan Pustaka.Naskah tua Syair Burung Unggas, saya dapati dalam tumpukanpuing-puing naskah tua, sisa Perpustakaan Teungku Chik Kutakarang,tidak berapa jauh dari Banda Aceh. Menurut setahu saya, Naskah Syair Burung Unggas belum pernah diterbitkan. Mungkin sekali saya orang pertama yang menemunya di Indonesia. Sungguhpun tidak begitu panjang, namun mempunyai arti yang penting.

 

Penutup

 

Hamzah Fansuri, ulama sufi, sastrawan dan cendekiawan yang hidup pada pertengahan abad ke-16 dan awal abad ke-17 di Fansur, meninggal dan dikuburkan di Desa Oboh Kecamatan Rundeng Kabupaten Aceh Singkil. Kehidupan Hamzah Fansuri tidak terlepas dari proses alur sejarah secara langsung maupun tidak langsung terikat dengan perjalanan agama Islam di Nusantara. Aliran tasawuf berdasarkan faham wujudiyah yang diaplikasikan dalam kehidupan dan dipaparkan dengan lirik sastra Melayu merupakan orang pertama yang mempelopori pengembangan sastra Melayu di Nusantara. Membicarakan Hamzah Fansuri sebagai tokoh fenomenal, baik sebagai penyair, ulama dan sekaligus intelektual maka tidak akan habis-habis untuk mengurai segi-segi kehidupan maupun karya-karyanya.

Sebagai penyair Melayu klasik namanya tetap abadi. Ia adalah seorang penyair besar, sekaligus seorang ulama yang mengemukakan ide-idenya melalui puisi maupun prosa. Pikiran-pikiranya tentang masalah keagamaan terutama tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, yang dalam faham keagamaan pikiran-pikiran Hamzah Fansuri dimasukkan dalam kategori wujudiyah. Karya tulis Hamzah Fansuri dapat dikatakan sebagai peletak dasar bagi peranan bahasa Melayu sebagai bahasa keempat di dunia Islam setelah bahasa Arab, Persia, dan Turki Usmani pada waktu itu. Karyakarya Hamzah Fansuri tersebar berkat jasa Sultan Iskandar Muda yang mengirimkan kitab-kitab karya Hamzah Fansuri antara lain ke Melaka, Kedah, Sumatra Barat, Kalimantan, Banten, Gresik, Kudus, dan Ternate.

Daftar Pustaka

Syed Muhammad Naguib Al-Attas “The Mysticism of Hamzah Fansuri” (University of Malay Press, Kuala Lumpur; 1970)

Syed Muhammad Naguib Al-Attas “Raniri and The Wujudiyyah of 17th Century Acheh” (MBRAS, Singapore; 1966)

V.Y. Braginsky “Some Remarks on The Structure of The Syair Perahu By Hamzah Fansuri” (Bijdragen deel 1973)

8 Oktober 2012

AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 2

oleh alifbraja

ALLAH MENAMBAHKAN NIKMATNYA KEPADA ORANG-ORANG YANG BERSYUKUR
Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggu na kan tangannya hingga kemampuan ber bicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat me mer lu kan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menya dari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka meng anggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mere ka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalah an yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasih nya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak ter hitung banyaknya di sepanjang hidupnya. Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).
Meskipun kenyataannya demikian, ke banyak an manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun penyebabnya diceritakan dalam al-Qur’an: Setan, yang berjanji akan menyesat kan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya’.” (Q.s. al-A‘raf: 17-8).
Dalam pada itu, orang-orang yang beriman karena menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri oleh orang-orang yang beriman. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepa ham an, wawasan, dan kekuatan yang dikaru nia kan kepada mereka, dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang beriman. Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan, perbuatan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semua ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Sebagai balasan atas kesyukurannya, sebu ah pahala menunggu orang-orang yang ber iman. Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam al-Qur’an; Allah menam bah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah memberi kan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyu kur kepada Allah atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Bahkan Allah menga runia kan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada orang-orang yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan mereka ridha dengan karunia tersebut, dan mereka menjadikan Allah sebagai pelin dung mereka. Allah menceritakan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)
Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Rasulullah saw. juga me nye butkan masalah ini, beliau saw. bersab da:
“Jika Allah memberikan harta kepadamu, maka akan tampak kegembiraan pada dirimu dengan nikmat dan karunia Allah itu.1
Dalam pada itu, seorang kafir atau orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia akan merasa tidak berbahagia dan tidak puas, maka Allah menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandangan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi Allah menampakkan lebih ba nyak nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.
Bahwa Allah menambah kenikmatan kepada orang-orang yang bersyukur, ini juga merupakan salah satu rahasia dari al-Qur’an. Bagaimanapun harus kita camkan dalam hati bahwa keikhlasan merupakan prasyarat agar dapat mensyukuri nikmat. Jika seseorang menunjukkan rasa syukurnya tanpa berpaling dengan ikhlas kepada Allah dan tanpa meng hayati rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batas, tetapi rasa syukurnya itu hanya untuk menarik perhatian orang, tentu saja ini merupakan ketidakikhlasan yang parah. Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati dan mengetahui ketidakikhlasannya tersebut. Orang-orang yang memiliki niat yang tidak ikhlas bisa saja menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati dari orang lain. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah. Orang-orang seperti itu bisa saja men syukuri nikmat ketika tidak menghadapi penderitaan. Tetapi pada saat-saat berada dalam kesulitan, mungkin mereka akan meng ingkari nikmat.
Perlu diperhatikan, bahwa orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Seseorang yang melihat dari luar mungkin melihat berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut. Misalnya, Allah menya takan bahwa Dia akan menguji manu sia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyu kur, mereka berharap bahwa Allah akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam mengha dapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka. Dengan demikian, ciri-ciri orang yang ber iman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

RAHASIA BERSERAH DIRI DAN BERTAWAKAL KEPADA ALLAH
Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus yang dimiliki orang-orang mukmin, yang memiliki keimanan yang mendalam, yang mampu melihat kekuasaan Allah, dan yang dekat dengan-Nya. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Allah telah menciptakan semua makh luk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa — masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan takdir nya sendiri-sendiri. Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita tersan dung, baju yang kita beli sepuluh tahun yang lalu, buah persik di lemari es, ibu anda, teman kepala sekolah anda, diri anda — pendek kata segala sesuatunya, takdirnya telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan dalam sebuah kitab yang dalam al-Qur’an disebut sebagai ‘Lauhul-Mahfuzh’. Saat kematian, saat jatuh nya sebuah daun, saat buah persik dalam peti es membusuk, dan batu yang menye babkan kita tersandung — pendek kata semua peris tiwa, yang remeh maupun yang penting — semuanya tersimpan dalam kitab ini.
Orang-orang yang beriman meyakini tak dir ini dan mereka mengetahui bahwa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang ter baik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah mencipta kan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah. Misalnya, terse rang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau mengha dapi peristiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak menimbulkan rasa takut da lam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang telah diciptakan Allah untuk mereka. Orang-orang beriman menghadapi dengan kegembiraan keadaan apa saja, keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan ngeri dan putus asa. Hal itu karena rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesung guh nya telah direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka. Orang-orang yang meng hadapi semuanya ini dengan sabar dan ber tawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.s. Ali ‘Imran: 159) Rasulullah saw. juga menyatakan hal ini, beliau bersabda:
“Tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan buruk, dan mengetahui bahwa ia tidak dapat menolak apa saja yang menimpanya (baik dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang dijauhkan darinya (baik dan buruk).”1
Masalah lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang bertawakal kepada Allah adalah tentang “melakukan tindakan”. Al-Qur’an memberitahukan kita tentang ber bagai tindakan yang dapat dilakukan orang-orang yang beriman dalam berbagai keadaan. Dalam ayat-ayat lainnya, Allah juga menjelas kan rahasia bahwa tindakan-tindakan tersebut yang diterima sebagai ibadah kepada Allah, tidak dapat mengubah takdir. Nabi Ya‘qub a.s. menasihati putranya agar melakukan bebe rapa tindakan ketika memasuki kota, tetapi setelah itu beliau diingatkan agar bertawakal kepada Allah. Inilah ayat yang membicarakan masalah tersebut:
“Dan Ya‘qub berkata, ‘Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu ger bang yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetap kan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendak lah kepada-Nya saja orang-orang yang berta wakal berserah diri’.” (Q.s. Yusuf: 67).
Sebagaimana dapat dilihat pada ucapan Nabi Ya‘qub, orang-orang yang beriman tentu saja juga mengambil tindakan berjaga-jaga, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengubah takdir Allah yang dikehendaki untuk mereka. Misalnya, sese orang harus mengikuti aturan lalu lintas dan tidak mengemudi dengan sembarangan. Ini merupakan tindakan yang penting dan meru pa kan sebuah bentuk ibadah demi kesela matan diri sendiri dan orang lain. Namun, jika Allah menghendaki bahwa orang itu meninggal karena kecelakaan mobil, maka tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah kematiannya. Terkadang tindakan pencegahan atau suatu perbuat an tampaknya dapat menghindari orang itu dari kematian. Atau mungkin seseorang dapat melakukan keputusan pen ting yang dapat mengubah jalan hidup nya, atau seseorang dapat sembuh dari penyakitnya yang memati kan dengan menunjukkan kekuatannya dan daya tahannya. Namun, semua peristiwa ini terjadi karena Allah telah menetapkan yang demikian itu. Sebagian orang salah menafsir kan peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai “mengatasi takdir sese orang” atau “mengubah takdir seseorang”. Tetapi, tak seorang pun, bahkan orang yang sangat kuat sekalipun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memi liki kekuatan seperti itu. Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah. Adanya fakta bahwa sebagian orang tidak menerima kenyataan ini tetap tidak meng ubah kebenaran. Sesungguhnya, orang yang menolak takdir juga telah ditetap kan demi kian. Karena itulah orang-orang yang meng hin dari kematian atau penyakit, atau meng ubah jalannya kehidupan, mereka mengalami peristiwa seperti ini karena Allah telah menetapkannya. Allah menceritakan hal ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Tidak ada suatu bencana pun yang me nimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami mencipta kannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.s. al-Hadid: 22-3).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, peristiwa apa pun yang terjadi telah dite tap kan sebelumnya dan tertulis dalam Lauh Mahfuzh. Untuk itulah Allah me nyata kan kepada manusia supaya tidak ber duka cita terhadap apa yang luput darinya. Misalnya, seseorang yang kehilangan semua harta ben da nya dalam sebuah kebakaran atau meng alami kerugian dalam perdagangannya, semua ini memang sudah ditetapkan. Dengan demi kian mustahil baginya untuk menghin dari atau mencegah kejadian tersebut. Jadi tidak ada gunanya jika merasa berduka cita atas kehilangan tersebut. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai kejadian yang telah ditetapkan untuk mereka. Orang-orang yang bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi peristiwa seperti itu, Allah akan ridha dan cinta kepadanya. Seba liknya, orang-orang yang tidak berta wakal kepada Allah akan selalu mengalami kesulit an, keresahan, ketidakbahagiaan dalam kehidupan mereka di dunia ini, dan akan memperoleh azab yang kekal abadi di akhirat kelak. Dengan demiki­an sangat jelas bahwa bertawakal kepada Allah akan membuahkan keberuntungan dan kete nang an di dunia dan di akhirat. Dengan me­nyingkap rahasia-rahasia ini kepada orang-orang yang beriman, Allah membebaskan mereka dari berbagai kesulitan dan menjadi kan ujian dalam kehidupan di dunia ini mu dah bagi mereka.

TERDAPAT KEBAIKAN DALAM SETIAP PERISTIWA
Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam pe ris tiwa-peristiwa yang tampaknya tidak me nye nangkan terdapat kebaikan di dalam nya:
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaik an yang banyak.” (Q.s. an-Nisa’: 19).
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pada hal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 216).
Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat. Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan selu ruh harta benda mereka. Mereka tetap ber syukur kepada Allah yang telah mengkaru nia kan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda. Untuk itu, mereka ber syukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan kein dah an untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderita an yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memer lukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepe nuh nya kepada Allah dan dengan menun jukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.
Manusia harus mencari kebaikan dan kein dahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misal nya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Sese orang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapan nya pada masa depan. Bagaimanapun, hen dak nya ia mengetahui bahwa terdapat ke baik an dalam kegagalannya ini. Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barang kali Allah menghendaki dirinya agar terhin dar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menem patkan berbagai rahmat dalam setiap peris tiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.
Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.
Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, “Seandainya saya tidak melakukan…” atau “Seandainya saya tidak berkata …,” dan seba gai nya. Kesalahan, kekurangan, atau peris tiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak meng untungkan, pada hakikatnya di dalam nya terdapat rahmat dan masing-masing merupa kan ujian. Allah memberikan pelajar an pen ting dan mengingatkan manusia tentang tuju an penciptaan pada setiap orang. Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nurani nya, tidak ada kesalahan atau pen de ritaan, yang ada adalah pelajaran, peringat an, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melaku kan mawas diri, bahkan keimanannya menja di lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.
Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang me ngenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tang gung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan menda tang kan kebahagiaan bagi orang-orang ber iman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang meng hing gapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelas kan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai ber ikut:
“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati’.” (Q.s. al-Baqarah: 38).
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu ber takwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidup an di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Q.s. Yunus: 62-4).

3 Oktober 2012

JAMAAH DZIKIR DAN HUKUM JAHR

oleh alifbraja

Sebagai contoh misalnya, bacaan kalimat La ilaha illallah, bacaan Allah, kalimat yang mengandung Asma al-Husna, atau wirid yang mengandung ayat Al-Qur’an. Semua itu harus diperhatikan, karena mengandung asnar atau rahasia karena di dalamnya mengandung magnet yang tinggi, tergantung besar-kecilnya, sesuai pemberian Allah (Swt).
Hal itu tidak diketahui oleh semua ulama. Yang mengerti hanya sebagaian besar kalangan para wali.

Adapun terkait Hadist yang Anda tanyakan, yang dimaksud sampai gila adalah cinta yang luar biasa. Sebab, bila zikir dibaca dengan baik, ia mampu menumbuhkan cinta yang amat sangat kuat kepada Allah, juga tumbuh rasa khawf (takut) bila imannya meluntur atau tipis, yang berakibat dirinya jauh dari Allah dan Rasul-Nya yang timbul sebagai rasa istiqomah . Maka gandengan kalimat khawf adalah raja’ (pengharapan) yang penuh. Tiada yang bisa diharapkan terkecuali Allah, baik untuk bersandar, berteduh, berlindung maupun memohon. Yang ditakutkan adalah mati dalam keadaan su’ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek), dan yang diharapkan yaitu mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik). Selain dari khawf, raja, ada juga haya’, yang artinya malu kepada Allah. Dia malu bila berbuat maksiat, malu bila akhlaknya dan budi pekertinya tidak terpuji kepada Allah, Rasul-Nya, para sahabat, para wali, dan para ulama. Itulah yang terkandung dalam Hadist tersebut. Jadi bukan gila dalam pengertian penyakit dan bukan pula gila dalam pengertian meninggalkan syariat atau sunnah, akhlak dan adab Nabi (saw).

Di antara kebiasaan orang-orang sufi, mereka berdzikir dengan cara melampaui batas syariat Islam, yaitu berdzikir dengan bilangan yang memberatkan diri seperti berdzikir sebanyak 70 ribu kali, 100 ribu kali. Padahal, maksimal dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-sebanyak 100 kali dalam dzikir-dzikir tertentu, bukan pada semua jenis dzikir.

Mereka membebani diri seperti ini, karena mendengar hadits berikut:

أَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِاللهِ حَتى يَقُوْلُوْا مَجْنُوْنٌ

“Perbanyaklah dzikir sehingga orang-orang berkata, engkau gila”. [HR. Ahmad (3/68), Al-Hakim (1/499), dan Ibnu Asakir (6/29/2)]

Hadits ini lemah karena diriwayatkan oleh Darraj Abu Samhi. Dia lemah riwayatnya yang berasal dari Abul Haitsam. Di-dho’if-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (no. 517) (2/9).

 

2 Oktober 2012

WUJUD YANG MAHA PENCIPTA

oleh alifbraja

Kewujudan Yang Maha Pencipta di terangkan oleh Allah di dalam Al-Quran melalui firmanNya Al Insan ayat 1 Maksudnya: Bukankah telah berlalu kepada manusia satu ketika dari masa yang beredar sedang ia (insan) belum ujud lagi, zaman itu tidak dapat untuk di-sebut-sebut mengikut perhitungan masa, mengapa kaum musyrik itu engkar? Mengikut ju mhur ulamak zaman yang di sebut oleh Allah swt di atas adalah zaman yang hanya ujud ialah Zat Allah semata-mata dan makhluk Allah yang lainpun belum lagi ujud, akan tetapi Allah yang kita kenali sekarang sebagai Tuhan yang wajib di sembah itu dan di kenali sebagai (Dialah yang awal, Dialah yang Akhir, Dialah yang Zahir dan Dialah yang Batin) telahpun sedia ujud, Yang di katan yang Awal itu kerana Dia bersifat Qidam, iaitu sifat yang mutlak bagi diriNya, dan tiada di dahului oleh sesuatu jugapun, demikianlah juga dengan sifat Akhir dengan tiada berkesudah an, kerana ia memiliki sifat mutlak yang Baqo, ini bererti Dia memerintah, mentadbir, Mengurus, Menguasai semua makhluk ciptaaNya daripada awal sehingga ke akhir, sementra siafat ZahirNya ia menunjukkan kepada jelas dan terangnya segala apa yang berlaku atas bergerak dan diamnya segala alam ciptaanNya adalah dari kerja urusanNya, ia juga di kenali sebagai Af’al Tuhan atau kerja buat urusan yang senantiasa menjalankan urusanNya sebagaimana firmanNya menyatakan Maksudnya: Semua makhluk yang berada di langit dan di bumi sentiasa Berhajat dan bermohon kepadaNya, tiap-tiap masa Dia didalam urusanNya (Mencipta dan mentadbir makhlukNya) (Ar Rahman 29) Ayat yang di atas mengukuhkan lagi kefahaman umat islam bahawa segala yang bergerak dari sekalian makhlukNya adalah ditadbir dan disebabkan oleh kuasa dan kehendak Allah swt, dengan kuasa tadbir itu bermakna takdir seluruh makhluk itu adalah di bawah kuasa gerak daripada Ke Esaan Tuhan secara mutlak dan di tentukan oleh Allah swt, mengikut nafsu semasa makhluk tersebut, inilah suatu rahsia takdir daripada Tuhan terhadap makhlukNya, dan di-sinilah kekaburan manusia tentang ilmu qadha dan qadar Allah swt sehingga membawa kepada pertengkaran yang tiada berkesudahan, ini bererti sekalian makhlukNya tiada mempunyai pilihan daya dan keupayaan setelah di nilai taraf kehendak nafsu seseorang tersebut sebelum takdir di timpakan oleh Allah swt kepadanya, ini bererti ke EsaanNyalah yang sepatutnya di fahami oleh sekalian makhluk terutama manusia yang memiliki akal lagi mampu berfikir secara waras, dengan kenyataan di atas jugalah kita di fahamkan bahawa Tuhan itu sentiasa menjalankan urusanNya tanpa berhenti-henti dan tanpa batas waktu dan masa, ertinya setiap bergeraknya makhluk itu adalah datang dari takdir ke Esaan Tuhan, demikian jugalah dengan sifat wal Batinu Tuhan yang sememan gnya tidak dapat di lihat dengan mata yang zahir, hanya dapat di yakini oleh mata basirah iaitu mata hati manusia kerana itulah juga manusia wajib tahu dan meng enal fungsi mata hatinya di samping mengenalinya dengan sempurna, terutama mengenal kekuasaan Tuhan secara yang menyeluruh sebagaimana firmanNya Maksudnya: Dialah Allah,yang tiada tuhan melainkan Dia,yang mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang amat pemurah dan amat mengasihani,Dialah Allah,yang tiada tuhan melainkan Dia, yang menguasai, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang melimpahkan Keamanan, yang Maha Mengawal dan Mengawasi, yang Maha Kuasa, yang Maha Kuat, yang melengkapi segala Kebesaran, Maha suci Allah dari segala yang mereka sekutukan, Dialah Allah, yang mencipta sekalian makhluk, yang mengada kan, yang membentuk rupa, (mengikut kehendakNya) baginyalah nama yang sebaiknya dan semulia-mulianya, bertasbih segala apa yang berada di langit dan di bumi, Dialah yang tiada tolok bandingnya, lagi amat Bijaksana (Al-Hasyar 22, 23, 24) Ayat yang di atas adalah merupakan ayat akidah yang wajib di percayai oleh semua manusia yang beriman kepada kuasa Ketuhanan yang menjadikan sekalian alam-alam ciptaanNya, dan ayat yang diatas menunjukkan kekuasaanNya yang menyeluruh terhadap alam tersebut, oleh kerana itu manusia wajib mengenali Tuhan secara menyeluruh sama ada Zatnya, Asmaknya, Sifatnya dan juga Af’alnya, yang ke semuanya bergerak serentak tanpa ada yang mendahulu atau terkemudian

2 Oktober 2012

ASMAUL HUSNA TERBAHAGI DUA

oleh alifbraja

Asmaul Husna atau nama-nama Allah terbahagi dua kumpulan besar, satu di kenali sebagai Asmaul Adhom dan lagi satu Asmaul Husna, Asmaul Adhom maksudnya Nama-nama Allah yang meng Agongkan ZatNya, Asmak ini khusus untuk DiriNya sahaja, ia bertujuan meng Agongkan diriNya supaya dapat membez akan dengan makhluk ciptaanNya, ertinya Asmaul Adhom itu hanya di timpakan kepada Zat sahaja, sementara Asmaul Husna adalah nama-nama Tuhan yang di-timpakan kepada seluruh alam ciptaan Tuhan yang menunjukkan kuasa mentadbir dan takdirNya dari ke Esaan ZatNya.

 

 

TAUHIDUL SIFAT

Wajib mempercayai ujud sifat Allah swt, yang di maksudkan dengan sifat di sini ialah sifat yang berdiri pada Zat Allah atau sifat yang bergantung kepada Zat Allah, ada pandangan ulamak ilmu ketuhanan mengatakan bahawa tiada istilah sifat di dalam ilmu ketuhanan kerana Allah sudah memilikki sifat Asmaul Husna yang indah dan Dia tidak memerlukan sifat lagi, hujah mereka ialah apabila Zat yang Maha Agong itu sudah memilikki sifat kamalat yang tidak terhingga banyaknya itu serta qadim pula maka apa perlu Dia berkehendakkan kepada sifat yang lain, pada masalah inilah para ulamak ilmu ketuhanan cuba merungkaikan dengan berijtihad mensari jalan penyelesaian dengan mengujudkan ilmu yang di kenali sebagai sifat yang dua puluh, yang mana ilmu ini cuba mencari jalan penyelesaian dengan sewajarnya sehingga mereka (ulamak ilmu ketuhanan) menemui jalan penyelesaian terhadap ilmu sifat ini dan mereka memperkenalkan maksud sifat itu ialah yang berdiri pada Zat atau sifat yang mengharapkan kepada Zat dengan istilah sifat ma’ani (sifat bermakana) sementara sifat Zat yang qadim (Sifat Asma ul Husna) di istilahkan kepada sifat Ma’anawiyah (sifat yang memberi makna) ertinya sifat Ma’anawiyah memberikan makna kepada sifat ma’ani, sebagai contoh jika sifat ma’ani itu sifat qudrat maka yang memberikan makna kepada sifat qudrat itu ialah sifat Asmak Allah yang bernama Qadirun, sebagai contoh, sifat qudrat bermaksud kuasa, dan sifat Qadirun bermakna Yang amat Berkuasa oleh itu Yang amat Berkuasa memberikan kuasa (tenaga) kepada sifat kuasa maka barulah sifat qudrat itu memper olehi kuasa dan demikianlah kepada sifat-sifat yang lain, oleh kerana itu jelaslah sifat qudrat itu adalah makhluk. Para ulamak ilmu Ketuhanan menggariskan beberapa sifat dan istilahnya didalam keilmuan ini supaya di fahami oleh manusia untuk permulaan memahami mengenal Allah dan hamba Tuhan, mengenal Tuhan yang ghaib dan tersirat dan mengenal hamba yang tersirat dan tersurat, dan di sinilah punca perhubungan di antara yang ghaib dan yang nyata bermula, dan perlulah di ketahui yang mana di antaranya yang memberi erti di dalam kehidupan manusia dan perhu bungannya dengan Tuhan dan menetapkan yang lebih berkuasa di antaranya, kerana itu para ulamak di dalam bab ilmu ini melahirlah istilah Nafsiyah, Salbiyah, maani dan Maanawiyah, para ulamak juga menggariskan susunan jumlah sifat pada setiap bahagian dari sifat tersebut mengikut kesesuaian sifat tertentu kepada setiap bahagian supaya tujuan ilmu tersebut menepati ilmu akidah dan memberikan kefahaman dengan jelas seperti yang tersenarai di bawah ini:

 

1. Sifat Nafsiyah di bahagikan kepada satu iaitu sifat Wujud

2. Sifat Salbiyah di bahagikan kepada lima sifat iaitu Qidam Baqo, Mukholafatuhu Taala Lilhawadis, Qiamuhu Binafsih dan Wahdaniyah

3. Sifat Maani di bahagikan kepada tujuh sifat iaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’a, Bashar, dan Kalam, Sifat Maanawiyah di bahagikan kepada tujuh sifat iaitu sifat

4. Qadirun, Maridun, Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirun dan Mutakallimun iaitu sifat Asmaul Husna Kesemua sifat diatas berjumlah dua puluh sifat, dan istilah sifat di berikan kepada semua sifat dua puluh itu adalah kerana mengelakkan kepada pengamal ilmu ini dari bercakap tentang Zat, akan tetapi jika kita nahu memahami ilmu yang sebenarnya ialah Nafsiyah itu ialah Zat yang bertaraf Diri Tuhan, Salbiyah bertaraf Keagungan Tuhan, Ma’ani bert araf makhluk Tuhan dan Ma’anawiyah bertaraf Asmaul Husna Tuhan ia itu sifat Tuhan oleh yang demikian taraf sifat itu yang di katakanaberdiri atau mengharapkan pergantungannya kepada Tuhan adalah bertaraf makhluk kerana Tuhan tidak memerlukan pergantunganNya dengan sesiapa, dan kerana itulah juga di dalam ilmu sifat dua puluh memberi kefahaman kepada ilmu mengenal Rububiyah dan Uluhiyah atau ilmu di antara Tuhan dan hamba, iaitu hamba yang tersembunyi ia itu Rohani yang bersumber dari sebahagian dari sifat maani tersebut, atau di kenali juga sebagai sifat Qahar yang bersumber daripada sifat Maani bukan hamba yang tersurat iaitu jasad manusia, dan sifat inilah yang di maksudkan yang berdiri atau bergantung pada Zat , iaitu Zat Maanawiyah (Asmaul Husna) bukan Zat Nafsiyah dan sementara itu Zat Maanawiyah pula berserta dengan Zat Salbiyah dan Zat Salbiyah pula adalah menunju kkan Keagungan Zat Nafsiyah, ini bererti Nafsiyah, Salbiyah, Maanawiyah sentiasa berserta dengan sifat Maani, maka di sinilah kefahaman orangorang yang mengenal Allah dan mengenal diri supaya meninjau dan memahami ilmu

INSAN KAMIL

 

Yang menemukan di antara sifat Qahar dan sifat Kamal Allah swt, pertemuan di antara tiga kumpulan sifat Salbiyah, Maanawiyah dan sifat Maani yang mana sifat ini merupakan sifat Al Uluhiyah di dalam bab ilmu Iftiqar, kerana itulah setiap manusia wajib memahami ilmu akidah supaya mereka memahami Alif Ba Ta ilmu Ketuhanan dan Kehambaan, ia itu hamba yang ghaib dan tersirat yang di kenali secara umum sebagai makhluk Allah swt, yang diperintahkan kepada manusia supaya mengenal dan mememiki rkannya (Fikirkanlah tentang makhluk Allah) oleh kerana itulah di katakana bahaw a sifat Maani itu adalah bayang-bayang kepada sifat Maanawiyah.

 

TAUHIDUL AF’AL

 

Manusia yang masih hidup wajib mempercayai,mengakui bahawa segala Af’al Allah datang daripada kuasa ke Esaan Tuhan, inilah suatu fahaman akidah yang tidak dapat hendak di nafikan oleh seluruh manusia, dan Af’al Allah itu membawa maksud segala gerak dan diamnya sekalian makhluk yang di jadikan Tuhan adalah kerja buat perbuatan Allah di atas takdirNya, jika manusia tersilap menyangka segala perbuatannya itu atas kuasa mutlak darinya sendiri tanpa di kaitkan dengan takdir maka terperan gkaplah manusia itu dengan perbuatan syirik, ramai di kalangan manusia yang terperangkap dan memerangkap dirinya ke dalam perbuatan syirik ini kerana kejahilann ya atau kemalasannya kerana tidak mengambil berat dan yakin untuk mempelajari ilmu Ketuhanan dan kehambaan dan tidak kurang yang mengambil rengan dengan ilmu dirinya sendiri, dan ada di kalangan manusia yang menamakan ilmu Af’al Allah ini sebagai ilmu takdir daripada Tuhan kerana itu mereka selalu mengingatkan diri mereka dengan selalu berdo’a. Maksudnya: Wahai Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang datang daripadaMu

Manusia berlindung dan mengharapkan kepada Tuhan supaya segala takdir kejahatan dan kecelakaan di jauhkan daripada kita kerana tiada siapapun yang berakal merasa rela menerimanya tambahan lagi takdir yang buruk itu datang tanpa di ketahui datang dari Tuhan, walau bagaimanapun takdir kejahatan pasti ada hikmah di sebaliknya. Dan lagi FirmanNya:…

Maksudnya: Katakanlah olehmu segala sesuatu itu datang daripada Allah (An Nisa 7 8) Ayat yang di atas menerangkan bahawa setiap sesuatu itu datang daripada Allah , dan sesuatu itu dimaksudkan pula secara syumul sama ada makhluk ciptaanNya ataupun setiap sesuatu itu bermaksud segala pergerakkan alam datang daripadaNya atau apa juga takdir yang berlaku kepada sekalian makhlukNya adalah datang disebabkan atas kehendakNya. Terlalu banyak ayat Al Quran yang menyebut tentang Af’al Allah di antaranya Allah berfirman: Maksudnya: Allahlah yang menjadikan kamu dan apa yang kamu lakukan (As Shofat 97) Maksud ayat yang di atas ini ialah Allah menerangkan bahawa Dialah yang menjadikan manusia (kita) sama ada zahir dan batinnya dan Dialah juga yang menggerakkan manusia itu. Dan lagi firmanNya: Maksudnya: Tidaklah kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allahlah yang melempar (Al Anfal 17) Ayat yang di atas menerangkan bagaimana kuasa melempar yang datangnya daripada manusia itu di anggap sebagai kuasa yang terdapat daripada manusia, akan tetapi sebenarnya adalah datang daripada Allah swt, inilah rahsia kombinasi sifat Qahar dan sifat Kamal yang kebanyakkan manusia tidak mengetahuinya kerana ia di anggap soal remeh dan memeningkan akal dan jangan ada hendaknya manusia menjadikan pengetahuan yang hak itu sebagai mangsa kepentingan didi dan kuasa wal hal ia suatu yang wajib di ketahui kerana akal adalah makhluk dan dia perlu beribadat dengan menggunakan akal tersebut dan demikianlah juga kehidupan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, dan kebanyakkan manusia tidak mengetahui bahawa akal itu adalah yang tersirat yang menentukan hala tuju manusia mengabdikan diri kepada Allah, juga manusia perlu berfikir bagaimana sesuatu perbuatan itu dapat di laksanakan jika akal tidak memainkan peranannya apabila hendak melakukan sesuaru rancangan yang sempurna, dan manusia juga perlu berfikir sebelum melakukan sesuatu itu adakah terlarang atau di perintah. Dan lagi firmanNya: Maksudnya: Dan tidaklah kamu yang berkehendak melainkan apa yang di kehendakki oleh Allah (At Takwir 29) Ayat yang di atas menunjukkan bahawa kehendak setiap manusia itu sebenarnya adalah kehendak Allah swt, dan kehendak Allah itu adalah takdir yang di timpakan kepada manusia mengikut taraf sifat dan sikap nafsu seseorang itu, kerana itulah manusia perlu melihat fungsi akalnya supaya berikhtiar untuk menyelamatkan dirinya dengan mencuci sikap hawa nafsu nya,tidak boleh bersikap jabariyah kerana Allah telah mengurniakan manusia akal untuk berikhtiar bagi menyelamatkan diri mengikut arahan Tuhan di dalam Al Quran dan di sinilah setiap manusia perlu bertanyakan kepada dirinya tentang faedah apa Allah kurniakan kepadanya akal dan akal itu hendaklah di rujuk kepada konsef jabariyah sama ada boleh mendatangkan faedah kepada kehidupan manusia ataupun tidak atau apa yang sebenarnya konsef jabariyah tersebut di dalam kehidupan manusia dan ketika mana ia perlu di gunakan di dalam kehidupan ini tidak bermakna sifa t jabariyah itu tidak perlu ada akan tetapi ia perlu di lihat dari konsef kehidu pan seorang manusia yang bertugas sebagai khalifah di bumi bagi menunaikan perin tah Allah swt dan jabariyah bukanlah suatu konsef yang mendorong manusia berlepas tangan dengan tugas sebagai khalifah jika ia di rujuk kepada fungsi akal yang sentiasa berfikir kepada soal kebaikkan dan kesempurnaan.

14 September 2012

DOA DARI ASMAUL HUSNA

oleh alifbraja

 


1. Yaa Allaahu anta robbunaa laa ilaaha illaa anta
* Ya Allah, Engkau Tuhan kami, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau

2. Yaa Rahmaanu narjuu rohmatak
* Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kami mengharap kasih sayang-Mu.

3. Yaa Rahiimu irhamnaa
* Ya Tuhan yang Maha Penyayang, kasih dan sayangilah kami.

4. Yaa Maaliku A’thinaa min mulkika
* Ya Tuhan yang Maha Raja (mempunyai kekuasaan), berikanlah kepada kami dari kekuasaan-Mu.

5. Yaa Qudduusu Qaddis Fithratanaa
* Ya Tuhan yang Maha Suci, sucikanlah fitrah kejadian kami

6. Yaa salaamu sallima min aafaatid dunyaa wa’adzaabil aakhirah
* Ya Tuhan Pemberi selamat, selamatkanlah kami dari fitnah bencana dunia dan siksa di akherat.

7. Yaa mukminu aaminaa wa-aamin ahlanaa wabaladanaa
* Ya Tuhan yang memberi keamanan, berikanlah kami keamanan, keluarga kami dan negeri kami.

8. Ya Muhaiminu haimin auraatinaa wa-ajsaadanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, lindungilah cacat dan jasad kami.

9. Yaa Aziizu Azziznaa bil’ilmi walkaroomah
* Ya Tuhan Yang Maha Mulia, muliakanlah kami dengan ilmu pengetahuan dan kemuliaan.

10. Yaa Jabbaaru hab lanaa min jabaruutika
* Ya Tuhan Yang Maha Perkasa, berikanlah kepada kami dari keperkasaan-Mu.

11. Yaa Mutakabbiru bifadhlika ij’alnaa kubaraa
* Ya Tuhan Yang Maha Megah, dengan anugerah-Mu jadikanlah kami orang yang megah.

12. Yaa Khooliqu hassin kholqonaa wahassin khuluqonaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menciptakan/Menjadikan, baguskanlah kejadian kami dan baguskanlah akhlak kami.

13. Yaa Baari’u abri’naa minasy syirki walmaradhi walfitnati
* Ya Tuhan yang Maha Membebaskan, bebaskan kami dari syirik, penyakit, dan fitnah.

14. Yaa Mushawwiruu shawirnaa ilaa ahsanil kholqi walhaali
* Ya Tuhan yang Maha Membentuk, bentuklah kami menjadi sebaik-baiknya makhluk dan sebaik-baik keadaan.

15. Ya Ghoffaaru ighfir lanaa dzunuubanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Pengampun , ampunilah dosa-dosa kami.

16. Yaa Qohhaaru iqhar aduwwanaa ilal istislami
* Ya Tuhan Yang Maha Memaksa, paksalah musuh kami untuk tunduk/menyerah

17. Ya Wahhaabu Hab lanaa dzurriyatan thayyibah
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi, berikanlah kepada kami anak keturunan yang baik

18. Ya Rozzaaqu urzuqnaa halaalan thoyyiban waasi’aa
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi rezeki, berikanlah rezki yang halal, bergizi dan banyak

19. Yaa Fattaahu iftah lanaa abwaabal khoiri
* Ya Tuhan yang Maha Membuka, bukakanlah buat kami semua pintu kebaikan.

20. Yaa aliimu a’limnaa maa laa na’lam
* Ya Tuhan Yang Maha Mengetahui, beritahukanlah kepada kami apa yang kami tidak mengetahuinya.

21. Yaa Qoobidhu idzaa jaa’a ajalunaa faqbidh ruuhanaa fii husnil khotimah
* Ya Tuhan Yang Maha Mencabut, jika telah sampai ajal kami, cabutlah ruh kami dalam keadaan khusnul khotimah.

22. Yaa baasithu ubsuth yadaaka alainaa bil athiyyah
* Ya Tuhan Yang Maha Meluaskan, luaskan kekuasaan-Mu kepada kami dengan penuh pemberian.

23. Ya khoofidhu ihkfidh man zholamanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menjatuhkan, jatuhkanlah orang yang menzalimi kami.

24. Ya roofi’u irfa darojaatinaa.
* Ya Tuhan Yang Maha Mengangkat, angkatlah derajat kami.

25. Ya Mu’izzu aatinaa izzataka.
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi kemuliaan, limpahkanlah kemulaiaan-Mu kepada kami.

26. Yaa mudzillu dzallilman adzallanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menghinakan, hinakanlah orang yang menghina kami.

27. Yaa samii’u isma syakwatanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Mendengar. dengarkanlah pengaduan kami.

28. Yaa bashiiru abshir hasanaatinaa
* Ya Tuhan Yang Maha Melihat, lihatlah semua amal kebaikan kami.

29. Yaa hakamu uhkum manhasada alainaa wa ghosysyanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menetapkan hukum, hukumlah orang-orang yang dengki dan curang kepada kami.

30. Yaa adlu i’dil man rahimanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menetapkan keadilan, berikan keadilan kepada orang yang sayang kepada kami.
31. Yaa khobiiru ihyinaa hayaatal khubaroo
* Ya Tuhan Yang Maha Waspada, jadikanlah hidup kami seperti kehidupan orang-orang yang selalu waspada (ahli peneliti).

32. Yaa haliimu bilhilmi zayyinnaa
* Ya Tuhan Yang Maha Penyantun, hiasilah hidup kami dengan sikap penyantun.

33. Yaa lathiifu ulthuf binaa
* Ya Tuhan Yang Maha Halus, bersikaplah halus kepada kami.

34. Yaa azhiimu ahyinaa hayaatal uzhomaa
* Ya Tuhan Yang Maha Agung, hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan orang-orang yang agung.

35. Yaa ghofuuru ighfir lanaa waisrofanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa kami dan keteledoran kami.

36. Ya syakuruu a’innaa ‘alaa syukrika
* Ya Tuhan Yang Maha Menerima syukur, berikanlah kami kemampuan untuk selalu bersyukur kepada-Mu.

37. Ya aliyyu uluwwaka nastaghiitsu
* Ya Tuhan Yang Maha Tinggi, kami mengharap ketinggian dari-Mu

38. Yaa kabiiru ij’alnaa kubarooa
* Ya Tuhan Yang Maha Besar, jadikanlah kami orang yang besar.

39. Yaa hafiizhuu ihfazhnaa min fitnatid dunya wasuuihaa
* Ya Allah Yang Maha memelihara, peliharalah kami dari fitnah dunia dan kejahatannya

40. Yaa muqiitu a’thinaa quwwataka laa haula walaa quwaata illabika
* Ya Allah Tuhan Yang Maha Memberi kekuatan, berikanlah kami kekuatan, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Engkau.

41. Yaa Hasiibu haasibnaa hisaaban yasiiroo
* Ya Tuhan Yang Maha Menghisab, hisablah kami nanti dengan hisaban yang ringan.

42. Yaa jaliilu ahyinaa hayaatal ajillaal.
* Ya Tuhan Yang Maha Luhur, hidupkanlah kami seperti orang-orang yang mempunyai keluhuran

43. Ya kariimu akrimnaa bittaqwaa
*Ya Tuhan Yang Maha Mulia, muliakanlah kami dengan ketaqwaan

44. Ya roqiibu ahyinna tahta riqoobatik
* Ya Tuhan Yang Maha Mengamati geark-gerik, hidupkanlah kami selalu dalam pengamatan-Mu

45. Ya mujiibu ajib da’watanaa waqdhi hawaaijanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Mengabulkan, kabulkanlah do’a dan ajakan kami, luluskanlah semua keperluan kami

46. Yaa waasi’u urzuqnaa rizqon waasi’aa wawassi shuduuronaa
* Ya Tuhan Yang Maha Meluaskan, berikanlah kami rizki yang luas dan luaskanlah dada kami.

47. Yaa hakiimu ahyinaa hayaatal hukamaai
* Ya Tuhan Yang Maha Bijaksana, hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan orang-orang yang bijaksana.

48. Yaa waduudu wuddaka ista’tsarnaa wa alhimma mawaddatan warohmah
* Ya Tuhan Yang Maha Mencintai, hanya cintamu kami mementingkan, dan ilhamkanlah kepada kami rasa cinta dan kasih sayang.

49. Ya majiidu a’thinaa majdaka
* Ya Tuhan Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami kemuliaan-Mu

50. Yaa baa’itsu ib’atsnaa ma’asysyuhadaai washshoolihiin
* Ya Tuhan Yang maha Membangkitkan, bangkitkanlah kami bersama orang-orang yang syahid dan orang yang shaleh.

51. Yaa Syaahiidu isyhad bi annaa muslimuun
* Ya Tuhan Yang Maha Menyaksikan, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada-Mu (Muslimin)

52. Yaa Haqqu dullanaa haqqon wa’thi kulla dzii haqqin haqqoo
* Ya Allah Tuhan Yang Maha Haq, tunjukilah kami kepada yang haq dan berikanlah hak pada setiap orang yang mempunyai haq

53. Yaa wakiilu alaika tawakkalnaa
* Ya Tuhan Yang Maha Memelihara penyerahan, kepada-Mu kami serahkan urusan kami

54. Yaa Qowiyyu biquwwatika fanshurnaa
* Ya Tuhan Yang Maha Kuat, dengan kekuatan-Mu tolonglah kami.

55. Yaa matiinu umtun imaananaa watsabbit aqdaamanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Kokoh, kokohkanlah iman kami dan mantapkan pendirian kami.

56. Yaa Waliyyu ahyinaa hayaatal auliyaa
* Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, hidupkanlah kami seperti hamba-hamba-Mu yang mendapat perlindungan (para wali)

57. Yaa haniidu urzuqnaa isyatan hamiidah
* Ya Tuhan Yang Maha Terpuji, limpahkan kepada kami kehidupan yang terpuji.

58. Yaa muhshii ahshinaamin zumrotil muwahhidiin
* Ya Tuhan Yang Maha Menghitung, hitunglah kami termasuk orang-orang yang meng-Esakan Engkau

59. Yaa mubdi’u bismika ibtada’naa
* Ya Tuhan Yang Maha Memulai, dengan nama-Mu kami memulai.

60. Yaa mu’iidu a’id maa ghooba annaa
* Ya Tuhan Yang Maha Mengembalikan, kembalikanlah semua yang hilang dari kami

61. Yaa muhyii laka nuhyii fahayyina bissalaam
* Ya Tuhan Yang Maha Menghidupkan, karena Engkau kami hidup, hidupkanlah kami dengan penuh keselamatan

62. Yaa mumiitu amitna alaa diinil Islaam
* Ya Tuhan Yang Maha Mematikan, matikanlah kami tetap dalam keadaan Islam

63. Yaa Hayyu ahyi wanammi sa’yanaa wasyarikatana waziro’atana..
* Ya Tuhan Yang Maha Hidup , hidupkanlah dan kembangkanlah usaha kami, perusahaan kami dan tanaman kami

64. Ya Qoyyuumu aqimnaa bil istiqoomah
* Ya Tuhan Yang Maha Tegak, tegakkanlah kami dengan konsisten

65. Yaa waajidu aujid maadhoo’a annaa
* Ya Tuhan Yang Maha Mewujudkan / Menemukan, ketemukanlah semua yang hilang dari kami.

66. Yaa maajidu aatinaa majdaka
* Ya Tuhan Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami kemuliaan-Mu

67. Yaa waahidu wahhid tafarruqonaa wajma’syamlanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Esa/Menyatukan, persatukanlah perpecahan kami dan kumpulkanlah keberantakan kami.

68. Yaa shomadu ilaika shomadnaa
* Ya Tuhan yang tergantung kepada-Nya segala sesuatu, hanya kepada-Mu kami bergantung.

69. Yaa qodiiru biqudrotika anjib min zhahrina zhurriyyatan thoyyibah
* Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan kekuasaan-Mu lahirkanlah dari tulnag pungung kami anak keturunan yang baik.

70. Yaa muqtadiru iqtadirlana zaujan wakhoiron kullahu
* Ya Tuhan Yang Maha Menentukan, tentukanlah untuk kami istri dan semua kebaikannya.

71. Ya mukoddimu qoddim hawaaijanaa fiddun-ya wal aakhiroh
* Ya Tuhan Yang Maha Mendahulukan, dahulukan keperluan kami di dunia dan di akherat.

72. Yaa muakhkhiru akhkhirhayaatana bishusnil khootimah.
* Ya Tuhan Yang Maha Mengakhirkan, akhirkanlah hidup kami dengan
husnul khotimah.

73. Yaa awwalu adkhilnal jannta ma’al awwalin
* Ya Tuhan Yang Maha Pertama, masukkanlah kami ke dalam syurga bersama orang-orang yang pertama masuk syurga

74. Yaa aakhiru ij’al aakhiro ‘umrinaa khoirohu.
* Ya Tuhan Yang Maha Akhir, jadikanlah kebaikan pada akhir umur kami.

75. Ya zhoohiru azhhiril haqqo ‘alainaa warzuqnattibaa’ah
* Ya Tuhan Yang Maha Nyata, tampakkanlah kepada kebenaran , berikan kami kesanggupan untuk mengikutinya.

76. Yaa baathinu abthin ‘uyuubanaa wastur ‘aurootinaa.
* Ya Tuhan Yang Maha Menyembunyikan, sembunyikanlah cacat kami dan tutuplah rahasia kami.

77. Yaa waali anta waali amrinaa faasri’ nushrotaka lanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menguasai, Engkau adalah Penguasa urusan kami, maka segerakanlah pertolongan-Mu kepada kami.

78. Yaa muta’aali a’li kalimataka wakhdzul man khodzalanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Terpelihara dari semua kekurangan (Maha Luhur), luhurkan/peliharalah kalimat-Mu dan hinakan orang yang merendahkan kami.

79. Yaa barru ashib barroka alainaa waahyinaa ma’al barorotil kiroom.
* Ya Tuhan Yang Maha Dermawan, limpahkan kedermawanan-Mu kepada kami dan hidupkanlah kami bersama orang-orang yang dermawan lagi mulia.

80. Yaa tawwaabu taqobbal taubatanaa wataqobbal ma’dzi-rotanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menerima taubat, terimalah taubat kami dan uzur kami.

81. Yaa afuwwu fa’fu annaa khothooyaanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Memaafkan , maafkanlah semua kesalahan kami

82. Ya rouufu anzil alainaa ro’fataka
* Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, turunkanlah kepada kami kasih/kelembutan-Mu

83. Yaa Maalikal mulki aati mulkaka man tasyaa-u minnaa
* Ya Tuhan Yang Memiliki Kerajaan/Kekuasaan, berikan
kerajaan/kekuasaan-Mu kepada siapa yang Engkau kehendaki dari kami.

84. Yaa Muntaqimu laa tantaqim ‘alaina bidzunuubinaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menyiksa, janganlah kami disiksa lantaran dosa-dosa kami.

85. Yaa dzal jalaali wal ikroom akrimnaa bil ijlaali wattaqwaa
* Ya Tuhan Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan, muliakanlah kami dengan keagungan dan ketaqwaan.

86. Yaa Muqsithu tsabbit lanaa qisthon wazil ‘anna zhulman
* Ya Tuhan Yang Maha Mengadili, tetapkanlah kepada kami keadilan dan hilangkan dari kami kezaliman.

87. Yaa Jaami’u ijma’naa ma’ash shoolihiin.
* Ya Tuhan Yang Maha Mengumpulkan, kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang sholeh.

88. Yaa Ghoniyyu aghninaa bihalaalika ‘an haroomik
* Ya Tuhan Yang Maha Kaya, berikanlah kepada kami kekayaan yang halal dan jauh dari keharaman.

89. Yaa Munghnii bini’matika aghninaa
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi Kekayaan, dengan nikmat-Mu berikanlah kami kekayaan.

90. Yaa Maani’u imna’ daairotas suu-i taduuru ‘alainaa.
* Ya Tuhan Yang Maha Menolak, tolaklah putaran kejahatan yang mengancam kami.

91. Yaa Dhoorru la tushib dhorroka wadhorro man yadhurru ‘alainaa
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi Bahaya, jangan timpakan kepada kami bahaya-Mu dan bahaya orang yang akan membahayakan kami.

92. Yaa Naafi’u infa’ lanaa maa ‘allamtanaa wamaa rozaqtanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Membri Manfaat, berikan kemanfaatan atas apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami dan kemanfaatan rizki yang Engkau berikan kepada kami.

93. Yaa Nuuru nawwir quluubanaa bihidaayatika
* Ya Tuhan Yang Maha Bercahaya, sinarilah kami dengan petunjukmu.

94. Yaa Haadii ihdinash shirothol mustaqim.
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.

95. Yaa Badii’u ibda’ lanaa hayatan badii’ah
* Ya Tuhan Yang Maha Pencipta Keindahan, ciptakanlah kepada kami kehidupan yang indah.

96. Yaa Baaqii abqi ni’matakal latii an’amta ‘alainaa.
* Ya Tuhan Yang Maha Kekal, kekalkanlah nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.

97. Yaa Waaritsu ij’alnaa min waratsati jannatin na’iim.
* Ya Tuhan Yang Maha Pewaris, jadikanlah kami orang yang akan mewarisi syurga kenikmatan.

98. Yaa Rasyiidu alhimna rusydaka waahyinaa raasyidiin.
* Ya Tuhan Yang Maha Cendekiawan, limpahkanlah kecendekiawaan-Mu dan hidupkanlah kami sebagai orang-orang cendekia.

99. Yaa Shabuuru ij’alnaa shaabiriina
* Ya Tuhan Yang Maha Penyabar, jadikanlah kami orang-orang yang selalu bersabar.

12 September 2012

7 Kelebihan Setan Dibandingkan Manusia

oleh alifbraja

 

Silakan di liat Sob gambar nya

1. Pantang menyerah
Setan tidak akan pernah menyerah selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh.

2. Selalu Berusaha
Setan akan mencari cara apapun untuk menggoda manusia dan agar tujuannya tercapai, selalu kreatif dan penuh ide. Sedangkan manusia ingin enaknya saja, banyak yang malas.

3. Konsisten
Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada pekerjaanya, tak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan manusia banyak yang mengeluhkan pekerjaannya, padahal banyak manusia lain yang masih ngaggur.

4. Solider
Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan peduli terhadap sesama, kebanyakan malah saling bunuh dan menyakiti.

5. Jenius
Setan itu paling pintar mencari cara agar manusia tergoda. Sedangkan manusia banyak yang tidak kreatif, bahkan banyak yang jadi peniru dan plagiat.

6. Tanpa Pamrih
Setan itu bekerja 24 Jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan manusia, apapun harus dibayar.

7. Suka berteman
Setan adalah mahluk yang selalu ingin berteman, berteman agar banyak temannya di neraka kelak. Sedangkan manusia banyak yang lebih memilih mementingkan diri-sendiri dan egois.

You might also like:
12 September 2012

Dunia adalah Penjara orang-orang beriman

oleh alifbraja

Nabi Besar Muhammad SAW pernah bersabda : “Dunia ini adalah penjara bagi orang mu’min!”

Sabda di atas mengingatkan bahwa kita jangan sampai mengharapkan kebahagiaan yang mutlak selama hidup di dunia ini, karena dunia adalah penjara bagi seorang mu’min. Bila kita memiliki iman yang teguh, seharusnya kita bersabar dalam menempuh segala kesulitan ketika berada di dalam penjara dunia karena setelah alam dunia terlewati, kita akan menemui kehidupan yang hakiki, kehidupan yang kekal, kehidupan yang penuh dengan segala kenikmatan dan kesenangan. Itulah yang disebut sebagai kebahagiaan sejati.

Dalam setengah bagian riwayat di atas terdapat penambahan kata “Dan surga bagi orang kafir!” Artinya, segala kenikmatan yang dirasakan oleh orang kafir itu, hanyalah kebahagiaan yang diberikan Allah untuk kehidupan dunia yang sementara ini. Bila ia kembali ke kampung akhirat, siksalah yang akan ditemuinya, dan siksa itu akan kekal abadi, tidak pernah berakhir.

Para Salik (orang yang berjalan menuju Allah) telah menangkap maksud dari sabda ini. Mereka menganggap kesulitan hidup yang sementara di dunia ini lebih ringan daripada kesulitan yang akan dirasakan di akhirat kelak walau hanya sekedip mata. Kesulitan di akhirat tidak ada bandingnya dengan kenikmatan yang dirasakan di dunia. Karena itu, mereka mampu bersusah-susah di dunia untuk mencapai kenikmatan puncak di akhirat nantinya.

1 September 2012

Antara Menaati Orangtua Dan Suami

oleh alifbraja

Asy-Syaikh Al-

Seorang wanita yang telah menikah dihadapkan pada dua perintah yang berbeda. Kedua orang tuanya memerintahkan suatu perkara mubah, sementara suaminya memerintahkan yang selainnya. Lantas yang mana yang harus ditaatinya, kedua orang tua atau suaminya? Mohon disertakan dalilnya!

Seorang wanita yang telah menikah dihadapkan pada dua perintah yang berbeda. Kedua orang tuanya memerintahkan suatu perkara mubah, sementara suaminya memerintahkan yang selainnya. Lantas yang mana yang harus ditaatinya, kedua orang tua atau suaminya? Mohon disertakan dalilnya! Jawab:
Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjawab: “Ia turuti perintah suaminya. Dalilnya adalah seorang wanita ketika masih di bawah perwalian kedua orang tuanya (belum menikah) maka ia wajib menaati keduanya. Namun tatkala ia menikah, yang berarti perwaliannya berpindah dari kedua orang tuanya kepada sang suami, berpindah pula hak tersebut –yaitu hak ketaatan– dari orang tua kepada suami. Perkaranya mau tidak mau harus seperti ini, agar kehidupan sepasang suami istri menjadi baik dan lurus/seimbang. Jika tidak demikian, misalnya ditetapkan yang sebaliknya, si istri harus mendahulukan kedua orang tuanya, niscaya akan terjadi kerusakan yang tidak diinginkan. Dalam hal ini ada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا دَخَلَتْ جَنَّةَ رَبِّهَا مِنْ أَبْوَابِهَا شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, ia menaati suaminya dan menjaga kemaluannya, niscaya ia akan masuk ke dalam surga Rabbnya dari pintu mana saja yang ia inginkan. ”1
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 448)

%d blogger menyukai ini: