Posts tagged ‘masih ada’

24 Oktober 2012

TEMPAT-TEMPAT YANG TERDAPAT DI ‘ALAM LANGIT

oleh alifbraja

TEMPAT  YANG TERDAPAT DI ‘ALAM LANGIT?…


JARAK ANTARA BUMI KE LANGIT DUNYA ADALAH LIMA RATUS TAHUN PERJALANAN; AND JARAK ANTARA LANGIT KE LANGIT YANG LAIN ADALAH LIMA RATUS TAHUN; AND JARAK ANTARA LAPISAN LANGIT YANG KETUJUH KE KURSIY ALLAH ADALAH LIMA RATUS TAHUN PERJALANAN; AND JARAK ANTARA KURSIY ALLAH KE AIR ADALAH LIMA RATUS TAHUN PERJALANAN; AND JARAK ANTARA AIR KE 'ARSY ALLAH ADALAH LIMA RATUS TAHUN PERJALANAN; AND ALLAH TA'ALA SANG TUHAN SEMESTA 'ALAM ADA DI ATAS 'ARSY!

ANTARIKSA!

Wahai para pembaca yang Budiman, sesungguhnya langit itu adalah tempat yang benar-benar luas dan bahkan selalu melebar dan meluas sesuai dengan firman-Nya!
Allah Ta’ala berfirman: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya!”. (Qs Adz-Dzariyat: 47).
Namun ketahuilah!, di atas ke tujuh lapisan langit itu ternyata masih ada tempat-tempat lain and ‘alam-’alam lain selain ‘alam langit, yaitu: Mustawa; Sharirul Aqlam; Hadhratul Qudus; Hadhratul Rabbul Arbab; Sidratul Muntaha; Baitul Makmur; Lauhul Mahfudz; Ma’arij; Kursiy; Air; dan ‘Arsy.
.

KITAB SUCI AL-QUR'AN!

– Dalil-dalil seputar Kursiy; Air; dan ‘Arsy!
Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Rahman, Yang bersemayam di atas ‘Arsy!”. (Qs Thaha: 5).
Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?…”. (Qs As-Sajdah: 4).
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): ‘Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati’, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’!”. (Qs Hud: 7).
Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar!”. (Qs Al-Baqarah: 255).
Nabi Muhammad Rasulullah Saw bersabda: “Arsy itu di atas air, sedangkan Allah di atas ‘Arsy dan Dia mengetahui apa yang kamu di atasnya!”. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud).
“Jadi ‘Arsy adalah sebuah tempat persemayaman Allah yang berada di atas air. Maksudnya adalah langit yang sering Anda lihat ternyata bertingkat-tingkat hingga mencapai tingkat yang ke tujuh dan tiap tingkat langit mempunyai pintu kemudian diatas langit ke tujuh itu ada kursiy dan diatas kursiy itu ada air dan diatas air itu ada ‘Arsy Allah Azza Wajjalla (singgasana Allah). Sebuah hal yang sangat mengagumkan, bahwa jarak antara langit dengan langit yang lain; dan langit ke tujuh dengan kursiy, kursiy dengan air; dan air dengan ‘arsy-Nya adalah 500 tahun perjalanan!”. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Khuzaimah; Thabrani; dan Ibnu Mahdi).
Dari Jabir bin ‘Abdillah Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Telah dizinkan kepadaku untuk bercerita tentang seorang dari Malaikat-Malaikat Allah azza wajalla yang bertugas sebagai pemikul ‘Arsy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh perjalanan 700 tahun. (Didalam riwayat lain: 700 tahun burung terbang dengan cepat)!”. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud).
Dari Sa’id bin Jubair; Dari Ibnu Abbas Ra, dia menerangkan tentang ayaat tersebut: “Kursiy ialah tempat meletakkan kaki Allah…!”. (Hadits Shahih didalam Kitab Silsilah ahaadits ash-shahiihah dari shahabat Abu Dzar Al-Ghifari Ra).
Dan Kursiy adalah Makhluk Allah (ciptaan Allah). Kata “Kursiy” tidak boleh ditafsirkan sebagai “Ilmu Allah” sehingga maknanya menjadi “Ilmu-Nya meliputi langit dan bumi” dan ini adalah penafsiran yang salah sebagaimana yang telah dijelaskan secara ringkas oleh Syaikh Fauzan -semoga Allah menjaganya- (beliau adalah seorang ulama besar di Arab Saudi) didalam syarah beliau terhadap kitab Al-Aqidah Thahawiyah karya Abu Ja’far ath Thahawi -semoga Allah merahmatinya-.
Jadi, “Kursiy Allah” adalah tempat dimana Allah Swt meletakkan kaki-Nya. Dan ini menjadi dalil bahwa Allah Swt mempunyai kaki, akan tetapi kaki Allah Swt tidak sama dengan kaki Anda atau saya atau kaki-kaki makhluk lainnya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman dalam surah Asy-Syura ayaat 11 yang artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…!”.
.

LANGIT DUNYA!

– Dalil-dalil mengenai jarak antara bumi ke langit dan langit ke langit yang lain dan langit yang ketujuh ke ‘alam lain!

Dari Abbas bin Abdul Muththalib ra, “Rasulullah SAW bertanya,’Apakah kalian mengetahui berapa jarak antara langit dengan bumi?’ Kami menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui hal itu!’ Rasulullah Saw bersabda: ‘Jarak antara keduanya adalah lima ratus tahun perjalanan, dan antara langit yang satu dengan langit yang lainnya itu lima ratus tahun perjalanan, dan tebal setiap langit adalah lima ratus tahun perjalanan!”. (Hadits Riwayat Ahmad; Abu Dawud; dan Tirmidzi).
Didalam riwayat lainnya dari sanad yang lain: “Antara langit dan bumi adalah lima ratus tahun perjalanan dan tebal setiap langit itu lima ratus tahun perjalanan!”. (Hadits Riwayat Thabrani).
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Antara langit dengan langit di atasnya adalah lima ratus tahun perjalanan, dan jarak antara langit dengan bumi adalah lima ratus tahun perjalanan, antara langit yang ke tujuh dengan kursiy adalah lima ratus tahun perjalanan, antara Kursiy dengan air adalah lima ratus tahun perjalanan, dan ‘Arsy berada di atas air, dan Allah berada di atas ‘Arsy. Tidak ada satupun dari amal perbuatan kalian yang tersamar dihadapan-Nya!”. (Hadits Riwayat Darimi; Ibnu Khuzaimah; Thabrani; Baihaqi; dan Al-Khathib).
.

GALAKSI SPIRAL!

– Penjelasan mengenai adanya Sharirul Aqlam; Hadhratul Qudus; Hadhratul Rabbul Arbab; Mustawa; Baitul Makmur; dan Sidratul Muntaha!
“Setelah Abu Thalib dan Khadijah yang menjadi pelindung naiknya kedudukan Rasulullah Saw di Mekkah itu semakin terdesak dengan gangguan terus-menerus oleh kaum Kuraisy. Dalam kesedihan yang amat sangat, suatu malam pada tahun 621 Masehi ketika Rasulullah berada di rumah saudara sepupu nya, Hindun Abu Talib, Baginda telah didatangi oleh Malaikat Jibril dengan diiringi Israfil lalu diisra’kan menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Madinah, Bukit Tursina, Baitul Laham dan berakhir di Masjidil Aqsa. Dari Masjidil Aqsa, Rasulullah Saw dimikrajkan ke langit dengan menaiki tangga yang diturunkan daripada Jannah (Syurga) ke Baitul Makmur (betul-betul di atas Baitullah, Mekkah); Sidratul Muntaha; Mustawa; Sharirul Aqlam; Hadhratul Qudus; dan Hadhratul Rabbul Arbab, dan disanalah Beliau Saw bertemu dan berdailog dengan Allah Swt!”. (Sirah Rasulullah Saw).
Lantas apakah yang dimaksud dengan Baitul Makmur; Mustawa; Sidratul Muntaha; Sharirul Aqlam; Hadhratul Qudus; dan juga Hadhratul Rabbul Arbab?…
– Baitul Makmur = Secara bahasa artinya adalah rumah yang sering dikunjungi. Baitul Makmur adalah sebuah tempat yang terletak di atas langit yang ke tujuh, dan sesungguhnya Baitul Makmur adalah kiblat bagi para malaikat Allah. Di langit yang ke tujuh Nabi Ibrahim As pun bersandar ke suatu tempat, dan tempat yang disandari oleh Nabi Ibrahim As tersebut adalah Baitul Makmur. Di tempat inilah Rasulullah Saw melaksanakan sholat.
– Mustawa = Mustawa adalah suatu tempat yang mahatinggi lagi mahaluas dan sangat terang bercahaya. Di tempat itu, Rasulullah Saw mendengar suara Qalam, yang bergerak-gerak di atas Lauhul Mahfuzh.
– Sharirul Aqlam = Sharirul Aqlam artinya adalah Dencitan Qalam (Dencitan firman Allah). Sharirul Aqlam adalah sebuah tempat yang berada di atas langit yang ke tujuh, dan tempat ini pernah dilalui oleh Rasulullah Saw ketika Beliau Saw berMi’raj ke atas langit yang ketujuh.
– Hadhratul Qudus = Hadhratul Qudus artinya adalah Kepada kesucian. Hadhratul Qudus adalah sebuah tempat yang berada di atas langit yang ke tujuh, dan tempat ini pernah dilalui oleh Rasulullah Saw ketika Beliau Saw berMi’raj ke atas langit yang ketujuh.
– Hadhratul Rabbul Arbab = Hadrhrat Rabbul Arbab adalah Kepada Tuhan dari segala Tuhan. Hadhratul Rabbul Arbab adalah sebuah tempat yang berada di atas langit yang ke tujuh, dan tempat ini pernah dilalui oleh Rasulullah Saw ketika Beliau Saw berMi’raj ke atas langit yang ketujuh. Di lokasi inilah Rasulullah Saw berdialog dengan Allah Ta’ala sang Tuhan semesta ‘alam.
– Sidratul Muntaha = Secara bahasa artinya adalah pohon bidara. Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon bidara yang menandai akhir dari langit yang ke tujuh, sebuah batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya.
.

LANGIT AND BUMI!

– Dalil mengenai Lauhul Mahfudz!
Allah Ta’ala berfirman: “Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) didalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)!”. (Qs An-Naml: 75).
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu didalam induk Al-Kitab (Lauhul Mahfudz) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah!”. (Qs Az-Zukhruf: 4).
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat) (Kitab Lauhul Mahfudz)!”. (Qaf: 4).
Lauhul Mahfudz adalah kitab Allah yang terdapat di atas langit yang ke tujuh. Kitab Lauhul Mahfudz adalah tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/catatan kejadian di alam semesta dan di kosmos ini dari dulu hingga seterusnya.
.

QS AL-MA'ARIJ!

– Dalil mengenai Ma’arij!
Allah Ta’ala berfirman: “(Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai Ma’arij (tempat-tempat naik)!”. (Qs Al-Ma’arij: 3).
Ma’arij adalah tempat-tempat yang naik, dan tempat ini berada di langit.
.

.

KESIMPULAN!

.

GAMBARAN TUJUH LAPIS LANGIT AND PLANET BUMI ADALAH TEMPAT YANG TERLETAK DI BAGIAN YANG PALING BAWAH!

WORMHOL MA'ARIJ!

Wahai para pembaca yang Budiman, maka itulah tempat-tempat atau ‘alam-’alam yang berada di langit atau di atas langit yang ketujuh!
Ternyata dari ke tujuh lapisan langit yang sangat luas itu masih ada juga tempat-tempat lain yang berada di atas lapisan langit yang ke tujuh, sesuai dengan apa yang telah aku terangkan di atas.
Dan sesungguhnya seluruh benda-benda langit itu tidak lain hanyalah penghuni langit dunya, yakni penghuni lapisan langit yang ke satu!
Dan sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas tempat-tempat tersebut yang berada di atas lapisan langit yang ketujuh, karena Rasulullah Saw bersabda: “‘Arsy Allah berada di atas semua itu dan Allah berada di atas arsy!”. (Hadits Shahih, dan hadits shahih ini dishahihkan oleh Adz-Dzahabi dan Ibnul Qayyim).
Wallahu’alam!
Semoga bermanfa’at!
Wassalam!

 

Iklan
17 Oktober 2012

Debat Abu Hanifah Dengan pendeta Yahudi

oleh alifbraja

“Pada suatu ketika, kota Baghdad kedatangan seorang pendakwah Yahudi bernama Dahri. Kedatangannya memicu kegemparan di kalangan umat Islam. Dahri mencoba merusak pegangan umat Islam dengan membahas soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanan. Dicabarnya para ulama Baghdad untuk berdebat dengannya.

Setiap kali tantangannya disahut, argumen-argumen Dahri tidak pernah dapat dipatahkan sehingga akhirnya tidak ada lagi ulama Baghdad dan ulama-ulama disekitarnya yang sanggup berhadapan dengannya. Dari kejadiannya ini, tahulah Khalifah bahwa Baghdad sudah ketiadaan ulama yang benar-benar kredibel dan tinggi ketaqwaannya.

Lalu Khalifah memerintahkan beberapa orang menteri meninjau ke daerah lain, kalau-kalau masih ada ulama yang bisa dibawa menghadapi Dahri. Figur wakil Khalifah menemui Imam Hammad bin Abi Sulaimann Al-Asy ari, seorang ulama yang tidak kurang juga ketokohannya.

Khalifah memerintahkan hari perdebatan antara Imam Hammad dan Dahri disegerakan. Dan acara bersejarah itu harus dibuat di Masjid Jamek di tengah-tengah kota Baghdad. Sehari sebelum pertemuan itu lagi, Masjid Jamek telah penuh sesak dengan orang banyak. Masing-masng menaruh harapan agar Imam Hammad berhasil menumbangkan Dahri karena beliaulah satu-satunya ulama yang diharapkan.

“Subhanallah …. Subhanallah …. Walauhaulawala quwwata illa billahi aliyyil azim ….!” Lidah Imam Hammad terus melafalkan kalimat mensucikan segala tohmahan yang tidak layak untuk Zat yang Maha Agung. Dia beristighfar terus. Rasanya dah tidak sanggup telinganya menadah bermacam tohmahan yang dilemparkan oleh Dahri yang biadab dan matarialis itu. Mempertikaikan keesaan Allah SWT buukanlah hal kecil dalam Islam. Ini kasus berat! Hatinya cukup pedih. Roh ketauhidannya bergelora. Mau rasanya dipenngal leher si Dahri yang angkuh itu di depan ribuan mata yanng turut hadir dalam acara iru.

Keesokannya, pagi-pagi lagi muncul Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang paling dekat dan paling disayanginya. Namanya yang sebenarnya adalah Nu ‘man, yang ketika itu usiannya masih remaja. Bila melihat kondisi gurunya itu, Abu Hanifah pun bertanya untuk mendapat kepastian. Lalu Imam Hammad menceritakan keadaan yang sebenarnya. Dalam pada itu teringat Hammad akan mimpinya malam tadi, lalu dikabarkan kepada muridnya itu. Abu Hanifah mendengarnya dengan penuh khusyuk.

“… Aku bermimpi ada sebuah dusun yang amat luas lagi indah. Di sana kulihat ada sepohon kayu yand rendanng dan lebat buahnya. Tiba-tiba, di situ keluar seekor babi dari ujung desa. Lalu habis dimakannya buah yang masak ranum dari pohon itu. Hingga ke daun dan dahan-dahannya habis ditutuh.Yang tinggal cuma batangnya sahaja.Dalam pada itu juga keluar seekor harimau dari umbi pohon rindang tadi lalu menerkam babi itu dengan gigi dan kukunya yang tajam.Lalu, babi tadi mati disitu juga . “

Hammad termenung seketika. Kekalutan pikiran yang telah dicetuskan Dahri, yang bisa menggeser pegangan aqidah umat ini, tidak bisa di biarkan. Harus dihapus segera. Wajahnya yang tenang bagai air sungai yang mengalir jernih, masih nampak bercahaya walau di saat begitu genting. Satu kelebihan Abu Hanifah adalah beliau juga dikaruniai Allah ilmu menta’bir mimpi, sebagai mana nabi Allah Yusuf. Pada pengamatannya juga, mimpi tersebut akan memberi pertanda baik bahwa si Dahri pasti akan menerima akibatnya nanti. Dan setelah mendapat izin gurunya, dia pun mencoba mentafsirnya:

“Apa yang tuan lihat dalam mimpi tuan sebagai dusun yang luas lagi indah itu adalah tamsilan kepada agama Islam kita. Pokok yang berbuah lebat itu adalah tamsilan kepada sekalian ulamannya. Sedangkan sepohon kayu yang masih tinggal itu adalah tuan sendiri. Dan babi yang tiba-tiba muncul dan merusak pohon tersebut adalah si Dahri. Sedangkan harimau yang keluar lalu membunuh babi tadi … adalah saya … “jelas Abu Hanifah.

Ia juga meminta izin untuk membantu gurunya menghadapi si Dahri. Betapa gembiranya hati Iman Hammad bila aksi hasrat itu dari hati muridnya sendiri. Maka berngkatlah ilmuwan budak itu bersama gurunya untuk pergi ke Masjid Jamek di mana acara dialog akan diadakan yang dihadiri oleh orang banyak dan Khalifah. Seperti biasanya, sebelum menyampaikan dakyahnya, Dahri akan menantang dan memperleceh-lecehkan ulama dengan bersuara lantang dari atas pentas.

“Hai Dahri, apalah yang digusarkan. Orang yang mengetahuinya pasti menjawabnya!” Tiba-tiba suara Abu Hanifah mengejutkan Dahri dan menyentakkan kaum Muslimin yang hadir. Dahri sendiri terkejut. Matanya memandang tajam mata Abu Hanifah.

“Siapa kamu hai anak muda? Berani sungguh menyahut cabaranku … Sedangkan ulama yang hebat-hebat, yang berserban dan berjubah labuh telah ku kalahkan …!” Volume suara Dahri membidas Abu Hanifah.

“Wahai Dahri,” balas Abu Hanifah, “sesungguhnya Allah tidak melimpahkan kemuliaaan dan kebesaran itu pada sorban atau jubah yang labuh. Tetapi Allah menganugerahkan kemuliaan kepada orang-orang yang berilmu dan bertaqwa.” Abu Hanifah lalu membacakan sebuah firman Allah SWT yang artinya:

“Allah telah meninggikan derajat orang beriman dan berimul antara kamu beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)

Geram rasanya hati Dahri mendengarnya kepetahan lidah pemuda ini mendebat. Maka berlangsunglah acara dialog.perdebatan antara Abu Hanifah dengan tokoh Ad-dahriayyah, yang terkenal dengan pemikiran materialisdan ateisnya itu, bertahan dengan mendebarkan.

“Benarkah Allah itu ada?,” Soal Dahri memulai acara dialog.

“Bahkan Allah memang ada,” tegas Abu Hanifah.

“Kalau Allah maujud (ada), di mana tempatnya ..??” Suara Dahri semakin meninggi.

“Allah tetap ada tetapi dia tidak bertempat!” jelas Abu Hanifah.

“Heran, kau kata Allah itu ada, tetapi tidak bertempat pula …?” bantah Dahri sambil melemparkan senyuman sinisnya kepada hadirin.

“Ah, itu senang saja wahai Dahri. Coba kau lihat pada dirimu sendiri. Bukankah pada dirimu itu ada nyawa …” Abu Hanifah mulai mendebat. Orang-orang mulai memperhatikan gaya ilmuwan muda ini berpidato dengan penuh minat.

“Bahkan, memang aku ada nyawa, dan memang setiap makhluk yang bernafas itu ada nyawa …!” sahut Dahri.

“Tetapi apakah kau tahu di mana letaknya nyawa atau rohmu itu …? Dikepalakah, diperutkah atau apakah dihujung situs kakimu ..?” Terserentak Dahri seketika. Orang-orang mulai berbisik-bisik di antara mereka. Setelah itu Abu Hanifah mengambil pula segelas susu lalu ditampilkan pada Dahri, seraya berkata: “Apakah dalam air susu ini ada terkandung lemak …?”

Cepat Dahri menjawab, “Ya, bahkan!”

Abu Hanifah bertanya lagi, “Kalau begitu dimanakah lemak itu berada …? Di bagian atasnyakah atau dibawahkah …?” Sekali lagi Dahri terserentak, tidak mampu menjawab pertanyaan Abu Hanifah yang sopan itu. “Untuk mencari dimanakah beradanya roh dalam jasad dan tersisip dimanakah konten lemak dalam air susu ini pun kita tidak upaya, masakan pula kita dapat menjangkau dimanakah beradanya Zat Allah SWT di alam maya ini? Zat yang telah menciptakan dan mengatur seluruh alam ini termasuk roh dan akal dangkal kita ini, pun ciptaan-Nya, yang tunduk dan patuh di bawah urusan tadbir pemerintah-Nya Yang Maha Agung …! ” Suasana menjadi agak bingar. Dahri terpaku di kursi. Terbungkam lidahnya. Merah mukanya. Kesabarannya mulai terburai. Bila kondisi agak reda, Dahri membentangkan pertanyaan.

“Hai anak muda! Apakah yang ada sebelum Allah. Dan apa pula yang muncul setelah Dia nanti …” Semua mata tertuju pada Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang pintar ini.

“Wahai Dahri! Tidak ada suatu pun yang ada sebelum Allah Taala dan tidak ada sesuatu pun yang akan muncul setelah-Nya. Allah SWT tetap Qadim dan Azali. Dialah yanng Awal dan Dialah yang Akhir”, tegas Abu Hanifah, singkat tapi padat.

“Pelik sungguh! Mana mungkin begitu …. Tuhan Wujud tanpa ada permulaan Nya? Dan mana mungkin Dia pula yang terakhir tanpa ada lagi yang setelah Nya ….?” Dahri mencoba berdalih dengan pikiran logika.

Dengan tersenyum Abu Hanifah menjelaskan, “Ya! Dalilnya ada pada diri kamu sendiri. Coba kau lihat pada ibu jari mu itu. Jari apakah yang kau nampak berada sebelum jari ini ..?” Sambil menuding ibu jarinya ke langit. Dan beberapa hadirin juga melakukan hal. “Dan pada jari manis kau itu, ada lagikah jari yang berikutnya …” Dahri membalik-balik jarinya. Tidak berpikir dia persoalan yang sekecil itu yang diambil oleh Abu Hanifah. “Jadi …! Kalaulah pada jari kita yang kecil ini pun, tidak mampu kita pikir, apalagi Allah Zat Yang Maha Agung itu, yang tidak satu pun yang mendahului-Nya dan tiada sesuatu yang kemudian setelah-Nya.”

Sekali lagi Dahri tercenggang. Bungkam. Namun masih tidak berputus asa untuk mematahkan argumen anak muda yang telah memalukannya di muka umum. Khalifah kagum melihatnya gelagat Dahri dengan penuh tanda tanya. Dahri berpikir seketika, menemukan jalan, mencari ide. Seperti suatu ilham baru telah menyuntik mindanya, iapun tersenyum. Hati Dahri bergelodak bagai air tengah mendidih.

“Ini pertanyaan yang terakhir buat mu, hai .. budak mentah!” Sengaja Dahri mengeraskan suaranya agar rasa malunya itu terperosok.

“Allah itu ada, kata mu. Ha! Apakah pekerjaan Tuhan mu saat ini?” Pertanyaan tersebut membuat Abu Hanifah tersenyum riang.

“Ini pertanyaan yang sungguh menarik. Jadi kenalah terjawab dari tempat yang tinggi agar dapat didengar oleh semua orang,” katanya. Pemuda ideologi Ad-Dahriyyun yang sedari tadi mentalitinya ditantang terus, berjalan turun meninggalkan mimbar masjid Jamek, memberi tempat untuk Abu Hanifah:

“Wahai sekelian manusia. Ketahuilah bahwa kerja Allah ketika ini adalah menggugurkan yang bathil sebagaimana Dahri yang berada di atas mimbar, diturunkan Allah ke bawah mimbar. Dan Allah juga telah menaikkan yang hak sebagaimana aku, yang berada di sana, telah dinaikkan ke atas mimbar Masjid Jamek ini …! “

Bagai halilintar, argumen Abu Hanifah menerjang ke dua-dua pipi Dahri. Seiring dengan itu bergemalah pekikan takbir dari massa. Mereka memuji-muji kewibawaan Abu Hanifah yang telah berhasil menyelamatkan martabat Islam dari lidah Dahri yang sesat lagi menyesatkan itu. Sampai saat ini, nama Imam Abu Hanifah terus dikenal keserata dunia sebagai seorang Fuqaha dan salah seorang dari Imam Mujtahid Mutlak yang empat. Kemunculan Mazhab Hanafi dalam fiqh Syar’iyyah, juga mengambil sempena nama ulama ini.

4 Agustus 2012

Kyai Belum Tentu Ulama

oleh alifbraja

Di kalangan masyarakat Jawa, ada dikenal sebutan atau gelar kehormatan yang ditujukan kepada ulama, yaitu Kyai. Namun demikian, gelar Kyai bukan satu-satunya sebutan penghormatan yang diberikan masyarakat Jawa kepada kaum ulama. Masih ada beberapa sebutan lain misalnya Wali, Sunan (Susuhunan) dan Panembahan.
Seiring berjalannya waktu, terutama ketika terjadi nasionalisasi istilah-istilah jawa di masa Orde Baru, sebutan Kyai juga ditempelkan kepada ulama non Jawa, padahal di setiap daerah, sebelumnya sudah eksis sebutan khas untuk para ulama seperti Ajengan untuk masyarakat Jawa Barat, Buya untuk masyarakat Sumatera Barat, Tengku untuk masyarakat Aceh.
Sedangkan di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan gelar kehormatan yang diberikan kepada kaum ulamanya adalah Tofanrita. Untuk masyarakat Madura dikenal sebutan Nun atau Bendara (biasa disingkat Ra). Di kalangan masyarakat Nusatenggara seperti Lombok dikenal sebutan Tuan Guru. Hampir mirip dengan di Lombok, masyarakat Betawi biasa menyebut ulamanya dengan sebutan Guru, tapi sebutan ini pada akhirnya kalah pamor dibandingkan dengan sebutan Kyai dan Habaib.
Faktanya, sebutan Kyai tidak selalu menunjuk kepada seseorang (atau sekelompok orang) yang benar-benar telah mengerti Agama Islam dengan segala cabangnya; atau menunjuk kepada Guru Agama Islam yang luas pandangannya. Ada sebutan Kyai yang ditujukan kepada kalangan pendidik tingkat nasional (sekuler) –biasanya disingkat menjadi Ki– misalnya Ki Hajar Dewantara. Ada juga sebutan Kyai atau Ki yang ditujukan kepada sekelompok orang yang mahir mendalang, seperti Ki Dalang. Bahkan makna Kyai atau Ki juga menunjuk kepada sekelompok orang yang menjalankan profesi perdukunan yang tergolong musyrik. Jadi, makna Kyai memang tidak selalu tertuju kepada ulama agama Islam yang luas ilmu pengetahuannya.
Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya), sebutan Kyai pada masa sebelum perang kemerdekaan menunjuk kepada seseorang yang menduduki jabatan setingkat Wedana (District-hoofd). Dalam istilah sekarang Wedana setara dengan Walikota. Sedangkan di Padang, juga pada masa sebelum perang kemerdekaan, sebutan Kyai berarti Cino Tuo, yaitu orang Cina yang telah berusia lanjut.

Kyai Kerbau
Sebutan Kyai juga tidak selalu ditempelkan kepada seseorang atau sekelompok orang, tetapi juga kepada benda-benda yang bermakna khusus. Misalnya di Jogjakarta, ada sebutan Kyai Sekati dan Nyi Sekati untuk sepasang gamelan yang dimainkan saat merayakan sekatenan. Masih di Jogja, ada sebutan Kyai Tunggul Wulung untuk sebuah bendera keramat yang dikeluarkan setiap ada bala bencana mengancam kota Jogja.
Di Keraton Solo (Jawa Tengah) ada seekor kerbau yang dianggap keramat dan diberi sebutan Kiyai Slamet. Kerbau yang dijuluki Kiyai Slamet itu dilepaskan secara bebas ke mana-mana setiap malam 1 Muharram (tanggal 1 Syuro). Tidak ada yang berani mengusik sang kerbau, bahkan bila sang kerbau memakan dagangan sayuran dan sebagainya, ia tidak diapa-apakan, karena menurut kepercayaan takhayul (yang menyimpang dari Islam), manakala kerbau itu memakan dagangan tersebut justru dianggap akan memberi rizki atau menebarkan keberkahan. Jadi sebutan Kyai yang ditempelkan kepada kerbau yang diangap keramat itu, sama sekali tidak ada kaitannya dengan ulama, bahkan justru berkaitan dengan penyimpangan yang kental nuansa kemusyrikannya.
Kini, fakta baru terus bermunculan, yaitu sebutan Kyai lebih sering melekat kepada sekelompok orang yang beratribut bagaikan ulama, namun perilakunya lebih menegaskan posisinya sebagai ulama suu’ (ulama yang jahat), yaitu ulama-ulama yang suka masuk keluar Istana atau pintu penguasa. Bahkan ulama seperti itu ada yang menyebutnya sebagai maling (lisshun – لص ).
Di masa orde baru ada segerombolan Kyai yang gemar mendekati penguasa. Bahkan segerombolan Kyai ini –jumlahnya puluhan dan dipimpin Nur Iskandar SQ– mendatangi penguasa orde baru seraya menghadiahi emas beberapa kilogram. Mereka berdalih, sumbangan itu sebagai bentuk nyata partisipasi para Kyai di dalam upaya mengatasi krisis ekonomi dan moneter. Tak berapa lama setelah kunjungan para Kiyai itu, Presiden Soeharto justru lengser setelah didemo oleh puluhan ribu mahasiswa, dan krisis ekonomi-moneter berlanjut hingga kini, bahkan lebih parah lagi, yang terjadi justru krisis multi-dimensi termasuk krisis moral.
Sebelum itu, ada sejumlah Kyai yang mempelopori disahkannya asas tunggal pancasila. Gerombolan ini dipimpin oleh Kyai Haji Ahmad Siddiq. (Semasa hidupnya, mendiang menggemari musik rock barat, padahal kitab-kitab yang dikaji para ulama jelas mengharamkan musik). Bahkan mereka sempat berbangga diri karena telah menjadi pelopor di dalam mensukseskan asas tunggal pancasila. Padahal, asas tunggal bagi kalangan Islam non NU dan Golkar merupakan salah satu instrumen penekan yang merugikan umat Islam. Memasuki orde reformasi, asas tunggal dicabut karena dianggap sebagai produk politik yang anti kebhinekaan. Bagaimana sikap sang Kyai pelopor asas tunggal itu kini?

Kyai Tak Jelas
Sesungguhnya sebutan Kyai tidak dikenal di dalam terminologi Islam. Bahkan siapa yang berwenang memberikan gelar Kyai kepada seseorang pun tidak jelas aturan mainnya. Saking tidak jelasnya, kini tumbuh fenomena: keturunan Kyai yang kemudian mengimami masjid atau memimpin pesantren, kepada yang bersangkutan secara otomatis disebut Kyai pula. Padahal, ketika bapaknya masih hidup, sang anak Kyai ini tidak pernah disebut Kyai muda. Tetapi begitu bapaknya meninggal, maka dia langsung dipanggil atau suka dipanggil dengan sebutan Kyai, walaupun dari segi keilmuan maupun kegiatannya berjama’ah ke masjid tidak sebanding dengan bapaknya.
Keadaan di atas sangat kontras bila disandingkan dengan fakta lain tentang orang-orang yang istiqomah dan tidak mau disebut atau menyebut dirinya Kyai. Antara lain, HAMKA, Prof Dr H Mahmud Yunus dan lain-lain, padahal mereka adalah ulama terkemuka dan menulis tafsir serta kitab-kitab Islam, secara keilmuan maupun akhlaqnya, mereka adalah ulama, alim agama.
Nampaknya, perlu diadakan gerakan total untuk mendudukkan masalah pada proporsinya. Istilah-istilah yang tidak jelas, seperti halnya Kyai, perlu dibersihkan, dan kalau perlu dienyahkan dari terminologi Islam, supaya Islam tidak dikotori dengan pemahaman-pemahaman yang tidak jelas.

(haji/tede/ dimodifikasi dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Bila Kyai Dipertuhankan).

7 Juli 2012

LETAK SINGASANA ALLAH

oleh alifbraja

LETAK SINGASANA ALLAH

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…!.

Sahabat…!.
Dimana letak Singasana Allah Yang Agung….!.
Jika kalian wahai sahabat ada disana, berarti kita satu rumah…!.
Ketika kita satu rumah…, apa kata pikiranmu…?.
Apakah kita masih mengatakan:

“Oh Tuhan-ku Yang Maha Agung…, Aku diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah…!. Ana khairun minhu khalaqtani min naarin…”
Kalau masih…, maka dimanakah gerangan letak kesatuan RUH …??.
Namun begitu…, tanda-tanda untuk itu masih ada dalam suasana hati kita…!!.
Padahal katanya: “Aku ikut Allah saja…”.
Akan tetapi tanpa sadar kita pecah seperti orang syariat… lainnya,
Akan tetapi tanpa sadar kita pecah seperti orang hakekat… lainnya,
Kalau begitu pastilah diantara kita ada yang tidak duduk dalam ketundukpatuhan….!
Karena yang diperdebatkan adalah pikiran si Anu, pikiran Abu Sangkan, pikiran Deka…!
Kenapa kita tidak berada saja dalam satu rumah-NyaYang Maha Dekat…!.
Lalu kenapa kita tidak saling membaca dengan kerendahan hati…
Bahwa syariat itu disatukan oleh apa….?.
Bahwa hakekat itu juga disatukan oleh apa…?
Dua-duanya ternyata disatukan oleh RUH…!.
RUH lah yang membuat syariat mempunyai kedalaman makna…
Dan…, RUH jualah yang membuat hakekat mempunyai keindahan aturan-aturan…
Coba tengoklah sejenak sejarah nenek moyang kita…!.
Walau saat itu Adam, Malaikat, dan Iblis bersatu dalam Rumah-Nya Yang Maha Dekat…
Walau mereka masing-masing bermakrifat kepada Allah dengan kualitas yang prima sekali…
Walau Malaikat saat itu menyatakan: “Aku ikut Allah…”, namun nyaris saja mereka ikut pikirannya sendiri. Hanya kelembutan Allahlah yang menyelamatkan Malaikat dari keangkuhan pikirannya sendiri…

Walau Iblis saat itu menyatakan: “Aku ikut Allah…”, namun saat itu (bahkan sampai kapanpun) iblis ternyata masih keukeuh (ngotot) memakai fikirannya sendiri:

“Ana khairun minhu khalaqtani min naarin…”, katanya angkuh.

Lalu ada apa dengan kita…, wahai sahabat…?.
Kalau kita berani mengatakan : “Aku ikut Allah…”,
Lalu kenapa kita tidak mau ikut alur PIKIRAN ALLAH….?.

Dan tidaklah PIKIRAN ALLAH itu melainkan Al Qur’an…,
Dan tidaklah PIKIRAN ALLAH itu melainkan Syariat…,

Malaikat akhirnya ikut PIKIRAN ALLAH, dengan sujud menghormat kepada Adam…
Karena malaikat sadar ada RUH (milik) TUHAN yang meliputi Adam…
Dan bersujud, patuh, serta bertasbih itulah bentuk kepatuhan Malaikat dalam bersyariat…

Akan tetapi…, Iblis malah memilih untuk TETAP ikut pikirannya sendiri…
Akibatnya Sang Iblis dalam wilayah kemakrifatannya kepada Allah, justru jatuh menjadi makhluk yang sama sekali tidak bersyariat…

Semoga dalam Ramadhan ini kita semua berada dalam wilayah BUKAN syetan…
Wilayah yang BUKAN pikiran kita sendiri.

Oleh sebab itu, selama ramadhan ini targetkan dan raihlah agar kita berada diwilayah:

“Aku mau ikut Allah,
Dan …, Aku mau pula ikut PIKIRAN ALLAH…,
yaitu Al Qur’an dan Syariat (sunnah)…!”.
Inilah suasana Idul Fitri yang sebenarnya…!.
Suasana Kesadaran RUH…!.
Yang membuat Mailaikat harus sujud…!

4 Juli 2012

RUJUK KEPADA KEBENARAN ADALAH CIRI AHLUS SUNAH

oleh alifbraja

RUJUK KEPADA KEBENARAN ADALAH CIRI AHLUS-SUNNAH

Berikut ini adalah pernyataan rujuknya para asatidzah dari kesalahan masa lalu ketika masih terlibat dalam Laskar Jihad. Pernyataan ini juga sekaligus sebagai bantahan syubhat para hizbiyun (termasuk Wahdah Islamiyah) yang senantiasa menggunakan dalil tentang bentuk kesalahan yang dilakukan para salafiyyin pada masa lalu ketika berkecimpung di dalam Laskar Jihad. Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa Rujuk kepada Kebenaran adalah jalannya para salafush shalih dari generasi sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan istiqomah hingga hari ini. Bukanlah termasuk para pengikut salaf jika sudah sampai kepadanya sebuah kebenaran kemudian masih ada jalan lain untuk mengelak dari kebenaran tersebut dengan alasan toleransi, muwazanah (manhaj timbangan), dan jalan lain yang berusaha dibuat-buat untuk dijadikan sebagai “lahan” dakwah bagi organisasinya (MAYORITAS untuk KOMUNITAS). Allahu musta’an.
================
Dakwah Salafiyah sejak dulu tidak pernah terikat dengan pribadi manapun kecuali Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dakwah Salafiyah juga tidak pernah terikat dengan organisasi apapun. Dakwah ini hanya terikat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah diatas pemahaman para shahabat Radiyallahu ‘Anhum dan seluruh Salafush Shalih yang dibawa para Ulama Ahlus Sunnah. Pengikut dakwah Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk mengkaji ilmu dan mengamalkannya di atas sumber-sumber tersebut. Karena itu, mereka senantiasa berjalan di atas ilmu dan bimbingan para ulama.
Namun para Salafiyyun (pengikut dakwah Salafiyah) bukanlah orang-orang yang ma’shum yang terbebas dari kesalahan. Mereka sangat mungkin untuk tergelincir ke dalam berbagai kesalahan dan penyimpangan. Dan sebagai realisasi dari sikap tunduk mereka di hadapan kebenaran, setiap terjadi penyimpangan dari jalan yang lurus atau penentangan terhadap ulama, segeralah mereka saling mengingatkan dan meluruskannya. Sehingga kritik, koreksi, teguran atau bantahan ilmiah adalah sesuatu yang sangat wajar dalam sejarah perjalanan dakwah ini. Sebaliknya, sikap taqlid, membebek dan ikut-ikutan sama sekali tidak dikenal oleh Ahlus Sunnah dan Salafiyyun.
Hidupnya budaya kritik ilmiah akan memperlihatkan siapa yang benar-benar berdiri sebagai Ahlus Sunnah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. Bagi mereka yang menolak kritik dan tidak mau rujuk kepada kebenaran, maka mereka adalah pengikut hawa nafsu atau ahlul ahwa. Bagi Ahlus Sunnah, teguran dan kritik akan segera membawa kembali kepada al-haq. Sedangkan pengikut hawa nafsu, mereka akan menentang ilmu dan nasehat ulama dengan berbagai alasan. Mereka berani menarik-narik makna ayat dan hadits agar mencocoki hawa nafsu, bahkan berani mencela para ulama agar ditolak fatwanya.
Dengan prinsip ini, maka kami membuat pernyataan rujuk kepada kebenaran dan kembali kepada prinsip dakwah Salafiyyah setelah kami mengalami berbagai ketergelinciran. Yaitu saat kami menjalani jihad di Ambon dan Poso, karena dalam jihad tersebut kami banyak terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan yang sifatnya politis ataupun penyimpangan-penyimpangan lain yang tidak sejalan dengan Manhaj Salaf.
Tanpa terasa kami terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan yang bermuara pada satu titik yaitu politik massa atau penggunaan potensi massa dalam perjuangan. Sungguh kesesatan seprti inilah yang terjadi pada Ahlul Bid’ah dan Hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyin (pengikut Sayyid Quthb) dan Sururiyyin (Pengikut Muhammad Surur) dan lain-lain. Dengan penyimpangan yang kami jalani saat itu, muncullah tindakan-tindakan persis seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, diantaranya :

  1. Sistem komando yang meluas menjadi organisasi yang digerakkan dengan sistem imarah dan bai’at.
  2. Leih mementingkan kuantitas (jumlah) daripada kualitas dalam organisasi.
  3. Demonstrasi, unjuk rasa dan yang sejenisnya menjadi hal yang biasa.
  4. Mencari dukungan politis dari berbagai kelompok dengan tidak memperhatikan apakah mereka Ahlus Sunnah, orang awam atau Ahlul Bid’ah
  5. Dari sinilah timbul ide untuk mengadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dengan mengundang tokoh-tokoh politik dan Ahlul Bid’ah.
  6. Mulai menggampangkan dusta dengan dalih bahwa perang adalah tipu daya.
  7. Bermudah-mudahan dalam maksiat seperti photografi dan ikhtilath karena mengimbangi orang awam.
  8. Mengingkari kemungkaran dengan menggunakan gerakan massa dan kekerasan, yang akhirnya jatuh ke dalam kesalahan berikutnya yaitu :
    • Menghalalkan darah kaum muslmin.
    • Melawan aparat atau pemerintah yang sah
    • Dan seterusnya.

Kemudian datanglah teguran dari para ulama dengan harapan agar kami kembali kepada Manhaj Salaf dalam dakwah dan jihad serta membubarkan diri dari Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (FKAWJ) dan Laskar Jihadnya (LJ). Maka karena kami memulai Jihad ini dengan bimbingan para, maka saat harus membubarkan diri juga harus dengan bimbingan para ulama.
Tidak cukup hanya dengan membubarkan diri dan meniggalkan penyimpangan-penyimpangan yang kami telah terjerumus padanya, namun kami mempunyai kewajiban untuk menerangkan kepada masyarakat bahwa apa yang kamil lakukan dulu bukan dari Manhaj Salaf. Karena ketika itu kita mengibarkan bendera Dakwah Salafiyyah dan Ahlus Sunnah, maka kami khawatir penyimpangan-penyimpangan tersebut dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Inilah sesungguhnya yang paling penting !
Untuk itulah saya, sebagai salah satu (mantan) dari Dewan Ustadz di FKAWJ yang membawahi LJ, menerjemahkan buku yang berjudul Al-Wardu Maqtuf fi Wujubi Tha’ati Wulati Amril Muslimin Bil Ma’ruf yang ditulis oleh Syaikh Abu Abdirrahman Fauzi Al-Atsari(*) yang berisi tentang bagaimana seharusnya seorang Salafy Ahlus Sunnah bersikap kepada penguasanya. Ini merupakan salah satu sikap rujuk kami.
Di dalam buku ini dimuat prinsip-prinsip Ahlus Sunnah yang berkaitan dengan tata cara memberi nasehat dan beramar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa. Juga diterangkan tentang kewajiban taat kepada penguasa selama perintahnya bukan berupa kemaksiatan. Mudah-mudahan dengan ini kita telah melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan kepada orang yang terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan, sebagaimana firman-Nya.
“Kecuali jika mereka bertaubat, memperbaiki, dan menerangkan maka mereka itu Aku akan mengampuninya” (Al-Baqarah : 160)
Dengan demikian apa yang telah kami lakukan, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Manhaj Salaf, kami bertaubat kepada Allah dan menyatakan dengan tegas bahwa itu bukan Manhaj Ahlus Sunnah, tetapi kekeliruan dan ketergelinciran kami. Hujjah tetap pada Al-Quran dan As-Sunnah, bukan pada apa yang dilakukan oleh FKAWJ atau LJ atau siapapun yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah.
Akhirnya, kami berharap kepada Allah agar mengampuni kita semua. Menerima amal ibadah dan jihad kita dan membalasnya dengan kebaikan-kebaikan dan jannah. Juga kami memohon maaf kepada semua pihak dari kaum muslimin umumnya dan Salafiyyin khususnya atas kesalahan kami pada masa itu.
Muhammad Umar As-Sewed
Sumber : Muqaddimah Meredam Amarah terhadap Pemerintah, terbitan Pustaka Sumayyah, Cetakan Pertama, Muharram 1427
H/Februari 2006

*) Catatan Penting
Pernyataan taubat ini sesungguhnya telah lama saya tulis, namun sayang sekali karena satu dan lain hal buku yang memuat taubat tersebut tak kunjung
diterbitkan oleh Maktabah Salafy Press, sampai dengan tutupnya penerbit Maktabah Salafy Press.
Alhamdulillah, buku tersebut akhirnya diterbitkan oleh Pustaka Sumayyah. Namun sangat disayangkan kembali terlambatnya penerbitan buku terjemah ini
sampai pada waktu penulisnya (Syaikh Fauzi Al Atsary) mendapatkan teguran dari syaikh Rabi’ ibn Hadi al Madkhali, (dari Sahab.net).
Mengingat buku ini adalah buku yang bagus dan dipuji syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kaum muslimin secara
umum dan khususnya orang-orang yang sedang berupaya menelusuri jejak Sunnah, maka saya menerjemahkannya sebagai teguran dan perbaikan terhadap
kesalahan-kesalahan yang pernah kami lakukan di masa Laskar Jihad, bahkan kami memuat waktu itu pujian-pujian para ulama pada penulis buku tersebut.
Maka dengan catatan ini saya menyatakan berlepas diri dari kesalahan dan penyimpangan Syaikh Fauzi Al Atsary yang terjadi kemudian.
Cirebon, 8 Mei 2006
Muhammad Umar As-Seweed

%d blogger menyukai ini: