Posts tagged ‘Muhammad’

24 April 2013

NASAB NABI MUHAMMAD SAW

oleh alifbraja

Dalam Kitab al Barzanji (judul aslinya “al ‘Aqdul Jauhar Fii Maulidinna

biyyil Azhar”) karya: Assayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Kariem bin Muhammad bin Rasul bin Abdussayyid al Barzanji, lahir tahun 1126 H, wafat tahun 1177 H
ditulis sebagai berikut: وَبَعْدُ فَأَقُوْلُ هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ، حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةُ، اِبْنِ هَاشِمٍ وَاسْمُهُ عَمْرُو بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَاسْمُهُ الْمُغِيْرَةُ الَّذِيْ يَنْتَمِي الْإِرْتِقَاءُ لِعُلْيَاهُ، اِبْنِ قُصَيٍّ وَاسْمُهُ مُجَمِّعٌ سُمِّيَ بِقُصِيٍّ لِتَقَاصِيْهِ فِيْ بِلَادِ قُضَاعَةَ الْقَصِيَّةِ إِلَى أَنْ أَعَادَهُ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْحَرَمِ الْمُحْتَرَمِ فَحَمَى حِمَاهُ اِبْنِ كِلَابٍ وَاسْمُهُ حَكِيْمٌ، اِبْنِ مُرَّةَ، اِبْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ وَاسْمُهُ قُرَيْشٌ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ الْبُطُوْنُ الْقُرَشِيَّةُ وَمَا فَوْقَهُ كِنَانِيٌّ كَمَا جَنَحَ إِلَيْهِ الْكَثِيْرُ وَارْتَضَاهُ، اِبْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ اِلْيَاسَ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ أَهْدَى الْبُدْنَ إِلَى الرِّحَابِ الْحَرَمِيَّةِ وَسُمِعَ فِيْ صُلْبِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى وَلَبَّاهُ، اِبْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ وَهَذَا سِلْكٌ نَظَمَتْ فَرَائِدَهُ بَنَانُ السُّنَّةِ السَّنِيَّةِ Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihii wasallam:
bin Sayyid Abdullah
bin Abdul-Muth¬thalib (namanya Syaibatul Hamdi)
bin Hasyim (yang namanya Amr)
bin Abdu Manaf ( namanya Al-Mughirah)
bin Qushayy (namanya Mujammi’)
bin Kilaab (namanya Hakiem)
bin Murrah
bin Ka’b
bin Lu’ayy
bin Ghaa¬lib
bin Fihr ( namanya Quraisy dan menjadi cikal bakal nama suku Quraisy)
bin Maalik
bin An-Nadhr
bin Kinaanah
bin Khuzaimah
bin Mudrikah
bin Ilyaas
bin Mudhar
bin Nizaar
bin Ma’add
bin Adnaan Nasab berikutnya sebagaimana dalam kitab Tahqiiqul Maqaam ‘Alaa Kifaayatil ‘Awaamm Fii ‘Ilmil Kalaam, karya Syeikh Ibrahim al Baajuuri (lahir tahun 1198 H, wafat tahun 1277 H) halaman 85, cetakan al Ma’aarif Bandung: وَقَدْ ذَكَرَ الْعِرَاقِيُّ أَصَحَّهَا فِيْ أَلْفِيَةِ السِّيْرَةِ
وَحَاصِلُهُ أَنَّ عَدْنَانَ بْنُ أُدّ بْنِ أُدَدْ بْنِ مُقَوَّمِ بْنِ نَاحُوْرِ بْنِ تَيْرَخْ بْنِ يَعْرُبْ بْنِ يَشْجُبْ بْنِ نَابِتِ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ (عَلَيْهِمَا السَّلَامُ)
اِبْنِ تَارَخْ بْنِ نَاحُورْ بْنِ شَارُوخْ بْنِ أَرْغُوْ بْنِ فَالَخْ بْنِ عَيْبَرْ قَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ سَيِّدُنَا هُوْدٌ (عَلَيْهِ السَّلَامُ)
اِبْنِ شَالَخْ بْنِ أَرْفَخْشَدْ بْنِ سَامْ بْنِ نُوْحٍ (عَلَيْهِ السَّلَامُ) وَاسْمُهُ عَبْدُ الْغَفَّارِ
اِبْنِ لَامَكْ بْنِ مَتُّوْ شَلْخَ بْنِ خَنُوخْ قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ إِنَّهُ إِدْرِيْسُ فِيْمَا يَزْعُمُوْنَ
اِبْنِ يَرْدَ بْنِ مَهْلَايِيْلَ بْنِ قَيْنَنْ بْنِ يَانُشْ بْنِ شِيْثٍ (عَلَيْهِ السَّلَامُ)
اِبْنِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ. (Adnan)
bin Udd
bin Udad
bin Muqawwam
bin Naahuur
bin Tairakh
bin Ya’ruub
bin Yasyjub
bin Naabit
bin Nabi Isma’il ‘alaihissalaam
bin Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam
bin Taarakh
bin Naahuur
bin Syaaruukh
bin Arghuu
bin Faalakh
bin ‘Aibar (ada yang mengatakan beiau adalah Nabi Hud ‘alaihissalaam)
bin Syaalakh
bin Arfakhsyad
bin Saam
bin Nabi Nuh ‘alaihissalaam
bin Laamak
bin Mattuusyalkha
bin Khanuukh (ada yang mengatakan beliau adalah Nabi Idris ‘alaihissalaam)
bin Yard
bin Mahlaayiil
bin Qainan
bin Yaanusy
bin Nabi Syits ‘alaihissalaam
bin Nabi Adam ‘alaihissalaam Wallaahu A’lam

Iklan
9 November 2012

“Awwaludini Ma’rifatullah”

oleh alifbraja

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

“Awaludini Ma’rifatullah”

Bermula awal agama mengenal Allah

Dengan apa Allah dikenal?

Dengan tiga perkara

mana yang tiga perkara itu?

Pertama tahu akan “TUBUH”

Kedua tahu akan “HATI”

Ketiga tahu akan “NYAWA”

Ada berapa pembagian tubuh?

Tubuh dibagi tiga

Yang mana yang tiga itu?

Pertama tubuh yang kasar

Kedua tubuh yang halus

Ketiga tubuh yang bathin

Maksud tubuh kepada hati

Maksud hati kepada nyawa

Maksud nyawa kepada Allah

Kalau iya memang benar kita orang yang menyembah Allah.

Berapa buah jalan manuju kahadirat Allah?

Adapun jalan menuju kehadirat Allah itu empat jalannya

Manakah yang empat itu?

Yaitu : yang partama jalan SYARIAT

yang kedua jalan TARIKAT

yang ketiga jalan HAKIKAT

yang keempat jalan MAKRIFAT

SYARIAT: pegang syariat tubuh yang kasar.

TARIKAT: pegang tarikat tubuh yang halus.

HAKIKAT: pegang hakikat tubuh yang batin.

MAKRIFAT: pegang makrifat Tuhan Allah yang punya pegang.

SYARIAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?

“JADI TUBUH”.

TARIKAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?

“JADI HATI”.

HAKIKAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?

“JADI NYAWA”.

MAKRIFAT: jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?

“JADI RAHASIA”.

SYARIAT: pegang syariat tubuh yang kasar.

Apa bunyi zikirnya?

“LAA ILAHA ILLALLAH”.

TARIKAT: pegang tarikat tubuh yang halus.

Apa bunyi zikirnya?

“ALLAH ALLAH”.

HAKIKAT: pegang hakikat tubuh yang batin

Apa bunyi zikirnya?

“HU… ALLAH”.

MAKRIFAT: pegang makrifat Tuhan Allah yang punya pegang.

Apa bunyi zikirnya?

( bunyinya ……….. tiada berhuruf,tiada bersuara,lenyap selenyap-

lenyapnya,karam sekaram-karamnya……….)

SYARIAT:adalah jalan tubuh,

Tahu ketiadaan tubuh kita lahir dan bathin

Zahirnya tubuh batinnya anggota.

TARIKAT:adalah jalan hati,

Tempat bergantung baik dan jahat,lahir dan batin

Zahirnya akal bathinnya pangana/pengenal(=ingat kepada Allah)

HAKIKAT: adalah jalan nyawa

Pencari jalan kepada Allah,lahir dan batin

Zahirnya angin bathinnya Muhammad

MAKRIFAT:adalah jalan rahasia Allah yang punya pegang(urusan Allah) zahir dan bathin

Zahirnya Muhammad batinnya Allah

SYARIAT : kalau mati dimana kuburnya?

“Dapat dibumi yang tak berpijak”

TARIKAT : kalau mati dimana kuburnya?

“Dapat dilangit tak berbintang”

HAKIKAT : kalau mati dimana kuburnya?

“Dapat diangin yang tak berhembus”

MAKRIFAT : kalau mati dimana kuburnya?

“Dapat dilaut yang tak berombak”

MATI SYARIAT : mati TABI’I namanya.

MATI TARIKAT : mati MAKNAWI namanya.

MATI HAKIKAT : mati SURI namanya.

MATI MAKRIFAT :mati HISI namanya.

Bila ikhlas mengamalkan salah satu zikir dalam mata pelajaran Tharikat Naqsyabandiyah

maka Allah akan memberi rasa mati yang empat perkara.

1.Dapat merasakan MATI TABI’I

Yaitu mati panca indra yang lima,seluruh anggota tubuhnya secara lahir dan batin telah membaca Allah Allah dan suara alam ini seolah berzikir dan terdengar membaca kalimat Allah Allah,berzikir dengan sendirinya,hingga yang tinggal hanyalah rasa rindu terhadap Allah.Orang yang telah merasakan mati Tabi’i itulah orang yang telah sampai dengan Rahmat Allah pada maqam tajalli Af’alullah(nyata perbuatan Allah SWT).

2.Dapat merasakan MATI MAKNAWI

Yaitu merasakan dirinya lahir dan batin telah hilang dan seluruh alam ini telah lenyap semuanya,yang ada hanyalah kalimat Allah Allah semata-mata dimanapun ia memandang,kalimat Allah yang ditulis dengan Nur Muhammad.

Orang yang telah merasakan mati maknawi itulah orang yang telah sampai dengan rahmat Allah pada maqam Asma Allah SWT,atau biasa disebut maqam Tajalli Asma(nyata nama Allah SWT),nama dengan yang punya nama tidak terpisahkan sedikitpun.”Dengan nama Allah SWT,yang tidak memberi mudarat/binasa dilangit dan dibumi dan Dia maha mendengar lagi maha mengetahui”.

3.Dapat merasakan MATI SURI

Yaitu didalam perasaan orang itu telah lenyap segala warna-warni,

yang ada hanya Nur semata-mata,yakni Nurullah,Nur Dzatullah,Nur Sifatullah,Nur Asma Allah,Nur Af’alullah,Nur Muhammad,Nur Baginda Rosulullah,Nur Samawi,Nur ‘Ala Nur.

Inilah orang yang telah diberi pelita oleh Allah untuk meluruskan jalannya.

Orang yang telah merasakan mati suri itulah orang yang telah sampai dengan rahmat Allah pada makam Tajalli Sifattullah(Nyata Sifat Allah).

4.Dapat merasakan MATI HISI

Yaitu dalam perasaannya telah lenyap kalimat Allah,dan telah lenyap pula seluruh alam ini secara lahir dan batin,dan telah lenyap pula nur yang tadinya terang benderang,yang ada dan dirasakannya adalah Dzat Allah SWT,bahkan dirinya sendiripun dirasakannya hilang musnah,ia telah dibunuh Allah SWT.dan dialah sebagai gantinya,sebagaimana firman Allah SWT didalam Hadist Qudsi:

“Bahwasanya hamba-Ku,apabila AKU telah kasihi,AKU bunuh ia,lalu apabila telah AKU bunuh,maka AKUlah sebagai gantinya”

Maka langkahnya seolah-olah langkah Allah

Pendengarannya,pendengaran Allah

Penglihatannya,penglihatan Allah

Geraknya,kehendak Allah

Perbuatannya,perbuatan Allah

Orang yang telah mendapat mati hisi,ia akan melihat Allah SWT dalam perasaannya

Surat Al-Baqarah ayat 115 :

Timur dan barat kepunyaan Allah SWT,kemana kamu menghadap,maka disana ada wajah Allah”

Surat An-Nisa ayat 126 :

[4:126] Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

“Dialah Allah yang awal,dan Dialah yang zhahir dan Dialah Allah yang batin”

Orang yang telah merasakan mati hisi ,itulah orang yang telah sampai dengan Rahmat Allah SWT pada maqam Tajalli Dzat.

Ilahi anta maksudi waridhoka mathlubi

29 Oktober 2012

Meraih Kebahagiaan Sejati

oleh alifbraja

“Pikiran yang benar ialah yang membuka jalan; jalan yang benar ialah yang dilalui seorang raja spiritual.”
(Rumi)

“Jiwa yang rela itu seperti samudera. Kedalaman dan keluasannya akan menyerap setiap benda yang jatuh ke dalamnya. Seberapa besar pun benda itu. Ia tetap tenang bergelombang.”
(Haidar Bagir)

Seperti halnya manusia, dunia pun berumur. Tapi berbeda dengan manusia, dunia, semakin senja umurnya, semakin menawan rupa dan penampilannya. Semakin banyak manusia terpikat. Semakin dunia, dengan segala gemerlap dan kenikmatannya, menjadi puncak impian hampir setiap insan.

Namun bersamaan insan-insan berjibaku, bertengkar atau bahkan saling menghancurkan demi mengejar impian masing-masing, waktu terus berjalan. Dunia tetap bernafas seolah abadi. Sementara manusia datang dan pegi. Satu lahir, membawa impian-impian baru. Yang lain mati membawa serta impian-impian yang tinggal impian.

Demikian kurang lebih refleksi dari fenomena kehidupan. Banyak sekali orang yang menganggap hidup ini segala-galanya. Mereka rela menghabiskan hampir seluruh umurnya untuk meraih semua hasrat dan impian hidupnya. Bahkan tak sedikit yang melakukan semua cara ,meski mengorbankan orang lain dan nilai-nilai kepatutan. Seolah hidup ini bagi mereka, adalah satu-satunya dan untuk selamanya.

Anggapan demikianlah yang menjadi sumber malapetaka di muka bumi tanpa kecuali tanah air kita: korupsi, kemiskinan, perang, penjajahan, kediktatoran, kerusakan alam, dan lain sebagainya. Tak satu pun negeri di muka bumi ini yang benar-benar terbebas dari malapetaka itu. Negeri semakmur Amerika dan Singapura pun, nyatanya menyangga kedigdayaannya dengan eksploitasi negeri-negeri lain yang lemah seperti Indonesia ini. Berapa banyak kekayaan alam negeri kita diangkut ke Amerika. Berapa triliun uang haram yang ditanam di Singapura oleh para koruptor negeri ini.

Paradigma/cara pandang hidup menjadi kunci persoalan. Artinya, bagaimana cara kita memandang kehidupan berpengaruh secara mendasar terhadap kondisi sosial, sebab kita menjadi bagian darinya. Paradigma egoistik, misalnya, akan melahirkan penindasan. Ini berlaku bagi siapa saja. Sebab, relasi sosial menindas-ditindas adalah persoalan kesempatan. Yang saat ini menindas ialah mereka yang mempunyai kesempatan untuk itu. Namun yang saat ini tertindas pun, jika satu saat memperoleh kesempatan, tak menutup kemungkinan akan melakukan penindasan pula. Saat para pejabat menyalahgunakan wewenangnya, saat pedagang mengurangi timbangan, saat para produsen makanan memproduksi makanan tak layak makan, saat para penyedia transportasi menarik ongkos melampaui tarif, dan lain sebagainya, saat itulah relasi sosial yang dzolim itu terjadi.

Jika ditelusuri, benang merahnya adalah paradigma hidup seperti direfleksikan di atas: seolah hidup ini selamanya; apapun layak dilakukan demi mencapai semua hasrat dan impian. Maka paradigma hidup menjadi hal utama dan pertama yang perlu dibenahi. Sebab paradigma menentukan cara berpikir, cara bersikap dan bertindak, termasuk cara membangun relasi sosial. Ia merupakan kerangka manusia untuk melihat dan memahami realitas kehidupan.

Solusi yang berfokus pada paradigma individual inilah yang ditawarkan agama-agama, tak terkecuali Islam. Diakui atau tidak, dalam sejarah manusia agama telah membuktikan diri sebagai satu-satunya ‘sosok’ yang mampu menawarkan solusi terbaik. Ini bisa dilihat, paling tidak dari fakta bahwa mayoritas umat manusia menganut sebuah kepercayaan agama. Bahkan tak sedikit yang berpindah dari satu agama ke agama lain mencari paradigma yang menurut mereka terbaik.

Jika kemudian ada sejarah penindasan yang berbasis agama, seperti yang terjadi di Eropa pada Zaman Pertengahan, ini hanya sekelumit contoh penyelewengan agama. Akhirnya, agama pula (kaum Protestan) yang menjadi basis perlawanan terhadap para penindas itu. Fakta historis serupa juga ditemukan dalam sejarah Islam. Tanpa terkecoh dengan sejarah kelam kaum-kaum beragama, agama tetaplah agama. Sebuah tata nilai suci yang menawarkan solusi problematika umat manusia demi kebahagiaan sejati.

Universalitas Islam

Universal ialah sifat dasar sebuah agama, sehingga ia bisa tumbuh di mana saja dan berumur panjang sepanjang umur peradaban manusia. Islam ialah agama. universalitasnya ditegaskan sendiri dalam diktum terkenal dalam al-Quran, rahmatan li al-‘ālamīn (rahmat bagi semesta alam).
 
Dan Kami (Allah) mengutus engkau Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam (al-Anbiya:107).

Rahmat di sini bisa dimaknakan sebagai kebaikan, kedamaian atau keselamatan. Secara etimologis, kata tersebut seakar dengan kata ‘rahmân’ dan ‘rahîm’, dua nama Allah, yakni kata ‘rahima’ yang berarti penuh kasih sayang, penuh perhatian tulus. Pada ayat tersebut, Muhammad SAW dijuluki sebagai rahmat bagi semesta alam. Ia adalah sosok yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan keselamatan dan perdamaian. Sosok Muhammad di samping sebagai penyampai, juga merupakan pelaksana yang representatif dari pesan-pesan tersebut. Pribadinya menjadi teladan sepanjang zaman. Setiap kata, sikap dan tindakannya merupakan interpretasi dan penjelasan wahyu.

Penjelasan ayat ini dalam Tafsir al-Kabīr, karya Syaikh Muhammad Fakhruddin al-Razi mengatakan, bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh umat manusia. Ia tidak hanya berbicara tentang soal-soal yang dikategorikan sebagai agama, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini tercermin dari sosok Muhammad SAW yang kesantunan dan keadilannya merangkul seluruh kalangan masyarakat di sekitarnya, tidak hanya kaum Muslimin.

Secara kosmologis, bahwa Allah berbicara kepada umat manusia melalui sosok Nabi adalah sebuah kehormatan besar yang tak diperoleh mahluk-mahluk lain. Ini karena, sebagaimana dikatakan Allah sendiri, manusia adalah ciptaan-Nya yang terbaik, dikaruniai akal, dan dinobatkan sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi. Manusia mampu mengolah, mengelola atau bahkan menghancurkan alam lingkungannya. Maka dipilihnya manusia sebagai penerima pesan-pesan ilahiah adalah agar pesan-pesan tersebut bisa terpancar ke seluruh alam semesta.

Sementara dari sisi karakter pesan-pesannya, yang membuat Islam universal ialah karena ia berbicara tentang fitrah/hakekat dari alam semesta, segala sesuatu di dalamnya, dan Penciptanya. Ia merupakan pengakuan Allah tentang diri-Nya, prinsip-prinsip penciptaan dan pengaturan ciptaan-ciptaan-Nya. Pengakuan kepada manusia, ciptaannya yang paling sempurna. Pengakuan-Nya ini menjadi setetes pengetahuan Allah untuk manusia dalam menjalankan misi kepemimpinannya di alam semesta (QS.2:30). Sebagai pemimpin, mereka perlu mengetahui hal-hal prinsipil dari apa yang dipimpinnya, agar mampu memahami setiap persoalan yang dihadapi dan mampu merumuskan solusi yang tepat. Demikianlah posisi manusia di alam semesta. Demikian pula maksud Islam diturunkan.
 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menciptakan wakil di bumi”. Para malaikat merespon, “apakah Engkau hendak menciptakan para pembuat kerusakan dan huru-hara di muka bumi (sebagai wakil-Mu), padahal kami lah yang selama ini memuji dan mensucikan-Mu?”. Allah menjawab, “Aku mengetahui semua hal yang tidak kalian ketahui”. Kemudian Allah mendeskripsikan kepada Adam segala sesuatu, lalu menyodorkan  segala sesuatu tersebut kepada para malaikat. Lalu Allah berkata, “deskripsikan ini semua jika benar kalian itu memang bisa dipercaya!” Para malaikat menjawab, “Maha Suci Engkau, kami tidak mengetahui selain sebatas yang telah Engkau ajarkan pada kami. Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” Allah lalu berfirman, “Hai Adam, deskripsikan ini semua!” Pada saat Adam memaparkan deskripsinya, Allah berkata, “bukankah sudah Aku katakana bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan juga mengetahui semua yang kalian tunjukan maupun yang kalian sembunyikan?” (al-Baqoroh:30-33).

Maha Suci Dia yang telah menurunkan al-Furqon (al-Quran) melalui seorang hamba-Nya sehingga dia bisa menjadi pemberi peringatan bagi seluruh penghuni semesta. Dia lah Sang Penguasa langit dan bumi; Dia tidak beranak dan tidak pula memiliki (membutuhkan) partner dalam berkuasa. Dia menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran yang tepat untuk semuanya itu (al-Furqon:1-2).

Maka dari perspektif kemanusiaan, tema utama Islam ialah seputar identitas manusia. Untuk itu, secara mendasar ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabi berbicara tentang siapa manusia, siapa Tuhan, siapa sesuatu selain manusia dan Tuhan, dan bagaimana relasinya satu sama lain. Itu semua disampaikan melalui simbol-simbol berupa kisah, peristiwa, perintah dan larangan agar mudah dipahami. Islam diturunkan untuk manusia dan dengan bahasa manusia.

Mengenal Diri

Kembali pada soal paradigma hidup. Sebagai Muslim, tentu kita selayaknya membangun sebuah pandangan dasar hidup yang sesuai dengan informasi-informasi Allah dalam al-Quran dan Sunnah. Ada empat pertanyaan yang bisa diajukan sebagai kerangka untuk mengumpulkan dan mengkaji informasi-informasi tersebut: siapa sebenarnya kita? Apa yang sedang kita lakukan di dunia ini? Dari mana kita berasal? Dan, akan ke mana kita esok hari?
Empat pertanyaan tersebut akan kami urai satu per satu sebagai berikut:

1. Siapa sebenarnya kita?

Ada beberapa ayat al-Quran yang memberikan petunjuk jawabannya. Tiga di antaranya adalah:
 
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu (al ‘Alaq:1)

“Allah menciptakan manusia dari air mani…” (an-Nahl:4)

“Dan Dialah yang menciptakan dari air itu seorang manusia”… (al-Furqan:54).

Sangat tegas dari ketiganya bahwa manusia adalah wujud yang diciptakan. Allah adalah Sang Pencipta. Dalam konteks ini, kita tidak berbeda dengan wujud-wujud lain di sekitar kita. Semuanya masuk dalam kategori hasil kreasi (mahlūq). Artinya, dalam batas-batas tertentu manusia memang mampu berkreasi/mencipta, sehingga terciptalah peradaban-peradaban. Begitu pun hewan seperti laba-laba yang menciptakan sarangnya. Namun, proses kreasi manusia dan hewan sejatinya hanya merubah dari satu bentuk ke dalam bentuk lain dari bahan-bahan dasar yang telah tersedia seperti air, tanah, api, udara, tumbuhan dan lain sebagainya. Dan hingga kini tak satu pun manusia mampu menciptakan bahan-bahan dasar tersebut. Tak satu pun hasil kreasi manusia yang murni tanpa bahan-bahan dasar tersebut.

Maka jauh dari kemungkinan manusia dapat menciptakan dirinya sendiri atau manusia lainnya. Manusia itu diciptakan. Berarti seluruh potensi, baik fisik maupun non-fisiknya pun adalah ciptaan, termasuk potensi kreatifnya. Siapa yang menciptakan? Dialah Dia, yang dikenal sebagai Tuhan. Maka Tuhan, melalui manusia pilihan-Nya, memperkenalkan diri sebagai Allah, al-Rahmān, al-Rahĭm, al-Awwal, al-Ăkhir, dan lain sebagainya.

Fakta dikotomis antara yang diciptakan (mahlûq) dan yang mencipta (khâliq) ini menjadi pesan, bahwa hakekatnya kita manusia berada pada kelas yang sama dengan hewan, tumbuhan, air, dan entitas-entitas lain di alam raya ini: kelas mahluk. Dari sekian itu, kita manusia memang menempati posisi teratas sebagai yang paling sempurna. Manusia ditunjuk Allah sebagai wakil dengan tugas kepemimpinan di antara para mahluk lain. Namun ini tidak menjadi alasan bagi kita untuk bersikap angkuh, berbangga diri dan sombong. Sebab diri kita, seluruh potensi yang dimiliki, seluruh kekuasaan yang diraih, tak lebih sekedar pemberian (pinjaman). Yang semuanya bisa kapan saja diambil oleh Sang Pemilik. Yang semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban. Maka dalam Islam, semua sikap dan tindakan yang bersumber dari kebanggaan, keangkuhan, kesombongan pribadi dikategorikan sebagai terlaknat/dosa. Allah memperingatkan hal ini dalam sebuah hadits qudsi, seperti terekam dalam buku Misykāt al-Anwār karya Ibn ‘Arabĭ, yang kira-kira artinya, “Arogansi adalah baju kebesaran-Ku, dan kebanggan diri adalah selendang-Ku. Maka siapapun manusia yang menandingiku dengan salah satu dari keduanya, Aku akan melemparnya ke dalam neraka!”

2. Apa yang sedang kita lakukan di dunia ini?

Jawabannya cukup tegas diinformasikan Allah dalam QS.Al-Dzariyat:56:

 “Dan Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembah-Ku.”

Kata ‘ya’budūn’ di ayat ini umum diterjemahkan ‘beribadah’. Sementara kata ‘ibadah’ sendiri adalah derivasi dari kata bahasa Arab ‘îbâdah’, dari kata dasar ‘âbada’. Kita diciptakan untuk beribadah, bukan untuk lainnya. Sehinga jawabannya adalah, kita di dunia ini adalah dalam rangka beribadah kepada Allah.

Di masyarakat, kata ‘ibadah’ tidak jarang dipahami sebagai aktifitas-aktifitas tertentu yang diwajibkan atau dianjurkan agama seperti shalat, puasa, zakat, wudhu, sedekah, dan lain-lain. Sehingga ayat ini sering dijadikan dalil bagi sementara orang untuk beragama dengan berhenti pada tingkat ritual. Sementara pandangan hidup, sikap dan perilaku kesehariannya tidak mencerminkan pribadi yang beragama. Atau, bagi bagi mereka yang meninggalkan pergaulan sosial dan menenggelamkan diri sehari-harinya dalam aktifitas ritual.

Jika demikian, tentu akan banyak waktu hidup kita yang habis bukan untuk ibadah, seperti mandi, makan, pergi ke pasar, tidur, berdagang, dan lain-lain. Sebab aktifitas-aktifitas yang diwajibkan atau dianjurkan itu jumlahnya terbatas. Apalagi kemampuan fisik kita pun terbatas untuk melaksanakan seluruhnya. Bukankah ini sebuah pelanggaran atas ayat tersebut? Maka, ‘ya’budūn’ pada ayat itu perlu dimaknakan secara generik, yakni menghamba, patuh dengan penuh kepasrahan, atau mencintai secara totalitas. Sehingga ayat tersebut bisa diartikan secara bebas “Aku menciptakan jin dan manusia tidak lain agar mereka tunduk-patuh kepada-Ku atas dasar cinta yang tulus’.

Ini kiranya sejalan dengan pemaknaan Syaikh al-Razi terhadap ibadah dalam ayat ini, sebagai sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai suci Allah baik yang berupa perintah, larangan, anjuran maupun informasi-informasi. Serta bersikap penuh kasih kepada seluruh ciptaan-Nya. Ayat ini juga berarti bahwa, cara pandang, sikap, perilaku dan aktifitas keseharian kita selayaknya diorientasikan sebagai wujud penghambaan kepada Allah SWT.

Maka seorang Mukmin yang sejati ialah dia yang selalu sadar akan hakekat penciptaannya ini, dan yang kesadarannya ini memancar ke dalam langgam berpikir dan kepribadiannya. Setiap helai pemikiran, kata dan perilakunya dimaknakan secara filosofis sebagai ekspresi ketundukan tulus kepada Allah SWT. Makan, minum, olahraga, berpakaian, bekerja, berkeluarga dimaknakan serupa dengan shalat, puasa, zakat dan ritualisme lainnya sebagai rangkaian peribadatan sehari-hari. Dengan begitu, tidak akan ada ruang, atau paling tidak sedikit ruang bagi aktifitas-aktifitas yang bukan ibadah. Dengan kata lain, komitmen pada kesadaran ini akan memberi sedikit ruang bagi berkembangnya potensi-potensi kemaksiatan dalam diri seorang insan. Jadi, nilai setiap aktifitas kita di hadapan Allah tergantung pada pemaknaannya secara filosofis, baik sebelum, selama maupun sesudah pelaksanaannya.

Penafsiran ini kiranya berkorelasi positif dengan sebuah hadits terkenal:

 “Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya. Jika dia berhijrah dengan niat rela untuk Allah dan Rasul-Nya, maka demikianlah Allah dan Rasul akan menilainya. Namun jika ia berhijrah karena perkara duniawi atau karena perempuan yang hendak dipinang, maka nilai hijrahnya akan bernilai tidak lebih dari itu saja ” (HR.Bukhori-Muslim). (bersambung)

28 Oktober 2012

MENGENAL MANI UNTUK MENGENAL JASAD

oleh alifbraja

BARANG SIAPA MENGENAL MANI…MENGENAL IA AKAN JASADNYA.

Mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut Sulbi dabn Taraib,jadi mani itu dalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh allah dari mutu manikam sehingga para Ulama berpendapat yaitu :

Mani adalah salah satu-satunya Zat Penjelmaan dari dua macam zat (sulbi dan taraib)…Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu…Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu,hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak,karena kaum ibu ini hanyalah iradat maka ulama mengistilahkan Surga Itu Di Atas Telapak Kaki Ibu.
Untuk lebih jelasnya saya terangkan bagian-bagian dari maksud yang diatas :
BAGIAN BAPAK : WADI,MADI,MATU,MANI Atau disebut  SULBI.
BAGIAN IBU      : ASALNYA TANAH,ANGIN,API AIR Atau disebut TARAIB.
BAGIAN ALLAH : ROH IDHAFI,ROH ROHANI,ROH RAHMANAI,ROH JASMANI.
BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA Disebut “MUTU MANIKAM”.
Asalnya Tanah yaitu : ANFAS Hurufnya Alif Kalimatnya LA.
Asalnya Angin yaitu : TANAFAS Hurufnya Lam Awal Kalimatnya ILLAHA
Asalnya Air yaitu : NAFAS Hurufnya Ha Kalimatnya ALLAH.
Wadi…….Ma anni kalimatnya : LAA ILAHA
Madi…….Ma annawiya kalimatnya : ILALLAH
Matu…….Sulbi kalimatnya : ALLAH
Mani…….Salbiyah kalimatnya : HU
Ruh Jasmani ………….Kalimatnya (YAHU).
Ruh Rahmani………….Kalimatnya (IYAHU).
Ruh Rohani…………..Kalimatnya (YAMANIHU).
Ruh Idhafi………….Kalimatnya (YAMAN LAYISALAHU).
Mutu Manikam………….Kalimatnya (MA’DAHU)
Tujuh Petala Bumi dijadikan 7 (tujuh) Tingkatan Martabat yaitu :
1. Sifat Amarah.
2. Sifat Lawwama.
3. Sifat Mulhima.
4. Sifat Mutmainah.
5. Sifat Radhiyatan.
6. Sifat Mardhiyah.
7. sifat ubudiyah.
Tujuh Petala Langit yang dimaksud denngan Martabat 7 (Tujuh) yaitu :
1. Lathifatul Qolbi.
2. Lathifatul Ruuhi.
3. Lathifatul Sirri.
4. Lathifatul Ahfa.
5. Lathifatul Hafi.
6. Lathifatul Nafsu Natika.
7. Lathifatul Kulu Jasad.
Jikalau tingkatan semacam ini yang kita ambil Hakikatnya pada Alam kecil yang tersembunyi (terahasia) dalam diri kita,maka ulama menamakan sebagai berikut :
1.HAYATUN JASADI BIN-NAFASI.
2. HAYATUN NAFASI BIR-RUHI.
3. HAYATUN RUHI BIS-SIRRI.
4. HAYATUN SIRRI BIL IMANI.
5.HAYATUN IMANI BINNURI .
6.HAYATUN NURI BIL QUDRATI.
7. HAYATUN QUDRATI BI MU’ALAMULLAHI TA’ALA DZATULLAH.
Artinya adalah sebagai berikut :
1. Asalnya Jasad dari Nafas.
2. Asalnya Nafas dari Ruh.
3. Asalnya Ruh dari dalam Rahasia.
4. Asalnya Rahasia dari dalam Iman.
5. Asalnya Iman dari Nur/Cahaya.
6. Asalnya Nur/Cahaya dari Qudrat.
7. Asalnya Qudrat dari ke-Baqa’an ALLAH.
Kalimatnya jadi seperti ini :
1. Hayatun jasadi hurufnya ALIF kalimatnya LA.
2. Hayatun Nafasi hurufnya LAM AWAL kalimatnya ILAHA.
3. Hayatun Ruuhi hurufnya LAM AKHIR kalimatnya ILLA.
4.  Hayatun Sirri hurufnya HA kalimatnmya ALLAH.
5. Hayatun Imani hurufnya Alif (Allah) kalimatnya YAHU.
6. Hayatun Nuri hurufnya Lam (Jibril) kalimatnya IYAHU.
7. Hayatun Qudrati hurufnya  Mim (Muhammad) kalimatnya IYAHU YAMANIHU.
Dengan demikian apabila kesemuanya ini akan kita lebur kedalam ke-Baqa’an DZAT ALLAH,maka ulama menamakannya sebagai berikut :
1. WATUJIBUL WASADI FI FASARAL QOLBI.
2. WATUJIBUL QOLBI FI FASARAL RUHI.
3. WATUJIBUL RUHI FI FASARAL SIRRI.
4. WATUJIBUL SIRRI FI FASARAL IMAN.
5. WATUJIBUL IMAN FI FASARAL NURI.
6. WATUJIBUL NURI FI FASARAL QUDRATI.
7. WATUJIBUL QUDRATI FI FASARAL DZATI FIL DZATI.

Demikian penjelasan singkat dan keterangan yang dapat saya sajikan dalam hal pengenalan “MANI” hingga dia menjadi “JASAD”  kita manusia yang barangkali ada keterangan-keterangan selanjutnya….Wallahu a’lam bissawab..

27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 3

oleh alifbraja

PERAN WIRID DALAM  KEHIDUPAN HATI

Sebagian kita mengartikan WIRID ; sebagai rangkaian doa dan zikir di amalkan seorang salik ,yang diberikan oleh seorang guru kepada murid.Dalam Ensiklopedia Tasawuf disebutkan ;Wirid berasal dari kata arab WIRID, jamaknya Awrad yang berarti kumpulan zikir dan do’a do’a kepada Allah.Pembacaan wirid sangat dianjurkan,wirid merupakan do’a do’a pendek atau formula formula untuk memuja Tuhan dan memuji Muhammad saw,dan membacanya dalam hitungan tertentu sekian kali,pada jam jam yang telah ditentukan yang dipercaya akan memperoleh keajaiban atau paling tidak akan mendatangkan manfaat.

 

Didalam Kamus Tasawuf juga disebutkan,WIRID jamaknya AURAD.Wirid adalah seruan yang mengandung permohonan tertentu kepada Allahswt.Wirid diartikan juga dengan do’a do’a yang diucapkan berulang ulang setiap hari.Dalam istilah tassawuf adalah doa yang diulang pada waktu tertentu saetiap hari biasanya sesudah shalat wajib.Rangkaian kalimat qurani,biasanya dibaca sejumlah seratus kali ataulebih.Kalimat kalimat tersebut merupakan pelatihan yang menumbuhkan konsentrasi keagamaan sehari hari.Kalimat kalimat wirid biasanya dibaca oleh kelompok kelompok thariqat dan juga kelompok lainya.Gaya dan model aurad sangat beragam,tetapi pada umumnya mengandung permohonan ampunan(istigfar), shalawat nabi, dan syahadah.

 

Menurut hemat kami pengertian pengertian tentang wirid tersebut diatas merupakn pengertian wirid yang sempit.Sebenarnya WIRID mempunyai arti yang lebih luas yaitu WIRID adalah amal amal kebaikan dalam islam termasuk do’a dan dzikir yang dilakukan oleh penempuh jalan menuju Allah ( salik).Jadi wirid tidak hanya membaca doa dan dzikir tapi melakukan amal ibadah ibadah lain juga bisa disebut WIRID.Seperti dijelaskan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah al hasani dalam kitabnya : Iqazh al Himam fi Syarh al Hikam ;versi Indonesia :”Lebih dekat kepada Allah ” terjemahan :Abdul Halim S,Ag );bahwa WIRID menurut istilah adalah dzikir dan ibadah lainya yang ditetapkan seorang hamba kepada dirinya sendiri atau ditetapkan seorang guru kepada muridnya.

 

Syeikh Sa’id Hawa rahimaullah dalam kitabnya : Mudzakiraat fi manzilis shidiqien wa rabbaniyyin ;terjemahan : imran effendi menjelaskan panjang lebar tentang wirid .Wirid wirid harian adalah kehidupan hati,dengan wirid ,hati menjadi terang bersih dan tenteram,shalat adalah wirid khusus sementara amal amal dalam islam lainya merupakan wirid umum.Menurut syeikh ‘Athaillah rahimaullah: seorang arif tak pernah meninggalkan ibadah, maka padukanlah ibadah dengan ma’rifat, sebab orang yang hanya melakukan ibadah dan zuhud tanpa memperoleh ma’rifah akan surut semangat ibadahnya.Agar gambaran ma’rifah tak menyimpang maka beliau menjelaskan bahwa ma’rifah hakiki itu ada di akhirat, sedangkan keharusan kita didunia ini hanya memperhatikan ciptaanNYA dan menyelami sifat sifatNYA.

 

Wirid wirid harian diperlukan agar supaya hati seorang salik yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah berada dalam kesadaran.Seperti kita ketahui bahwa ketika ruh dimasukan dalam jasad atau tubuh maka seketika itu pula ruh tersebut menjadi tawanan jasad atau tubuhnya,sehingga ruh terpengaruh oleh tuntutan tuntutan jasad.dan inilah yang mjenyebabkan dirinya terhijab (tertutup tabir).padahal azalnya hati ini telah mengenal Allah seperti difirmankan Allah swt :

 

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِى اَدَ مَ مِنْ ظُهُوْ رِهِمْ ذ ُرِّ يَّتَهُمْ وَاَشْـهَدَ هُـمْ عَلَي

 

اَنْفُــسِهِمْ اَلَسْتُ بِــرَبِّكُــمْ قاَ لُوْا بَلىَ شَــهِد ناَ اَنْ تَــقُــوْ لُــوْا يَـــوْمَ

 

الْقِيَــمَةِ اِناَّ كُــنَّا عَــنْ هَــذَا غَا فِلِــيْــنَ .

 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak anak adam dari sulbi mereka Dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka(seraya berfirman):”BukanKah AKU ini Tuhanmu?”,mereka menjawab,”Betul (Engkau Tuhan kami),kami bersaksi (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan :’Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini ‘.” (Al ‘Araf(7):172 )

 

Akan tetapi ketika ruh sudah masuk kedalam raga maka beragam tuntutan jasadpun memberinya perubahan yang berpengaruh langsung kepada hati.Bila cahaya yang menyinari hati begitu kuat,maka sesorang dapat menangkis beragam desakan tubuh,tetapi jika sesorang melakukan dosa ,maka hatinya tertitik noda noktah hitam.

 

Oleh karena itu agar hati seseorang tetap dalam kondisi tertentu, maka ia harus menjaga beberapa hal tertentu.Karena itu ibadah disyariatkan kepada kita, baik wajib maupun yang sunat,agar dapat mengisi dan mewarnai keadaan yang ada diri seseorang.Hati bukan hanya satu, kondisi bukan hanya satu dan pengaruh yang membekaspun bukan hanya satu macam, karena ini dan hal lainya,maka disyari’atkan kepada kita hal hal yang wajib dan nafilah ( sunat yang sangat dianjurkan).Sebagian syariat nafilah itu diserahkan kepada kita agar seseorang dapat mengambil,sesuai dengan kapsitas dirinya,kebutuhan hatinya, dan keadaan yang meliputinya.Allah berfirman :

 

 
بَلِ الا ِنْـساَنُ عَــلَى نَــفْسِــهِ بَــصِيْــرَةً . وَلَوْ اَلْـقَى مَــعاَ ذِيـرَهُ .

 

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.Dan meskipun dia

Mengemukakan alasan alasannya.” (Al Qiyamah(75):14-15)

 

 

Orang yang hidup dalm lingkungan yang kacau harus lebih gencar mencuci hatinya katimbang orang yang hidup dalam lingkungan mesjid misalnya.dan inilah sebagian hikmah, mengapa hal hal yang nafilah (sunat) tidak terikat;karena faktor tertentu, maka tingkat kebutuhan sesorang berbeda, ada yang sedikit ada Pula yang banyak.maka setiap orang hemdaklah mengatur segala urusan agar hatinya tetap dalam kondisi tertentu.Jika ia tidak memperhatikan hal itu maka bisa jadi tiba tiba hatinya tertutup, lalu makin tebal,tapi tetap tidak merasa.Karena itu setiap hari seseorang harus mencuci hatinya, dan sholat dianggap alat pencuci yang utama.Setiap rukun islam mempunyai peran dalam pencucian hati,tetapi sholat yang kontinyu sangat ampuh sekali mengkilapkan/menjernihkan hati dan jiwa,lebih lebih bila sholat ditunaikan dengan segenap kesempurnaan.Allah berfirman :

 

 

….. اِنَّ الصَّــلَو ةََ َ تَـنْهىَ عَـنِ الْفَـحْـشَآ ءِ وَالمُـنْــكَرِ……

 

“…..Sesungguhnya sholat itu mencegah dari hal hal keji dan mungkar……

(al-Ankabut /29:45)

 

 

Selain sebagai penghalang nafsu dari melakukan kekejian dan kemungkaran, sholat juga sebagai juga senagai pembasuh ruhani, karena pada dasarnya sholat harus dilakukan dalam suasana ruhani tertentu.Pasti menyimpan hikmah kebaikan jika sholat itu diwajibkan pada malam issro’ mi’roj tepatnya ketika mi’raj.Dari sinilah para ahli perjalanan menuju Allah berpendapat bahwa ketika seorang menunaikan sholat rohaninya naik melambung ke alam arwah.

 

Orang yang setiap hari membawa ruhaninya naik melalui shalat shalatnya, maka ia akan menjadikan ruhaninya benar benar suci.Jika seorang benar benar berdiri menegakkan shalatnya,seraya memperhatikan makna makna yang terkandung didalamnya,seperti sujud, rukuk,sholawat kepada nabi,memuji Allah,berdoa beristighfar dan membaca al qur’an sesungguhnya ia telah membersihkan ruhaninya.Jika seseorang melaksanakan sholat wardu dengan sempurnadan rapih ,maka berarti ia mencuci ruhani jiwa dan hatinya sebanyak lima kali.Jika sholat wajib dipadu dengan sholat sholat sunat, seperti sunat rawatib, witir, qiyamul lail, sholat dhuha, maka tak pelak lagi hatinya akan menjadi bersih dan berkilau.Tanpa pencucian yang terus menerus dengan sholat ruhani akan bertanbah kotor,jiwanya makin kusam dan hatinya kian menjadi gelap.

Ari Ibnu Mas’ud rahimaullah, dia menuturkan, rosulullah bersabda :

” Kalian akan terbakar, kalian akan terbakar !namun jika kalian sholat subuh,makaAkan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar,namun jika kalian sholat Dhuhur maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar namun jika kalian sholat as’ar maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar namun jika kalian sholat maghrib maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar Kalian akan terbakar namun jika kalina sholat ‘isya’ maka akan dicucinya, kemudian kalian tidur maka tiada keawjiban bagi kalian hingga kalian bangun .” (HR Tabrani )

 

Apabila wirid yang kontinyu itu menyatu dengan sholat maka proses pencucian akan makin besar pengaruhnya.Raosulullah saw mempunyai berbagi wirid yang menyatu dengan sholat sholatnya dan sungguh betapa banyak sholat dan wirid beliau.Dalam satu rekaat saja rosulullah memmbaca surat al baqarah. Al imron, an nisa’.

Ibnu Umar berkata :

“Dalam satu majlis (saja) kami hitung Rosulullah melafalkan doa:Rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwabur rohim (yaTuhanku ampunilah aku dan berilah aku taubat,sesungguhnyaEngkau maha pemberi taubat lagi penyayang ) “.(HR Abu dawud ,tirmidzi)

‘Aisyah berkata : “Rasulullah berdzikir kepada Allah dalam semua waktu “.

(HR Muslim)

Shalat, doa, dzikir selepas sholat, doa dan dzikir pada saat tertentu, doa dikala malam dan siang serta dzikir dzikir bebas semua itu bisa menopang pencucian dan pembersihan ruhani dan hati yang terus menerus.Namun jika melalaikan berarti tiada pembersihan,peringatan dan penerangan baginya hingga terkadang sampai kepada kekufuran.

Sesungguhnya sesorang yang menginginkan kesempurnaan ibadah dan ubudiyah, demi meraih hati yang tetap terang dan menerangi maka tiada jalan lain kecuali harus melazimkan wirid wirid harian yang dipadu dengan shalat.Seorang yang tidak punya pencucian harian yang kontinyu bagi hatinya, maka ia berada dalam bahaya.Maka setiap muslim hendaknya mengobati hatinya setiap hari, hingga ia selalu siap untuk berjumpa dengan Allah yang maha suci .Inilah keadaan yang kita warisi dari Rasulullah saw. Dan inilah yang harus dimiliki setiap Muslim khusunya yang ingin menempuh perjalanan menuju ALLAH.

27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 1

oleh alifbraja

SYARI’AT TAREKAT HAKEKAT

Dalam dunia tasawuf istilah tersebut diatas sangat populer;Syari’at Tarikat-Tarekat (Thariqat) Hakikat -Hakekat (haqiqat) adalah rangkaian sarana / jalan menuju Allah dan satu sama lain tidak bisa dipisahkan.Syeikh Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha,dalam syair hikmahnya mengatakan :

Inilah Jalan penghidupan keyakinan

Syari’at, tariqat, haqiqat menuju kemuliaan

Dengarlah yang tersirat dalam gambaran

Yang tersurat dalam bisikan.

Inilah gambaran jalan menuju Allah melalui Syariat, tariqat, haqiqat, melalui jalan ini seseorang akan mudah mengawasi ketakwaannya dan menjauhi hawa nafsu.Tiga jalan utama ini menjadi sarana bagi orang orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga tersebut.

Syari’at tanpa haqiqad, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga, menurut syeikh Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad ,Bagi orang yang beramal karena memperoleh surga,ada atau tidak adanya syari’at sama saja keadaannya,karena ia beranggapan;masuk surga itu semata mata anugerah Allah.dan inilah syariat yang kosong.

 

Haqiqat tanpa syari’at menjadi batal,Syeikh Ibn Muhammad Syatha mencontohkan :bila ada seorang yang memerintahkan sahabatnya mendirikan sholat, maka ia akan menjawab, mengapa harus sholat ?bukankah sejak zaman azali dia sudah ditetapkan takdirnya ? bila telah ditetapkan sebagai seorang yang beruntung,tentu ia akan masuk surga walaupun tidak shalat, sebaliknya apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang celaka maka ia akan masuk neraka walaupun mendirikan shalat.ini jalan yang salah.

Sayri’at adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan.Thariqat pelaksanaan dari peraturan hukum Allah ( syari’at).sedangkan Haqiqat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syari’at, sebagai tugas menjalankan firmanNYA

Kedudukan tiga jalan menuju Allah tersebut dijelaskan oleh syeikh Ibn Muhammad syatha;dalam syair hikmahnya :

Ibarat Bahtera itulah Syariat

Ibarat samudera itulah tharikqat

Ibarat mutiara itulah haqiqat

Syari’at ibarat kapal / bahtera, sebagai instrument, Tarekat ibarat lautan sebagai wadah yang mengantar tujuan.Haqiqat ibarat mutiara yang sangat berharga dan banyak mafaatnya.

Untuk memperoleh mutiara haqiqat, manusia harus mengarungi lautan /samudra yang sangat luas dangan ombak dan gelombang yang dahsyat.Sedangkan untuk mengarungi lautan itu,tidak ada jalan lain kecuali dengan kapal.

Rumi dengan indah memberikan deskripsi ketiga hal tersebut sabagai berikut :

Syari’at ibarat pelita;ia menerangi jalan,tanpa pelita kalian tak dapat berjalan, ketika sedang menapaki jalan kalian sedang menempuh tarekat, dan ketika telah sampai pada tujuan itulah hakekat.

1.SYARI”AT

Didlam eksiklopedi tasawuf disebutkan bahwa syari’at merupakan salah satu tahap praktek bagi calon sufi.keempat tahap lainya itu: syari’ah ( hukum keagamaan eksoterik ) tariqah (jalan mistik),haqiqah (kebenaran) dan ma’rifah ( pengetahuan ).

Syarat pertama adalah mengambil dan mengikuti syari’at;hukum Allah untuk kehidupan manusia,yang pada waktunya akan membawa seseorang ke sirat al mustaqim (yaitu jalan agama yang lurus.Jalan ini membawa sesorang ke dalam hakekat ( kebenaran akhir yang tak terbantahkan dan mutlak tentang seluruh eksistensinya ).

Syari’at dari akar kata syara’a yang berarti jalan.ia adalah jalan yang benar,sebuah rute perjalanan baik dan dapat ditempuh oleh siapapun.Sebagian besar sufi memahami syari’at dalam pengertian yang luas; mencakup ilmu dan seluruh ajaran islam.Syari’at bukan hanya sekumpulan kode atau peraturan yang mengatur tindak lahiri.Ia juga menjelaskan tentang keimanan, tauhid, cinta ,syukur,sabar,ibadah,zikir,jihad takwa.dan ihsan serta menunjukkan bagaimana mewujudkan realitas tersebut.semua doktrin sufi,secara implicit dan /atau ekplisit lahir dari sini.Syeikh Ahmad Sirhindi mengemukakan ; di dalam syari’at terkandung tiga hal yaitu : pengetahuan(ilmu),praktik ( amal)dan ikhlas.artinya meyakini kebenaran syari’at dan melaksanakan perintah perintahNYA dengan tulus dan ikhlas demi mendapatkan keridloan Illahi

Syari’at berisi ajaran moral dan etika yang menjadi dasar tasawuf.Syari’at memberi petunjuk kepada setiap orang untuk hidup secara tepat didunia ini.Mencoba menjalankan tasawuf tanpa mengikuti syari’at bagaikan membangun rumah berfondasi pasir.Tanpa dibangun kehidupan teratur yang dibangun dari prinsip moral dan etika yang kuat maka tidak ada mistisisme yang dapat berkembang.Kebutuhan terhadap syari’at sering diibaratkan dengan perahu nabi nuh yang harus dibangun dengan papan dan pasak.papan adalah ilmu dan pasak adalah amal.Tanpa perahu seseorang akan tenggelam dalam lautan keserbabendaan,sebagaimana putra nabi nuh yang menolak hukum yang dibawa ayahnya, karena itu didalam tasawuf syari’at sering dilihat sebagi bagian dari lipat tiga : syari’at, adalah jalan utama,yang cabangnya adalah jalan yang lebih sulit ( Tariqah) yang mengarah ke kebenaran ( haqiqah)

Dasar pokok ilmu syari’at adalah wahyu Allah yang tertulis jelas dalam Al-Qur’an dan sunah nabi Muhammad saw.ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah serta ibadah muamalah tercantum denga jelas dalam ilmu syari’at.

Siappun tidak boleh menganggap dirinya terlepas dari syari’at,walaupun ulama sufi besar dan piawi, atau wali sekalipun.Orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan syari’at untuk mencapai tarikah sangat sesat dan meneyesatkan..Karena syari’at itu seluruhnya bermuatan ibadah dan muamalah, maka menjadi satu paduan dengan thariqat dan haqiqat.Ibadah seperti itu tidak gugur kewajibanya, walaupun seorang telah mencapai tingkat wali..Bahkan ibadah syari’atnya wajib melebihi tingkat ibadah manusia biasa.Sebagaimana dicontohkan rosulullah saw,ketika mendirikan sholat dengan penuh kekhusukan dan begitu lama berdiri,ruku’dan sujudnya,sehingga dua kakinya bengkak karena dikerjakan dengan penuh kecintaan dan ketulusan.

Ketika nabi ditanya berkaitan dengan ibadahnya yang begitu hebat dan sungguh sungguh beliau menjawab : “Mengapa saya tidak menjadi hamaba yang bersyukur ?”Karena ibadah itu termasuk salah satu cara untuk mensukuri nikmat ALLah dan semua anugerahnya.Maka para sufiyah atau waliyullah tetap berkewajiban melaksankan ibadah syari’at yang ditaklifkan kepada setiap muslim dan muslimat..

Oleh karena itu wajib bagi penempuh jalan ruhani dan para penuntut ilmu ilmu islam secara intensive mempelajari ilmu syari’at.Sebab semua ilmu yang berkaitan erat dengan kehidupan dunia dan akhirat tergantung erat kepada ilmu syari’at. Ilmu tasawuf dengan pendekatan kebatinan ( ruhaniyah ) tetap tergantung erat dengan syari’at.Tanpa syari’at semua ilmu ruhaniyah tak ada artinya.

Hati para sufiah akan bersinar cemerlang dalam menempuh kehidupan ruhaniyah yang tinggi, haya akan diperoleh dengan ilmu syari’at. Demikian juga kemaksiatan batin dan pencegahanya yang sudah tercantum dari teladan nabi saw,semua tercantum dalam ilmu syari’at.

Ilmu tasawuf adalah bagian dari akhlaq mahmudah, hanya akan diperoleh dari uswah hasanahya nabi Muhammad saw.Cahaya yang bersinar dari kehidupan nabi muhammad saw adalah pokok dasar dari pengembangan ilmu tasawuf atau dasar pribadi bagi para penuntut ilmu tasawuf.Menurut nabi Muhammad saw hati adalah ukuran pertama penuntut ilmu tasawuf.dengan kesucian hati dan ketulusannya melahirkan akhlaq mahmudah dan mencegah akhlaq mazmumah,seperti yang diajarkan dalam sunah nabi Muhammad saw,sebagian dari ilmu syari’at. Dengan pengertian lain, hati manusia shufiyah itu akan ditempati oleh tariqat yang berdasarkan syari’at.

2.TAREKAT

Tarekat menurut bahasa berasal dari kata arab TARIQAH ( jama’:taruq atau tara’iq ) yang bararti jalan atau metode atau aliran (madzab).Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai ( wusul) kapada NYA.Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan aturan teretentu, dengan petunjuk guru atau mursid tarekat masing masing,agar berada sedekat mungkin dengan ALLAH swt.Ahli taswuf mengaitkan istilah tarekat dengan firmanNYA :”Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (tariqah) yang benar niscaya akan kami turunnkan ( hikmah)seperti hujan yang deras dari langit. (AL-Jin/72:16).

Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah merupakan zat yang maha suci,maka yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali dengan sesuatu yang suci.Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan tahapan spiritual ( maqomat).masing masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda beda,berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda pula. menurut AL Gazali langkah langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati ( tazkiyah al nafs ) adalah :Takhalli yaitu pengosongan hati dari selain Allah, Tahalli :yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat sifat terpuji, dan Tajalli ; yaitu;memperoleh hakekat dan penampakan Tuhan.

Metoda yang digunakan para suifi untuk mendekatkan diri kepada Allah berbeda beda,, sebagian mereka melalui cara selalu dalam keadaan zikir kepada Allah ( mulzamah al-dzikr), selalu melatih diri (riyadoh ),selalu bersunguhsungguh untuk membersihkan hati dari sifat sifat tercela dan hawa nafsu (mujahadah),sebagian yang lain melalui metoda tujuh yaitu; memperingati diri(musyaratah),mengawasidiri(muraqabah),intropeksi (muhasabah),menghukum diri (mu’raqabah ) kesungguhan lahir batin (mujahadah ),menyesali diri (mu’atabah) dan pembukaan hijab ( mukhasafah ).Serentak dengan itu mereka melintasi tingkatan tingkatan (maqamat) antara lain tobat, sabar,ridla,zuhud, muhatabah, dan ma’rifah.

Menurut syeikh Ajiba al hasani ; tarekat berarti bertujuan membereskan hati membereskan hati dengan tiga hal : ikhlas, jujur dan tenang ( tuma’ninah) atau bisa dikatakan membereskan hati dengan cara mengosongkannya dari kotoran kotoran jiwa dan menghiasinya dengan keutamakan.

Suatu ketika syeikh Baha’ al Din al naqsyabandi ditanya :apa tujuan tariqah ?,beliau menjawab :”tujuannya adalah mengetahui secara rinci apa yang baru engkau ketahui secara singkat, dan untuk merasakan dalam penglihatan apa yang telah engkau ketahui lewat penjelasan dan argument”.Tujuan tareqah adalah memperkuat keyakinan terhadap syari’at,menyakini kebenaranya, mematuhi jaran ajaranya dengan senang dan spontan,mengikis kemalasan dan meniadakan penentangan atas keinginan diri ( nafsu ).

Seluruh kegiatan Tariqah dapatlah dikatakan mengarah pada satu tujuan ; yaitu ma’rifat billah atau mengenal ALLAH.Ma’rifat billah adalah puncak tujuan dari perjalanan tariqat atau ajaran tasawuf.Dengan berbagai jalan, cara, atau metoda ,tariqah pada intinya adalah ingin menjadi orang selalu taqarub billah, ma’rifat billah dan sekaligus ingin menjadi orang yang dikasihi ALLAH atau yang dikenal dengan sebutan WALIYULLAH.

3.WAJIBKAH MENGIKUTI KELOMPOK TAREKAT TERTENTU

Ada semacam keyakinan kuat dalam masyarkat kita bahwa pengamal tariqat harus mengikuti orginasasi atau kelompok tarekat tertentu,sehingga dia dapat disebut pengamal tariqat jika ia telah memsuki suatu organisasi tarekat tertentu yang dibimbing seorang guru tertentu dan mempunyai tata cara menurut ajaran organisasi tersebut.Dengan demikian ada doktrin yang baku dan diyakini benar benar, bahwa seorang tidak bisa sampai kepada tujuan ibadat secara hakiki sebelum menempuh atau melaksanakan ajaran organisasi tariqoah tertentu.

Ust.Labib MZ (dalam Rahasia Ilmu Tasawuf ) perpendapat ; seorang pengamal tariqat tidaklah harus menjadi anggota kelompok jama’h tariqoh dalam aliran tertentu, namun seorang yang sudah melaksanakan ajaran islam secara murni dan konsekwen sudah termasuk melaksanakan tariqat.

Semua orang sesuai dengan profesinya dan kemampuanya dengan cara sendiri sendiri bisa dikategorikan pengamal tariqat.Dalam hal ini tariqat yang digariskan dalam syari’at tenytunya. Sebab tariqat yang tidak sesuai dengan syari’at adalah sesat.Tidak ada tariqat tanpa syari’at, tidak terwujud hakekat tanpa adanya syari’at. Seperti dikatakan syeikhZainudin bin Ali Al Malibari :” Bahwasanya Tariqat ( jalan menuju Allah yang ditempuh orang islamn ) adalah syari’at,tariqat, hakikat.Maka dengarkanlah contoh contoh dari ketiga tiganya “.

Jadi tarekat umat islam tak lain adalah syari’at islam itu sendiri.Dan umat islam yang mengamalkan syari’atnya berarti sudah mengamalkan tareqat,tak peduli apapun profesinhya, direktur dokter ,ulama, pengajar,kyai , ustaz, da’i ,pelajar, mahasiswa dan lainya.Jalan tariqah bisa ditempuh dengan berbagi macam jalan termasuk juga orang sudah mengususkan diri dengan memperbanyak zikir dan senantiasa bertaqarub kepada Allah,baik lewat organisasi tariqat tertentu atau tidak ,nilainya sama hanya cara dan bentuknya yang berlainan.

Syeikh Zainudin bin Ali al malibary dalam “Nadhom Hidayatul Adzkiya” mengatakan :”Dan bagi masing masing dari kaum ada sebuah jalan (tariqat,cara)dari beberapa jalan,yang dipilihnya, maka dari jalan ini mereka sampai.Seperti duduknya diantara manusia dalam keadaan mendidik, dan seperti memperbanyak wirid – wirid, puasa, solat. Dan seperti berkhidmad kepada manusia, membawa kayu bakar untuk bersedekah dengan uang yang dihasilkannya”.

Pada akhirnya seorang muslim tidaklah wajib mengikuti ataupun memasuki kelompok atau organisasi tarekat teretntu,(agar sampai kepada Allah ) tetapi wajib bagi umat islam untuk melaksanakan syari’at islam sebagi tariqat yang sah untuk menuju kepada ALLAH, sebagai bukti perwujudan keimanan kepada Allah. Apabila seorang muslim telah melaksanakan syari’at dengan benar dan sesuai petunjuk sunah rosul maka berarti sudah melaksanakan tariqat yang dilakukan oleh keksaih Allah, wliyullah.

4.HAKIKAT

Dalam eksiklopedi Tasawuf di terangkan ; Hakikat atau kebenaran adalah makna terdalam dari praktik dan petunjuk yang ada pada syari’at dan tarekat.Haqiqah menunjukan hakikat esensial segala sesuatu atau kebenaran., ia adalah pengalaman langsung akan kebenaran gaib.Tanpa pemahaman yang didasari pengalaman tersebut maka kita ditakdirkan untuk taklit, meniru mereka yang telah mencapai tingkat HAQIQAH, seperti laiknya sebuah mesin.Pencapaian pada tingkat haqiqah ini menegaskan dan memperkukuhkan prkatik dua tingkat pertama.Sebelum mencapai tingkat haqiqah, seluruh praktik merupakan bentuk peniruan .

Haqiqah ( kebenaran atau kenyataan seakar dengan kata Al haq, realty, absol ute).Makna haqiqah (hakikat) menunjukan kebenaran esoteric yang merupakan batas dari transendensi manusia dan teologis.Dalam pengertian ini haqiqah merupakan unsur ketiga setelah syaria’at (hukum) yang merupakan keyakinan eksoteris,tarikat (jalan)sebagai tahapan esoterisme,yang ketiga ialah haqiqah yakni kebenaran esensial.

Haqiqah adalah kemampuan seorang dalam merasakan dan melihat kehadiran Allah di dalam syari’at .Dalam dunia sufi haqiqah diartikan sebagai aspek batin dari syari’at,sehingga haqiqah adalah aspek yang paling penting dalam setiap amal,inti, dan rahasia dari syari’at ; merupakan tujuan setiap penempuh jalan menuju ALLAH ( salik).

27 Oktober 2012

ARTI DAN DIFINISI RUH

oleh alifbraja

Ruh ada pada diri manusia, tanpa ruh berarti mati, tubuh tak bergerak dan seluruh bagian tubuh tak berarti.Ada kehidupan maka ada ruh dalam tubuh kita.Salah satu bagian yang dekat dengan diri kita adalah RUH,sehingga kita perlu mengetahui tentang bagian dari diri kita ini.Oleh karenya mengetahui tentang ruh perlu untuk bekal perjalanan menuju Allah.

Lalu apa ruh itu, kalau ada dari mana dia ,ada dimana, dan kemana setelah tubuh ini mati, ruh keluar dari tubuh, bagaimana keadaan ruh setelah diluar tubuh atau bagaimana keadaan sebelum di tiupkan dalam tubuh,dan apa peran ruh dalam diri kita sehingga berperan dalam perjalanan menuju ALLAH SWT.

Ketika memperhatikan seorang saleh yang berjalan menuju Allah,kami mendapat pengalaman banyak tentang ruh dan inilah salah satu faktor yang mendorong saya untuk mengetahui apa sebenarnya ruh

Bertanya tentang ruh sering kali di jawab dengan dalil firman Allah : dalam surat al isyra’ ’85 :

وَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً –

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh”itu termasuk urusan Tuhan-ku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”

Ini sering dijadikan landasan bahwa ruh adalah urusan Tuhan manusia tak usah tahu,lalu apakah dosa bila orang seperti saya ingin tahu benar tentang ruh sebagai jawaban pertanyaan pengalaman dalam perjalanan menuju Allah.lama saya tidak punya jawaban .Alhamdulillah Allah memberi jalan beberapa karya besar ulama ternyata ada yang membahas mengenai ruh.

Syeikh Ali akhmad Abdul ‘Al Ath- thahthawi dalam karyanya :RU’YAL AHYA LIL AMWAT” telah diterjemahkan oleh Ustaz Masrokhan Ahmad.(terima kasih kepada uztad dan penerbit citra risalah ;buku ini banyak memberikan keterangan pertanyaan saya)dan saya merasa nyaman membaca buku ini.karya ulama lainya yang memberi keterangan tentang ruh adalah ;Tarbiyah Ruhiyah ,Syeikh Sa’id Hawa, “Sirr al asrar fiima Yahtaj Ilahyah al abror .karya syeikh abdul qadir al jilany, “Wahabiyah fi al mizan ;syeikh Ja’far subhani, dan tentu saja IHYA ‘Ulumuddin Syeikh Imam al Gazali.

Tulisan selanjutnya tentang RUH merujuk dan mengutip karya tersebut diatas dan bermaksud memotivasi saudara dan sahabat saya untuk mengatahui lebih jauh tentang ruh dan alam gaib.siapa tahu dalam perjalan menempuh jalan Allah mendapatkan pengalaman tersendiri menganai ruh dan alam gaib,sehingga menyaksikan sendiri apa yang dibicarakan karya ulama tersebut.

Syeikh akhmad ‘abdul’ath thahtawi berpendapat. Sesungguhnya tidak ada larangan dalam agama untuk berusaha mengungkap hakekat ruh.namun ia tetap merupakan rahasia yang tidak dibukan Allah,keseluruhan.Selanjutnya beliau menjelaskan ;Ruh adalah suatu kekuatan yang menumbuhkan kehidupan di alam ini,baik pada tumbuhan, binatang maupun manusia.Namun ia lebih dominan pada sesuatu yang bergerak dan memiliki kepekaan, mempunyai akal dan dapat berpikir, yakni binatang dan manusia.

Imam al Alusi menyebutkan ada seribu pendpat di kalangan para peneliti mengenai ruh.Menurut beliau ada dua pendapat yang paling kuat dan yang terkuat adalah ; RUH merupakan jisim ruhani yang tinggi dan hidup, berlawanan dengan jisim yang dapat diraba.RUH itu berjalan pada jisim tidak dapat diurai dan tidak dapat dibagi.Ia meniupkan kehidupan pada jisim selama jisim itu layak menerimanya.Ibnul Qayyim sangat setuju dengan pendapat ini,Beliau mengatakan inilah pendapat yang benar sedangkan pendapat yang lain tidak benar.Pendapat ini sesuai dengan Al kitab, sunnah dan ijma’ para sahabat.bahkan juga sesuai dengan dalil aqli.Meski demikian pendapat ini belum bisa mengungkap secara jelas tentang hakekat ruh.

Syeikh Said hawa Rahimaullah mendifinsikan RUH mempunyai dua arti,pertama nyawa yaitu alat jasmani yang halus bersumber dari rongga hati inderawi (jantung).Ia menyebar dengan bantuan urat yang berdenyut ke seluruh tubuh ,mengalir dalam badan dan mencurahkan cahanya kehidupan,perasaan, penglihatan,pendengaran dan indera penciuman.Kehidupan manusia diibaratkan cahaya yang bersumber dari sebuah lampu.Ruh diibaratkan lampu .Curhan cahaya kehidupan seperi curahan sinar lampu yang menyinari setiap sudut rumah.

Makna kedua ,Ruh adalah kehalusan rohani yang ada pada diri manuasia yang berfungsi mengetahui dan memahami.inilah yang dimaksuh pengetian Ruh menurut para dokter dan sering disebut NYAWA.

25 Oktober 2012

Hakikat Basmalah Menurut Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi

oleh alifbraja

Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur’an. Dan seluruh kandungan Al-Qur’an ada di datam Al-Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al-Fatihah ada di dalam Bismillnahirrahmaanirrahiim.”

 

Bahkan disebutkan dalam hadits lain, “setiap kandungan yang ada dalam Bismillahirrahmaanirrahiim ada di dalam huruf Baa’, dan setiap yang terkandung di dalam Baa’ ada di dalam titik yang berada dibawah Baa’”.

Sebagian para Arifin menegaskan, “Dalam perspektif orang yang ma’rifat kepada Allah, Bismillaahirrahmaanirrahim itu kedudukannya sama dengan “kun” dari Allah”.

 

Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Bismillahirrahmaanirrahiim banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahwu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur’an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-huruf yang ada dalam huruf Baa’, manfaat dan rahasianya.

 

Tujuan kami bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada esensi atau hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, Pembahasannya akan saling berkelin dan satu sama lainnya, karena seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.

 

Kami memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas. Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa’ adalah awal mula setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun darititik, dan sudah semestinya setiap Surat ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala.

 

Kerangka hubungan antara huruf Baa’ dengan Tititknya secara komprehensfih akan dijeaskan berikut nanti. Bahwa Baa’ dalam setiap surat itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Basmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Baqarah. Huruf Baa’itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Karena itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur’an mesti diawali dengan Baa’ sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul  lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa’, akhirnya pada titik.

 

Hal yang sama , Allah SWT dengan seluruh yang ada secara paripurna sama sekali tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Titik sendiri merupakan syarat-syarat dzat Allah Ta’ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya ketika dalam penampakkan-Nya terhadap mahlukNya.

 

Amboi, titik itu tidak tampak dan tidak Layak lagi bagi anda untuk dibaca selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala batasan, dari satu makhraj ke makhraj lainya.

 

Sebab ia adalah jiwa dari seluruh huruf yang keluar dari seluruh tempat keluarnya huruf. Maka,camkanlah, dengan adanya batin dari Ghaibnya sifat Ahadiyah.

 

Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa’ dengan dua tik, lalu Anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’, maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik itu sendiri. Sebab Taa’ bertitik dua, dan Tsaa’ bertitik tiga tidak terbaca,karena bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya Anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-masing dibedakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah.

 

Bahwa Anda mengenal-Nya dari makhluk sesungguhnya Anda mengenal-Nya dari Allah swt. Hanya saja Titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada ttik tersebut. Ada sebagian yang tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf tanpa Titik. Karena huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif lebih mulia dibanding Baa’,karena Titiknya justru menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa’ itu sendiri tidak tampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa’ tidak akan tampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Karena Titik suatu huruf Merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara penyatuan itu sendiri mengindikasikan adanya faktor lain, yaitu faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.

 

Huruf Alif itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda bisa mengatakan bahwa Baa’ itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya, adalah Alif dibengkokkan’ dua ujungnya. Daal adalah Alif yang yang ditekuk tengahnya.

 

Sedangkan Alif dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat Masing-masing huruf tersusun dari Titik. Sementara Titik bagi setiap huruf ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif dengan kerangkanya seperti kedudukan Titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’ adalah Alif yang terdatarkan.

 

Demikian pula Hakikat Muhammadiyyah merupakan inti dimana seluruh jagad raya ini diciptakan dari Hakikat Muhammadiyah itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt. menciptakan Ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari Ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw. adalah Sifat Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah.

 

Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra’kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan Singgasana Ar-Rahman. Sedangkan huruf Alif, —walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif merupakan manifestasi Titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya — Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah Titik tidak lain kecuali berada satu derajat. Karena dua Titik manakala disusun dua bentuk alif, maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.

 

Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif,seperti huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya memanjang, tengahnya juga memanjang namun pada pangkalnya yang pertama lebar. Masing-masing ada tiga dimensi. Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik , tidak punya bentangan. Hubungan Alif diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya yang paripurna. Karenanya Alif mendahului semua huruf.

 

Diantara huruf-huruf itu ada yang punya Titik di atasnya, ada pula yang punya Titik dibawahnya,Yang pertama (titik di atas) menempatip osisi “Aku tidak melihat sesuatu sebelumnya) kecuali melihat Allah di sana”.

 

Diantara huruf itu ada yang mempunyai Titik di tengah, seperti Titik putih dalam lobang Huruf Mim dan Wawu serta sejenisnya, maka posisinya pada tahap, ”Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya.” Karenanya titik itu berlobang, sebab dalam lobang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri Lingkaran kepada kepala Miim menempati tahap, “Aku tidak melihat sesuatu” sementara Titik putih menemptai “Kecuali aku melihat Allah di dalamnya.”

 

Alif menempati posisi “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Alllah.” Kalimat “sesungguhnya” menempati posisi arti “Tidak”, dengan uraian “Sesungguhnya orang-orang berbaiat” kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah.”

 

Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibaiat, lalu dia bersyahadat kepada Allah pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Artinya, kamu sebenarnya tidak berbaiat kepada Muhammad saw.  tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt. Itulah arti sebenarnya dari Khilafah tersebut.

 

Menurut Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, “Tafsirul Qur’anil Karim” menegaskan, bahwa dengan (menyebut) Asma Allah, berarti Asma-asma Allah Ta’ala diproyeksikan yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta’ala. Sedangkan wujud Asma itu sendiri menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.

 

Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi Sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian “Tidak membuat penyifatan”.

 

“Ar- Rahman” adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan keparipurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah. dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.

 

“Ar-Rahiim” adalah yang melimpah bagi keparipurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Karena itu sering. disebutkan, “Wahai Yang Muha Rahman bagi Dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat”.

 

Artinya, adalah proyeksi kemanusiaan yang sempuma, dan rahmat menyeluruh, baik secara umum maupun khusus, yang merupakan manifestasi dari Dzat Ilahi. Dalam konteks, inilah Nabi Muhammad saw. Bersabda, “Aku diberi anugerah globalitas Kalam, dan aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (menuju) paripurna akhlak”.

 

Karena. kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakilkat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Isa as, disebut sebagai Kalimah dari Allah, sedangkan keparipurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagad kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi – alaihimus salam – meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud. Kenyataan ini bisa djtemukan dalam periode! Isa as, periode Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.

 

Disebutkan, bahwa Wujud ini muncul dari huruf Baa’ dari Basmalah. Karena Baa’ tersebut mengiringi huruf Alif yang tersembunyi, yang sesungguhnya adalah Dzat Allah. Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang merupakan makhluk awal dari Ciptaan Allah, yang disebutkan melalui firman-Nya, “Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan ketimbang dirimu, dan denganmu Aku memberi. denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa”. (Al-hadits).

 

Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf. Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.

 

Delapan belas huruf mengisyaratkan adanya alam-alam yang dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Karena huruf Alif merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah. Alif merupakan induk dari seluruh strata yang tidak lagi ada hitungan setelah Alif. Karena itu dimengerti sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit., dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bagian-bagian tersendiri.

 

Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan Alam Kemanusiaan. Walau pun masuk kategori alam hewani, namun alam insani itu menurut konotasi kemuliaan dan universalitasnya atas seluruh alam dalam bingkai wujud, toh ada alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.

 

Tiga Alif yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan perunjuk pada Alam Ilahi Yang Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af ‘aal. Yaitu tiga Alam ketika dipisah-pisah, dan Satu Alam ketika dinilai dari hakikatnya.

Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan manusiawi.

 

Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya soal Alif yang melekat pada Baa’, “dari mana hilangnya Alif itu?” Maka Rasulullah saw, menjawab, “Dicuri oleh Syetan”.

 

Diharuskannya memanjangkan huruf Baa’nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar. Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan bisa dikenal kecuali oleh ahlinya. Karenanya, dalam hadist disebutkan, “Manusia diciptakan menurut gambaran Nya”.

 

Dzat sendiri tersembunyikan oleh Sifat, dan Sifat tersembunyikan oleh Af’aal. Af’aal tersembunyikan oleh jagad-jagad dan makhluk.

Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajallinya Af’aal Allah dengan sirnanya tirai jagad raya, maka ia akan tawakkal. Sedangkan siapa yang meraih Tajallinya Sifat dengan sirnanya tirai Af’aal, ia akan Ridha dan Pasrah. Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan terbukanya tirai Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan meraih Penyatuan Mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi tidak membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim”.

 

Tauhidnya af’aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya, “Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu”.

 

Tafsir ini dikutip dari Tafsirul Qur’anil Karim, karya Ibnu Araby

23 Oktober 2012

KUN ALLAH

oleh alifbraja

Allah mencipta alam dengan KUN, dan binatang di laut dan di bumi.
dan mahluk gaib lainnya dengan KUN . Tetati Allah menciptakan ADAM TIDAK DENGAN KUN Melalui anasar2 setelah api angin air tanah, di himpun Para malaikat
lalu allah menerintah kan para malaikat : Wahai malaikat? Ciptakan Adam Seperti Rupaku: setelah adam di bentuk seperti rupanya, ditupkan roh adam bersin saja.. adam tidak hidup kemelut terjadi.

allah berkata kepada malaikat, Wahai malaikat: Aku ingin Rahasia di diri adam sekarang
Allah Bertajali penuh kepada adam Gaib di diri adam, pi ahsania takwin, Sempurnalah kejadian adam . Lalu Bersujudlah para Malaikat kepada adam selaku halifah..hanya iblis yang tidak melihat rahasia allah tersebut.

kesimpulan Gaibnya diri kita di sulbi Adam. sulbi nuh ibrahim sampai sulbi abdullah. adapun titisan titik Zat itu memancarnya. sampai ke sulbi orang tua kita. hadirlah kita2 jadi sebenarnya di dunia kampung allah dilanjutkan, di akhirat /surgapun kampung allah yang kekal Abadi.

Kesimpulan:

1_zat allah Adalah perbendaharaan Yang tersembunyi roh kita sekalian jadi kita semua ikut andil menciptakan Alam semesta ini. sewaktu semua perbendaharaan mengucapkan KUN .
2_Allah ingin mengenalkan per bendaharaannya,
3_allah ingin melihat dirinya.
4_Zat allah berubah nama : pertama zat ke dua Nur Muhammad ke tiga Adam. sebenarnya dia juga yang yang nampak maupun tersembunyi/bathin.

Adapun:tajali
Jadi tajali Allah kepada hamba: sesuai amanah nya.
tajali Malaikat kepada alam yang diperindah allah sesuai perintahnya.
tajali titik kepada kitab/ alif, untuk petunjuknya.

salam alika

23 Oktober 2012

ARTI RAHASIA SURAH AL-FATEHAH_al ikhlas

oleh alifbraja

puji qadim bagi qadim

Bismilah : Allah menamai akan dirinya
Arrahman : Ya Muhammad aku menciptakan engkau.
Arrahim : Ya Muhammad aku mengatakan Rahasiaku kepadamu
Alhamdulillahi : Ya Muhammad, sembahyangku itu ganti sembahyangmu untuk memuji diriku.
Rabbil Alamin : Ya Muhammad, aku tau yang lahir dan yang bathin.
Arrahmannirrahim : Ya Muhammad, Yang membaca fateha itu aku dan sembahyang itu aku memuji diriku.
Maliki Yaumiddin : Ya Muhammad, Aku Tuhan yang maha besar pada isi sekalian alam, kamu ganti kerajaanku.
Iyya Kana? Budu : Ya Muhammad, tiada lain yang sembahyang itu melainkan aku memuji diriku.
Waiyyakanas Ta?in : Ya Muhammad, yang ghaib aku jua tiada aku engkau ganti kerajaanku.
Ihdinasshirathal Mustaqim : Ya Muhammad, tiada yang tau???engkau jua yang mengetahui aku.
Shiratallazi Na?an Amta?Alaihim : Ya Muhammad, tiada murka aku kepadamu, tiada nyata aku jika tiada engkau.
Waladdhallin : Ya Muhammad, jika tiada kasihku tidak ada engkau dan tiada Rahasiaku sekaliannya.
Amin : Ya Muhammad, adamu itu ganti Rahasiaku.

ARTI RAHSIA SURAH AL-IKHLAS DIALUH QUDSI:
Qul Huwallahu Ahad : Aku nyata dengan dirimu.
Allahus shamad : Aku jadi penolong dunia dan akhirat
Lam Yalid Walam Yulad : Aku Esa Ghaib kepadamu.
Walam Yakul Lahu Kupuan Ahad : Aku nyata dengan dirimu

INILAH PUJI QADIM BAGI QADIM = serahasia

Kias rabbul faroei ..marifat dan kedekatan Allah dengan hambanya:
Allah umpama Kapas
Roh umpama benang
Hamba Umpama Kain
Jadi Terdindingnya hamba dengan allah seperti kain tidak mengenal kapas
seperti benang tdak mengenal kapas.
pertanyaan apakah ada tempatnya kapas tidak didalam kain tdk juga diluar kain
tdk juga dikanan juga tdk dikiri tdk juga diatas tdk juga dibawah kain tetapi
mesra mulai titik bi ajalnya..sebenar2nya kain adalah melulu kapas.. kain dan benang hanya nama saja..serupa tidak sebanding..
dandisaat mana kita .. menyakdsikan allah diaat didlam kandungan.dan disaat marifat
dan disaat mau berpulang kerahmatullah. jelaslah kalau kita tdk mengenal allah jelaslah
dia tdk hadir juga tdk disaat skarotal maut?masya allah
barang sesuatu tdk di kenal akan musstahil bisa dingat..atau di sembah atau penyaksian..
ber arti hanya iman2 sangka belaka tau hayal sedangkan allah sipatnya ada sedangkan adam
sipatnya tiada dan leman..
salam,mudahan ada bayangan dan besar mamfaat
diri

%d blogger menyukai ini: