Posts tagged ‘mukadimah’

21 Juli 2012

URGENSI KEHADIRAN NABI DAN RASUL

oleh alifbraja

URGENSI KEHADIRAN NABI DAN RASUL

 
 

 

           

Persoalan yang paling mendasar sehubungan dengan masalah kenabian adalah apa tujuan Tuhan mengutus para nabi dan rasul kepada umat manusia di muka bumi ini?              Sebagai mukadimah perlu diketahui bahwa Tuhan mengutus dua bentuk rasul kepada umat manusia. Yang pertama adalah rasul yang bersifat lahiriyah, yaitu berupa para rasul dan para nabi yang diutus Tuhan untuk memberikan bimbingan langsung kepada seluruh umat manusia.

Rasul Tuhan yang kedua adalah rasul batin, yaitu akal pikiran. Karena tanpa akal, kita tidak akan bisa menerima ajaran, petunjuk, dan syariat yang bersumber dari para rasul lahiriah tersebut. Sebelum Tuhan menurunkan berbagai kewajiban dan amanah kepada segenap hamba-Nya, baik yang berupa perintah maupun larangan, terlebih dahulu Tuhan menurunkan hujjah-Nya kepada umat manusia, yaitu hujjah yang berupa akal pikiran.

Tujuan hakiki pemberian akal pikiran atau rasul batin kepada semua manusia ini adalah mereka dapat menerima kedatangan hujjah lahir yang berupa nabi dan rasul.

Sehubungan dengan masalah kenabian ini, barangkali kita bertanya, masih perlukah kita seorang rasul? Bukankah Tuhan telah memberikan kita akal pikiran sebagai rasul batin-Nya? Apakah akal pikiran kita tidak cukup untuk mencapai kesempurnaan insani, kebahagiaan di dunia, dan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak? Apakah ilmu pengetahuan yang begitu maju dan modern tidak cukup menjamin manusia untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin?

Untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, di dunia dan di akhirat, tidak cukup hanya mengandalkan akal pikiran. Tanpa bimbingan dan petunjuk seorang rasul dan nabi umat manusia tak akan bisa mencapai kesempurnaan insani. Dengan kata lain, meskipun ilmu pengetahuan sudah begitu maju dan pesat, berbagai sarana dan peralatan telah dibuat dengan sangat canggih dan modern, akan tetapi umat manusia masih tetap memerlukan seorang nabi atau pelanjut risalahnya untuk membimbing dan menuntun mereka, untuk menjelaskan ajaran dan syariat yang bersumber dari Tuhan. Karena, akal manusia sangat terbatas jangkauannya untuk memahami ajaran Tuhan. jika kita perhatikan bahwa semakin maju ilmu dan pengetahun manusia, semakin canggih dan modern sarana yang mereka buat, justru kondisi mereka semakin tidak karuan, terjadi pertikaian sesama umat manusia, pembunuhan, pencurian, perampokan, dan peperangan yang terjadi di banyak tempat dan negara. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuannya dan berbagai sarana dan alat-alat yang canggih dan modern sekalipun.

Undang-undang apapun yang dibuat oleh manusia untuk mengatur perdamaian, ketentraman, dan hidup berdampingan dengan bahagia, tidak akan cukup kecuali diutus seorang rasul dan nabi dari sisi Tuhan.

Kalau boleh diumpamakan bahwa akal kita ini seperti lampu yang mempunyai kekuatan 5 watt. Lampu yang hanya memiliki kekuatan 5 watt itu paling-paling hanya bisa menerangi satu ruangan saja. Atau katakanlah, akal kita seperti lampu yang memiliki daya 50 watt atau 100 watt ataupun 1000 watt. Sebanyak dan setinggi daya sebuah lampu, tetap masih terbatas menerangi lingkungan dan ruangan yang sangat terbatas. Sebuah lampu, setinggi apapun dayanya, tidak akan mampu menerangi areal yang luasnya sekampung ini, apalagi sejagad raya ini. Ketika kita memerlukan penerangan yang lebih jauh dan luas, kita tidak mungkin menggunakan lampu yang dayanya hanya 50 watt. Untuk menerangi sebuah negara ini, atau beberapa negara, atau untuk menerangi muka bumi ini, kita memerlukan sinar matahari. Jadi bukan lagi lampu yang memili daya 1000 watt.

Nah, akal pikiran kita seperti lampu yang paling tinggi memiliki daya dan kekuatan 1000 watt tersebut. Tetapi seorang rasul atau nabi yang mempunyai peran dan tugas sebagai pembimbing, sebagai penuntun umat manusia, dan penjelas syariat Islam serta undang-undang dan hukum-hukum yang datang dari Tuhan, bagaikan sinar matahari yang tidak seorang pun yang tidak membutuhkannya. Semua umat manusia, bahkan seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini, memerlukan sinar matahari. Tanpa kehadiran sinar matahari, kita tidak akan bisa bekerja, dan kita senantiasa berada dalam kegelapan.

Dengan demikian, seorang rasul atau nabi itu, bagaikan sinar matahari yang menerangi seluruh alam ini. Dan tanpa sinar matahari, kita berada dalam kegelapan dan kita tidak dapat menjalani aktivitas sehari-hari. Tanpa penerangan sinar matahari, kita akan tersesat dan terjerumus ke dalam lembah yang curam. Kita memerlukan adanya seorang nabi, rasul, dan para Imam sebagai penerusnya, dan adanya para ulama yang bertugas membimbing umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Karena, akal sangat terbatas dan ilmu sangat sedikit, maka kita memerlukan adanya keteladanan, suri teladan, dan contoh dari seorang rasul, nabi, dan imam yang akan mempraktikkan segala perbuatan baik di dunia ini secara terperinci.

Oleh karena itu, tujuan kehadiran seorang rasul, nabi, dan para Imam serta para ulama di tengah-tengah umat manusia adalah untuk memberikan contoh dan suri tauladan yang baik kepada umat manusia agar amal perbuatan mereka itu dapat ditiru. Gerak-gerik mereka, perbuatan, ucapan, dan seluruh kehidupan mereka merupakan contoh buat seluruh umat manusia.

Sejarah mencatat bahwa telah diutus seorang rasul atau nabi, misalnya Nabi Muhammad Saw yang diutus kepada umatnya, di samping sebagai penjelas dan penerang al-Quran dan syariat Tuhan, beliau juga memberikan contoh kepada seluruh umatnya. Tuhan berfirman di dalam kitab suci al-Quran surat al-Ahzab ayat 33, “Sesungguhnya kehadiran seorang rasul, seorang utusan Tuhan di tengah-tengah kalian, adalah sebagai suri tauladan dan contoh yang baik bagi orang-orang yang ingin berjumpa dengan Tuhan dan hari akhirat dan banyak mengingat Tuhan.”

Dari ayat al-Quran ini bisa dipahami bahwa orang-orang yang tak menginginkan keselamatan dan kebahagiaan, bahkan menginginkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat, tentu mereka tidak akan mau mencontohi rasul, tidak akan mau meneladani para Imam, dan para ulama yang shaleh.

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita ambil dari uraian di atas adalah bahwa kita tetap memerlukan adanya seorang nabi atau rasul. Karena akal pikiran kita sangat terbatas untuk bisa memahami segala hakikat secara mendetail.

Setelah dipahami dan diyakini perlunya utusan seorang nabi atau rasul sebagai pembimbing, kemudian bagaimana Tuhan memilih para nabi-Nya dan rasul-Nya?

Tuhan memiilih pembimbing umat manusia dengan ilmu-Nya yang esensial. Mereka adalah orang-orang yang akan menepati janji dan mampu menjalani berbagai ujian Ilahi serta siap menyampaikan risalah Tuhan dengan jujur dan setulus hati. Jadi, sebelum mereka ditetapkan dan diangkat oleh Tuhan sebagai nabi atau sebagai rasul, Tuhan telah  mengetahui bahwa mereka akan menepati janji mereka, menjalankan semua perintah Tuhan, dan akan meninggalkan semua larangan-Nya. Jadi, melalui ujian-ujian itu dan dengan ikhtiar mereka, dengan kemauan, dan kesungguhan yang tinggi, mereka meraih kedudukan yang begitu mulia dan tinggi di sisi Tuhan.

Tuhan memilih para pelanjut risalah Nabi Muhammad Saw. ketika mereka menepati janji mereka dengan ikhtiar, dengan kehendak dan kemauan mereka, dan mereka dengan penuh kesabaran menerima dan menjalani  berbagai ujian dari Tuhan, maka ketika mereka lulus, mereka dipilih menjadi manusia yang sangat mulia dan utama di sisi Tuhan.

Tuhan memberikan syarat-syarat yang amat ketat kepada mereka, yaitu bersifat zuhud di dalam kehidupan dunia yang rendah ini dan di dalam semua kehidupan mereka, menjalankan semua perintah Tuhan, menjauhi semua larangan-Nya, meninggalkan yang mubah dan makruh.

Kesimpulannya adalah para nabi, rasul, dan para pelanjutnya, telah dipilih oleh Tuhan dengan seleksi yang ketat, dan Tuhan mengetahui siapa-siapa yang menaati dan memenuhi janji-Nya itu. Kebanyakan dari manusia tidak dipilih oleh Tuhan untuk mengemban tugas berat tersebut. Kita misalnya, tidak termasuk orang-orang pilihan yang sangat mulia itu. Kita tidak terpilih menjadi nabi, rasul, dan Imam karena Tuhan tahu bahwa kita tidak akan kuat menerima berbagai ujian berat dari-Nya. Kita tidak mampu menyampaikan risalah Tuhan kepada umat, karena itu kita tidak terpilih.

Perlu diketahui bahwa untuk mencapai derajat kenabian yang bersifat umum (an-nubûwwah al-‘âmmah), pintu dan kesempatan itu senantiasa terbuka bagi umat manusia tanpa terkecuali. Yang ditutup hanyalah an-nubûwwah at-tasyri’iyah, yakni kenabian yang bersifat utusan resmi Tuhan dalam menyampaikan agama dan syariat-Nya. Syariat dan agama resmi tidak dihadirkan lagi kepada siapa pun, karena telah ditutup oleh Tuhan dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw.

Jadi, an-nubûwwah al-‘âmmah ini tidak pernah tertutup hingga hari kiamat, ia terbuka untuk siapapun yang mempunyai kemauan tinggi dan potensi untuk mencapainya.

Dalam riwayat dijelaskan bahwa ujian yang paling berat adalah ujian para nabi dan rasul, kemudian ujian orang-orang setelahnya, sampai pada peringkat yang lebih rendah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi imannya, semakin banyak ibadahnya, dan lebih taat dan pasrah dalam menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, maka semakin tinggi pula ujiannya. Karena dengan ujian-ujian itu, imannya akan meningkat, begitu pula kedekatan dan taqarrub-nya kepada Tuhan.

Para nabi dan rasul adalah utusan dan duta-duta Tuhan untuk membimbing umat manusia dan menyampaikan pesan-pesan dari Tuhan kepada mereka. Kalau boleh saya umpamakan bahwa para nabi dan rasul itu, sebagaimana para duta besar yang diutus oleh seorang Presiden ke berbagai negara yang diberi tugas menyampaikan pesan-pesannya dan membimbing masyarakat yang tinggal di negara yang bersangkutan. Seorang Presiden dalam memilih duta-dutanya sangat ketat. Ia memilih mereka dengan pengetahuan yang cermat. Dan mereka yang terpilih, tentunya orang-orang yang telah memenuhi beberapa persyaratan yang sangat ketat.  Demikian halnya dengan orang-orang yang dipilih oleh Tuhan sebagai nabi dan rasul-Nya. Jadi, sebagaimana tidak semua orang itu berhak menjadi nabi dan rasul, maka demikianlah, tidak semua orang berhak menjadi duta besar suatu Negara.

Telah jelaskan bahwa tugas dan kewajiban para nabi dan rasul adalah untuk membimbing umat manusia menuju jalan lurus dan  menghantarkan mereka kepada kebahagiaan yang kekal-abadi dan lahir-batin. Tugas dan tujuan lainnya adalah untuk mensucikan umat manusia dari akhlak yang buruk dan adat istiadat yang merusak. Tanpa adanya bimbingan dari para nabi, para rasul, dan para Imam, maka akhlak umat manusia seperti binatang dan adat istiadat mereka menjadi rusak.

Perlu diketahui bahwa kita sekarang ini sedang berjalan menuju kepada kesempurnaan insaniah. Dengan kata lain, kita sedang berusaha mencapai kebahagiaan akhirat yang abadi. Atau lebih tinggi lagi, kita tengah berusaha untuk mencapai taqarrub dan kedekatan kepada Tuhan dengan mencapai ridha-Nya. Hanya dengan bantuan Rasul, para Imam, dan para ulama kita bisa mencapai derajat yang tinggi di sisi Tuhan, di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Jadi, cara memperoleh kebahagiaan yang sejati dan abadi di dunia dan di akhirat, di samping dengan akal pikiran juga utusan rasul, nabi, Imam, dan ulama yang adil.

Sehubungan dengan masalah penentuan dan pemilihan seorang rasul atau nabi, dari  penjelasan di atas dapat dipahami bahwa  umat manusia itu tidak berhak sama sekali untuk memilih dan menentukan seorang nabi. Karena mereka tidak akan mampu. Dengan demikian, maka tidak seorang pun yang berhak menolak kehadiran seorang rasul atau nabi yang telah dipilih oleh Tuhan. Dan tidak seorang pun berhak untuk menolak segala syariat dan hukum-hukum yang dibawa oleh mereka itu. Karena kedatangan dan kehadiran mereka di tengah-tengah uamat manusia, demi kebaikan, kemaslahatan, dan kebahagiaan mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka harus kita terima, mengikuti, dan mengamalkan ajarannya dengan bimbingan mereka. jika hal ini dikerjakan dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka pasti akan selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat kelak.

 

Perbedaan Nabi dan Rasul

Masalah lain yang perlu disinggung sehubungan dengan masalah kenabian ini adalah tentang perbedaan antara nabi dan rasul.

Ada beberapa pandangan mengenai perbedaan antara nabi dan rasul. Di antaranya dikatakan bahwa nabi itu lebih umum daripada rasul. Karena nabi itu tidak mempunyai kitab samawi tertentu, tetapi rasul itu mempunyai kitab tertentu, seperti al-Quran, Taurat, Zabur dan Injil. Dengan kata lain ada titik persamaan antara nabi dan rasul, yaitu sama-sama ditugaskan untuk menyampaikan hukum-hukum dan syariat Tuhan kepada umat manusia dan membimbing mereka kepada akhlak yang baik serta mengatur urusan mereka baik politik, ekonomi maupun sosial. Perbedaannya hanyalah bahwa nabi itu tidak memiliiki  kitab samawi tertentu, sementara rasul itu memiliki kitab samawai tertentu. 

Tetapi pandangan yang tepat menurut Ali Ghulbayghani adalah bahwa sesuai dengan ayat-ayat al-Quran yang menggunakan kata nabi dan rasul, bahwa  nabi itu adalah utusan Tuhan yang berupa manusia, tetapi rasul itu adalah utusan Tuhan yang bisa jadi bukan berupa manusia saja, artinya bisa jadi berupa malaikat, angina, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bahwa rasul itu lebih umum sifatnya dibandingkan dengan nabi. Misalnya dalam firman Tuhan surat Yunus ayat 21 terdapat kata “rusulunâ” yang diartikan sebagai “para malaikat”, bukan rasul dari jenis manusia. Dengan demikian ayat tersebut berarti, “Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu.”[1]

 

Urgensi Kehadiran Nabi dan Rasul

Di dalam kitab yang sama, Ali Ghulpayghani menjelasakan beberapa urgensi diutusnya para nabi dan rasul sebagai berikut: 

1.    Menjustisikasi ilmu dan pengetahuan yang dicapai oleh akal pikiran manusia. Misalnya, pengetahuan manusia tentang adanya Sang Pencipta alam semesta ini, tentang sifat-sifat-Nya yang baik dan suci dari segala kekurangan. Artinya manusia dengan akal pikirannya itu mampu memahami bahwa alam semesta ini memiliki pencipta yang memiliki sifat-sifat sempurna dan suci dari segala kekurangan. Diutusnya rasul atau nabi, hanyalah untuk mengokohkan pengetahuan mereka tersebut.

2.    Menyampaikan dan menjelaskan hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Misalnya, masalah alam kubur atau alam barzakh, tentang surga, neraka, situasi dan kondisi hari kiamat, dan lain sebagainya. Hal-hal ini tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran kita. Oleh karena itu, diutuslah rasul atau nabi untuk menjelaskan itu semua.

3.    Nabi atau rasul diutus untuk menghilangkan perasaan takut yang ada pada manusia. Yakni, ketika seseorang itu memahami bahwa dirinya dan semua urusannya itu milik Tuhan serta di bawah penguasaan-Nya, dan juga menyadari bahwa dirinya itu adalah hamba Tuhan, maka akalnya memahami bahwa ia tidak boleh berbuat sembarangan di dalam dunia ini kecuali dengan izin Tuhannya. Namun, ketika orang ini “merasa” bahwa sikap dan perbuatannya tidak diridhai oleh Tuhan, artinya ia merasa khawatir atas sikap dan perbuatannya tersebut. Kemudian Tuhan mengutus nabi atau rasul-Nya untuk menjelaskan mana perbuatan yang dilarang dan diridhai oleh Tuhan. Dengan adanya penjelasan nabi atau rasul itu, maka sirnalah rasa khawatirnya. Karena apa yang ia lakukan -misalnya-  sesuai dengan ketentuan-ketentuan Tuhan.

4.    Menjelaskan kepada umat manusia tentang perintah, larangan, manfaat, maslahat, dan mudharat suatu perbuatan, dimana akal manusia tidak dapat menjangkau hakikat perbuatan tersebut. Misalnya, berpuasa di bulan Ramadhan, perintah melaksanakan shalat lima kali dalam sehari, perintah melakukan haji bagi yang mampu, tentang larangan berbuat zina, mencuri, berdusta, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya akal manusia, betapa pun maju dan tingginya, tidak akan mampu memahami rahasia di balik amal-amal ibadah dan berbagai larangan di dalam syariat tersebut.

Mengajarkan dan membimbing manusia mencapai akhlak dan budi pekerti yang mulia, masalah-masalah politik, mengelolah negara dan pemerintahan, bagaimana bermasyarakat, dan menjalin hubungan antara satu dengan yang lainnya. Tanpa bimbingan dan teladan mereka, umat manusia tetap berada dalam kegelapan dan kesesatan. Karenanya untuk mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspeknya diperlukan adanya seorang pembimbing  yaitu seorang rasul, nabi, dan ulama.    Manfaat dan maslahat diutusnya nabi dan rasul itu, tidak terbartas hanya pada zaman dan tempat tertentu, sebagaimana pula tidak terbatas hanya pada suatu kaum atau bangsa saja.

 

Muhammad sebagai Penutup Para Nabi

Pembahasan yang terakhir adalah masalah penutup kenabian. Apakah nabi dan rasul itu telah tertutup, ataukah masih ada kemungkinan Tuhan akan mengutus nabi atau rasul-Nya pada masa-masa yang akan datang?

Seluruh ulama Islam dan kaum muslimin sepakat bahwa kenabian dan kerasulan itu telah ditutup oleh Tuhan dengan diutusnya nabi terakhir, yaitu nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad adalah sebagai nabi terakhir, syariatnya adalah sebagai syariat yang terakhir dan kitabnya juga sebagai kitab samawi yang terakhir.

Dalil-dalil dan argumen-argumen mengenai ditutupnya kenabian dan kerasulan ini banyak sekali, baik dalil-dalil yang bersifat tekstual (naqli) yaitu ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis rasulullah Saw, maupun dalil-dalil yang bersifat  rasional (aqli).

Yang jelas, ditutupnya pintu kenabian itu berkonsekuensi pada berakhirnya risalah Tuhan. Artinya, ketika nabi itu sudah tidak diutus lagi, maka risalah dan wahyu pun tidak diturunkan lagi oleh Tuhan. Karena risalah dan wahyu yang berisi pengetahuan, pesan-pesan, perintah-perintah, dan larangan-larangan suci Ilahi yang dibawa oleh Rasulullah Saw. jika wahyu Tuhan telah terputus, maka secara otomatik rasul pun tidak diutus. Artinya tidak ada lagi syariat dan ajaran yang baru yang perlu disampaikan dan dijelaskan kepada uamat manusia, karena risalah telah lengkap dan sempurna.

Ayat al-Quran yang sangat jelas untuk menunjukkan tertutupnya kenabian adalah firman Tuhan di dalam surat Al-Ahzab ayat 40.  Tuhan berfirman, “Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian. Tetapi beliau adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat tersebut dengan tegas mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir dan pamungkas nabi-nabi sebelumnya.

Adapun di anatara hadis-hadis yang menunjukkan ditutupnya kenabian adalah hadis Manzilah. Hadis Manzilah ini telah disepakati keshahihannya oleh seluruh ulama Islam. Tak seorang ulama pun yang mengingkari hadis Manzilah ini. Hadis Manzilah ialah hadis yang diucapkan oleh Rasulullah Saw kepada Imam Ali as. Hadis itu berbunyi, “Wahai Ali, sesungguhnya kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Nabi Harun As di sisi Nabi Musa As. Hanya saja tidak ada lagi Nabi setelahku.

Hadis ini dengan jelas menunjukkan tertutupnya kenabian. Rasulullah Saw mengatakan, “Tidak ada lagi nabi setelahku.” Hadis Manzilah tersebut diriwayatkan oleh banyak perawi, baik dari Sunni maupun dari Syi’ah.

Hadis ini terdapat di berbagai kitab-kitab hadis Sunni maupun Syi’ah. Misalnya terdapat di dalam kitab Shahih al-Bukhari jilid 3, hal. 58. Shahih Muslim jilid 2, hal. 323. Sunan Ibnu Majah jilid 1, hal. 28.  Mustadrak al-Hakim jilid 3, hal.109 dan Musnad Ahmad bin Hanbal jilid, 1 hal. 331, jilid 2, hal. 369 dan 437. 

Adapun di dalam kitab-kitab hadis Syi’ah Imamiyah, hampir semua ulama mencatatnya.

 

Mengapa Gerbang Kenabian ditutup oleh Muhammad?

Sehubungan dengan masalah tertutupnya pintu kenabian ini, terdapat sebuah pertanyaan: Mengapa kenabian itu ditutup oleh Nbi Muhammad Saw? Dengan ungkapan lain, memangnya ajaran Islam itu sudah sempurna dan lengkap untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat, sehingga risalah dan kenabian harus ditutup oleh kenabian Muhammad?

Allamah Syaikh Muhammad Jawad Mughniyah mengatakan bahwa kamum muslimin telah sepakat bahwa tak seorang pun yang menerima wahyu setelah wafat Rsulullah Saw. Barang siapa yang mengingkari hal ini, maka ia bukan Muslim. Dan barang siapa yang mengaka sebagai nabi setelah wafat nabi Muhammad Saw, maka ia harus dibunuh, dan barang siapa yang bertanya mengenai dalil atas pengakuan orang itu dan memperkirakan kebenaran pengakuannya, maka orang ini digolongkan kafir. Di dalam kitab tafsir Ruhul Bayan dikatakan bahwa, “Jika seandainya muncul seorang nabi setelah wafat Rasulullah Saw, maka pasti hadir pula Ali bin Abi Thalib as. Karena kedudukan Ali di sisi Nabi Muhammad Saw sebagaimana kedudukan Nabi Harun di sisi NJabi Musa As.” [2]

Adapun mengapa kenabian itu tertutup dengan Nabi Muhammad Saw? Jawabannya adalah: Sesungguhnya tujuan utama dan akhir pengutusan Nabi Muhammad Saw adalah untuk menyampaikan firman-firman Tuhan kepada seluruh hamab-Nya. Dan semua yang diinginkan oleh Tuhan untuk disampaikan kepada seluruh hamba-Nya itu telah tercantum di dalam kitab suci al-Quran al-Karim. Tuhan berfirman di dalam surat an-Nahl ayat: 89, “Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.

Di dalam surat lainnya, pada surat al-An’am ayat 38, Tuhan berfirman, “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab yaitu al-Quran“. Maksud dari kata “asy-syay’i” dalam ayat ini adalah “segala sesuatu” yang berhubungan dengan tugas dan kewajiban para nabi, termasuk membimbing dan menuntun manusia kepada jalan-jalan yang lurus dan kebaikan yang dapat menjamin mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, tak ada satu syariat dan ajaran pun yang diperlukan lagi oleh manusia di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Para ilmuwan, ulama, dan mujtahid dapat mengembangkan ilmu-ilmu mereka dari al-Quran al-Karim. Tuhan dan Rasul-Nya telah mengizinkan orang-orang yang mempunyai potensi dan kemampuan untuk menggali al-Qur’an dan mengeluarkan hukum-hukum darinya demi kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh manusia. Hal ini berarti bahwa hukum yang dikeluarkan oleh seorang mujtahid yang adil adalah hukum al-Quran itu sendiri.

Penutup para nabi dan penghulu para rasul bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku, seperti seseorang yang membuat suatu bangunan, orang itu membaguskan dan membuat indah bangunan tersebut, tetapi pada bangunan tersebut terdapat tempat kosong yang belum diletakkan batanya. Orang-orang memandang bangunan tersebut dan mereka mengaguminya, tetapi mereka berkata: “mengapa pada tempat ini tidak diletakkan bata?” Maka aku datang, dan aku itulah sebagai batanya, dan aku adalah penutup para nabi.”

Kesimpulannya, jika ada yang bertanya mengapa Nabi Muhammad Saw itu sebagai pemungkas dan penutup para nabi?  Jawabnya adalah bahwa Nabi Muhammad Saw dan agama yang dibawanya telah memenuhi seluruh kesempurnaan, kelengkapank, dan segala keperluan manusia. Seperti matahari yang sinarnya memenuhi seluruh permukaan bumi sehingga tidak dibutuhkan lagi bintang-bintang atau lampu-lampu. Demikianlah, tidak ada seorang nabi pun yang datang setelah nabi Muhammad Saw.

 

 

 

 


[1] . Idhahul Murad, Ustadz Ali Rabbani Ghulpayghani, hal. 340

[2] . At-Tafsirul al-Kasyif, jilid keenam, hal. 225.

 

Iklan
21 Juli 2012

MENGAPA KITA BERAGAMA?

oleh alifbraja

MENGAPA KITA BERAGAMA?

 
 

 

Mukadimah 

           Ledakan RevolusiIndustri yang terjadi di Barat telah memantik pemikiran dan gagasan tentang pembebasan manusia dari agama. Sebagian kelompok beranggapan bahwa alih-alih mendewakan agama sebagai jalan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan serta memenuhi segala keinginan dan hajat manusia, mereka memilih sains dan industri sebagai solusi dan way out baginya. Bahkan pada tingkat kulminasinya, sebagaimana yang dikukuhkan oleh Marx bahwa agama bagi manusia merupakan candu dan opium yang meninabobokan mereka.

Akan tetapi dengan berlalunya sang waktu, gagasan dan pemikiran ini ternyata mandul dan tidak melahirkan solusi untuk menjawab segala keinginan dan hajat maknawi manusia.

Pembicaraan tentang hajat manusia terhadap agama atau hajat agama terhadap manusia memang merupakan sebuah persoalan yang penting untuk dibahas. Mengapa agama sedemikian perlu bagi kehidupan manusia? Apa saja yang ditawarkan agama untuk melepaskan manusia dari segala alienasi dan patologi sosial yang semakin menggurita menghantam kehidupan bani Adam?  Apakah manusia secara fitri adalah insan beragama? Ataukah manusia karena rasa gentar, dungu, faktor kemiskinan dan kebutuhannya terhadap etika ia memerlukan agama? Banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan di sini untuk melihat signifikansi persoalan agama pada diri manusia sebagai komplementer dari pertanyaan inti di atas yang diambil sebagai judul tulisan ini.

 

Definisi Agama

Din dalam bahasa Arab sering diterjemahkan secara leksikal sebagai agamadalam bahasa Indonesia atau padanannya dalam bahasa Inggris sebagai ‘religion’, atau religio dalam bahasa Latin kerap digunakan untuk beberapa makna. Dan yang terpenting dari makna-makna tersebut adalah, ganjaran, ketaatan, kebiasaan, tradisi, hukum, stipulasi (qaid), dan sebagainya. Dan yang paling orisinal di antara makna-makna di atas adalah ketaatan dan loyalitas.

Secara terminologis agama dapat didefinisikan sebagai berikut:

1.    Seperangkat aturan dan hukum-hukum normatif yang mengatur dan menata kehidupan manusia dalam rangka mentaati aturan Tuhan.

2.    Sebagai komplementer dari definisi di atas agama dapat didefinisikan sebagai aturan dan stipulasi yang diterima manusia dalam ranah keyakinan terhadap Tuhan dalam perilaku kehidupan manusia.

Berdasarkan definisi di atas, agama memiliki dua rukun asasi, 1. Keyakinan terhadap Tuhan. 2. Amal dan perbuatan sesuai dengan tuntutan keyakinan tersebut.

       

Analisa Beberapa Hipotesa Atas Kemunculan Agama

          Kini mari kita menganalisa atas beberapa hipotesa atas mengapa manusia cenderung kepada agama dan menjadi pemeluk salah satu agama. Masing-masing hipotesa yang akan kita bahas masing-masing sarat dengan kritik, lantaran kenyataan sejarah berbicara sebaliknya.

 

a. Asumsi Kejahilan

Salah seorang sosiolog ternama mengatakan, “Meskipun ilmu dan sains telah berhasil menyingkap pelbagai misterius, namun betapa yang telah tersingkap itu masih kabur di balik tirai ilmu, dan keperluan untuk memahami hal-hal misterius ini telah menyebabkan kemunculan agama.”[1]

Salah seorang filsuf materialis menambahkan bahwa tatkala manusia menatap kejadian-kejadian sejarah, dengan alasan yang sangat jelas mereka membayangkan bahwa ilmu (baca: sains) dan agama adalah dua musuh bebuyutan yang tidak dapat berdamai. Sebab, tatkala seseorang meyakini hukum kausalitas, pada detik yang sama ia tidak dapat memberikan peluang kepada akalnya untuk membayangkan bahwa barangkali terjadi dalam lintasan peristiwa-peristiwa yang menciptakan rintangan dan kendala atas terjadinya sebuah peristiwa.[2]

Sederhananya, mereka hendak mengklaim bahwa ketidaktahuan manusia terhadap sebab-sebab alami telah menyebabkannya berpikir akan adanya kekuatan di luar alam yang menciptakan dan mengatur semesta raya ini. Dengan demikian, tidak terungkapnya faktor dan sebab-sebab alami ini menjadi alasan baginya untuk meyakini keberadaan Tuhan dan agama.

Kesalahan mendasar para penggagas pendapat ini akan terlihat jelas melalui poin-poin berikut ini:

Pertama, mereka membayangkan bahwa beriman kepada keberadaan Tuhan berarti mengingkari hukum kausalitas. Dan kita berlaku sebagai seorang hakim; apakah kita harus menerima sebab-sebab alami tersebut atau menerima keberadaan Tuhan?

Padahal dalam filsafat Islam, meyakini hukum kausalitas dan menyingkap sebab-sebab alami merupakan salah satu jalan yang terbaik untuk dapat mengenal Tuhan.

Kita tidak pernah mengkaji Tuhan di antara ketakberaturan dan kejadian-kejadian yang tak jelas. Akan tetapi, kita menemukan-Nya di antara keteraturan-keteraturan alam semesta. Karena, adanya keteraturan ini merupakan penanda jelas atas wujud satu Sumber Awal bagi alam semesta dan wujud satu Kekuatan yang mengaturnya.

Kedua, mengapa mereka lalai bahwa sesungguhnya manusia semenjak dahulu hingga hari ini melihat adanya sistem yang khas yang berlaku atas jagad raya ini. Menafsirkan sistem ini dengan sebab-sebab irasional tidak mungkin dapat diterima. Dan mereka menganggap keutuhan sistem jagad raya ini sebagai pertanda wujud Tuhan. Akan tetapi, pada masa lalu, sistem ini tidak banyak dikenal orang. Dan semakin maju ilmu-pengetahuan manusia, semakin ia dapat menyingkap seluk-beluk sistem jagad raya ini. Dengan demikian, ilmu dan kemahakuasaan Sumber Awal bagi keberadaan semesta ini akan semakin gamblang.

Atas dasar ini, kita yakin bahwa iman kepada keberadaan Tuhan dan agama relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Dan setiap penemuan baru akan rahasia dan aturan-aturan jagad raya ini merupakan  langkah baru untuk pengenalan yang semakin cermat terhadap Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan hari ini dalam rangka mengenal Tuhan tentu tidak pernah dikenal oleh manusia jaman dahulu, lantaran mereka tidak menikmati kemajuan ilmu pengetahuan.

 

b. Asumsi Rasa Takut

Will Durant, seorang sejarawan kenamaan Barat, di dalam buku sejarahnya, ketika membahas “Sumber-sumber Agama”, menukil pendapat Luctrius, seorang filsuf Romawi, bahwa rasa takut adalah ibu para dewa! Dan bagian rasa takut yang paling penting ialah rasa takut dari kematian. Atas dasar ini, manusia pertama tidak dapat meyakini bahwa kematian adalah satu fenomenaalam. Oleh karena itu, mereka senantiasa menganggap bahwa sebab metafisislah yang menjadi penyebab kematian itu.[3]

Senada dengan teori di atas, B. Russel berkata, “Aku berasumsi bahwa sumber agama -sebelum segala sesuatunya- ialah rasa takut. Rasa takut bersumber dari musibah-musibah alam, dari peperangan dan sebagainya. Rasa takut dari pekerjaan-pekerjaan salah yang dilakukan manusia ketika syahwat mendominasi.”[4]

Kekeliruan asumsi ini akan tampak jelas bila para pendukung asumsi ini sepakat bahwa akar keyakinan kepada Tuhan dan agama tidak memiliki dasar metafisis. Dan tentu saja, harus ditemukan sebuah faktor di alam semesta ini. Sebuah faktor yang akhirnya kembali kepada prasangka dan khayalan belaka. Oleh karena itu, mereka senantiasa melihatnya dalam kerangka cabang dan melupakan kerangka aslinya.

Benar bahwa iman kepada Tuhan memberikan kekuatan spiritual dan ketenangan kepada manusia. Benar bahwa manusia akan bersikap prawira dalam menghadapi kematian dan berbagai peristiwa pelik yang dialaminya; terkadang berupa sikap pengorbanan. Akan tetapi, mengapa kita lupakan faktor-faktor yang kerap hadir secara telanjang di hadapan mata manusia, yakni sistem semesta yang berlaku atas bumi dan langit ini, kehidupan flora dan fauna, dan keberadaan manusia?

Dengan kata lain, meskipun manusia tidak memiliki ilmu anatomi dan fisiologi atau semisalnya, seketika mencermati struktur mata, telinga, hati, tangan dan kakinya, ia akan melihatnya sebagai sebuah bangunan yang menakjubkan dan kokoh. Bangunan kokoh dan menakjubkan ini niscaya tidak dapat dimengerti bila bersumber dari gejala-gejala  aksidental dan faktor-faktor yang tidak masuk akal. Sekuntum bunga, seekor lebah, matahari dan bulan dan alurnya yang tertata apik serta fenomena-fenomena semesta lainnya merupakan contoh gamblang dari kenyataan itu.

Kenyataan ini senantiasa hadir di hadapan manusia semenjak dulu hingga kini dan ia merupakan faktor utama adanya iman kepada Tuhan. Lantaran melalaikan realitas nyata ini, akhirnya mereka mencari-cari faktor iman kepada Tuhan dan agama, lalu menyimpulkan bahwa semua itu disebabkan oleh rasa takut dan kedunguan manusia. Atribut yang dapat kita lekatkan kepada mereka adalah “dungu” dalam menghadapi realitas telanjang ini dan “takut” terhadap kemajuan ideologi agama, sebab mereka melepaskan jalan utama dan terang ini, menapakkan kaki di jalan yang tak menentu, serta bersandarkan kepada asumsi-asumsi yang tak berdasar.

 

c. Asumsi Faktor Ekonomi

Eksponen asumsi ini adalah mereka yang percaya bahwa kekuatan penggerak sejarah adalah alat-alat reproduksi. Mereka yakin bahwa seluruh fenomena sosial, seperti budaya, ilmu, filsafat, politik, bahkan agama muncul sebagai akibat dari perkara ini.

Untuk menghubungkan kemunculan agama dan masalah-masalah ekonomi, mereka mengajukan penafsiran yang aneh.Di antaranya, mereka berasumsi bahwa menurut kaum imperialis dalam lingkungan sosial, dalam rangka mengenyahkan resistensi dan gerakan massif kaum terjajah,kaum imperialis mencandu mereka dan menciptakan agama. Kalimat yang terkenal dari Lenin yang tertuang dalam buku “Sosialisme wa Mazhab” (Sosialisme dan Agama) adalah, “Agama di tengah masyarakat merupakan candu.” Dalam kasus ini terdapat sederet ungkapan yang serupa; terulang-ulang.

Untungnya, penyokong asumsi ini (kaum sosialis) telah memberikan jawaban sendiri yang ternyata kontradiktif. Ketika mereka berhadapan dengan Islam sebagai gerakansebuah bangsa tertinggal yang dapat menjungkalkan kaum imperialis seperti kesultanan Sasani, kekaisaran Romawi, para Fir’aun Mesir dan kesultanan Yaman dari singgasana kekuasaan mereka, terpaksa mereka mengecualikan Islam pada batasan minimal kasus ini dari fakta sejarah.

Lebih dari itu, tatkala mereka menyaksikan gerakan dan aksi-aksi Islam menentang kaum imperialis, khususnya pada masa kini, dan  berhadapan dengan kekuasaan Timur dan Barat, atau resistensi bangsa Palestina atas kekuasaan Zionisme, mereka tidak memiliki jalan lain kecuali meragukan analisa-analisa mereka sendiri. Biarkanlah mereka terjerat dalam pagar-pagar kesulitan, karena tidak mampu melihat terangnya sinar matahari.

Secara umum, dengan memperhatikan sejarah kemarin dan hari ini, khususnya sejarah Islam,akan tampak bahwa kemunculan agama tidak sesuai dengan asumsi mereka. Tidak hanya candu yang menjadi sebab munculnya gerakan-gerakan sosial yang paling perkasa, akan tetapi masalah-masalah ekonomi juga membentuk bagian dari kehidupan manusia.Dan mendefinisikan manusia pada dimensi ekonomi merupakan kesalahan besar dalam mengenal motivasi dan kecendrungan transendental manusia.

 

d. Asumsi Kebutuhan kepada Etika

Dalam tema agama dan sains, Einstein berujar, “Dengan sedikit hati-hati, akan menjadi maklum bahwa agitasi dan perasaan-perasaan insani menjadi penyebab munculnya agama yang beraneka dan beragam coraknya….”. Setelah menyebutkan asumsi takut, ia menambahkan, tipologi manusia sebagai makhluk sosial juga merupakan salah satu faktor munculnya agama. Seseorang melihat orang tuanya. Kerabat, para pemimpin dan orang-orang besar meninggal dunia. Satu demi satu orang-orang di sekelilingnya berlalu. Setelah itu, harapan untuk terbimbing dengan petunjuk, menyukai, mencintai, bersandar dan bergantung adalah landasan yang membentuk keyakinannya kepada Tuhan”.[5] Dengan urutan seperti ini, Einstein beranggapan bahwa penyebab munculnya agama adalah motivasi moral dan motivasi sosial.

Mari kita kembali menelaah pendapat di atas. Orang-orang yang memberikan asumsi akhlak ini keliru dalam memahami efek dan motivasi. Kita mengetahui bahwa setiap efek tidak mengharuskan adanya motivasi. Boleh jadi tatkala menggali sebuah sumur yang dalam kita menemukan hartu karun. Ini adalah efek. Sedangkan penggerak dan motivasi utama kita untuk menggali sumur ialah untuk mendapatkan air, bukan untuk menemukan harta karun.

Oleh karena itu, adalah benar bahwa agama dapat menenangkan keluh dan derita spiritual manusia. Iman kepada Tuhan dapat melepaskan manusia dari kesendirian tatkala harus kehilangan orang-orang terkasih, sahabat tercinta dan orang-orang besar yang dibanggakan. Iman kepada Tuhan dapat memenuhi segala sesuatu yang lepas dari tangannya dan mengisi kekosongan akibat kehilangan yang dideritanya. Akan tetapi, semua ini adalah sebuah efek, bukan sebuah motivasi.

Motivasi utama agama yang tampak paling logis adalah sebagaimana yang disebutkan sebelumnya; semakin manusia  mengamati sistem semesta, semakin ia mengenal kedalaman, kerumitan dan keagungan semesta ini. Ia sekali-kali tidak akan menerima begitu saja akan munculnya munculnya sekuntum bunga dengan segala elegansinya, keajaiban strukturnya, atau matahari dengan seluruh sistem sedemikian agung dan kompleksnya, yang lahir dari rahim semesta yang tak berakal dan pelbagai benturan. Dan berangkat dari sini, manusia bergerak kepada Sumber Awal sistem jagad ini.

Tentu saja kasus lain dengan maksud yang sama dapat membantu, sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya.

Dan anehnya, Einstein sendirilah yang telah mengusulkan asumsi ini. Di tempat lain ia mengubah pernyataannya. Ia mengekspresikan, dengan bahasa yang berbeda, keyakinannya yang teguh terhadap penyebab terjadinya fenomena semesta dan imannya kepada Sumber Awal Yang Agung tersebut. Dan hal ini menunjukkan bahwa ia mengingkari ideologi yang bergantung kepada khurafatkhurafat, bukan kepada sebuah tauhid yang tulus dan bersih dari segala bentuk khurafat.

Ia menuturkan, “Sebuah makna real dari keberadaan Tuhan di balik imaginasi-imaginasi yang secuil telah ditemukan oleh mereka.” Kemudian, Einstein dan para ilmuwan besar lainnya menamakan keyakinan mereka sebagai sebuah jenis keyakinan yang disebut “perasaan religius penciptaan” atau “perasaan religius keberadaan”. Dan di tempat lain, disebut sebagai “takjub yang mengairahkan dari sistem ajaib dan akurat jagad raya”.

Dan yang lebih menarik adalah penegasannya, “Iman religius adalah suluh bagi jalan pencarian hidup para cendikiawan.”[6]

Tentu saja, dalam masalah ini banyak pernyataan yang dapat dinukil. Sekiranya kita ingin melepaskan dari kendali pena, pembahasan kita akan keluar dari pembahasan tafsir tematik.

Oleh karena itu, kita kembalikan kepada persoalan utama. Dan pembahasan ini kita akhiri sampai di sini. Kami ingatkan bahwa untuk mengetahui motivasi atau dorongan munculnya agama seyogyanya terlebih dahulu menelaah penciptaan semesta (alasan logis dan rasional), dan selepas itu mengkaji kekuatan magnetis dalam lubuk hati (motivasi fitri), kemudian mengalihkan perhatian kepada Sumber Awal Yang Agung, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya mengenai  anugerah-anugerah-Nya yang nir-batas.[7]

 

Agama adalah Fitrah

Arti dari kata fitrah adalah manusia dapat menemukan hakikat tanpa memerlukan penalaran atau argumentasi, (yang sederhana ataupun yang rumit). Manusia dengan gamblang mendapatkan hakikat tersebut. Umpamanya, jika manusia melihat sekuntum bunga yang indah dan semerbak baunya, ia mengakui pesona bunga tersebut. Dalam pencerapan ini, ia tidak melihat adanya penalaran. Dengan serta-merta berkata, “Bunga ini elok rupanya”, tanpa memerlukan argumentasi.

Pengenalan terhadap Tuhan dan keberagamaan juga merupakan bagian dari jenis pengetahuan fitri. Ketika seseorang menengok ke lubuk hatinya, ia akan melihat cahaya kebenaran. Ia akan mendengar seruan dari sudut sanubarinya. Seruan yang mengajaknya ke arah Sumber Awal, menghampiri ilmu dan kemahakuasaan-Nya di jagad raya ini yang tanpa tandingan; Sumber Awal yang merupakan kesempurnaan mutlak dan mutlak sempurna. Dalam pengetahuan fitri ini, ia persis seperti melihat keelokan bunga yang tidak memerlukan argumentasi.

 

Bukti-bukti Hidup atas Kefitrahan Agama

Barangkali seseorang mengatakan bahwa semua ini hanyalah klaim-klaim belaka, dan metode-metode untuk membuktikan kefitrahan agama tidak tersedia. Kita mungkin dapat mengklaim bahwa kita temukan perasaan seperti ini dalam lubuk hati kita, namun sekiranya ada seseorang yang enggan untuk menerima ungkapan semacam ini, bagaimana kita dapat memberikan jawaban kepadanya sehingga ia dapat menerima dengan puas?

Dalam menjawab ungkapan tersebut, sebenarnya kita memiliki pelbagai bukti yang tak terbilang jumlahnya dan dapat dijadikan sebagai dalil yang kuat atas kefitrahan tauhid. Begitu gamblangnya bukti-bukti tersebut sehingga mulut pengingkarnya dapat dibungkam.

Bukti-bukti ini dapat disimpulkan ke dalam enam bagian:

a. Fakta Sejarah

Fakta-fakta sejarah yang didasari oleh pernyataan para sejarawan klasik dunia menunjukkan bahwa agama tidak ada di tengah masyarakat. Namun, mereka percaya pada satu Sumber Awal, Ilmu dan Kuasa di jagad yang mereka sembah. jika kita menerima aksioma ini, sejarah ini memiliki kaidah universal yang mengatakan bahwa komunitas manusia sepanjang perjalanan sejarah senantiasa berada pada penyembahan akan kebenaran yang tidak mendatangkan kerugian bagi mereka. (Pada setiap kaidah universal, terdapat pengecualian).

Will Durant, sejarawan Barat dalam History of Civilization, setelah menyebutkan hal-hal berkenaan dengan kondisi tanpa-agama (dalam banyak masyarakat), mengakui suatu kebenaran, bahwa  “Dengan adanya asumsi-asumsi yang telah kami sebutkan, kondisi tanpa-agama adalah sesuatu yang langka. Dan keyakinan kuno ini menyatakan bahwa agama adalah teladan yang diyakini oleh masyarakat secara umum dan sesuai dengan kebenaran, dan  ini -menurut pandangan seorang filsuf-merupakan salah satu hukum dasar sejarah dan psikologi. Ia tidak merasa puas dengan satu teori yang menyatakan bahwa seluruh agama berasal dari hal-hal sia-sia dan batil. Sebaliknya, ia tahu bahwa agama senantiasa bersama sejarah sejak dahulu”.[8]

Masih pada pembahasan yang sama, Durant menambahkan, “Di manakah letak sumber keutamaan yang sama sekali tidak akan pernah hilang dari sanubari manusia ini?”[9]

Dalam Pelajaran-pelajaran Sejarah, berangkat dari rasa sedih dan geram, Durant berkata lebih tegas lagi, “Agama memiliki seribu jiwa. Setiap kali Anda membunuhnya, ia akan hidup kembali.”[10]

jika keyakinan kepada Allah Swt atau agama memiliki dimensi adat, taklid, dikte atau propaganda orang lain, niscaya ia tidak bersifat sedemikian umum dan serempak, serta terus berlanjut sepanjang perjalanan sejarah. Hal ini merupakan sebaik-baik bukti atas kefitrahan agama.

 

b. Argumentasi Para Arkeolog

Tanda-tanda forensik yang masih tersisa (yaitu, kondisi seluruh manusia sebelum adanya invensi tulisan dan penulisan), menunjukkan bahwa masyarakat pra-sejarah memiliki agama. Mereka percaya kepada Tuhan, dan bahkan Hari Kiamat atau kehidupan pasca kematian. Hal itu didasari oleh banyaknya benda-benda kesukaan mereka yang masih tertimbun, dan dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang hidup setelah mereka seperti; me-mummi-kan jasad orang-orang mati, dan membangun  kuburan-kuburan berbentuk piramida yang dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama untuk mengantisipasi mayat-mayat tersebut supaya tidak terkubur dan tertimbun. Semua ini adalah bukti atas kepercayaan masyarakat silam pada Sumber Awal (Tuhan) dan Hari Akhir (Kebangkitan).

Benar bahwa perilaku-perilaku yang menunjukkan kepercayaan religius mereka ini banyak tercemari oleh khurafat dan takhayul. Akan tetapi, karena pembahasan utama kita kali ini adalah pembuktian adanya kepercayaan religius pada masa-masa pra-sejarah, hal ini dapat dijadikan sebagai bukti yang tak terbantahkan.

 

c. Kajian-kajian Psikis dan Temuan-temuan Para Psikoanalis

Dimensi spiritual manusia dan kecenderungan-kecenderungan dasarnya adalah sebuah bukti yang gamblang  atas kefitrahan kepercayaan religius. Empat perasaan yang popular (atau empat kecenderungan transendental) dan mendasaryang akhir-akhir ini diintroduksi oleh sebagian psikolog dan psikoanalis sebagai empat dimensi spiritual manusia. Empat perasaan tersebut adalah perasaan kognitif atau kuriositas, perasaan estetik, perasaan etik dan perasaan religius.[11]

Di antara empat dimensi spritual manusia yang terkadang juga disebut sebagai kecenderungan kepada kesempurnaan mutlak, kecendrungan terakhir itu mengajak manusia kepada agama. Meyakini adanya Sumber Awal YangAgung ini tidak memerlukan dalil terpisah. Barangkali, kepercayaan religius ini terkontaminasi dengan khurafat-khurafat, dan membuat seseorang menjadi penyembah berhala, matahari dan bulan. Akan tetapi, pembahasan kita terfokus pada dasar masalah; (yakni adanya kecenderungan terhadap Tuhan, Sumber Awal, dan Hari Akhir).

 

d. Kekecewaan Terhadap Propaganda Penentang Agama

Kita menyaksikan propaganda intensifanti-agama dalam lintasan akhir-akhir kurun ini, khususnya yang merebak di belahan bumi Eropa dan berlangsung gencar. Ditinjau dari sisi penyebaran dan penggunaan pelbagai sarana, propaganda ini tidak tertandingi.

Tatkala gerakan sains Eropa (Renaissance) yang diusung oleh kaum cendikia dan politisi memberikan kekuatan kepada mereka untuk melepaskan diri dari hegemoni dan dominasi gereja, gelombang anti-agama[12] ini sedemikian hebat bangkit di Eropa sampai pesan-pesan ateisme muncul ke permukaan. Khususnya penetrasi yang dilakukan oleh para filsuf dan ilmuwan alam membantu mereka untuk mengoncang seluruh fondasi agama, sehingga keberadaan gereja menjadi terpuruk, figur-figur religius Eropa mengasingkan diri, keyakinan kepada wujud Tuhan, mukjizat, Hari Kebangkitan, kitab-kitab suci dipandang sebagai bagian dari khurafat. Akhirnya, mereka membagi perkembangan umat manusia ke dalam empat periode: periode legenda dan mitos, periode agama, periode filsafat, dan periode sains. Berdasarkan klasifikasi ini, masa agama telah lewat dan berlalu dari hadapan kita.

Dan sebagai konsekuensinya, dalam literatur-literatur Sosiologi yang telah mengalami kemajuan pesat pada masa kini, disebutkan bahwa pada masa tersebut, masalah ini telah dianggap sebagai sebuah hukum pasti bahwa agama memiliki faktor natural. Kini faktor-faktor tersebut adalah kebodohan, rasa takut, hajat terhadap kehidupan sosial, dan atau masalah-masalah ekonomi. Tentunya, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para sosiolog.

Benar bahwa agama yang berkuasa pada masa itu adalah gereja Abad Pertengahan. Karena arbitari (penghakiman) yang tanpa belas kasihan dan perlakuan-perlakuan buruk mereka terhadap masyarakat secara umum dan para ahli ilmu alam secara khusus, ketenggelaman dalam gaya hidup aristokrat dan glamor, melupakan tekanan-tekanan yang sedang menimpa orang-orang tertindas. Merekalah yang harus bertanggung jawab atas segala perbuatan tersebut.Akan tetapi, anehnya masalah ini tidak hanya tertuju kepada paus dan gereja, tetapi malah merasuki seluruh agama dunia.

Kaum komunis juga -dengan tujuan melenyapkan agama-   turun ke kancah dengan segenap kekuatan. Seluruh sarana propaganda dan pemikiran filsafat mereka dikerahkan untuk mewujudkan sasaran-sasaran propaganda. Mereka berupaya semaksimal mungkin memperkenalkan kepada masyarakat dunia bahwa agama adalah candu bagi masyarakat.

Namun, kita melihat gelombang raksasa anti-agama ini tidak mampu memadamkan bara dan semangat agama yang mengakar pada lubuk hati manusia. Kecenderungan religius tumbuh bersemi, dan bahkan di negara-negara komunis sendiri. Informasi terakhir menunjukkan adanya peningkatan kecenderungan para penguasa di daerah-daerah ini kepada agama, khususnya kepada Islam. Bahkan di negara-negara komunis yang kendati masih berupaya untuk melenyapkan agama, justru menunjukkan hasil yang sebaliknya, bahwa yang menggejala adalah gerakan penyebaran agama.

Masalah ini mengindikasikan dengan baik bahwa agama memiliki akar di dalam fitrah setiap manusia. Oleh karena itu, agama dapat menjaga dirinya dalam menghadapi gelombang propaganda yang menentang keberadaanya. Kalau bukan karena mengakarnya agama ini pada diri manusia, niscaya agama hingga kini sudah dilupakan orang.

 

e. Pengalaman Pribadi dalam Getirnya Kehidupan

Alangkah banyaknya orang yang belajar tentang kebenaran dalam kehidupan mereka ketika ia menghadapi kesulitan-kesulitan yang menyita energi mereka, seperti badai cobaan hidup yang keras dan keterperangkapan dalam petaka. Dalam menghadapi semua ini, seluruh gerbang penyelamat lahiriah tertutup di hadapannya. Ketika itulah ia merasakan sisa-sisa harapan yang hangat dari kedalaman jiwa dan perhatiannya tertuju kepada Sumber Awal (Tuhan) yang mampu memecahkan seluruh kesulitan yang sedang dihadapinya. Hati bergantung kepadanya dan berupaya mencari pertolongan dari-Nya.

Bahkan kondisi ini pun dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada dalam keadaan normal dan tidak memiliki kecenderungan religius. Mereka juga mengambil manfaat dari reaksi-reaksi ruh ini tatkala penyakit-penyakit akut dan kekalahan-kekalahan getir menerpa kehidupan mereka.

Semua ini adalah bukti nyata atas realitas yang ditegaskan oleh Kitab-kitab Suci tentang kefitrahan ma’rifatullâh dan keorisinilan kecenderungan religius pada diri manusia. Dari sudut hati dan lubuk jiwa yang paling dalam ia mendengarkan dengan kuat dan ekspresif seruan lembut dan penuh kasih, yang menuntunnya ke arah Realitas Agung Yang Mahatahu, Mahaperkasa, dan Mahatinggi, yang bernama Allah atau Tuhan. Boleh jadi seseorang memberikan nama lain atas-Nya. Persoalannya tidak terletak pada pemberian nama, tetapi terfokus pada iman kepada realitas tersebut.

 f. Kesaksian Para Ilmuan atas Kefitrahan Kecenderungan Religius

Masalah kefitrahan agama bukanlah masalah yang terbatas hanya pada ayat dan riwayat saja. Ucapan-ucapan para ilmuwan dan filsuf non-Muslim dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam masalah ini.

Sebagai contoh, Einstein, ketika memberikan penjelasan detail seputar pembahasan ini berkata, “Satu keyakinan dan agama -tanpa kecuali- ada pada setiap orang. Aku menamakannya ‘Perasaan Religius Penciptaan’. Dalam agama ini, manusia merasakan dirinya begitu kecil-tak berharga, menemukan tujuan-tujuan umat manusia dan keagungan yang bersemayam di balik (agama) dan fenomena semesta. Ia melihat dirinya sebagai satu jenis penjara. Terkadang ia ingin terbang meninggalkan sarang, dan seluruh keberadaan ditemukannya dalam bentuk satu realitas.”[13]

Pascal, seorang ilmuwan ternama, berkata, “Hati memiliki argumen-argumen yang tidak dapat dicapai oleh akal.”[14]

William James berkata, “Aku menerima dengan baik bahwa sumber kehidupan adalah religius (hati). Aku juga menerima bahwa formula dan tuntunan-tuntunan praktis filsafat tak ubahnya seperti subjek yang telah diterjemahkan dan teks aslinya diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain.”[15]

Max Muller berkata, “Para pendahulu kita, sejak pertama kali menundukkan kepala ke haribaan Tuhan, mereka bahkan tidak mampu memberikan nama untuk Tuhan.”[16]

Di tempat lain, Muller menyampaikan keyakinannya yang bertentangan dengan pendapat main-stream. Ia berkata, “Agama dimulai dengan penyembahan terhadap alam, benda-benda, dan berhala. Setelah itu, penyembahan kepada Tuhan yang satu. Paleontologi (ilmu yang mengkaji tentang kehidupan masa pra-sejarah dengan menggunakan bukti-bukti forensik) membuktikan bahwa menyembah Tuhan yang satu telah berlangsung semenjak zaman dahulu.” [17]

Seorang ahli sejarah bernama Palutark berkata, “Sekiranya Anda memandang pelataran semesta ini, Anda akan jumpai banyak tempat yang di situ tidak ada data mengenai rekonstruksi, pembangunan, ilmu, industri, politik, dan negara. Akan tetapi, Anda tidak akan menjumpai tempat yang di situ tidak ada Tuhan.”[18]

Samuel Kning dalam bukunya Jâme’eh-shinâsi (Sosiologi) berkata, “Seluruh umat manusia memiliki jenis agama. Meskipun para etnolog (ahli yang mengkaji tentang etnis), petualang dan muballig pertama Masehi menyebutkan adanya kaum yang tidak memiliki agama dan kepercayaan. Akan tetapi, setelah itu diketahui bahwa laporan-laporan mereka tidak memiliki landasan. Penilaian mereka hanya berdasarkan pada indikasi yang beranggapan bahwa agama kaum ini serupa dengan agama mereka.”[19]

Pembahasan ini kami akhiri dengan meminjam ucapan Will Durant, sejarawan terkemuka kontemporer. Ia berkata, “Sekiranya kita tidak berpendapat bahwa agama memiliki akar-akar pada masa pra-sejarah, maka kita tidak akan mengenal sejarah dengan baik seperti yang kita kenal sekarang ini.”[20]

 

Mengapa Manusia Berhajat kepada Agama?

          Setelah mengulas beberapa asumsi kemunculan agama dan latar belakang sejarah atas hajat manusia terhadap agama, kini mari kita mendedah, alasan-alasan mengapa manusia berhajat dan memerlukan agama dengan memaparkan beberapa unsur yang memantik manusia untuk beragama.

1.    Agama menjawab sense of religion

Menyingkap perasaan keberagamaan pada diri manusia, dan pengakuan terhadap perasaan ini merupakan salah satu unsur pertama, yang tetap dan natural pada jiwa manusia. Di samping ketiga naluri dan insting yang ada pada diri manusia, ia juga memiliki naluri atau perasaan keempat yang bernama naluri untuk beragama. Keempat naluri tersebut adalah:

a.    Naluri Kognitif atau Kuriositas, yang mengkondisikan manusia semenjak awal penciptaan untuk mencari dan menelusuri masalah-masalah yang kabur dan buram tentang siapa yang menciptakan alam semesta ini. Dan perasaan atau naluri ini yang memotivasi para penemu dan inventor untuk menyingkap tirai yang menyelimuti alam semesta.

b.    Naluri Etis, yang menumbuhkan etika dan sifat-sifat utama dan transendental pada jiwa manusia.

c.     Naluri Estetis, yang memunculkan seni dan menjadi sebab berseminya berbagai cita rasa kesenian.

d.    Naluri Religiusitas adalah naluri atau perasaan yang dirasakan oleh setiap orang pada awal-awal masa baligh dan sebuah jenis kecendrungan terhadap alam metafisika. Penemuan naluri pada abad keduapuluh telah menciptakan perubahan pada pemikiran para cendikiawan Barat dan memaksa kaum Materialis untuk merubah cara pandang mereka.

 

2.    Agama menjawab Kuriositas

Setiap insan menemukan tiga pertanyaan asasi dalam dirinya ihwal: Aku berasal darimana? Untuk keperluan apa? Akan kemanakah aku melangkah?

Seorang Materialis akan terperangah dan tertunduk dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan ontologis semacam ini. Karena mereka berpandangan bahwa keberadaan ekuivalen dengan materi, tentu saja tidak akan dapat menjawab sesuatu yang sumbernya materi. Dan lantaran mereka berkeyakinan bahwa manusia dan semesta tidak memiliki pencipta yang bijaksana; mereka tidak dapat mengintrodusir tujuan dan goal dari keberadaan manusia dan semesta. Dan juga karena mereka beranggapan bahwa keberadaan idem dito materi dan kematian sebagai akhir dan ujung dari kehidupan, mereka tidak dapat mempercayai kehidupan pasca kematian. Tentu saja dalam menghadapi tiga pertanyaan yang disebutkan sebelumnya, mereka akan terperangah dan tertunduk diam seribu bahasa. Sementara agama dengan lantang dan kencang dapat memberikan jawaban atas tiga pertanyaan ontologis di atas. Agama menjawab bahwa manusia dan alam semesta karena merupakan makhluk Tuhan Mahabijaksana, Mahatahu dan Mahakuasa dan Dialah sebagai sumber keberadaan manusia dan semesta, karena Dia yang menciptakan manusia dan semesta tentulah Dia memiliki tujuan penciptaan manusia dan tujuan tersebut adalah untuk mengenal dan mentaati serta sampai kepada kesempurnaan diri dimana hasil dari semua itu dapat dituai pada kehidupan selanjutnya. Kematian dalam perspektif agama merupakan terminal bagi kehidupan yang lain dan ia tidak memandangnya sebagai akhir dari kehidupan. Dan agamalah sebagai satu-satunya yang dapat menjawab ketiga pertanyaan ontologis yang dimaksud.    

 

3.    Agama menjawab Perkara Psikologis

Parapsikolog di samping membahas masalah fenomena-fenomena yang tak terhitung yang berlaku di dunia ini mereka juga mengurai tentang dimensi kejiwaan manusia. Mereka dalam hal ini berkata, kembalinya manusia kepada agama memiliki efek-efek yang dapat memecahkan pelbagai persoalan yang mendera kehidupan manusia, antara lain:

a.    Menciptakan pemahaman dan sikap optimisme di antara manusia.

b.    Mengkompensasi segala derita dan nestapa yang dialami manusia.

 

4.    Agama Mengatur Urusan Sosial

Manusiasecara natural adalah makhluk sosial (zoon politician). Manusia menghendaki adanya interaksi sosial di antara sesam jenisnya sehingga ia dapat memecahkan berbagai problematika yang dihadapinya secara gotong-royong dan saling membantu satu sama lain. Di samping itu ia juga dapat menghalau berbagai rintangan dan halangan yang merintangi jalannya untuk sampai kepada kesempurnaan dengan berinteraksi dengan manusia yang lain.

Tentang sebab mengapa manusia secara natural ingin hidup berdampingan dengan manusia yang lain terdapat beberapa alasan di balik itu. Akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah konsep dan desain asasi yang diperlukan manusia untuk berinteraksi dan bergaul secara sosial. Dan agama di sini memainkan peran untuk mengatur dan menata relasi dan hubungan yang ada dan seharusnya ada di antara sesama manusia. Peran agama yang mengatur kehidupan manusia itu antara lain:

Pertama, menjelaskan batasan dan tugas masing-masing individu dalam interaksi sosialnya. Karena betapapun seorang individu adalah seorang adil dan tahu akan tugasnya namun jika rule of game tidak ditentukan maka ia tidak akan dapat menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.

Kedua, dengan mengimplementasikan serangkaian program kerja yang bermanfaat dan menjelaskan punish terhadap sikap egosentrik  dan tidak tahu batasan setiap individu.

Dengan peran sentral agama ini, jaminan untuk terciptanya tatanan masyarakat yang saling menghargai dan tolong menolong dalam rangka mencapai kesempurnaan maknawi dan mengaktualkan potensi kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap individu dalam masyarakat dapat dicapai.

 

Kesimpulan

        Dengan menjawab asumsi-asumsi dan hipotesa atas keberagamaan manusia maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat tidak beragama dalam kehidupannya. Agama yang akan mengantarkannya mencapai kesempurnaan maknawi dan duniawi berkat aturan dan rule of game yang tegas dijelaskan dalam setiap ajaran agama. Melalui agama pertanyaan-pertanyaan ontologis yang menyangkut persoalan-persoalan eksistensial dapat terjawab dengan tuntas dan komprehensif dimana orang-orang yang kontra dengan keberadaan agama dan mencoba memberangus rasa keberagamaan itu dengan menyajikan industri dan sains. Namun manusia karena dalam dirinya mengandung dua dimensi, ragawi dan maknawi, kebutuhan dan dahaga maknawinya tidak akan dapat pernah dapat terpenuhi selain dengan perantara sesuatu yang trasendental. Oleh karena itu, jelaslah alasan ihwal mengapa kita beragama? Adapun tentang agama yang mana yang harus kita ikuti dan yakini kebenarannya, kita akan membahasnya pada kesempatan mendatang.

 

 

 


[1] Jâme’eh Syinâsi (Sosiologi), Samuel Kanik, hal. 207.

[2] Dunyâ-i keh Mibînam, (Dunia Yang Kusaksikan) hal. 57.  Begitu aneh apa yang diucapkan oleh August Compte, “Sains telah memisahkan Bapak Semesta dari pekerjaannya dan ia-lah yang menggantikan peran-Nya!” Artinya, dengan menyingkap sebab-sebab natural, tidak ada ruang yang tersisa untuk beriman kepada Tuhan. (‘Ilal-e Gerâyesy be Mâddigeri, hal. 76. Anda juga dapat merujuk buku Kritik Islam Terhadap Materialisme, Syahid Mutahhari, hal. 29-30, terbitan Alhuda Jakarta)

[3] Târikh-e Tamaddun, terjemahan edisi Persia dari History of Civilizations, Will Durant, jilid 1, hal. 89.

[4] Jahân-i keh Man Misyenâsam, hal. 54.

[5] Dunyâ-i keh Mîbînam, hal. 53.

[6] Dunyâ-i keh Mîbînam, hal. 56 dan 61.

[7] Untuk keterangan yang lebih jeluk dan luas, Silakan rujuk “Anggizeh-e Peidâyesy-e Madzâhib” dan Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 2, hal. 44.

[8] History of Civilization, Edisi Persia, jilid 1, hal. 87 dan 89.

[9] Idem.

[10] Fitrat, Syahid Mutahhari, hal. 153.

[11] Silakan rujuk Makalah Kuantaim, terjemahan Ir. Bayani, dalam buku, Hess-e Mazhabi yâ bo’d-e Chahâr-e Rûh-e Insâni.

[12] Perlu diketahui bahwa agama yang dimaksud di sini adalah agama Kristen. Karena agama yang mendominasi lingkungan mereka kala itu adalah agama Kristen.

[13] Dunyâ-i keh Mîbinam, dengan ringkasan, hal. 53.

[14] Sair-e Hekmat dar Orupa, jilid 2, hal. 14.

[15] Idem, hal. 321.

[16] Idem, hal. 31.

[17] Fitrat, Syahid Mutahhari, hal. 147.

[18] Muqaddameh-ye Niyâyesh, hal. 31.

[19] Jâme’eh-shenâsi, Samuel Kning, hal. 191.

[20] History of Civilizations, Edisi Persia, Tarikh-e Tamaddun, jilid 1, hal. 88; Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 3, hal. 120.

20 Juli 2012

ARGUMEN TAUHID DAN SEBAB-SEBAB KEMUSYRIKAN

oleh alifbraja

ARGUMEN TAUHID DAN SEBAB-SEBAB KEMUSYRIKAN

 
 

 

Mukadimah 

Pada beberapa kajian yang telah lalu, telah kita buktikan kemestian adanya Tuhan Pencipta alam semesta dan pencipta manusia. Setiap insan, dengan akalnya yang sehat dan normal, atau dengan fitrahnya yang suci, pasti meyakini adanya Tuhan Pencipta. Sebagaimana ia meyakini keberadaan dirinya dan yang di sekitarnya. Dengan beberapa argumen rasional, telah ktia buktikan wujud Tuhan Yang Mahatahu, Mahakuasa dan memiliki seluruh sifat kesempurnaan serta ternafikan dari segala sifat kekurangan. Dialah yang menciptakan, memelihara dan mengatur alam semesta ini. Lebih dari itu, kami juga telah memaparkan pandangan dunia Materialisme terhadap alam  semesta. Dan melalui catatan kritis kami terhadap beberapa pandangan tersebut, menjadi jelas bagi kita, bahwa kemestian adanya alam semesta tanpa Tuhan Pencipta, adalah merupakan kemestian yang irrasional dan penafsiran yang tidak mungkin dapat diterima oleh setiap insan yang berakal sehat.

Selanjutnya, pada kesempatan ini dan pada kajian berikutnya, kami akan membahas tema Tauhid, sekaligus menyanggah pandangan dan keyakinan orang-orang musyrik.

Perkembangan kemusyrikan atau syirik kepada Tuhan Yang Esa, tidak bisa dilepaskan dari perkembangan keyakinan di masyarakat. Para sosiolog mengajukan berbagai macam pandangan seputar perkembangan keyakinan-keyakinan syirik di masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan silih-berganti. Tetapi, pandangan dan penafsiran itu  tidak berdasarkan dalil yang kokoh dan akurat.

Sehubungan dengan hal itu, pertanyaan yang layak dilontarkan adalah: Bagaimanakah, dan kapankan kecendrungan masyarakat kepada kemusyrikan itu mulai timbul? Atau: faktor apakah yang menjadi sebab utama terjadinya kemusyrikan dan meyakini banyak Tuhan tersebut? Ada kemungkinan, bahwa faktor  pertama kecenderungan syirik dan keyakinan pada banyak Tuhan, adalah tatkala seseorang melihat banyak dan beragamnya realitas-realitas di langit dan di bumi. Mulai dari situlah mereka berkeyakinan, bahwa setiap bagian realitas itu tunduk di bawah pengaturan Tuhan tertentu. Misalnya matahari memiliki Tuhan tertentu yang mengaturnya. Rembulan tunduk dibawah pengaturan Tuhan yang lainnya. Dan begitulah seterusnya bagi benda-benda dan realitas-realitas lainnya, baik yang berada di bumi maupun yang di langit. Masing-masing memiliki Tuhan tertentu yang mengawasi dan mengaturnya. Bahkan, sebagian dari mereka percaya, bahwa seluruh kebaikan itu bersumber dari Tuhan kebaikan. Sementara seluruh keburukan berasal dari Tuhan keburukan. Berangkat dari sinilah, mereka yakin bahwa alam semesta ini memiliki dua sumber wujud dan pencipta; Pencipta kebaikan dan Pencipta keburukan

Demikian pula pengamatan mereka terhadap pengaruh sinar matahari, bulan dan bintang-bintang terhadap realitas bumi. sehingga -dari satu sisi-mereka memandang bahwa benda-benda tersebut memiliki suatu bentuk pengaturan terhadap apa yang ada di bumi. Dari sisi lain, bahwa kecendrungan manusia untuk menyembah sembahan yang dapat diindera, mendorong mereka untuk membuat berbagai lambang dan simbol bagi Tuhan-Tuhan yang mereka anggap layak untuk mereka sembah. Lambang-lambang itu, lambat laun, mendarah daging dan terukir di hati orang-orang yang pikirannya lemah. Selanjutnya setiap bangsa, bahkan suku, membuat ritual keagamaan tertentu -sesuai dengan anggapan mereka masing-masing- yang bertujuan untuk menyembah lambang tersebut. Dengan cara itulah mereka  dapat memenuhi desakan fitrah -untuk menyembah Tuhan Pencipta- dari dalam diri mereka.

Lebih dari itu, mereka pun berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan hewani dan hawa nafsunya dalam bentuk kesucian agama. Dan sebagian dari ritual-ritual keagamaan tersebut, masih berlanjut hingga sekarang, yang disertai dengan berbagai macam tarian, nyanyian, minum khamar, hubungan seks dan perilaku hewani lainnya, yang semua itu mewarnai suasana ritual keagamaan para penyembah lambang tersebut. Di negara kita Indonesia misalnya, fenomena semacam itu masih dapat kita saksikan, atau paling tidak kita dengar, di daerah-daerah pedalaman Kalimantan atau Sumatera dan di tempat-tempat lainnya.

Di samping itu semua, adanya tujuan para penguasa zalim, congkak dan tamak, yang sengaja ingin memanfaatkan keyakinan dan pemikiran masyarakat awam demi memenuhi ambisi busuk mereka, mengokohkan dan memperluas daerah kekuasaan mereka. Untuk tujuan itulah mereka menebarkan keyakinan-keyakinan syirik, menurunkan pengaturan alam di bawah kuasa mereka, dan menjadikan raja-raja yang zalim sebagai sembahan dan bagian dari upacara keagamaan. Kenyataan ini tampak begitu jelas pada raja-raja dan sultan-sultan di Cina, India, Iran, Mesir dan negeri-negeri yang lain.

Dengan demikian, dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bahwa  keyakinan-keyakinan dan dasar-dasar syirik itu telah tumbuh dan berkembang di tengah umat manusia karena faktor yang beragam. Lalu, keyakinan-keyakinan itu tersebar luas, sehingga menjadi kendala bagi proses kesempurnaan  hakiki umat manusia, yaitu proses yang hanya dapat dicapai melalui ajaran Ilahi  dan Tauhid. Oleh karena itu, para nabi dan utusan Tuhan, mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk memberantas syirik.

Pada dasarnya, keyakinan-keyakinan dan dasar-dasar syirik itu, bertumpu pada kepercayaan adanya pengatur alam selain Tuhan Yang Esa. Di samping itu, banyak kaum musyrik yang percaya, bahwa pencipta alam semesta adalah satu. Buktinya adalah bahwa mereka mempercayai konsep Tauhid dalam penciptaan. Tetapi pada saat yang sama, mereka pun meyakini adanya Tuhan-Tuhan sebagai pengatur alam secara mandiri. Dan mereka juga menamakan Tuhan Pencipta sebagai “Tuhan di atas Tuhan-Tuhan pengatur”.

Sebagian mereka menganggap, bahwa Tuhan-Tuhan pengatur itu adalah malaikat. Musyrikin Arab percaya, bahwa Tuhan-Tuhan pengatur itu adalah putri-putri Allah. Sebagian lainnya percaya, bahwa mereka itu adalah jin. Di antara mereka ada pula yang percaya, bahwa mereka itu adalah ruh bintang-bintang, atau ruh orang-orang terdahulu, atau bentuk-bentuk maujud yang abstrak.

Sebagaimana pernah kami singgung, bahwa sebenarnya terdapat kaitan yang erat antara penciptaan (Khaliqiyah) dengan pengaturan (Rububiyah) yang hakiki. Sehingga keimanan pada penciptaan dan pengaturan itu tidak dapat dipisahkan sama sekali. Dan keimanan kepada Allah sebagai pencipta alam raya ini, tidak sejalan dengan kepercayaan kepada selain Allah sebagai pengaturnya. Mereka yang memiliki keyakinan adanya dua Tuhan; Tuhan Pencipta dan Tuhan Pengatur, sesungguhnya belum menyadari adanya kontradiksi di dalamnya. Untuk menyanggah keyakinan mereka, cukuplah dengan mengangkat poin kontradiksi tersebut.

Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil atas Tauhid kepada Allah yang telah dipaparkan di berbagai kitab Teologi dan Filsafat. Di sini, kami hanya akan membawakan satu dalil saja, yang secara langsung menunjukkan Tauhid dalam pengaturan, sekaligus menyanggah keyakinan-keyakinan kaum musyrik.

 

Argumen atas Tauhid kepada Allah

Sesungguhnya memestikan dan meyakini banyak Tuhan bagi alam semesta ini, tidak keluar dari beberapa asumsi berikut ini:

Pertama: Kita memestikan bahwa setiap realitas alam ini merupakan akibat dan diciptakan oleh seluruh Tuhan tersebut.  

Kedua: Setiap unit atau kelompok realitas alam ini, adalah akibat dan diciptakan oleh satu Tuhan di antara Tuhan-Tuhan yang banyak itu.

Ketiga: Semua realitas di alam ini, diciptakan oleh Tuhan Yang Esa, sementarta Tuhan-Tuhan yang lain, berperan sebagai pengatur mereka.

Asumsi bahwa setiap realitas alam ini memiliki banyak Tuhan sebagai Tuhan-Tuhan Pencipta, adalah asumsi yang mustahil. Sebab, keyakinan ini berarti memestikan ada dua Tuhan atau lebih, sebagai pencipta dan sebagai sebab-pewujud. Artinya bahwa, setiap Tuhan itu memberi wujud kepada setiap realitas alam. Konsekuensinya adalah bahwa  setiap realitas itu memiliki Tuhan-Tuhan yang banyak sekali, sebanyak bilangan yang diasumsikan. Padahal kenyataannya sudah jelas, bahwa setiap realitas, hanya memiliki satu wujud saja. Tidak lebih dari satu wujud.Karena jika tidak demikian, tentu setiap realitas tidak lagi satu. 

Adapun asumsi bahwa setiap Tuhan itu menciptakan satu makhluk, atau menciptakan sekelompok makhluk tertentu, hal ini berarti, bahwa masing-masing makhluk itu bergantung hanya kepada  penciptanya saja, dan tidak butuh kepada maujud yang lain, kecuali dalam hal-hal yang kebutuhannya itu berakhir kepada penciptanya. Dan ini merupakan kebutuhan yang khas bagi makhluk-makhluknya. Dengan kata lain, asumsi kedua itu melazimkan  pula adanya sistem yang banyak di dalam alam raya ini. Dan setiap sistem itu, mandiri dan terpisah dari yang lain. Padahal alam ini, jelas, hanya memiliki satu sistem. Buktinya adalah adanya hubungan di antara realitas-realitas alam pada satu zaman, yang setiap mereka butuh kepada yang lain. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada hubungan di antara realitas-realitas sebelumnya dengan realitas-realitas yang sedang berlangsung. Demikian juga, antara realitas-realitas yang sedang berlangsung dengan yang berikutnya. Dan setiap realitas yang lalu, merupakan prasyarat bagi wujud yang berikutnya. Dengan cara seperti itu, alam yang terdiri dari bagian-bagian ini, saling berhubungan dan berkait yang diatur oleh satu sistem yang tidak mungkin sebagai akibat dari beberapa sebab pengada.                 

Adapun asumsi bahwa Pencipta seluruh makhluk adalah Tuhan Yang Esa, sedangkan Tuhan-Tuhan yang lain bertugas mengatur alam, adalah asumsi yang keliru. Karena seluruh wujud dan aktifitas setiap akibat itu, bergantung kepada sebab yang mengadakannya. Artinya, tidak ada celah bagi maujud mandiri apa pun, untuk ikut campur dalam urusan tersebut, selain interaksi antara sesama akibat-akibat dari satu sebab. Dan tentunya, seluruh akibat-akibat tersebut tunduk kepada sebab pengada mereka dan tidak keluar dari wilayah kekuasaan-Nya. Satu pun tidak akan terjadi, kecuali dengan izin-Nya.

Dengan demikian, Tuhan-Tuhan itu -selain Tuhan Pencipta dan Pewujud- bukan Tuhan dalam arti yang sebenarnya. Karena, makna Tuhan yang sebenarnya adalah Dzat yang dapat memperlakukan segala makhluk-Nya secara mandiri. Sedangkan pada asumsi di atas, Tuhan-Tuhan itu tidak mandiri dalam meng-aktifkan kekuasaan mereka. Bahkan mereka itu adalah serpihan dari rububiyah Pencipta Sejati. Dan akan menjadi aktif dengan kekuatan yang Dia berikan kepada mereka. Tanpa anugerah-Nya, segala aktifitas apa pun tidak akan terwujud.

Dengan demikian, bahwa asumsi adanya Tuhan-Tuhan pengatur alam yang tidak mandiri, tidak menafikan Tauhid Rububiyah (tauhid dalam pengaturan). Sebagaimana suatu penciptaan yang terjadi dengan izin Allah pun tidak menafikan Tauhid Khaliqiyyah-Nya. Di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis, terdapat ungkapan yang menunjukkan ketetapan penciptaan atau pengaturan vertikal (taba’i) dan tidak mandiri pada sebagian hamba-hamba Allah. Sekaitan dengan ihwal Nabi Isa a.s., Allah swt. berfirman:

“Dan ingatlah ketika kamu menciptakan dari tanah seperti bentuk burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniupkan padanya, lalu ciptaan itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku.”  (Qs. Al-Maidah: 110)

Di  ayat lain Allah Swt. berfirman:

 “Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur suatu urusan.” (Qs. An-Nazi’at: 5).

Alhasil, dugaan tentang kemungkinan adanya Tuhan-Tuhan bagi alam ini, muncul dari menyerupakan Allah dengan sebab-sebab material dan sebab-sebab penyiap, sehingga  dapat dikatakan bahwa Tuhan itu bisa berbilang bagi satu akibat. Tetapi, kita tidak mungkin dapat menyerupakan sebab pewujud dengan sebab-sebab tersebut. Sebagaimana kita juga tidak mungkin mengasumsikan diwujudkannya suatu akibat oleh sejumlah sebab pewujud dan sejumlah pengatur yang mandiri.

Jadi, untuk menyanggah dugaan tersebut, kita mesti berpikir lebih dalam tentang konsep sebab pengada dan ciri-ciri khasnya, sehingga kita mengetahui kemustahilan berbilangnya sebab bagi satu akibat. Demikian pula,  kita harus memperhatikan bahwa saling terkaitnya sesama realitas alam, tampak  jelas, bahwa sistem yang saling terpadu di alam semesta ini, tidak mungkin diciptakan oleh banyak Tuhan. Dan tidak mungkin juga tunduk pada pengaturan banyak pengatur yang mandiri.

Dari uraian di atas menjadi jelas pula, bahwa keyakinan terhadap wilayah takwiniyah (kekuasaan cipta) pada sebagian hamba yang saleh, tidak menafikan keimanan terhadap Tauhid. Tetapi yang penting adalah -sehubngan denganwilayah takwiniyah- jangan sampai kita menafsirkan wilayah ini, dengan makna penciptaan atau pengaturan yang mandiri. Sebagaimana keyakinan terhadap wilayah tasyri’iyah (kekuasaan hukum) pada Nabi saw dan para imam maksum as, juga tidak menafikan pengaturan kekuasaan hukum Allah (tasyri’iyah Ilahiyyah). Karena wilayah itu diwujudkan oleh Allah, dengan izin-Nya, dan bersumber dari-Nya.

27 Juni 2012

irhazat (Pertanda / Keajaiban Nabi Muhammad sebelum dilantik jadi nabi)

oleh alifbraja

irhazat (Pertanda / Keajaiban Nabi Muhammad sebelum dilantik jadi nabi) : Sebelum jadi Nabi Muhammad tidak sesat – Bantahan tafsir wahabi Albani yang menghukumi Nabi Muhammad sesat sebelum diangkat jadi Nabi

Posted on April 24, 2012 by admin

irhazat  (Pertanda / Keajaiban Nabi Muhammad sebelum diangkat jadi nabi) :  Sebelum jadi Nabi Muhammad tidak sesat – Bantahan tafsir wahabi Albani yang menghukumi Nabi Muhammad sesat sebelum diangkat jadi Nabi

Mukadimah

Hati Nabi Muhammad SAW 4 kali dicuci oleh para malaikat.
Pertama : Ketika beliau SAW masih menyusu di lingkungan keluarga Halimah Sa’diah. (sebelum jadi Nabi)
Kedua : Ketika beliau SAW dalam masa kanak-kanak. (sebelum jadi Nabi)
Ketiga : Sesaat ketika beliau SAW akan diangkat menjadi utusan Allah SWT,  (sebelum jadi Nabi)
Keempat : Ketika beliau SAW dipersiapkan untuk mi’raj menuju ke langit.
Dengan demikian jelas bahwa Rasulullah SAW 4 kali hatinya dicuci oleh para malaikat dengan menggunakan air Zamzam.

Adakah manusia mulia yang dicuci hatinya 3 kali pada masa kanak-kanak – remaja dan dewasa (sebelum jadi Nabi) seperti nabi Muhammad saw. sesat??

 Para Nabi adalah Maksum (suci dari dosa dan diampuni semua kesalahannya) karena dijaga Oleh Allah swt.

Adapun kesalahan kesalahan yang diperbuat para Nabi itu adalah Takdir dari Allah  swt. untuk dijadikan ibrah/pelajaran bagi ummatnya.

Irhasat (Pertanda)

Tradisi Islam banyak menceritakan bahwa pada masa kelahiran dan masa sebelum kenabian, Nabi Muhammad SAW sudah diliputi banyak irhasat (pertanda).[4] Muhammad dilahirkan pada tanggal 22 April 570 di kalangan keluarga bangsawan Arab, Bani HasyimIbnu Hisyam, dalam Sirah Nabawiyah menuliskan Muhammad memperoleh namanya dari mimpi ibunya,[5] Aminah binti Wahab ketika mengandungnya. Aminah memperoleh mimpi bahwa ia akan melahirkan “pemimpin umat”. Mimpi itu juga yang menyuruhnya mengucapkan, “Aku meletakkan dirinya dalam lindungan Yang Maha Esa dari segala kejahatan dan pendengki.” Kisah Aminah dan Abdul Muthalib juga menunjukkan bahwa sejak kecil Muhammad adalah anak yang luar biasa.[6]

Berikut ini adalah irhasat (pertanda) yang terjadi pada saat sebelum, sesudah kelahiran dan masa kecil Muhammad:

Sebelum dan sesudah kelahiran

  • Aminah binti Wahab, ibu Muhammad pada saat mengandung Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah merasa lelah seperti wanita pada umumnya,
  • Raja Khosrow (Kekaisaran Sassania dari Persia) dan para pendita Majusi bermimpi yang menakutkan.[7]
  • Dinding istana Raja Khosrow tiba-tiba retak dan empat belas menaranya Dewan Kekaisaran ini runtuh,[8]
  • Padamnya api yang disembah penganut Agama Majusi secara tiba-tiba,[8]
  • Terjadinya gempa yang merobohkan tempat ibadah di sekitar Kerajaan Rum,
  • Danau dan sawah mengering.[8]
  • Saat melahirkan Muhammad, Aminah binti Wahab tidak merasa sakit seperti wanita sewajarnya.
  • Keluarnya cahaya dari faraj Aminah yang menerangi istana negeri Syam.[9]
  • Muhammad dilahirkan dalam keadaan sudah berkhitan.[10]
  • Lahir dengan tali pusar sudah terputus.[11]

Balita dan kanak-kanak

  • Halimah binti Abi-Dhua’ib, ibu susuan Muhammad dapat menyusui kembali setelah sebelumnya ia dinyatakan telah kering susunya.[12] Halimah dan suaminya pada awalnya menolak Muhammad karena yatim. Namun, karena alasan ia tidak ingin dicemooh Bani Sa’d, ia menerima Muhammad. Selama dengan Halimah, Muhammad hidup nomaden bersama Bani Sa’d di gurun Arab selama empat tahun.[13]
  • Ternak kambing Halimah menjadi gemuk-gemuk dan susunya pun bertambah,[14]
  • Pada usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara dan pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing.
  • Abdul Muthalib, kakek Muhammad menuturkan bahwa berhala yang ada di Ka’bah tiba-tiba terjatuh dalam keadaan bersujud saat kelahiran Muhammad. Ia juga menuturkan bahwa ia mendengar dinding Ka’bah berbicara, “Nabi yang dipilih telah lahir, yang akan menghancurkan orang-orang kafir dan membersihkan dariku dari beberapa patung berhala ini, kemudian memerintahkan untuknya kepada Zat Yang Merajai Seluruh Alam Ini.”[15]
  • Ketika Muhammad berusia empat tahun,[16] ia pernah dibedah perutnya oleh dua orang berbaju putih yang terakhir diketahui sebagai malaikat. Peristiwa itu terjadi di ketika Muhammad sedang bermain dengan anak-anak Bani Sa’d dari suku Badui. Setelah kejadian itu, Muhammad dikembalikan oleh Halimah kepada Aminah.[17] Sirah Nabawiyyah, memberikan gambaran detai bahwa kedua orang itu, “membelah dadanya, mengambil jantungnya, dan membukanya untuk mengelurkan darah kotor darinya. Lalu mereka mencuci jantung dan dadanya dengan salju.”[18] Peristiwa seperti itu juga terulang 50 tahun kemudian saat Muhammad diIsrakan ke Yerusalem lalu ke Sidratul Muntaha dari Mekkah.[19]
  • Dikisahkan pula pada masa kecil Muhammad, ia telah dibimbing oleh Allah. Hal itu mulai tampak setelah ibu dan kakeknya meninggal. Dikisahkan bahwa Muhammad pernah diajak untuk menghadiri pesta dalam tradisi Jahiliyah, namun dalam perjalanan ke pesta ia merasa lelah dan tidur di jalan sehingga ia tidak mengikuti pesta tersebut.[20]

Remaja

  • Pendeta Bahira menuturkan bahwa ia melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Muhammad saat itu berusia 12 tahun sedang beristirahat di wilayah Bushra dari perjalannya untuk berdagang bersama Abu Thalib ke Syiria. Pendeta Bahira menceritakan bahwa kedatangan Muhammad saat itu diiringi dengan gumpalan awan yang menutupinya dari cahaya matahari. Ia juga sempat berdialog dengan Muhammad dan menyaksikan adanya sebuah “stempel kenabian” (tanda kenabian) di kulit punggungnya.[21]
  • Tanah yang dilalui oleh unta Muhammad diperpendek jaraknya oleh Jibril, sebelah sisi kanan dijaga oleh Israfil dan sisi kirinya dijaga oleh Mikail kemudian mendung menaunginya.[22][23]
  1.  Abu Zahra (1990)
  2. ^ Hadits riwayat Muttafaq ‘alaih dengan lafal Muslim
  3. ^ Umar bin Sawad mengatakan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah berkata kepadanya, “Apa yang Allah berikan kepada para nabi maka hal itu pun diberikan kepada Nabi Muhammad saw…”
  4. ^ Perbedaan Mukjizat, Irhasat dan Khawariq di www.Scribd.com
  5. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 293. Makna dari nama Muhammad adalah “Orang yang sering dipuji” atau “Orang yang layak dipuji.”
  6. ^ Ramadan (2007). hal 34
  7. ^ Bihar Al-Anwar, XV, Bab 3, ms 231-248.
  8. ^ a b c Beberapa irhasat (petanda-petanda) kebangkitan seorang rasul telah berlaku beberapa ketika, sebelum kelahiran Rasulullah, di antaranya runtuhan empat belas anjung dewan Kisra Parsi, terpadamnya api yang disembah penganut agama majusi, robohnya gereja-gereja di sekitar Romawi yang sebelum ini penuh sesak dengan para pengunjung, danau dan sawah mengering. (Kisah ini diriwayatkan oleh al- Baihaqi).
  9. ^ Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa ibu Rasulullah (s.a.w) menceritakan: ” Ketika ku melahirkannya, satu cahaya telah keluar dari farajku, menerangi mahligai-mahligai di negeri Syam”, periwayatannya hampir sama dengan apa yang diriwayatkan oleh al-Irbadh bin Sariah.
  10. ^ Rasulullah SAW bersabda: Di antara kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepadaku adalah, aku dilahirkan dalam keadaan sunah dikhitan, karena itu tidak ada orang yang melihat aurat/kemaluanku. (HR. al- Thabrani, Abu Nuaym, al Khatib dan ibn Asakir) (diriwayatkan dari Ibn Abbas, Ibn Umar, Anas, Abu Hurairah. menurut Diya^ al Maqdisi, hadits ini shahih. Al Hakim selain menilai shahih, juga mengatakan mutawatir. Lihat al Khasa^is al kubra, Jlid.1, hal. 90-91)
  11. ^ Kisah dari Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas, al Dhiya al Maqdisi dari Abbas Ibnu Abdul Muthalib dan Ibnu Asakir dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW lahir dalam keadaan tali pusar sudah putus. (Hadist ini tidak sepopuler dan sekuat hadits yang menceritakan kalau Beliau SAW terlahir dalam keadaan sunah dikhitan)
  12. ^ Kauma (2000), hal 42
  13. ^ Ramadan (2007). hal 35
  14. ^ ”Halimah kemudian mengambil Muhammad dan dibawanya pergi bersama2 dgn teman2nya ke pedalaman. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu, ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk2 dan susunya pun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yg ada padanya.” Sejarah Hidup Muhammad, karangan Muhammad Husain Haekal, bab III, Muhammad: Dari Kelahiran sampai Perkawinannya, hal 57.
  15. ^ Kauma (2000), hal 43
  16. ^ Menurut pendapat mayoritas pakar sejarah, saat itu Muhammad berusia empat atau lima tahun. Namun,Ibnu Ishaq berpendapat bahwa usia Muhammad saat itu adalah tiga tahun
  17. ^ Ramadan (2007). hal 42
  18. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 302.
  19. ^ Ramadan (2007), hal 43
  20. ^ Ramadan (2007). hal 46
  21. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 319 : Ibnu Hisyam dalam bukunya menuturkan bahwa “Stempel Kenabian” adalah tanda yang terdapat pada setiap nabi yang tertulis dalam kitab Pendeta Bahira
  22. ^ Dalam kitab as-Sab’iyyatun fi Mawadhil Bariyyat. Kejadian ini berlangsung selama perjalanan dari Syiriake pulang ke Mekkah, ketika Muhammad diperintahkanMaysarah membawakan suratnya kepada Khadijahsaat perjalanan masih 7 hari dari Mekkah. Namun, Muhammad sudah sampai di rumah Khadijah tidak sampai satu hari. Allah memerintahkan pada malaikatJibrilMikail, dan mendung untuk membantu Muhammad. Jibril diperintahkan untuk melipat tanah yang dilalui unta Muhammad dan menjaga sisi kanannya sedangkan Mikail diperintahkan menjaga di sisi kirinya dan mendung diperintahkan menaungi Muhammad. Kauma (2000), hal 90-91
  23. ^ [http://teladan98.tripod.com/teladan168.htm Nabi Muhammad Pulang Ke Makkah.
  24. ^ Books.Google.com Benarkah Nabi Muhammad & Umatnya Lebih Istimewa hal 39 By Al-Imam Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani. (Lihat Syahru Mawahibil Laduniyyah, V/206).
%d blogger menyukai ini: