Posts tagged ‘Nabi Muhammad S.A.W’

15 Juli 2012

Allah: Cahaya-Nya, Mahasuci-Nya, Rahasia-Nya

oleh alifbraja

Allah-and-Muhammad-in-Arabic--muxlimos-lair

Salam alaikum,

“Amantu bi Rasul wa bimaa qaala Rasuli”.
Aku beriman kepada Rasul dan dengan apa yang disabdakannya.

“Awwalu wa khalaqallahu Nuuri Nabiyika, yaa Jabiir. Fa khalaqa minhul asy ya-a”
Yang mula-mula sekali dijadikan Allah ialah cahaya nabimu, ya Jabir. Dijadikan daripadanya itu segala isi alam.

Berkata lagi Rasulullah Saw. pada Jabir: 
“Termasuklah diri kamu pun dari segala isi alam itu.”


Dan Rasulullah Saw. bersabda lagi:
ﺍﻧﺎ ﻣﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻣﺆﻣﻨﻭﻥ ﻣﻨﯥ
“Aku dari Allah dan sekalian mukmin dariku.”

Firman Allah Swt. dalam hadis qudsiy:
“Innallaaha khalaqa ruuhi nabiyyika shalallaahu `alaihi wasallam min dzaatihi”
“Sesungguh-Nya Allah menciptakan ruh Muhammad Saw. itu dari Zat-Nya.”

Allah Swt. juga menegaskan dalam hadis qudsiy lainnya:
“Lau laka laa maa khalaktul aflaka.”
Jika bukan karena engkau (Muhammad), tidak Kuciptakan alam semesta ini.

Allah dan Cahaya-Nya

Dari Cahaya Nabi ini jadi apa? Cahaya inilah yang dikatakan Nur Ilahi. Ada juga yang menyatakan ini Cahaya Allah. Jadi, yang disebut Nuur ialah Nama bagi Cahaya Tuhan. Cahaya Tuhan itu tidak pernah rusak dan tidak binasa. Ingat, Cahaya Tuhan itu bukan Tuhan. Jangan Tuhan dirupakan sebagai Cahaya.

Terdahulu Tuhan itu mentajallikan Cahaya Diri-Nya. Cahaya Diri-Nya inilah yang diakatan `alaa bikulli syai`in muhiith (meliputi segala sesuatu). Jelas sekali Cahaya Tuhan itu tubuhnya sekalian alam atau lembaga sekalian alam. Cahaya inilah tubuh maharuang. Inilah zat mutlak, yaitu satu zat yang tiada berwujud: tidak berbentuk, tidak bertempat; ujungnya tidak ada kesudahan, demikian juga pangkalnya. Bahkan munculnya pun tidak diketahui. Ini yang dikatakan satu zat yang tidak berwujud.

Kalau di Quran Surat Nuur, Cahaya Allah itu tembus menembus. Zat-zat dan cahaya-cahaya pun ditembusnya, tetapi Cahaya Tuhan ini tidak bisa ditembus sesuatu apa pun.

Kalau sudah tahu Cahaya Tuhan itu meliputi sekalian alam, tentulah yang ada pada sekalian alam ini diliputi Cahaya (wa zulumati ila Nur). Cahaya inilah Nuurun `ala nuurin, Cahaya di atas cahaya. Tentulah Cahaya Tuhan yang tertinggi.

Cahaya Tuhan ini lebih terang daripada cahaya matahari dan lebih dahsyat daripada api neraka. Tentulah tidak akan ada kehidupan di dunia dan takkan ada segala sesuatu apa pun. Agar terjadi proses-proses alam dan segala sesuatu yang hidup, Allah tabir Cahaya-Nya itu dengan Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad ini barulah bisa terjadi segala macam proses kejadian (di alam semesta). Kalau Cahaya Tuhan saja (tanpa ditabiri dengan Nur Muhammad), Bukit Thursina pun hancur jadi debu. Demikian dengan selainnya, pasti hancur juga.

Maka dengan Rahman Allah agar alam ini ada kehidupan dan ada proses, diadakankah Nur Muhammad yang dapat menabiri kehidupan dari Cahaya-Nya. Inilah sebabnya Allah berfirman, “Jika bukan karena engkau (Muhammad), tidak Kuciptakan alam semesta ini.”

Buka juga Q.S. Fushilat:54

أَلَآ إِنَّہُمۡ فِى مِرۡيَةٍ۬ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡ‌ۗ أَلَآ إِنَّهُ ۥ بِكُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّحِيطُۢ
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

Orang yang dalam keragu-raguan itu orang yang belum kenal. Kalau orang yang sudah kenal, tidak ada keraguan lagi tentang Tuhan.

Inilah tugas yang berat bagi Rasulullah, yaitu mengenalkan manusia kepada Tuhan. Kalau sudah kenal, sembahlah yang kaukenal itu. Bagaimana kita bisa menyembah, sedangkan yang kita sembah tidak kita kenali? Bisa saja timbul rekayasa berupa patung, bulan, bintang, berupa wasilah, dan lain-lain.

Allah dan Mahasuci-Nya

Sekalian alam, semua itu Mahasucinya Allah. Kalau Allah Mahasuci, alam itu pun mahasuci juga. Mahasucinya Allah itu, berupa zat wajiba alwujud (zat yang wajib Ada). Inilah wujud Qadim dan wujud muhaddas (baharu), artinya, wujud yang boleh ada, boleh di-ada-kan, boleh juga tidak di-ada-kan.

Wujud muhaddas ini terdiri atas empat:

1. Jirim Sesuatu yang berbentuk: dapat dlihat dan diraba dengan pancaindera.
Seperti diri manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda lainnya.
2. Jisim Sesuatu yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat diraba dengan pancaindera,  Seperti angin, bebauan, iblis, jin, setan <= jisim latif  
3. Jawhar Sesuatu yang berbentuk cahaya-cahaya. Malaikat termasuk golongan ini.
4.`Arad Sekalian sifat-sifat makhluk (baharu), seperti tinggi, rendah, putih, legam, keras, lunak, kasar, dsb.

Allah tidak berupa jirim, jisim, jawhar, dan `arad ini. Kalau ada yang mempersamakan-Nya dengan jirim, jisim, jawhar, dan `arad, kemudian meyakininya, kafirlah dia!

Muakal-muakal, khodam-khodam, dan sebagainya itu, itu semua jin! Makhluk jisim.

Allah mengingatkan iblis, setan, jin itu sesungguhnya musuh-musuh kamu. Jauhilah! Mengapa ada manusia yang mau memberi sesajen ini-itu, bahkan ada yang mau berdatukkan para jin. Nauzubillah! Enyahkanlah perbuatan yang membawa kepada kesesatan.

  • Lihat kasus lumpur Lapindo itu, berapa kepala kerbau dilemparkan dan berapa banyak sesajen lainnya dipersembahkan, mengapa tidak surut juga?
  • Lihatlah batu (Gunung Merapi) disembah Mbah Maridjan diberi sesajen ini itu, kenapa masih meletup juga?

Sadarlah! Manusia itu laqad khalaqnal insaana fi ahsani taqwim. Manusia itu makhluk yang seindah-indah kejadian. Mengapa manusia mau menjatuhkan derajatnya di bawah Iblis, jin, setan?!! 

Allah dan Rahasia-Nya

Maharuang itu zat mutlak atau Cahaya Ilahi. Zat mutlak ini Rahasia Tuhan. Rasahsia Tuhan inilah Roh Qudus yang ada di sama-tengah hati atau di dalam syiir. Inilah wa fi anfusikum (Aku ada di dalam diri kamu). Yang berkuasa atas segala diri manusia.

Kalau Rahasia Tuhan (Roh Qudus) ini keluar dari jasad, ditinggalkannya jasad, binasalah jasad. Kalau dia keluar, lalu lari dari jasad, binasa juga jasad.

Kalau dia keluar dari jasad, memecahkan dirinya lalu satu dengan jasad, selamatlah jasad. Hiduplah sampai yaumil qiyamah. Tubuh ini tidak pandai tua. Makanya di akhirat itu tidak ada yang tua. Muda semuanya.

Dalam permasalahan mati, tidak perlu lagi kita mau pakai tanda-tanda, mau berseri-seri, mau tau hari dan jam-jamnya, semua itu tidak bisa dipakai (sebagai patokan). Yang penting kita ketahui: biar mati sekalipun, jasad dan ruh qudus tidak bercerai. Kalau becerai, binasa jasad. Hidup (di dunia) saja kalau jasad becerai dengan ruh, binasa jasad. Apalagi setelah mati nanti. Binasa juga jasad.

Maka perlu diketahui, Diri Tuhan yang dijadikan itulah induknya sekalian yang bernyawa. Itulah Cahaya di atas cahaya. Cahaya Tuhan yang paling tinggi. Di sinilah yang paling nikmat senikmat-nikmatnya. Tidak ada sesuatu lagi. Yang ada zawq saja. Nikmat senikmat-nikmatnya. Inilah la bi harfin wa laa syautin (tidak berhuruf, tidak bersuara). Tidak ada ilmu yang bisa menafsirkan nikmat ini.

Bagi orang tauhid yang hakiki, yang dikatakan Allah itu nikmat senikmat-nikmatnya. Diistilahkan Allah itu Surga.

Kita, Zat Asam, dan Zat Mutlak

Kita ini sudah dilindungi zat asam. Ingat uraian di atas, zat asam ini jadadnya Muhammad. Berarti kita ini sudah bersama-sama dengan zat asam. Dan zat asam sudah bersama zat mutlak.

Mengapa kita tidak bisa bertemu? Sedangkan zat mutlak selalu bersama-sama zat asam. Dan kita bersama zat asam. Suatu yang mustahil kalau tidak bisa bertemu. Hanya bagi orang yang punya pandangan dan pemikiran.

Yang namanya mahaesa itu tidak becerai. Yang dikatakan tidak bercerai ini satu. Tidak mengenal dua. Kalau diri kita bukan Diri Tuhan, becerailah. Nerakalah tempatnya. Pahami yang dikatakan Mahaesa itu. Mahaesa itu satu, tidak becerai.

Tuhan diriku. Tuhan diriku ini yang mana? Rahasia Tuhan yang ada di sama-tengah hati (pusat), itulah Diri Tuhan.

Segala ilmu sudah Aku hidayahkan kepada nabi-nabi, rasul-rasul, wali-wali, arif billah: hamba-hamba-Ku yang saleh. Ambillah Diri Aku itu! Bersama Aku-lah kamu.

Maka kata para muwwahid, Diri Tuhan jugalah yang bisa sampai ke Tuhan. Beginilah adanya cerita/pengetahuan dalam tauhid.

Jalan pengenalan pada Tuhan itu: zat semata-mata. Ini sebabnya mengenal Tuhan itu mudah. Lebih sulit itu mengenali wali Allah.

Rasulullah saw bersabda:
‘ U’budulla-ha ka an naka tara-hu fa in lam takun tara-hu fa innahu yara-ka.
“Sembahlah Allah seakan –akan kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, maka yakinkanlah bahwa Allah melihat kamu.”

Ketika kamu beribadah, pandanglah Allah itu. Sekarang waktu kamu salat, waktukamu bertakbir, siapa Allah itu? Maka pentinglah mengesakan diri. Bukan Ruhani saja mahaesa, jasad musti mahaesa juga. Oleh sebab itu, jasad ini perlu dimahaesakan.

Kalau jasad tidak dapat mengesakan, ruhani akan menuntut.
Sebab badan yang mengandung nyawa, bukan ruhani yang mengandung tubuh

Catatan:
Ada kalangan ulama yang menyatakan ini hadis munkar, bahkan menyatakannya sebagai dalil sesat. Sungguh, jika Allah mengizinkan, suatu hari kami akan menunjukkan betapa mereka sekalian telah ter-yahudi-kan secara perlahan sehingga tanpa sadar telah bermata satu dalam beriman Islam

Iklan
12 Juli 2012

Tiga Warisan Rasulullah

oleh alifbraja

Inilah Tiga Warisan Rasulullah

 
 

NYARIS tidak ada satupun manusia yang tidak ingin memperoleh warisan harta duniawi. Harta warisan dari orangtua memang sangat menggiurkan. Keadaan seperti itu dialami juga oleh orang-orang yang hidup tidak lama sepeninggal Nabi Muhammad Shallahu `alaihi wa Sallam.

Pada suatu pagi, Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu pergi ke sebuah pasar. Di situ beliau melihat sebagian orang tenggelam dalam aktivitas bisnis. Mereka asyik melakukan transaksi jual-beli. Melihat hal itu, Abu Hurairah ingin mengingatkan mereka agar tidak terjebak dalam masalah duniawai melupakan aspek ukhrawi.

Bolehlah dunia dicari namun akhirat jangan lupa untuk diburu.

Abu Hurairah berkata, “Wahai penghuni pasar, alangkah lemahnya kalian.”

Mereka bertanya penasaran, “Apa maksudmu, wahai Abu Hurairah?”

“Itu warisan Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian darinya?”

“Di mana?” Abu Hurairah menjawab: “Di masjid.” Maka mereka keluar dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali. Setelah para penghuni kembali dari masjid, Abu Hurairah bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

Mereka menjawab, “Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid, kami masuk ke dalamnya tapi tidak ada yang dibagi.”

Abu Hurairah bertanya, “Apa kalian tidak melihat seseorang di masjid?” Mereka menjawab, “Kami melihat orang-orang yang shalat, membaca Al-Qur’an, dan orang yang mempelajari halal-haram.”

Abu Hurairah berkata, “Celaka kalian, itulah warisan Muhammad Shallahu `alaihi wa Sallam.”

***

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari dalam kitabnya Al-Awsath ini memberikan banyak pelajaran berharga tentang pentingnya memburu warisan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad Shallahu `alaihi wa Sallam.

Bukan harta benda, uang, kendaraan mewah, rumah megah, gemerincing uang dinar yang menjadi warisan. Warisan yang ada jauh lebih abadi, berlaku sepanjang masa, itulah warisan berupa mengerjakan shalat, membaca Al Qur`an, dan mempelajari halal-haram.

Warisan pertama adalah shalat. Shalat merupakan tiang agama. Shalat menjadi amal yang pertama kali diaudit oleh Allah. Ia menjadi amal yang dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Manakala shalat kita baik, amal ibadah selanjutnya akan menjadi baik. Sebaliknya, ketika amal shalat kita terpuruk, berlubang di waktu-waktu dalam hayat kita, seperti itulah konsekuensi amal lainnya, minus dan penuh kecacatan.

Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam menggambarkan seorang mukmin yang menunaikan ibadah shalat wajib seperti orang yang mandi sebanyak lima kali di waktu pagi, siang, petang, dan malam. Ia selalu berada dalam kebersihan, bersih dari noda dan kotoran, dosa-dosanya rontok bersama iringan bacaan dan gerakan shalatnya.

Kedudukan shalat menjadi semakin penting saja, saat perintah pelaksanaannya disampaikan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala kepada Rasul Shallahu `alaihi wa Sallam dalam peristiwa isra`-mi`raj.

Imam Ahmad bin Hajar Al-Haitamiy dalam kitabnya Al-Zawajir mengetengahkan sebuah hadits yang menyebutkan sejumlah kemuliaan bagi yang melaksanakan shalat dan kehinaan bagi yang meninggalkannya.

Secara singkat, dalam hadits yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar tersebut, disebutkan bahwa Allah memberikan 5 kemuliaan pada orang yang melaksanakan shalat:

Pertama. Allah akan angkat kesulitan dari kehidupannya
Kedua. Dilindungi dari azab kubur
Ketiga. Catatan amalnya diberikan di tangan kanannya
Keempat. Melewati jembatan akhirat secepat kilat
Kelima. Masuk surga tanpa hisab.

Masih dalam hadits yang sama, ada 15 kehinaan bagi orang yang meremehkan shalat terdiri dari 6 kehinaan di dunia, 3 saat kematian datang, 3 di alam kuburnya, dan 3 saat dibangkitkan dari alam kubur.

6 kehinaan di dunia : Diangkatnya keberkahan dari umurnya, dihapuskannya tanda-tanda kaum shalihin dari wajahnya, setiap perbuatan yang ia kerjakan tidak mendapatkan pahala dari Allah, doanya tidak diangkat ke langit, tidak masuk dalam bagian doa orang-orang shaleh, dan mudah menyimpan kebencian pada orang lain.

3 kehinaan saat datang kematian: mati dalam keadaan hina, meninggal dalam keadaan kelaparan, mati dalam keadaan kehausan meski lautan di dunia diminumkan kepadanya. 3 kehinaan di alam kubur : kuburnya akan menghimpitnya hingga meremukkan tulang-tulangnya, dinyalakan api dalam kuburnya di waktu siang dan malam hari, dan disisipkan ular dalam kuburnya. Sedangkan 3 kehinaan setelah dibangkitkan dari alam kubur adalah: menghadapi hisab (perhitungan) yang sangat berat, mendapatkan murka Allah, dan masuk ke dalam api neraka.

Inilah warisan pertama Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam yang beliau berikan kepada kita. Dalam shalat ada komunikasi dan dialog dengan Tuhan, momentum untuk menumpahkan segala asa dan perasaan, bersimpuh sujud, memohon petunjuk, dan hidayah-Nya. Dinamakan shalat, kata Habib Alwi bin Syahab, karena ia adalah shilah (penghubung) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Jika shalatnya terputus, maka hubungan seorang hamba menjadi terputus juga.

Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang meremehkan waktu-waktu shalat yang terwujud dalam sikap dalam menunda melaksanakannya, tidak bersungguh-sungguh, hanya sekadar menggugurkan kewajiban, bahkan sampai pada taraf meninggalkannya. Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Di antara perbuatan yang bisa menyebabkan kematian yang buruk (su`ul khatimah) adalah meninggalkan shalat.”

Warisan kedua Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam adalah membaca Al-Qur`an. Al Qur`an merupakan kitab rujukan utama. Tidak ada satu kitabpun di dunia ini yang lebih indah susunan kata-katanya, jelas dalam memberikan keterangan, mencakup segala aspek, bersih dari tangan-tangan jahil, melebihi Al-Qur`an.

Al Qur`an diturunkan untuk menjadi pedoman dalam hidup. Ia menjadi kitab yang paling banyak diperbincangkan sejak dulu hingga kini. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, membaca Al Qur`an semakin terpinggirkan, kalah riuh oleh kegaduhan musik. Anak-anak kita semakin pandai dan cakap saja dalam melantunkan lirik-lirik lagu bertema ‘pacaran’, bercinta, ajakan kepada maksiat, kegelisahan, putus cinta, dan sebagainya.

Di sisi lain, orangtua lebih sibuk untuk membuat putra-putri mereka sukses di dunia daripada memikirkan kehidupan mereka selepas mereka hidup dunia ini. Al-Qur`an menjadi perhatian hanya di masa bangku sekolah dasar, itupun cukup di TPQ, sementara para orangtua tidak merasa bersalah ketika mereka tidak memberi contoh membaca Qur`an karena ketidakmampuannya.

Selepas Sekolah Dasar, anak-anak tak lagi berhasrat atau tidak dimotivasi untuk memperdalam Al Qur`an. Mereka dikondisikan untuk lebih fokus dengan materi pelajaran yang tidak seimbang antara kebutuhan spiritual dan intelektual. Imam Abu `Amr bin Shalah dalam Fatawa-nya mengatakan bahwa, “Membaca Al Qur`na merupakan sebuah kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan manusia.

Malaikatpun tidak diberi kemuliaan seperti itu, padahal mereka sangat menginginkannya setelah mendengar manusia membacanya.”

Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim untuk mampu membaca, memahami, merenungi, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur`an. Inilah warisan kedua yang ditinggalkan oleh Rasul Shallahu `alaihi wa Sallam kepada kita, umatnya, agar kita terbimbing dalam jalan kebenaran, tidak terseok-seok dalam kesesatan. Sayidina Abdulah bin Mas`ud Radhiyallahu `anhu pernah berucap, “Jika kalian menginginkan ilmu, maka sebarluaskan Al-Qur`an sebab di dalamnya tersimpan ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang.”

Warisan berikutnya adalah mengetahui status halal-haram. Warisan terakhir ini memberi hikmah kepada kita tentang pentingnya mengenal status halal-haramnya suatu barang, makanan, atau perbuatan yang akan kita lakukan. Sayidina Umar bin Khaththab Radhiyallahu `anhu, selaku Amirul Mukminin, pernah berkata kepada seluruh pedagang di pasar kota Madinah, “Tidak ada yang boleh berjualan di pasar kami (yaitu) orang yang belum memiliki ilmu sebab orang yang tidak berilmu ia bisa memakan riba` tanpa menyadarinya.”

Sikap kehati-hatian dalam halal-haram tampak dari sikap Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu `anhu. Suatu hari, usai kembali dari pasar beliau meminum segelas susu. Beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikitpun tentang asal-usul segelas susu tersebut. Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, “Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal-muasal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya?”

Dengan rasa kaget, Abu Bakar bertanya, “Memangnya susu ini dari mana?”
Pembantunya menjawab, “’Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang.

Suatu kali setelah saya ramal nasib seorang pelanggan, dia tidak sanggup membayar karena tidak punya uang, tapi dia berjanji suatu saat akan membayar.

Tadi pagi saya bertemu di pasar dan dia memberikan susu itu sebagai bayaran untuk utang yang dulu belum sempat dia bayar.”

Mendengar itu, langsung Abu Bakar memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut dan mengoyang-goyangkan anak lidah agar muntah. Beliau berusaha untuk mengeluarkan susu tersebut dari perutnya, dan tidak ingin sedikit pun tersisa.

Bahkan dalam riwayat itu disebutkan, beliau sampai pingsan karena berusaha memuntahkan seluruh susu yang telanjur beliau minum lalu berkata, “Walaupun saya harus mati karena mengeluarkan susu ini dari perut saya, saya rela. Saya mendengar Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.”

Tidak hanya itu, istri para As-salaf ash-shalih (para pendahulu kita yang baik) bila suaminya keluar dari rumahnya, iapun berpesan, “Jauhi olehmu penghasilan yang haram, karena kami mampu bersabar atas rasa lapar tapi kami tak mampu bersabar atas neraka.”

Ketiga warisan nabi yaitu menunaikan shalat, membaca Al-Qur`an, dan mengatahui hal-hal yang halal dan haram, merupakan warisan yang harus kita jaga dengan sungguh-sungguh. Shalat tepat pada waktunya dengan berjama`ah. Membaca Al Qur`an sesuai tajwid lalu berusaha memahami dan mengamalkannya, dan mengetahui status halal-haram pada suatu barang dengan tepat dan teliti.

Jika warisan duniawi begitu disukai meski bersifat sementara, yang akan sirna seiring berlalunya waktu, maka tiga warisan di atas harus lebih kita utamakan dari masa ke masa, karena ketiga warisan ini akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

7 Juli 2012

Rasul Menangis sewaktu Shalat dan karena Rabb-nya

oleh alifbraja

Rasul Menangis sewaktu Shalat dan karena Rabb-nya

 

shalat - berjamaah.com

Hakikat menangis, Rasul  SAW juga sebagai tauladan yang mutlak bagi semua umatnya dalam segala segi, termasuk dalam praktek menangis karena Rabbnya.

Beliau terbukti sering menangis baik sedang berada di tempat sepi ataupun di depan orang banyak, baik sewaktu membaca, atau mendengar ayat-ayat al-Qur’an bahkan disebabkan hal lain.

 

Untuk lebih jelas mari kita perhatikan beberapa riwayat di bawah ini:

Menangis sewaktu shalat karena bacaan Al Qur’an

عن ابن عمر قال إخبرينا بأعجب ما رأيته من رسول الله صلى الله عليه وسلم
فبكت وقالت كل أمره كان عجبا أتاني في ليلتي حتى مس جلده جلدي ثم قال
ذريني أتعبد لربي عز وجل قالت فقلت والله إني لأحب قربك وإني أحب أن تعبد
ربك فقام إلى القربة فتوضأ ولم يكثر صب الماء ثم قام يصلى فبكى حتى بل
لحيته ثم سجد فبكى حتى بل الأرض ثم اضطجع على جنبه فبكى حتى إذا أتى بلال
الصبح قالت فقال يا رسول الله ما يبكيك وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك
وما تأخر فقال ويحك يا بلال وما يمنعني أن أبكي وقد أنزل علي في هذه
الليلة إن في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي
الألباب ثم قال ويل لمن قرأها ولم يتفكر فيها.

Dari Ibnu Umar RA (hai Aisyah!) beritahu kami tentang apa yang paling mengagumkan dari yang kamu lihat pada Rasulullah SAW, maka ia menangis dan berkata: Semua tingkah lakunya selalu mengagumkan. Pada suatu malam beliau datang kepadaku hingga bersentuhan kulitnya dengan kulitku, kemudian beliau bersabda: Perkenankan aku menyembah Rabbku Azza wa Jalla, maka aku berkata: demi Allah sungguh aku sangat senang engkau berada di dekatku, dan aku juga segan engkau menyembah Rabbmu.

Maka beliau berdiri untuk mengambil air wudlu dalam gariba, dan beliau tidak banyak menggunakan air, kemudian beliau melakukan shalat maka menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya, kemudian sujud maka menangis hingga air matanya membasahi lantai, kemudian beliau berbaring dan terus menangis hingga tiba waktu shubuh terdengar suara Bilal.

Aisyah berkata: Bilal berkata: hai Rasulallah apa yang membuat engakau menangis, padahal Allah telah mengampuni semua dosamu baik yang dahulu ataupun yang akhir. Aduhai Bilal! Bagaimana aku tidak menangis sedangkan pada malam ini telah turun kepadaku inna fii khalqissamawat … Kemudian belliau bersabda: sungguh rugi orang yang membacanya tanpa disertai dengan tafakkur. Dengan hadis di atas maka jelaslah bahwa menangis sewaktu shalat karena membaca al-Quran adalah sunah Rasul yang mesti diikuti ummatnya.

Menangis karena mendengar Al-Qur’an dibacakan

عن عمرو بن مرة قال قال لي النبي صلى الله عليه وسلم اقرأ علي قلت آقرأ
عليك وعليك انزل قال فإني أحب أن أسمعه من غيري فقرأت عليه سورة النساء
حتى بلغت فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد قال أمسك فإذا عيناه تذرفان

Dari Amr bin Murrah, Rasulullah SAW bersabda: Bacakan kepadaku (Al Qur’an)! Apakah patut aku membacakan kepadamu, padahal kepadamu diturunkannya? Beliau bersabda: Aku ingin mendengar dari yang lain. Maka aku bacakan surat al-Nisa hingga sampai bacaan ku pada ayat كيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد beliau bersabda: “tahanlah (berhenti)!”

Ternyata kedua mata mencucurkan air mata. Rasulullah saw tidak saja mudah menangis sewaktu membaca al-Quran, akan tetapi dikala beliau mendengar pun ternyata begitu mudah meneteskan air mata hingga tidak sanggup melanjutkannya.

Menangis karena kondisi lain

Jika ada yang berpandangan bahwa menangis hanya dinilai baik bila sedang sendirian pada waktu sunyi maka sesungguhnya Rasulullah saw suka menangis tidak hanya pada waktu sendirian dan ditempat sunyi. Beliau sebagai hamba yang paling dicintai Allah, ternyata tidak hanya menangis karena membaca al-Qur’an atau mendengarnya di tempat yang sepi pada malam hari akan tetapi beliau terkadang menangis juga di ruang terbuka dan didengar oleh para sahabat, hingga membuat mereka menangis karena terbawa tangisannya.

عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم لما أقبل من غزوة تبوك واعتمر
فلما هبط من ثنية عسفان أمر أصحابه أن يستندوا إلى العقبة حتى أرجع
إليكم فذهب فنزل على قبر أمه فناجى ربه طويلا ثم إنه بكى فاشتد بكاؤه
وبكى هؤلاء لبكائه وقالوا ما بكى نبي الله صلى الله عليه وسلم بهذا
المكان إلا وقد حدثت في أمته شئ لا يطيقه فلما بكى هؤلاء قام فرجع إليهم
فقال ما يبكيكم قالوا يا نبي الله بكينا لبكائك قلنا لعله حدث في أمتك
شئ لا تطيقه قال لا وقد كان بعضه ولكن نزلت على قبر فدعوت الله أن يأذن
لى في شفاعتها يوم القيامة فأبى الله أن يأذن لي فرحمتها وهي أمي فبكيت
الحديث

Dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW ketika kembali dari perang Tabuk dan melakukan umrah dan ketika sammpai di Asfan beliau menyuruh para sahabat untuk menunggu di Aqabah hingga aku (Rasul) datang kepadamu. Maka beliau pergi dan turun menuju kuburan ibunya, maka bermunajat (merintih) kepada Rabbnya demikian lama, kemudian beliau menangis dan semakin menjadi menangisnya, maka merekapun pada menangis karena tangisannya. Dan mereka berkata: Nabi SAW tidak akan menangis di tempat ini kecuali ada yang menimpa ummatnya yang beliau tidak mampu memikulnya.

Ketika mereka semua menangis beliau berdiri dan kembali menghadap kepada mereka seraya bersabda: mengapa kalian menangis? Meraka berkata: hai Nabiyullah kami menangis karena engkau menangis. Kami berkata: boleh jadi ada sesuatu yang menimpa ummatmu yang engkau sanggup menghadapinya. Beliau bersabda: ya itu diantara penyebabnya, tapi juga karena aku turun menuju kuburan maka aku berdo’a kepada Allah mohon diizinkan untuk membersyafaat kepadanya pada hari kiamat, maka Allah menolaknya maka aku mengasihaninya karena dia adalah ibuku maka aku menangis……(alhadits)

Hadits diatas menjelaskan tentang tangisan Rasul yang terdengar oleh para sahabat yang membuat mereka hanyut dalam kesedihan. Artinya para sahabat menangis karena terpangaruh oleh Rasulullah Saw. Dan pada kondisi lain terjadi sebaliknya, yaitu Rasulullah menangis karena mendengar para sahabat menagis, sebagaimana keterangan Abu Hurairah:

قال أبو هريرة لما نزلت أفمن هذا الحديث تعجبون قال أهل الصفة إنا لله
وإنا إليه راجعون ثم بكوا حتى جرت دموعهم على خدودهم فلما سمع النبي صلى
الله عليه وسلم بكاءهم بكى معهم فبكيت لبكائه فقال النبي صلى الله عليه
وسلم لا يلج النارمن بكى خشية الله ولا يدخل الجنة مصر على معصية الله
ولو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون فيغفر لهم ويرحمهم إنه هو
الغفور الرحيم

Abu Hurairah berkata: ketika turun ayat “afamin haadzal hadiitsi ta’jabuun” Ahi Shuffah berkata: “innaa lillah wainnaa ilaihi raji’un”. Kemudian mereka menangis hingga pipi mereka penuh dengan air mata. Ketika Rasulullah mendengar tangisan mereka, beliaupun menangis bersama mereka, maka akupun menangis. Maka Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah dan tidak akan masuk surga orang terus menerus ma’siat kepada Allah. Sekiranya kamu tidak berdosa pasti Allah akan mewafatkanmu dan Dia akan mendatangkan satu kaum yang berdosa kemudian mengampuni dan menyayangi mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang”

Dua hadits ini menjelaskan bahwa suasana sangat mendukung untuk mencapai kekhusyuan. Dua peristiwa yang sangat mengagumkan. Pertama gambaran bahwa para sahabat mendengar Rasul menangis maka mereka pun menangis padahal mereka belum mengetahui apa yang membuat Rasul menangis. Pada hadis kedua dapat kita saksikan bahwa para sahabat sangat peka dan sensitif dikala mendengar ayat al-Quran.

Mereka merasa bahwa setiap kali ayat diturunkan maka merekalah yang menjadi sasaran utama. Seolah-olah ayat ini menegur mereka hingga mereka merasa sebagai yang terancam dengan siksa. Abu Hurairah menangis terpengaruh oleh tangisan Rasul, dan Rasul menangis ketika mendengar para sahabat menangis sementara sahabat menangis karena menengar ayat dibacakan kepada mereka.

Karena itu muhasabah bersama sangat diperlukan untuk mendidik dan melatih diri kita agar hati kita menjadi lembut. Mudah-mudahan dengan kedua hadits ini, hamba-hamba Allah yang merasa ragu akan keshahihan muhasabah bersama kiranya dapat menjalin hubungan dan meningkatkan ukhuwwah Islamiyah dengan yang biasa melakukan muhasabah bersama.

Karena hal tersebut sudah jelas bermanfaat untuk silaturrahim antar sesama muslimin muslimat, meski latar belakang mereka berbeda namun dapat berkumpul pada waktu yang sama ditempat yang sama untuk membina diri meraih hakikat takwa kepada Allah SWT.

7 Juli 2012

Tugas Kerosulan Muhammad S.A.W.

oleh alifbraja

Untuk apa Muhammad di datangkan ke dunia ini?

Muhammad telah datang ke dunia ini dan Muhammad telah meninggalkan dunia ini .
Datangnya pada hari Isnain, perginya pada hari Isnain.
Datangnya pada tanggal 12, perginya pada tanggal 12.
Datangnya pada bulan Robi’ul Awal, perginya pada bulan Robi’ul Awal.
Hari datangnya itulah hari perginya.
Tanggal datangnya itulah tanggal perginya.
Bulan datangnya, itulah bulan perginya.
Datangnya membawa apa? Datangnya membawa tugas.
Perginya meninggalkan apa? Perginya meninggalkan bekas.
Berapa lamanya di dunia? Lamanya 63 tahun.
Apa saja bekas-bekas yang di tinggalkan di dunia ini?
Kita sebagai umat Islam tidak hanya di perintah memperingati Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w. akan tetapi kita itu mempunyai hutang budi. Kalau hanya peringatan itu masih umum. Perintahnya adalah FADZAKKIR, buatlah peringatan!
Adapun tugas pokok Nabi Muhammad s.a.w. adalah sebagaimana tersebut di dalam Al Qur-an surat Al Anbiya :
WAMAA ARSALNAAKA ILLAA ROHMATAN LIL’AALAMIINA
Artinya:   Dan tiadalah Aku mengutus kepadamu Muhammad kecuali untuk menjadi rohmat manusia seluruh alam.
Rohmat besar bagi seluruh manusia
Rohmat apakah yang kita rasakan? Dalam Al Qur’an surat Nuh di sebutkan :
” MANUSIA ITU DALAM KEADAAN GELAP GULITA ”
Manusia di liputi gelap gulita, istilah dalam bahasa jawa peteng dedet lelimengan. Yang di maksud adalah gelapnya manusia bukan gelapnya malam, oleh karena sangat gelapnya, hingga:
manusia tidak tahu apa yang ada di atas manusia,
manusia tidak tahu apa yang di bawah,
manusia tidak tahu apa yang di muka,
manusia tidak tahu apa yang di belakang,
manusia tidak tahu apa yang di kanan,
manusia tidak tahu apa yang di kiri.
Jangan sampai salah paham di sini yang di bahas bukan di atas kepala tapi mambahas manusia, jadi di atas manusia.
Manusia diliputi gelap sampai manusia tidak tahu dirinya sendiri.
Dari manakah manusia itu datang?
Kemanakah manusia itu pergi?
Untuk apakah manusia datang?
Mengapa tidak menetap di sini ( dunia ) terus?
Siapakah manusia itu?
Semuanya tidak tahu, karena memang sangat gelapnya manusia itu.
Manusia menerima bermacam-macam ni’mat. Bagaimana cara mensyukuri nikmat? Manusia tidak tahu.
Manusia pasti terkena cobaan, bagaimana cara menghadapi cobaan itu? Manusia tidak tahu.
Keterangan:
Manusia di coba dengan :
1. Cobaan Hidup
2. Cobaan Mati
Jadi mati dan hidup adalah cobaan, bila tidak ingin cobaan jangan hidup karena hidup itupun juga cobaan.
Badannya sehat atau sakit, mendapat keberuntungan atau kerugian, di cintai atau di benci orang, semuanya itu adalah cobaan. Walhasil cobaan itu terus mengikuti manusia. Bila manusia di perintah memilih pasti manusia memilih cobaan yang menyenangkan.
Tiap-tiap manusia pasti mendapat musibah.
Apakah musibah kematian, sakit dan lain-lain. Bagaimanakah cara menghadapi musibah tersebut? Manusia tidak tahu.
Muhammad adalah NUR
ALHAMDULILLAH dengan bermacam-macam kegelapan yang meliputi manusia, cahaya turun ke dunia yaitu NUR MUHAMAD.
Dalam surat An Nisa’ di sebutkan ;
QOD JAA-AKUM MINALLOHI NUURUN
artinya: Telah datang kepadamu dari Alloh cahaya.
Al Qur-an adalah cahaya, Muhammad adalah cahaya. Yang di bawa cahaya, yang membawa pun juga cahaya, tujuannya untuk menyingkap kegelapan yang meliputi manusia. Biar manusia itu tahu, mengerti tentang dirinya.
Soalnya masih banyak manusia yang belum mengetahui tentang dirinya ( Kami yaqin tentang hal itu ).
Kegelapan yang menyelimuti manusia itu di singkap dengan kedatangan Kanjeng nabi Muhammad s.a.w. Ini adalah Rohmat yang besar. Semuanya di terangkan di dalam Al Qur’an, haqiqat manusia, tujuan manusia, yang di atas manusia semuanya di terangkan satu persatu sampai jelas oleh Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w.
Suatu contoh kalau Nabi Muhammad itu menjadi Rohmat yang besar. Di dalam hadits di terangkan:
QOOLA ROSULULLOHI S.A.W.
U’THIYAT UMMATII SYAI-AN LAM YU’THIIHI AHADUN MINAL UMAMI
Artinya:  Bersabda Rosulullohi s.a.w.
              Di berikan kepada ummatku akan sesuatu  yang belum pernah di berikan kepada umat-umat yang dahulu.
Ni’mat besar bagi umat Muhammad
Apakah yang dimaksud ni’mat besar bagi umat Muhammad itu?
Umat Muhammad itu di beri satu pemberian yang pemberian itu belum pernah di berikan kepada umat-umat yang dahulu. Pemberian ini khusus kepada umat Muhammad. Umatnya 124.000 nabi belum pernah di beri, kecuali umatnya Nabi Muhammad. Ini adalah keistimewan bagi umat Muhammad. Ini adalah setengah dari sebagian rohmat yang tersebut di dalm Al Qur’an:
WAMAA ARSALNAAKA ILLA ROHMATAN LIL’AALAMIINA.
Apakah pemberian yang khusus itu? Yaitu :
QOOLA ROSUULULLOOHI S.A.W :
AN YAQUULU ‘INDAL MUSHIIBATI INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UUN.
Artinya:   Satu ucapan ketika di timpa mushibah yaitu: INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UN.
                   ( ket.dari ibnu Abbas ) di riwayatkan oleh Thobrooni dan inbu Mardawaihi, Tersebut dalam kitab Jaami’ush shoghir, bab huruf Alif, hal. 42
Demikian juga di Alqur’an Surat Al baqoroh : 156
Ini adalah satu Rohmat besar, keberuntungan bagi kita di beri INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UN dan Rohmat itu belum pernah di berikan kepada umat yang terdahulu. Maka dari itu harus betul-betul hafal, kemudian di mengerti maknanya lalu di amalkan dan di hayati.
INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UN
ini Nikmat besar yang mengandung rahasia yang sangat luas dan sangat dalam.
Di dalam ayat yang bunyinya :
(INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UN) susunan kalimatnya ada 5 atau di sebut Panca Kalimat yaitu :
1. INNAA
2. LILLAAHI
3. WA INNAA
4. ILAIHI
5. ROOJI’UN
Kemudian Panca kalimat ini di gubah oleh para Wali Songo yang ada di pulau Jawa menjadi kalimat yaitu : ILMU LEPAS SANGKAN PARANE DUMADI. Ini juga mengandung 5 kalimat, yaitu:
1. ILMU
2. LEPAS
3. SANGKAN
4. PARAN
5. DUMADI.
Kami akan bahas ini secara bertahap : INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UUN.

5 Juli 2012

Air Mata Taubat Nabi Adam a.s & 1 Do’a Dari 3 Do’a Rasulallah SAW

oleh alifbraja

Air Mata Taubat Nabi Adam a.s

Tahukah saudara semenjak Nabi Adam terkeluar dari syurga akibat tipu daya iblis, beliau menangis selama 300 tahun. Nabi Adam tidak mengangkat kepalanya ke langit kerana terlampau malu kepada Allah swt. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip. Dari air mata Nabi Adam itu Allah tumbuhkan pohon kayu manis dan pokok cengkih. Beberapa ekor burung telah meminum air mata beliau. Burung itu berkata, “Sedap sungguh air ini.” Nabi Adam terdengar kata-kata burung tersebut. Beliau menyangka burung itu sengaja mengejeknya kerana perbuatan durhakanya kepada Allah. Ini membuatkan Nabi Adam semakin hebat menangis. Akhirnya Allah telah menyampaikan wahyu yang bermaksud, “Hai Adam, sesungguhnya aku belum pernah menciptakan air minum yang lebih lazat dan hebat dari air mata taubatmu itu.”

Allah SWT Menolak 1 Do’a Dari 3 Do’a Rasulallah SAW

‘Amir bin Said dari bapanya berkata bahawa : “Satu hari Rasulullah S.A.W telah datang dari daerah berbukit. Apabila Rasulullah S.A.W sampai di masjid Bani Mu’awiyah lalu beliau masuk ke dalam masjid dan menunaikan solat dua rakaat. Maka kami pun turut solat bersama dengan Rasulullah S.A.W.
Kemudian Rasulullah S.A.W berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah S.W.T :
Setelah selesai beliau berdoa maka Rasulullah S.A.W pun berpaling kepada kami lalu bersabda yang bermaksud : “Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T tiga perkara, dalam tiga perkara itu cuma dia memperkenankan dua perkara saja dan satu lagi ditolak.

  1. Aku telah memohon kepada Allah S.W.T supaya ia tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berkepanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah S.W.T.
  2. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh s.a). Permohonanku ini telah diperkenankan oleh Allah S.W.T.
  3. Aku telah memohon kepada Allah S.W.T supaya umatku tidak dibinasakan kerana perselisihan sesama mereka (peperangan, perselisihan antara sesama Islam). Tetapi permohonanku telah tidak diperkenankan (telah ditolak).

Apa yang kita lihat hari ini ialah negara-negara Islam sendiri berselisih antara satu sama lain, hari ini orang Islam berselisih sesama sendiri, orang kafir menepuk tangan dari belakang.

5 Juli 2012

Isra Mi’raj-Rasulullah SAW

oleh alifbraja

Isra Mi’raj-Rasulullah SAW Kelangit Yang Paling Tinggi

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Anas Ibnu Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Didatangkan untukku Buraq yang merupakan hewan putih, panjangnya diatas himar dan dibawah bagal, kukunya berada di akhir ujungnya. Beliau bersabda, `Aku segera menunggainya hingga tiba di Baitul Maqdis.’ Beliau bersabda, `Lalu ia mengikatnya dengan tali (rantai) yang biasa dipakai oleh para nabi untuk mengikat.’ Beliau melanjutkan, `Kemudian aku memasuki masjid (Baitul Maqdis) dan mendirikan shalat dua rakaat. Setelah itu, aku keluar. Lalu Malaikat Jibril a.s. mendatangiku dan menyodorkan dua buah gelas yang satu berisi khamar dan lainnya berisi susu. Aku memilih gelas yang berisi susu dan Jibril a.s. berkata, `Engkau telah memilih kesucian.’

Kemudian ia naik bersamaku ke langit yang pertama. Jibril meminta dibukakan pintu. Lalu (malaikat penjaga langit pertama) bertanya, `Siapakah kamu.’ Jibril a.s. menjawab, `Jibril.’ Kemudian ia ditanya lagi, `Siapakah yang besertamu?’ Jibril a.s. menjawab, `Muhammad.’ Malaikat itu bertanya, `Apakah kamu diutus?’ Jibril menjawab, `Ya, aku diutus.’ Lalu pintu langit dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Nabi Adam a.s. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Setelah itu Jibril a.s. naik bersamaku kelangit yang kedua dan meminta dibukakan pintu. Lalu pintu langit kedua dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan dua putra paman Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria a.s., keduanya menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik bersamaku ke langit yang ketiga dan meminta dibukakan pintu langit ketiga. Lalu pintu langit ketiga dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Yusuf a.s. yang telah dianugerahi sebagian nikmat ketampanan. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Kemudian Jibril a.s. naik bersamaku kelangit keempat dan meminta dibukakan pintu langit keempat. Lalu pintu langit keempat dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Idris a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah SWT berfirman, `Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’

Setelah itu Jibril a.s. kembali naik bersamaku kelangit yang kelima dan meminta dibukakan pintu langit kelima. Lalu ia membukakan pintu langit yang kelima untuk kami, Di sana aku bertemu dengan Harun a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Malaikat Jibril a.s. kembali naik bersamaku ke langit yang keenam dan meminta dibukakan pintu untuk kami. Lalu ia membukakan pintu keenam untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Musa a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik lagi bersamaku ke langit yang ketujuh dan meminta dibukakan pintu langit ketujuh. Kemudian malaikat penjaga pintu langit ketujuh membukakan pintu untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Ibrahim a.s. yang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat dan tidak kembali kepadanya -sebelum menyelesaikan urusannya.

Setelah itu, ia pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata, daun-daunnya sebesar kuping gajah dan buah-buahannya menyerupai buah anggur. Begitu perintah Allah SWT menyelubunginya dan menyelubungi apa-apa yang akan diselubungi, ia segera berubah. Tidak ada seorang makhluk Allah pun yang mampu menyifati keindahan dan keelokannya. Lalu Allah Maha Agung mewahyukan apa-apa yang akan diwahyukan-Nya kepadaku dan mewajibkanku untuk mendirikan shalat lima puluh kali setiap hari sehari semalam. Setelah itu, aku turun menemui Musa a.s.. Ia bertanya kepadaku, `Apakah gerangan yang telah diwajibkan Allah SWT atas umatmu.’ Aku menjawab,’ Mendirikan shalat sebanyak lima puluh kali.’ Kemudian ia berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah kepada-Nya keringanan. Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Sesungguhnya aku telah berpengalaman mencobanya kepada Bani Israel.’ Beliau melanjutkan sabdanya, `Kemudian aku kembali kepada Rabb-ku dan memohon, `Wahai Rabb, berikanlah keringan untuk umatku.’ Dan Ia mengurangi menjadi lima kali. Setelah itu, aku kembali menemui Musa a.s. dan kukatakan kepadanya, `Ia telah mengurangi menjadi lima kali.’ Namun Musa a.s. kembali berkata, `Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Karena itu kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah keringanan.’ Lalu aku bolak-balik bertemu antara Rabb-ku Yang Maha Tinggi dengan Musa a.s.. Lalu Dia berfirman, `Wahai Muhammad, sesungguhnya kelima shalat itu dilaksanakan setiap sehari semalam. Setiap shalat dihitung sepuluh yang berarti berjumlah lima puluh shalat. Barang siapa yang ingin melakukan suatu kebaikan kemudian tidak melaksanakannya, maka Ku-tuliskan untuknya satu kebaikan. Dan jika ia mengerjakannya, maka Ku-tuliskan untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa ingin melakukan kejelekan kemudian tidak melakukannya, maka Aku tidak menulis apa-apa padanya. Dan jika ia mengerjakannya, maka Aku menuliskannya satu kejelekan.’ Beliau kembali melanjutkan sabdanya, `Lalu aku turun hingga sampai kepada Musa a.s. dan memberitahukan hal tersebut. Musa a.s. berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan memohonlah keringanan.’ Saat itu Rasulullah saw. bersabda, `Aku katakan kepadanya, `Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.'”

3 Juli 2012

Maqom Nabi SAW di Hadirat Ilahi

oleh alifbraja

A’udhu bil Lahi minash Shaytanir rajim
Bismillahir Rahman ir Rahim

kalian harus berusaha untuk mengetahui sumber kekuatan bagi jiwa kita. Untuk mengetahui di mana sumber kekuatan itu. Bukan berarti kalian hidup sebagai binatang, tetapi kalian tidak akan berurusan sebagai binatang nanti di Hari Kebangkitan. Binatang, mereka boleh makan, tidak ada kewajiban bagi mereka. Tetapi kalian, jika kalian tidak memperhatikan apa yang kalian makan dan minum, kalian akan ditanya di Hari Kebangkitan, mengapa kalian tidak meminta sumber kekuatan yang dapat membuat kalian lebih dekat dengan Hadirat Ilahiah-Ku?

Dan setiap orang harus berhati-hati untuk menemukan jalan mereka agar lebih dekat dengan Hadirat Ilahi. Hadirat Ilahi—jangan pikir itu hanya satu level.

Hadirat Ilahi bagi para anbiya hanya dapat diraih oleh anbiya. Dan Hadirat Ilahi bagi awliya, mereka juga mempunyai level yang lain di mana orang lain tidak dapat meraihnya, tidak dapat mendekatinya. Karena Cahaya-Cahaya Ilahi pada level itu akan membakar mereka. Mereka tidak akan sanggup. Dan level para awliya, orang-orang suci, menurut maqam-maqam mereka, mereka juga akan berbeda satu sama lain. Hadirat Ilahi bagi setiap orang tidak sama, tidak.

Sayyidina Rasulullah saw—Sultanul ‘Arafin Abayazid, minta untuk dapat mendekati samudra makrifat Nabi saw. Ia minta agar bisa mendekat, sampai pada maqam Nabi saw, dan berusaha untuk mencapainya. Tetapi, haatif Rabbani—suara Surgawi—pengumuman surgawi muncul dan mengatakan, “Wahai Abayazid, waspadalah! Antara kau dengan Nabi Penutup saw terdapat 10.000 samudra cahaya.” 10.000 samudra cahaya. Tetapi tetap saja ia berkata, “Walaupun yang pertama, aku harus berusaha untuk meraihnya.” Dan ia meminta agar bisa bergerak. Dan pengumuman yang lain datang dari langit, “Wahai Abayazid, waspadalah! Jika kau meletakkan kakimu satu langkah di depanmu menuju samudra cahaya yang pertama, kau akan terbakar, kau akan musnah dari eksistensimu, tak ada lagi kesempatan bagimu untuk kembali ke eksistensimu ketika kesempatan lain… tak ada kesempatan bagimu. Kau tamat. Tak ada lagi kesempatan untukmu. Cahaya itu bisa membakarmu, dan tak ada kesempatan bagimu untuk tiba di maqam yang kau tempati sekarang ini. Kau tamat, musnah dari eksistensimu. Waspadalah!”

Di mana hadirat Nabi saw? Di mana beliau hadir? Hadirat Ilahi, bagaimana menurut kalian?

Oleh sebab itu jangan berpikir bahwa, ketika kalian mengatakan, “Kami berusaha untuk meraih maqam-maqam surgawi,” bahwa kalian berusaha untuk mencapai maqam kami di Hadirat Ilahi. Kalian tidak akan pernah tahu di mana kalian hadir—di mana maqam kalian di Hadirat Ilahi. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Oleh sebab itu, ketika seorang hamba, ia berusaha untuk membuat jalannya—kami menyebutnya “suluk,” untuk menemukan jalannya menuju Hadirat Ilahi, itu hanya untuknya saja. Kalian tidak dapat menemukan dua orang pada level yang sama. Masing-masing mempunyai level yang berbeda di Hadirat Ilahi, atau maqam yang berbeda di Hadirat Ilahi.

Dan kita harus berusaha untuk mencapai maqam-maqam kita di Hadirat Ilahi, dalam semua ibadah dan salat hanya untuk diri kita, untuk membuat diri kita lebih dekat dengan maqam kita di Hadirat Ilahi. Itu bukanlah untuk Allah, apa yang kita lakukan, bukanlah untuk-Nya. Itu hanya untuk diri kita sendiri, agar diri kita lebih dekat, lebih dekat lagi. Jika kita kehilangan kekuatan yang sangat besar, himmat, kuda yang besar. Kalian dapat melakukannya untuk diri kalian sendiri untuk mencapainya, atau mendekati maqam kalian di Hadirat Ilahi.

Itu artinya apa yang kita lakukan sekarang di sini, jika kalian hidup semilyar tahun, kita dapat mencapainya. Tidak cukup untuk membuat diri kita berusia jutaan tahun, beribadah untuk mendekati maqam surgawi kita di Hadirat Ilahi. Tetapi yuhayyit—mempersiapkan diri kita untuk mencapai maqam-maqam kita. Dan jika Allah swt rida dengan perbuatan kalian dan ibadah kalian, Dia akan menganugerahkan kepada kalian sebagaimana Dia berfirman, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu kaki, Aku akan datang kepadanya 10.” Ketika kalian akan meraih maqam kalian di Hadirat Ilahi, membuat kalian mencapai 10. 10 kekuatan yang lebih banyak diberikan kepada kalian, setiap kalian melangkah satu kaki, Dia memberi kalian 10. dan kemudian yang 10 itu akan menjadi 100. 100 akan menjadi 1.000. 1.000 akan menjadi 10.000. 10.000 akan menjadi 100.000. Jadi, apa yang kita lakukan bukanlah apa-apa. Tak ada nilainya, tak ada suatu kekuatan. Tetapi itu adalah karena Allah melihat niat kalian. Sesuai dengan niat kalian, Dia membuka jalan bagi kalian untuk naik. Oleh sebab itu, niat adalah faktor yang paling penting dalam setiap ibadah dalam Islam. Karena itu membuat kalian lebih dekat dengan Hadirat Ilahi, untuk meraih maqam kalian pada level Hadirat Ilahi milik kalian.


PESAN-PESAN ROSULULLOH

Rasulullah saw. bersabda:
Orang yang memandang rendah lima manusia ia merugi akan lirna hal
memandang rendah Ulama, rugi tentang agama memandang rendah Penguasa, rugi tentang dunia
memandang rendah Tetangga, rugi akan bantuannya
memandang rendah Saudara, rugi akan darmanya
dan memandang rendah Keluarga, rugi akan harmonisnya
Rasulullah saw. bersabda:
Akan datang suatu masa
dimana ummatku mencinta lima
hingga mereka lupakan lima
cinta dunia, lupa alam baka
cinta tanah subur, lupa alam kubur
cinta harta benda, lupa hisab amalnya
cinta anak istri, lupa bidadari
dan cinta diri sendiri, lupa pada Ilahi
Rasulullah saw. bersabda:
Allah berikan lima upaya
dan disediakan-Nya imbalan lima
Allah ajari insan bersyukur
dan Dia berikan tambahan makmur
Allah ajari insan berdoa
dan Dia jamin akan ijabahnya
Allah ajari insan bertobat
dan Dia jamin diterma tobatnya
Allah ajari insan istighfar
dan Dia sediakan pengampunannya
Allah ajari insan berderma
dan Dia bersedia membalas dermanya

Rasulullah saw. bersabda:

Di balik limpahan harta,
tersimpan lima tipu daya
Pertama, kesulitan menyatukannya
Kedua, sibuk berdoa
demi keselamatannya
Ketiga, khawatir ada perampok akan menjarahnya
Keempat, memungkinkan predikat bakhil pada empunya
Kelima, menjauhkan diri
dari keakraban bersama

Dan dibalik derma, tersimpan lima rahasia
Membawa empunya pada ketenangan jiwa
Tak perlu berdoa untuk keselamatannya
Aman dari perampok yang mengintainya
Menyandang predikat insan penderma
Dan merasa tentram bersama sesama insan

Rasulullah saw. bersabda:

Mengunjungi saudara, berarti menjaga rahasia
Berderma pada sesama, berarti melindungi harta benda
Berhati tulus, berarti menjaga amal mulia
Berjiwa jujur, berarti menjaga alur kata-kata
Dan bermusyawarah, berarti mengasah logika

Rasulullah saw. bersabda:

Akan datang suatu masa atas ummatku
mereka cinta dunia lupa alam baka
cinta kehidupan lupa kematian
cinta istana lupa surga
cinta harta benda lupa hisab amalnya
dan cinta alam semesta lupa Penciptanya

Pohon Mari’fat (pengertian):

Metafora Ma’rifat itu seperti pohon yang memiliki enam cabang. Akarnya kokoh di bumi yaqin dan pembenaran, dan cabang-cabangnya tegak dengan iman dan tauhid.

 Cabang pertama, Khauf (rasa takut) dan Raja’ (harapan pada anugerah-rahmatNya) yang disertai dengan cabang perenungan…

Cabang kedua, berlaku benar dan serasi dengan kehendak Allah, yang disertai dengan cabang Ikhlas.
Cabang ketiga, Khasyyah (takut penuh cinta) dan menangis, yang disertai dengan cabang Taqwa.
Cabang keempat, Qana’ah (menerima pemberian Allah) dan ridlo, yang disertai cabang Tawakkal.
Cabang kelima, Pengagungan dan rasa malu yang disertai dengan cabang ketentraman.
Cabang keenam, Istiqomah dan berselaras dengan Allah yang disertai dengan cabang cinta dan kasih.

 Setiap cabang dari masing-masing akan bercabang pula sampai tiada hingga dalam jumlah kebajikan, dalam tindakan benar dan perbuatan, kemesraan berdekat –dekat dengan Allah, kesunyian Qurbah (dekat denganNYA), kebeningan waktu dan segala sepadan yang tak bisa disifati oleh siapa pun jua.

Di setiap cabang yang ada akan berbuah berbagai-bagai, yang satu sama lainnya tidak sama, rasanya, yang di bawahnya ada cahaya-cahaya taufiqNya, yang mengalir dari sumber anugerah dan pertolonganNya. Dalam hal ini manusia berpaut-paut dalam derajat dan berbeda-beda dalam kondisi ruhani.
Diantara mereka :

1- Ada yang mengambil cabangnya saja, tapi alpa dari akarnya, tertutup dari pohonnya dan tertirai dari rasa manis buahnya. 
2-Ada yang hanya berpegang teguh pada cabangnya belaka. 
3-Ada yang pula yang berpegang pada akar aslinya, dan meraih semuanya (pohon, cabang dan buah) tanpa sedikit pun menoleh pada semuanya, tetapi hanya memandang yang memilikinya, Sang Penciptanya. 
Siapa yang tak memiliki cahaya dalam lampu pertolongan Ilahi, walaupun telah mengumpulkan, mengkaji semua kitab dan hadits, kisah-kisah, maka tidak akan bertambah kecuali malah jauh dan lari dari Allah, sebagaimana keledai yang memikul buku-buku.

Ada seseorang yang datang kepada Imam Ali Karromallahu Wajhah:
“Ajari aku tentang ilmu-ilmu rahasia…”pintanya.
“Apa yang kau perbuat perihal ilmu utama?” kata Sayyidina Ali.
“Apakah pangkal utama ilmu?” orang itu balik bertanya.
“Apakah kamu mengenal Tuhanmu?” Tanya beliau.
“Ya..” jawabnya.
“Apa yang sudah kau lakukan dalam menjalankan kewajibanNya?”
“Masya Allah…” jawab orang itu.
“Berangkatlah dan teguhkan dengan itu (hak dan kewajiban), jika kamu sudah kokoh benar, kamu baru datang kemari, kamu akan saya ajari ilmu-ilmu rahasia…” Jawab beliau.

Ada yang mengatakan, “Perbedaan antara ilmu ma’rifat dan ilmu lainnya adalah seperti perbedaan antara hidup dan mati.

Semoga Allah mengampuni kita. Amin.

kalian harus berusaha untuk mengetahui sumber kekuatan bagi jiwa kita. Untuk mengetahui di mana sumber kekuatan itu. Bukan berarti kalian hidup sebagai binatang, tetapi kalian tidak akan berurusan sebagai binatang nanti di Hari Kebangkitan. Binatang, mereka boleh makan, tidak ada kewajiban bagi mereka. Tetapi kalian, jika kalian tidak memperhatikan apa yang kalian makan dan minum, kalian akan ditanya di Hari Kebangkitan, mengapa kalian tidak meminta sumber kekuatan yang dapat membuat kalian lebih dekat dengan Hadirat Ilahiah-Ku?

Dan setiap orang harus berhati-hati untuk menemukan jalan mereka agar lebih dekat dengan Hadirat Ilahi. Hadirat Ilahi—jangan pikir itu hanya satu level.

Hadirat Ilahi bagi para anbiya hanya dapat diraih oleh anbiya. Dan Hadirat Ilahi bagi awliya, mereka juga mempunyai level yang lain di mana orang lain tidak dapat meraihnya, tidak dapat mendekatinya. Karena Cahaya-Cahaya Ilahi pada level itu akan membakar mereka. Mereka tidak akan sanggup. Dan level para awliya, orang-orang suci, menurut maqam-maqam mereka, mereka juga akan berbeda satu sama lain. Hadirat Ilahi bagi setiap orang tidak sama, tidak.

Sayyidina Rasulullah saw—Sultanul ‘Arafin Abayazid, minta untuk dapat mendekati samudra makrifat Nabi saw. Ia minta agar bisa mendekat, sampai pada maqam Nabi saw, dan berusaha untuk mencapainya. Tetapi, haatif Rabbani—suara Surgawi—pengumuman surgawi muncul dan mengatakan, “Wahai Abayazid, waspadalah! Antara kau dengan Nabi Penutup saw terdapat 10.000 samudra cahaya.” 10.000 samudra cahaya. Tetapi tetap saja ia berkata, “Walaupun yang pertama, aku harus berusaha untuk meraihnya.” Dan ia meminta agar bisa bergerak. Dan pengumuman yang lain datang dari langit, “Wahai Abayazid, waspadalah! Jika kau meletakkan kakimu satu langkah di depanmu menuju samudra cahaya yang pertama, kau akan terbakar, kau akan musnah dari eksistensimu, tak ada lagi kesempatan bagimu untuk kembali ke eksistensimu ketika kesempatan lain… tak ada kesempatan bagimu. Kau tamat. Tak ada lagi kesempatan untukmu. Cahaya itu bisa membakarmu, dan tak ada kesempatan bagimu untuk tiba di maqam yang kau tempati sekarang ini. Kau tamat, musnah dari eksistensimu. Waspadalah!”

Di mana hadirat Nabi saw? Di mana beliau hadir? Hadirat Ilahi, bagaimana menurut kalian?

Oleh sebab itu jangan berpikir bahwa, ketika kalian mengatakan, “Kami berusaha untuk meraih maqam-maqam surgawi,” bahwa kalian berusaha untuk mencapai maqam kami di Hadirat Ilahi. Kalian tidak akan pernah tahu di mana kalian hadir—di mana maqam kalian di Hadirat Ilahi. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Oleh sebab itu, ketika seorang hamba, ia berusaha untuk membuat jalannya—kami menyebutnya “suluk,” untuk menemukan jalannya menuju Hadirat Ilahi, itu hanya untuknya saja. Kalian tidak dapat menemukan dua orang pada level yang sama. Masing-masing mempunyai level yang berbeda di Hadirat Ilahi, atau maqam yang berbeda di Hadirat Ilahi.

Dan kita harus berusaha untuk mencapai maqam-maqam kita di Hadirat Ilahi, dalam semua ibadah dan salat hanya untuk diri kita, untuk membuat diri kita lebih dekat dengan maqam kita di Hadirat Ilahi. Itu bukanlah untuk Allah, apa yang kita lakukan, bukanlah untuk-Nya. Itu hanya untuk diri kita sendiri, agar diri kita lebih dekat, lebih dekat lagi. Jika kita kehilangan kekuatan yang sangat besar, himmat, kuda yang besar. Kalian dapat melakukannya untuk diri kalian sendiri untuk mencapainya, atau mendekati maqam kalian di Hadirat Ilahi.

Itu artinya apa yang kita lakukan sekarang di sini, jika kalian hidup semilyar tahun, kita dapat mencapainya. Tidak cukup untuk membuat diri kita berusia jutaan tahun, beribadah untuk mendekati maqam surgawi kita di Hadirat Ilahi. Tetapi yuhayyit—mempersiapkan diri kita untuk mencapai maqam-maqam kita. Dan jika Allah swt rida dengan perbuatan kalian dan ibadah kalian, Dia akan menganugerahkan kepada kalian sebagaimana Dia berfirman, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu kaki, Aku akan datang kepadanya 10.” Ketika kalian akan meraih maqam kalian di Hadirat Ilahi, membuat kalian mencapai 10. 10 kekuatan yang lebih banyak diberikan kepada kalian, setiap kalian melangkah satu kaki, Dia memberi kalian 10. dan kemudian yang 10 itu akan menjadi 100. 100 akan menjadi 1.000. 1.000 akan menjadi 10.000. 10.000 akan menjadi 100.000. Jadi, apa yang kita lakukan bukanlah apa-apa. Tak ada nilainya, tak ada suatu kekuatan. Tetapi itu adalah karena Allah melihat niat kalian. Sesuai dengan niat kalian, Dia membuka jalan bagi kalian untuk naik. Oleh sebab itu, niat adalah faktor yang paling penting dalam setiap ibadah dalam Islam. Karena itu membuat kalian lebih dekat dengan Hadirat Ilahi, untuk meraih maqam kalian pada level Hadirat Ilahi milik kalian.


PESAN-PESAN ROSULULLOH

Rasulullah saw. bersabda:
Orang yang memandang rendah lima manusia ia merugi akan lirna hal
memandang rendah Ulama, rugi tentang agama memandang rendah Penguasa, rugi tentang dunia
memandang rendah Tetangga, rugi akan bantuannya
memandang rendah Saudara, rugi akan darmanya
dan memandang rendah Keluarga, rugi akan harmonisnya
Rasulullah saw. bersabda:
Akan datang suatu masa
dimana ummatku mencinta lima
hingga mereka lupakan lima
cinta dunia, lupa alam baka
cinta tanah subur, lupa alam kubur
cinta harta benda, lupa hisab amalnya
cinta anak istri, lupa bidadari
dan cinta diri sendiri, lupa pada Ilahi
Rasulullah saw. bersabda:
Allah berikan lima upaya
dan disediakan-Nya imbalan lima
Allah ajari insan bersyukur
dan Dia berikan tambahan makmur
Allah ajari insan berdoa
dan Dia jamin akan ijabahnya
Allah ajari insan bertobat
dan Dia jamin diterma tobatnya
Allah ajari insan istighfar
dan Dia sediakan pengampunannya
Allah ajari insan berderma
dan Dia bersedia membalas dermanya

Rasulullah saw. bersabda:

Di balik limpahan harta,
tersimpan lima tipu daya
Pertama, kesulitan menyatukannya
Kedua, sibuk berdoa
demi keselamatannya
Ketiga, khawatir ada perampok akan menjarahnya
Keempat, memungkinkan predikat bakhil pada empunya
Kelima, menjauhkan diri
dari keakraban bersama

Dan dibalik derma, tersimpan lima rahasia
Membawa empunya pada ketenangan jiwa
Tak perlu berdoa untuk keselamatannya
Aman dari perampok yang mengintainya
Menyandang predikat insan penderma
Dan merasa tentram bersama sesama insan

Rasulullah saw. bersabda:

Mengunjungi saudara, berarti menjaga rahasia
Berderma pada sesama, berarti melindungi harta benda
Berhati tulus, berarti menjaga amal mulia
Berjiwa jujur, berarti menjaga alur kata-kata
Dan bermusyawarah, berarti mengasah logika

Rasulullah saw. bersabda:

Akan datang suatu masa atas ummatku
mereka cinta dunia lupa alam baka
cinta kehidupan lupa kematian
cinta istana lupa surga
cinta harta benda lupa hisab amalnya
dan cinta alam semesta lupa Penciptanya

Pohon Mari’fat (pengertian):

Metafora Ma’rifat itu seperti pohon yang memiliki enam cabang. Akarnya kokoh di bumi yaqin dan pembenaran, dan cabang-cabangnya tegak dengan iman dan tauhid.

 Cabang pertama, Khauf (rasa takut) dan Raja’ (harapan pada anugerah-rahmatNya) yang disertai dengan cabang perenungan…

Cabang kedua, berlaku benar dan serasi dengan kehendak Allah, yang disertai dengan cabang Ikhlas.
Cabang ketiga, Khasyyah (takut penuh cinta) dan menangis, yang disertai dengan cabang Taqwa.
Cabang keempat, Qana’ah (menerima pemberian Allah) dan ridlo, yang disertai cabang Tawakkal.
Cabang kelima, Pengagungan dan rasa malu yang disertai dengan cabang ketentraman.
Cabang keenam, Istiqomah dan berselaras dengan Allah yang disertai dengan cabang cinta dan kasih.

 Setiap cabang dari masing-masing akan bercabang pula sampai tiada hingga dalam jumlah kebajikan, dalam tindakan benar dan perbuatan, kemesraan berdekat –dekat dengan Allah, kesunyian Qurbah (dekat denganNYA), kebeningan waktu dan segala sepadan yang tak bisa disifati oleh siapa pun jua.

Di setiap cabang yang ada akan berbuah berbagai-bagai, yang satu sama lainnya tidak sama, rasanya, yang di bawahnya ada cahaya-cahaya taufiqNya, yang mengalir dari sumber anugerah dan pertolonganNya. Dalam hal ini manusia berpaut-paut dalam derajat dan berbeda-beda dalam kondisi ruhani.
Diantara mereka :

1- Ada yang mengambil cabangnya saja, tapi alpa dari akarnya, tertutup dari pohonnya dan tertirai dari rasa manis buahnya. 
2-Ada yang hanya berpegang teguh pada cabangnya belaka. 
3-Ada yang pula yang berpegang pada akar aslinya, dan meraih semuanya (pohon, cabang dan buah) tanpa sedikit pun menoleh pada semuanya, tetapi hanya memandang yang memilikinya, Sang Penciptanya. 
Siapa yang tak memiliki cahaya dalam lampu pertolongan Ilahi, walaupun telah mengumpulkan, mengkaji semua kitab dan hadits, kisah-kisah, maka tidak akan bertambah kecuali malah jauh dan lari dari Allah, sebagaimana keledai yang memikul buku-buku.

Ada seseorang yang datang kepada Imam Ali Karromallahu Wajhah:
“Ajari aku tentang ilmu-ilmu rahasia…”pintanya.
“Apa yang kau perbuat perihal ilmu utama?” kata Sayyidina Ali.
“Apakah pangkal utama ilmu?” orang itu balik bertanya.
“Apakah kamu mengenal Tuhanmu?” Tanya beliau.
“Ya..” jawabnya.
“Apa yang sudah kau lakukan dalam menjalankan kewajibanNya?”
“Masya Allah…” jawab orang itu.
“Berangkatlah dan teguhkan dengan itu (hak dan kewajiban), jika kamu sudah kokoh benar, kamu baru datang kemari, kamu akan saya ajari ilmu-ilmu rahasia…” Jawab beliau.

Ada yang mengatakan, “Perbedaan antara ilmu ma’rifat dan ilmu lainnya adalah seperti perbedaan antara hidup dan mati.

Semoga Allah mengampuni kita. Amin.
27 Juni 2012

Tiga Surat Bersejarah Rasulullah Saw

oleh alifbraja

Tiga Surat Bersejarah Rasulullah Saw

Islam merupakan agama universal dan lengkap, sejak awal kemunculannya tidak terbatas pada sekup kesukuan atau kabilah. Oleh karenanya, dalam rangka menyampaikan risalah universal tersebut, Rasulullah Saw pada tahun VI Hijriyah menyerukan Islam kepada para penguasa negeri-negeri tetangga negeri Hijaz.

Seorang sejarawan terkenal yang bernama Al-Thabari mencatat tiga teks surat Rasulullah Saw untuk penguasa Ethiopia (Najasyi), penguasa Iran (Khoshrou Parviz) dan raja Romawi Timur (Heraclius) dalam kitab sejarahnya yang terkenal. Makalah ini akan membahas dan meneliti secara khusus hal-ihwal tiga surat Rasulullah Saw tersebut.

Seiring dengan bertambahnya tekanan kaum musyrikin Mekkah terhadap Rasulullah Saw dan pembela setianya, belum lagi kekacauan yang diciptakan oleh orang-orang Quraisy dalam rangka membendung kecenderungan kepada Islam, Rasulullah Saw mencari kota lain untuk membangun basis kekuatan Islam sehingga, dengan cara ini, selain kaum Muslimin dapat terlepas dari gangguan kaum musyrikin, beliau juga dapat membangun pondasi yang kokoh untuk penyebaran Islam di Jazirah Arab. Oleh karena itu, beliau meninggalkan kota Mekkah menuju kota Yatsrib (Madinah) dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut pada tahun ketiga belas dari kenabian beliau. Beliau membentuk kota baru itu dengan tatanan baru dalam pembangunan sosial dan budaya yang khas yang menjadi basis ideologi yang kokoh, dan menyatukan kaum Muhajirin dan kaum Anshar menjadi bangsa bersatu sebagai komponen utama kota. Maka tidak lama kemudian, madinah berubah menjadi basis yang kokoh dibandingkan kota Mekah. Dari kota inilah ajaran-ajaran Islam tersiar ke seluruh dataran Jazirah Arab.

Rasulullah Saw tidak diutus untuk kaum dan kabilah tertentu sehingga risalah beliau hanya untuk mereka saja. Berdasarkan ajaran Al-Quran(1), beliau diutus untuk menyampaikan risalah Ilahi kepada seluruh masyarakat, terlepas dari perbedaan suku, kabilah dan bahasa. Oleh karenanya, beliau telah mengambil langkah penting dalam politik eksternal pada tahun VI H dalam rangka penyebaran misi universal beliau dengan mengirimkan surat-surat kepada para penguasa di sekitar negeri Hijaz kala itu. Pada saat itu, beliau tidak begitu khawatir terhadap teror yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi kota Madinah. Ikatan perjanjian Hudaibiyah antara beliau dengan mereka menekan kemungkinan ancaman serius dari kaum Musyrikin, sehingga beliau mengajak para penguasa negeri tetangga untuk memeluk Islam melalui surat-surat yang beliau kirimkan kepada mereka(2).

Bertolak dari buku sejarah Al-Thabari akan kita pahami bahwa Al-Thabari hanya mencatat tiga surat Rasulullah Saw yang ditujukan kepada penguasa Etopia (Najasyi), penguasa Persia-Iran (Khoshrou Parviz) dan raja Romawi Timur (Heraclius). Adapun berkenaan dengan surat Rasulullah Saw yang ditujukan kepada penguasa Mesir (Mocuces), dua orang pemimpin Oman putra Jalandi (Jifar dan Abd) dan gubernur Khoshrou di Bahrain (Monzer bin Savi), Al-Thabari hanya menukil dari perkataan singkat Ibnu Ishak dan tidak mencantumkan teks surat-surat tersebut. Oleh karena itu, kita akan meneliti surat Rasulullah Saw yang ditujukan kepada penguasa Habasyah, Romawi dan Persia-Iran dalam tulisan ini.

Surat pertama menyangkut kejadian tahun VI H yang dicatat oleh Al-Thabari, yaitu surat Rasulullah Saw untuk penguasa Romawi Timur (Heraclius) yang disampaikan melalui Dihyah Al-Kalbi. Al-Thabari mengutip teks surat tersebut sebagai berikut :

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

“Dari Muhammad bin Abdillah, Utusan Allah, kepada Heraclius, Penguasa Romawi.

Salam sejahtera kepada orang-orang yang mengikuti jalan petunjuk. Amma ba‘du. Sesungguhnya aku mengajak Anda kepada Islam, masuklah Islam agar Anda selamat, niscaya Allah Swt memberikan kelipatan pahala kepada Anda. Apabila Anda berpaling dari Islam, maka dosa para petani (rakyat) akan menjadi tanggungan Anda.”(3)

Surat kedua Rasulullah Saw yang menarik perhatian Al-Thabari ialah yang ditulis beliau untuk Najasyi, penguasa Habasyah, dan disampaikan oleh Umar bin Abi Umayyah Al-Dhamri. Al-Thabari mengutip teks surat tersebut sebagai berikut :

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

“Dari Utusan Allah kepada Al-Najasyi Al-Ashham, Penguasa Habasyah.

Masuklah Anda ke dalam Islam. Segala puji bagi Allah, Raja Diraja, Yang Mahasuci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Mengawasi dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah Ruh Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan melalui Maryam, wanita yang tidak menikah dan suci yang telah mengandung Isa dimana Allah telah menciptakannya dari ruh-Nya sebagaimana Adam as yang telah diciptakan dengan ruh-Nya. Aku mengajak Anda untuk taat pada Allah Yang Maha Tunggal dan tanpa sekutu dengan mengikutiku, beriman kepada Allah Yang telah mengutusku. Aku adalah utusan Allah dan aku telah mengirimkan kepada Anda putra pamanku, Ja`far, berserta rombongan Muslimin, dan terimalah mereka ketika sampai di sana. Tinggalkan kesombongan karena aku mengajak Anda beserta bala tentara Anda untuk beriman kepada Allah. Aku telah sampaikan pesan Allah kepada Anda dan telah memberikan nasehat kepada Anda. Untuk itu, terimalah nasehatku dan selamatlah bagi mereka yang telah mengikuti jalan petunjuk.”(4)

Al-Thabari mengutip surat ketiga Rasulullah Saw untuk Khosrou Parviz yang disampaikan oleh Abdullah bin Hudzafah Al-Sahmi sebagai berikut :

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

“Dari Muhammad Rasulullah untuk Khosrou, Penguasa Persia.

Selamat bagi orang yang telah mengikuti jalan petunjuk, beriman kepada Allah, utusan-Nya, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Aku diutus Allah untuk memberikan peringatan kepada seluruh manusia yang masih hidup dan untuk membuktikan kebenaran ucapanku atas orang-orang kafir, maka masuklah Islam, niscaya Anda selamat. Namun apabila Anda berpaling, maka dosa kaum Zoroaster akan menjadi tanggungan Anda.”(5)

Analisis atas Surat-surat Rasulullah Saw
Bagian pendahuluan ketiga surat di atas dibuka dengan kalimat bismillah. Benar bahwa kaum Muslimin berdasarkan ajaran-ajaran Islam memulai pekerjaan mereka dengan bismillah untuk memperoleh berkah(6). Adapun tentang apakah Rasulullah Saw sejak awal membuka suratnya dengan kalimat bismillah terdapat perbedaan pendapat. Suyuthi dalam tafsir Al-Durr Al-Mantsûr menyebutkan bahwa Rasulullah Saw mengawali suratnya untuk masyarakat Najran dengan kalimat Bismi ilâhi Ibrôhîm (dengan nama Tuhan Ibrahim), sebelum turunnya surah Al-Naml(7). Sebagian orang meyakini bahwa Rasulullah Saw mengawali suratnya dengan kalimat Bismika Allâhumma (dengan Nama-Mu, ya Allah) sebelum diturunnya ayat, “Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalam bahtera itu dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(8), Namun pasca turunnya ayat tersebut beliau menggunakan kalimat bismillah sebagai permulaan suratnya. Dan pasca turunnya ayat yang berbunyi, “Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Al-Rahman”(9), beliau mengawali suratnya dengan menulis kalimat Bismillahirrahman (Dengan Nama Allah Yang Maha Penyayang). Pada akhirnya pasca turunnya ayat, “Sesungguhnya surat itu berasal dari Sulaiman dan isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”(10), beliau memulai suratnya dengan kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).(11)

Selepas judul surat yang mendahulukan nama pengirim atas nama penerima (Dari Muhammad, utusan Allah, kepada …) dan juga bergandengan dengan kalimat seru “masuklah Anda ke dalam Islam” atau kalimat “Selamat bagi orang yang telah mengikuti jalan petunjuk”, tuntaslah bagian pendahuluan surat Rasulullah Saw lalu dimulailah isi surat penting beliau yang terkandung di dalamnya keinginan dan maksud beliau. Teks ketiga surat tersebut singkat, simpel dan lugas, tanpa kerumitan kata maupun makna. Titik persamaan ketiga surat tersebut ialah bersandar pada keesaan Tuhan dan seruan kepada Islam. Apabila kebijakan eksternal beliau kita anggap sebagai referensi tindakan sebuah negara dalam interaksi internasional dengan tujuan meraih maslahat, maka perilaku Rasulullah Saw ini terkait dengan tujuan apa saja. Tanpa ragu lagi, Rasulullah Saw hendak menunjukkan bahwa kebijakan eksternal beliau berdasarkan pada penyebaran dan pengagungan Tauhid; mata air pengetahuan yang tercemar dengan kotoran syirik akan dibersihkan dengan air yang jernih dan sari Tauhid, serta mengingatkan orang-orang yang penuh kegelapan dan kebodohan akan Ikrar Fitrah Ketuhanan.

Dalam ketegasan Al-Quran, Rasulullah Saw dijuluki sebagai pembawa berita gembira, pembawa peringatan, dan dalam penyebaran dan penyampaian Islam beliau menggunakan dua kata efektif: harapan dan peringatan, yang dapat berpengaruh dalam pembangunan budaya saat itu. Oleh karenanya, dalam surat beliau kepada Heraclius dan Khoshrou, pertama-tama beliau memberikan berita gembira dan harapan (masuklah ke dalam Islam niscaya Anda akan selamat), kemudian dilanjutkan dengan peringatan, yaitu bahwa dosa kaum Zoroaster dan rakyat (para petani) menjadi tanggungan mereka tatkala tidak menerima Islam. Beliau memahami dengan benar bahwa apabila seruan Tauhid telah menembus puncak piramida masyarakat Persia-Iran dan Romawi hingga dapat diterima mereka, maka kendala dan rintangan dalam struktur sistem piramida pun akan hilang dan senantiasa akan menciptakan peluang untuk membuka hati-hati dan semaksimal mungkin akan mengarahkan mereka kepada Tauhid, sebab pesan Tauhid akan memberikan kemuliaan dan kebebasan kepada manusia serta akan membebaskan mereka dari penghambaan kepada selain Tuhan.

Di samping tauhid teoretis yang menafikan penghambaan selain kepada Allah Swt, tauhid sosial pun menyerukan kesetaraan, keadilan sosial dan tidak mengunggulkan etnis tertentu atas yang lain kecuali dalam ketakwaan. Hal penting ini merupakan kabar gembira bagi sebagian besar manusia yang sejak dahulu hidup di bawah cengkeraman kekuatan yang sewenang-wenang agar mereka terbebas dari diskriminasi dan perbudakan yang menghinakan. Benar, berdasarkan hal ini, delapan tahun kemudian tepatnya pada tahun IV H, tatkala komandan pasukan Iran yang bernama Rostam Farakhzad di Ghadesiyeh bertanya kepada utusan kaum Muslimin yang bernama Rub’i bin Amir, “Apa tujuan Anda dari operasi ekpedisi ini?” Ia menjawab, “Kami datang untuk memotivasi hamba-hamba yang menghamba kepada selain Allah Swt agar menghamba kepada Allah Swt”, yakni mengeluarkan hamba-hamba dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah Swt.(12).

Pada prinsipnya, menerima tauhid dalam konsep monoteis dan asas “Tiada Tuhan selain Allah” merupakan bagian dari hak asasi manusia, dan kapan saja hak asasi dan kemanusiaan ini dilanggar, atau para pemerkosa hak asasi dan kemanusiaan sengaja menghalangi sampainya pesan yang mengandung kebabasan dan kebahagiaan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya dan orang-orang yang memiliki kepentingan, maka membela hak-hak asasi itu dan menghancurkan penghalang tersebut merupakan keniscayaan. Seperti inilah perjuangan yang telah dilakukan oleh kaum Muslimin dalam rangka terciptanya medan dakwah Islam dan memerdekakan umat manusia dari perbudakan yang hina di bawah rezim pemerintahan zalim (13).

Tentu saja, tidak sepatutnya lengah bahwa tujuan jihad dan kemenangan bukanlah untuk pemaksaan, sebab Al-Quran secara jelas menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama(15). Iman merupakan ketetapan batin dan kecenderungan kepada sebuah doktrin. Menerima keyakinan bertumpu pada dua pilar rasional dan hati yang tulus; kedua hal ini benar-benar di luar lingkup unsur pemaksaan, sebab pemikiran mengikuti logika dan jiwa mengikuti perasaan dan dua hal ini jauh dari area pemaksaan. Pada prinsipnya keyakinan itu dihasilkan dari pemikiran yang bebas, sedangkan pemikiran yang terkekang tidak akan menghasilkan keyakinan sebagaimana yang dituntut Islam(16). Dengan demikian, jika tauhid dianggap sebagai bagian dari hak asasi manusia, maka sebuah bangsa tidak boleh berperang dengan bangsa lain untuk memaksakan tauhid, sebab tauhid dan iman bukanlah dua perkara yang dapat dipaksakan. Akan tetapi kita bisa memerangi orang-orang musyrik untuk menghilangkan kemusyrikan. Dengan demikian, perang yang dilakukan ini adalah dalam rangka membela kehormatan tauhid dari kemusyrikan (17).

Penekanan Rasulullah Saw dalam surat beliau kepada Khoshrou dan Heraclius bahwa tatkala mereka tidak menerima Tauhid, maka mereka menanggung dosa kaum Zoroaster dan para petani. Yakni, apabila sebuah pemerintahan menghalangi penyebaran dakwah kebenaran dalam masyarakat dengan menciptakan situasi mencekam dan melemahkan daya fikir orang-orang dengan membuat berbagai kendala, maka ia telah melakukan pelanggaran dan kejahatan kemanusiaan yang akan berbuntut pada balasan di dunia dan siksaan di akhirat.

Lepas dari itu, kita akan menjumpai nuansa lain tatkala kita mencermati surat Rasulullah Saw untuk Najasyi. Penggunaan dan pemilihan kata dalam surat ini secara implisit merupakan bentuk penghormatan yang istimewa kepada Najasyi. Penggunaan kalimat “Salam sejahtera bagimu” di awal surat dan tidak menggunakan kalimat “Terimalah Islam, niscaya Anda akan selamat” sebagaimana dalam surat beliau yang lain menguatkan makna ini. Seolah-olah Rasulullah Saw telah membaca gelagat baik Najasyi terhadap kaum Muslimin di saat menulis surat ini, sebab Najasyi telah memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin tatkala mereka tidak mendapatkan perlindungan dan menyelamatkan kaum Muslimin dari ancaman kaum musyrikin, serta melumpuhkan upaya utusan Quraisy dalam upaya mengembalikan kaum Muslimin ke kota Mekkah. Setelah mengenalkan sosok asli Isa Al-Masih, Rasulullah Saw dalam surat ini mengajak penguasa itu dan bala tentara Habasyah kepada Islam dan menghendaki mereka agar menerima seruan dan nasehat beliau (18).

Poin lain dalam surat Rasulullah Saw kepada Najasyi yang patut direnungkan secara teliti adalah permohonan beliau kepada Najasyi agar menerima Ja`far bin Abi Thalib beserta rombongannya. Sebagaimana yang telah dicatat oleh para sejarawan, hijrah kaum Muslimin, termasuk Ja`far bin Abi Thalib, ke negeri Habasyah terjadi beberapa tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Tampaknya, kaum Muslimin dengan membawa surat Rasulullah Saw untuk Najasyi berharap agar dapat diterima baik olehnya ketika berhijrah ke Habasyah. Surat Rasulullah Saw ini berbeda dengan surat beliau yang dikirimkan kepada Najasyi pada tahun VI H dalam rangka mengajaknya masuk Islam. Oleh karena itu, adanya beberapa bagian dari surat (yang dibawa oleh kaum Muslimin ketika berhijrah ke Habasyah) dalam surat yang disampaikan oleh Umar bin Abi Umaiyah Dhamri pada tahun VI H tidaklah memiliki nilai validitas dan bukti sejarah. Hal ini disebabkan oleh kesalahan para penyalin dokumen sejarah hingga mencampuradukkan isi dan urutan satu teks surat ke dalam teks surat lainnya, atau adanya faktor yang menggugurkan catatan seorang perawi, atau juga tidak adanya komitmen dalam menyampaikan isi riwayat.

Alhasil, Thabari telah mencatat berita ini dalam kitabnya tanpa mengevaluasi apa pun dalam menimbang kritik historisnya. Selain itu juga ia cantumkan tiga surat Rasulullah Saw tersebut pada bab “Pasca Insiden-insiden Tahun VI Hijriyah”, tanpa memperhatikan kronologisnya, juga tanpa menyebutkan hari dan bulan secara detail. Jika dugaan ini benar bahwa orang-orang Arab sampai sebelum diletakkannya kalender pada masa khalifah kedua, yakni menjadikan hijrah Rasulullah Saw sebagai penanggalan, tidak terbiasa menulis tanggal dalam surat-surat mereka, maka kekeliruan ini tidak akan dapat ditujukan kepada Al-Thabari.

Dalam kitab Al-Thabari disebutkan bahwa tiga surat Rasulullah Saw tersebut diakhiri tanpa tercantum nama penulis, tanda tangan dan penutupannya, sedangkan Muhammad Hamidullah—dengan bersandar kepada sejumlah surat-surat yang menunjukkan asalnya dari Rasulullah Saw, mengklaim bahwa beliau mengakhiri surat-suratnya dengan tanda tangan dan nama “Muhammad utusan Allah”(19).

___________________________________

1. “Dan tidak Kami utus engkau kecuali untuk segenap manusia sebagai pembawa harapan dan ancaman” (Saba: 28).

2. Surat-surat Rasulullah Saw dalam Ensklopedia “Makâtib Al-Rasûl”, karya Ali Ahmadi, cetakan 1363 H. Dalam hal ini juga disusun sebuah disertasi berjudul “Surat-surat dan Perjanjian-perjanjian Nabi Muhammad Saw” karya Dr. Muhammad Hamidullah yang diterjemahkan ke bahasa Persia dengan dua judul: “Watsa’iq” oleh Dr. Mahmud Mahdawi Damghani, dan “Surat-surat dan Perjanjian-perjanjian Politik Nabi Muhammad Saw dan Dokumen-dokumen Awal Islam” oleh Dr. Sayid Muhammad Husaini.

3. Muhammad bin Jarir, Al-Thabari, Târîkh Al-Rosûl wa Al-Mulûk, Pasca Insiden-insiden Tahun VI H.

4. Ibid.

5. Ibid.

6. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw bahwa pekerjaan yang tidak diawali dengan nama Allah adalah pekerjaan yang terputus. Silahkan merujuk Ali Muttaqi, Kanz Al-‘Ummâl: jld. 1, hlm. 555.

7. Ali Ahmadi, Ali, Makâtib Al-Rosûl, jld. 2, hlm. 38.

8. Hud: 41.

9. QS. Al-Isra` [17]: 110.

10. QS. Al-Naml []: 30.

11. Mas`udi, Ali bin Husain, Al-Tanbîh wa Al-Asyrôf, hlm. 238.

12. Muhammad bin Jarir Al-Thabari, Pasca Insiden-insiden Tahun IV H.

13. Mutahhari Murtadha, Jihod, hlm. 46.

14. Untuk lebih lengkapnya tentang bab penaklukan hati, silahkan merujuk Ayenehwand, “Kemenangan-kemenangan dalam Islam”, dalam buletin Sejarah Islam, no. 2, 1379.

15. QS. Al-Baqarah [2]: 256, “Tidak ada paksaan dalam agama.

16. Murtadha Muthahhari, Jihod, hlm. 50.

17. Ibid., hlm. 51.

18. Najasyi juga telah menerima nasehat Nabi Saw dan memberitahukan kepada beliau bahwa dirinya telah menerima Islam melalui surat yang ia kirimkan ke Madinah. Silahkan merujuk Muhammad bin Jarir Al-Thabari, Pasca Insiden-insiden Tahun VI H.

19. Silahkan merujuk Muhammad Hamidullah, Surat dan Perjanjian Politik Nabi Muhammad Saw dan Dokumen-dokumen Awal Islam, terj. Sayid Muhammad Husaini, Teheran, Soroush, 1374.

Referensi :

– Ahmadi, Ali, Makâtib Al-Rosûl, Yasin, Teheran, 1363.

– Hamidullah, Muhammad, Nomeh-ha va Paemanha-e Siyosi Hadhrat-e Muhammad va Asnad-e Shadr-e Islom, terj. Sayid Muhammad Husaini, Sorousy, Teheran, 1374.

– Thabari, Muhammad bin Jarir, Târîkh Al-Rosûl wa Al-Mulûk, diteliti oleh Muhammad Abul Fadzl Ibrahim, Dar Al-Turots, Beirut, 1378, pasca insiden-insiden tahun VI H.

– Muttaqi, Ali, Kanz Al-‘Ummâl, diteliti oleh Bukra Hayyani, Muassasah Al-Risalah, Bairut, 1405.

– Mas`udi, Ali bin Husain, Al-Tanbîh wa Al-Asyrôf, terj. Abul Qasim Pabandeh, Intisyarat Ilmi wa Farhanggi, Teheran, 1365.

– Mutahhari Murtadha, Jihod, Nasyre Nuwid, Syiraz, 1368.

27 Juni 2012

“SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW DILAHIRKAN”.

oleh alifbraja

PERISTIWA PENTING:

Kisah menjelang Nabi Muhammad SAW dilahirkan diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al Fiil 105:1-5 yang menceritakan Kejadian yang Luar Biasa yang dialami oleh Tentara Bergajah yang hendak MENGHANCURKAN KA’BAH.

Sedangkan….

Rincian Kisahya terdapat di dalam kitab Sirah Ibnu Hisham, pencatat riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yang terkenal.
Begitu juga dengan Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka juga menceritakan hal ini.

Kisah yang diuraikan dibawah ini, sekaligus menjawab Fitnah Kristen yang mengatakan Orang tua Nabi masuk Neraka.

Karena Kisahnya sangat lengkap dan panjang, langsung aja kita mulai…….

Selamat membaca…

Ketika itu Tanah Arab bagian Selatan adalah di bawah kekuasaan Kerajaan Habsyi. Najasyi (Negus) menanam wakilnya di Arabia Selatan itu bernama Abrahah.

Sebagaimana kita ketahui, Kerajaan Habsyi adalah pemeluk Agama Kristen. Untuk menunjukkan jasanya kepada Rajanya, Abrahah sebagai Wakil Raja atau Gubernur telah mendirikan sebuah gereja di Shan’aa diberinya nama Qullais.

Gereja itu dibuat sangat indahnya sehingga jaranglah akan tandingnya di dunia di masa itu. Setelah selesai dikirimlah berita kepada Najasyi:

“Telah aku dirikan sebuah gereja, ya Tuanku!, dan aku percaya belumlah ada raja-raja sebelum Tuanku mendirikan gereja semegah ini, namun hatiku belumlah puas melihat orang Arab yang selama ini berhaji ke Makkah, aku akan palingkan hajinya ke gereja Tuanku itu”.

Surat dengan isi berita yang sangat pongah ini sampai ke telinga bangsa Arab, sehingga mereka gelisah. Maka bangkitlah marah seorang pemuka Arab karena tempat mereka berhaji akan dialihkan dengan kekerasan.

Menurut Ibnu Hisyam orang itu ialah dari kabilah Bani Faqim in ‘Adiy. Maka pergilah dia sembunyi-sembunyi ke gereja itu, dia masuk ke dalam, dan di tengah-tengah gereja megah itu diberakinya. Setelah itu dia pun segera pulang ke negerinya.

Berita ini disampaikan kepada Abrahah. Lalu dia bertanya: “Siapakah yang membuat pekerjaan kotor ini?” Ada orang menjawab: “Yang berbuat kotor ini adalah orang yang membela rumah yang mereka hormati itu, tempat mereka tiap tahun naik haji, di Makkah. Setelah dia mendengar maksud Paduka Tuan hendak memalingkan haji orang Arab dari rumah yang mereka sucikan kepada gereja ini orang itu marah lalu dia masuk ke dalam gereja ini dan diberakinya, untuk membuktikan bahwa gereja ini tidaklah layak buat pengganti rumah mereka yang di Makkah itu.”

Sangatlah murka Abrahah melihat perbuatan itu, dan bersumpahlah dia; akan segera berangkat ke Makkah, untuk meruntuhkan rumah itu!

Dikirimnya seorang utusan kepada Bani Kinanah, mengajak mereka mempelopori naik haji ke gereja yang didirikannya itu. Tetapi sesampai utusan itu ke negeri Bani Kinanah dia pun mati dibunuh orang.

Itu pun menambah murka dan sakit hati Abrahah.

Maka disuruhlah tentara Habsyinya bersiap. Setelah siap mereka pun berangkat menuju Makkah. Dia sendiri mengendarai seekor gajah, diberinya nama Mahmud.

Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah telah keluar hendak pergi meruntuh Ka’bah sangatlah mereka terkejut dan seluruh kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka’bah dari serbuan itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan Baitullah Al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia: “Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi tuan membiarkan saya tinggal hidup.” Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan tetaplah Dzu Nafar dibelenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.

Abrahah pun meneruskan perjalanannya. Sesampai di negeri orang Khats’am tampil pula pemimpin Arab bernama Nufail bin Habib Al-Khats’amiy memimpin dua kabilah Khats’am, yaitu Syahran dan Nahis dan beberapa kabilah lain yang mengikutinya. Mereka pun berperang pula melawan Abrahah, tetapi Nufail pun kalah dan tertawan pula. Ketika dia akan dibunuh dia pun berdatang sembah: “Tak usah saya tuan bunuh, bebaskanlah saya supaya saya menjadi petunjuk jalan tuan di negeri-negeri Arab ini.”

Dua kabilah ini, Syahran dan Nahis adalah turut perintah Tuan. Permintaannya itu pun dikabulkan oleh Abrahah dan tetaplah dia berjalan di samping Abrahah menjadi penunjuk jalan, sehingga sampailah tentara itu di Thaif.

Sampai di Thaif pemuka Tsaqif yang bernama Mas’ud bin Mu’attib bersama beberapa orang pemuka lain datang menyongsong kedatangan Abrahah, lalu mereka menyatakan ketundukan.

Dia berkata:
“Wahai Raja! Kami adalah hamba sahaya Tuan, kami tunduk takluk ikut perintah, tidak ada kami bermaksud melawan Tuan. Di negeri ini memang ada pula sebuah rumah yang kami puja dan muliakan (yang dimaksudnya ialah berhala yang bernama Al-Laata). Namun kami percaya bukanlah berhala kami ini yang Tuan maksud akan diruntuhkan. Yang Tuan maksud tentulah Ka’bah yang di Makkah. Kami bersedia memberikan penunjuk jalan buat Tuan akan menuju negeri Makkah itu.”

Lalu mereka berikan seorang penunjuk jalan bernama Abu Raghaal! Lantaran itu Abrahah pun melanjutkan perjalanan dengan Abu Raghaal sebagai penunjuk jalan, sampai mereka akhirnya istirahat di satu tempat bernama Mughammis, suatu tempat sudah dekat ke Makkah dalam perjalanan dari Thaif.

Sesampai di Mughammis itu tiba-tiba matilah Abu Raghaal si penunjuk jalan itu. Kubur Abu Raghaal itu ditandai oleh orang Arab, maka setiap yang lalu lintas di dekat situ melempari kubur itu.

Setelah Abrahah berhenti dengan tentaranya di Mughammis, diutusnya seorang utusan dari bangsa Habsyi ke negeri Makkah. Nama utusan itu Aswad bin Maqfud. Dia pergi dengan naik kuda.

Setelah dia sampai di wilayah Makkah dirampaslah (merampok) harta-benda penduduk Tihamah dari Quraisy dan Arab yang lain.
Termasuk 200 ekor unta kepunyaan Abdul Muthalib bin Hasyim, yang ketika itu menjadi orang yang dituakan dan disegani dalam kalangan Quraisy. Melihat perbuatan dan perampasan yang dilakukan oleh patroli Abrahah yang bernama Aswad bin Maqfud itu naik darahlah orang Quraisy, orang Kinanah dan Kabilah Huzail yang semuanya hidup disekeliling Makkah yang berpusat kepada Ka’bah, sehingga mereka pun telah menyatakan bersiap hendak berperang melawan Abrahah.

Tetapi setelah mereka musyawarahkan dengan seksama, mereka pun mendapat kesimpulan bahwa tidaklah seimbang kekuatan mereka hendak melawan dengan besarnya angkatan perang musuh. Sebab itu perang tidaklah dijadikan.

Lalu Abrahah mengirim lagi perutusannya di bawah pimpinan Hunathah Al-Himyariy ke Makkah, hendak mencari hubungan dengan pemuka-pemuka Makkah dan ketua-ketuanya.

Lalu utusan itu menyampaikan pesan Abrahah: “Kami datang ke mari bukanlah untuk memerangi kalian. Kedatangan kami hanyalah semata-mata hendak menghancurkan rumah (Ka’bah) ini. Kalau kalian tidak mencoba melawan kami, selamatlah nyawa dan darah kalian.”

Dan Abrahah berpesan pula: “Jika Kalian memang penduduk Makkah tidak hendak melawan kami, suruhlah salah seorang ketua Makkah datang menghadapnya ke Mughammis!”

Hunathah itu pun datanglah ke Makkah menyampaikan titah raja yang tegas itu. Setelah orang yang ditemuinya menyatakan bahwa pemimpin dan ketua mereka ialah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu datanglah dia menuju Abdul Muthalib dan menyampaikan titah raja yang tegas itu.

Mendengar pesan raja itu berkatalah Abdul Muthalib:

“Demi Allah tidaklah kami bermaksud hendak berperang dengan dia. Kekuatan kami tidak cukup untuk memeranginya. Rumah ini adalah Rumah Allah, Bait Allah Al-Haram, dan Rumah Khalil Allah Ibrahim. Kalau Allah hendak mempertahankan rumah-Nya dari diruntuhkan, itulah urusan Allah sendiri. Kalau dibiarkannya rumah-Nya diruntuh orang, apalah akan daya kami. Kami tak kuat mempertahankannya.”

Berkata Hunathah: “Kalau begitu tuan sendiri harus datang menghadap baginda. Saya diperintahkan mengiringkan Tuan.”

“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.

Maka beliau pun pergilah bersama Hunathah menghadap Raja. Beliau diiringkan oleh beberapa orang puteranya sehingga sampailah mereka ke tempat perhentian laskar itu. Lalu dinyatakannya keadaan Dzu Nafar yang tertawan itu, sebab dia adalah sahabat lamanya, sehingga dia pun diizinkan menemuinya dan masuk ke dalam tempat tahanannya.

Dia (Abdul Muthalib) bertanya kepada Dzu Nafar: “Hai Dzu Nafar! Adakah pendapat yang dapat engkau berikan kepadaku tentang kemusykilan yang aku hadapi ini?”

Dzu Nafar menjawab:
“Tidak ada pendapat yang dapat diberikan oleh seorang yang dalam tawanan raja, yang menunggu akan dibunuh saja, entah pagi entah petang. Tak ada nasihat yang dapat saya berikan. Cuma ada satu! Yaitu pawang gajah selalu menjaga gajah raja itu, Unais namanya. Dia adalah sahabatku. Saya akan mengirim berita kepadanya tentang hal-mu dan saya akan memesan bahwa engkau sahabatku supaya dia pun mengerti bahwa engkau ini orang penting.
Moga-moga dengan perantaraannya engkau dapat menghadap raja. Supaya engkau dapat menumpahkan perasaanmu di hadapannya, dan supaya Unais pun dapat memujikan engkau di hadapan baginda. Moga-moga dia sanggup.”

“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.

Lalu Dzu Nafar mengirim orang kepada Unais pengawal gajah raja. Kepada Unais itu Dzu Nafar memesankan siapa Adbul Muthalib. Bahwa dia adalah ketua orang Quraisy, yang punya sumur Zamzam yang terkenal itu, yang memberi makan orang yang terlantar di tanah rendah dan memberi makan binatang buas di puncak-puncak bukit.
Untanya 200 ekor dirampas hamba-hamba raja, dia mohon izin menghadap baginda, dan engkau usahakanlah supaya pertemuan itu berhasil.

“Saya sanggupi”, kata Unais. Maka Unais pun datanglah menghadap raja mempersembahkan darihal Abdul Muthali itu: “Daulat Tuanku, beliau adalah Ketua Quraisy.”

Dia telah berdiri di hadapan pintu Tuanku, ingin menghadap. Dialah yang menguasai Zamzam di Makkah.
Dialah yang memberi makanan manusia di tanah rendah dan memberi makanan binatang buas di puncak gunung-gunung.
Beri izinlah dia masuk, Tuanku.
Biarlah dia menyampaikan apa yang terasa di hatinya.”

“Suruhlah dia masuk”, titah Raja.

Abdul Muthalib adalah seorang yang rupawan, berwajah menarik dan berwibawa, besar dan jombang.

Baru saja dia masuk, ada sesuatu yang memaksa Abrahah berdiri menghormatinya dan menjemputnya ke pintuk khemah. Abrahah merasa tidaklah layak orang ini akan duduk di bawah dari kursinya.
Sebab itu baginda sendirilah yang turun dari kursi dan sama duduk di atas hamparan itu berdekatan dengan Abdul Muthalib.

Kemudian itu bertitahlah baginda kepada penterjemah: “Suruh katakanlah apa hajatnya!”

Abdul Muthalib menjawab dengan perantaraan penterjemah: “Maksud kedatanganku ialah memohonkan kepada raja agar unta kepunyaanku, 200 ekor banyaknya, yang dirampas oleh hamba sahaya baginda, dipulangkan kepadaku.”

Raja menjawab dengan perantaraan penterjemah:
“Katakan kepadanya: Mulai dia masuk aku terpesona melihat sikap dan rupanya, yang menunjukkan dia seorang besar dalam kaumnya. Tetapi setelah kini dia mengemukakan soal untanya 200 ekor yang dirampas oleh orang-orangku, dan dia tidak membicarakan sama-sekali, tidak ada reaksinya sama-sekali tentang rumah agamanya dan rumah agama nenek-moyangnya (Ka’bah) yang aku datang sengaja hendak meruntuhkannya, menjadi sangat kecil dia dalam pandanganku.”

Abdul Muthalib menjawab:
“Saya datang ke mari mengurus unta itu, karena yang punya unta itu ialah aku sendiri. Adapun soal rumah (Ka’bah) itu, memang sengaja tidak saya bicarakan. Sebab rumah (Ka’bah) itu ada pula yang punya, yaitu Allah. Itu adalah urusan Allah.”

Dengan sombong Abrahah menjawab:
“Allah itu sendiri tidak akan dapat menghambat maksudku!”

Abdul Muthalib menjawab:
“Itu terserah Tuan, aku datang ke mari hanya mengurus untaku.”

Akhirnya, Unta yang 200 ekor itu pun disuruh dikembalikan oleh Abrahah.
Abdul Muthalib pun segeralah kembali ke Makkah, memberitahukan kepada penduduk Makkah pertemuannya dengan Abrahah.
Lalu dia memberi nasihat supaya seluruh penduduk Makkah segera meninggalkan Makkah, mengelakkan diri (menghindar) ke puncak-puncak bukit disekeliling Makkah, agar jangan sampai terinjak oleh tentara bergajah yang akan datang mengamuk.

Setelah itu, dengan diiringi oleh beberapa pemuka Quraisy, Abdul Muthalib pergi ke pintu Ka’bah dipegangnya teguh-teguh gelang pada pintunya lalu mereka berdoa bersama-sama menyeru Allah, memohon pertolongan, dan agar Allah memberikan pembalasannya kepada Abrahah dan tentaranya. Sambil memegang gelang pintu Ka’bah itu dia bermohon:

Ya Tuhanku! Tidak ada yang aku harap selain Engkau! Ya Tuhanku! Tahanlah mereka dengan benteng Engkau! Sesungguhnya siapa yang memusuhi rumah ini adalah musuh Engkau. Mereka tidak akan dapat menaklukkan kekuatan Engkau.

Setelah selesai bermunajat kepada Tuhan dengan memegang gelang pintu Ka’bah itu, Abdul Muthalib bersama orang-orang yang mengiringkannya pun mengundurkan diri, lalu pergi ke lereng-lereng bukit, dan di sanalah mereka berkumpul menunggu apakah yang akan diperbuat Abrahah terhadap negeri Makkah bilamana dia masuk kelak.

Keesokan harinya bersiaplah Abrahah hendak memasuki Makkah dan dipersiapkanlah gajahnya.

Gajah itu diberinya nama Mahmud. Dan Abrahah pun telah bersiap-siap hendak pergi meruntuhkan Ka’bah, dan kalau sudah selesai pekerjaannya itu kelak dia bermaksud hendak segera pulang ke Yaman.

Dihadapkannya gajahnya itu menuju Makkah, mendekatlah seorang tawanan yang dijadikan penunjuk jalan, dari Kabilah Khats’am yang bernama Nufail bin Habib itu.
Dia dekati gajah tersebut, lalu dipegangnya telinga gajah itu dengan lemah-lembutnya dan dia berbisik:
“Kalau engkau hendak dihalau berjalan hendaklah engkau tengkurup saja, hai Mahmud! Lebih cerdik bila engkau pulang saja ke tempat engkau semula di negeri Yaman. Sebab engkau sekarang hendak dikerahkan ke Baladillah Al-Haram (Tanah Allah yang suci lagi bertuah).”

Selesai bisikannya itu dilepaskannyalah telinga gajah itu. Dan sejak mendengar bisikan itu gajah tersebut terus tengkurup, tidak mau berdiri. Nufail bin Habib pun pergilah berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu, menuju sebuah bukit.

Maka datanglah saat akan berangkat. Gajah disuruh berdiri tidak mau berdiri. Dipukul kepalanya dengan tongkat penghalau gajah yang agak runcing ujungnya, supaya dia segera berdiri.

Namun dia tetap duduk tak mau bergerak. Diambil pula tongkat lain, ditonjolkan ke dalam mulutnya supaya dia berdiri, namun dia tidak juga mau berdiri.
Lalu ditarik kendalinya dihadapkan ke negeri Yaman; dia pun segera berdiri, bahkan mulai berjalan kencang.
Lalu dihadapkan pula ke Syam. Dengan gembira dia pun berjalan cepat menuju Syam.
Lalu dihadapkan pula ke Timur, dia pun berjalan kencang.
Kemudian dihadapkan dia ke Makkah, dia pun duduk kembali, tidak mau bergerak.

Padahal Abrahah sudah siap berangkat, tentaranya pun sudah siap.

Dalam uraian Ibnu Hisyam dalam Siirahnya;
Nampaklah di udara beribu-ribu ekor burung terbang menuju mereka. Datangnya dari arah laut.

Burung itu membawa tiga butir batu; sebutir di mulutnya dan dua butir digenggamnya dengan kedua belah kakinya. Dengan serentak burung-burung itu menjatuhkan batu yang di bawanya itu ke atas diri tentara-tentara yang banyak itu. Siapa saja yang kena, terpekik kesakitan karena saking panasnya.
Berpekikan dan berlarianlah mereka, simpang siur tidak tentu arah, karena takut akan ditimpa batu kecil-kecil itu yang sangat panas membakar itu. Lebih banyak kena daripada yang tidak kena.

Semua menjadi kacau-balau dan ketakutan. Mana yang kena terkaparlah jatuh, dan orang yang tidak kena segera lari kembali ke Yaman. Mereka cari Nufail bin Habib untuk menunjuki jalan menuju Yaman, namun dia tidak mau lagi, malahan dia bersyair:

“Kemana akan lari, Allahlah yang mengejar, Asyram (Abrahah) yang kalah, bukan dia yang menang.”

Kucar-kacirlah mereka pulang. Satu demi satu orang yang kena lontaran batu itu jatuh. Dan yang agak tegap badannya masih melanjutkan pelarian menuju negerinya, namun di tengah jalan mereka berjatuhan juga.

Adapun Abrahah sendiri tidak terlepas dari lontaran batu itu namun masih sempat naik gajahnya menuju Yaman, di tengah jalan keadaannya bertambah parah. Terkelupas kulitnya, gugur dagingnya, sehingga sesampainya di negeri Yaman boleh dikatakan sudah seperti anak ayam menciap-ciap. Lalu mati dalam kehancuran.

Maka tahun itu dikenal dengan nama “Tahun Gajah”.

Menurut keterangan Nabi SAW sendiri dalam sebuah Hadis yang shahih, beliau dilahirkan dalam tahun gajah itu.
Demikianlah disebutkan oleh Al-Mawardi di dalam tafsirnya. Dan tersebut pula di dalam kitab I’lamun Nubuwwah, Nabi SAW dilahirkan 12 Rabiul Awwal, 50 hari saja sesudah kejadian bersejarah kehancuran tentara bergajah itu.

Setelah Nabi kita SAW berusia 40 tahun dan diangkat Allah menjadi Rasul SAW masih didapati dua orang peminta-minta di Makkah, keduanya buta matanya. Orang itu adalah sisa dari pengasuh-pengasuh gajah yang menyerang Makkah itu.

Usaha besar yang begitu sombong, seperti jawaban Abrahah kepada Abdul Muthalib, bahwa:
Allah sendiri tidak akan sanggup bertahan kalau dia datang menyerang. Segala maksudnya hendak menghancurkan itu sia-sia belaka, dan gagal belaka.

Tersebut dalam riwayat bahwa;
Abdul Muthalib yang tengah meninjau dari atas bukit-bukit Makkah tentang apa yang akan dilakukan oleh tentara bergajah itu melihat burung berduyun-duyun menuju tentara yang hendak menyerbu Makkah itu.
Kemudian hening tidak ada gerak apa-apa. Lalu diperintahnya anaknya yang paling bungsu, Abdullah (ayah Nabi kita Muhammad SAW) pergi melihat-lihat apa yang telah terjadi, ada apa dengan burung-burung itu dan ke mana perginya.

Maka dilakukanlah perintah ayahnya dan dia pergi melihat-lihat dengan mengendarai kudanya. Tidak beberapa lamanya dia pun kembali dengan memacu kencang kudanya dan menyingsingkan kainnya. Setelah dekat, dengan tidak sabar orang-orang bertanya: “Ada apa, Abdullah?”

Abdullah menjawab: “Hancur-lebur semua!” Lalu diceriterakannya apa yang dilihatnya, “Bangkai bergelimpangan dan ada yang masih menarik-narik nafas akan mati dan sisanya telah lari menuju negerinya.”

Maka berangkatlah Abdul Muthalib dengan pemuka-pemuka Quraisy itu menuju tempat tersebut, tidak berapa jauh dari dalam kota Makkah. Mereka dapati apa yang telah diceriterakan Abdullah bin Abdul Muthalib itu.

Tentara yang hancur itu meninggalkan kuda-kuda kendaraan, ataupun pakaian-pakaian perang yang mahal-mahal, alat senjata peperangan, pedangnya, perisainya dan tombaknya dan emas perak banyak sekali.
Maka sepakatlah kepala-kepala Quraisy itu memberikan kelebihan pembagian yang banyak untuk Abdul Muthalib, sebab dia dipandang sebagai pemimpin yang bijaksana.

Kemudian, 50 hari sesudah kejadian itu, Nabi Muhammad SAW pun lahir ke dunia. Ayahnya (Abdullah) dalam perjalanan ke Yatsrib, meninggal dunia sebelum puteranya lahir.

Al-Qurthubi menulis dalam tafsirnya:
“Hikayat tentara bergajah ini adalah satu mu’jizat dari Nabi kita, walaupun beliau waktu itu belum lahir”.
karena TIDAK ADA ORANG YANG AKAN DAPAT MELUPAKAN KEJADIAN INI dan nenek-kandungnya mengambil peranan penting pada kejadian ini.

Dari kisah diatas tergambar bahwa Abdul Muthalib menganut ajaran yang hanif sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Ibrahim. Begitu pula dengan Abdullah yang merupakan putra kesayangan dari Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikuti ajaran yang dianut oleh Ayahandanya yang merupakan pembesar Quraisy yang termasyur keseluruh penjuru. Apalagi Siti Aminah yang merupakan wanita shalihah dan istri dari Abdullah bin Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikut ajaran Nabi Ibrahim As.

Tidak pernah terdengar dalam berbagai kisah-kisah sejarah maupun hadist serta Al-Quran yang mengungkapkan bahwa Abdul Muthalib dan keluarganya menyembah berhala (Batu Pahatan) yg berada disekeliling Ka’bah seperti yang dilakukan oleh kabilah-kabilah lainnya.

As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’l Al Mashadir Al Ashliyah.

Meskipun pada waktu hegemoni paganisme di masyarakat Arab sedemikian kuat, tetapi masih ada beberapa orang yang dikenal sebagai Al Hanafiyun atau Al Hunafa’. Mereka tetap berada dalam agama yang hanif, menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Diantara mereka adalah :
Qiss bin Sa’idah Al lyaadi, Zaid bin ‘Amru bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Shalt, Abu Qais bin Abi Anas, Khalid bin Sinan, An Nabighah Adz Dzubyani, Zuhair bin Abi Salma, Ka’ab bin Luai bin Ghalib, Umair bin Haidab Al Juhani, ‘Adi bin Zaid Al ‘Ibadi, penyair Zuhair bin Abi Salma, Abdullah Al Qudhaa’i, Ubaid bin Al Abrash Al Asadi, Utsman bin Al Huwairits, Amru bin Abasah Al Sulami, Aktsam bin Shaifi bin Rabaah dan Abdul Muthalib kakek Rasulullah

BERDASARKAN KISAH DIATAS, TERJAWAB SUDAH FITNAH UMAT KRISTIANI YG MENGATAKAN ORANG TUA NABI BERADA DALAM NERAKA KARENA BELUM MEMELUK ISLAM TIDAK BERDASAR SAMA SEKALI, SEBAB NENEK MOYANG NABI MERUPAKAN KETURUNAN NABI IBRAHIM AS.

Tulisan ini, sunan tutup dengan ayat suci Al-Qur’an yaitu:

QS. 3 Ali Imran : 67-68.
“IBRAHIM BUKAN SEORANG YAHUDI DAN BUKAN (PULA) SEORANG NASRANI, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” SESUNGGUHNYA ORANG YANG PALING DEKAT KEPADA IBRAHIM IALAH ORANG-ORANG YANG MENGIKUTINYA DAN NABI INI (MUHAMMAD), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”.

Qs.2 Baqarah 136
“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “KAMI BERIMAN KEPADA ALLAH dan apa yang diturunkan kepada kami, dan APA YANG DITURUNKAN KEPADA IBRAHIM, ISMA’IL, ISHAQ, YA’QUB DAN ANAK CUCUNYA, DAN APA YANG DIBERIKAN KEPADA MUSA DAN ISA SERTA APA YANG DIBERIKAN KEPADA NABI-NABI DARI TUHANNYA. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

_________________
[url=just see]http://laskarislam.indonesianforum.net/ [/url]

Bejat
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS
Male
Number of posts: 1377
Location: Kabupaten Landak
Job/hobbies: Comicers
Humor: Yesus, Paulus, Amonius, Albertus, semua pake ujung -Us, sama kayak Anus.
Reputation: -5
Points: 2364
Registration date: 2011-02-13

Back to top Go down

Re: “SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW DILAHIRKAN”.

Post by kuku bima on Tue 06 Mar 2012, 03:31

Bejat wrote:PERISTIWA PENTING:

Kisah menjelang Nabi Muhammad SAW dilahirkan diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al Fiil 105:1-5 yang menceritakan Kejadian yang Luar Biasa yang dialami oleh Tentara Bergajah yang hendak MENGHANCURKAN KA’BAH.

Sedangkan….

Rincian Kisahya terdapat di dalam kitab Sirah Ibnu Hisham, pencatat riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yang terkenal.
Begitu juga dengan Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka juga menceritakan hal ini.

Kisah yang diuraikan dibawah ini, sekaligus menjawab Fitnah Kristen yang mengatakan Orang tua Nabi masuk Neraka.

Karena Kisahnya sangat lengkap dan panjang, langsung aja kita mulai…….

Selamat membaca…

Ketika itu Tanah Arab bagian Selatan adalah di bawah kekuasaan Kerajaan Habsyi. Najasyi (Negus) menanam wakilnya di Arabia Selatan itu bernama Abrahah.

Sebagaimana kita ketahui, Kerajaan Habsyi adalah pemeluk Agama Kristen. Untuk menunjukkan jasanya kepada Rajanya, Abrahah sebagai Wakil Raja atau Gubernur telah mendirikan sebuah gereja di Shan’aa diberinya nama Qullais.

Gereja itu dibuat sangat indahnya sehingga jaranglah akan tandingnya di dunia di masa itu. Setelah selesai dikirimlah berita kepada Najasyi:

“Telah aku dirikan sebuah gereja, ya Tuanku!, dan aku percaya belumlah ada raja-raja sebelum Tuanku mendirikan gereja semegah ini, namun hatiku belumlah puas melihat orang Arab yang selama ini berhaji ke Makkah, aku akan palingkan hajinya ke gereja Tuanku itu”.

Surat dengan isi berita yang sangat pongah ini sampai ke telinga bangsa Arab, sehingga mereka gelisah. Maka bangkitlah marah seorang pemuka Arab karena tempat mereka berhaji akan dialihkan dengan kekerasan.

Menurut Ibnu Hisyam orang itu ialah dari kabilah Bani Faqim in ‘Adiy. Maka pergilah dia sembunyi-sembunyi ke gereja itu, dia masuk ke dalam, dan di tengah-tengah gereja megah itu diberakinya. Setelah itu dia pun segera pulang ke negerinya.

Berita ini disampaikan kepada Abrahah. Lalu dia bertanya: “Siapakah yang membuat pekerjaan kotor ini?” Ada orang menjawab: “Yang berbuat kotor ini adalah orang yang membela rumah yang mereka hormati itu, tempat mereka tiap tahun naik haji, di Makkah. Setelah dia mendengar maksud Paduka Tuan hendak memalingkan haji orang Arab dari rumah yang mereka sucikan kepada gereja ini orang itu marah lalu dia masuk ke dalam gereja ini dan diberakinya, untuk membuktikan bahwa gereja ini tidaklah layak buat pengganti rumah mereka yang di Makkah itu.”

Sangatlah murka Abrahah melihat perbuatan itu, dan bersumpahlah dia; akan segera berangkat ke Makkah, untuk meruntuhkan rumah itu!

Dikirimnya seorang utusan kepada Bani Kinanah, mengajak mereka mempelopori naik haji ke gereja yang didirikannya itu. Tetapi sesampai utusan itu ke negeri Bani Kinanah dia pun mati dibunuh orang.

Itu pun menambah murka dan sakit hati Abrahah.

Maka disuruhlah tentara Habsyinya bersiap. Setelah siap mereka pun berangkat menuju Makkah. Dia sendiri mengendarai seekor gajah, diberinya nama Mahmud.

Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah telah keluar hendak pergi meruntuh Ka’bah sangatlah mereka terkejut dan seluruh kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka’bah dari serbuan itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan Baitullah Al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia: “Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi tuan membiarkan saya tinggal hidup.” Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan tetaplah Dzu Nafar dibelenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.

Abrahah pun meneruskan perjalanannya. Sesampai di negeri orang Khats’am tampil pula pemimpin Arab bernama Nufail bin Habib Al-Khats’amiy memimpin dua kabilah Khats’am, yaitu Syahran dan Nahis dan beberapa kabilah lain yang mengikutinya. Mereka pun berperang pula melawan Abrahah, tetapi Nufail pun kalah dan tertawan pula. Ketika dia akan dibunuh dia pun berdatang sembah: “Tak usah saya tuan bunuh, bebaskanlah saya supaya saya menjadi petunjuk jalan tuan di negeri-negeri Arab ini.”

Dua kabilah ini, Syahran dan Nahis adalah turut perintah Tuan. Permintaannya itu pun dikabulkan oleh Abrahah dan tetaplah dia berjalan di samping Abrahah menjadi penunjuk jalan, sehingga sampailah tentara itu di Thaif.

Sampai di Thaif pemuka Tsaqif yang bernama Mas’ud bin Mu’attib bersama beberapa orang pemuka lain datang menyongsong kedatangan Abrahah, lalu mereka menyatakan ketundukan.

Dia berkata:
“Wahai Raja! Kami adalah hamba sahaya Tuan, kami tunduk takluk ikut perintah, tidak ada kami bermaksud melawan Tuan. Di negeri ini memang ada pula sebuah rumah yang kami puja dan muliakan (yang dimaksudnya ialah berhala yang bernama Al-Laata). Namun kami percaya bukanlah berhala kami ini yang Tuan maksud akan diruntuhkan. Yang Tuan maksud tentulah Ka’bah yang di Makkah. Kami bersedia memberikan penunjuk jalan buat Tuan akan menuju negeri Makkah itu.”

Lalu mereka berikan seorang penunjuk jalan bernama Abu Raghaal! Lantaran itu Abrahah pun melanjutkan perjalanan dengan Abu Raghaal sebagai penunjuk jalan, sampai mereka akhirnya istirahat di satu tempat bernama Mughammis, suatu tempat sudah dekat ke Makkah dalam perjalanan dari Thaif.

Sesampai di Mughammis itu tiba-tiba matilah Abu Raghaal si penunjuk jalan itu. Kubur Abu Raghaal itu ditandai oleh orang Arab, maka setiap yang lalu lintas di dekat situ melempari kubur itu.

Setelah Abrahah berhenti dengan tentaranya di Mughammis, diutusnya seorang utusan dari bangsa Habsyi ke negeri Makkah. Nama utusan itu Aswad bin Maqfud. Dia pergi dengan naik kuda.

Setelah dia sampai di wilayah Makkah dirampaslah (merampok) harta-benda penduduk Tihamah dari Quraisy dan Arab yang lain.
Termasuk 200 ekor unta kepunyaan Abdul Muthalib bin Hasyim, yang ketika itu menjadi orang yang dituakan dan disegani dalam kalangan Quraisy. Melihat perbuatan dan perampasan yang dilakukan oleh patroli Abrahah yang bernama Aswad bin Maqfud itu naik darahlah orang Quraisy, orang Kinanah dan Kabilah Huzail yang semuanya hidup disekeliling Makkah yang berpusat kepada Ka’bah, sehingga mereka pun telah menyatakan bersiap hendak berperang melawan Abrahah.

Tetapi setelah mereka musyawarahkan dengan seksama, mereka pun mendapat kesimpulan bahwa tidaklah seimbang kekuatan mereka hendak melawan dengan besarnya angkatan perang musuh. Sebab itu perang tidaklah dijadikan.

Lalu Abrahah mengirim lagi perutusannya di bawah pimpinan Hunathah Al-Himyariy ke Makkah, hendak mencari hubungan dengan pemuka-pemuka Makkah dan ketua-ketuanya.

Lalu utusan itu menyampaikan pesan Abrahah: “Kami datang ke mari bukanlah untuk memerangi kalian. Kedatangan kami hanyalah semata-mata hendak menghancurkan rumah (Ka’bah) ini. Kalau kalian tidak mencoba melawan kami, selamatlah nyawa dan darah kalian.”

Dan Abrahah berpesan pula: “Jika Kalian memang penduduk Makkah tidak hendak melawan kami, suruhlah salah seorang ketua Makkah datang menghadapnya ke Mughammis!”

Hunathah itu pun datanglah ke Makkah menyampaikan titah raja yang tegas itu. Setelah orang yang ditemuinya menyatakan bahwa pemimpin dan ketua mereka ialah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu datanglah dia menuju Abdul Muthalib dan menyampaikan titah raja yang tegas itu.

Mendengar pesan raja itu berkatalah Abdul Muthalib:

“Demi Allah tidaklah kami bermaksud hendak berperang dengan dia. Kekuatan kami tidak cukup untuk memeranginya. Rumah ini adalah Rumah Allah, Bait Allah Al-Haram, dan Rumah Khalil Allah Ibrahim. Kalau Allah hendak mempertahankan rumah-Nya dari diruntuhkan, itulah urusan Allah sendiri. Kalau dibiarkannya rumah-Nya diruntuh orang, apalah akan daya kami. Kami tak kuat mempertahankannya.”

Berkata Hunathah: “Kalau begitu tuan sendiri harus datang menghadap baginda. Saya diperintahkan mengiringkan Tuan.”

“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.

Maka beliau pun pergilah bersama Hunathah menghadap Raja. Beliau diiringkan oleh beberapa orang puteranya sehingga sampailah mereka ke tempat perhentian laskar itu. Lalu dinyatakannya keadaan Dzu Nafar yang tertawan itu, sebab dia adalah sahabat lamanya, sehingga dia pun diizinkan menemuinya dan masuk ke dalam tempat tahanannya.

Dia (Abdul Muthalib) bertanya kepada Dzu Nafar: “Hai Dzu Nafar! Adakah pendapat yang dapat engkau berikan kepadaku tentang kemusykilan yang aku hadapi ini?”

Dzu Nafar menjawab:
“Tidak ada pendapat yang dapat diberikan oleh seorang yang dalam tawanan raja, yang menunggu akan dibunuh saja, entah pagi entah petang. Tak ada nasihat yang dapat saya berikan. Cuma ada satu! Yaitu pawang gajah selalu menjaga gajah raja itu, Unais namanya. Dia adalah sahabatku. Saya akan mengirim berita kepadanya tentang hal-mu dan saya akan memesan bahwa engkau sahabatku supaya dia pun mengerti bahwa engkau ini orang penting.
Moga-moga dengan perantaraannya engkau dapat menghadap raja. Supaya engkau dapat menumpahkan perasaanmu di hadapannya, dan supaya Unais pun dapat memujikan engkau di hadapan baginda. Moga-moga dia sanggup.”

“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.

Lalu Dzu Nafar mengirim orang kepada Unais pengawal gajah raja. Kepada Unais itu Dzu Nafar memesankan siapa Adbul Muthalib. Bahwa dia adalah ketua orang Quraisy, yang punya sumur Zamzam yang terkenal itu, yang memberi makan orang yang terlantar di tanah rendah dan memberi makan binatang buas di puncak-puncak bukit.
Untanya 200 ekor dirampas hamba-hamba raja, dia mohon izin menghadap baginda, dan engkau usahakanlah supaya pertemuan itu berhasil.

“Saya sanggupi”, kata Unais. Maka Unais pun datanglah menghadap raja mempersembahkan darihal Abdul Muthali itu: “Daulat Tuanku, beliau adalah Ketua Quraisy.”

Dia telah berdiri di hadapan pintu Tuanku, ingin menghadap. Dialah yang menguasai Zamzam di Makkah.
Dialah yang memberi makanan manusia di tanah rendah dan memberi makanan binatang buas di puncak gunung-gunung.
Beri izinlah dia masuk, Tuanku.
Biarlah dia menyampaikan apa yang terasa di hatinya.”

“Suruhlah dia masuk”, titah Raja.

Abdul Muthalib adalah seorang yang rupawan, berwajah menarik dan berwibawa, besar dan jombang.

Baru saja dia masuk, ada sesuatu yang memaksa Abrahah berdiri menghormatinya dan menjemputnya ke pintuk khemah. Abrahah merasa tidaklah layak orang ini akan duduk di bawah dari kursinya.
Sebab itu baginda sendirilah yang turun dari kursi dan sama duduk di atas hamparan itu berdekatan dengan Abdul Muthalib.

Kemudian itu bertitahlah baginda kepada penterjemah: “Suruh katakanlah apa hajatnya!”

Abdul Muthalib menjawab dengan perantaraan penterjemah: “Maksud kedatanganku ialah memohonkan kepada raja agar unta kepunyaanku, 200 ekor banyaknya, yang dirampas oleh hamba sahaya baginda, dipulangkan kepadaku.”

Raja menjawab dengan perantaraan penterjemah:
“Katakan kepadanya: Mulai dia masuk aku terpesona melihat sikap dan rupanya, yang menunjukkan dia seorang besar dalam kaumnya. Tetapi setelah kini dia mengemukakan soal untanya 200 ekor yang dirampas oleh orang-orangku, dan dia tidak membicarakan sama-sekali, tidak ada reaksinya sama-sekali tentang rumah agamanya dan rumah agama nenek-moyangnya (Ka’bah) yang aku datang sengaja hendak meruntuhkannya, menjadi sangat kecil dia dalam pandanganku.”

Abdul Muthalib menjawab:
“Saya datang ke mari mengurus unta itu, karena yang punya unta itu ialah aku sendiri. Adapun soal rumah (Ka’bah) itu, memang sengaja tidak saya bicarakan. Sebab rumah (Ka’bah) itu ada pula yang punya, yaitu Allah. Itu adalah urusan Allah.”

Dengan sombong Abrahah menjawab:
“Allah itu sendiri tidak akan dapat menghambat maksudku!”

Abdul Muthalib menjawab:
“Itu terserah Tuan, aku datang ke mari hanya mengurus untaku.”

Akhirnya, Unta yang 200 ekor itu pun disuruh dikembalikan oleh Abrahah.
Abdul Muthalib pun segeralah kembali ke Makkah, memberitahukan kepada penduduk Makkah pertemuannya dengan Abrahah.
Lalu dia memberi nasihat supaya seluruh penduduk Makkah segera meninggalkan Makkah, mengelakkan diri (menghindar) ke puncak-puncak bukit disekeliling Makkah, agar jangan sampai terinjak oleh tentara bergajah yang akan datang mengamuk.

Setelah itu, dengan diiringi oleh beberapa pemuka Quraisy, Abdul Muthalib pergi ke pintu Ka’bah dipegangnya teguh-teguh gelang pada pintunya lalu mereka berdoa bersama-sama menyeru Allah, memohon pertolongan, dan agar Allah memberikan pembalasannya kepada Abrahah dan tentaranya. Sambil memegang gelang pintu Ka’bah itu dia bermohon:

Ya Tuhanku! Tidak ada yang aku harap selain Engkau! Ya Tuhanku! Tahanlah mereka dengan benteng Engkau! Sesungguhnya siapa yang memusuhi rumah ini adalah musuh Engkau. Mereka tidak akan dapat menaklukkan kekuatan Engkau.

Setelah selesai bermunajat kepada Tuhan dengan memegang gelang pintu Ka’bah itu, Abdul Muthalib bersama orang-orang yang mengiringkannya pun mengundurkan diri, lalu pergi ke lereng-lereng bukit, dan di sanalah mereka berkumpul menunggu apakah yang akan diperbuat Abrahah terhadap negeri Makkah bilamana dia masuk kelak.

Keesokan harinya bersiaplah Abrahah hendak memasuki Makkah dan dipersiapkanlah gajahnya.

Gajah itu diberinya nama Mahmud. Dan Abrahah pun telah bersiap-siap hendak pergi meruntuhkan Ka’bah, dan kalau sudah selesai pekerjaannya itu kelak dia bermaksud hendak segera pulang ke Yaman.

Dihadapkannya gajahnya itu menuju Makkah, mendekatlah seorang tawanan yang dijadikan penunjuk jalan, dari Kabilah Khats’am yang bernama Nufail bin Habib itu.
Dia dekati gajah tersebut, lalu dipegangnya telinga gajah itu dengan lemah-lembutnya dan dia berbisik:
“Kalau engkau hendak dihalau berjalan hendaklah engkau tengkurup saja, hai Mahmud! Lebih cerdik bila engkau pulang saja ke tempat engkau semula di negeri Yaman. Sebab engkau sekarang hendak dikerahkan ke Baladillah Al-Haram (Tanah Allah yang suci lagi bertuah).”

Selesai bisikannya itu dilepaskannyalah telinga gajah itu. Dan sejak mendengar bisikan itu gajah tersebut terus tengkurup, tidak mau berdiri. Nufail bin Habib pun pergilah berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu, menuju sebuah bukit.

Maka datanglah saat akan berangkat. Gajah disuruh berdiri tidak mau berdiri. Dipukul kepalanya dengan tongkat penghalau gajah yang agak runcing ujungnya, supaya dia segera berdiri.

Namun dia tetap duduk tak mau bergerak. Diambil pula tongkat lain, ditonjolkan ke dalam mulutnya supaya dia berdiri, namun dia tidak juga mau berdiri.
Lalu ditarik kendalinya dihadapkan ke negeri Yaman; dia pun segera berdiri, bahkan mulai berjalan kencang.
Lalu dihadapkan pula ke Syam. Dengan gembira dia pun berjalan cepat menuju Syam.
Lalu dihadapkan pula ke Timur, dia pun berjalan kencang.
Kemudian dihadapkan dia ke Makkah, dia pun duduk kembali, tidak mau bergerak.

Padahal Abrahah sudah siap berangkat, tentaranya pun sudah siap.

Dalam uraian Ibnu Hisyam dalam Siirahnya;
Nampaklah di udara beribu-ribu ekor burung terbang menuju mereka. Datangnya dari arah laut.

Burung itu membawa tiga butir batu; sebutir di mulutnya dan dua butir digenggamnya dengan kedua belah kakinya. Dengan serentak burung-burung itu menjatuhkan batu yang di bawanya itu ke atas diri tentara-tentara yang banyak itu. Siapa saja yang kena, terpekik kesakitan karena saking panasnya.
Berpekikan dan berlarianlah mereka, simpang siur tidak tentu arah, karena takut akan ditimpa batu kecil-kecil itu yang sangat panas membakar itu. Lebih banyak kena daripada yang tidak kena.

Semua menjadi kacau-balau dan ketakutan. Mana yang kena terkaparlah jatuh, dan orang yang tidak kena segera lari kembali ke Yaman. Mereka cari Nufail bin Habib untuk menunjuki jalan menuju Yaman, namun dia tidak mau lagi, malahan dia bersyair:

“Kemana akan lari, Allahlah yang mengejar, Asyram (Abrahah) yang kalah, bukan dia yang menang.”

Kucar-kacirlah mereka pulang. Satu demi satu orang yang kena lontaran batu itu jatuh. Dan yang agak tegap badannya masih melanjutkan pelarian menuju negerinya, namun di tengah jalan mereka berjatuhan juga.

Adapun Abrahah sendiri tidak terlepas dari lontaran batu itu namun masih sempat naik gajahnya menuju Yaman, di tengah jalan keadaannya bertambah parah. Terkelupas kulitnya, gugur dagingnya, sehingga sesampainya di negeri Yaman boleh dikatakan sudah seperti anak ayam menciap-ciap. Lalu mati dalam kehancuran.

Maka tahun itu dikenal dengan nama “Tahun Gajah”.

Menurut keterangan Nabi SAW sendiri dalam sebuah Hadis yang shahih, beliau dilahirkan dalam tahun gajah itu.
Demikianlah disebutkan oleh Al-Mawardi di dalam tafsirnya. Dan tersebut pula di dalam kitab I’lamun Nubuwwah, Nabi SAW dilahirkan 12 Rabiul Awwal, 50 hari saja sesudah kejadian bersejarah kehancuran tentara bergajah itu.

Setelah Nabi kita SAW berusia 40 tahun dan diangkat Allah menjadi Rasul SAW masih didapati dua orang peminta-minta di Makkah, keduanya buta matanya. Orang itu adalah sisa dari pengasuh-pengasuh gajah yang menyerang Makkah itu.

Usaha besar yang begitu sombong, seperti jawaban Abrahah kepada Abdul Muthalib, bahwa:
Allah sendiri tidak akan sanggup bertahan kalau dia datang menyerang. Segala maksudnya hendak menghancurkan itu sia-sia belaka, dan gagal belaka.

Tersebut dalam riwayat bahwa;
Abdul Muthalib yang tengah meninjau dari atas bukit-bukit Makkah tentang apa yang akan dilakukan oleh tentara bergajah itu melihat burung berduyun-duyun menuju tentara yang hendak menyerbu Makkah itu.
Kemudian hening tidak ada gerak apa-apa. Lalu diperintahnya anaknya yang paling bungsu, Abdullah (ayah Nabi kita Muhammad SAW) pergi melihat-lihat apa yang telah terjadi, ada apa dengan burung-burung itu dan ke mana perginya.

Maka dilakukanlah perintah ayahnya dan dia pergi melihat-lihat dengan mengendarai kudanya. Tidak beberapa lamanya dia pun kembali dengan memacu kencang kudanya dan menyingsingkan kainnya. Setelah dekat, dengan tidak sabar orang-orang bertanya: “Ada apa, Abdullah?”

Abdullah menjawab: “Hancur-lebur semua!” Lalu diceriterakannya apa yang dilihatnya, “Bangkai bergelimpangan dan ada yang masih menarik-narik nafas akan mati dan sisanya telah lari menuju negerinya.”

Maka berangkatlah Abdul Muthalib dengan pemuka-pemuka Quraisy itu menuju tempat tersebut, tidak berapa jauh dari dalam kota Makkah. Mereka dapati apa yang telah diceriterakan Abdullah bin Abdul Muthalib itu.

Tentara yang hancur itu meninggalkan kuda-kuda kendaraan, ataupun pakaian-pakaian perang yang mahal-mahal, alat senjata peperangan, pedangnya, perisainya dan tombaknya dan emas perak banyak sekali.
Maka sepakatlah kepala-kepala Quraisy itu memberikan kelebihan pembagian yang banyak untuk Abdul Muthalib, sebab dia dipandang sebagai pemimpin yang bijaksana.

Kemudian, 50 hari sesudah kejadian itu, Nabi Muhammad SAW pun lahir ke dunia. Ayahnya (Abdullah) dalam perjalanan ke Yatsrib, meninggal dunia sebelum puteranya lahir.

Al-Qurthubi menulis dalam tafsirnya:
“Hikayat tentara bergajah ini adalah satu mu’jizat dari Nabi kita, walaupun beliau waktu itu belum lahir”.
karena TIDAK ADA ORANG YANG AKAN DAPAT MELUPAKAN KEJADIAN INI dan nenek-kandungnya mengambil peranan penting pada kejadian ini.

Dari kisah diatas tergambar bahwa Abdul Muthalib menganut ajaran yang hanif sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Ibrahim. Begitu pula dengan Abdullah yang merupakan putra kesayangan dari Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikuti ajaran yang dianut oleh Ayahandanya yang merupakan pembesar Quraisy yang termasyur keseluruh penjuru. Apalagi Siti Aminah yang merupakan wanita shalihah dan istri dari Abdullah bin Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikut ajaran Nabi Ibrahim As.

Tidak pernah terdengar dalam berbagai kisah-kisah sejarah maupun hadist serta Al-Quran yang mengungkapkan bahwa Abdul Muthalib dan keluarganya menyembah berhala (Batu Pahatan) yg berada disekeliling Ka’bah seperti yang dilakukan oleh kabilah-kabilah lainnya.

As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’l Al Mashadir Al Ashliyah.

Meskipun pada waktu hegemoni paganisme di masyarakat Arab sedemikian kuat, tetapi masih ada beberapa orang yang dikenal sebagai Al Hanafiyun atau Al Hunafa’. Mereka tetap berada dalam agama yang hanif, menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Diantara mereka adalah :
Qiss bin Sa’idah Al lyaadi, Zaid bin ‘Amru bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Shalt, Abu Qais bin Abi Anas, Khalid bin Sinan, An Nabighah Adz Dzubyani, Zuhair bin Abi Salma, Ka’ab bin Luai bin Ghalib, Umair bin Haidab Al Juhani, ‘Adi bin Zaid Al ‘Ibadi, penyair Zuhair bin Abi Salma, Abdullah Al Qudhaa’i, Ubaid bin Al Abrash Al Asadi, Utsman bin Al Huwairits, Amru bin Abasah Al Sulami, Aktsam bin Shaifi bin Rabaah dan Abdul Muthalib kakek Rasulullah

BERDASARKAN KISAH DIATAS, TERJAWAB SUDAH FITNAH UMAT KRISTIANI YG MENGATAKAN ORANG TUA NABI BERADA DALAM NERAKA KARENA BELUM MEMELUK ISLAM TIDAK BERDASAR SAMA SEKALI, SEBAB NENEK MOYANG NABI MERUPAKAN KETURUNAN NABI IBRAHIM AS.

Tulisan ini, sunan tutup dengan ayat suci Al-Qur’an yaitu:

QS. 3 Ali Imran : 67-68.
“IBRAHIM BUKAN SEORANG YAHUDI DAN BUKAN (PULA) SEORANG NASRANI, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” SESUNGGUHNYA ORANG YANG PALING DEKAT KEPADA IBRAHIM IALAH ORANG-ORANG YANG MENGIKUTINYA DAN NABI INI (MUHAMMAD), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”.

Qs.2 Baqarah 136
“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “KAMI BERIMAN KEPADA ALLAH dan apa yang diturunkan kepada kami, dan APA YANG DITURUNKAN KEPADA IBRAHIM, ISMA’IL, ISHAQ, YA’QUB DAN ANAK CUCUNYA, DAN APA YANG DIBERIKAN KEPADA MUSA DAN ISA SERTA APA YANG DIBERIKAN KEPADA NABI-NABI DARI TUHANNYA. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah telah keluar hendak pergi meruntuh Ka’bah sangatlah mereka terkejut dan seluruh kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka’bah dari serbuan itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan Baitullah Al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia: “Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi tuan membiarkan saya tinggal hidup.” Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan tetaplah Dzu Nafar dibelenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.

27 Juni 2012

TANGISAN NABI MENGONCANG ARASH

oleh alifbraja

TANGISAN NABI MENGONCANG ARASH

“Dikisahkan, bahawasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya.

Orang itu lalu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku,
kerana aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:

“Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata:

“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan? ” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu. ‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:

“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya kerana tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahawa Allah tidak akan menghisab dirinya,
juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita tersebut. la lalu menangis kerana tidak berdaya menahan keharuan dirinya. “

%d blogger menyukai ini: