Posts tagged ‘Nabi’

8 Oktober 2012

DO’A PARA NABI DAN RASUL

oleh alifbraja
 

DOA PARA NABI: DOA PERTOBATAN, PENGAKUAN LEMAH DAN DZHOLIMNYA DIRI

Setidaknya ada empat alasan kenapa kita perlu berdoa.
(1). Doa sebagai sarana dzikir. Allah menyuruh kita berdoa agar kita ingat kepada-Nya. Dengan mengingat Allah, hati jadi tenang dan ini kunci menjalani hidup dengan benar, bijaksana dan bahagia. QS Ar Ra’d 28: orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.
(2). Sadar posisi kita sebagai ciptaan (hamba) dan Allah sebagai Pencipta. Memahami hakikat penghambaan, akan menjadikan kita rendah hati menjauhi sikap sombong, malas, dan menghindari bergantung kepada selain Allah.
(3). Doa adalah pernyataan keinginan dan diteruskan dengan ikhtiar agar tercapai. Maka doa yang benar harus yang disertai dengan ikhtiar yang paling maksimal. Itulah garis perjuangan manusia yang harus dilakukannya: beriman dan beramal saleh.
 
(4). Doa adalah energizer. Pada saat berdoa, maka muncul harapan, dan harapan akan melahirkan semangat.
 
Dalam kitab Al Quran, kita akan mendapatkan banyak contoh doa saat para Nabi bermunajah kepada Allah SWT, berikut contoh doa tersebut dan sangat bagus untuk kita amalkan.
 
@ Adam As @
“ ROBBANA DHOLAMNA ANFUSANA WAILAM TAGFIRLANA WATARHAMANA LANA KUNNANA MINAL KHOSIRIN “
Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.
 
ALLAAHUMMA INNAKA TA’LAMU SIRRII WA ‘ALAANIYYATII FAQBAL MA’DZIRATII
Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu apa yg saya rahasiakan dan tidak saya rahasiakan maka terimalah permintaan ampunan saya
 
WA TA’LAMU HAAJATII FAKTHINII SUKLII
dan Engkau tahu hajatku maka kabulkanlah permintaanku
 
WA TA’LAMU MAA FII NAFSII FAGHFIR LII DZUNUUBII
dan Engkau tahu apa yang ada dalam jiwaku maka ampunilah dosa-dosaku.
 
ALLAAHUMMA INNII AS’ALUKA IIMAANAN YUBASYIRU QALBII
Ya Allah, aku meminta kepadaMU iman yang menancap di kalbu
 
WA YAQIINAN SHAADIQAN
dan -aku minta kepadaMU- keyakinan yang sejati
 
HATTAA A’LAMU ANNAHUU LAA YUSHIIBUNII
hingga saya tahu bahwa tiada yang menimpa diriku
 
ILLAA MAA KATABTAHU ‘ALAYYA
kecuali apa yang telah Engkau takdirkan atasku
 
WARRIDHAA BIMAA QASAMTAHU LII
dan -aku minta kepadaMU- rela dengan apa yang telah Engkau bagikan
 
YAA DZAL JALAALI WAL IKRAM
wahai Dzat Yang Maha Agung dan Mulia
 
Doa ini biasa dipakai oleh jamaah haji yang sedang thawaf. KONON, Pada saat Nabi Adam hendak bertobat, sebelumnya beliau thawaf dulu 7 kali, lantas sholat 2 rokaat. Nabi Adam bertobat sambil memanjatkan doa ini.
 
@ Yunus As @
saat di dalam perut ikan paus :
 
LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MIN AL-DZAALIMIIN
Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim. Al-Anbiya’: 87
 
@ Nuh As @
“ ROBBI INNI AUDZUBIKA AN AS ALAKA MAA LAISALLI BIHI ILMUN WA ILLAM TAGFIRLI WATARHAMNI AKUM MINAL KHOSIRIN “ (surat Hud; 47)
Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang – orang yang merugi
 
@ Ibrahim As @
“ ROBBANA TAQOBAL MINNA INNAKA ANTA SAMI’UL ALIM WA TUB ALAINA INNAKA ANTAT TAWWABURROKHIM “ (al baqarah; 128-129)
Ya Tuhan kami terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau maha mendengar dan Mengetahui, dan termalah taubat kami, sesungguhnya Engkau penerima taubat lagi Maha Penyayang.
 
“ ROBBI JA ALNI MUQIMAS SHOLATI WA MIN DZURIYYATI, ROBBANA WA TAQOBAL DOA, ROBBANNAGH FIRLI WA LI WA LI DAYYA WA LI JAMIIL MUKMININA YAUMA YAQUMUL HISAB “ (ibrahim ; 40 -41)
Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab.
 
@ Zakariya As @
“ ROBBI LATADZARNI WA ANTA CHOIRUL WARISIN “ (an biya ; 89)
Ya Allah janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sesungguhnya engkau pemberi waris yang paling baik
 
“ ROBBI HABLI MILADUNKA DURIYATTAN, THOYIBATAN INNAKA SAMI’UD DU’A “ (ali imron;28)
Ya Tuhan berilah aku seorang anak yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau maha pendengar Doa
 
@ Musa As @
“ ROBIS SHROHLI SHODRI WA YA SHIRLI AMRI WAH LUL UQDATAM MIL LISSANI YAH KHOHU KHOULI “ (Thoha ; )
Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku
 
“ ROBBI INNI DHOLAMTU NAFSI FA FIRLHI “ (al qhosos ; 16)
Ya Allah aku menganiaya diri sendiri, ampunilah aku
 
“ ROBBI NAJ JINI MINAL QUMID DHOLIMIN “
Ya Tuhan lepaskanlah aku dari kaum yang dholim
 
“ ROBBI INI LIMA ANZALTA ILLAYYA MIN KHOIRIN FAQIR “ (al qhosos; 24)
Ya Tuhanku sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku
 
“ ROBBI FIRLI WA LI AKHI WA ADKHILNA FI ROHMATIKA, YA ARHAMAR ROKHIMIN “
Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau Maha Penyayang diantara yang menyayangi
 
@ Isa As @
“ ROBBANA ANZIL ALAINA MA IDATAM MINAS SAMAI TAQUNU LANA IDZAL LI AWALINA, WA AKHIRINA, WA AYYATAM MINKA WAR ZUKNA WA ANTA KHOIRU ROZIQIN “ ( al maidah ; 114)
Ya Tuhanku turunkanlah pada kami hidangan dari langit, yang turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang – orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rejeki dan Engkaulah pemberi rejeki yang paling baik.
 
@ Syuaib As @
“ ROBBANA TAF BAINANA, WA BAINA KAUMINA BIL HAQQI , WA ANTA KHOIRUL FATIHIN “ (A araf; 89)
Berilah keputusan diantara kami dan kaum kami dengan adil, Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik – baiknya.
 
@ Ayyub As @
“ ROBBI INNI MASYANIYAD DURRU WA ANTA ARHAMUR ROHIMIN “
Bahwasanya aku telah ditimpa bencana, Engkaulah Tuhan yang paling penyayang diantara penyayang.
 
@ Sulaiman As @
“ ROBBI AUZIDNI AN ASKHURO NI’MATAKALLATI AN AMTA ALLAYA WA ALA WA LI DAYYA WA AN A’MALA SHOLIKHAN TARDHOHU WA AD KHILNI BIRROHMATIKA FI IBADIKAS SHOLIKHIN “ (an naml; 19)
Ya Tuhan kami berilah aku ilham untuk selalu mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua ibu bapakku dan mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridloi, dan masukkanlah aku dengan rahmatMu kedalam golongan hamba-hambMu yang Sholeh.
 
@ Luth As @
“ ROBBI NAJ JINI WA AHLI MIMMA YA’MALUN “
Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan
 
“ ROBBIN SURNI ALAL KAUMIL MUFSIDIN “ (assyu araa ; 169)
Ya Tuhanku tolonglah aku dari kaum yang berbuat kerusakan
 
@ Yusuf As @
“ FATIROS SAMAWATI WAL ARDLI ANTA FIDDUNYA WAL AKHIRO TAWWAFFANI MUSLIMAN WA AL HIQNI BISSHOLIHIN “ (yusuf ; 101)
Wahai pencipta langit dan bumi Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan pasrah (islam), dan masukkanlah aku dengan orang – orang sholeh.
 
@ Muhammad SAW @
“ ROBBANA ATINA FIDDUNYA HASANAH WA FIL AKHIROTI HASSANAH WA QINA ADZA BANNAR “
Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka
 
“ ROBBANA LATUZIG QULLUBANA BA’DAIDZ HADDAITANA WAHABBLANA MILADUNKA, ROHMATAN INNAKA ANTAL WAHAB” (Ali Imron)
Ya Tuhanku janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan berilah kami rahmat, sesungguhnya Engkau adalah dzat yang banyak pemberiannya.
 
Doa lainnya ……………………………
 
Do’a Nabi IBRAHIM AS
AL BAQARAH (2): 126-129
Ash Shaaffaat (37): 100
Al Mumtahanah(60): 4-5
IBRAHIM (14): 35-41
MARYAM (19): 47
 
Do’a Nabi MUSA AS
Yunus (10): 88
THAA-HAA (20): 25-35
Al Qashash (28): 16
Al Qashash (28): 21-22
Al Qashash (28): 24
AL A’RAAF (7): 151
AL A’RAAF (7): 155
 
Do’a Nabi NUH AS
HUUD (11): 47
AL MU’MINUUN (23): 26
AL MU’MINUUN (23): 28-29
ASY SYU’ARAA’(26): 117-118
Al Qamar (54): 10
NUH (71): 26
 
Do’a Nabi YUSUF AS
YUSUF (12): 101
 
Do’a Nabi ZAKARIA
MARYAM (19): 3-6
ALANBIYAA’ (21) :89
ALI ‘IMRAN (3): 38
 
Do’a MARYAM, ibu dari Nabi Isa AS
MARYAM (19): 18
 
Do’a istri ‘IMRAN
ALI ‘IMRAN (3): 36
 
Do’a Nabi AYYUB AS
Al Anbiyaa’ (21): 83
Shaad (38): 41
 
@@@@

2 Oktober 2012

AS-SAWADU AL- A’DZAM

oleh alifbraja
As-Sawadul A’dzom adalah para Ulama yang sangat agung dan mulia, mereka adalah para Ulama Ummat Islam Mayoritas pengikut 4 Imam Madzhab Mu’tabaroh.Berikut ini adalah penjelasan tentang As Sawadu Al A’dzom, semoga bermanfaat untuk memperluas cakrawala pengetahuan anda di tengan gonjang-ganjing perpecahan Ummat Islam. Ingat pesan Nabi kita, jika terjadi perpecahan Ummat Islam ikutilah As Sawad Al A’dzom yaitu para Ulama yang diikuti oleh Mayoritas Ummat islam di seluruh dunia…..
 

AS-SAWAD AL-A’DZAM (السواد الأعظم): ULAMA AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH PANUTAN UMAT ISLAM SEDUNIA

oleh KH Thobary Syadzily
=================================================================
Di dalam kitab “Ar-Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah” karya Hadratusy Syeikh Hasyim, pendiri pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur dan sekaligus pendiri organisasi Nahdhatul Ulama (NU), halaman 14-15 menerangkan sebagai berikut:
Artinya:
=====
Apabila engkau mengetahui yang telah disebutkan di atas, maka yang benar adalah pendapat orang-orang salaf yang berpegang teguh pada garis-garis yang telah dijalani oleh ulama-ulama salaf shaleh. Karena, sesungguhnya, mereka adalah “As-Sawad Al-A’dzam” (golongan ulama yang agung). Mereka selalu berkesesuaian (sepakat) dengan ulama Haramain (ulama Mekkah dan Madinah) yang mulia dan ulama Al-Azhar yang menjadi panutan umat, teladan dan pengikut kebenaran. Selain itu, masih banyak ulama-ulama lain yang tidak bisa terhitung jumlahnya. Mereka tersebar di seluruh penjuru dunia, sebagaimana tidak bisa menghitung jumlahnya bintang di langit. Rasulullah SAW bersabda:

ان الله لا يجمع أمتي على ضلالة , و يد الله على الجماعة , من شد شد الى النار , رواه الترمذي , زاد ابن ماجه : فاذا وقع الاختلاف , فعليك بالسواد الأعظم , مع الحق و أهله , و فى الجامع الصغير , ان الله قد أحار أمتي أن تجتمع على ضلالة

ARTINYA:
======
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyesatkan umatku secara keseluruhan. Kekuasaan Allah berada pada Jama’ah (kelompok). Barangsiapa yang keluar (berpisah dari jama’ah), maka ia akan terjerumus ke dalam api neraka. Imam Ibnu Majah menambahkan: “Jika terjadi perbedaan (di antara kalian), maka hendaklah kalian berpegang tegung pada “As-Sawad Al-Adhzam” (ulama yang agung), beserta yang benar (hak) dan yang ahlinya. Dan dalam kitab “Al-Jami’us Shagir” diterangkan bahwa Allah telah menyelamatkan umatku dari kesesatan yang dilakukan secara sepakat oleh jama’ah”.
Mayoritas ulama yang agung tersebut adalah para ulama pengikut madzhab yang empat, termasuk Imam Bukhari (ahli hadits) adalah pengikut madzhab Syafi’i. Ia mempelajarinya dari Imam Humaidi, Za’faroni, dan Karabisi. Begitupula, Imam Khuzaimah, dan Imam Nasa’i. Imam Junaidi adalah pengikut Imam Ats-Tsauri. Imam Syubuli adalah pengikut madzhab Maliki. Mengikuti madzhab yang jelas hakekatnya adalah memperkokoh, lebih mendekatkan kepada pengetahuan, dan lebih mendorong kepada kebenaran, serta lebih mudah mendapatkannya. Melalui jalan inilah dalam rangka melaksanakan sikap dan perilaku para ulama salaf shaleh serta para guru terdahulu. Semoga Allah meridoi mereka !
Khususnya kami mengajak kepada saudara-saudara kami muslim yang awam, agar mereka benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT, dan tidak mati kecuali dalam keadaan muslim, juga agar mendamaikan permusuhan, melakukan silaturrahmi, menjaga hubungan baik dengan tetangga, kerabat dan teman, dan mengetahui hak-hak kedua orangtua, menyayangi orang-orang lemah dan rakyat kecil,menjauhkan perilaku saling angkuh dan saling bermusuhan, memutuskan silaturrahmi, iri hati, memecah belah dan berbeda-beda dalam agama. Kami menghimbau agar mereka selalu bersaudara, saling tolong menolong dalam kebaikan, berpegang teguh pada hukum Allah, bersatu, mengikuti Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta selalu mengikuti perilaku para ulama, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah meridhoi mereka !
Mayoritas umat Islam sepakat bahwa keluar dari madzhab adalah sesuatu yang terlarang. Umat Islam hendaknya berpaling (menentang) kepada jama’ah (organisasi) yang berbeda dengan para ulama salaf shaleh. Rasulullah SAW bersabda:

و انا امركم بخمس امر نى الله بهن : السمع و الطاعة و الجهاد و الهجرة و الجماعة , فان من فارق الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الاسلام عن عنقه , و قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : عليكم بالجماعة , و اياكم و الفرقة , فان الشيطان مع الواحد , و هو مع الاثنين أحد , من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة

ARTINYA:
======
“Aku perintahkan kepada kalian lima perkara sebagaimana Allah perintahkan kepadaku, yaitu: mendengar,mentaati, berjihad, hijrah, dan tetap berada dalam jama’ah (organisasi). Sesungguhnya, orang yang melepaskan diri dari jama’ah sejengkal saja, maka ia telah melepaskan tali Islam dari lehernya”. Dan Umar bin Al-Khattob berkata: ” Tetaplah kalian berada dalam jama’ah ! Dan janganlah kalian berpecah belah ! Karena, setan selalu berada pada orang yang sendirian, dan setan akan lari bilamana dua orang sepakat / bersama. Barangsiapa ingin hidup enak di dalam surga, maka hendaklah selalu berada dalam jama’ah !”
25 September 2012

Ilmu

oleh alifbraja

 

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Rosulullah Saw bersabda : “Diwajibkan bagimu menuntut Ilmu baik Laki-laki maupun Perempuan”.

Ilmu tiang agama. banyak org yg tahu tamsil ini. Namun hanya asal mengamini saja tanpa pemahaman yg tepat.
Agama adalah sebuah “hipotesis” ke-Maha-an Tuhan. Sedangkan ilmu pengetahuan menjadi sarana verifikasi akan ke-Maha-an Tuhan.

Qodrat adalah rumus yg di kehendak Tuhan. Rumus itu meliputi segala ruang waktu di jagad raya, maupun di alam awang uwung, langit 1-7. Yg jabariah-ahadiyah. Tiada celah sedikitpun yg luput dari kekuasaan rumus Tuhan. Amal baik habuminannas dan habluminallah adalah upaya manusia (makhluk) menetapkan diri agar sesuai dengan rumus Illahiah. Tuhan Mahaluas Tak Terbatas. Kebesaran dan Ketidakterbatasan Tuhan dibuktikan antara lain dengan; masing2 suku, bangsa,ras dapat menemukan rumus-rumus Tuhan tersebut. Baik yang bersifat fisik maupun metafisik.
Contohnya;
1. siapa menanam mengetam (sapa nandur ngunduh) ; tanaman keburukan akan berbuah keburukan.tanaman kebaikan akan berbuah kebaikan pula.
2. rumus-rumus matematika dan rumus fisika Einstein E = mc2 merupakan keberhasilan manusia mengungkap RUMUS BESAR Tuhan yg sebelumnya masih rahasia.
3. Hukum Grafitasi, logaritma, aritmetika, aljabar.
Dan masih banyak lagi bahkan trilyunan pun tak cukup untuk menghitung rumus Tuhan yg tak terbaas.

Hasil penemuan manusia akan rumus-rumus Tuhan selanjutnya tercptalah berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Filsafat Fisika, kimia, biologi, matematik, elektronika, ekonomi, psikologi, sosiologi dan seterusnya. Semua mencakup satu rangkaian rumus besar yang disebut HUKUM sebab-akibat.

Semua itu merupakan hasil pembuktian manusia akan QODRAT (rumus) Tuhan. Sekarang….sudah sejauh manakah kita masing2 membuktikannya. Itu baru pada dimensi fana. bagaimana dengan rumus kegaiban dan yang baqa azali abadi..? seangkan untuk merambah ke arah ruang ke gaiban saja kita sering ditakut-takuti akan sesat, gila dsb. oleh sebab itu sangat sedikit org2 yg belajar tasawuf, ruang mistis dlm Islam. Lantas dengan cara apa kita dapat menggapai kezuhudan, menjadi org kamil mukamil yg menggapai sajaratul makrifat, dan mujahid sejati dgn mencapai wushul ? Sementara umat disibukkan oleh konflik pada tataran kulitnya. Sehingga lupa bahwa tugas manusia adalah berjalan dari tataran syariat, tarekat, hakekat, agar mendapatkan anugrah makrifatullah. kesempurnaan anugrah di dalam ruang makrifat adalah wushul; “manunggaling kawula-Gusti”. Selanjutnya kita akan mengalir ke dalam rumus2 Illahiah yakni dalam kesempurnaan Qodratullah.

Keutamaan Ilmu di ibaratkan Nabi adalah laksana Bulan Purnama. Sebagaimana yang pernah di sabdakan oleh Beliau : “Bahwa perbedaan orang Alim (Berilmu) dengan orang Abid (Ahli Ibadah semata) adalah laksana Bulan Purnama dengan Bintang.

Tentu jika kita menyimak dari kedua hal tsb diatas, bahwa seseorang sampai diwajibkan menuntut Ilmu itu dikarenakan Keutamaan Ilmu itulah yang akan menjadi jembatannya untuk menuju kepada Allah Swt.

Tanpa Ilmu bagaimana mungkin seseorang sempurna dalam amal ibadahnya, Bagaimana sempurna Wudhunya, Sholatnya, Puasanya dsb.

Orang yang beribadah semata tanpa mengetahui ilmunya maka sama halnya dengan anak kecil yang lagi ibadah, tidak mengerti siapa yang ditujunya dan untuk apa ia beribadah.

Dan sebaik-baik Ilmu itu ialah ilmu tentang Ma’rifatullah atau Mengenal kepada Allah. Dikatakan bahwasannya : “Awaluddin Ma’rifatullah” (Awal seseorang itu beragama ialah mengenal akan Allah). Jika demikian apabila seseorang beribadah, beramal tetapi tidak mengetahui atau mengenal akan Allah Swt maka mereka itu belumlah dikatakan Beragama walaupun dari sisi Jahirnya ia termasuk Islam.

Islam itu ada dua macam :

  1. Islam Indallah yaitu : Mereka yang Masuk di dalam Islam benar-benar mengerti akan Allah dengan didasari Ma’rifatullah, sehingga mereka dikatakan Islam di sisi Allah.
  2. Islam Indannas yaitu : Mereka yang semenjak terlahir kedunia ini memang sudah di dalam keadaan beragama Islam dikarenakan Nenek Moyangnya, Datuknya, Kai Neneknya, Mama Bapaknya semua Islam sehingga iapun lahirlah dalam keadaan Islam. Padahal tidak mengerti dan mengenal akan Allah Swt. Mereka ini dikatakan Islam di sisi Manusia (Islam Keturunan).

Dari kedua hal tersebut diatas memberikan masukan kepada kita dimanakah posisi kita saat ini? Sudahkah kita termasuk Islam Indallah? Atau apakah Saya hanya Islam Indannas, Islam keturunan, Islam KTP, Islam sebutan Manusia? tapi kenyataannya Jauh sekali dengan Allah karena tidak kenal dengan Allah Swt.

Oleh karena itu untuk mencapai di dalam maksud tujuan yaitu Allah Swt, perlulah adanya bekal Ilmu sebagai sarana untuk menuju kesana.

Ilmu Ma’rifat dan Tauhid adalah Ilmu yang Utama sebagaimana Rosulullah Saw dan Para Nabi semuanya pertama yang diajarkan Adalah Ilmu tentang Tauhid. Sebab Tauhid itulah yang akan mensucikan Amal perbuatan pabila ada perbuatan yang mengandung Syirik dan Khurafat.

Tetapi kenyataannya saat ini seolah-olah terbalik! Ilmu Syari’at/Fiqih itu yang diutamakan sedangkan Ilmu Tauhid dan Ma’rifat boleh dituntut jika sudah berumur 40 tahun. Lalu bagaimana dengan mereka yang umurnya tidak sampai umur 40 tahun sudah MATI belum bisa mentauhidkan Allah karena tidak mengetahui Ilmunya? 

Orang Islam yang tidak bisa mentauhidkan Allah Swt maka Luarnya (jahirnya) saja yang Islam tetapi Batinnya belumlah dikatakan Islam.

Karena itu Tuntutlah Ilmu Tauhid itu jika bisa mulai di waktu buaian sampai ke liang lahat, 

 

18 September 2012

Takbir Muthlaq Dan Muqayyad Pada Bulan Dzulhijjah

oleh alifbraja

Takbir Muthlaq (Tidak Terikat) dan Takbir Muqayyad (Terikat) Pada Bulan Dzulhijjah Di antara ibadah yang disyari’atkan dan dianjurkan untuk diperbanyak memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah Takbir. Ibadah ini masih terus berlanjut hingga selesainya hari-hari Tasyriq. Ada dua jenis takbir yang disyariatkan pada hari-hari tersebut, yang disebut dengan Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad. Bagaimana itu? Takbir Muthlaq (Tidak Terikat) dan Takbir Muqayyad (Terikat)

Pada Bulan Dzulhijjah

Di antara ibadah yang disyari’atkan dan dianjurkan untuk diperbanyak memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah Takbir. Ibadah ini masih terus berlanjut hingga selesainya hari-hari Tasyriq. Ada dua jenis takbir yang disyariatkan pada hari-hari tersebut, yang disebut dengan Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad. Bagaimana itu? Untuk mendapatkan keterangan yang jelas berdasarkan bimbingan ilmu yang benar, kami turunkan secara berseri keterangan para ‘ulama besar dalam masalah ini. Keterangan Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` (Komisi Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) [1]

Pertanyaan : Bagaimana pendapat anda tentang Takbir Muthlaq pada ‘Idul Adh-ha saja? Apakah terus berlanjut hingga akhir hari ke-13 Dzulhijjah ataukah tidak? Apakah ada perbedaan antara orang yang sedang berhaji dengan yang tidak sedang berhaji? Jawab : Takbir Mutlaq terus berlanjut hingga penghujung hari terakhir hari-hari tasyriq (yakni akhir tanggal 13 Dzulhijjah). Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara orang yang sedang menunaikan ibadah haji dengan yang tidak. Berdasarkan firman Allah :

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (Al-Hajj : 28)

dan firman Allah Ta’ala :

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

Dan sebutlah nama Allah pada hari-hari yang tertentu. (Al-Baqarah : 203)

hari-hari yang telah ditentukan adalah 10 hari pertama Dzulhijjah. Sedangkan hari-hari yang tertentu adalah hari-hari Tasyriq. Hal ini dikatakan oleh shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana disebutkan oleh Al-Bukhari dari beliau. Al-Bukhari juga berkata, “Dulu shahabat Ibnu ‘Umar dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum keluar ke pasar pada 10 hari pertama Dzulhijjah seraya bertakbir, dan umat manusia pun bertakbir karena takbir beliau berdua. ”

Dan dalam Shahih Al-Bukhari secara mu’allaq, “Bahwa dulu Ibnu ‘Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, (juga) setiap selesai shalat wajib, ketika berada di atas pembaringannya, ketika berada di tendanya, ketika duduk, maupun ketika berjalan, pada seluruh hari-hari tersebut. ”

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Fatwa no. 1185 Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayyan Anggota : ‘Abdullah bin Mani’

* * *

Pertanyaan : Saya mendengar sebagian orang bertakbir pada hari-hari Tasyriq, mereka bertakbir setiap selesai shalat hingga waktu ‘Ashr Tasyriq hari ke-3 (yakni tanggal 13 Dzulhijjah). Apakah itu benar atau tidak? Jawab : Disyari’atkan pada hari Raya ‘Idul Adh-ha Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad. Adapun Takbir Muthlaq dilakukan pada semua waktu (setiap saat) sejak masuknya bulan Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq. Adapun Takbir Muqayyad, dilakukan setiap selesai shalat fardhu, dimulai sejak shalat shubuh hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat ‘Ashr hari Tasyriq yang terakhir.

Disyari’atkannya takbir tersebut telah ditunjukkan oleh ijma’ dan perbuatan para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Fatwa no. 10. 777 Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayyan

[1] Adalah sebuah lembaga di Kerajaan Saudi ‘Arabia yang mengemban amanah melakukan riset ilmiah dan fatwa-fatwa berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah berdasarkan manhaj para salafush shalih. Duduk di majelis yang mulia ini adalah para ‘ulama besar Ahlus Sunnah, yang memiliki kapasitas keilmuan, ketaqwaan, dan keshalihan yang diterima dan dipercaya oleh umat. Antara lain, Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah (beliau ketika itu sebagai ketua), Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh (beliau sebagai ketua sekarang), Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan, dan masih sangat banyak lagi. Komisi Tetap ini telah banyak fatwa-fatwanya dalam menjawab berbagai problem kentemporer dari berbagai belahan dunia. Fatwa-fatwa mereka sangat dicari dan dibutuhkan oleh umat, karena bobot dan kualitas ilmiah yang sangat tinggi, di samping bobot dan kualitas para ‘ulama yang duduk padanya. Ciri khas yang sangat menonjol adalah komitmen yang tinggi terhadap dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan manhaj para salafush shalih dari kalangan para shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta para ‘ulama Ahlus sunnah setelahnya. Tidak ada keterikatan – apalagi fanatik – terhadap madzhab tertentu. Hal-hal tersebut di antara yang membuat majelis ini tidak lagi hanya milik Kerajaan Saudi ‘Arabia saja, tapi seakan menjadi milik dunia Islam international. Untuk mengetahui lebih jauh tentang komisi fatwa ini silakan kunjungi www. alifta. com

(Sumber www. assalafy. org/mahad/?p=400#more-400)

Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah Kepada Fadhilatusy Syaikh Al-Mukarram ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz hafizhahullah setelah penghormatan dan pemuliaan :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah senantiasa menjaga kami dan anda di atas nikmat Islam. Diiringi dengan pertanyaan tentang kondisi kesehatan anda … semoga Allah tetap menjaga anda terus berada di atas ketaatan kepada-Nya. Kami memohon fatwa tentang Takbir Muthlaq pada hari Raya ‘Idul ‘Adh-ha. Apakah takbir setiap selesai shalat lima waktu termasuk Takbir Muthlaq ataukah tidak? Apakah itu sunnah, mustahab (dianjurkan), ataukah bid’ah? Karena telah terjadi banyak perdebatan dalam masalah ini.

* * *

Dari ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz kepada Saudara yang Mulia M-‘A-M waffaqahullah – amin

سلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Surat anda tertanggal 24/2/1387 H telah sampai, washshalakumullah bihudahu, isi kandungannya berupa pertanyaan adalah telah diketahui. Jawaban atas pertanyaan anda adalah sebagai berikut :

الحمد لله وصلى الله وسلم على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه Takbir pada ‘Idul ‘Adh-ha merupakan ibadah yang disyariatkan sejak awal bulan sampai akhir hari ke-13 bulan Dzulhijjah. Berdasarkan firman Allah :

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (Al-Hajj : 28)

yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah

dan firman Allah Ta’ala :

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

Dan sebutlah nama Allah pada hari-hari yang tertentu. (Al-Baqarah : 203)

Yaitu hari-hari Tasyriq. Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله عز وجل »

Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk menikmati makan dan minum, serta hari-hari untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya. Al-Bukhari menyebutkan dalam kitab Shahih-nya secara mu’allaq dari shahabat Ibnu ‘Umar dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum,

« أنهما كانا يخرجان إلى السوق أيام العشر فيكبران ويكبر الناس بتكبيرهما »

“Bahwa keduanya dulu keluar ke pasar pada 10 hari pertama (Dzulhijjah) dan bertakbir. Maka umat pun bertakbir dengan takbir kedua shahabat tersebut. ”

Dulu ‘Umar bin Al-Khaththab dan anaknya, ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bertakbir di hari-hari Mina di masjid maupun di kemah, keduanya mengeraskan suaranya sehingga Mina bergetar dengan takbir.

Diriwayatkan juga dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejumlah shahabat radhiyallahu ‘anhum takbir setiap selesai shalat lima waktu mulai sejak shalat Shubuh hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat ‘Ashr hari ke-13 bulan Dzulhijjah. Ini berlaku bagi orang yang tidak sedang berhaji. Adapun orang yang sedang berhaji maka dalam kondisi ihramnya dia menyibukkan diri dengan mengucapkan talbiyah sampai melempar jumrah ‘aqabah pada hari Nahr (hari ke-10 Dzulhijjah). Adapun setelah itu, dia menyibukkan diri dengan takbir. Ia bertakbir pada lemparan pertama ketika melempar jumrah. Jika bertakbir sambir bertalbiyah maka tidak mengapa. Berdasarkan perkataan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

« كان يلبي الملبي يوم عرفة فلا ينكر عليه، ويكبر المكبر فلا ينكر عليه »

“Dulu seorang bertalbiyah pada hari ‘Arafah, tidak ada yang mengingkarinya. Dan seorang bertakbir, tidak ada yang mengingkarinya. ” (HR. Al-Bukhari 970)

Namun yang afdhal (utama) bagi seorang yang berihram adalah mengucapkan talbiyah. Adapun bagi seorang yang tidak berihram yang afdhal adalah bertakbir pada hari-hari tersebut.

Dengan demikian, kita tahu bahwa Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad – menurut pendapat ‘ulama yang paling benar – bertemu pada lima hari, yaitu : Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), Hari Nahr (10 Dzulhijjah), dan hari-hari Tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah). Adapun hari ke-8 dan sebelumnya hingga awal bulan, takbir padanya adalah Takbir Muthlaq, tidak ada muqayyad padanya berdasarkan ayat-ayat dan riwayat-riwayat di atas.

Dalam kitab Musnad, dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

« ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد » Tidak ada hari yang lebih mulia di sisi Allah dan tidak ada amalan yang lebih dicintai oleh-Nya pada hari-hari tersebut, dibanding 10 hari pertama (Dzulhijjah) tersebut. Maka perbanyaklah padanya tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)

* * *

Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

1. Takbir Muthlaq terdapat pada dua tempat :

Pertama : Malam ‘Idul Fithri, sejak terbenam Matahari sampai selesainya shalat ‘Id Kedua : 10 Dzulhijjah, sejak masuk bulan Dzulhijjah sampai waktu fajar Hari ‘Arafah, dan pendapat yang benar masih terus berlanjut hingga hari terakhir hari-hari Tasyriq (yakni hari ke-13). [1]

2. Takbir Muqayyad sejak selesai shalat ‘Idul Adh-ha sampai waktu ‘Ashr hari Tasyriq yang terakhir (hari ke-13)

3. Takbir Gabungan, antara Muthlaq dan Muqayyad, sejak terbit fajar (waktu Shubuh) hari ‘Arafah sampai selesai shalat ‘Idul Adh-ha, dan pendapat yang benar terus berlanjut sampai terbenam Matahari hari Tasyriq paling terakhir. [2]

Perbedaan antara Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad (terikat) : Takbir Muthlaq disyari’atkan setiap waktu tidak hanya setiap selesai shalat fardhu. Jadi pensyari’atannya bersifat mutlak, oleh karena itu dinamakan Takbir Muthlaq. Adapun Takbir Muqayyad, disyari’atkan hanya setiap selesai shalat fardhu, (dengan catatan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama tentang jenis shalat yang disyari’atkan setelahnya takbir). Jadi pensyari’atannya terikat dengan shalat, oleh karena itu dinamakan dengan Takbir Muqayyad (terikat). Wallahu a’lam,

[1] Yakni terdapat perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama tentang batas akhir Takbir Muthlaq. Sebagian ‘ulama menyatakan berakhir sampai waktu fajar hari ‘Arafah. Sebagian yang lain berpendapat masih terus berlanjut, baru berakhir pada akhir hari ke-13. Pendapat kedua inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah. (pent)

[2] Yakni terdapat perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama tentang batas akhir Takbir Gabungan antara Muthlaq dan Muqayyad. Sebagian ‘ulama menyatakan berakhir sampai selesainya shalat ‘Idul Adh-ha. Sebagian yang lain berpendapat masih terus berlanjut, baru berakhir pada akhir hari ke-13. Pendapat kedua inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah.

14 September 2012

Perkembangan Tasawuf di Masa Awal.

oleh alifbraja

Al-Kindi (m. abad kesepuluh) merujuk pada kemunculan suatu komunitas kecil di Alexandria, Mesir, pada abad kesembilan yang menyeru manusia kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Mereka disebut sufi. Menurut Muruj adz-Dzahab karya al-Mas’udi, kaum sufi mula-mula muncul di zaman Khalifah Abbasiah, al-Ma’mun. Menurut Abul Qasim Qusyairi, kaum sufi muncul di abad kesembilan, sekitar dua ratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Lantas timbul pertanyaan, mengapa perlu waktu bertahun-tahun untuk sungguh-sungguh tertarik dengan ilmu kebatinan? Sekilas melongok ke sejarah masa awal Islam mungkin dapat memberikan keterangan tentang masalah ini.

Mari kita tengok tanah Arab pada awal abad ke tujuh. Yang kita dapati adalah sebuah masyarakat dari berbagai suku yang terpecah belah yang selama berabad- abad telah terlibat dalam tradisi peperangan, penyembahan berhala dan nilai-nilai kesukuan lainnya. Walaupun orang Arab masa itu melakukan perdagangan di luar Tanah Arab, namun pengaruh budaya lain pada mereka sangat sedikit. Empiriurn Bizantiurn dan penjarahan Nebuchadnezar ke Arabia sebenarnya hanya berdampak sedikit pada mereka. Maka kita dapati suatu kaum yang telah menjalani cara hidup mengembara selama berabad-abad dengan sedikit perubahan. Mendadak, suatu “cahaya kenabian” yang menakjubkan terwujud di hadapan mereka. Cahaya ini mulai dengan jelas mengenali dan menghancurkan berbagai kekejaman dan ketidakadilan dalam masyarakat mereka.

Orang menakjubkan yang membawa cahaya baru pengetahuan ini ialah Nabi Muhammad saw. Selama 23 tahun, Nabi Muhammad saw menyanyikan kebenaran abadi bahwa manusia dilahirkan ke dunia ini untuk mempelajari jalan-jalan penciptaan seraya melakukan perjalanan kembali ke asalnya, Pencipta Yang Esa. Karena, meskipun hakikatnya manusia itu bebas, ia diikat dan dibatasi oleh hukum-hukum lahiriah yang mengatur kehidupan.

Muhammad menyerukan kebenaran abadi yang telah diserukan oleh ribuan utusan Ilahi sebelurnnya. Beliau menyerukannya dalam bahasa yang digunakan pada zaman itu di negerinya, suatu bahasa yang merupakan prestasi budaya pa1ing tinggi dan suatu rahmat bagi kaum tersebut. Orang Arab tidak mempunyai warisan artistik selain bahasanya. Nabi menjelaskan kebenaran abadi itu kepada kaum yang telah tenggelam dalam gelapnya kejahilan yang kejam selama berabad-abad. Setelah usaha bertahun-tahun, beliau berhasil menghimpun segelintir pendukung, yang kebanyakan pernah dianiaya dan terpaksa melarikan diri ke Etiopia untuk mencari perlindungan pada penguasa Kristen yang baik bernama Negus. Setelah hijrah dari Mekah ke Madinah pada tahun 632, Nabi Muhammad saw membangun sebuah komunitas baru yang terdiri dari orang-orang dari berbagai bagian Tanah Arab, namun kebanyakan dari Mekah dan Madinah. Kiblat komunitas ini dalam menyembah Allah adalah Ka’bah, sebuah bangunan berbentuk kubus terbuat dari batu yang semula didirikan oleh Nabi Ibrahim as di Mekah, tetapi kiblat perilaku sehari-harinya adalah Nabi yang diberkati itu sendiri. Mereka mengikuti beliau, ajarannya dan keterangan beliau mengenai perintah-perintah Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya, yang secara batin berkiblat kepada Penciptanya. Mereka menyembah Allah dan mengikuti Nabi yang hidup dengan cinta dan pengetahuan tentang Allah (makrifat).

Dalam sepuluh tahun terakhir kehidupan Nabi, dan terutama selama tiga tahun terakhir, berbagai peristiwa mulai berlangsung dengan cepat. Selama periode ini, ribuan orang Badui yang cenderung pergi ke tempat berlangsungnya kekuasaan dan kemenangan, melihat Islam semakin mendominasi tanah mereka, maka mereka semua masuk Islam dalam jumlah ribuan. Ketika Nabi Muhammad saw wafat, komunitas Muslim yang baru muncul itu mengalami goncangan hebat. Akibatnya, berlangsunglah pemilihan yang terburu-buru dan tegang atas Abu Bakar sebagai pemimpin pertama komunitas tersebut. Nabi Muhammad saw telah menyatakan dalam banyak kesempatan, kepada siapa kaum Muslim harus merujuk tentang berbagai hal mengenai jalan Islam sepeninggal beliau. Seperti seorang dokter yang bertanggung jawab, ketika hendak cuti atau pensiun, memberitahu para pasiennya kepada siapa mereka harus merujuk bila ia tidak ada. Seorang dokter lebih mengetahui kondisi pasiennya ketimbang yang lain. Sangat wajar bagi seorang pemimpin rohani seperti Nabi Muhammad saw untuk menunjuk siapa yang paling pantas mengurusi umat setelah wafatnya, sesuai dengan hukum Ilahi yang telah diwahyukan kepada beliau. Namun timbul ketidaksepakatan mengenai apakah Nabi telah menunjuk Imam ‘Ali secara khusus sebagai pengganti beliau, ataukah beliau hanya sekedar menyebutkannya sebagai yang terbesar di antara umat dalam pengetahuan dan kebajikan. Akibatnya, sebelum Nabi dimakamkan, orang Arab mulai melobi untuk mendapatkan kekuasaan. Kaum Anshar (penduduk Madinah) ingin memilih salah seorang di antara mereka sendiri sebagai pemimpinnya. Pada saat-saat terakhir, dua dari sahabat terdekat Nabi, Abu Bakar dan ‘Umar, berhasil menyatukan diri dan dengan dukungan ‘Umar, Abu Bakar terpilih sebagai pemimpin umat, sebagai orang yang dihormati karena berusia lebih tua dan diakui sebagai sahabat Nabi yang tulus.

Kepemimpinan Abu Bakar berlangsung selama dua tahun, suatu periode yang penuh dengan perselisihan internal. Jiwa orang Arab tak suka ditundukkan dengan cara apa pun, karena mental meieka bersemangat bebas. Metode penundukkan yang lazim ialah menetapkan kewajiban membayar uang pajak kepada orang lain. Pembayaran zakat, yang dipaksakan Abu Bakar kepada orang-orang yang menolak menunaikannya, ditafsirkan oleh sebagian orang sebagai bentuk penundukan yang tidak mau mereka ikuti. Jadi sebagian besar suku yang baru saja memasuki gerakan Islam tiba-tiba mendapatkan bahwa mereka harus membayar penuh, dan benar-benar menyerahkan, sesuatu, bukannya mendapatkan keuntungan dari barang rampasan. Inilah penyebab perpecahan dalam komunitas Islam yang sedang berkembang dengan pesat tersebut. Selain itu, ada pula pendusta-pendusta yang mengaku sebagai nabi. Jadi, masa kepemimpinan Abu Bakar sebagian besar digunakan untuk menekan gejolak internal.

Setelah wafatnya Abu Bakar di tahun 634, ‘Umar yang telah ditunjuk oleh Abu Bakar sebagai wakilnya menjadi pemimpin umat Islam berikutnya. Dalam masa sepuluh tahun kepemimpinannya tetjadi ekspansi besar Islam. Mesir, Persia dan Empirium Bizantium ditaklukkan, termasuk Yerusalem, yang kuncinya malah diberikan secara pribadi oleh orang Kristen kepada ‘Umar. ‘Umar merupakan teladan kesederhanaan dan hidupnya sangat sederhana. Ia dibunuh oleh seorang budak Persia selagi salat di mesjid tahun 644.

Pemimpin berikutnya, ‘Utsman, diangkat oleh sekelompok orang yang telah ditunjuk oleh ‘Umar untuk memilih penggantinya, ia berasal dari klan Bani Umayyah, yang sebagian anggotanya adalah musuh utama Nabi Muhammad saw. Banyak orang Bani Umayyah memeluk Islam hanya setelah penaklukan Mekah oleh Nabi dan pengikutnya, ketika mereka merasa tak ada pilihan lain selain masuk Islam. Mereka menerima Islam dengan enggan, dan kebanyakan terus hidup menurut kebiasaannya di masa jahiliah. ‘Utsman sendiri tidak banyak mempedulikan urusan duniawi, tetapi mengizinkan banyak anggota klannya untuk hidup semau mereka. Ia menempatkan banyak anggota klan Umayyah pada posisi kunci pemerintahan di wilayah-wilayah yang baru dikuasi kaum Muslim, sehingga ada orang-orang yang menuduhnya melakukan nepotisme. Dalam enam tahun pertama pemerintahannya, ekspansi wilayah oleh kaum Muslim berlanjut terus, begitu juga konsolidasi daerah-daerah yang telah ditaklukkan. Namun, ternyata aksi tersebut lebih merupakan awal dari suatu pemutaran kembali ke pemerintahan orang-orang serakah, ketimbang suatu kelanjutan dari pemerintahan orang-orang berpengetahuan spiritual dan saleh.

Dalam masa pemerintahan ‘Utsman, yang berlangsung selama dua belas tahun, banyak kaum muslim yang benar-benar kembali ke cara hidup jahilia, takhayaul dan kesukuan. Rampasan perang dari Empirium Persia, Bizantium, dan Mesir mengalir ke Mekah dan Madinah, akibatnya terjadilah era kemerosotan akhlak dan kebusukan dalam kemewahan. Rumah besar dan istana-istana mulai dibangun pada masa ini. Arsitek pada masa itu adalah Abu Lu’lu, budak Persia yang telah membunuh ‘Umar karena membebankan pajak yang besar kepadanya. Di masa ‘Umar, rumah biasanya berdiri di atas sebidang kecil tanah, terdiri atas dua atau tiga kamar. Di satu sisi kamar terdapat halaman, di tengah-tengahnya sumur, dan di bagian sudut terdapat wadah gabah. Rumah dibangun satu lantai. Namun, di masa ‘Utsman, banyak istana dibangun, dan orang mulai saling berlomba membangun gedung-gedung megah.

Setelah terbunuhnya ‘Utsman di tahun 656, yang tetjadi ketika ia sedang membaca Al-Qur’ an, Imam ‘Ali dipilih oleh rakyat sebagai pemimpin umat Islam berikutnya. Pemerintahannya berlangsung selama hampir enam tahun dan penuh dengan perselisihan internal serta peperangan. Pada waktu itu banyak orang mengaku dirinya Muslim tetapi sama sekali tidak mengetahui atau meresapi jalan hidup Islam. Kita melihat kaum Muslim bersumpah demi Al-Qur’an tetapi bertingkah tidak sesuai dengan maknanya. Di tahun 656 terjadi sumpah palsu secara masal yang pertama. Nabi telah memperingatkan istri beliau ‘Aisyah bahwa pada suatu hari ia akan berperang di pihak yang salah, dan oleh karena itu akan mengalami kesedihan yang paling buruk, di suatu tempat bernama Hawab, dan bahwa anjing-anjing Hawab akan menyalakannya. Beberapa tahun kemudian, ketika sedang melewati Hawab dalam perjalanannya ke Perang Jamal melawan Imam ‘Ali, ia mendengar salakan anjing dan teringat akan peringatan Nabi, la bertanya apa nama tempat itu dan dikatakan kepadanya bahwa tempat itu benama Hawab. Tetapi, sebagian di antara para sahabatnya membawa dua puluh orang saksi yang mengaku Muslim untuk bersumpah palsu dengan Al-Qur’an bahwa nama tempat itu bukan Hawab. Kembali, dalam Perang Shiffin tahun 657, terjadi lagi insiden sumpah palsu dengan Al-Qur’an.

Setelah syahidnya Imam ‘Ali, di mana ia ditikam secara mematikan ketika sedang sujud dalam salat, maka putranya, Imam Hasan, memiliki posisi yang wajar dan pantas untuk menjadi pemimpin kaum Muslim berikutnya. Namun, Mu’awiyah, gubernur Bani Umayah di Suriah yang sedang berjuang merebut kedudukan sebagai penguasa bagi dirinya sendiri dan klannya, mulai menghasut rakyat melawan Imam Hasan. Imam Hasan mempunyai laskar besar yang siap membantunya. Tapi ia juga mengetahui segala kelemahan orang-orangnya dan tidak menghendaki perpecahan di dalam laskarya. Selain itu, ia menyadari kecerdikan dan kecurangan Mu’awiyah, la tak ingin melihat darah kaum Muslim tertumpah sia-sia. Maka ia menerima gencatan senjata yang ditawarkan Mu’awiyah dengan konsekuensi melepaskan semua klaim atas kepemimpinan kaum Muslim tanpa melepaskan kedudukan spiritualnya yang agung. Sebagaimana Imam’ Ali, yang tidak suka hanya diam berpangku tangan ketika tidak dipilih sebagai khalifah pertama, tetapi berusaha semampunya meluruskan apa yang salah di tahun-tahun pemerintahan para pendahulunya, maka Imam Hasan tak punya pilihan lain selain menerima kenyataan bahwa walaupun dialah yang terbaik di masa itu, namun ia tak dapat memimpin kaum Muslim. Penerimaannya untuk gencatan senjata bukanlah suatu perbuatan melepaskan kedudukan spiritualnya yang sesungguhnya, tapi merupakan petunjuk ke arah itu. Karena tak mungkin mewujudkan kebesaran batinnya ke dalam kenegarawanan lahiriah tanpa menyebabkan kaum Muslim saling membunuh, satu-satunva alternatif adalah menerima persyaratan gencatan senjata, yang juga menetapkan bahwa sesudah dia maka saudaranya Imam Husain akan menjadi khalifah kaum Muslim. Namun, Mu’awiyah dengan sangat cerdik melanggar semua ketentuan gencatan senjata setelah terbunuhnya Imam Hasan tahun 661, dan mengangkat anaknya Yazid yang berakhlak buruk menjadi penggantinya. Karena itu Imam Husain pun berontak melawan Mu’awiyah dan Yazid.

12 September 2012

Tasawuf

oleh alifbraja

Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq.

Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)

Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195

Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)

Imam Shafi’i :  ”Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:

1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.

2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.

3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf

[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam ‘Ajluni, vol. 1, p. 341.]

Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 :

“Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah satunya Demi Allah Aku menasehatimu”.

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)

Imam Ahmad (r) : “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)

Imam Haris Al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)

Imam Haris Al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawuf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.

Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)

Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]

Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)

Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf : “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].

Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)

Dalam suratnya al-Maqasid :  “Ciri jalan sufi ada 5 :  menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi :  “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]

Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)

Ibn Khaldun :  “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]

 

Tajuddin as-Subki

Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata: “Mereka dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.

 

Jalaluddin as-Suyuti

Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”

 

Ibn Taimiya (661-728 H./1263-1328 CE)

Majmu Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita. Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa’i, and Shaikh Bayazid al- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume 10: “…Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:” Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?”. Dan Allah menjawab: “Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”. Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, ” Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya”. Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd (pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid al-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul Saw.

 

Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasawuf

Berikut adalah pendapat Ibn Taimiah tentang definisi Tasauf dari strained, Whether you are gold or gold-plated copper.” Sanai. Following is what Ibn Taymiyya said about the definition of Tasawwuf, from Volume 11, At-Tasawwuf, of Majmu’a Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah, Cairo: “Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikan secara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yang berhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan).” “Tasauf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya. Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkan Allah: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)” Dia melanjutkan mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan kanan (ashabus-syimal).”

 

Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)

Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh Sufyan ath-Tsawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen) Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh” ‘

 

Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab (1115-1201 H./1703-1787 CE)

Dari Mu ammad Man ar Nu’mani’s book (p. 85), Ad- ia’at al-Mukaththafa Didd ash-Shaikh Mu ammad ibn c’Abdul Wahhab: “Shaikh ‘Abdullah, anak shaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf: ‘Anakku dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasauf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya tasauf diperlukan.” Dalam volume 5 dari Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab entitled ar-Rasa’il ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal. 12, 61, and 64 dia menyatakan: “Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn ‘Arabi atau Ibn al-Farid karena interpretasi sufinya”

 

Ibn ‘Abidin

Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].

 

Shaikh Rashid Rida

Dia berkata,”tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].

 

Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi

Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah” “Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasauf” “Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”

 

Abul ‘Ala Mawdudi

Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.” Ringkasnya, tasauf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.

3 September 2012

Bersatulah wahai Makmum Sayyidina Muhammad saw

oleh alifbraja

Hari hari terakhir ramadhan adalah malam malam tangis sedih bagi hamba hamba Nya swt, mereka sangat sedih berpisah dengan Ramadhan, seraya merintih :
Selamat berpisah wahai Bulan Sujud..,
Selamat berpisah wahai Bulan Puasa,
Selamat berpisah wahai Bulan Taubat,
Selamat berpisah wahai Bulan Al Qur;an,
Selamat berpisah wahai Bulan Ahlul Badr,
Selamat berpisah wahai Bulan Fatah Makkah,
Selamat berpisah wahai Bulan Nuzulul Qur’an,
Selamat berpisah wahai Bulan Sabar,
Selamat berpisah wahai Bulan Syukur,
Selamat berpisah wahai Bulan pengampunan,
Selamat berpisah wahai Bulan Rahmat Nya swt,
Selamat berpisah wahai Bulan Pelepasan dari api neraka,

Ahlussunnah waljamaah bersujud setiap malamnya dalam shalat Tarawih sebanyak 40 kali sujud, sebagaimana seluruh madzhab Ahlussunnah waljamaah, berupa madzhab Syafii, Maliki, Hambali, dan Hanafi kesemuanya menjalankan tarawih paling sedikit sebanyak 20 rakaat yg berarti paling sedikit mereka 40X bersujud setiap malamnya, dan dalam sebulan penuh Ramadhan mereka menyempurnakan paling sedikit 1200X sujud pada Allah swt, Inilah malam malam ribuan sujud ummat Muhammad saw.., dan Rasul saw telah bersabda : Allah mengharamkan api neraka untuk membakar anggota sujud (Shahih Muslim), Ya Rabb Jadikan Kami ahlussujud..

Berakhir di penghujung Ramadhan, 1 syawal 1428 H, saya menghimbau seluruh muslimin untuk bersatu dalam shaf Ahlussunnah waljamaah, jangan memisahkan diri dari kelompok besar muslimin Arba’a Madzahib (4 madzhab besar), bersatulah, sungguh Rasul saw bersabda : “Jika kalian melihat hal yang tak kalian senangi pada penguasa kalian, maka bersabarlah, sungguh barangsiapa yang keluar sejengkal dari Jamaah Muslimin lalu ia wafat, maka ia akan mati dalam kematian Jahiliyah” (Shahih Bukhari).

Jangan pisahkan dirimu dari ahlussunnah waljamaah, sungguh keempat madzhab besar dimuka bumi ini memperbolehkan Maulid Nabi Muhammad saw, sungguh keempat madzhab besar ini bertawassul, sungguh keempat madzhab besar ini berziarah kubur, sungguh keempat madzhab besar ini bertabarruk pada shalihin, sungguh keempat madzhab besar ini tak ada yang melakukan tarawih 11 rakaat, mereka bersujud paling tidak 40X setiap malamnya dalam tarawih,

Dan kita mengikuti pengumuman pemerintah kita, kita bukan budak pemerintah, namun kita bukan pula pemberontak, kita adalah Ummat Sayyidina Muhammad saw, dan Rasulullah saw telah menginstruksikan untuk jangan berpisah dari Jamaah Muslimin, dan bersabar atas kesalahan penguasa kita, dan kita diinstruksikan untuk taat selama tak diperintah untuk bermaksiat,

Sungguh Imam Imam kita telah berbuat demikian, mereka tak memberontak pada pemerintahan dan penguasa, padahal penguasa masa lalu sangatlah keji, banyak Imam Imam yang disiksa, dibantai, dicambuk, namun Imam Imam kita lebih menyukai kedamaian dan membangun generasi mulia, saya pernah bertanya kepada Mufti Tarim Al Allamah Almusnid Alhabib Ali Almasyhur bin Hafidh (Hadhramaut, Yaman), mengenai bagaimana kalau ternyata yang benar dalam memutuskan Idul Fitri itu justru yang memisahkan diri dari jamaah muslimin?, beliau menjawab : “Berpuasa di hari Idulfitri demi mengikuti jamaah muslimin jauh lebih afdhal daripada berbuka namun memisahkan diri dari jamaah muslimin dan menyebabkan perpecahan muslimin”.

Demikian pendapat yang sama oleh Al Allamah Mufti Madinah Almunawwarah Al Musnid Alhabib Zein bin Ibrahim bin Smeith (Madinah). Karena menyebabkan kebingungan muslimin, perpecahan dan memisahkan diri dari jamaah muslimin telah diancam mati dalam kekufuran oleh Nabi saw sebagaimana hadits diatas.

Maka dengan ini kita mengangkat kedua tangan kita, di malam malam terakhir penghujung bulan agung ini, agar Allah menyatukan sanubari muslimin, mengembalikan mereka yg memisahkan diri dari jamaah Muslimin, untuk kembali pada Ahlussunnah waljamaah wa madzahibul Arba’ah,

Yaa Rabb.., kembalikan mereka pada shaf Jamaah Muslimin, Yaa Rabb mereka keluarga kami, teman, kami, saudara kami muslimin, genggam jiwa mereka dan kembalikan mereka pada shaf kami, Ya Rahman.. Yaa Rahiim..

Saudara dan saudariku, jadikanlah Idulfitri ini persatuan muslimin, mereka yg berlebaran berbeda, jangan diikuti dan jangan pula dimusuhi, kita semua bertanggung jawab menyeru mereka untuk kembali, kita berlapang dada untuk pelahan lahan mengembalikan mereka pada shaf mulia ini.

Rabbiy jangan kau haramkan kami dari sekecil kecilnya Anugerah Mu di bulan agung ini, Rabbiy kami tak rela berpisah darinya kecuali kau halalkan bagi kami seluruh anugerah Mu yg tersimpan pada setiap kejap di bulan Ramadhan ini, Wahai Yang Maha Memiliki Ramadhan, Wahai Yang Maha Memiliki setiap Anugerah sepanjang Zaman, wahai Yang Maha Memiliki Kebahagiaan setiap waktu dan masa, Wahai Yang Maha Kekal dan Tunggal sebelum segalanya ada, hingga kesemuanya ada, hingga kesemuanya Sirna, wahai Cahaya Keabadian yang menerangi jiwa hamba hamba Nya dengan Iman dan kesejukan,

Terangi jiwa kami dengan Cahaya Nama Mu, jadikan Nama Mu adalah Nama teragung dalam jiwa kami, Nama yang paling kami rindukan, nama yang paling kami harapkan, nama yang paling kami dambakan dan cintai..

Yaa Allah..

3 September 2012

Tujuh Pesan Rasulullah SAW

oleh alifbraja

Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih

Limpahan puji kehadhirat Allah SWT, yang memuliakan kita dengan undangan agung, berkumpul dalam bangunan yang paling agung, dari segenap yang dibangun dibumi Allah, yaitu bait min buyuutillah (rumah dari rumahnya Allah SWT).

Hadirin-hadirot yang dimuliakan Allah, Maha suci Allah SWT, yang memberikan kesejukkan kepada jiwa hamba-hambanya yang beriman, Maha suci Allah SWT, yang selalu mengundang hamba-hambanya kepada taubah, dan ketahuilah, dengan seseorang bertaubah itu, terangkatlah derajatnya, dari hamba yang dimurkai menjadi hamba yang dicintai, dalam sekejap berbalik keadaannya, dari maghdub ila mahbub (dari hamba yang jauh dari rahmatnya Allah), menjadi hamba yang sangat dicintai Allah.
Taubah tidak harus dengan dosa, karena idola kita panutan kita sayyidina Muhammad SAW, diriwayatkan didalam shohihain Bukhori dan Muslim, bertaubat setiap hari lebih dari 100 kali, padahal beliau tidak pernah berbuat dosa, karena apa? karena beliau tahu cintanya Allah kepada orang yang bertaubat, cintanya Allah kepada orang yang bertaubat inilah, yang dikehendaki oleh sang Nabi, beliau makhluk yang paling dicintai Allah, tapi ingin selalu dicintai Allah dan selalu mengejar rahasia kemuliaan taubat.

Hadirin hadirot, ketika seorang hamba sering bertaubat kepada Allah, maka ia diangkat semakin dekat kepada Allah, semakin dekat ia kepada Allah, semakin jauh ia dari dosa-dosa kepada Allah, hadirin hadirot, ketika muncul kerinduan kepada Allah SWT, maka cahaya iman akan menerangi jiwanya dan teranglah jiwanya dengan nama-nama Allah, teranglah sanubarinya dengan cahaya nama-nama Allah SWT, ketika jiwa terang benderang dengan cahaya nama Allah SWT, maka mengalirlah rahasia keagungan nama-Nya, kepada jiwanya, kepada dirinya, ia mengenal Allah sehingga terbit matahari keindahan Allah dalam jiwanya, akan muncul rahasia kemuliaan nama-nama Allah, dalam sifatnya, dalam ucapannya, dalam gerak-geriknya, dalam hari-harinya, muncul sifat kasih sayang pada seluruh hambanya Allah, tiba-tiba sirna kebenciannya kepada musuhnya, berganti dengan doa untuk mereka, ini hadirin, bukan hal yang kecil, tapi memuncul dari cahaya Allah yang ada didalam jiwa, ketika ia berubah menjadi lembut dan berkasih sayang kepada sesama, ketika ia menjadi pemaaf, ketika ia menjadi dermawan, ketika ia jadi idaman Allah, ketika terus dan terus sifat-sifat mulia dari cahaya kemuliaan Allah muncul dalam hari-harinya, ini semua datang dari cahaya khusu’, berawal dari taubat, berawal dari shobba (Rindu kepada Allah), berawal dari sholat, yang setiap ibadah sholat itu merupakan cahaya kerinduan kepada Allah SWT, bukankah sholat itu adalah pelampiasan rindu kepada Allah?
Kita tidak bisa jumpa kepada yang kita rindukan, tapi kita telah berizin menghadapnya, walau belum dengan panca indra, dengan jiwa. Ada orang-orang yang rindu kepada Allah, mereka melampiaskannya dengan sholat, demikian Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih seraya bersabda: “ Ji’lah qurrotu’ain sholah” dijadikan hal yang paling kucintai adalah sholat”, hal yang paling kucintai adalah shalat kata sang Nabi, karena apa? Karena beliau ini orang yang paling mencintai Allah, dan paling dicintai Allah, Allah jadikan yang paling ia cintai dalam perbuatannya adalah sholat, karena sholat adalah pelampiasan ruh Muhammad kepada Allah.

Hadirin hadirot yang dimulaikan Allah, Allah SWT yang sangat merindukan hamba-hambanya ini, sehingga mengundang hambanya 50 kali setiap hari untuk menghadapnya, demi Allah inign dekat kepada hamba-hambanya umat Nabi Muhammad SAW, maka ketika sang Nabi meminta keringanan, maka Allah mengurangkannya sampai 5 waktu, tapi sama dengan 50 waktu, padahal Allah Maha Tahu, bahwa sholat ini akan 5 waktu nantinya, tapi Allah jadikan 50 waktu terlebih dahulu, agar mereka tahu setiap raka’at ini, bagaimana cintaKu dan rinduKu kepada mereka, agar mereka yang Kuberi penglihatan, pendengaran, kehidupan, dan hari-harinya itu dimuka bumi, memahami betapa rinduKu kepada mereka, lantas Allah mengurangkannya menjadi 5 waktu, tapi sama dengan 50 waktu, merugi mereka yang mengecewakan cintanya Allah, yang memutus cintanya Allah SWT, karena dalam setiap terbit dan terbenamnya matahari, kau digulung dengan cinta Allah SWT, dalam ruku’ dan sujud, itulah ucapan-ucapan manusia yang paling agung, tidak pernah kita ucapkan kepada sesama makhluk “Subhaana Robbiyal a’la wa bihamdih” tidak pernah kita ucapkan kepada sesama makhluk “Subhaana Robbiyal ‘azhimi wa bihamdih” ini ucapan-ucapan cinta dan rindu hamba, yang diajarkan Allah untuk hamba-Nya,

Allah yang mengajarkan, ini yang mesti kalian ucapkan, wahai yang Ku cintai, untuk berjumpa dengan cintaKu Allah SWT, hadapilah cintaNya didalam sholat fardhu, itulah lambang keridhoan Ilahi Jalla wa ‘ala, yang merupakan imaduddin, yang merupakan tiangnya agama, karena dari dasar perbuatan inilah maka muncul sifat-sifat luhur dalam perbuatan kita, bila kita temukan perbuatan munkar dalam perbuatan kita, Allah memberikan obatnya, yaitu sempurnakan lagi sholat kita, muncul pertanyaan dalam jiwa banyak dari kita, aku punya maksiat ini, tapi kau tidak bisa kulawan, aku punya dosa ini, tapi aku tidak bisa menghindarinya, obati dengan sholat “Innasholaata tanha ‘anil fahsyaai wal munkar” sebagian orang berkata; untuk apa sholat kalau masih terus bermaksiat? justru terbalik, dengan banyaknya maksiat itu, obati dengan menyempurnakan sholat, obati dengan khusu’ obati dengan ucapan ruku’ dan sujud yang didalami makna, obati dengan kedalaman jiwa, saat menghadapi cinta dan rindunya Allah SWT.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Pada perjumpaan kita yang lalu, saya menukil salah satu pesan dari Nabi Muhammad SAW, berupa tujuh pesan wasiat Nabi Muhammad SAW yang belum diselesaikan, kita lanjutkan lagi tujuh pesan itu, adalah ’iyaadatul mariidh” mengunjungi orang yang sakit, dan ini telah saya jelaskan malam selasa yang lalu, dan yang kedua adalah “Ittiba’il janazah” mengikuti jenazah dan mengantarnya” ini telah dijelaskan, dan yang ketiga “Tasymitul ‘aathis” mendoakan orang yang bersin”, orang yang sakitnya paling ringan itu ya bersin, sakit yang paling ringan, kita doakan, ini warisan dari indahnya akhlak sang Nabi, dan yang empat adalah “ibroorilqosim” , yaitu “menjalankan sumpah” , mereka yang bersumpah dengan nama Allah SWT wajib untuk melakukannya dan bila mereka tidak mampu melakukan apa yang telah ia sumpahkan maka kafaratnya berpuasa empat hari, hadirin hadirot yang dimuliakan Allah yang selanjutnya yang kelima adalah “Nasrul mazhlum” menolong orang yang dizholimi” , ini adalah salah satu sifat agung, yang sangat dicintai Allah, karena Allah Maha menolong hamba-hamba yang dizholimi, sehingga dalam beberapa majlis yang lalu, kita telah mendengar hadits Nabi Muhammad SAW riwayat Shohih Bukhori “Ittaquu da’watal madzlum fainnahu laisa bainahu wa bainallahi hijaab“ berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT” . Allah menjawab doa orang yang dizholimi, walaupun dari orang yang diluar Islam.

Hadirin hadirot, demikian jumhur (kesepakatan/ kebanyakan pendapat) para ulama, bahwa orang yang dizholimi itu dikabul doanya oleh Allah, walaupun ia diluar Islam, karena apa? Bukan karena ia diterima imannya oleh Allah, tapi keadilan Allah SWT kepada hambaNya, sebagaimana sang Nabi pun, ketika orang-orang non muslim dizholimi oleh orang muslim, sang Nabi menghukumnya, sang Nabi membela orang tersebut, ia mengadu sebagaimana riwayat Shohih Bukhori “salah seorang Yahudi datang kepada sang Nabi, ya Rasulullah, ada dari shahabatmu menamparku, kenapa kau ditampar? Karena aku berkata; Nabi Musa lebih mulia dari engkau, tentunya menurut agamakan kepercayaannya, maka Rasul memanggil Shahabat itu kehadapan sang Nabi, sekarang wahai Yahudi, tampar balik shahabatku ini, demikian qishosh (hukum timbal balik) sang Nabi, membela orang non muslim yang dizholimi, demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.

Demikian pula Allah, ketika Nabiyyullah Musa AS menghadapi Qorun yang sangat kaya raya, dan ia itu kufur kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa memerintahkannya bertaubat, dan Qorun pun menolak, maka Musa AS berdoa kepada Allah “wahai bumi telanlah Qorun ini sampai kelututnya” maka bumi menelannya sampai kelutut, dan Qorun tetap tidak mau bertaubat maka Nabi Musa berkata “wahai bumi pendam ia sampai keperutnya” maka bumi memendamnya sampai keperutnya, dan Qorun tetap belum bertaubat, lantas Musa AS berkata “wahai bumi pendam ia sampai kelehernya” dan setelah itu Qorun berkata “yaa Musa (wahai Musa)…”, Nabi Musa berkata “wahai bumi pendam ia dengan seluruh tumpukkan hartanya”, maka disaat itu Allah menurunkan malaikat kepada Nabi Musa dan menegur Musa “ya Musa Lau da’aanii fa ajabtu” wahai Musa kalau Qorun ini memanggil namaKu akan kujawab taubatnya.

Demikian hadirin hadirot, Maha Indahnya Allah, Maha Lembutnya Allah kepada orang-orang yang telah kufur kepada Allah SWT. Allah sangat lembut kepada hamba-hambanya, diriwayatkan dalam Shohih Bukhori ketika salah seorang Nabi, yang ia itu digigit oleh seekor semut yang berbisa, dibawah sebuah pohon, maka sang Nabi memerintahkan umatnya untuk membakar pohon tersebut, maka turunlah malaikat mengatakan “Allah menyampaikan salam kepadamu; “fahalla namlatun waahidah” kau membakar seluruh Negara semut padahal hanya satu yang berbuat kesalahan” perbuatan sang Nabi itu, (bukan sang Nabi Muhammad SAW), sebelum beliau, perbuatan Nabi itu adalah benar, karena ia mengetahui bahwa seekor semut yang berbisa ini membahayakan umatnya kelak, semua yang duduk ditempat itu akan terbahayakan.
Al-hafizh al-Imam ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul barii bi syarah Shohihul Bukhori, menjelaskan kejadian ini, bahwa yang dimaksud oleh Allah menurunkan malaikat dan mengatakan “fahalla namlatun waahidah” bukankah yang bersalah cuma seekor semut saja? Adalah tahdid, untuk mengangkat akhlak dan budi pekerti sang Nabi itu kepada yang lebih lembut dan kasih sayang kepada Allah, tapi perbuatannya tidak salah, karena perbuatan para Nabi itu ma’sum (tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa), perbuatannya adalah demi keamanan bagi manusia, akan tetapi Allah menegurnya, menunjukkan Maha lembutnya Allah, bukankah hanya seekor semut saja kata Allah SWT dan kau membunuh sedemikian banyak semut lainnya.

Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, “Nasrul mazhlum” menolong orang-orang yang dizholimi adalah perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah, sehingga diriwayatkan didalam Shohih Bukhori “ketika ada orang yang ketika dihari kiamat ia kehabisan amal, maka ia berkata kepada Allah; ya Robb aku dahulu, si fulan didalam kesulitan aku membantunya, fulan dalam kesulitan aku membantunya, fulan dalam kesedihan aku menghiburnya, maka Allah SWT berkata kepada para malaikat; “Tajaawaz ‘anhu” maka tolonglah dia, kata Allah; tolonglah dia, demikian hadirin hadirot Allah memuliakan orang-orang yang menolong orang-orang yang zholim dan Rasul tidak menyisakan satu kemuliaan pun dalam kehidupan ini terkecuali telah diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW,

Kunci-kunci keridhoan Ilahi SWT dan yang keenam adalah “wa roddissalam” menjawab salam”, menjawab salam ini kecil hadirin hadirot, sebenarnya remeh saja, tapi kalau kita renungkan, ini menyambung silaturrahmi pada orang-orang yang tidak kita kenal, karena salam bukan hanya untuk orang yang kita kenal, untuk semua orang yang tidak kenal, yang kenal dan tidak kenal maka ia menjawab salam, kita bertemu dengan seseorang yang tidak kita kenal, kita ucapkan salam hormat padanya, ia menjawab, selesai, satu dua tahun lagi misalnya berjumpa lagi, ia akan kenali orang yang mengucap salam padaku padahal aku tidak kenal padanya , ketika ia terjebak dalam kesulitan orang itu akan menolongnya, ini orang berakhlak baik, ia tidak kenal padaku, ia berikan salam hormat padaku, hubungan kasih sayang, antara umat Nabi Muhammad SAW satu sama lain, tanpa mengenalnya, tanpa perlu pengakraban, tapi ucapan salam itu yang menyambung mereka satu sama lain, demikian hadirin hadirot Allah menginginkan ucapan salam sejahtera yang berasal dari nama-Nya yang Maha Agung, Maha Penyejahtera, disebarkan antara muslimin muslmat satu sama lain, bahkan kapada sholihin yang telah wafat, didalam sholat kita selalu mengucapkan “assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahishoolihin“
Rasul bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori “barang siapa yang mengucap ‘assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahishoolihin’ didalam sholatnya, maka Allah SWT menyampaikan salamnya kepada seluruh hamba Allah yang sholeh dilangit dan bumi”. Demikian hadirin hadirot, satu ucapan itu, menyambung silaturrahmi kita kepada seluruh hamba Allah yang sholeh, yang masih hidup dan yang telah wafat, untuk nanti dihari kiamat, orang-orang sholeh semua mengenal umat Nabi Muhammad SAW, ia bersalam kepada kami, disampaikan salamnya oleh Allah kepada kami tanpa kita mengenalnya, muncul nanti umat akhiruzzaman (akhir zaman) sudah satu kelompok dengan orang-orang yang sholeh, sudah dikenal dan berkenalan dengan orang yang sholeh karena selalu menyampaikan salam kepada mereka, demikian hebatnya Allah menyambung kemulian umat ini satu sama lain, bertemu seluruh hamba Allah yang sholeh dilangit dan bumi.

“Wa roddissalam wa ijaabatuddaa’i; dan mendatangi undangan-undangan”, yaitu undangan walimah, undangan akad nikah, ini adalah hal yang sangat disarankan oleh sang Nabi untuk dihadiri, sebagian ulama mengatakan haram orang yang tidak mendatangi undangan walimah tanpa uzur, ini tujuh wasiat dari Nabi kita Muhammad SAW. Mengenai hadits yang kita baca ini, telah dijelaskan dengan gamblang dimalam selasa yang lalu, dibawa kertas ini pada yang telah menikah, maka ia membawanya, dan yang belum menikah simpan sampai waktunya menikah, akan muncul keturunan-keturunanmu yang terjaga dari kekuatan syaithon, akan dijaga oleh Allah SWT, sebagai mana sabda sang Nabi “Lam yadhurrahusyaithoonu abadaa”, syaithon tidak akan bisa membawa mudhorot kepadanya, banyak muslimin muslimat sekarang yang sudah dihancur leburkan oleh syaithon, dengan hartakah, kedudukan kah, dengan apapun, dengan hawa nafsu, sehingga mereka hancur lebur, akan muncul insya Allah keturunan-keturunan kita kelak yang tidak bisa diganggu oleh syaithon selama-lamanya, ya Robb ya Rahman ya Rahim.
Nabi kita Muhammad SAW adalah semulia-mulia manusia, sangat mengajarkan kesederhanaan, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori : “ketika Rasul SAW menikah, bagaimana sang Nabi SAW menikah? Bagaimana jamuan makanan, jamuan makan saat pernikahan sang Nabi? Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, ketika Rasul menikah, jamuan makannya adalah dua genggam “sya’iir” muddain minasya’iir” dua genggam terigu”. Dua genggam terigu itu, yang ada untuk masakan menyambut hari pernikahan sang Nabi, dua genggam tergu itu hadirin, kalau dibikin roti, kira-kira jadi sepuluh potong saja, roti tanpa ada lauknya sama sekali, kalau kita bertanya, bagaimana jamuan pernikahan sang Nabi? itulah jamuan pernikahan Rasulullah SAW, hari pernikahan Rasulullah SAW seperti itu, ini sunnah yang sangat-sangat hampir punah dimasa kita, muslimin muslimat sekarang malu mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW, para aslafunasshoolihin sebagian dari ulama-ulama kita salafussholeh masih mengamalkan ini, mereka masih membawakan jamuan lain karena memang ada keluasan harta, jamuan lain mereka munculkan, tapi tetap mereka memasak dua genggam terigu, sehingga menjadi beberapa potong roti, untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, karena inilah sunnahnya Rasulullah SAW, sebagian besar muslimin merasa hina jika mengamalkan sunnah Nabinya, hadirin hadirot jika kita belum mampu mengamalkannya, paling tidak kita tahu ini sunnah Nabi Muhammad SAW. Sunnah Rasul bukanlah dengan jamuan yang mewah disaat pernikahan, bukan itu sunah sang Nabi, demikian sederhananya Nabi kita dan idola kita Muhammad Rasulullah SAW.

Dan beliau SAW bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori : ”Syarrutho’aam tho’aamulwaliimah di’aa fiihal’afaani wa yutrokul fukoro”, seburuk-buruk hidangan adalah hidangan pernikahan yang didalamnya hanya diundang orang-orang kaya saja tanpa mengundang orang-orang fuqoro”, ini seburuk-buruk hidangan kata Nabi Muhammad SAW, bukan berarti haram tentunya, bukan berarti haram tentunya, tetap halal, akan tetapi sang Nabi bicara seperti ini, menuntun umatnya agar muncul keseimbangan antara fuqoro (miskin) dan aghniya (kaya orang mampu), bisa saja Rasul mengatakan wajib, bisa saja orang berkata ; aku mengundang tamu-tamuku saja ini orang-orang mampu, orang-orang fuqoro nanti bisa sedekah sebanyak-banyaknya, tidak demikian, karena apa? Karena Rasul memahami keseimbangan hidup dan keberkahan pernikahan.
Orang-orang fuqoro ketika diundang jamuan pernikahan orang-orang kaya, barang kali ada yang lima enam tahun tidak pernah menyentuh makanan ini, seumur hidupnya belum pernah kenal dengan makanan model seperti itu, jika menyantapnya, maka ia akan berkata, masyaAllah Alhamdulillah berkah ini berkah, demikian hebatnya sang Nabi SAW menyatukan doa-doa para fuqoro, agar membawa keberkahan bagi kedua mempelai, demikian hebatnya sang Nabi SAW, tidak perlu berkata minta doa pada fuqoro karena doa mereka qobul, tidak demikian, Rasul menyeimbangkannya agar mereka tetap makan makanan para aghniya dalam undangan itu, membawa keberkahan bagi kedua mempelai, demikian indahnya Nabi kita Muhammad SAW, dalam setiap sunnah beliau tersimpan sedemikian banyak hikmah Ilahiyyah.
Diriwayatkan didalam Shohihul Bukhori Rasul SAW menyampaikan (yang sampai) kepada kita betapa indahnya budi pekerti beliau, ketika orang-orang dalam keramaian “Urs, ‘urs itu pesta pernikahan Anshor, diMadinatul Munawarah dari zaman dahulu sudah ada pesta pernikahan, zaman dahulu sudah ada kegembiraan dalam pernikahan, nah didalam kegembiraan itu tentunya para shahabat ingin tahu, kegembiraan seperti ini disetujui tidak oleh sang Nabi, padahal itu, pesta seperti itu tentunya merujuk kepada ghoflah (lupa dari Allah), tertawa terbahak-bahak dan lain sebagainya dalam pesta, barangkali ada lawaknya barangkali ada pentasnya dan lainnya, itu membuat seseorang lupa dari Allah, tapi bagaimana sang Nabi berbuat, apa beliau berkata ini munkar munkar bubarkan, tidak demikian, sang Nabi duduk ditempat yang jauh, melihat mereka yang berada dalam pernikahan itu dan mereka keluar, kau meninggalkan anak-anakmu pulang dari pada jamuan pesta pernikahan itu, Nabi SAW berbuat memalingkan konsentrasi mereka kepada khusu’ seraya berdiri dan berkata “Allahumma innak wa muhabbinnaas ilayya” demi Allah sungguh kalian ini orang yang paling kucintai”, coba hadirin hadirot kita bertanya, hubungannya apa antara pesta pernikahan dengan ucapan sang Nabi, wahai Allah sungguh mereka inilah orang yang paling kucintai, bagaimana nyambungnya kejadian ini, ini sang Nabi ingin membalilkkan jiwa mereka dari ghoflah kepada cinta kepada Nabi Muhammad SAW, dari mereka yang sedang tenggelam dalam hal-hal yang barangkali melupakan mereka dari khusu’nya sholat dari dzikirnya dipalingkan kembali dengan mendengar ucapan itu tentunya jiwa mereka berbalik, lebih mencintai sang Nabi,
Masya Allah kita yang keluar dari acara, kalau bahasa kita seakan-akan mau dimahari oleh sang Nabi atau diomeli oleh sang Nabi karena sudah berbuat acara besar-besaran perayaan pernikahan, ternyata tidak demikian, Nabi kita malah berkata; wahai Allah sungguh kalian adalah orang yang paling kucintai, rahasia kedalaman tarbiyah dan pendidikan qolbiyah yang mengajak jiwa mereka kembali pada kecintaan pada Nabi kita Muhammad SAW, demikian hebatnya tarbiyah sang Nabi dan bimbingan beliau untuk menghalau umatnya ini dari kemunkaran. Bagaimana orang kalau tenggelam dalam kemunkaran zaman sekarang misalnya ada orang yang tenggelam dalam mabuk-mabukan didiskoti atau dikafe-kafe, apa yang kita ucapkan? Barangkali kita menyindirnya, ini orang ahli munkar, pendosa, penjahat, ini ahli maksiat, tapi tidak demikian akhlak sang Nabi hadirin hadirot, bagaimana cara mereka kembali pada kemuliaan?

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, diriwayatkan ketika al-Imam Hasan al-Bashri, dilapori tentang suatu kelompok ditepi pantai yang dipenuhi dengan maksiat dan kejahatan, ini menganggu masyarakat sekitar, kerjanya cuma mabuk-mabukan dan berbuat dosa, Imam Hasan al-Bashri berkata “bangkit sekarang, kita datangi, maka semua murid-muridnya dan masyarakat bangkit, tentunya dikira akan dihancurkan, zaman sekarangkan berlakunya demikian sebagian saudara kita, akan tetapi Iman Hasan al-Bashri sampai disana seraya mengangkat kedua telapak tangannya ”Allahumma kamaa farrohtahum fiddunia farrih hum fil akhiroh” Wahai Allah sebagaimana Kau buat mereka gembira di dunia kami ingin mereka gembira juga di akhirat”, doa ini hadirin hadirot langsung kehadiratullah, dari jiwa yang ikhlas, akhlak pilihan. Kita sudah berbuat dosa dan maksiat, yang datang Imam Hasan al-Bashri, takut semuanya, tahu karena ini imam besar, akan tetapi bukan malah marah tetapi didoakan mereka ini, maka semuanya bertaubat kepada Allah SWT, demikian hebatnya akhlak Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih.
Hadirn hadirot, Nabi kita diriwayatkan didalam Shohih Bukhori; beliau ingin membantu pekerjaan isterinya dirumah, bila tidak ada kesibukan beliau pun bersama isterinya bahkan mencuci pakaian, atau pun menambal sandal atau pun berbuat apapun dirumah, turut membantu isterinya dirumah, bila azan beliau tinggalkan seluruh aktifitas untuk menuju sholat, demikian indahnya idola kita sayyidina wa maulana Muhammad SAW wa barak’alaih, dan beliau ini sangat-sangat dermawan, hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, dan jangan dikira Nabi ini miskin, Nabi itu hadirin hadirot setelah fatha Makkah kaya raya, tapi beliau tidak mau menggunakan hartanya, sangat kaya raya, beliau membagi-bagikan banyak kepada para fuqoro, bahkan seraya berani berkata setelah fatha Makkah, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, beliau bersabda: “Seandainya diantara kalian wafat, masih meninggalkan harta, silahkan bagikan hartanya, kalau meninggalkan hutang (falyahtinii wa ana maulaahu)” demikian diriwayatkan didalam shohih bukhori, masih ada muslimin punya hutang, datang padaku, aku yang akan menyelesaikannya, demikian jiwa besar Nabiyyuna Muhammad SAW wa barok’alaihi wa ‘ala alaih,
akan tetapi dalam kesederhanaannya, dalam cara pernikahannya, hanya sekelumit (sedikit) orang-orang ini saja, itulah yang tidak pernah kita temukan ditimur dan barat sepanjang zaman, mereka yang mengikutinya pasti dicintainya, mereka yang mengikutinya dicintai fiddunia wal akhiroh dan masih dicintai oleh Allah SWT, karena Allah SWT telah menjamin “Inkuntum tuhibbuunallah fattabi’uunii yuhbib kumullah” , jika kalian mencintai Allah, ikutilah Nabi Muhammad SAW, kalian akan dicintai oleh Allah, semakin kita mengikuti budi pekerti beliau ini, tidak mampu 100 persen sunnahnya, tidak mampu setengahnya, atau sedikit saja yang kita ikuti dari perbuatan sang Nabi, ada bentuk cintanya Allah yang menjanjikan untukmu, makin besar perbuatan kita mengamalkan sunnah makin besar cintanya Allah, alangkah indahnya orang yang memahami, ingin dicintai Allah adalah dengan mengikuti Muhammad Rasulullah SAW wa barok’alaihi wa ‘ala alaih.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori; dimana Rasul SAW sangat menjaga umat, jangan sampai berlebihan ibadah, jangan sampai berlebihan didalam maksiat, diriwayatkan ketika salah seorang sahabat ra berpuasa disiang hari setiap hari dan ia melakukan sholat malam setiap malam sepanjang malam, Rasul SAW memanggilnya “engkau yang kudengar setiap hari berpuasa dan setiap malam beribadah sepanjang malam?”, “Betul wahai Rasulullah SAW,” Rasul berkata “fala taf’al (jangan kau perbuat), shum wa afthir wa kum wa nam” bangun malam tapi juga ada tidurnya, tidurlah juga diantara bangun malammu dimalam hari, puasa boleh tapi jangan setiap hari mesti ada bukanya, demikian indahnya, sang Nabi seraya bersabda: “inna li jasadika ‘alaika haqqo wa inna li ‘ainika ‘alaika haqqo wa inna li zaujika ‘alaika haqqo” Dan sungguh tubuhmu itu mempunyai hak pada dirimu, matamu mempunyai hak, isterimu (keluargamu) mempunyai hak.
Demikian indahnya, Nabi kita Muhammad SAW mengajari kita, sehingga kita terpacu untuk selalu beribadah tapi jangan lupa, mata kita mempunyai hak , tubuh kita mempunyai hak untuk ibadah juga, jangan dipakai terus untuk maksiat siang dan malam, mata ini butuh air mata khusu’, demikian tubuh membutuhkan ruku’ dan sujud, makin besar dosa-dosa kita maka perbanyak ibadah kita, dan kita mempunyai keluarga yang keluarga kita mempunyai hak atas diri kita, jangan sampai kita jadikan keluarga kita itu, adalah hanya tuntunan dosa dan keduniawian, ajarkan mereka kemuliaan, ajarkan mereka keluhuran. Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah indah sekali tuntunan Nabi kita Muhammad SAW, inilah semulia-mulia idola, inilah semulia-mulia kekasih yang dengan mengikutinya akan terbit cahaya kecintaan Allah SWT kepada kita. Hadirin hadirot bangkitkan jiwa kita dengan lantunan nama Allah, terangilah jiwamu dengan nama-nama Allah SWT, yang Allah SWT telah berfirman “Wa lillaahil asmaail husna fad’uhu biha” Sungguh Allah itu mempunyai nama-nama yang agung maka serulah Dia” Yang meminta kita memanggil nama-Nya.
Bangkitlah (wahai) hadirin hadirot, bangkitlah dengan keagungan nama Allah, bangkitkan kekhusu’an dengan keagungan nama Allah, bangkitkan kebahagiaan dalam hidupmu dengan keagungan nama Allah, bangkitkan pengampunan-Nya dengan memanggil nama Alah, bangkitkan kekuatan dunia dan akhirat, kesejukan jiwa, kebahagiaan dunia, tercapainya hajat, kebahagiaan kekal dan abadi diakhirat, lepas dari siksa kubur, bangkitkan itu semua beserta kemuliaannya dengan memanggil nama Allahu Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, kita telah dengar firman-Nya: ”Walillahil amsail husna fad’uhu biha” Allah memberi nama-nama yang indah yaitu asmaul husna maka serulah dia, perintah dari Robbul’alamin, mengundang yang terpanggil dalam kemuliaan untuk memanggil nama-Nya. Kita mengenal 99 nama Alah, diriwayatkan didalam riwayat yang shohih “Barang siapa yang menghapalnya, tidak akan pernah menyentuh api neraka selama-lamanya” dan satu dari 99 nama Allah itu adalah Allah, ini adalah “sulthoonudzikir” (raja dari semua dzikir) kepada al-ma’rifatillah, karena berkumpul seluruh keagungan nama Allah pada kalimat Allah, maka hadirin hadirot kita bermunajat memanggil nama-Nya, menenangkan jiwa kita, menenangkan keadaan kita, menenangkan kerisauan kita, menenangkan permasalahan kita, menenangkan kehidupan kita, maka jadilah terbit dan terbenamnya matahari kesejukan dan kebahagian bagi kita, ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Rahman ya Rahim ya Dzaljalaali wal ikroom. Hadirin hadirot seluruh kenikmatan dunia dan akhirat berawal dari Allah SWT, seluruh kebahagiaan dunia dan akhirat dari Allah SWT, yang menerbitkan matahari dan membuat alam semesta ini ada, yang menciptakan milyaran planet terhampar dialam semesta bertasbih mengagungkan nama-Nya, sehingga jiwa kita didalam pelita-Nya yang terang benderang dengan nama Allah SWT.

3 September 2012

Sebesar – besar Dosa Hamba Allah SWT

oleh alifbraja

8
قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ وَشَهَادَةُ الزُّورِ (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar besar dosa adalah menyekutukan Allah swt, dan membunuh manusia, dan durhaka pada orang tua, dan sumpah palsu” (Shahih Bukhari)
ImageAssalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh,
Limpahan puji kehadirat Allah Swt yang mengundang ruh dan jiwa kita untuk mendekat kehadirat-Nya yang menerangi jiwa kita dengan cahaya yang melebihi terang benderangnya cahaya matahari, cahaya matahari yang tiada akan pernah bisa menembus jiwa dan perasaan, cahaya matahari terbit dan terbenam, cahaya matahari akan berakhir di akhir zaman.

Tabir Rabbul Alamin menerangi jiwa kita dengan cahaya iman, dengan cahaya tauhid, dengan cahaya Laaillahaillallah Muhammad Rasulullah cahaya terbesar dan teragung yang melebihi cahaya alam semesta melebihi cahaya bintang dan matahari karena cahaya itu menerangi jiwa menuju Allah.

 

Mengundang sanubari mendekat kehadiratul Rabb mengundang jiwa untuk meninggalkan kemungkaran dan menuju keluhuran, menuju kesucian, menuju taubat, menuju maghfiroh, menuju akhlak, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, menuju kesuksesan dunia dan akhirat itulah cahaya iman yang terbuka darinya seluruh rahasia rahmat illahi, rahmat yang kekal, rahmat yang abadi, kasih sayang yang kekal, kasih sayang Allah yang abadi.

 

Terbuka dengan kalimat Tauhid, ketika jiwa tidak menyekutukan Allah, tidak menyembah selain Allah, tidak mengakui Tuhan selain Allah, maka terbuka baginya kebahagiaan yang kekal dan baginya datang pengampunan.

 

Jika ia tidak mendapati pengampunan dengan didalam hidupnya, maka akan datang di alam barzahnya, jika tidak di barzahnya maka di yaumal qiyamah. Sebesar apapun dosanya selama ia tidak menyembah selain Allah, pasti ia akan mencium wanginya surga. Apakah ia melewati musibah di dunia atau melewati siksa kubur atau melewati siksa neraka, pasti ia akan berakhir di surga, selama ia tidak menyembah selain Allah.

 

Bersabda Nabiyyuna Muhammad Saw sebesar-besarnya dosa adalah menyembah selain Allah. Inilah dosa yang tidak dimaafkan, apa maksud dosa yang tidak dimaafkan disini? Hadirin hadirat semua dosa diterima oleh Allah taubatnya, termasuk menduakan Allah, tapi harus taubat dulu. Yang dimaksud dosa yang tidak diampuni itu maksudnya jika ia tidak bertaubat, mati dalam keadaan itu, kalau dia orang yang tidak menduakan Allah, ia akan menemui pengampunan Allah pada akhirnya. Ia kena siksa kubur, zina, mencuri, mabuk kena dahsyatnya dan pedihnya siksa kubur, menggelepar, menjerit di alam barzah, jika ia wafat belum bertaubat, barangkali kena api neraka tapi akan mencium baunya surga dan akan mendapatkan pengampunan.

 

Tapi mereka yang menyekutukan Allah tidak mendapatkan pengampunan, kalau ia tidak bertaubat, kalau ia kembali kepada islam maka tentunya ia mendapatkan pengampunan. Sebagian orang mengatakan kalau sudah menyekutukan Allah tiada pengampunan lagi, betul tiada pengampunan jika tidak bertaubat, jika ia kembali kepada Allah, pengampunan Allah tidak pernah tertutup bagi para pendosa.

 

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian Agung-Nya Allah memuliakan hamba-hamba Nya yang berada didalam shaf dan kelompok tauhid, kelompok muslimin muslimat jauh berbeda dengan yang diluar islam walau mereka mendapatkan kebahagiaan di muka bumi, tapi kebahagiaan yang semu dan fana.

Mereka tidak mendapatkan kebahagiaan yang kekal, bermilyar dan berjuta tahun, kebahagiaan yang sepuluh dua puluh tahun yang tiada artinya, menanti kebahagiaan yang abadi dan mereka tidak mendapatkannya kecuali mereka yang muslimin muslimat yang tiada menyembah selain Allah dan mengakui Nabi Muhammad Saw utusan Allah. Ketika mereka sudah mengakui Laaillahailallah Muhammadurrasulullah, maka mereka dimuliakan oleh Allah Swt dimuliakan oleh Nabi Muhammad Saw dihargai walaupun ia pendosa.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika Usamah bin Zaid radhiyallahhuanhum didalam salah satu peperangan, salah seorang pemimpin kuffar jatuh senjatanya dan orang-orang anshar yang sedang mengerubutinya meninggalkannya karena melihat senjatanya sudah jatuh, Usamah bin zaid Ra melihat ini pimpinan orang kafir, musuh islam, suka menyiksa orang muslim juga, maka ia mengangkat pedangnya dan orang itu mengucap “Laaillahailallah Muhammadurrasulullah” dan Usamah bin Zaid Ra tetap memukulkan pedangnya dan membunuhnya.

Sampai kabar kepada Nabi Muhammad Saw, Rasul Saw memanggil Usamah bin Zaid Ra, “wahai Usamah kau bunuh orang itu setelah ia mengucap Laaillahailallah Muhammadurrasulullah?”, Usamah berkata “dia itu cuma melindungi dirinya, dia itu tidak mau bersyahadat dengan sungguh sungguh, cuma ngucap saja pura-pura syahadat”.

Tentunya kita memahami iman para sahabat radhiyallahhuanhum, jika orang itu betul-betul syahadat, tidak akan dibunuh akan tetapi karena ia mengucapkan syahadat dengan mencemooh setelah jatuh pedangnya “Asyhadu an laaillahaillallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” dibunuh oleh Usamah bin Zaid Ra “dia cuma melindungi dirinya saja dan berpura-pura”. Maka Rasul Saw seakan-akan tidak mendengar ucapan Usamah bin Zaid seraya berkata “Usamah kau bunuh dia setelah dia mengucapkan syahadat?” maka Usamah menjawab lagi “dia cuma pura-pura ya rasulullah, cuma melindungi dirinya”. Rasul seakan-akan tidak mendengar dan sekali lagi mengulang dengan ucapan yang sama.

Jadi kesimpulannya, kau bunuh dia setelah mengucapkan syahadat ya Usamah? maka Usamah radhiyallahhuanhum berkata dalam hatinya “seandainya aku belum masuk islam baru masuk islam hari ini ”, maksudnya apa? malu sekali punya dosa yang demikian besar hingga Rasul saw berkali-kali mengulangnya.

Bahkan riwayat Shahih Muslim tadi riwayat Shahih Bukhari, kalau dalam Shahih Muslim dijelaskan “bagaimana nanti pertanggung jawabanmu atas ucapan Laaillahaillah di hari kiamat?, bagaimana kalau Laaillahailallah Muhammadurrasulullah menuntutmu wahai Usamah di hari kiamat?”. Rasul saw diminta syafaat oleh Usamah seraya berkata “ya Rasulullah beri aku syafaat, mohonkan pengampunan kepada Allah agar aku bisa mendapat pengampunan atas dosaku ini”. Rasul saw menjawab seakan Rasul Saw tidak mendengar “apa yang akan engkau pertanggungjawabkan dihari kiamat”.

Ini hebatnya hadirin hadirat ketika seseorang telah mengucap syahadat, demikian ihtirom kita terhadap sesama muslimin-muslimat yang telah mengucap syahadat. Mengenai mereka-mereka yang keluar dari syahadat tentunya ihtirom kita sesama makhluk saling menghargai tetapi tentunya lebih terhadap mereka yang mengucapkan syahadat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Yang kedua Rasulullah saw berkata sebesar-besar dosa tadi adalah menduakan Allah, yang kedua “membunuh”. Ini dosa membunuh dosa nomor dua paling besar dari semua dosa.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
ketika seseorang membunuh maka ia telah melakukan satu dosa, karena telah menghabisi nyawa orang-orang yang diberi nyawa oleh Allah swt akan tetapi kita lihat disini riwayat Shahih Bukhari bagaimana Allah swt terus mengejar hamba-hamba Nya yang berdosa dengan pengampunan.

Ketika salah seorang di zaman sebelum sang Nabi dan Rasul Saw menceritakan diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari seorang yang telah membunuh 99 jiwa. 99 orang telah ia bunuh dan ia ingin bertaubat, bagaimana taubatnya? Itu hadirin – hadirat orang yang membunuh tentunya kalau dituntut oleh ahli warisnya maka ia harus dibunuh, kalau tidak minta darahnya maka boleh minta sebanyak 100 ekor unta yang hamil atau harganya berupa uang harga 100 ekor unta yang hamil itu harganya 1 jiwa ganti ruginya, maksimal boleh kurang, boleh dimaafkan, kalau seandainya dimaafkan oleh keluarganya ya selesai tidak ada tuntutan, kalau seandainya menuntut ya boleh ia menuntut nyawa, kalau mau minta harta berarti maksimalnya 100 ekor unta yang hamil atau harganya berupa uang.

Ini 99 kali membunuh mau taubat orang ini, mau ditaruh dimana dosaku?. Dia datang kepada seorang ulama dan ulama itu berkata “tidak ada pengampunan untukmu 99 kali membunuh, dosa paling besar nomor dua membunuh, ini 99 kali membunuh”. Maka orang ini marah dan membunuh ulama itu, sudah 99 kali membunuh dan yang keseratus ulama yang dibunuh. Ia berfikir ingin taubat lagi sudah seratus kali berbuat dosa yang nomor dua paling besar dari semua dosa. Ada yang pernah mengatakan, “mau kau pengampunan?, pergi kesana, ke kampung orang shalih, ardhusshalihin, sana istighfar, doa kepada Allah ibadah barangkali Allah terima taubatmu”.

Maka ia pun berangkat kesana, ditengah perjalanan wafat, wafat ditengah perjalanan belum sampai kesana belum melakukan ibadah apapun. Maka Rasul saw meneruskan ceritanya, ketika kejadian itu maka diukurlah mana yang lebih dekat jarak, jarak antara dia dengan tempat terakhir terdekat, dekat ke arah terakhir membunuh ulama atau lebih dekat ketempat perkampungan shalihin yang akan dia tuju, kalau lebih dekat kesana ketujuannya, maka ia diampuni oleh Allah dilimpahi rahmat Allah karena niat, tapi kalau lebih dekat kesini, maka ia dilimpahi azab karena memang belum pernah berbuat ibadah.

Ini orang bertaubat tapi belum beramal shalih amal buruknya 100 kali membunuh, amal shalihnya sedikit maka Allah swt melihat jarak antara dia ke arah tujuannya dengan arah terakhir ia membunuh, sama-sama tidak lebih kesana, tidak lebih kesini. Lalu bagaimana dengan orang ini, Allah memerintahkan bumi agar merapat ke arah ardhusshalihin dan memuai ke arah bumi terakhir kali ia membunuh.

Ini perintah Allah, maka bumi patuh memang bumi milik Allah, setiap debu yang diatas bumi memang milik Allah, memang bumi tidak ada kalau bukan Allah yang mencipta, hewan dan tumbuhan tidak pernah ada kalau bukan Allah yang menciptakan, Allah yang menciptakan seluruh sifat, seluruh warna seluruh bentuk makhluknya, seluruh kehidupan bumi pun taat dengan perintah Allah. Kita lihat maka hamba itu lebih dekat ke tempat abdhusshalihin, maka ia di dalam pengampunan Allah, siapa? Orang yang sudah 100 kali membunuh dengan berbuat dosa nomor dua dari dosa yang paling besar.

Demikian luasnya hadirin hadirat pengampunan Rabbul Alamin, betapa meruginya mereka yang masih meragukan maafnya Allah, betapa meruginya mereka yang menolak lamaran Allah jalla wa’ala untuk mendekat. Hadirin hadirat demikian luasnya rahmat illahi, maka bagaimana dengan kita yang masih duduk santai dan menunda-nunda taubat di bulan taubat ini.

Hadirin hadirat yang dmuliakan Allah,
Yang ketiga adalah “durhaka pada ayah dan bunda”. Hadits ini riwayat Shahih bukhari dan juga dijelaskan di dalam Shahih Muslim Al Imam Nawawi hujjatul islam wabarakatul a’nam dalam Syarah Nawawi ala Shahih Muslim memberi kejelasan makna kalimat ini adalah seseorang itu wajib taat kepada seluruh perintah ayah bundanya dan seandainya ia tidak mampu taat, maka yang dilarang adalah menyakiti hati ayah bundanya, itu yang dilarang dalam kalimat u’quq walidain.

Jadi yang dilarang itu menyakiti ayah bundanya, kalau seandainya ia tidak mampu taat perintah ayah bundanya ya tidak apa-apa, akan tetapi yang dikatakan dosa durhaka kepada kedua orangtua yaitu menyakiti hati mereka, jadi kalau seandainya kita tidak mau diperintah oleh orangtua maka menolaknya dengan indah menolaknya itu dengan lembut dengan kasih sayang dan ramah. Inilah cara penolakan, walaupun kita tidak mampu melaksanakan perintah ayah bunda, kita menolaknya dengan kasih sayang.

Demikian hadirin hadirat, karena apa? karena berbakti kepada orangtua pahalanya melebihi jihad, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari, Rasul Saw ditanya “amal apa yang paling afdhal?”, Rasul Saw menjawab “sholat pada waktunya”, yang kedua adalah “bakti kepada orangtua”, dan yang ketiga baru “jihad fisabilillah”.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa ketika salah seorang pemuda datang kepada Rasul Saw “ya Rasulullah aku ingin ikut hijrah bersamamu” , maka Rasul Saw menjawab “apakah kau memiliki ayah bunda?” maka ia menjawab “punya yaa Rasulullah”, “bagaimana kau tinggalkan ayah bundamu mereka ridho?” Maka ia menjawab “aku tinggalkan mereka berdua itu dan menangis”, maksudnya tidak ridho berat meninggalkan anaknya. Rasul saw menjawab “sekarang kembali kau”.

Rasul Saw tahu, ini ayah bundanya cinta pada anaknya, tidak mau kulepas dan tidak mau berpisah dengan anaknya, anaknya ini pahlawan jihad, maka Rasul Saw menjadikan dua masalah ini bersatu, anaknya diperintahkan kembali, “kembali kau pada ibumu, bakti kau pada ayah ibumu, sebagaimana kau buat mereka menangis, sekarang kau harus buat mereka tersenyum dan dalam perbuatanmu itu pahala jihad”. Kau ingin pahala jihad? kembali bakti pada ayah bundamu, buat mereka tersenyum itu pahala jihad, jadi membuat ayahbunda tersenyum itu mendapat pahala jihad.

Hadirin hadirat diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika Abu Hurairah Ra akan datang pada Rasul “ya Rasulullah”, beliau menangis, Rasul Saw bertanya “kau ini kenapa ya abu hurairah?” Abu hurairah Ra berkata “ibuku ya Rasulullah tidak mau masuk islam”, musyrik, musyrikan kaffiran. Malu aku sujud siang malam aku ini, ibuku ini tidak mau masuk islam, bahkan ia memaksaku untuk keluar dari islam. Ini anak yang berbakti kepada ibunya, Abu Hurairah Ra cinta kepada ibunya. Ibunya memaksa ia keluar dari islam, ia tidak mau keluar dari islam, karena apa? “jangan mau taat kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah”. Keluar dari islam tentu perintah ibunya, Abu Hurairah Ra tidak mau, tapi dia tidak berbuat buruk kepada ibunya, tidak mencacinya, tidak memarahinya.

Ia datang kepada Rasul Saw, “lalu apa yang kau mau ya aba hurairah?”, Abu Hurairah Ra menjawab “doakan agar ibuku ini dapat hidayah”. Disinilah hadirin-hadirat, baktinya Abu Hurairah Ra kepada ibunya, ia tidak marah kepada ibunya, tidak membentaknya, beliau datang kepada Rasulullah Saw, menangis minta didoakan supaya ibunya dapat hidayah. Inilah bakti, maka Rasul Saw mengangkat tangannya tinggi dan berdoa untuk ibunya Abu Hurairah “wahai Allah beri hidayah untuk ibunya abu hurairah”, Abu Hurairah Ra pulang ke rumahnya.

Beberapa menit balik lagi, wajahnya cerah, Rasul Saw bertanya “ya Abu Hurairah, kau datang sekarang dengan wajah yang berbeda, tadi dengan sedih sekarang dengan cerah kenapa?”, Abu Hurairah menjawab “Ibuku masuk islam ditanganku, ya rasulullah”. Doa Sayyidina Muhammad Saw dan juga diikuti dengan anak yang shalih, bakti kepada ibunya. Beda seandainya Abu Hurairah Ra berkata dari awal, “ibu kalau kau seandainya memaksaku keluar dari islam silahkan, mau mati, mau kelaparan, mau marah silahkan, aku tidak akan keluar dari islam”. Perbuatan ini benar tapi bukan bakti.

Bakti kepada orang tua adalah mencari cara supaya ibunya dapat hidayah, maka Rasul Saw cerah wajahnya, maka Rasulullah Saw berdoa “wahai Allah ampunilah Abu Hurairah dan ibunya Abu Hurairah dan orang yang mendoakan Abu Hurairah dan ibunya Abu Hurairah” sejak itu Anas Bin Malik Ra yang meriwayatkan hadist ini berkata “sejak itu kami selalu mendoakan Abu Hurairah dan ibunya, karena orang yang mendoakan Abu Hurairah Ra dan ibunya didoakan oleh Rasul saw” karena apa? karena baktinya Abu Hurairah kepada ibunya.

Diriwayatkan dalam Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari bahwa Abu Hurairah Ra itu kalau mau pergi, dan ia bangunkan rumah khusus untuk ibunya disebelah rumahnya. Kalau ia mau keluar rumah pasti salam dulu di pintu rumah ibunya “Assalamu’alaikum wahai ibunda”, kalau belum dijawab Abu Hurairah tidak akan bergerak dari pintu rumah ibunya, berdiri tegak sampai ibunya menjawab diijinkan pergi, kalau tidak beliau radhiyallahhuanhum tetap berdiri di depan pintu ibunya. Pulang tidak masuk rumahnya sebelum lagi berdiri dipintu rumah ibunya mengucap salam kepada ibunya. Demikian hebatnya para sahabat radhiyallahhuanhum mewarisi kemuliaan ini.

Hadirin hadirat yang terakhir adalah “sumpah palsu”. Malam selasa yang lalu, sudah saya perjelas bahwa ketika kita menyebut nama Allah, demi Allah tapi ternyata ada yang lebih baik daripada itu, maka sebaiknya ia membayar kafaratnya lantas ia meninggalkan sumpahnya. Misalnya berkata “Demi Allah, kalau sampai temanku itu kujumpai akan kutampar”, misalnya begitu. Temannya berbuat salah lantas ia berfikir bahwa itu dosa, aku ini sumpah atas nama Allah untuk dosa, boleh ia tinggalkan sumpahnya bayar kafaratnya lalu aku tidak menjalankan sumpahku, boleh, karena apa? karena hal yang membawa manfaat meninggalkan sumpahnya lebih maslahat, tapi sebaliknya kau boleh zuhr adalah sumpah palsu.

Al Imam Nawawi dalam Syarah Nawawi ala Shahih Muslim dijelaskan yang dimaksud sumpah palsu disini, ia bersumpah untuk menutupi sebuah aib, ia tutupi dengan nama Allah. Ia bersumpah dengan nama Allah untuk menutupi suatu aib, misal ia seorang pedagang dagangannya ada aibnya orang yang membeli tanya “ini ada aibnya tidak?”, “Demi Allah tidak ada aibnya ini sempurna padahal ada aibnya”, ucapan ini adalah derajat keempat dari dosa yang paling besar.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikianlah Allah swt mengatur kesempurnaan hidup kita ini dan Allah swt tiada henti-hentinya melimpahkan rahmat dan kebahagiaan kepada kita, pengampunanNya tiada pernah terhenti. Kita bermunajat kepada Allah Swt semoga Allah Swt memuliakan jiwa kita dan jasad kita selalu dalam rahmat dan keberkahan.

Yaa Rahman Yaa Rahiim kami berdoa untuk kedua mempelai yang baru saja menikah agar dilimpahi cahaya keberkahan dhahiran wa bathinan dan ayah-ayah mereka dan ibu-ibu mereka agar dilimpahi kebahagiaan.

Yaa Rahman Yaa Rahiim dan juga para tamu-tamu kami khususnya yang datang dari jauh daripada rombongan fadhilathul ustadz da’i illaAllah Al Ustadz Muhammad zuhiri mata’anallahubihi, imam Masjid Jami Al Falah, Subang Jawai, Kuala Lumpur bersama jamaahnya semoga dilimpahi keberkahan dhahiran wa bathinan, Jazakumullah Khair mereka telah datang berkunjung kepada kita disini semoga Allah menyatukan jiwa kita untuk selalu bersilaturahmi, di dalam silaturahmi yang nabawiy.

Yaa Rahman Yaa Rahiim dan kita juga berdoa untuk diri kita semua semoga Allah menghapus seluruh dosa-dosa kita sehingga Allah terus mendekatkan kita kehadirat-Nya Yaa Rahman Yaa Rahiim terus tambahkan hidayah pada jiwa kami yaa Rabb.

Yaa Rahman Yaa Rahiim tambahkan kemuliaan dalam hari-hari kami, kemuliaan dunia dan akhirat, ashshiyabul maknawiyah keberkahan Rabbiy Rabbiy Yaa Rahman Yaa Rahiim limpahkan atas kami dunia dan akhirat Yaa dzal jalali wal ikram Yaa dzatauhid wal in’am.

Wahai Yang Menguasai setiap nafas Wahai Yang Menguasai setiap sel tubuh kami, Wahai Yang Maha Melihat, Wahai Yang Maha Mendengar, Wahai Yang Maha Menguasai keadaan, Wahai Yang Maha Mengetahui apa yang akan terjadi esok pada seluruh diri kami yang hadir, Wahai Yang Maha Melihat semua yang akan terjadi esok pada semua kami yang hadir, Wahai Yang Maha Melihat seluruh jiwa kami dan seluruh dosa-dosa kami, Yaa Rahman Yaa Rahiim kami mengadukan dosa kami, kami mengadukan buruknya amal kami, kami mengadukan lemahnya ketaatan kami, kepada siapa kami mengadukan dosa kalau bukan kepada samudera pengampunan, kepada siapa kami mengadukan buruknya amal kalau bukan kepada Yang Maha Merubah Keadaan, kepada siapa kami mengadukan keadaan kami dan kelemahan kami dalam taat kalau bukan kepada Yang Maha Memberi Kekuatan.

Yaa Rahman Yaa Rahiim terangi jiwa kami dengan NamaMu terangi hari-hari kami dengan cahaya NamaMu terangi bibir kami dan hari-hari kami dengan keberkahan Nama-Mu .

Fa kullu jami’an yaa Allah yaa Alla. yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah.

Hadirin hadirat mintalah kepada Allah agar menerangi detik-detik dan hari-harimu dengan NamaNya Yang Maha Luhur hingga kebahagiaan tercurah dan rahmat pada setiap detik dalam setiap nafasmu berdoalah kepada Allah agar Allah jadikan setiap nafas kita adalah adalah keagungan Nama-Nya Allah jadikan hari-hari kita hari-hari taubat lalu Allah jadikan hari-hari kita hari-hari keberkahan.

Hadirin hadirat jangan bosan memanggil nama Allah adakah dalam jiwamu terlintas sudah cukup aku memanggil nama Allah segitukah rindu kita kepada Allah sebatas itukah keinginan kita untuk rindu dan cinta kepada Allah serulah Nama-Nya lampiaskan kerinduan kita kehadirat-Nya.

Fa kullu jami’an yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah ya Allah yaa Allah yaa Allah ya Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah ya Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah.

Yaa Allah undang jiwa kami untuk khusyuk, Rabbiy undang jiwa kami untuk mau bersujud, yaa Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah, Yaa Dzal jalali wal ikram Yaa dzatauhid wal in’am.

Hadirin-hadirat malam rabu yang akan datang kita semua Insya Allah diberi kesempatan hadir dan bagi saudara-saudari kita yang bisa hadir untuk perkumpulan di malam mi’raj Nabi Muhammad saw. Kita akan berdzikir Yaa Allah sebanyak 1000X semoga bergemuruh jiwa kita cahaya Nama Allah Swt, Insya Allah dihadiri lebih dari 300.000 muslimin muslimat, kita gemparkan dan kita gegarkan bumi Jakarta dengan Nama Allah Jalla Wa’ala.

Hadirin hadirat kita akan melihat jamaah Sayyidina Muhammad Saw berkumpul dimalam isra wal mi’raj, malam rabu yang akan datang. Bagi yang mempunyai kesempatan untuk hadir, silahkan hadir dan yang tidak mempunyai kesempatan maka doakan acara sukses dan dalam acara yang akan datang ini dan mereka yang mampu untuk turut mengundang teman dan saudanya, jadikanlah hari-hari kita berbakti pada Allah Swt dan Rasul Saw dengan handphone kita, dengan sms kita, dengan telepon kita, dengan kendaraan kita, dengan bibir kita, dengan harta kita, dengan semua yang kita mampu baktikan untuk suksesnya acara isra wal mi’raj dan dzikir bersama Majelis Rasulullah Saw, inilah syiar besar kita untuk menenangkan muslimin muslimat dari api fitnah dan untuk demi terangkatnya segala musibah dari muslimin muslimat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Semoga acara ini akan sukses dan semoga kita semua dilimpahi keberkahan disingkirkan dari segala rintangan yang muncul dalam pengadaan acara ini, yaa rahman yaa rahiim, sekaligus juga saya mengumumkan pindahnya Markas Majelis Rasulullah Saw dari alamat yang di Tebet ke wilayah Pengadegan pada alamat yang baru dan telah dibagikan kepada hadirin-hadirat alamat dan nomor teleponnya dan semoga markas yang baru ini kembali menjadi Fattah dan pembuka kemenangan bagi dakwah Nabi kita Muhammad Saw .

Kita doakan tamu-tamu kita, Al Habib Musthofa, tamu-tamu kita dari Kuala Lumpur dan guru kita fadhilathul ustadz da’i illaAllah K.H. Khairullah, fadhilathul ustadz da’i illaAllah K.H. Hasan Khalid dan imam masjid Jami Annuur Bpk. K.H. Muhammad Shafi dan juga keluarga besar kedua mempelai semoga dilimpahi keberkahan dhahiran wa bathinan dan tamu kita yang akan kembali ke luar negeri esok lusa yang akan datang semoga dilimpahi keberkahan dan semoga mempunyai waktu tamu-tamu dari Singapura dan Kuala Lumpur untuk hadir malam rabu yang akan datang Wassalallahu wassallam wabarik ‘ala Nabina Muhammadin wa’ala alihi washohbihi wassallam, Dan acara ini akan dihadiri oleh beberapa pejabat – pejabat kita, kita bersatu dengan para pejabat kita agar diterangi cahaya dzikir, agar mereka lebih peduli kepada islam, lebih peduli kepada dakwah. Pemimpin-pemimpin kita, pejabat-pejabat kita, kita kumpulkan di acara malam rabu yang akan datang agar mereka terang benderang dengan cahaya dzikir dan lebih peduli kepada dakwah islamiyyah dan kepentingan islam. Walhamdulillahirabbil’alamin.wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

3 September 2012

Muslim Yang Paling Utama

oleh alifbraja

0
عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ ، قَالُوْا ياَ رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ اْلِإسْلاَمِ أَفْضَلُ ؟ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

( صحيح البخاري )

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Muslim manakah yang paling utama ?” Maka Rasulullah sahallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : ” seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya ” ( Shahih Al Bukhari )

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ واَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجمَعِ اْلعَظِيْمِ وَفِيْ هذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ…

Limpahan puji ke hadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur , Maha membangun kerajaan alam semesta , cahaya keindahan yang menerbitkan kebahagiaan yang fana dan kebahagiaan yang kekal , cahaya tunggal yang menerbitkan segala keindahan yang ada di alam semesta , cahaya kenikmatan sumber dari segala kenikmatan berpadu seluruh keluhuran pada keagungan nama Allah , dan terbukalah rahasia keindahan Ilahi dan semerbak keagungan-Nya , dengan keagungan ” Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah ” , terbuka semerbak keagungan Rabbul ‘Alamin dan cahaya kecintaan dan kasih sayang-Nya dengan kalimat ” Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah ” , itulah gerbang keluhuran yang pertama , yang jika seseorang memasukinya maka ia telah berada dalam koridor muslimin dan berada dalam cahaya rahmat Ilahi siang dan malam tinggallah ia berusaha menuju dan mendekat ke hadirat Allah sepanjang waktu dalam hidupnya , hidup yang berada diantara alam rahimnya dan alam barzakhnya yaitu alam kehidupan dunia .

Alam kehidupan dunia yang diawali dari air mani dan diakhiri dengan bangkai , itulah awal kita . Awal kita adalah air mani dan akhirnya adalah bangkai lalu apa diantara keduanya ? apakah tetap di dalam kehinaan hawa nafsu atau bangkai atau di dalam keluhuran dan kemuliaan ? . Bisa terbuka cahaya keluhuran Ilahi di dalam kehidupan ini , namun jangan biarkan kita terus berada dalam kehinaan . Hingga hadirlah kita di malam mulia ini , di majelis agung ini dengan harapan hal ini bisa menjadi pembuka bagi tabir-tabir yang menutup kita menuju keluhuran , kebahagian , kedamaian , dan semoga dengan kehadiran kita di malam mulia ini juga Allah tutupi segala musibah dan semua hal yang menghalangi kita , dan kesulitan yang akan datang pada kita di dunia dan akhirah , Amin Ya Rabbal ‘Alamin .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Tidak terlewat satu detik pun terkecuali bumi telah menyaksikan jasad seorang pendosa telah dipendam ke dalamnya . Tidak satu detik pun terkecuali bumi menyaksikan bayi yang baru terlahir ke muka bumi . Demikian kehidupan terbit dan terbenamnya matahari , kelahiran dan kematian terus bergulir . Berputar antara kematian orang yang shalih , maka ia mengawali kematiannya dengan keluhuran yang kekal , namun kematian orang yang fasik maka ia mengawali kematian dengan musibah yang kekal . Dan pemisah dari keduanya ini adalah tuntunan sang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , beruntung mereka yang berada dalam tuntunan sang Nabi , berada dalam kecintaan kepada sang Nabi dan kecintaan kepada Allah subhanahu wata’ala tentunya , maka ia berada dalam keberuntungan yang kekal . Dijelaskan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika jasad dibaringkan ke dalam lahatnya dan ketika ruh ditinggal sendiri oleh para kerabat yang telah menguburkan , ruh itu masih mendengar hentakan kaki orang-orang yang meninggalkan kuburnya , kemudian ruh itu bertemu dengan dua malaikat yang menanyakannya :

مَا عِلْمُكَ بِمُحَمَّدٍ ؟

” Apa pengetahuanmu tentang Muhammad ?” Maksudnya , pengetahuan dia tentang Muhammad sampai dimana ? demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Kalau ia menjawab : ” Aku beriman kepadanya , aku mengikuti ajarannya dan aku mencintainya ” , maka malaikat berkata : ” Tidurlah dengan tenang wahai orang shalih , kami sekarang mengetahui bahwa engkau adalah orang yang beriman ” . Tetapi orang yang tidak beriman ketika ditanya oleh malaikat : ” Siapa Muhammad ” ? , maka ia akan menjawab : ” aku tidak tau siapa nabi Muhammad ” , karena selama di muka bumi ia selalu berpaling dari majelis-majelis nabi Muhammad , selalu berpaling dari masjid , selalu menjauh dari majelis ta’lim , selalu menghindar dari majelis zikir , selalu menjauh dari hal-hal yang mulia dan selalu ingin pada hal yang hina , maka disaat itu ia tidak mengenal dengan sang pembawa kemuliaan . Maka ketika ia ditanya oleh malaikat ia berkata : ” Laa adrii ” ( aku tidak tahu ) , maka ia akan mendapatkan musibah yang kekal di dalam kuburnya sampai hari kiamat ( wal ‘iyaadzubillah ) .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits agung ini , dijelaskan oleh Abu Musa Al Asy’ari bahwa ia mendengar para sahabat bertanya kepada Rasulullah :

أَيُّ اْلإِسْلاَم أَفْضَلُ ؟

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Baari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini , yang dimaksud adalah :

أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ أَفْضَلُ

” Muslim yang mana yang paling utama “

Karena Al Imam Ibn Hajar mengkaitkan dengan beberapa riwayat Shahih Muslim dan lainnya bahwa hadits ini juga teriwayatkan dengan shighah :

أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ أَفْضَلُ

” Muslim manakah yang paling utama ? ” Maka Rasulullah sahallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

” seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya ”

Seorang muslim dilihat kadar kebaikannya adalah dengan selamatnya orang lain sebab ucapan dan tangannya . Muslim yang lain tidak terganggu dengan tangan atau lidahnya , tangan bisa mengganggu dengan memukul , menyebar fitnah dengan sms hal itu juga termasuk mengganggu dengan tangan , bisa juga dengan ucapan fitnah dan lain sebagainya . Muslim lain tidak terganggu sebab ucapannya dan tangannya , ini adalah derajat terendah . Namun yang dimaksud dalam hadits ini demikian luas maknanya yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar . Maksudnya adalah , orang muslim lain selamat sebab lidah dan tangannya , bisa dengan doa karena ia mendoakan muslim lainnya dan ia mengangkat kedua tangannya bermunajat kepada Allah untuk muslimin lainnya , maka Allah selamatkan muslim lainnya dengan doanya , maka ini juga termasuk ke dalam hadits ini , inilah afdhaliyah seorang muslim .

Semakin mulia seorang muslim maka semakin banyak ia memberi manfaat untuk orang-orang muslim lainnya . Siapa yang paling banyak menyelamatkan muslim lainnya ? dialah sayyidina Muhammad shallallahu ‘laihi wasallam . Hadits ini sungguh memendam rahasia makna bahwa orang-orang yang mulia itu menyelamatkan muslim lainnya menuju keluhuran , baik dengan tangannya walaupun sekedar sms aja , atau dengan ucapan lembut yang menasehati saudaranya , dengan hartanya , dengan langkahnya atau dengan yang lainnya . Semakin ia memberikan manfaat kepada muslim lainnya maka semakin afdhal keislamannya . Hadirin hadirat , kita melihat kalimat hadits ini yang sedemikian ringkas , tetapi ia mencakup hampir seluruh kemuliaan amal ibadah , semakin banyak seseorang beribadah maka semakin banyak memberi manfaat untuk muslimin yang lainnya , diantara ibadah itu ketika dalam shalat kita telah mendoakan muslim yang lainnya dengan ucapan :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ

( الفاتحة : 6-7 )

” Tunjukkan kami jalan yang lurus ( yaitu ) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya , bukan jalan mereka yang Engkau murkai , dan bukan pula jalan mereka yang sesat ” . ( QS . Al Fatihah : 6-7 )

itu adalah nafas-nafas doa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk keturunan Adam yang ada di masa beliau hingga akhir zaman agar diberi hidayah oleh Allah . Seseorang yang mau berdoa dengan niat makna seperti ini maka ia satu cita-cita dan satu perasaan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . ” Ya Allah , tunjukkan kami ( seluruh keturunan Adam ) ke jalan yang lurus , yang masih dalam kemaksiatan , yang sedang berzina , yang akan berzina , yang mau berjudi , yang sedang berjudi , yang dalam kemunkaran , yang menyembah selain Allah , yang mengakui ada Tuhan selain Allah ” , maka semua nama itu terkena doa itu , semua nama itu terkena ucapan itu ketika kita perdalam maknanya . Karena doa itu telah mencakup untuk semua muslimin yang terkena musibah baik itu gempa , kebakaran , kecurian dan segala musibah kesedihan , maka semua itu telah kau doakan agar Allah selamatkan mereka menuju keluhuran . Semua ini adalah cita-cita nabi Muhammad , inilah jiwa nabi Muhammad dan ucapan itu terlafazhkan dalam setiap rakaat shalat kita .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu Allah berfirman di dalam hadits qudsy riwayat Shahih Muslim , bahwa ketika seseorang dalam shalatnya mengucapkan :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Maka Allah subhanahu wata’ala menjawab :

هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل

” Ini untuk hamba-Ku , dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta “

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Paling tidak jika kita mendoakan seluruh orang yang terkena musibah , yang dalam kesulitan , yang dalam kesesatan , yang dalam dosa , yang belum mendapat hidayah . Diantara milyaran nama penduduk bumi , ada satu namamu disitu dan nama itu pastilah yang disayangi Allah karena mendoakan milyaran nama lainnya . Hadirin hadirat , jadilah satu nama diantara milyaran nama yang mendoakan milyaran nama-nama tersebut .

Kita bayangkan Allah melihat permukaan bumi di barat dan timur ini , yang disana ada yang tobat , ada yang bermaksiat , ada yang menyembah selain Allah , ada yang masuk Islam , ada yang mencaci , dan ada yang memaafkan , Allah melihat semua itu dan Allah melihat ada satu jiwa yang mendoakan , semuanya didoakan oleh satu orang dengan berkata : ” Ya Rabb jadikanlah kami semua dalam kenikmatan , yang dalam kenikmatan tambahkan kenikmatannya , yang belum mendapat hidayah berilah hidayah , yang dalam musibah berikan kemudahan , yang dalam kesesatan berikan hidayah ” , satu jiwa mendoakan seluruh nama itu maka yang satu ini dipandang oleh Allah daripada yang lainnya . Maka paling tidak Allah akan memberi untuknya kenikmatan , hidayah dan jauh dari kesesatan karena telah satu perasaan dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian indahnya alam ma’rifah , semakin kita dalami makna kehidupan ini , semakin kita dalami makna ucapan yang yang kita ucapakn maka akan semakin indah hari-hari kita , semakin mulia kehidupan kita . Oleh sebab itu tidaklah mustahil jika orang-orang yang ma’rifah billah itu , yang nampaknya tidak terlalu banyak ibadahnya tetapi derajat mereka terus meningkat demikian cepatnya karena getaran jiwanya . Ketika seseorang mengucapkan Fatihah seribu kali , ia mengucapkannya sekali tetapi dengan makna yang begitu dalam dia rangkum seluruh nama penduduk bumi di dalam doanya , sungguh sangat jauh berbeda , semakin tinggi derajat sanubari dalam tangga-tangga keluhuran Ilahi , maka semakin luhur setiap getaran ucapannya , semakin luhur setiap getaran perasaannya . Inilah indahnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang terus mendoakan ummatnya dengan doa :

اَللّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ

” Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku , sesungguhnya mereka tidak mengetahui “

Yang didoakan adalah orang yang memerangi beliau , beliau tidak diam atas musuh-musuh yang memerangi beliau dan membahayakan muslimin beliau tetap membela diri , namun beliau masih ingin musuh-musuh itu masuk Islam , jika tidak mungkin anak-anaknya . Rasulullah lebih sayang kepada musuhnya daripada musuhnya terhadap diri mereka sendiri , Rasulullah fikirkan keturunannya , kalau tidak mereka mungkin anak-anak mereka yang akan masuk Islam . Anak-anak orang yang memerangi beliau , yang mengejar dan melempari beliau , orang-orang yang meludahi beliau . Rasul masih ingin menyelamatkan mereka , kalau tidak mereka maka anak-anaknya yang selamat , demikian indahnya budi pekerti makhluk terindah ciptaan Allah subhanahu wata’ala , sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Jika musuh-musuhnya tidak selamat paling tidak anak-anaknya yang selamat , inilah indahnya budi pekerti sang Nabi . Semoga jiwa agung dan luhur seperti ini tersebar luas dalam penduduk bumi di saat ini , maka akan menjadi rahmah bagi alam sekitar , karena keberadaan orang seperti ini yang terus ia di dalam shalatnya mengucapkan :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Dia telah berdoa membawa seluruh nama penduduk bumi , dia sudah membawa doa sang nabi , dia sudah limpahan-limpahan doa untuk seluruh masalah yang ada di seluruh permukaan bumi yang menimpa manusia , baik yang muslim atau yang non muslim . Yang di luar Islam agar dapat hidayah ke dalam Islam , yang dalam keislaman jika ia dalam musibah agar diberi kemudahan , yang dalam kesesatan aqidah supaya diberi petunjuk , yang dalam kenikmatan supaya ditambah kenikmatannya . Demikian indahnya doa surah Al Fatihah , oleh sebab itu ketika di majelis-majelis terus baca surah Alfatihah diulang-ulang , karena maknanya sangat agung dan luhur , hal ini membuka rahasia keluhuran yang membuat kita sangat dekat ke hadirat Rabbul ‘alamin subhanahu wa’alaa .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Rasul shallallahu ‘alihi wasallam bersabada :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Belum sempurna iman kalian sampai aku lebih dicintainya dari ayah dan ibunya, dari anak- anaknya, dan dari seluruh manusia”.

Karena cintanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita lebih dari cintanya semua orang yang cinta kepada kita , ayah ibu kita tidak melebihi cintanya Rasulullah kepada kita . Dan orang yang cinta kepada ayah ibunya , berbakti kepada ayah ibunya , berbakti kepada semua keluarganya , itu semua mengikuti tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Kalau seseorang mencintai Rasul maka seorang istri tidak akan menghianati suami , anak akan taat kepada ayah ibunya , dan ayah ibu tidak akan khianat pada amanah atas anaknya , karena ia mencintai sayyidina Muhammad dan mengikuti sang Nabi dan Allah tuntun ia menuju ke jalan-jalan luhur . Oleh karena itulah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk selalu mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , kalaupun seandainya terjebak dalam dosa kelak di akhir zaman , tetap orang yang mencintai akan bersama orang yang dicintai , kalau ia mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , maka keluarganya , ayah ibu dan anak-anaknya bisa ia tolong dengan memohonkan syafaat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam karena ia mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasul pun mencintainya .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul tidak mengusir orang yang hendak masuk ke rumahnya , walaupun ia seorang yahudi yang mau masuk ke rumahnnya . Seorang yahudi datang ke rumah nabi dan berkhidmah di rumah nabi Muhammad , maka beliau memberinya izin . Seorang yahudi yang musyrik ingin masuk ke rumah beliau dan tinggal di rumah baliau , maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menolaknya . Kalau kita renungkan demikian indah budi pekerti sang Nabi , bagaimana kalau kita yang memohon izin untuk masuk ke rumah Rasulullah , maka mustahil beliau akan menolaknya . Semoga aku dan kalian diizinkan masuk ke istana Firdaus , karena istana yang paling megah di surga adalah istana nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sayyidina Hassan bin Tsabit Ra adalah seorang yang suka memuji Rasulullah dengan syair , dan Rasul sahallalllahu ‘alaihi wasallam mengizinkan untuk membacakan syairnya baik di dalam masjid atau di luar masjid . Bahkan di Masjid Nabawy diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Hassan bin Tsabit membaca syair pujian untuk sang nabi , maka hal ini kita teruskan sampai sekarang , jadi membaca syair atau maulid Nabi yang ini adalah pujian kepada Allah dan Rasul di dalam masjid itu sudah ada di masa Rasul dan diperbolehkan oleh Rasul , namun sudah mulai tidak dikenal lagi di masa ini bahkan dianggap bid’ah , maka hal ini harus kita teruskan lagi , karena akhir zaman itu tanda-tandanya adalah yang sunnah dikatakan bid’ah , dan yang bid’ah dikatakan sunnah , ulama’ dikatakan jahil dan yang jahil dikatakan ulama’ , orang yang shalih dikatakan penyihir dan penyihir dikatakan orang yang shalih , inilah keadaan akhir zaman . Oleh sebab itu kita hidupkan lagi sunnah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang sahabat tidak menyukai Hassan bin Tsabit maka sayyidah Aisyah menghardik sahabat yang tidak menyukai sayyidina Hassan bin Tsabit seraya berkata : Jangan kalian mencaci sayyidina Hassan bin Tsabit karena dia dulu selalu memuji Rasulullah di hadapan beliau maka Rasulullah bangga dan senang terhadap Hassan bin Tsabit bahkan di doakan oleh Rasulullah . Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari Rasulullah mendoakannya :

اَللّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوْحِ اْلقُدُسِ

” Ya Allah tolonglah Hassan dengan perantara Jibril As “

Belum pernah Rasul mendoakan seorang sahabat dengan doa sedahsyat ini , sampai meminta agar Jibril menolong langsung Hassan bin Tsabit , orang yang asyik memuji Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam . Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Dalam riwayat yang tsiqah ( kuat ) bahwa pada beberapa waktu yang lalu Syaikh Farazdaq orang yang selalu memuji Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam . Ia terus menerus memuji Rasul , kalau kita sekarang pujian-pujian itu seperti qasidah , maka setiap tahun dia selalu datang ke maqam Rasul di Masjid Nabawy dan membaca syair-syair pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah itu pulang , setiap tahunnya seperti itu . Dan setelah beberapa tahun datanglah seseorang menegurnya dan mengundangnya makan malam ke rumahnya.

Di Negara-negara timur tengah merupakan hal yang biasa jika ada orang asing di kampung mereka kemudian di undang ke rumah mereka untuk makan bersama , itu adalah hal yang umum disana . Maka Farazdaq sampailah di suatu tempat di luar kota Madinah dan masuklah ia ke dalam sebuah rumah besar , kemudian ia dipegangi oleh beberapa pengawal orang yang mengundangnya , dan orang yang mengundang itu berkata : ” aku benci jika engkau memuji Rasulu , sekarang akan aku gunting lidahmu agar kau tidak bisa lagi membaca syair untuk memuji Rasul ” maka ia pun memaksanya dan mengeluarkan lidahnya dan menggunting lidah Farazdaq dan melepaskannya dan memberikan lidah itu kepada Farazdaq kemudian menyuruhnya pergi .

Maka Farazdaq pergi dan menangis menahan sakit bathin dan sakit zhahirnya , sakit zhahirnya bagaimana rasa sakit jika lidah digunting , dan sakit bathinnya karena ia tidak bisa lagi membaca syair untuk memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Sebagaimana biasa maka ia pun pergi ke makam Rasulullah dan ia bersandar di hadrah as syarif di dalam masjid nabawy , dan ia berkata di dalam doanya : ” Wahai Allah , kalau shahibul maqam ini ( Rasulullah ) memang benci dengan perbuatanku ini maka biarkan aku agar tidak lagi memujinya , tetapi jika Engkau meridhai dan shahibul maqam ini ( Rasulullah ) senang jika aku terus memujinya dengan syair maka sembuhkanlah aku ” , maka ia pun dalam tangisnya tertidur dan didalam tidurnya ia bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam berhadapan dengannya dan berkata : ” mana lidahmu yang digunting oleh orang itu , ? kemudian diambil oleh Rasul dan beliau berkata : ” buka mulutmu ” dan dikembalikan ke mulutnya dan Rasul berkata : ” aku gembira dengan perbuatanmu , maka teruskanlah dakwahmu dan syairmu ” , maka ia terbangun dan ia dapati lidahnya telah kembali pada posisinya .

Kemudian di tahun berikutnya syaikh Farazdaq kembali lagi ke maqam Rasul dan memujinya sebagaimana biasa ia lakukan tiap tahun , dan ada lagi orang yang mengundang untuk makan malam di rumahnya dan ia pun menerima undangan itu dan ia pun dibawa ke rumahnya , ketika dilihat rumah itu adalah rumah yang tahun lalu pernah ia datangi , maka syaikh Farazdaq tidak mau masuk , maka orang itu berkata : ” aku ingin kau masuk , kau jangan risau aku tau kau adalah orang yang baik dan kau lihat aku adalah orang yang jujur ” , maka Syaikh Farazdaq masuk dan dilihat di dalam rumah itu ada sebuah penjara dari besi dan di dalamnya ada seekor kera (monyet) besar dan kera itu terus memandangi dan mengamuk melihat syaikh Farazdaq , maka berkatalah orang yang mengundang syaikh Farazdaq : ” Wahai syaikh taukah engkau siapa yang di dalam kerangka besi itu ” ? maka Farazdaq menjawab : ” itu kera ” , maka lelaki itu berkata : ” itu ayahku yang dulu setahun yang lalu menggunting lidahmu , setelah ia melakukan itu maka Allah merubahnya menjadi seekor kera , wahai syaikh tolong doakan ayahku itu supaya diampuni Allah dan diwafatkan , kasian karena dia telah berubah menjadi kera ” , Maka Syaikh Farazdaq menangis dan mendoakannya dan wafatlah seekor kera itu .

Hal seperti ini tidak mustahil , karena teriwayatkan di dalam Alqur’an dan Hadits shahih tentang keramat-keramat para shahabat dan juga orang-orang terdahulu , sebagaimana Allah berfirman ketika Nabi sulaiman meminta agar singgasana ratu Balqis di pindah ke hadapannya :

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ ¤ قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ ¤ قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

( النمل : 38 – 40 )

” Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya (Ratubalqis) kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri ” , berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya , lalu berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Kitabullah : “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia “. ( QS. An Naml : 38-40 )

Maka seseorang yang memiliki ilmu dari Al Kitab itu dalam sekejap mata telah mendatangkan singgasana ratu Balqis di hadapan nabi Sulaiman . Inilah keramat yang disebutkan di dalam Alqur’an dan juga banyak teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim tentang keramat para shahabat Radhiallahu ‘anhum . Hadirin hadirat , hal seperti ini tidak mustahil karena Yang Maha Memberi mampu memberi .

Kalau seandainya di masa sekarang orang tidak percaya jika ada orang yang hafal 100.000 hadits dengan sanadnya , tetapi di zaman dulu jumlahnya puluhan ribu orang yang seperti ini . Di zaman sekarang hampir mustahil , tetapi kalau kita bicara di masa lalu ada satu juta hadits dalam micro chip sebesar ujung jari , orang zaman dahulu tidak akan percaya apa mungkin satu juta hadits bisa disimpan dalam micro chip sebesar ujung telunjuk?? , itu adalah hal yang mustahil di masa itu , tetapi di masa sekarang hal itu masuk akal . Demikian pula zaman sekarang jika orang menghafal 100.000 hadits mungkin itu sulit , tetapi tentunya sangat mungkin terjadi .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan hari-hari kita dengan keindahan , dengan kemuliaan . Rabbi , kami bermunajat demi cahaya keindahan-Mu maka perindah hari-hari kami , perindah jiwa perindah sanubari kami , perindah siang dan malam kami , perindah pemikiran dan lintasan jiwa kami , perindah usia kami , perindah masa mendatang kami .

Ya Allah , kami menyeru nama-Mu yang tiada seorang pun yang menyeru nama-Mu lalu Kau kecewakan , karena Kau Maha menjawab doa dan kami telah berharap dan Kau telah berfirman di dalam hadits qudsy :

ياَابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِيْ

“ Wahai keturunan Adam, jika kau berharap kepada-Ku dan kau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Ku-hapus dosa kalian tanpa Ku-pertanyakan lagi “

Maka ingatlah dan panggillah nama-Nya , ingatlah firman Allah subhanahu wata’ala di dalam hadits qudsy kepada nabi Daud As :

ياَدَاوُد لَوْ يَعْلَمُ الْمُدْبِرُوْنَ عَنِّيْ شَوْقِي لِعَوْدَتِهِمْ ، وَمَحَبَّتِيْ فِيْ تَوْبَتِهِمْ ، وَرَغْبَتِيْ فِي إِناَبَتِهِمْ لَطاَرُوْا شَوْقًا إِلَيَّ ، يَادَاوُد هَذِهِ رَغْبَتِيْ فِى الْمُدْبِرِيْنَ عَنِّي ، فَكَيْفَ تَكُوْنُ مَحَبَّتِيْ فِى الْمُقْبِلِيْنَ عَلَيَّ…؟

“Wahai Daud : Seandainya orang-orang yg berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka, dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, dan besarnya sambutanku atas kembalinya mereka pada keridhoan Ku, niscaya mereka akan terbang karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikianlah cinta-Ku kepada orang-orang yg berpaling dari Ku (jika mereka ingin kembali), maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yg datang (mencintai dan menjawab cinta Allah ) kepada-Ku?”

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا…

Katakanlah bersama-sama..

يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ…يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ…لاَإلهَ إِلاَّ الله… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ

Hadirin hadirat kita bertawassul kepada Ahlul Badr , Al Habib Sofyan menyampaikan kepada saya, beliau ini usianya lebih dari 80 tahun , dulu ketika beliau berjuang memberantas PKI di Banyuwangi senjatanya adalah Shalawat Badr , Shalawat Badr itu membawa kemenangan dan Fath untuk memberantas komunis dan Malam ini kita bertawassul kepada Ahlul Badr semoga Allah memberi kemenangan dalam kehidupan kita , Allah limpahkan kebahagiaan bagi kita , Allah bahagiakan hari-hari kita , sebelum Shalawat Badr dikumandangkan , kita bacakan Al Fatihah untuk Al marhum salah seorang ayah dari santri kita dari Papua semoga ruh beliau dimuliakan di alam barzakh , dan semoga putranya diberi ketabahan . Dan semoga kita semua yang hadir di malam hari ini bersama Majelis Rasulullah arwahnya dikumpulkan malam ini bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Amin

%d blogger menyukai ini: