Posts tagged ‘Pun’

23 Oktober 2012

Siapa ALLAH? Siapa AKU?

oleh alifbraja

Siapa ALLAH? Siapa AKU?
Apakah tujuan AKU diciptakan?
Apakah benar ada Tuhan yang perlu disembah atau sebaliknya?

Allah ada yang Zahir dan ada yang Bathin, maksudnya ada yang nampak, ada yang tersembunyi, contohnya: ghaib titik, alif yang nyata; titik tersembunyi di dalam alif; atau

>>>>>>>>Ghaib Allah Hamba yang nyata, tetapi esa juga adanya, tampa bercampur, tampa bertempat.<<<<<<<<<<<

Kelihatan dua nama tetapi satu (esa), yang nampak dinamakan Hamba dan yang tersembunyi (bathin) dinamakan Allah.

1_ Tujuan Allah mencipta hambanya, sebanarnya Tuhan ingin menampakkan sifatnya di dunia, kalau tidak nampak siapa yang mengenal.
2_ Allah ingin mengenal dirinya dan memuji dirinya yang zahir, yang paling duminan adalah Rasa.

Berlakunya Sembah, atas kenal mengenal,

yang dikenal puji memuji, yang dipuji, ya_saya, ya_kamu,

itulah sebenarnya sembah.

Semoga saudaraku dilindungi Allah SWT dari was-was. Amin.
NB: KITA SEMUA DUDUK PADA NAMA DAN SIFAT NYA JUA. ZAT NYA ESA, MANA MUNGKIN KITA DUDUK DI LUAR. TIADA ISTILAH DI LUAR KERANA DIA MELIPUTI SEGALA APA YANG TERCIPTA.

15 Oktober 2012

Keagungan Cahaya Allah

oleh alifbraja

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ، اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَ الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Maha Penguasa tunggal dan Maha membangkitkan keluhuran pada jiwa hamba-hambaNya untuk mencapai keluhuran yang lebih luhur, meninggalkan kehinaan menuju kemuliaan, meninggalkan kemuliaan menuju kemuliaan yang lebih mulia lagi, terus menuju gerbang-gerbang keluhuran Ilahi di dalam kenikmatan dan di dalam kesusahan, di dalam siang ataupun malam, dalam segala keadaan gerbang kedekatan kepada Allah selalu terbuka dari Al Qariib ( Yang Maha dekat ),

sebagaimana firmanNya:
“ Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku menjawab permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi seruan Ku dan hendaklah mereka beriman kepada Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran ”. ( QS. Al Baqarah: 186 )

Sungguh Allah Maha dekat, Maha cepat menjawab dan mendekatkan Dzat Nya kepada hamba yang ingin mendekat kepada Nya dengan kedekatan yang cepat dan dahsyat. Diriwayatkan didalam riwayat yang shahih: “ Bahwa pengampunan Allah itu datang secepat hambaNya beristighfar atau bertobat ”, secepat itulah pengampunan Allah muncul. Jika seorang hamba berbuat dosa, dan dalam kesempatan itu ia langsung menyesal dan menangis, merintih dan memohon maaf, maka secepat itulah pengampunan Allah datang.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Aku dan kalian dimana siang dan malam tiada henti-hentinya berlumur dosa, jatuh dalam hal-hal yang makruh, hal yang syubhat atau yang haram, semoga Allah subhanahu wata’al selalu mengikis dosa-dosa kita dan menghapusnya sepanjang siang dan malam, dan kita memohon kepada Allah agar pengampunanNya terus mengikuti setiap nafas kita di dalam kesalahan dan dosa-dosa kita, karena tiada sesuatu yang lebih menghalangi kita dari kelembutan Ilahi melebihi dosa, hanya dosalah yang merupakan hijab yang menutup hamba dari penciptaNya hingga ia tersulitkan untuk rindu kepada Allah. Namun ketika sudah muncul keinginan bertobat, menyesal dan merasa hina karena telah berbuat dosa, maka di saat itu Allah membuka pintu cahaya di dalam jiwanya , maka ia pun bergetar ingin mendekat kepada Yang Maha Suci, ia ingin suci dan tidak ingin hina, ia ingin mulia dan tidak ingin nista, ia ingin dekat dengan Rabbul ‘alamin dan rindu ingin berjumpa dengan Yang Maha Indah. Dimana ketika Nabiyullah Musa merintih, dalam firmanNya:

رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ
( الأعراف : 143 )
“ Ya tuhanku, tampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihatMu”. ( QS. Al A’raf: 143)

Allah menjawab dengan firmanNya:

قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِين
( الأعراف: 143 )
“ Allah berfirman: engkau tidak akan ( sanggup ) melihatKu, namun lihatlah ke gunung itu jika ia tetap di tempatnya niscaya engkau dapat melihatKu, maka ketika tuhannya menampakkan (keagunganNya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan ”. ( QS. Al A’raf: 143 )

Firman Allah: “ Sungguh engkau tidak akan mampu melihatKu ”, maksudnya adalah penglihatan nabi Musa tidak akan mampu Allah. Ketika Allah membuka tabir cahaya kewibawaanNya kepada gunung, maka gunung itu hancur lebur dan tidak lagi terlihat. Diriwayatkan di dalam tafsir Imam Ibn Katsir, tafsir Imam thabari, tafsir Imam Qurthubi dan lainnya, bahwa keadaan gunung yang demikian tinggi dan besar itu, ketika Allah menunjukkan cahaya kewibawaanNya maka tiba-tiba gunung itu terpendam ke dalam bumi. Dan bahwa gunung itu tidak muncul lagi hingga hari kiamat karena takutnya dari cahaya kewibawaan Rabbul ‘alamin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan di dalam tafsir Imam Ibn Katsir bahwa Allah menutup dzatNya dengan 70.000 tabir, dan setiap tabir itu adalah paduan dari cahaya, kegelapan dan air. Ketiga komponen itu, air, cahaya, dan kegelapan itu dipadu menjadi satu tabir yang demikian dahsyat, dan terdapat 70.000 tabir yang menutup antara makhluk dan Sang Khaliq, dijelaskan oleh Al Imam Ibn Katsir menukil salah satu riwayat yang shahih, bahwa apabila manusia mendengar suara gemuruh air yang menjadi salah satu tabir yang menutup makhluk dengan Allah maka hatinya akan lepas dan terlempar dari tubuhnya karena takut mendengar dahsyatnya gemuruh air dari salah satu 70.000 tabir yang membentengi antara makhluk dengan Allah. Diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah bahwa jika tabir itu terbuka satu saja dan tersingkaplah sedikit cahaya Rabbul ‘alamin kepada gunung maka gunung itu lebur tidak tersisa dan tidak akan muncul lagi hingga hari kiamat. Dan dalam riwayat lain gunung itu hancur menjadi debu karena takutnya dari kewibawaan Ilahi, maka ketika itu robohlah nabiyullah Musa ‘alaihissalam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikianlah cahaya keagungan Ilahi yang tertup dengan tabir air, cahaya dan kegelapan. Air, cahaya dan kegelapan itu berpadu dan tidak bisa terbayangkan bagaimana dahsyatnya. Diriwayatkan oleh Al Imam At Тhabari dalam menafsirkan ayat ini bahwa ketika nabiyullah Musa meminta untuk melihat Allah maka Allah berfirman : “ Wahai Musa engkau tidak akan melihatKu bahkan melihat pasukan-pasukanKu pun engkau tidak akan mampu ”, maka Allah perlihatkan para tentaraNya di bumi dan berdatanganlah seluruh halilintar yang berada di bumi, seluruh awan hitam dan seluruh malaikat yang ada di bumi mengelilingi nabiyullah Musa dan bertakbir dan bertasbih, yang mana takbir dan tasbih mereka lebih dahsyat dari gemuruhnya ombak yang besar, kemudian Allah memerintahkan malaikat yang di langit pertama untuk turun dan diperlihatkan kepada Nabiyullah Musa, maka nabi Musa as melihat para malaikat yang demikian besar dan dahsyat dengan bentuk-bentuk yang belum pernah dilihat, dengan warna warni yang belum pernah terlihat mereka bergemuruh dengan takbir dan tasbih mengagungkan nama Allah, dan suara satu dari mereka lebih dahsyat dari gemuruhnya guntur dan jumlah mereka yang demikian banyak mengelilingi nabiyullah Musa As. Maka Allah perintahkan malaikat yang berada di langit kedua untuk turun dan diperlihatkan kepada nabiyullah Musa, demikian pula malaikat yang ada di langit ketiga, keempat, kelima dan keenam turun untuk menghadap Nabi Musa As yang sudah tidak mampu lagi berdiri, sehingga ia roboh berdiri dengan lututnya, dan ia menyesal karena telah meminta untuk melihat Allah dan ia pun jatuh dan terduduk, maka Jibril As berkata : “ Bertahanlah wahai Musa, karena kau akan melihat yang lebih dahsyat dari hal ini sebgaimana permintaanmu ”, maka nabiyullah Musa pun merapatkan tubuhnya di dinding pegunungan seraya berkata : “ Wahai tuhanku, aku tidak berani berbuat apa-apa, jika aku diam niscaya aku akan mati karena ketakutan dan kerisauan, dan jika aku bergerak maka aku akan terbentur dengan triliyunan malaikatMu yang sedang mengelilingiku ”, maka disaat itulah Allah membuka langit ketujuh dan membuka salah satu dari 70.000 tabir yang menutupNya dengan makhlukNya, kemudian diperlihatkan kepada gunung maka gunung itu terpendam kedalam bumi dan tiada akan muncul lagi hingga hari kiamat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rahasia kewibawaan Ilahi Yang Maha menguasai seluruh jagad raya, Dia Allah subhanahu wata’ala Yang Maha mengenalkan dzatNya, Maha Pengampun, Maha dekat, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha berwibawa dan Maha berkuasa Yang berfirman:

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
( النساء : 147 )
“ Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha berterimakasih lagi Maha Mengetahui ”. ( QS. An Nisa’: 147 )

Sungguh Allah Maha berterima kasih dan Maha mengetahui perbuatan kita dan getaran pemikiran kita, dan Allah Maha berterima kasih dan membalas setiap kebaikan kita dengan sepuluh kali lebih besar dari kebaikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :

مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ
( صحيح البخاري )
“ Barangsiapa yang (peduli) terhadap kebutuhan saudaranya, maka Allah ( peduli ) pada hajatnya ”. ( Shahih Al Bukhari )

Hadirin hadirat, jika hajat ( kebutuhan ) orang lain kita pedulikan maka Allah akan peduli kepada hajat kita dan terlebih lagi jika kita peduli pada hajat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, apa hajat beliau?, Hajat beliau adalah tersebar luasnya dakwah beliau, dan banyak cara untuk menyebarkannya, mungkin dengan ucapan, perbuatan, internet, SMS, email, surat, harta, jabatan, bahkan dengan doa dan munajat. Hadirin hadirat, berkhidmahlah untuk hajat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka siang dan malam Allah subhanahu wata’ala akan menyelasaikan segala hajat kita . Rabbi, jadikanlah kami selalu berkhidmah kepada nabi yang paling Engkau cintai, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat, terbuka segenap hijab di malam Isra’ dan Mi’raj untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika 70.000 tabir dibuka maka Jibril pun mundur seraya berkata : “ Aku tidak akan melanjutkan lagi, jika aku melanjutkannya maka aku akan terbakar oleh cahaya Allah”, maka Allah subhanahu wata’ala membuka 70.000 tabir itu hingga sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhadapan dengan Allah. Allah subhanahu wata’ala yg berfirman:

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى ، فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى
( النجم : 8-9 )
“ kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat, sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi) ”. ( QS. An Najm: 8-9 )

Saat itu nabi Muhammad sangat dekat dengan Allah, sebgaiamana dijelaskan di dalam kitab As Syifaa oleh hujjatul islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi ‘Iyadh Ar (Ar : alaihi rahmtaullah : semoga baginya Rahmat Allah), bahwa Allah subhanahu wata’ala befirman kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika ketika Rasulullah melihat langit pertama yang begitu dahsyat dengan gemuruh para malaikat yang bertasbih kepada Allah, demikian pula di langit kedua, ketiga, dan seterusnya, nabi berjumpa dengan para rasul dan para malaikat dan disetiap langit disambut oleh para malaikat, maka sampailah ke muntaha al khalaiq, yang batas itu tidak bisa ditembus, tetapi beliau menembusnya dan disaat itu hilanglah semua suara, dan segala bentuk pemandangan, dan disaat itulah nabi Muhammad berhadapan dengan Rabbul ‘alamin Allah subhanahu wata’ala, dan nabi saw mendengar suara yang sangat berwibawa namun penuh dengan kelembutan : “ mendekatlah wahai Muhammad dan singkirkan ketakutanmu wahai Muhammad ”, maka beliau bersujud dan mengucapkan kalimat:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّه

Kemuliaan, kesucian, keluhuran, keberkahan, milik Allah, dan beliau saw pun mendengarkan jawaban Allah :

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“ Salam sejahtera, serta rahmat dan keberkahan Allah untukmu wahai nabi ”

Allah bersalam kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan nabi menjawab:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
“ Salam sejahtera untuk kami, dan para hamba yang shalih ( nabi dan para malaikat )”.

Rasul membawa seluruh nama malaikat dan nama ummatnya untuk mendapatkan dan termuliakan dengan salam Allah kepada beliau, Rasul membagikan salam itu kepada seluruh nabi, rasul, malaikat dan ummatnya dengan jawaban : “ salam sejahtera untuk kami ( bukan untukku semata) dan para hamba Allah yang shalih ”, semua dibawa oleh Rasul didalam keagungan salam Allah subhanahu wata’ala, oleh sebab itulah sudah sepantasnya kita selalu bersalam kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka shalawat dan salam kepada nabi Muhammad saw merupakan rukun didalam shalat. Ucapan yang kita ucapkan didalam tahiyyat itu adalah rahasia kemuliaan mi’raj disaat terbukanya 70.000 tabir, Rasul berhadapan dengan Allah. Ucapan yang diucapkan antara Allah dan RasulNya itulah yang selalu kita ulang-ulang disaat kita shalat, betapa agungnya shalat itu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
( النساء: 134 )
“ Barangsiapa menghendaki pahala di dunia, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirah, dan Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat ”. ( QS. An Nisa’: 134 )

Barangsiapa yang menginginkan balasan di dunia atas amalan pahalanya, ia ingin kesuksesan di dunia, ia ingin kemakmuran dan kebahagiaan di dunia, Allah mengatakan agar niatnya disempurnakan karena sungguh Allah memiliki balasan di dunia dan di akhirah. Jadi, orang-orang yang beramal shalih yang mengikuti tuntunan sang pembawa keluhuran dari Yang Maha Luhur maka ia akan mendapatkan balasan kemuliaan di dunia dan di akhirah, demikian janji Rabbul ‘alamin. Namun ajakan-ajakan syaitan itulah yang membuat kita terjauhkan dari keluhuran, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
( البقرة:268 )
“Syaitan itu menjanjikan ( menuntun pada ) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji ( kikir ), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia Nya kepadamu, dan Allah Maha Luas lagi Maha mengetahui ”. ( QS.Al Baqarah: 268 )

Sungguh syaitan selalu mengajak dan menuntun kepada kesusahan dan kefakiran, orang sudah susah ingin dijadikan lebih susah lagi oleh syaitan, dan syaitan juga selalu mengajak kepada kejahatan. Meskipun kau sudah terjebak oleh ajakan syaitan, tetapi Allah tetap mengajakmu kepada anugerah-anugerah dan pengampunan di sisiNya, dan Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. Maha Luas pemberianNya dan Maha mengetahui kebutuhan hamba-hambaNya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Pada hakikatnya kekayaan dan kemiskinan bukanlah ukuran senang dan susah, bukanlah ukuran kenikmatan dan kesengsaraan, karena apa?, karena jika Allah subhanahu wata’ala mencabut kenikmatannya maka si pemilik harta itu akan merasa lebih susah dari orang yang miskin, banyak orang-orang yang kekayaannya dan hartanya berlimpah ruah tetapi ia sakit tidak bisa makan ini dan itu. Rumahnya, mobilnya, kantornya semua ber AC, tetapi ia tidak boleh menikmati makanan yang enak-enak, makan daging tidak boleh, makanan ini dan itu tidak boleh, makanan yang manis-manis tidak boleh, harus selalu makan yang pahit-pahit, maka ia akan iri dengan para petani atau para kuli, karena mereka sesukanya bisa makan nasi tiga kali sehari sebanyak-banyaknya dengan semua lauk yang di inginkan karena dia tidak sakit apa-apa, maka ia akan iri pada petani atau kuli itu dengan makanan-makanannya tetapi ia tidak boleh menyentuh dan memakannya karena takut gula darahnya akan naik, kolesterolnya naik dan lain sebagainya, ia seperti di penjara padahal ia dalam kekayaan, namun orang yang susah melihat orang kaya dengan pikirannya : “enak sekali ia tidak kepanasan di pagi, siang, sore atau malam, selalu sejuk dengan AC sedangkan kita selalu kepanasan, malam diserang nyamuk, siang diserang lalat terus kita dalam kesusahan ”, padahal kesemuanya dalam kesusahan jika tidak diberi kenikmatan oleh Allah, tetapi jika Allah memberi kenikmatan maka orang yang di penjara pun tetap bisa tertawa terbahak- terbahak, orang miskin atau gelandangan yang di jalanan pun bisa tersenyum dan tertawa, namun kenikmatan sempurna yang diberikan oleh Allah adalah kecukupan. Jika ia membutuhkan suatu hajat maka dicukupi oleh Allah, apalagi yang ia butuhkan selain hajatnya?, kalau hajatnya dikabulkan dan diberi oleh Allah sebelum ia meminta, apalagi yang ia butuhkan selain terus mendekat kepada Allah?!, ini adalah balasan Allah untuk para pengikut sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ
( محمد: 2 )
“ Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad, dia itulah kebenaran dari tuhan mereka, Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka ”. ( QS. Muhammad: 2 )

Mereka yang beriman dan beramal shalih dan mengikuti apa-apa yang dibawa oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana beliau adalah Al Haqq ( kebenaran ) dari tuhan mereka maka Allah akan menghapus dosa-dosa mereka dan Allah perbaiki keadaan mereka di dunia dan di akhiratnya. Jika masalah akhiratnya masih berantakan maka Allah yang memperbaiki, nafkahnya masih berantakan maka Allah yang akan memperbaiki, masalah keluarganya berantakan maka Allah yang memperbaiki, usahanya berantakan Allah yang akan memperbaiki, jasadnya berantakan Allah yang memperbaiki, wafatnya Allah pula yang mengurusnya, ruhnya Allah juga yang mengurusnya, dan surganya Allah pula yang menyiapkannya, demikian keadaan para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah menjadikan aku dan kalian ada diantara mereka, dipelihara dengan seindah-indah bimbingan Allah subhanahu wata’ala.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits yang mulia ini, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan oleh sayyidina Abdullah bin Umar bahwa ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat isya’ dan itu adalah shalat Rasulullah yang terakhir sebelum wafatnya beliau, setelah itu beliau tidak lagi mengimami shalat karena terus sakit dan akhirnya wafat. Setelah beliau mengimami shalat maka beliau berdiri dan menoleh kepada jama’ah seraya bersabda: “ sungguh seratus tahun yang akan datang tidak ada lagi yang tersisa di muka bumi ini ”, maksudnya yang hidup di masa itu, 14 abad yang silam ketika beliau mengatakan hal itu beliau sudah melihat usia semua penduduk yang ada di daratan permukaan bumi dan tidak satu pun yang akan hidup lebih dari 100 tahun mulai dari beliau mengucapkan bahwa semua penduduk bumi yang ada pada saat itu akan wafat 100 tahun kemudian. Dijelasakan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari, menukil dari syarah Al Imam An Nawawy bahwa yang dimaksud adalah di masa itu ketika beliau mengucapkan 100 tahun kemudian tidak ada lagi yang tersisa hidup dari yang hidup di saat itu, tapi setelah beliau berucap, dan barangkali ada yang lahir, maka bisa saja usianya melebihi dari 100 tahun, tetapi mereka yang ada di saat nabi berucap , maka mulai dari bayi hingga orang yang paling tua tidak ada yang akan hidup melebihi 100 tahun, hadits ini mengandung hikmah yang sangat dalam, diantaranya banyak hal-hal ghaib yang diperlihatkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan beliau melihat usia seluruh penduduk di daratan permukaan bumi akan berakhir berapa usia mereka. Demikian Allah subhanahu wata’ala singkapkan tabir-tabir rahasia yang tidak diketahui oleh makhluk tetapi diketahui oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang kedua adalah kita renungkan bagaimana luasnya pemikiran Rasulullah saw bisa menguasai dan mengetahui seluruh usia penduduk bumi akan berakhir sebelum 100 tahun dari ucapan beliau. Dan salah satu hikmah yang perlu kita renungkan juga, barangkali di majelis ini juga hanya tersisa satu atau dua orang saja yang akan berusia sampai 100 tahun lagi, dan sisanya mungkin sudah tiada lagi, sebagian besar barangkali sudah dikubur dalam makamnya, semoga kita semua dalam husnul khatimah.

Kita yang berkumpul di malam hari ini mudah-mudahan selalu berkumpul bersama dengan Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam di alam barzakh. Acara ini juga disiarkan secara langsung di www.majelisrasulullah.org, seluruh dunia bisa melihatnya. Semoga yang menyaksikan dari kejauhan menonton juga dilimpahi keberkahan oleh Allah, amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ketahuilah bahwa dosa dan kesalahan sesungguhnya ada pada manusia, dan syaitan adalah hamba yang sangat takut kepada Allah, syaitan tidak pernah berbuat dosa, maksudnya kesalahannya adalah iblis, dan perbuatan dosa syaitan adalah menggoda, syaitan tidak berbuat dosa (berbeda dg Iblis pimpinan mereka yg menolak perintah Allah swt). Para Syaitan tidak minum arak tetapi dia hanya menggoda orang untuk meminumnya, syaitan tidak berzina tetapi menggoda manusia untuk berzina, dan syaitan tidak berjudi tetapi menggoda manusia untuk berjudi, demikian perbuatan syaitan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
( الحشر: 16 )
“ (bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “ membangkanglah kamu! ”, kemudian ketika manusia itu menjadi kufur ia berkata, “ sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, tuhan semesta alam ”. ( QS. Al Hasyr: 16 )

Dan jika orang itu telah kufur dan berpaling dari agama Allah dan kelak ketika bertemu di hari kiamat, maka syaitan itu berkata : “ aku berlepas diri darimu, aku takut kepada Allah ”. Syaitan takut kepada Allah, kesalahannya hanya menggoda, namun Allah jadikan syaitan itu bersama dengan yang digodanya, demikian pula makhluk yang mengajak kepada kebaikan maka Allah jadikan dia bersama dengan orang yang diajaknya dan yang mengikutinya, dan orang yang mengajak kepada kejahatan, akan bersama dengan orang-orang yang diajaknya, dan semoga kita termasuk orang-orang yang terajak oleh tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersama nabi Muhammad bukan bersama syaitan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sisakan hari-hari kita di dalam keluhuran, sisakan hari-hari kita dalam rindu kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita telah dengar Allah subhanahu wata’ala begitu dahsyat kewibawaannya dan tabir yang menutup antara makhluk dengan khaliq adalah hijab jasadiah, tetapi kalau sanubari, sungguh sanubari itu bisa melihat atau merasa dilihat Allah subhanahu wata’ala, karena dikatakan oleh hujjatul islam wabarakatul anam Al Imam An Nawawy AR di dalam syarah nawawiyah ‘ala Shahih Muslim, bahwa bukanlah hal yang mustahil seseorang di dunia melihat Allah, namun tentunya dengan perasaan dan hatinya bukan dengan matanya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ketika ditanyakan kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra : “ Wahai Ali, apakah engkau telah melihat Allah?, sampaikah derajatmu untuk melihat Allah? ”, maka sayyidina Ali menjawab: “ bagaimana aku beriman kepada yang tidak aku lihat, aku sudah melihat Allah ”, bagaimana engkau melihatNya?, sayyidina Ali berkata: “ Aku melihatNya dengan sanubari dan kekuatan iman ”, karena Rasul telah bersabda:

اَلْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإنَّهُ يَرَاكَ

“ Ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihatNya maka sungguh Allah melihamu ”

Ingat Allah tidak sama dengan segala sesuatu, jika muncul hayalan dalam perasaan kita tentang bentuk-bentuk Allah, sungguh hal itu adalah bisikan syaitan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari, ketika syaitan berkata : “ ini ciptaan siapa, itu ciptaan siapa, maka hati kita akan terus menjwab: “ Allah, Allah, Allah ”, lalu syaitan akan berkata: “ Lalu siapa yang menciptakan Allah?”, maka Rasul bersabda : “ jika kalian sampai pada hal itu maka berlindunglah kepada Allah karena hal itu sudah berada di jurang kekufuran ”.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Hati-hati dengan lintasan perasaan keraguan dengan Allah, karena itu adalah bisikan syaitan. Allah itu ada sebelum segala sesuatu ada, pertanyaan yang akan muncul sejak kapan Allah itu ada? Sudah sejak ribuan tahun alam semesta ada, maka sejak kapan Allah ada? Apakah ada begitu saja?. Maka jawabannya adalah Allah itu ada sebelum kalimat “kapan” itu ada. Kalimat “kapan” belum ada, Allah subhanahu wata’ala sudah ada. Jadi Allah tidak bisa diikat dengan kalimat “kapan”, karena kalimat “kapan” yang ditanyakan adalah waktu, sedangkan Allah lah yang menciptakan waktu dan menciptakan kalimat “kapan” itu. Demikianlah Allah subhanahu wata’ala yang maha luhur, membukakan bagi kita rahasia keluhuran setiap waktu dan saat.

Muncul pertanyaan kepada saya tentang foto-foto wali Allah bagaiamana hukumnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari : “ Wahai Umar, apabila syaitan berjalan dan berhadapan denganmu maka syaitan akan menghindar darimu dan mencari jalan lain ”, diperkuat dengan riwayat lain bahwa syaitan itu lari ketika melihat bayangan sayyidina Umar ra. Dijelaskan oleh hujjatul islam wabarakatul anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa tidak hanya sayyidina Umar yang mencapai derajat ini, tapi banyak dari para sahabat, para tabi’in dan para imam-imam dan shalihin setelahnya yang mencapai derajat ditakuti oleh syaitan, berlandaskan firman Allah:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ
( الحجر:42 )

“ Sesungguhnya kamu (iblis) tidak mampu berkuasa atas hamba-hambaKu, kecuali mereka yang mengikutimu yaitu orang-orang yang sesat ”. ( QS.Al Hijr: 42 )

Ini menunjukkan bahwa tidak hanya sayyidina Umar yang ditakuti oleh syaitan, tetapi hamba-hamba Allah yang shalih pun tidak bisa terkecohkan oleh syaitan, dan juga berdasarkan sabda Rasulullah kepada para sahabat riwayat Imam Al Bukhari di dalam kitabnya Adab Al Mufrad : “ Maukah kalian kukabarkan tentang orang-orang yang terbaik diantara kalian?”, maka para sahabat menjawab: “ betul wahai Rasulullah, saya ingin mendengar siapa orang-orang yang terbaik diantara kami ”, Rasulullah menjawab: “ mereka adalah orang-orang yang ketika kalian memandangnya maka kalian akan mengingat Allah, membuat kalian ingin dekat kepada Allah, membuat kalian malu kepada Allah, membuat kalian enggan berbuat dosa ”. Wajah-wajah yang seperti itulah wajah yang terbaik diantara kalian.

Hadirin hadirat, lalu bagaimana dengan foto-foto para shalihin?, segala sesuatu yang bisa membuat kita semakin dekat dan ingat kepada Allah maka hal itu baik dipandang. Bagaimana dengan Ka’bah manakah yang lebih afdhal, bangunan batu atau wajah seorang shalih? Tentunya wajah orang yang shalih lebih afdhal. Sebagaimana hajar al aswad yang mana sayyidina Umar bin Khattab berkata:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“ Sesungguhnya aku mengetahui kau adalah batu yang tidak memberi bahaya dan manfaat, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak menciummu ”(Shahih Bukhari)

Berbeda dengan orang-orang shalih karena Allah turunkan malaikat dengan keberadaan mereka, dimanapun mereka berada maka Allah turunkan malaikat disana. Hadirin hadirat, boleh dibuktikan orang-orang yang asyik hadir di maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersih dari makanan yang syubhat maka mereka tidak akan melihat jin atau syaitan yang menakutkan, bukan mereka tidak melihat tetapi jin atau syaitan tidak berani memperlihatkan dirinya kepada mereka karena mereka diikuti para malaikat, tetapi orang-orang yang terus makan makanan haram, jarang hadir maulid nabi, jarang berdzikir, jarang shalat, maka jin dan syaitan akan terus menampakkan dirinya dengan bentuk yang berbeda-beda, mungkin berambut panjang, dengan rupa nenek-nenek atau kakek-kakek atau dengan rupa bayi dan lain sebgainya agar manusia takut, tetapi jika ia adalah orang yang beriman dan mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, cahaya para malaikat muqarrabin mengelilinginya, maka jin atau syaitan tidak berani mendekat atau menampakkan dirinya.

Hadirin hadirat, sampaikanlah dirimu pada derajat itu, maka engkau akan tenang dari semua gangguan, di saat seorang hamba berdzikir mengingat Allah maka Allah jaga dia dari segala sesuatu.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Betapa mulianya orang-orang yang merindukan Allah, oleh sebab itu wajah-wajah mereka dipajang. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari mencantumkan satu riwayat yang tsiqah bahwa salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika didatangi oleh salah seorang sahabat dan berkata: “ wahai ummul mu’minin, aku belum sempat memandang wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena ketika itu aku masih kecil, maka gambarkanlah kepadaku seperti apa wajah beliau ”, berkatalah ummul mu’minin Ra: “ apakah engkau ingin melihat wajah Rasulullah?”, sahabat itu berkata: “iya, wahai ummul mu’minin”, maka ummul mu’minin mengeluarkan sebuah cermin kecil dan di cermin itu tergambarkan wajah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Cermin itu ketika dipakai bercermin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka cermin itu tidak mau lahi memunculkan wajah yang lainnya kecuali wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka cermin itu tidak mau menangkap pemandangan yang lain selain wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ummul mu’minin berkata: “ Jika aku merindukan Rasulullah maka aku buka cermin ini dan aku melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ”. Kita tidak bisa melihat wajah Rasulullah, maka dipajanglah wajah-wajah orang yang dicintai oleh Rasulullah dari para shalihin dan para awliyaa’, karena hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah, bukan membuat kita musyrik justru membuat kita semakin taat, hanya saja syaitan tidak suka karena syaitan terbakar jika melihat wajah-wajah mereka. Maka syaitan berkata singkirkan foto-fotonya karena hal itu musyrik, kalau foto artis dipajang di rumah tidak apa-apa, atau foto gedung-gedung yang mengingatkan kepada hal-hal keduniawian dipajang di rumah tidak apa-apa, tapi kalau foto orang shalih maka musyrik..!, hal yang seperti ini ajaran seorang muslim atau ajaran syaitan?!. Hadirin hadirat, ada logika yang menjelaskannya. saya tidak berpanjang lebar menjelasakan.

Kita bermunjat semoga Allah memuliakan kita dalam keluhuran, semoga Allah subhanahu wata’ala terus memberikan keindahan dzatnya kepada sanubari kita sehingga kita selalu merasa dekat kepada Allah. Rabbi, singkapkan 70.000 tabir yang menutup antara kami dan diriMu, bukakan seluruh tabir itu untuk sanubari kami sehingga kami selalu asyik dan rindu padaMu , kami mendengar dari sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Allah, maka Allah pun rindu berjumpa dengannya ”. Dan kami mendengar sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Engkau berfirman dalam hadits qudsy riwayat Shahih Al Bukhari :

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ مَنْ كَرِهَ لِقَائِيْ كَرِهْتُ لِقَاءَهُ
“ Barangsiapa yang ingin perjumpaan denganKu maka Aku pun rindu berjumpa dengannya, barangsiapa yang benci untuk berjumpa denganKu Akupun benci berjumpa dengannya ”.

Pastikan kami adalah orang yang selalu rindu berjumpa denganMu wahai Rabbi, munculkan kerinduan di dalam sanubari kami untuk berjumpa denganMu wahai Rabbi. Wahai Yang Maha Indah, wahai yang maha melimpahkan anugerah, wahai yang maha menyiapkan surga terindah bagi hamba-hamba yang merindukanMu, dari cahaya kerinduan yang terbit dari jiwa kami Engkau munculkan keberkahan dan kemudahan di dunia dan akhirah, pengabulan hajat dunia dan akhirah…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله
ياَرَحْمَن يَارَحِيْم
…لاَإلهَ إلَّاالله
لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

by. Habib Munzir Al Musawa

13 Oktober 2012

Syair karangan Hamzah Fansuri 3

oleh alifbraja

Seperti firman Allah :
Wa nahnu aqrabu ilayhi min habWl—warid.
ya ‘ni :
Kami  [ t e r l ebih] hampir kepadanya daripada ur at
lehernya yang kedua.
(6) Dengarkan, hai Talib!—wa huwa ma’akum tiada diluar dan
tiada  [di] dalam, dan tiada diatas dan tiada dibawah, dan tiada
dikiri dan tiada  d i k a n a n – [ Ia khali] daripada enam pihak. Seperti
firman Allah Ta’ala:
Wa huwa’l-awwalu wal-akhiru wa’l-zahiru wa’l—
batinu.
ya ‘ni :
Ia itu  jua yang Dahulu dan Ia jua yang Kemudian
dan Ia jua yang Nyata dan Ia  jua yang Terbuni.
[Lagi] pun  t amthil seperti puhun kayu  s epuhun. Namanya limau
atau lain daripada limau. Daunnya lain, dahannya lain, bunganya
lain, buahnya lain, akarnya lain. Pada haqiqa tnya sekalian itu
limau jua. Sungguh pun namanya dan  rupanya dan warnanya
berbagai,  h a q i q a t [ n y a] esa jua. Jikalau demikian, hendaklah segala
‘Arif mengenal Allah Ta’ala seperti [ isharat] Rasulu’Llah (salla’
Llahu ‘alayhi wa sallam!):
Man arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu.—
seperti yang  t e r s ebut dahulu itu.
90 (7) Sebermula. Sabda Rasulu’Llah itu  [ 1 1 4] dengan diisharatkan
jua. Sungguh pun pada Shari’at  rupanya berbagai-bagai pada Haqiqat esa  jua. Seperti  k a ta sha’ir Lam ‘at:
[Yari daram ki jism u jan surat ust Chi jism u chi
jan jumlah jihan surat ust Har surat khub u ma’na
pakizah Kandar nazr man ayad an surat ust]
ya ‘ni :
Bahwa ada kekasihku,  t u b uh dan nyawa  rupanya
jua, Apa  t u b u h, apa nyawa? sekalian ‘alam pun
rupanya jua;
Segala  rupa yang baik dan erti yang suchi itu pun
rupanya jua,
Segala barang yang datang kepada penglihatku
itu pun  rupanya jua.
Seperti firman (Allah) Ta’ala:
Fa aynama tuwallu fa thamma wajhu’Llah.
ya ‘ni :
Barang kemana mukamu kau hadapkan, maka
disana ada Dhat Allah.
Tamthil seperti susu dan minyak sapi; namanya dua, haqiqa tnya
suatu jua. Kesudahannya susu lenyap [apabila di] putar—minyak
jua kekal sendirinya.
(8) Sekali-kali tiada be r tuka r, seperti sabda Rasulu’Llah (salla’
Llahu’alayhi wa sallam!):
Man’arafa nafsahu bi’l-fana’i.
fa qad’arafa rabbahu bVl-baqa\
ya’ni : Barang siapa mengenal diri nya  [dengan]
fana’nya, bahwa sanya mengenal Tuhan yang
baqa’lah dan serta Tuhannya.
Seperti mengetahui ruh dengan badan; muhit pada badan pun tiada dalam badan pun tiada, luar badan pun tiada. Demikian lagi
Tuhan; pada sekalian ‘alam pun tiada, dalam ‘alam pun tiada,
diluar ‘alam pun tiada. Seperti permata chinchin dengan chahayannya, dalam pe rma ta pun tiada chahayanya, diluar permata
pun tiada chahayanya.
91 (9) Kerana ini maka ka ta ‘Ali (radiya’Llahu’anhu):
Ma ra’aytu shay’an illa ra’aytu’Llaha fihi.
Tiada kulihat suatu melainkan  [ 1 1 5] kulihat
Allah da l amnya.
Maka Mansur Hallaj pun be rka ta daripada sangat berahi ini
menga t akan:
Ana’1-Haqq!
y a ‘ n i:
Akulah yang Sebenarnya!
Maka kata (ba) Yazid pun mengatakan demiki an:
Subhani ma a ‘ zama sha ‘ni!
y a ‘ n i:
Maha suchi  aku, dan siapa besar sebagianku!
Maka Shaykh  jun  [ a y] d Baghdadi pun mengatakan :
Laysa fi jubbatisiwa’Llah!
ya ‘ni
Tiada dialam  j u b b a h ku ini melainkan Allah!
Dan Sayyid Nasimi pun menga t akan:
Inni ana ‘ Llah !
ya ‘ni :
Bahwa akulah Allah!
Dan Mas’ udi pun mengatakan dengan bahasa Farsi:
Anchih ham’an dhat bud
bäz haman dhat shud.
y a ‘ n i:
Dhât Allah yang Qadim
itulah  d h ä t ku sekarang.
92 Dan kata Mawlâna Rum
‘Alam nin belum, adaku adalah
Adam pun belum, adaku adalah
Suatu pun belum, adaku beranikan qadimku jua.
Dan ka ta Sultânu’l-‘Àshiqin Shaykh ‘Ali Abü’1-Wafa’:
Kullu‘l-wujùdi wujûduhu là tushrikanna bibi’l-miläh
Fa idhâ nazarta lahu bihi fa’sjudhunâka fa làjunâh
ya’ni :
Segala [wujud ini] wujùdNya jangan kau
s ekutukan dengan yang baik,
Apabila kau lihatNya bagiNya dengan dia, maka
sujudlah engkau sana tiada berdosha.
Maka kata kita  [ b] Gulshan:
Hai segala islam! jika kau ketahui bahwa berhala
apa,
Kau ketahui olehmu bahwa yang jalan itu
pada menyembah berhala dika t a.
Jika segala kafir daripada berhalanya itu dalalnya,
Ngapa maka  [ 1 1 6] pada agamanya itu jadi sesat.
(10) Sebab demikianlah maka Shaykh ‘Aynu’1-Qudat menyembah
anjing menga t akan. ‘Hadha rabbi’—ya’ni: Tnilah Tuhanku!’—karena anjing tiada dilihatnya, hanya dilihatnya Tuhannya  jua yang
dilihatnya. Seperti orang melihat kepada  che rmin; muka  jua yang
dilihatnya, chermin gha’ib daripada penglihatannya karena ‘alam
ini pada penglihatannya seperti bayang jua—rupanya ada haqiq a t n ya tiada. Nisbat kepada Haqq Ta’ala tiada nisbat kepada ki ta
adalah karena kita memandang dengan hijab. Seperti sabda Rasulu’
Ilah (salla’Llahu’alayhi wa sallam!):
Man ‘arafa nafsahu fa qad’arafa rabbahu.
dengan isharatkan  jua. Pada haqiqa tnya dikenal pun Ia, mengenal
pun Ia.
93 (11) Seperti sabda Rasulu’Llah (salla’Llahu ‘alayhi wa sallam!):
Man ‘arafa ‘ Llaha tala lisanuhu.
Barangsiapa mengenal Allah lanjuti lidahnya.
Pada  t a t aka la mulanya mengetahui man ‘arafa nafsahu, setelah
sampai kepada fa qad’arafa rabbahu maka SendiriNya. Maka sabda
pula Nabi Allah:
Man ‘arafa’Llaha kalla lisanu [hu].
Barangsiapa mengenal Allah hululah  l i d a n y a .-
e r t inya:  t emp at be rka ta tiada lagi lulus.
(12) Seperti ka ta Shaykh Muhyi’1-Din ‘Arabi (qaddasa’ Llahu
sirrahu!) itu pun isharat kepada ‘Man ‘arafa nafsahu fa qad arafa
rabbahu ‘jua. Syair :
Ala-haqqu ‘aynu’l-khalqi in kunta dha’ayni
Wa’l-khalqu ‘aynu’l-haqqi in kunta dha’aqli
Fa in kunta dha’aynin wa ‘aqlin fama tara
Fa huwa ‘aynu shay’in wahidin fihi illa bi’l-shakli.
[ 1 1 7] ya ‘ni ka ta Muhyi’1-Din sebenarnya itu keadaan hamba
Nya:
Jika ada engkau orang bermata, be rmul a:
hamba  i tu kenya t a an Tuhan,
Jika ada engkau orang berbudi maka barang
segala kau lihat ini keadaanNya;
[Dan jika ada engkau orang be rma ta dan be rbudi,
maka apalah yang kau lihat? ] —hanya
Segala suatu itu dalam Nya [melainkan] dengan
segala rupa.
94 Seperti firman Allah Ta’ala:
Wa huwa ma’akum aynama kuntum.
y a ‘ n i:
Ia itu serta kamu barang dimana ada kamu.
Lagi  p e r k a [ t a a ] a n n ya Shaykh Muhyi’1-Din ibn’Arabi (shi’r.)
Kunna huruf fan] ‘aliyatin lam nuqal
Muta’alliqatin fi dhura a’la’l-qulal
Anafanta] fihi wa nahnu anta [wa anta] hu
Fa’l-kullu f i hu hu fasal’an man wasal.
ya’ni*
Kamilah huruf yang mahatinggi yang  t i a [ d a]
berpindah,
Dan yang tergantung dengan istananya diatas
punchak gunung.
Aku engkau dalamnya dan [kami engkau  d a n]
engkau Ia,
Maka sekalian dalam Itu Ia, maka bertanyalah
engkau kepada barangsiapa yang wasal.
(13) Hai Talib!—mengetahui ‘Man ‘arafa nafsahu ‘ bukan mengenal
j antung dan paru-paru, dan bukan mengenal kaki dan tangan.
Ma’na ‘Man ‘arafa nafsahu’: adanya dengan Ada Tuhannya esa
jua. Seperti kata Shaykh  [ J u n a y d] Baghda [di] (rahmatu Llahi
‘alayhi!):
Lawnu’l-ma’i lawnu ina’ihi.
ya ‘ni:-
ya ‘ni:
Warna air warna bejananya.
Dan seperi ka ta sha’ir Lam ‘at:
i
Laqad batanta fa lam tazhar li dhi basarin
Wa kayfa yudraku man bi’l-ayni mustatiru
ya ‘ni:
Sungguhnya telah  t e rhuni l ah Engkau maka tiada
dapat dilihat oleh segala ma t a;
Maka be t apa dilihat oleh segala ma ta  [ 1 1 8]
kerana Ia terdinding dengan adaNya?
95 Lagi  k a ta Shaykh Muhyi l -Din:
In ruhtu atlubuhu lam yangadi safari
In ji’tu hadratahu wuhishtu fi hadari
La ana arahu wa la yanfakku min basari
Wa fi damiri wa la alqahu fi ‘umuri.
y a ‘ n i. . ;
Jika pergilah aku  m e n u n t ut Dia, tiadalah
berkesudahan  t u n t u t k u,
Jika da t ang aku kehadr a tNya, Ia liar
da r ipadaku,
Tiada aku melihat Dia, Ia tiada jauh
daripada penglihatku,
Bermula: Ia ada dalamku dan tiada aku
be r t emu pada  s e ‘umurku.
Inilah maka kata Shaykh  J u n [ a y] d (rahmatu ‘Llahi ‘alayhi):
Wujuduka dhanbun la yuqasu bihi dhanbu.
y a ‘ n i:
Adamu ini dosha, tiada dosha sebagainya.
(14) Barangkala engkau pun suatu wujud, Haqq [Ta’ala] pun
suatu wujud, sharika lahu datang kerana Haqq Subhanahu wa
Ta’ala wahdahu la sharika lahu ertinya  y a ‘ n i: tiada sekutu bagiNya; ertinya tiada wujud lain hanya wujud Haqq Ta’ala jua. Seperti laut dan ombak. Seperti firman Allah Ta’ala:
Fa aynama tuwallu fa thamma wajhu Llah.
y a ‘ n i:
[Barang kemana mukamu kau  h a d a p k a n, maka
disana  ada] Dhat Allah.
Dan ka ta Mawlana  ‘Abdu’ l -Rahman Jami (rahmatu’Llahi’alayhi!):
Bayt: Ham sayah u ham[ni] shin u ham rahu hamah
ust [Dar dalaq gada u [dar] atlas shahi hamah
ust] Dar anchuman farq nihan [k] hanah u jam’
[hamah ust] Bi’Llahi hamah ust thumma bi’
Llahi hamah ust.
96 y a ‘ n i:
Sekampung  s ekedudukan sekejalanan sekalian itu
[ I a]  j u a;
Pada telekung segala minta makan dan pada atlas
segala raja-raja  i tu pun  [ 1 1 9] Ia  jua;
Pada segala pe rhimpunan dan percheraian dan
rumah yang  t e rbuni dan yang be rhimpun itu pun
Ia  jua,
Demi Allah sekaliannya Ia jua! Maka demi Allah
sekaliannya Ia  jua!
(15) Tamthil seperti biji sebiji, da l amnya  p u h un kayu sepuhun
dengan selengkapnya. Asalnya biji itu  j u a; setelah menjadi kayu
biji sebiji itu gha’ib—kayu  jua kelihatan. Warnanya berbagaibagai, rasanya berbagai,  [ t e t a p i] asalnya sebiji  i tu  jua. Seperti
firman Allah Ta’ala:
.. . Yusqa bi ma’in wahidin wa nufaddilu
ba’daha ‘ala ba’din fi’l-ukuli.
. . . Kami tuangkan dengan suatu air dan
Kami lebihkan setengah atas setengahnya
pada rasa makanan.
Tamthil seperti air hujan dalam sebuah  t a n ama n. Air  i [ t u]  jua
yang lengkap pada sekalian dan berbagai-bagai rasanya. Pada
limau masam, pada  t ebu manis, pada mambu pahi t; masing-masing
membawa rasanya. Te t api haqiqa tnya air  i tu  jua pada sekalian  i tu.
Suatu lagi  t amthil seperti ma t aha ri dengan panas. Jikalau panas
kepada bunga, atau kepada  chendana, tiada ia beroleh bahu
daripada bunga. Jikalau najis pun demikian lagi. Jangan shakk
disini kerena shakk ini itulah hijab.
(16) Kerana [atas] mazhar Jalai dan atas mazhar Jamal tiada
[ I a] bercherai, maka Kamal NamaNya. Nama al-Mu’izz tiada bercherai, Nama al-Latif  [ d a n] al-Qahhar tiada bercherai. Dan shirk
pun mazhar Nya jua. Seperti ka ta Shah Ni ‘ma tu’Ll ah qaddasa’
Llahu sirrahu!):
97 [120] Ra’aytu ‘Llaha fi’ayni bi’aynihi
Wa ayni ‘aynuhu fa’nzur bi’aynihi
Habibi ‘indaghayrighayru ‘ayni
Wa’indi aynuhu min haythu ‘ayni.
ya’ni
Kulihat Allah pada ke ada anku dengan penglihatNya; Bermula: keadaanku itu KeadaanNya. maka
tilik kepadaNya dengan tilik daripadaNya.
Kekasihku, pada segala lain daripadaku, lain daripadaku,
Bermula: padaku AdaNya itu dengan keadaanku
suatu  j u a’
Inilah sifat ‘Man arafa nafsahu fa qad’arafa rabbahu’ itu pun permulaan jua.
(17) Sebermula. Firman Allah Ta ‘ a l a:
Wa’Llahu khalaqakum wa ma ta malun.
ya ‘ni:
Bahwa Allah Ta’ala menjadikan kamu dan barang
pe rbua t an kamu.
Dan lagi firman Allah Ta’ala:
Ma min dabbatin illa huwa akhidhum
bi nasiyatiha inna rabbi’ala siratin
mustaqim.
ya’ni  . . .
 T
Tiada siapa dapat membawa melainkan la  jua
menghela  r amb ut dahinya. Bahwa Tuhanku Esa
JalanNya sebenarnya  i tupun.
Dan lagi sabda Nabi (salla’Llahu ‘ alayhi wa sallam!):
La hawla wa la quwaata illa bi’Llahi’l-ahyyil-
‘azim.
ya ‘ni:
Tiada mengelilingi dan tiada quwwat seorang
98 melainkan dengan kuasa Allah yang Mahatinggi
dan Mahabesar.
Dan lagi sabda Nabi (saHa^Llahu’alayhi wa sallam!):
La tataharraku dharratun illa bi idhni’Llah.
ya ‘ni:
Tiada bergerak suatu dha r r at pun melainkan
dengan gerak Allah Ta’ala.
[Dan lagi sabda Nabi (salla’Llahu’alayhi wa sallam!)] :
Khayrihi wa sharrihi mina’Llahi Ta’ala.
ya ‘ni:
Baik dan  j aha tnya daripada Allah Ta’ala.
Seperti firman Allah  [ 1 2 1] Ta’ala:
Wa ma tasha ‘ una illa an yasha ‘a Llah.
y a ‘ n i:
Dan tiada be rkehendak mereka itu seorang  jua
pun melainkan dengan  [ k e h e n d a k] Allah jua.
(18) Sekalian dalil dan hadi th ini isharat kepada Man arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu  jua. Lain daripada tiada. Dan kata
Shaykh Muhyi’1-Din ibnu’l-‘Arabi (qaddasa’Llahu sirra ruhihi’l-‘
aziz!):
Shiï:
Haramun ‘ala’l-ushshaqi an yashhadu’l-siwa
Idha kana wajhuH-haqqi [bVl-nuri] sha’sha’a
Ma dha aqulu wa anta wahduka lam yaku
Ahadun siwaka fa ma siwaka fa ka’l-haba.
y a ‘ n i.
Telah haramlah atas segala yang berahi bahwakan
memandang lain daripadaNya,
Apabila ada keadaan Allah dengan chahayaNya
gilang-gemilang.
99 Barang segala yang kukata dan bahwa Engkau
jua Esa, tiada lain .
Suatu pun daripadaMu maka sekarang barang lain
daripadaMu itu seperti haba adanya.
Seperti firman Allah Ta’ala:
Kulla yawmin huma fi shaTi.
y a m
 Pada segala hari Ia itu dalam kelakuanNya.
(19) Ya’ni pada zuhuNya berbagai-bagai [akan tetapi Dhat tiada
hM-haeai-bagail dan tiada berubah, kerana Ia—
berbagai  W ^ ^ ^ wa%akhiru wa’l-zahiru wa’l-baUnu.
y a n i
‘ Ia yang Pertama dan Ia yang Kemudian dan Ia
Nyata dan Ia Terbuni—
AwwalNya tiada ketahuan, akhirNya tiada berkesudahan, zahirNyTamJt terbuni dengan batinNya tiada  ^ T T Z ^ Î Ï Ï
riiriNva dengan diriNya, melihat diriNya [dengan] DhatNya de-
^ S A d î n g J ÀfUNy. dengan AtharNya.  » » £ * £ »
namanya empat pada haqiqatnya esa. Sepert! kata Shaykh [122]
Muhyi’1-Din:
Tajalli bi dhatihi fi dhatihi.
Menunjukkan AdaNya bagi AdaNya
Lagi kata Imam Muhammad Gazzali (rahmatu’Llahialayhi!):
In ‘alam azust be ust baiki hamah ust.. .
y a m :
 ‘Alam ini daripadaNya dengan Di a l a h – t e t a p isekaliannya Ia.
Diikut dari Kimiya-i Sa’adat. „„„„
Guft Ba Yazid: ‘Wujuduna minhu wa quwwamuna
100 bihi lafarqun bayni wa bayna rabbi illa bihadha’lmarta barayu.
vâ’nii
Wujud kami daripadaNya dan quwwat kami dengan
Dia. Tiada bedha antaraku dan antara Tuhanku
melainkan dengan dua ma r t aba t.
Inilah ‘ibarat ‘Man ‘arafa nafsahu fa qad
l
arafa rabbahu.’
(2) Sebermula. Allah Subhahahu wa Ta’ala tiada be r t empat dan
tiada be rmi tha l. Apa akan ‘  t emp at  [ apabüa] lain daripadaNya
tiada? Mana  t emp a t, mana mi tha l,  [ma n a] warna? Hamba pun
demikian lagi hendak  [ n y a] jangan be r t empa t, jangan bermithal,
jangan berjihat enam, kerana sifat hamba  T u h a n n y a:  h e n d a k [ n y a]
maka datang kepada
Idha tamma’l-faqru fa huwa’Llahu
‘ayshuhu bi ‘ayshi’l-Llah.
ya ‘ni:
Apabila sempurnalah faqir maka ia itu Allah
dan hidupnya dengan hidup Allah.
Seperti ka ta Mawlana ‘Abdu’l-Rahman  J ami (rahmat*’Lkthï
alayhU):
ya’ni
[Bas bi rangist yari dikhwah ay dil
Qani nashawi barangi na gah ay dil
Asal in hamah rangaha azan birangist
Man ahsanu sibghatan mina’Llahi ay dil.]
Kepada kekasih yang tiada berwarna itu kau
kehendak, hai  h a t i;
Jangan kau padamkan kepada warna mudahmudahan, hai  h a t i:
Bahwa segala warna daripada tiada berwarna
da t angnya, hai, ha ti
101 ‘Barangniapa mengambil warna daripada Allah
itulah terlebih ba ik,’ hai ha t i?
f21ï Ya ‘ni f  1 2 3] yang asalnya itu tiada berwarna dan tiada
b e r u pl S  g i a  n ! p a
y
y a ig dapat dilihat dan dapat  d i b i c h a ^ j ,
s e k a Sn makhluq jua pada ‘ibarat. Barangsiapa menyembah
makhn^q ^ itu mushrik; seperti menyembah orang-orang mati
T n  m a i dan  j antung dan pa ru-pa ru- s eka l i an itu berhala^ jua
hukumanya. Barangsiapa menyembah berhala, ia itu kafir
na’udhubi’Llah minha! Wa’Llahu a’lam!
(22) Jika demikian ngapa memandang seperti ombak dan laut
juga dapa t? Seperti sha’ir:
Fa’awwiV alayhi la siwahu
fa’aynama tuwallu fa thamma wajhu
‘Llahi laysa mubarqa ‘an.
(2 3) (Raqqa’l-zujaju wa raqati’l-khamru
Fa tashabaha wa tashakala’l-amru
Fa ka’annama khamrun wa la qadahu
Fa ka’annama qadahun wa la khamru.
ya m:
f Naqsh kacha dan hening] minuman
Maka serupa  k e d u a n ya dan sebagai pekerjaannya
Maka sanya minuman tiada dengan piala
Dan bahwa piala  t i ada dengan minuman.
Ya’ni warna ke cha dan warna minuman esa  j u a; warna minuman
I L Z Z pun sebagai  jua,  t i ada  d a p at dilainkan, Seperti ka ta
L am’ a t:
Al-aynu wahidatun wa’l-hukmu mukhtalifu
Wa dhaka sinon U ahliVÜmi yankashifu.
y a ‘ n i:
Asalnya suatu  j ua warnanya berbagai-bagai
102 Rahasia ini bagi orang yang  t ahu  j ua dapat memakai dia.
[Seperti ka ta misra :
Ma’shuq u’ishq u’ashiq har sih yakyast inja
Chum wasl dar na-gunjad hijran chi kar darad.
y a ‘ n i] :
Berahi dan yang berahi dan yang diberahikan itu ketiganya esa jua,
Sini, apabila pe r t emuan tiada lulus, percheraian
dimanakan ada?
924) Kenapa dika ta k
(24) Kenapa dika ta kerana sifat be r t emu dan bercherai dua?
Hendak  [ n y a] pada Alim, haqiqat tiada dua. Seperti ombak dan
laut esa jua, pada  z ahimya  jua dua,  t e t a [ p i] be r t emu  p u [ u n] tiada
bercherai pun  t i ada;  d i d a l amp u [ n] tiada  [ 1 2 4] diluar pun tiada.
Qala’l-ghawthu’l-a’zam: Ayyi salatin afdalu ‘indaka yarabbi? Qala’Llahu Ta’ala: Salatu’l-ladhi
laysa fiha siwa’i wa’l-musalli gha’ibun ‘anha.
y a ‘ n i:
Sembah Ghawth: ‘Mana kebaktian terlebih kepadaMu ya Tuhanku? Firman Allah Ta’ala: Sembahyang yang tiada dalamnya  sua tu pun lain daripadaKu, dan yang menyembah gha’ib.
Nyatalah [daripada ini bahwa yang] disembah pun Ia jua, yang
menyembah pun Haqq. Seperti kata Masha’ikh:
Ma ‘arafa ‘ Llahu illa ‘Llah
ma ya’lamu’Llahu illa’Llah
ma yara ‘ Llahu illah ‘Llah.
y a ‘ n i:
Tiada mengenal Allah hanya Allah,
103 tiada mengetahui Allah hanya Allah,
tiada melihat Allah hanya Allah.
Dan seperti ka ta Mawlana ‘Abdul’1-Rahman  J ami:
Hamchunin wasil nashfas] tah pesh yari mikunad
an hajr nalahai zar ta shuwad mahjib u mahrum
az wasl waqif an bar ran] u malai.
Orang yang wasal itu seperti orang duduk [kesal]
t aul annya di che r i t e r akannya daripada percheraiannya dan serunya dan tangisnya sehingga jadi hurum
daripada wasal;  t e rhenti  [ o ] l e h n ya daripada percheraiannya dan daripada penuh dengan dukachitanya.
Dan seperti ka ta Shibli, hendak  [nya] sha’ir:
Innani kadafda’un sakinatun fi’l-yammi
In hiya [fahat] mala’at faha
aw sakatat matât mina ‘l-ghammi.
Akulah seperti katak diam dalam  l aut;
jika kubukakan mu l u t ku nischaya dipenuhi air;
jika aku diam nischaya matilah aku dalam perchint a anku.  [ 1 2 5]
y a n i:
(25) Isharat daripada Shaykh Sa’du’1-Din:  j ika lagi  d i t u n t ut
tiada diperoleh [jika lagi] dipandang tiada düiha t, kerena fi il
kita itu seperti angin dilaut. Jika be rhenti angin maka ombak
pulang kepada asalnya. Seperti firman Allah Ta ‘ a l a:
Ya ayyatuha’l-riafsu l-mutma’innatu irji’i
ila rabbiki radiyatan mardiyyah fa’dkhuli
fi’ibadi wa’dkhuli jannati.
104 y a ‘ n i:
Hai segala kamu bernyawa mu tma ‘ i n n a h!
pulanglah kamu kepada Tuhan kamu radi
kamu akan Dia dan radi Ia akan kamu.
Maka masuklah shurgaKu, hai hamba-hambaKu
Ertinya da t angnya pun daripada laut, pulangnya pun kepada laut
jua.
Jannatu’l-zahidina hurun wa qusurun
Jannatu’l-ashiqina fi mahalli kuntu kanzan makhfiyyan
y a ‘ n i:
Shurga orang zahid anak bidyadari dan mahgai,
Shurga o [rang] berahi kepada perbendaraan yang
berbuni.
(26) Sanalah  t emp at diam segala ‘Ashiqin! Beranikan shurga pun
tiada, dengan neraka pun tiada  t a k ut ia; kerana  [pada] orang
berahi yang wasal jannat itulah yang dikatakan [dalam  aya t)
fa’dkhuli f i ‘ibadi wa’dkhuli jannati. Pulanglah ia kepada  t empat
kuntu kanzan makhfiyyan. Dan seperti ka ta Ahlu’Ll ah;
ya ‘ni:
I tupun ia
I tupun ia:
ya ‘ni:
Man ‘arafa’Llahu fa huwa mushrikun.
Barangsiapa mengenal [ Allah] maka ia itu mushrik.
Al faqiru la yahtaju ila’Llah.
Al-faqiru aswadu’l-wà}hi fi’l-darayu.
Yang faqir  i tu hitam mukanya pada kedua negeri.
I tupun ia: sha’ir
105 Ana’l-ghariqu [126] bi bahrin ma lahu tarafun
[Qad] ghibtu fihi ‘ani’l-wijdani wal-adami.
y a ‘ n i:
Aku telah karamlah pada  l aut yang tiada bersisi,
Maka lenyaplah aku da l amnya; daripada  ‘ ada’ dan
‘ t i a d a’ pun aku tiadalah  t ahu.
I t u p un ia: sha’ir.
Raddadtani bayna’l-maniyyati wa’l-muna
Wa jama’tani bayna’l-ïnayati wa’l-‘ana
Wa akhadhta ni [minni] li dhatika faYtaqay
Tu limustawa la anta fihi wa la ana.
ya ‘ni:
Kembalilah aku daripada  m e n u n t ut dan yang
d i t u n t u t. Dan berhimpunlah aku  ant a ra yang mengarunia dan [yang] dikarunia,
Dan kembalüah daripada aku bagi adaMu suatu
tiga.
Tiada Engkau da l amnya dan tiada aku.
Lagi ka ta Shykh  ‘At t ar (radiya’Llahu’anhu!):
[Baz ba ‘de dar tamasha tarab
tan farudandi farigh az talab.]
ya ‘ni
Daripadanya kembalilah setengah daripada melihat
tamasha  t e p uk dan  t a r i:
Nyawanya pun diberi selesaüah ia daripada  t u n t u t.
I tupun ia:
[Bayt: waraq sukhtah wa qalam bashkun siyahi
zir dam dharkas hamin din [u] qissati Hshq
ust ki dar daftar nah migunjad.
ya ‘ni:
Qartas pun  d i t u n u k an dan qalam pun dipa t ahkan
dan  d a ‘wat pun di tumpahkan dan nafas pun di-
106 helakan. Inilah qissah ragam orang berahi bahwa
dalam daftar tiada lulus.
Ini  p un ia:
[Kata  b a yt Shaykh Ni ‘ma t u ‘ L l a h 🙂
[Talab afdat iradat wa bila wujud hijab ast
Wijdan muhal namnayi waqrub wa khiyal
Hudur ghurur naf sah du dur du dur.
y a ‘ n i:
T u n t ut pun setru dan kehendak pun sia-sia dan
wujud pun jadi dinding tiada  d a p at diperoleh
menghendaki damping dan chita yang hadir segala
ghurur naf s pun menjauhkan.
(27) Inilah kesudahan sekalian! Inüah yang dika t akan : ‘Fa’1-fana’u
‘ani’l-fana’i ghayata’1-fana.’  [ 1 2 7] Inilah yang dika t akan ‘alam
l ahut pun dapa t, dan dika t akan wasal pun dapa t, dika t akan
mahw pun dapat dika t akan. Inilah ka ta Shah ‘Ali Barizi d [alam
bahasa]  F a [ r] si:
Bar dar dara ‘l-fana ‘i kardam sujud
Sar bar awardam mara ru ‘i numud.
y a ‘ n i:
Kepada  p i n tu negeri yang fana sujudlah aku
Kubukakanlah kepalaku pe r tunjukkanl ah mukaMu kepadaku!
Kata orang Pasai : ‘Jika tiada  k u p h o, tiada be r t emu dengan kufu’
ya ‘ni  k u p ho pada bahasa Jawi  t e r t u t u p ‘: jika tiada  t e r t u t u p,
tiada be r t emu dengan kufu’—ya’ni [‘pada] Er ti pada  [ i t u] tiada
lagi lulus ia  i tu: ya ‘ni menjadi seperti dahulu tatakala dalam
kuntu kanzan makhifyyan, serta dengan Tuhannya. Seperti biji
dalam  p u h un kayu; sungguh pun  z ahi r [nya] tiada kelihatan
haqiqa tnya esa jua. Sebab inüah Mansur [alHalaj] menga t akan:
Ana’l-Haqq/’—setengah menga t akan: [‘Inni] Ana ‘Ll ah! ‘; kerana
adanya ini tiadalah  d ü i h a t n ya lagi.
107 (28) Inüah ertinya:
Idha tamma’l-faqru fahuwa’Llah.
Ertinya:
Yang faqir tiada suatu pun akan baginya.
Maka firman Allah Ta’ala dalam Hadith Qudsi:
Nawmu’l-faqiru nawmi
akalu 1-faqiru akali “
wa sharabu’l-faqiru sharabi
ya’ni:
Tidur faqir itu tidurKu, dan
makan faqir itu makanKu, dan
minum [faqir] itu minumKu.
Dan lagi firman Allah Ta’ala:
Al-insanu sirri wa an[a] sirruhu wa sifatufhuj.
y a ‘ ni
Yang manusia rahasiaKu dan
Aku rahasianya dan sifatnya.
Kata U ways al-Qarani:
Al-faqiru hayatuhu bi hayati’Llahi
wa ‘ayshuhu bi ‘ayshilf’Llah].
ya’ni:
Yang faqir itu hidupnya dengan hidup Allah,
dan sukanya dengan kesukaan Allah.
Seperti kata Masha’ikh hendak [nya] :
Man ‘arafa’ Llaha fa huwa mushrikun
wa man ‘arafa nafsahu fahuwa kafirun.
108

13 Oktober 2012

Syair ini karangan Hamzah Fansuri 1

oleh alifbraja

1 permanen;
C a t a t an
Sya ir ini ka r angan Hamz ah F ansu ri yai tu s eor ang ahlu suluk ya ng termasyhur, yang hidup pa da penghabisan abad keen umum belas dan permula an abad
k e t u j uh be l a s. T emp at kediamann ya IAL ah Barus, ia s angat bany ak me ngu nj un gi negeri asing: P ahang, B antan, K udus, S ya rh Nawi (temp at Keduduk an
raja S i a m), Mekah dan Me d i n a h. I l mu batinn ya tenta ng sifat T uhan, dun ia
d an manus ia tia da diter ima ul ama – ul ama agama I sl am zam an it u. T e r u t a ma
Sye ch N uru ‘dd in al Rani ri seorang ula ma Islam yang termasyh ur di Ac eh,
sela lu membant ah dan meme ran gi i lniu Hamz ah F ansu ri ser ta S jamsu ‘dd in al
S umatrani, s eor ang ahli sul uk ya ng sef aham dengan Hamz ah F angsur i. Demik ianl ah S ult an Ac eh menyur uh bak ar kitab – kit ab ka r angan ked ua anggota sul uk
i t u. T eta pi meskip un demiki an Hamz ah F ansu ri termasyh ur s amp ai kemanama na d an pengaruhn ya s amp ai ke pul au J aw a.
41 Bismillahi R Rahmanir RAHIMI
Subhanallah terlalu kamil. ‘
Menjadikan insan alam dan jahil,
Dengan hambaNya daim
 2
 la Wasil
 3
Itulah Mahbub
 4
 bernama Adil.
Mahbub itu tidak berlawan,
Lagi alim lagi bangsawan,
Kasihnya banyak lagi gunawan,
Aulad
 5
 itu bisa t e r t awan.
Bersunting bunga lagi bumalai
 6
 ,
Kainnya warna berbagai,
Tau be rbunyi di dalam sagai,
 7
Olehnya itu orang teralah.
Ingat-ingat kau lalu-lalang,
Berlekas-lekaslah jangan amang,
 8
Suluh Muhammad yugia kau pasang,
Supaya salim
 9
 jalanmu datang.
kamil (b hs Ar b) – s e m p u r h a.
d a im (b hs A r b) – s enant i a s a.
Wasil (b hs Ar b) – s amp a i.
4
  m a h b ub (b hs A r b) – k e k a s i h.
s
 Au l ab (b hs A r b) – p a ra ahak.
  B u m a l ai (b hs Mly. L ama) – e lok.
sagai – hal amb a.
8
ama ng – angan-angan,
salim (b hs Ar b) – s e j aht e r a.
42 Rumahnya ‘ali
1
 be rpa t umum birai.
2
Lakunya cerdas sempurna bisai.
3
Tudungnya halus terlalu pipai.
4
Daim be rbuni di luar tirai.
Jika sungguh engkau asyik mabuk.
Memakai c andi
5
 pergi menjaluk.
6
Ke dalam pagar supaya kau masuk.
Barang ghairallah
7
 sekeliannya amuk.
Berjalan engkau rajin-rajin.
Mencari guru yang t ahu akan batin
Yugia kau t u n t ut jalan yang amin.
Agar dapat lekas kau kahwin
8
Berahimu daim akan orang kaya.
Manakan dapat tidak berbahaya.
Ajib segala akan ha ti sahaya.
Hendak be rdapat dengan maya raya.
1
 ali (b hs Ar a b) – yang tihggi.
birai – hiasan,
bisai – p a n d a i.
4
 pipai – licin.
5
  c a n di – t e l e k u n g.
6
 menj a luk – mi n t a.
7
 ghairallah (b hs A rb) – selain da ri Al l ah.
8
  amin (b hs Ar b) – y a ng a m a n. Tiada kau t ahu akan agamamu.
Terlalu ghurur
9
 dengan ha r t amu.
Nafsu dan syahwat daim sertamu.
Asyik dan mabuk bukan kerjamu.
Rantaikan kehendak sekelian musuh.
Anjing tunggal yugia kau b u n u h.
Dengan Mahbubmu seperti suluh.
Supaya d a p at berdakap t u b u h.
Dunia nan kau sandang-sandang.
Manakan d a p at ke b u k it rentang.
Angan-anganmu terlalu panjang.
Manakan d a p at segera memandang.
Dunia jangan kau t a ruh.
Sehingga hampir Mahbub yang j a u h.
Indah segala akan kalah-kaluh.
Ke dalam api pergi be r l abuh.
. IggfuM »nav – (d ß ta tdo)
. Naaeiri – ‘uni
. i s b n aq – iaaid
 E
. Ni-jif – ieqiq *
. Jjnurfsfsi – ibntw *
. Nlnim – jiulßinam
 d
lialiA hal ub nia ba – (d ia arid) rißliBiiBdig
 r
9
  g h u r ur (b h s) – t e r t i p u.
44 Hamzah miskin hina dan ka r umum.
Bermain ma ta dengan Rabul Alam.
Selamanya sangat terlalu da l am.
Seperti mayat sudah t e r t a n umum.
Allah Maujud ‘terlalu baqi.
2
Dari enam jihad kenahinya cali.
Wa Huwal Auwalu
3
 sempurna ‘ali.
4
Wa Huwal Akhi ru ‘daim nur ani.
Nurani itu hakikat k h a t umum.
Pertama terang di l aut dalam.
Menjadi makhluk sekelian alam.
Itulah bangsa Hawa dan Adam.
Te r t entu awal sua tu cahaya.
Itulah cermin yang mulia raya.
Terlihat di sana miskin dan kaya.
Menjadi dua Tuhan dan sahaya.
1
 maujud (bhs Arb) – yang ada.
2
 baqi (bhs Arb) – yang kewal.
 Wa huwal auwalu (bhs Arb) – ia yang awal.
ali (bhs Arb) – yang tinggi.
45 Nurani itu terlalu zahir
Bernama Ahma d ‘dari cahaya satir.
2
Peniuru alam keduanya hadir.
Itulah makna awal dan akhir.
Awal dan akhir asmanya
3
 jarak.
Zahir dan batin warnanya banyak.
Meskipun dua ibu dan anak.
Keduanya cahaya di sana banyak.
Yugia kau pandang kapas dan kam,
Keduanya wahid
4
 asmanya lain,
Wahidkan hendak lahir dan batin,
Itulah ilmu ke sudahannya main.
Anggamu
5
 itu asalnya t ahi r.
6
Batinnya arak zahirnya takir,
Lagi kau saqi
7
 lagi kau sakir
Itulah Mansyur menjadi nazir.
1
  A hm ad – n ama lain da ri Nabi M uhamma d.
2
 satir (b hs Ar b) – yang byrsembuny i.
3
  a sma (b hs Ar b) – n ama.
4
 wahid (b hs Ar b) – s a t u.
* A n g g a – a n g g o t a.
6
  t a h ir (b hs A r b) – suc i.
7
 saqi (b hs Ar b) – y a ng m e m i n u m.
8
 na z ir (b hs A r b) – p e n i l iw.
46 hunuskan ma ta t u n u k an sarung.
I sba tkan
1
 Allah nafikan
2
 pa tung.
Laut t auhid yugia kau harung.
Itulah ilmu t emp at bernaung.
Rupamu zahir kau sangka t anah.
Itulah cermin sudah terasah.
Jangan kau pandang j auh be rpayah.
Mahbubmu hampir serta ramah.
Kerjamu mudah periksamu kurang.
Kau sangka tasbih
3
 membilang tulang.
Ilmumu baha ru berorang-orang.
Lupakan fardu yang tersedia hut ang.
J a u h a rmu lengkap dengan t u b u h.
Warnanya nyala seperti suluh.
Lupakan nafsu yang tersedia musuh.
Manakan d a p at adamu gugur.
1
 isbatkan (bhs Arb) – memastikan adanya Allah.
2
 nafi (bhs Arb) – meniadawan.
3
 tasbih – buah tasbih alat penghitung zikir.
47 J auhar yang mulia meskipun sangat.
Akan orang muda kasih akan alat.
Akan ilmu Allah ingin kau pe rdapa t.
Mangkanya sampai pulangmu r aha t.
4
Hamzah Nuwi zahirnya J awi.
5
Batinnya cahaya Ahmad yang saf i.
6
Meskipun ia hina j a t i.
Asyiknya daim akan Zatul Bari.
7
Sidang fakir emp u n ya ka t a.
Tuhanmu lahir terlalu nya t a.
Jika sungguh engkau be rma t a.
Lihatlah dirimu rata-rata.
Kenal dirimu hai anak j amu.
Jangan lupa akan diri kamu.
Ilmu hakikat yugia kau r amu.
8
Supaya terkenal’ali adamu.
4
  r a h at (b hs Ar b) – s Enang.
5
  J awi – m a k s u d n ya o r a ng My l a y u.
6
 safi (b hs A r b) – b e r s i h.
7
  Z a t ul Bari (b hs A r b) – Z at Allah.
8 ra mu – mengumpulk an bahan – baha n.
48 Jikalau terkenal dirimu baqi.
Elokmu i tu t i ada berbagi.
Hamba dan Tuhan daim berdami.
Memandang diri jangan kau lali.
Kenal dirimu hai anak dagang.
Menafikan diri jangan kau sayang.
Suluh isbat yugia kau pasang.
Supaya d a p at mudah kau da t ang.
Dengarkan sini hai anak r a t u.
Ombak dan airnya asalnya satu.
Seperti manikam Muhith
9
– Dengan b a t u.
Inilah tamsil engkau dan r a tu.
J ika terdengar olehmu firman.
Pada taur at Injil dan F u r q a n.
3
Wa Huwa ma ‘akum pada ayat Quran.
Bikulli syaiin muhi th terlalu ‘i y a n.
4
1 berda mi – tid ak be rcerai, bersat u.
2 m u h i th (b hs Ar b) me l i p u t i.
3 F urq an – nama lain dari Qurajv ^ ^ A n ^ m
^ ^ S ^ ^ ^ ^ ^ ^ i. “
Dan, angit bumi m ya
A llah – d an Al l ah itu me Lipu ti segala sesua tu
Wa Huwa M a ‘ak um – Al l ah itu bers amamu, iy an – nyat a. pa s t,.
49 Syari’at Muhammad ambilkan suluh.
Ilmu hakikat yugia kau p e r t u b u h.
Nafsumu itu yugia kau b u n u h.
Makanya d a p at sekelian gugur.
3
Mencari dunia berkawan-kawan.
Oleh nafsu khabis
4
 engkau t e r t awan.
Nafsumu itu yugia kau lawan.
Mangkanya sampai engkau bangsawan.
Mahbubmu itu tidak berhasil.
5
Fa ainama tuwallu
6
 jangan kau ghafil.
7
Fa samma Wajhullah
8
 sempurna Wasil.
9
Inilah jalan orang kamil.
1
 °
Kekasihmu lahir terlalu terang.
Pada kedua alam nya ta t e rbent ang.
Ahlul Makrifah ‘terlalu menang.
Wasilnya daim tidak berselang.
3
luruh – l enyap, fana.
4
 khabis (Ar b) – b u s u k, j a h a t,
h a il (A r b) – tirai, p e m b a t a s.
fa a inama tuwa l lu – kutip an ay at Qu r an dari sur ah Al B a ^ ar ah ay at 1 15
yang terj ema h an sel engkap ay at berbunyi: “K epunya an Allah tim ur d an
b a r a t: ke r ana. tu, ke ma na saja engkau menghadap, di sana terdap at Wajah
7 A llah: sesungguhn ya Allah mempuny ai ilmu ya ng luas “
Ghafil (Ar b) – lupa.
J fa s amma Wajhullah bagi an ay at 1 15 sur ah Al B aqara hal. s epe r ti pada n o ta 6
^ Wasil (Ar b) – s amp a i.
kamil (A rb) – sempurna, ma ks ud di sini Ins an Kami l.
50 Hempaskan akal dan rasamu.
Lenyapkan badan dan nyawamu.
Pejamkan ingin dua ma t amu.
Di sana lihat peri r u p amu.
Adamu itu yugia kau serang.
Supaya d a p at negeri yang henang.
3
Seperti Ali t a tka la perang.
Melepaskan duldul t i ada berkekang.
Hamzah miskin orang’uryani.
4
Seperti Ismail jadi qurbani.
5
Bukannya Ajam dan A ‘r abi.
Nantiasa Wasil dengan yang baqi.
-Habis-
3
 henang – tetap.
4
 uryani (Arb) – telanjang.
5
 qurbani (Arb) – korban. Maksudnya: seperti Nabi Ismail yang rela mengorbankan dirinya demi memenuhi mimpi ayahnya Ibrahim.
51 SYAIR NAMA-NAMA TUHAN
Aho segala ki ta yang menyembah nama
Yogya dike t ahui apa Yang Pertama
Karena Tuhan ki ta yang Sedia Lama
Dengan ketujuh sifat bersama-sama
Kunjung-kunjung di b u k it yang Mahatinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada t u b u h n ya
Nurani haqiqat kha t umum
Supaya terang laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi Sultan kedua alam
Tuhan ki ta Empunya Dhat
Awwainya Hayy pe r t ama bilang Sifat
Keduanya Ilmu dan Rupa Ma’lumat
Ketiga Murid ‘kan sekalian I r adat
52 Keempat Qadir dengan Qudr a tnya tamam
Kelimanya sifat bernama Kalam
Keenamnya Sami ‘dengan adanya dawam
Ketujuhnya Basir akan halal dan haram
Ketujuhnya i tu adanya qadim
Akan istidat allamin sempurna Alim
Karena sifat ini dengan Kamal al-hakim
Bernama Bismillahi ‘l-Rahmani’ l-Rahim.
Ilmu ini Haqiqat Muhammad a l – N a bi
Menurutkan Ma’lum dengan lengkapnya qawi
Dari Haqiqa tnya itu jahil dan wali
Beroleh i’tibarnya dengan sekalian peri
Tuhan ki ta itu empunya Kamal
Di dalam tertandingi tidak panah zawal
Rahman da l umumnya pe rhimpunan Jalai
Beserta dengan Rahim sekalian Jamal
53 Tuhan ki ta itu yang bernama Aliyy
Dengan sekalian Zat senantiasa baqi
Alajamiil alamin Atha rnNya jadi
Dari Sittu j ihat sebab itulah khali
Cahaya AtharNya tidak padam
memberikan wujud pada sekalian alam
menjadikan mahluq siang dan malam
IIA abadi ‘l-abad tidak kan karam
Tuhan ki ta itu seperti Bahr-al ‘amiq
Ombaknya penuh pada sekalian tariq
Laut dan ombak keduanya rafiq
Akhir ke dalamnya jua ombaknya ghariq
Lautnya ‘Alim ha lunnya Ma’lum
Kondisinya Qasim ombaknya Maqsum
Tuhannya Hakim s h u ‘u n n ya Mahkum
Pada sekalian ‘alamin inilah rusum
54 Jikalau sini kamu tahu akan ada
Itulah t emp at kamu shuhud
Singkirkan rupamu dari sekalian quyud
Agar dapat ke dalam diri qu’ud
Pada wujud Allah itulah yogya kau qa’im
Singkirkan rupa dan namamu da’im
Nafikan rasamu dari Makhdum dan khadim
Agar sampai kepada Amal yang Khatim
Jika engkau belum t e t ap seperti batu
Hukum dua lagi khadim dan ratu
Setelah lupa engkau dari emas dan mati
Mangkanya d a p at menjadi satu
Jika belum fana dari ribu dan r a tus
Tiadakan dapat adamu kau hapus
Nafikan rasamu dari kasar dan halus
Agar dapat barang ka t amu harus Hamzah Fansuri sungguh pun da’if
Haqiqa tnya hampir di Dhat al-Sharif
Sungguh pun habab rupanya khatif
Wasilnya da ‘im dengan Bahr al-Latif
Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Senantiasa Wasil dengan Yang Baqi
Hamzah Fansuri terlalu karam
Di dalam laut yang mahadalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi sultan kedua alam
56 SYAIR a’yan THABITAH
Aho segala kamu yang bernama taulan!
T u n t ut ma’rifat pada mengenal a’yan
Karena disana sekalian ‘arifan
Barang ka t anya setengah dengan firman.
A’yan thabi t ah bukankah shu’un dha t iyyah?
Mengapa pulang dika ta ada ‘ilmiyyah!
Tatakala awwal baru muqabalah
Olehnya janggal sebab lagi me n t a h.
A’yan thabi t ah bukankah suwari?
Mengapa pulang dika ta sifat Wahyi!
Tatakala awwal baru tafsil ‘ilmi
Olehnya janggal tidak mengetahui.
A’yan thabi t ah bukankah mahiyyat al-mumkinat?
Mengapa pulang dika ta mus t ahi l a t!
Tatakala awwal telah bernama ma ‘lumat
Olehnya janggal tidak mendapa t.
57 a’yan thabi t ah bukankah makhluq?
Mengapa pulang dika ta ma ‘shuq!
Tatakala awwal baru masbuq
Olehnya janggal lalu t a f a ruq.
A’yan thabi t ah bukankah mi r ‘a t?
Mengapa pulang dika tak adamiyya t!
Tatakala awwal be rnama furuf ‘aliyat
Olehnya janggal menjadi dalalat.
A’yan thabi t ah bukankah ‘alam?
Mengapa pulang dika ta ‘adam!
Tatakala awwal telah sudah mutalazam
Olehnya janggal penglihatnya kelam.
A’yan thabi t ah bukankah ‘ashiq?
Mengapa pulang dika ta Khaliq!
Tatakala awwal baru mutalahiq
Olehnya janggal lalu mufariq.
58 a’yan thabi t ah bukankah ma ‘lum?
Mengapa pulang dika ta ma ‘d um!
Tatakala awwal telah sudah t e n n a q s um
Olehnya janggal tidak mafhum.
A’yan thabi t ah bukankah faqir?
Mengapa pulang dika ta amir!
Tatakala awwal baru hadir
Olehnya janggal menjadi khasir.
A’yan thabi t ah bukankah ja’izul ‘1-ada?
Mengapa pulang dika ta mumtani’u’l-ada!
Tatakala awwal telah sudah mawjud
Olehnya janggal menjadi j u h u d.
A’yan thabi t ah bukankah sh’un t h u b u t i?
Mengapa pulang dika ta ‘adam mahdi!
Tatakala awwal sudah mujmali
Olehnya janggal menjadi Mu’tazili. A’yan thabi t ah bukankah ‘adam mumkin?
Mengapa pulang dika ta ‘adam sakin!
Tatakala awwal telah menjadi cermin
Olehnya janggal lalu ngerin.
‘Adam mimkin awwalnya ma’ d um
Disana faqir sekalian antum
Didalam ‘ilmu sekaliannya ma’lum
Itulah murad wa huwa ma’akum aynama kuntum.
Dari Hamzah s Sha’irs (Coo. Or. 2 atau 6, Cod. Or. 3374, Cod. Or.
3 3 7 2, Library, Universitas Leiden)
60 SYAIR RUH ID AFI
T a ‘a y y un awwal ada yang j ami’ i
Pertama disana nya ta Ruh Idafi
Semesta ‘alam sana lagi ijmali
Itulah bernama Haqiqat Muhammad al-Nabi.
Ta ‘ayyun thani ada yang tamyizi
Disana terperi sekalian ruhi
Semesta ‘alam sana tafsil yang mujmali
Itulah bernama haqiqat insani.
Ta ‘ayyun tha l i th ada yang mufassali
Ia itulah penghargaan dari karunia Ilahi
Semesta ‘alam sana tafsil fi’li
Itulah bernama a’yan khariji.
Rahasia ini yogya dike t ahui
Pada kita sekalian yang me n u n t u ti
Demikianlah kelakuannya tanazzul dan taraqqi
Dari sanalah kita sekalian menjadi. Pada kunhinya i tu belum be rke t ahuan
Demikianlah ma r t a b at asal awal
Bernama wahdat t a t aka la zaman
Itulah ‘ashiq sifat menya t akan.
Wahdat itulah bernama Kamal dhati
Menyatakan sana Ruh Muhammad al-Nabi
Tatakala i tu be rnama Ruh Idafi
I tul ah ma h k o ta Qurayshi dan ‘Arabi.
Wahdat itulah sifat yang Keesaan
Memberikan wujud pada sekalian manusia
MuhitNya lengkap pada sekalian zaman
Olehnya itu tidak Ia bermakan.
Wahdat itulah yang pe r t ama nya ta
Didalamnya mawjud sekalian r a ta
MuhitNya lengkap pada sekalian anggota
Demikianlah ump ama chahaya dan pe rma t a.
62 wahdat itulah bernama Kunhi Sifat
Tidak ada bererai dengan itlaq Ahadiyyat
Tanzih dan tashbih disana ma ‘iyyat
Demikianlah sekarang zahir [2 8] pada ta ‘ayyuna t.
Wahdat itulah bernama bayang-bayang
Disana nya ta Wayang dan Dalang
MuhitNya lengkap pada sekalian padang
Mushahadat disana jangan kepalang.
Wahdat itulah yang pertama awwal
Ijmal dan tafsil sana mujmal
MuhitNya lengkap pada sekalian a f al
Itulah ma r t a b at usul dan asal.
Wahdat itulah yang pe r t ama tanazzul
Ijmal dan tafsil sana maqbul
MuhitNya lengkap pada sekalian maf’ul
Itulah Haqiqat Junjungan Rasul.
63 wahdat itulah yang pe r t ama tajalh
Tidak ada bererai dengan Wujud Mutlaqi
Ijmal dan tafsil didalam ‘ilmi
Itulah ma r t a b at kejadian Ruh Idafi.
Wahdat itulah yang pe r t ama taqayyid
Disana idafat lam yulad dan lam yalid
Pada sekalian t a ‘a y y un jangan kau taqlid
Mangkanya sampai bernama tajrid.
Wahdat itulah sifat yang t a l ahuq
Tanzih dan tashbih sana cluk
MuhitNya nya ta tatakala masuk
Itulah pe r t emuan Khaliq dan Makhluq.
Wahdat itulah sifat yang talazum
Tanzih dan tashbih sana malzum
MuhitNya lengap pada sekalian ma ‘lum
Itulah pe r t emuan Qasim d an Maqsiim. Wahdat itulah sifat yang taqarun
Tanzih dan tashbih sana maqrun
MuhitNya lengkap pada sekalian mudabbirun.
Itulah murad: Wa fi anfusikum-a fa la tubsirun.
65
J SYAIR IBA HATI
Tuhan ki ta yang be rnama Qadim
Pada sekalian makhluq terlalu karim
Tandanya qadir lagi dan hakim
Menjadikan ‘alam dari al-Rahman al-Rahim.
Rahman itulah yang bernama sifat
Tidak ada bererai dengan kunhi Dhat
Dhat disana pe rhimpunan sekalian ‘iba r at
Itulah haqiqat yang bernama ma ‘l uma t.
Rahman itulah yang bernama ada
Kondisi Tuhan yang tersedia ma ‘b ud
Kenyataan Islam Nasrani dan Yahud
Dari Rahman itulah sekalian mawjud.
Ma’bud itulah terlalu bayan
Pada kedua ‘alam kulla yawmin huwa fi shan
Ayat ini dari Surat al-Rahman
Sekalian ‘alam disana hayr an.
66 Ma’bud itulah yang bernama haqiq
Sekalian ‘alam didalamnya ghariq
Olehnya itu sekalian fariq
Pada kunhinya itu tidak mendapat tariq
Haqiqat itulah terlalu ‘ayan
Pada rupa kita sekalian insanAynama tuwallu suatu burhan
Fa thamma wajhu ‘Llah pada sekalian makan.
Insan itu terlalu ‘ali
Haqiqatnya Rahman yang Maha Baqi
Ahsanu taqwimin itu rabbani
Akan kenyataan Tuhan yang bernama Subhani.
Subhani itulah terlalu ‘ajib
Dari habli’l-Warid puh ia qarib
Indah sekali Qadi dan kha t ib
Demikian hampir tidak mendapat nasib.
67 Aho segala kita yang ‘ashiqi
Ingatkan ma ‘na insani
Jika sungguh engkau bangsa ruhani
Jadikan dirimu akan rupa Sultani.
Kenal dirimu hai anak ‘alim!
Supaya engkau nentiasa salim
Dengan dirimu itu yogya kau qa’im
Itulah haqiqat salat dan sa’im.
. Dirimu itu bernama khalil
Tidak ada bererai dengan Rabb [a l -] Jalil
Jika ma ‘na dirimu dapat akan dalil
Tidak berguna madhhab dan sabil.
Kullu man ‘alayha fan / ayat min Rabbihi
Menyatakan ma ‘na irjiH Ha aslihi
Akan insan yang deroleh tawfiqi
Supaya karam dalam sirru sirrihi. Situlah ada sekalian funun
Tinggallah engkau dari mal wa’1-banun
Engkaulah ‘ashiq terlalu j u n un
Inna IVLlahi wa inna ilayhi raji’un.

8 Oktober 2012

AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 7

oleh alifbraja

ORANG-ORANG YANG TERBUNUH DI JALAN ALLAH TIDAKLAH MATI
Allah telah mengungkapkan dalam al-Qur’an, bahwa orang-orang yang meninggal di jalan-Nya sesungguhnya tidaklah “mati”, tetapi hidup di sisi-Nya. Keadaan mereka ini diungkapkan dalam ayat-ayat sebagai berikut:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam ke adaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekha watiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyia kan pahala orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 169-71).
“Dan janganlah kamu mengatakan terha dap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.s. al-Baqa rah: 154).
Bahwa Allah akan menyempurnakan rah mat bagi orang-orang yang syahid dan bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga merupakan rahasia Allah lainnya yang diung kapkan dalam al-Qur’an.
“Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (Q.s. Muhammad: 4-6).
“Maka Tuhan mereka mengabulkan per mohonan mereka, ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masuk kan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik’.” (Q.s. Ali Imran: 195).
“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik. Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Se sung guhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat yang mereka menyu kainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.s. al-Hajj: 58-9).
Kenyataan yang diungkapkan dalam ayat-ayat di atas tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah di antara rahasia-rahasia dalam al-Qur’an, yang pada umumnya tidak diketahui orang banyak.

ALLAH PEMBERI KEMULIAAN
Banyak orang yang tidak mempercayai akhirat, sehingga berlomba mencari keku asaan, kekuatan, dan kehebatan di dunia, mereka menganggap bahwa kehidupan itu hanyalah kehidupan dunia. Sepanjang hidup mereka, mereka berusaha dengan tamak untuk mencapai tujuan ini. Mereka memiliki nilai dan patokan tersendiri tentang keku asaan, kekuatan, dan kemuliaan. Menurut kriteria mereka, orang perlu kaya, memiliki peran penting dalam masyarakat, dan kemasy huran. Seandainya mereka tidak memiliki salah satu di antara kriteria tersebut, mereka menganggap bahwa mereka tidak memiliki harga diri, kemuliaan, dan gengsi. Padahal itu merupakan pandang an yang salah. Kesalahan ini dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyem bahan terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” (Q.s. Maryam: 81-2).
Satu-satunya pemiliki kekuatan dan keku asaan adalah Allah, dan Dialah yang mem berikan kekuatan dan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dengan demi kian, orang-orang yang menggunakan asbab lain untuk memperoleh kekuatan dan keku asa an selain dari berdoa kepada Allah sesung guhnya telah menyekutukan-Nya. Hal ini karena kekayaan, prestise, atau kedudukan tidak dapat memberikan kekuatan kepada seseorang. Di samping itu, bagi Allah hanya memerlukan waktu sedetik saja untuk men cabut kekuasaan itu dari seseorang. Misalnya, seorang top-eksekutif bisa saja kehilangan seluruh kekayaannya, kehormatannya, dan kedudukannya dalam sesaat, karena satu-satu nya pemilik yang hakiki dari segala sesuatu adalah Allah.
Allah mengaruniakan kekuatan dan kemu lia an kepada hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya, yang dengan sepenuh hati meng­abdi kepada-Nya, dan yang mengikuti al-Qur’an. Seseorang yang hidup berdasarkan al-Qur’an tidak pernah melakukan apa pun yang dapat membawa kepada kehinaan, penye salan, atau malu di hadapan Tuhan. Orang-orang yang benar-benar beriman tidak takut kepada siapa pun dan kekuasaan mana pun, dan tidak pernah menjilat siapa pun. Yang mereka inginkan hanyalah memperoleh ridha Allah dan hanya takut kepada Allah. Itulah sebabnya mereka tidak merasa lemah dan tidak pernah merasa kekurangan. Meski pun mereka tidak memiliki harta benda, keka yaan, jabatan, atau prestise, Allah memberi kan kepada mereka kekuatan dan kemuliaan. Orang-orang seperti itu me miliki ketinggian dan kemuliaan karena iman mereka, dan mereka hidup berdasarkan ajaran al-Qur’an. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Munafiqun: 8).

RAHASIA MENCARI JALAN YANG BENAR
Hampir setiap orang memiliki kriteria sendiri-sendiri tentang yang benar dan yang salah. Kriteria yang digunakan untuk mene tap kan yang benar dan yang salah ini sangat berbeda-beda. Sebuah buku, seseorang, se orang politisi, atau kadang-kadang seorang filsuf, barangkali dijadikan pembimbing dalam kehidupan seseorang. Namun demi kian, jalan yang benar, sebagai satu-satunya jalan yang menuju kepada keselamatan, ada lah agama yang telah dipilihkan oleh Allah. Menurut jalan ini, tujuan utamanya adalah untuk mencari keridhaan, rahmat, dan surga Allah. Sedangkan jalan-jalan lainnya, betapa pun menariknya jalan itu kelihatannya, hanya lah menipu dan menjerumuskan kepada kehancuran, keputusasaan, penderitaan, dan siksa yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat.
Orang-orang yang dibimbing ke jalan yang benar merupakan rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an. Mereka adalah hamba-hamba yang dibimbing Allah kepada jalan-Nya dan yang memperoleh surga-Nya.
Beriman dengan Penuh Keyakinan
Sebelum yang lain-lainnya, orang perlu memiliki iman agar dapat memperoleh bim bingan kepada jalan yang lurus. Jika seseorang meyakini bahwa pemilik dan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu di antara langit dan bumi itu adalah Allah, dan ia merasa yakin bahwa tujuan keberadaannya di dunia adalah untuk menjadi hamba Allah, dan ia mencari ridha Allah dalam seluruh kehidup­annya, maka Allah akan membimbingnya ke jalan yang lurus. Beriman kepada Allah, akhirat, dan al-Qur’an haruslah merupakan iman yang teguh dan yakin. Meskipun seba gian orang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, tetapi mereka menyimpan keraguan. Ketika mereka ber kum pul dengan orang-orang kafir dan berada di bawah pengaruh mereka, orang-orang seper ti itu kemungkinan menampakkan kelemahan dan bersikap memusuhi terhadap Allah dan agama-Nya. Akan tetapi, orang-orang yang dibimbing Allah kepada jalan yang lurus memiliki iman yang teguh dan tidak tergoyahkan:
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya, dan sesung guhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Hajj: 54).
Berpaling kepada Allah dengan
Penye rahan yang Sempurna
Orang-orang beriman yang berpaling kepada Allah dengan penyerahan yang sem purna merupakan rahasia lain dalam memper oleh petunjuk ke jalan yang lurus. Bagi orang yang beriman kepada Allah dan takut akan akhirat, dunia ini tidaklah menarik baginya.
Karena yang didambakannya hanya men cari ridha Allah, orang-orang yang benar-benar beriman berpaling kepada Allah dalam semua perbuatan mereka, dan mereka menge tahui bahwa Allah menguji mereka, mereka berserah diri kepada Allah atas takdir mereka yang telah ditetapkan Allah. Allah telah mem beri tahu bahwa orang-orang yang berserah diri kepada-Nya akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus:
“Dan bagaimanakah kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.s. Ali Imran: 101).
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu ten tang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiat kan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (Q.s. asy-Syura: 13).
Mengikuti Nasihat yang Diberikan
Perintah Allah lainnya kepada hamba-hamba-Nya yang menginginkan petunjuk kepada jalan yang lurus adalah sebagai ber ikut:
“Dan sesungguhnya kalau mereka melak sanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih mengu atkan mere ka. Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (Q.s. an-Nisa’: 66-8).
Orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah berusaha untuk membersihkan diri mereka dari kesalahan dan berusaha untuk memperoleh kesempurnaan akhlak yang menjadikan Allah ridha kepadanya. Namun, orang perlu bersikap rendah hati agar kesalahan-kesalahannya diampuni dan agar memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Orang yang rendah hati yang berusaha untuk membersihkan dirinya, pertama-tama akan bersungguh-sungguh mengikuti perin tah-perintah Allah. Di samping itu, orang-orang beriman yang ikhlas saling menjadi teman dan pelindung bagi orang lain. Mereka memerintahkan yang benar dan melarang yang mungkar. Dengan demikian, karena mengetahui bahwa peringatan seorang yang beriman itu sangat penting bagi penghisaban seseorang di akhirat, maka orang-orang yang beriman juga harus saling mau menerima nasihat. Orang yang mau mengikuti nasihat yang baik akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang men jauhi bujukan setan dan menaati orang-orang yang menyeru kepada al-Qur’an dan perintah-perintah-Nya:
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.s. az-Zumar: 17-8).

NAFSU MANUSIA MEMERINTAHKAN
PERBUATAN FASIK
Nafsu manusia merupakan kekuatan dari dalam yang mendorong dan mengetahui kefasikan dan cara menjauhinya. Dengan kata lain, ia merupakan nafsu yang mengilhamkan kefasikan dan kejahatan. Allah menceritakan dua sifat nafsu ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:
“Dan nafsu serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada nafsu itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan nafsu itu.” (Q.s. asy-Syams: 7-9).
Nafsu disebutkan dalam ayat tersebut sebagai sumber semua keburukan dan kesa lah an bagi manusia. Karena memiliki sifat seperti itu, nafsu merupakan salah satu di antara musuh manusia yang sangat berbahaya. Nafsu itu bersifat sombong dan memen ting kan diri sendiri; ia selalu ingin memuas kan kehendaknya dan kesombongannya. Ia hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri, ke pen tingannya sendiri, dan hanya mencari kesenangan. Ia berusaha melakukan apa saja untuk memperdayakan manusia, karena nafsu selalu tidak mungkin dapat memenuhi ke ingin annya melalui cara yang benar. Ucapan Nabi Yusuf menjelaskan keadaan ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:
“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Yusuf: 53).
Bahwa nafsu seseorang dengan kuat meng ilhamkan perbuatan fasik dan jahat merupa kan rahasia penting yang diungkapkan kepa da orang-orang beriman, dan takut kepada Allah. Dengan diungkapkannya rahasia ini, mereka dapat mengetahui bahwa nafsu tidak pernah berhenti bekerja, sekalipun hanya sede tik. Melalui godaan, ia selalu berusaha menjerumuskan manusia dari jalan Allah. Berdasarkan rahasia ini, nafsu tidak akan per nah diam; ia akan selalu membenarkan perbu atannya dalam keadaan apa saja, ia akan selalu mencintai dirinya sendiri melebihi yang lain, ia semakin sombong, meng ingin kan benda apa saja dan menginginkan kenik­matan. Pen dek kata, ia berusaha dengan cara apa saja agar seseorang melakukan perbu atan yang berten tangan dengan hal-hal yang diridhai Allah.
Sesungguhnya, perilaku dan perbuatan orang-orang kafir yang tidak sesuai dengan ajar an al-Qur’an sepenuhnya dibentuk oleh nafsu mereka. Karena tidak takut kepada Allah, orang-orang kafir tidak memiliki ke hen dak untuk mengikuti hati nurani mereka, tetapi lebih cenderung untuk meng ikuti nafsu mereka. Percekcokan, konflik kepen tingan, dan ketidakbahagiaan yang melanda masyara kat dan agama diabaikan, berakar dari indi vidu-individu yang terjerat oleh nafsu mereka dan kepentingan diri mere ka, sehingga akibatnya, mereka kehilangan sifat-sifat ma nu sia seperti kasih sayang, saling menghor mati, dan pengorbanan.
Itulah sebabnya mengapa rahasia yang diungkapkan oleh Allah ini sangat penting. Jika seseorang mencamkan rahasia ini dalam hatinya, ia dapat mewaspadai nafsu dan mela kukan perbuatan yang benar. Nafsu dapat ditun dukkan dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diperin tahkan. Misalnya, ketika nafsu memerin tahkan untuk bermalas-malas, kita harus bekerja lebih keras. Ketika nafsu memerin tahkan untuk memen ting kan diri sendiri, kita harus lebih banyak berkorban. Ketika nafsu memerintahkan untuk berbuat kikir, kita harus menjadi lebih dermawan.
Di samping sisi nafsu yang jahat, dari surat asy-Syams kita mengetahui bahwa Allah juga mengilhamkan kepada nafsu hati nurani yang menjadikan seseorang dapat mengendalikan nafsunya agar tidak memuaskan keinginan nya yang rendah. Yaitu, di samping nafsu itu mendordong kepada kefasikan, ia juga men dorong kepada kebajikan. Setiap orang me nge tahui akan bisikan ini dan dapat menge­nali perbuatan fasik dan perbuatan baik. Namun, hanya orang-orang yang takut kepa da Allah yang dapat mengikuti hati nurani mereka.

RAHASIA KEMAKMURAN DAN KEKAYAAN YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA
Seluruh alam raya ini adalah milik Allah, dan Dia memberikan apa saja yang Dia kehendaki kepada siapa saja yang Dia kehen daki. Allahlah yang memberi rezeki kepada manusia, Dialah yang menjadikan mereka kaya, dan Dialah yang memberi panen yang berlimpah kepada mereka. Sebagaimana Allah menyatakan dalam sebuah ayat, Allah meluas kan rezeki kepada hamba-hamba-Nya menu rut kehendak-Nya, dan Dialah juga yang menyempitkan rezeki tersebut. Dia melaku kan ini untuk alasan tertentu dan karena hikmah tertentu. Baik orang-orang yang reze ki nya diluaskan maupun yang rezekinya disempitkan, pada hakikatnya merupakan ujian dari Allah. Orang-orang yang tidak menjadi sombong dan boros karena apa yang telah diberikan kepada mereka, tetapi bersyu kur kepada Allah atas segala sesuatu yang di karuniakan kepada mereka, orang-orang yang bertawakal kepada Allah dan tetap bersabar ketika harta mereka disempitkan, mereka adalah hamba-hamba yang diridhai Allah. Ucapan Nabi Sulaiman yang diketengahkan dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada manusia pada hakikatnya merupakan bagian dari ujian:
“Seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab berkata, ‘Aku akan membawa singga sana itu kepadamu sebelum matamu berke dip.’ Maka ketika Sulaiman melihat singga sana itu terletak di hadapannya, ia pun ber kata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau ingkar. Dan barangsiapa yang bersyu kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia’.” (Q.s. an-Naml: 40).
Ucapan Nabi Sulaiman yang menyatakan, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk men coba aku apakah aku bersyukur atau ingkar,” menjelaskan salah satu alasan mengapa orang-orang diberi harta.
Apa yang Allah nyatakan sebagai “kese nang an dunia” dalam al-Qur’an — termasuk harta benda, anak-anak, istri, sanak keluarga, kedudukan, kehormatan, kecerdasan, kecan tikan atau ketampanan, kesehatan, perdagang an yang menguntungkan, keberhasilan, pendek kata segala sesuatu yang diberikan tersebut merupakan ujian bagi manusia.
Rahasia Kemakmuran yang Diberikan
kepada Orang-orang Kafir
Banyak manusia di dunia ini, meskipun tidak beriman kepada Allah, mereka menik mati umur yang panjang, memiliki kekayaan yang tak terhitung banyaknya, memiliki kebun yang berbuah dan anak-anak yang sehat. Orang-orang seperti ini bukannya men cari keridhaan Allah, tetapi semua karunia yang dinikmatinya tersebut justru menjauh kan dirinya dari Allah. Orang-orang seperti ini, yang menjalani kehidupannya yang panjang dengan mendurhakai Allah dan yang melakukan dosa semakin banyak hari demi hari, menganggap bahwa apa yang mereka miliki itu merupakan kebaikan bagi mereka. Namun, al-Qur’an mengingatkan kita tentang rahasia lain dan tujuan Allah di balik nikmat dan waktu yang diberikan kepada mereka:
“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keada an kafir.” (Q.s. at-Taubah: 85).
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa Kami menang guhkan mereka itu lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menang guhkan mereka hanyalah supaya bertam bah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).
“Maka biarkanlah mereka dalam kesesat annya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu Kami ber segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Q.s. al-Mu’minun: 54-6).
Sebagaimana dijelaskan dalam ayat terse but, apa yang dimiliki orang-orang tersebut sesungguhnya bukanlah merupakan kebaikan bagi mereka. Waktu yang diberikan kepada mereka hanyalah untuk menambah dosa mereka. Ketika waktu yang diberikan kepada mereka sudah habis; kekayaan mereka, anak-anak mereka, atau kedudukan mereka, tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksa yang pedih. Sesungguhnya, Allah telah menceri takan keadaan umat-umat terdahulu yang hidup dengan kekayaannya dan harta yang melimpah, namun mereka ditimpa azab yang pedih:
“Berapa banyak umat yang telah Kami binasa kan sebelum mereka , sedang mereka lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Q.s. Maryam: 74).
Ayat berikut ini menjelaskan alasan me nga pa orang-orang tersebut diberi perpan jangan waktu:
“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo bagi nya; sehingga apabila mereka telah me lihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun Kiamat, maka mereka akan menge tahui siapa yang lebih jelek keduduk annya dan lebih lemah penolong-penolong nya?” (Q.s. Maryam: 75).
Allah adalah Mahaadil dan Maha Penya yang. Dia menciptakan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan kebaikan, dan setiap orang akan dibalas sepenuhnya atas apa yang mereka kerjakan. Menyadari hal ini, orang-orang yang beriman melihat berbagai peristiwa dengan maksud untuk melihat kebijaksanaan dan kebaikan yang diciptakan Allah dalam setiap peristiwa. Jika tidak, orang-orang akan menjalani hidupnya dengan tertipu dan jauh dari kenyataan.
RAHASIA MENGAPA ALLAH TIDAK SEGERA MENYIKSA ORANG-ORANG KAFIR
Salah satu rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah bahwa manusia tidak segera dibalas atas perbuatan buruk yang mereka lakukan, tetapi siksa tersebut ditang guhkan hingga waktu tertentu. Hal ini dike mukakan dalam ayat-ayat sebagai berikut:
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia dise babkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan mereka, sampai waktu tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Q.s. Fathir: 45).
“Dan Tuhanmulah Yang Maha Peng am pun lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung daripada nya.” (Q.s. al-Kahfi: 58).
Bahwa banyak orang yang tidak segera dibalas atas perbuatan buruk mereka menye babkan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan pernah diminta tanggung jawab atas perbuatan jahat mereka. Anggapan ini menyebabkan mereka tidak mau bertobat, merasa menyesal, dan memperbaiki kesalahan mereka. Di samping itu, hal tersebut semakin menambah keangkuhan mereka. Karena ter jauh dari hikmah, mereka tidak dapat melihat bahwa apa yang mereka lakukan itu akan menyebabkan datangnya azab, bahkan azab ter­sebut semakin berat di akhirat kelak. Da lam al-Qur’an, Allah menyatakan sebagai ber ikut:
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tang guh kepada mereka hanyalah supaya bertam bah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).
Inilah penangguhan yang diberikan Allah untuk menguji manusia. Namun, tentu saja ada waktu yang telah ditetapkan Allah sehing ga setiap orang akan dibalas atas apa yang mere ka perbuat. Ketika waktu yang ditetap kan ini tiba, maka waktu tersebut tidak dapat ditunda atau dipercepat, meskipun hanya sesaat. Allah memberi tahu kita bahwa setiap orang pasti akan memperoleh balasan:
“Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.” (Q.s. Thaha: 129).
“Dan Aku tangguhkan mereka. Sesung guh nya rencana-Ku amat teguh.” (Q.s. al-A‘raf: 183).

KESIMPULAN
Setiap orang yang membaca al-Qur’an kemudian dicamkan dalam hati dan jiwanya, yang memikirkan tentang kehidupan, ber bagai peristiwa, dan orang-orang di sekitarnya dengan sikap seorang yang beriman, dan yang menganggap Allah sebagai satu-satunya penolong dapat melihat rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an. Tidak ada satu peristiwa pun, yang penting dan yang remeh, terjadi begitu saja; tak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan. Di balik sebuah rahasia terdapat tujuan yang baik, dan hikmah yang diciptakan oleh Allah. Jika manusia berbuat dengan ikhlas dan selalu berpaling kepada Allah, maka mereka dapat mengetahui rahasia-rahasia ini dan hikmah di balik rahasia-rahasia tersebut.
Orang yang dapat memahami rahasia-raha sia al-Qur’an dan memperhatikan rahasia-rahasia dalam kehidupan ini semakin dekat kepada Allah dan hubungan dengan-Nya akan semakin kokoh. Orang-orang seperti ini sema kin mengenal Rabbnya, Pencipta langit dan bumi dan akan semakin memahami keku asaan-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya. Mereka menyadari bahwa tidak ada penolong atau pelindung selain Allah. Mereka merasa bergembira ketika melihat dan memahami hikmah dan rahasia yang diciptakan Allah setiap saat. Allah menyingkapkan lebih banyak rahasia-rahasia ciptaan-Nya kepada orang-orang seperti itu. Sekalipun kehidupan orang seperti itu tampaknya biasa-biasa saja bagi orang lain, namun sesungguhnya Allah menciptakan sesuatu yang luar biasa kepada orang tersebut setiap saat. Allah akan menun jukkan hal ini kepada setiap orang yang dengan ikhlas ingin memahami hikmah dan rahasia dalam ciptaan-Nya.
Allah menyatakan dalam al-Qur’an:
“Sesungguhnya (dalam al-Qur’an) terda pat peringatan yang jelas bagi orang-orang yang menyembah.” (Q.s. al-Anbiya’: 106).

KEPALSUAN TEORI EVOLUSI
Setiap bagian di alam semesta ini menun jukkan adanya penciptaan yang luar biasa. Sebaliknya, faham materialisme, yang ber usaha menolak fakta tentang penciptaan alam semesta, tidak lain hanyalah merupakan faham palsu yang tidak ilmiah.
Jika faham materialisme telah tumbang, maka semua faham lainnya yang berdasarkan pada filsafat ini juga tidak memiliki landasan. Hampir semua penganut faham ini adalah penganut Darwinisme, yakni teori evolusi. Teori ini, yang berpendirian bahwa kehidupan berasal dari benda mati, yang terjadi secara kebetul an, telah ditumbangkan oleh kenya taan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Ahli astrofisika Amerika, Hugh Ross, menya ta kan sebagai berikut:
Atheisme, Darwinisme, dan pada dasarnya semua “isme” yang muncul dari filsafat abad kedelapan belas hingga abad kedua puluh, yang dibangun berdasarkan asumsi, yakni asumsi yang tidak benar, bahwa alam semesta ini tak terbatas. Keajaiban alam semesta telah membawa kita berhadapan dengan sebab atau penyebab utama di balik/ di belakang/ di hadapan alam semesta dan semua isinya, termasuk kehidupan itu sendiri.1
Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan Yang merancangnya hingga ke bagian-bagiannya yang terkecil. Dengan demikian teori evolusi yang menyatakan bahwa makh luk hidup itu tidak diciptakan oleh Allah, tetapi terjadi secara kebetulan, adalah teori yang sama sekali tidak benar.
Tidak heran jika kita memperhatikan teori evolusi, maka kita akan melihat bahwa teori ini dikecam oleh penemuan ilmiah. Rancang an kehidupan ini sangatlah kompleks dan menakjubkan. Di dunia makhluk tak bernya wa misalnya, kita dapat melihat betapa luar biasanya keseimbangan pada atom-atom. Belum lagi pada dunia makhluk bernyawa, kita dapat melihat betapa kompleksnya ran cang an dari kumpulan atom, dan betapa luar biasanya cara kerja dan struktur seperti pro tein, enzim, dan sel, yang diciptakan di dalam nya.
Rancangan yang luar biasa dalam kehidup an ini menumbangkan Darwinisme pada akhir abad kedua puluh.
Kita telah membicarakan dengan sangat detail masalah ini dalam beberapa kajian kami lainnya, dan kami akan terus melakukannya. Namun mengingat pentingnya persoalan ini, tentunya akan bermanfaat jika pada kesem patan ini diketengahkan ringkasannya.
Ilmu Pengetahuan Menumbangkan Darwinisme
Meskipun doktrin ini berasal dari zaman Yunani kuno, teori evolusi dikembangkan secara luas pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang menjadikan teori ini menjadi topik terbesar dalam dunia sains adalah buku karya Charles Darwin yang berjudul The Origin of Species, yang diterbitkan pada tahun 1859. Dalam buku ini, Darwin menolak bahwa berbagai spesies yang hidup di bumi, masing-masing diciptakan oleh Tuhan. Menurut Darwin, semua makhluk hidup me mi liki nenek moyang yang sama dan makh luk-makhluk tersebut kemudian men jadi beraneka ragam dengan berjalannya waktu melalui perubahan-perubahan kecil.
Teori Darwin tidak berdasarkan pada pembuktian ilmiah yang kongkret; sebagai mana yang diakuinya sendiri, tetapi hanya berupa “asumsi”. Tambahan pula, sebagai mana pengakuan Darwin dalam bab panjang dari bukunya yang berudul Difficulties of the Theory, teori tersebut tidak mampu meng hadapi berbagai pertanyaan penting.
Darwin menumpukan semua harapannya pada penemuan-penemuan ilmiah baru, yang ia harapkan dapat memberikan pemecahan atas Difficulties of the Theory. Namun, ber lawanan dengan harapannya, pembuktian ilmiah justru semakin memperluas dimensi dari kesulitan-kesulitan ini.
Kekalahan Darwinisme atas ilmu penge tahuan dapat disimpulkan menjadi tiga topik dasar:
1) Teori tersebut sama sekali tidak men je las kan tentang bagaimana asal mula kehidup an di bumi.
2) Tidak ada pembuktian ilmiah yang me nunjukkan bahwa “mekanisme evolusi oner” yang diajukan dalam teori tersebut memiliki kekuatan untuk berkembang.
3) Apa yang dikemukakan dalam teori evolusi tersebut sama sekali bertolak belakang dengan Catatan fosil.
Dalam bagian ini, kita akan mengkaji tiga poin dasar tersebut secara garis besar:
Langkah Pertama yang Tidak Dapat Diatasi:
Asal-usul Kehidupan
Teori evolusi berpendirian bahwa semua spesies hidup berasal dari satu sel hidup tunggal yang muncul di bumi 3.8 milyar tahun yang lalu. Bagaimanakah sebuah sel tunggal dapat menghasilkan jutaan spesies hidup yang kompleks, dan jika evolusi semacam itu benar-benar terjadi, mengapa jejak-jejaknya tidak dapat dilihat pada catatan fosil, itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh teori evolusi. Namun, yang pertama dan utama, dari langkah pertama yang dinyatakan oleh proses evolusioner tersebut muncul pertanyaan: Bagaimanakah asal mula terjadinya “sel pertama” tersebut?
Karena teori evolusi menolak penciptaan dan tidak menerima campur tangan superna tural dalam bentuk apa pun, maka ia berpen dirian bahwa “sel pertama” muncul secara kebetulan berdasarkan hukum alam, tanpa ada rancangan atau perencanaan. Menurut teori ini, materi tak bernyawa menghasilkan sel bernyawa sebagai akibat dari munculnya sel pertama secara kebetulan tersebut. Namun, pernyataan ini bahkan tidak sesuai dengan hukum biologi yang paling tidak terban tah kan.
Kehidupan Berasal dari Kehidupan
Dalam bukunya, Darwin tidak pernah me nye but asal-usul kehidupan. Pemahaman kuno tentang ilmu pengetahuan pada zaman nya berangkat dari asumsi bahwa makhluk hidup memiliki struktur yang sangat seder hana. Semenjak zaman pertengahan, generasi spontan, yakni teori yang menyatakan bahwa materi tak bernyawa muncul untuk mem bentuk organisme hidup diterima secara luas. Pada umumnya diyakini bahwa serangga terjadi dari sisa-sisa makanan, dan tikus ber asal dari gandum. Berbagai eksperimen yang menarik dilakukan untuk membuktikan teori ini. Beberapa gandum diletakkan pada sebi dang kain kotor, kemudian diyakini bahwa setelah beberapa saat tikus akan muncul dari nya.
Demikian pula, ulat yang muncul dalam daging dianggap sebagai bukti dari teori tentang generasi spontan. Namun, tidak lama kemudian diketahuilah bahwa ulat tidak muncul dari daging secara spontan, tetapi dibawa oleh lalat dalam bentuk larva, yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Bahkan pada periode ketika Darwin menu lis The Origin of Species, keyakinan bahwa bakteri dapat terwujud dari materi tak ber nyawa diterima secara luas dalam dunia ilmu pengetahuan.
Namun, lima tahun setelah buku Darwin diterbitkan, penemuan Louis Pasteur mema tah kan keyakinan ini, yang merupakan landasan evolusi. Setelah melakukan peneli tian dan eksperimen yang melelahkan, Pas teur menyimpulkan secara ringkas, “Pernya taan bahwa materi tak bernyawa dapat memun culkan kehidupan telah dikubur dalam sejarah untuk selamanya.”2
Para pendukung teori evolusi menolak penemuan Pasteur dalam waktu yang lama. Namun, ketika perkembangan ilmu penge tahuan berhasil menjelaskan tentang struktur sel dari makhluk hidup yang kompleks, gagasan bahwa kehidupan dapat muncul secara kebetulan bahkan semakin mengha dapi kebuntuan yang lebih besar.
Usaha-usaha yang Tidak Pernah Meng hasilkan
Kesimpulan pada Abad Ke-20
Ahli evolusi pertama yang menggeluti masalah asal-usul kehidupan pada abad ke-20 adalah ahli biologi Rusia terkenal, Alexan der Oparin. Dengan berbagai tesisnya yang ia ajukan pada tahun 1930-an, ia berusaha membuktikan bahwa sel dari sebuah makhluk hidup dapat terjadi secara kebetulan. Namun, penelitian ini ternyata mengalami kegagalan, dan Oparin harus membuat pengakuan seba gai berikut:
Sayang, asal-usul sel tetap menjadi tanda tanya, yang sesungguhnya merupakan titik paling gelap dari seluruh teori evolusi.3
Para penganut teori evolusi Oparin berusa ha untuk meneruskan eksperimen untuk meme cahkan masalah asal-usul kehidupan. Yang paling terkenal di antara eksperimen-eksperimen ini dilakukan oleh ahli kimia Amerika, Stanley Miller pada tahun 1953. Dalam permulaan eksperimennya, ia me nyata kan bahwa gabungan gas telah ada pada atmosfer bumi pada zaman kuno, dan dengan menambahkan energi pada campurannya, Miller mensitesakan beberapa molekul orga nik (asam amino) yang ada dalam struktur protein.
Beberapa tahun berlalu, eksperimen terse but tidak berhasil mengungkapkan apa pun, yang pada saat itu dilakukan sebagai langkah penting atas nama evolusi, terbukti tidak valid, sedangkan atmosfer yang digunakan dalam eksperimen tersebut sangat berbeda dengan kondisi bumi yang sesungguhnya.4
Setelah diam dalam jangka waktu yang lama, Miller mengakui bahwa medium atmosfer yang ia gunakan tidaklah realistik.5
Semua usaha ahli evolusi yang dilakukan pada abad ke-20 untuk menjelaskan asal-usul kehidupan berakhir dengan kegagalan. Ahli geokimia Jeffrey Bada dari San Diego Scripps Institute, mengakui kenyataan ini dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam majalah Earth pada tahun 1998:
Dewasa ini, ketika kita meninggalkan abad kedua puluh, kita masih menghadapi perso alan sangat besar yang belum terpecahkan yang harus kita hadapi ketika kita memasuki abad kedua puluh: Bagaimanakah asal-usul kehidupan di Bumi ini?6
Struktur Kehidupan yang Kompleks
Alasan utama mengapa teori evolusi berakhir dalam kebuntuan besar tentang asal-usul kehidupan adalah bahwa organisme hidup yang dianggap sangat sederhana ter nyata memiliki struktur yang sangat kom pleks. Sel dari makhluk hidup lebih kompleks dibandingkan dengan semua produk tekno logi yang dihasilkan oleh manusia. Dewasa ini, bahkan dalam laboratorium yang paling maju di seluruh dunia sekalipun, sebuah sel hidup tidak dapat dihasilkan dari materi inorganik.
Persyaratan yang diperlukan bagi terben tuk nya sebuah sel terlalu besar kuantitasnya untuk diabaikan dengan berpegang pada landasan bahwa terbentuknya sel tersebut terjadi secara kebetulan. Probabilitas tentang protein, perkembangan blok dalam sel, disentesakan secara kebetulan adalah 1 dalam 10950 untuk rata-rata protein yang terdiri dari 500 asam amino. Dalam matematika, suatu probabilitas yang lebih kecil dari 1 dibanding 1050 dengan sendirinya dianggap tidak mung kin.
Molekul DNA yang terletak di inti sel dan yang menyimpan informasi genetik merupa kan bank data yang luar biasa. Jika informasi yang ada dalam DNA ditulis, maka ia akan merupakan perpustakaan raksasa yang terdiri dari 900 jilid ensiklopedi yang masing-masing terdiri dari 500 halaman.
Dalam masalah ini muncul dilema yang sangat menarik: DNA hanya dapat direplikasi dengan bantuan protein-protein khusus (enzim). Namun, sintesa dari enzim-enzim ini hanya dapat diwujudkan melalui informasi yang tercatat dalam DNA. Karena keduanya saling tergantung, mereka harus ada pada waktu yang bersamaan untuk replikasi. Hal ini menunjukkan bahwa pernyataan yang menyatakan bahwa kehidupan itu berasal dari dirinya sendiri mengalami kebuntuan. Prof. Leslie Orgel, seorang ahli evolusi ternama dari Universitas San Diego, Kalifornia, mengakui fakta ini di majalah Scientific American yang diterbitkan pada September 1994:
Sangat mustahil bahwa protein dan asam, yang keduanya sama-sama memiliki struktur yang kompleks, muncul dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang sama. Namun juga mustahil jika yang satu ada tanpa adanya yang lain. Demikian pula, secara sekilas orang dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya kehidupan tidak mungkin berasal dari sarana kimiawi.7
Mekanisme Evolusi Imajiner
Persoalan penting kedua yang menafikan teori Darwin adalah bahwa kedua konsep yang dikemukakan oleh teori tersebut sebagai “mekanisme evolusioner” pada dasarnya tidak memiliki kekuatan evolusioner.
Darwin mendasarkan pernyataan evolusi nya sepenuhnya pada mekanisme “seleksi alam”. Pernyataan yang ia tekankan tentang mekanisme ini dapat dilihat dalam bukunya: The Origin of Species, By Means of Natural Selection…
Seleksi alam berpendirian bahwa makhluk-makhluk hidup yang lebih kuat dan lebih cocok bagi kondisi alam pada habitat mereka akan dapat bertahan dalam bergulat untuk mempertahankan kehidupan. Sebagai contoh, pada kawanan rusa yang menghadapi ancam­an serangan binatang buas, maka rusa-rusa yang berlarinya lebih cepat dapat memper ta hankan kehidupannya. Dengan demikian, kawanan rusa itu terdiri dari individu-indivi du yang lebih cepat dan lebih kuat. Namun tak dapat disangkal bahwa mekanisme ini tidak menyebabkan rusa tersebut muncul dan berubah menjadi spesies hidup yang lain, misalnya menjadi kuda.
Dengan demikian, mekanisme seleksi alam tidak memiliki kekuatan evolusioner. Darwin juga menyadari fakta ini sehingga ia harus menyatakan dalam bukunya The Origin of Species:
Seleksi alam tidak dapat berbuat apa pun hingga terjadi peluang variasi yang sesuai.8
Pengaruh Lamarck
Lalu, bagaimanakah “variasi yang sesuai” ini terjadi? Darwin berusaha untuk menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang pema haman ilmu pengetahuan kuno pada zaman nya. Menurut ahli biologi Prancis, Lamarck, yang hidup sebelum Darwin, makhluk hidup memiliki karakter yang dibutuhkan selama jangka hidupnya hingga generasi selanjutnya, dan karakter ini berakumulasi dari satu gene rasi ke generasi seterusnya sehingga menye babkan terbentuknya spesies baru. Misalnya, menurut Lamarck, jerapah terjadi dari kijang, karena kijang-kijang itu berjuang untuk makan daun dari pohon yang tinggi, sehingga lehernya memanjang dari generasi ke gene rasi.
Darwin juga memberikan contoh serupa dalam bukunya, The Origin of Species, misal nya, ia berkata bahwa sebagian beruang ada yang menyelam ke air untuk mencari makan an sehingga berubah menjadi ikan paus sete lah beberapa lama.9
Namun, hukum genetika yang ditemukan oleh Mendel dan dibuktikan oleh ilmu gene tika yang berkembang pada abad ke-20, meno lak mentah-mentah anggapan yang mengata kan bahwa karakter itu diteruskan kepada generasi selanjutnya. Dengan demikian, seleksi alam bertentangan dengan kenyataan seperti halnya mekanisme evolusioner.
Neo-Darwinisme dan Mutasi
Agar dapat menemukan pemecahan, para pengikut Darwin mengajukan “Teori Sintesa Modern” atau lebih dikenal sebagai Neo-Darwinisme, pada akhir tahun 1930an. Neo-Darwinisme menambahkan mutasi, yakni penyimpangan yang dimunculkan oleh gen-gen makhluk hidup karena adanya faktor-faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan replikasi, sebagai “penyebab variasi yang sesuai” di samping mutasi alam.
Dewasa ini, model yang mewakili evolusi di dunia adalah Neo-Darwinisme. Teori ter sebut berpendirian bahwa berjuta-juta makh luk hidup yang ada di bumi ini terjadi sebagai akibat dari suatu proses di mana ber bagai organ-organ kompleks dari beberapa organ isme seperti telinga, mata, paru-paru, sayap, mengalami “mutasi”, yakni penyim pang an genetis. Namun terdapat fakta ilmiah yang sama sekali bertentangan dengan teori ini: Mutasi tidak menyebabkan makhluk hidup berkembang, sebaliknya mutasi menye babkan kerusakan.
Adapun alasannya sangat sederhana: DNA memiliki struktur yang sangat kompleks, dan efek kebetulan hanya dapat menyebabkan kerusakan baginya. Ahli genetika Amerika, B.G. Ranganathan, menjelaskan hal ini seba gai berikut:
Mutasi itu kemungkinannya sangat kecil, kebetulan, dan merusak. Mutasi hampir-hampir tidak terjadi dan kemungkinan besar tidak membawa pengaruh. Empat karakteris tik mutasi ini menunjukkan bahwa mutasi tidak menyebabkan terjadinya pekembangan evolusioner. Perubahan yang terjadi secara kebetulan pada organisme yang sangat khusus tidak ada pengaruhnya dan tidak merusak. Perubahan yang terjadi secara kebetulan pada sebuah arloji tidak dapat memperbaiki arloji tersebut. Bahkan dapat merusak atau paling-paling tidak berpengaruh. Sebuah gempa bumi tidak mungkin memperbaiki kota, tetapi ia menyebabkan kerusakan10
Dengan demikian tidak ada contoh mutasi yang bermanfaat, yakni yang dapat mengem bangkan aturan genetika yang pernah dilihat buktinya hingga saat ini. Semua mutasi ter bukti bersifat merusak. Maka perlu dipahami bahwa mutasi yang dinyatakan sebagai “meka­nisme evolusioner” sesungguhnya me ru pakan peristiwa genetik yang merusak makhluk hidup dan menimbulkan gangguan. (Pengaruh mutasi yang sangat umum pada manusia adalah kanker). Tidak diragukan lagi bahwa suatu mekanisme destruktif tidak dapat menjadi “mekanisme evolusioner”. Dalam pada itu, seleksi alam “tidak dapat melakukan apa pun bagi dirinya sendiri,” sebagaimana juga diakui oleh Darwin. Fakta ini menunjukkan pada kita bahwa tidak ada “meka nisme evolusioner” di alam. Karena meka nisme evolusioner itu tidak ada, maka juga tidak terjadi proses imajiner yang disebut sebagai evolusi itu.
Catatan Fosil: Tidak Ada Bukti-bukti
tentang Bentuk-bentuk Antara
Bukti yang sangat jelas bahwa pernyataan sebagaimana yang disebutkan dalam teori evolusi itu tidak pernah terjadi adalah berda­sarkan catatan fosil.
Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup muncul dari yang mendahuluinya. Suatu spesies yang dahulu pernah ada, lambat laun berubah kepada bentuk lainnya dan semua spesies muncul dengan cara seperti ini. Menu rut teori ini, transformasi ini berjalan dengan pelan-pelan selama jutaan tahun.
Seandainya hal ini benar, maka banyak sekali spesies antara yang ada dan hidup dalam periode transformasi yang panjang.
Misalnya, binatang-binatang yang separuh berben tuk ikan dan separuhnya lagi berben tuk reptil tentu pernah hidup pada masa lampau sehingga memiliki karakter reptil di samping juga memiliki karakter ikan. Atau pernah ada burung-reptil, yang memiliki karakter burung di samping karakter reptil. Karena semua ini berada dalam fase transisi, makhluk-makhluk hidup tersebut tentu akan lumpuh, cacat, atau pincang. Para ahli evolusi menyebut makhluk-makhluk imajiner ini, yang mereka yakini pernah hidup pada masa lampau, sebagai “bentuk-bentuk transisi”.
Jika binatang seperti itu benar-benar ada, tentunya terdapat jutaan, bahkan milyaran jumlahnya dan variasinya. Dan yang lebih penting, sisa-sisa dari makhluk-makhluk aneh seperti itu tentu ada dalam jejak fosil. Dalam The Origin of Species, Darwin menjelaskan:
Jika teori saya benar, maka tentu terdapat sangat banyak varietas perantara yang saling menghubungkan antara spesies-spesies dari kelompok yang sama. …Dengan demikian, bukti tentang keberadaannya pada masa lalu hanya dapat ditemukan di antara pening galan-peninggalan fosil.11
Harapan Darwin yang Kandas
Bagaimanapun, sekalipun ahli-ahli evolusi telah bekerja keras untuk menemukan fosil sejak pertengahan abad ke-19 di seluruh dunia, tidak ada bentuk-bentuk transisi yang mereka temukan. Semua fosil yang digali menunjukkan, berlawanan dengan harapan ahli-ahli evolusi, kehidupan muncul di muka bumi secara tiba-tiba dan telah berbentuk sempurna.
Seorang ahli paleontologi ternama dari Inggris, Derek V. Ager, mengakui fakta ini, sekalipun ia seorang penganut evolusi:
Persoalan pun menjadi jelas ketika saya meneliti bukti-bukti fosil secara detail, entah itu pada tingkatan ordo atau spesies, berulang kali kami menemukan bahwa bukannya evolusi yang terjadi secara lambat laun, tetapi yang terjadi adalah satu kelompok muncul secara tiba-tiba, demikian pula kelompok lainnya.12
Ini artinya bahwa bukti fosil menunjukkan bahwa semua spesies hidup tiba-tiba muncul dalam bentuk yang telah sempurna, tanpa melalui bentuk perantara. Hal ini berlawanan dengan asumsi Darwin. Demikian pula, ter dapat bukti yang sangat kuat bahwa makhluk hidup itu ada karena diciptakan. Satu-satunya penjelasan yang dapat diberikan adalah bahwa spesies hidup itu muncul dengan tiba-tiba dan telah sempurna setiap detail tanpa melalui nenek moyang yang berevolusi, dengan demi kian spesies tersebut adalah diciptakan. Fakta ini juga diakui oleh sebagian besar ahli biologi evolusi, Douglas Futuyma:
Penciptaan dan evolusi, di antara keduanya memerlukan penjelasan tentang asal-usulnya dari benda-benda hidup. Organisme muncul di bumi dalam keadaan telah berkembang secara sempurna atau tidak berkembang. Jika organisme tidak berkembang, organisme itu pasti telah berkembang dari spesies yang pernah ada melalui proses-proses modifikasi. Jika organisme itu muncul dalam keadaan yang telah berkembang secara sempurna, organisme tersebut tentu telah diciptakan oleh sesuatu yang luar biasa cerdasnya.13
Berbagai fosil menunjukkan bahwa makh luk hidup muncul dalam keadaan yang sem purna di bumi. Ini artinya bahwa “asal-usus spesies”, bertentangan dengan asumsi Dar win, bukan merupakan evolusi tetapi merupa kan penciptaan.
Dongeng tentang Evolusi Manusia
Persoalan yang seringkali dikemukakan oleh para pendukung teori evolusi adalah persoalan tentang asal-usul manusia. Para pengikut Darwin menyatakan pendiriannya bahwa manusia modern dewasa ini merupa kan hasil evolusi dari makhluk yang menye rupai kera. Menurut mereka, selama proses evolusi ini, yang diperkirakan telah dimulai 4-5 juta tahun yang lalu, konon terdapat beberapa “bentuk transisi” antara manusia modern dengan nenek moyang mereka. Dalam pernyataan yang sepenuhnya bersifat khayalan ini, disebutkan tentang empat “kategori” dasar:
1. Australopithecus
2. Homo habilis
3. Homo erectus
4. Homo sapiens
Para ahli evolusi menyebut apa yang dina makan sebagai nenek moyang manusia per tama yang menyerupai monyet sebagai “Austra lopithecus” yang artinya “Monyet Afrika Selatan”. Makhluk hidup ini sesung guhnya tidak lain adalah spesies monyet kuno yang telah punah. Riset yang mendalam yang dilakukan pada berbagai sampel Australo pithecus oleh dua orang ahli anatomi ternama dunia dari Inggris dan Amerika Serikat, yakni Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, telah menunjukkan bahwa Australo pithecus tersebut merupakan spesies monyet biasa yang telah punah dan terbukti tidak memiliki kemiripan dengan manusia.14
Para ahli evolusi mengklasifikasikan tahap selanjutnya dari evolusi manusia sebagai “homo”, yakni “manusia”. Menurut pernya taan ahli evolusi, makhluk hidup pada sejum lah Homo lebih berkembang dibandingkan Australopithecus. Para ahli evolusi telah me ngem­bangkan skema evolusi khayalan dengan menyusun berbagai fosil dari makhluk-makhluk ini dalam urutan tertentu. Skema ini bersifat khayalan karena tidak pernah terbukti bahwa terdapat hubungan evolusioner antara beberapa kelas ini. Ernst Mayr, salah seorang pembela teori evolusi yang terkemuka pada abad ke-20 mengakui fakta ini dengan menga takan bahwa “mata rantai yang sampai kepada Homo sapiens sesungguhnya terputus”.15
Dengan membuat pembagian mata rantai seperti “Australopithecus — Homo habilis — Homo erectus — Homo sapiens”, para ahli evolusi memaksudkan bahwa masing-masing spesies ini merupakan nenek moyang bagi yang lain. Namun, penemuan terkini dari ahli paleoantrhropologi telah mengungkapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis dan Homo erectus hidup di bagian yang berlainan di dunia pada saat yang sama.16
Di samping itu, segmen manusia tertentu yang diklasifikasikan sebagai Homo erectus telah hidup hingga zaman modern. Homo sapiens neandarthalensis dan Homo sapiens sapiens (manusia modern) hidup bersama-sama di kawasan yang sama.17
Situasi ini seolah-olah menunjukkan keab sahan klaim tersebut yang menyatakan bahwa mereka adalah nenek moyang bagi lainnya. Seorang ahli paleontologi dari Univer sitas Harvard, Stephen Jay Gould, menjelas kan ke bun tuan teori evolusi meskipun ia sendiri seorang penganut evolusi:
Apa yang menjadi tangga bagi kita jika ada tiga garis silsilah hominid (A. africanus, australo pi thecines yang tegap, dan H. habilis), tak satu pun yang jelas-jelas berasal dari yang lain. Lagi pula, tak satu pun dari ketiganya yang menun jukkan kecenderungan berevolusi selama mereka mendiami bumi.18
Pendek kata, pandangan tentang evolusi manusia, yang berusaha mencari dukungan dengan bantuan berbagai gambaran makhluk “separuh manusia, separuh kera” yang mun cul di media dan buku pelajaran, dan dengan bantuan propaganda, terus terang saja hanya­lah dongeng yang tidak memiliki landasan ilmiah.
Lord Solly Zuckerman, salah seorang ilmu wan yang terkenal dan dihormati di Inggris, yang melakukan riset tentang persoalan ini selama beberapa tahun, dan secara khusus meneliti fosil-fosil Australopithecus selama 15 tahun, pada akhirnya berkesimpulan bahwa meskipun ia sendiri seorang penganut evolusi, namun sesungguhnya tidak ada tiga cabang famili seperti itu antara makhluk yang menye rupai kera dengan manusia.
Zuckerman juga membuat sebuah “spek trum ilmu pengetahuan” yang menarik. Ia membentuk sebuah spektrum ilmu pengeta huan dari pernyataan yang dianggap ilmiah hingga pernyataan yang dianggap tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, yang paling “ilmiah”, yakni yang tergantung pada medan data kongkret dalam ilmu pengeta huan adalah kimia dan fisika. Setelah kedua nya, muncullah ilmu biologi, kemudian ilmu sosial. Pada akhir dari spektrum tersebut, sebagai bagian yang dianggap paling “tidak ilmiah” adalah konsep “persepsi di luar panca indera” seperti telepati dan indera keenam, dan akhirnya “evolusi manusia”. Zuckerman menjelaskan alasannya:
Kemudian kami segera beralih untuk mencatat kebenaran objektif dalam bidang-bidang yang dianggap sebagai ilmu biologi, seperti persepsi di luar panca indera atau interpretasi tentang sejarah fosil manusia, di mana bagi orang-orang yang mempercayainya (penganut evolusi) apa saja mungkin — dan bagi orang yang sangat memper cayainya (dalam evolusi) kadang-kadang dapat memper­cayai beberapa hal yang bertentangan pada waktu yang bersamaan.19
Dongeng tentang evolusi manusia semakin tidak berarti, tetapi interpretasi tentang fosil-fosil yang digali oleh orang-orang tertentu tetap dipercayai oleh orang-orang yang meng anut teori ini dengan membabi buta.
Teknologi Mata dan Telinga
Persoalan lainnya yang tetap tak terjawab oleh teori evolusi adalah kemampuan panca indera yang luar biasa pada mata dan telinga.
Sebelum melanjutkan pembicaraan ten tang mata, marilah kita jawab secara sepintas tentang pertanyaan “bagaimanakah kita me lihat”. Cahaya yang masuk dari sebuah benda jatuh secara berlawanan pada retina mata. Di sini, cahaya ditransmisikan menjadi sinyal-sinyal elektris oleh sel, dan cahaya tersebut sam pai ke titik kecil di belakang otak yang disebut sebagai pusat penglihatan. Sinyal-sinyal elektris ini di pusat otak terlihat sebagai bayangan setelah melewati serangkaian pro ses. Dengan latar belakang teknis ini, marilah kita berpikir sejenak.
Otak terlindung dari cahaya. Ini artinya bahwa di bagian dalam otak sama sekali gelap, dan cahaya tidak sampai ke lokasi otak. Tempat yang disebut sebagai pusat pengli hatan benar-benar gelap, dan cahaya tidak pernah mencapainya. Bahkan mungkin meru­pakan tempat yang paling gelap yang pernah anda ketahui. Namun, anda melihat dunia yang cemerlang dan terang benderang dari tempat yang sangat gelap.
Gambar yang terbentuk di mata sangat tajam dan sangat jelas, bahkan teknologi abad ke-20 tidak mampu menyamainya. Misalnya, perhatikanlah buku yang anda baca, tangan yang dengannya anda memegang, kemudian angkatlah kepala anda dan lihatlah sekitar anda. Pernahkah anda melihat bayangan yang sangat tajam dan sangat jelas seperti ini di tempat lain? Bahkan layar televisi yang paling unggul yang diproduksi oleh pabrik televisi dunia yang paling canggih sekalipun tidak akan mampu menyajikan gambar yang sangat tajam kepada anda. Gambar di mata ini ber bentuk tiga dimensi, berwarna, dan sangat tajam. Selama lebih dari seratus tahun, ribuan insinyur telah berusaha untuk menghasilkan ketajaman ini. Pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan raksasa pun didirikan, berbagai riset dilakukan, berbagai rencana dan desain dilakukan untuk mencapai tujuan ini. Sekali lagi, lihatlah ke layar TV dan buku yang anda pegang. Anda akan melihat bahwa terdapat perbedaan besar dalam ketajaman dan kejelas an. Di samping itu, layar TV menunjukkan gambar dua dimensi, sedangkan dengan mata anda, anda melihat gambar tiga dimensi yang memiliki ketajaman.
Selama beberapa tahun, sepuluh dari seribu insinyur telah berusaha untuk membuat TV tiga dimensi yang dapat menyamai kualitas pandangan seperti mata. Ya, mereka telah membuat sistem televisi tiga dimensi, tetapi mustahil untuk melihatnya tanpa mengena kan kaca mata, lagi pula, gambar itu merupa kan gambar tiga dimensi yang artifisial. Latar belakang tampak kabur, latar depan tampak seperti setting kertas. Sampai kapan pun mustahil untuk menghasilkan pandangan yang tajam dan jelas seperti pandangan pada mata. Baik kamera maupun televisi tidak memiliki kualitas gambar yang tajam dan jelas.
Para ahli evolusi menyatakan bahwa meka nisme yang menghasilkan gambar yang tajam dan jelas ini terjadi secara kebetulan. Seka­rang, jika seseorang mengatakan kepada anda bahwa televisi yang ada di kamar anda terjadi secara kebetulan, semua atomnya datang secara kebetulan lalu membentuk peralatan yang dapat menghasilkan gambar, maka bagaimanakah pendapat anda? Bagaimana mungkin atom-atom dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh ribuan orang?
Jika suatu peralatan yang menghasilkan gambar yang lebih primitif daripada mata tidak dapat terjadi secara kebetulan, maka jelaslah bahwa mata dan gambar yang terlihat oleh mata tidak dapat terjadi secara kebetulan. Keadaan yang sama juga berlaku pada telinga. Telinga bagian luar menangkap suara yang ada melalui daun telinga lalu megarahkan suara itu ke bagian tengah telinga, dan bagian tengah telinga mengirimkan getaran suara ke otak dengan mengubah suara itu menjadi sinyal-sinyal elektrik. Sebagaimana mata, proses mendengar berakhir di pusat pende ngaran di otak.
Situasi pada mata juga berlaku pada telinga. Yakni, otak terlindung dari suara sebagaimana ia terlindung dari cahaya: ia tidak membiarkan suara apa pun mema suki nya. Dengan demikian, betapapun berisiknya suara di luar, bagian dalam otak sepenuhnya sunyi senyap. Namun demikian, otak dapat menangkap suara dengan sangat jelas. Di otak anda, yang terlindung dari suara, anda men dengar simponi dari sebuah orkestra, dan anda mendengar semua bunyi di keramaian. Namun demikian, jika tingkat suara di otak anda diukur dengan peralatan yang akurat pada saat itu, maka akan diketahui bahwa yang terjadi dalam otak adalah kesunyian.
Sebagaimana pada kasus alat perekam gambar, selama puluhan tahun telah dilaku kan usaha untuk menghasilkan suara sebagai mana dalam bentuk aslinya. Hasil dari usaha tersebut adalah perekam suara “high fidelity system”, dan sistem untuk merekam suara. Meskipun teknologi ini telah digali dan ribu an insinyur dan ahli telah bekerja keras, tetapi tidak ada suara yang diperoleh, yang memiliki ketajaman dan kejelasan seperti suara yang ditangkap oleh telinga. Perhati kanlah HI-FI sistem dengan kualitas sangat tinggi yang dihasilkan oleh perusahaan terbesar dalam industri musik. Bahkan dalam peralatan ini, ketika suara direkam, sebagian suara ada yang hilang; atau ketika anda meng hidupkan HI-FI, anda selalu mendengar suara yang men desis sebelum musik dimulai. Namun, suara-suara yang merupakan produk dari teknologi tubuh manusia sangat tajam dan jelas. Telinga manusia tidak pernah menang kap suara yang disertai dengan bunyi men desis sebagaimana pada HI-FI; telinga me nang kap suara seperti apa adanya, tajam dan jelas. Keadaan ini ber laku semenjak manusia pertama kali dicip takan.
Sejauh ini, tidak ada peralatan visual atau perekam suara yang dihasilkan oleh manusia yang sangat peka dan berhasil menangkap data indera sebagaimana mata dan telinga.
Namun, sepanjang yang berkaitan dengan penglihatan dan pendengaran, terdapat fakta yang lebih besar di balik semua itu.
Siapakah yang Memberi Kemampuan
Otak untuk Melihat dan Mendengar?
Siapakah yang memberi kemampuan pada otak sehingga ia dapat melihat gemerlapnya dunia, mendengar simponi kicau burung, dan mencium bunga mawar?
Rangsang yang datang dari mata, telinga, dan hidung manusia diteruskan ke otak sebagai impuls syaraf elektro-kimia. Dalam buku-buku biologi, fisiologi, dan biokimia, anda dapat menemukan penjelasan bagaima nakah gambar tersebut terbentuk di otak. Namun, anda tidak akan pernah menemukan fakta yang paling penting tentang persoalan ini: Siapakah yang mengatur terjadinya impuls syaraf elektro-kimia tersebut sebagai gambar, suara, bau, dan penginderaan di otak? Terdapat suatu kesadaran di otak yang mampu menangkap semuanya tanpa harus memer lukan mata, telinga, dan hidung. Siapakah yang memberi kemampuan ini? Tidak diragu kan lagi bahwa kemampuan ini tidak dimiliki oleh syaraf, lapisan lemak, dan syaraf-syaraf yang terdapat di otak. Itulah sebabnya peng­ikut Darwin dan kaum materialis tidak mem percayai bahwa segala sesuatu terdiri dari materi, tidak dapat memberikan jawaban apa pun terhadap pertanyaan ini.
Kemampuan ini adalah ruhani yang dicip takan oleh Allah. Ruhani tidak memer lukan mata untuk melihat gambar, atau telinga untuk mendengar suara. Di samping itu, ia juga tidak memerlukan otak untuk berpikir.
Setiap orang yang membaca fakta yang jelas dan ilmiah ini harus berfikir tentang Tuhan Yang Mahakuasa, takut kepada-Nya, dan berlin dung kepada-Nya, Dialah Yang mengu asai seluruh alam semesta dan sebuah bidang yang gelap yang luasnya beberapa sentimeter kubik dalam bentuk tiga dimensi, berwarna, teduh, dan terang benderang.
Keyakinan Kaum Materialis
Informasi yang kami ketengahkan hingga kini menunjukkan kepada kita bahwa teori evolusi adalah pernyataan yang sangat ber beda dengan temuan ilmiah. Pernyataan yang diberikan oleh teori tersebut tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, dan mekanisme evolusioner yang diajukannya tidak memiliki pengaruh evolusioner, dan fosil-fosil yang ditunjukkan tentang bentuk-bentuk transisi untuk mendukung teori tersebut tidak pernah ada. Dengan demikian, tentu saja teori evolusi harus dienyahkan karena ia adalah gagasan yang tidak ilmiah, sebagaimana gagasan yang menyatakan bahwa alam semesta ini berpusat pada bumi telah dienyahkan dari agenda ilmu pengetahuan di sepanjang sejarah.
Namun, teori evolusi tetap dimasukkan dalam agenda ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian orang berusaha untuk mengajukan kritik terhadap orang-orang yang membantah teori tersebut sebagai “serangan terhadap ilmu pengetahuan”. Mengapa?
Alasannya adalah, bahwa teori evolusi me ru pakan keyakinan dogmatis yang tidak boleh dibantah bagi beberapa kalangan. Kalangan ini dengan membabi buta mengab di kepada filsafat materialis dan menerapkan Darwin isme, karena ia merupakan satu-satunya pen jelasan ilmiah yang dapat dikemu kakan tentang bekerjanya alam.
Yang cukup menarik, kadang-kadang mereka juga mengakui fakta ini. Seorang ahli genetik dan seorang penganut evolusi yang jujur, Richard C. Lewontin dari Universitas Harvard mengakui bahwa dialah yang “mula-mula dan terutama sebagai seorang materialis, kemudian menjadi seorang limuwan”:
Bagaimanapun, bukannya metode dan institusi ilmu pengetahuan yang memaksa kita untuk menerima penjelasan material tentang dunia fenomenal, tetapi sebaliknya, kita dipaksa oleh kesetiaan kita yang a priori terhadap penyebab material untuk menciptakan peralatan penelitian dan seperangkat konsep yang menghasilkan penjelasan material, meskipun ia bertentangan dengan intuisi, dan meskipun ia menyesatkan bagi orang-orang awam. Di samping itu, bahwa materialisme itu absolut sehingga kami tidak dapat membiarkan Kaki Tuhan memasuki pintu.20
Itulah pernyataan terus terang yang menya takan bahwa Darwinisme adalah sebuah dogma yang tetap dipertahankan demi kesetiaannya kepada filsafat materialis. Dogma ini berpendirian bahwa tidak ada being (yang ada) kecuali materi. Dengan demikian ia berpendapat bahwa pencipta kehidupan adalah materi tak bernyawa dan tidak memi liki kesadaran. Ia berpendapat bahwa jutaan spesies hidup yang berbeda-beda; misalnya burung, ikan, jerapah, harimau, serangga, pohon, bunga, ikan paus, dan manusia itu terwujud sebagai hasil dari interaksi antara materi seperti hujan yang turun, kilat yang menyambar, dan sebagainya, dari materi tak bernyawa. Pandangan ini bertentangan dengan akal maupun ilmu pengetahuan. Namun, Darwinisme tetap memper tahan kan nya hanya agar “jangan sampai Kaki Tuhan masuk di pintu”.
Siapa pun yang tidak memperhatikan asal-usul makhluk hidup dengan pandangan mate rialis akan melihat kebenaran yang nyata ini: Semua makhluk hidup adalah karya dari Sang Pencipta, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Sang Pencipta ini adalah Allah, Yang menciptakan seluruh alam semesta dan semua makhluk dari tidak ada, dan merancangnya dalam bentuk yang sangat sempurna.
“Mereka berkata, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Me nge tahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Baqarah: 32).
Allah menjelaskan berbagai rahasia kepada manusia melalui al-Qur’an, doa, perintah, larangan, dan akhlak yang mulia. Semua ini merupakan rahasia yang sangat penting, dan orang yang berpikir dapat menyaksikan rahasia-rahasia ini dalam hidupnya. Tidak ada sumber lain kecuali al-Qur’an yang menje laskan rahasia ini. al-Qur’an merupakan satu-satunya sumber rahasia sehingga orang-orang yang sangat cerdas dan sangat pandai sekali pun tidak akan menemukan rahasia ini di mana pun juga.
Jika sebagian orang dapat memahami sedangkan orang lain tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur’an, ini merupakan rahasia lain yang diciptakan Allah. Orang-orang yang tidak memahami rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an ini hidup dalam penderitaan dan kesulitan. Anehnya, mereka tidak pernah mengetahui penyebab penderitaannya. Dalam pada itu, orang-orang yang mengkaji rahasia-rahasia dalam al-Qur’an menjalani hidupnya dengan mudah dan gembira.
Buku ini membicarakan tentang persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ayat-ayat yang diungkapkan oleh Allah kepada manusia sebagai sebuah rahasia. Manakala orang membaca ayat-ayat ini, dan perhatiannya didtumpukan kepada rahasia-rahasia dalam ayat-ayat ini, apa yang harus ia lakukan adalah berusaha mengetahui tujuan Allah yang tersembunyi dalam setiap peristiwa kemudian mengkaji segala sesuatunya berdasarkan al-Qur’an. Kemudian, orang pun akan menya dari dengan kegembiraan tentang rahasia-rahasia ini, bahwa al-Qur’an mengendalikan kehidupannya dan kehidupan orang lain.
Wassalamu Alaikum……………….

2 Oktober 2012

ADAM, ALLAH DAN MUHAMMAD TIDAK TERPISAH

oleh alifbraja

ADAM, ALLAH DAN MUHAMMAD TIDAK TERPISAH

Adam adalah seorang manusia yang di cipta oleh Allah s.w.t, yang dimaksudkan manusia itu ialah apabila Rohani itu sudah memiliki jasad (manus adalah jasmani sementara ia ialah Rohani) jika ada jasmani tanpa Rohani maka ia bukan manusia, demikian juga jika Rohani tanpa jasmani maka ia bukan manusia, maka yang dimaksudkan manusia itu adalah zuriat daripada Adam sebagaimana firman Allah menyatakan:

Maksudnya: Dan sesungguhnya Kami telah muliakan Bani Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan juga di laut dan Kami beri rezeki yang baik, dan sesungguhnya Kami lebihkan mereka dari kebanyakan (makhluk) yang telah Kami jadikan sebenar-benar kelebihan ( Al Israk 70) Di atas pemberian Allah kepada bani Adam gelaran sebagai makhluk yang di muliakan maka manusia menjadi makhluk yang terpuji dan mulia, dan makhluk terpuji itu adalah bernama Muhammad, kerana Muhammad itu bermaksud terpuji, dan yang terpuji itu adalah yang sebaik-baik kejadian seperti mana firman Allah menyatakan:

Maksudnya: Sesungguhnya Kami jadikan Insan itu sebaik-baik kejadian ( At Tin 4 ) Ayat yang di atas menerangkan bahwa insan itu adalah sebaik-baik kejadian, sem entara Allah pula beserta dengan Insan tersebut sebagaimana firman Allah menyata kan:

Maksudnya: Dan Allah beserta kamu dimana juga kamu berada ( Al Hadid 4 ) Ayat yangdiatas menunjukkan bahwa Allah tetap bersama manusia di mana juga manusia itu berada, ertinya manusia dan Allah tidak bercerai, ertinya Adam dan Allah tidak mungkin bercerai, jika demikian mengapa Azazil dapat menyesatkan Adam dan isterinya Siti Hawa ? Di sinilah timbul persoalan dan keraguan yang akhirnya melahirkan ilmu yang lebih khusus tentang istilah di antara Muhammad dan Allah itu, logiknya setan tidak boleh menggelincirkan Adam jika Allah beserta manusia(Adam)Di sebabkan manusia itu ada kelebihan maka kelebihan tersebut pula di katakan melahirkan suatu ilmu yang lebih khusus kerana masalah Adam dapat di sesatkan oleh syaitan walaupun Adam beserta Allah, jadi apakah ilmu yang lebih khusus itu suatu yang dapat dicapai oleh manusia, kerana itu untuk menyelesaikannya mari kita tinjau dalam bentuk soal jawab Soalan: Dimanakah letaknya kelebihan manusia jika di bandingkan dengan makhluk Allah yang lain ? Jawapan: Kelebihan di antara manusia dan makhluk terletak pada lembaga akal manusia kerana lembaga akal maka manusia itu di kenali sebagai manusia, jika manusia tiada lembaga akal maka manusia itu setaraf dengan haiwan dan syaitan Soalan: Bukankah manusia itu sebaik-baik kejadian dan mengapa ada di antara manusia itu berperangai syaitan dan haiwan ? Jawapan: Manusia berperangai syaitan dan haiwan kerana adanya hawa kepada nafsu tersebut dan ia adalah suatu fitrah daripada Allah s.w.t Soalan: Jika demikian manusia yang dikatakan sempurna itu adalah sesuatu yang tidak mutlak ? Jawapan : Untuk mendapatkan jawapannya maka kita kena faham siapa yang di maksudkan Insan yang mulia tersebut, adapun yang di maksudkan Insan yang sempurna kejadian tersebut ialah diri sebenar diri manusia yang di kenali sebagai Insan atau nyawa atau nafas atau Nur Muhammad naka dialah yang sempurna kerana itulah diri manusia terbahagi kepada empat istilah iaitu diri terdiri (jasmani) Diri terperi iaitu Ruhul Yaqaza h yang terdiri dari roh, Akal dan nafsu, sementara nafas atau nyawa kita di namakan diri sebenar diri, maka diri inilah yang di katakan Insan yang sempurna itu sementara diri tajalli ialah sifat Kamal yang tidak bercerai dengan Insan terseb ut Soalan: Siapakah yang sebenar diri Tajalli tersebut ? Jawapan: Diri Tajalli tersebut adalah Tuhan Yang Maha Esa yang menggerakkan manusia zahir dan batin yang bersifat Qadirun, Maridun, Alimun dan Hayyun Soalan: Mengapakah Allah tidak selamatkan Adam dari gangguan syaitan ? Jawapan: Allah wajib bersikap adil terhadap permintaan syaitan yang hendak menyesatkan Adam kerana syaitanpun makhluk Allah juga walaupun dia di rejam oleh Allah, atas permohonan syaitan tersebut Allah izinkan syaitan menggelincirkan Adam (manusia) akan tetapi Allah kurniakan Al Quran kepada manusia sebagai senjata melawan syaitan itu dan terpulanglah kepada manusia.

Katakan (wahai Muhammad) siapa yang memusuhi Jibril maka sebabnya ialah kerana Jibril itu menurunkan Al Quran di dalam hatimu dengan izin Allah (Al Baqarah 97)

2 Oktober 2012

HUBUNGAN ROHANI DAN ALLAH

oleh alifbraja

Di dalam masalah perhubungan Allah dan Rohani itu perlu di pelajari dengan penuh hati-hati kerana ia tersangat seni dan kritis, jika tersilap memahamkannya boleh menjadi tersesat dan terkeluar daripada fahaman akidah yang sebenar, oleh kerana perhubungannya dengan Allah ini suatu yang berbentuk kerohanian maka manusia perlu mempelajari ilmunya dengan betul dan bertanyalah kepada orang yang Arif, didalam Al Quran Allah berfirman (Dan ia tetap beserta kamu di mana juga kamu berada) Al Hadid 4. ayat ini mengesahkan bahawa berlaku perhubungan di antara yang tersirat dengan yang Maha tersirat iaitu perhubungan Rohani dan Allah swt, jika perhubungan ini tidak berlaku maka tidaklah alam ini menjadi kenyataan dan tidaklah menjadi bermakna sama sekali, kerana itulah manusia di tuntut mempelajarinya, jika tidak manusia sentiasa berada di dalam keadaan syirik dan syirik itu adalah perbuatan yang terkutuk dan dikutuk oleh Allah swt, oleh kerana perhubungan diantara Rohani ini tersangat penting maka umat manusia wajiblah mempelajari asas-asas ilmu itu dahulu sebelum benarbenar memahaminya kerana ilmu ini di sentoh secara amnya sahaja di dalam Al Quran, kerana itu ulamak berijtihad untuk menyusun mengikut Nas yang terdapat di dalam Al Quran dan Hadis Rasullullah saw, sehingga kedudukkannya dapat difahami walaupun tidak semestinya menepati maksud yang sebenarnya, namun apa yang penting jangan sampai terjebak dengan perbuatan syirik, kerana itu penulis menganjurkan supaya di pelajari ilmu ini dengan ilmu sifat dua puluh yang berasaskan kerohanian, jika tanpa kerohanian maka ia tidak akan membawa kepada kefahaman yang sebenar dan tidak akan bertemu dengan ilmu kerohanian, adapun ilmu kerohanian ini disebut oleh Allah didalam Al Quran sebagaimana firmanNya Maksudnya: Dan mereka bertanyakan kepadamu tentang Roh, katakanlah “Roh itu adalah urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberikan ilmu (tentangnya) melainkan sedikit sahaja (Bani Israil 85) Ayat yang di atas adalah menunjukkan bukti kokoh tentang ujudnya makhluk yang bernama Roh (Kerohanian) tersebut, makhluk ini di cipta oleh Allah untuk mengabdikan dirinya kepada Allah dan telahpun mengakui bahawa dia telah membuat pengakuan di alam Roh, demikian di terangkan oleh tafsir Al Quran pimpinan Ar Rahman pada bab petunjuk ayat muka surat 1465 bab tauhid dan rujukkan pada ayat Al A’araf 172 dan dikatakan juga Roh itu adalah kepercayaan Tauhid dan rujukkannya pada ayat Al Baqarah 255 ini menunjukkan bab Roh ini adalah persoalan akidah dan juga di katakan bahawa orang yang tidak mengambil berat tentang tauhid adalah golongan orang-orang kafir yang fanatik buta. Kita kembali kepada ayat bani Israil ayat 85 yang mene rangkan bahawa Roh itu di uruskan oleh Allah dan ilmu tentangnya di perkenalkan oleh Allah hanya sedikit, maksudnya tidak meluas Apa yang kita kena faham ialah soal ilmu Roh yang sedikit itu ialah supaya manusia tidak menyelidik ilmu tentangnya secara meluas, umpamanya Roh itu di jadikan oleh Allah daripada bahan apa? sepertimana Allah jadikan Adam daripada tanah, kerana soal kerohanian ini bukanl ah setakat Roh sahaja akan tetapi apa-apa yang berbentuk kerohanian adalah termasuk ilmu Rohani, iaitu ilmu makhluk yang tidak dapat di lihat dengan mata kasar, kepada umat islam jika mereka mengkaji Roh maka itu adalah satu bab sahaja dari bab kerohanian tersebut maka tidaklah wajar bagi manusia takut untuk mengkajinya malah yang dikaji itu ada di dalam batang tubuhnya sendiri, lojiknya apa yang ada didalam rumah kita pun wajib kita mengetahuinya atau apa yang terdapat di d alam poket kitapun wajib kita mengetahuinya sama ada yang benar ataupun yang salah, didalam asas ilmu Roh ini jika kita katakana bahawa ia di uruskan oleh Allah maka asas ilmu iftiqar pada ilmu sifat dua puluh adalah yang paling tepat untuk kita memahaminya kerana ilmu Roh itu berlegar pada sifat Qahar Allah swt dan yang menguruskan Roh itu adalah sifat Kamal Allah swt, yang mana ia di kuasai oleh ke Esaan Allah itu sendiri, jika tidak mana mungkin manusia boleh memahami ilmu Roh itu jika tidak melalui ilmu tersebut inilah satu-satu ilmu yang lebih terang dan jelas untuk di fahami, namun ilmu ini pula menjadi bahan ketakutan manusia untuk mempelajarinya kerana di katakan merbahaya dan di rujuk pula kepada sebab dan musabab pandangan mazhab wahabi yang telah mengharamkan ilmu sifat dua puluh itu kerana di katakan membawa kepada kemunduran dan khurafat

 

2 Oktober 2012

Renungan

oleh alifbraja

Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari dengan Ibn Taymiyah

Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari (w.709 H) dengan Ibn Taymiyah (w. 728 H).
Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah Ditranslasi dari buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s  The repudiation of  “Salafi” Innovations (Kazi, 1996)
Bismillahi ar-rahmani ar-rahiim.
Abu Fadl Ibn Athaillah Al Sakandari (wafat 709), salah seorang imam sufi terkemukayang juga dikenal sebagai seorang muhaddits, muballigh sekaligus ahli fiqih Maliki, adalah penulis karya-karya berikut: Al Hikam, Miftah ul Falah, Al Qasdul al Mujarrad fi Makrifat al ism al-Mufrad, Taj al-Arus al-Hawi li tadhhib al-nufus, Unwan al-Taufiq fi al Adad al-Thariq. Juga sebuah biografi: Al-Lataif fi manaqib Abi al Abbas al Mursi wa sayykhihi Abi al Hasan, dan lain-lain. Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi (wafat 686) dan generasi penerus kedua dari pendiri tarekat Sadziliyah: Imam Abu Al Hasan Al Sadzili.
Ibn Athaillah adalah salah seorang yang membantah Ibn Taymiyah atas serangannya yang berlebihan terhadap kaum sufi yang tidak sefaham dengannya. Ibn Athaillah tak pernah menyebut Ibn Taymiyah dalam setiap karyanya, namun jelaslah bahwa yang disinggungnya adalah Ibn Taymiyah saat ia mengatakan dalam Lataif:  sebagai “cendekiawan ilmu lahiriyah”. Satu HalamanPostingan berikut ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris untuk pertama kali atas dialog bersejarah antara kedua tokoh tersebut.
Naskah Dialog : Dari Usul al-Wusul karya Muhammad Zaki Ibrahim
Ibn Katsir, Ibn Al Athir, dan penulis biografi serta kamus biografi, kami memperoleh naskah dialog bersejarah yang otentik. Naskah tersebut memberikan ilham tentang etika berdebat di antara kaum terpelajar (berpendidikan keislaman). Di samping itu, ia juga merekam kontroversi antara pribadi yang bepengaruh dalam tsawuf:  Syaikh Ahmad Ibn Athaillah Al Sakandari, dan tokoh yang tak kalah pentingnya dalam gerakan “Salafi”:  Syaikh Ahmad Ibn Abd Al Halim Ibn Taymiyah selama era Mamluk di Mesir yang berada dibawah pemerintahan Sulthan Muhammad Ibn Qalawun (Al Malik Al Nasir).
Kesaksian Ibn Taymiyah kepada Ibn Athaillah yang Notabene adalah Imam Sufi:
Ibn Taymiyah ditahan di Alexandria. Ketika sultan memberikan ampunan, ia kembali ke Kairo. Menjelang malam, ia menuju masjid Al Ahzar untuk sholat maghrib yang diimami Syaikh ibn Athaillah. Selepas shalat, Ibn Athailah terkejut menemukan Ibn Taymiyah sedang berdoa dibelakangnya. Dengan senyuman, sang syaikh sufi menyambut ramah kedatangan Ibn Taymiyah di Kairo seraya berkata: Assalamualaykum, selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamu cendekianya ini.
IBN ATHAILLAH: “Biasanya saya sholat di masjid Imam Husein dan sholat Isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku! Allah menakdirkan sayalah orang pertama yang harus menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah kepadaku wahai faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah terjadi?”
IBN TAYMIYAH: “Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan di antara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam kasus apa pun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapapun yang berbuat buruk terhadapku”
IBN ATHAILLAH: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaikh Ibn Taymiyah?
IBN TAYMIYAH: Aku tahu anda adalah seorang yg saleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintah-Nya dan menjauhi laranganNya. Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang anda ketahui tentang saya? Apakah anda atau saya sesat dengan menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (istighatsah)?
IBN ATHAILLAH: Tentu saja, Rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawassul atau mengambil wasilah (perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah saw, adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan yang syafaatnya kita harapkan.
IBN TAYMIYAH: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat. Dalam ayat al Qur’an juga disebutkan: “Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji (Q.S Al Isra : 79). Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali ra wafat, Rasulullah berdoa pada Allah di kuburnya: “Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun”.
Inilah syafaat yang dimiliki rasulullah saw. Sementara mencari pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan; Rasulullah saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah.
IBN ATHAILLAH: Semoga Allah mengaruniakanmu keberhasilan, wahai faqih?!Maksud dari saran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah tidak melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighosah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah, yang termasuk perbuatan musyrik, saya ingin bertanya kepada anda, ”Adakah muslim yang beriman pada Allah dan rasulNya yang berpendapat ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkanNya berkenaan dengan dirinya sendiri?”.
”Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah? Di samping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimilikinya dari Allah, sebagaimana jika anda mengatakan: “Makanan ini memuaskan seleraku”. Apakah dengan demikian makanan itu sendiri yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah yang memberikan kepuasan melalui makanan?
Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah melarang muslim untuk mendatangi seseorang selain DiriNya guna mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah? Ayat Al qur’an yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangaka bertawassul atau mengambil perantara atas keutamaan (hak) rasul yang diterimanya dari Allah (bihaqqihi inda Allah) dan tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasulNya.
Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa istighosah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan buah anggur karena dapat dijadikan minuman keras. Dan (seharusnya) mengebiri (melumpuhkan kemapuan besetubuh) laki-laki yang tidak menikah untuk mencegah zina.
(Kedua syaikh tertawa atas komentar terakhir ini, sebab  konon Syaikh Ibnu Taymiyah adalah pria yang tidak menikah)).
Lalu IBN ATHAILLAH melanjutkan:  “Saya kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya “prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan syaitan” yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih.
Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini anda telah memperoleh dasar bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fususul Hikam. Naskah tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam).
Ketika syaikh al-Islam Al Izz ibn Abd Salam memahami apa yang sebenarnya diucapan dan dianalisa oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera memohon ampun kepada Allah swt atas pendapatnya sebelumnya dan menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.
Sedangkan mengenai pernyataan al Syadzili yang memojokkan Ibn Arabi, perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri. “Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib?”
IBN TAYMIYAH: Dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya”. Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al quran dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.
IBN ATHAILLAH: Sekarang, apakah Imam Ali ra meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim bahwa malaikat jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw, bukannya kepada Ali! Atau pernahkah ia meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh di manapun mereka ditemukan?
IBN TAYMIYAH: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.
IBN ATHAILLAH: Dan Imam Ahmad- semoga Allah meridoinya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau dimanapun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis para penyanyi, dan menyerang masayarakat di jalan.
Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Konsekuensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?
Dengan demikian, Syaikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama.Apakah anda tidak memahami hal ini?
IBN TAYMIYAH: “Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di antara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat jibril mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. Berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum “papa”.
IBN ATHAILLAH: “Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan penampilan saya?
IBN TAYMIYAH: “Tetapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar.”
IBN ATHAILLAH: “Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, ia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.
Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka telah mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah ( Risalatul Qusyairiyah ).
Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan laku spiritual.
Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya pada Allah dan rasul-NYA. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa. Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan tertentu.
Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan kesalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak tampak.
IBN TAYMIYAH: “Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari jalan Allah, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka. Sementara apa yang dilakukan para syaikh sufi sekarang?Saya meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami (salafi) yang saleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.
Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filososf Yunani dan pengikut Budha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau menyatu denganNya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syaikh anda: semuanya jelas perilaku ateis dan kafir”.
IBN ATHAILLAH: “Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hukum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorabg Zahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriah), metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin).
Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama apa-apa yang tersembunyi. Agar anda tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannyasangat mirip dengan al-Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-quran dan sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.
Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan. Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik ra. telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”
Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.
Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syaikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran. Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja.
Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al Quran:”(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya”; dan Ia mengutuk dalam firmanNya: “(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya”. Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: “Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin, bukan lahirnya”.
Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.
Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah dengan mematuhiNya. Barangkali yang menyebabkan para ahli fiqih mengecam Ibn Arabiadalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi).
Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai “ahli fiqih basa-basi wanita”. Semoga Allah mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka! Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa: ”Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan.Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.” Adakah pernyataan yang seindah ini?”
IBN TAYMIYAH: “Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan.”
*****
*Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah, dalam buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s The repudiation of “Salafi” Innovations (Kazi, 1996) h. 367-379.
 

29 September 2012

Nur Muhammad Sumber segala Ciptaan

oleh alifbraja

Hakikat Awal Nur Muhammad

Hakikat Awal Nur Muhammad. Pamahaman tentang hakikat Nur Muhammad pada umumnya dimulai dari kajian asal yaitu ketika, seluruh alam belum ada dan belum satu pun makhluk diciptakan Allah swt. Pada saat itu yang ada hanya zat Tuhan semata-mata, satu-satunya zat yang ada dengan sifat Ujud-Nya. Banyak dari kalangan sufi memahami bahwa pada saat itu zat yang ujud yang bersifat qidam tersebut belumlah menjadi Tuhan karena belum bernama Allah, Untuk bisa dikatakan sebagai tuhan, sesuatu itu harus dan wajib ada yang menyembahnya. Apabila tidak ada yang menyembah maka tidak bisa sesuatu itu disebut Tuhan, demikianlah Logikanya.

Karena zat yang ujud-Nya besifat qidam tersebut pada saat itu hanya berupa zat, maka pada saat itu Dia belum menjadi Tuhan dan Dia belum bernama Allah, karena kata Allah sendiri dipakai dan diperkenalkan oleh Tuhan sendiri setelah ada makhluk yang akan menyembahnya serta hakikat makna dari kata Allah itu sendiri berarti yang disembah oleh sesuatu yang lebih rendah dari padanya. (untuk pembahasan ini kita cukup memahaminya seperti itu)

Setelah itu, barulah diciptakam Muhammad dalam ujud nur atau cahaya yang diciptakan atau berasal dari Nur atau Cahaya Zat yang menciptakannya ( sebagai perbandingan kaliamat Adam Diciptakan dari Tanah ). Yaitu Nur yang cahanya terang benderang lagi menerangi. ( kemudian nur tersebut difahami sebagai Nur Muhammad ). Nur itulah yang kemudian mensifati atau memberi sifat akan Zat yaitu sifat Ujud yang berati ada dan mustahil bersifat tidak ada karena sudah ada yang mengatakan ” ada ” atau meng-”ada”-kan yaitu Nur Muhammad.

Jabir ibn `Abd Allah r.a. berkata kepada Rasullullah s.a.w: “Wahai Rasullullah, biarkan kedua ibubapa ku dikorban untuk mu, khabarkan perkara yang pertama Allah jadikan sebelum semua benda.” Baginda berkata: “Wahai Jabir, perkara yang pertama yang Allah jadikan ialah cahaya Rasulmu daripada cahayaNya, dan cahaya itu tetap seperti itu di dalam KekuasaanNya selama KehendakNya, dan tiada apa, pada masa itu ( Hr : al-Tilimsani, Qastallani, Zarqani ) `Abd al-Haqq al-Dihlawi mengatkan bahwa Hadist ini Sahih.

Ali ibn al-Husayn daripada bapanya daripada kakaeknya berkata bahwa Rasullullah s.a.w berkata: “Aku adalah cahaya dihadapan Tuhanku selama empat belas ribu tahun sebelum Dia menjadikan Adam a.s. (HR.Imam-Ahmad,Dhahabi,dan-al-Tabrani)

Setelah Nur Muhamamad di ciptakan dari Nur atau Cahaya Zat – Nya, maka selanjutnya Nur Muhammad itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dengan Zat, karena dengan Nur Muhammad itulah, Zat melahirkan semua sifat yang disifati-Nya

” Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[ * ], yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) [ ** ], yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. ” ( QS : 024. : An Nuur : ayat : 35 )

[*] Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.

[**] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

Ibn Jubayr dan Ka`b al-Ahbar berkata: “Apa yang dimaksudkan bagi cahaya yang kedua itu ialah Rasullullah s.a.w kerana baginda adalah PesuruhNya dan Penyampai dari Allah s.w.t terhadap apa yang menerangi dan terdzahir.” Ka`b berkata: ” Minyaknya bersinar akan berkilauan kerana Rasullullah s.a.w bersinar akan  diketahui kepada orang ramai walaupun jika baginda tidak mengakui bahawa baginda adalah seorang nabi, sama seperti minyak itu bersinar berkilauan walaupun tanpa dinyalakan.

Dari dalil-dalil yang disampaikan diatas dapatlah difahami bahwa hubungan antara Nur Muhammad dengan Zat Tuhan adalah hubungan yang tidak dapat dipisahkan yaitu, dimana Allah berdiri disana nur muhammad berada, Ketika Allah disebut, maka disana Muhammad ikut menyertainya seperti pada pada kalimat tauhid ” La Ila Ha Illaallah, Muhammad rasululullah ” Ketika Allah disebut, maka mutlak disana Muhammad ikut atau berada. Ibarat api dengan panasnya. Dimana api berada, maka disana pula panasnya berada. Dimana Zat berada disana pula Nur Muhammad berada. Bukanlah dikatakan api kalau tidak terasa panas. Ketika api disentuh, maka sesunggunya yang tersentuh hanyalah panasnya saja dan ketika terasa panasnya api pada hakikatnya yang dirasakan adalah api itu sendiri. Sehingga untuk memudahkan pemahaman, kalau diibaratkan ” api ” adalah zat dan ” panas ” adalah Nur Muhammad yang menjadi sifat yang tidak terpisahkan dari pada api.

Sebagai contoh lain dapat difahami melalui konsep laut dan gelombang. Tidaklah dikatakan sesuatu itu laut kalau dia tidak bergembang ( ombak ). Karena gelombang itu adalah sifat dari pada laut. Dimana ada laut, maka disana pula ada gelombangnya. Tidak bergoncang atau bergerak gelombang itu apabila laut tidak bergoncang. Karena gelombang itu adalah laut yang bergocang. Ketika kita memandang laut yang terlihat adalah gelombangnya. Dan ketika mata memandang gelombang, pada hakikatnya yang dipandang adalah laut . (Pemahaman ini sebaiknya disimpan dulu, untuk pemahaman kajian lebih lanjut) coba pelajari dan fahami hadist berikut dalam acuan pemahaman diatas

” Aku telah dimasukkan ke dalam tanah pada Adam dan adalah yang dijanjikan kepada ayahanda ku Ibrahim dan khabaran gembira kepada Isa ibn Maryam ” ( HR : Ahmad, Bayhaqi )

” Bila Tuhan menjadikan Adam, Dia menurunkan aku dalam dirinya (Adam). Dia meletakkan aku dalam Nuh semasa di dalam bahtera dan mencampakkan aku ke dalam api dalam diri Ibrahim. Kemudian meletakkan aku dalam diri yang mulia-mulia dan memasukkan aku ke dalam rahim yang suci sehingga Dia mengeluarkan aku dari kedua ibu-bapa ku. Tiada pun dari mereka yang terkeluar “. ( HR : Hakim, Ibn Abi `Umar al-`Adani )

Ada yang bertanya padaku tentang uraian ini, pertanyaannya sebagai berikut :
Dengan uraian tsb. lalu mau dikemanakan a.l. QS. 15:29 :

“Setelah Aku sempurnakan bentuknya (Adam) dan Aku tiupkan kepadanya (Adam) ruh-Ku, maka hendaklah kamu tunduk merendahkan diri kepadanya (Adam)”
Dari ayat ini dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang terkait dengan posisi Adam As. dapat disimpulkan tidak ‘terselip’ perkalimat pun riwayat Nur Muhammad.
Muhammad SAW manusia biasa, berbeda proses kelahirannya dengan Nabi Isa As. dan apalagi dengan penciptaan Adam As.

Katakan (hai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepada kamu, bahwa aku (Muhammad) mempunyai perbendaharaan Allah, tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan, bahwa ‘aku malaikat’; hanyalah aku mengikut apa yang diwahyukan kepadaku”. Katakan: ‘Samakah orang buta dengan orang yang dapat melihat?’ Tidakkah kamu pikirkan? (QS. 6:50).

Jawabannya adalah :
Dhohir memang sama, antara kita dengan nabi, tapi apakah hakikat itu sama? tentu tidak. Kebodohan akan hakikat bersumber dari hakikat hati masing2 yang tidak bisa mengerti akan hakikat. Hanya makhluk bodoh yg berselisih tentang hakikat.

Adapun penjelasan ayat tersebut diatas bersifat perintah, dari Allah, Contohnya, ada seorang bawahan yang mengetahui banyak hal tentang segala sesuatu ditempat dia bekerja, lalu Pimpinannya memerintahkan dia untuk mengatakan bahwa dia tidak mengetahui apapun, ini bukan berarti dia benar-benar tidak mengetahui,berhati-hatilah menafsirkan ayat-ayat Allah, ingatlah, Alqur’an itu mempunyai 7 arti lahir dan 7 arti batin (hadist Qudsi), kita lihat lagi kalimat berikutnya, hanyalah aku mengikuti apa yang diwahyukan, kalimat ini memiliki pengertian yang sangat luas, jangan memikirkan kalau wahyu itu hanya berupa kalimat dan kata-kata saja, wahyu dari Allah adalah ibarat sebuah kitab yang dipenuhi dengan segala ilmu pengetahuan, datang kepada Rasulullah bukan berupa kalimat saja, tapi juga mencakup semua pengetahuan yang ada di langit dan dibumi. (ini sekedar pendekatan pengertian saja)

Man lam yazuq lam ya’rif: siapa tidak merasa pasti tidak tahu. Hanya orang yg merasalah yg dapat mengenal hakikat Nur Muhammad SAW.

“Dzohir boleh berbeda tapi hakikatnya Satu jua” ,”Syuhudul kasroh fi Wahdah”. Hakikat adalah rahasia kedalaman hati, karena itu jika sudah mencapai dasar dari hati, maka tidak ada perselisihan. Tapi jika Hakikat diletakkan pada akal akhirnya timbul sangka2 akhirnya timbul perselisihan, perbanyaklah bersholawat untuk menemukan hakikat yang sebenarnya, karena sholawat bisa menjadi pengganti Guru Mursyid yang sekarang ini susah untuk kita temui.

Diterangkan oleh hadits, asalnya Nabi Adam adalah dari saripati tanah-api-air-angin. Kalau tanah-api-air-angin, datang dari mana? Diterangkan oleh hadits, asalnya dari nur muhammad, yaitu cahaya empat perkara: cahaya hitam – hakikat tanah, cahaya putih – hakikat air, cahaya kuning – hakikat angin, dan cahaya merah – hakikat api.
Kalau nur muhammad, asalnya dari mana? Menurut keterangan dari hadits, asalnya dari Nur Maha Suci, yaitu jauhar awwal. Selepas ini, habis. Karena sudah dijelaskan di hadits dan Qur’an bahwa jauhar awwal adalah bibitnya tujuh bumi tujuh langit berikut segala isinya. Maka, yang dimaksud dengan dalil ‘bermula dari Allah’ adalah dari jauhar awwal ini.

inti dalam menjalankan Islam dan Tujuan Vertikal diri adalah Tarikat, Syariat, Hakikat dan MA’rifat…..

Nur Muhammad adalah cahaya yg berbinar sehingga terciptalah semuanya.. Manusia, Gunung, api, matahari , bahkan seluruh alam, baik itu surga maupun neraka, Para Malaikat, dalam arti kata seluruh ciptaan, selain Allah, semua bersumber dari Nur Muhammad, Alam Semesta bersalawat kepada Rasulullah dan Sujud kepada Allah SWT.

Firman Allah : ” Kalau bukan karna engkau wahai Muhammad, maka tak akan Aku ciptakan bumi dan segala isinya”

Firman Allah : ” Tiadalah Aku Mengutusmu ( Muhammad ) kecuali untuk merahmati seluruh ( sekalian ) alam”

Catatan : Kalimat Seluruh alam, itu berarti jamak, banyak, bukan satu atau tunggal, tapi lebih dari satu, mengcakup alam dunia, alam malakut, alam ruh, alam barsha, alam kubur, alam rahim, alam akhirat ( surga dan neraka ).

Pada penciptaan Adam.as, beliau di wajibkan untuk Menyebut 2 kalimat Syahadat…itu salah satu Bukti Nur Muhammad ada pada Diri Adam (dan pertama kali diciptakan) ketika di sempurnakan oleh ALLAH sebagai Hambanya memeluk Islam (pada waktu itu).

28 September 2012

RAHASIA al-Qur’an 7

oleh alifbraja

Mengikuti Nasihat yang Diberikan

 

Perintah Allah lainnya kepada hamba-hamba-Nya yang menginginkan petunjuk kepada jalan yang lurus adalah sebagai ber­ikut:

 

“Dan sesungguhnya kalau mereka melak­sanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih mengu­atkan mere­ka. Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (Q.s. an-Nisa’: 66-8).

 

Orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah berusaha untuk membersihkan diri mereka dari kesalahan dan berusaha untuk memperoleh kesempurnaan akhlak yang menjadikan Allah ridha kepadanya. Namun, orang perlu bersikap rendah hati agar kesalahan-kesalahannya diampuni dan agar memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Orang yang rendah hati yang berusaha untuk membersihkan dirinya, pertama-tama akan bersungguh-sungguh mengikuti perin­tah-perintah Allah. Di samping itu, orang-orang beriman yang ikhlas saling menjadi teman dan pelindung bagi orang lain. Mereka memerintahkan yang benar dan melarang yang mungkar. Dengan demikian, karena mengetahui bahwa peringatan seorang yang beriman itu sangat penting bagi penghisaban seseorang di akhirat, maka orang-orang yang beriman juga harus saling mau menerima nasihat. Orang yang mau mengikuti nasihat yang baik akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang men­­jauhi bujukan setan dan menaati orang-orang yang menyeru kepada al-Qur’an dan perintah-perintah-Nya:

 

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.s. az-Zumar: 17-8).

 


NAFSU MANUSIA MEMERINTAHKAN

PERBUATAN FASIK

 

 

Nafsu manusia merupakan kekuatan dari dalam yang mendorong dan mengetahui kefasikan dan cara menjauhinya. Dengan kata lain, ia merupakan nafsu yang mengilhamkan kefasikan dan kejahatan. Allah menceritakan dua sifat nafsu ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

 

“Dan nafsu serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada nafsu itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan nafsu itu.” (Q.s. asy-Syams: 7-9).

 

Nafsu disebutkan dalam ayat tersebut sebagai sumber semua keburukan dan kesa­lah­an bagi manusia. Karena memiliki sifat seperti itu, nafsu merupakan salah satu di antara musuh manusia yang sangat berbahaya. Nafsu itu bersifat sombong dan memen­ting­kan diri sendiri; ia selalu ingin memuas­kan kehendaknya dan kesombongannya. Ia hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri, ke­pen­­­tingannya sendiri, dan hanya mencari kesenangan. Ia berusaha melakukan apa saja untuk memperdayakan manusia, karena nafsu selalu tidak mungkin dapat memenuhi ke­ingin­annya melalui cara yang benar. Ucapan Nabi Yusuf menjelaskan keadaan ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

 

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Yusuf: 53).

 

Bahwa nafsu seseorang dengan kuat meng­ilhamkan perbuatan fasik dan jahat merupa­kan rahasia penting yang diungkapkan kepa­da orang-orang beriman, dan takut kepada Allah. Dengan diungkapkannya rahasia ini, mereka dapat mengetahui bahwa nafsu tidak pernah berhenti bekerja, sekalipun hanya sede­tik. Melalui godaan, ia selalu berusaha menjerumuskan manusia dari jalan Allah. Berdasarkan rahasia ini, nafsu tidak akan per­nah diam; ia akan selalu membenarkan perbu­atannya dalam keadaan apa saja, ia akan selalu mencintai dirinya sendiri melebihi yang lain, ia semakin sombong, meng­ingin­kan benda apa saja dan menginginkan kenik­matan. Pen­dek kata, ia berusaha dengan cara apa saja agar seseorang melakukan perbu­atan yang berten­tangan dengan hal-hal yang diridhai Allah.

Sesungguhnya, perilaku dan perbuatan orang-orang kafir yang tidak sesuai dengan ajar­an al-Qur’an sepenuhnya dibentuk oleh nafsu mereka. Karena tidak takut kepada Allah, orang-orang kafir tidak memiliki ke­hen­­­dak untuk mengikuti hati nurani mereka, tetapi lebih cenderung untuk meng­ikuti nafsu mereka. Percekcokan, konflik kepen­tingan, dan ketidakbahagiaan yang melanda masyara­kat dan agama diabaikan, berakar dari indi­vidu-individu yang terjerat oleh nafsu mereka dan kepentingan diri mere­ka, sehingga akibatnya, mereka kehilangan sifat-sifat ma­nu­­sia seperti kasih sayang, saling menghor­mati, dan pengorbanan.

Itulah sebabnya mengapa rahasia yang diungkapkan oleh Allah ini sangat penting. Jika seseorang mencamkan rahasia ini dalam hatinya, ia dapat mewaspadai nafsu dan mela­kukan perbuatan yang benar. Nafsu dapat ditun­dukkan dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diperin­tahkan. Misalnya, ketika nafsu memerin­tahkan untuk bermalas-malas, kita harus bekerja lebih keras. Ketika nafsu memerin­tahkan untuk memen­ting­kan diri sendiri, kita harus lebih banyak berkorban. Ketika nafsu memerintahkan untuk berbuat kikir, kita harus menjadi lebih dermawan.

Di samping sisi nafsu yang jahat, dari surat asy-Syams kita mengetahui bahwa Allah juga mengilhamkan kepada nafsu hati nurani yang menjadikan seseorang dapat mengendalikan nafsunya agar tidak memuaskan keinginan­nya yang rendah. Yaitu, di samping nafsu itu mendordong kepada kefasikan, ia juga men­dorong kepada kebajikan. Setiap orang me­nge­tahui akan bisikan ini dan dapat menge­nali perbuatan fasik dan perbuatan baik. Namun, hanya orang-orang yang takut kepa­da Allah yang dapat mengikuti hati nurani mereka.

 


RAHASIA KEMAKMURAN DAN KEKAYAAN YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA

 

 

Seluruh alam raya ini adalah milik Allah, dan Dia memberikan apa saja yang Dia kehendaki kepada siapa saja yang Dia kehen­daki. Allahlah yang memberi rezeki kepada manusia, Dialah yang menjadikan mereka kaya, dan Dialah yang memberi panen yang berlimpah kepada mereka. Sebagaimana Allah menyatakan dalam sebuah ayat, Allah meluas­kan rezeki kepada hamba-hamba-Nya menu­rut kehendak-Nya, dan Dialah juga yang menyempitkan rezeki tersebut. Dia melaku­kan ini untuk alasan tertentu dan karena hikmah tertentu. Baik orang-orang yang reze­ki­nya diluaskan maupun yang rezekinya disempitkan, pada hakikatnya merupakan ujian dari Allah. Orang-orang yang tidak menjadi sombong dan boros karena apa yang telah diberikan kepada mereka, tetapi bersyu­kur kepada Allah atas segala sesuatu yang di­karuniakan kepada mereka, orang-orang yang bertawakal kepada Allah dan tetap bersabar ketika harta mereka disempitkan, mereka adalah hamba-hamba yang diridhai Allah. Ucapan Nabi Sulaiman yang diketengahkan dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada manusia pada hakikatnya merupakan bagian dari ujian:

 

“Seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab berkata, ‘Aku akan membawa singga­sana itu kepadamu sebelum matamu berke­dip.’ Maka ketika Sulaiman melihat singga­sana itu terletak di hadapannya, ia pun ber­kata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau ingkar. Dan barangsiapa yang bersyu­kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia’.” (Q.s. an-Naml: 40).

 

Ucapan Nabi Sulaiman yang menyatakan, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk men­coba aku apakah aku bersyukur atau ingkar,” menjelaskan salah satu alasan mengapa orang-orang diberi harta.

Apa yang Allah nyatakan sebagai “kese­nang­an dunia” dalam al-Qur’an — termasuk harta benda, anak-anak, istri, sanak keluarga, kedudukan, kehormatan, kecerdasan, kecan­tikan atau ketampanan, kesehatan, perdagang­an yang menguntungkan, keberhasilan, pendek kata segala sesuatu yang diberikan tersebut merupakan ujian bagi manusia.

 

 

Rahasia Kemakmuran yang Diberikan

kepada Orang-orang Kafir

 

Banyak manusia di dunia ini, meskipun tidak beriman kepada Allah, mereka menik­mati umur yang panjang, memiliki kekayaan yang tak terhitung banyaknya, memiliki kebun yang berbuah dan anak-anak yang sehat. Orang-orang seperti ini bukannya men­cari keridhaan Allah, tetapi semua karunia yang dinikmatinya tersebut justru menjauh­kan dirinya dari Allah. Orang-orang seperti ini, yang menjalani kehidupannya yang panjang dengan mendurhakai Allah dan yang melakukan dosa semakin banyak hari demi hari, menganggap bahwa apa yang mereka miliki itu merupakan kebaikan bagi mereka. Namun, al-Qur’an mengingatkan kita tentang rahasia lain dan tujuan Allah di balik nikmat dan waktu yang diberikan kepada mereka:

 

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keada­an kafir.” (Q.s. at-Taubah: 85).

 

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa Kami menang­guhkan mereka itu lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menang­guhkan mereka hanyalah supaya bertam­bah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).

 

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesat­annya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu Kami ber­segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Q.s. al-Mu’minun: 54-6).

 

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat terse­but, apa yang dimiliki orang-orang tersebut sesungguhnya bukanlah merupakan kebaikan bagi mereka. Waktu yang diberikan kepada mereka hanyalah untuk menambah dosa mereka. Ketika waktu yang diberikan kepada mereka sudah habis; kekayaan mereka, anak-anak mereka, atau kedudukan mereka, tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksa yang pedih. Sesungguhnya, Allah telah menceri­takan keadaan umat-umat terdahulu yang hidup dengan kekayaannya dan harta yang melimpah, namun mereka ditimpa azab yang pedih:

 

“Berapa banyak umat yang telah Kami binasa­kan sebelum mereka , sedang mereka lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Q.s. Maryam: 74).

 

Ayat berikut ini menjelaskan alasan me­nga­pa orang-orang tersebut diberi perpan­jangan waktu:

 

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo bagi­nya; sehingga apabila mereka telah me­lihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun Kiamat, maka mereka akan menge­tahui siapa yang lebih jelek keduduk­annya dan lebih lemah penolong-penolong­nya?” (Q.s. Maryam: 75).

 

Allah adalah Mahaadil dan Maha Penya­yang. Dia menciptakan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan kebaikan, dan setiap orang akan dibalas sepenuhnya atas apa yang mereka kerjakan. Menyadari hal ini, orang-orang yang beriman melihat berbagai peristiwa dengan maksud untuk melihat kebijaksanaan dan kebaikan yang diciptakan Allah dalam setiap peristiwa. Jika tidak, orang-orang akan menjalani hidupnya dengan tertipu dan jauh dari kenyataan.

 

RAHASIA MENGAPA ALLAH TIDAK SEGERA MENYIKSA ORANG-ORANG KAFIR

 

 

Salah satu rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah bahwa manusia tidak segera dibalas atas perbuatan buruk yang mereka lakukan, tetapi siksa tersebut ditang­guhkan hingga waktu tertentu. Hal ini dike­mukakan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

 

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia dise­babkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan mereka, sampai waktu tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Q.s. Fathir: 45).

 

“Dan Tuhanmulah Yang Maha Peng­am­pun lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung daripada­nya.” (Q.s. al-Kahfi: 58).

 

Bahwa banyak orang yang tidak segera dibalas atas perbuatan buruk mereka menye­babkan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan pernah diminta tanggung jawab atas perbuatan jahat mereka. Anggapan ini menyebabkan mereka tidak mau bertobat, merasa menyesal, dan memperbaiki kesalahan mereka. Di samping itu, hal tersebut semakin menambah keangkuhan mereka. Karena ter­jauh dari hikmah, mereka tidak dapat melihat bahwa apa yang mereka lakukan itu akan menyebabkan datangnya azab, bahkan azab ter­sebut semakin berat di akhirat kelak. Da­lam al-Qur’an, Allah menyatakan sebagai ber­ikut:

 

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tang­guh kepada mereka hanyalah supaya bertam­bah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).

 

Inilah penangguhan yang diberikan Allah untuk menguji manusia. Namun, tentu saja ada waktu yang telah ditetapkan Allah sehing­ga setiap orang akan dibalas atas apa yang mere­ka perbuat. Ketika waktu yang ditetap­kan ini tiba, maka waktu tersebut tidak dapat ditunda atau dipercepat, meskipun hanya sesaat. Allah memberi tahu kita bahwa setiap orang pasti akan memperoleh balasan:

 

“Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.” (Q.s. Thaha: 129).

 

“Dan Aku tangguhkan mereka. Sesung­guh­nya rencana-Ku amat teguh.” (Q.s. al-A‘raf: 183).

 


KESIMPULAN

 

 

Setiap orang yang membaca al-Qur’an kemudian dicamkan dalam hati dan jiwanya, yang memikirkan tentang kehidupan, ber­bagai peristiwa, dan orang-orang di sekitarnya dengan sikap seorang yang beriman, dan yang menganggap Allah sebagai satu-satunya penolong dapat melihat rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an. Tidak ada satu peristiwa pun, yang penting dan yang remeh, terjadi begitu saja; tak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan. Di balik sebuah rahasia terdapat tujuan yang baik, dan hikmah yang diciptakan oleh Allah. Jika manusia berbuat dengan ikhlas dan selalu berpaling kepada Allah, maka mereka dapat mengetahui rahasia-rahasia ini dan hikmah di balik rahasia-rahasia tersebut.

Orang yang dapat memahami rahasia-raha­sia al-Qur’an dan memperhatikan rahasia-rahasia dalam kehidupan ini semakin dekat kepada Allah dan hubungan dengan-Nya akan semakin kokoh. Orang-orang seperti ini sema­kin mengenal Rabbnya, Pencipta langit dan bumi dan akan semakin memahami keku­asaan-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya. Mereka menyadari bahwa tidak ada penolong atau pelindung selain Allah. Mereka merasa bergembira ketika melihat dan memahami hikmah dan rahasia yang diciptakan Allah setiap saat. Allah menyingkapkan lebih banyak rahasia-rahasia ciptaan-Nya kepada orang-orang seperti itu. Sekalipun kehidupan orang seperti itu tampaknya biasa-biasa saja bagi orang lain, namun sesungguhnya Allah menciptakan sesuatu yang luar biasa kepada orang tersebut setiap saat. Allah akan menun­jukkan hal ini kepada setiap orang yang dengan ikhlas ingin memahami hikmah dan rahasia dalam ciptaan-Nya.

Allah menyatakan dalam al-Qur’an:

 

“Sesungguhnya (dalam al-Qur’an) terda­pat peringatan yang jelas bagi orang-orang yang menyembah.” (Q.s. al-Anbiya’: 106).

 


KEPALSUAN TEORI EVOLUSI

 

 

Setiap bagian di alam semesta ini menun­jukkan adanya penciptaan yang luar biasa. Sebaliknya, faham materialisme, yang ber­usaha menolak fakta tentang penciptaan alam semesta, tidak lain hanyalah merupakan faham palsu yang tidak ilmiah.

Jika faham materialisme telah tumbang, maka semua faham lainnya yang berdasarkan pada filsafat ini juga tidak memiliki landasan. Hampir semua penganut faham ini adalah penganut Darwinisme, yakni teori evolusi. Teori ini, yang berpendirian bahwa kehidupan berasal dari benda mati, yang terjadi secara kebetul­an, telah ditumbangkan oleh kenya­taan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Ahli astrofisika Amerika, Hugh Ross, menya­ta­kan sebagai berikut:

Atheisme, Darwinisme, dan pada dasarnya semua “isme” yang muncul dari filsafat abad kedelapan belas hingga abad kedua puluh, yang dibangun berdasarkan asumsi, yakni asumsi yang tidak benar, bahwa alam semesta ini tak terbatas. Keajaiban alam semesta telah membawa kita berhadapan dengan sebab atau penyebab utama di balik/ di belakang/ di hadapan alam semesta dan semua isinya, termasuk kehidupan itu sendiri.1

Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan Yang merancangnya hingga ke bagian-bagiannya yang terkecil. Dengan demikian teori evolusi yang menyatakan bahwa makh­luk hidup itu tidak diciptakan oleh Allah, tetapi terjadi secara kebetulan, adalah teori yang sama sekali tidak benar.

Tidak heran jika kita memperhatikan teori evolusi, maka kita akan melihat bahwa teori ini dikecam oleh penemuan ilmiah. Rancang­an kehidupan ini sangatlah kompleks dan menakjubkan. Di dunia makhluk tak bernya­wa misalnya, kita dapat melihat betapa luar biasanya keseimbangan pada atom-atom. Belum lagi pada dunia makhluk bernyawa, kita dapat melihat betapa kompleksnya ran­cang­an dari kumpulan atom, dan betapa luar biasanya cara kerja dan struktur seperti pro­tein, enzim, dan sel, yang diciptakan di dalam­nya.

Rancangan yang luar biasa dalam kehidup­an ini menumbangkan Darwinisme pada akhir abad kedua puluh.

Kita telah membicarakan dengan sangat detail masalah ini dalam beberapa kajian kami lainnya, dan kami akan terus melakukannya. Namun mengingat pentingnya persoalan ini, tentunya akan bermanfaat jika pada kesem­patan ini diketengahkan ringkasannya.

 

 

Ilmu Pengetahuan Menumbangkan Darwinisme

 

Meskipun doktrin ini berasal dari zaman Yunani kuno, teori evolusi dikembangkan secara luas pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang menjadikan teori ini menjadi topik terbesar dalam dunia sains adalah buku karya Charles Darwin yang berjudul The Origin of Species, yang diterbitkan pada tahun 1859. Dalam buku ini, Darwin menolak bahwa berbagai spesies yang hidup di bumi, masing-masing diciptakan oleh Tuhan. Menurut Darwin, semua makhluk hidup me­mi­liki nenek moyang yang sama dan makh­luk-makhluk tersebut kemudian men­jadi beraneka ragam dengan berjalannya waktu melalui perubahan-perubahan kecil.

Teori Darwin tidak berdasarkan pada pembuktian ilmiah yang kongkret; sebagai­mana yang diakuinya sendiri, tetapi hanya berupa “asumsi”. Tambahan pula, sebagai­mana pengakuan Darwin dalam bab panjang dari bukunya yang berudul Difficulties of the Theory, teori tersebut tidak mampu meng­hadapi berbagai pertanyaan penting.

Darwin menumpukan semua harapannya pada penemuan-penemuan ilmiah baru, yang ia harapkan dapat memberikan pemecahan atas Difficulties of the Theory. Namun, ber­lawanan dengan harapannya, pembuktian ilmiah justru semakin memperluas dimensi dari kesulitan-kesulitan ini.

Kekalahan Darwinisme atas ilmu penge­tahuan dapat disimpulkan menjadi tiga topik dasar:

1) Teori tersebut sama sekali tidak men­je­las­kan tentang bagaimana asal mula kehidup­an di bumi.

2) Tidak ada pembuktian ilmiah yang me­nunjukkan bahwa “mekanisme evolusi­oner” yang diajukan dalam teori tersebut memiliki kekuatan untuk berkembang.

3) Apa yang dikemukakan dalam teori evolusi tersebut sama sekali bertolak belakang dengan Catatan fosil.

Dalam bagian ini, kita akan mengkaji tiga poin dasar tersebut secara garis besar:

%d blogger menyukai ini: