Posts tagged ‘qur an allah’

8 Oktober 2012

AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 6

oleh alifbraja

ALLAH MENJADIKAN AGAMANYA TINGGI
JIKA ORANG-ORANG HANYA MENYEMBAH DIA SAJA
Salah satu tujuan terpenting bagi seorang Muslim dalam hidup ini adalah mendak wahkan ajaran-ajaran al-Qur’an ke seluruh dunia, sehingga orang-orang dapat menyem bah Allah sebagaimana yang seharusnya. Dalam al-Qur’an, Allah telah menunjukkan kepada orang-orang beriman jalan untuk mencapai tujuan ini, dan Dia memerintahkan sebagai berikut:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mere ka berkuasa, dan sungguh Dia akan mene guh kan bagi mereka agama mereka yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mere ka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap me nyem bah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang kafir sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.s. an-Nur: 55).
Berdasarkan rahasia Allah yang diungkap kan kepada orang-orang beriman, Allah akan meneguhkan nilai-nilai al-Qur’an di seluruh dunia jika orang-orang beriman dan hanya me nyem bah Allah, tanpa menyekutukan-Nya. Ini merupakan rahasia yang sangat pen ting, karena hal ini menunjukkan bahwa sesung guhnya merupakan tanggung jawab setiap orang beriman untuk mendakwahkan ajaran al-Qur’an kepada manusia. Dengan demikian setiap orang beriman yang memiliki hati nurani harus menjauhkan diri dengan sung guh-sungguh dari menyekutukan Allah dan hanya menyembah-Nya. Dibandingkan hal-hal lainnya, menyekutukan Allah meru pa kan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah dan orang yang melakukannya akan dimasukkan ke dalam neraka. Bagaimanapun, tampaknya sebagian besar manusia terlibat dalam ajaran-ajaran orang musyrik yang me nyembah ber hala. Manusia harus waspada terhadap “kemusyrikan yang tersembunyi”. Dalam bentuk kemusyrikan seperti ini, orang tersebut menyatakan beriman kepada Allah, mengakui Allah itu satu, Allah Yang Mencip ta kan, dan Yang wajib ditaati. Tetapi, ia juga takut kepada makhluk selain Allah, mengang gap persetujuan dan dukungan orang lain lebih penting, menganggap bahwa perdagang an, keluarga, dan anak cucu lebih penting dari pada Allah dan berjuang di jalan-Nya, sesungguhnya semua ini merupakan bentuk kemusyrikan yang nyata. Keimanan yang benar sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an adalah memandang bahwa keridhaan Allah adalah di atas segala-galanya. Mencintai makhluk lain selain Allah hanyalah sebagai asbab untuk mencari keridhaan-Nya. Orang-orang yang merasa berutang budi kepada manusia yang telah memberi sesuatu kepada mereka, yang memandang manusia sebagai pelindungnya, sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik. Hal ini karena Yang memberi rezeki hanyalah Allah, Yang mem beri makan, menolong, dan melindungi setiap makhluk hidup dan menyembuhkan orang yang sakit, hanyalah Allah. Jika Allah meng hendaki, Dia dapat menyembuhkan orang yang sakit melalui tangan seorang dokter. Dalam hal ini, sungguh tidak masuk akal jika seseorang menumpukan harapannya hanya pada dokter. Karena, tak seorang dokter pun yang dapat menyembuhkan pasiennya kecuali jika Allah menghendaki. Seseorang yang melihat kesehatannya membaik harus meli hat, bahwa dokter itu sebagai orang yang dipakai tangan nya oleh Allah untuk menyem buhkannya, sehingga ia akan menghormati dokter itu dengan semesti nya. Namun, karena ia menge tahui bahwa se sung guhnya yang menyem­buhkan adalah Allah, maka hanya kepada Allah saja ia harus bersyukur. Jika tidak demi kian, berarti ia telah menyeku tu kan Allah dan menganggap sama sifat Allah dengan sifat manusia. Semua Muslim harus menjauhi dengan sungguh-sung guh syirik yang tersem bunyi ini, dan jangan sampai menjadikan penolong dan pelindung selain Allah.

KEHIDUPAN DUNIA INI SANGAT SINGKAT
Sebagian besar manusia sangat mencintai dunia ini seakan-akan mereka tidak akan per nah mati, sehingga mereka menjauhi kehi dup­an agama, tidak ingat mati dan akhirat. Padahal, kehidupan dunia yang sangat mereka cintai ini sesungguhnya sangatlah singkat dan sementara. Bahkan orang-orang yang umur nya sangat panjang pada suatu saat pasti akan menghadapi kematian. Di samping itu, kehi­dupan dunia ini sesungguhnya tidaklah sebagaimana yang tampak. Allah mengung kapkan rahasia ini kepada manusia dalam beberapa ayat al-Qur’an:
“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lama nya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menja wab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfir man, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melain kan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.s. al-Mu’minun: 112-15).
“Dan pada hari terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak berdiam melainkan sesaat, seperti itulah mereka selalu dipalingkan dari kebenaran.” (Q.s. ar-Rum: 55).
Percakapan di atas adalah percakapan antara orang-orang yang dikumpulkan untuk dihisab. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam percakapan tersebut, setelah mati orang-orang menyadari bahwa sesungguhnya mereka tinggal di dunia hanya sebentar. Yaitu, waktu yang tampaknya enam puluh atau tujuh puluh tahun dalam kehidupan dunia ini, sesungguhnya sama singkatnya dengan satu hari, atau bahkan lebih singkat lagi. Hal ini bagaikan kisah seseorang yang menganggap bahwa ia telah menghabiskan beberapa hari, bulan, atau bahkan beberapa tahun dalam mimpinya, tetapi setelah bangun baru menya dari bahwa mimpi tersebut hanya berlangsung selama beberapa detik.
Dengan bertafakkur, orang akan dapat memahami betapa singkatnya dan betapa sementaranya kehidupan dunia ini. Misalnya, setiap orang membuat rencana yang jelas dan menetapkan beberapa tujuan dalam hidup nya. Rencana-rencana ini merupakan tujuan yang tidak pernah berakhir. Antara keduanya saling mengikuti. Demikian pula orang yang baru lulus dari SLTA, lalu masuk ke Pergu ruan Tinggi, lalu bekerja di sebuah perusa haan. Betapapun, semua ini merupakan pe nga laman yang bersifat sementara. Ketika muda, orang hampir-hampir tidak dapat membayangkan ia akan berumur tiga puluh tahun. Tetapi tahu-tahu ia telah berumur empat puluh tahun.
Singkatnya kehidupan dunia ini merupa kan kepastian dari Allah yang diungkapkan dalam al-Qur’an, yang dapat dipahami oleh siapa pun sebelum mati. Bagi orang yang me ma haminya, betapa bodohnya jika ia meng abai kan kehidupan yang nyata dan tidak berakhir di akhirat, hanya untuk mengejar kehidupan yang singkat dan sementara ini. Sebagian di antara ayat-ayat, yang di dalam nya Allah mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan dunia adalah sebagai berikut:
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).
“Sesungguhnya mereka menyukai kehi dup an dunia yang sementara dan mereka tidak mempedulikan hari yang berat.” (Q.s. al-Insan: 27).

ALLAH MEMASUKKAN RASA TAKUT KE DALAM HATI ORANG-ORANG KAFIR
Allah menyatakan dalam beberapa ayat bahwa Dia memasukkan perasaan takut ke dalam hati orang-orang kafir:
“Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang telah beriman.’ Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” (Q.s. al-Anfal: 12).
“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksa an) Allah; maka Allah mendatangkan kepa da mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencam pakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Q.s. al-Hasyr: 2).
Apa yang diceritakan dalam ayat-ayat ter sebut merupakan mukjizat dari Allah. Dengan cara memasukkan perasaan takut ke dalam hati mereka, Allah menghilangkan kekuatan orang-orang yang menentang orang-orang beriman dan yang menolak Allah dan agama-Nya. Sangatlah penting agar orang-orang beriman merenungkan ayat-ayat ini dan meng ambil pelajaran bagi diri mereka. Hal ini karena — sebagaimana disebutkan pada bab-bab terdahulu — hati kita berada di tangan Allah, dan Allah memasukkan apa saja ke dalam hati, kepada siapa saja yang dikehen daki-Nya. Tugas orang-orang beriman bukan lah berusaha untuk menciptakan pengaruh kepada orang lain, tetapi hanya supaya ikhlas. Misalnya, seorang beriman memiliki tang gung jawab untuk mengingatkan seseorang berdasarkan ayat-ayat Allah. Namun, orang itu hanya akan memperoleh hidayah dari nasi hat yang diberikan — betapapun penjelas annya itu sangat terang — Allah membim bing orang itu ke jalan yang benar. Dengan penjelasan tersebut, seorang beriman tidak berdaya menghadapi bahaya. Demikian pula, ia tidak mempunyai kekuatan untuk menjadi kan musuh ketakutan. Tetapi Allah melin dungi dan menolong orang-orang beriman yang ikhlas dan dalam melakukan usahanya hanya untuk mencari ridha Allah. Misalnya, sebagaimana dikatakan dalam ayat di atas, Dia memasukkan perasaan takut ke dalam hati musuh, dan menjadikan mereka terjerumus dalam kesulitan mereka sendiri. Dengan cara inilah Allah memberikan jalan keluar kepada orang-orang yang beriman.
Allah memasukkan berbagai ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir seperti takut mati, takut masa depan, takut terluka, takut akan bencana, atau takut kehilangan harta. Demikian pula, mereka takut mati karena tidak mempercayai akhirat dan sangat men cintai dunia. Meyakini bahwa ia akan lenyap dan kehilangan semua kekayaannya, ketakut an terhadap mati semakin besar. Pada akhir nya, rasa takut ini berkembang menjadi sakit.
Allah menceritakan kepada kita bahwa rasa takut tersebut dimasukkan ke dalam hati orang-orang kafir karena mereka menyekutu kan Allah. Kesudahan orang-orang seperti ini diceritakan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan kete rangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (Q.s. Ali Imran: 151).

HIKMAH DAN PEMBICARAAN YANG JELAS ADALAH RAHMAT DARI ALLAH
Hikmah dan pembicaraan yang jelas adalah rahmat dari Allah, sebagaimana yang dicerita kan dalam ayat-ayat al-Qur’an sebagai ber­ikut:
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat meng ambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Q.s. al-Baqarah: 269).
“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan pembi ca raan yang jelas.” (Q.s. Shad: 20).
Hikmah dan kemampuan berbicara yang jelas adalah karunia yang besar dari Allah. Suatu persoalan dapat dijelaskan oleh berma cam-macam orang dengan gaya yang berbeda-beda. Namun, gaya yang paling berpengaruh adalah gaya yang mengesankan dan jelas. Pen­jelasan seperti itu dapat menjadikan seseorang memusatkan perhatiannya, membangun kannya dari kelalaian, mendorongnya untuk berpikir tentang hal-hal yang telah diketahui tetapi sering dilupakan. Seseorang yang me miliki kemampuan berbicara yang jelas tidak perlu berbicara panjang lebar, tetapi cukup menyatakan pikiran-pikirannya dan pandang an-pandangannya secara singkat, pa dat, namun memiliki pengertian yang sangat luas dan mengesankan. Seorang bijak yang menje las kan suatu persoalan dengan ikhlas menjadi kan penjelasan yang diberikannya menimbul kan kesan yang lebih kuat bagi orang lain. Satu hal yang patut disebutkan di sini — bahwa berbicara dengan jelas itu bukan meru pa kan sebuah bidang yang dapat dipe lajari. Ia tidak memiliki aturan atau teori yang rumit. Ia hanya memerlukan keikhlasan dan doa untuk meminta rahmat dari Allah. Ketika seseorang berbicara, Allah memberikan ilham kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Karya agung tentang hikmah dan pembica raan yang jelas adalah al-Qur’an , yang meru pa kan firman Allah secara langsung. Hikmah ini merupakan sesuatu yang istimewa dari semua kitab yang diturunkan Allah kepada umat manusia. Hal ini diceritakan dalam ayat berikut ini:
“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan: itulah suatu hikmah yang sempurna — tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna.” (Q.s. al-Qamar: 4-5).

MANUSIA JUGA AKAN DIMINTAI TANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG MEREKA PIKIRKAN DAN MEREKA NIATKAN
Dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan ma nu sia agar hidup berdasarkan asas-asas agama dengan kerelaan hati dan dengan khu syuk:
“Barangsiapa dengan kerelaan hati me nger jakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 184).
“Peliharalah segala shalatmu, dan peli hara lah shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (Q.s. al-Baqarah: 238).
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bu kan­lah dia termasuk orang-orang yang mem per sekutukan Tuhan.” (Q.s. an-Nahl: 120).
Sebagaimana terlihat dalam ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan umat manusia agar mengerjakan semua shalatnya dengan khusyuk. Di samping mengerjakan shalat, puasa, bersedekah, atau amal saleh lainnya, yang sesungguhnya sangat penting bagi sese­orang adalah niatnya. Dalam al-Qur’an, Allah mengingatkan kita tentang keadaan sebagian orang yang mengerjakan shalat atau yang menginfakkan hartanya hanya untuk pamer. Kemungkinan orang seperti ini tidak meng ingat Allah, tidak bersikap khusyuk dan khu­dhu’ di hadapan Allah dalam shalatnya, tetapi shalatnya hanya bersifat ritual saja. Mungkin seseorang secara lahiriah tampak melakukan kedermawanan, menyumbang sekolah, atau membantu orang miskin. Tetapi jika hal itu tidak dikerjakan untuk mencari ridha Allah, tidak menyadari kelemahannya, tidak merasa memerlukan Allah, tidak takut terhadap akhirat, amalan-amalan ini tidak akan diteri ma Allah. Allah menceritakan kepada kita bahwa darah binatang kurban tidak sampai kepada-Nya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaannya:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).
Di antara kesalahan-kesalahan besar yang banyak dipercayai adalah bahwa manusia meng anggap, mereka hanya akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan mereka. Pada hal, Allah memberi tahu kita bahwa manusia akan dimintai tanggung jawabnya atas niat­nya, pikirannya, bahkan apa yang tersimpan di dalam lubuk hatinya.
“Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahir kan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah meng ampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.s. al-Baqarah: 284).
Allah mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, apa yang ada dalam bawah sadar nya, apa yang dipikirkannya, dan apa yang tersembunyi dari orang lain. Allah menengahi antara seseorang dan hatinya. Dengan demiki an, manusia tidak mungkin menyembu nyi­kan segala sesuatu dari Allah. Keraguan apa pun yang terlintas dalam hati, bisikan-bisikan setan, keimanannya yang sesungguhnya, ke imanannya terhadap al-Qur’an, apa saja yang terlintas dalam hatinya ketika sedang shalat, semuanya diketahui satu per satu oleh Allah, dan semuanya diingat oleh Allah. Misal nya, Allah mengetahui ketika seseorang menger jakan shalat dengan malas, atau ketika pikir an nya mengalami pertentangan. Manu sia akan menjumpai semuanya itu pada Hari Akhir. Membersihkan hati, menjalani hidup berdasarkan agama dan dalam mengamal kan nya tidak hanya bersifat ritual tetapi dengan ikhlas dan penuh kekhusyukan, semua ini meru pakan jalan untuk mencapai keselamat an. Betapa bodohnya mengabaikan kehidupan yang abadi dan hakiki hanya untuk mengejar kehidupan yang singkat dan sementara. Di bawah ini diketengahkan beberapa ayat, yang di dalamnya Allah mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan di dunia:
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).
“Sesungguhnya mereka menyukai kehi dup an dunia dan mereka tidak mempedu likan hari yang berat.” (Q.s. al-Insan: 27).

ALLAH MEMASUKKAN RASA CINTA KE DALAM HATI MANUSIA
Dalam beberapa ayat, Allah menyatakan bahwa Dialah Yang memasukkan perasaan cinta dan kasih sayang ke dalam hati manusia. Misalnya, Allah telah menyatakan dalam ayat di bawah ini bahwa Dialah Yang mengum pul kan orang-orang beriman dan menyatukan hati mereka sebagai saudara:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepa da tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepa da mu ketika kamu dahulu bermusuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demiki an lah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.s. Ali Imran: 103).
Dalam ayat lainnya, Allah memberi tahu kita bahwa Dialah Yang memberikan kepada orang-orang beriman perasaan belas kasihan.
“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dan ia adalah seorang yang bertak wa.” (Q.s. Maryam: 12-3).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Q.s. Maryam: 96).
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cen derung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demi kian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.s. ar-Rum: 21).
Allah juga menyatakan bahwa Dia akan memasukkan perasaan kasih sayang di antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memusuhi mereka. Telah jelas bahwa Allahlah yang mengendalikan semua hati – baik orang-orang yang beriman maupun yang tidak beriman.
“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Mumtahanah: 7).

KEMATIAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN KAFIR TIDAK AKAN SAMA
Dalam al-Qur’an, Allah mengungkapkan suatu rahasia tentang kematian, yang tidak diketahui oleh banyak orang — bahwa saat kematian yang dialami oleh seseorang sesung guhnya tidaklah sebagaimana yang dilihat orang lain. Allah menceritakan kepada kita dalam al-Qur’an, sebagai berikut:
“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Q.s. al-Waqi‘ah: 83-5).
Rahasia lain yang diungkapkan Allah ten tang kematian adalah bahwa saat kematian itu bagi orang-orang kafir merupakan penga laman yang mengerikan dan menyeng sara kan. Tetapi orang-orang di sekitarnya tidak dapat menyaksikan kengerian itu. Allah me nya takan kenyataan ini dalam ayat-Nya sebagai berikut:
“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang membuat kedustaan terha dap Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyu kan kepada saya,’ padahal tidak ada diwah yu kan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, ‘Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.’ Alangkah dah syat nya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam te kan an-tekanan sakaratul-maut, sedang para malai kat memukul dengan tangannya, sambil ber kata, ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat meng hinakan, karena kamu selalu menga takan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyom bongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (Q.s. al-An‘am: 93).
“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keada an kafir.” (Q.s. at-Taubah: 9).
Berdasarkan rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, seorang kafir tampaknya saja mati dalam keadaan tenang di tempat tidurnya. Kelihatannya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya ia sama sekali tidak mengalami kesakitan atau penderitaan pada saat kematiannya, kecuali matanya hanya ter tutup. Namun, Allah memberi tahu kita bahwa seorang kafir merasakan penderitaan yang dahsyat yang tidak dapat kita saksikan. Bagaimana para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Bagaimanakah apabila malaikat menca but nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demi kian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemur kaan Allah dan (karena) mereka membenci apa yang diridhai-Nya; sebab itu Allah meng hapus amal-amal mereka.” (Q.s. Muham mad: 27-8).
“Kalau kamu melihat ketika para mala ikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka mereka dan belakang mereka, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesung guhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya’.” (Q.s. al-Anfal: 50-1).
Sebagai kebalikan dari kematian yang menyengsarakan yang dialami orang-orang kafir, orang-orang beriman mengalami kema tian dengan sangat mudah. Misalnya, seorang beriman yang berperang di medan peperangan di dekat nabi, kemudian ditikam dengan pedang, ia terbebas dari semua rasa takut, ia meng alami saat kematian yang damai. Seba gaimana diberitakan oleh Allah dalam ayat tersebut, nyawa orang-orang yang ber iman akan dicabut dalam keadaan suci dan mereka akan disambut oleh malaikat dengan salam dan berita gembira. Allah menjelaskan kema tian orang-orang beriman sebagai berikut:
“Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan, ‘Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan’.” (Q.s. an-Nahl: 32).

SHALAT MENJAUHKAN MANUSIA DARI
PERBUATAN JAHAT
Shalat diperintahkan kepada orang-orang beriman pada saat-saat yang telah ditetapkan setiap hari, sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an. Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang benar-benar menjaga shalatnya dan yang istiqamah dalam menger­jakannya. Pahala lain yang akan diberikan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat dijelaskan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an ) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-‘Ankabut: 45).
Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang mengerjakan shalat dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Allah akan menolong untuk menjauhkannya dari perbuatan jahat.
Orang yang benar-benar menjaga dan mengerjakan shalat sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an adalah orang yang bertakwa kepada Allah. Orang yang berdiri, ruku’, dan sujud di hadapan Allah pada waktu-waktu tertentu setiap hari pasti akan dijauhkan dari perbuatan jahat, dan ia akan sangat takut kepada Allah. Hati nurani orang-orang seperti itu, dengan kehendak Allah, akan senantiasa dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Sekalipun mereka melakukan kemungkaran untuk sementara waktu, mereka akan menya­dari kesalahan mereka pada saat berdoa dan bertafakkur di hadapan Allah Yang Maha kuasa. Kemudian mereka akan bertobat dan menjauhi kemungkaran tersebut pada masa berikutnya.

Iklan
8 Oktober 2012

AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 5

oleh alifbraja

TIPU DAYA SETAN ITU LEMAH
Musuh manusia terbesar semenjak Nabi Adam a.s. adalah setan. Setan bersumpah kepa da dirinya sendiri untuk menyesatkan manusia pada saat Nabi Adam diciptakan, dan setan melaksanakan sumpah nya itu dengan menyusun tipu daya agar dunia ini tampak memikat dan mempesona di mata manusia. Al-Qur’an juga memberi tahu kita bahwa tipu daya setan itu lemah dan tidak memiliki kekuasaan atas manusia:
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangi lah kawan-kawan setan itu, karena sesung guhnya tipu daya setan itu lemah.” (Q.s. an-Nisa’: 76).
“Dan sesungguhnya iblis telah dapat mem buktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. Dan tidak ada kekuasaan iblis atas mereka, me lain kan hanyalah agar Kami dapat membe dakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Meme lihara segala sesuatu.” (Q.s. Saba’: 20-1).
Sesungguhnya, bahwa tipu daya setan itu lemah dan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan atas manusia, adalah agar Allah menjadikan segala sesuatu itu mudah bagi manusia. Setan hanyalah kekuatan negatif bagi agama, dan kelemahan setan ini bermakna, bahwa orang-orang yang beriman tidak akan mengalami ke su litan apa pun dalam hidupnya jika mereka mengamalkan agama. Tetapi, hal ini akan terjadi jika memiliki iman yang ikhlas. Dalam al-Qur’an, Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang memiliki iman yang ikhlas tidak akan terpengaruh oleh tipu daya setan:
“Ia (setan) berkata, ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan hal-hal di muka bumi terlihat baik bagi mereka (manusia) dan aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka’.” (Q.s. al-Hijr: 39-40).
Dalam ayat lainnya, Allah telah meng ung kapkan bahwa setan tidak memiliki kekuasa an atas orang-orang yang beriman dan berta wakal kepada Tuhan:
“Sesungguhnya setan itu tidak ada keku asa annya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesung guh nya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang memper seku tukannya dengan Allah.” (Q.s. an-Nahl: 99-100).

Rahasia Bagaimana Menjauhi
Angan-angan Kosong dan Bisikan Setan
Meskipun setan itu tidak memiliki kekua saan atas orang-orang yang beriman, kadang-kadang ia berusaha menggoda mereka dengan bisikan-bisikan, karena kesalahan yang telah mereka lakukan.
Rahasia penting lainnya yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an adalah bagaimana menyelamatkan diri dari bisikan setan. Ini merupakan masalah penting bagi orang-orang beriman yang takut kepada Allah dan meng inginkan surga, karena bisikan setan itu me­nye satkan dan memalingkan manusia dari jalan Allah, dan menjadikan manusia sibuk dengan perbuatan sia-sia dan remeh. Setan berusaha untuk menanamkan perasaan sedih dan takut kepada manusia, menyemaikan benih-benih pertentangan di antara mereka, menyebabkan mereka merasa ragu-ragu terhadap Allah, al-Qur’an, dan agama. Setan memenuhi hati manusia dengan angan-angan kosong. Sebagian dari ayat-ayat yang menje las kan tentang bisikan setan kepada manusia adalah sebagai berikut:
“Dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyu ruh mereka memotong telinga binatang ter nak, lalu mereka benar-benar memotong nya, dan akan saya suruh mereka, lalu mereka benar-benar mengubah ciptaan Allah. Ba rang siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia men de rita kerugian yang nyata. Setan itu memberi kan janji-janji kepada mereka dan membang kitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (Q.s. an-Nisa’: 119-20).
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (Q.s. an-Nas: 5).
Apa saja yang dibisikkan setan kepada manu sia, ia tidak dapat memalingkan manu sia dari bimbingan Allah sepanjang mereka mengikuti jalan yang telah Allah tunjukkan. Allah memperingatkan orang-orang beriman agar waspada terhadap bisikan setan:
“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Q.s. al-A‘raf: 200-01).
Sebagaimana dapat kita pahami dari ayat tersebut, orang-orang yang beriman tetap waspada terhadap bisikan setan. Mereka tidak mau kehilangan waktu untuk memperhatikan bisikan itu, dan karena sadar bahwa hal itu tidak akan diridhai Allah, mereka tidak pernah membiarkan diri mereka larut dalam keputusasaan, takut dan duka cita, yang semu a nya itu merupakan perasaan negatif yang dijauhi oleh orang-orang beriman. Manakala orang-orang beriman diganggu dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an, mereka segera mengenali bahwa itu merupakan bisikan berbahaya dari setan yang tidak akan mendatangkan keridhaan Allah. Mereka mengusir bisikan setan itu melalui dzikrullah dan ayat-ayat al-Qur’an.
MENGIKUTI SEBAGIAN BESAR ORANG HANYALAH AKAN MENYESATKAN DARI JALAN YANG BENAR
Anggapan yang pada umumnya diyakini orang adalah bahwa mayoritas itu adalah yang benar, pandangan ini sering kali menyesatkan manusia. Sesungguhnya, jika ditanya tentang alasan yang mendasari perbuatan atau sikap tertentu, banyak orang yang menjawab, “Karena kebanyakan orang melakukannya.” Namun, Allah memberitahukan kita bahwa mengikuti sebagian besar orang itu menye­satkan:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (Q.s. al-An‘am: 116).
Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa sebagian besar manusia tidak akan beriman:
“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu mengingin kan nya.” (Q.s. Yusuf: 103).
Dalam surat al-Ma’idah, Allah menye but kan tentang merajalelanya yang “buruk” dan menyerukan agar orang-orang yang berakal menjauhinya.
“Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan’.” (Q.s. al-Ma’idah: 100).
Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh sebagian besar orang dan yang memper ca yainya atau yang mendukungnya, tidaklah dapat dipakai sebagai sumber rujukan yang dapat dipercaya. Orang-orang cenderung untuk mengikuti sebagian besar orang karena menuruti “kecenderungan berkelompok”. Namun, orang-orang yang beriman yang berbuat sesuai dengan rahasia Ilahi yang diberikan Allah dalam al-Qur’an tidaklah mengikuti sebagian besar orang, tetapi mereka hanya melaksanakan perintah Allah dan agama-Nya. Sekalipun seorang diri, mereka tidak pernah merasa bimbang terhadap keyakinan mereka dan jalan yang mereka tempuh.

RAHASIA TENTANG BERTAMBAH ATAU BERKURANGNYA NIKMAT
Dalam al-Qur’an, Allah mengungkapkan alasan mengapa Dia memberikan nikmat atau mengambilnya dari manusia:
“Yang demikian itu adalah karena sesung guhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepa da sesuatu kamu, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesung guhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Anfal: 53).
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah meng hendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.s. ar-Ra‘d: 11).
Apa yang dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut merupakan rahasia yang sangat pen ting yang tidak diketahui atau diabaikan oleh kebanyakan manusia. Allah berfirman bahwa Dia akan menambah nikmat bagi orang-orang yang sibuk mengerjakan amal saleh, dan akan mempersempit nikmat bagi orang-orang yang melakukan kemaksiatan, dan nikmat terha dap manusia akan berubah sesuai dengan per ubahan perbuatan dan keikhlasan mereka.
Orang-orang yang beriman yang menge tahui rahasia-rahasia Allah ini berusaha untuk melihat maksud tersembunyi di balik ciptaan Allah dalam setiap keadaan yang mereka jumpai dan mereka senantiasa memper hati kan masalah tersebut. Mereka tidak pernah merasa sempurna, tetapi mereka berusaha keras untuk memiliki kesempurnaan akhlak sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an, dan berusaha membetulkan kesalah an dan kekhilafan mereka. Dalam hal ini, mereka tidak pernah ragu-ragu untuk selalu berusaha memperbaiki akhlak mereka dan membersihkan tingkah laku mereka.

MENAATI RASUL BERARTI MENAATI ALLAH
Salah satu amal ibadah yang sangat penting yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman dalam al-Qur’an adalah menaati Rasul-Nya. Allah berfirman bahwa Dia telah mengi rim para rasul-Nya untuk ditaati, dan orang-orang beriman, dalam setiap zaman, telah diuji ketaatan mereka terhadap para rasul tersebut. Para rasul adalah orang-orang yang menyampaikan pesan Allah dan perin­tah-Nya kepada manusia, dan mengingatkan mereka tentang hari perhitungan dan tentang ayat-ayat-Nya. Para rasul adalah orang-orang yang lurus dan dirahmati, yang dipilih Allah di antara seluruh manusia; dan perbuatan, sikap, dan kesempurnaan akhlak mereka sebagai teladan. Mereka adalah para kekasih Allah yang sangat dekat dengan-Nya. Sebagai mana dinyatakan dalam ayat berikut ini, orang yang menaati rasul berarti menaati Allah.
“Barangsiapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.s. an-Nisa’: 80).
Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang bersaksi terhadap hal ini akan memper oleh berita gembira:
“Tidakkah kamu telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa saya adalah utusan-Nya? Jika demikian, maka kabar gembira bagi kamu. Qur’an adalah sebuah tali yang satu ujungnya sampai kepada Allah dan ujung yang lain sampai kepadamu. Berpegang teguhlah kepadanya. Jika kamu melakukan itu, kamu tidak pernah terjerumus dalam kesalahan atau bahaya.1
Mendurhakai seorang rasul adalah men dur hakai Allah dan agama-Nya. Ini merupa kan salah satu rahasia penting yang diung kapkan Allah dalam al-Qur’an. Dalam sebuah ayat, Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menaati rasul dan orang-orang yang mendurhakainya:
“Itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang­siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar keten tuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah mema suk kannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (Q.s. an-Nisa’: 13-4).
Allah telah mengungkapkan dengan jelas dalam al-Qur’an tentang ketaatan kepada rasul, dan menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar taat dan berserah diri juga akan diterima di sisi-Nya. Sebagaimana yang ter lihat dalam ayat-ayat ini, dipenuhinya semua syarat agama dan melakukan banyak ibadah belumlah mencukupi. Jika seseorang tidak menerapkan sikap dan akhlak yang me nun­jukkan ketaatan kepada rasul sesuai dengan yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an dan hanya setengah-setengah dalam menaati-Nya, mungkin Allah akan menja dikan semua perbuatannya sia-sia. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini dikaji di bawah ini yang dibagi menjadi be berapa bagian:
Tidak Beriman sehingga Menyerahkan Diri
Mereka Sepenuhnya kepada Rasul
Allah mengungkapkan sebuah rahasia yang sangat penting dalam Surat an-Nisa’:
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak ber iman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perse lisih kan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terha dap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.s. an-Nisa’: 65).
Dalam ayat ini diungkapkan sebuah raha sia penting tentang ketaatan yang sempurna kepada rasul. Hampir semua orang mengeta hui apakah ketaatan itu. Namun, ketaatan kepada rasul sangat berbeda dibandingkan dengan bentuk-bentuk ketaatan sebagaimana yang diketahui orang banyak. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang beriman haruslah menaati rasul dengan sepenuh hati, tanpa ada sedikit pun perasaan ragu di dalam hati. Jika seseorang merasa ragu-ragu terhadap apa yang dikata kan oleh rasul dan menganggap pikirannya sendiri lebih benar daripada pikiran rasul, maka sebagaimana dinyatakan oleh ayat ter sebut, pada hakikatnya ia bukanlah orang yang beriman.
Orang-orang yang benar-benar beriman dan berserah diri mengetahui bahwa apa yang disabdakan oleh rasul adalah yang terbaik bagi mereka. Sekalipun sabdanya tersebut bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka, mereka menerima dan menaati dengan penuh gairah dan semangat. Sikap seperti ini merupakan tanda bahwa ia adalah orang yang benar-benar beriman, dan Allah memberikan kabar gembira berupa keselamat an kepada orang-orang yang menaati rasul dengan ketaatan yang sempurna. Inilah seba gian dari ayat-ayat yang menyatakan kabar gembira dari Allah:
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nik mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shid diqin.” (Q.s. an-Nisa’: 69).
“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.s. an-Nur: 52).
“Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan jika kamu berpa ling, maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewa jiban rasul itu melainkan menyampaikan dengan terang’.” (Q.s. an-Nur: 54).
Sebagaimana dinyatakan di atas, orang-orang yang menaati rasul akan memperoleh petunjuk. Di sepanjang sejarah, semua orang diuji atas ketaatan mereka terhadap para rasul. Allah selalu memilih Rasul-rasul-Nya dari kalangan manusia. Dalam hal ini, orang-orang yang berpikiran sempit dan tidak me mi liki hikmah tidak mampu memahami bagai mana menaati seorang manusia dari kalangan mereka sendiri, atau seseorang yang tidak lebih kaya daripada diri mereka sendiri. Namun, Allah telah memilih Rasul-rasul-Nya, menolong mereka dari sisi-Nya, dan memberikan kepada mereka ilmu dan kekuat an. Hakikat dari persoalan ini yang tidak mampu dipahami oleh orang-orang adalah bahwa Allah memilih siapa saja yang Dia ke hendaki. Orang beriman yang ikhlas dengan sepenuh hati menaati dan menghormati orang yang telah dipilih Allah, lalu ia meng ikutinya dengan sepenuh hati. Ia mengetahui bahwa jika ia menaati rasul, sesungguhnya ia menaati Allah. Orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan melaksanakan agama dengan demikian juga menyerahkan diri kepada rasul. Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menyerahkan diri kepada-Nya sebagai berikut:
“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat keba jikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.s. al-Baqarah: 112).
Perbuatan Orang-orang yang Mening gikan Suara
Mereka Melebihi Suara Nabi Menjadi Terhapus:
Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, jangan lah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalan-amal anmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendah kan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.s. al-Hujurat:: 2-3).
Rasulullah selalu menyeru orang-orang beriman kepada jalan yang lurus dan kepada kebaikan. Tentu saja ada saat-saat ketika seruan para rasul ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang diseru. Na mun, orang-orang yang beriman dan menaati rasul tidak menuruti pikirannya sendiri, tetapi berserah kepada firman Allah, Rasul-Nya, dan al-Qur’an . Dalam pada itu, orang-orang yang imannya lemah, yang tidak dapat mengendalikan nafsu mereka menunjukkan kedurhakaan atau kelemahan terhadap seruan rasul. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, suara mereka, pembicaraan mereka, dan kata-kata yang mereka ucapkan, dapat mengungkapkan penyakit yang ada dalam hati mereka dan lemahnya mereka dalam ketaatan. Perbuatan mereka yang menentang apa yang dikatakan oleh Nabi dan sikap mere ka yang meninggikan suaranya tersebut, sesung guhnya menunjukkan kebodohan mereka. Allah memberi tahu bahwa perbuatan orang-orang seperti ini akan menjadi ter ha pus. Allah menyatakan bahwa semua perbu atan orang seperti ini, sekalipun ia berusaha siang malam untuk menyebarkan agama, ha nya lah sia-sia karena kedurhaka annya terse but.
Ini merupakan rahasia penting yang diung kapkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an. Allah telah memerintahkan manusia agar mengerjakan amal saleh, berjuang dengan sungguh-sungguh dan teguh untuk kepen tingan Islam, bertingkah laku sesuai dengan akhlak mulia sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an , dermawan, sabar, menjaga perasaan orang lain, jujur, dan dapat diper­caya. Tidak diragukan lagi, semua ini merupa kan bentuk ibadah yang penting yang akan mensyafaati orang yang melakukannya di akhirat kelak. Namun, sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Hujurat, satu sikap yang tidak menghormati Rasulullah dapat menyebabkan semua perbuatan orang itu sia-sia. Sekali lagi, hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya menaati dan menghor mati Rasulullah.
Allah Mencabut Kekuatan Orang-orang
yang Tidak Menaati Rasul
Kisah tentang Thalut dan bala tentaranya yang diceritakan dalam al-Qur’an merupakan peringatan lain, yang sangat menekankan pentingnya menaati Rasulullah. Sebagai mana diceritakan dalam al-Qur’an , ketika Thalut memberangkatkan pasukannya untuk mela­wan musuh, ia memperingatkan pasu kan nya agar jangan minum air sungai yang akan mereka seberangi. Berikut ini adalah ayat yang menceritakan kisah tersebut:
“Maka ketika Thalut keluar membawa ten ta ranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum air nya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka keti ka Thalut dan orang-orang yang beriman ber sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat menga lah kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar’.” (Q.s. al-Baqarah: 249).
Sebagaimana terlihat dari ayat tersebut, orang-orang yang tidak menaati perintah Thalut menjadi lemah, sedangkan orang-orang yang menaati Thalut diberi kekuatan oleh Allah, dan atas kehendak-Nya, mereka dapat mengalahkan musuh meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Ini merupakan rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an kepada manusia. Kekuatan, kemenangan, dan keunggulan tidak tergantung pada kekayaan materi, kedudukan yang bergengsi, jumlah yang banyak, atau kekuatan jasmani. Barang siapa yang menjalankan perintah Allah, menaati Dia dan Rasul-Nya, Allah menjadi kan mereka lebih kuat dibandingkan semua nya, dan Allah akan memberi pahala kepada mereka dengan karunia yang sangat banyak seperti hikmah, kekayaan, kebaikan, kenik mat an, dan kekayaan. Bagi orang-orang yang siap untuk mengikuti Rasulullah dise dia kan kenikmatan yang kekal abadi di akhirat kelak.

KELOMPOK MINORITAS ORANG BERIMAN DAPAT MENGALAHKAN ORANG KAFIR YANG JUMLAHNYA LEBIH BESAR
Salah satu mukjizat dari Allah yang di be ri kan kepada orang-orang yang beriman, meskipun mereka berjumlah sedikit adalah bahwa mereka dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dengan Kehendak Allah. Ini merupakan rahasia penting yang diung kap kan Allah dalam beberapa ayat sehingga menjadikan orang-orang kafir tertipu. Seba gai mana dapat dilihat dalam kisah tentang Thalut, Allah menjadikan orang-orang beriman memperoleh kemenangan karena ketaatan mereka, meskipun mereka berjumlah sedikit. Allah mengakhiri kisah tentang Thalut dengan kata-kata sebagai berikut:
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Baqarah: 249).
Dengan Bersabar, Orang-orang Beriman
akan Memperoleh Kekuatan Besar
Sebagaimana sering kali ditekankan dalam buku ini, terdapat banyak rahasia yang ter sem bunyi dalam berbagai ayat al-Qur’an. Salah satu di antara rahasia-rahasia tersebut adalah tentang kesabaran. Allah memberikan kabar gembira bahwa orang-orang yang ber sabar akan semakin kuat. Ingatlah bahwa semua kekuatan adalah milik Allah. Bahkan kekuatan orang yang menentang Allah se sung guhnya juga milik Allah. Allah memberi kan berbagai macam kemampuan kepada orang-orang untuk menguji mereka dan orang-orang di sekeliling mereka. Demikian pula, Dia dapat mengambil dengan mudah sebagaimana Dia dapat memberikan dengan mudah apa saja yang Dia kehendaki. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang bersabar akan menjadi kuat, yakni Dia akan memberikan kekuatan kepada mereka. Ten tang hal ini, Allah menyatakan sebagai ber ikut:
“Ya, jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang mema kai tanda.” (Q.s. Ali Imran: 125).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, jika Allah menghendaki, Dia dapat mem berikan kemenangan kepada orang-orang dengan cara yang tak terlihat. Dalam usaha untuk memperjuangkan agama Allah misal nya, Allah dapat memberikan pertolongan yang tak terlihat sehingga memungkinkan seseorang bicaranya sangat berpengaruh dan membuat hati orang-orang yang mendengar kannya berpaling kepada agama. Dengan demi kian, tak seorang pun yang dapat mem peroleh kemenangan atau mempengaruhi orang lain, kecuali jika Allah menghen daki nya. Pemilik semua kejayaan, kemenangan, dan pengaruh adalah Allah. Apa yang harus dilakukan oleh manusia adalah menaati perin tah Allah dan melaksanakan ketentuan-ketentuan-Nya. Dalam ayat lainnya, Allah memberi tahu orang-orang yang beriman cara memperoleh kekuatan besar:
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus musuh. Dan jika ada seratus orang diantaramu, mere ka dapat mengalahkan seribu orang kafir disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalah kan dua ratus orang, dan jika diantaramu ada seribu orang, niscaya mereka dapat me nga lahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Anfal: 65-6).
Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat tersebut, jika orang-orang beriman tidak memiliki kelemahan dalam diri mereka, dan mereka teguh, sabar, dan yakin, maka kekuat an satu orang beriman adalah sama dengan kekuatan sepuluh orang. Dalam hal ini, per­kataan “kekuatan” memiliki pengertian lain yang bukan sekadar kekuatan fisik. Misalnya, keku atan seorang beriman yang menyampai­kan pesan agama dan menyeru manusia ke jalan Allah adalah sama dengan kekuatan sepuluh orang. Dalam pada itu, pengetahuan seorang yang ber iman dapat menyamai pengetahuan sepu luh orang. Perbuatan baik seorang beriman yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah dapat menyamai perbuatan yang dilakukan sepuluh orang. Seorang yang beriman dapat menyeru sepuluh orang kafir yang ter sesat kepada jalan Allah yang benar dan dapat menjadi asbab bagi perbaikan iman mereka. Seorang yang ber iman dapat menghancurkan kekafiran orang kafir dan menggantinya dengan kebenaran.
Rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an ini sangat penting. Hal ini karena jika semua orang Islam saling berlomba-lomba di jalan yang benar, betapapun kecilnya jumlah mereka, Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka dalam setiap urusan yang mere ka lakukan. Misalnya, jika orang di selu ruh dunia ini berkumpul yang terdiri dari orang-orang kafir, dan profesor-profesor kafir dari seluruh dunia yang memimpin semua orang di setiap negara agar menjadi kafir, maka Allah cukup mengirim sekelompok kecil orang-orang Muslim yang kuat, bertang gung jawab, dan cukup bijak untuk menun jukkan kepada orang-orang tersebut jalan yang benar. Allah memberikan kemudahan kepada orang-orang beriman dalam setiap urusan mereka dan membuat berbagai urusan menjadi sulit bagi orang-orang kafir. Untuk itulah, orang-orang beriman yang mengetahui rahasia ini jangan sampai meremehkan usaha mereka dan mengatakan, “Mungkinkah usaha kita ini dapat membawa perubahan terhadap situasi seperti ini?” Tetapi sebaliknya mereka yakin bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan yang ikhlas, yang dilakukan semata-mata untuk mencapai ridha-Nya ter­sebut dengan hasil yang baik. Sebaris tulisan tentang keberadaan Allah, sepatah kata yang menyeru manusia kepada Allah, atau suatu perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai ajar an al-Qur’an dapat saja membawa manu sia kepada keselamatan dan membangkitkan perasaan cinta dan takut kepada Allah dalam diri mereka. Perlu kita camkan bahwa hukum-hukum dan fenomena sebab dan akibat yang berlaku di dunia ini hanyalah berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an. Siapa pun yang berpikirnya sesuai dengan al-Qur’an dapat memahami rahasia-rahasia dalam ciptaan Allah ini, dan dengan kehen dak Allah, akan memperoleh kekuatan yang lebih unggul dan hikmah melebihi apa yang dapat dicapai oleh orang lain. Allah memberi kan berita gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan mengalahkan orang-orang kafir jika mereka teguh keiman annya:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 139).
Sebagaimana dapat dibaca pada ayat di atas, persyaratan yang diperlukan agar memper oleh kemenangan dan ketinggian, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak adalah keiman an yang ikhlas. Rahasia lain yang di ung kapkan dalam al-Qur’an dalam masalah ini adalah beriman dengan tidak menye kutukan Allah.

8 Oktober 2012

AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 1

oleh alifbraja

al-Qur’an menjelaskan raha sia-rahasia pencipta an Allah dengan penje lasan paling benar dan paling murni. Infor­masi apa pun yang tidak berdasarkan pada al-Qur’an adalah informasi yang tidak benar, dengan demikian informasi tersebut merupa­kan tipuan dan khayalan. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berpegang pada al-Qur’an hidupnya dalam keadaan mengkhayal. Di akhirat, mereka akan dilaknat selama-lama nya.
Dalam al-Qur’an, juga dalam shalat, perin tah, larangan, dan akhlak yang baik, Allah menjelaskan berbagai rahasia kepada umat manusia. Sesungguhnya semuanya ini meru pa kan rahasia penting, dan mata yang mau memperhatikan dapat menyaksikan rahasia-rahasia ini di dalam hidupnya. Tidak ada sum ber lain selain al-Qur’an yang dapat menjelas kan rahasia-rahasia ini. Al-Qur’an adalah sum ber istimewa bagi rahasia-rahasia ini, sehingga siapa pun orangnya, betapapun ia orang yang cerdas dan melek huruf tidak akan pernah me ne mukan rahasia-rahasia ini di tempat lain.
Jika sebagian orang tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur’an, sedangkan orang lain dapat memaha mi­nya, ini merupakan rahasia lain yang dicip takan oleh Allah. Orang-orang yang tidak mengkaji rahasia-rahasia yang diwahyu kan dalam al-Qur’an hidup dalam keadaan men derita dan berada dalam kesulitan. Ironis nya, mereka tidak pernah mengetahui penye bab penderitaan mereka. Dalam pada itu, orang-orang yang mempelajari rahasia-rahasia dalam al-Qur’an menjalani kehidupannya dengan mudah dan gembira.
Sebabnya adalah karena al-Qur’an itu jelas, mudah, dan cukup sederhana untuk dipahami oleh setiap orang. Dalam al-Qur’an, Allah me nya takan sebagai berikut:
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. Kami telah menurunkan kepada mu cahaya yang terang benderang. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (Q.s. an-Nisa’: 174-75).
Namun demikian, kebanyakan manusia, meskipun mereka sanggup memecahkan masa lah yang sangat sulit, memiliki pema ham an dan mampu mempraktikkan filsafat yang sangat membingungkan, ternyata tidak mam pu memahami hal-hal yang jelas dan seder hana yang terdapat dalam al-Qur’an. Sebagai mana tetah dijelaskan dalam buku ini, perso al an ini merupakan rahasia yang pen ting. Di samping tidak mampu memahami sifat dunia yang sementara, hari demi hari orang-orang seperti ini semakin dekat kepada kematian yang tak dapat dielakkan. Rahasia-rahasia dalam al-Qur’an merupakan rahmat bagi orang beriman, dan di sisi lain, al-Qur’an mem berikan ancaman bagi orang-orang kafir, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Allah menjelaskan kenyataan ini dalam sebu ah ayat sebagai berikut:
“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu hanya­lah menambah kerugian bagi orang-orang yang zalim.” (Q.s. al-Isra’: 82).
Buku ini membicarakan tentang persoalan-persoalan yang berhubungan dengan ayat-ayat yang telah diwahyukan Allah kepada manusia sebagai suatu rahasia. Ketika seseorang mem baca ayat-ayat ini, dan perhatiannya tertuju kepada rahasia-rahasia yang terkandung da lam ayat ini, maka yang harus ia lakukan ada lah berusaha mengetahui maksud Allah di balik berbagai peristiwa, lalu memikirkan segala sesuatunya berdasarkan al-Qur’an. Maka, orang-orang pun akan menyadari dengan kesadaran yang mendalam tentang rahasia-rahasia tersebut, sehingga al-Qur’an akan mengendalikan kehidupan mereka dan kehidupan orang lain.
Semenjak orang bangun pada pagi hari, wujud dari rahasia-rahasia yang diciptakan Allah ini dapat dilihat. Untuk memahami raha sia-rahasia ini, yang ia perlukan hanyalah selalu memperhatikannya, berpaling kepada Allah, dan bertafakur. Maka, ia akan menya dari bahwa hidupnya sama sekali tidak tergan tung pada hukum–hukum yang merugikan sebagaimana yang dipakai banyak orang, dan ia akan menyadari bahwa satu-satunya keku asa an dan hukum yang dapat dipercaya ha nya lah hukum Allah. Ini merupakan rahasia yang sangat penting. Tidak ada kebaikan di dalam aturan-aturan dan praktik-praktik yang digunakan kebanyakan orang selama berabad-abad yang dianggap sebagai kebenaran yang pasti. Sesungguhnya, orang-orang ini telah tertipu. Kebenaran adalah apa yang dinyata­kan dalam al-Qur’an. Siapa pun yang mem baca al-Qur’an dengan ikhlas, lalu memikir kan berbagai peristiwa berdasarkan al-Qur’an dan iman, dan mendekatkan diri kepada Allah, ia akan melihat dengan jelas rahasia-rahasia ini. Perbuatan inilah yang akan mem­berikan pemamahan yang lebih baik bahwa Allah adalah Yang Maha Esa Yang mengen dali kan setiap makhluk, hati, dan pikiran, sebagaimana pernyataan Allah dalam sebuah ayat:
“Kami akan memperlihatkan kepada mere ka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia me nyak sikan segala sesuatu?” (Q.s. Fush shilat: 53).

ALLAH MENGABULKAN DOA SETIAP ORANG
Allah Yang Mahakuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang, telah berfirman dalam al-Qur’an bahwa Dia dekat dengan manusia dan akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa kepada-Nya. Adapun salah satu ayat yang membicarakan masalah ter sebut adalah:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebe nar an.” (Q.s. al-Baqarah: 186).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, Allah itu dekat kepada setiap orang. Dia Maha Mengetahui keinginan, perasaan, pikiran, kata-kata yang diucapkan, bisikan, bahkan apa saja yang tersembunyi dalam hati setiap orang. Dengan demikian, Allah Mende ngar dan Mengetahui setiap orang yang berpaling kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya. Inilah karunia Allah kepada manusia dan sebagai wujud dari kasih-sayang-Nya, rahmat-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tiada batas.
Allah memiliki kekuasaan dan pengeta huan yang tiada batas. Dialah Pemilik segala sesuatu di seluruh alam semesta. Setiap makh luk, setiap benda, dari orang-orang yang tam paknya paling kuat hingga orang-orang yang sangat kaya, dari binatang-binatang yang sangat besar hingga yang sangat kecil yang mendiami bumi, semuanya milik Allah dan semuanya berada dalam kehendak-Nya dan pegaturan-Nya yang mutlak.
Seseorang yang beriman terhadap kebenar an ini dapat berdoa kepada Allah mengenai apa saja dan dapat berharap bahwa Allah akan mengabulkan doa-doanya. Misalnya, sese orang yang mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan tentu saja akan berusaha untuk melakukan berbagai macam pengo batan. Namun ketika mengetahui bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kesehat an, lalu ia pun berdoa kepada-Nya memohon kesembuhan. Demikian pula, orang yang mengalami ketakutan atau kecemasan dapat berdoa kepada Allah agar terbebas dari keta kutan dan kecemasan. Seseorang yang meng hadapi kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan dapat berpaling kepada Allah untuk menghilangkan kesulitannya. Seseorang dapat berdoa kepada Allah untuk memohon berbagai hal yang tidak terhitung banyaknya seperti untuk memohon bimbingan kepada jalan yang benar, untuk dimasukkan ke dalam surga bersama-sama orang-orang beriman lainnya, agar lebih meyakini surga, neraka, Kekuasaan Allah, untuk kesehatan, dan seba gainya. Inilah yang telah ditekankan Rasu lullah saw. dalam sabdanya:
“Maukah aku beritahukan kepadamu suatu senjata yang dapat melindungimu dari keja hatan musuh dan agar rezekimu bertam bah?” Mereka berkata, “Tentu saja wahai Ra su lul lah.” Beliau bersabda, “Serulah Tuhan mu siang dan malam, karena ‘doa’ itu meru pakan senjata bagi orang yang ber iman.”1
Namun demikian, terdapat rahasia lain di balik apa yang diungkapkan dalam al-Qur’an yang perlu kita bicarakan dalam masalah ini. Sebagaimana Allah telah menyatakan dalam ayat:
“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu tergesa-gesa.” (Q.s. al-Isra’:11).
Tidak setiap doa yang dipanjatkan oleh manusia itu bermanfaat. Misalnya sese orang memohon kepada Allah agar diberi harta dan kekayaan yang banyak untuk anak-anaknya kelak. Akan tetapi Allah tidak melihat kebaikan di dalam doanya itu. Yakni, kekaya an yang banyak itu justru dapat mema lingkan anak-anak tersebut dari Allah. Dalam hal ini, Allah mendengar doa orang tersebut, meneri manya sebagai amal ibadah, dan me ngabul kannya dengan cara yang sebaik-baik nya. Sebagai contoh lainnya, seseorang berdoa agar tidak terlambat dalam memenuhi per janjian. Namun tampaknya lebih baik baginya jika ia sampai di tujuan setelah waktu yang ditentu kan, karena ia dapat bertemu dengan sese orang yang memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kehidupan yang abadi. Allah mengetahui masalah ini, dan Dia me nga bulkan doa bukan berdasarkan apa yang dipikirkan orang itu, tetapi dengan cara yang terbaik. Yakni, Allah mendengar doa orang itu, tetapi jika Dia melihat tidak ada kebaikan dalam doanya itu, Dia memberikan apa yang terbaik bagi orang itu. Tentu saja hal ini merupakan rahasia yang sangat penting.
Ketika doa tidak dikabulkan, orang-orang tidak menyadari tentang rahasia ini, mereka mengira bahwa Allah tidak mendengar doa mere ka. Sesungguhnya hal ini merupakan keyakinan orang-orang bodoh yang sesat, karena “Allah itu lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri.” (Q.s. Qaf: 16). Dia Maha Mengetahui perkataan apa saja yang diucap kan, apa saja yang dipikirkan, dan peristiwa apa saja yang dialami seseorang. Bahkan ketika seseorang tertidur, Allah mengetahui apa yang ia alami dalam mimpi nya. Allah adalah Yang menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, kapan saja seseorang berdoa kepada Allah, ia harus menyadari bahwa Allah akan menerima doanya pada saat yang paling tepat dan akan memberikan apa yang terbaik baginya.
Doa, di samping sebagai bentuk amal ibadah, juga merupakan karunia Allah yang sangat berharga bagi manusia, karena melalui doa, Allah akan memberikan kepada manusia sesuatu yang Dia pandang baik dan berman faat bagi dirinya. Allah menyatakan penting nya doa dalam sebuah ayat:
“Katakanlah: ‘Tuhanku tidak mengindah kan kamu, andaikan tidak karena doamu. Tetapi kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak azab pasti akan menim pamu’.” (Q.s. al-Furqan: 77)
Allah Mengabulkan Doa Orang-orang yang
Menderita dan Berada dalam Kesu litan
Doa adalah saat-saat ketika kedekatan sese orang dengan Allah dapat dirasakan. Sebagai hamba Allah, seseorang sangat me merlukan Dia. Hal ini karena ketika seseorang berdoa, ia akan menyadari betapa lemahnya dan betapa hinanya dirinya di hadapan Allah, dan ia menyadari bahwa tak seorang pun yang dapat menolongnya kecuali Allah. Keikhlasan dan kesungguhan seseorang dalam berdoa tergantung pada sejauh mana ia merasa memer lukan. Misalnya, setiap orang berdoa kepada Allah untuk memohon keselamatan di dunia. Namun, orang yang merasa putus asa di tengah-tengah medan perang akan ber doa lebih sungguh-sungguh dan dengan berendah diri di hadapan Allah. Demikian pula, ketika terjadi badai yang menerpa sebuah kapal atau pesawat terbang sehingga terancam bahaya, orang-orang akan memo hon kepada Allah dengan berendah diri. Mereka akan ikhlas dan berserah diri dalam berdoa. Allah menceritakan keadaan ini dalam sebuah ayat:
“Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara yang lem but: ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamat kan kami dari (bencana) ini, tentulah kami men ja di orang-orang yang bersyukur’.” (Q.s. al-An‘am: 63).
Di dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia agar berdoa dengan meren dahkan diri:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan beren dah diri dan suara yang lembut. Sesung guhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. al-A‘raf: 55).
Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya dan orang-orang yang berada dalam kesusahan:
“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilang kan kesu sah­an dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan lain selain Allah? Sedikit sekali kamu yang mem­perhatikannya.” (Q.s. an-Naml: 62).
Tentu saja orang tidak harus berada dalam keadaan bahaya ketika berdoa kepada Allah. Contoh-contoh ini diberikan agar orang-orang dapat memahami maknanya sehingga mereka berdoa dengan ikhlas dan merenung kan saat kematian, ketika seseorang tidak lagi merasa lalai sehingga mereka berpaling kepada Allah dengan keikhlasan yang dalam. Dalam pada itu, orang-orang yang beriman, yang dengan sepenuh hati berbakti kepada Allah, selalu menyadari kelemahan mereka dan kekurangan mereka, mereka selalu ber paling kepada Allah dengan ikhlas, sekalipun mereka tidak berada dalam keadaan bahaya. Ini merupakan ciri penting yang membeda kan mereka dengan orang-orang kafir dan orang-orang yang imannya lemah.
Tidak Ada Pembatasan Apa pun dalam Berdoa
Seseorang dapat memohon apa saja kepada Allah asalkan halal. Hal ini karena sebagai mana telah disebutkan terdahulu, Allah adalah satu-satunya penguasa dan pemilik seluruh alam semesta; dan jika Dia menghen daki, Dia dapat memberikan kepada manusia apa saja yang Dia inginkan. Setiap orang yang berpaling kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, haruslah meyakini bahwa Allah berku asa melakukan apa saja dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa sebagaimana disabda kan oleh Nabi saw.2 Ia perlu mengetahui bahwa mudah saja bagi-Nya untuk memenuhi keinginan apa saja, dan Dia akan memberikan apa yang diminta oleh seseorang jika di dalam­nya terdapat kebaikan bagi orang itu dalam doa tersebut. Doa-doa para nabi dan orang-orang beriman yang disebutkan dalam al-Qur’an merupakan contoh bagi orang-orang beriman tentang hal-hal yang dapat mereka mohon kepada Allah. Misalnya, Nabi Zakaria a.s. berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang diridhai, dan Allah pun mengabulkan doanya, meskipun istrinya mandul:
“Yaitu ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu se orang putra. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya‘qub; dan jadikanlah ia ya Tuhanku, seorang yang diridhai’.” (Q.s. Maryam: 3-6).
Maka Allah mengabulkan doa Nabi Zaka ria dan memberikan kepadanya berita gem bira tentang Nabi Yahya a.s.. Setelah meneri ma berita gembira tentang seorang anak laki-laki, Nabi Zakaria merasa heran karena istri nya mandul. Jawaban Allah kepada Nabi Zakaria menjelaskan tentang sebuah rahasia yang hendaknya selalu dicamkan dalam hati orang-orang yang beriman:
“Zakaria berkata, ‘Ya Tuhanku, bagai mana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sesung guhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.’ Tuhan berfirman, ‘Demikianlah.’ Tuhan berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku, dan se sung guhnya telah Aku ciptakan kamu sebe lum itu, padahal kamu belum ada sama sekali’.” (Q.s. Maryam: 8-9)
Ada beberapa Nabi lainnya yang disebut kan dalam al-Qur’an yang doa-doa mereka dikabulkan. Misalnya, Nabi Nuh a.s. memo hon kepada Allah untuk menimpakan azab kepada kaumnya yang tersesat meskipun ia telah berusaha sekuat tenaga untuk membim bing mereka kepada jalan yang lurus. Sebagai jawaban dari doanya, Allah menimpakan azab besar kepada mereka yang tercatat dalam sejarah.
Nabi Ayub a.s. menyeru Tuhannya ketika ia sakit, ia berkata, “… Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Q.s. al-Anbiya’: 83). Sebagai jawaban ter hadap doa Nabi Ayub, Allah berfirman seba gai berikut:
“Maka Kami pun mengabulkan doa nya itu, lalu Kami hilangkan penyakit yang menim pa nya dan Kami kembalikan keluar ganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Q.s. al-Anbiya’: 84).
Allah mengabulkan Nabi Sulaiman a.s. yang berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.s. Shad: 35). Maka Allah mengaruniakan kekuasaan yang besar dan kekayaan yang banyak kepada nya.
Oleh karena itu, orang-orang yang berdoa hendaknya mencamkan dalam hati ayat ini, “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia meng­hendaki sesuatu hanyalah berkata kepada nya, ‘Jadilah.’ Maka terjadilah ia. (Q.s. Yasin: 82) Sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, segala sesuatu itu mudah bagi Allah dan Dia Mendengar dan Mengetahui setiap doa.
Allah Memberi Karunia di Dunia ini bagi Orang-orang yang Mengingin kannya, Tetapi di Akhirat Mereka akan Mende rita Kerugian
Orang-orang yang tidak memiliki ketak waan kepada Allah dalam hatinya, dan iman nya sangat lemah terhadap kehidupan akhirat, hanyalah menginginkan keduniaan. Mereka meminta kekayaan, harta benda, dan kedu duk an hanyalah untuk kehidupan di dunia ini. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang hanya menginginkan keduniaan tidak akan memperoleh pahala di akhirat. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, mereka berdoa memohon dunia dan akhirat karena mereka percaya bahwa kehidupan di akhirat sama pastinya dan sama dekatnya dengan kehidupan dunia ini. Tentang masalah ini, Allah menyatakan sebagai berikut:
“Di antara manusia ada orang yang ber doa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaik an) di dunia,’ dan tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.’ Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.s. al-Baqarah: 200-2).
Orang-orang yang beriman juga berdoa memohon kesehatan, kekayaan, ilmu, dan kebahagiaan. Akan tetapi, semua doa mereka adalah untuk mencari keridhaan Allah dan untuk memperoleh kebaikan bagi agamanya. Mereka memohon kekayaan misalnya, adalah untuk digunakan di jalan Allah. Berkenaan dengan masalah ini, Allah memberikan con toh tentang Nabi Sulaiman di dalam al-Qur’an. Jauh dari keinginan untuk memper oleh dunia, doa Nabi Sulaiman untuk memin ta kekayaan adalah demi tujuan mulia untuk digunakan di jalan Allah, untuk menyeru manusia kepada agama Allah, dan agar diri nya sibuk berdzikir kepada Allah. Kata-kata Nabi Sulaiman sebagaimana yang diceritakan dalam al-Qur’an menunjukkan niatnya yang ikhlas:
“Sesungguhnya aku menyukai kesenang an terhadap barang yang baik karena ingat kepada Tuhanku.” (Q.s. Shad: 32).
Maka Allah mengabulkan doa Nabi Sulai man a.s. tersebut dengan mengaruniakan kepa danya kekayaan yang sangat banyak di dunia dan ia akan memperoleh pahala di akhirat. Dalam pada itu, Allah juga menga bulkan keinginan orang-orang yang hanya menghendaki kehidupan dunia, namun azab yang pedih menunggu mereka di akhirat. Keuntungan yang telah mereka peroleh di dunia ini tidak akan mereka peroleh lagi di akhirat kelak.
Kenyataan yang sangat penting ini di cerita kan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami akan mem beri kan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya bagian sedikit pun di akhirat. (Q.s. asy-Syura: 20).
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang, maka Kami segerakan baginya di dunia apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan bagi nya neraka Jahanam, ia akan mema sukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.s. al-Isra’: 18).

28 September 2012

RAHASIA al-Qur’an 5

oleh alifbraja

ALLAH MENJADIKAN AGAMANYA TINGGI

JIKA ORANG-ORANG HANYA MENYEMBAH DIA SAJA

 

 

Salah satu tujuan terpenting bagi seorang Muslim dalam hidup ini adalah mendak­wahkan ajaran-ajaran al-Qur’an ke seluruh dunia, sehingga orang-orang dapat menyem­bah Allah sebagaimana yang seharusnya. Dalam al-Qur’an, Allah telah menunjukkan kepada orang-orang beriman jalan untuk mencapai tujuan ini, dan Dia memerintahkan sebagai berikut:

 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mere­ka berkuasa, dan sungguh Dia akan mene­guh­kan bagi mereka agama mereka yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mere­ka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap me­nyem­bah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang­siapa yang kafir sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.s. an-Nur: 55).

 

Berdasarkan rahasia Allah yang diungkap­kan kepada orang-orang beriman, Allah akan meneguhkan nilai-nilai al-Qur’an di seluruh dunia jika orang-orang beriman dan hanya me­nyem­bah Allah, tanpa menyekutukan-Nya. Ini merupakan rahasia yang sangat pen­ting, karena hal ini menunjukkan bahwa sesung­guhnya merupakan tanggung jawab setiap orang beriman untuk mendakwahkan ajaran al-Qur’an kepada manusia. Dengan demikian setiap orang beriman yang memiliki hati nurani harus menjauhkan diri dengan sung­guh-sungguh dari menyekutukan Allah dan hanya menyembah-Nya. Dibandingkan hal-hal lainnya, menyekutukan Allah meru­pa­kan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah dan orang yang melakukannya akan dimasukkan ke dalam neraka. Bagaimanapun, tampaknya sebagian besar manusia terlibat dalam ajaran-ajaran orang musyrik yang me­nyembah ber­hala. Manusia harus waspada terhadap “kemusyrikan yang tersembunyi”. Dalam bentuk kemusyrikan seperti ini, orang tersebut menyatakan beriman kepada Allah, mengakui Allah itu satu, Allah Yang Mencip­ta­kan, dan Yang wajib ditaati. Tetapi, ia juga takut kepada makhluk selain Allah, mengang­gap persetujuan dan dukungan orang lain lebih penting, menganggap bahwa perdagang­an, keluarga, dan anak cucu lebih penting dari­pada Allah dan berjuang di jalan-Nya, sesungguhnya semua ini merupakan bentuk kemusyrikan yang nyata. Keimanan yang benar sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an adalah memandang bahwa keridhaan Allah adalah di atas segala-galanya. Mencintai makhluk lain selain Allah hanyalah sebagai asbab untuk mencari keridhaan-Nya. Orang-orang yang merasa berutang budi kepada manusia yang telah memberi sesuatu kepada mereka, yang memandang manusia sebagai pelindungnya, sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik. Hal ini karena Yang memberi rezeki hanyalah Allah, Yang mem­beri makan, menolong, dan melindungi setiap makhluk hidup dan menyembuhkan orang yang sakit, hanyalah Allah. Jika Allah meng­hendaki, Dia dapat menyembuhkan orang yang sakit melalui tangan seorang dokter. Dalam hal ini, sungguh tidak masuk akal jika seseorang menumpukan harapannya hanya pada dokter. Karena, tak seorang dokter pun yang dapat menyembuhkan pasiennya kecuali jika Allah menghendaki. Seseorang yang melihat kesehatannya membaik harus meli­hat, bahwa dokter itu sebagai orang yang dipakai tangan­nya oleh Allah untuk menyem­buhkannya, sehingga ia akan menghormati dokter itu dengan semesti­nya. Namun, karena ia menge­tahui bahwa se­sung­guhnya yang menyem­buhkan adalah Allah, maka hanya kepada Allah saja ia harus bersyukur. Jika tidak demi­kian, berarti ia telah menyeku­tu­kan Allah dan menganggap sama sifat Allah dengan sifat manusia. Semua Muslim harus menjauhi dengan sungguh-sung­guh syirik yang tersem­bunyi ini, dan jangan sampai menjadikan penolong dan pelindung selain Allah.

 


KEHIDUPAN DUNIA INI SANGAT SINGKAT

 

 

Sebagian besar manusia sangat mencintai dunia ini seakan-akan mereka tidak akan per­nah mati, sehingga mereka menjauhi kehi­dup­an agama, tidak ingat mati dan akhirat. Padahal, kehidupan dunia yang sangat mereka cintai ini sesungguhnya sangatlah singkat dan sementara. Bahkan orang-orang yang umur­nya sangat panjang pada suatu saat pasti akan menghadapi kematian. Di samping itu, kehi­dupan dunia ini sesungguhnya tidaklah sebagaimana yang tampak. Allah mengung­kapkan rahasia ini kepada manusia dalam beberapa ayat al-Qur’an:

 

“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lama­nya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menja­wab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfir­man, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melain­kan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.s. al-Mu’minun: 112-15).

 

“Dan pada hari terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak berdiam melainkan sesaat, seperti itulah mereka selalu dipalingkan dari kebenaran.” (Q.s. ar-Rum: 55).

 

Percakapan di atas adalah percakapan antara orang-orang yang dikumpulkan untuk dihisab. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam percakapan tersebut, setelah mati orang-orang menyadari bahwa sesungguhnya mereka tinggal di dunia hanya sebentar. Yaitu, waktu yang tampaknya enam puluh atau tujuh puluh tahun dalam kehidupan dunia ini, sesungguhnya sama singkatnya dengan satu hari, atau bahkan lebih singkat lagi. Hal ini bagaikan kisah seseorang yang menganggap bahwa ia telah menghabiskan beberapa hari, bulan, atau bahkan beberapa tahun dalam mimpinya, tetapi setelah bangun baru menya­dari bahwa mimpi tersebut hanya berlangsung selama beberapa detik.

Dengan bertafakkur, orang akan dapat memahami betapa singkatnya dan betapa sementaranya kehidupan dunia ini. Misalnya, setiap orang membuat rencana yang jelas dan menetapkan beberapa tujuan dalam hidup­nya. Rencana-rencana ini merupakan tujuan yang tidak pernah berakhir. Antara keduanya saling mengikuti. Demikian pula orang yang baru lulus dari SLTA, lalu masuk ke Pergu­ruan Tinggi, lalu bekerja di sebuah perusa­haan. Betapapun, semua ini merupakan pe­nga­laman yang bersifat sementara. Ketika muda, orang hampir-hampir tidak dapat membayangkan ia akan berumur tiga puluh tahun. Tetapi tahu-tahu ia telah berumur empat puluh tahun.

Singkatnya kehidupan dunia ini merupa­kan kepastian dari Allah yang diungkapkan dalam al-Qur’an, yang dapat dipahami oleh siapa pun sebelum mati. Bagi orang yang me­ma­haminya, betapa bodohnya jika ia meng­abai­kan kehidupan yang nyata dan tidak berakhir di akhirat, hanya untuk mengejar kehidupan yang singkat dan sementara ini. Sebagian di antara ayat-ayat, yang di dalam­nya Allah mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan dunia adalah sebagai berikut:

 

 

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).

 

“Sesungguhnya mereka menyukai kehi­dup­an dunia yang sementara dan mereka tidak mempedulikan hari yang berat.” (Q.s. al-Insan: 27).

 


ALLAH MEMASUKKAN RASA TAKUT KE DALAM HATI ORANG-ORANG KAFIR

 

 

Allah menyatakan dalam beberapa ayat bahwa Dia memasukkan perasaan takut ke dalam hati orang-orang kafir:

 

“Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang telah beriman.’ Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” (Q.s. al-Anfal: 12).

 

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksa­an) Allah; maka Allah mendatangkan kepa­da mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencam­pakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Q.s. al-Hasyr: 2).

 

Apa yang diceritakan dalam ayat-ayat ter­sebut merupakan mukjizat dari Allah. Dengan cara memasukkan perasaan takut ke dalam hati mereka, Allah menghilangkan kekuatan orang-orang yang menentang orang-orang beriman dan yang menolak Allah dan agama-Nya. Sangatlah penting agar orang-orang beriman merenungkan ayat-ayat ini dan meng­­ambil pelajaran bagi diri mereka. Hal ini karena — sebagaimana disebutkan pada bab-bab terdahulu — hati kita berada di tangan Allah, dan Allah memasukkan apa saja ke dalam hati, kepada siapa saja yang dikehen­daki-Nya. Tugas orang-orang beriman bukan­lah berusaha untuk menciptakan pengaruh kepada orang lain, tetapi hanya supaya ikhlas. Misalnya, seorang beriman memiliki tang­gung jawab untuk mengingatkan seseorang berdasarkan ayat-ayat Allah. Namun, orang itu hanya akan memperoleh hidayah dari nasi­hat yang diberikan — betapapun penjelas­annya itu sangat terang — Allah membim­bing orang itu ke jalan yang benar. Dengan penjelasan tersebut, seorang beriman tidak berdaya menghadapi bahaya. Demikian pula, ia tidak mempunyai kekuatan untuk menjadi­kan musuh ketakutan. Tetapi Allah melin­dungi dan menolong orang-orang beriman yang ikhlas dan dalam melakukan usahanya hanya untuk mencari ridha Allah. Misalnya, sebagaimana dikatakan dalam ayat di atas, Dia memasukkan perasaan takut ke dalam hati musuh, dan menjadikan mereka terjerumus dalam kesulitan mereka sendiri. Dengan cara inilah Allah memberikan jalan keluar kepada orang-orang yang beriman.

Allah memasukkan berbagai ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir seperti takut mati, takut masa depan, takut terluka, takut akan bencana, atau takut kehilangan harta. Demikian pula, mereka takut mati karena tidak mempercayai akhirat dan sangat men­cintai dunia. Meyakini bahwa ia akan lenyap dan kehilangan semua kekayaannya, ketakut­an terhadap mati semakin besar. Pada akhir­nya, rasa takut ini berkembang menjadi sakit.

Allah menceritakan kepada kita bahwa rasa takut tersebut dimasukkan ke dalam hati orang-orang kafir karena mereka menyekutu­kan Allah. Kesudahan orang-orang seperti ini diceritakan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

 

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan kete­rangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (Q.s. Ali Imran: 151).

 

 


HIKMAH DAN PEMBICARAAN YANG JELAS ADALAH RAHMAT DARI ALLAH

 

 

Hikmah dan pembicaraan yang jelas adalah rahmat dari Allah, sebagaimana yang dicerita­kan dalam ayat-ayat al-Qur’an sebagai ber­ikut:

 

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat meng­ambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Q.s. al-Baqarah: 269).

 

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan pembi­ca­raan yang jelas.” (Q.s. Shad: 20).

 

Hikmah dan kemampuan berbicara yang jelas adalah karunia yang besar dari Allah. Suatu persoalan dapat dijelaskan oleh berma­cam-macam orang dengan gaya yang berbeda-beda. Namun, gaya yang paling berpengaruh adalah gaya yang mengesankan dan jelas. Pen­jelasan seperti itu dapat menjadikan seseorang memusatkan perhatiannya, membangun­kannya dari kelalaian, mendorongnya untuk berpikir tentang hal-hal yang telah diketahui tetapi sering dilupakan. Seseorang yang me­miliki kemampuan berbicara yang jelas tidak perlu berbicara panjang lebar, tetapi cukup menyatakan pikiran-pikirannya dan pandang­an-pandangannya secara singkat, pa­dat, namun memiliki pengertian yang sangat luas dan mengesankan. Seorang bijak yang menje­las­kan suatu persoalan dengan ikhlas menjadi­kan penjelasan yang diberikannya menimbul­kan kesan yang lebih kuat bagi orang lain. Satu hal yang patut disebutkan di sini — bahwa berbicara dengan jelas itu bukan meru­pa­kan sebuah bidang yang dapat dipe­lajari. Ia tidak memiliki aturan atau teori yang rumit. Ia hanya memerlukan keikhlasan dan doa untuk meminta rahmat dari Allah. Ketika seseorang berbicara, Allah memberikan ilham kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Karya agung tentang hikmah dan pembica­raan yang jelas adalah al-Qur’an , yang meru­pa­kan firman Allah secara langsung. Hikmah ini merupakan sesuatu yang istimewa dari semua kitab yang diturunkan Allah kepada umat manusia. Hal ini diceritakan dalam ayat berikut ini:

 

“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan: itulah suatu hikmah yang sempurna — tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna.” (Q.s. al-Qamar: 4-5).

 

 

 

 


MANUSIA JUGA AKAN DIMINTAI TANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG MEREKA PIKIRKAN DAN MEREKA NIATKAN

 

 

Dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan ma­nu­sia agar hidup berdasarkan asas-asas agama dengan kerelaan hati dan dengan khu­syuk:

 

“Barangsiapa dengan kerelaan hati me­nger­jakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 184).

 

“Peliharalah segala shalatmu, dan peli­hara­­lah shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (Q.s. al-Baqarah: 238).

 

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bu­kan­lah dia termasuk orang-orang yang mem­per­sekutukan Tuhan.” (Q.s. an-Nahl: 120).

 

Sebagaimana terlihat dalam ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan umat manusia agar mengerjakan semua shalatnya dengan khusyuk. Di samping mengerjakan shalat, puasa, bersedekah, atau amal saleh lainnya, yang sesungguhnya sangat penting bagi sese­orang adalah niatnya. Dalam al-Qur’an, Allah mengingatkan kita tentang keadaan sebagian orang yang mengerjakan shalat atau yang menginfakkan hartanya hanya untuk pamer. Kemungkinan orang seperti ini tidak meng­ingat Allah, tidak bersikap khusyuk dan khu­dhu’ di hadapan Allah dalam shalatnya, tetapi shalatnya hanya bersifat ritual saja. Mungkin seseorang secara lahiriah tampak melakukan kedermawanan, menyumbang sekolah, atau membantu orang miskin. Tetapi jika hal itu tidak dikerjakan untuk mencari ridha Allah, tidak menyadari kelemahannya, tidak merasa memerlukan Allah, tidak takut terhadap akhirat, amalan-amalan ini tidak akan diteri­ma Allah. Allah menceritakan kepada kita bahwa darah binatang kurban tidak sampai kepada-Nya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaannya:

 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).

 

Di antara kesalahan-kesalahan besar yang banyak dipercayai adalah bahwa manusia meng­­anggap, mereka hanya akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan mereka. Pada­hal, Allah memberi tahu kita bahwa manusia akan dimintai tanggung jawabnya atas niat­nya, pikirannya, bahkan apa yang tersimpan di dalam lubuk hatinya.

“Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahir­kan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah meng­ampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.s. al-Baqarah: 284).

 

Allah mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, apa yang ada dalam bawah sadar­nya, apa yang dipikirkannya, dan apa yang tersembunyi dari orang lain. Allah menengahi antara seseorang dan hatinya. Dengan demiki­an, manusia tidak mungkin menyembu­nyi­kan segala sesuatu dari Allah. Keraguan apa pun yang terlintas dalam hati, bisikan-bisikan setan, keimanannya yang sesungguhnya, ke­imanannya terhadap al-Qur’an, apa saja yang terlintas dalam hatinya ketika sedang shalat, semuanya diketahui satu per satu oleh Allah, dan semuanya diingat oleh Allah. Misal­nya, Allah mengetahui ketika seseorang menger­jakan shalat dengan malas, atau ketika pikir­an­nya mengalami pertentangan. Manu­sia akan menjumpai semuanya itu pada Hari Akhir. Membersihkan hati, menjalani hidup berdasarkan agama dan dalam mengamal­kan­nya tidak hanya bersifat ritual tetapi dengan ikhlas dan penuh kekhusyukan, semua ini meru­pakan jalan untuk mencapai keselamat­an. Betapa bodohnya mengabaikan kehidupan yang abadi dan hakiki hanya untuk mengejar kehidupan yang singkat dan sementara. Di bawah ini diketengahkan beberapa ayat, yang di dalamnya Allah mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan di dunia:

 

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).

 

“Sesungguhnya mereka menyukai kehi­dup­an dunia dan mereka tidak mempedu­likan hari yang berat.” (Q.s. al-Insan: 27).

28 September 2012

RAHASIA al-Qur’an 4

oleh alifbraja

RAHASIA TENTANG BERTAMBAH ATAU BERKURANGNYA NIKMAT

 

 

Dalam al-Qur’an, Allah mengungkapkan alasan mengapa Dia memberikan nikmat atau mengambilnya dari manusia:

 

“Yang demikian itu adalah karena sesung­guhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepa­da sesuatu kamu, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesung­guhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Anfal: 53).

 

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah meng­hendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.s. ar-Ra‘d: 11).

 

Apa yang dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut merupakan rahasia yang sangat pen­ting yang tidak diketahui atau diabaikan oleh kebanyakan manusia. Allah berfirman bahwa Dia akan menambah nikmat bagi orang-orang yang sibuk mengerjakan amal saleh, dan akan mempersempit nikmat bagi orang-orang yang melakukan kemaksiatan, dan nikmat terha­dap manusia akan berubah sesuai dengan per­ubahan perbuatan dan keikhlasan mereka.

Orang-orang yang beriman yang menge­tahui rahasia-rahasia Allah ini berusaha untuk melihat maksud tersembunyi di balik ciptaan Allah dalam setiap keadaan yang mereka jumpai dan mereka senantiasa memper­hati­kan masalah tersebut. Mereka tidak pernah merasa sempurna, tetapi mereka berusaha keras untuk memiliki kesempurnaan akhlak sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an, dan berusaha membetulkan kesalah­an dan kekhilafan mereka. Dalam hal ini, mereka tidak pernah ragu-ragu untuk selalu berusaha memperbaiki akhlak mereka dan membersihkan tingkah laku mereka.

 


MENAATI RASUL BERARTI MENAATI ALLAH

 

 

Salah satu amal ibadah yang sangat penting yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman dalam al-Qur’an adalah menaati Rasul-Nya. Allah berfirman bahwa Dia telah mengi­rim para rasul-Nya untuk ditaati, dan orang-orang beriman, dalam setiap zaman, telah diuji ketaatan mereka terhadap para rasul tersebut. Para rasul adalah orang-orang yang menyampaikan pesan Allah dan perin­tah-Nya kepada manusia, dan mengingatkan mereka tentang hari perhitungan dan tentang ayat-ayat-Nya. Para rasul adalah orang-orang yang lurus dan dirahmati, yang dipilih Allah di antara seluruh manusia; dan perbuatan, sikap, dan kesempurnaan akhlak mereka sebagai teladan. Mereka adalah para kekasih Allah yang sangat dekat dengan-Nya. Sebagai­mana dinyatakan dalam ayat berikut ini, orang yang menaati rasul berarti menaati Allah.

 

“Barangsiapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.s. an-Nisa’: 80).

 

Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang bersaksi terhadap hal ini akan memper­oleh berita gembira:

“Tidakkah kamu telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa saya adalah utusan-Nya? Jika demikian, maka kabar gembira bagi kamu. Qur’an adalah sebuah tali yang satu ujungnya sampai kepada Allah dan ujung yang lain sampai kepadamu. Berpegang teguhlah kepadanya. Jika kamu melakukan itu, kamu tidak pernah terjerumus dalam kesalahan atau bahaya.1

Mendurhakai seorang rasul adalah men­dur­hakai Allah dan agama-Nya. Ini merupa­kan salah satu rahasia penting yang diung­kapkan Allah dalam al-Qur’an. Dalam sebuah ayat, Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menaati rasul dan orang-orang yang mendurhakainya:

 

“Itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang­siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar keten­tuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah mema­suk­kannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (Q.s. an-Nisa’: 13-4).

 

Allah telah mengungkapkan dengan jelas dalam al-Qur’an tentang ketaatan kepada rasul, dan menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar taat dan berserah diri juga akan diterima di sisi-Nya. Sebagaimana yang ter­lihat dalam ayat-ayat ini, dipenuhinya semua syarat agama dan melakukan banyak ibadah belumlah mencukupi. Jika seseorang tidak menerapkan sikap dan akhlak yang me­nun­jukkan ketaatan kepada rasul sesuai dengan yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an dan hanya setengah-setengah dalam menaati-Nya, mungkin Allah akan menja­dikan semua perbuatannya sia-sia. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini dikaji di bawah ini yang dibagi menjadi be­berapa bagian:

 

Tidak Beriman sehingga Menyerahkan Diri

Mereka Sepenuhnya kepada Rasul

 

Allah mengungkapkan sebuah rahasia yang sangat penting dalam Surat an-Nisa’:

 

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak ber­iman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perse­lisih­kan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terha­dap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.s. an-Nisa’: 65).

 

Dalam ayat ini diungkapkan sebuah raha­sia penting tentang ketaatan yang sempurna kepada rasul. Hampir semua orang mengeta­hui apakah ketaatan itu. Namun, ketaatan kepada rasul sangat berbeda dibandingkan dengan bentuk-bentuk ketaatan sebagaimana yang diketahui orang banyak. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang beriman haruslah menaati rasul dengan sepenuh hati, tanpa ada sedikit pun perasaan ragu di dalam hati. Jika seseorang merasa ragu-ragu terhadap apa yang dikata­kan oleh rasul dan menganggap pikirannya sendiri lebih benar daripada pikiran rasul, maka sebagaimana dinyatakan oleh ayat ter­sebut, pada hakikatnya ia bukanlah orang yang beriman.

Orang-orang yang benar-benar beriman dan berserah diri mengetahui bahwa apa yang disabdakan oleh rasul adalah yang terbaik bagi mereka. Sekalipun sabdanya tersebut bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka, mereka menerima dan menaati dengan penuh gairah dan semangat. Sikap seperti ini merupakan tanda bahwa ia adalah orang yang benar-benar beriman, dan Allah memberikan kabar gembira berupa keselamat­an kepada orang-orang yang menaati rasul dengan ketaatan yang sempurna. Inilah seba­gian dari ayat-ayat yang menyatakan kabar gembira dari Allah:

 

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nik­mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shid­diqin.” (Q.s. an-Nisa’: 69).

 

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.s. an-Nur: 52).

 

“Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan jika kamu berpa­ling, maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewa­jiban rasul itu melainkan menyampaikan dengan terang’.” (Q.s. an-Nur: 54).

 

Sebagaimana dinyatakan di atas, orang-orang yang menaati rasul akan memperoleh petunjuk. Di sepanjang sejarah, semua orang diuji atas ketaatan mereka terhadap para rasul. Allah selalu memilih Rasul-rasul-Nya dari kalangan manusia. Dalam hal ini, orang-orang yang berpikiran sempit dan tidak me­mi­liki hikmah tidak mampu memahami bagai­mana menaati seorang manusia dari kalangan mereka sendiri, atau seseorang yang tidak lebih kaya daripada diri mereka sendiri. Namun, Allah telah memilih Rasul-rasul-Nya, menolong mereka dari sisi-Nya, dan memberikan kepada mereka ilmu dan kekuat­an. Hakikat dari persoalan ini yang tidak mampu dipahami oleh orang-orang adalah bahwa Allah memilih siapa saja yang Dia ke­hendaki. Orang beriman yang ikhlas dengan sepenuh hati menaati dan menghormati orang yang telah dipilih Allah, lalu ia meng­ikutinya dengan sepenuh hati. Ia mengetahui bahwa jika ia menaati rasul, sesungguhnya ia menaati Allah. Orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan melaksanakan agama dengan demikian juga menyerahkan diri kepada rasul. Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menyerahkan diri kepada-Nya sebagai berikut:

 

“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat keba­jikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan­nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.s. al-Baqarah: 112).

 

 

Perbuatan Orang-orang yang Mening­gikan Suara

Mereka Melebihi Suara Nabi Menjadi Terhapus:

 

Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan sebagai berikut:

 

“Hai orang-orang yang beriman, jangan­lah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalan-amal­anmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendah­kan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.s. al-Hujurat:: 2-3).

 

Rasulullah selalu menyeru orang-orang beriman kepada jalan yang lurus dan kepada kebaikan. Tentu saja ada saat-saat ketika seruan para rasul ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang diseru. Na­mun, orang-orang yang beriman dan menaati rasul tidak menuruti pikirannya sendiri, tetapi berserah kepada firman Allah, Rasul-Nya, dan al-Qur’an . Dalam pada itu, orang-orang yang imannya lemah, yang tidak dapat mengendalikan nafsu mereka menunjukkan kedurhakaan atau kelemahan terhadap seruan rasul. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, suara mereka, pembicaraan mereka, dan kata-kata yang mereka ucapkan, dapat mengungkapkan penyakit yang ada dalam hati mereka dan lemahnya mereka dalam ketaatan. Perbuatan mereka yang menentang apa yang dikatakan oleh Nabi dan sikap mere­ka yang meninggikan suaranya tersebut, sesung­guhnya menunjukkan kebodohan mereka. Allah memberi tahu bahwa perbuatan orang-orang seperti ini akan menjadi ter­ha­pus. Allah menyatakan bahwa semua perbu­atan orang seperti ini, sekalipun ia berusaha siang malam untuk menyebarkan agama, ha­nya­lah sia-sia karena kedurhaka­annya terse­but.

Ini merupakan rahasia penting yang diung­kapkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an. Allah telah memerintahkan manusia agar mengerjakan amal saleh, berjuang dengan sungguh-sungguh dan teguh untuk kepen­tingan Islam, bertingkah laku sesuai dengan akhlak mulia sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an , dermawan, sabar, menjaga perasaan orang lain, jujur, dan dapat diper­caya. Tidak diragukan lagi, semua ini merupa­kan bentuk ibadah yang penting yang akan mensyafaati orang yang melakukannya di akhirat kelak. Namun, sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Hujurat, satu sikap yang tidak menghormati Rasulullah dapat menyebabkan semua perbuatan orang itu sia-sia. Sekali lagi, hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya menaati dan menghor­mati Rasulullah.

 

 

Allah Mencabut Kekuatan Orang-orang

yang Tidak Menaati Rasul

 

Kisah tentang Thalut dan bala tentaranya yang diceritakan dalam al-Qur’an merupakan peringatan lain, yang sangat menekankan pentingnya menaati Rasulullah. Sebagai­mana diceritakan dalam al-Qur’an , ketika Thalut memberangkatkan pasukannya untuk mela­wan musuh, ia memperingatkan pasu­kan­nya agar jangan minum air sungai yang akan mereka seberangi. Berikut ini adalah ayat yang menceritakan kisah tersebut:

 

“Maka ketika Thalut keluar membawa ten­ta­ranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum air­nya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang­siapa tidak meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka keti­ka Thalut dan orang-orang yang beriman ber­sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat menga­lah­kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar’.” (Q.s. al-Baqarah: 249).

 

Sebagaimana terlihat dari ayat tersebut, orang-orang yang tidak menaati perintah Thalut menjadi lemah, sedangkan orang-orang yang menaati Thalut diberi kekuatan oleh Allah, dan atas kehendak-Nya, mereka dapat mengalahkan musuh meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Ini merupakan rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an kepada manusia. Kekuatan, kemenangan, dan keunggulan tidak tergantung pada kekayaan materi, kedudukan yang bergengsi, jumlah yang banyak, atau kekuatan jasmani. Barang­siapa yang menjalankan perintah Allah, menaati Dia dan Rasul-Nya, Allah menjadi­kan mereka lebih kuat dibandingkan semua­nya, dan Allah akan memberi pahala kepada mereka dengan karunia yang sangat banyak seperti hikmah, kekayaan, kebaikan, kenik­mat­an, dan kekayaan. Bagi orang-orang yang siap untuk mengikuti Rasulullah dise­dia­kan kenikmatan yang kekal abadi di akhirat kelak.

 


KELOMPOK MINORITAS ORANG BERIMAN DAPAT MENGALAHKAN ORANG KAFIR YANG JUMLAHNYA LEBIH BESAR

 

 

Salah satu mukjizat dari Allah yang di­be­ri­kan kepada orang-orang yang beriman, meskipun mereka berjumlah sedikit adalah bahwa mereka dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dengan Kehendak Allah. Ini merupakan rahasia penting yang diung­kap­kan Allah dalam beberapa ayat sehingga menjadikan orang-orang kafir tertipu. Seba­gai­mana dapat dilihat dalam kisah tentang Thalut, Allah menjadikan orang-orang beriman memperoleh kemenangan karena ketaatan mereka, meskipun mereka berjumlah sedikit. Allah mengakhiri kisah tentang Thalut dengan kata-kata sebagai berikut:

 

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Baqarah: 249).

 

 

Dengan Bersabar, Orang-orang Beriman

akan Memperoleh Kekuatan Besar

 

Sebagaimana sering kali ditekankan dalam buku ini, terdapat banyak rahasia yang ter­sem­bunyi dalam berbagai ayat al-Qur’an. Salah satu di antara rahasia-rahasia tersebut adalah tentang kesabaran. Allah memberikan kabar gembira bahwa orang-orang yang ber­sabar akan semakin kuat. Ingatlah bahwa semua kekuatan adalah milik Allah. Bahkan kekuatan orang yang menentang Allah se­sung­guhnya juga milik Allah. Allah memberi­kan berbagai macam kemampuan kepada orang-orang untuk menguji mereka dan orang-orang di sekeliling mereka. Demikian pula, Dia dapat mengambil dengan mudah sebagaimana Dia dapat memberikan dengan mudah apa saja yang Dia kehendaki. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang bersabar akan menjadi kuat, yakni Dia akan memberikan kekuatan kepada mereka. Ten­tang hal ini, Allah menyatakan sebagai ber­ikut:

 

“Ya, jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang mema­­kai tanda.” (Q.s. Ali Imran: 125).

 

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, jika Allah menghendaki, Dia dapat mem­berikan kemenangan kepada orang-orang dengan cara yang tak terlihat. Dalam usaha untuk memperjuangkan agama Allah misal­nya, Allah dapat memberikan pertolongan yang tak terlihat sehingga memungkinkan seseorang bicaranya sangat berpengaruh dan membuat hati orang-orang yang mendengar­kannya berpaling kepada agama. Dengan demi­kian, tak seorang pun yang dapat mem­peroleh kemenangan atau mempengaruhi orang lain, kecuali jika Allah menghen­daki­nya. Pemilik semua kejayaan, kemenangan, dan pengaruh adalah Allah. Apa yang harus dilakukan oleh manusia adalah menaati perin­tah Allah dan melaksanakan ketentuan-ketentuan-Nya. Dalam ayat lainnya, Allah memberi tahu orang-orang yang beriman cara memperoleh kekuatan besar:

 

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus musuh. Dan jika ada seratus orang diantaramu, mere­ka dapat mengalahkan seribu orang kafir disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalah­kan dua ratus orang, dan jika diantaramu ada seribu orang, niscaya mereka dapat me­nga­lahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Anfal: 65-6).

 

Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat tersebut, jika orang-orang beriman tidak memiliki kelemahan dalam diri mereka, dan mereka teguh, sabar, dan yakin, maka kekuat­an satu orang beriman adalah sama dengan kekuatan sepuluh orang. Dalam hal ini, per­kataan “kekuatan” memiliki pengertian lain yang bukan sekadar kekuatan fisik. Misalnya, keku­atan seorang beriman yang menyampai­kan pesan agama dan menyeru manusia ke jalan Allah adalah sama dengan kekuatan sepuluh orang. Dalam pada itu, pengetahuan seorang yang ber­iman dapat menyamai pengetahuan sepu­luh orang. Perbuatan baik seorang beriman yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah dapat menyamai perbuatan yang dilakukan sepuluh orang. Seorang yang beriman dapat menyeru sepuluh orang kafir yang ter­sesat kepada jalan Allah yang benar dan dapat menjadi asbab bagi perbaikan iman mereka. Seorang yang ber­iman dapat menghancurkan kekafiran orang kafir dan menggantinya dengan kebenaran.

Rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an ini sangat penting. Hal ini karena jika semua orang Islam saling berlomba-lomba di jalan yang benar, betapapun kecilnya jumlah mereka, Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka dalam setiap urusan yang mere­ka lakukan. Misalnya, jika orang di selu­ruh dunia ini berkumpul yang terdiri dari orang-orang kafir, dan profesor-profesor kafir dari seluruh dunia yang memimpin semua orang di setiap negara agar menjadi kafir, maka Allah cukup mengirim sekelompok kecil orang-orang Muslim yang kuat, bertang­gung jawab, dan cukup bijak untuk menun­jukkan kepada orang-orang tersebut jalan yang benar. Allah memberikan kemudahan kepada orang-orang beriman dalam setiap urusan mereka dan membuat berbagai urusan menjadi sulit bagi orang-orang kafir. Untuk itulah, orang-orang beriman yang mengetahui rahasia ini jangan sampai meremehkan usaha mereka dan mengatakan, “Mungkinkah usaha kita ini dapat membawa perubahan terhadap situasi seperti ini?” Tetapi sebaliknya mereka yakin bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan yang ikhlas, yang dilakukan semata-mata untuk mencapai ridha-Nya ter­sebut dengan hasil yang baik. Sebaris tulisan tentang keberadaan Allah, sepatah kata yang menyeru manusia kepada Allah, atau suatu perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai ajar­an al-Qur’an dapat saja membawa manu­sia kepada keselamatan dan membangkitkan perasaan cinta dan takut kepada Allah dalam diri mereka. Perlu kita camkan bahwa hukum-hukum dan fenomena sebab dan akibat yang berlaku di dunia ini hanyalah berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an. Siapa pun yang berpikirnya sesuai dengan al-Qur’an dapat memahami rahasia-rahasia dalam ciptaan Allah ini, dan dengan kehen­dak Allah, akan memperoleh kekuatan yang lebih unggul dan hikmah melebihi apa yang dapat dicapai oleh orang lain. Allah memberi­kan berita gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan mengalahkan orang-orang kafir jika mereka teguh keiman­annya:

 

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 139).

 

Sebagaimana dapat dibaca pada ayat di atas, persyaratan yang diperlukan agar memper­oleh kemenangan dan ketinggian, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak adalah keiman­an yang ikhlas. Rahasia lain yang di­ung­kapkan dalam al-Qur’an dalam masalah ini adalah beriman dengan tidak menye­kutukan Allah.

%d blogger menyukai ini: