Posts tagged ‘shalat’

27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 1

oleh alifbraja

SYARI’AT TAREKAT HAKEKAT

Dalam dunia tasawuf istilah tersebut diatas sangat populer;Syari’at Tarikat-Tarekat (Thariqat) Hakikat -Hakekat (haqiqat) adalah rangkaian sarana / jalan menuju Allah dan satu sama lain tidak bisa dipisahkan.Syeikh Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha,dalam syair hikmahnya mengatakan :

Inilah Jalan penghidupan keyakinan

Syari’at, tariqat, haqiqat menuju kemuliaan

Dengarlah yang tersirat dalam gambaran

Yang tersurat dalam bisikan.

Inilah gambaran jalan menuju Allah melalui Syariat, tariqat, haqiqat, melalui jalan ini seseorang akan mudah mengawasi ketakwaannya dan menjauhi hawa nafsu.Tiga jalan utama ini menjadi sarana bagi orang orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga tersebut.

Syari’at tanpa haqiqad, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga, menurut syeikh Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad ,Bagi orang yang beramal karena memperoleh surga,ada atau tidak adanya syari’at sama saja keadaannya,karena ia beranggapan;masuk surga itu semata mata anugerah Allah.dan inilah syariat yang kosong.

 

Haqiqat tanpa syari’at menjadi batal,Syeikh Ibn Muhammad Syatha mencontohkan :bila ada seorang yang memerintahkan sahabatnya mendirikan sholat, maka ia akan menjawab, mengapa harus sholat ?bukankah sejak zaman azali dia sudah ditetapkan takdirnya ? bila telah ditetapkan sebagai seorang yang beruntung,tentu ia akan masuk surga walaupun tidak shalat, sebaliknya apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang celaka maka ia akan masuk neraka walaupun mendirikan shalat.ini jalan yang salah.

Sayri’at adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan.Thariqat pelaksanaan dari peraturan hukum Allah ( syari’at).sedangkan Haqiqat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syari’at, sebagai tugas menjalankan firmanNYA

Kedudukan tiga jalan menuju Allah tersebut dijelaskan oleh syeikh Ibn Muhammad syatha;dalam syair hikmahnya :

Ibarat Bahtera itulah Syariat

Ibarat samudera itulah tharikqat

Ibarat mutiara itulah haqiqat

Syari’at ibarat kapal / bahtera, sebagai instrument, Tarekat ibarat lautan sebagai wadah yang mengantar tujuan.Haqiqat ibarat mutiara yang sangat berharga dan banyak mafaatnya.

Untuk memperoleh mutiara haqiqat, manusia harus mengarungi lautan /samudra yang sangat luas dangan ombak dan gelombang yang dahsyat.Sedangkan untuk mengarungi lautan itu,tidak ada jalan lain kecuali dengan kapal.

Rumi dengan indah memberikan deskripsi ketiga hal tersebut sabagai berikut :

Syari’at ibarat pelita;ia menerangi jalan,tanpa pelita kalian tak dapat berjalan, ketika sedang menapaki jalan kalian sedang menempuh tarekat, dan ketika telah sampai pada tujuan itulah hakekat.

1.SYARI”AT

Didlam eksiklopedi tasawuf disebutkan bahwa syari’at merupakan salah satu tahap praktek bagi calon sufi.keempat tahap lainya itu: syari’ah ( hukum keagamaan eksoterik ) tariqah (jalan mistik),haqiqah (kebenaran) dan ma’rifah ( pengetahuan ).

Syarat pertama adalah mengambil dan mengikuti syari’at;hukum Allah untuk kehidupan manusia,yang pada waktunya akan membawa seseorang ke sirat al mustaqim (yaitu jalan agama yang lurus.Jalan ini membawa sesorang ke dalam hakekat ( kebenaran akhir yang tak terbantahkan dan mutlak tentang seluruh eksistensinya ).

Syari’at dari akar kata syara’a yang berarti jalan.ia adalah jalan yang benar,sebuah rute perjalanan baik dan dapat ditempuh oleh siapapun.Sebagian besar sufi memahami syari’at dalam pengertian yang luas; mencakup ilmu dan seluruh ajaran islam.Syari’at bukan hanya sekumpulan kode atau peraturan yang mengatur tindak lahiri.Ia juga menjelaskan tentang keimanan, tauhid, cinta ,syukur,sabar,ibadah,zikir,jihad takwa.dan ihsan serta menunjukkan bagaimana mewujudkan realitas tersebut.semua doktrin sufi,secara implicit dan /atau ekplisit lahir dari sini.Syeikh Ahmad Sirhindi mengemukakan ; di dalam syari’at terkandung tiga hal yaitu : pengetahuan(ilmu),praktik ( amal)dan ikhlas.artinya meyakini kebenaran syari’at dan melaksanakan perintah perintahNYA dengan tulus dan ikhlas demi mendapatkan keridloan Illahi

Syari’at berisi ajaran moral dan etika yang menjadi dasar tasawuf.Syari’at memberi petunjuk kepada setiap orang untuk hidup secara tepat didunia ini.Mencoba menjalankan tasawuf tanpa mengikuti syari’at bagaikan membangun rumah berfondasi pasir.Tanpa dibangun kehidupan teratur yang dibangun dari prinsip moral dan etika yang kuat maka tidak ada mistisisme yang dapat berkembang.Kebutuhan terhadap syari’at sering diibaratkan dengan perahu nabi nuh yang harus dibangun dengan papan dan pasak.papan adalah ilmu dan pasak adalah amal.Tanpa perahu seseorang akan tenggelam dalam lautan keserbabendaan,sebagaimana putra nabi nuh yang menolak hukum yang dibawa ayahnya, karena itu didalam tasawuf syari’at sering dilihat sebagi bagian dari lipat tiga : syari’at, adalah jalan utama,yang cabangnya adalah jalan yang lebih sulit ( Tariqah) yang mengarah ke kebenaran ( haqiqah)

Dasar pokok ilmu syari’at adalah wahyu Allah yang tertulis jelas dalam Al-Qur’an dan sunah nabi Muhammad saw.ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah serta ibadah muamalah tercantum denga jelas dalam ilmu syari’at.

Siappun tidak boleh menganggap dirinya terlepas dari syari’at,walaupun ulama sufi besar dan piawi, atau wali sekalipun.Orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan syari’at untuk mencapai tarikah sangat sesat dan meneyesatkan..Karena syari’at itu seluruhnya bermuatan ibadah dan muamalah, maka menjadi satu paduan dengan thariqat dan haqiqat.Ibadah seperti itu tidak gugur kewajibanya, walaupun seorang telah mencapai tingkat wali..Bahkan ibadah syari’atnya wajib melebihi tingkat ibadah manusia biasa.Sebagaimana dicontohkan rosulullah saw,ketika mendirikan sholat dengan penuh kekhusukan dan begitu lama berdiri,ruku’dan sujudnya,sehingga dua kakinya bengkak karena dikerjakan dengan penuh kecintaan dan ketulusan.

Ketika nabi ditanya berkaitan dengan ibadahnya yang begitu hebat dan sungguh sungguh beliau menjawab : “Mengapa saya tidak menjadi hamaba yang bersyukur ?”Karena ibadah itu termasuk salah satu cara untuk mensukuri nikmat ALLah dan semua anugerahnya.Maka para sufiyah atau waliyullah tetap berkewajiban melaksankan ibadah syari’at yang ditaklifkan kepada setiap muslim dan muslimat..

Oleh karena itu wajib bagi penempuh jalan ruhani dan para penuntut ilmu ilmu islam secara intensive mempelajari ilmu syari’at.Sebab semua ilmu yang berkaitan erat dengan kehidupan dunia dan akhirat tergantung erat kepada ilmu syari’at. Ilmu tasawuf dengan pendekatan kebatinan ( ruhaniyah ) tetap tergantung erat dengan syari’at.Tanpa syari’at semua ilmu ruhaniyah tak ada artinya.

Hati para sufiah akan bersinar cemerlang dalam menempuh kehidupan ruhaniyah yang tinggi, haya akan diperoleh dengan ilmu syari’at. Demikian juga kemaksiatan batin dan pencegahanya yang sudah tercantum dari teladan nabi saw,semua tercantum dalam ilmu syari’at.

Ilmu tasawuf adalah bagian dari akhlaq mahmudah, hanya akan diperoleh dari uswah hasanahya nabi Muhammad saw.Cahaya yang bersinar dari kehidupan nabi muhammad saw adalah pokok dasar dari pengembangan ilmu tasawuf atau dasar pribadi bagi para penuntut ilmu tasawuf.Menurut nabi Muhammad saw hati adalah ukuran pertama penuntut ilmu tasawuf.dengan kesucian hati dan ketulusannya melahirkan akhlaq mahmudah dan mencegah akhlaq mazmumah,seperti yang diajarkan dalam sunah nabi Muhammad saw,sebagian dari ilmu syari’at. Dengan pengertian lain, hati manusia shufiyah itu akan ditempati oleh tariqat yang berdasarkan syari’at.

2.TAREKAT

Tarekat menurut bahasa berasal dari kata arab TARIQAH ( jama’:taruq atau tara’iq ) yang bararti jalan atau metode atau aliran (madzab).Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai ( wusul) kapada NYA.Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan aturan teretentu, dengan petunjuk guru atau mursid tarekat masing masing,agar berada sedekat mungkin dengan ALLAH swt.Ahli taswuf mengaitkan istilah tarekat dengan firmanNYA :”Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (tariqah) yang benar niscaya akan kami turunnkan ( hikmah)seperti hujan yang deras dari langit. (AL-Jin/72:16).

Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah merupakan zat yang maha suci,maka yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali dengan sesuatu yang suci.Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan tahapan spiritual ( maqomat).masing masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda beda,berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda pula. menurut AL Gazali langkah langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati ( tazkiyah al nafs ) adalah :Takhalli yaitu pengosongan hati dari selain Allah, Tahalli :yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat sifat terpuji, dan Tajalli ; yaitu;memperoleh hakekat dan penampakan Tuhan.

Metoda yang digunakan para suifi untuk mendekatkan diri kepada Allah berbeda beda,, sebagian mereka melalui cara selalu dalam keadaan zikir kepada Allah ( mulzamah al-dzikr), selalu melatih diri (riyadoh ),selalu bersunguhsungguh untuk membersihkan hati dari sifat sifat tercela dan hawa nafsu (mujahadah),sebagian yang lain melalui metoda tujuh yaitu; memperingati diri(musyaratah),mengawasidiri(muraqabah),intropeksi (muhasabah),menghukum diri (mu’raqabah ) kesungguhan lahir batin (mujahadah ),menyesali diri (mu’atabah) dan pembukaan hijab ( mukhasafah ).Serentak dengan itu mereka melintasi tingkatan tingkatan (maqamat) antara lain tobat, sabar,ridla,zuhud, muhatabah, dan ma’rifah.

Menurut syeikh Ajiba al hasani ; tarekat berarti bertujuan membereskan hati membereskan hati dengan tiga hal : ikhlas, jujur dan tenang ( tuma’ninah) atau bisa dikatakan membereskan hati dengan cara mengosongkannya dari kotoran kotoran jiwa dan menghiasinya dengan keutamakan.

Suatu ketika syeikh Baha’ al Din al naqsyabandi ditanya :apa tujuan tariqah ?,beliau menjawab :”tujuannya adalah mengetahui secara rinci apa yang baru engkau ketahui secara singkat, dan untuk merasakan dalam penglihatan apa yang telah engkau ketahui lewat penjelasan dan argument”.Tujuan tareqah adalah memperkuat keyakinan terhadap syari’at,menyakini kebenaranya, mematuhi jaran ajaranya dengan senang dan spontan,mengikis kemalasan dan meniadakan penentangan atas keinginan diri ( nafsu ).

Seluruh kegiatan Tariqah dapatlah dikatakan mengarah pada satu tujuan ; yaitu ma’rifat billah atau mengenal ALLAH.Ma’rifat billah adalah puncak tujuan dari perjalanan tariqat atau ajaran tasawuf.Dengan berbagai jalan, cara, atau metoda ,tariqah pada intinya adalah ingin menjadi orang selalu taqarub billah, ma’rifat billah dan sekaligus ingin menjadi orang yang dikasihi ALLAH atau yang dikenal dengan sebutan WALIYULLAH.

3.WAJIBKAH MENGIKUTI KELOMPOK TAREKAT TERTENTU

Ada semacam keyakinan kuat dalam masyarkat kita bahwa pengamal tariqat harus mengikuti orginasasi atau kelompok tarekat tertentu,sehingga dia dapat disebut pengamal tariqat jika ia telah memsuki suatu organisasi tarekat tertentu yang dibimbing seorang guru tertentu dan mempunyai tata cara menurut ajaran organisasi tersebut.Dengan demikian ada doktrin yang baku dan diyakini benar benar, bahwa seorang tidak bisa sampai kepada tujuan ibadat secara hakiki sebelum menempuh atau melaksanakan ajaran organisasi tariqoah tertentu.

Ust.Labib MZ (dalam Rahasia Ilmu Tasawuf ) perpendapat ; seorang pengamal tariqat tidaklah harus menjadi anggota kelompok jama’h tariqoh dalam aliran tertentu, namun seorang yang sudah melaksanakan ajaran islam secara murni dan konsekwen sudah termasuk melaksanakan tariqat.

Semua orang sesuai dengan profesinya dan kemampuanya dengan cara sendiri sendiri bisa dikategorikan pengamal tariqat.Dalam hal ini tariqat yang digariskan dalam syari’at tenytunya. Sebab tariqat yang tidak sesuai dengan syari’at adalah sesat.Tidak ada tariqat tanpa syari’at, tidak terwujud hakekat tanpa adanya syari’at. Seperti dikatakan syeikhZainudin bin Ali Al Malibari :” Bahwasanya Tariqat ( jalan menuju Allah yang ditempuh orang islamn ) adalah syari’at,tariqat, hakikat.Maka dengarkanlah contoh contoh dari ketiga tiganya “.

Jadi tarekat umat islam tak lain adalah syari’at islam itu sendiri.Dan umat islam yang mengamalkan syari’atnya berarti sudah mengamalkan tareqat,tak peduli apapun profesinhya, direktur dokter ,ulama, pengajar,kyai , ustaz, da’i ,pelajar, mahasiswa dan lainya.Jalan tariqah bisa ditempuh dengan berbagi macam jalan termasuk juga orang sudah mengususkan diri dengan memperbanyak zikir dan senantiasa bertaqarub kepada Allah,baik lewat organisasi tariqat tertentu atau tidak ,nilainya sama hanya cara dan bentuknya yang berlainan.

Syeikh Zainudin bin Ali al malibary dalam “Nadhom Hidayatul Adzkiya” mengatakan :”Dan bagi masing masing dari kaum ada sebuah jalan (tariqat,cara)dari beberapa jalan,yang dipilihnya, maka dari jalan ini mereka sampai.Seperti duduknya diantara manusia dalam keadaan mendidik, dan seperti memperbanyak wirid – wirid, puasa, solat. Dan seperti berkhidmad kepada manusia, membawa kayu bakar untuk bersedekah dengan uang yang dihasilkannya”.

Pada akhirnya seorang muslim tidaklah wajib mengikuti ataupun memasuki kelompok atau organisasi tarekat teretntu,(agar sampai kepada Allah ) tetapi wajib bagi umat islam untuk melaksanakan syari’at islam sebagi tariqat yang sah untuk menuju kepada ALLAH, sebagai bukti perwujudan keimanan kepada Allah. Apabila seorang muslim telah melaksanakan syari’at dengan benar dan sesuai petunjuk sunah rosul maka berarti sudah melaksanakan tariqat yang dilakukan oleh keksaih Allah, wliyullah.

4.HAKIKAT

Dalam eksiklopedi Tasawuf di terangkan ; Hakikat atau kebenaran adalah makna terdalam dari praktik dan petunjuk yang ada pada syari’at dan tarekat.Haqiqah menunjukan hakikat esensial segala sesuatu atau kebenaran., ia adalah pengalaman langsung akan kebenaran gaib.Tanpa pemahaman yang didasari pengalaman tersebut maka kita ditakdirkan untuk taklit, meniru mereka yang telah mencapai tingkat HAQIQAH, seperti laiknya sebuah mesin.Pencapaian pada tingkat haqiqah ini menegaskan dan memperkukuhkan prkatik dua tingkat pertama.Sebelum mencapai tingkat haqiqah, seluruh praktik merupakan bentuk peniruan .

Haqiqah ( kebenaran atau kenyataan seakar dengan kata Al haq, realty, absol ute).Makna haqiqah (hakikat) menunjukan kebenaran esoteric yang merupakan batas dari transendensi manusia dan teologis.Dalam pengertian ini haqiqah merupakan unsur ketiga setelah syaria’at (hukum) yang merupakan keyakinan eksoteris,tarikat (jalan)sebagai tahapan esoterisme,yang ketiga ialah haqiqah yakni kebenaran esensial.

Haqiqah adalah kemampuan seorang dalam merasakan dan melihat kehadiran Allah di dalam syari’at .Dalam dunia sufi haqiqah diartikan sebagai aspek batin dari syari’at,sehingga haqiqah adalah aspek yang paling penting dalam setiap amal,inti, dan rahasia dari syari’at ; merupakan tujuan setiap penempuh jalan menuju ALLAH ( salik).

24 Oktober 2012

MERASAKAN KEHADIRAN TUHAN dalam SHALAT

oleh alifbraja

Wahai Ahmad! Aku heran dengan tiga kelompok dari hambaku: hamba yang melakukan shalat dan dia tahu kepada siapa dia mengangkatkan tangannya serta di depan siapa dia berdiri, akan tetapi ngantuk dalam shalatnya dan aku heran dengan hamba yang memiliki kemampuan untuk bisa menyiapkan makanan hari ini akan tetapi dia hanya memikirkan untuk esok hari serta aku heran dengan hamba yang tidak tahu bahwa aku ridho atau kah marah kepadanya sementara dia tertawa”.

 

Dalam kelanjutan dari hadits mi’raj, Tuhan berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

Wahai Ahmad! Aku heran dengan tiga kelompok dari hambaku: Pertama: Aku heran dengan hamba yang melakukan shalat dan di tahu kepada siapa dia mengangkat tangan serta di depan siapa dia berdiri, akan tetapi dia ngantuk dalam shalatnya!…”

 

Kutipan dari hadits ini mengisyaratkan akan satu poin dimana kita semua atau kebanyakan dari kita terkena dengan ‘penyakit’ tersebut yaitu kita belum bisa menjalankan shalat yang sebenarnya; walaupun setiap orang yang memiliki kesadaran dan makrifat yang kuat maka dia akan lebih memiliki perhatian kepada shalat dan akan lebih memahami pentingnya shalat.

Kita semua tahu bahwa shalat kita dalam keutamaan dan kelayakannya tidak seperti shalat yang dilakukan oleh para para wali ilahi dan juga kita mengetahui bahwa efek dan buah dari shalat yang telah disebutkan dalam banyak ayat dan riwayat tidak dimiliki oleh shalat kita, akan tetapi banyak dari kita tidak mengetahui dengan betul kadar kekurangan dan kelemahan kita, oleh karenanya kita mesti berusaha untuk membenahi segala kekurangan dan kecacatan shalat kita. Kita harus menyadari kekurangan dan kecacatan shalat dengan ketidak hadiran hati dikarenakan kurangnya perhatian serta kita harus benar-benar tahu bahwa jika kita melakukan shalat dengan sempurna dan semestinya, betapa banyak faedah yang akan kita dapatkan dari kesempatan untuk menjalankan shalat dan betapa kita akan meraih hasil-hasil yang tinggi darinya dimana tanpa adanya kehadiran hati dan kesadaran untuk menjalankan shalat akan banyak hasil dan manfaat yang akan hilang dari kita serta dengan bahasa apa lagi supaya kita bisa sadar.

Sepantasnya kita disini menyinggung sedikit tentang shalatnya para wali Tuhan dan membandingkan shalat mereka dengan shalatnya kita sehingga kita bisa melihat kekurangan yang ada dalam shalat kita. Sebab dengan membandingkan yang lemah dengan yang kuat serta yang kurang dengan yang sempurna kita akan lebih mengetahui kekurangan dan kecacatan kita.

Alhasil, untuk membenahi kekurangan karena kurangnya perhatian kepada shalat, telah banyak disinggung oleh para tokoh agama dalam buku-buku mereka diantaranya buku “Asraar Al-Shalat” karya marhum Mirza Jawad Aqhae Tabrizi ra. juga buku “Asraar Al-Shalat” karya Imam Khumanei ra. Dan pada kesempatan ini kita akan menyinggung bagian dari poin-poin yang berkenaan dengan shalat:

 

 

Hakekat dan Essensi Shalat

Shalat artinya bahwa seorang hamba berdiri di depan Tuhan dan mengakui akan kehambaannya serta mengadukan seluruh permohonannya kepada Tuhan. Orang yang berdiri untuk melakukan shalat hendaklah dia merasakan kehadiran Tuhan hendaklah sadar didepan maqom apa dia berdiri dan ini akan membuat dia menjalankan tugas kehambaan dengan puncak ketundukan dan kekhusyuan.

Ketika kita berdiri untuk menjalankan shalat, sangat sedikit konsentrasi kita kepada shalat akan tetapi konsentrasi kita kepada masalah-masalah lain yang kita miliki, bahkan terkadang masalah tersebut berhubungan dengan puluhan tahun yang lalu yang masuk ke dalam benak kita. Malah ketika kita kita hendak mengucapkan salam baru kita sadar bahwa kita sedang menjalankan shalat! Betapa hal ini sangat buruk dan tidak sepantasnya karena kita sedang berdiri dihadapan Tuhan serta kita tidak sadar didepan siapa kita berdiri dan apa yang kita ucapkan! Tuhan memasukkan sifat-sifat ini tergolong kepada tanda-tanda orang munafik:

Ÿwurtbqè?ù’tƒno4qn=¢Á9$#žwÎ)öNèdur4’n<$|¡à2

dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas.[1]

 

Terdapat juga dalam sebauh riwayat bahwa barang siapa yang menjalankan shalat akan tetapi hatinya tidak terikat oleh shalat, apakah dia tidak takut kalau aku jadikan dia menjadi seperti keledai. Saking buruk dan tidak pantasnya seseorang tidak perhatian dan konsentrasi dalam shalatnya sehingga dia berhak dirubah menjadi seperti seekor keledai; pada hakekatnya dia bukanlah manusia. Bagaimana mungkin seseorang berdiri di depan seseorang pembesar, akan tetapi dia tidak perhatian kepadanya dan hatinya ditempat lain, apalagi dia berdiri di depan Tuhan alam semesta – Tuhan segenap wujud, seluruh kebaikan dan semua kenikmatan darinya – bahkan dia tidak perhatian kepadaNya melebihi ketidak perhatian dia kepada manusia biasa!.

Apakah ketika seseorang berdiri di depan yang lain dan berbicara dengannya, dia akan memalingkan mukanya? Jika berbuat demikian apakah secara akal dia tidak disebut gila? Alhasil, Tuhan tidaklah bersifat jisim sehingga kita mengarahkan muka kita ke arahnya, akan tetapi hubungan atau perhatan dengan Tuhan dilakukan lewat hati. Sebab dia melingkupi dan menguasai segala sesuatu dan hanya dengan hati kita bisa menghadapNya artinya jika kita hati kita berpaling dariNya dan tidak perhatian dalam shalat kita berarti kita berpaling dari Tuhan.

Apakah seseorang ketika Tuhan dengan karuniaNya memberikan izin dan kesempatan untuk berdiri di depanNya, berbicara denganNya dan menyampaikan segala isi hatinya serta bermunajat kepadaNya – bukannya memanfaatkan kesempatan ini dan bersyukur atas kenikmatan yang besar ini – malah dial alai dariNya? Orang-orang besar ( penting ) tidak sembarangan member izin dan kesempatan kepada sembarang orang untuk bisa menghadap kepadanya, akan tetapi Tuhan karena kecintaanNya yang tak terbatas dia membuka pintu rumahNya lebar-lebar untuk semua manusia dan mengizinkan mereka untuk menghadapNya. Maka kita mesti menggunakan kesempatan emas ini dan dengan segenap wujud kita menghadap kepadaNya dan perhatian kita hanya mengarah kepadaNya.

Jika seseorang tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan dan tidak meyakini bahwa dia berada dihadapanNya, jelas dia tidak akan perhatian kepadaNya, akan tetapi orang yang meyakini akan Tuhan dan tahu bahwa kita berdiri di hadapanNya maka ketidak perhatian kita adalah sebuah kejelekan dan sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Oleh karenanya dalam riwayat menggunakan kata “aku heran”:[2]Tuhan berfriman: aku heran kepada hambaku yang berdiri di depanku akan tetapi dia malas-malasan dan tidak perhatian.

 

Urgensi dan Nilai Shalat

Dikarenakan shalat memiliki urgensi yang cukup besar dan memberikan pengaruh yang sangat berarti bagi manusia, syetan pun dengan segala daya dan upaya berusaha mencegah manusia untuk bisa betul-betul memahami hakekat shalat serta menghalangi manusia untuk menjalankan shalat yang merupakan perbuatan baik disisi Tuhan. Oleh karenanya syetan berusaha memasukan kedalam fikiran manusia supaya dia mengingat apa-apa yang sudah terlupakannya sehingga hati manusia tidak lagi konsentrasi kepada shalat. Akan tetapi syetan hanya bisa menguasai orang-orang seperti kita yang mengizinkan dan memberikan dia tempat di hati kita serta tidak berusaha menjauhkannya dari diri kita akan tetapi malah melibatkannya, maka tentunya ketika menjalankan shalat kita disibukkan dengannya.

Jalan yang terbaik bagi manusia untuk meraih kesempurnaan dan dekat dengan Tuhan adalah shalat dan dalam rangka mencurahkan karuniaNya kepada manusia serta agar manusia bisa meraih kesempurnaan, Tuhan mewajibkan shalat dalam lima waktu. Bahkan sebagian dari fuqoha ( ahli fiqh ) berkata: barang siapa yang tenggelam di lautan maka dia tetap herus menjalankan shalat sesuai dengan keadaannya dan hendaklah hatinya konsentrasi kepada Tuhan walaupun syarat-syarat yang lain seperti menghadap kiblat bagi dia dimaafkan ( tidak disyaratkan ). Ini semua tidak lain melainkan karena shalat memiliki peran sangan mendasar dalam kesempurnaan dan kebahagiaan manusia, oleh karenanya Nabi saw. bersabda: “shalat adalah sebaik-baiknya perkara…”[3]serta imam Ridho as. berkata: “shalat adalah kurbannya setiap ketakwaan”.[4]

Syetan dengan jiwa permusuhan lamanya dengan manusia akan selalu berusaha untuk menghalangi manusia untuk mendapatkan apa yang paling baik dan yang paling penting baginya dia juga akan berusaha untuk membuat manusia lalai dari factor-faktor yang membuat mereka sempurna dan bahagia:

tA$s%y7Ï?¨“ÏèÎ6sùöNßg¨ZtƒÈqøî_{tûüÏèuHødr&

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya,[5]

 

 

Terkadang dua raka’at shalat walau itu shalat sunnah yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusu’an akan membuat dosa-dosa manusia terampuni, sebab tidak mungkin manusia yang melakukan shalat dengan penuh kesadaran dan kekhusu’an serta tahu di depan siapa dia berdiri akan tetapi dia tidak menyesali perbuatan-perbuatan buruk dan jahat yang telah dilakukannya serta tidak berniat untuk meninggalkan perbuatan tersebut.

Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad saw. bersabda: “Jika di depan rumah seseorang mengalir sungai dan lima kali dalam sehari dia melakukan mandi, apakah akan tersisa kotoran di badannya? Shalat pun demikian pula seperti sebuah sungai dan ketika manusia melakukan shalat maka semua dosa-dosanya akan diampuni”.[6]

Jika kita sudah sudah memahami essensi shalat dan betul-betul mengambil manfaat darinya maka tidak akan tersisa lagi dosa dalam diri kita. Akan tetapi sangat disayangkan kita tidak betul-betul memahami nilai-nilai yang ada dalam shalat dan kita menjalankannya dengan asal-asalan; oleh karenanya sama sekali kita tidak mendapat faedah darinya. Maka poin kedua adalah kita harus betul-betul memahami pentingnya serta pengaruh yang sangat berharga dari shalat sehingga kita sadar bahwa shalat yang dilakukan tanpa ada kesadaran, kekhusu’an dan kehadiran hati sama sekali tidak memiliki faedah serta keberkahan.

Jika dua raka’at shalat bisa membuat semua dosa-dosa manusia terampuni, konsekwen dalam menjalankan shalat-shalat yang berkualitas dan diterima oleh Tuhan, akan membuat manusia bisa meraih derajat yang paling tinggi yaitu “qurb ila Allah”. Maka dengan memperhatikan poin-poin tersebut, tidak akan tersisa bagi kita kecuali penyesalan dan kerugian diakibatkan karena kehilangan faedah serta manfaat yang besar tersebut.

Jika kita kehilangan uang sebesar seratus tuman ( mata uang Iran ) maka konsentrasi kita menjadi buyar dan jika kita kehilangan emas permata yang sangat berharga atau cincin yang bernilai seratus ribu tuman, selama beberapa hari akan selalu kepikiran dan tidak bisa tidur; sementara jika kita kehilangan dua raka’at shalat yang lebig berharga dari seluruh dunia dan kelezatannya, kita tidak merasakan penyesalan sama sekali.

Andai kita tahu bahwa bagaimana para wali Tuhan mengambil faedah dari shalat: sebagian para pembesar berkata – mungkin ini juga kandungan dari beberapa riwayat – jika para raja dunia mengetahui betapa lezatnya melakukan shalat maka dia akan menanggalkan tahtanya dan hanya akan melakukan shalat. ( Dari pernyataan dan ucapan mereka ini menunjukan akan tingginya derajat yang telah mereka raih ).

Betapa kita selalu berusaha siang dan malam untuk bisa meraih kelezatan-kelezatan dengan melengkapi diri dengan makanan dan pakaian serta dengan yang lainnya. Terkadang kita selama bertahun-tahun banting tulang dan mempersiapkan segala sesuatu untuk kita bisa merasakan kelezatan; seorang alim berkata: semua kelezatan yang dimiliki oleh para raja tidak ada apa-apanya dibanding dengan kelezatan yang dimiliki oleh seoarang mukmin dalam menjalankan shalat dua raka’at; akan tetapi mereka bahagia dengan kelezatan-kelezatan materi dan tidak mengetahui akan kelezatan-kelezatan bermunajat dengan Tuhan.

Untuk bisa memperbaiki semua kerugian-kerugian yang telah lalu dan betul-betul mengambil faedah dari shalat serta agar kita tidak kehilangan berkah-berkah dan faedah-faerah yang ada dalam munajat dengan Tuhan, kita harus betul-betul mengamalkan aturan-aturan yang ada dalam riwayat-riwayat atau ucapan-ucapan para ulama, para wali Tuhan dan nasehat-nasehat akhlaki dari para ulama akhlak dimana baik mereka sendiri sudah mengalami dan merasakan hal-hal tersebut atau mereka merujuk dari riwayat-riwayat. ( Nilai yang dimiliki oleh poin-poin ini sungguh tidak terbatas, akan tetapi karena ini kita bisa dapatkan dengan percuma dan dengan sangat murah, kita tidak bisa merasakannya. Setiap riwayat yang tertulis dalam buku-buku hadits lebih berharga dari semua harta benda dan semua kelezatan-kelezatan dunia ).

 

Merenungkan Tentang Shalat dan Kebesaran Tuhan

Termasuk kepada amalan-amalan yang bisa menghasilkan kehadiran hati dan konsentrasi adalah hendaklah seseorang beberapa saat sebelum menjalankan shalat dia duduk di mesjid atau di tempat shalat, berfikir dan mengkonsentrasikan diri hanya kepada Tuhan serta mengosongkan diri kita dari selainNya. Kosongkan hati kita dari pikiran-pikiran, khayalan-khayalan serta ingatan-ingatan dengan mengkonsentrasikan indra kita juga melupakan semua kecendrungan-kecendrungan duniawi dan berusahalah mengahdirkan hati. Alhasil, dengan tafakur dan penyesalan akibat kehilangan nilai-nilai maknawi dari shalat serta memperbaiki kerugian dan kekurangan yang telah lalu maka hal-hal di atas akan bisa diraihnya.

Sebelum melakukan shalat sebaiknya seseorang mengkontrol pikirannya dan sebisa mungkin konsentrasinya terpusat kepada shalat, tempat shalat dan tempat sujud. Atau jika dia melakukan shalat di tempat sepi dan tidak seorang pun yang melihatnya, hendaklah dia duduk santai sehingga tidak ada beban lagi dibadannya dan setelah mengkonsentrasikan indranya sebisa mungkin dia merasakan kehadiran Tuhan serta membawa dirinya berada dihadapan Tuhan yang maha tinggi.

Kita sering mengklaim bahwa berada di haribaan Tuhan begitu juga dengan alam ini, akan tetapi ini hanya di mutuk belaka sementara hati kita belum bisa meyakininya. Ketika kita sedang sendirian berada di kamar dan jauh dari pandangan orang lain, kita akan berbuat sesuatu perbuatan tertentu dan ketika kita sadar bahwa ada orang lain atau keluarga kita memperhatikan kita maka kita akan merubah perbuatan kita. Ketika manusia menjaga perbuatannya di hadapan orang lain serta kita akan selalu hati-hati dalam berbuat, maka jika dia betul-betuk meyakini bahwa kita berada di hadapan Tuhan serta tahu bahwa Dia melihat perbuatan kita maka tentu dia akan menjaga hatinya supaya tidak mengarah kepada sesana dan kemari. Jika manusia tahu bahwa dia berada di hadapan orang lain maka hatinya tidak akan merasa bebas untuk berbuat ini dan itu terutama ketika dia merasa bahwa dia berada di hadapan Tuhan serta merasakan kehadiranNya maka dia akan lebih mengkontrol hatinya serta akan betul-betul merasakan kehadirannya. Atau ketika dalam shalat dia mengucapkan “Allahu Akbar”dan dia meyakini bahwa Tuhan maha besar dari segala sesuatu dimana kebesarannya tidak terbatas maka sedetikpun dia tidak akan lalai akan kehadiranNya. Pada langkah pertama kita belum bisa merasakan kebesaran Tuhan, kita hanya melapalkan ucapan ini dan tidak bisa memenggambarkan kebesaran dan keagunganNya; apa itu kebesaran Tuhan? Atau sebesar apa kebesaran Tuhan sehingga Dia lebih besar dari manusia dan seluruh makhluk? Otak kita sama sekali tidak bisa menampung kebesaran Tuhan, walaupun dengan merenungi karya-karya Tuhan serta dengan usaha yang keras dalam rangka meniti tahapan-tahapan sampai akhirnya kita bisa merasakan kebesaran Tuhan.

Telah dinukil dari Imam Shadiq as. sebuah riwayat yang rinci bahwa seorang perempuan penjual minyak wangi bernama Zaenab datang ke rumah Nabi saw. dan menanyakan tentang kebesaran Tuhan, Rasul saw. menjawab pertanyaanya dengan memberikan perbandingan alam-alam, tujuh langit dan bintang-bintang dimana yang satu lebih kecil dibanding yang lain, diantaranya beliau bersabda: “bumi ini dengan apa yang ada di dalam serta yang ada di atasnya dibandingkan dengan langit pertama ibarat sebuah cincin yang berada di padang pasir yang luas”.[7]Perbanding ini juga berlaku antara satu alam dengan alam-alam yang ada di atasnya dan tidak ragu lagi bahwa perbandingan antara alam satu dengan alam yang lain serta perbandingan antara bintang-bintang di angkasa raya akan membawa manusia untuk bisa memahami keagungan Tuhan.

Bumi dengan segala kebesarannya sangat kecil dibandingkan dengan matahari begitu pula matahari tidak bisa dibandingkan dengan bintang-bintang yang lainnya dimana semuanya berputar di angkasa dan tidak terjadi benturan antara yang satu dengan yang lain. Ketika seseorang mengetahui ada susunan bintang baru, dia akan mengatahui bahwa sampainya cahaya dari satu bintang kepada bintang yang lain lamanya sampai berjuta-juta tahun. Cahaya yang memiliki kecepatan tiga ratus ribu kilo meter setiap detiknya, bayangkan jika selama setahun apalagi sampai satu juta tahun! Selain itu, dibelakang bintang-bintang ini terdapat alam-alam lain, sebab bintang-bintang yang bisa di lihat dengan mata lahir terletak di langit pertama. Tentang masalah ini Tuhan berfirman:

$¨Z­ƒy—uruä!$yJ¡¡9$#$u‹÷R‘‰9$#yxŠÎ6»|ÁyJÎ/

dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang.[8]

 

( Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang langit-langit yang lain serta tidak bisa memperkirakan luas dan besarnya langit tersebut ). Tidak ragu lagi bahwa ini semua menunjukan akan kebesaran serta keagungan tanpa batas Tuhan. Tuhan yang dengan ucapan “kun” ( jadilah ), Dia menciptakan semua wujud – pada hakekatnya inilah kita yang berkata begitu sementara Tuhan tidak butuh untuk menyucapkan kata “kun”dan kehendakNya cukup untuk menciptakan seluruh wujud – memiliki kebesaran dan keagungan yang maha tidak terbatas dimana alam semesta tercipta dengan kehendakNya dan akan tetap ada karenaNya pula serta jika Dia tidak berkehendak maka semuanya akan musnah.

Maka ketika manusia dengan memperhatikan kebesaran ciptaan, sampai batas tertentu dia mengetahui kebesaran Tuhan sepantasnya ketika dia melakukan shalat hendaklah sadar di depan siapa dia sedang berdiri. Apakah pantas ketika berdiri di depanNya pikiran kita kepada roti, air, pakaian, rumah atau peralatan yang lain? Seberapa nilai seluruh wujud, manusia, bumi, lautan dan gunung-gunung dibandingkan dengan wujud Tuhan sehingga manusia mau melepaskan Tuhan demi mencari isi perut, pakaian, wanita, anak-anak atau dunia? Apakah manusia yang berakal akan berbuat demikian?.

Oleh karenanya salah satu perkara yang mengakibatkan munculnya kehadiran hati dalam diri manusia adalah hendaklah dia sebelum shalat untuk merenungkan keagungan Tuhan serta betul-betul menyadari di depan siapa dia berdiri atau hendaklah dia membaca doa-doa baik sebelum ataupun sesudah shalat. Ketika shalat hendaklah berusaha untuk memahami makna dari kelimat-kalimat yang diucapkannya, berpikir dan merenungkan semuanya seperti apa yang ditekan oleh Marhum Mirza Jawad Oqo Tabrizi dalam bukunya “Asrar Al-Shalat”. Jelas ketika seseorang hendak berkata, langkah pertama dia akan menggambarkan dalam benaknya makna-makna dari lafadz yang hendak diucapkan kemudian baru dia berucap, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan bagi kita untuk cepat-cepat melakukan shalat sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan dan merenungkan makna-makna dari lafadz yang kita ucapkan.

Selayaknya manusia melakukan shalat dengan penuh konsentrasi dan jika sebelumnya dalam satu menit dia menyelesaikan satu raka’at hendaklah sekarang selesaikan dalam dua menit walaupun sebenarnya ini sangat sebentar bagi orang yang hendak pergi keharibaan ilahi. Lama kelamaan konsentrasi kepada makna-makna bacaan shalat akan menjadi ‘malakah’ baginya seperti hanya perhatian kepada lafadz shalat yang sudah menjadi ‘malakah’ baginya.

Imam Sajjad as. berkata:

“…dan ketika engkau menjalankan shalat, anggaplah bahwa ini adalah shalat terakhirmu!”.[9]

 

Ketika melakukan shalat kita tidak tahu apakah ini shalat terakhir bagi kita ataukah bukan, oleh karenanya Imam as. berkata hendaklah kita anggap bahwa ini adalah shalat terakhir bagi kita. Jika manusia mengetahui bahwa umurnya tidak tersisa kecuali sebanyak waktu dua raka’at shalat maka dia akan betul-betul mengkonsentrasikan dirinya dan berusaha untuk melakukan shalat sebaik mungkin dan sekhusu’ mungkin. Sementara ini kita tidak tahu kapan akan berakhir umur kita maka sebaiknya kita untuk selalu menganggap bahwa shalat yang kita lakukan adalah shalat terakhir. Anggapan ini akan membuat kita untuk selalu bertahan di hadapan syetan dan berusaha mengeluarkannya dari dalam diri kita serta betul-betul memanfaatkan kesempatan-kesempatan dan detik-detik dari shalat yang kita lakukan. Tidak diragukan bahwa keadaan seperti akan sangat berpengaruh kepada kita untuk bisa menghadirkan hati kita. Walau pun sebaiknya setelah selesai melakukan shalat manusia tidak lalai kepada Tuhan serta merasa diri tidak lagi berada dihadapan dan dilihat olehNya.

Apakah setelah beberapa tahun anda jauh dari teman dekat dan sekarang anda berhasil bertemu dengannya serta sangat menikmati pertemuan ini, akan tetapi setelah pertemuan tersebut anda langsung berdiri dan tanpa mengucapkan kata perpisahan pergi meninggalkannya begitu saja? Seseorang yang hanya sekedar mengucapkan “assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barokaatuh” dia langsung berdiri dan melanjutkan kembali pekerjaannya seolah-olah dia merasa diri terpenjarakan ketika bersama Tuhan dan menunggu waktu dan secepat mungkin untuk lepas dari penjara dan kurungan tersebut sehingga dirinya menjadi bebas?.

Seharusnya setelah melakukan shalat hendaklah kita membaca doa yang panjang baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Dalam sebuah riwayat Nabi saw. menukilkan bahwa Tuhan berfirman:

Barang siapa yang tertimpa hadas dan dia tidak melakukan wudlu sesungguhnya dia telah berpaling ( menjauh ) dariu, barang siapa yang terkena hadas lalu dia berwudlu akan tetapi tidak melakukan shalat dua raka’at sungguh dia telah berpaling dariku dan barang siapa yang terkena hadas lalu dia berwudlu setelah itu dia melakukan shalat dua rakaat dan berdoa, maka jika seandainya aku tidak menjawab permohonannya dariku tentang urusan agama dan dunianya sungguh aku telah menjauh darinya dan aku bukanlah tuhan yang menjauh (dari hambanya)”.[10]

 

Maka salah satu perkara yang menyebabkan perhatian kepada Tuhan dan menarik karuniaNya adalah kondisi yang selalu dalam keadaan wudlu. Terlebih lagi jika setelah melakukan wudhu dia menjalankan shalat dua raka’at lalu setelah itu dia berdoa dan memohon kepadaNya agar untuk beberapa saat dia bisa bersamaNya dan selalu mendapat taufik serta kebaikanNya.

Apakah untuk melakukan wudlu dan menjalankan dua raka’at shalat butuh waktu berapa lama? Serta apa susahnya untuk melakukan itu dimana Tuhan berfirman: jika doanya tidak aku kabulkan maka aku telah berbuat dhalim kepadanya, ini tidak lain kecuali karena karunia Tuhan dan jangan sampai dengan mudah karunia ini kita hilangkan.

Orang-orang yang selalu melakukan hal ini dan selalu dalam keadaan wudlu lalu setelah itu dia melakukan shalat dua raka’at dan diakhiri dengan berdoa, maka mereka telah mendapat banyak keuntungan karena pasti doa-doanya akan terkabulkan walaupun mungkin tidak secara langsung, karena hal itu sesuai dengan mashlahat yang ada di sisi Tuhan.

Kelanjutan dari hadits mi’raj tersebut, Tuhan berfirman:

dan aku heran dengan hamba yang memiliki kemampuan untuk bisa menyiapkan makanan hari ini akan tetapi dia hanya memikirkan untuk esok hari serta aku heran dengan hamba yang tidak tahu bahwa aku ridho atau kah marah kepadanya sementara dia tertawa”.


[1]Al-Taubah: ayat 54.

[2]Kondisi-kondisi seperti keheranan, takut, sedih dan sifat lain khusus bagi wujud material yang memiliki sifat materi. Tuhan terlindung dari keheranan karena seuatu atau sifat jiwa yang lain, ketika Dia menggunakan kata-kata tersebut, Dia ingin berbicara dengan bahasa kita.

[3]Jaami’ Ahadis Al-Syiah, jilid 4, hal. 6. Atau Al-Hikmah Al-Zaahirah, hal. 139.

[4]Kaafi, jilid 3, hal. 265.

[5]Shaad: ayat82.

[6]Wasaail Al-Syiah, jilid , hal. 7.

[7]Bihar Al-Anwar, jilid 60, hal. 83-85.

[8]Al-Fushilat: ayat 12.

[9]Bihar Al-Anwar, jilid 69, hal. 408.

[10]Bihar Al-Anwar, jilid 80, hal. 308.

24 Oktober 2012

KEDUDUKAN SHALAT DALAM ISLAM

oleh alifbraja

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
 

Para sahabat rahimakumullah,
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa’: 103) “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah:43)
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Islam dibangun atas 5 hal: Syahadat bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah kemudian mendirikan shalat, menunai-kan zakat, melaksanakan hajji ke Tanah Haram (Makkah) dan shaum di Bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ayat-ayat dan hadits di atas menunjukkan tingginya posisi shalat dalam Islam dan sebagai salah satu rukunnya yang terpenting setelah syahadatain. Shalat juga merupakan amal yang paling afdhal setelah syahadatain, hal ini dikarenakan shalat adalah satu-satunya ibadah yang paling lengkap dan paling indah yang mengumpulkan berbagai macam bentuk ibadah. Shalat juga merupakan ibadah yang pertama kali diperintahkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam kepada seorang muslim.

Shalat lima waktu hukumnya fardhu ‘ain berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’. Allah memfardhukan shalat di malam mi’raj dari langit ketujuh. Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan dan kewajiban shalat.

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang shalat 5 waktu beserta bilangan roka’atnya dan semua sifat gerakannya, telah mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Dan segala sesuatu yang dinukil secara mutawatir itu harus diterima oleh setiap muslim dan siapa pun yang menentang atau menolaknya, maka ia kafir.
HUKUM ORANG MENINGGALKAN SHALAT DI TINJAU DARI PENYEBABNYA
A. Karena Udzur, seperti tertidur , pingsan dan lupa termasuk mabuk.
Para ulama sepakat tentang udzur-nya orang yang ketiduran, sehingga lupa tidak mengerjakan shalat, atau dalam keadaan sadar, namun lupa mengerja-kannya, maka dalam kedua keadaan tersebut, ia wajib mengqadha’nya bila ingat, berdasarkan hadits:
 
“Barangsiapa tertidur sehingga tidak mengerjakan shalat atau lupa, maka ia wajib mengqadha’nya ketika dia ingat. “ (H.R. Muslim)
Adapun orang yang pingsan para ulama berbeda pendapat tentang wajib tidaknya dia mengqadha’ shalat. Menurut madzhab Maliki dan Syafi’i tidak wajib mengqadha’, kecuali bila ia pingsan ketika shalat , sedangkan Imam Abu Hanifah mengatakan tidak wajib mengqadha, jika pingsannya lebih dari sehari semalam, sedangkan menurut madzhab Ahmad bin Hambal, ia wajib mengqadha’ nya secara mutlak karena orang pingsan biasanya tidak lama.
Secara singkat ada dua pendapat mengenai wajib tidaknya orang pingsan mengqadha’ shalat;

· Menurut jumhur ulama:
Tidak wajib mengqadha’ berdasarkan hadits Ibnu Umar bahwa beliau pernah pingsan selama sehari semalam dan tidak mengqadha’ shalat-shalat yang ditinggalkannya. (H.R. Malik)

· Menurut ulama mutaakhkhirin dari madzhab Hambali:
Wajib mengqadha’ berdasarkan hadits ‘Ammar bin Yasir bahwa beliau pernah pingsan selama 3 malam lalu setelah sehat beliau mengqadha’ shalat-shalat yang ditinggalkannya.
Menurut syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin rahimahullah bahwa pendapat yang benar adalah tidak perlu mengqadha’nya bagi orang yang pingsan, adapun orang yang hilang akalnya karena bius maka dia harus mengqadha’ shalat yang ditinggalkannya karena pembiusan itu atas pilihannya pribadi.

B. Karena sengaja, terbagi menjadi beberapa golongan yaitu;
· Orang yang meniggalkannya karena malas atau merasa berat tanpa meremehkannya dan dengan keyaki-nan bahwa shalat itu wajib atas dirinya, maka orang tersebut tidak dihukumi sebagai kafir yang keluar dari Islam kecuali setelah terpenuhinya dua syarat;
(a) Imam atau penguasa setempat telah memperingatkannya untuk shalat dan dia menolak.
(b) Dia tetap tidak mau shalat sampai waktu shalat berikutnya hampir habis.
Oleh karena itu seseorang yang meninggalkan shalat sekali saja tidak serta merta dihukumi sebagai kafir karena boleh jadi orang tesebut mengira bahwa dia boleh menjama’ shalatnya di waktu shalat berikutnya.
· Orang yang meninggalkannya karena tidak tahu bahwa shalat itu wajib atasnya. Orang tersebut tidak dihukumi sebagai kafir yang keluar dari Islam namun ia harus diberitahu tentang hukum meninggalkan shalat tersebut sampai menjadi jelas baginya.
· Orang yang menentang wajibnya shalat atas dirinya (yaitu shalat 5 waktu dan shalat jum’at), baik dia mengerjakan atau meninggalkannya, maka orang tersebut dihukumi sebagai kafir yang keluar dari Islam karena dia menentang sesuatu yang telah disepakati oleh al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’ kaum muslimin.
Para ulama mengecualikan orang-orang yang baru masuk Islam yang menentang wajibnya shalat, namun orang itu harus diberitahu sejelas mungkin, sehingga apabila setelah itu dia masih menentang, selanjutnya dia dihukumi sebagai orang kafir yang keluar dari agama Islam.

Dalil-dalil yang dipergunakan oleh para ulama dalam hal ini adalah:
Firman Allah dalam surat at-Taubah : 11

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menuaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (Q.S.9:11)

Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam; Dari Jabir bin Abdillah Radhiallaahu anhu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “ Pemisah antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah dengan meninggalkan shalat” (H.R. Muslim)
“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang kafir) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya sungguh dia telah kafir.” (H.R. Ahmad, At-Turmudzi, An-Nasa’i dan yang lainnya).
Allah mensyaratkan dalam ayat di atas bahwa taubatnya orang kafir yang ingin diterima oleh Allah harus disertai dengan mendirikan shalat dan menunai-kan zakat. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka orang tersebut tidak dianggap sebagai muslim.

Dan dalam hadits tersebut Rasu-lullah menyebut kata-kata kufur dengan lafadh ma’rifah yang menunjukkan, bahwa kufur tersebut adalah kufur yang hakiki dan bukannya kufur duuna kufrin (kufur kecil). Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksudkan oleh hadits di atas adalah kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari millah (Islam). Demikianlah yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Adapun dalil dari perkataan para shahabat adalah banyak sekali, bahkan diriwayatkan dari 16 sahabat, di antaranya Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu , bahwa beliau berkata: “Tidak ada bagian sedikit pun dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat’

Salah seorang tabi’in bernama Abdullah bin Syaqiq meriwayatkan pendapat para shahabat Nabi secara umum tentang orang yang meninggalkan shalat, beliau berkata, “Para sahabat Nabi tidak pernah memandang suatu amalan pun yang bila ditinggalkan akan menyebabkan pelakunya menjadi kafir kecuali shalat.” (H.R. At-Turmudzi, 2624) Oleh karena itu, Imam Ishaq bin Rahawaih mengatakan, “Orang-orang di zaman sahabat senantiasa mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir.”

Sedangkan dalil menurut akal pikiran, sesungguhnya setiap manusia yang berakal yang di hatinya masih tersisa iman meski sebesar atom, tidak akan mungkin terus menerus mening-galkan shalat, padahal dia tahu hukumnya dan tahu bahwa shalat tersebut diwajibkan di tempat yang paling mulia (sidratul muntaha) dan sudah diringankan dari 50 waktu menjadi 5 waktu sehari semalam, dan diharuskan untuk bersuci sebelumnya berbeda dengan ibadah-ibadah yang lainnya.

Demikian pula bagi orang yang akan shalat dianjurkan untuk mengenakan perhiasan (khusus laki-laki), maka bagaimana mungkin seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah terus menerus meninggalkan shalat? Sesungguhnya syahadat yang telah ia ikrarkan seharusnya mendorong dia untuk beribadah kepada Allah dengan ibadah yang paling utama. Karena tidak mungkin seseorang mengaku-aku sesuatu namun dia meninggalkannya, orang seperti itu adalah pendusta! Maka sangat beralasan apabila yang meninggalkan shalat di hukumi dengan kafir, karena nash-nash al-Qur’an dan hadits jelas-jelas menyatakan kafirnya orang tersebut.

Penutup
Demikianlah pembahasan sepintas mengenai hukum orang yang meninggakkan shalat. Oleh karena itu, hendaklah kita perhatikan betul-betul ibadah yang satu ini dan kita peringatkan orang -orang yang meremehkan atau bahkan meninggalkannya karena dalih apa pun, sebab perbuatannya tersebut akan dapat membawanya kepada kekafiran yang nyata. Wallaahu a’lamu bisshawaab.
Penyusun: Sufyan Baswaidan Maraji’
o Haasyiyah ar-raudhul murbi’ syarh zaadul mustaqni’ oleh Abdurrahman an-Najdi al Hambaly
o Syarhul mumti’ ala zaadil mustaqni’ oleh syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
o Mulakhkhos ahkam sujud sahwi.
o Jaami’ul uluum wal hikam oleh al-Imam Ibnu Rajab .
Kewajiban terpenting dlm Islam adalah SHALAT.<

Ia adalah pilar agama dan fondasinya yg kokoh.
PEMBEDA antara ke-IMAN-an dan ke-KUFUR-an.
Dan, seluruh amal perbuatan tidak akan diterima tanpa shalat. Sebab, semua ibadah itu tegak di atasnya.

Rasulullah SAW ber;
“Amal yg paling pertama di hisab di yaumil akhir kelak, adalah shalatnya. Bila shalatnya baik, maka baik pulalah semua amalnya, namun jika amalan shalatnya rusak, maka rusak pulalah segenap amalnya.” (HR At-Thabrani)

ALLAH ‘Azza wa Jalla menjanjikan bagi orang2 yg menjaga shalatnya memperoleh pahala yg besar.

Firman ALLAH SWT:

~ “Waalladziina hum ‘alaa shalawaatihim yuhaafizhuuna;ulaa-ika humu alwaaritsuuna;alladziina yaritsuuna alfirdawsa hum fiihaa khaaliduuna..”

(“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya; Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi;yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.)

11 Oktober 2012

Shalawat Khidir

oleh alifbraja

Shalawat Khidir :

Allahuma shalli wa salim wabarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi kama laa nihaayata likamalika wa ‘adada kamalihi.

Ya Allah limpahkanlah rahmat keselamatan dan berkah kepada junjungan kami Nabi Muhammad S.A.W dan keluarganya sebagaimana tiada batas akhir atas kesempurnaan-Mu dan sebanyak hitungan kesempurnaan-Nya.

Shalawat Khidir di baca selepas shalat lima waktu sesuai kemampuan, insya Allah multi fungsi dan dapat dirasakan serta di buktikan setelah di amalkan..

Pesan Nabi Khidir AS …  Janganlah kamu mengamalkan suatu ilmu atau membaca suatu ayat demi mengharap ” karomah ” namun jadikanlah ilmu dan ayat untuk mencapai ” istiqomah “.

8 Oktober 2012

TASAWUF DALAM HUBUNGAN SYARI’AT

oleh alifbraja

Agama dan ilmu pengetahuan memiliki kebenaran dan karakteristiknya sendiri yang sangat jelas, sehingga bisa menjadi “alat ukur” untuk mengungkap berbagai kebohongan dan kebatilan yang telah dilontarkan oleh para pendusta. Begitu juga dengan tasawuf.
Kami kemukakan hal di atas, karena berkaitan dengan apa yang pernah kami dengar berkaitan dengan adanya bid’ah dlalalah (bid’ah yang sesat) yang telah meresap dalam sebagian hati orang-orang yang belum mendalami agama secara khusus dan tasawuf secara umum.

Bid’ah ini memandang bahwa seseorang yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat tertentu, ia dibebaskan dari kewajiban syari’at, sehingga ia boleh meninggalkan shalat, zakat, haji dan lain-lain yang telah menjadi kewajiban seorang muslim.
Ironisnya, pandangan tersebut pertama kali dimunculkan oleh mereka yang menggeluti bidang hukum dan syari’at. Mereka mengaku bahwa dirinya telah sampai pada tingkat ma’rifat tasawuf yang tertinggi dan sampai pada satu kondisi yang menurut anggapan mereka sudah tidak diwajibkan lagi menjalankan kewajiban-kewajiban syari’at.

Ketika saya melacak sumber “ma’rifat” mereka, maka anda pasti akan sangat heran, karena sumber pengetahuan mereka tidak lain adalah ruh-ruh yang sengaja mereka hadirkan – yang menurut mereka – melalui perantaraan tubuh seseorang. Ruh-ruh tersebut memberikan informasi kepada mereka mengenai berbagai persoalan ghaib dan lain-lain.

Perbuatan bid’ah yang berupa “menghadirkan ruh” telah bgitu tersebar dan populer di kalangan mereka. Kegiatan tersebut telah menjadi “agama” mereka. Dalam pandangan mereka, informasi yang diberikan ruh tersebut mengalahkan kedudukan al-Qur’an dan Sunnah.

Lebih ironis lagi, mereka justeru mengaku sebagai pengamal ajaran tasawuf. Mereka menganggap diri mereka sebagai tokoh sufi, orang ‘arif dan orang yang memperoleh ilham. Bahkan ada yang sudah keterlaluan karena mengaku sebagai seorang wali. Ada juga yang mengaku sebagai seorang rasul. Bahkan ada yang berani mengaku bahwa dirinya adalah Isa (‘alaihi salam), kemudian ada juga yang mengaku sebagai Nabi Muhammad Saw.

Yang lebih keterlaluan lagi, ada yang bahwa “kemanusiaan” yang ada dalam dirinya telah lenyap dalam sekejap, kemudian mengaku kepada para pengikutnya bahwa “Tuhan telah menyatu dengan dirinya”. Semua pengakuan orang tersebut selalu diperkuat dan didukung oleh ruh yang dihadirkannya. Ruh tersebut selalu membenarkan apa yang dikatakan orang tersebut. Maha benar Allah Swt, karena Dia memberikan perumpamaan tentang orang yang berhubungan dengan jin dan berpaling dari jalan kebenaran.
“Dan ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” Qs. Al-Jin; 6).

Mungkin anda akan bertanya: “Apakah ada hubungan antara menghadirkan ruh dengan tasawuf?” Jawaban ahli tasawuf tentang hal itu sangat jelas, bahwa antara menghadirkan ruh dengan tasawuf sama sekali tidak memiliki keterkaitan, justeru sebaliknya, keduanya saling bertentangan. Para ahli tasawuf menganggap bahwa menghadirkan ruh termasuk perbuatan pembodohan, karena hal itu sama saja dengan bekerja sama dengan jin dan syaitan. Allah Swt berfirman tentang hal itu.

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta” (Qs. Al-Syu’ara; 221-223).

Allah Swt juga berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” (Qs. Al-Zuhruf; 36-37).

Tujuan tulisan kami di sini hanyalah untuk menjelaskan pandangan tasawuf tentang “gugurnya kewajiban-kewajiban syari’at”. Persoalan ini sering dianggap bukan sebagai sesuatu yang bid’ah (mengada-ada) oleh mereka yang mengaku sebagai orang sufi di era modern ini. Sesungguhnya, persoalan tersebut merupakan kesesatan yang telah ada sejak lama dan telah muncul di tengah-tengah masyarakat, kemudian dianggap sebagai salah satu dasar ajaran tasawuf. Suatu anggapan yang sangat keliru dan ditentang oleh tokoh-tokoh sufi yang sejati kapanpun dan di manapun mereka berada.

Yang pasti, jika ada beberapa problem atau permasalahan, maka yang menjadi rujukan dalam penyelesaiannya adalah mereka yang benar-benar menguasai bidang permasalahan tersebut. Oleh karena itu, ketika kami merujuk pada tokoh-tokoh tasawuf yang tidak lagi diragukan kredibilitasnya, baik mereka yang hidup di masa lalu maupun di era modern sekarang ini, semuanya sangat mengingkari dan menentang pendapat di atas. Mereka menganggap bahwa gagasan tentang “gugurnya kewajiban syari’at” merupakan gagasan atau pendapat yang menyesatkan, penuh kebohongan dan tidak sejalan dengan ajaran agama secara umum.Kami akan membicarakan tentang pendapat sebagian ahli tasawuf klasik mengenai persoalan tersebut.

Abu Yazid al-Busthami pernah berkata kepada salah seorang temannya: “Marilah kita sama-sama melihat seorang lelaki yang mengaku dirinya sebagai seorang wali” – dan dia memang dikenal ke-zuhud-annya. Kemudian, ketika laki-laki tadi keluar dari rumahnya dan memasuki masjid, dia membuang ludahnya ke arah kiblat. Melihat kejadian tersebut, Abu Yazid langsung bergegas meninggalkannya dan tidak memberi salam kepadanya, lalu beliau berkata: “Laki-laki tadi tidak bisa mengamalkan akhlaq Rasulullah Saw, bagaimana mungkin pengakuannya (sebagai seorang wali) bisa dipercaya?”

Abu Yazid al-Busthami juga pernah berkata: “Kalian jangan tertipu, jika kalian melihat seseorang yang memiliki karamah -meski dia bisa terbang di udara-, sampai kalian melihat bagaimana orang tersebut melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah Swt, menjaga dirinya dari hudud (hukum pidana Allah Swt) dan bagaimana dia melaksanakan syari’at Allah Swt.”

Sahl al-Tusturi mengatakan tentang pinsip-prinsip dasar tasawuf: “Dasar-dasar tasawuf itu adalah tujuh, yaitu berpegang teguh pada al-Qur’an; meneladani Sunnah Nabi Muhammad Saw; memakan makanan yang halal; menahan diri dari menyakiti (orang lain); menjauhi maksiyat; senantiasa bertaubat; dan memenuhi segala yang telah menjadi kewajibannya”.

Al-Junaid, seorang tokoh dan Imam para sufi, berkata – sebagaimana dikutip oleh al-Qusyairi: “Barang siapa yang tidak menghafal al-Qur’an dan tidak menulis hadits, maka janganlah ia mengikuti jalan tasawuf ini, karena ilmu kami ini berasal dari dalil-dalil al-Qur’an dan sunnah.” Beliau menambahkan: “Ilmu kami ini selalu diperkuat dengan hadits Rasulullah Saw”. Beliau juga berkata: “Pada dasarnya jalan tasawuf itu tertutup bagi semua orang, kecuali bagi mereka yang memilih jalan yang ditempuh Rasulullah Saw, mengikuti sunnahnya dan terus tetap berada di jalannya.”

Pernah ada seorang laki-laki yang menuturkan tentang ma’rifat di hadapan al-Junaid dengan berkata: “Ahli ma’rifat kepada Allah Swt akan sampai pada satu kondisi dimana ia bisa meninggalkan perbuatan baik apapun dan ber-taqarrub¬ kepada Allah Swt”. Mendengar perkataan orang tersebut, al-Junaid berkata: “Itulah pendapat sekelompok orang yang menyatakan tentang ‘gugurnya amal perbuatan’, dan hal ini, menurutku, merupakan suatu kesalahan atau dosa yang sangat besar. Bahkan orang yang mencuri dan bezina masih lebih baik keadaannya daripada orang yang mengatakan pendapat tersebut”.

Jika kita menengok pada Imam al-Ghazali, maka kita akan melihat bahwa beliau menyatakan pendapatnya dengan tegas, jelas dan kuat argumentasinya. “Ketahuilah, bahwa orang yang menempuh perjalanan menuju Allah Swt itu sangat sedikit jumlahnya, namun mereka yang mengaku-aku sangat banyak jumlahnya. Kami ingin anda mengetahui seorang salik yang sebenarnya, antara lain; semua amal perbuatannya yang bersifat ikhtiyari selalu selaras dengan aturan-aturan syari’at, baik keinginannya, aktualisasinya maupun performansinya. Karena tidak mungkin bisa menmpuh jalan tasawuf, kecuali setelah ia benar-benar menjalankan syari’at. Tidak ada orang yang akan sampai (pada tujuan tasawuf), kecuali mereka yang selalu mengamalkan amalan-amalan sunah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seseorang yang meremehkan kewajiban-kewajiban syari’at bisa sampai (pada tujuan tasawuf tersebut)?”

Jika anda bertanya: “Apakah kedudukan salik akan sampai pada suatu tingkatan di mana ia boleh meninggalkan sebagian yang menjadi kewajiban syari’atnya dan atau melakukan sebagian perbuatan yang dilarang oleh syari’at, sebagaimana pendapat sebagian syeikh yang menggampangkan persoalan tersebut?”

Jawabanku: “Ketahuilah, bahwa pendapat tersebut merupakan bentuk tipuan dan kebohongan yang nyata, karena orang-orang sufi sejati mengatakan: ‘Jika engkau melihat seseorang yang dapat terbang di atas udara dan berjalan di atas air tetapi dia melakukan satu hal yang bertentangan dengan syari’at, maka ketahuilah bahwa dia adalah syaitan’.”

Selanjutnya, kita sampai pada pendapat Abi Hasan al-Syadzali yang mengatakan: “Jika kasyf-mu bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka berpeganglah kepada al-Qur’an dan Sunnah dan abaikanlah kasyf-mu itu, lalu katakan pada dirimu sendiri; sesungguhnya Allah Swt telah memberikan jaminan tentang kebenaran al-Qur’an dan Sunnah kepadaku, tetapi Allah Swt tidak memberikan jaminan kepadaku tentang kebenaran kasyf, ilham dan musyahadah kecuali setelah dikonfirmasikan dengan al-Qur’an dan Sunnah”.

Orang-orang sufi mengikuti semua petunjuk yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah, baik Sunnah qauliyah (perkataan Nabi) maupun Sunnah ‘amaliyah (perbuatan Nabi). Mereka pasti sangat menyadari akan kebenaran sejarah bahwa Rasulullah Saw adalah contoh ideal dalam segala hal hingga akhir hayatnya.

Itulah beberapa pendapat dari kalangan sufi klasik. Sebagai penutup, kami kutipkan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw. Beliau pernah ditanya tentang sekelompok orang yang meninggalkan amal perbuatan atau kewajiban agama, tetapi mereka ber-husnu al-dzan (berprasangka baik) kepada Allah Swt. Rasulullah Saw menjawab: “Mereka itu bohong, kalau mereka itu berprasangka baik, tentu baik pula amal perbuatan mereka”.

25 September 2012

Zikir dalam Shalat

oleh alifbraja

Sayyidina Ali Karamallahu wajhah pernah mengatakan : “Tidak syah Shalat seseorang melainkan terlebih dulu harus mengenal Allah”. Begitu ia ditanya apakah engkau mengenal / melihat akan Allah, maka di jawab oleh beliau : “Aku tidak mangabdi kepada yang tidak aku kenal / lihat”.

Saya sedikit mengutip pernyataan Sayyidina Ali Karamallahu wajhah diatas, sementara Rasulullah SAW, pernah bersabda sbb : “‘Araftu rabbi bi rabbi!” yakni “Aku kenal Tuhan ku dengan Tuhan ku!” ,

Bisa saja pernyataan Sayyidina Ali KW, diatas menjadikan beberapa orang mengarah ke mengandalkan pengetahuan yang mereka miliki untuk mengenal Allah (kalau salah diartikan).
Sementara Allah sendiri dalam Alquran, terlebih dahulu memperkenalkan dirinya lewat surah Thahah 14 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka mengabdilah hanya kepada Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS, Thaahaa : 14).

Kemudian didalam kita sholat, intinya kan  Ingat Allah.

Sayyidina Ali Karamallahu wajhah pernah mengatakan : “Tidak syah Shalat seseorang melainkan terlebih dulu harus mengenal Allah”. Begitu ia ditanya apakah engkau mengenal / melihat akan Allah, maka di jawab oleh beliau : “Aku tidak mangabdi kepada yang tidak aku kenal / lihat”.

Saya sedikit mengutip pernyataan Sayyidina Ali Karamallahu wajhah diatas, sementara Rasulullah SAW, pernah bersabda sbb : “‘Araftu rabbi bi rabbi!” yakni “Aku kenal Tuhan ku dengan Tuhan ku!” ,

Bisa saja pernyataan Sayyidina Ali KW, diatas menjadikan beberapa orang mengarah ke mengandalkan pengetahuan yang mereka miliki untuk mengenal Allah (kalau salah diartikan).
Sementara Allah sendiri dalam Alquran, terlebih dahulu memperkenalkan dirinya lewat surah Thahah 14 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka mengabdilah hanya kepada Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS, Thaahaa : 14).

Kemudian didalam kita sholat, intinya kan di Ingat Allah

 

19 September 2012

SHALAT DALAM MA’RIFAT

oleh alifbraja

Bahwasanya diceritakan dari Abdullah Bin Umar r.a, katanya adalah kamu berduduk pada suatu orang kelak ke hadapan Rasulullah SAW, minta belajar ilmu Jibril a.s, daripada ilmu yang sempurna dunia dan akhirat, yaitu membiasakan dari hakikat didalam shalat lima waktu yaitu wajib bagi kita untuk mengetahuinya. Yang harus mereka ketahui pertama kali hakikat shalat ini supaya sempurna kamu menyembah Allah, bermula hakikatnya didalam shalat itu atas 4 (empat) perkara :

1.          BERDIRI (IHRAM).

2.          RUKU’ (MUNAJAH).

3.          SUJUD  (MI’RAJ).

4.          DUDUK  (TABDIL).

 

Adapun hakikatnya :

1.          BERDIRI ( IHRAM)  itu karena huruf ALIF asalnya dari API, bukan api pelita dan bukan pula api bara. Adapun artinya API itu bersifat JALALULLAH, yang artinya sifat KEBESARAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :

¨           KUAT.

¨           LEMAH.

 

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga, karena hamba itu tidak mempunyai KUAT dan LEMAH karena hamba itu di-KUAT-kan dan di-LEMAH-kan oleh ALLAH, bukannya kudrat dan iradat Allah itu lemah. Adapun kepada hakikatnya yang sifat lemah itu shalat pada sifat kita yang baharu ini. Adapun yang dihilangkan tatkala BERDIRI itu adalah pada segala AP’AL (perbuatan) hamba yang baharu.

 

2.          RUKU’ (MUNAJAH) itu karena huruf LAM Awal, asalnya dari ANGIN, bukannya angin barat dan bukan pula angin timur. Adapun artinya ANGIN itu bersifat JAMALULLAH yang artinya sifat KEELOKAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :

¨           TUA.

¨           MUDA.

 

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak mempunyai TUA dan MUDA. Adapun yang dihilangkan tatkala  RUKU’  itu adalah pada segala ASMA (nama) hamba yang baharu.

 

3.          SUJUD (MI’RAJ)  itu karena huruf  LAM Akhir, asalnya dari AIR, bukannya air laut dan bukan pula air sungai. Adapun artinya AIR  itu bersifat QAHAR ALLAH yang artinya sifat KEKERASAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :

¨           HIDUP.

¨           MATI.

 

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak pun mempunyai HIDUP dan MATI. Adapun yang dihilangkan tatkala SUJUD itu adalah pada segala  NYAWA (sifat) hamba yang baharu.

 

4.          DUDUK (TABDIL) itu karena huruf  HA, asalnya dari TANAH, bukannya pasir dan bukan pula tanah lumpur.  Adapun artinya TANAH   itu bersifat KAMALULLAH  yang artinya sifat  KESEMPURNAAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :

¨           ADA.

¨           TIADA.

 

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak ADA dan TIADA. Adapun yang dihilangkan tatkala DUDUK itu adalah pada segala WUJUD/ZAT hamba yang baharu, karena hamba itu wujudnya ADAM yang artinya hamba tiada mempunyai wujud apapun karena hamba itu diadakan/maujud, hidupnya hamba itu di-hidupkan, matinya hamba itu di-matikan dan kuatnya hamba itu di-kuatkan.

 Itulah hakikatnya shalat. Barangsiapa shalat tidak tahu akan hakikat yang empat tersebut diatas, shalatnya hukumnya  KAFIR JIN dan NASRANI, artinya KAFIR KEPADA ALLAH, ISLAM KEPADA MANUSIA, yang berarti KAFIR BATHIN, ISLAM ZHAHIR, hidup separuh HEWAN, bukannya hewan kerbau atau sapi. Tuntutan mereka berbicara ini wajib atas kamu. Jangan shalat itu menyembah berhala !!!.

 

 

INILAH PASAL

 

Masalah yang menyatakan sempurnanya orang TAKBIRATUL IHRAM, yaitu hendaklah tahu akan MAQARINAHNYA.

Bermula MAQARINAH  shalat itu terdiri atas 4 (empat) perkara :

1.          BERDIRI  (IHRAM).

2.          RUKU’ (MUNAJAH).

3.          SUJUD (MI’RAJ).

4.          DUDUK  (TABDIL).

 

Adapun hakikatnya :

q             Adapun hakikatnya BERDIRI (IHRAM) itu adalah TERCENGANG, artinya : tiada akan tahu dirinya lagi, lupa jika sedang menghadap Allah Ta’ala, siapa yang menyembah?, dan siapa yang disembah?.

 

q             Adapun hakikatnya RUKU’ (MUNAJAH) itu adalah BERKATA-KATA, artinya :  karena didalam TAKBIRATUL IHRAM  itu tiada akan menyebut dirinya (asma/namanya), yaitu berkata hamba itu dengan Allah. Separuh bacaan yang dibaca didalam shalat itu adalah KALAMULLAH.

 

q             Adapun hakikatnya SUJUD (MI’RAJ)  itu adalah TIADA INGAT YANG LAIN TATKALA SHALAT MELAINKAN ALLAH SEMATA.

 

q             Adapun hakikatnya  DUDUK (TABDIL)  itu adalah SUDAH BERGANTI WUJUD HAMBA DENGAN TUHANNYA.

 Sah dan maqarinahnya shalat itu terdiri atas 3 (tiga) perkara :

1.          QASHAD.

2.          TA’ARADH.

3.          TA’IN.

 

Adapun QASHAD itu adalah menyegerakan akan berbuat shalat, barang yang dishalatkan itu fardhu itu sunnah.

Adapun artinya TA’ARRADH itu adalah menentukan pada fardhunya empat, tiga atau dua.

Adapun TA’IN itu adalah menyatakan pada waktunya, zhuhur, ashar, maghrib, isya atau subuh.

 

 INILAH PASAL

 

Masalah yang menyatakan sempurnanya didalam shalat :

q             Adapun sempurnanya BERDIRI (IHRAM) itu hakikatnya :

       Nyata kepada AP’AL  Allah.

Hurufnya ALIF.

Alamnya NASUWAT.

Tempatnya TUBUH, karena tubuh itu kenyataan SYARIAT.

 

q             Adapun sempurnanya RUKU’ (MUNAJAH)  itu  hakikatnya :

Nyata kepada ASMA Allah.

Hurufnya LAM Awal.

Alamnya MALAKUT.

Tempatnya HATI, karena hati itu kenyataan THARIQAT.

 

q             Adapun sempurnanya SUJUD (MI’RAJ)  itu hakikatnya :

Nyata kepada SIFAT Allah.

Hurufnya LAM Akhir.

Alamnya JABARUT.

Tempatnya NYAWA, karena Nyawa itu kenyataan HAKIKAT.

 

q             Adapun sempurnanya DUDUK (TABDIL) itu hakikatnya :

Nyata kepada ZAT Allah.

Hurufnya HA.

Alamnya LAHUT.

Tempatnya ROHANI, karena ROHANI itu kenyataan MA’RIFAT.

 

 

 

 

 

 

 

q             Adapun  BERDIRI (IHRAM) itu kepada SYARIAT Allah.

Hurufnya DAL.

Nyatanya kepada KAKI kita.

 

q             Adapun  RUKU’ (MUNAJAH)  itu kepada THARIQAT Allah.

Hurufnya MIM.

Nyatanya kepada PUSAT (PUSER) kita.

 

q             Adapun SUJUD (MI’RAJ)  itu kepada HAKIKAT Allah.

Hurufnya HA.

Nyatanya kepada  DADA kita.

 

q             Adapun DUDUK (TABDIL)  itu kepada  MA’RIFAT Allah.

Hurufnya MIM Awal.

Nyata kepada  KEPALA (ARASY) kita.

 

 

 

Jadi Orang Shalat membentuk huruf AHMAD / MUHAMMAD.

 

 

 

INILAH PASAL

 

Asal TUBUH kita (jasmaniah) kita dijadikan oleh Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :

1.          API.

2.          ANGIN.

3.          AIR.

4.          TANAH.

 

Adapun NYAWA kita dijadikan Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :

1.          WUJUD.

2.          NUR ILMU.

3.          NUR.

4.          SUHUD.

 

 

 

Adapun MARTABAT  Tuhan itu ada 3 (tiga) perkara :

1.          AHADIYYAH.

2.          WAHDAH.

3.          WAHIDIYYAH.

 

Adapun TUBUH kita dijadikan Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :

1.          WADIY.                    

2.          MADIY.

3.          MANIY.

4.          MANIKEM.

 

 

INILAH PASAL

 

Masalah yang menyatakan jalan kepada Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :

1.          SYARIAT.        =     AP’AL.          =     BATANG TUBUH.        

2.          THARIQAT.    =     ASMA.           =     HATI.                                     DIRI

3.          HAKIKAT.       =     SIFAT.           =     NYAWA.                               KITA

4.          MA’RIFAT.     =     RAHASIA.    =     SIR.                                       

 

Adapun hakikatnya :

ü          SYARIAT         itu adalah  KELAKUAN TUBUH.

ü          THARIQAT     itu adalah  KELAKUAN HATI.

ü          HAKIKAT        itu adalah  KELAKUAN NYAWA.

ü          MA’RIFAT      itu adalah  KELAKUAN ROHANI.

 

Adapun yang tersebut diatas itu nyata atas penghulu kita Nabi MUHAMMAD. Karena lafadz MUHAMMAD itu 4 (empat) hurufnya   yaitu :

1.          MIM Awal.

2.          HA.

3.          MIM Akhir.

4.          DAL.

 

Adapun huruf  MIM Awal  itu ibarat KEPALA.

Adapun huruf  HA  itu ibarat DADA.

Adapun huruf  MIM Akhir  itu ibarat PUSAT (PUSER).

Adapun huruf  DAL  itu ibarat  KAKI.

 Adapun huruf  MIM Awal  itu MAQAM-nya kepada alam LAHUT.

Adapun huruf  HA  itu MAQAM-nya kepada alam JABARUT.

Adapun huruf  MIM Akhir  itu  MAQAM-nya kepada alam MALAKUT.

Adapun huruf  DAL  itu MAQAM-nya kepada alam NASUWAT.

 

Sah dan lagi lafadz ALLAH  terdiri dari 4 (empat) huruf :

1.          ALIF.

2.          LAM Awal.

3.          LAM Akhir.

4.          HA.

 

Adapun huruf      ALIF                  itu nyatanya  kepada    AP’AL  Allah.

Adapun huruf      LAM Awal        itu nyatanya kepada     ASMA Allah.

Adapun huruf      LAM Akhir       itu nyatanya  kepada    SIFAT Allah.

Adapun huruf      HA                      itu nyatanya kepada     ZAT  Allah.

 

Adapun      AP’AL     itu nyata  kepada      TUBUH  kita.

Adapun      ASMA     itu nyata kepada       HATI  kita.

Adapun      SIFAT     itu nyata kepada       NYAWA kita.

Adapun      ZAT         itu nyata kepada       ROHANI kita.

 

 

INILAH PASAL

 

Masalah yang menyatakan ALAM. Adapun ALAM itu atas 2 (dua) perkara :

1.          ALAM KABIR  (ALAM BESAR/ALAM NYATA).

2.          ALAM SYAQIR (ALAM KECIL/ALAM DIRI KITA).

 

Adapun  ALAM KABIR   itu adalah alam yang  NYATA INI.

Adapun ALAM SYAQIR  itu adalah alam  DIRI KITA INI.

 

ALAM KABIR (ALAM BESAR) itu sudah terkandung didalam ALAM SYAQIR  karena ALAM SYAQIR  itu bersamaan tiada kurang dan tiada lebih, lengkap dengan segala isinya  bumi dan langit, arasy dan kursy, syurga, neraka, lauhun (tinta) dan qolam (pena), matahari, bulan dan bintang.

 Adapun BUMI / JASMANI  didalam tubuh kita itu terdiri atas 7 (tujuh) lapis yaitu :

1.          BULU.

2.          KULIT.

3.          DAGING.

4.          URAT.

5.          DARAH.

6.          TULANG.

7.          LEMAK (SUM-SUM).

 

Adapun LANGIT / ROHANI (OTAK/ARASY)  didalam tubuh kita itu terdiri atas 7 (tujuh) lapis pula :

1.          DIMAK  (LAPISAN BERPIKIR/RUH NABATI).

2.          MANIK  (LAPISAN PANDANGAN/RUH HEWANI).

3.          NAFSU  (RUH JASMANI).

4.          BUDI   (RUH NAFASANI).

5.          SUKMA  (RUH ROHANI).

6.          RASA  (RUH NURANI).

7.          RAHASIA  (RUH IDHAFI).

 

Adapun    MATAHARI         didalam  tubuh kita yaitu  NYAWA  kita.

Adapun    BULAN                 didalam  tubuh kita yaitu AKAL  kita.

Adapun    BINTANG            didalam tubuh kita yaitu ILMU kita (ada yang banyak dan ada pula yang sedikit).

Adapun    SYURGA               didalam tubuh kita yaitu AMAL SHALEH kita.

Adapun    NERAKA              didalam tubuh kita  yaitu  DOSA-DOSA kita.

 

Adapun LAUT  didalam tubuh kita ada 2 (dua) yaitu :

1.          LAUT ASIN.

2.          LAUT TAWAR.

 

Adapun    LAUT ASIN         didalam tubuh kita yaitu AIR MATA kita.

Adapun    LAUT TAWAR    didalam tubuh kita yaitu AIR LUDAH kita.

 Adapun  MAHLIGAI  didalam tubuh kita ada 7 (tujuh) pula yaitu :

1.          DADA.

2.          QALBUN.

3.          BUDI.

4.          JINEM.

5.          NYAWA.

6.          RASA.

7.          RAHASIA.

 

Didalam DADA itu QALBUN dan didalam QALBUN itu BUDI dan didalam BUDI itu JINEM dan didalam JINEM itu NYAWA dan didalam NYAWA itu RASA dan didalam RASA  itu  RAHASIA (SIR).

 

1 September 2012

Antara Menaati Orangtua Dan Suami

oleh alifbraja

Asy-Syaikh Al-

Seorang wanita yang telah menikah dihadapkan pada dua perintah yang berbeda. Kedua orang tuanya memerintahkan suatu perkara mubah, sementara suaminya memerintahkan yang selainnya. Lantas yang mana yang harus ditaatinya, kedua orang tua atau suaminya? Mohon disertakan dalilnya!

Seorang wanita yang telah menikah dihadapkan pada dua perintah yang berbeda. Kedua orang tuanya memerintahkan suatu perkara mubah, sementara suaminya memerintahkan yang selainnya. Lantas yang mana yang harus ditaatinya, kedua orang tua atau suaminya? Mohon disertakan dalilnya! Jawab:
Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjawab: “Ia turuti perintah suaminya. Dalilnya adalah seorang wanita ketika masih di bawah perwalian kedua orang tuanya (belum menikah) maka ia wajib menaati keduanya. Namun tatkala ia menikah, yang berarti perwaliannya berpindah dari kedua orang tuanya kepada sang suami, berpindah pula hak tersebut –yaitu hak ketaatan– dari orang tua kepada suami. Perkaranya mau tidak mau harus seperti ini, agar kehidupan sepasang suami istri menjadi baik dan lurus/seimbang. Jika tidak demikian, misalnya ditetapkan yang sebaliknya, si istri harus mendahulukan kedua orang tuanya, niscaya akan terjadi kerusakan yang tidak diinginkan. Dalam hal ini ada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا دَخَلَتْ جَنَّةَ رَبِّهَا مِنْ أَبْوَابِهَا شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, ia menaati suaminya dan menjaga kemaluannya, niscaya ia akan masuk ke dalam surga Rabbnya dari pintu mana saja yang ia inginkan. ”1
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 448)

25 Agustus 2012

Meluruskan Masalah Bid’ah

oleh alifbraja

Meluruskan Masalah Bid’ah

 

 

Bid’ah
adalah perkara teramat buruk dalam agama, yang Rasul telah mewanti- wanti kita
jangan sampai terjerumus ke dalamnya. Demikian pula para ulama’ al waritsatul
anbiya, sepanjang usia umat ini, terus mengingatkan dan membentengi umat dari
bid’ah yang amat tercela. Dan seharusnya masalah penting ini wajib untuk selalu
disampaikan dan diingatkan ketenah-tengah umat, mengingat besarnya bahaya
bid”ah dan kerusakan yang ditimbulkannya.

 

Namun
masalahnya menjadi lain sekarang ini,  ketika  muncul segolongan kaum muslimin – yang mereka
terkadang baru belajar agama, – demikian ‘mudah melayangkan bid’ah kepada
saudaranya. Tak kepalang tanggung, tidak sedikit ulama’ –ulama’ yang mereka hujat
sebagai pelaku bid’ah bahkan dikatakan sebagai pemancang bid’ah ditengah-tengah
umat.  Hal ini terkadang hanya karena
perbedaan amaliyah dan pendapat fiqiyah. Atau disebabkan cara pendefinisian
yang berbeda tentang apa itu bid’ah. Padahal, 
hampir tidak mungkin bagi kita untuk menggeneralisir begitu saja semua
masalah bid”ah menjadi satu versi saja. Sebab yang namanya ulama itu bukan
hanya ada satu saja di dunia ini. Sehingga kehati-hatian, ketelitian serta
kematangan pemahaman akan masalah bid”ah dan pengertiannya ini menjadi
krusial.

 

Lain
halnya bila  sebuah masalah sudah
disepakati kebid’ahannya oleh semua lapisan ulama baik salaf maupun khalaf,
seperti shalat dwi bahasa ala  Jusman
Roy, Aliran nyeleneh Ahmad Musadiq, acara melarung kerbau kelaut untuk buang
sial, atau ajaran Lia Aminuddin dan sebagainya, maka setiap kita harus lantang
dalam menyampaikan ini ke umat, agar mereka terbentengi dari bid’ah yang
merupakan perbuatan yang sangat tercela.

 

Namun,
jika suatu masalah dirumuskan berbeda oleh para ulama’ yang satu berkata A
sedangkan yang lain berkata B, alangkah tidak bijaknya bila kita saling
menuding dan saling lempar kata bid’ah. Yang justru, bid’ah baru dan musibah
yang lebih besar kita timbulkan sebab pertikaian ini. Kita menjadi pencaci,
pembenci dan pengumpat kepada orang-orang yang justru Allah dan Rasul-Nya
memerintahkan kita untuk memuliakan mereka. Kita demikian mudah menistakan
segolongan kaum muslimin bahkan ulama’-ulama’ 
hanya karena mereka berbeda definisi dalam masalah bid’ah.

 

Sehingga
melalui tulisan ini, kami mencoba menerangkan kembali tentang masalah penting
ini, agar jangan mudah seseorang melontarkan kata bid’ah kepada saudaranya. Sebenarnya,
masalah ini  telah diterangkan oleh ulama
salaf dan khalaf sepanjang perjalanan usia umat ini. Semoga Allah memudahkan
kita menerima kebenaran, ditumbuhkan rasa kasih sayang diantara kita, dan kita
semoga Allah mengumpulkan kita dengan Nabi SAW di syurga-Nya kelak. Amin

 

PENGERTIAN BID’AH

 

Arti Bid’ah Menurut Bahasa (Etimologis)

 

Kata Bid’ah (Jama‘nya; Bida’) secara bahasa berarti  ‘sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh terlebih dahulu’ sedangkan
pelakunya disebut “mubtadi’ “ atau „mubdi’“[1]

 

Dalam al-Qur’an, langit dan bumi dikatakan bid’ah,
karena Allah SWT menciptakannya tanpa ada contoh terlebih dahulu. Allah
SAW berfirman:

 

بَدِيْعُ السَّموَاتِ
وَالأَرْضِ

 

“(Allah) Pencipta
langit dan bumi (tanpa ada contoh)..” (QS. Al-Baqarah :117)

 

 

Arti Bid’ah Dalam Istilah Agama (Terminologis)

 

Adapun
mengenai Bid’ah dalam istilah agama, para ulama telah menjelaskannya setelah
melalui proses penelitian terhadap konteks al-Qur’an dan Hadits. Marilah kita
simak pendapat-pendapat ulama berikut.

 

 

Ibnu Hajar
al-Asqalani

 

Beliau
berkata: “Yang dimaksud sabda Nabi “Setiap bid’ah itu adalah
sesat” adalah sesuatu yang diada-adakan tanpa ada dalil syar’i, baik dalil
khusus maupun umum.”[2]

 

 

Ibnu Taimiyyah

 

Beliau
berkata: Bid’ah adalah semua perkara agama yang tidak ada sandarannya berupa
dalil syar’i.[3]

 

Muhammad Rasyid Ridha

 

Beliau
berkata: Bid’ah adalah segala hal yang tidak ada dasarnya dari ajaran Nabi SAW,
yakni dalam hal aqidah, ibadah, halal dan haram.[4]

 

Penjelasan Definisi

 

Dari
beberapa contoh definisi bid’ah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yang
dimaksud bid’ah secara istilah adalah suatu urusan agama yang tidak memiliki
landasan syar’i. 

 

Meskipun
sebenarnya hampir mustahil untuk memisahkan -dengan batasan yang jelas- antara
perkara agama dan perkara dunia, namun, untuk meringankan pembahasan, kita akan
fokus dulu pada pembahasan mengenai definisi diatas. 

 

Jika
dikatakan bahwa Bid’ah (perkara baru) adalah sesuatu yang tidak berlandaskan
syariat, maka akan timbul pertanyaan “adakah Bid’ah yang memiliki landasan
syar’iat sehingga ia tidak termasuk Bid’ah yang tercela?

 

Jika
kita menggunakan logika berfikir yang lurus, jawabannya tentu “ada”. Coba kita
perhatikan baik-baik, jika kita mengakui adanya bid’ah yang tidak sesuai dengan
syariat, maka kita harus mengakui pula adanya Bid’ah yang sesuai syariat. Dari
sini kita ketahui, bahwa definisi diatas masih belum jelas sehingga membutuhkan
penjelasan lebih lanjut,  karena definisi
diatas tetap akan menimbulkan  dua
pertanyaan berikut.

 

–         
Dinamakan
apa Bid’ah yang sesuai syariat itu ?

 

–         
Jika
Bid’ah yang tidak sesuai syariat jelas statusnya. Lantas bagaimana status
Bid’ah yang sesuai syariat itu ?

 

 

Untuk
menjawabnya, kita lanjutkan dengan pembahasan di bab berikutnya.

 

 

MACAM-MACAM
BID’AH

 

 

Setelah nyata bagi kita, bahwa isyarat agama dan
realitas mengharuskan kita memilah-milah bid’ah, maka sekarang kita simak
perkataan Salafus-halih yang memberikan keterangan tentang hal tersebut.

 

Imam Syafi’i RA berkata :

 

 

اَلبِدْعَةُبِدْعَتَانِ,
بِدْعَة ٌمَحْمُودَةٌ وَبِدْعَةِ مَذْمُوْمَةٌ فِيْمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ
مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومْ.

 

 

“Bid’ah
itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan yang tercela. Bid’ah yang sesuai dengan
sunnah (syariat) adalah bid’ah yang
terpuji, sedangkan yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah tercela.”[5]

 

Atau penjelasan beliau dalam riwayat yang lain,
Yaitu yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam
Manakib Imam Syafi’i :

 

 

اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ,
مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا
فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ
شَيْئًا ِمْن ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَة

 

‘Perkara-perkara baru itu ada dua
macam. Pertama, perkara-perkara baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an,
Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah Bid’ah Dhalalah (sesat). Kedua,
perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan
salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah
tercela’.

 

 

Dari
penjelasan Imam Syafi’i tersebut, kita bisa simpulkan bahwa Bid’ah yang tidak
sesuai dengan syariat disebut Bid’ah sesat, sedangkan Bid’ah yang sesuai
syariat disebut Bid’ah tidak sesat. Atau, jika Bid’ah yang tidak sesuai dengan
syariat disebut Bid’ah tercela, maka Bid’ah yang sesuai dengan syariat disebut
Bid’ah terpuji. Atau, jika bid’ah yang tidak sesuai dengan syariat disebut
Bid’ah yang buruk (sayyiah), maka bid’ah yang sesuai dengan syariat disebut
Bid’ah yang baik (Hasanah). Begitu seterusnya

 

Demikian
juga, sebagaimana Bid’ah yang pertama (yang tidak sesuai dengan syariat) jelas
statusnya, yaitu sesat dan haram, maka dengan analogi berfikir yang sama,
Bid’ah yang kedua (yang sesuai dengan syariat) adalah halal bahkan wajib
hukumnya. Jika bid’ah yang pertama tidak boleh kita kerjakan maka Bid’ah yang
kedua boleh kita kerjakan. Begitu seterusnya.

 

Jika
kita masih mau meluaskan pembahasan, mari kita simak penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Imam an-Nawawi sebagai berikut:

 

“Pada dasarnya, bid’ah itu berarti
sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Dalam
istilah  syari’at, Bid’ah itu
dipergunakan untuk perkara yang bertentangan dengan Sunnah, maka jadilah ia
tercela. Namun lebih tepatnya, apabila perkara itu termasuk hal-hal yang
dianggap baik menurut syari’at maka iapun menjadi baik. Sebaliknya, jika
perkara itu termasuk hal-hal yang dianggap buruk oleh syari’at maka iapun
menjadi buruk. Jika tidak demikian maka ia termasuk bagian yang mubah. Dan
terkadang bid’ah itu terbagi berdasarkan hukum-hukum Islam yang lima”.[6]

 

Al-Imam
an-Nawawi juga membagi bid’ah menjadi lima macam:

 

1.    Wajib. Contohnya, antara lain,
mencantumkan dalil-dalil pada ucapan-ucapan yang menentang kemunkaran, penyusunan al-Qur’an dalam bentuk mush-haf demi menjaga kemurniannya, menulis ayat
Al-Quran dengan khat baru yang menggunakan titik dan baris agar tidak salah
mengartikan Al-Quran, membukukan kitab Hadits, khutbah dengan bahasa sistematis agar dimengerti maknanya
dan lain-lain.

 

2.    Mandub (disukai). Contohnya, Shalat
Tarawih sebulan penuh, pengajian rutin, membuat Al-Qur’an dalam program CD dan lain-lain.

 

3.    Haram (sesat). Contoh, Naik
haji selain ke Makkah, melakukan ritual dengan melarung sesaji di
pantai selatan, turut
merayakan dan memperingati Natal
(untuk merayakan hari kelahiran Nabi Isa) dan lain-lain.

 

4.    Makruh. Contoh, berwudhu’ dengan membiasakan lebih dari
tiga kali basuhan.

 

5.    Mubah. Contohnya
sangat banyak, meliputi segala
sesuatu yang tidak bertentangan dengan hukum agama.

 

 

Demikianlah
arti pengecualian dan kekhususan dari arti yang umum, sebagaimana kata Sahabat
Umar bin al-Khatthab RA mengenai jamaah tarawih (yang menjadi satu jamaah dan
satu imam), “inilah sebaik-baik bid’ah”.[7]

 

Coba
perhatikan, kedua ulama’ besar tersebut bahkan membagi bid’ah menjadi beberapa
klarifikasi. Jika kita
perhatikan, dalam hukum agama kita memang hanya menemukan dua hal; perintah dan
larangan. Akan tetapi sebuah perintah bisa berstatus wajib atau mungkin sekedar
anjuran. Demikian juga dengan larangan, bisa berupa haram atau sekedar makruh.
Maka perkara yang dianggap bid’ah akan lebih bijaksana apabila dipandang dengan
cara seperti ini. Semoga Allah merahmati Ibnu Hajar dan an-Nawawi.

 

Dengan
demikian, kami rasa tidaklah berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa orang
yang menolak Bid’ah Hasanah adalah termasuk golongan ahli Bid’ah Dhalalah.

 

Bid’ah
Dhalalah bermacam-macam, diantaranya adalah menafikan Sunnah, menolak ucapan
Sahabat Nabi dan menolak pendapat Khulafa’ur-rasyidin. Rasulullah SAW telah
memberitahukan bahwa akan muncul banyak perbedaan, beliaupun menyuruh kita
untuk berpegangan pada Sunnah beliau dan Sunnah Khulafa’ur-rasyidin. Sunnah
Rasul adalah membolehkan Bid’ah Hasanah, sedangkan Sunnah Khulafa’urrasyidin
adalah melakukan Bid’ah Hasanah.

 

Bila
kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah Hasanah, maka kita telah menafikan
dan membid’ahkan mush-haf Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran
pokok Agama Islam, karena tidak ada perintah Rasulullah SAW untuk membukukan
keduanya. Pembukuan itu hanyalah merupakan ijma’ (kesepakatan pendapat) para
Sahabat Nabi dan dilakukan setelah Rasulullah SAW wafat. Bahkan Rasulullah SAW
justru pernah melarang menulis Hadits karena hawatir dikira al-Qur’an.

 

Buku
Hadits, seperti Shahih al-Bukhari, shahih Muslim dan sebagainya muncul pada
zaman Tabi’in. Walaupun Nabi pernah melarang penulisan Hadits, namun mereka
tetap membukukannya, karena kehawatiran Nabi akan bercampurnya ayat al-Qur’an
dan Hadits pada akhirnya mudah dihindari dengan hadirnya peralatan tulis yang
semakin canggih. Sedangkan pembukuan itu dianggap penting untuk menjaga rawiyat
Hadits Nabi.

 

Demikian
pula Ilmu Musthalahul-hadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain. Semua iai adalah
Bid’ah yang tidak diperintahkan atau dicontohkan oleh Nabi. Namun ini termasuk
Bid’ah Hasanah, karena ilmu-ilmu itu disusun untuk kepentingan menjaga dan
memahami al-Qur’an dan Hadits.

 

Demikian
pula Taraddhi (ucapan Radhiyallahu’anhu yang artinya ‘semoga Allah
meridhainya’) untuk sahabat Nabi, hal itu tidak pernah diajarkan oleh
Rasulullah SAW, tidak pula oleh Sahabat. Walaupun Al-Quran menyebutkan bahwa
para sahabat Nabi diridhai oleh Allah, namun al-Qur’an dan Hadits tidak
memerintahkan Taraddhi untuk sahabat Nabi. Taraddhi adalah Bid’ah Hasanah yang
dibuat oleh Tabi’in karena kecintaan mereka pada para Sahabat Nabi.

 

Demikian
pula dengan Al-Quran yang kini telah dikasetkan, di CD-kan dan diprogram pada
hand phone. Al-Quran juga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ini semua adalah
Bid’ah, namun Bid’ah yang Hasanah, Bid’ah yang baik dan bermanfaat untuk kaum
muslimin. Tidak seorangpun memungkiri hal itu.

 

Coba
kita tarik mundur kebelakang tentang sejarah Islam, seandainya al-Quran tidak
dibukukan, apa kiranya yang terjadi pada perkembangan Islam? Jika al-Quran
masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat RA yang
hanya sebagian dituliskan, tentu akan muncul beribu-ribu versi al-Quran, karena
semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya berdasarkan riwayatnya sendiri.

 

Demikian
pula dengan Hadits-hadits Rasulullah SAW, seandainya ulama tidak menulis dan
membukukannya karena Nabi pernah melarang, seandainya tidak disusun pula ilmu
Mushthalah Hadits, niscaya kita akan sulit untuk mempercayai keshahihan sebuah
Hadits, karena semua orang bisa mengaku punya riwayat Hadits Shahih.

 

Rasulullah
SAW tahu bahwa dalam kondisi tertentu harus ada pembaharuan, makanya beliau menganjurkan Sunnah Hasanah (inisiatif baik).
Beliau juga tahu bahwa hal baru terkadang juga menimbulkan fitnah agama,
makanya beliau melarang Sunnah Sayyi’ah atau Bid’ah Dhalalah. Inilah hubungan antara perintah berijtihad dalam
urusan agama dan masalah bid’ah.

 

 

PENJELASAN
HADITS-HADITS

 

TENTANG
BID’AH

 

 

Ketika
sebagian orang menolak pembagian Bid’ah pada Bid’ah Hasanah dan Bid’ah
Sayyi’ah, maka itu berarti mereka menolak dan menyalahkan ulama’besar seperti
al-Imam asy-Syafi’i, Al Hafid Ibnu Hajar, al-Imam a-Nawawi dan Salafus-shalih
lainnya, seolah-olah Ulama besar itu hanya berpendapat berdasarkan hawa nafsu
dan mengesampingkan al-Qur’an dan Hadits.

 

Penah
terjadi dialog menarik. Berikut kami kutib dengan tanda “A” untuk wakil mereka
dan “B” untuk wakil kami.

 

 

A
  : Kami tidak menjelaskan pendapat kami
berdasarkan  

 

  pikiran kami, tetapi berdasarkan ulama’ salaf
juga.

 

B
  : Ulama’ salaf yang mana yang Anda
maksudkan ?

 

A
  : Ulama’ semisal Ibnu Taimiyah.

 

B
  : Bukankah telah jelas dalam pembahasan
yang lalu, bahwa 

 

  definisi Bid’ah  semisal Ibnu Taimiyah masih perlu 

 

  penjelasan lebih lanjut? Dan kemudian
diperjelas oleh

 

  definisi yang dikemukakan oleh As-Syafi’i.

 

A
  : Saya rasa definisi  dari Ibnu Taimiyah sudah jelas, tidak

 

            perlu penjelasan tambahan.

 

B
  : Berarti Anda menafikan adanya bid’ah
yang baik.

 

  Kalau demikian, apa pendapat Anda tentang
hal-hal baru

 

  seperti mush-haf al-Qur’an, pembukuan Hadits,
fasilitas

 

  Haji, Sekolah dan Universitas Islam, Murattal
dalam kaset  

 

  dan sebagainya yang tidak ada di zaman Nabi?

 

A
  : Itu bukan bid’ah

 

B
  : Lantas di sebut apa? Apakah hanya akan
didiamkan setiap

 

  hal-hal baru tanpa ada status hukum dari
agama (boleh

 

  tidaknya). Ini berarti Anda menganggap Islam
itu jumud

 

  dan ketinggalan zaman.

 

A
  : (Diam).. Baiklah, tetapi kami memiliki
ulama’ yang

 

       memiliki penjelasan  tidak 
seperti apa yang Anda jelaskan,

 

  ulama’ kami membagi Bid’ah menjadi dua ;
Bid’ah  agama

 

  dan Bid’ah Dunia.

 

B
  : Nah, memang seharusnya demikian.
Lantas,  siapa yang

 

  membagi bid’ah menjadi demikian?

 

A
  : Ulama’ semisal Albani dan Bin Baz.
Berdasarkan Hadits

 

  Rasulullah SAW, “Kalian lebih tahu urusan
dunia kalian.”

 

B
  : Hadits tersebut bukan hanya ulama Anda
yang mengetahui.

 

  Ulama’ salaf telah mengetahui Hadits
tersebut, namun

 

  mereka tidak menyimpulkan demikian, karena
itu berarti

 

  seakan-akan Nabi ‘mempersilahkan’ manusia
untuk 

 

  berkreasi dalam urusan dunia sesuka hati, dan
Nabi

 

  ‘mengaku’ tidak banyak tahu urusan dunia. Baiklah, tidak usah kita
berbicara terlalu jauh. Ketika ternyata Anda juga berdalih dengan pendapat
ulama Anda, berarti kita sama-sama bersandar pada ulama. Sebuah pertanyaan buat
Anda: Apakah Anda lebih percaya pada ulama Anda daripada ulama salaf yang hidup
di zaman yang lebih dekat kepada zaman Nabi SAW? Apakah Anda mengira bahwa
As-Syafi’i salah mendefinisikan Bid’ah -yang merupakan pokok agama maha penting-
kemudian didiamkan saja oleh ulama salaf lainnya tanpa bantahan? Apakah Anda
mengira Albani lebih banyak memahami Hadits dari Ibnu Hajar dan an-Nawawi?

 

A
  : Terdiam tidak menjawab.

 

B   : Kami rasa tidak mungkin ulama Anda, seperti
Ibnu

 

  Taimiyah, Albani dan Bin Baz sampai merasa
lebih benar

 

  dari asy-Syafi’i, an-Nawawi, Ibnu Hajar,
Al-Baihaqi dan

 

  ulama salaf lainnya. Mungkin ulama Anda hanya
sekedar

 

  memiliki pemikiran berbeda, sebagaimana
lazimnya ulama

 

  berbeda pendapat tanpa menyalahkan pendapat
lain.

 

  Kami rasa Anda saja yang berlebihan dan
kemudian

 

  menyalahkan ulama salaf demi membela pendapat
ulama

 

  Anda. Kalau benar demikian, maka berarti Anda
justru

 

 telah menistakan ulama Anda sendiri.

 

 

Orang yang gemar melontarkan kata bid’ah biasanya akan
berkata:
“Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga
para sahabatnya, tidak ada satupun diantara mereka yang mengerjakannya.
Demikian pula para tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Dan kalausekiranya
amalan itu baik, tentu mereka akan mendahului kita.”

 

Mereka juga berkata: “Kita kaum muslimin diperintahkan
untuk mengikuti Nabi, yakni mengikuti segala perbuatan Nabi. Semua yang tidak
pernah beliau lakukan, kenapa justru kita yang melakukannya? Bukankah kita
harus menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW, para
sahabat dan ulama-ulama salaf? Melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan
oleh Nabi adalah Bid’ah”.

 

Kaidah-kaidah seperti itulah yang sering mereka jadikan
pegangan dan mereka pakai sebagai perlindungan, juga sering mereka jadikan
sebagai dalil dan hujjah untuk melegitimasi tuduhan Bid’ah terhadap semua
amalan baru. Mereka menganggap setiap hal baru -meskipun ada maslahatnya dalam
agama- sebagai Sesat, haram, munkar, syirik dan sebagainya’,  tanpa mau
mengembalikannya kepada kaidah-kaidah atau melakukan penelitianterhadap
hukum-hukum pokok (dasar) agama.

 

Ucapan seperti diatas adalah ucapan yang awalnya haq
namun akhirnya batil, atau awalnya shahihnamun akhirnya fasid
(rusak). Pernyataan bahwa Nabi SAW atau para sahabat tidak melakukan si anu
adalah benar. Akan tetapi pernyataan bahwa semua yang tidak dilakukan oleh Nabi
dan sahabat itu sesat adalah sebuah Istimbath (penyimpulan hukum) yang
keliru.

 

Karena tidak-melakukan-nya Nabi SAW atau salafus shalih
bukanlah dalil keharaman amalan tersebut. Untuk ‘mengecap’ sebuah amalan boleh
atau tidak itu membutuhkan perangkat dalil dan sejumlah kaidah yang tidak
sedikit.

 

Kaidah mereka yang menyatakan bahwa setiap amalan yang
tidak dikerjakan Nabi dan sahabat adalah Bid’ah hanya berdalih dengan
Hadits-hadits bid’ah dalam pengertian zhahir, tanpa merujuk pada penjelasan
yang mendalam dari ulama salaf.

 

Al-Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits-hadits shahih
mengenai suatu persoalan harus dihubungkan antara satu dengan yang lain, untuk
dapat diketahui dengan jelas tentang pengertiannya yang mutlak (lepas)
dan yang muqayyad (terikat). Dengan demikian maka semua yang
diisyaratkan oleh Hadits-hadits itu dapat dilaksanakan (dengan benar).”

 

Ketika kita mengemukakan pendapat ulama, sebagian orang
membantah dengan penyataan bahwa Hadits lebih utama untuk diikuti dari pendapat
siapapun. Itu berarti ia mengira bahwa pendapat ulama itu tidak berdasarkan
al-Qur’an atau Hadits, melainkan berdasarkan akal atau hawa nafsu. Maka
takutlah kepada Allah dan janganlah bersu’uzhon pada ulama shaleh.

 

Baiklah, mari kita telaah Hadits-hadits terkait dengan
pembahasan ini, kita lihat saja apakah mereka berpendapat berdasarkan Hadits
sedangkan ulama shaleh itu hanya berpendapat dengan akal atau hawa nafsu.

 

 

***

 

 

 

HADITS
PERTAMA TENTANG BID’AH

 

 

Rasulullah
SAW bersabda:

 

كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

 

“Setiap
yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’. (HR.Abu Daud dan Tirmidzi).

 

Al-Imam
An-Nawawi, didalam Syarah Sahih Muslim, mengomentari Hadits ini dan berkata:
“Ini adalah sebuah kaidah umum yang membawa maksud khusus (‘Ammun makhsus).
Apa yang dimaksudkan dengan ‘perkara yang baru’ adalah yang bertentangandengan
Syari‘at. Itu dan itu saja yang dimaksudkan dengan Bid‘ah”.[8]

 

Demikian juga ayat Allah juga
menjelaskan, ada bid’ah yang terpuji, sebagaimana firman-Nya :

 

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ
اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا
عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاء رِضْوَانِ اللهِ

 

“Dan kami jadikan di hati mereka
(Hawariyyun pengikut Isa) rasa kasih dan sayang serta Rahbaniyah yang mereka
buat, Kami tidak mewajibkan rahbaniyah itu, (mereka tidak melakukan itu)
kecuali untuk mencari keridhaan Allah”. (QS. Al-Hadid : 27)

 

Berkatalah KH. Ali Badri Azmatkhan:

 

Dalam ayat itu Allah menjelaskan bahwa Ia
telah mengkaruniai Hawariyyun dengan tiga perkata. Pertama, rasa kasih, yakni
berhati lembut sehingga tidak mudah emosi. Kedua, rasa sayang, yakni mudah
tergerak untuk membantu orang lain. Ketiga, Rahbaniyah, yakni
bersungguh-sungguh didalam mengharap ridha Allah, mereka berupaya dengan banyak
cara untuk menyenangkan Allah, walaupun cara itu tidak diwajibkan oleh Allah.

 

Allah SWT memang menyebut Rahbaniyah itu
sebagai Bid’ah yang dibuat oleh Hawariyun, itu bisa dipahami dari kalimat ibtada’uuhaa
(mereka mengada-adakannya). Namun Bid’ah yang dimaksud adalah Bid’ah Hasanah.
Hal ini ditunjang dengan dua alasan:

 

Pertama, Rahbaniyah disebut dalam rentetan
amal baik menyusul dua amal baik sebelumnya, yaitu ra’fatan (rasa kasih)
dan rahmatan (rasa sayang). Kalau memang Allah mau bercerita tentang
keburukan mereka akibat membuat Rahbaniyah, tentu susunan kalimatnya akan
memisahkan antara kasih sayang dan Rahbaniyah. Sedangkan kalimat dalam ayat itu
justru menggabungkan Rahbaniyah dengan kasih sayang sebagai karunia yang Allah
berikan pada Hawariyun.

 

Kedua, Allah SWT berkata “Rahbaniyah itu
tidak Kami wajibkan”. Tidak diwajibkan bukan berarti dilarang, melainkan bisa
jadi hanya dianjurkan atau dinilai baik. Ini mengisyaratkan bahwa Rahbaniyah
itu adalah cara atau bentuk amalan yang tidak diperintah atau dicontohkan oleh
Nabi Isa, akan tetapi memiliki nilai baik dan tidak bertentangan dengan ajaran
Isa. Bukti bahwa Allah SWT membenarkan Bid’ah mereka berupa Rahbaniyah adalah
Allah SWT mencela mereka karena mereka kemudian meninggalkan Rahbaniyah itu. Ketika
membuat Rahbaniyah menunjukkan upaya mereka untuk mendapat ridha Allah, maka
meninggalkan Rahbaniyah menunjukkan kemerosotan upaya mereka untuk mendapat
ridha Allah.[9]

 

Sebagian orang berkata: Ketika Nabi SAW
berkata ‘semua bid’ah adalah sesat’, bagaimana mungkin ada orang yang berkata
‘tidak, tidak semua bid’ah sesat, tetapi ada yang baik’. Apakah ia merasa lebih
tahu dari Rasulullah? Apakah ia tidak membaca ayat:

 

 

يَاأَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَتَرْفَعُوْا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ

 

 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi..”  (Al-Hujarat : 2) 

 

 

Mereka menyalahkan orang yang bersandar
pada pendapat ulama salaf dan menganggap orang itu lebih mengutamakan ulama
daripada Nabi. Hal ini merupakan pemikiran yang sempit dan termasuk penistaan
terhadap kaum muslimin. Ada berapa juta muslimin shaleh yang meyakini keilmuan
dan ketaqwaan al-Imam asy-Syafi’i sang penolong Sunnah (Nashirus-sunnah), Ibnu
Hajar sang pakar yang hafal puluhan ribu Hadits beserta sanadnya, an-Nawawi
sang penghasil puluhan ribu lembar tulisan ilmiah dan sebagainya? Sejarah
bahkan mencatat bahwa islamisasi di belahan dunia dilakukan oleh ulama yang
sependapat dengan mereka, termasuk Walisongo yang menyebarkan Islam di Nusantara.
Tiba-tiba mereka dihujat oleh orang yang belajar dan pengabdiannya bahkan tidak
melebihi seperempat yang dimiliki ulama salaf itu. Sungguh mereka tidak
memiliki rasa hormat pada para pejuang Islam. Seandainya mereka tahu seberapa
besar peranan para pejuang itu dalam perkembangan dunia Islam, jangankan para
pejuang itu hanya berbeda pendapat, seandainya jelas salah pun mereka tidak
pantas dihujat, karena kita yakin mereka tidak sengaja bersalah. Apalagi
pendapat mereka bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

 

Kalimat “Kullu”
Tidak Berarti Semua Tanpa Kecuali

 

Dalam bahasa Arab, Kulluh berarti semua.
Namun dalam penggunaan, tidak semua kullu berarti semua tanpa kecuali. Ada
banyak ayat al-Qur’an yang menggunakan kalimat “kullu” akan tetapi tidak
bermaksud semua tanpa kecuali. Diantaranya:

 

 

1. Allah SWT berfirman:

 

فَلَمَّا
نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى
إِذَا فَرِحُوْا بِمَا أُوْتُوْا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ
مُبْلِسُوْنَ 

 

“Maka
tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun
membukakan pintu-pintu dari segala sesuatu untuk mereka,
sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada
mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka
terdiam berputus asa.” (QS. al-An’am
: 44)

 

Meskipun Allah SWT menyatakan abwaba
kulli syai’ (pintu-pintu segala sesuatu), akan tetapi tetap ada pengecualiannya, yaitu pintu

rahmat, hidayah dan ketenangan jiwa yang tidak pernah dibukakan untuk orang-orang
kafir itu. Kalimat “kulli syai” (segala sesuatu)adalah umum, tetapi
kalimat itu bermakna  khusus.

 

2. Allah SWT berfirman:

 

 

أَمَّا
السَّفِيْنَةُ لِمَسَاكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ
أَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُدُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْباً

 

 

“Adapun
perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud
merusak perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang Raja yang mengambil semua perahu
dengan paksa.” (QS. al-Kahfi : 79)

 

 

Meskipun Allah SWT mengunakan kalimat kulla ssafinatin
(semua perahu), akan tetapi tetap ada
pengecualiannya, yaitu perahu yang bocor, karena Raja yang diceritakan dalam
ayat itu tidak merampas kapal yang bocor, bahkan Nabi Khidhir sengaja
membocorkan perahu itu agar tidak dirampas oleh Raja.

 

3. Allah berfirman :

 

تُدَمِّرُ
كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوْا لاَ يُرَى إِلاَّ مَسَاكِنُهُمْ
كَذلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ

 

“Yang
menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah
mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal
mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.” (ََQS. Al-Ahqaf : 25)

 

Meskipun Allah SWT menyatakan kulla
syai’ (segala sesuatu), akan tetapi tetap ada pengecualiannya, yaitugunung-gunung,

langit dan bumi yang tidak ikut hancur.

 

Allah berfirman :

 

إِنِّيْ وَجَدْتُ امْرَأَةً
تَمْلِكُهُمْ وَأُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ

 

 

“Sesungguhnya aku
menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala
sesuatu
serta mempunyai singgasana yang besar.” (QS.

An-Naml:23)

 

Meskipun
Allah SWT menyatakan kulli
syai’ (segala sesuatu), akan tetapi tetap ada pengecualiannya, karena Ratu

Balqis tidak diberi segala sesuatu tak terkecuali, sebanyak apapun kekayaan
Balqis tetap saja terbatas.

 

Ayat-ayat
diatas membuktikan bahwa, dalam konteks al-Qur’an, kalimat “kullu” juga bisa
berarti “semua dengan pengecualian”, sebagaimana lazimnya dalam penggunaan
bahasa Arab dan bahasa lainnya. Masihkah Ada yang menyalahkan ulama salaf
semisal asy-Syafi’i karena menafsirkan kalimat “kullu”dalam Hadits “Kullu bid’atin” dengan metode berfikir yang jernih
dan ditunjang dengan perangkat pendukung dan dalil-dalil yang jelas.

 

Selain itu, banyak pula ungkapan dalam
al-Qur’an atau Hadits yang sepintas nampak bermakna umum namun sebenarnya
bermakna khusus. Perlu dipahami bahwa hal ini adalah bisa dalam penggunaan
bahasa pada umumnya, sehingga kita tidak boleh kaku karena terpaku dengan
sebuah kalimat tanpa memperhatikan istilah dan susunan bahasa. Bahkan kita
harus memperhatikan ayat dan Hadits lain barang kali ada maksud tkhshish
(membatasi) dalam kalimat umum atau sebaliknya.

 

Mari kita simak contoh-contoh berikut ini.

 

 

1. Allah berfirman:

 

مَنْ
كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعاً

 

 

 

“Barang siapa
yang menginginkan kekuatan maka hanya
milik Allah-lah kekuatan itu semuanya.” (QS. Fathir:

10)

 

Dari pernyataan ayat diatas, sepintas kita
memahami bahwa kita tidak boleh mengatakan bahwa kekuatan itu milik Allah dan
Rasul-Nya, karena dalam ayat itu disebutkan bahwa kekuatan itu semuanya milik
Allah, semuanya dan berarti tidak ada sedikitpun kekuatan yang boleh dikatakan
milik selain Allah. Namun coba perhatikan ayat berikut ini:

 

وَللهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَلكِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ لاَيَعْلَمُوْنَ

 

“.. padahal kekuatan itu hanyalah bagi
Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik
itu tiada mengetahui.” (QS. al-Munafiqun : 8)

 

Ternyata
ayat ini menyatakan bahwa kekuatan adalah milik Allah dan Rasulnya serta
orang-orang mukmin. Memang, izzah (kekuatan) Allah dan izzah Rasul adalah dua
hal berbeda. Namun yang kita maksud di sini adalah penggunaan kalimat izzah
untuk disebut milik Allah dan selain Allah. Kalau membaca ayat yang pertama,
nampaknya kita tidak boleh mengatakan “izzah milik Allah dan Rasul”, akan
tetapi kalau membaca ayat yang kedua maka kita bahkan boleh mengatakan “izzah
milik Allah dan Rasul serta orang-orang mukmin”, karena Allah sendiri yang
mengatakan demikian.

 

 

2. Allah SWT berfirman:

 

إِنَّكُمْ وَمَا
تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُوْن

 

“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah umpan
(bahan bakar) neraka jahannam, kalian pasti masuk kedalamnya.” (QS. al-Anbiya : 98)

 

Ayat ini menyatakan bahwa orang yang menyembah selain
Allah akan masuk neraka bersama sesembahannya. Kalau ayat
itu dipahami begitu saja tanpa
mempertimbangkan ayat yang lain, maka akan dipahami bahwa Nabi Isa dan bundanya
juga akan masuk neraka, karena mereka disembah dan dipertuhankan oleh orang
Nasrani. Begitu juga para malaikat yang oleh kaum sebagian musyrikin disembah
dan dianggap sebagai tuhan-tuhan mereka.

 

 

3. Rasulullah SAW. bersabda:

 

“Orang yang menunaikan shalat
sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam tidak akan masuk neraka”.
(HR. Muslim)

 

Hadits ini menyatakan bahwa orang yang shalat shubur dan
ashar akan selamat dari neraka. Kalau Hadits ini dipahami begitu saja tanpa mempertimbangkan ayat dan
Hadits yang lain, maka akan dipahami bahwa kita akan selamat dari neraka
walaupun tidak shalat zhuhur, maghrib dan isya’ asalkan shalat shubuh dan
ashar.

 

 

4. Rasulullah SAW bersabda:

 

“Sesungguhnya biji hitam ini
(habbatus-sauda’) adalah obat bagi semua penyakit, kecuali mati”[10].

 

Para mufassirin telah  menegaskan bahawa kalimat ‘umum’ yang
digunakan dalam Hadits ini merujukkepada sesuatu yang ‘khusus’. Maksud
Hadits ini sebenarnya ialah “banyakpenyakit” (bukan semua penyakit)
bisa disembuhkan dengan habbatus-sauda’, walaupun kalimat yang dipakai
adalah kaliamat ‘umum’ (kullu yang berarti semua).

 

 

 

***

 

 

 

HADITS
KEDUA TENTANG BID’AH

 

 

Rasulullah SAW bersabda:

 

 

مَنْ
أحْدَثَ فِي اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري و
مسلم)

 

“Barang siapa
yang membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber
darinya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

 

Mari kita telaah makna Hadits diatas,
benarkah Hadits diatas bisa menjadi justifikasi membid’ahkan setiap amalan baru
dalam agama?

 

Coba
anda perhatikan pada kalimat “yang tidak bersumber darinya” pada Hadits
tersebut, kira-kira apa
makna dari kalimat tersebut. Agar menjadi jelas, bandingkan dua kalimat berikut
ini:

 

1.   
“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah
(agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka ia tertolak.”

 

2.   
“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah
(agama) kami ini, maka ia tertolak.”

 

 

KH. Ali Badri
Azmatkhan berkata:

 

“Apabila
kalimat ‘yang tidak bersumber darinya’ dibuang,
maka sepintas akan dipahami bahwa hal baru apapun akan disebut Bid’ah, walaupun
hal baru itu masih berisikan nilai syari’at. Dan kalaupun misalnya kalimat
‘yang tidak bersumber darinya’ itu benar-benar tidak disebutkan dalam Hadits
ini, tentu kita juga tidak bisa memfonis semuanya Bid’ah berdasarkan Hadits
ini, karena, untuk memahami sebuah Hadits, kita juga harus mempertimbangkan
Hadits lain, baik Hadits Qauli (perkataan Nabi) maupun Hadits Iqrari
(pembenaran Nabi terhadap tindakan Sahabat).

 

Kemudian, ketika Nabi katakan ‘yang tidak
bersumber darinya’, itu berarti ada hal baru yang bersumber dari syari’at dan
ada hal baru yang tidak bersumber dari syari’at. Kalau yang dilarang adalah hal
baru yang tidak bersumber dari syari’at, maka hal baru yang bersumber dari
syari’at tidak dilarang.

 

Lantas apa yang dimaksud dengan hal baru
yang bersumber dari syari’at? Kalau hal baru yang bersumber dari syari’at itu
dicontohkan dengan shalat malam, maka semua orang tahu bahwa shalat malam itu
bukan hal baru. Kalau hal baru yang bersumber dari syari’at itu diartikan ihya’ussunnah
(menghidupkan Sunnah yang sudah lama ditinggalkan orang), maka secara bahasa
itu juga tidak benar, karena memulai kebiasaan lama itu bukan termasuk hal
baru.

 

Maka tidak ada lain hal baru yang dimaksud
kecuali cara baru yang tidak dicontohkan Nabi, namun tidak bertentangan dengan
syari’at dan bahkan memiliki nilai syari’at. Hal ini diperkuat dengan banyaknya
hal baru yang dilakukan para shabat Nabi, misalnya menyusun atau menambah doa
selain susunan doa yang dicontohkan Nabi, Ta’rif (memperingati hari Arafah)
yang dilakukan oleh Abdullah bin Abbas dengan menggelar kemah dan dzikir
bersama pada tanggal 9 Dzulhijjah (ketika tidak sedang berhaji), shalat tarawih
dengan satu imam di Masjidil-haram oleh para sahabat di zaman Umar bin
al-Khatthab (sedangkan pada zaman Nabi tarawihnya berkelompok-kelompok di
sudut-sudut Masjidil-haram), dan banyak lagi misal yang bisa kita temui dalam
kitab-kitab Tafsir, kitab Hadits dan Syuruh (kitab syarah/tafsir Hadits).

 

Kepada siapapun yang belum pernah membaca
tuntas kitab-kitab Tafsir, kitab Hadits dan Syuruh, bila ia mau mentahqiq
sebuah permasalahan, saya sarankan untuk membaca semuanya dengan tuntas, agar
terbuka baginya cakrawala berfikir sebagaimana ulama salaf. Logikanya,
bagaimana mungkin pemikiran seorang sarjana atau doktor yang hanya pernah
membaca tuntas beberapa judul buku bisa lebih tajam dari pemikiran asy-Syafi’i,
an-Nawawi, al-Ghazali, Ibnu Hajar al-Asqalani dan sebagainya. Mereka adalah
ulama besar yang berhasil mengisi khazanah keilmuan Islam dengan karya-karya
besar yang bukan hanya dikagumi umat Islam saja. Dan satu hal yang harus kita
sadari, yaitu bahwa karya-karya itu tidak lahir dari upaya yang ringan, mereka
tidak belajar hanya sepuluh tahun, mereka tidak meneliti hanya sepuluh tahun,
mereka tidak hanya membaca seribu Hadits, tapi meneliti puluhan tahun dan
puluhan ribu Hadits. Tidak mudah bagi mereka untuk memutuskan sebuah
kesimpulan, tapi sebagian akademisi zaman sekarang begitu mudahnya menyalahkan
ulama salaf, padahal target belajarnya tidak seserius ulama salaf, targetnya
hanya gelar ‘Lc’, ‘MA’, ‘Doktor’ dan sebagainya”.[11]

 

Agar lebih
jelas  lagi, mari kita lihat contoh
amalan yang memiliki sumber agama atau dalil baik umum maupun khusus dan amalan
yang tidak memiliki sumber bahkan bertentangan dengan agama berikut ini.

 

 

Amalan Baru
Yang Memiliki Sumber/dalil

 

AMALAN BARU
(Tidak Ada Di
Zaman Nabi )
SUMBERNYA *
Mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu
mushaf
Hadits, “Barangsiapa memudahkan urusan kaum muslimin
maka Allah akan memudahkan urusannya.”
Memberi  titik dan harakat pada mush-haf Al-Qur’an
Ibid
Membaca doa-doa bervariasi dalam
sujud dan Qunut (misalnya berdoa untuk mujahidin Palestina)
Hadits “Sedekat-dekatnya makhluk
dengan Tuhannya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa.”
Menyusun Ilmu fiqih dalam sistem
madzhab atau per bab agar mudah dipelajari dan khutbah dalam bahasa setempat
Hadits, “berkatalah kepada
seseorang berdasarkan kemampuan akalnya.”
Mengumpulkan muslimin pada suatu
momen dengan diisi tilawah Qur’an atau shalawat Nabi dsb.
Jelas banyak
dalilnya.
Membuat
Al-Qur’an dalam bentuk VCD
Hadits, “Barang siapa yang
memudahkan urusan kaum muslimin maka Allah akan memudahkan urusannya.”
Memberi gelar pada tokoh agama
dengan sebutan Syaikh, Ustadz, Kiai, Ajengan dsb.
Perintah agama untuk memanggil
orang dengan penghormatan dan panggilan yang disukai

 

*Diantaranya
saja

 

 

Amalan Baru Yang Tidak Memiliki
Dalil

 

Atau Bertentangan Dengan Syari’at

 

Melakukan
shalat karena adanya bulan purnama
Tidak ada
sumbernya
Adzan dan
Iqamat ketika akan mandi, makan dll
Tidak ada
sumbernya
Shalat dengan
mengangkat kaki sebelah
Bertentangan
dengan Hadits-Hadits shalat
Shalat dengan
berbahasa selain bahasa arab
Tidak ada
sumbernya bahkan bertentangan dengan Hadits-hadits shalat

 

 

 

***

 

 

HADITS
KETIGA

 

 

Rasulullah
SAW bersabda:

 

 

وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً
ضَلاَلَةً لاَ تُرْضِيْ اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ
عَمِلَ بِهَا …

 

“.. Dan barangsiapa mengadakan Bid’ah yang sesat yang tidak
diridhoi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, maka ia mendapat (dosanya) dan sebanyak
dosa orang lain yang ikut mengerjakannya.“ )HR.

Tirmidzi(

 

Dalam
Hadits diatas terdapat kalimat “Bid’ah yang sesat”. Dalam  Hadits tersebut kata ‘Bid’ah’ dan ‘sesat’
adalah mudhaf dan mudhaf ‘ilaih (gramer Arab). Bila merujuk pada
ilmu gramer bahasa Arab, bab “Mudhaf” dan “Na’at-man’ut”, susunan kalimat itu
memberi arti adanya Bid’ah yang tidak sesat. Bahkan dalam bahasa Indonesiapun
demikian. Kalau Anda berkata “Saya tidak suka tali yang panjang”, itu berarti
menurut Anda ada tali yang pendek.

 

Sebagai
penutup bab ini, mari kita renungkan
firman Allah SWT berikut ini :

 

وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ
وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهَُانْتَهُوْا

 

‘Apa saja yang dibawaoleh
Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa saja yang dilarang oleh Rasul maka
berhentilah (mengerjakannya). (QS.

Al-Hasyr : 7)

 

 

Coba
perhatikan, ayat diatas dengan
jelas menyebutkan bahwa perintah agama adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah
SAW, dan yang dinamakan larangan agama adalah apa yang memang dilarang oleh
Rasulullah SAW. Dalam ayat diatas ini tidak dikatakan:

 

وَماَلَمْ
يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا

 

“Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakan oleh
Rasulul maka berhentilah (mengerjakannya).”

 

 

Juga dalam Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-Imam
al-Bukhari:

 

 

اِذَا أمَرْتُكُمْ بِأمْرٍ
فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْئٍ فَاجْتَنِبُوْهُ

 

“Jika aku menyuruhmu melakukan
sesuatu maka lakukanlah semampumu, dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu,
maka jauhilah ia.”

 

Perhatikan, dalam Hadits ini Rasulullah SAW tidak
mengatakan:

 

وَاِذَا لَمْ أفْعَلْ شَيْئًا
فَاجْتَنِبُوْهُ

 

“Dan apabila sesuatu itu tidak
pernah aku kerjakan maka jauhilah ia!’

 

 

Jadi, pemahaman melarang semua hal baru (Bid’ah) dengan
dalil Hadits “Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah Bid’ah” dan
Hadits “Barang siapa yang
membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ..“ adalah pemahaman yang tidak benar, karena banyak

pernyataan atau ikrar dari Rasulullah SAW dalam Hadits-hadits yang lain yang
menyimpulkan adanya restu beliau terhadap banyak hal baru atas inisiatif para
sahabat. Dari itu, para ulama menarik kesimpulan bahwa Bid’ah (prakarsa) sesat
ialah yang bersifat men-syari’atkan hal baru dan menjadikannya sebagai bagian
dari agama tanda seizin Allah Allah SWT (QS Asy-Syura : 21), serta
prakarsa-prakarsa yang bertentangan dengan yang telah digariskan oleh syari’at
Islam, misalnya sengaja shalat tidak menghadap kearah kiblat, shalat dimulai dengan salam
dan diakhiri denga takbir, melakukan shalat dengan satu sujud saja, melakukan
shalat shubuh dengan sengaja sebanyak tiga raka’at dan sebagainya. Semuanya ini
dilarang oleh agama karena bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh
syari’at.

 

Makna Hadits yang mengatakan “mengada-adakan
sesuatu” adalah masalah pokok-pokok agama yang telah ditetapkan oleh

Allah dan Rasul-Nya. Itulah yang tidak boleh dirubah atau ditambah. Misalnya
ada orang mengatakan bahwa shalat wajib itu dua kaili sehari, padahal agama
menetapkan lima kali sehari. Misalnya juga, orang yang sanggup -tidak
berhalangan- berpuasa wajib pada bulan Ramadhan boleh tidak perlu puasa pada
bulan tersebut, tapi bisa diganti dengan puasa pada bulan apa saja. Inilah yang
dinamakan menambah dan mengada-adakan agama, bukan masalah-masalah nafilah,
sunnah atau lainnya yang tidak termasuk pokok agama.

 


 

[1]       “Al-Munjid fil
Lughah wal-A’lam“, alpabet ب

 

[2]       Ibnu Hajar
al-Asqalani, Fath al-Bari, XIII : 253.

 

[3]       Iqthidho
Shirath al-Mustaqim hal. 272

 

[4]
      Tafsir al-Manar, IX: 60.

 

[5]       Ibnu Hajar
al-Asqalani, Fath al-Bari, XV : 179,  Dar
al-Fikr, Beirut

 

[6]       Ibnu Hajar
al-Asqalani, Fath al-Baari, IV : 318.

 

[7]
    Syarh
an-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, VI : 154-155, Dar Ihya Turats al-Arab, Beirut.

 

[8]       An-Nawawi, Syarah Sahih
Muslim, VI : 154.

 

[9]       KH. Ali
Badri Azmatkhan, Klarifikasi Masalah Khilafiyah.

 

[10]     Diriwayatkan
dari ‘Aiysah dan Abu Hurairah oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah
dan Ahmad melalui sembilan belas periwayatan.

[11]     KH. Ali Badri
Azmatkhan, Klarifikasi Masalah Khilafiyah.

10 Agustus 2012

Kitab Ilmu

oleh alifbraja

Bab Ke-1: Keutamaan Ilmu. Firman Allah, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Mujaadilah: 11), dan, “Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”(’Thaahaa: 114)

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari tidak membawakan satu hadits pun.”)

Bab Ke-2: Seseorang yang ditanya mengenai ilmu pengetahuan, sedangkan ia masih sibuk berbicara. Kemudian ia menyelesaikan pembicaraannya, lalu menjawab orang yang bertanya.

42. Abu Hurairah r.a. berkata, “Ketika Rasulullah saw. di suatu majelis sedang berbicara dengan suatu kaum, datanglah seorang kampung dan berkata, ‘Kapankah kiamat itu?’ Rasulullah terus berbicara, lalu sebagian kaum berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakan olehnya, namun beliau benci apa yang dikatakannya itu.’ Dan sebagian dari mereka berkata, ‘Beliau tidak mendengarnya.’ Sehingga, ketika beliau selesai berbicara, maka beliau bersabda, ‘Di manakah gerangan orang yang bertanya tentang kiamat?’ Ia berkata, ‘Inilah saya, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Apabila amanat itu telah disia-siakan, maka nantikanlah kiamat.’ Ia berkata, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’ Beliau bersabda, ‘Apabila perkara (urusan) diserahkan (pada satu riwayat disebutkan dengan: disandarkan 7/188) kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat.”

Bab Ke-3: Orang yang Mengeraskan Suaranya mengenai Ilmu Pengetahuan

43. Abdullah bin Amr r.a. berkata, “Nabi saw. tertinggal (dari kami 4/91) dalam suatu perjalanan yang kami tempuh lalu beliau menyusul kami, dan kami telah terdesak oleh shalat (pada satu riwayat disebutkan: shalat ashar). Kami berwudhu, dan ketika kami sampai membasuh kaki, lalu beliau menyeru dengan suara yang keras, ‘Celakalah bagi tumit-tumit karena api neraka!’ (Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali).”

Bab Ke-4: Perkataan perawi hadits dengan haddatsanaa ‘telah berbicara kepada kami … ‘ atau akhbaranaa ‘telah memberitahukan kepada kami … ‘ atau anba-anaa ‘telah menginformasikan kepada kami … ‘.

44. Al-Humaidi[1] berkata, “Menurut Ibnu Uyainah, perkataan haddatsanaa, akhbaranaa, anba-anaa, dan sami’tuu adalah sama (saja).”

13. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Telah berbicara kepada kami Rasulullah saw., sedang beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan.”[2]

14. Syaqiq berkata, “Dari Abdullah, ia berkata, ‘Saya mendengarkan Nabi saw. suatu perkataan …’”[3]

15. Hudzaifah berkata, “Rasulullah saw. telah berbicara kepada kami dengan dua hadits.”[4]

16. Abul Aliyah berkata, “Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw mengenai apa yang beliau riwayatkan (adalah) dari Tuhannya Azza wa Jalla.”[5]

17. Anas berkata, “Dari Nabi saw., beliau meriwayatkannya dari Tuhanmu Azza wa Jalla.”[6]

18. Abu Hurairah r.a. berkata, “Dari Nabi saw., beliau mcriwayatkannya dari Tuhannya Azza wa Jalla.”[7]

(Saya berkata, “Dalam hal ini dia [Imam Bukhari] meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan pada [65 -At-Tafsir / 14 Surah / 2 – BAB]).”

Bab Ke-5: Imam Melontarkan Pertanyaan kepada Para Sahabatnya untuk Menguji Pengetahuan Mereka

(Saya berkata, “Mengenai hal ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Ibnu Umar yang diisyaratkan di atas.”)

Bab Ke-6: Keterangan tentang Ilmu dan Firman Allah, “Katakanlah, Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu. ” (Thaahaa: 114)

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari tidak menyebutkan sebuah hadits pun.”)

Bab Ke-7: Membacakan dan Mengkonfirmasikan kepada Orang yang Menyampaikan Berita

Al-Hasan, Sufyan, dan Malik berpendapat boleh membacakan.[8]

45. Dari Sufyan ats-Tsauri dan Malik, disebutkan bahwa mereka berpendapat boleh membacakan dan mendengarkan.

46. Sufyan berkata, “Apabila dibacakan kepada orang yang menyampaikan suatu berita, maka tidak mengapa dia berkata, ‘Ceritakanlah kepadaku’, dan “Saya dengar’. Sebagian mereka[9] memperbolehkan membacakan kepada orang alim dengan alasan hadits Dhimam bin Tsa’labah[10] yang berkata kepada Nabi saw., “Apakah Allah memerintahkanmu melakukan shalat?” Beliau menjawab, “Ya.” Sufyan berkata, “Maka, ini adalah pembacaan kepada Nabi saw.. Dhimam memberitahukan hal itu kepada kaumnya, lalu mereka menerimanya.”

Malik berargumentasi dengan dokumen yang dibacakan kepada suatu kaum, lalu mereka berkata, “Si Fulan telah bersaksi kepada kami”, dan hal itu dibacakan kepada mereka. Dibacakan kepada orang yang menyuruh membaca, lalu orang yang membaca berkata, “Si Fulan menyuruhku membaca.”

47. Al-Hasan berkata, ‘Tidak mengapa membacakan kepada orang alim.”

48. Sufyan berkata, “Apabila dibacakan (dikonfirmasikan) kepada ahli hadits (perawi, orang yang menyampaikan hadits / berita), maka tidak mengapa dia berkata, ‘Ceritakanlah kepadaku.’”

49. Malik dan Sufyan berkata, “Membacakan (mengkonfirmasikan) kepada orang yang alim dan bacaan orang alim itu sama saja.”

50. Anas bin Malik r.a. berkata, “Ketika kami duduk dengan Nabi saw di masjid, masuklah seorang laki-laki yang mengendarai unta, lalu mendekamkan untanya di dalam masjid, dan mengikatnya. Kemudian ia berkata, ‘Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?’ Nabi saw. bertelekan di antara mereka, lalu kami katakan, ‘Laki-laki putih yang bertelekan ini.’ Laki-laki itu bertanya, ‘Putra Abdul Muthalib?’ Nabi bersabda kepadanya, ‘Saya telah menjawabmu.’ Ia berkata, ‘Sesungguhnya saya bertanya kepadamu, berat atasmu namun janganlah diambil hati olehmu terhadap saya.’ Beliau bersabda, ‘Tanyakan apa-apa yang timbul dalam dirimu.’ Ia berkata, ‘Saya bertanya kepadamu tentang Tuhanmu, dan Tuhan orang-orang yang sebelummu. Apakah Allah mengutusmu kepada seluruh manusia?’ Nabi bersabda, ‘Ya Allah, benar.’ Ia berkata, ‘Saya menyumpahmu dengan nama Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk shalat lima waktu dalam sehari semalam?’ Beliau bersabda, ‘Ya Allah, benar.’ Ia berkata, ‘Saya menyumpahmu dengan nama Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk puasa bulan ini (Ramadhan) dalam satu tahun?’ Beliau bersabda, ‘Ya Allah, benar.’ Ia berkata, ‘Saya menyumpahmu dengan nama Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk mengambil zakat ini dari orang-orang kaya kita, lalu kamu bagikan kepada orang-orang fakir kita?’ Beliau bersabda, ‘Ya Allah, benar.’ Lalu laki-laki itu berkata, ‘Saya percaya pada apa yang kamu bawa dan saya adalah utusan dari orang yang di belakang saya dari kalangan kaum saya. Saya Dhimam bin Tsa’labah, saudara bani Sa’ad bin Bakr.’”

Bab Ke-8: Keterangan tentang Perpindahan (Buku-Buku Ilmu Pengetahuan) dari Tangan ke Tangan, dan Penulisan Ilmu Pengetahuan oleh Ahli-Ahli Ilmu Pengetahuan dari Berbagai Negeri

Anas berkata, “Utsman menyalin beberapa mushhaf, lalu mengirimkannya ke berbagai wilayah.”[11]
Abdullah bin Umar, Yahya bin Said, dan Malik berpendapat bahwa yang demikian itu diperbolehkan.[12]
Beberapa Ulama Hijaz mendukung pendapat itu berdasarkan hadits Nabi saw. ketika beliau mengirimkan surat dengan perantaraan komandan pasukan dan beliau berkata, “Janganlah kamu bacakan surat ini sebelum kamu sampai di tempat ini dan ini.” Setelah sampai di tempat itu, komandan itu membacakannya kepada orang banyak, dan dia memberitahukan kepada mereka apa yang diperintahkan oleh Nabi saw.[13]

51. Abdullah bin Abbas mengatakan bahwa Rasulullah saw. mengutus seorang laki-laki (dalam satu riwayat disebutkan: Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi 5/136) untuk membawa surat beliau, dan laki-laki itu disuruh memberikannya kepada pembesar Bahrain, lalu pembesar Bahrain merobek-robeknya. Ia berkata, “Lalu Rasulullah saw. mendoakan agar mereka benar-benar dirobek-robek.”

Bab Ke-9: Orang yang Duduk di Tempat Terakhir Paling Jauh dari Suatu Pertemuan dan Orang yang Menemukan Suatu Tempat Pertemuan atau Duduk di Sana

52. Abu Waqid al-Laitsi mengatakan bahwa ketika Rasulullah saw. duduk di masjid bersama orang-orang, tiba-tiba datang tiga orang. Dua orang menghadap kepada Nabi saw. dan seorang (lagi) pergi. Dua orang itu berhenti pada Rasulullah saw., yang seorang duduk di belakang mereka, dan yang ketiga berpaling, pergi. Ketika Rasulullah saw. selesai, beliau bersabda, “Maukah saya beritakan tentang tiga orang. Yaitu, salah seorang di antara mereka berlindung kepada Allah, maka Allah melindunginya; yang seorang lagi malu, maka Allah malu terhadapnya; dan yang lain lagi berpaling, maka Allah berpaling darinya.”

Bab Ke-10: Sabda Nabi saw., “Seringkali orang yang diberi tahu suatu keterangan lebih dapat mengingatnya daripada yang mendengarkannya sendiri.”

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Bakrah pada [64 – Al-Maghazi / 79 – BAB].”)

Bab Ke-11: Ilmu Wajib Dituntut Sebelum Mengucapkan dan Sebelum Beramal

Hal tersebut didasarkan firman Allah Ta’ala dalam surah Muhammad ayat 19, “Maka ketahuilah (wahai Muhammad), bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah.” Maka, dalam ayat ini Allah memulai dengan menyebut ilmu. Selain itu, disebutkan bahwa ulama adalah pewaris-pewaris Nabi. Mereka mewarisi ilmu pengetahuan. Barangsiapa yang mendapatkannya, maka dia beruntung dan memperoleh sesuatu yang besar.[14]

“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”[15]

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama.” (Faathir: 28); “Tiada yang memahaminya kecuali bagi orang-orang yang berilmu” (al-Ankabuut: 43); “Dan mereka berkata, ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan) itu, niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” (al-Mulk: 10); dan “Adakah sama orang-orang yang tahu dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” (az-Zumar: 9)

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka ia dikaruniai kepahaman agama.”[16]
Dan beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar.”[17]
Abu Dzar berkata, “Andaikan kamu semua meletakkan sebilah pedang di atas ini (sambil menunjuk ke arah lehernya). Kemudian aku memperkirakan masih ada waktu untuk melangsungkan atau menyampaikan sepatah kata saja yang kudengar dari Nabi saw. sebelum kamu semua melaksanakannya, yakni memotong leherku, niscaya kusampaikan sepatah kata dari Nabi saw. itu.”[18]

Ibnu Abbas berkata, “Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti.”[19] Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud “Rabbani”‘ ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar).

Bab Ke-12: Apa yang Dilakukan oleh Nabi saw. tentang Memberi Sela-Sela Waktu (Yakni Tidak Setiap Hari) dalam Menasihati dan Mengajarkan Ilmu agar Mereka Tidak Lari (Berpaling) Karena Bosan

53. Anas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah (dalam satu riwayat disebutkan: jadikanlah tenang 7/ 101) dan jangan membuat orang lari.”

Bab Ke-13: Orang yang Memberikan Hari-Hari Tertentu untuk Para Ahli Ilmu Pengetahuan

54. Abu Wa-il berkata, “Abdullah pada setiap hari Kamis memberikan peringatan (yakni mengajar ilmu-ilmu keagamaan kepada orang banyak). Kemudian ada seseorang berkata, “Wahai ayah Abdur Rahman, aku sebenarnya lebih senang andaikata kamu memberikan peringatan kepada kami setiap hari.” Abdullah menjawab, “Ketahuilah, sesungguhnya ada satu hal yang menghalangiku untuk berbuat begitu, yaitu aku tidak senang membuatmu bosan, dan sesungguhnya aku akan memberikan nasihat (pelajaran) kepada kamu sebagaimana Nabi saw. (dalam satu riwayat dari Abu Wa-il, ia berkata, “Kami menantikan Abdullah, tiba tiba datanglah Zaid bin Muawiyah,[20] lalu kami berkata kepadanya, “Apakah Anda tidak duduk?” Ia menjawab, “Tidak, tetapi saya akan masuk dan meminta sahabatmu itu keluar kepadamu. Kalau tidak, maka saya akan duduk.” Lalu Abdullah keluar sambil menggandeng tangannya, lalu ia berdiri menghadap kami seraya berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi tahu tentang keberadaanmu (kedatanganmu), tetapi yang menghalangiku untuk keluar kepadamu ialah karena Rasulullah saw. 7/169) biasa memberi kami nasihat pada beberapa hari tertentu dalam seminggu karena khawatir (dan dalam satu riwayat: tidak suka) membuat kami bosan.”

Bab Ke-14: Barangsiapa yang Dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah Menjadikannya Pandai Agama

55. Humaid bin Abdur Rahman berkata, “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhotbah mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia memberi (pemahaman). Dan akan senantiasa ada [dari 4/187] umat ini [suatu umat] yang menegakkan urusan Allah. Tidaklah membahayakan mereka [orang yang meremehkan mereka (dan dalam satu riwayat: orang yang mendustakan mereka 8/189) dan tidak pula] orang yang menentang mereka (dan dalam satu riwayat: Dan urusan umat ini akan senantiasa lurus sehingga datang hari kiamat atau 8/149) sehingga datang [kepada mereka] perintah Allah [sedang mereka tetap pada yang demikian itu.’ Lalu Malik bin Tukhamir berkata, ‘Mu’adz berkata, ‘Sedang mereka berada di negeri Syam.’ Kemudian Mua’wiyah berkata, ‘Malik ini mengaku bahwa dia mendengar Mu’adz berkata, ‘Sedang mereka berada di negeri Syam.'”].

Bab Ke-15: Pemahaman dalam Hal Ilmu

(Saya berkata, “Dalam hal ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang telah disebutkan di muka [4 – BAB].’)

Bab Ke-16: Berkeinginan Besar untuk Menjadi Orang yang Mempunyai Ilmu dan Hikmah

Umar berkata, “Belajarlah ilmu agama yang mendalam sebelum kamu dijadikan pemimpin”.[21]

Sahabat-sahabat Nabi saw. masih terus belajar pada waktu usia mereka sudah lanjut

56. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi saw bersabda, Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam kebenaran, dan seorang laki-laki diberi hikmah oleh Allah di mana ia memutuskan perkara dan mengajar dengannya.

Bab Ke-17: Mengenai apa yang disebutkan perihal kepergian Nabi Musa a.s. di lautan untuk menemui Khidhir dan firman Allah, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66)

57. Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, bahwa ia, berselisih pendapat dengan Hurr bin Qais bin Hishin Al-Fazari perihal kawan Nabi Musa yakni orang yang dicari Nabi Musa a.s.. Ibnu Abbas mengatakan bahwa kawan yang dimaksud itu ialah Khidhir, sedangkan Hurr mengatakan bukan. Kemudian lewatlah Ubay bin Ka’ab [al-Anshari 8/ 193] di depan mereka. Ibnu Abbas lalu memanggilnya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku berselisih pendapat dengan sahabatku ini siapa kawan Musa yang olehnya ditanyakan mengenai jalan untuk menuju tempatnya itu, agar dapat bertemu dengannya. Apakah kamu pernah mendengar hal-ihwalnya yang kamu dengar sendiri dari Nabi saw?” Ubay bin Ka’ab menjawab, “Ya, saya mendengar Rasulullah saw. [menyebut-nyebut hal-ihwalnya 1/27]. Beliau bersabda, ‘Ketika Musa duduk bersama beberapa orang Bani Israel, [tiba-tiba seorang laki-laki datang dan bertanya kepadanya (Musa), ‘Adakah seseorang yang lebih pandai daripada kamu?’ Musa menjawab, ‘Tidak.” Maka, Allah menurunkan wahyu kepada Musa, “Ada, yaitu hamba Kami Khidhir.” Musa bertanya kepada (Allah) bagaimana jalan ke sana (pada suatu riwayat : bagaimana cara bertemu dengannya 1/8). Maka, Allah menjadikan ikan sebagai sebuah tanda baginya dan dikatakan kepadanya, ‘Apabila ikan itu hilang darimu, maka kembalilah (ke tempat di mana ikan itu hilang) karena engkau akan bertemu dengannya (Khidhir). ‘Maka, Musa pun mengikuti jejak ikan laut. Murid Musa berkata kepadanya, ‘Adakah kamu melihat kita berdiam yakni ketika beristirahat di batu besar. Sesungguhnya aku terlupa kepada ikan hiu itu dan tiada yang membuat aku lupa tentang hal itu, melainkan setan.’ Musa berkata, ‘Kalau demikian, memang itulah tempat yang kita cari.’ Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Kemudian mereka bertemu dengan Khidhir. Maka, apa yang terjadi pada mereka selanjutnya telah diceritakan Allah Azza wa Jalla di dalam Kitab-Nya.”

Bab Ke-18: Sabda Nabi saw., “Ya Allah, Ajarkanlah Al-Qur an kepadanya.”

58. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. memelukku [ke dadanya 4/ 217] dan bersabda, “Ya Allah, ajarkanlah Al-Qur’an kepadanya.” (Dan dalam satu riwayat: al-hikmah. Al-hikmah ialah kebenaran di luar nubuwwah).

Bab Ke- 19: Kapankah Anak Kecil Boleh Mendengarkan Pengajian?

59. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Saya datang kepada orang yang datang dengan naik keledai, pada saat itu saya hampir dewasa dan Rasulullah saw. sedang [berdiri] shalat di Mina [pada waktu haji wada’ [22]] tanpa dinding.[23] Saya melewati depan shaf [kemudian saya turun], dan saya melepaskan keledai itu makan dan minum lalu saya masuk ke shaf. (Dan dalam satu riwayat: Lalu saya berbaris bersama orang-orang di belakang Rasulullah saw.), dan tidak ada seorang pun yang mengingkari hal itu atasku.”

Bab Ke-20: Pergi Menuntut Ilmu

Jabir bin Abdullah pergi selama sebulan kepada Abdullah bin Anis mengenai sebuah hadits.[24]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan pada dua bab sebelumnya.”)

Bab Ke-21: Keutamaan Orang yang Berilmu dan Mengajarkannya

60. Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air (dan dalam riwayat yang mu’allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian yang dapat menerima air[25] ), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya.”

Bab Ke-22: Diangkatnya (Hilangnya) Ilmu dan Munculnya Kebodohan

Rabi’ah berkata, ‘Tidak boleh bagi seseorang yang memiliki sesuatu lantas menyia-nyiakan dirinya.”[26]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang akan disebutkan pada [67 – an-Nikah/111- BAB].”)

Bab Ke-23: Keutamaan Ilmu

61. Ibnu Umar berkala, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Ketika saya tidur didatangkan kepada saya segelas susu, lalu saya minum [sebagiannya 8/79], sehingga saya melihat cairan [mengalir], keluar pada kuku-kuku saya, (dan dalam satu riwayat: ujung-ujung jari saya 7/74). Kemudian kelebihannya saya berikan kepada Umar ibnul Khaththab.’ Mereka berkata, ‘Engkau takwilkan apakah, wahai Rasulullah? Beliau bersabda, ‘Ilmu.’”

Bab Ke-24: Memberikan Fatwa-Fatwa Agama ketika Menaiki Seekor Binatang atau Berdiri di Atas Apa Saja

62. Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan bahwa Nabi saw. wukuf pada haji Wada’ di Mina [beliau berkhotbah pada hari Nahar di atas untanya 2/191] [pada saat melempar jumrah] kepada orang-orang. Mereka bertanya kepada beliau, kemudian datanglah seorang laki-laki dan berkata, “[Wahai Rasulullah], saya tidak mengetahui, lalu saya bercukur sebelum menyembelih.” Beliau bersabda, “Sembelihlah dan tidak berdosa.” Orang lain datang dan berkata, “Saya tidak tahu, saya menyembelih sebelum melempar (jumrah).” Beliau bersabda, “Lemparkanlah (jumrah) dan tidak berdosa.” Nabi saw tidaklah ditanya [pada hari itu 2/190] tentang sesuatu yang diajukan dan dikemudiankan kecuali beliau bersabda, “Lakukanlah dan tidak berdosa.”

Bab Ke-25: Orang yang Menjawab fatwa dengan Isyarat Tangan dan Kepala

63. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Ilmu (tentang agama) akan dicabut, kebodohan dan fitnah-fitnah itu akan tampak, dan banyak kegemparan.” Ditanyakan, “Apakah kegemparan itu, wahai Rasulullah?” Lalu beliau berbuat (berisyarat) demikianlah dengan tangan beliau, lalu beliau merobohkannya, seolah-olah beliau menghendaki pembunuhan.[27]

Bab Ke-26: Anjuran Nabi saw. kepada Tamu Abdul Qais agar Memelihara Keimanan dan Ilmu, dan Memberitahukan kepada Orang-Orang yang di Belakang Mereka

Malik bin al-Huwairits berkata, “Rasulullah saw bersabda kepada kami, ‘Kembalilah kepada keluargamu, kemudian ajarilah mereka.’”[28]

(Saya berkata, “Dalam hal ini Imam Bukhari telah membawakan hadits Ibnu Abbas dengan isnadnya sebagaimana yang disebutkan pada hadits nomor 40.”)

Bab Ke-27: Mengadakan Perjalanan untuk Mencari Jawaban terhadap Masalah yang Benar-Benar Terjadi dan Mengajarkan kepada Keluarganya

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Uqbah bin al-Harits yang akan disebutkan pada [67- anNikah/24-BAB].”)

Bab Ke-28: Saling Bergantian dalam Menuntut Ilmu

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya beberapa jalan dari hadits Umar yang akan disebutkan pada [46 al-Mazhalim/ 25 – BAB].”)

Bab Ke-29: Marah dalam Memberi Nasihat atau Mengajar, Ketika Melihat Sesuatu yang Dibencinya

64. Abu Musa berkata, “Nabi saw. ditanya tentang sesuatu yang tidak disukai oleh beliau. Ketika mereka banyak bertanya kepada beliau, maka beliau marah. Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang, “Tanyakanlah kepada saya tentang sesuatu yang kamu kehendaki.” Seorang laki-laki berkata, “Siapakah ayahku?” Beliau bersabda, “Ayahmu Hudzafah.” Orang lain berdiri dan bertanya, “Siapakah ayahku, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ayahmu Salim, maula ‘mantan budak’ Syaibah.” Ketika Umar melihat apa yang terdapat pada wajah beliau (yang berupa kemarahan), ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bertobat kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.”

Bab Ke-30: Orang yang Berjongkok di Atas Kedua Lututnya di Depan Imam atau Orang yang Memberi Keterangan

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Anas yang akan disebutkan pada [97 At-Tauhid/4-BAB]“).

Bab Ke-31: Pengulangan Pembicaraan Seseorang Sebanyak Tiga Kali dengan Maksud agar Orang Lain Mengerti

Ibnu Umar berkata, “Nabi saw. bersabda, ‘Apakah aku sudah menyampaikan?’ (beliau ulangi tiga kali).”

65. Anas r.a. mengatakan bahwa apabila Nabi saw. mengatakan suatu perkataan beliau mengulanginya tiga kali sehingga dimengerti. Apabila beliau datang pada suatu kaum, maka beliau memberi salam kepada mereka tiga kali.

Bab Ke-32: Seorang Lelaki Mengajar Hamba Sahayanya yang Wanita dan Keluarganya

66. Abu Musa berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tiga (golongan) mendapat dua pahala yaitu seorang Ahli Kitab yang beriman kepada Nabinya kemudian beriman kepada Muhammad saw.; hamba sahaya apabila menunaikan hak Allah Ta’ala dan hak tuannya (dan dalam suatu riwayat: hamba sahaya yang beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan menunaikan kewajibannya terhadap tuannya yang berupa hak, kesetiaan, dan ketaatan 3/142); dan seorang laki-laki yang mempunyai budak wanita yang dididiknya secara baik serta diajarnya secara baik (dan dalam satu riwayat: lalu dipenuhinya kebutuhan-kebutuhannya dan diperlakukannya dengan baik 3/123), kemudian dimerdekakannya [kemudian menentukan mas kawinnya 6/121][29] , lalu dikawininya, maka ia mendapat dua pahala.”
Kemudian Amir[30] berkata, “Kami memberikannya kepadamu tanpa imbalan sesuatu pun. Sesungguhnya ia biasa dinaiki ke Madinah untuk keperluan lain.”

Bab Ke-33: Imam Menasihati dan Mengajarkan Kaum Wanita

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada [12-Al-Idain / 19-BAB].”)

Bab Ke-34: Antusiasme terhadap Hadits

67. Abu Hurairah r.a. berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Wahai Rasullullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaat engkau pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya saya telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang hal ini terlebih dahulu daripada engkau, karena saya mengetahui antusiasmu (keinginanmu yang keras) terhadap hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan, “LAA ILAAHA ILLALLAH” ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’, dengan tulus dari hati atau jiwanya (dan dalam satu riwayat: dari arah jiwanya 7/204).”

Bab Ke-35: Bagaimana Dicabutnya Ilmu Agama

Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakar Ibnu Hazm sebagai berikut, “Perhatikanlah, apa yang berupa hadits Rasulullah saw. maka tulislah, karena sesungguhnya aku khawatir ilmu agama tidak dipelajari lagi, dan ulama akan wafat. Janganlah engkau terima sesuatu selain hadits Nabi saw.. Sebarluaskanlah ilmu dan ajarilah orang yang tidak mengerti sehingga dia mengerti. Karena, ilmu itu tidak akan binasa (lenyap) kecuali kalau ia dibiarkan rahasia (tersembunyi) pada seseorang.”

68. Dari Urwah, [dia berkata, “Kami diberi keterangan 8/148] Abdullah bin Amr bin Ash, [maka saya mendengar dia] berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama) dengan serta-merta dari hamba-hamba Nya. Tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan (mematikan) ulama, sehingga Allah tidak menyisakan orang pandai. Maka, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu, mereka ditanya, dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu. (Dan dalam satu riwayat: maka mereka memberi fatwa dengan pikirannya sendiri). Maka, mereka sesat dan menyesatkan.”
Kemudian aku (Urwah) berkata kepada Aisyah istri Nabi saw., lalu Abdullah bin Amr memberi keterangan sesudah itu. Aisyah berkata, ‘Wahai anak saudara wanitaku! Pergilah kepada Abdullah, kemudian konfirmasikanlah kepadanya apa yang engkau ceritakan kepadaku itu.’ Lalu aku datang kepada Abdullah dan menanyakan kepadanya. Maka, dia menceritakan kepadaku apa yang sudah diceritakan kepadaku itu. Kemudian aku datang kepada Aisyah, lalu kuberitahukan kepadanya. maka dia merasa kagum. Ia berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Abdullah bin Amr telah hafal.’” (8/148).

Bab Ke-36: Apakah untuk Kaum Wanita Perlu Diberikan Giliran Hari yang Tersendiri dalam Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Agama

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Said al-Khudri yang akan disebutkan pada [96 – Al-I’tisham/9 – BAB].”)

Bab Ke-37: Orang yang Mendengarkan Sesuatu Lalu Mengulanginya Hingga Mengetahui Secara Sempurna

69. Ibnu Abi Mulaikah mengatakan bahwa Aisyah istri Nabi saw. tidak pernah mendengar sesuatu yang tidak diketahuinya melainkan ia mengulangi lagi sehingga ia mengetahuinya benar-benar (secara pasti). Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang dihisab, maka dia telah disiksa.” (Dalam satu riwayat: binasa 6/81). Aisyah berkata, “Lalu aku berkata, [“Biarlah Allah menjadikan aku sebagai penebusmu, bukankah Allah Azza Wa Jalla berfirman, ‘[Adapun orang yang diberikan kitabnya pada tangan kanannya], maka ia akan dihisab (diperhitungkan) dengan perhitungan yang mudah?’” Lalu beliau bersabda, “Hal itu hanyalah suatu kelapangan. Tetapi, barangsiapa yang diteliti betul perhitungannya, maka ia akan binasa.” (Dan dalam satu riwayat: “Dan tidak ada seorang pun yang diteliti betul hisabnya pada hari kiamat melainkan ia telah disiksa.” 7/198).

Bab Ke-38: Hendaklah Orang yang Hadir Menyampaikan Ilmu kepada yang Tidak Hadir

Hal itu dikatakan oleh Ibnu Abbas dari Nabi saw.[31]

70. Abu Syuraih [al-Adawi 5/94] berkata kepada Amr bin Said ketika ia mengirim pasukan ke Mekah, “Izinkanlah saya wahai Amir untuk menyampaikan kepadamu suatu perkataan yang disabdakan Nabi saw. pada pagi hari pembebasan (Mekah). Sabda beliau itu terdengar oleh kedua telinga saya, dan hati saya memeliharanya, serta dua mata saya melihat ketika beliau menyabdakannya. Beliau memuja Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Mekah itu dimuliakan oleh Allah Ta’ala dan manusia tidak memuliakannya, maka tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menumpahkan darah di Mekah, dan tidak halal menebang pepohonan di sana. Jika seseorang memandang ada kemurahan (untuk berperang) berdasarkan peperangan Rasulullah saw. di sana, maka katakanlah [kepadanya 2/213], ‘Sesungguhnya Allah telah mengizinkan bagi Rasul-Nya, tetapi tidak mengizinkan bagimu, dan Allah hanya mengizinkan bagiku sesaat di suatu siang hari, kemudian kembali kemuliaannya (diharamkannya) pada hari itu seperti haramnya kemarin.’ Orang yang hadir hendaklah menyampaikan kepada orang yang tidak hadir (gaib).’ Kemudian ditanyakan kepada Abu Syuraih, ‘Apakah yang dikatakan [kepadamu] oleh Amr?” Dia menjawab, “Aku lebih mengetahui [tentang hal itu] daripada engkau, wahai Abu Syuraih! Sesungguhnya Mekah (dalam satu riwayat: Tanah Haram) tidak melindungi orang yang durhaka, orang yang lari karena kasus darah (membunuh), dan orang yang lari karena merusak agama.”
Abu Abdillah berkata, “Al-khurbah ialah merusak agama.” (5/95)

Bab Ke-39: Dosa Orang yang Berdusta Atas Nama Nabi saw.

71. Ali r.a berkata, “Rasulullah saw bersabda, janganlah kamu berdusta atas namaku. Karena, orang yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia memasuki neraka.”

72, Dari Amir bin Abdullah ibnuz Zubair dari ayahnya, ia berkata, “Saya berkata kepada az-Zubair, ‘Saya tidak pernah mendengar engkau menceritakan suatu hadits yang engkau terima dari Rasulullah saw. sebagaimana si Anu dan si Anu menceritakannya.’ Zubair berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya saya ini tidak pernah berpisah dari beliau saw., tetapi saya pernah mendengar beliau saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menempati tempat duduknya di neraka.’”

73. Anas berkata, “Sesungguhnya ada hal yang menghalang-halangi aku untuk memberitakan hadits kepada kamu sekalian, yaitu karena Nabi saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menempati tempat duduknya di neraka.’”

74. Salamah bin Akwa’ r.a. berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang berkata atas namaku akan sesuatu yang tidak saya katakan, maka hendaklah ia bersedia menempati tempat duduknya di neraka.”

75. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia bersedia menempati tempat duduknya di neraka.”

Bab Ke-40: Menulis Ilmu

76. Abu Hurairah mengatakan bahwa kabilah Khuza’ah membunuh seorang laki-laki dari kabilah Laits pada tahun pembebasan Mekah. Karena, adanya orang yang terbunuh yang dibunuh orang kabilah Khuza’ah [pada zaman jahiliah 8/38]. Hal itu diberitahukan kepada Nabi saw., lalu beliau menaiki kendaraannya dan berkhotbah [kepada orang banyak. Lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya 3/94], kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menahan Mekah dari (serangan pasukan) gajah, dan Dia memberikan kekuasaan kepada Rasulullah saw. serta orang-orang yang beriman atas mereka. Ketahuilah sesungguhnya Mekah tidak halal bagi orang yang sebelumku dan tidak halal bagi orang yang sesudahku. Ketahuilah sesungguhnya Mekah itu halal bagiku, sesaat dari siang hari. Ketahuilah bahwa Mekah pada saatku itu haram, duri-durinya tidak boleh dipotong, pohon-pohonnya tidak boleh ditebang, barang temuannya tidak boleh diambil kecuali bagi orang yang mencari (pemiliknya). Barangsiapa yang keluarganya terbunuh, maka menurut pandangan yang terbaik, adakalanya pembunuhnya diikat dan adakalanya dibalas bunuh oleh keluarga si terbunuh.”
Seorang laki-laki dari penduduk Yaman [yang bernama Abu Syah] berkata, ‘Tuliskan untuk saya wahai Rasulullah!” Lalu beliau bersabda, ‘Tulislah untuk ayah Fulan.’ (Dan dalam satu riwayat: ‘Untuk Abu Syah.’) Seorang laki-laki dari suku Quraisy berkata, “Kecuali idzkhir ‘tumbuh-tumbuhan yang harum baunya’, wahai Rasulullah, karena idzkhir itu ditempatkan di rumah dan kuburan kami.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Kecuali idzkhir.” [Saya bertanya kepada Al-Auza’i, “Apa yang dimaksud dengan perkataannya, ‘Tulislah untukku wahai Rasulullah’ itu?’ Al-Auza’i menjawab, ‘Khotbah yang didengarnya dari Rasulullah saw ini.'”].

77. Abu Hurairah r .a. berkata, ‘Tiada seorang pun dari sahabat Nabi saw yang lebih banyak dalam meriwayatkan hadits yang diterima dari beliau saw daripada saya, melainkan apa yang didapat dari Abdullah bin Amr, sebab ia mencatat hadits sedang saya tidak mencatatnya.”

Bab Ke-41: Ilmu dan Memberi Peringatan (Pengajian) pada Waktu Malam

78. Ummu Salamah r.a. berkata, “Nabi saw pada suatu malam bangun tidur (dengan terkejut 8/90), lalu beliau berkata, ‘Mahasuci Allah! (Dan pada satu riwayat disebutkan: Dan beliau mengucapkan LAAILAAHAILLALLAAH 7/47) Fitnah apakah yang diturunkan [Allah] pada malam ini? Dan, perbendaharaan (rahmat) apakah yang dibuka? Bangunkanlah (dalam satu riwayat: Siapakah yang mau membangunkan) para penghuni kamar [maksudnya istri-istrinya sehingga mereka menunaikan shalat 7/ 123]. Banyak (dalam satu riwayat: wahai, banyaknya) orang berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat.’”
[Az-Zuhri berkata, “Hindun[32] mempunyai pakaian sejenis jubah yang kedua lengannya di antara jari jarinya.”]

Bab Ke-42: Berbicara pada Waktu Malam Mengenai Ilmu

79. Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Rasulullah saw shalat isya bersama kami pada akhir hidup beliau [yaitu pada waktu malam yang orang-orang menyebutnya ‘atamah 1/141]. Setelah mengucapkan salam, maka beliau berdiri [lalu menghadap kepada kami], lalu bersabda, ‘Bagaimana pendapatmu tentang malammu ini? Sesungguhnya pada awal seratus tahun (yang akan datang) tidak ada yang masih tinggal seorang pun dari orang yang [pada hari ini 1/149] ada di atas permukaan bumi.” [Maka orang-orang pun ribut membicarakan sabda Rasulullah saw itu. Mereka ramai membicarakan hadits-hadits tentang seratus tahun ini. Sebenarnya Nabi saw. hanya bersabda, “Tidak akan tinggal (masih hidup) orang yang pada hari ini (saat beliau bersabda itu) hidup di muka bumi.” Maksudnya bahwa satu generasi itu akan berlalu (habis)].

Bab Ke-43: Menghapalkan Ilmu

80. Abu Hurairah r.a. berkata, “Saya hafal dari Nabi saw. dua tempat. Adapun salah satu dari keduanya, maka saya siarkan (hadits itu) . Seandainya yang lain saya siarkan, niscaya terputuslah tenggorokan ini.”[33]

Bab Ke-44: Memperhatikan Keterangan Ulama

81. Jarir bin Abdillah mengatakan bahwa Nabi saw bersabda kepadanya pada waktu mengerjakan haji Wada’, “Diamkanlah manusia!” Lalu beliau bersabda, “Sesudahku nanti janganlah kamu menjadi kafir, di mana sebagian kamu memotong leher sebagian yang lain.”

Bab Ke-45: Apa yang Disunnahkan bagi Seorang Alim jika Ditanya, “Manakah Manusia yang Terpandai”, agar Menyerahkan Perihal Ilmu Kepandaian Itu kepada Allah

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang panjang mengenai kisah Khidhir bersama Musa yang tersebut pada [65 – At-Tafsir/ 18 – AsSurah/2 – BAB].”)

Bab Ke-46: Orang yang Bertanya Sambil Berdiri kepada Seorang Alim yang Sedang Duduk

82. Abu Musa r.a. berkata, “Seorang laki-laki (dalam satu riwayat: seorang Arab kampung 3/51) datang kepada Nabi saw., lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah berperang di jalan Allah itu? Karena salah seorang di antara kami berperang karena marah dan ada yang berperang karena menjaga gengsi. [Ada yang berperang karena hendak menunjukkan keberanian, dan ada yang berperang karena ingin dipuji orang]. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: Seseorang berperang karena ingin mendapatkan harta rampasan, seseorang berperang karena ingin mendapatkan popularitas, dan seseorang berperang karena ingin diketahui kedudukannya, maka siapakah gerangan yang termasuk kategori fi sabilillah?’ 3/206). Kemudian beliau bersabda sambil mengangkat kepalanya dan tentunya beliau tidak perlu mengangkat kepala, melainkan karena orang yang bertanya itu berdiri sedang beliau duduk. Lalu beliau menjawab, ‘Barangsiapa yang berperang agar kalimah Allah menjadi yang tertinggi (menjunjung tinggi agama Allah), maka dia di jalan Allah Azza wa Jalla.’”

Bab Ke-47: Bertanya dan Memberi Fatwa ketika Melontar Jumrah

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Abdullah bin Amr yang sudah disebutkan pada nomor 62.”)

Bab Ke-48: Firman Allah Ta’ala, “Tidaklah Kamu Diberi Pengetahuan Melainkan Sedikit.” (al-Israa’: 85)

83. Abdullah (bin Mas’ud) r.a. berkata, “Ketika saya berjalan bersama Rasulullah saw. di [sebagian 8/198] reruntuhan (dalam satu riwayat: kebun 5/228)[34] Madinah, sedang beliau bertelekan pada tongkat dari pelepah kurma yang lurus dan halus yang beliau bawa, lewatlah sekelompok Yahudi. Lalu, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Tanyakanlah kepadanya tentang ruh.’ [Lalu yang sebagian itu berkata, ‘Apa kepentingan kalian kepadanya?’ 5/228], dan sebagian lagi dari mereka berkata, ‘Janganlah kamu menanyakannya, agar ia tidak membawa sesuatu (dan dalam satu riwayat: Agar ia tidak memperdengarkan kepadamu sesuatu 8/144) yang kamu benci.’ Sebagian dari mereka berkata, ‘Sungguh kami akan bertanya kepadanya.’ [Lalu mereka berkata, Tanyakanlah kepadanya!’] Kemudian seorang laki-laki dari mereka berdiri [kepada beliau] dan berkata, ‘Wahai Abu Qasim, apakah ruh itu?’ Maka, [Nabi saw. diam, tiada menjawab sama sekali]. Dan dalam satu riwayat: Maka beliau berdiri sesaat memperhatikan), [sambil bertelekan atas pelepah kurma, sedang saya di belakang beliau 8/188]. Maka, saya berkata, ‘Sesungguhnya beliau sedang diberi wahyu.’ [Saya mundur dari beliau sehingga wahyu selesai turun], lalu saya berdiri di tempat saya. Ketika jelas hal itu, beliau membaca, “Yas-aluunaka’anir-ruuhi, qulir-ruuhu min amri rabbii, wamaa uutuu minal-’ilmi illaa qaliilaa” ‘Mereka bertanya kapadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu adalah urusan Tuhanku.’ Dan mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit‘. Al-A’masy berkata, ‘Demikianlah bacaan kami.’[35] [Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, Tadi sudah kami katakan, jangan tanyakan kepadanya!’].

Bab Ke-49: Orang yang Meninggalkan Sebagian Ikhtiar karena Khawatir Sebagian Orang Tidak Memahaminya, Lalu Mereka Terjatuh ke Dalam Sesuatu yang Lebih Berat

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Aisyah yang akan disebutkan pada [25 -Al Hajj/42 – BAB].”)

Bab Ke-50: Orang yang Mengkhususkan untuk Memberi Ilmu kepada Suatu Kaum dan Tidak kepada Kaum Lain karena Khawatir Kaum Kedua Itu Tidak Dapat Memahaminya

84. Ali r.a. berkata, “Hendaklah kamu menasihati orang lain sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Adakah kamu semua senang sekiranya Allah dan Rasul-Nya itu didustakan sebab kurangnya pengertian yang ada pada mereka itu?”[36]

85. Qatadah mengatakan bahwa Anas bin Malik bercerita bahwa Rasulullah saw. -dan Mu’adz sedang membonceng di atas kendaraan beliau- bersabda, “Hai Muadz”. Ia menjawab, “Ya, wahai Rasulullah, kebahagiaan bagi engkau.” Beliau bersabda, “Hai Mu’adz!” Ia menjawab, “Ya, wahai Rasulullah, kebahagiaan bagi engkau.” (Ia mengucapkannya tiga kali) . Beliau bersabda, ‘Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dengan betul-betul dari hatinya kecuali orang tersebut diharamkan oleh Allah dari neraka. “Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah saya tidak memberitahukan kepada manusia, agar mereka bergembira?” Beliau bersabda, “Kalau begitu, mereka akan menyerah (tidak berusaha apa-apa).” Mu’adz memberitahukannya ketika meninggal agar tidak berdosa.
(Dan diriwayatkan dari jalan lain dari Anas, ia berkata, “Diceritakan kepadaku[37] bahwa Nabi saw. bersabda kepada Mu’adz, ‘Barangsiapa yang menghadap kepada Allah (meninggal dunia) sedang dia tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya, niscaya dia akan masuk surga.” Mu’adz bertanya, “Apakah tidak boleh saya sampaikan kabar gembira ini kepada orang banyak?” Beliau menjawab, “Jangan, saya khawatir mereka akan menyerah (tanpa berusaha [karena salah Paham])”[38]

Bab Ke-51: Malu dalam Menuntut Ilmu

Mujahid berkata, “Pemalu dan orang sombong tidak akan dapat mempelajari pengetahuan agama.”[39]
Aisyah berkata, “Sebaik-baik kaum wanita adalah kaum wanita sahabat Anshar. Mereka tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama.”[40]

86. Ummu Salamah r.a. berkata, “Ummu Sulaim [istri Abu Thalhah 1/74] datang kepada Nabi saw lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila mimpi (bersetubuh)?’ Nabi saw. bersabda, ‘Ya, apabila wanita itu melihat air (mani).’ Lalu Ummu Sulaim menutup wajahnya (dan dalam satu riwayat: Maka Ummu Salamah tertawa 4/102) dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah wanita itu mimpi (bersetubuh)?’ Beliau bersabda, ‘Ya, berdebulah tanganmu (sial nian kamu), dengan apakah anaknya dapat menyerupainya?”)

Bab Ke-52: Orang yang Malu Bertanya Lalu Menyuruh Orang Lain Menanyakannya

87. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Saya adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi [tetapi aku malu untuk bertanya kepada Rasulullah saw. 1/52]. Lalu saya menyuruh Miqdad bin Aswad untuk menanyakan kepada Nabi saw. [karena kedudukan putri beliau 1/71]. Lalu ia bertanya, lantas Nabi bersabda, ‘Padanya wajib wudhu.’” (Dan dalam satu riwayat: “Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu” 1/71).

Bab Ke-53: Menyebutkan Ilmu dan Fatwa di Dalam Masjid

88. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki berdiri di masjid lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, dari manakah engkau menyuruh kami untuk mengeraskan suara talbiah ketika ihram?” Rasulullah saw bersabda, “Penduduk Madinah mengeraskan suara talbiah dari Dzull Hulaifah, penduduk Syam mengeraskan suara talbiah dari [Mahya’ah, yaitu 2/142] Juhfah, dan penduduk Najd mengeraskan suara talbiah dari Qarn.” (Dan dari jalan Zaid bin Jubair, bahwa ia datang kepada Abdullah bin Umar, sedang Abdullah mempunyai kemah dan tenda. Lalu aku bertanya kepadanya, “Dari manakah saya boleh memulai umrah?” Dia menjawab, “Rasulullah saw. menentukannya bagi penduduk Najd di Qarn.” Dan dia menyebutkan hadits yang serupa itu 2/141). Ibnu Umar berkata, “Manusia menduga bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Penduduk Yaman mengeraskan suara talbiah dari Yalamlam.”‘ Ibnu Umar berkata, “Dan saya tidak tahu (dan pada satu riwayat saya tidak mendengar 2/143) ini dari Rasulullah saw.” [Dan disebutkan tentang Irak, lalu dia menjawab, “Pada waktu itu Irak belum menjadi miqat.” 8/155][41]

Bab Ke-54: Orang yang Menjawab Si Penanya Lebih dari yang Ditanyakan

89. Ibnu Umar dari Nabi saw. mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada beliau, “Apakah [pakaian 7/36] yang dipakai oleh orang ihram?” Beliau bersabda, “Ia tidak boleh mengenakan (dan dalam satu riwayat: Janganlah kamu memakai 2/214) baju kurung, serban, jubah berpeci, dan kain yang dicelup wenter atau zafaran. [Dan jangan memakai khuf ‘sepatu tinggi penutup kakinya’], [kecuali jika ia tidak mendapatkan sandal 2/145]. Jika ia tidak mendapatkan sandal, maka hendaklah menggunakan khuf dan agar dipotong sampai di bawah mata kaki. [Dan janganlah wanita yang sedang ihram memakai penutup wajah dan jangan pula memakai kaos tangan].”

Ubaidullah berkata, “Jangan memakai pakaian yang dicelup waras (wenter). Dan dia pernah berkata, ‘Wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai cadar (penutup wajah), dan tidak boleh memakai kaos tangan.’”[42]

Malik berkata dari Nafi’ dari Ibnu Umar, “Wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai cadar.”[43]

Catatan Kaki:

[1] Di dalam riwayat Karimah dan al-Ashili disebutkan, “Al-Humaidi berkata, ‘Demikian pula yang disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Mustakhraj. Maka riwayat ini muttashil.’”

[2] Ini adalah bagian dari hadits yang populer mengenai penciptaan janin, dan akan disebutkan secara maushul pada (60 -Ahaadiistul Anbiyaa’ / 2 – BAB).

[3] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam Al-Janaiz (2/69) dan At-Tafsir (5/153), tetapi tidak disebutkan secara eksplisit dari Abdullah Ibnu Mas’ud bahwa ia mendengar dari Nabi saw., berbeda dengan kesan yang diperoleh dari perkataan al-Hafizh di sini. Sesungguhnya yang me-maushul-kannya dengan menyebutkan ia mendengar itu adalah Imam Muslim dalam Al-Iman di dalam riwayatnya, dan akan disebutkan hadits ini pada (23 – Al-Janaiz / 1 – BAB) dengan izin Allah Ta’ala.

[4] Ini adalah bagian dari hadits yang diamushulkan oleh penyusun dalam (81 – Ar-Riqaq / l4 – BAB).

[5] Ini adalah potongan dari sebuah hadits yang di-maushul-kan oleh penyusun pada (60-Ahaadiistul Anbiya’ / 25 – BAB ).

[6] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam (17 – At-Tauhid / 50- BAB ).

[7] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam (30 – Ash-Shaum / 9 – BAB ).

[8] Di-maushul-kan oleh penyusun dari mereka dalam bab ini.

[9] Yaitu Abu Sa’id al-Haddad.

[10] Hadits ini di-maushul-kan oleh penyusun dalam bab ini dari hadits Anas, tetapi di situ tidak disebutkan bahwa Dhimam memberitahukan hal itu kepada kaumnya. Pemberitahuan Dhimam kepada kaumnya itu hanya disebutkan dalam hadits dari riwayat Ibnu Abbas, yang diriwayatkan secara lengkap oleh ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/165 – 167) dan Ahmad (1/264), dan sanadnya hasan.

[11] Ini adalah bagian dari hadits panjang yang diriwayatkan secara maushul dengan lengkap pada (66 – Fahaailul Qur’an / 1- BAB).

[12] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh Ibnu Mandah di dalam Kitab al-Washiyyah dengan sanad sahih dari Abu Abdur Rahman al-Habli, dari Abdullah yang hampir sama dengan itu. Maka, boleh jadi (yang dimaksud) Abdullah ini adalah Abdullah bin Umar, karena al-Habli mendengar darinya; dan boleh jadi (yang dimaksud) dia adalah Abdullah bin Amr, karena al-Habli terkenal meriwayatkan darinya. Sedangkan atsar Yahya bin Said dan Malik Ibnu Anas di-maushul-kan oleh al-Hakim di dalam ‘Ulumul Hadits (hlm. 259) dengan isnad yang bagus.

[13] Riwayat ini dimaushulkan oleh Ibnu Ishaq dari Urwah bin Zubeir secara mursal, dan ath-Thabari dalam Tafsirnya dari hadits Jundub al-Bajali dengan sanad hasan sebagaimana disebutkan dalam Al-Fath, dan dia berkata, “Maka, dengan jalan sebanyak ini jadilah riwayat ini shahih.”

[14] Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dari Abud Darda’ secara marju’. Hadits ini memiliki beberapa syahid (pendukung) yang menjadikannya kuat sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh. Dan, hadits ini ditakhrij dalam At-Ta’liqur Raghib 1/53.

[15] Ini juga bagian dari hadits tersebut, dan bagian ini diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, juga diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-Ilm 25 dengan tahqiq saya.

[16] Imam Bukhari me-maushul-kan hadits ini pada dua bab lagi dari hadits Muawiyah.

[17] Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah (114) dengan sanad sahih dari Abud Darda’ secara marfu’, dan diriwayatkan oleh lainnya secara marfu’. Ia memiliki dua syahid dari hadits Muawiyah. Saya telah mentakhrij hadits ini dalam Al-Ahaditsush Shahihah 342.

[18] Di-maushul-kan oleh ad-Darimi dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah.

[19] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan, dan al-Khathib dengan sanad lain yang sahih.

[20] Yaitu an-Nakha’i sebagaimana dalam riwayat Muslim.

[21] Di-maushul-kan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu (9) dengan sanad shahih. Demikian pula Ibnu Abi Syaibah.

[22] Tambahan ini disebutkan secara mu’allaq oleh Imam Bukhari, tetapi diriwayatkan secara maushul oleh Imam Muslim. Mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati mereka.

[23] Yakni tanpa penutup, dan makna ini dikuatkan oleh riwayat al-Bazzar dengan lafal, “Dan Nabi saw. melakukan shalat wajib tanpa ada sesuatu pun yang menutupnya (menabirinya).” Demikian disebutkan dalam Al-Fath.

[24] Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh penyusun (Imam Bukhari) dalam Al-Adabul Mufrad, Imam Ahmad, dan Abu Ya’la dengan sanad hasan. Ia meriwayatkan sebagian yang lain secara mu’allaq pada (97 – At-Tauhid/32 – BAB).

[25] Al-Hafizh tidak mentakhrijnya, dan tampaknya lafal ini mengalami perubahan, dan yang benar adalah yang pertama, yaitu qabilat.

[26] Di-maushul-kan oleh al-Jhathib dalam Al-Jami’ dan al-Baihaqi dalarn Al-Madkhal.

[27] Saya katakan, “Di dalam kitab asal, sesudah ini terdapat hadits Asma’ yang menyatakan isyarat dengan kepala di dalam shalat, dan akan disebutkan pada (4 -Al-Wudhu/38-BAB)”.

[28] Imam Bukhari me-maushul-kannya dalam beberapa tempat, dan akan disebutkan pada (95-Khabarul Wahid/ 1-BAB).

[29] Tambahan ini diriwayatkan secara mu’allaq oleh penyusun (Imam Bukhari), dan di-maushul-kan oleh Ahmad dan lainnya. Tambahan ini adalah ganjil dan tidak sah menurut penelitian saya, sebagaimana saya jelaskan dalam Adh-Dha’ifah nomor 3364.

[30] Saya katakan bahwa Amir ini adalah asy-Sya’bi yang meriwayatkan hadits ini dari Abi Burdah dari ayahnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari. Ia mengucapkan perkataan ini kepada orang yang meriwayatkan darinya, yaitu Shalih bin Hayyan.

[31] Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas, Insya Allah akan disebutkan aecara maushul pada (25 – Al-Hajj / 132 – BAB).

[32] Yaitu Hindun binti al-Harits al-Farasiyah yang meriwayatkan hadits ini dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha.

[33] Al-Hafizh berkata, “Para ulama menafsirkan tempat (bejana) yang tidak disebarkan oleh Abu Hurairah hadits-hadits yang di dalamnya itu berisi tentang pemerintahan yang buruk, perihal mereka, dan zaman mereka. Abu Hurairah menyindir sebagiannya dan tidak menjelaskannya secara transparan karena takut atas keselamatan dirinya dari tindakan mereka, seperti perkataannya, “Aku berlindung kepada Allah dari permulaan tahun enam puluh dan dari pemerintahan anak-anak.” Ucapannya ini mengisyaratkan kepada pemerintahan Yazid bin Muawiyah yang memerintahkan pada permulaan tahun enam puluhan hijriyah, dan Allah telah mengabulkan doa Abu Hurairah ini dengan mewafatkannya satu tahun sebelum masa pemerintahan Yazid. Kemudian dia menolak pandangan golongan tasawuf ekstrem yang menjadikan hadits ini sebagai jalan untuk membenarkan perkataan mereka yang batil, “Sesungguhnya syariat itu ada yang lahir dan ada yang bathin.” Silakan periksa, jika Anda menghendaki!

[34] Al-Hafizh berkata, “Inilah yang lebih tepat, karena lafal ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari jalan lain dari Ibnu Mas’ud dengan lafal khana fi nakhal.”

[35] Saya katakan, “Bacaan ini tidak bertentangan dengan bacaan yang sudah populer dan mutawatir yaitu “Wa maa uutiitum“, sebagaimana sudah tidak samar lagi.”

[36] Saya katakan, “Bentuk riwayat ini seperti riwayat mu’allaq. Akan tetapi, sesudahnya dibawakannya isnadnya hingga kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, sehingga dengan demikian riwayat ini maushul.”

[37] Al-Hafizh berkata, “Anas tidak menyebutkan siapa yang bercerita kepadanya tentang hal itu pada semua jalan yang saya teliti.” Saya (Al-Albani) berkata, “Ini adalah suatu hal yang mengherankan dari beliau (al-Hafizh), karena hadits ini diriwayatkan oleh Qatadah dari Anas, padahal ia mengatakan pada riwayat Ahmad (5/242) dari Qatadah dari Anas bahwa Mu’adz bin Jabal menceritakan kepadanya. Dan diikuti oleh Abu Sufyan dari Anas, ia berkata, “Mu’adz datang kepada kami, lalu kami berkata, ‘Ceritakanlah kepada kami sebagian dari hadits-hadits yang unik dari Rasulullah saw..’ Mu’adz menjawab, ‘Ya, saya pernah membonceng Rasulullah saw. di atas keledai, lalu beliau bersabda, “Wahai Mu’adz …. dst” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/228 dan 236), dan isnadnya sahih. Lebih mengherankan lagi bahwa al-Hafizh tidak membawakannya di sini padahal penyusun (Imam Bukhari) sendiri meriwayatkannya pada [81-Ar-Riqaq/ 36 – BAB] dari jalan pertama dari Qatadah: Anas bin Malik menceritakan kepada kami dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata …. Lalu Anas menyebutkannya. Oleh karena itu, saya menganggap boleh saya mengulangnya di sana karena di sini dari Musnad Anas, dan di sana dari Musnad Mu’adz. Memang, kalau al-Hafizh membuat komentar ini pada akhir hadits dari jalan yang pertama, niscaya tidak ada kesamaran. Karena, Anas berada di Madinah ketika Mu’adz meninggal di Syam, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh sendiri, tetapi beliau menempatkannya bukan pada tempatnya.”

[38] Diriwayatkan oleh Muslim (1/45). Dan dia (Imam Muslim) meriwayatkannya pula dari Abu Hurairah dan Ubadah bin Shamit (1/43)

[39] Di-maushul-kan oleh Abu Nua’im dalam Al-Hilyah dengan sanad sahih.

[40] Di-maushul-kan oleh Muslim (1/180) dengan sanad hasan.

[41] Terdapat riwayat yang sah mengenai penetapan Dzatu Irqin sebagai miqat bagi penduduk Irak dari riwayat Ibnu Umar dari sahabat-sahabat Nabi saw. Silakan Anda periksa buku saya Hajjatun Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wasallam halaman 52, terbitan al-Maktabul-Islami.

[42] Di-maushul-kan oleh Ishaq Ibnu Rahawaih dan Ibnu Khuzaimah dari beberapa jalan dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Lalu ia bawakan hadits itu hingga perkataan, “Dan waras atau zafaran.” Dia berkata, “Dan Abdullah yakni Ibnu Umar berkata ….” Lalu disebutkannya secara mauquf pada Ibnu Umar.

[43] Riwayat ini terdapat di dalam Al-Muwaththa’ 1/305. Penyusun bermaksud bahwa Imam Malik membatasi hadits pada kalimat ini saja secara mauquf pada Ibnu Umar. Hal itu untuk menguatkan riwayat Ubaidullah yang mu’allaq, yang menerangkan bahwa kalimat ini adalah disisipkan di dalam hadits tersebut, dan kalimat itu darl perkataan Ibnu Umar. Inilah yang dikuatkan oleh al-Hafizh dalam Al-Fath yang berbeda dengan penyusun (Imam Bukhari), karena al-Hafizh menguatkan ke-marfu’-an hadits ini sebagaimana saya jelaskan dalam Al-Irwa’ (1011).

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

%d blogger menyukai ini: