Posts tagged ‘Sports’

29 Oktober 2012

KITA SEJATINYA ADALAH TAMU HARTA KITA HANYA PINJAMAN

oleh alifbraja

Saudaraku…
Kala hidup kita identik dengan kesuksesan, kejayaan dan kemenangan. Seperti menduduki sebuah jabatan penting. Baju kekuasaan yang dikenakan. Asset bertebaran di mana-mana. Berbagai macam investasi dibuat. Laba bisnis yang tak pernah surut. Popularitas yang semakin mengkilap. Prestasi puncak di dunia pendidikan. Dan yang senada dengan itu.

Hal itu sering membuat kita silau dan terpesona dengan dunia. Kita lupa bahwa pada hakikatnya kita adalah tamu yang sedang bertandang ke rumah salah seorang sahabat kita. Kita tak sadar bahwa harta yang kita punya, seberapapun jumlah dan kwantitasnya hanya sekadar titipan dan pinjaman dari yang Maha Kaya.

Abdullah bin Mas’ud ra pernah menasihati kita:

“Tidak seorang pun yang berada di pagi hari melainkan ia adalah sebagai seorang tamu dan hartanya adalah pinjaman. Seorang tamu seharusnya sadar bahwa beberapa saat lagi ia akan meninggalkan rumah yang ia singgahi. Dan hartanya sewaktu-waktu akan dikembalikan kepada pemiliknya.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Tamu yang baik adalah tamu yang menjaga adab-adab Islam dalam bertamu. Seperti; tidak berlama-lama dalam bertamu. Mata terpelihara dari mengamati perabot dan perhiasan milik tuan rumah. Jika terpaksa harus bermalam, maka tidak lebih dari tiga malam.

Jika keberadaan kita di dunia ini diumpamakan seperti tamu, yang hanya singgah beberapa saat lamanya. Maka tentu kita ingin memberikan kesan seindah dan seelok mungkin kepada tuan rumah. Dan kita sadar, bahwa tamu yang baik adalah tamu yang bersikap sopan santun, memahami aturan, dan tidak menyulitkan serta menyusahkan tuan rumah.

Demikianlah dunia tempat kita hidup sekarang ini, hanya seperti tempat persinggahan sementara. Setelah waktu istirahat dirasa cukup, maka kita akan melanjutkan perjalanan yang hakiki. Perjalanan menuju Allah swt. Safar menuju tempat yang kekal abadi.

Maka pada saat kita terlena. Dan menjadikan tempat persinggahan sebagai tempat menetap, maka hal itu merupakan awal dari bencana yang besar. Dan pangkal dari kesengsaraan abadi.

Allah swt membuat ilustrasi tentang kehidupan dunia dalam sebuah firman-Nya, “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal di dunia melainkan sesaat di waktu petang atau pagi hari.” An Nazi’at: 46.

Saudaraku…
Harta benda yang kita kumpulkan siang dan malam. Pagi, siang dan petang hari. Hakikatnya adalah titipan dan pinjaman Allah swt. Walau terkadang kita meraihnya dengan perahan keringat. Meskipun terkadang kita harus mengaisnya ke luar daerah dan bahkan ke luar negeri.

Seperti titipan dan pinjaman lainnya, jika sewaktu-waktu pemiliknya mengambilnya dari kita, maka kita tak bisa menolaknya atau menahannya. Harta kita sesungguhnya, yang akan kita bawa sampai kita menutup mata adalah harta yang kita kembalikan kepada pemiliknya. Berupa zakat, sedekah, infaq, menolong orang yang kesusahan, membantu orang yang tak mampu dan seterusnya.

Selebihnya akan kita tinggalkan. Tidak kita bawa ke liang lahat. Dan bahkan bisa jadi sepeninggal kita, harta peninggalan kita justru menjadi barang rebutan bagi ahli waris kita.

Saudaraku..
Sadarkah kita bahwa sebenarnya kita adalah tamu? Yang mungkin esok atau lusa kita harus pamit kepada tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan yang sangat jauh. Lebih jauh dari jangkauan pandangan mata kita.

Dan pernahkah kita menghitung harta titipan dan pinjaman Allah swt yang ada di tangan kita? Kapan kita akan mengembalikannya kepada pemiliknya? Wallahu a’lam bishawab.

Iklan
24 Oktober 2012

MERASAKAN KEHADIRAN TUHAN dalam SHALAT

oleh alifbraja

Wahai Ahmad! Aku heran dengan tiga kelompok dari hambaku: hamba yang melakukan shalat dan dia tahu kepada siapa dia mengangkatkan tangannya serta di depan siapa dia berdiri, akan tetapi ngantuk dalam shalatnya dan aku heran dengan hamba yang memiliki kemampuan untuk bisa menyiapkan makanan hari ini akan tetapi dia hanya memikirkan untuk esok hari serta aku heran dengan hamba yang tidak tahu bahwa aku ridho atau kah marah kepadanya sementara dia tertawa”.

 

Dalam kelanjutan dari hadits mi’raj, Tuhan berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

Wahai Ahmad! Aku heran dengan tiga kelompok dari hambaku: Pertama: Aku heran dengan hamba yang melakukan shalat dan di tahu kepada siapa dia mengangkat tangan serta di depan siapa dia berdiri, akan tetapi dia ngantuk dalam shalatnya!…”

 

Kutipan dari hadits ini mengisyaratkan akan satu poin dimana kita semua atau kebanyakan dari kita terkena dengan ‘penyakit’ tersebut yaitu kita belum bisa menjalankan shalat yang sebenarnya; walaupun setiap orang yang memiliki kesadaran dan makrifat yang kuat maka dia akan lebih memiliki perhatian kepada shalat dan akan lebih memahami pentingnya shalat.

Kita semua tahu bahwa shalat kita dalam keutamaan dan kelayakannya tidak seperti shalat yang dilakukan oleh para para wali ilahi dan juga kita mengetahui bahwa efek dan buah dari shalat yang telah disebutkan dalam banyak ayat dan riwayat tidak dimiliki oleh shalat kita, akan tetapi banyak dari kita tidak mengetahui dengan betul kadar kekurangan dan kelemahan kita, oleh karenanya kita mesti berusaha untuk membenahi segala kekurangan dan kecacatan shalat kita. Kita harus menyadari kekurangan dan kecacatan shalat dengan ketidak hadiran hati dikarenakan kurangnya perhatian serta kita harus benar-benar tahu bahwa jika kita melakukan shalat dengan sempurna dan semestinya, betapa banyak faedah yang akan kita dapatkan dari kesempatan untuk menjalankan shalat dan betapa kita akan meraih hasil-hasil yang tinggi darinya dimana tanpa adanya kehadiran hati dan kesadaran untuk menjalankan shalat akan banyak hasil dan manfaat yang akan hilang dari kita serta dengan bahasa apa lagi supaya kita bisa sadar.

Sepantasnya kita disini menyinggung sedikit tentang shalatnya para wali Tuhan dan membandingkan shalat mereka dengan shalatnya kita sehingga kita bisa melihat kekurangan yang ada dalam shalat kita. Sebab dengan membandingkan yang lemah dengan yang kuat serta yang kurang dengan yang sempurna kita akan lebih mengetahui kekurangan dan kecacatan kita.

Alhasil, untuk membenahi kekurangan karena kurangnya perhatian kepada shalat, telah banyak disinggung oleh para tokoh agama dalam buku-buku mereka diantaranya buku “Asraar Al-Shalat” karya marhum Mirza Jawad Aqhae Tabrizi ra. juga buku “Asraar Al-Shalat” karya Imam Khumanei ra. Dan pada kesempatan ini kita akan menyinggung bagian dari poin-poin yang berkenaan dengan shalat:

 

 

Hakekat dan Essensi Shalat

Shalat artinya bahwa seorang hamba berdiri di depan Tuhan dan mengakui akan kehambaannya serta mengadukan seluruh permohonannya kepada Tuhan. Orang yang berdiri untuk melakukan shalat hendaklah dia merasakan kehadiran Tuhan hendaklah sadar didepan maqom apa dia berdiri dan ini akan membuat dia menjalankan tugas kehambaan dengan puncak ketundukan dan kekhusyuan.

Ketika kita berdiri untuk menjalankan shalat, sangat sedikit konsentrasi kita kepada shalat akan tetapi konsentrasi kita kepada masalah-masalah lain yang kita miliki, bahkan terkadang masalah tersebut berhubungan dengan puluhan tahun yang lalu yang masuk ke dalam benak kita. Malah ketika kita kita hendak mengucapkan salam baru kita sadar bahwa kita sedang menjalankan shalat! Betapa hal ini sangat buruk dan tidak sepantasnya karena kita sedang berdiri dihadapan Tuhan serta kita tidak sadar didepan siapa kita berdiri dan apa yang kita ucapkan! Tuhan memasukkan sifat-sifat ini tergolong kepada tanda-tanda orang munafik:

Ÿwurtbqè?ù’tƒno4qn=¢Á9$#žwÎ)öNèdur4’n<$|¡à2

dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas.[1]

 

Terdapat juga dalam sebauh riwayat bahwa barang siapa yang menjalankan shalat akan tetapi hatinya tidak terikat oleh shalat, apakah dia tidak takut kalau aku jadikan dia menjadi seperti keledai. Saking buruk dan tidak pantasnya seseorang tidak perhatian dan konsentrasi dalam shalatnya sehingga dia berhak dirubah menjadi seperti seekor keledai; pada hakekatnya dia bukanlah manusia. Bagaimana mungkin seseorang berdiri di depan seseorang pembesar, akan tetapi dia tidak perhatian kepadanya dan hatinya ditempat lain, apalagi dia berdiri di depan Tuhan alam semesta – Tuhan segenap wujud, seluruh kebaikan dan semua kenikmatan darinya – bahkan dia tidak perhatian kepadaNya melebihi ketidak perhatian dia kepada manusia biasa!.

Apakah ketika seseorang berdiri di depan yang lain dan berbicara dengannya, dia akan memalingkan mukanya? Jika berbuat demikian apakah secara akal dia tidak disebut gila? Alhasil, Tuhan tidaklah bersifat jisim sehingga kita mengarahkan muka kita ke arahnya, akan tetapi hubungan atau perhatan dengan Tuhan dilakukan lewat hati. Sebab dia melingkupi dan menguasai segala sesuatu dan hanya dengan hati kita bisa menghadapNya artinya jika kita hati kita berpaling dariNya dan tidak perhatian dalam shalat kita berarti kita berpaling dari Tuhan.

Apakah seseorang ketika Tuhan dengan karuniaNya memberikan izin dan kesempatan untuk berdiri di depanNya, berbicara denganNya dan menyampaikan segala isi hatinya serta bermunajat kepadaNya – bukannya memanfaatkan kesempatan ini dan bersyukur atas kenikmatan yang besar ini – malah dial alai dariNya? Orang-orang besar ( penting ) tidak sembarangan member izin dan kesempatan kepada sembarang orang untuk bisa menghadap kepadanya, akan tetapi Tuhan karena kecintaanNya yang tak terbatas dia membuka pintu rumahNya lebar-lebar untuk semua manusia dan mengizinkan mereka untuk menghadapNya. Maka kita mesti menggunakan kesempatan emas ini dan dengan segenap wujud kita menghadap kepadaNya dan perhatian kita hanya mengarah kepadaNya.

Jika seseorang tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan dan tidak meyakini bahwa dia berada dihadapanNya, jelas dia tidak akan perhatian kepadaNya, akan tetapi orang yang meyakini akan Tuhan dan tahu bahwa kita berdiri di hadapanNya maka ketidak perhatian kita adalah sebuah kejelekan dan sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Oleh karenanya dalam riwayat menggunakan kata “aku heran”:[2]Tuhan berfriman: aku heran kepada hambaku yang berdiri di depanku akan tetapi dia malas-malasan dan tidak perhatian.

 

Urgensi dan Nilai Shalat

Dikarenakan shalat memiliki urgensi yang cukup besar dan memberikan pengaruh yang sangat berarti bagi manusia, syetan pun dengan segala daya dan upaya berusaha mencegah manusia untuk bisa betul-betul memahami hakekat shalat serta menghalangi manusia untuk menjalankan shalat yang merupakan perbuatan baik disisi Tuhan. Oleh karenanya syetan berusaha memasukan kedalam fikiran manusia supaya dia mengingat apa-apa yang sudah terlupakannya sehingga hati manusia tidak lagi konsentrasi kepada shalat. Akan tetapi syetan hanya bisa menguasai orang-orang seperti kita yang mengizinkan dan memberikan dia tempat di hati kita serta tidak berusaha menjauhkannya dari diri kita akan tetapi malah melibatkannya, maka tentunya ketika menjalankan shalat kita disibukkan dengannya.

Jalan yang terbaik bagi manusia untuk meraih kesempurnaan dan dekat dengan Tuhan adalah shalat dan dalam rangka mencurahkan karuniaNya kepada manusia serta agar manusia bisa meraih kesempurnaan, Tuhan mewajibkan shalat dalam lima waktu. Bahkan sebagian dari fuqoha ( ahli fiqh ) berkata: barang siapa yang tenggelam di lautan maka dia tetap herus menjalankan shalat sesuai dengan keadaannya dan hendaklah hatinya konsentrasi kepada Tuhan walaupun syarat-syarat yang lain seperti menghadap kiblat bagi dia dimaafkan ( tidak disyaratkan ). Ini semua tidak lain melainkan karena shalat memiliki peran sangan mendasar dalam kesempurnaan dan kebahagiaan manusia, oleh karenanya Nabi saw. bersabda: “shalat adalah sebaik-baiknya perkara…”[3]serta imam Ridho as. berkata: “shalat adalah kurbannya setiap ketakwaan”.[4]

Syetan dengan jiwa permusuhan lamanya dengan manusia akan selalu berusaha untuk menghalangi manusia untuk mendapatkan apa yang paling baik dan yang paling penting baginya dia juga akan berusaha untuk membuat manusia lalai dari factor-faktor yang membuat mereka sempurna dan bahagia:

tA$s%y7Ï?¨“ÏèÎ6sùöNßg¨ZtƒÈqøî_{tûüÏèuHødr&

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya,[5]

 

 

Terkadang dua raka’at shalat walau itu shalat sunnah yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusu’an akan membuat dosa-dosa manusia terampuni, sebab tidak mungkin manusia yang melakukan shalat dengan penuh kesadaran dan kekhusu’an serta tahu di depan siapa dia berdiri akan tetapi dia tidak menyesali perbuatan-perbuatan buruk dan jahat yang telah dilakukannya serta tidak berniat untuk meninggalkan perbuatan tersebut.

Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad saw. bersabda: “Jika di depan rumah seseorang mengalir sungai dan lima kali dalam sehari dia melakukan mandi, apakah akan tersisa kotoran di badannya? Shalat pun demikian pula seperti sebuah sungai dan ketika manusia melakukan shalat maka semua dosa-dosanya akan diampuni”.[6]

Jika kita sudah sudah memahami essensi shalat dan betul-betul mengambil manfaat darinya maka tidak akan tersisa lagi dosa dalam diri kita. Akan tetapi sangat disayangkan kita tidak betul-betul memahami nilai-nilai yang ada dalam shalat dan kita menjalankannya dengan asal-asalan; oleh karenanya sama sekali kita tidak mendapat faedah darinya. Maka poin kedua adalah kita harus betul-betul memahami pentingnya serta pengaruh yang sangat berharga dari shalat sehingga kita sadar bahwa shalat yang dilakukan tanpa ada kesadaran, kekhusu’an dan kehadiran hati sama sekali tidak memiliki faedah serta keberkahan.

Jika dua raka’at shalat bisa membuat semua dosa-dosa manusia terampuni, konsekwen dalam menjalankan shalat-shalat yang berkualitas dan diterima oleh Tuhan, akan membuat manusia bisa meraih derajat yang paling tinggi yaitu “qurb ila Allah”. Maka dengan memperhatikan poin-poin tersebut, tidak akan tersisa bagi kita kecuali penyesalan dan kerugian diakibatkan karena kehilangan faedah serta manfaat yang besar tersebut.

Jika kita kehilangan uang sebesar seratus tuman ( mata uang Iran ) maka konsentrasi kita menjadi buyar dan jika kita kehilangan emas permata yang sangat berharga atau cincin yang bernilai seratus ribu tuman, selama beberapa hari akan selalu kepikiran dan tidak bisa tidur; sementara jika kita kehilangan dua raka’at shalat yang lebig berharga dari seluruh dunia dan kelezatannya, kita tidak merasakan penyesalan sama sekali.

Andai kita tahu bahwa bagaimana para wali Tuhan mengambil faedah dari shalat: sebagian para pembesar berkata – mungkin ini juga kandungan dari beberapa riwayat – jika para raja dunia mengetahui betapa lezatnya melakukan shalat maka dia akan menanggalkan tahtanya dan hanya akan melakukan shalat. ( Dari pernyataan dan ucapan mereka ini menunjukan akan tingginya derajat yang telah mereka raih ).

Betapa kita selalu berusaha siang dan malam untuk bisa meraih kelezatan-kelezatan dengan melengkapi diri dengan makanan dan pakaian serta dengan yang lainnya. Terkadang kita selama bertahun-tahun banting tulang dan mempersiapkan segala sesuatu untuk kita bisa merasakan kelezatan; seorang alim berkata: semua kelezatan yang dimiliki oleh para raja tidak ada apa-apanya dibanding dengan kelezatan yang dimiliki oleh seoarang mukmin dalam menjalankan shalat dua raka’at; akan tetapi mereka bahagia dengan kelezatan-kelezatan materi dan tidak mengetahui akan kelezatan-kelezatan bermunajat dengan Tuhan.

Untuk bisa memperbaiki semua kerugian-kerugian yang telah lalu dan betul-betul mengambil faedah dari shalat serta agar kita tidak kehilangan berkah-berkah dan faedah-faerah yang ada dalam munajat dengan Tuhan, kita harus betul-betul mengamalkan aturan-aturan yang ada dalam riwayat-riwayat atau ucapan-ucapan para ulama, para wali Tuhan dan nasehat-nasehat akhlaki dari para ulama akhlak dimana baik mereka sendiri sudah mengalami dan merasakan hal-hal tersebut atau mereka merujuk dari riwayat-riwayat. ( Nilai yang dimiliki oleh poin-poin ini sungguh tidak terbatas, akan tetapi karena ini kita bisa dapatkan dengan percuma dan dengan sangat murah, kita tidak bisa merasakannya. Setiap riwayat yang tertulis dalam buku-buku hadits lebih berharga dari semua harta benda dan semua kelezatan-kelezatan dunia ).

 

Merenungkan Tentang Shalat dan Kebesaran Tuhan

Termasuk kepada amalan-amalan yang bisa menghasilkan kehadiran hati dan konsentrasi adalah hendaklah seseorang beberapa saat sebelum menjalankan shalat dia duduk di mesjid atau di tempat shalat, berfikir dan mengkonsentrasikan diri hanya kepada Tuhan serta mengosongkan diri kita dari selainNya. Kosongkan hati kita dari pikiran-pikiran, khayalan-khayalan serta ingatan-ingatan dengan mengkonsentrasikan indra kita juga melupakan semua kecendrungan-kecendrungan duniawi dan berusahalah mengahdirkan hati. Alhasil, dengan tafakur dan penyesalan akibat kehilangan nilai-nilai maknawi dari shalat serta memperbaiki kerugian dan kekurangan yang telah lalu maka hal-hal di atas akan bisa diraihnya.

Sebelum melakukan shalat sebaiknya seseorang mengkontrol pikirannya dan sebisa mungkin konsentrasinya terpusat kepada shalat, tempat shalat dan tempat sujud. Atau jika dia melakukan shalat di tempat sepi dan tidak seorang pun yang melihatnya, hendaklah dia duduk santai sehingga tidak ada beban lagi dibadannya dan setelah mengkonsentrasikan indranya sebisa mungkin dia merasakan kehadiran Tuhan serta membawa dirinya berada dihadapan Tuhan yang maha tinggi.

Kita sering mengklaim bahwa berada di haribaan Tuhan begitu juga dengan alam ini, akan tetapi ini hanya di mutuk belaka sementara hati kita belum bisa meyakininya. Ketika kita sedang sendirian berada di kamar dan jauh dari pandangan orang lain, kita akan berbuat sesuatu perbuatan tertentu dan ketika kita sadar bahwa ada orang lain atau keluarga kita memperhatikan kita maka kita akan merubah perbuatan kita. Ketika manusia menjaga perbuatannya di hadapan orang lain serta kita akan selalu hati-hati dalam berbuat, maka jika dia betul-betuk meyakini bahwa kita berada di hadapan Tuhan serta tahu bahwa Dia melihat perbuatan kita maka tentu dia akan menjaga hatinya supaya tidak mengarah kepada sesana dan kemari. Jika manusia tahu bahwa dia berada di hadapan orang lain maka hatinya tidak akan merasa bebas untuk berbuat ini dan itu terutama ketika dia merasa bahwa dia berada di hadapan Tuhan serta merasakan kehadiranNya maka dia akan lebih mengkontrol hatinya serta akan betul-betul merasakan kehadirannya. Atau ketika dalam shalat dia mengucapkan “Allahu Akbar”dan dia meyakini bahwa Tuhan maha besar dari segala sesuatu dimana kebesarannya tidak terbatas maka sedetikpun dia tidak akan lalai akan kehadiranNya. Pada langkah pertama kita belum bisa merasakan kebesaran Tuhan, kita hanya melapalkan ucapan ini dan tidak bisa memenggambarkan kebesaran dan keagunganNya; apa itu kebesaran Tuhan? Atau sebesar apa kebesaran Tuhan sehingga Dia lebih besar dari manusia dan seluruh makhluk? Otak kita sama sekali tidak bisa menampung kebesaran Tuhan, walaupun dengan merenungi karya-karya Tuhan serta dengan usaha yang keras dalam rangka meniti tahapan-tahapan sampai akhirnya kita bisa merasakan kebesaran Tuhan.

Telah dinukil dari Imam Shadiq as. sebuah riwayat yang rinci bahwa seorang perempuan penjual minyak wangi bernama Zaenab datang ke rumah Nabi saw. dan menanyakan tentang kebesaran Tuhan, Rasul saw. menjawab pertanyaanya dengan memberikan perbandingan alam-alam, tujuh langit dan bintang-bintang dimana yang satu lebih kecil dibanding yang lain, diantaranya beliau bersabda: “bumi ini dengan apa yang ada di dalam serta yang ada di atasnya dibandingkan dengan langit pertama ibarat sebuah cincin yang berada di padang pasir yang luas”.[7]Perbanding ini juga berlaku antara satu alam dengan alam-alam yang ada di atasnya dan tidak ragu lagi bahwa perbandingan antara alam satu dengan alam yang lain serta perbandingan antara bintang-bintang di angkasa raya akan membawa manusia untuk bisa memahami keagungan Tuhan.

Bumi dengan segala kebesarannya sangat kecil dibandingkan dengan matahari begitu pula matahari tidak bisa dibandingkan dengan bintang-bintang yang lainnya dimana semuanya berputar di angkasa dan tidak terjadi benturan antara yang satu dengan yang lain. Ketika seseorang mengetahui ada susunan bintang baru, dia akan mengatahui bahwa sampainya cahaya dari satu bintang kepada bintang yang lain lamanya sampai berjuta-juta tahun. Cahaya yang memiliki kecepatan tiga ratus ribu kilo meter setiap detiknya, bayangkan jika selama setahun apalagi sampai satu juta tahun! Selain itu, dibelakang bintang-bintang ini terdapat alam-alam lain, sebab bintang-bintang yang bisa di lihat dengan mata lahir terletak di langit pertama. Tentang masalah ini Tuhan berfirman:

$¨Z­ƒy—uruä!$yJ¡¡9$#$u‹÷R‘‰9$#yxŠÎ6»|ÁyJÎ/

dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang.[8]

 

( Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang langit-langit yang lain serta tidak bisa memperkirakan luas dan besarnya langit tersebut ). Tidak ragu lagi bahwa ini semua menunjukan akan kebesaran serta keagungan tanpa batas Tuhan. Tuhan yang dengan ucapan “kun” ( jadilah ), Dia menciptakan semua wujud – pada hakekatnya inilah kita yang berkata begitu sementara Tuhan tidak butuh untuk menyucapkan kata “kun”dan kehendakNya cukup untuk menciptakan seluruh wujud – memiliki kebesaran dan keagungan yang maha tidak terbatas dimana alam semesta tercipta dengan kehendakNya dan akan tetap ada karenaNya pula serta jika Dia tidak berkehendak maka semuanya akan musnah.

Maka ketika manusia dengan memperhatikan kebesaran ciptaan, sampai batas tertentu dia mengetahui kebesaran Tuhan sepantasnya ketika dia melakukan shalat hendaklah sadar di depan siapa dia sedang berdiri. Apakah pantas ketika berdiri di depanNya pikiran kita kepada roti, air, pakaian, rumah atau peralatan yang lain? Seberapa nilai seluruh wujud, manusia, bumi, lautan dan gunung-gunung dibandingkan dengan wujud Tuhan sehingga manusia mau melepaskan Tuhan demi mencari isi perut, pakaian, wanita, anak-anak atau dunia? Apakah manusia yang berakal akan berbuat demikian?.

Oleh karenanya salah satu perkara yang mengakibatkan munculnya kehadiran hati dalam diri manusia adalah hendaklah dia sebelum shalat untuk merenungkan keagungan Tuhan serta betul-betul menyadari di depan siapa dia berdiri atau hendaklah dia membaca doa-doa baik sebelum ataupun sesudah shalat. Ketika shalat hendaklah berusaha untuk memahami makna dari kelimat-kalimat yang diucapkannya, berpikir dan merenungkan semuanya seperti apa yang ditekan oleh Marhum Mirza Jawad Oqo Tabrizi dalam bukunya “Asrar Al-Shalat”. Jelas ketika seseorang hendak berkata, langkah pertama dia akan menggambarkan dalam benaknya makna-makna dari lafadz yang hendak diucapkan kemudian baru dia berucap, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan bagi kita untuk cepat-cepat melakukan shalat sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan dan merenungkan makna-makna dari lafadz yang kita ucapkan.

Selayaknya manusia melakukan shalat dengan penuh konsentrasi dan jika sebelumnya dalam satu menit dia menyelesaikan satu raka’at hendaklah sekarang selesaikan dalam dua menit walaupun sebenarnya ini sangat sebentar bagi orang yang hendak pergi keharibaan ilahi. Lama kelamaan konsentrasi kepada makna-makna bacaan shalat akan menjadi ‘malakah’ baginya seperti hanya perhatian kepada lafadz shalat yang sudah menjadi ‘malakah’ baginya.

Imam Sajjad as. berkata:

“…dan ketika engkau menjalankan shalat, anggaplah bahwa ini adalah shalat terakhirmu!”.[9]

 

Ketika melakukan shalat kita tidak tahu apakah ini shalat terakhir bagi kita ataukah bukan, oleh karenanya Imam as. berkata hendaklah kita anggap bahwa ini adalah shalat terakhir bagi kita. Jika manusia mengetahui bahwa umurnya tidak tersisa kecuali sebanyak waktu dua raka’at shalat maka dia akan betul-betul mengkonsentrasikan dirinya dan berusaha untuk melakukan shalat sebaik mungkin dan sekhusu’ mungkin. Sementara ini kita tidak tahu kapan akan berakhir umur kita maka sebaiknya kita untuk selalu menganggap bahwa shalat yang kita lakukan adalah shalat terakhir. Anggapan ini akan membuat kita untuk selalu bertahan di hadapan syetan dan berusaha mengeluarkannya dari dalam diri kita serta betul-betul memanfaatkan kesempatan-kesempatan dan detik-detik dari shalat yang kita lakukan. Tidak diragukan bahwa keadaan seperti akan sangat berpengaruh kepada kita untuk bisa menghadirkan hati kita. Walau pun sebaiknya setelah selesai melakukan shalat manusia tidak lalai kepada Tuhan serta merasa diri tidak lagi berada dihadapan dan dilihat olehNya.

Apakah setelah beberapa tahun anda jauh dari teman dekat dan sekarang anda berhasil bertemu dengannya serta sangat menikmati pertemuan ini, akan tetapi setelah pertemuan tersebut anda langsung berdiri dan tanpa mengucapkan kata perpisahan pergi meninggalkannya begitu saja? Seseorang yang hanya sekedar mengucapkan “assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barokaatuh” dia langsung berdiri dan melanjutkan kembali pekerjaannya seolah-olah dia merasa diri terpenjarakan ketika bersama Tuhan dan menunggu waktu dan secepat mungkin untuk lepas dari penjara dan kurungan tersebut sehingga dirinya menjadi bebas?.

Seharusnya setelah melakukan shalat hendaklah kita membaca doa yang panjang baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Dalam sebuah riwayat Nabi saw. menukilkan bahwa Tuhan berfirman:

Barang siapa yang tertimpa hadas dan dia tidak melakukan wudlu sesungguhnya dia telah berpaling ( menjauh ) dariu, barang siapa yang terkena hadas lalu dia berwudlu akan tetapi tidak melakukan shalat dua raka’at sungguh dia telah berpaling dariku dan barang siapa yang terkena hadas lalu dia berwudlu setelah itu dia melakukan shalat dua rakaat dan berdoa, maka jika seandainya aku tidak menjawab permohonannya dariku tentang urusan agama dan dunianya sungguh aku telah menjauh darinya dan aku bukanlah tuhan yang menjauh (dari hambanya)”.[10]

 

Maka salah satu perkara yang menyebabkan perhatian kepada Tuhan dan menarik karuniaNya adalah kondisi yang selalu dalam keadaan wudlu. Terlebih lagi jika setelah melakukan wudhu dia menjalankan shalat dua raka’at lalu setelah itu dia berdoa dan memohon kepadaNya agar untuk beberapa saat dia bisa bersamaNya dan selalu mendapat taufik serta kebaikanNya.

Apakah untuk melakukan wudlu dan menjalankan dua raka’at shalat butuh waktu berapa lama? Serta apa susahnya untuk melakukan itu dimana Tuhan berfirman: jika doanya tidak aku kabulkan maka aku telah berbuat dhalim kepadanya, ini tidak lain kecuali karena karunia Tuhan dan jangan sampai dengan mudah karunia ini kita hilangkan.

Orang-orang yang selalu melakukan hal ini dan selalu dalam keadaan wudlu lalu setelah itu dia melakukan shalat dua raka’at dan diakhiri dengan berdoa, maka mereka telah mendapat banyak keuntungan karena pasti doa-doanya akan terkabulkan walaupun mungkin tidak secara langsung, karena hal itu sesuai dengan mashlahat yang ada di sisi Tuhan.

Kelanjutan dari hadits mi’raj tersebut, Tuhan berfirman:

dan aku heran dengan hamba yang memiliki kemampuan untuk bisa menyiapkan makanan hari ini akan tetapi dia hanya memikirkan untuk esok hari serta aku heran dengan hamba yang tidak tahu bahwa aku ridho atau kah marah kepadanya sementara dia tertawa”.


[1]Al-Taubah: ayat 54.

[2]Kondisi-kondisi seperti keheranan, takut, sedih dan sifat lain khusus bagi wujud material yang memiliki sifat materi. Tuhan terlindung dari keheranan karena seuatu atau sifat jiwa yang lain, ketika Dia menggunakan kata-kata tersebut, Dia ingin berbicara dengan bahasa kita.

[3]Jaami’ Ahadis Al-Syiah, jilid 4, hal. 6. Atau Al-Hikmah Al-Zaahirah, hal. 139.

[4]Kaafi, jilid 3, hal. 265.

[5]Shaad: ayat82.

[6]Wasaail Al-Syiah, jilid , hal. 7.

[7]Bihar Al-Anwar, jilid 60, hal. 83-85.

[8]Al-Fushilat: ayat 12.

[9]Bihar Al-Anwar, jilid 69, hal. 408.

[10]Bihar Al-Anwar, jilid 80, hal. 308.

16 Oktober 2012

Zikir Meliputi Perkataan, Perbuatan Dan Perasaan

oleh alifbraja

Sesungguhnya Aku adalah Allah! Tidak ada Tuhan melainkan Aku! Dan dirikanlah sembahyang bagi mengingati Aku! ( Ayat 14 : Surah Taha )

Sembahyang mengandungi perbuatan anggota zahir, perkataan yang dilafazkan dan penyertaan hati yang benar menghadap kepada Allah s.w.t dengan sepenuh jiwa raga. Mengingati Allah s.w.t melalui sembahyang merupakan zikir yang paling sempurna. Perbuatan menjadi zikir, perkataan menjadi zikir dan perasaan menjadi zikir. Sekalian maujud berada dalam suasana zikir. Zikir dalam sembahyang menggabungkan pengakuan bahawa yang diingatkan itu adalah Allah s.w.t; bahawa Allah s.w.t yang diingati itu adalah Tuhan; bahawa tiada Tuhan melainkan Dia; bahawa Allah adalah Tuhan yang disembah; bahawa menyembah Allah s.w.t adalah dengan perkataan, perbuatan dan perasaan; bahawa apa sahaja yang dilakukan adalah kerana mentaati-Nya dan kerana ingat kepada-Nya.

Zikir yang di dalam sembahyang menjadi induk kepada zikir-zikir di luar sembahyang. Menyebut nama-nama Allah s.w.t adalah zikir. Perkataan yang baik-baik diucapkan kerana Allah s.w.t adalah zikir. Nasihat menasihati kerana Allah s.w.t adalah zikir. Menyeru manusia ke jalan Allah s.w.t adalah zikir. Semua itu merupakan zikir perkataan. Zikir perbuatan pula meliputi segala bentuk amalan dan kelakukan yang sesuai dengan syarak demi mencari keredaan Allah s.w.t. Berdiri, rukuk dan sujud dalam sembahyang adalah zikir. Melakukan pekerjaan yang halal kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi peraturan yang Allah s.w.t turunkan, adalah zikir. Mengalihkan duri dari jalan kerana Allah s.w.t adalah zikir. Apa juga perbuatan yang tidak menyalahi peraturan syariat jika dibuat kerana Allah s.w.t maka ia menjadi zikir. Tidak melakukan apa-apa pun boleh menjadi zikir. Orang yang menahan anggotanya, lidahnya dan hatinya daripada menyertai perbuatan maksiat sebenarnya melakukan zikir jika dia berbuat demikian kerana Allah s.w.t. Semua itu menjadi zikir jika dibuat kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi perintah-Nya, kerana mencari keredaan-Nya dan kerana ingat kepada-Nya. Jadi, perbuatan dan perkataan terikat dengan amalan hati untuk menjadikannya zikir. Ia hanya dikira sebagai zikir jika ada zikir hati iaitu hati ingat kepada Allah s.w.t, ikhlas dalam melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya Tanpa zikir hati tidak ada zikir-zikir yang lain, kerana setiap amalan digantungkan kepada niat yang lahir dalam hati.

Zikir adalah mengingati Allah s.w.t sebaik dan seikhlas mungkin. Mengingati nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah zikir. Melihat matahari, bulan dan bintang di langit sambil mengenang kebijaksanaan Allah s.w.t merupakan zikir. Melihat kilat memancar dan mendengar guruh berdentum sambil mengenangkan keperkasaan Allah s.w.t adalah zikir. Melihat fajar subuh, melihat dan mencium bunga yang indah lagi harum sambil mengenang keelokan Allah s.w.t adalah zikir juga namanya. Jadi, zikir adalah pekerjaan sepanjang masa, setiap ketika, semua suasana, pada setiap sedutan dan hembusan nafas dan pada setiap denyutan nadi. Kehidupan ini merupakan zikir daim (zikir berkekalan) jika mata hati sentiasa memerhatikan sesuatu tentang Allah s.w.t.

Misalkan seorang sedang melakukan zikir hati dan perkataan; menyebut dan mengingati nama-nama dan sifat-sifat Allah s.w.t. Tiba-tiba datang seorang kanak-kanak di hadapannya. Anak kecil itu memegang sebotol racun. Anak kecil mahu meminum racun tersebut. Pada ketika itu ahli zikir tadi berkewajipan meninggalkan pekerjaan zikir yang sedang dilakukannya dan berpindah kepada zikir menyelamatkan anak kecil yang mahu meminum racun itu. Perpindahan perbuatan tidak memutuskan zikir atau ingatannya kepada Allah s.w.t. Dia menyebut nama Tuhan kerana ingat kepada Tuhan. Dia menyelamatkan anak kecil itu kerana mentaati perintah Tuhan. Tuhan yang mentakdirkan anak kecil itu mahu meminum racun di hadapannya. Tuhan juga mengadakan syariat yang mewajibkan membuang kemudaratan. Taat kepada perintah Tuhan dan reda dengan takdir Tuhan yang datang serta bertindak menurut peraturan syariat Tuhan merupakan zikir yang sangat mulia pada sisi Tuhan. Zikir yang begini termasuk di dalam golongan zikir yang berkekalan atau zikir daim.

Zikir daim sukar diperolehi. Kebanyakan manusia melakukan pekerjaan yang baik-baik yang seharusnya menjadi zikir tetapi dilakukan tanpa ingatan kepada Allah s.w.t dan bukan dengan penghayatan mematuhi syariat-Nya. Kekuatan dalaman perlu ditambah bagi memperolehi zikir daim. Bagi tujuan tersebut perlulah dilakukan zikir sebutan iaitu zikir nafi-isbat (ucapan kalimah “La ilaha illa Llah ”) dan zikir nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Zikir yang seperti ini memberi kesan kepada menguatkan rasa kecintaan dan ingatan kepada Allah s.w.t. Ia membuka kesedaran-kesedaran dalaman seperti yang telah dinyatakan pada tajuk yang membicarakan perjalanan Latifah Rabbaniah. Kekuatan kesedaran dalaman mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan ikhlas kerana Allah s.w.t yang dicintainya, yang hampir dengannya. Zikir nafi-isbat dan sebutan nama-nama serta sifat-sifat-Nya menjadi jalan kepada zikir dalam bentuk mentaati peraturan-Nya tanpa lupa kepada-Nya. Jadi, perlu dilakukan zikir secara sebutan untuk memudahkan zikir secara amalan atau perbuatan dan kelakuan. Mudah-mudahan terhasillah zikir yang berkekalan.

Zikir atau mengingati Allah s.w.t haruslah dilakukan menurut kadar kemampuan masing-masing. Zikir yang paling baik diucapkan adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w dengan sabda baginda s.a.w yang bermaksud: “Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa. Itulah ucapan kalimah ‘La ilaha illa Llah ’ .”

Orang yang tidak pernah berzikir adalah orang yang sangat keras hatinya dan kuat dikuasai oleh syaitan, hawa nafsu dan dunia. Cahaya api syaitan, fatamorgana dunia dan karat hawa nafsu membaluti hatinya sehingga tidak ada ingatannya kepada Allah s.w.t. Seruan, peringatan dan ayat-ayat Tuhan tidak diterima oleh hatinya. Beginilah keadaan orang Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Orang yang masih mempunyai kesedaran perlu memaksakan dirinya untuk berzikir, sekalipun hanya berzikir dengan lidah sedangkan hatinya masih lalai dengan berbagai-bagai ingatan yang selain Allah s.w.t. Pada tahap pemaksaan diri ini, lidah menyebut Nama Allah s.w.t tetapi hati dan ingatan mungkin tertuju kepada pekerjaan, harta, perempuan, hiburan dan lain-lain. Beginilah tahap orang Islam biasa. Orang yang berada pada tahap ini perlu meneruskan zikirnya kerana jika dia tidak berzikir dia kan lebih mudah dihanyutkan di dalam kelalaian. Tanpa ucapan zikir syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Zikir pada peringkat ini berperanan sebagai juru ingat. Sebutan lidah menjadi sahabat yang memperingatkan hati yang lalai. Berlakulah pertembungan di antara tenaga zikir dengan tenaga syaitan yang menutupi hati. Tenaga syaitan akan mencuba untuk menghalang tenaga zikir daripada memasuki hati. Tindakan syaitan itu membuatkan orang yang ingin berzikir itu menjadi malas dan mengantuk. Oleh yang demikian perlulah dilakukan mujahadah, memerangi syaitan yang menghalang lidah daripada berzikir itu. Zikir yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan berjaya melepasi benteng yang didirikan oleh syaitan. Tenaga zikir yang berjaya memasuki hati akan bertindak sebagai pencuci, menyucikan karat-karat yang ada pada dinding hati. Pada peringkat permulaannya zikir masuk ke dalam hati sebagai Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan yang diucapkan. Apabila karat pada dinding hati sudah berkurangan ucapan zikir akan disertai oleh rasa kelazatan. Hati yang sudah merasai nikmat zikir itu tidak perlu kepada paksaan lagi. Lidah tidak perlu lagi berzikir. Zikir sudah hidup dalam hati secara diam, jelira dan melazatkan. Perhatian bukan sekadar kepada nama-nama dan sifat-sifat yang diingatkan malah ia lebih tertuju kepada Yang Empunya nama dan sifat. Inilah kedudukan orang yang beriman.

Zikir yang lebih mendalam membawa hati berhadap kepada Hadrat Tuhan, menyaksikan Tuhan pada setiap masa dan suasana. Apa sahaja yang dilihat dan dibuat memperingatkannya kepada Tuhan. Inilah peringkat zikir daim yang dikurniakan kepada mereka yang beriman dan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. Kehidupan mereka dipenuhi oleh zikir sepanjang masa. Tidur mereka juga menjadi zikir.

Zikir yang diucapkan dengan perkataan membantu hati mengingati Tuhan. Bagi sebahagian manusia berzikir secara kuat lebih memberi kesan daripada berzikir secara perlahan, terutamanya bagi mereka yang baharu memulakan amalan zikir. Zikir secara senyap di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Hati menghayati apa yang dizikirkan dan terbentuklah alunan perasaan sesuai dengan apa yang dihayati. Pada tahap yang lebih mendalam zikir bukan lagi sebutan atau ingatan kepada Nama, tetapi hati menyaksikan Keperkasaan dan Keelokan Tuhan. Bila hati sudah boleh menyaksikan Keelokan dan Keperkasaan Tuhan, itu tandanya seseorang itu sudah ada hubungan semula dengan roh suci yang mengenal Tuhan. Pancaran cahaya makrifat daripada roh suci membuat hati dapat melihat kenyataan sifat-sifat Tuhan.

Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, ucapan serta ingatan dan perhatian yang berhubung dengan Tuhan menimbulkan keghairahan atau zauk. Zauk itu terjadi kerana kuatnya tarikan Hadrat Tuhan kepada hati. Ingatan dan penyaksian terhadap Hadrat Tuhan akan memberi kesan yang sangat kuat kepada hati. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Perkasa boleh menyebabkan seseorang itu menjadi pengsan kerana takutnya hati kepada keperkasaan Allah s.w.t. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Lemah-lembut akan mengalami rasa kenikmatan dan kebahagiaan yang amat sangat.

Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, hati diperkuatkan lagi supaya mampu menerima ‘sentuhan’ Hadrat Tuhan itu. Penyaksian terhadap Hadrat Tuhan tidak lagi melahirkan keghairahan atau zauk atau kegoncangan kepada hati. Hati mengalami suasana Hadrat Tuhan dalam keadaan damai dan sejahtera. Pada tahap ini hati akan mengenali Tuhan sebagai Raja Yang Maha Berkuasa. Berada pada sisi Raja tersebut membuat hati merasakan kesejahteraan dan keselamatan yang tidak terhingga, hilang rasa takut dan dukacita.

Pada tahap kesedaran yang paling dalam hati berhadap kepada Hadrat Tuhan yang bernama Allah s.w.t, yang menguasai semua Hadrat, yang melampaui segala nama dan sifat, segala kenyataan dan ibarat. Hati sampai kepada tahap jahil setelah berpengetahuan. Ilmu gagal menghuraikan tentang Allah s.w.t. makrifat gagal memperkenalkan Allah s.w.t. Apa sahaja yang terbentuk, tergambar, terfikir, yang disaksikan dengan mata luar dan juga mata dalam dan segala-galanya tersungkur di hadapan Hadrat Allah s.w.t, yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Perkasa. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menyamai Allah s.w.t, Dia Maha Esa. Hati yang berhadapan dengan Hadrat Allah s.w.t benar-benar mengalami dan mengenali maksud keesaan Allah s.w.t. Hati pun tunduk, menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t, Tuhan Maha Mencipta. Baharulah sempurna penyerahannya, baharulah lengkap perjalanan Islamnya.

Setelah itu rohnya menjadi seakan-akan roh yang baharu, seumpama baharu lahir. Roh yang baharu itu adalah Roh Islam yang telah mengenal Allah s.w.t yang melampaui segala sesuatu tetapi memiliki Hadrat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya, menyata kepada Roh Islam, iaitu Roh yang lebih tulen dan seni daripada semua roh-roh yang lain. Itulah roh yang telah menemui Kebenaran Hakiki. Pada roh tersebut bercantum tahu dengan tidak tahu, kenal dengan tidak kenal, nafi dengan isbat. Roh Islam itulah yang benar-benar mengerti maksud nafi dan isbat pada Kalimah Tauhid: “La ilaha illa Llah”.

Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki daripada hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan. ( Ayat 15 : Surah al-Mu’min

Roh Islam yang mengenderai hati Islam dan memiliki nafsu Islam, akal Islam dan pancaindera Islam kembali kepada kehidupan dunia untuk mengajak dan membimbing orang lain kepada Yang Haq, Kebenaran Hakiki. Roh Islam mengeluarkan yang Islam sahaja. Jiwanya Islam, perkataannya Islam, perbuatannya Islam, diamnya Islam, tidurnya Islam dan segala-gala yang mengenainya adalah Islam. Roh Islam yang paling sempurna adalah roh Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w merupakan contoh tauladan Islam yang paling sempurna, paling baik.

Zikir memainkan peranan yang penting dalam melahirkan Roh Islam. Bagi orang yang inginkan kebenaran dan melihat kebenaran, menjadi kewajipan baginya mengingati Allah s.w.t sebanyak mungkin.

Lantas apabila kamu telah selesaikan sembahyang (sembahyang di waktu perang ) itu, maka hendaklah kamu ingat kepada Allah s.w.t sambil berdiri, dan sambil duduk, dan sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu. Tetapi apabila kamu telah tenteram, maka hendaklah kamu dirikan sembahyang (seperti biasa), kerana sesungguhnya itu adalah bagi Mukminin satu kewajipan yang ditentukan mwaktunya. ( Ayat 103 : Surah an-Nisaa’ )

Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau. Lantaran itu peliharakanlah kami daripada seksa neraka”. ( Ayat 191 : Surah a-Li ‘Imran ) Setiap Muslim seharusnya mencari kehidupan berzikir; berzikir sambil duduk dan sambil berbaring; bekerja di dalam berzikir; berehat di dalam berzikir dan tidur di dalam berzikir. Lidah berzikir, anggota tubuh berzikir dan hati berzikir. Tentera Islam yang sedang berperang dengan musuh pun dituntut berzikir, apa lagi kaum Muslimin yang berada dalam suasana aman. Muslim sejati sentiasa berzikir, mengingati dan mentaati Allah s.w.t.

 

13 Oktober 2012

Sekilas Pandang Tentang Hamzah Fansuri

oleh alifbraja

1. Sekilas Tentang Syeikh Hamzah Fansuri

Fansuri dua bersaudara itu, Ali dan Hamzah, berasal dari Parsia. Pada zaman Kerajaan Islam Samudra/Pasai diperintah Sulthan Alaiddin Malikussalih (659 – 688 H. = 1261 – 1289 M.) banyak Ulama Besar dari Negeri Parsi yang datang ke sana, baik untuk mengajar pada pusat-pusat Pendidikan Islam yang bernama “‘Dayah”, maupun untuk menyumbangkan tenaganya pada lembagalembaga pemerintahan. Salah seorang di antara Ulama Besar, yaitu “nenekmoyangnya” Ali dan Hamzah, dipercayakan oleh Kerajaan untuk memimpin Pusat Pendidikan yang bernama DAYAH BLANG PRIA. Ulama Besar tersebut terkenal dengan nama Syekh Al Fansuri, hatta keturunannya yang menjadi Ulama memakai “Fansuri” di ujung namanya.

Pada masa Sulthan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil memerintah Kerajaan Aceh Darussalam (997 — 1011 H. = 1589 -1604 M.), dua orang Ulama turunan Syekh Al Fansuri mendirikan dua buah Pusat Pendidikan Islam di pantai barat Tanah Aceh, yaitu di Daerah Singkel. Ali yang telah menjadi Syekh Ali Fansuri mendirikan Dayah Lipat Kajang di Simpang Kanan, sementara adiknya, Hamzah, yang telah menjadi Syekh Hamzah Fansuri mendirikan Dayah Oboh di Simpang Kiri Rundeng. Dalam tahun 1001 H. = 1592 M., Syekh Ali Fansuri dikurniai seorang putera dan diberi nama Abdurrauf, yang kemudian menjadi seorang Ulama Besar yang bergelar Syekh Abdurrauf Fansuri dan lebih terkenal dengan lakab Teungku Syiahkuala. Abdurrauf Syiahkuala kemudian menjadi lawan terbesar dari”Filsafat Ketuhanan” Wahdatul Wujud yang dianut pamannya, Syekh Hamzah Fansuri, dan Khalifahnya yang terkenal Syekh Syamsuddin Sumatrani.

Syeikh Abdurrauf Fansuri dan Nuruddin Ar Raniri adalah dua tokoh Ulama Besar penganut dan penegak Filsafat Ketuhanan Isnainiyatul Wujud. Apabila dan dimana tempat lahir Hamzah Fansuri, belum diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan di Samura/Pasai dan ada pula yang mengatakan di Singkel. Dalam serangkum sajaknya, Hamzah menjelaskan tentangasal-usulnya :

Hamzah ini asalnya Fansuri,

Mendapat wujud di tanah Syahr Nawi,

Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali,

Daripada Abdulqadir Saiyid Jailani.

Dalam sajak tersebut, kecuali menerangkan bahwa nenekmoyangnya ialah Syekh Al Fansuri, juga Hamzah menjelaskan bahwa beliau adalah pengikut Tharikat Abdulqadir Jailani, seorang Ulama Tasawuf terkenal.

 

2. Pemikiran Hamzah Fansuri Tentang Zuhud, Wara` dan Cinta Dunia

Dalam banyak risalah tasawuf yang awal, pembicaraan tentang zuhd (selanjutnya zuhud) dan faqr (selanjutnya faqir), kerap disajikan pada bab-bab permulaan. Misalnya dalam kitab Kashf al-Mahjub, karangan sufi Persia abad ke-11 M Ali Utsman al-Hujwiri. Dalam fasal yang membahas masalah itu di antaranya terdapat kutian ucapan Warraq al-Tirmidhi, “Mereka yang puas dengan ilmu kalam dalam menerangkan pengetahuan agama, namun tidak mengamalkan zuhud dia akan menjadi zindiq; dan mereka yang puas dengan fiqih, tanpa mengamalkan wara` akan tercela sifatnya.” (KM 17). Sedangkan Abu Nashr al-Sarraj (w. 389 H) dalam Kitab al-Luma`, lebih memperhatikan persoalan faqir dan wara`, sedangkan pengertian dengan zuhud atau penyangkalan terhadap dunia dilakukan secara tersirat saja. Ini dapat dimengerti karena para sufi tidak mau disamakan dengan golongan zuhudiyah.

Dalam Syrah al-Arba`in Haditsan Ayatullah Khomeini membicarakan zuhud pada bagian akkhir bukunya, dan menyebutnya sebagai tingkatan tertentu dari sikap wara`. Wara` diartikan sebagai “Kehati-hatian yang tinggi disertai rasa takut atau disiplin ketat untuk memuliakan Allah.” Beliau membagi peringkat-peringkat wara` sebagai berikut: Pada orang awam artinya meninggalkan dosa-dosa besar. Pada orang terpilih artinya ialah berpantang dari hal-hal yang syubhat karena kuatir tergerlincir pada hal-hal yang dilarang agama. Pada ahli zuhud artinya ialah berpantang dari hal-hal yang diperbolehkan oleh agama untuk menghindari beban berat dari akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan. Pada penempuh jalan `irfan ia berarti berpantang dari memandang dunia demi mencapai pelbagai maqam. Pada orang yang hatinya telah tertawan dalam wujud Ilahiyah (majdhub) artinya ialah membebaskan diri dari maqam atau peringkat ruhani yang dicapainya untuk menyaksikan keindahan-Nya (SAH 574-5).

Tetapi menurutnya yang paling utama ialah wara` dalam arti bersikap hati-hati terhadap apa yang telah dilarang Allah. Hati orang yang tidak hati-hati terhadap apa yang diharamkan itu akan menjadi gelap dan penuh karat.

Walaupun Ayatullah Khomeini tidak membicarakan zuhud secara tersirat, kecuali yang berkaitan dengan wara’, tetapi dalam sebuah fasal awal dari tafsir hadisnya beliau menguraikan makna hermeneutik dari sebuah hadis yang menerangkan tercelanya sifat orang yang cinta berlebihan kepada dunia, suatu sikap yang mendorong berkembangnya konsep zuhud pada permulaan lahirnya gerakan tasawuf. Hal yang sama juga dibahas oleh Hamzah Fansuri dalam Sharab al-`Ashiqin.

Dalam bab dua risalahnya itu Syekh Hamzah Fansuri menghubungkan makna zuhud dengan orang yang menyucikan hatinya dari pamrih-pamrih duniawi bagi segala ibadah dan pekerjaannya di dunia. Dia mengatakan bahwa, “Ilmu suluk atau tariqat itu tark al-dunya (tanggal dari dunia), yakni tidak menimbun harta banyak untuk kepentingan diri sendiri lebih daripada cukup untuk makan dan berkain”. Dengan mengutip sebuah hadis, dia mengatakan bahwa mencintai dunia merupakan pangkal kejahatan (Abdul Hadi WM 1995:70-1). Ini berulang kali dikemukakan dalam bait-bait syair makrifatnya.

Ayatullah Khomeini dalam fasal bukunya yang telah disebutkan, memulai telaahnya dengan menjernihkan terlebih dulu pengertian ‘dunia’ dan ‘akhirat’. Sebab ‘dunia’ yang dimaksud para fuqaha` dan mutakalimun dalam wacana-wacana mereka , sangat berbeda dengan yang dimengerti oleh penempuh jalan makrifat (`irfan) namun telah disalah artikan oleh para fuqaha’ dan mutakallimun sebagai sikap yang membenci dan menolak dunia, yang kemudian menyebabkan ahli-ahli `irfan dan sufi dituduh sebagai sumber kemunduran Islam.

Menurut Ayatullah Khomeini, dunia yang dimaksud oleh para penempuh `irfan dalam wacana-wacana mereka ialah “dunia yang tercela”, yaitu sifat-sifat yang harus dijauhi oleh orang yang mencari akhirat. Dunia semacam itulah yang dikutuk dalam al-Qur`an dan Hadis. Ia adalah dunia dalam arti ‘keseluruhan dari hal-hal yang menghalangi manusia dari menaati Allah dan mencegahnya dari cinta kepada-Nya, serta mencegahnya dari mencari akhirat’. Adapun pengertian ‘akhirat’ adalah sebaliknya. Ia adalah apa saja yang menyebabkan keridhaan Allah dan kedekatan manusia kepada-Nya, walaupun tampak seakan-akan masalah dunia seperti perdagangan, industri, pertanian, dan kerajinan yang tujuannya ialah untuk menjamin kehidupan keluarga agar mereka senantasa taat kepada perintah Allah. Begitu juga kegiatan yang seolah-olah tampak seperti masalah dunia dapat disebut sebagai ‘akhirat; apabila tujuannya untuk membelanjakan harta untuk beramal, membuat sejahtera orang miskin dan papa, serta untuk mencegah ketergantungan kepada orang lain, seperti penguasa yang zalim.

Beliau mengutip seorang arif yang mengatakan bahwa ‘dunia’ dan ‘akhirat’ dalam wacana `irfan itu merupakan dua keadaan batin dari hati manusia. Hati yang keadaannya merasa dekat dan terpaut pada kehidupan sebelum mati adalah ‘dunia’ namanya, sedangkan keadaan-keadaan hati yang terpaut pada kehidupan sesudah mati ialah ‘akhirat’ Yang disebut dunia adalah sesuatu yang membangkitkan hawa nafsu dan yang menyebabkan hawa nafsu menguasai jiwa seseorang (SAH 136).

Seraya menyebut dirinya faqr, Ayatullah Khomeini mengatakan bahwa apa yang disebut dunia bisa diartikan sebagai tingkat paling rendah dari keberadaan, tempat perubahan, peralihan dan kemusnhan. Sedangkan ‘akhirat’ ialah perjalanan kembali dari tingkat keberadaan terrendah tersebut menuju tingkat keberadaan atau alam kehidupan yang lebih tinggi. Yang pertama ialah segala sesuatu yang bersifat kebendaan. Karena itu yang dimaksud zuhud ialah penolakan terhadap materialisme dan hedonisme yang membawa kepada pendangkalan akidah, dekadensi moral, dan pembusukan sosial. Yang kedua, ialah peringkat keberadaan yang lebih tinggi dan tersembunyi, yaitu kehidupan batin yang bersih dari pamrih dan nafsu keduniaan. Dengan demikian, yang dimaksud sebagai ‘dunia yang tercela’ dalam al-Qur`an dan Hadis tidak berlaku bagi dunia itu sendiri, tetapi yang dimaksud ialah ketenggelaman, kecintaan, dan keterikatan manusia kepadanya.” (SAH 137).

Penjelasan Ayatullah Khomeini dapat dirujuk pada apa yang dikatakan Fariduddin al-`Attar (w. 1220 M) sebagaimana saya terjemahkan dari esai Sayyid Murtadha Muttahari Introduction to `Irfan, sebagai berikut:

Ketika Singa Tuhan Imam Ali hadir di sebuah majlis
Seseorang melontarkan kutukan pada dunia
Haidar menjawab, “Dunia, Nak, bukan untuk dikutuk”
Celakalah kau jika mengucilkan diri dari hikmah
Dunia ini seisinya adalah hamparan ladang
Untuk didatangi siang dan malam
Segala yang memancar dari martabat dan kekayaan iman
Seluruhnya dari dunia ini
Buah hari esok adalah kembang dari benih hari ini
Orang yang ragu akan merasakan pahitnya buah penyesalan
Dunia ini adalah tempat terbaik bagimu
Di dalamnya bekal di hari kemudian dapat kausiapkan
Pergilah ke dunia, namun jangan dalam hawa nafsu tenggelam
Dan siapkan dirimu bagi dunia yang lain
Jika demikian, maka dunia itu akan pantas bagimu
Berkariblah dengan dunia, demi tujuan semua itu

Makna zuhud sebagaimana dipahami ahli tasawuf dan `irfan, jelas bukan sikap memusuhi dan membenci dunia.

4. Faqr Dalam Tasawuf Hamzah Fansuri

Uraian tentang faqir sebagai salah satu konsep kunci tasawuf bertalian dengan maqamat, terutama sekali gambarannya secara simbolik, dijumpai banyak sekali dalam syair-syair Hamzah Fansuri. Kata-kata faqir bahkan dijadikan penanda kesufian atau kepengarangan, sering pula ditamsilkan sebagai anak dagang atau anak jamu (orang yang bertamu). Penamsilan ini diambil dari al-Qur’ an dan Hadis, dan memiliki kontek sejarah, khususnya sejarah penyebaran Islam di kepulauan Nusantara.

Telah banyak yang mengetahui bahwa agama ini tersebar dan berkembang pesat di Asia Tenggara bersamaan dengan pesatnya kegiatan perdagangan internasional yang dilakukan pedagang Muslim Arab dan Persia sejak abad ke-13 M. Sejak itu satu persatu kerajaan-kerajaan Islam berdiri di kota-kota pelabuhan seperti Samudra Pasai (1270-1514 M), Malaka (1400-1511 M) dan Aceh Darussalam (1516-1700 M) di kepulauan Melayu. Di pulau Jawa kerajaan-kerajaan Islam juga muncul di pesisir seperti Demak, Cirebon, Gresik, Banten, Tuban, dan lain-lain. Pada mulanya kegiatan perdagangan itu hanya melibatkan pedagang Arab, Turki dan Persia. Tetapi kemudian melibatkan juga pedagang-pedagang Nusantara yang telah memeluk agama Islam. Seraya berniaga mereka menjadi pendakwah, membangun jaringan perdagangan dan persaudaraan sufi. Dengan itu lembaga pendidikan Islam dapat didirikan di pusat-pusat komunitas Islam, dan tradisi intelektual pun lantas berkembang.

Arti kata dagang dalam bahasa Melayu pada mulanya ialah merantau ke tempat lain dan menjadi orang asing di tempat tinggalnya yang baru. Kata-kata ini diterjemahkan dari kata Arab gharib (asing) dan selalu dirujuk pada Hadis, ”Kun fi al-dunya ka’annaka gharibun aw ’abiru sablin wa `udhdha nafsahu min ashabi al-qubur” (”Jadilah orang asing atau dagang di dunia ini, singgahlah sementara dalam perjalananmu, dan ingatlah akan azhab kubur.”). Hamzah Fansuri menulis dalam sebuah syairnya:

Hadis ini daripada Nabi al-Habib
Qawl kun fi al-dunya ka’annaka gharib
Barang siapa da’im kepada dunia qarib
Manakan dapat menjadi habib. (Ik. VIII Ms. Jak. Mal. 83)

Lawan dari orang yang dicintai Tuhan ialah mereka yang mencintai dunia. Dagang atau faqir ialah dia yang karib dengan Tuhannya dan asing serta tidak lagi terpaut pada dunia. Kata gharib, yang diterjemahkan menjadi dagang, ditafsirkan sebagai ”Orang atau diri yang asing terhadap dunia” (al-Attas 1971:8), seperti ahli suluk yang insaf bahwa di dunia ini ia adalah orang asing yang sedang merantau atau singgah sementara di negeri orang untuk mengumpulkan bekal yang kelak akan dibawa pulang ke kampung halamannya. Kampung halaman manusia yang sebenarnya bukan di dunia, tetapi di akhirat. Ini dapat dirujuk pada apa yang dikatakan Imam al-Ghazali dalam Kimiya-i Sa`ada. Kata filosof sufi dari Tus, Persia itu: “Dunia ini adalah sebuah pentas aatau pasar yang disinggahi oleh para musafir dalam perjalanannya menuju ke negeri lain. Di sini mereka membekali diri dengan berbagai bekal agar supaya tujuan perjalanan tercapai” (Mohammad Bagir 1984:39). Hamzah Fansuri menulis:

Pada dunia nin jangan kau amin
Lenyap pergi seperti angin
Kuntu kanzan tempat yang batin
Di sana da’im yogya kau sakin

Lemak manis terlalu nyaman
Oleh nafsumu engkau tertawan
Sakarat al-mawt sukarnya jalan
Lenyap di sana berkawan-kawan

Hidup dalam dunia upama dagang
Datang musim kita ’kan pulang
La tasta’khiruna sa’atan lagi kan datang
Mencari ma`rifat Allah jangan alang-alang

La tasta’khiruna sa`atan (Q 34:30) artinya tidak dapat ditunda waktunya. Di sini anak dagan, diberi arti lebih kurang sebagai seseorang yang benar-benar memahami bahwa hakikat kehidupan dan kebahagian yang sejati dijumpai dalam persatuan hamba dengan Tuhannya. Tanda anak dagang sejati ialah kecintaan dan penyerahannya yang penuh kepada Tuhan, ikhtiarnya yang sungguh-sungguh menegakkan kebenaran agama yang diyakininya.

Begitu pula pengertian faqir. Dalam tasawuf ia diartikan sebagai pribadi yang tidak lagi terpaut pada dunia. Keterpautannya semata-mata ke pada Tuhan. Dua ayat al-Qur`an yang dijadikan rujukan, yaitu Q 2:268 dan Q 35-15. Dalam Q 2:268, Allah berfirman, ”Setan mengancammu dengan ketiadaan milik (al-faqr) dan menyuruhmu melakukan perbuatan keji. Tetapi Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepadamu dari-Nya sendiri dan Allah maha luas pengetahuan-Nya.” Dalam Q 35 :15, ”Hai manusia ! Kamulah yang memerlukan (fuqara’) Allah. Sedangkan Allah, Dialah yang maha kaya lagi maha terpuji.” (Yusuf Ali 1983: 109 dan 1157-8).

Mengikuti pengertian ini Hamzah Fansuri menyatakan bahwa faqir yang sejati ialah Nabi Muhammad s.a.w. Dalam seluruh aspek kehidupannya beliau benar-benar hanya tergantung kepada Tuhan. Ini ditunjukkan pada keteguhan imannya. Kata penyair:

Rasul Allah itulah yang tiada berlawan
Meninggalkan tha`am (tamak) sungguh pun makan
`Uzlat dan tunggal di dalam kawan
Olehnya duduk waktu berjalan

Perkataan ”`Uzlat dan tunggal di dalam kawan” dapat ditafsirkan bahwa, walaupun Nabi seorang zahid dan wara`, tetapi beliau tidak meninggalkan kewajibannya sebagai pemimpin umat. Sedangkan perkataan ”Olehnya duduk waktu berjalan” dapat ditafsirkan bahwa, walaupun hatinya hanya terpaut pada Tuhan, namun beliau tetap aktif mengerjakan urusan dunia dengan penuh kesungguhan dan pengabdian. Kata ’duduk’, arti harfiahnya tidak bergerak dan tidak berjalan, yakni keyakinannya kepada Allah s.w.t sangat kuat.

Dalam syairnya yang lain, seorang faqir diumpamakan sebagai galuh-galuh atau laron yang berani terjun ke dalam nyala api. Laron adalah lambang pengurbanan diri. Pengurbanan itu dilakukan disebabkan cinta dan keyakinannya yang mendalam kepada cahaya, simbol pencerahan, hikmah dan petunjuk Tuhan. Jelas bahwa faqir adalah pribadi berani mengurbankan kepentingan diri demi cita-cita yang luhur.

Dunia nin jangan kau taruh-taruh
Supaya dekat mahbub yang jauh
Indah sekali akan galuh-galuh
Ke dalam api pergi berlabuh

Hamzah miskin hina dan karam
Bermain mata dengan Rabb al-`Alam
Selamnya sangat terlalu dalam
Seperti mayat sudah tertanam

Anak dagang juga digambarkan sebagai anak mu’alim yang tahu jalan, orang yang pengetahuan dan wawasannya luas. Hamzah Fansuri menulis:

Kenali dirimu hai anak dagang
Jadikan markab (kapal) tempat berpulang
Kemudi tinggal jangan kau goyang
Supaya dapat dekat kau pulang

Fawq al-markab (di geladak kapal) yogya kau jalis (duduk)
Sauhmu da’im baikkan habis
Rubing syari`at yogya kau labis
Supaya jangan markabmu palis

Jika hendak engkau menjeling sawang
Ingat-ingat akan ujung karang
Jabat kemudi jangan kau mamang
Supaya betul ke bandar kau datang

Anak mu`allim tahu akan jalan
Da’im berjalan di laut nyaman
Markabmu tiada berpapan
Olehnya itu tiada berlawan

Dalam syair lain tamsil anak dagang diganti anak jamu: “Dengarkan hai anak jamu/ Unggas itu sekalian kamu/ `Ilmunya yogya kau ramu /Supaya jadi mulia adamu.” Anak jamu diumpamakan juga sebagai unggas yang tinggal dalam kandang syariat dan memliki berbagai kelengkapan ruhani:

`Ilm al-yaqin nama `ilmunya
`Ayn al-yaqin hasil tahunya
Haqq al-yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya

Syari`at akan tirainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqat akan ripainya (ripinya)
Ma`rifat akan isainya (isinya)

Jelaslah bahwa yang dimaksud faqir bukanlah orang miskin dalam artian harfiah. Ibn Abu `Ishaq al-Kalabadhi dalam bukunya al-Ta`arruf li Madzzhabi ahl al-Tashawwuf )abad ke-11 M) mengutip Ibn al-Jalla yang mengatakan, ’Kefaqiran ialah bahwa tiada sesuatu pun yang menjadi milikmu, atau jika memang ada sesuatu, itu tidak boleh menjadi milikmu’. Ini sejalan dengan firman Tuhan, ’Sedangkan mereka lebih mengutamakan kepentingan orang banyak, dibanding semata-mata kepentingan mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesukaran’” (Arberry 1976:118).

Ali Uthman al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub, mengutip seorang sufi yang mengatakan, ”Laysa al-faqr man khala min al-zad, inna-ma al-faqr man khala min al-murad, yakni ’Faqir bukan orang yang tak punya rezeki/penghasilan, melainkan yang pembawaan dirinya hampa dari nafsu rendah’.” Dia juga mengutip Syekh Ruwaym, ”Min na`t al-faqr hifzzhu sirrihi wa syanatu nafsihi wa ada’u fazi dhatihi’, yakni ’Ciri faqir ialah hatinya terlindung dari kepentingan diri, dan jiwanya terjaga dari kecemaran serta tetap melaksanakan kewajiban agama.” (Nicholson 1982:35).

Hamzah Fansuri menggambarkan bahwa faqir merupakan pribadi yang indah sebab seluruh dirinya telah fana` (hapus) dalam tujuan spiritual kehidupan yang berufuk dalam Tawhid, kesaksian bahwa Allah itu esa. Katanya:

Sidang faqir empunya kata
Tuhanmu zahir terlalu nyata
Jika sungguh engkau bermata
Lihatlah dirimu rata-rata

Kekasihmu zahir terlalu terang
Pada kedua `alam nyata terbentang
Ahl al-Ma`rifa terlalu menang
Washilnya da’im tiada berselang

Hamzah miskin orang`uryani
Seperti Isma`il jadi qurbani
Bukannya `Ajami lagi `Arabi
Nentiasa washil dengan Yang Baqi

Arti harfiah `uryan ialah telanjang, arti batinnya tulus dan ikhlas. Contoh faqir agung ialah Nabi Ismail a.s. yang bersedia dikurbankan oleh ayahnya Nabi Ibrahim a.s. karena itu yang diperintahkan oleh Tuhan. Seorang faqir menurut Hamzah adalah pribadi universal yang tidak terikat lagi pada warna kulit, ras dan kebangsaan. Apa artinya sebutan Arab, Parsi, Melayu, Jawa, atau Cina bagi seseorang yang telah wasil dengan Tuhan? Perjuangannya untuk menegakkan kebenaran juga bukan hanya untuk bangsa atau kaumnya, tetapi untuk seluruh umat manusia.

 

3. Karya-karya Syekh Hamzah Fansuri

 

Karya-karya Hamzah Fansuri dapat disebutkan, di antaranya yang berbentuk syair antara lain Syair Burung Pinggai, Syair Burung Pungguk, Syair Perahu, dan Syair Dagang. Adapun yang berbentuk prosa di antaranya Asrar al Arifin fi Bayan Ilmi as Suluk wa at Tauhid (keterangan mengenai perjalanan ilmu suluk dan keesaan Tuhan) dan Syarah al Asyiqin (minuman orang-orang yang cinta kepada Tuhan).

Kecuali Syair Dagang, syair-syair Hamzah Fansuri bersifat mistis dan melambangkan hubungan Tuhan dengan manusia. Syair Dagang bercerita tentang kesengsaraan seorang anak dagang yang hidup di rantau. Syair Burung Pinggai bercerita tentang burung pinggai yang melambangkan jiwa manusia dan Tuhan. Dalam syair itu, Hamzah Fansuri Mengangkat satu masalah yang banyak dibahas dalam tasawuf, yaitu hubungan satu dan banyak. Yang esa adalah Tuhan dengan alamnya yang beraneka ragam. Adapun puisinya Syair Perahu melambangkan tubuh manusia sebagai perahu layar di laut. Pelayaran itu penuh marabahaya. Apabila manusia kuat memegang keyakinan akan Tuhan maka dapat dicapai suatu tahap yang menunjukkan tidak adanya perbedaan antara Tuhan dengan Hambanya.

Prosa Asrar al Arifin fi Bayan Ilmi as Suluk wa at-Tauhid antara lain berisi pandangan Hamzah Fansuri tentang makrifat Tuhan, sifat Tuhan, dan nama Tuhan. Dalam karya ini ia mengatakan bahwa pada dasarnya syariat, hakikat, dan makrifat adalah sama. Syarah al Asyiqin atau sering disebut Asrar al Asyiqin (rahasia orang-orang yang mencintai Tuhan) danZinal al Muwahhidin (perhiasan orang yang mengesakan Tuhan). Buku itu berisi antara lain tentang perbuatan syariat, perbuatan tarikat, perbuatan hakikat, perbuatan makrifat, kenyataan zat Tuhan, dan sifat-sifat Tuhan. Di sini Hamzah Fansuri memandang Tuhan sebagai yang maha sempurna dan yang maha mutlak. Dalam kesempurnaan itu, Tuhan mencakup segala-galanya. Apabila tidak mencakup segala-galanya, Tuhan dapat disebut maha sempurna dan maha mutlak, karena mencakup segalagalanya maka manusia juga termasuk dalam Tuhan.

  • · Asraarul Arifiin Fi Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid, yang membahas masalah-masalah ilmu tauhid dan ilmu thariqat. Dalam kitab ini tersimpan ajaran-ajaran beliau.
  • · Syaraabul Asyiqin, yang membicarakan masalah-masalah thariqat, syariat, haqiqat dan makrifat.· Syair Burung Unggas, juga sajak sufi yang dalam maksudnya. Menurut Hamzah Fansuri, bahwa manusia yang telah menjadi “Insan Kamil” tidak ada lagi pembatas antara dia dan Mahbubnya, karena Insan Kamil telah menfanakan dirinya ke dalam diri Kekasih yang dirindukannya :
    • · Al Muntahi, yang membicarakan masalah-masalah tasauwuf.
    • · RubaH Hamzah Fansuri, syair sufi yang penuh butir-butir filsafat.

Mahbubmu itu tiada berhasil,

Pada ainama tawallu jangan mau ghafil,

Fa samma Wajhullah sempurna wasil,

Inilah jalan orang kamil.

Kekasihmu dlahir terlalu terang,

Pada kedua alam nyata terbentang,

Ahlul Makrifah terlalu menang,

Wasilnya daim tiada berselang.

Hempaskan akal dan rasamu,

Lenyapkan badan dan nyawamu,

Pejamkan hendak kedua matamu,

Di sana lihat peri rupamu.

Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri, yaitu Ruba’i yang telah disyarahkan oleh Syekh Saymsuddin Sumatrani, Khalifahnya yangutama, saya dapati dalam kumpulan beberapa Karya Tulis karangan Syekh Abdurrauf Syiahkuala, yang saya pinjam dari AlmarhumTeungku Muhammad Yunus Jamil. Syarah Ruba’i Hamzah Fansurisetelah saya fotokopikan, kemudian menganalisanya menjadisebuah buku dengan judul : Ruba’i Hamzah Fansuri Karya SastraSufi Abad XVII, dan dalam tahun 1976 telah diterbitkan di Kuala Lumpur oleh Dewan Bahasa Dan Pustaka.Naskah tua Syair Burung Unggas, saya dapati dalam tumpukanpuing-puing naskah tua, sisa Perpustakaan Teungku Chik Kutakarang,tidak berapa jauh dari Banda Aceh. Menurut setahu saya, Naskah Syair Burung Unggas belum pernah diterbitkan. Mungkin sekali saya orang pertama yang menemunya di Indonesia. Sungguhpun tidak begitu panjang, namun mempunyai arti yang penting.

 

Penutup

 

Hamzah Fansuri, ulama sufi, sastrawan dan cendekiawan yang hidup pada pertengahan abad ke-16 dan awal abad ke-17 di Fansur, meninggal dan dikuburkan di Desa Oboh Kecamatan Rundeng Kabupaten Aceh Singkil. Kehidupan Hamzah Fansuri tidak terlepas dari proses alur sejarah secara langsung maupun tidak langsung terikat dengan perjalanan agama Islam di Nusantara. Aliran tasawuf berdasarkan faham wujudiyah yang diaplikasikan dalam kehidupan dan dipaparkan dengan lirik sastra Melayu merupakan orang pertama yang mempelopori pengembangan sastra Melayu di Nusantara. Membicarakan Hamzah Fansuri sebagai tokoh fenomenal, baik sebagai penyair, ulama dan sekaligus intelektual maka tidak akan habis-habis untuk mengurai segi-segi kehidupan maupun karya-karyanya.

Sebagai penyair Melayu klasik namanya tetap abadi. Ia adalah seorang penyair besar, sekaligus seorang ulama yang mengemukakan ide-idenya melalui puisi maupun prosa. Pikiran-pikiranya tentang masalah keagamaan terutama tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, yang dalam faham keagamaan pikiran-pikiran Hamzah Fansuri dimasukkan dalam kategori wujudiyah. Karya tulis Hamzah Fansuri dapat dikatakan sebagai peletak dasar bagi peranan bahasa Melayu sebagai bahasa keempat di dunia Islam setelah bahasa Arab, Persia, dan Turki Usmani pada waktu itu. Karyakarya Hamzah Fansuri tersebar berkat jasa Sultan Iskandar Muda yang mengirimkan kitab-kitab karya Hamzah Fansuri antara lain ke Melaka, Kedah, Sumatra Barat, Kalimantan, Banten, Gresik, Kudus, dan Ternate.

Daftar Pustaka

Syed Muhammad Naguib Al-Attas “The Mysticism of Hamzah Fansuri” (University of Malay Press, Kuala Lumpur; 1970)

Syed Muhammad Naguib Al-Attas “Raniri and The Wujudiyyah of 17th Century Acheh” (MBRAS, Singapore; 1966)

V.Y. Braginsky “Some Remarks on The Structure of The Syair Perahu By Hamzah Fansuri” (Bijdragen deel 1973)

11 Oktober 2012

Membuka hijab ruh suci dalam diri dengan istighfar

oleh alifbraja

Dan manusia bertanya kepadamu tentang ruh.. katakanlah ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (QS. Al Isra; : 85)

Selanjutnya Allah menjelaskan dalam ayat lainnya : Apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan ruhKu, maka hendaklah kamu tersungkur sujud kepadanya. ( QS Shad : 72 )

Karena itulah, dalam proses penciptaan Adam as, setelah ditiupkan ruhNya, malaikatpun sujud kepadanya. “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka semua kecuali Iblis ; ia enggan dan takabbur dan ia adalah termasuk orang-orang yang kafir  ( QS.Al Baqarah : 34 )

Sujudnya Malaikat kepada Adam (manusia), karena dalam diri manusia yang telah disempurnakanNya sebenarnya mengandung Zat Tuhan atau “Energi Ilahiyah” – yaitu yang disebut “ruh Ku” dalam surat Shad ayat 72, bukan kepada sifat kemanusiannya. Kita sebagai keturunan Adam as juga diberikan ruhNya. Ruh yang diturunkan Allah kepada tanah yang diberi rupa adalah berasal dari tiupan Ilahi yang suci, yang membawa misi memelihara serta mengendalikan bumi (khalifah).

Namun, ketika pikiran dan perasaan manusia, mengikuti bisikan qalbunya yang sakit serta hawa nafsunya yang tidak terkendali, maka “unsur yang sangat mulia” itu mulai terbungkus, sehingga kualitas insan mengalami degradasi.

Akhirnya kesadaran dirinya jatuh kedalam lumpur tanah, sehingga ruh suci itu tampak gelap dan tidak bersinar. Ia tidak mampu mengendalikan tubuhnya, sehingga yang mengendalikan tubuhnya adalah setan. Tinggallah kini, ruh tak dapat berbuat apa-apa. Setanlah yang menggantikan kedudukan nurani sebagai pengendali pikiran, perasaan, dan bathin manusia.

Dengan demikian, yang mengendalikan pikiran dan tubuh bukan kesadaran jiwa, akan tetapi dorongan-dorongan seperti rasa lapar, rasa haus, seks, rasa marah, dan malas. Semua itu timbul karena aktivitas tubuh.

“…tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpaannya seperti anjing” (QS. A’Raf : 176). Inilah yang dinamakan jiwa yang mengikuti nafsu binatang.

Pada kondisi seperti inilah RUH berada dilubuk hati yang paling dalam, seolah ruh berada jauh didasar sekali. Ini menunjukkan ruh tidak dapat melakukan tugasnya sebagai utusan Allah , yang mengatur anggota tubuhnya dengan sinar keilahian untuk menata kehidupan sesuai dengan fitrah ilahi.

Secara hakekat, Ruh suci inilah Al qur’an sejati yang tidak tertulis dengan tinta dan tidak berupa suara, sehingga keabadian firmanNya tetap terjaga karena tersimpan dalam kalam yang suci…..

Sesungguhnya.. Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim ( QS : Al-Ankabuut 29:49 )

Manusia harus berjuang menemukan kembali unsur yang akan menjadikannya sebagai makhluk yang paling mulia di alam semesta. Jika manusia belum mengenal ruhnya, kedudukan manusia sama seperti hewan, yang memiliki kesadaran jiwa yang rendah.

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, atau bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu. (QS.Furqan : 44)

Pada kondisi ini sifat-sifat manusia sangat didominasi oleh sifat-sifat hewani, yaitu : makan, minum, tidur, seks dan egois. Dominasi ego dan nafsu sangat kuat mempengaruhi kehidupan manusia. Ego adalah produk pikiran (alam akal). Manusia dengan kesadaran rendah masih belum mampu melakukan kontrol terhadap panca indera yang dimilikinya, sehingga dia pun tidak dapat melakukan kontrol terhadap egonya.

Apabila hati telah dikuasai Ego, maka dapat dipastikan manusia tersebut tidak akan dapat mendengar suara Rabbnya. Suara/Petunjuk Allah hanya dapat didengar atau diketahui manusia melalui alam rasa (hati nurani). Karena itu, pada kenyataanya banyak manusia yang hatinya telah diselubungi oleh ego beranggapan bahwa suara ego tersebut adalah suara/petunjuk Tuhan yang diberikan pada dirinya.

Kekeliruan manusia yang menganggap ego sebagai petunjuk Allah akan timbul akibat sebagai berikut :

1. Munculnya sifat serakah, mau menang sendiri, merasa paling suci, sombong dll

2.Hatinya tidak akan merasakan tenang dan damai. Karena ego tidak mengenal batasan “cukup”, hingga hidupnya selalu dipenuhi dengan kecemasan.

3.Merasa hidupnya selalu dipenuhi oleh berbagai masalah, bahkan rahmat Allah pun seringkali dirasakan sebagai masalah, dan sulit untuk bersyukur pada kehendak Allah swt. Pikiran dan perasaannya selalu dihantui oleh rasa takut yang tak berkesudahan, takut ditinggal oleh Tuhan-tuhan palsu yang telah hidup dalam hatiNya.

Manusia yang RUHnya masih terselubung (masih rendah kesadarannya), melaksanakan ibadah hanya karena mengejar pahala, menggapai surga dan takut akan neraka. Seluruh pelaksanaan ibadah dilaksanakan hanya terbatas pada pelaksanaan hukum-hukum, rukun, dan belum menyentuh maknanya. Karena itu, kebanyakan manusia yang berkesadaran rendah pada akhirnya, disadari atau tidak, akan menjadikan hukum-hukum syariat sebagai tuhan-tuhan palsu dihatinya ” yang mereka sembah sebenarnya adalah ajarannya bukan Allah swt sebagai pencipta dan pemilik ajaran-ajaran itu sendiri  “.

Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa beribadah sebenarnya bukanlah bertujuan mengejar pahala, tetapi sebagai training/latihan untuk mencapai derajat taqwa atau kesejatian diri yang sesungguhnya, sehingga menjadi manusia yang mampu menjalankan hidup didalam pimpinan ruh yang hidup.

Untuk dapat meningkatkan kualitas kesadaran rendah menjadi kualitas kesadaran yang lebih tinggi, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah menurunkan dominasi ego yang ada dalam diri kita. Apabila ego sudah tidak menguasai hati, maka suara hati merupakan suara/petunjuk dari Allah, dapat didengar dengan jelas. Selanjutnya, yang bertindak sebagai pengendali tubuh adalah jiwa yang berserah kepada Allah (mukhlisin). Allah menggambarkan, setan pun tidak mampu menjangkau keadaan jiwa yang berserah diri kepada Allah : “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka” (QS Shad : 82-83)

Jelas sudah ruh merupakan pimpinan bagi jasad dan jiwa. Lalu sudahkah hidup kita dipimpin oleh ruh yang hidup ? Maka penyingkapan misteri ruh merupakan langkah awal yang harus kita lakukan. Lalu bagaimana caranya membuka hijab atau tabir ruh ?

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menyibak hijab ruh. Terapi Istighfar , suatu lembaga kajian hikmah dan dzikir yang menggiring ummat untuk memiliki kesadaran akan pentingnya ruh suci, yang merupakan zat tuhan yang ada pada diri kita sebagai pemimpin jasad dan jiwa dalam menjalankan hidup dan kehidupan.

Pada tahap awal, ruh suci (zat tuhan) yang terhijab dalam selubung qalb dan nafs harus dibuka tabirnya, membuka hijab versi Terapi Istighfar diistilahkan dengan sebutan “ waris ”  dengan terbukanya tabir ruh, maka RUH akan kembali menjalankan fungsinya sebagai “ unsur yang mulia ” yaitu bersifat Energi Ilahiyah. Energi Ilahiyah ini bukan saja berfungsi sebagai “ zat hidup ”, namun juga sebagi energi yang memberikan kehidupan. pada tahap selanjutnya, Energi Ilahiyah ini kemudian diselaraskan dengan energi alam semesta (energi sunatullah).

Adapun manfaat yang dapat diperoleh setelah membuka tabir “ruh” adalah :

1. Membantu menyelaraskan alam akal dan alam rasa lewat praktek dan latihan di Terapi Istighfar. Apabila alam akal dan alam rasa telah terbiasa dalam keadaan selaras, maka prilaku seseorang tidak lagi dikuasai/dikontrol oleh ego.

2. Sebagai problem solving, dimana energi ilahiyah (zat tuhan) dalam diri dapat digunakan untuk upaya pengobatan bagi diri sendiri maupun orang lain, secara lahir maupun bathin.

3.Meningkatkan kekhusyu’an dalam beribadah.

4.Membersihkan hati sebagai tempat bersemayamnya Zat Allah ada pada tubuh manusia melalui praktek/latihan (lewat dzikir, meditasi, khalwat, dll)  Hal ini akan meredam timbulnya sifat-sifat negatif manusia.

5.Menambah tingkat keimanan kepada Allah, dengan belajar dan terus belajar berserah diri kepadaNya lewat pasrah, ikhlas dan syukur. Senang, susah, suka, duka, rindu dan cinta, bukan karena dirinya, bukan pula karena dunianya, tetapi semuanya lillahi ta’ala (karena Allah).

Namun semua manfaat tersebut tidaklah serta merta didapat begitu saja setelah RUH dibuka tabirnya, melainkan semua itu butuh proses dan juga izinNya.

Katakanlah :

Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan
Kau beri kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
Dan Kau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki
Kau muliakan orang dari orang yang Engkau kehendaki
Dan Kau hinakan orang yang Engkau kehendaki
Ditangan Engkaulah segala kebaikan
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu
Engkau masukkan malam kedalam siang
Dan Engkau masukkan siang kedalam malam
Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati
Dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup
Dan Engkau beri rizki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan
Mudah-mudahan kami termasuk orang-orang yang Kau sukai
Amin Ya Rabb…

Allahu Akbar (3x)… Lillahi Ta’ala

Terapi Istighfar untuk memperbaiki syahadatnya, dan membuka hijab RUH nya, agar RUHnya menjadi pemimpin bagi jasad dan jiwanya dan menjadi manusia yang mampu menjalankan hidup didalam pimpinan ruh yang hidup, untuk mencapai ma’rifatNya.

SELANJUTNYA ARTIKEL Huruf BA’ – Bahr Al Qudra

8 Oktober 2012

AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 3

oleh alifbraja

WAJAH ORANG-ORANG BERIMAN BERCAHAYA, DAN WAJAH ORANG-ORANG KAFIR DILIPUTI KEHINAAN
Salah satu rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa keimanan dan kekufuran tercermin di wajah dan kulit manu­sia. Di beberapa ayat, Allah memberitahukan bahwa terdapat cahaya di wajah orang-orang beriman, sedangkan wajah orang-orang kafir diliputi kehinaan:
“Dan kamu akan melihat mereka dihadap kan ke neraka dalam keadaan tunduk karena hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu …” (Q.s. asy-Syura: 45).
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan ada tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah peng huni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan memperoleh balasan yang setimpal dan mere ka diliputi kehinaan. Tidak ada bagi mereka se orang pelindung pun dari azab Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. Yunus: 26-7).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat tersebut, wajah orang-orang kafir diliputi oleh kehinaan. Sebaliknya, wajah orang-orang beriman bercahaya. Allah menyatakan bahwa mereka dikenal karena adanya bekas sujud pada wajah mereka:
Muhammad itu adalah Utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” (Q.s. al-Fath: 29).
Dalam ayat-ayat lainnya, Allah memberi tahu kan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang yang berdosa dikenali dari wajah mereka:
“Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.” (Q.s. ar-Rahman: 41).
“Dan kalau kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah menge ta hui perbuatan-perbuatan kamu.” (Q.s. Muhammad: 30).
Keajaiban dan rahasia penting yang diung kapkan dalam al-Qur’an adalah adanya per ubah an fisik yang terjadi pada wajah sese orang. Hal itu tergantung pada keimanan dan dosa seseorang. Keadaan ruhani menghasil kan pengaruh fisik pada tubuh, sekalipun bentuknya tetap sama, namun ekspresi wajah dapat berubah, yakni wajahnya diliputi kege lapan atau cahaya. Jika Allah menghen daki, orang yang beriman dapat melihat keajaiban ini yang ditunjukkan kepada orang-orang.

RAHASIA MENGAPA ALLAH MENGHAPUS PERBUATAN BURUK
Orang-orang beriman bercita-cita mem peroleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah. Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Menge tahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira.” (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).
Tentu saja Allah tidak mengubah perbuat an buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang per bu at an buruknya dihapus Allah dan diam puni-Nya diberitahukan dalam al-Qur’an.
Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar
Dalam sebuah ayat Allah menyatakan:
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang me nger jakannya, niscaya Kami hapus kesa lahan-kesalahanmu dan Kami masuk kan kamu ke tempat yang mulia.” (Q.s. an-Nisa’: 31).
Orang-orang yang beriman yang menge ta hui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang. Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah, bertobat, dan memo hon ampunan.
Allah memberitahukan kita dalam al-Qur’an tentang hamba-hamba-Nya yang tobat nya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan ber kata, “Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni.” Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:
“Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanya lah tobat bagi orang-orang yang menger jakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemu­dian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu di teri ma Allah dari orang-orang yang menger jakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia menga takan, ‘Sesung guhnya saya bertobat seka rang.’ Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Q.s. an-Nisa’: 17-8).
Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sung guh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya diha pus kan, dan jika tidak menginginkan penye salan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon am pun kepada Allah.
Orang-orang yang Sibuk Mengerjakan Amal Saleh
Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:
“Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang meng alir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Tagha bun: 9).
“Kecuali orang-orang yang bertobat, ber iman, dan mengerjakan amal saleh, maka mere ka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Furqan: 70).
Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah “amal saleh”. Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari meng gunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, mera wat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, men cari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan ke baikan dan kesabaran, semua itu merupa kan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah. Orang-orang yang meng ingin kan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendak nya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah. Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaima na kah seseorang seharusnya berbuat, misal nya jika ia diletakkan di depan api neraka, kemudian kepadanya diperlihatkan perbuat an-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, kemudian diingatkan bah­wa ia seharusnya berbuat benar agar diam puni. Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang meng alami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya, tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan me ngerjakan shalat tepat pada waktunya, mela ku kan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia menge tahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. Karena neraka yang ada di sisinya akan selalu mengingatkannya tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Se hing ga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melaku kan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya.

TUJUAN MEMBELANJAKAN HARTA DI
JALAN ALLAH
Salah satu amal ibadah yang terpenting yang dapat membersihkan kotoran kebendaan dan keruhanian, dan sebagai latihan bagi ruhani sehingga seseorang dapat mencapai derajat akhlak yang tinggi sehingga Allah akan ridha kepadanya adalah membelanjakan harta di jalan Allah. Allah telah berfirman kepada Nabi saw. agar mengambil zakat dari harta benda orang-orang beriman untuk mem bersihkan dan menyucikan harta terse but.
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu member sihkan dan menyucikan mereka.” (Q.s. at-Taubah: 103).
Meskipun demikian, perbuatan membe lanjakan harta yang dapat membersihkan dan menyucikan orang-orang adalah jika dilaku kan berdasarkan ketentuan yang telah dise but kan dalam al-Qur’an. Orang-orang berang gapan bahwa mereka telah menunaikan tugas mereka ketika mereka memberikan sejumlah uang yang sangat sedikit yang diberikan kepada pengemis, memberikan pakaian bekas kepada orang miskin, atau memberi makan kepada orang yang lapar. Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupa kan perbuatan yang akan memperoleh pahala dari Allah jika niatnya untuk mencari ridha Allah. Namun sesungguhnya ada batas-batas yang telah ditentukan dalam al-Qur’an. Misal nya, Allah memerintahkan manusia agar menginfakkan apa saja yang melebihi keper luannya:
“Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah mene rang kan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (Q.s. al-Baqarah: 219).
Manusia hanya memerlukan sedikit saja untuk memenuhi keperluan hidupnya di dunia. Harta benda yang di luar keperluan seseorang adalah harta yang berlebih. Yang terpenting bukan jumlah yang diberikan, tetapi apakah ia memberikannya dengan ikh las atau tidak. Allah mengetahui segala sesu atu dan Dia telah memberi hati nurani kepada manusia untuk menetapkan hal-hal yang sesungguhnya tidak diperlukan. Mengin fak kan harta benda merupakan bentuk ibadah yang mudah bagi orang-orang yang tidak di hinggapi ketamakan terhadap dunia dan yang tidak mengejar dunia, tetapi merindu kan akhirat. Allah telah memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta kita untuk menjauhkan cinta dunia. Menginfak kan harta benda merupakan sarana untuk mem­bersihkan diri dari sifat tamak. Tidak diragukan lagi bahwa bentuk ibadah ini sangat penting bagi orang-orang yang ber iman dalam kaitannya dengan perhitungan di akhirat. Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah akan dirahmati Allah:
“Dua manusia akan dirahmati: Yang pertama adalah orang yang diberi oleh Allah al-Qur’an dan ia hidup berdasarkan al-Qur’an itu. Ia menganggap halal apa saja yang dihalalkan, dan menganggap haram apa saja yang diharamkan. Yang lain adalah orang yang diberi harta oleh Allah, dan harta itu dibelanjakannya kepada sanak keluarga dan dibelanjakan di jalan Allah.1
Manusia Harus Memberikan Apa yang Ia
Cintai kepada Orang Miskin
Orang sering kali cenderung memberikan sesuatu jika sesuatu yang diberikan itu tidak merugikan kepentingannya. Misalnya, ketika seseorang memberikan harta bendanya kepada orang miskin, sering kali ia memberi kan sesuatu yang tidak lagi diperlukannya dan tidak disukainya, sudah ketinggalan mode, atau tidak layak pakai. Tampaknya orang merasa berat untuk memberikan harta benda yang dicintainya, padahal sesungguhnya ke der mawanan seperti ini sangat penting untuk membersihkan diri dan agar mencintai amal kebajikan. Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan Allah kepada umat manu sia. Allah telah menyatakan bahwa tidak ada cara lain untuk mencapai kebajikan bagi manu sia kecuali melalui:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesung guhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).
“Hai orang-orang yang beriman, nafkah kanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami kelu ar kan dari bumi untukmu. Dan ja ngan lah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sen diri tidak mau mengambilnya me lainkan dengan memicingkan mata terha dapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.s. al-Baqarah: 267).
Membelanjakan Harta di Jalan Allah sebagai
Sarana Agar Dekat Dengan-Nya
Bagi orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada memper oleh keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha mencari asbab untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, bertak walah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihad lah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).
Sebagai sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengung kapkan dalam al-Qur’an bahwa apa yang dibe lan­jakan akan menjadi asbab untuk mencapai kedekatan dengan-Nya. Dengan demikian bagi orang yang beriman, memberikan apa yang ia cintai dan yang melebihi keperlu annya kepada orang-orang miskin tidaklah sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang taat dan cinta kepada Allah. Tentang hal ini Allah menyatakan sebagai berikut:
“Dan diantara orang-orang Arab Badui ada orang yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, dan memandang apa yang dinaf kah­kannya itu sebagai jalan mendekat kannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk mem per oleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. at-Taubah: 99).
Apa Saja yang Dinafkahkan di Jalan Allah
akan Memperoleh Balasan yang Baik
Rahasia lain yang diungkapkan tentang membelanjakan harta seseorang di jalan Allah menurut al-Qur’an adalah, bahwa apa saja yang dinafkahkannya itu pasti akan memper oleh balasan. Ini merupakan janji Allah. Orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah tanpa takut akan men jadi mis kin, akan memperoleh rahmat yang menak jubkan dalam kehidupan mereka. Apa saja yang dibelanjakan di jalan Allah akan diganjar sepenuhnya. Sebagian ayat yang men ceritakan janji tersebut adalah sebagai berikut:
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Baqarah: 272).
“Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Anfal: 60).
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.s. Saba’: 39).
Orang-orang yang beriman hanya meng harapkan keridhaan Allah dan surga ketika mereka memberikan harta mereka; tetapi sebagai rahasia yang diungkapkan oleh Allah, apa saja yang mereka nafkahkan akan dikem balikan lagi kepada mereka. Pengembalian ini merupakan rahmat di dunia, dan di atas segalanya, Allah menyediakan surga bagi orang-orang yang beriman. Dalam pada itu, berkebalikan dengan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Allah akan mengurangi rezeki orang-orang yang bakhil dalam menafkahkan kekayaan mereka, atau orang yang suka mengumpulkan kekaya an yang lebih banyak dan meng abaikan batasan-batasan Allah. Salah satu ayat yang berkaitan dengan masalah ini menceritakan tentang keadaan orang-orang yang memakan riba:
“Allah memusnahkan riba dan menyubur kan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q.s. al-Baqarah: 276).
Allah memberitahukan tentang keber untungan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang memberikan harta mereka sebagai berikut:
“Perumpamaan orang-orang yang menaf kahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 261).
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakitinya, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyi rami nya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265).
Dalam setiap ayat tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang yang beriman dalam al-Qur’an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surga-Nya. Namun, menya dari tentang rahasia-rahasia yang diungkap kan dalam al-Qur’an, mereka juga mengha rap kan rahmat dan karunia Allah. Semakin banyak mereka memberikan hartanya di jalan Allah, dan semakin mereka memperhatikan apa yang diharamkan dan yang dihalalkan, Allah akan semakin menambah kekayaan mereka, tugas-tugas mereka dijadikan mudah, dan Allah memberikan kesempatan yang semakin banyak untuk menafkahkan harta nya di jalan Allah. Setiap orang beriman yang bertakwa kepada Allah dan dalam hatinya tidak ada kekhawatiran terhadap masa depan, ia akan memahami rahasia ini dalam kehidup annya.

PENGARUH PERBUATAN BAIK DAN UCAPAN YANG BAIK
Manusia senantiasa mencari lingkungan yang tenang tempat mereka dapat hidup dengan aman, gembira, dan membina persa ha batan. Meskipun mereka merindukan keada an yang demikian itu, mereka tidak pernah melakukan usaha untuk menyu bur kan nilai-nilai tersebut, tetapi sebaliknya, mereka sendirilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dan kesengsaraan. Sering kali orang mengharapkan agar orang lain mem berikan ketenangan, kedamaian, dan bersikap bersahabat. Hal ini berlaku dalam hubungan keluarga, hubungan antarpegawai di perusahaan, hubungan kemasyarakatan, maupun persoalan internasional. Namun, untuk membina persahabatan dan mencip takan kedamaian dan keamanan dibutuhkan sikap mau mengorbankan diri. Konflik dan keresahan tidak dapat dihindari jika orang-orang hanya bersikukuh pada ucapannya, jika mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa bersedia melakukan kompromi atau pengorbanan. Bagaimanapun, orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak bersikap seperti itu. Orang-orang yang beriman tidak mementingkan diri sendiri, suka memaafkan, dan sabar. Bahkan ketika mereka dizalimi, mereka bersedia mengabaikan hak-hak mereka. Mereka menganggap bahwa kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan orang lain lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka, dan mereka menunjukkan sikap yang santun. Ini merupakan sifat mulia yang dipe­rintahkan Allah kepada orang-orang beriman:
“Dan tidaklah sama kebaikan dan keja hat an. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianuge rahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keber un tungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat: 34-5).
“Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantah lah mereka dengan cara yang baik. Sesung guhnya Tuhanmu Dialah yang lebih menge tahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. an-Nahl: 125).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baik nya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi “teman yang setia”. Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manu sia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan pikiran siapa saja yang Dia kehendaki.
Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar mendatangi Fir‘aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir‘aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerin tahkan rasul-Nya agar berbicara kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur’an:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaha: 43-4).
Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemauan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebu ah rahasia bahwa Dia akan menjadikan per buatan orang-orang beriman itu akan meng­hasilkan manfaat dan akan mengubah musuh-musuh menjadi teman jika mereka menaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.

8 Oktober 2012

AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 2

oleh alifbraja

ALLAH MENAMBAHKAN NIKMATNYA KEPADA ORANG-ORANG YANG BERSYUKUR
Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggu na kan tangannya hingga kemampuan ber bicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat me mer lu kan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menya dari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka meng anggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mere ka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalah an yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasih nya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak ter hitung banyaknya di sepanjang hidupnya. Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).
Meskipun kenyataannya demikian, ke banyak an manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun penyebabnya diceritakan dalam al-Qur’an: Setan, yang berjanji akan menyesat kan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya’.” (Q.s. al-A‘raf: 17-8).
Dalam pada itu, orang-orang yang beriman karena menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri oleh orang-orang yang beriman. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepa ham an, wawasan, dan kekuatan yang dikaru nia kan kepada mereka, dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang beriman. Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan, perbuatan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semua ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Sebagai balasan atas kesyukurannya, sebu ah pahala menunggu orang-orang yang ber iman. Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam al-Qur’an; Allah menam bah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah memberi kan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyu kur kepada Allah atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Bahkan Allah menga runia kan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada orang-orang yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan mereka ridha dengan karunia tersebut, dan mereka menjadikan Allah sebagai pelin dung mereka. Allah menceritakan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)
Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Rasulullah saw. juga me nye butkan masalah ini, beliau saw. bersab da:
“Jika Allah memberikan harta kepadamu, maka akan tampak kegembiraan pada dirimu dengan nikmat dan karunia Allah itu.1
Dalam pada itu, seorang kafir atau orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia akan merasa tidak berbahagia dan tidak puas, maka Allah menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandangan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi Allah menampakkan lebih ba nyak nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.
Bahwa Allah menambah kenikmatan kepada orang-orang yang bersyukur, ini juga merupakan salah satu rahasia dari al-Qur’an. Bagaimanapun harus kita camkan dalam hati bahwa keikhlasan merupakan prasyarat agar dapat mensyukuri nikmat. Jika seseorang menunjukkan rasa syukurnya tanpa berpaling dengan ikhlas kepada Allah dan tanpa meng hayati rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batas, tetapi rasa syukurnya itu hanya untuk menarik perhatian orang, tentu saja ini merupakan ketidakikhlasan yang parah. Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati dan mengetahui ketidakikhlasannya tersebut. Orang-orang yang memiliki niat yang tidak ikhlas bisa saja menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati dari orang lain. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah. Orang-orang seperti itu bisa saja men syukuri nikmat ketika tidak menghadapi penderitaan. Tetapi pada saat-saat berada dalam kesulitan, mungkin mereka akan meng ingkari nikmat.
Perlu diperhatikan, bahwa orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Seseorang yang melihat dari luar mungkin melihat berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut. Misalnya, Allah menya takan bahwa Dia akan menguji manu sia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyu kur, mereka berharap bahwa Allah akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam mengha dapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka. Dengan demikian, ciri-ciri orang yang ber iman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

RAHASIA BERSERAH DIRI DAN BERTAWAKAL KEPADA ALLAH
Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus yang dimiliki orang-orang mukmin, yang memiliki keimanan yang mendalam, yang mampu melihat kekuasaan Allah, dan yang dekat dengan-Nya. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Allah telah menciptakan semua makh luk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa — masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan takdir nya sendiri-sendiri. Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita tersan dung, baju yang kita beli sepuluh tahun yang lalu, buah persik di lemari es, ibu anda, teman kepala sekolah anda, diri anda — pendek kata segala sesuatunya, takdirnya telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan dalam sebuah kitab yang dalam al-Qur’an disebut sebagai ‘Lauhul-Mahfuzh’. Saat kematian, saat jatuh nya sebuah daun, saat buah persik dalam peti es membusuk, dan batu yang menye babkan kita tersandung — pendek kata semua peris tiwa, yang remeh maupun yang penting — semuanya tersimpan dalam kitab ini.
Orang-orang yang beriman meyakini tak dir ini dan mereka mengetahui bahwa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang ter baik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah mencipta kan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah. Misalnya, terse rang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau mengha dapi peristiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak menimbulkan rasa takut da lam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang telah diciptakan Allah untuk mereka. Orang-orang beriman menghadapi dengan kegembiraan keadaan apa saja, keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan ngeri dan putus asa. Hal itu karena rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesung guh nya telah direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka. Orang-orang yang meng hadapi semuanya ini dengan sabar dan ber tawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.s. Ali ‘Imran: 159) Rasulullah saw. juga menyatakan hal ini, beliau bersabda:
“Tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan buruk, dan mengetahui bahwa ia tidak dapat menolak apa saja yang menimpanya (baik dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang dijauhkan darinya (baik dan buruk).”1
Masalah lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang bertawakal kepada Allah adalah tentang “melakukan tindakan”. Al-Qur’an memberitahukan kita tentang ber bagai tindakan yang dapat dilakukan orang-orang yang beriman dalam berbagai keadaan. Dalam ayat-ayat lainnya, Allah juga menjelas kan rahasia bahwa tindakan-tindakan tersebut yang diterima sebagai ibadah kepada Allah, tidak dapat mengubah takdir. Nabi Ya‘qub a.s. menasihati putranya agar melakukan bebe rapa tindakan ketika memasuki kota, tetapi setelah itu beliau diingatkan agar bertawakal kepada Allah. Inilah ayat yang membicarakan masalah tersebut:
“Dan Ya‘qub berkata, ‘Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu ger bang yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetap kan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendak lah kepada-Nya saja orang-orang yang berta wakal berserah diri’.” (Q.s. Yusuf: 67).
Sebagaimana dapat dilihat pada ucapan Nabi Ya‘qub, orang-orang yang beriman tentu saja juga mengambil tindakan berjaga-jaga, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengubah takdir Allah yang dikehendaki untuk mereka. Misalnya, sese orang harus mengikuti aturan lalu lintas dan tidak mengemudi dengan sembarangan. Ini merupakan tindakan yang penting dan meru pa kan sebuah bentuk ibadah demi kesela matan diri sendiri dan orang lain. Namun, jika Allah menghendaki bahwa orang itu meninggal karena kecelakaan mobil, maka tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah kematiannya. Terkadang tindakan pencegahan atau suatu perbuat an tampaknya dapat menghindari orang itu dari kematian. Atau mungkin seseorang dapat melakukan keputusan pen ting yang dapat mengubah jalan hidup nya, atau seseorang dapat sembuh dari penyakitnya yang memati kan dengan menunjukkan kekuatannya dan daya tahannya. Namun, semua peristiwa ini terjadi karena Allah telah menetapkan yang demikian itu. Sebagian orang salah menafsir kan peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai “mengatasi takdir sese orang” atau “mengubah takdir seseorang”. Tetapi, tak seorang pun, bahkan orang yang sangat kuat sekalipun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memi liki kekuatan seperti itu. Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah. Adanya fakta bahwa sebagian orang tidak menerima kenyataan ini tetap tidak meng ubah kebenaran. Sesungguhnya, orang yang menolak takdir juga telah ditetap kan demi kian. Karena itulah orang-orang yang meng hin dari kematian atau penyakit, atau meng ubah jalannya kehidupan, mereka mengalami peristiwa seperti ini karena Allah telah menetapkannya. Allah menceritakan hal ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Tidak ada suatu bencana pun yang me nimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami mencipta kannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.s. al-Hadid: 22-3).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, peristiwa apa pun yang terjadi telah dite tap kan sebelumnya dan tertulis dalam Lauh Mahfuzh. Untuk itulah Allah me nyata kan kepada manusia supaya tidak ber duka cita terhadap apa yang luput darinya. Misalnya, seseorang yang kehilangan semua harta ben da nya dalam sebuah kebakaran atau meng alami kerugian dalam perdagangannya, semua ini memang sudah ditetapkan. Dengan demi kian mustahil baginya untuk menghin dari atau mencegah kejadian tersebut. Jadi tidak ada gunanya jika merasa berduka cita atas kehilangan tersebut. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai kejadian yang telah ditetapkan untuk mereka. Orang-orang yang bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi peristiwa seperti itu, Allah akan ridha dan cinta kepadanya. Seba liknya, orang-orang yang tidak berta wakal kepada Allah akan selalu mengalami kesulit an, keresahan, ketidakbahagiaan dalam kehidupan mereka di dunia ini, dan akan memperoleh azab yang kekal abadi di akhirat kelak. Dengan demiki­an sangat jelas bahwa bertawakal kepada Allah akan membuahkan keberuntungan dan kete nang an di dunia dan di akhirat. Dengan me­nyingkap rahasia-rahasia ini kepada orang-orang yang beriman, Allah membebaskan mereka dari berbagai kesulitan dan menjadi kan ujian dalam kehidupan di dunia ini mu dah bagi mereka.

TERDAPAT KEBAIKAN DALAM SETIAP PERISTIWA
Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam pe ris tiwa-peristiwa yang tampaknya tidak me nye nangkan terdapat kebaikan di dalam nya:
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaik an yang banyak.” (Q.s. an-Nisa’: 19).
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pada hal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 216).
Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat. Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan selu ruh harta benda mereka. Mereka tetap ber syukur kepada Allah yang telah mengkaru nia kan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda. Untuk itu, mereka ber syukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan kein dah an untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderita an yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memer lukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepe nuh nya kepada Allah dan dengan menun jukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.
Manusia harus mencari kebaikan dan kein dahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misal nya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Sese orang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapan nya pada masa depan. Bagaimanapun, hen dak nya ia mengetahui bahwa terdapat ke baik an dalam kegagalannya ini. Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barang kali Allah menghendaki dirinya agar terhin dar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menem patkan berbagai rahmat dalam setiap peris tiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.
Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.
Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, “Seandainya saya tidak melakukan…” atau “Seandainya saya tidak berkata …,” dan seba gai nya. Kesalahan, kekurangan, atau peris tiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak meng untungkan, pada hakikatnya di dalam nya terdapat rahmat dan masing-masing merupa kan ujian. Allah memberikan pelajar an pen ting dan mengingatkan manusia tentang tuju an penciptaan pada setiap orang. Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nurani nya, tidak ada kesalahan atau pen de ritaan, yang ada adalah pelajaran, peringat an, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melaku kan mawas diri, bahkan keimanannya menja di lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.
Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang me ngenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tang gung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan menda tang kan kebahagiaan bagi orang-orang ber iman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang meng hing gapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelas kan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai ber ikut:
“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati’.” (Q.s. al-Baqarah: 38).
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu ber takwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidup an di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Q.s. Yunus: 62-4).

3 Oktober 2012

JAMAAH DZIKIR DAN HUKUM JAHR

oleh alifbraja

Sebagai contoh misalnya, bacaan kalimat La ilaha illallah, bacaan Allah, kalimat yang mengandung Asma al-Husna, atau wirid yang mengandung ayat Al-Qur’an. Semua itu harus diperhatikan, karena mengandung asnar atau rahasia karena di dalamnya mengandung magnet yang tinggi, tergantung besar-kecilnya, sesuai pemberian Allah (Swt).
Hal itu tidak diketahui oleh semua ulama. Yang mengerti hanya sebagaian besar kalangan para wali.

Adapun terkait Hadist yang Anda tanyakan, yang dimaksud sampai gila adalah cinta yang luar biasa. Sebab, bila zikir dibaca dengan baik, ia mampu menumbuhkan cinta yang amat sangat kuat kepada Allah, juga tumbuh rasa khawf (takut) bila imannya meluntur atau tipis, yang berakibat dirinya jauh dari Allah dan Rasul-Nya yang timbul sebagai rasa istiqomah . Maka gandengan kalimat khawf adalah raja’ (pengharapan) yang penuh. Tiada yang bisa diharapkan terkecuali Allah, baik untuk bersandar, berteduh, berlindung maupun memohon. Yang ditakutkan adalah mati dalam keadaan su’ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek), dan yang diharapkan yaitu mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik). Selain dari khawf, raja, ada juga haya’, yang artinya malu kepada Allah. Dia malu bila berbuat maksiat, malu bila akhlaknya dan budi pekertinya tidak terpuji kepada Allah, Rasul-Nya, para sahabat, para wali, dan para ulama. Itulah yang terkandung dalam Hadist tersebut. Jadi bukan gila dalam pengertian penyakit dan bukan pula gila dalam pengertian meninggalkan syariat atau sunnah, akhlak dan adab Nabi (saw).

Di antara kebiasaan orang-orang sufi, mereka berdzikir dengan cara melampaui batas syariat Islam, yaitu berdzikir dengan bilangan yang memberatkan diri seperti berdzikir sebanyak 70 ribu kali, 100 ribu kali. Padahal, maksimal dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-sebanyak 100 kali dalam dzikir-dzikir tertentu, bukan pada semua jenis dzikir.

Mereka membebani diri seperti ini, karena mendengar hadits berikut:

أَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِاللهِ حَتى يَقُوْلُوْا مَجْنُوْنٌ

“Perbanyaklah dzikir sehingga orang-orang berkata, engkau gila”. [HR. Ahmad (3/68), Al-Hakim (1/499), dan Ibnu Asakir (6/29/2)]

Hadits ini lemah karena diriwayatkan oleh Darraj Abu Samhi. Dia lemah riwayatnya yang berasal dari Abul Haitsam. Di-dho’if-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (no. 517) (2/9).

 

2 Oktober 2012

WUJUD YANG MAHA PENCIPTA

oleh alifbraja

Kewujudan Yang Maha Pencipta di terangkan oleh Allah di dalam Al-Quran melalui firmanNya Al Insan ayat 1 Maksudnya: Bukankah telah berlalu kepada manusia satu ketika dari masa yang beredar sedang ia (insan) belum ujud lagi, zaman itu tidak dapat untuk di-sebut-sebut mengikut perhitungan masa, mengapa kaum musyrik itu engkar? Mengikut ju mhur ulamak zaman yang di sebut oleh Allah swt di atas adalah zaman yang hanya ujud ialah Zat Allah semata-mata dan makhluk Allah yang lainpun belum lagi ujud, akan tetapi Allah yang kita kenali sekarang sebagai Tuhan yang wajib di sembah itu dan di kenali sebagai (Dialah yang awal, Dialah yang Akhir, Dialah yang Zahir dan Dialah yang Batin) telahpun sedia ujud, Yang di katan yang Awal itu kerana Dia bersifat Qidam, iaitu sifat yang mutlak bagi diriNya, dan tiada di dahului oleh sesuatu jugapun, demikianlah juga dengan sifat Akhir dengan tiada berkesudah an, kerana ia memiliki sifat mutlak yang Baqo, ini bererti Dia memerintah, mentadbir, Mengurus, Menguasai semua makhluk ciptaaNya daripada awal sehingga ke akhir, sementra siafat ZahirNya ia menunjukkan kepada jelas dan terangnya segala apa yang berlaku atas bergerak dan diamnya segala alam ciptaanNya adalah dari kerja urusanNya, ia juga di kenali sebagai Af’al Tuhan atau kerja buat urusan yang senantiasa menjalankan urusanNya sebagaimana firmanNya menyatakan Maksudnya: Semua makhluk yang berada di langit dan di bumi sentiasa Berhajat dan bermohon kepadaNya, tiap-tiap masa Dia didalam urusanNya (Mencipta dan mentadbir makhlukNya) (Ar Rahman 29) Ayat yang di atas mengukuhkan lagi kefahaman umat islam bahawa segala yang bergerak dari sekalian makhlukNya adalah ditadbir dan disebabkan oleh kuasa dan kehendak Allah swt, dengan kuasa tadbir itu bermakna takdir seluruh makhluk itu adalah di bawah kuasa gerak daripada Ke Esaan Tuhan secara mutlak dan di tentukan oleh Allah swt, mengikut nafsu semasa makhluk tersebut, inilah suatu rahsia takdir daripada Tuhan terhadap makhlukNya, dan di-sinilah kekaburan manusia tentang ilmu qadha dan qadar Allah swt sehingga membawa kepada pertengkaran yang tiada berkesudahan, ini bererti sekalian makhlukNya tiada mempunyai pilihan daya dan keupayaan setelah di nilai taraf kehendak nafsu seseorang tersebut sebelum takdir di timpakan oleh Allah swt kepadanya, ini bererti ke EsaanNyalah yang sepatutnya di fahami oleh sekalian makhluk terutama manusia yang memiliki akal lagi mampu berfikir secara waras, dengan kenyataan di atas jugalah kita di fahamkan bahawa Tuhan itu sentiasa menjalankan urusanNya tanpa berhenti-henti dan tanpa batas waktu dan masa, ertinya setiap bergeraknya makhluk itu adalah datang dari takdir ke Esaan Tuhan, demikian jugalah dengan sifat wal Batinu Tuhan yang sememan gnya tidak dapat di lihat dengan mata yang zahir, hanya dapat di yakini oleh mata basirah iaitu mata hati manusia kerana itulah juga manusia wajib tahu dan meng enal fungsi mata hatinya di samping mengenalinya dengan sempurna, terutama mengenal kekuasaan Tuhan secara yang menyeluruh sebagaimana firmanNya Maksudnya: Dialah Allah,yang tiada tuhan melainkan Dia,yang mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang amat pemurah dan amat mengasihani,Dialah Allah,yang tiada tuhan melainkan Dia, yang menguasai, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang melimpahkan Keamanan, yang Maha Mengawal dan Mengawasi, yang Maha Kuasa, yang Maha Kuat, yang melengkapi segala Kebesaran, Maha suci Allah dari segala yang mereka sekutukan, Dialah Allah, yang mencipta sekalian makhluk, yang mengada kan, yang membentuk rupa, (mengikut kehendakNya) baginyalah nama yang sebaiknya dan semulia-mulianya, bertasbih segala apa yang berada di langit dan di bumi, Dialah yang tiada tolok bandingnya, lagi amat Bijaksana (Al-Hasyar 22, 23, 24) Ayat yang di atas adalah merupakan ayat akidah yang wajib di percayai oleh semua manusia yang beriman kepada kuasa Ketuhanan yang menjadikan sekalian alam-alam ciptaanNya, dan ayat yang diatas menunjukkan kekuasaanNya yang menyeluruh terhadap alam tersebut, oleh kerana itu manusia wajib mengenali Tuhan secara menyeluruh sama ada Zatnya, Asmaknya, Sifatnya dan juga Af’alnya, yang ke semuanya bergerak serentak tanpa ada yang mendahulu atau terkemudian

2 Oktober 2012

ASMAUL HUSNA TERBAHAGI DUA

oleh alifbraja

Asmaul Husna atau nama-nama Allah terbahagi dua kumpulan besar, satu di kenali sebagai Asmaul Adhom dan lagi satu Asmaul Husna, Asmaul Adhom maksudnya Nama-nama Allah yang meng Agongkan ZatNya, Asmak ini khusus untuk DiriNya sahaja, ia bertujuan meng Agongkan diriNya supaya dapat membez akan dengan makhluk ciptaanNya, ertinya Asmaul Adhom itu hanya di timpakan kepada Zat sahaja, sementara Asmaul Husna adalah nama-nama Tuhan yang di-timpakan kepada seluruh alam ciptaan Tuhan yang menunjukkan kuasa mentadbir dan takdirNya dari ke Esaan ZatNya.

 

 

TAUHIDUL SIFAT

Wajib mempercayai ujud sifat Allah swt, yang di maksudkan dengan sifat di sini ialah sifat yang berdiri pada Zat Allah atau sifat yang bergantung kepada Zat Allah, ada pandangan ulamak ilmu ketuhanan mengatakan bahawa tiada istilah sifat di dalam ilmu ketuhanan kerana Allah sudah memilikki sifat Asmaul Husna yang indah dan Dia tidak memerlukan sifat lagi, hujah mereka ialah apabila Zat yang Maha Agong itu sudah memilikki sifat kamalat yang tidak terhingga banyaknya itu serta qadim pula maka apa perlu Dia berkehendakkan kepada sifat yang lain, pada masalah inilah para ulamak ilmu ketuhanan cuba merungkaikan dengan berijtihad mensari jalan penyelesaian dengan mengujudkan ilmu yang di kenali sebagai sifat yang dua puluh, yang mana ilmu ini cuba mencari jalan penyelesaian dengan sewajarnya sehingga mereka (ulamak ilmu ketuhanan) menemui jalan penyelesaian terhadap ilmu sifat ini dan mereka memperkenalkan maksud sifat itu ialah yang berdiri pada Zat atau sifat yang mengharapkan kepada Zat dengan istilah sifat ma’ani (sifat bermakana) sementara sifat Zat yang qadim (Sifat Asma ul Husna) di istilahkan kepada sifat Ma’anawiyah (sifat yang memberi makna) ertinya sifat Ma’anawiyah memberikan makna kepada sifat ma’ani, sebagai contoh jika sifat ma’ani itu sifat qudrat maka yang memberikan makna kepada sifat qudrat itu ialah sifat Asmak Allah yang bernama Qadirun, sebagai contoh, sifat qudrat bermaksud kuasa, dan sifat Qadirun bermakna Yang amat Berkuasa oleh itu Yang amat Berkuasa memberikan kuasa (tenaga) kepada sifat kuasa maka barulah sifat qudrat itu memper olehi kuasa dan demikianlah kepada sifat-sifat yang lain, oleh kerana itu jelaslah sifat qudrat itu adalah makhluk. Para ulamak ilmu Ketuhanan menggariskan beberapa sifat dan istilahnya didalam keilmuan ini supaya di fahami oleh manusia untuk permulaan memahami mengenal Allah dan hamba Tuhan, mengenal Tuhan yang ghaib dan tersirat dan mengenal hamba yang tersirat dan tersurat, dan di sinilah punca perhubungan di antara yang ghaib dan yang nyata bermula, dan perlulah di ketahui yang mana di antaranya yang memberi erti di dalam kehidupan manusia dan perhu bungannya dengan Tuhan dan menetapkan yang lebih berkuasa di antaranya, kerana itu para ulamak di dalam bab ilmu ini melahirlah istilah Nafsiyah, Salbiyah, maani dan Maanawiyah, para ulamak juga menggariskan susunan jumlah sifat pada setiap bahagian dari sifat tersebut mengikut kesesuaian sifat tertentu kepada setiap bahagian supaya tujuan ilmu tersebut menepati ilmu akidah dan memberikan kefahaman dengan jelas seperti yang tersenarai di bawah ini:

 

1. Sifat Nafsiyah di bahagikan kepada satu iaitu sifat Wujud

2. Sifat Salbiyah di bahagikan kepada lima sifat iaitu Qidam Baqo, Mukholafatuhu Taala Lilhawadis, Qiamuhu Binafsih dan Wahdaniyah

3. Sifat Maani di bahagikan kepada tujuh sifat iaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’a, Bashar, dan Kalam, Sifat Maanawiyah di bahagikan kepada tujuh sifat iaitu sifat

4. Qadirun, Maridun, Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirun dan Mutakallimun iaitu sifat Asmaul Husna Kesemua sifat diatas berjumlah dua puluh sifat, dan istilah sifat di berikan kepada semua sifat dua puluh itu adalah kerana mengelakkan kepada pengamal ilmu ini dari bercakap tentang Zat, akan tetapi jika kita nahu memahami ilmu yang sebenarnya ialah Nafsiyah itu ialah Zat yang bertaraf Diri Tuhan, Salbiyah bertaraf Keagungan Tuhan, Ma’ani bert araf makhluk Tuhan dan Ma’anawiyah bertaraf Asmaul Husna Tuhan ia itu sifat Tuhan oleh yang demikian taraf sifat itu yang di katakanaberdiri atau mengharapkan pergantungannya kepada Tuhan adalah bertaraf makhluk kerana Tuhan tidak memerlukan pergantunganNya dengan sesiapa, dan kerana itulah juga di dalam ilmu sifat dua puluh memberi kefahaman kepada ilmu mengenal Rububiyah dan Uluhiyah atau ilmu di antara Tuhan dan hamba, iaitu hamba yang tersembunyi ia itu Rohani yang bersumber dari sebahagian dari sifat maani tersebut, atau di kenali juga sebagai sifat Qahar yang bersumber daripada sifat Maani bukan hamba yang tersurat iaitu jasad manusia, dan sifat inilah yang di maksudkan yang berdiri atau bergantung pada Zat , iaitu Zat Maanawiyah (Asmaul Husna) bukan Zat Nafsiyah dan sementara itu Zat Maanawiyah pula berserta dengan Zat Salbiyah dan Zat Salbiyah pula adalah menunju kkan Keagungan Zat Nafsiyah, ini bererti Nafsiyah, Salbiyah, Maanawiyah sentiasa berserta dengan sifat Maani, maka di sinilah kefahaman orangorang yang mengenal Allah dan mengenal diri supaya meninjau dan memahami ilmu

INSAN KAMIL

 

Yang menemukan di antara sifat Qahar dan sifat Kamal Allah swt, pertemuan di antara tiga kumpulan sifat Salbiyah, Maanawiyah dan sifat Maani yang mana sifat ini merupakan sifat Al Uluhiyah di dalam bab ilmu Iftiqar, kerana itulah setiap manusia wajib memahami ilmu akidah supaya mereka memahami Alif Ba Ta ilmu Ketuhanan dan Kehambaan, ia itu hamba yang ghaib dan tersirat yang di kenali secara umum sebagai makhluk Allah swt, yang diperintahkan kepada manusia supaya mengenal dan mememiki rkannya (Fikirkanlah tentang makhluk Allah) oleh kerana itulah di katakana bahaw a sifat Maani itu adalah bayang-bayang kepada sifat Maanawiyah.

 

TAUHIDUL AF’AL

 

Manusia yang masih hidup wajib mempercayai,mengakui bahawa segala Af’al Allah datang daripada kuasa ke Esaan Tuhan, inilah suatu fahaman akidah yang tidak dapat hendak di nafikan oleh seluruh manusia, dan Af’al Allah itu membawa maksud segala gerak dan diamnya sekalian makhluk yang di jadikan Tuhan adalah kerja buat perbuatan Allah di atas takdirNya, jika manusia tersilap menyangka segala perbuatannya itu atas kuasa mutlak darinya sendiri tanpa di kaitkan dengan takdir maka terperan gkaplah manusia itu dengan perbuatan syirik, ramai di kalangan manusia yang terperangkap dan memerangkap dirinya ke dalam perbuatan syirik ini kerana kejahilann ya atau kemalasannya kerana tidak mengambil berat dan yakin untuk mempelajari ilmu Ketuhanan dan kehambaan dan tidak kurang yang mengambil rengan dengan ilmu dirinya sendiri, dan ada di kalangan manusia yang menamakan ilmu Af’al Allah ini sebagai ilmu takdir daripada Tuhan kerana itu mereka selalu mengingatkan diri mereka dengan selalu berdo’a. Maksudnya: Wahai Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang datang daripadaMu

Manusia berlindung dan mengharapkan kepada Tuhan supaya segala takdir kejahatan dan kecelakaan di jauhkan daripada kita kerana tiada siapapun yang berakal merasa rela menerimanya tambahan lagi takdir yang buruk itu datang tanpa di ketahui datang dari Tuhan, walau bagaimanapun takdir kejahatan pasti ada hikmah di sebaliknya. Dan lagi FirmanNya:…

Maksudnya: Katakanlah olehmu segala sesuatu itu datang daripada Allah (An Nisa 7 8) Ayat yang di atas menerangkan bahawa setiap sesuatu itu datang daripada Allah , dan sesuatu itu dimaksudkan pula secara syumul sama ada makhluk ciptaanNya ataupun setiap sesuatu itu bermaksud segala pergerakkan alam datang daripadaNya atau apa juga takdir yang berlaku kepada sekalian makhlukNya adalah datang disebabkan atas kehendakNya. Terlalu banyak ayat Al Quran yang menyebut tentang Af’al Allah di antaranya Allah berfirman: Maksudnya: Allahlah yang menjadikan kamu dan apa yang kamu lakukan (As Shofat 97) Maksud ayat yang di atas ini ialah Allah menerangkan bahawa Dialah yang menjadikan manusia (kita) sama ada zahir dan batinnya dan Dialah juga yang menggerakkan manusia itu. Dan lagi firmanNya: Maksudnya: Tidaklah kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allahlah yang melempar (Al Anfal 17) Ayat yang di atas menerangkan bagaimana kuasa melempar yang datangnya daripada manusia itu di anggap sebagai kuasa yang terdapat daripada manusia, akan tetapi sebenarnya adalah datang daripada Allah swt, inilah rahsia kombinasi sifat Qahar dan sifat Kamal yang kebanyakkan manusia tidak mengetahuinya kerana ia di anggap soal remeh dan memeningkan akal dan jangan ada hendaknya manusia menjadikan pengetahuan yang hak itu sebagai mangsa kepentingan didi dan kuasa wal hal ia suatu yang wajib di ketahui kerana akal adalah makhluk dan dia perlu beribadat dengan menggunakan akal tersebut dan demikianlah juga kehidupan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, dan kebanyakkan manusia tidak mengetahui bahawa akal itu adalah yang tersirat yang menentukan hala tuju manusia mengabdikan diri kepada Allah, juga manusia perlu berfikir bagaimana sesuatu perbuatan itu dapat di laksanakan jika akal tidak memainkan peranannya apabila hendak melakukan sesuaru rancangan yang sempurna, dan manusia juga perlu berfikir sebelum melakukan sesuatu itu adakah terlarang atau di perintah. Dan lagi firmanNya: Maksudnya: Dan tidaklah kamu yang berkehendak melainkan apa yang di kehendakki oleh Allah (At Takwir 29) Ayat yang di atas menunjukkan bahawa kehendak setiap manusia itu sebenarnya adalah kehendak Allah swt, dan kehendak Allah itu adalah takdir yang di timpakan kepada manusia mengikut taraf sifat dan sikap nafsu seseorang itu, kerana itulah manusia perlu melihat fungsi akalnya supaya berikhtiar untuk menyelamatkan dirinya dengan mencuci sikap hawa nafsu nya,tidak boleh bersikap jabariyah kerana Allah telah mengurniakan manusia akal untuk berikhtiar bagi menyelamatkan diri mengikut arahan Tuhan di dalam Al Quran dan di sinilah setiap manusia perlu bertanyakan kepada dirinya tentang faedah apa Allah kurniakan kepadanya akal dan akal itu hendaklah di rujuk kepada konsef jabariyah sama ada boleh mendatangkan faedah kepada kehidupan manusia ataupun tidak atau apa yang sebenarnya konsef jabariyah tersebut di dalam kehidupan manusia dan ketika mana ia perlu di gunakan di dalam kehidupan ini tidak bermakna sifa t jabariyah itu tidak perlu ada akan tetapi ia perlu di lihat dari konsef kehidu pan seorang manusia yang bertugas sebagai khalifah di bumi bagi menunaikan perin tah Allah swt dan jabariyah bukanlah suatu konsef yang mendorong manusia berlepas tangan dengan tugas sebagai khalifah jika ia di rujuk kepada fungsi akal yang sentiasa berfikir kepada soal kebaikkan dan kesempurnaan.

%d blogger menyukai ini: