Posts tagged ‘sultan agung’

23 Agustus 2012

Serat Kekiyasaning Pangracutan, karya Sultan Agung Hanyakrakusuma

oleh alifbraja

Serat Kekiyasaning Pangracutan adalah salah satu buah karya sastra Sultan Agung Raja Mataram (1613-1645) dan sumber penulisan Serat Wirid Hidayat Jati yang dikarang oleh R.Ng Ronggowarsito karena ada beberapa bab yang terdapat pada Serat Kekiyasaning Pangracutan terdapat pula pada Serat Wirid Hidayat Jati. Pada manuskrip huruf Jawa Serat Kekiyasaning Pangracutan tersebut telah ditulis kembali pada tahun shaka 1857 / 1935 masehi. Disyahkan oleh pujangga di Surakarta  R. Ng. Rongowarsito

SARASEHAN ILMU KESAMPURNAAN

Ini adalah keterangan Serat tentang Pangracutan yang telah disusun Baginda Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma Panatagama di Mataram atas perkenan Beliau membicarakan dan temu nalar dalam hal ilmu yang sangat rahasia, untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan dengan harapan dengan para ahli ilmu kasampurnaan.

Adapun mereka yang diundang dalam temu nalar itu oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma Panatagama adalah:

I. Panembahan Purbaya

II. Panembahan Juminah

III. Panembahan Ratu Pekik di Surabaya

IV. Panembahan Juru Kithing

V. Pangeran Kadilangu

VI. Pangeran Kudus

VII. Pangeran Tembayat

VIII. Pangeran Kajuran

IX. Pangeran Wangga

X. Kyai Pengulu Ahmad Kategan

***

A. Berbagai kejadian pada jenasah

Adapun yang menjadi pembicaraan, Beliau menanyakan apa yang telah terjadi setelah manusia itu meninggal dunia, ternyata mengalami bermacam-macam kejadian pada jenazahnya.

a. Ada yang langsung membusuk

b. Ada jenasah yang masih utuh

c. Ada yang hilang bentuk jenasahnya? tidak berbentuk lagi

d. Ada yang meleleh menjadi cair

e. Ada yang menjadi mustika (permata)

f. Istimewanya ada yang menjadi hantu

g. Bahkan ada pula yang menjelma menjadi hewan

Masih banyak pula kejadian lainnya, bagaimana itu bisa terjadi, apa penyebabnya. Ini disebabkan adanya kelainan atau salah kejadian (tidak wajar), makanya pada waktu hidup berbuat dosa, setelah menjadi mayat pun akan mengalami sesuatu, masuk kedalam alam penasaran. Karena pada saat proses sakaratul maut hatinya menjadi ragu, takut, kurang kuat tekadnya, tidak dapat memusatkan pikiran hanya pada satu jalan yaitu menghadapi maut, seperti yang akan diutarakan dibawah ini:

a) Pada waktu masih hidup, siapapun yang senang, tenggelam dalam kekayaan, kemewahan, tidak mengenal tapa brata, setelah mencapai akhir hayatnya, maka jenasahnya akan menjadi busuk dan kemudian menjadi tanah liat, sukmanya melayang gentayangan, diumpamakan bagai rama-rama tanpa mata. Sebaliknya bila pada saat hidupnya gemar menyucikan diri lahir batin, hal itu sudah termasuk lampah, maka kejadiannya tidak demikian.

b) Pada waktu masih hidup bagi mereka yang kuat puasa tetapi tidak mengenal batas waktunya, bila telah tiba saat kematiannya, maka mayatnya akan teronggok menjadi batu dan membuat tanah pekuburannya menjadi sangar, adapun rohnya akan menjadi Danyang Semorobumi. Walaupun begitu, bila pada masa hidupnya mempunyai sifat nerima, sabar, artinya makan, tidur, tidak bermewah-mewah, cukup seadanya dengan perasaan tulus lahir batin kemungkinanya tidak akan seperti diatas kejadian di akhir hidupnya.

c) Pada masa hidupnya seseorang yang menjalani lampah tidak tidur, tetapi tanpa batas waktu tertentu, pada umumnya disaat kematian kelak jenasahnya akan keluar dan menjadi berbagai hantu yang menakutkan. Adapun sukmanya menitis pada hewan. Walaupun begitu bila pada masa hidupnya disertai sifat rela dan ada batas waktunya, yang demikian itu pada waktu meninggal tidak akan keliru jalannya.

d) Siapapun yang melantur dalam mencegah syahwat atau hubungan seks, tanpa mengenal waktu, pada saat kematian kelak jenasahnya akan lenyap melayang, masuk kedalam alamnya jin setan dan roh halus lainnya, sukmanya sering menjelma dan menjadi semacam benalu atau menempel pada orang, seperti genderuwo dan sebagainya yang masih senang menggangu wanita, kalau berada dipohon yang besar, kalau pohon dipotong maka benalu tadi akan ikut mati. Walaupun begitu, bila pada masa masih hidup disertakan sifat jujur, tidak berbuat mesum, tidak berzinah, bermain seks dengan wanita yang bukan haknya, semua itu bila tidak dilanggar tidak akan begitu kejadiannya.

e) Pada waktu masih hidup selalu sabar dan tawakal, dapat menahan hawa nafsu, berani dalam lampah dan menjalani mati didalam hidupnya, misal mengharapkan agar jangan berbudi rendah, rona muka manis, tutur kata sopan, sabar dan sederhana, semuanya itu jangan sampai berlebihan dan haruslah tahu tempatnya situasi dan kondisi, yang demikian itu maka keadaan jenasahnya akan mendapat kemulyaan sempurna dalam keadaan yang hakiki, kembali menyatu dengan Dzat Pangeran Yang Maha Agung, yang dapat menghukum, dapat menciptakan apa saja, ada bila menghendaki, datang menurut kemauannya.

Apalagi disertakan sifat welas asih, akan abadilah menyatu Kawula Gusti.

B. Berbagai jenis Kematian.

a) Mati Kisas adalah suatu jenis kematian karena hukuman mati. Akibat dari perbuatan orang itu karena membunuh, kemudian dijatuhi hukuman karena keputusan pengadilan atas wewenang raja.

b) Mati Kias adalah jenis kematian yang diakibatkan oleh suatu perbuatan, misalnya menahan nafas atau mati karena melahirkan.

c) Mati Syahid adalah jenis kematian karena gugur dalam perang, dibajak, dirampok dan disamun.

d) Mati Salih adalah suatu jenis kematian karena kelaparan, bunuh diri, karena mendapat aib atau sangat bersedih.

e) Mati Tiwas adalah suatu jenis kematian karena tenggelam, tersambar petir, tertimpa pohon, jatuh karena memanjat pohon, dan sebagainya.

f) Mati Apes adalah suatu jenis kematian karena ambah-ambahan, epidemi, santet, tenung dari orang lain, yang demikian itu benar-benar tidak dapat sampai pada “Kematian yang Sempurna” atau keadaan Jati bahkan dekat sekali dengan alam penasaran.

Berkatalah Beliau: “Sebab-sebab kematian tadi yang mengakibatkan kejadiannya lalu apakah tidak ada perbedaannya antara yang berilmu dengan yang bodoh? Andaikan yang menerima akibat dari kematian seornag pakarnya ilmu mistik, mengapa tidak dapat mencabut seketika itu juga?”

Dijawab oleh yang menghadap: “Yang begitu itu mungkin disebabkan karena terkejut menghadapi hal-hal yang tiba-tiba. Maka tidak teringat lagi dengan ilmu yang diyakininya dalam batin yang dirasakan hanyalah penderitaan dan rasa sakit saja. Andaikan dia mengingat keyakinan ilmunya mungkin akan kacau didalam melaksanakannya tetapi kalau selalu ingat petunjuk-petunjuk dari gurunya maka kemungkinan besar dapat mencabut seketika itu juga”.

Setelah mendengar jawaban itu beliau merasa masih kurang puas menurut pendaat beliau bahwa sebelum seseorang terkena bencana apakah tidak ada suatu firasat dalam batin dan pikiran, kok tidak terasa kalau hanya begitu saja beliau kurang sependapat oleh karenanya Beliau mengharapkan untuk dimusyawarahkan sampai tuntas dan mendapatkan suatu pendapat yang lebih masuk akal.

Kyai Ahmad Katengan menghaturkan sembah: “Sabda paduka adalah benar, karena sebenarnya semua itu masih belum tentu , hanyalah Kangjeng Susuhunan Kalijogo sendiri yang dapat melaksanakan ngracut”.

Sebab-sebab inilah yang membuat dan mengakibatkan kejadian, seandainya dapat meracut seketika dalam keadaan terkejut atau tiba-tiba, teringat dengan apa yang diyakininya akan ilmunya maka akan dapat meracut seketika.

C. Wedaran Angracut Jasad.

Pangracutan Jasad yang dipergunakan oleh Susuhunan Kalijogo dan Syekh Siti Jenar adalah sama, karena hanya mereka yang dapat meracut seketika dan tiba-tiba, seperti dibawah ini ;

“Badaningsun jasmani wus suci, ingsun gawa marang kaanan (kahanan) jati tanpa jalaran pati, bisa mulya sampurna waluya urip salawase, ana ing ‘alam donya ingsun urip tumekane ‘alam kaanan (kahanan) jati ingsun urip, saka kodrat iradatingsun, dadi sakciptaningsun, ana sasedyaningsun, teka sakarsaningsun.”

“Badan jasmaniku telah suci, kubawa dalam keadaan nyata (hidup yang sesungguhnya), tidak diakibatkan kematian, dapat mulai sempurna hidup abadi selamanya, di dunia aku hidup, sampai dialam nyata (hidup yang sesungguhnya, akherat=Akhiring  Rat) aku juga hidup, dari kodrat iradatku, terjadi apa yang kuciptakan,  apa yang kuinginkan ada  dan datang apa yang kukehendaki”.

D. Wedaran Menghacurkan Jasad.

Adapun pesan beliau Kangjeng Susuhunan di Kalijogo sebagai berikut: “Siapapun yang menginginkan dapat menghancurkan tubuh seketika atau terjadinya mukjijat seperti para Nabi, mendatangkan keramat seperti para Wali, mendatangkan ma’unah seperti para Mukmin Khas, dengan cara menjalani tapa brata seperti pesan dari Kangjeng Susuhunan di Ampel Denta”.

a. Menahan hawa nafsu, selama seribu hari siang dan malam sekalian

b. Menahan Syahwat (Seks), selama seratus hari siang dan malam

c. Tidak berbicara, artinya membisu dalam empatpuluh hari siang dan malam

d. Puasa padam api (pati geni) tujuh hari tujuh malam

e. Jaga, lamanya tiga hari tiga malam

f. Mati raga, tidak bergerak-gerak lamanya sehari semalam

Adapun pembagian waktunya dalam lampah seribu hari seribu malam itu begini caranya:

a. Menahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari, lalu diteruskan dengan

b. Menahan syahwat selama 40 hari lalu dirangkap juga dengan

c. Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari. Adapun membisu bila sampai pada 33 hari dilanjutkan dengan,

d. Pati geni selama 7 hari tujuh malam, setelah mendapat 4 hari 4 malam dilanjutkan dengan

e. Jaga selama 3 hari tiga malam, bila sudah mendapatkan 2 hari 2 malam dilanutkan dengan

f. Pati raga sehari semalam.

Adapun caranya untuk Pati raga adalah Tangan bersidakep kaki membujur lurus dan menutup 9 lubang di tubuh, tidak bergerak-gerak, menahan berdehem, batuk, tidak meludah, tidak berak, tidak kencing selama sehari semalam. Yang bergerak hanya kedipan mata, tarikan nafas, anafas, tanafas, nufus, artinya tinggal keluar masuknya nafas yang tenang jangan sampai tersengal sengal campur baur.

Dengan ini dapat melimpahkan rasa syukur kepada anak cucu yang akan ditinggal dan bahwa pemberian ampunan tu hanya pada waktu saat-saat memasuki alam Sakaratulmaut tadi. Baginda Sultan Agung bertanya: “Apakah manfaatnya Pati Raga itu?”

Kyai Penghulu Ahmad Kategan menjawab: “Adapun perlunya pati raga itu, sebagai sarana melatih kenyataan, supaya dapat mengetahui pisah dan kumpulnya Kawula Gusti, bagi para pakar ilmu kebatinan pada jaman kuno dulu dinamakan dapat Meraga Sukma, artinya berbadan sukma, oleh karenanya dapat mendekatkan yang jauh, apa yang dicipta jadi, mengadakan apapun yang dikehendaki, mendatangkan sekehendaknya, semuanya itu dapat dijadikan suatu sarana pada awal akhir. Bila dipergunakan ketika masih hidup di dunia ada manfaatnya, begitu juga dipergunakan kelak bila telah sampai pada sakaratul maut.

Urutan dalam Kematian dan Apa yang harus Dilakukan

Walaupun hanya panuwunan, yang dilewati juga alam kematian, kalau sampai lengah juga berakhir mati atau mati benar-benar. Adapun tata caranya begini:

Sedakep dengan kaki lurus berdempet, menutup kesemua lubang, jari-jari kedua belah tangan saling bersilang, ibu jari bertemu keduanya, lalu ditumpangkan di dada. Dalam sikap tidur itu kedua belah kaki diluruskan, ibu jari kaki saling bertemu, kontol ditarik keatas dan zakarnya sekalian, jangan sampai terhimpit paha. Pandangan memandang lurus dari ujung hidung lurus ke dada hingga tampak lurus melalui pusar hingga memandang ujung jari. Setelah semuanya dapat terlihat lurus maka memulai menarik nafas tadi. Dari kiri tariklah kekanan dan dari arah kanan tariklah kekiri. Kumpulnya menjadi satu berada di pusar beberapa saat lamanya, maka tariklah keatas pelan-pelan jangan tergesa-gesa. Kumpulkan nafas, tanafas, anafas, nufus diciptakan menjadi perkara gaib. Lalu memejamkan mata dengan perlahan-lahan, mengatubkan bibir dengan rapat, gigi dengan gigi bertemu. Pada saat itulah mengheningkan cipta, menyerah dengan segenap perasaan yang telah menyatu, pasrah kepada Pangeran kita pribadi. Setelah itu, lalu memantrapkan adanya Dzat, seperti dibawah ini:

Anjumenengkan Dzat :

“Ingsun Dzating Gusti Kang Asifat Esa, anglimputi ing kawulaningsun, tunggal dadi sakahanan, sampurna saka ing kudratingsun”.

“Aku mengumpulkan Kawula Gusti yang bersifat Esa, meliputi dalam kawulaku, satu dalam satu keadaan dari kodrat-Ku”.

Mensucikan Dzat:

“Ingsun Dzat Kang Amaha Suci Kang Sifat Langgeng, kang amurba amisesa kang kawasa, kang sampurna nilmala waluya ing jatiningsun kalawan kudratingsun.”

“Aku sebenarnya Dzat Yang Maha Suci, bersifat kekal, menguasai segala sesuatu, sempurna tanpa cacat, kembali pada hakekat-Ku, karena kodrat-Ku.”

Mengatur Istana :

“Ingsun Dzat Kang Maha Luhur Kang Jumeneng Ratu Agung, kang amurba amisesa kang kawasa, andadekake ing karatoningsun kanga gung kang amaha mulya. Ingsun wengku sampurna sakapraboningsun, sangkep, saisen-isening karatoningsun, pepak sabalaningsun, kabeh ora ana kang kekurangan, byar gumelar dadi saciptaningsun kabeh saka ing kudratingsun.”

“Aku Dzat yang Maha Luhur, yang menjadi Raja Agung. Yang menguasai segala sesuatu, yang kuasa menjadikan istana-Ku, yang Agung Maha Mulia, Ku Kuasai dengan sempurna dari kebesaran-Ku, lengkap dengan segala isinya Keraton-Ku, lengkap dengan bala tentara-Ku, tidak ada kekurangan, terbentang jadilah semua ciptaanKu, ada segala yang Ku-inginkan, karena kodrat-Ku.”

Meracut Jisim :

“Jisimingsun kang kari ana ing alam dunya, yen wis ana jaman karamat kang amaha mulya, wulu kulit daging getih balung sungsum sapanunggalane kabeh, asale saka ing cahya muliha maring cahya, sampurna bali Ingsun maneh, saka ing kodratingsun.”

“Aku meracut jisim-Ku yang masih tertinggal di alam dunia, bila telah tiba di zaman keramatullah yang Maha Mulia, bulu, kulit, kuku, darah, daging, tulang, sungsum keseluruhannya, yang berasal dari cahaya, yang berasal dari bumi, api, angin, bayu kalau sudah kembali kepada anasir-Ku sendiri-sendiri, lalu aku racut menjadi satu dengan sempurna kembali kepada-Ku, karena kodrat-Ku.”

Menarik Anak :

“Aku menarik anak-Ku yang sudah pulang kerahmatullah, kaki, nini, ayah, ibu, anak dan isteri, semua darah-Ku yang memang salah tempatnya, semuanya Aku tarik menjadi satu dengan keadaan-Ku, mulia sempurna karena kodrat-Ku.”

Mengukut keadaan Dunia:

“Aku mengukut keadaan dunia, Aku jadikan satu dengan keadaanKu, karena kodrat-Ku.”

Mendo’akan Keturunan:

“Keturunanku yang masih tertinggal di alam dunia, semuanya semoga mendapatkan kebahagiaan, kaya dan terhormat, jangan sampai ada yang kekurangan, dari kodrat-Ku.”

Mengamalkan Aji Pengasihan:

“Aku mengamalkan Aji pengasih, kepada semua mahkluk-Ku, besar, kecil, tua, muda, laki-laki, perempuan, yang mendengar dan melihat semoga welas asih padaKu, karena kodrat-Ku.”

Menerapkan Daya Kesaktian:

“Aku menerapkan Daya Kesaktian, kepada semua mahkluk-Ku, barang siapa yang tidak mengindahkan Aku, akan terkena akibat dari kesaktian-Ku, karena kodrat-Ku.”

Setelah begitu, maras menutup di hati, menimbulkan rasa sesak nafas, oleh karenanya harus selalu ingat dan sentosa, jangan sampai kacau balau pernapasannya, tanafas, anpas, nuppus tadi, karena nafas itu ikatan jisim, berada di hati suweddha, artinya menjembatani fikiran yang suci, keadaanya jadilah angin yang keluar saja. Tannapas itu talinya hati siri, letaknya di pusar, keadaannya menjadi hawa yang berada dalam tubuh saja. Anpas itu adalah talinya Roh, berada di dalam jantung, keadaannya hanyalah menjadi angin di dalam saja. Nupus itu tali Rahsa, artinya berkaitan dengan Atma, berada di dalam hati pusat yang putih, berada di pembuluh jantung, keadaannya menjadi angin yang kekiri kekanan, dari ulah perbuatannya itu dapat meliputi segenap organ tubuh dan rokhani.

Bila sudah begitu roh larut lalu terasalah kram seluruh organ tubuh, mengakibatkan mata menjadi kabur, telinga menjadi lemas, hidungpun lemah lubang hidung menciut, lidah mengerut, akhirnya cahaya suram, suara hilang, yang tinggal hanyalah hidupnya fikir saja, karena sudah dikumpulkan urutan syare’at, hakekat, tarekat, dan makrifat.

  1. Syare’at itu lampahnya badan, berada di mulut
  2. Hakekat itu lampahnya nyawa, berada di telinga
  3. Tarekat itu lampahnya hari, berda di hidung
  4. Makrifat itu lampahnya rahsa, berada di mata

Adapun yang ditarik terlebih dahulu adalah penglihatannya mata, diumpamakan kaburnya kaca Wirangi, atau asalnya air Zam-zam Lalu rasanya mulut, diumpamakan rusaknya jembatan Siratalmustakim, atau Ka’batullah.

Lalu penciumannya hidung, yang diumpamakan gugurnya gunung Tursina atau robohnya gunung Ikrap Lalu pendengarannya telinga, diumpamakan hancurnya sajaratulmuntaha, atau melorotnya Hajaratu’l Aswad. Kemudian tinggallah merasakan nikmat pada seluruh bagian tubuh, melebihi kenikmatan ketika sedang bersenggama pada saat sedang mengeluarkan rahsa, pada saat itulah batinlah suatu tekad yang kuat, seperti diibaratkan huruf Alif yang berjabar (berfathah), diejer (kasroh ), da diepes ( berdlomah ) bunyinya menjadi: A. I. U

  1. A artinya : Aku
  2. I artinya : Ini
  3. U artinya : Hidup ( urip )

Setelah itu menciptakan kerinduan kepada Dzat, bagaikan merindukan kepada Dyah Ayu, supaya jangan sampai ingat kepada anak cucu yang ditinggalkan. Karena akan keliru ciptanya yang akhirnya mengakibatkan melesetnya dari tujuan yang sebenarnya. Semua itu tinggal menimbang pertimbangannya ciptanya pribadi, didalam tiga pangkat :

a. Yang pertama, bila benar-benar sentausa, akan mendapatkan anugerah dari Pangeran, dapat hidup diawal akhir, langgeng tidak mengalami perubahan.

b. Yang kedua, berhubung dicapai waluya sejati, padahal tidak mengalami menderita sakit, atau tidak mempuyai dosa, maka dapat melakukan berbadan sukma.

c. Yang ketiga, bila didalam ciptanya masih ada rasa ragu-ragu, bimbang, pada akhirnya hayatnya pasti akan menemukan tiwas ke tempat yang salah.

Perbedaan Waktu di Akhirat dan di alam Dunia.

Di dunia sehari, diakhirat sebualan, di dunia sebulan di akhirat satu tahun, sedangkan di Dunia satu tahun di Akhirat Sewindu, saksinya seperti orang waktu mimpi.

Alam setelah Kematian

a. Kepala, adalah keadaan Baitulmakmur.

b. Otak, keadaannya Kanto, menyebabkan adanya Cahaya, menjadi terbuka wajahnya.

c. Manik, keadaannya Pramana, menyebabkan adanya Warna, menjadi terbukanya penglihatan.

d. Budi, keadaannya Pranawa, menyebabkan adanya Karsa, menjadi terbukanya bicara.

e. Nafsu, keadaanya Hawa, menyebabkan adanya Suara, menjadi terbukanya pendengaran.

f. Sukma, keadaannya Nyawa, menyebabkan adanya Cipta, menjadi terbukanya penciuman.

g. Rahsa, keadaannya Atma, menyebabkan adanya Wisesa, menjadi terbukanya perasa.

Inilah yang menjadi 3 larangan perbuatan yang menyimpan 3 keadaan; (1) jangan mengumpat, jangan mengucapkan kata-kata cabul dan terhanyut pada pemikiran yang tidak baik. (2) Jangan menimbulkan Budi yang bukan-bukan. (3) Jangan melakukan perzinahan dengan bukan haknya atau akan menimbulkan gangguan dalam kehidupannya membuat gelap alam sampai akhir hayatnya.

Karena keadaan Akherat yang akan dilalui 7 perkara, maka jangan dianggap remeh :

“ Sesungguhnya Aku Dzat ysang Maha Pencipta dan Maha Kuasa, yang Berkuasa menciptakan segala sesuatu, terjadi dalam seketika, sempurna karena kodratKu, disitu sudah terbukti atas perbuatanKu, sebagai kenyataan kehendakKu, terlebih dahulu Ku- ciptakan Hayyu bernama Sajaratul Yakin yang tumbuh dalam alam Adam-makdum yang azali abadi. Setelah itu cahaya bernama Nur Muhammad, lalu kaca bernama Mir’atul haya’i, kemudian nyawa bernama roh idlafi, lalu lampu kandi, lalu permata bernama Darrah, akhirnya dinding-jalal bernama Hijab, itulah yang menjadi penutup keberadaanKu”.

Penjelasannya satu-persatu begini :

1. Sajaratul Yakin, yang tumbuh dalam alam Adam-makdum yang azali abadi, artinya pohon kehidupan yang berada dalam jagad yang sunyi senyap segalanya, dan belum ada sesuatu apapun. Merupakan hakekat Dzat mutlak yang kadim. Artinya; hakekat Dzat yang lebih dulu, yaitu Dzat Atma, yang menjadi wahana alam Ahadiyat.

2. Nur Muhammad, artinya cahaya yang terpuji. Diceritakan dalam hadits seperti burung Merak, berada dalam permata putih, berada pada arah sajaratul yakin, itulah hakekatnya cahaya, yang diakui sebagai tajalinya Dzat di dalam nukat gaib, sebagai sifatnya Atma, menyebabkan adanya alam Wahdat

3. Mir’atul haya’I, artinya kaca wirangi, tersebut dalam hadits berada di depan Nur Muhammad, itulah hakekatnya pramana, diakui sebagai rahsa Dzat, sebagai nama Atma, menyebabkan adanya alam Wahadiyat.

4. Roh Idlafi, artinya nyawa yang jernih, berasal dari Nur Muhammad, itulah hakekat Sukma yang diakui sebagai keadaan Dzat sebagai tabirnya Atma, menyebabkan adanya alam Arwah.

5. Kandil, artinya lampu tanpa api, berupa permata yang berkilauan tergantung tanpa pengait disitulah keadaan nur muhammaddan tempat berkumpulnya darah seluruhnya adalah hakekat angan-angan yang diakui sebagai bayangan Dzat, sebagai ikatannya Atma, menyebabkan adanya alam Mitsal.

6. Darah, artinya permata, mempunyai sinar lima warna, satu tempat dengan malaikat adalah hakekat Budi, diakui sebagai hiasannya Dzat, sebagai pintunya Atma, menyebabkan adanya alam Ajsam.

7. Kijab, disebut dinding jalal, artinya tabir yang agung, keluar dari permata yang lima warna pada waktu bergerak menimbulkan buih, asap, air, itulah hakekat Jasad, yang diakui sebagai Wahana Dzat, sebagai tempat Atma, menyebabkan adanya alam Insan Kamil. Inilah Jumenengnya Maghligainya Dzat, ditata dalam Baiutllah menjadi 3 keadaan yang disebut dengan; Wedaran Triloka, Wejangan Tribawana, Isinya 3 Dunia.

H. Wedaran Tribawana.

a) Ayat pertama, dinamakan terbukanya tata mahgligai Baitumakmur, sebagai berikut;  “Sebenarnya Aku mengatur singgasana didalam Baitulmakmur, disitulah tempat kesenangan-Ku, berada didalam kepala Adam, yang di dalam kepala itu yaitu dimak yaitu otak, yang berada dalam dimak itu manik, di dalam manik itu pramana, adalah pranawa, di dalam pranawa itu sukma, didalam sukma ada rahsa, didalam rahsa itu ada Aku, tidak ada Pangeran hanya Aku Dzat yang meliputi di semua keadaan”.

b) Ayat kedua, dinamakan terbukanya susunan singgasana dalam Baitulmuharram, sebagai berikut;  ” Sebenarnya Aku menata singgasana dalam Baitulmukharram, itulah tempat larangan-laranganKu, yang berada didada Adam. Yang berada di dada Adam itu hati, yang berada diantara hati itu jantung, di dalam jantung itu budi, didalam budi itu jinem, di dalam jinem itu sukma, di dalam sukma itu rahsa, dan di dalam rahsa itu Aku, tidak ada Tuhan kecuali Aku, Dzat yang meliputi keadaan”.

c) Ayat ketiga, dinamakan terbukanya susunan singgasana dalam Baitulmuqadas, sebagai berikut;  “Sebenarnya Aku menata singgasana dalam Bitulmuqadas, rumah tempat yang Aku sucikan, berada di dalam kontolnya Adam, yang berada dalam kontol itu pelir, yang berada dalam pelir itu mutfah yakni mani, yang berada dalam mutfah adalah madi, dalam madi itu manikem, dalam manikem itu rahsa, dalam rahsa itu Aku, tidak ada Tuhan kecuali Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan”.

I. Surga dan Neraka.

Surga atau sarwa arga, semua yang diperbuat selalu kebaikan semua orang memujinya, sampai akhir hidup selalu dibicarakan orang dan kematiannya akan disesali, disayangkan dan orang akan selalu membicarakan tentang kebaikan-kebaikannya.

Neraka adalah perwujudan dari watak seseorang yang berkelakuan jelek maka hidunya akan cacad di dunia bahkan sampai akhir hidupnya.

Maka dalam kitab Hidayatul hak kaik menyebutkan bahwa di zaman Kelanggengan suatu sarana agar dapat naik ke surga haruslah naik Buraq atau burung merak. Demikian tadi hanyalah merupakan perumpamaan saja. Buraq artinya orang dapat masuk hati orang lain, membuat hati orang lain senang itulah merak ati.

J. Tempatnya Iman, Tauhid dan Ma’rifat.

“Adapun letak Iman di dalam Eneng, letak Tauhid dalam Ening, letak ma’rifat dalam enget”

K. Arti Jalal, Jamal, Kahar dan Kamal.

Adalah sebutah Tuhan dalam 4 bab, yaitu :

1. Tuhan Yang Maha Suci itu bersfat Jalal, artinya Besar, yang besar itu Dzat-Nya, karena dapat meliputi seluruh alam.

2. Tuhan Yang Maha Suci itu bersifat jamal, artinya bagus, yang bagus itu sifatNya, bukan pria, bukan wanita, juga bukan banci. Tidak ada asal, tidak ada tempat, juga tidak hidup dan tidak mati, mustahil tidak ada pasti adanya-Nya.

3.  Tuhan Yang Maha Suci bersifat Kahar, artinya Maha Kuasa, itu namaNya, tidak menggunakan nama siapa-siapa hanya gaibnya Dzat Allah.

4.  Tuhan Yang Maha Suci itu bersifat Kamal, artinya Sempurna, yang sempurna itu af’alNya, dapat menggelar dan menciptakan seketika dari kuasanya tanpa mengalami kesulitan, maka diibaratkan Dzat Allah itu karena besarnya hingga meliputi yang menyaksikannya.

L. Pria dan Wanita Yang Sejati.

Yang bernama roh idlafi itu adalah roh Wanita tetapi berada pada Pria.

Wanita itu Rohnya adalah Roh Kudus yang sebenarnya adalah roh pria yang berada dalam wanita, yang disucikan dalam jinem, bertempat dalam junup, maka dapat membangkitkan keinginan sendiri-sendiri,

Karena rohnya wanita dipakai pria, sebaliknya rohnya pria dipakai wanita, karena rasa kangen akan menarik rohnya masing-masing, tetapi akhirnya timbullah persenggamaan yang dinamakan lambangsari yang akibatnya dapat mewujudkan suatu wujud. Maka dinamakan sanggama artinya hanya satu yang benar, atau saresmi artinya bercampurnya ari menjadi satu hingga masing-masing mendapatkan kepuasan. Karena dikabulkan oleh Tuhan akan menjadi Bapak/Ibu, maka bagi mereka yang dapat menandai terjadinya suatu sebelum sanggama, dapat pula mengetahui macam apakah anak yang akan terlahir nanti.

Misal, dalam 35 hari sepasang suami istri tadi yang mempunyai keinginan seks terlebih dahulu siapa, ada rasa kangen terlebih dahulu, bila menjelma biji maka akan terlahir laki- laki apabila sang suami yang terlebih dahulu. Tetapi keadaan ini harus berimbang dalam batin sama merasakan puas karena kalau tidak menyatu dalam rasa dan fikiran maka akan lain jadinya, adapun cacad, wujud lainnya.

Cacad karena ketidakseimbangan kemauan suami istri dalam senggama adalah sebagai berikut :

1) Bila merasa kecewa dalam hati, tidak senang dalam bersenggama, dikemudian hari akan timbul watak pada si anak;  sering kecewa, bahkan dapat pula mendatangkan selalu susah seumur hidupnya.

2) Bila punya perasaan tidak senang atau marah tetapi hanya di batin saja, akan terlahir anak yang pemarah, senang berkelahi, bahkan dalam hidupnya akan mengalami kerugian.

3) Bila dalam bersenggama ada salah satu yang kurang jujur maka begitu lahir apabila suami yang tidak jujur maka anak perempuan senang berbohong atau tidak jujur dan sebaliknya.

Adapun suami istri harus saling mengisi, menghormati, membutuhkan, istri tidak boleh memperlihatkan nafsunya dan suami memperhatikan gelagat istrinya, sekiranya sehari itu tidak terjadi apa-apa tidak pula ada perasaan susah dari keduanya, suatu tanda bahwa pada saat itulah Tuhan akan menurunkan Wiji Wijanging Sasami, artinya adalah manusia pilihan, Trimurti.

M. Mengenai Keadaan Kematian.

Keadaan kematian bagi mereka yang sering berbuat dosa atau kesalahan dengan yang diterima atau tanpa dosa dalam kematian. Membagi-bagi keadaannya dalam alam kematian;

Setiap orang pasti akan berbeda dalam menghadapi kematian, karena salah dalam fikirnya ketika mengalami sakaratul maut, hidup ini berbeda-beda ciptanya ada yang membantah dan menantang adanya kematian dengan mengandalkan ilmunya, adapula yang malah menyingkirkan ilmunya hanya menyerah kepada Tuhan. Orang yang bodoh dapat diterima juga ada karena hanya mengandalkan pada sifat lugu dan jujur saja, ada juga bodoh yang terjerumus, bahkan banyak juga orang bodoh malah memberi contoh karena enggang disebiut bodoh,  Maka dalam kematian ada sebutannya;

1. Dinamakan Kasunyataning pati, hanyalah menetapi sebutan saja, hidup pasti mengalami mati, artinya hanyalah nama tempatnya ‘ajal ulihan’ atau mati kembali.

2. Dinamakan Padhanging pati, artinya mengetahui tanda-tandanya dari Dzat Tuhan, maka dapat sampai pada kenyataannya, jadi dapat mengatur keadaannya.

3. Pepetenging pati, artinya hilang tanpa mengetahui berakhirnya hidup berarti tidak mengetahui keadaannya sendiri.

4. Pagaweaning pati, artinya hanya mati biasa, jadi tidak mengetahui dalam keadaan gerak dan keadaannya Kawula Gusti.

5. Rowanging pati, artinya kematian yang hanya menerima Kasih sayangNya, jadi hanya menerima nikmatnya Dzatullah saja.

6. Rasaning pati, adalah mereka yang sudah percaya dengan keterangan dari sang guru, tempatnya sudahlah pasti.

7. Purbaning pati, yang sudah diaku sebagai rahsanya Dzat, berada dalam hidayatullahu, tetap langgeng tidak ada perubahan di kemudian.

8. Pastining pati, artinya bagi mereka yang sudah memenuhi suratan dalam lokhil makful, jadi sudah sesuai garis patinya.

9. Jalaraning pati, artinya yang lugu karena kehendak Tuhan, jadi dapat menyatu dengan Dzatullah dialam akhirat.

10. Anganggo sihing pati, artinya yang dirasakannya hanyalah pada musnahnya badan, hanya Dzatullah yang mengadakankarena tidak berdosa.

11. Marganing pati, artinya yang sudah mengetahui jalannya, maka dapat langsung masuk ke dalam hidayatullah yang akan menemui kelanggengan di akhirat.

12. Pilungguhing pati, artinya menjalani petunjuk Allah, akan mencapai keselamatan di akhirat dan mencapai kesempurnaan.

13. Pinangihing pati, artinya bertawakal, berpasarah diri kepada Tuhan, dapat dekat dan masuk ke dalam hidayatullah karena yang begini tidak berharap, hanya mengutamakan jalannya takdir.

14. Enggoning pati, artinya menunjukkan perbuatan Dzat yang sempurna, sempurnanya sifat langgeng, hanya terdapat pada kebenaran ilmu, ini sempurna menjadi pesertanya nafi Jinis.

15. Sesandhaning pati, artinya adalah yang sudah melaksanakansemua petunjuk guru, menjalanka laku jujur dalam hidup, dan dalam kematian sudah tidak punya rasa takut, bahkan sudah dapat membedakan buruk dan baik, juga mengetahui awal dan akhir Sebanyak ini keadaan kematian diakibatkan terjadinya karena adanya dosa, dari cara kita memusatkan fikiran walaupun sudah diberi petunjuk, namun pada saatnya akan banyak gangguannya, yang sebenarnya hanyalah terletak pada Dzat saja.

Padahal yang dinamakan ilmu itu adalah pengetahuan, yang maksudnya ketahuilah dalam kehidupan hingga kematian. Awal penyebab kematian, karena kurang teliti dalam suatu perbuatan dan meneliti suatu kejadian. Datangnya susah disebabkan adanya kegembiraan, asalnya lupa karena tidak mengetahui tujuan hidupnya, padahal manusia sebenarnya dapat langgeng tanpa mengalami perubahan, hanya selamat tanpa menderita, hidup terus tanpa mati, dengan suatu bukti bahwa manusia itu dengan umat lainnya berbeda sendiri, maka dinamakan manusia, itu artinya insan (unusan) atau pilihan.

Saksinya kalau khalifah yang diakui sebagai Rahsanya Dzat Allah artinya hanya satu belaka. Tuhan itu dalam sifat hidupNya adalah manusia, suatu bukti kalau Manunggaling Kawula Gusti, yang dapat menguasai memerintah dan menghukum di dalam alam raya seluruhnya. Oleh karenanya menjadi suatu kenyataan bahwa Tuhan tidak dapat melihat, tetapi tidak buta, tetapi melihat dari mata kita, Tuhan tidak mendengar tetapi tidak tuli, karena mendengar lewat telinga kita. Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi tidak bodoh, segala yang diperbuatnya menggunakan af’al kita. Maka dapat menciptakan seluruh dunia seisinya dalam waktu seketika.

N. Manusia terdiri dari 4 anasir.

Dalam kitab Ma’lumatu’lhuhiyah dan kitab Hidayatul Khakaik menjelaskan bahwa manusia berasal dari 4 unsur :

1. Berasal dari sarinya Tanah, tetapi bukan tanah yang kita pijak ini.

2. Berasal ari Api, tetapi bukan api yang dipergunakan untuk membakar.

3. Berasal dari Angin, tetapi bukan angin yang mendesau itu.

4. Berasal dari Air, tetapi bukan air yang meluap mengalir.

Semua ini merupakan lambang saja, maka setelah mempunyai perwujudan, lalu mempunyai tujuh perkara :

1. Hayyu, artinya hidup.

2. Masuklah Nur, artinya Cahaya.

3. Kemasukan sir artinya Cipta.

4. Kemasukan pula roh, artinya Nyawa.

5. Kemasukan nafsu, artinya Angkara Murka

6. Kemasukan akal, artinya Budhi.

7. Kemasukan kehendak, artinya Angen-angen.

Itulah wujud yang Dzat Yang Maha Agung, sebenarnya nafi yang baik, maka diibaratkan bahwa nafi walaupun dekat tetapi tidak bersinggungan, jauh tak terduga jauhnya, dan nafi itu pasti ada tidak mungkin tidak ada. Adanya hanya karena terlihat saja. Jadi kumpulnya Kawula Gusti merupakan dua jadi satu dan satu satu belaka.

O. Berbagai macam Wahyu.

Pancaran tiga warna pertanda wahyu, biasanya pada pukul 3 dini hari :

1. Wahyu Nurbuwah, artinya wahyunya Kraton Bintoro, dapat menjadi Raja Paranpara (utama) yang mempunyai jiwa terbuka dan wujudnya wahyu, cahaya kemilau bagaikan permata indah.

2. Wahyu Kukumah, warnanya bagaikan berlian yang telah digosok, sebuah pertanda telah terbukanya tirai Tuhan dan diperbolehkan menjadi Ratu Adil yang menguasai jawa dan dibenarkan untuk menguasai ilmu untuk kearah kebaikan.

3. Wahyu Wilayah, warnanya bagaikan jamrud, bercampur berlian biru yang sangat indah warnanya, sebagai tanda kalau sudah diteima sebagai Waiullah.

Iklan
23 Agustus 2012

Jangka Jayabaya

oleh alifbraja

Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal -usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabaya-lah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.

“Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.”

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah “Perdikan” yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu Beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam’iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.[sunting] Analisa

Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut “Kitab Asrar” Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.

Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Silam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedatan”. Giri Kedatan ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun, demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai “Ratu Bobodo”) ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).

Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan “JANGKA JAYABAYA” dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.

Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama “REPUBLIK INDONESIA”!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.

Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini. (Kitab Musasar Jayabaya)

Asmarandana

1. Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.

2. Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.

3. Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.

4. Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.

5. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.

6. Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai Kitab Musarar.

7. Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.

8. Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.

9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,

10. Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.

11. Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.

12. Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.

13. Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu.

14. Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.

15. Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.

16. Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya.

17. Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.

18. Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.

19. Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.

20. Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya.

21. Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.

Sinom

1. Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.

2. Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman Catur semune segara asat.

3. Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan.

4. Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.

5. Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.

6. Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.

7. Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.

8. Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.

9. Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.

10. Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.

11. Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.

12. Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.

13. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.

14. Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.

15. Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.

16. Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.

17. Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.

18. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.

19. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.

20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).

21. Nakhoda(Orang asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya).

22. Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.

23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.

24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.

25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.

26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.

27. Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.

28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.

29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

Isi Ramalan
1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.

2. Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.

3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalan di angkasa.

4. Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan mata air.

5. Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.

6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.

7. Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.

8. Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.

9. Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.

10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.

11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik

12. Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.

13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.

14. Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.

15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi— Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.

16. Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.

17. Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.

18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.

19. Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.

20. Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.

21. Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.

22. Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.

23. Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.

24. Nantang bapa— Menantang ayah.

25. Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.

26. Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.

27. Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.

28. Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.

29. Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil

30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil

31. Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil

32. Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.

33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justru merasa malu.

34. Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.

35. Wegah nyambut gawe — Malas untuk bekerja.

36. Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.

37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.

38. Wong bener thenger-thenger — Orang (yang) benar termangu-mangu.

39. Wong salah bungah — Orang (yang) salah gembira ria.

40. Wong apik ditampik-tampik— Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).

41. Wong jahat munggah pangkat— Orang (yang) jahat naik pangkat.

42. Wong agung kasinggung— Orang (yang) mulia dilecehkan

43. Wong ala kapuja— Orang (yang) jahat dipuji-puji.

44. Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.

45. Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanan

46. Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.

47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.

48. Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.

49. Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.

50. Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar istri/suami.

51. Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.

52. Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.

53. Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).

54. Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.

55. Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.

56. Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.

57. Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.

58. Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.

59. Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.

60. Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.

61. Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.

62. Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.

63. Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.

64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapaknya.

65. Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.

66. Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.

67. Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.

68. Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.

69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Perempuan lacur dimana-mana.

70. Akeh laknat— Banyak kutukan

71. Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.

72. Anak mangan bapak—Anak makan bapak.

73. Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.

74. Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.

75. Guru disatru—Guru dimusuhi.

76. Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.

77. Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.

78. Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.

79. Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.

80. Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.

81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.

82. Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.

83. Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.

84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.

85. Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.

86. Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.

87. Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.

88. Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.

89. Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.

90. Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.

91. Sing curang garang— Yang curang berkuasa.

92. Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.

93. Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.

94. Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.

95. Akeh barang haram—Banyak barang haram.

96. Akeh anak haram—Banyak anak haram.

97. Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.

98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.

99. Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.

100. Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.

101. Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.

102. Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.

103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.

104. Sing kebat kliwat—Yang tangkas lepas.

105. Sing telah sambat—Yang terlanjur menggerutu.

106. Sing gedhe kesasar—Yang besar tersasar.

107. Sing cilik kepleset—Yang kecil terpeleset.

108. Sing anggak ketunggak—Yang congkak terbentur.

109. Sing wedi mati—Yang takut mati.

110. Sing nekat mbrekat—Yang nekat mendapat berkat.

111. Sing jerih ketindhih—Yang hati kecil tertindih

112. Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur

113. Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.

114. Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.

115. Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.

116. Wong tani ditaleni—Orang (yang) bertani diikat.

117. Wong dora ura-ura—Orang (yang) bohong berdendang.

118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.

119. Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.

120. Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.

121. Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.

122. Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.

123. Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.

124. Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.

125. Anak lali bapak—Anak lupa bapa.

126. Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.

127. Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.

128. Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.

129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.

130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.

131. Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.

132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.

133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.

134. Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.

135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.

136. Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.

137. Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.

138. Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.

139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.

140. Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.

141. Wong bener saya thenger-thenger—Si benar makin tertegun.

142. Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.

143. Akeh bandha musna ora karuan lungane—Banyak harta hilang entah ke mana

144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe—Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.

145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.

146. Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.

147. Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.

148. Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.

149. Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.

150. Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.

151. Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.

152. Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.

153. Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.

154. Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

155. Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.

156. Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.

157. Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.

158. Bandha dadi memala—Hartabenda menjadi penyakit

159. Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.

160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang

161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.

162. Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.

163. Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi.

164. Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci.

165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.

166. Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.

167. Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri duduk berperut gendut.

168. Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.

169. Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.

170. Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.

171. Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.

172. Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh

173. Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.

174. Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.

175. Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.

176. Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.

177. Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.

178. Agama ditantang—Agama ditantang.

179. Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.

180. Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.

181. Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.

182. Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.

183. Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan.

184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.

185. Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.

186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.

187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.

188. Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.

189. Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.

190. Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.

191. Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.

192. Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.

193. Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.

194. Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga

195. Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.

196. Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.

197. Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.

198. Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.

199. Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.

200. Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.

201. Buruh mangluh—Buruh menangis.

202. Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.

203. Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.

204. Senenge wong jahat—Berbahagialah si jahat.

205. Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.

206. Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.

207. Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.

208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.

209. Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal setengah.

210. Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.

211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.

212. Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.

213. Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.

214. Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.

215. Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.

216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka—Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

%d blogger menyukai ini: