Posts tagged ‘syariat’

5 Oktober 2012

Tasawuf Menurut Pandangan Imam Al-Ghazali

oleh alifbraja

 

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2010/11/sinarhati.jpg?w=271

 
 
Imam Al Ghazaly dalam bukunya yang berjudul Minhajul Abidin, mengatakan, bahwa Ilmu yang fardlu ain dituntut oleh seorang muslim adalah mencakup 3 hal, yaitu :
 
  1. Ilmu Tauhid
  2. Ilmu Syariat
  3. Ilmu Sir (Ilmu tentang hati)
 
Dan tidaklah ilmu-ilmu itu semua dituntut untuk tujuan berargumentasi atau memberikan keyakinan kepada orang lain baik yang beragama Islam maupun bukan.
 
Tetapi ilmu tersebut fardlu ain untuk dituntut, yang berhubungan dengan untuk perubahan diri.
 
Ilmu Tauhid dan syariat, dikalangan ummat Islam sekarang ini demikian popular untuk dipelajari. Namun jarang sekali orang yang mempelajari dan mengerti mengenai Ilmu Sir (Ilmu tentang hati).
 
Lantas mungkin kita akan bertanya, untuk apakah belajar Ilmu tentang hati, atau macam manakah ilmu tentang hati tsb?
 
Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Dalam diri manusia ada segumpal darah. Yang apabila shalih (tidak rusak), maka akan shalih seluruhnya, tetapi apabila buruk maka akan buruk pula seluruhnya, itulah hati”.
Bahkan di hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan : ” Sesungguhnya sebuah amal itu bergantung dari niatnya“.
 
Sungguh, hal-hal ibadah syariat yang kita laksanakan sepanjang hari akan tidak mempunyai nilai, bila tidak disertai niat yang shalih…
 
Dan letak niat itu adalah di HATI.
 
Demikian besar fungsi hati, sehingga wajar saja bila Imam Al Ghazaly mengkatagorikan Ilmu ini menjadi ilmu yang fardlu ain untuk dituntut.
 
Dikajian tasawuf, pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Hal ini sesungguhnya untuk penyelarasan dari Ilmu Tauhid dan Syariat, yang sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari.
 
Dalam sebuah kata-kata hikmah (bagi sebagian ulama ini dikatakan sebagai hadits dari Rasulullah SAW) bahwa : “Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Rabbahu“. “Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya”.
 
Sementara Ali. R.A mengatakan bahwa : “Awwaluddina Ma’rifatullah“. “Awalnya beragama adalah mengenal Allah”.
 
Sehingga dapat dilihat hubungannya, bahwa Mengenal diri (An-Nafs) merupakan awal dari seorang beragama dengan haq.
 
HATI
 
Diri manusia dapat dilihat secara indrawi dengan perilaku dan perangai seseorang. Dan seorang berperilaku, seorang berperangai, merupakan cerminan dari HATI-nya.
 
Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal Hati kita sendiri.
 
Hati itu terdapat 2 jenis :
 
1. Hati Jasmaniyah
 
Hati jenis ini bentuknya seperti buah shaunaubar. Hewan memilikinya, bahkan orang yang telah matipun memilikinya.
 
2. Hati Ruhaniyyah
 
Hati jenis inilah yang merasa, mengerti, dan mengetahui. Disebut pula hati latifah (yang halus) atau hati robbaniyyah.
 
Dalam kajian kita, yang dituju dengan kata HATI atau Qalb adalah hati jenis 2, hati Ruhaniyyah.
 
Karena Hati inilah yang merupakan tempatnya Iman :
“… Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu …” (QS. 49:7)
“…karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, …”. (QS. 49:14)
“…Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka …” (QS. 58:22)
Bahkan lebih dari itu, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan :
“…Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku tetapi yang cukup bagi-Ku hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin”.
Catatan : Apakah sebenarnya Iman (mukmin) itu ?
 
Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman. Dengan hatilah seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya.
 
Sebelum kita beranjak jauh tentang hati, ada beberapa hal yang nantinya bersangkut paut dengan hati dan perlu kita jelaskan terlebih dahulu.
 
Kebanyakan orang hanya mengerti bahwa manusia itu hanya terdiri jasad dan ruh. Mereka tidak mengerti bahwa sesungguhnya manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu : jasad, jiwa dan ruh.
 
Banyak orang yang tidak mengerti tentang Jiwa ini. Bahkan dalam bukunya Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red) banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang?
 
Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).
 
JASAD
 
Jasad adalah anggota tubuh dari manusia. Seperti : tangan, kaki, mata, mulut, hidung, telinga, dan lain-lainnya. Bentuk dan keberadaannya dapat diindera oleh manusia. Hewanpun dapat menginderanya.
 
Dari jasad inilah, timbulnya kecenderungan dan keinginan yang disebut SYAHWAT. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an :
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”. (QS Ali Imran : 14)
JIWA(AN-NAFS)
 
An-Nafs dalam kebanyakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, diartikan dengan Jiwa atau diri. Padahal sesungguhnya An-Nafs ini menunjuk kepada dua maksud, yaitu : hawa nafsu dan hakikat dari manusia itu sendiri (diri manusia).
 
1. Hawa Nafsu
 
Nafsu yang mengarah kepada sifat-sifat tercela pada manusia. Yang akan menyesatkan dan menjauh dari Allah. Inilah yang oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas :
 
“Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada diantara kedua lambungmu”.
 
“Dan aku tidaklah membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh kepada yang buruk”. (QS Yusuf : 53)
 
“… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah…”. (QS Shaad : 26)
 
2. Diri Manusia
 
Diri manusia ini apabila tenang, jauh dari goncangan disebabkan pengaruh hawa nafsu dan syahwat, dinamakan Nafsu Muthmainnah.
“Hai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu, merasa senang (kepada Tuhan) dan (Tuhan) merasa senang kepadanya”. (QS Al Fajr : 27-28)
Namun diri manusia yang tidak sempurna ketenangannya, yang mencela ketika teledor dari menyembah Tuhan, disebut Nafsu Lawwamah.
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat mencela kejahatan (Nafsu Lawwamah)”. (QS Al Qiyamah : 2)
RUH (Ar Ruh)
 
Perkataan Ruh, mempunyai dua arah. Sebagai nyawa dan sebagai suatu yang halus dari manusia.
 
1. Nyawa
 
Pemberi nyawa bagi tubuh. Ibarat sebuah lampu yang menerangi ruangan. Ruh adalah lampu, ruangan adalah tubuh. Mana yang terkena cahaya lampu akan terlihat. Mana yang terkena ruh akan hidup.
 
2. Yang Halus dari Manusia
 
Sesuatu yang merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini yang berhubungan dengan hati yang halus atau hati ruhaniyah.
 
Dalam Al Qur’an, Allah SWT menggunakan kata Ruh dengan kata Ruhul Amin, Ruhul Awwal, dan Ruhul Qudus.
 
Adapun maksud-maksud dari kata tersebut merujuk kepada keterangan yang berbeda-beda yaitu :
 
1. Ruhul Amin
 
Yang dimaksud dengan ini adalah malaikat Jibril.
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin”. (QS Asy-Syu’araa’ : 192-193)
2. Ruhul Awwal
 
Yang dimaksud dengan ini adalah nyawa atau sukma manusia.
 
3. Ruhul Qudus
 
Yang dimaksudkan dengan ini bukanlah malaikat Jibril, tetapi ruh yang datang dari Allah, yang menguatkan, menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.
 
Katakanlah : “Ruhul Qudus menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS An Nahl : 102)
“… dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran kepada Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus… “. (QS Al Baqarah :87)
“…Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan ruh yang datang dari pada-Nya…”. (QS Al Mujadillah : 22)
Setelah kita mengetahui definisi-definisi atau penjelasan mengenai jasad, jiwa, dan ruh mungkin kita akan bertanya, lalu apa manfaatnya?
 
TENTARA HATI
 
Hati itu bagi seorang manusia, bagaikan raja dengan tentara-tentara berupa tentara zahir dan tentara bathin.
 
Ketika seorang berada dalam ancaman bahaya, maka orang tersebut untuk menolak atau melawan bahaya, memerlukan dua tentara tsb.
 
Tentara batin : yaitu marah untuk melawan ancaman bahaya, tentara Zahir : yaitu tangan dan kaki untuk mengeluarkan langkah-langkah perlawanan.
 
Demikian pula ketika seorang akan makan. Ia memerlukan dua tentara tsb.
 
Tentara batin : Syahwat untuk makan, tentara zahir : tangan dan kaki untuk mengambil makanan.
 
Seorang sedang lapar bagaimanapun, bila hatinya mendiamkan syahwat (keinginan jasad) untuk makan dan tidak memerintahkan tangan dan kaki untuk mengambil makan, maka ia tidak akan melakukan pekerjaan makan.
 
Untuk itulah dikatakan HATI adalah Raja, bagi seluruh tubuh dan diri manusia.
 
Sehingga perna penting Raja untuk mengarahkan kemana tubuh dan diri berjalan, sangat menentukan sekali.
 
HATI DI TIGA PERSIMPANGAN
 
Sesungguhnya Hati yang merupakan Raja ini, berada pada 3 persimpangan. seperti gambar dibawah ini :
 
hati-3jalan.gif
 
Hati berada dalam pengaruh Jasad (Syahwat), Hawa Nafsu, dan Nafsu Muthmainnah.
 
Seorang manusia, yang membiarkan hatinya berada dalam dominasi Syahwat dan Hawa Nafsunya, maka akan menjadi orang yang tersesat. Yang lambat laun bisa tergelincir menjadi orang yang dimurkai Allah.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)”
Hawa Nafsu itu melingkupi segala aspek. Tidak diperbolehkan kita mengikuti hawa nafsu, dalam BERAGAMA sekalipun.
 
Banyak para aktivis dakwah, demikian bersemangatnya dalam berdakwah kadang kala terlena, tidak menyadari kalau dalam mengatur strategi dakwah, telah ditunggangi oleh Hawa Nafsunya.
 
Banyak pula para alim-ulama, yang demikian bangga terhadap ilmu yang dipelajarinya, sehingga merasa pendapatnya adalah pendapat yang paling benar, dan selainnya (selain golongannya) adalah pendapat yang salah.
 
Tidak disadari bahwa Hawa Nafsu telah merasuk dalam kemurnian beragamanya.
 
Dan kalaulah kita dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwat ini, maka Allah menjanjikan :
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). (QS. 4:66)
Apakah dalam ayat diatas, maksud bunuh diri adalah mengambil pisau lalu menghujamkannya ke perut? Atau mengambil racun lalu meminumnya?
 
Bukan !
 
Inilah kesalahan yang dapat terjadi bila kita tidak mengetahui arti yang sesungguhnya dari kata An-Nafs tersebut.
 
Dalam ayat ini dalam Arabnya dipergunkan kata Anfus (Jamak dari An-Nafs).
 
Bila Al Qur’an menggunakan An-Nafs dalam bentuk jamak, ini sesungguhnya merefer kepada Jiwa-jiwa yang banyak. Yaitu Hawa Nafsu. Karena bentuk Hawa Nafsu itu banyak. Seperti marah, sombong, ria, ujub, ingin dihormati, dsb.
 
Namun bila An-Nafs ini dalam bentuk tunggal, maka sesungguhnya ia merefer kepada Jiwa yang tunggal yaitu Nafsu Muthmainnah. Karena memang Nafsu Muthmainnah ini tunggal. Dan ini merupakan Hakikat diri manusia.
 
Jadi, bunuhlah dirimu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud : Keluar dari Dominasi Hawa Nafsu.
 
Keluar dari kampungmu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud : keluar dari kampung si Jiwa, yaitu Jasad. Atau keluar dari dominasi Syahwat.
 
Sehingga, bila seorang dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwatnya, sesungguhnya Allah akan menguatkan iman mereka.
 
Namun… Sangat sedikit sekali yang mau melaksanakan ini.
 
Hawa Nafsu dan Syahwat ini bukan dibunuh dan dihilangkan. Tetapi dikontrol oleh Nafsu Muthmainnah.
 
Ada saatnya hawa nafsu dan syahwat dikeluarkan, dan saat lain kembali dikekang.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. (QS. 79:40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:41)”
Kesalahpahaman pengartian An-Nafs juga berimplikasi kepada penafsiran yang kadang kala kurang tepat pada ayat-ayat seperti dibawah :
“… Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. … (QS. 4:95)”
Banyak orang sering langsung mengarah kepada ayat-ayat sejenis diatas, berjihad dengan harta dan Jiwa (An-Nafs) adalah merupakan perang fisik.
 
Apakah memang demikian? Apakah Islam harus selalu perang sementara Islam adalah sebuah agama yang damai?
 
Memang betul, dalam kondisi yang mewajibkan kita berperang ayat ini merupakan perintah pula untuk berperang.
 
Namun dalam kondisi damai ada yang lebih berat dibandingkan dengan perang fisik, yaitu berjihad melawan syahwat dan hawa nafsu.
 
Setelah melakukan perang dan akan memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat :
“Kita kembali dari jihad kecil kepada perjuangan besar”. (Hadits riwayat Al Baihaqy dan Jabir, dalam hadits ini ada sanad yang lemah).
Terlepas dari ke-dhoifan hadits diatas logikanya seperti ini : Seorang manusia yang telah dapat melepaskan hatinya dari takut kehilangan harta, keluarga, jabatan, dsb, hanya seorang yang telah mampu melawan syahwat dan hawa nafsunya.
 
Kalaulah kita temukan orang yang seperti ini, niscaya dia tidak takut lagi mati. Niscaya dia tidak akan pernah mengelak dari perintah untuk berperang, bila kondisinya mewajibkannya untuk berperang.
 
Tetapi orang yang hatinya masih takut kehilangan harta, pekerjaan, keluarga, jabatan, dsb. ia akan takut mati. Peperangan adalah sebuah hal yang sangat berat baginya.
 
Artinya, dalam logika sederhana tersebut, akan tergambar, kalaupun hadits tsb dhoif dari sanadnya, namun secara ilmiah hal itu dapat dibenarkan dan secara mathan, tidak ada ayat Al Qur’an yang bertentangan dengannya.
 
Dalam bahasan saya diatas, saya juga mencoba menunjukkan, bahwa tasawuf yang bagi sebagian orang diidentikkan sebagai pola pendekatan Islam yang mengabaikan perintah untuk berperang adalah kurang tepat.
 
Berperang adalah suatu kewajiban apabila kondisinya mewajibkan untuk melakukannya. Namun bila masa damai bukan lantas mencari-cari supaya ada perang! Tetapi melakukan jihad yang lebih berat, yaitu melawan Hawa Nafsu dan Syahwat.
 
Dan Allah menjanjikan bagi mereka yang mampu melawan Hawa Nafsu dan Syahwatnya ini dengan menguatkan iman dan surga sebagai tempat tinggalnya.
 
Semoga kita termasuk kedalam golongan orang yang dikuatkan Allah untuk melawan dominasi syahwat dan hawa nafsu yang ada dalam diri kita.
 
NAFSU MUTHMAINNAH
 
Seorang yang hatinya telah didominasi oleh Nafsu Muthmainnah, bukan lagi oleh syahwat atau hawa nafsu, maka Nafsu Muthmainnah menjadi Imam bagi seluruh tubuh dan dirinya.
 
Dan seperti dikatakan dalam penjelasan sebelumnya, sesungguhnya Nafsu Muthmainnah inilah yang disebut Jati Diri manusia itu. Hakikat dari manusia itu.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (An-Nafs) mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. 7:172)
Siapakah yang berjanji dalam ayat diatas ? Apakah kita pernah merasa berjanji?
 
Yang berjanji seperti disebutkan di ayat diatas, bukanlah ruh. Tetapi Jiwa yang tunggal, Nafsu Muthmainnah.
 
Namun kemana Nafsu Muthmainnah kita sekarang?
 
Sejak kita dilahirkan ke bumi, berapa puluh tahun yang lalu, sudah berapa banyak kita membiarkan hati kita di dominasi Syahwat dan Hawa Nafsu?
 
Pada dasarnya, Jiwa (Nafsu Muthmainnah) kita ini seperti juga jasad. Jasad membutuhkan makan, demikian pula dengan Jiwa.
 
Jasad membutuhkan makanan berupa : karbohidrat, vitamin, mineral, protein, dsb. Jiwa juga membutuhkan makanan, seperti : shalat, dzikir, puasa, dsb.
 
Dalam sehari orang pada umumnya jasadnya membutuhkan makan 3 kali, dengan kadar karbohidrat, vitamin, mineral, protein tertentu. Apabila ini tidak terpenuhi maka akan sakit, bahkan mati.
 
Demikian pula jiwa.
 
Dalam sehari Allah telah menetukan makanan minimalnya :
 
————————————————————————————
 
MAKANAN JUMLAH KADAR (misal)
 
————————————————————————————
 
Subuh 2 Rakaat 200
 
Dzuhur 4 Rakaat 400
 
Ashar 4 Rakaat 400
 
Maghrib 3 Rakaat 300
 
Isya 4 Rakaat 400
 
————————————————————————————
 
Total 17 Rakaat 1700
 
————————————————————————————
 
Dalam sehari Allah mempersyaratkan minimal 1700 nilai (misal untuk memudahkan deskripsi) bagi jiwa kita.
 
Namun ketika subuh kita sholat sambil mengantuk, mungkin nilainya hanya 50.
 
Dzuhur selagi masih banyak perkerjaan, nilainya mungkin 20. Ashar Sudah hampir pulang bekerja, nilainya mungkin 40. Maghrib sudah sampai rumah tapi masih capek, mungkin nilainya 60. Isya bisa konsentrasi dengan baik mungkin nilainya 400.
 
Namun dalm sehari itu total yang dikonsumsikan oleh Jiwa hanya 570. Jauh dari nilai minimal 1700. Dan selama puluhan tahun hidup tahun ini, sepanjang hari kita kurang dalam memberikan konsumsi pada Jiwa.
 
Apa yang terjadi? Jiwa kita sakit. Nafsu muthmainnah sakit. Mungkin sekarang ia lumpuh, buta, tuli, dan bisu, atau mungkin mati !
 
Itulah yang dikatakan Allah
Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), (QS. 2:18)
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. 22:46)
Hati adalah tempat dari Nafsu Muthmainnah. Ketika Nafsu Muthmainnah yang dominan terhadap hati, maka hati itu adalah si Nafsu Muthmainnah.
 
Kita tidak menyadari, bahwa dengan perjalanan hidup kita selama sekian puluh tahun, dengan memberikan konsumsi makanan yang kurang terhadap Jiwa kita dan membiarkan terdominasi oleh Hawa Nafsu dan Syahwat, Jiwa (hati) kita menjadi lumpuh, buta, tuli, bisu, bahkan mungkin mati.
 
Jiwa (hati) kita menjadi sakit. Sehingga lupa terhadap perjanjian yang pernah diucapkan pada Allah seperti dalam QS 7:172.
 
JIWA YANG SEHAT
 
Ada orang-orang yang berhasil dalam pelaksanaan agamanya, menghidupkan dan menyehatkan kembali Jiwa (Nafsul Muthmainnah) nya.
 
Sehingga hatinya di dominasi oleh Nafsul Muthmainnahnya. Jiwa yang sekarang ini abstrak/ghaib (tidak terindera) oleh kita, apabila telah hidup, telah sehat, maka matanya akan melihat, telinganya akan mendengar, mulutnya dapat berkata-kata.
 
Jiwa apa bila melihat maka ia akan melihat sesuai dengan dimensi keghaibannya. Inilah yang dalam terminologi tasawuf dikatakan Mukasyafah.
 
Jadi bukanlah suatu hal yang aneh dikalangan para pejalan tasawuf yang lurus, dapat melihat jin, malaikat, jiwa-jiwa manusia yang telah mati, dan lain sebagainya yang menurut pandangan kita adalah sesuatu yang ghaib.
 
Karena sesungguhnya bukan mata inderawi (jasad) lah yang melihat tetapi mata si Jiwa yang ada didalam dada.
 
Dan sehatnya Jiwa Muthmainnah inilah, salah satu paramater seorang telah beriman dengan benar.
 
 
  • Sumber-sumber :
  1. Al Qur’an dan Terjemah
  2. Al Ihya Ulumuddin, Jilid IV : Imam Al Ghazaly, terjemahan : Prof. TK. H. Ismail Yakub SH. MA, CV Faisan, Jakarta, Indonesia
  3. Minhajul Abidin : Imam Al Ghazaly, terjemahan : Meniti Jalan Menuju Surga, M. Adib Bisri, Pustaka Amani, Jakarta, Indonesia
  4. Tao Of Islam : Sachiko Murata, Mizan, Bandung, Indonesia
  5. Jalan Ruhani : Said Hawwa, Mizan, Bandung, Indonesia
  6. Kajian Islam : Zamzam Ahmad Jamaluddin, drs. MSc, Yayasan Islam Paramartha, Bandung, Indonesia

 

Iklan
14 September 2012

Tasawuf » Makna Hukum Labiriah dan Realitas Batin (Syariat dan Hakikat) – Praktek sufi bag 2

oleh alifbraja

Syariat dan hakikat yang dapat kita satukan
sehingga dapat membuat kita semakin berkembang  

Menurut para sufi, segala sesuatu yang kita saksikan dalam penciptaan ini memiliki sifat polaritas di dalamnya. Juga, setiap fenomena dalm penciptaan bersifat siklus (berputar) .Suatu fenomena terlihat seakan-akan mulai dari satu titik dan berakhir di satu titik lain, lalu kedua titik itu bertemu. Misalnya, riwayat penciptaan dimulai dengan siklus hidrologis. Air dari laut menguap, menjadi awan, kemudian turun sebagai hujan lalu mengalir kembali ke laut. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada hukum lahiriah dan realitas batin. Kata Arab syari ‘at berarti jalan. Apabila orang naik ke atasnya seakan-akan ia menaruh sampan ke sungai agar dapat mencapai samudra. Apabila si penempuh mempunyai penglihatan yang menyatu, apabila ia seorang manusia utuh (man of unity) maka ia akan mengakui bahwa sekalipun itu adalah sungai, tapi mempunyai arah yang akan membawa ke alam dan hakikatnya yang asli, yakni samudra. Kata Arab bagi realitas batin adalah haqiqah yang berarti kebenaran. Samudra adalah realitas batin sedang sungai adalah jalan lahiriah. Sungai tak akan mempunyai tujuan atau makna apabila ia tidak berakhir di samudra, namun asalnya adalah dari samudra!

Mengenai orang yang memiliki visi dan wawasan, serta keterhubungan dan kesatuan sejati, pada saat mereka melangkah ke dalam syariat, mereka merasa bahwa mereka telah melangkah ke dalam hakikat batin. Dari sisi pandang kaum sufi, apahila sesorang sedang mencari kedalaman makna dan transformasi dalam hidupnya, maka pada saat ia menerima syariat, ia segera menyadari makna hatin dan ruhnya, Misalnya, syariat mewajibkan orang melakukan penyucian lahiriah, yang merupakan kombinasi dari mencuci seluruh badan secara ritual pada keadaan tertentu, dan mencuci hanya bagian-bagian tertentu saja secara ritual pada keadaan tertentu lainnya, sebelum mendirikan salaat Nah, apabila seseorang mempunyai visi hidup yang menyatukan dan mencari pengetahuan tentang kesatuan, maka ia akan menyadari hahwa pengetahuan ini tak akan tercapai apabila ia tidak disucikan secara lahir maupun hatin, dan ia akan memperluas tuntutan hukum lahiriah itu la akan menyucikan kulit dan dagingnya, hukan saja dengan penyucian ritual, tetapi juga dengan menjaga jenis makanan dan minuman yang dikonsumsinya Lebih dari itu, ia akan menyucikan hati, niat, dan pikirannya Ini merupakan pandangan kesatuan dari hukum syariat, atau tata perilaku. la semata-mata dan secara langsung mengantarkan ke realitas batin.

Hukum Islam yang lahiriah, seperti telah disebutkan sehelumnya, adalah hukum Tuhan yang sempurna dan final yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. la didasarkan pada hukum-hukum perilaku yang diwahyukan secara langsung dalam Al-Qur’an dan pada sunah Nabi Muhammad. Hukum-hukum ini memungkinkan setiap anggotamasyarakat mendalami lehihjauh dan mengemhangkan kesadaran yang lebih tinggi yang merupakan maksud dan tujuan di balik penciptaan ini. Pengemhangan batin, yang merupakan tujuan tasawuf tidaklah mungkin tanpa Islam eksoteris. Kepentingan esoteris tidak akan cukup apabila seseorang tidak mempunyai perlindungan dari hatas-batas lahiriah tata perilaku lahiriah. Air tak akan tertampung tanpa wadah, dan isi telur tak akan tertarnpung tanpa kulitnya. Demikian pula, hukum lahiriah itu ibarat kulit yang melindungi realitas batin, ibarat sekat luar yang melindungi inti batin yang dengan aman membawa apa yang bila tidak dilindungi akan menjadi energi yang sangat mudah menguap.

Sekarang, di manakah hukum lahiriah (syariat) berakhir dan realitas (hakikat) batin mulai? Yang satu berurusan dengan yang lahiriah dan kasar, sedang yang lainnya berurusan dengan yang batin dan halus. Serupa dengan mengatakan bahwa ini sungai dan itu samudra, padahal sebenamya keduanya merupakan aspek dari satu sistem yang saling dihubungkan oleh satu hakikat, yaitu air.

Dari sisi pandang sufi, manusia harus memeluk dan tunduk kepada hukum syariat maupun hakikat batin, karena ia meliputi keduanya. Manusia adalah genting, atau ruang pemisah, di antara keduanya. la terlibat dalam hukum lahiriah, atau undang-undang perilaku, dalam arti bahwa ia merupakan entitas fisik, material, dan ia terlibat dalam hakikat batin dalam arti bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang melampaui waktu dan ruang. Jadi, ke dalam ia merupakan hakikat batin, dan ke luar ia adalah hukum lahiriah. Syekh sufi besar mengatakan:

Barangsiapa bersyariat tanpa hakikat,
ia telah meninggalkan jalan yang benar;

Barangsiapa punya hakikat batin tanpa syariat,
ia adalah orang bidah.

Barangsiapa menyatukan keduanya,
ia mempunyai kesadaran.

Hukum Islam yang lahiriah adalah hukum yang diwahyukan Ilahi. Dalam alam ada hukum-hukum tertentu yang tak dapat dilanggar atau dipatahkan. Namun, di dalam batas-batasnya, orang dapat mengadakan beberapa perubahan. Misalnya, suatu rumah tangga di mana peraturan umum rumah itu telah ditetapkan, tetapi di dalam peraturan itu orang mengizinkan sang anak untuk berbuat banyak sekali hal yang disukainya dalam suatu ruang tertentu. Misalnya, si anak dapat mengubah kedudukan meja kursi atau meletakkan barang-barang tertentu di dinding, dan sebagainya. Namun, sejauh berkenaan dengan gaya perabotan atau batas sesungguhnya dari ruang itu, si anak tak punya komentar atau pilihan apa-apa. Tentu saja, sebagian batas-batas atau peraturan bersifat fleksibel, tetapi selalu ada batas akhirnya. Pengetahuan tentang batas-batas ini dan perilaku pantas yang diperlukan agar tetap berada di dalamnya adalah mengenai hukum Islam yang lahiriah. Menghormari dan mencintai hukum lahiriah ini adalah menghormari dan mencintai realitas fisik yang alami.

Semua nabi dan rasul mencapai kualitas yang luar biasa dalam mengungkapkan sebagian dari hukum- hukum Ilahi, baik hukum yang menguasai keberadaan maupun hukum yang mengatur mereka dalam kehidupan, sesuai dengan keadaan, tempat, dan ruang di mana mereka hidup. Mereka saling menguatkan. Tak ada nabi atau rasul yang menolak pendahulunya. Apabila ada suatu pembatalan (nasakh) atas hukum-hukum sebelumnya, maka ini karena realitas atau kesadaran umat sebelumnya itu masih berkembang dan belum siap untuk persoalan yang akan datang. Misalnya, lihatlah minuman alkohol. Di iklim gurun yang panas, tak mungkin menyimpan buah-buahan dalam waktu lama tanpa terjadi fermentasi, dan demikian pula ribuan tahun yang lalu, minuman anggur adalah hasil yang alami dari musim buah-buahan yang berlangsung lama.

Orang diizinkan meminum anggur namun tujuannya bukan supaya menjadi mabuk. Kemudian tiba saatnya ketika terdapat kemungkinan untuk membuat alkohol secara kimiawi dalam skala besar, sehingga orang dapat merusak diri dan lingkungannya dengan meminum alkohol. Karena itulah maka hukurn Islam yang terakhir diwahyukan memperingatkan hal ini dan melarang sama sekali konsumsi minuman beralkohol, walaupun sedikit.

Jadi, selalu ada tahapan kejadian dan tujuan di balik pembatalan (nasakh) hukum-hukum nabi tertentu, yang diwahyukan kepada nabi sebelurnnya, oleh nabi yang kemudian. Semua nabi berada dalam Islam, yakni dalam ketundukan, dalam arti bahwa masing-masing telah menyerahkan dirinya kepada Allah; dan hukurn lahiriah, atau hukurn perilaku, yang dibawa oleh masing-masing nabi merupakan konfirmasi dan kelanjutan dari hukum yang dibawa oleh pendahulunya, dari hukurn Ilahi yang saling mengisi. Ketika kota dibangun, peraturan dan ketetapan tertentu menjadi jelas, sampai seluruh kota itu disempurnakan. Kemudian seluruh peraturan dan ketentuan yang telah berkembang dan diperlukan dalam rangka pembangunan dipadukan dan disempurnakan, semuanya sesuai dengan rencana utama (master plan) yang asli!

Nabi Musa as mengungkapkan banyak hukum yang sepenuhnya segaris dengan hukum yang datang sebelumnya dan yang datang sesudahnya. Namun, selama beberapa abad, hukurn-hukum tersebut dirusak, dan hanya kandungan hukumnya saja yang tetap penting. Maka muncullah Nabi ‘Isa as, yang menghidupkan kembali ruh hukum itu, tanpa mengubah hukum-hukum yang berasal dari Musa. la mempertanyakan cara penerapan hukum-hukum itu, dan berusaha untuk membenahi ketimpangan antara ruh dan kandungan hukum itu, dengan menekankan kualitas perilaku yang santun, kelemah-lembutan, keimanan, kepercayaan dan semua nilai moral Kristen lainnya. Kemudian, Nabi Muhammad mengukuhkan hukum asli itu secara benar-benar berimbang dan dalam bahasa dan kultur yang berbeda dengan bahasa dan kultur para nabi sebelumnya. Nabi Muhammad menghapuskan beberapa hukum dan, sesuai perintah llahi, membawa beberapa hukum baru, dengan demikian menyempurnakan undang-undang perilaku jalan kenabian.

Hukum-hukum kenabian (nubuwah) adalah aturan- aturan perilaku dari wahyu Ilahi yang dibawa oleh individu-individu yang peka luar biasa dalam keterhubungannya antara dunia nampak dan dunia gaib. “Hati” mereka bagaikan cermin yang memantulkan hukum asli yang diharapkan dalam alam gaib dan dalam bentuk yang lebih dapat diraba, yang mereka berikan untuk kemanusiaan. Hukum-hukum ini tidaklah kaku atau represif, dan di dalamnya terdapat banyak sekali kebebasan untuk menciptakan hukum-hukum sekunder (by-laws) dan peraturan baru yang lebih rinci untuk mengatur kehidupan manusia. Misalnya, jumlah yang tepat dari makanan yang dibolehkan untuk konsumsi manusia sehari-hari tidak diwahyukan Ilahi. Di lain pihak, adalah merupakan hukum alam dan umumnya dapat dipahami bahwa apabila seseorang tidak makan dalam jangka waktu cukup lama maka ia akan mati. Namun, tidaklah mudah dipahami, misalnya, bahwa apabila homoseksualitas merajalela maka masyarakat bisa binasa. Ini karena kita belum pernah hidup dalam suatu lingkungan di mana homoseksualitas telah berlaku menyeluruh. Maka hukum Ilahi dengan jelas melarang perbuatan homoseksual, karena apabila tidak demikian maka masyarakat akan dihancurkan dan didaur ulang. Sifat telanjang akan datang menyertainya, dan contoh Sodom dan Gomorah akan berulang sendiri. Kemudian ada hukum-hukum yang lebih halus yang berkenaan dengan pelanggaran yang kurang jelas, seperti riba. Telah diwahyukan kepada banyak nabi dan rasul, terutama ditekankan kepada para nabi besar terakhir-Musa, .Isa, dan Muhammad-bahwa riba akan menyebabkan kehancuran setiap masyarakat yang tenggelam di dalamnya. Isa menentang praktik riba, dan banyak orang Yahudi menentangnya karena ia mengancam akan menghancurkan kebiasaan buruk mereka, yang menjadi gantungan mata pencaharian mereka. Sekarang kita lihat benar-benar seluruh dunia dikuasai, diobsesi, dan dikendalikan oleh sistem riba yang beroperasi melalui sarana sistem perbankan resmi.

Syariat Islam, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah kulminasi dari semua hukum yang diwahyukan sebelumnya. Masyarakat dan kultur yang mengikuti hukum Tuhan yang asli akan bertahan. Individu atau masyarakat akan beroleh maslahat sesuai dengan kadar penerapan hukum ini. Apabila suatu masyarakat atau negeri berlaku dermawan kepada fakir miskin, yang sesuai dengan semua hukum Tuhan, maka sebagai akibat dari perbuatan ini banyak kebaikan akan datang kepada orang-orang dermawan. Maka bilamana, secara terbuka atau diam-diam, seseorang atau suatu masyarakat berbuat baik, perbuatan itu segaris dengan hukum Islam. Kesejahteraan dan kemakmuran suatu kultur atau masyarakat tergantung pada seberapa dekat praktik mereka dengan syariat Islam yang asli. Karena mayoritas kaum Muslim sekarang tidak sepenuhnya melaksana- kan syariat Islam, selain kedangkalannya, mereka pun secara individu dan kolektif sedang ditimpa dan dihukum oleh ketidaktahuan atau perbuatan batil mereka sendiri.

Dalam sejarah kemajuan umat manusia, kita dapati bahwa hukum syariat yang diwahyukan sangat sederhana pada mulanya. Namun, ketika kultur, peradaban dan kesadaran manusia berkembang, hukum syariat menjadi lebih rinci dan kompleks. Manusia di masa awal mempunyai cara dan gagasan yang sederhana dan langsung tentang hidup. Bahkan hingga kini, beberapa suku pengembara (nomadic) mempunyai undang-undang perilaku yang benar-benar berhubungan dengan sifat pembawaan lahir manusia. Undang-undang ini adalah orisinil dan sangat sederhana serta blak-blakan. Pemimpin dari suku semacam itu pada umumnya mempunyai sifat-sifat yang paling disukai di kalangan kaumnya. la pemurah, kuat, ramah, penyayang, tidak egois, dan seterusnya. Suku-suku ini terus hidup secara demikian selama suatu masa hingga tiba-tiba muncul pemimpin yang tak becus, atau sistem itu ditantang oleh suatu kultur yang lebih kompleks atau maju, dan kemudian cara hidup mereka yang sederhana hilang.

Singkatnya, hukum syariat Ilahi telah diwahyukan dalam format yang berbeda-beda selama suatu kurun waktu sesuai dengan kebutuhan masa itu, dan proses ini disempurnakan secara total l.400 tahun lalu. Master plan dari alam gaib ini, dari Sumber seluruh realitas penciptaan, adalah bagian dari cinta dan belas-kasih- Nya kepada manusia sehingga kita tidak dibiarkan tanpa bimbingan. Para nabi dan rasul mengungkapkan apa yang hakiki dan perlu bagi kondisi manusia. Hukum-hukum dan cetak biru yang mereka bawa terkulminasi dalam cetak biru akhir yang merupakan undang-undang Muhammad. Jadi, berbagai macam aturan-aturan hukum lahiriah ini bersifat komplementer (saling mengisi) dan merupakan bacaan-bacaan dari kitab yang sama. Kira- kira seperti membaca bab-bab berlainan dari kitab atau lembaran yang sama. Dan di dalam parameter hukum. syariat, ada ruangan bagi hukum buatan manusia yang selaras dengan syariat itu. Syariat Islam, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, memberikan pokok-pokok hukum, tetapi di dalam hal-hal spesifik-misalnya, berapa besar pajak harus ditarik atas penduduk untuk barang- barang impor tertentu-diserahkan kepada pemerintahan dari masa bersangkutan untuk memutuskannya. Apabila pemerintah memerlukan sejumlah tertentu uang untuk suatu proyek khusus, dan rakyat kaya, maka pemerintahan Islam dapat menetapkan peraturan untuk mengumpulkan uang melalui pajak tambahan, walaupun hal itu tidak diungkapkan secara tegas sebagai wajib menurut hukum Islam. Jadi, ada jangkauan yang luas di dalam hukum Islam untuk menetapkan peraturan dan ketentuan yang sesuai dengan keadaan sekarang dan yang selaras dengan itu. Keluwesan ini- lah,berdasarkan dan di dalam bentuk yang tepat, yang meyakinkan bahwa hukum lahiriah itu sebenarnya merupakan sarana menuju hakikat batin, dan bukan suatu halangan yang menutupi atau mencegah jalan masuk kepadanya.

15 Agustus 2012

antara ikhlas dan ridho

oleh alifbraja

Ikhlas berasal dari kata akhlasha yang merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yang diambil dari kata kerja intransitif khalasha (خَلصَ) dengan menambahkan satu huruf ‘alif (أ). Bentuk mudhâri‘ (saat ini) dari akhlasha (اَخْلَصَ) adalah yukhlishu (يُخْلِصُ) dan bentuk mashdarnya yaitu ikhlash (إِخْلاص). Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan syariat yang ditujukan hanya kepada Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain.

Menurut tata bahasa Arab kata ikhlas merupakan bentuk mashdar dari kata akhlasha yang berasal dari akar kata khalasha. Kata khalasha ini mengandung beberapa macam arti sesuai dengan konteks kaliamatnya. Ia bisa berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala (sampai), dan I’tazala (memisahkan diri). Bila diteliti lebih lanjut, kata ikhlas sendiri sebenarnya tidak dijumpai secara langsung penggunaannya dalam al-Qur’an. Yang ada hanyalah kata-kata yang berderivat sama dengan kata ikhlas tersebut. Secara keseluruhan terdapat dalam tiga puluh ayat dengan penggunaan kata yang beragam. Kata-kata tersebut antara lain : kata khalashuu, akhlashnaahum, akhlashuu, astakhlish, al-khaalish, dan khaalish masing-masing sebanyak satu kali. Selanjutnya kata khaalishah lima kali, mukhlish (tunggal) tiga kali, mukhlishuun (jamak) satu kali, mukhlishiin (jamak) tujuh kali, mukhlash (tunggal) satu kali, dan mukhlashiin (jamak) sebanyak delapan kali.Dalam kata ikhlas terkandung makna jujur, bersih, murni, rela

Terkadang ridho disama artikan dengan ikhlas. Namun sebenarnya ridho dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Ridho (رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya.

Tapi, yang mana pun itu, aku ingin memahami keduanya. Karena, dalam hidup, terkadang kita menemukan titik di mana kita merasa berat menjalaninya. Titik di mana kita merasa hidup tidak adil. Titik di mana kita hanya bisa merasakan duka.

Dan, ketika semua itu datang, yang ingin kumiliki adalah ikhlas. Dengan keikhlasan, insya Allah semua tidak terasa berat, tidak ada yang tidak adil, dan aku tetap bisa merasakan suka cita meski sedang dirundung duka.

Ikhlas dan ridho bahwa semua adalah ketentuan Allah. Dan, karena tujuan akhir kehidupan sesungguhnya adalah ridho-Nya. Maka sebagai manusia, kita pun ridho atas segala yang ditetapkan oleh-Nya atas diri kita.

MAKNA IKHLAS

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa makna Al-Ikhlas? Dan, bila seorang hamba menginginkan melalui ibadahnya sesuatu yang lain, apa hukumnya?

Jawaban
Ikhlas kepada Allah Ta’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :

Pertama.
Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.

Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu ; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya” [1]

Kedua
Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Hud : 15-16]

Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadapn dirinya.

Ketiga
Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jama’ah haji.

“Artinya : Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” [Al-Baqarah : 198]

Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu. Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina. Maka tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya.

“Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat ; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” [At-Taubah : 58]

Di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata : ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana bila ,-penj) seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” [2]

Demikian pula hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahihain dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya mendapatkan tujuan dari hijrahnya tersebut” [3]

Jika persentasenya sama saja, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan non ibadah ; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang lebih persis untuk kasus seperti ini adalah sama juga ; tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal karena Allah dan karena selain-Nya juga.

Perbedaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahwa tujuan yang bukan untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara otomatis. Jadi, keinginannya tercapai malalui perbuatannya tersebut secara otomatis seakan-akan yang dia inginkan adalah konsekuensi logis dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.

Jika ada yang mengatakan, “Apa standarisasi pada jenis ini sehingga bisa dikatakan bahwa tujuannya yang lebih dominan adalah beribadah atau bukan beribadah?”

Jawabannya, standarisasinya bahwa dia tidak memperhatikan hal selain ibadah, maka hal itu tercapai atau tidak tercapai, telah mengindikasikan bahwa yang lebih dominan padanya adalah niat untuk beribadah, demikian pula sebaliknya.

Yang jelas perkara yang merupakan ucapan hati amatlah serius dan begitu urgen sekali. Indikasinya, bisa hadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai tangga ash-Shiddiqin, dan sebaliknya bisa pula mengembalikannya ke derajat yang paling bawah sekali.

Sebagian ulama Salaf berkata, “Tidak pernah diriku berjuang melawan sesuatu melebihi perjuangannya melawan (perbuatan) ikhlas”

Kita memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua agar dianugrahi niat yang ikhlas dan lurus di dalam beramal.

[Kumpulan Fatwa dan Risalah dari Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 98-100]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Albalad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note.
[1]. Shahih Muslim, kitab Az-Zuhd (2985)
[2]. Sunan Abu Daud kitab Al-Jihad (2516), Musnad Ahmad, Juz II, hal. 290, 366 tetapi di dalam sanadnya terdapat Yazid bin Mukriz, seorang yang tidak diketahui identitasnya (majhul) ; lihat juga anotasi dari Syaikh Ahmad Syakir terhadap Musnad Ahmad no. 7887
[3]. Shahih Al-Bukhari, kitab Bad’u Al-Wahyi (1), Shahih Muslim, kitab Al-Imarah (1907)

15 Agustus 2012

IKHLAS

oleh alifbraja

Arti Ikhlas

Ikhlas apakah Anda sudah melakukan Ikhlas dengan benar? Ikhlas berasal dari kata akhlasha yang merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yang diambil dari kata kerja intransitif khalasha ( ﺧَﻠﺺَ) dengan menambahkan satu huruf ‘alif ( ﺃ). Bentuk mudhâri‘ (saat ini) dari akhlasha ( ﺍَﺧْﻠَﺺَ) adalah yukhlishu (ﻳُﺨْﻠِﺺُ) dan bentuk mashdarnya yaitu ikhlash ( ﺇِﺧْﻼﺹ).

Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan syariat yang ditujukan hanya kepada Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain. Perbuatan ikhlas dibarengi pula dengan keyakinan atas perbuatannya dan tidak memiliki keinginan untuk menarik kembali apa yang telah ia lakukan.

Amal perbuatan syariat pun terbagi menjadi 2, yaitu usaha lahiriah dan batiniah (doa). Hingga jelaslah perbedaan antara ikhlas dan ridho. Kalau ikhlas harus dimulai dengan amal perbuatan syariat seperti membantu, berusaha, berdoa, dan lainnya sedangkan ridho adalah rela menerima qodha-qodhar dan meyakini bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik menurut-Nya. Ikhlas bersifat Aktif dengan melakukan perbuatan ditujukan kepada Allah, secara lahiriah dan batiniah. Sebuah perbuatan yang dilakukan secara ikhlas namun perbuatan tersebut tidak menepati kebenaran, maka amal perbuatan tersebut tidak diterima.

Sebaliknya pula bila menepati kebenaran, namun dilakukan dengan tidak ikhlas maka amal tersebut pun memiliki kecacatan. Apa yang dimaksud dengan menepati kebenaran adalah dengan mengikuti Al Qur’an dan sunnah. Ikhlas sebaiknya dilakukan dengan berusaha secara lahiriah dan batiniah secara bersamaan. Usaha lahiriah adalah berusaha dengan sungguh-sungguh secara ikhlas, sedangkan usaha batiniah adalah berdoa dengan sungguh-sunguh secara ikhlas pula. Bila hanya usaha lahiriah atau usaha batiniah saja yang dilaksanakan, maka terdapat ketimpangan. Lawan dari ikhlas dalah riya’ yaitu melakukan amal perbuatan dengan tujuan agar dilihat orang dan mengharapkan pujian atau balasan dari orang lain. Riya’ berasal dari kata ro’a (ﺭَﺃﻯ) yang berarti melihat, atau mengatur sesuatu agar dilihat orang. Usaha lahiriah: berusaha dengan sungguh-sungguh secara ikhlas Setelah menempuh tahapan ridho dalam qodha dan qodar- Nya, kita juga harus dapat memperbaiki diri kita sebaik- baiknya dalam menghadapi cobaan. Bila cobaan tersebut berupa musibah kematian sanak saudara, maka kita wajib ridho akan ketetapan Allah, bertakziah kepada keluarga yang sedang dirindung duka dan membantu semampunya. “

Apabila meninggal anak seorang hamba, maka Allah SWT berkata kepada malaikat: Apakah kamu telah mencabut roh putra hambaKu. Jawabnya: Ya. Apakah kamu telah mengambil buah hatinya ? Jawabnya: Ya, benar. Maka Allah berkata: “Lalu apa yang diucapkan oleh hambaKu?. Malaikat berkata: “Dia memuji- Mu dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Maka Allah SWT berkata: “Bangunkan untuk hambaKu tersebut sebuah rumah di surga dan beri nama tempat itu Baitul Hamdi”. (H.R. Turmudzi, dia berkata: Hadis Hasan) Bila cobaan tersebut adalah kemaksiatan yang berada di diri kita, maka harus berusaha untuk memperbaikinya menuju aturan syariat yang lurus. Bila cobaan tersebut adalah menurunnya hasil usaha kita, maka cobalah lebih pintar mencari penyebabnya kemudian mencoba mengatasi masalah tersebut. Bila cobaan tersebut berupa musibah kehilangan pekerjaan, maka kita harus tetap berusaha dengan jalan apapun asalkan halal.

Bila telah mendaftar pekerjaan tapi tidak diterima, kita masih bisa berwiraswasta dengan atau berjualan. Bila tidak ada modal untuk memulai usaha, maka mulailah usaha dengan modal yang paling kecil. Sebenarnya hal yang merintangi kita dalam usaha bukanlah modal, tapi kemauan dan gengsi dari dalam diri kita sendiri. Hal itulah yang harus kita perangi. Sesungguhnya kemenangan bukan terletak pada hasil materi yang berhasil kita peroleh, namun kemenangan adalah bila kita dapat mengalahkan diri kita, memasung iblis di dalam hati, dan berjuang atau berusaha secara lahir dan batin. Usaha batiniah: berdoa dengan sungguh-sungguh secara ikhlas Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). (Q.S.27/ An Naml:62) “Do’a adalah otaknya (sumsum/ inti nya) ibadah.(HR. Tirmidzi)” “Do’a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya’la)” Setelah berusaha sebaik- baiknya, maka hal tersebut akan sia-sia bila kita tidak berdoa dengan sungguh- sungguh. Janganlah kita takabur dengan mengatakan bahwa kita layak mendapatkan sesuatu atas jerih payah kita sendiri.

Karena yang menentukan semuanya adalah Allah Azza wa Jalla. “Rasulullah saw. berkata: Wahai Abdullah bin Qais! Maukah kamu aku tunjukkan kepada salah-satu kekayaan surga yang tersimpan? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Yaitu ucapan: ‘laa haula wa laa quwata illa billah’ (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali berkat bantuan Allah). (Shahih Muslim No.4873)” Bagaimanapun gigihnya usaha kita hingga akhirnya mencapai keberhasilan, semata-mata berkat Allah SWT. Dan Allah berhak menambah, menetapkan, bahkan mengurangi rezeki kita di dunia semata-mata untuk kebaikan diri kita sendiri .

Ilmu Allah tak terbatas dibanding logika sempit manusia, yang mengatakan bahwa semakin “banyak rezeki akan semakin baik”, karena bisa saja dibalik rezeki yang berlimpah di dunia justru akan menghambat jalan kita di akhirat kita kelak. Berdoa yang utama dilakukan adalah berdoa setelah shalat wajib maupun shalat sunnah. Kemudian doa pada waktu- waktu tertentu. “Rasulullah SAW ditanya, “Pada waktu apa do’a (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam).”

IKHLAS

 

Posting dengan judul tentang ikhlas diawali dengan membuka Surat Shaad (QS, 38) ayat 71 S.D 83, yang terjemahannya ayat per ayat sebagai berikut : Ayat 71:(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”.
Ayat 72:Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.
Ayat 73:Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya.
Ayat 74:kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. Ayat 75:Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang- orang yang (lebih) tinggi?”.
Ayat 76:Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang- orang yang (lebih) tinggi?”.
Ayat 77:Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Ayat
78:Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Ayat
79:Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Ayat 80:Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
Ayat 81:sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”.
Ayat 82:Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Ayat 83:kecuali hamba-hamba- Mu yang mukhlis di antara mereka. Ayat-ayat dalam Surat Shaad tersebut di atas, adalah merupakan fragmentasi dialog antara Allah SWT dengan Iblis pertama (Izazil) intinya antara lain, tentang penciptaan manusia, penolakan Iblis untuk bersujud kepada manusia karena merasa dirinya lebih baik (penolakan perintah Allah), pengusiran dari surga, penangguhan hingga hari kiamat, dan komitmen Iblis yang akan menyesatkan manusia kecuali hamba Allah yang mukhlis (ikhlas).

Khusus yang berkaitan dengan ikhlas (mukhlis) tercermin pada ayat 83 Surat Shaad (QS, 38) yang intinya antara lain komitmen Iblis, yang menyatakan bahwa ia btidak akan menyesatkan (menggoda) hamba-hamba Allah yang mukhlis (ikhlas), atas dasar ayat tersebut timbul suatu pertanyaan, “Apa arti ikhlas sesungguhnya sehingga iblis pun tidak berani menyesatkan (menggoda) hamba-hamba Allah yang ikhlas?”. Berkaitan dengan kata ikhlas, orang-orang terkadang seringkali mencari definisi atau pengertian tentang ikhlas dengan logika yang terbatas, dan memaksakan agar dirinya seakan-akan telah paham tentang ikhlas tersebut. Padahal kita tahu dengan logika, akal, akal dan rasio, adalah sama seperti mata kita terbentur kepada keterbatasan, sebagai contoh kita memandang laut dan langit, sejauh mata memandang seolah- olah keduanya bersatu, akan tetapi kenyataannya tidak begitu, inilah dikarenakan oleh keterbatasan panca indera kita. Dari berbagai macam fenomena yang ada terlihat, bahwa masyarakat kita selalu mencari persamaan-persamaan tentang arti ikhlas secara sembarangan tanpa bersandar pada dalil-dalil yang telah ada, padahal kita percaya bahwa Al Qur’an merupakan suatu standar baku buat pedoman orang-orang yang beriman.

Oleh karenanya, kita seringkali terjebak pada norma- norma umum yang menjadi tradisi, atau kebiasaan walaupun terkadang sangat jauh dari kebenaran yang hakiki. Dalam Al Qur’an Allah SWT telah menetapkan definisi atau pengertian yang nyata tentang apa arti ikhlas, sebagaimana dalam Surat Al Ikhlas (QS, 112 :1 s.d 4) sebagai berikut: Ayat 1: ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Ayat 2: ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﻤﺪ Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Ayat 3: ﻟﻢ ﻳﻠﺪ ﻭﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Ayat 4: ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻛﻔﻮﺍ ﺃﺣﺪ dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. Pengertian kata ikhlas yang terkandung dalam ayat-ayat Surat Al Ikhlas (QS, 112) tersebut di atas, secara definitif dan konprehensif serta spektrumnya sangat luas, yaitu dimana ikhlas disitu secara esensial mengandung pengertian bebas dari syirik, yang artinya seseorang yang hendak melakukan sesuatu perbuatan atau ibadah tidak ada rekayasa, tendensi, intrik-intrik, motivasi, atau niat yang lain kecuali semata-mata hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT.

Seperti yang dikemukakan oleh Sayidina Ali, “Ya Allah aku mengabdi kepadaMu bukan karena aku takut kepada neraka- Mu, bukan pula aku rakus terhadap surga-Mu, melainkan aku mengabdi kepadaMu, karena memang Engkau pantas untuk kuabdi”. Selanjutnya sebagai contoh, ketika Rasulullah SAW mengadakan sayembara, siapa yang paling dulu selesai khotmil Qur’an, ternyata Sayidina Ali ra yang terlebih dahulu menyelesaikan sesingkat- singkatnya, sementara yang lainnya masih tadarus membaca Al Qur’an dengan khusuk. Lalu Ali mengacungkan jari telunjuknya, “Ya Rasulullah aku telah selesai mengkhatamkan Al Qur’an ini” Rasulullah SAW pun bertanya, “Wahai Ali bagaimana mungkin kau menyelesaikannya hanya dalam waktu sesaat?”, Ali pun menjawab, “Bukankah engkau pernah bersabda ya Rasulullah, “Barangsiapa yang membaca Surat Al Ikhlas tiga kali maka sama dengan nilainya khatam Qur’an”, “Ya” jawab Rasulullah SAW membenarkan. Apabila kita perhatikan hadits di atas, maka begitu berartinya Surat Al Ikhlas, yang notabene terdapat kalimat Al Ikhlas, sehingga pada ayat terakhir surat ini dapat diambil kesimpulan, bahwa Allah SWT tidak ingin dibagi-bagi cintanya kepada hambaNya, Allah akan merasa cemburu manakala ciptaanNya dicintai secara berlebihan. Pada penghujung Surat Al Ikhlas terdapat suatu kesimpulan, “Walam Yakullahu Kufuan Ahad”, ayat ini identik dengan sabda Rasulullah SAW, “Laisa Kamitslihi Syaaiiun” yang mengandung pengertian “tidak ada sesuatu yang menyerupai Allah”.

Jadi jangan coba-coba melakukan pengabdian- pengabdian kepadaNya dengan cara membagi kepada makhlukNya. Beberapa contoh menurut akhli tauhid,
a. Apabila seseorang sedang melakukan tawaf lalu terbesit dihatinya ingat kepada orang lain, yaitu anak isteri, harta benda, perusahaan, sawah dan ladang, maka tawafnya dianggap gugur, karena sesungguhnya Allah tidak ingin diduakan (disekutukan) dalam pengabdian atau peribadahan tadi;
b. Apabila seseorang yang mengamalkan hartanya karena ingin mendapat pujian, maka amalannya gugur seperti debu terbang ditiup angin;
c. Imam dalam salat terbesit dihatinya ingin dianggap jamaahnya sebagai sebagai akhli Al Qur’an dengan membaca surat dengan ayat-ayat yang panjang, maka inipun salatnya dianggap gugur;
d. Seseorang yang berdzikir secara masal, kemudian menangis secara bersama-sama agar dianggap orang yang khusuk beribadah atau dianggap akhli dzikir, maka ini bukan saja gugur tetapi sudah mengarah ke riya, sedangkan riya adalah semi syirik dan syirik berlawanan dengan ikhlas. Apabila kita telusuri dari berbagai uraian dan contoh di atas, bahwa ikhlas adalah merupakan sesuatu yang pada hakikatnya kembali kepada Allah bersandar kepada Allah, sehingga Iblis takut kepada hamba-hamba yang muklis yang senantiasa berserah diri dengan bersandar kepada Allah dan Iblis tahu bahwa Allah adalah zat yang Maha Tinggi tiada tara.

Sangat sukar bagi Iblis untuk menyesatkan (menggoda) hamba-hamba Allah yang ikhlas, karena ciri-ciri orang yang ikhlas meliputi, bahwa : – Ia tidak pernah berharap selain kepada Allah; – Ia beribadah dan beramal hanya untuk Allah semata; – Ia tidak mengenal yang namanya pamrih atau upah; – Ia tidak berharap populer atas amal ibadahnya; – Ia tidak pernah ingin merasa dipuji orang; – Ia tidak pernah merasa kecewa terhadap apa-apa yang sekiranya pernah menyakitkan bagi dirinya; dan juga – Ia tidak mudah bangga apabila disanjung atau dipuji. Rasul dan Nabi yang amalannya selalu ikhlas, dan tidak pernah berharap sedikitpun terhadap apa yang dirisalahkannya, sebagai contoh Nabi Ibrahim a.s misalnya, ia yang begitu tegar dalam menghadapi musuh- musuhnya walaupun dibakar api sekalipun, diperintahkan menyembelih putranya yang tercinta (Ismail), Nabi Ibrahim a.s dengan ikhlas patuh terhadap apa yang telah diperintahkan Allah SWT kepadanya, walaupun Iblis sempat menggoda tapi akhirnya Iblis menyerah kalah, dalam percontohan ini jelas bahwa Iblis tidak akan pernah bisa menyesatkan (menggoda) hamba-hamba Allah yang Ikhlas. Dari pengalaman-pengalaman para pembawa risalah yang antara lain telah diuraikan di atas, marilah kita belajar ikhlas dimana saja, kapan saja serta kepada dan bersama siapa saja. Semoga bermanfaat.
Amiiin Ya Rabbal Alamiin, salam .

Sumber:
1. Al Qur’an > Digital Qur’an;
2. Kisah-kisah Al Qur’an, Prof. DR. Abdul Karim Zaidan, Rabbani Press, Jakarta 2001M;
3. Kehidupan dan Perjuangan 25 Nabi dan Rasul, Drs. H.A. Wahyudin, Pustaka Setia, Bandung 2005M;
4. Hakekat Ikhlas dan Indahnya Kesabaran KH. MD. Sirojudin, Vision, Depok 2007M

10 Agustus 2012

Kitab Iman

oleh alifbraja

Bab Ke-1: Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Islam itu didirikan atas lima perkara.”[1] Iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (al-Fath: 4), “Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”(al-Kahfi: 13), “Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Maryam: 76), “Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (Muhammad: 17), “Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya” (al-Muddatstsir: 31), “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya.” (at-Taubah: 124), “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka.” (Ali Imran: 173), dan “Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (kepada Allah).” (al-Ahzab: 22) Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah adalah sebagian dari keimanan.

1.[2] Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Adi sebagai berikut, “Sesungguhnya keimanan itu mempunyai beberapa kefardhuan (kewajiban), syariat, had (yakni batas/hukum), dan sunnah. Barangsiapa mengikuti semuanya itu maka keimanannya telah sempurna. Dan barangsiapa tidak mengikutinya secara sempurna, maka keimanannya tidak sempurna. Jika saya masih hidup, maka hal-hal itu akan kuberikan kepadamu semua, sehingga kamu dapat mengamalkan secara sepenuhnya. Tetapi, jika saya mati, maka tidak terlampau berkeinginan untuk menjadi sahabatmu.” Nabi Ibrahim a.s. pernah berkata dengan mengutip firman Allah, “Walakin liyathma-inna qalbii” ‘Agar hatiku tetap mantap [dengan imanku]‘. (al-Baqarah: 260)

2.[3] Mu’adz pernah berkata kepada kawan-kawannya, “Duduklah di sini bersama kami sesaat untuk menambah keimanan kita.”

3.[4] Ibnu Mas’ud berkata, “Yakin adalah keimanan yang menyeluruh.”

4.[5] Ibnu Umar berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat takwa yang sebenarnya kecuali ia dapat meninggalkan apa saja yang dirasa tidak enak dalam hati.”

5.[6] Mujahid berkata, “Syara’a lakum” (Dia telah mensyariatkan bagi kamu) (asy-Syuura: 13), berarti, “Kami telah mewasiatkan kepadamu wahai Muhammad, juga kepadanya[7] untuk memeluk satu macam agama.”

6.[8] Ibnu Abbas berkata dalam menafsiri lafaz “Syir’atan wa minhaajan”, yaitu jalan yang lempang (lurus) dan sunnah.

7.[9] “Doamu adalah keimananmu sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, “Katakanlah, Tuhanku tidak mengindahkan (memperdulikan) kamu, melainkan kalau ada imanmu.” (al-Furqan: 77). Arti doa menurut bahasa adalah iman.

5. Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima dasar: 1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah; 2) menegakkan shalat; 3) membayar zakat; 4) haji; dan 5) puasa pada bulan Ramadhan.’”

Bab Ke-2: Perkara-Perkara Iman dan firman Allah, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. “(al-Baqarah: 177) Dan firman Allah, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (al-Mu’miniin: 1)

6. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Iman itu ada enam puluh lebih cabangnya, dan malu adalah salah satu cabang iman.”[10]

Bab Ke-3: Orang Islam Itu Ialah Seseorang yang Orang-Orang Islam Lain Selamat dari Ucapan lisannya dan Perbuatan Tangannya

7. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”

Bab Ke-4: Islam Manakah yang Lebih Utama?

8. Abu Musa berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. “‘

Bab Ke-5: Memberikan Makanan Itu Termasuk Ajaran Islam

9. Abdullah bin Amr mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Islam manakah yang lebih baik?” Beliau bersabda, “Kamu memberikan makanan dan mengucapkan salam atas orang yang kamu kenal dan tidak kamu kenal.”

Bab Ke-6: Termasuk Iman Ialah Apabila Seseorang Itu Mencintai Saudaranya (Sesama Muslim) Sebagaimana Dia Mencintai Dirinya Sendiri

10. Anas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”

Bab Ke-7: Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Termasuk Keimanan

11. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya (kekuasaan-Nya), salah seorang di antara kamu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tua dan anaknya.”

12. Anas berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Salah seorang di antaramu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia.’”

Bab Ke-8: Manisnya Iman

13. Dari Anas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran (1/11) sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”

Bab Ke-9: Tanda Keimanan Ialah Mencintai Kaum Anshar

14. Dari Anas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tanda iman adalah mencintai orang-orang Anshar dan tanda munafik adalah membenci orang-orang Anshar”

Bab Ke-10:

15. Dari Ubadah bin Shamit – Ia adalah orang yang menyaksikan yakni ikut bertempur dalam Perang Badar (bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. 4/251). Ia adalah salah seorang yang menjadi kepala rombongan pada malam baiat Aqabah – (dan dari jalan lain: Sesungguhnya aku adalah salah satu kepala rombongan yang dibaiat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.) bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda dan di sekeliling beliau ada beberapa orang sahabatnya (Dalam riwayat lain : ketika itu kami berada di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam suatu majelis 8/15) [dalam suatu rombongan, lalu beliau bersabda 8/18, “Kemarilah kalian”], “Berbaiatlah kamu kepadaku (dalam riwayat lain: Kubaiat kamu sekalian) untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak membunuh anak-anakmu (dan kamu tidak akan merampas). Jangan kamu bawa kebohongan yang kamu buat-buat antara kaki dan tanganmu, dan janganlah kamu mendurhakai(ku) dalam kebaikan. Barangsiapa di antara kamu yang menepatinya, maka pahalanya atas Allah. Barang siapa yang melanggar sesuatu dari itu dan dia dihukum (karenanya) di dunia, maka hukuman itu sebagai tebusannya (dan penyuci dirinya). Dan, barangsiapa yang melanggar sesuatu dari semua itu kemudian ditutupi oleh Allah (tidak terkena hukuman), maka hal itu terserah Allah. Jika Dia menghendaki, maka Dia memaafkannya. Dan, jika Dia menghendaki, maka Dia akan menghukumnya.” (Ubadah berkata ), “Maka kami berbaiat atas hal itu.”

Bab Ke- 11: Lari dari Berbagai Macam Fitnah adalah Sebagian dan Agama

(Imam Bukhari mengisnadkan dalam bab ini hadits Abu Sa’id al-Khudri yang akan datang kalau ada izin Allah dalam Al Manaqib 61/25 – Bab”)

Bab Ke-12: Sabda Nabi Saw., “Aku lebih tahu di antara kamu semua tentang Allah”[11], dan bahwa pengetahuan (ma’rifah ) ialah perbuatan hati sebagaimana firman Allah, “Walaakin yuaakhidzukum bimaa kasabat quluubukum ‘Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) dalam hatimu’.” (al-Baqarah: 225)

16. Aisyah berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. menyuruh mereka, maka beliau menyuruh untuk beramal sesuai dengan kemampuan. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan engkau wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni engkau terhadap dosa yang terdahulu dan terkemudian.’ Lalu beliau marah hingga kemarahan itu diketahui (tampak) di wajah beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling kenal tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya.’”

Bab Ke-13: Barangsiapa yang Benci untuk Kembali kepada Kekufuran Sebagaimana Kebenciannya jika Dilemparkan ke dalam Neraka adalah Termasuk Keimanan

(Imam Bukhari mengisnadkan dalam bab ini hadits Anas yang telah disebutkan pada nomor 13).

Bab Ke-14: Kelebihan Ahli Iman dalam Amal Perbuatan

17. Abu Said al-Khudri berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Ketika aku tidur, aku bermimpi manusia. Diperlihatkan kepadaku mereka memakai bermacam-macam baju, ada yang sampai susu, dan ada yang (sampai 4/201) di bawah itu. Umar ibnul Khaththab diperlihatkan juga kepadaku dan ia memakai baju yang ditariknya.’ Mereka berkata, ‘Apakah takwilnya, wahai Rasulullah?’ Nabi bersabda, ‘Agama.’”

Bab Ke-15: Malu Termasuk Bagian dari Iman

18. Salim bin Abdullah dari ayahnya, mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam lewat pada seorang Anshar yang sedang memberi nasihat (dalam riwayat lain: menyalahkan 7/100) saudaranya perihal malu. (Ia berkata, “Sesungguhnya engkau selalu merasa malu”, seakan-akan ia berkata, “Sesungguhnya malu itu membahayakanmu.”) Lalu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Biarkan dia, karena malu itu sebagian dari iman.”

Bab Ke-16: Firman Allah “Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (at-Taubah: 5)

19. Ibnu Umar ra. mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Saya diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan memberikan zakat. Apabila mereka telah melakukan itu, maka terpelihara daripadaku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam, dan hisab mereka atas Allah.”

Bab Ke-17: Orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya keimanan itu adalah amal perbuatan, berdasarkan pada firman Allah Ta’ala, “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan (dalam kehidupan).” (az-Zukhruf: 72)

8.[12] Ada beberapa orang dari golongan ahli ilmu agama mengatakan bahwa apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam surah al-Hijr ayat 92-93, “Fawarabbika lanas-alannahum ajma’iina ‘ammaa kaanuu ya’maluuna” ‘Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu’, adalah tentang kalimat “laa ilaaha illallaah” ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Dan firman Allah, “Limitsli haadzaa falya’malil ‘aamiluun” ‘Untuk kemenangan semacam ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja’.” (ash-Shaaffat: 61)

20. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. ditanya, “Apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad (berjuang) di jalan Allah.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.”

Bab Ke-18: Jika masuk Islam tidak dengan sebenar-benarnya tetapi karena ingin selamat atau karena takut dibunuh. Hal tersebut dapat terjadi, karena Allah telah berfirman, “Orang-orang Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk.” (al-Hujuurat: 14). Dan, jika masuk Islam dengan sebenar-benarnya, maka hal itu didasarkan pada firman Allah, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (Ali Imran: 19), “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya.”(Ali-Imran: 85)

21. Dari Sa’ad bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. memberikan kepada sekelompok orang, dan Sa’ad sedang duduk, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam meninggalkan seorang laki-laki (Beliau tidak memberinya, dan 2/131). Lelaki itu adalah orang yang paling menarik bagi saya (lalu saya berjalan menuju Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan saya membisikkan kepadanya) lantas saya berkata, “wahai Rasulullah, ada apakah engkau terhadap Fulan? Demi Allah saya melihat dia seorang mukmin.” Beliau berkata, “Atau seorang muslim.” Saya diam sebentar, kemudian apa yang saya ketahui dari Beliau itu mengalahkan saya, lalu saya ulangi perkataan saya. Saya katakan, “Ada apakah engkau terhadap Fulan? Demi Allah saya melihatnya sebagai sebagai seorang mukmin.” Beliau berkata, “Atau seorang muslim”. Saya diam sebentar, kemudian apa yang saya ketahui dari Beliau mengalahkan saya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. mengulang kembali perkataannya. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. menepukkan tangannya di antara leher dan pundakku). Kemudian beliau bersabda, “(Kemarilah) wahai Sa’ad! Sesungguhnya saya memberikan kepada seorang laki-laki sedang orang lain lebih saya cintai daripada dia, karena saya takut ia dicampakkan oleh Allah ke dalam neraka.”

Abu Abdillah berkata, “Fakubkibuu ‘dibolak-balik’. Mukibban, seseorang itu akabba apabila tindakannya tidak sampai menjadi kenyataan terhadap seseorang lainnya. Apabila tindakan itu terjadi dalam kenyataan, maka saya katakan, “Kabbahul-Laahu bi wajhihi ‘Allah mencampakkan wajahnya’, wa kababtuhu ana ‘dan saya mencampakkannya’.” [Abu Abdillah berkata, “Shalih bin Kaisan[13] lebih tua daripada az-Zuhri, dan dia telah mendapati Ibnu Umar” 2/132].

Bab ke-19: Salam Termasuk Bagian Dari Islam

9.[14] Ammar berkata, “Ada tiga perkara yang barangsiapa yang dapat mengumpulkan ketiga hal itu dalam dirinya, maka ia telah dapat mengumpulkan keimanan secara sempurna. Yaitu, memperlakukan orang lain sebagaimana engkau suka dirimu diperlakukan oleh orang lain, memberi salam terhadap setiap orang (yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal), dan mengeluarkan infak di jalan Allah, meskipun hanya sedikit.”

(Saya [Al-Albani] mengisnadkan dalam bab ini hadits yang telah disebutkan di muka pada nomor 9 [bab 5]).

Bab Ke-20: Mengkufuri Suami, dan Kekufuran di Bawah Kekufuran

Dalam bab ini terdapat riwayat Abu Said dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. (Saya katakan, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sepotong dari hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada [16 – al-Kusuf / 8 – Bab]).”

Bab Ke-21: Kemaksiatan Termasuk Perbuatan Jahiliah, dan Pelakunya tidak Dianggap Kafir Kecuali Jika Disertai dengan Kemusyrikan, mengingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., “‘Sesungguhnya kamu adalah orang yang ada sifat kejahiliahan dalam dirimu’.” Dan firman Allah Ta’ala, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya’.” (an-Nisaa’: 48)

Bab Ke-22: “Apabila Dua Golongan Kaum Mukminin Saling Berperang, Maka Damaikanlah Antara Keduanya Itu” (al-Hujuraat : 9), dan Mereka Itu Tetap Dinamakan Kaum Mukminin.

22. Ahnaf bin Qais berkata, “Aku pergi (dengan membawa senjataku pada malam-malam fitnah 8/92) hendak memberi pertolongan kepada orang lain, (dalam riwayat lain: anak paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.) kernudian aku bertemu Abu Bakrah, lalu ia bertanya, ‘Hendak ke manakah kamu?’ Aku menjawab, ‘Aku hendak memberi pertolongan kepada orang ini.’ Abu Bakrah berkata, ‘Kembali sajalah.’ Karena saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Apabila dua orang Islam bertemu dengan pedangnya (berkelahi), maka orang yang membunuh dan orang yang dibunuh sama-sama di neraka.’ Lalu kami bertanya, ‘Ini yang membunuh, lalu bagaimanakah orang yang dibunuh?’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ia (orang yang terbunuh) berkeinginan keras untuk membunuh temannya.’”

Bab Ke-23: Kezaliman yang Tingkatnya di Bawah Kezaliman

23. Abdullah (bin Mas’ud) berkata, “Ketika turun [ayat ini 8/481, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk’ (al-An’aam: 82), maka hal itu dirasa sangat berat oleh sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. (Maka mereka berkata, ‘Siapakah gerangan di antara kita yang tidak pernah menganiaya dirinya?’ Lalu Allah menurunkan ayat, ‘Sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang besar.’ (Luqman: 13) (Dan dalam riwayat lain : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, Tidak seperti yang kamu katakan itu. (Mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman). Itu ialah kemusyrikan. Apakah kamu tidak mendengar perkataan Luqman kepada anaknya bahwa sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang besar?)

Bab Ke-24: Tanda-Tanda Orang Munafik

24. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Tanda tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila dipercaya dia berkhianat.”

25. Abdullah bin Amr mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Empat (sikap 4/69) yang barangsiapa terdapat pada dirinya keempat sikap itu, maka dia adalah seorang munafik yang tulen. Barangsiapa yang pada dirinya terdapat salah satu dari sifat sifat itu, maka pada dirinya terdapat salah satu sikap munafik itu, sehingga dia meninggalkannya. Yaitu, apabila dipercaya dia berkhianat (dan dalam satu riwayat: apabila berjanji dia ingkar), apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia menipu, dan apabila bertengkar dia curang.”

Bab Ke-25: Mendirikan Shalat Pada Malam Lailatul Qadar Termasuk Keimanan

26. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, bersabda, ‘Barangsiapa yang menegakkan (shalat) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka diampunilah dosanya yang telah lalu.'”

Bab Ke-26: Melakukan Jihad Termasuk Keimanan

27. Abu Hurairah mengatakan bahwa (dan dalam jalan lain disebutkan: Dia berkata, “Saya mendengar 3/203) Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Allah menjamin orang yang keluar di jalan Nya, yang tidak ada yang mengeluarkannya kecuali karena iman kepada Nya dan membenarkan rasul-rasul Nya, bahwa Dia akan memulangkannya dengan mendapatkan pahala atau rampasan (perang), atau Dia memasukkannya ke dalam surga. Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, niscaya saya tidak duduk-duduk di belakang. (Dari jalan lain disebutkan: Demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, kalau bukan karena khawatir bahwa banyak orang dari kaum mukminin tidak senang hatinya ketinggalan dari saya, dan saya tidak dapat mengangkut mereka, niscaya saya tidak akan tertinggal dari 3/ 203) pasukan [yang berperang di jalan Allah]. [Tetapi, saya tidak mendapatkan kendaraan dan tidak mendapatkan sesuatu untuk mengangkut mereka, dan berat bagi saya kalau mereka tertinggal dari saya 8/11]. [Dan demi Zat yang diriku berada dalam genggaman Nya 8/ 128] sesungguhnya saya ingin terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi.”

Bab Ke-27: Melakukan Sunnah Shalat Malam Bulan Ramadhan Termasuk Keimanan

28. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa menunaikan shalat malam Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharap keridhaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”

Bab Ke-28: Melakukan Puasa Ramadhan Karena Mengharap Keridhaan Allah Termasuk Keimanan

29. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”

Bab Ke-29: Agama Itu Mudah,[15] dan Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Agama yang Paling Dicintai Allah Ialah yang Lurus dan Lapang.”

30. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak akan seseorang memberat-beratkan diri dalam beragama melainkan akan mengalahkannya. Maka, berlaku luruslah, berlaku sedanglah, bergembiralah, dan mintalah pertolongan pada waktu pagi, sore, dan sedikit pada akhir malam.”

Bab Ke-30: Shalat Termasuk Iman, dan Firman Allah, “Allah tidak akan menyia-nyiakan keimananmu”, yakni Shalatmu di Sisi Baitullah

31. Al-Barra’ mengatakan bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. pertama kali tiba di Madinah, beliau singgah pada kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari kaum Anshar. Beliau melakukan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Tetapi, beliau senang kalau kiblatnya menghadap ke Baitullah. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: dan beliau ingin menghadap ke Ka’bah 1/104). Shalat yang pertama kali beliau lakukan ialah shalat ashar, dan orang-orang pun mengikuti shalat beliau. Maka, keluarlah seorang laki-laki yang telah selesai shalat bersama beliau, lalu melewati orang-orang di masjid [dari kalangan Anshar masih shalat ashar dengan menghadap Baitul Maqdis] dan ketika itu mereka sedang ruku. Lalu laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya aku telah selesai melakukan shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dengan menghadap ke Mekah.” Maka, berputarlah mereka sebagaimana adanya itu menghadap ke arah Baitullah [sambil ruku 8/134], [sehingga mereka semua menghadap ke arah Baitullah].
Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab suka kalau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Maka, ketika beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mereka mengingkari hal itu, [lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat 144 surat al-Baqarah, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.” Lalu, beliau menghadap ke arah Ka’bah. Maka, berkatalah orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang Yahudi, “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah, “Kepunyaan Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” 7/104]. [Dan orang-orang yang telah meninggal dunia dan terbunuh dengan masih menghadap kiblat sebelum dipindahkannya kiblat itu, maka kami tidak tahu apa yang harus kami katakan tentang mereka, lalu Allah menurunkan ayat, “Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Surat al-Baqarah – 143)].

Bab Ke-31: Baiknya Keislaman Seseorang

6.[16] Abu Sa’id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya.”

32. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, Apabila seseorang di antara kamu memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dilakukannya ditulis untuknya sepuluh kebaikan yang seperti itu hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap kejelekan yang dilakukannya ditulis untuknya balasan yang sepadan dengan kejelekan itu.”

Bab Ke-32: Amalan dalam Agama yang Paling Dicintai Allah Azza wa Jalla Ialah yang Dilakukan Secara Konstan (Terus Menerus / Berkesinambungan)

33. Aisyah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam: masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang wanita [dari Bani Asad 2/48], lalu Nabi bertanya, “Siapakah ini?” Aisyah menjawab, “Si Fulanah [ia tidak pernah tidur malam], ia menceritakan shalatnya.” Nabi bersabda, “Lakukanlah [amalan] menurut kemampuanmu. Karena demi Allah, Allah tidak merasa bosan (dan dalam satu riwayat: karena sesungguhnya Allah tidak merasa bosan) sehingga kamu sendiri yang bosan. Amalan agama yang paling disukai-Nya ialah apa yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinu (terus menerus / berkesinambungan).”

Bab Ke-33: Keimanan Bertambah dan Berkurang. Firman Allah, “Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (al-Muddatstsir: 31) dan “Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu” (al-Maa’idah: 3). Apabila seseorang meninggalkan sebagian dari kesempurnaan agamanya, maka agamanya tidaklah sempurna.

34. Anas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’ dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 – di dalam riwayat yang mu’alaaq: iman [17]) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’, sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’, sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom.”

35. Umar ibnul-Khaththab mengatakan bahwa seorang Yahudi berkata (dan dalam suatu riwayat: beberapa orang Yahudi berkata 5/127) kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, suatu ayat di dalam kitabmu yang kamu baca seandainya ayat itu turun atas golongan kami golongan Yahudi, niscaya kami jadikan hari raya.” Umar bertanya, “Ayat mana itu?” Ia menjawab, “Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii waradhiitu lakumul islaamadiinan” ‘Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan atasmu nikmat-Ku dan Aku rela Islam sebagai agamamu’.” Lalu Umar berkata, “Kami telah mengetahui hari itu dan tempat turunnya atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., yaitu beliau sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat. [Demi Allah, saya pada waktu itu berada di Arafah].”

Bab Ke-34: Membayar Zakat adalah Sebagian dari Islam. Firman Allah, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

36. Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Seorang laki-laki (dalam satu riwayat disebutkan: seorang Arab dusun 2/225) penduduk Najd datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. dengan morat-marit (rambut) kepalanya. Kami mendengar suaranya tetapi kami tidak memahami apa yang dikatakannya sehingga dekat. Tiba-tiba ia bertanya tentang Islam (di dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah shalat yang diwajibkan Allah atas diriku?). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Shalat lima kali dalam sehari semalam.” Lalu ia bertanya lagi, “Apakah. ada kewajiban atasku selainnya?” Beliau bersabda, “Tidak, kecuali kalau engkau melakukan yang sunnah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Dan puasa (dan di dalam satu riwayat disebutkan: “Beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah puasa yang diwajibkan Allah atasku?” Lalu beliau menjawab, “Puasa pada bulan”) Ramadhan.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban atasku selainnya?” Beliau bersabda, “Tidak, kecuali sunnah.” [Lalu dia berkata, “Beri tahukanlah kepadaku, apakah zakat yang diwajibkan Allah atasku?” 2/225]. Thalhah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. menyebutkan kepadanya zakat” (Dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memberitahukan kepadanya tentang syariat-syariat Islam). Lalu dia bertanya, “Apakah ada kewajiban selainnya atas saya?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali jika engkau mau melakukan yang sunnah.” Kemudian laki-laki itu berpaling seraya berkata, “Demi Allah, saya tidak menambah dan tidak pula mengurangi [sedikit pun dari apa yang telah diwajibkan Allah atas diri saya] ini.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Berbahagialah dia, jika (dia) benar.”

Bab Ke-35: Mengantarkan Jenazah adalah Sebagian dari Keimanan

37. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang mengiringkan jenazah orang Islam karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, dan ia bersamanya sehingga jenazah itu dishalati dan selesai dikuburkan, maka ia kembali mendapat pahala dua qirath yang masing-masing qirath seperti Gunung Uhud. Barangsiapa yang menyalatinya kemudian ia kembali sebelum dikuburkan, maka ia kembali dengan (pahala) satu qirath.”

Bab Ke-36: Kekhawatiran Orang yang Beriman jika Sampai Terhapus Amalnya Tanpa Disadarinya

9.[18] Ibrahim at Taimi berkata, ‘Tidak pernah perkataanku sebelum aku melakukan (atau) aku menunjukkan amal perbuatanku, melainkan aku takut kalau-kalau aku nanti akan disudutkan oleh amalan yang tidak jadi aku lakukan.”

10.[19] Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku mengunjungi tiga puluh sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan masing-masing khawatir dengan munafik dan tak seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa keimanannya sama kuatnya seperti yang ada pada Jibril dan Mikail.”

11.[20] Al-Hasan al-Bashri berkata, ‘Tiada seorang pun yang takut akan hal itu (yakni kemunafikan) melainkan ia adalah orang mukmin yang sebenar-benarnya dan tiada seorang pun yang merasa aman akan hal itu melainkan ia pasti seorang yang munafik.”

38. Ziad berkata, “Aku bertanya kepada Wa-il tentang golongan Murji-ah,[21] lalu dia berkata, ‘Aku diberi tahu oleh Abdullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda’, “Mencaci maki orang muslim adalah fasik dan memeranginya adalah kafir.”

Bab Ke-37: Pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam tentang iman, Islam, ihsan, pengetahuan tentang hari kiamat, dan keterangan yang diberikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. kepadanya, lalu beliau bersabda, “Malaikat Jibril as. datang untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian.” Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. menganggap bahwa semuanya itu sebagai agama.[22] Semua yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. kepada tamu Abdul Qais (tersebut) termasuk keimanan. Dan firman Allah, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu daripadanya. ” (Ali Imran : 85)

(Saya berkata, “Dalam hal ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Jibril yang diisyaratkan itu dari hadits Abu Hurairah yang akan datang [65-at-Tajsir/21-asSurah 2-Bab]“).

Abu Abdillah berkata, “Beliau menjadikan semua itu termasuk keimanan.”

Bab Ke-38:

(Saya berkata, “Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dan hadits Abu Sufyan yang panjang dalam dialognya dengan Heraklius sebagaimana yang akan disebutkan pada “56 – al-Jihad/102 – BAB…..”)”

Bab Ke-39: Keutamaan Orang yang Membersihkan Agamanya

39. An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (dan dalam satu riwayat: perkara-perkara musytabihat / samar, tidak jelas halal-haramnya, 3/ 4), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. (Dalam satu riwayat disebutkan bahwa barangsiapa yang meninggalkan apa yang samar atasnya dari dosa, maka terhadap yang sudah jelas ia pasti lebih menjauhinya; dan barangsiapa yang berani melakukan dosa yang masih diragukan, maka hampir-hampir ia terjerumus kepada dosa yang sudah jelas). Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya (dan dalam satu riwayat: kemaksiatan-kemaksiatan itu adalah tanah larangan Allah). Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.”

Bab Ke-40: Memberikan Seperlima dari Harta Rampasan Perang Termasuk Keimanan

40. Abi Jamrah berkata, “Aku duduk dengan Ibnu Abbas dan ia mendudukkan aku di tempat duduknya. Dia berkata, Tinggallah bersamaku sehingga aku berikan untukmu satu bagian dari hartaku.’ Maka, aku pun tinggal bersamanya selam dua bulan. (Dan dalam satu riwayat: ‘Aku menjadi juru bicara antara Ibnu Abbas dan masyarakat 1/ 30). (Kemudian pada suatu saat dia berkata kepadaku). (Dan dalam satu riwayat: Aku berkata kepada Ibnu Abbas, ‘Sesungguhnya aku mempunyai guci untuk membuat nabidz ‘minuman keras’, lalu aku meminumnya dengan terasa manis di dalam guci itu jika aku habis banyak. Kemudian aku duduk bersama orang banyak dalam waktu yang lama karena aku takut aku akan mengatakan sesuatu yang memalukan.’ (Lalu Ibnu Abbas berkata 5/116), ‘Sesungguhnya utusan Abdul Qais ketika datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., beliau bertanya, ‘Siapakah kaum itu atau siapakah utusan itu?’ Mereka menjawab, ‘[Kami adalah satu suku dari 7/114] Rabi’ah.’ (Dan dalam satu riwayat: ‘Maka kami tidak dapat datang kepadamu kecuali pada setiap bulan Haram’ 4/157). Beliau bersabda, ‘Selamat datang kaum atau utusan (yang datang) tanpa tidak kesedihan dan penyesalan.” Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak dapat datang kepada engkau kecuali pada bulan Haram, karena antara kita ada perkampungan ini yang (berpenghuni) kafir mudhar. [Kami datang kepadamu dari tempat yang jauh], maka perintahkanlah kami dengan perintah yang terperinci (dan dalam satu riwayat: dengan sejumlah perintah). [Kami ambil dari engkau dan 1/133] kami beri tahukan kepada orang-orang yang di belakang kami dan karenanya kami masuk surga [jika kami mengamalkannya’ 8/217]. Mereka bertanya kepada beliau tantang minuman. Lalu beliau menyuruh mereka dengan empat perkara dan melarang mereka (dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, ‘Aku perintahkan kamu dengan empat perkara dan aku larang kamu) dari empat perkara, yaitu aku perintahkan kamu beriman kepada Allah (Azza wa Jalla) saja.’ Beliau bertanya, ‘Tahukah kalian apakah iman kepada Allah sendiri itu? Mereka berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah [dan beliau menghitung dengan jarinya 4/44], mendirikan shalat, memberikan zakat, puasa Ramadhan, dan kalian memberikan harta seperlima harta rampasan perang. Lalu, beliau melarang mereka dari empat hal yaitu (dan dalam satu riwayat: Janganlah kamu minum dalam) guci hijau, labu kering, pohon korma yang diukir, dan sesuatu yang dilumuri fir (empat hal ini adalah alat untuk membuat minuman keras).’ Barangkali beliau bersabda (juga), ‘Barang yang dicat.’ Dan beliau bersabda, ‘Peliharalah semua itu dan beri tahukanlah kepada orang yang di belakang kalian!”

Bab Ke-41: Keterangan tentang apa yang terdapat dalam hadits bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niat dan harapan memperoleh pahala dari Allah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Bab ini meliputi keimanan, wudhu, shalat, zakat, haji, puasa, dan hukum-hukum. Allah berfirman, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. ” (al-Israa’: 84)

10.[23] Nafkah yang dikeluarkan seorang laki-laki untuk keluarganya dengan niat untuk memperoleh suatu pahala dari Allah adalah sedekah.

11.[24] Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tetapi jihad dan niat.”

Bab Ke-42: Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Agama adalah nasihat (kesetiaan) kepada Allah, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan umat nya.”[25] Dan firman Allah Ta’ala, “Apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul Nya.”(at-Taubah: 91)

41. Jarir bin Abdullah berkata, “Saya berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. untuk [bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan 3/27] mendirikan shalat, memberikan zakat, [mendengar dan patuh, lalu beliau mengajarkan kepadaku apa yang mampu kulakukan 8/122], dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” Dan, menurut riwayat lain dari Ziyad bin Ilaqah, ia berkata, “Saya mendengar Jarir bin Abdullah berkata pada hari meninggalnya Mughirah bin Syu’bah. Ia (Jarir) berdiri, lalu memuji dan menyanjung Allah, lalu berkata, ‘Hendaklah kamu semua bertakwa kapada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Juga hendaklah kamu semua bersikap tenang dan tenteram sehingga amir, penguasa daerah, datang padamu, sebab ia nanti akan datang ke sini.’ Kemudian ia berkata lagi, ‘Berilah maaf pada amirmu (pemimpinmu), sebab pemimpin (kalian) senang memberi maaf orang lain. Seterusnya Jarir berkata, ‘Amma ba’du, (kemudian) aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan aku berkata, ‘Aku berbaiat kepadamu atas Islam.’ Lalu beliau mensyaratkan atasku agar menasihati setiap muslim. Maka, saya berbaiat kepada beliau atas yang demikian ini. Demi Tuhan Yang Menguasai masjid ini, sesungguhnya aku ini benar-benar memberikan nasihat kepada kamu sekalian.’ Sehabis itu ia mengucapkan istighfar (mohon pengampunan kepada Allah), lalu turun (yakni duduk).”

Catatan Kaki:

[1] Ini adalah potongan dari hadits Ibnu Umar, yang di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dalam bab ini.

[2] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab al-Iman nomor 135 dengan pentahkikan saya, dan sanadnya adalah sahih. Ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Iman sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh.

[3] Di-maushul-kan juga oleh Ibnu Abi Syaibah nomor 105 dan 107, dan oleh Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dalam Al-Iman juga nomor 30 dengan pentahkikan saya dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad.

[4] Di-maushul-kan oleh Thabrani dengan sanad sahih dari Ibnu Mas’ud secara mauquf, dan diriwayatkan secara marfu’ tetapi tidak sah, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh.

[5] Al-Hafizh tidak memandangnya maushul. Akan tetapi, hadits yang semakna dengan ini terdapat di dalam Shahih Muslim dan lainnya dari hadits an-Nawwas secara marfu. Silakan Anda periksa kalau mau di dalam kitab saya Shahih al-Jami’ ash-Shaghir (2877).

[6] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid darinya.

[7] Yakni Nuh a.s. sebagaimana disebutkan dalam konteks ayat, “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya) orang yang kembali (kepada-Nya). ” (asy-Syuura: 13)

[8] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq di dalam Tafsirnya dengan sanad sahih darinya (Ibnu Abbas).

[9] Di-maushul-kan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas juga.

[10] Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dengan lafal Sab’uuna ‘tujuh puluh’, dan inilah yang kuat menurut pendapat saya, mengikuti pendapat Al-Qadhi Iyadh dan lainnya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam Silsilatul Ahaditsish Shahihah (17).

[11] Ini adalah potongan dari hadits Aisyah yang akan datang dalam bab ini secara maushul.

[12] Al-Hafizh berkata, “Di antaranya adalah Anas, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lain-lainnya, tetapi di dalam isnadnya terdapat kelemahan. Dan di antaranya lagi Ibnu Umar sebagaimana disebutkan dalam Tafsir ath-Thabari dan kitab Ad-Du’a karya ath-Thabrani. Dan di antaranya lagi adalah Mujahid sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Abdur Razzaq, dan lain-lainnya.”

[13] Saya katakan, “Yakni yang disebutkan pada salah satu jalan periwayatan hadits ini.”

[14] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (131) dengan sanad sahih dari Ammar secara mauquf. Lihat takhrijnya di dalam catatan kaki saya terhadap kitab Al-Kalimuth Thayyib nomor 142, terbitan Al-Maktabul-Islami.

[15] Di-maushul-kan oleh penyusun di dalarn Al-Adabul Mufrad dan oleh Ahmad dan lain-lainnya dari hadits Ibnu Abbas recara marfu’, sedangkan dia adalah hadits hasan sebagaimana sudah saya jelaskan dalam Al-Ahaadiitsush Shahihah (879).

[16] Hadits Ini menurut penyusun (Imam Bukhari) rahimahullah adalah mu’allaq, dan dia di-maushul-kan oleh Nasaa’i denqan sanad sahih, sebagaimana telah ditakhrij dalam Al-Ahaadiitsush Shahihah (247).

[17] Di-maushul-kan oleh Hakim dalam Kitab Al-Arba’in dan di situ Qatadah menyampaikan dengan jelas dengan menggunakan kata tahdits ‘diinformasikan’ dari Anas. Saya (Al-Albani) katakan, “Dan di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dari jalan lain dari Anas di dalam hadits safa’at yang panjang, dan akan disebutkan pada “(7 -At-Tauhid / 36)”.

[18] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam At-Tarikh dan Ahmad dalam Az-Zuhd dengan sanad sahih darinya.

[19] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam Tarikh-nya, tetapi dia tidak menyebutkan jumlahnya. Demikian pula Ibnu Nashr di dalam Al-Iman, dan Abu Zur’ah ad-Dimasyqi di dalam Tarikh-nya dari jalan lain darinya sebagaimana disebutkan di sini.

[20] Di-maushul-kan oleh Ja’far al-Faryabi di dalam Shifatul Munafiq dari beberapa jalan dengan lafal yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan sahihnya riwayat ini darinya. Maka, bagaimana bisa terjadi penyusun meriwayatkannya dengan menggunakan kata-kata “wa yudzkaru” ‘dan disebutkan’ yang mengesankan bahwa ini adalah hadits dhaif? Al-Hafizh menjawab hal itu yang ringkasnya bahwa penyusun (Imam Bukhari) tidak mengkhususkan redaksi tamridh ‘melemahkan’ ini sebagai melemahkan isnadnya, bahkan dia juga menyebutkan matan dengan maknanya saja atau meringkasnya juga. Hal ini perlu dipahami karena sangat penting.

[21] Mereka adalah salah satu dari kelompok-kelompok sesat. Mereka berkata, “Maksiat itu tidak membahayakan iman.”

[22] Menunjuk hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan secara maushul sesudah dua bab lagi.

[23] Ini adalah bagian dari hadits Abu Mas’ud al-Badri yang di-maushul-kan oleh penyusun pada (69 – an-Nafaqat / 1- BAB).

[24] Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan secara maushul pada (56 al-Jihad / 27-BAB).

[25] Di-maushul-kan oleh Muslim dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari, dan hadits ini telah ditakhrij dalam Takhrij al-Halal (328) dan Irwa-ul Ghalil (25).

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

29 Juli 2012

Ruh yang berdzikir

oleh alifbraja

Ketika kita berdzikirdengan posisi duduk menghadap qiblat dan jangan bergerak. Qolbu juga kita suarakan (dzikir Kolbu) Allah… Allah… Allah… terus sampai badan kita tak merasakan apa-apa. Qolbu terus bersuara….. masukkan lagi ke kedalaman yang paling dalam, lalu suarakan lagi dzikrullah ke kedalaman yang paling dalam itu, bersuara Allah… Allah… Allah… Setelah itu dengarkan dengan qolbu-mu, samakan dengan suara qolbumu. Sampai muncul adanya getaran. Dan rasakan getaran, kehidupan Ruh terasa hidup dan makin hidup, hidup yang lebih hidupi dengan hidupnya Ruh yang sedang berdzikir. Dan kita bisa katakan ; Hidup Dalam Ruh yang Sedang Berdzikir. Dan kita bisa lebih mengenal Ruh kita dengan dzikrullah.

sabda Rosullulah Muhamad Saw;

لِكُلِّ شَىْءٍ صَقَالَةٌ وَصَقَالَةُ الْقَلْبِ ذِكْرُاللهِ

“Bahwasanya bagi tiap sesuatu ada alat untuk mensucikan dan alat untuk mensucikan Qolbu itu ialah Dzikrullah.”

Pintu awal memasuki alam Ruh adalah lewat qolbu, kalau qolbu sudah dibersihkan dengan dzikir qolbu, maka lambat laun Ruh ikut menyuarakan dzikir. Dalam fase ini prosesnya melalui ritual-ritual Khusus. Dengan mengkhususkan diri dalam menjalankan ritual, maka kebersihan qolbu akan nampak dari kebeningan dalam pemikiran, karena qolbu selalu mengumandangkan dzikir, sedangkan Ruh, dalam kondisi kesuciannya, ikut melantunkan dzikir. Dzikirnya Ruh mampu merontokkan hijab jiwa yang sekian lama membelenggunya yang sulit dipisahkan.

Dalam surat As-Syam ayat 9 dan 10, Allah swt berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكَّهاَ ( 9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا (10)

9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya

10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya.

Selalu Berdzikir kepada Allah swt akan senantiasa menguatkan iman dan taqwa seseorang, sekaligus membersihkan qolbu serta Ruh. Dalam perjalanan hidupnya, yang dipikirkan hanya pendekatan diri kepada Allah swt. Ilham-ilham pun sering didapatkan, menerima ilham lewat qolbu dan Ruh sebagaimana firman Allah swt. Dalam surat As-Syam ayat 8:

فَاَلْهَمَهَافُجُوْرَهَاوَتَقْوَهَا (الشَّمْس 8)

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu(jalan) kefasikan dan (jalan) ketaqwaannya”(As-Syam ayat 8).

Jadi Allah swt juga masih menguji dan memberi cobaan kepada orang yang taqwa, cobaan itu berupa: kejelekan serta kehinaan. Apakah dia Oleng, goyahkah taqwanya? Atau tambah kokoh taqwanya? Sesungguhnya orang-orang yang taqwa, dia mampu mengantisipasi dan menangkal dengan kesabaran dan ketabahan hati. Dia tetap tegar dalam menghadapi segala cobaan yang menimpanya dan senantiasa mengokohkan posisi dalam kesuciannya yang tidak akan dicemari oleh siapapun. Karena Ruh tetap suci. Jadi yang bisa dikotori itu adalah jiwa bagian luar, itu-pun hanya limbasan dari kotornya qolbu yang dililit pengaruh dari hawa nafsu serta keinginan yang menyesatkan. Wallahu a’lam.

23 Juli 2012

HAKEKAT MUHAMMAD DAN WIHDATUL WUJUD

oleh alifbraja

hakikat muhammad

Ketahuilah, semoga engkau diberi taufiq kepada segala yang dicintai dan diridhai Allah. Makhluk yang pertama yang diciptakan Allah adalah Ruh Muhammad s.a.w. Ia diciptakan daripada cahaya Jamal Allah. Sebagaimana firman Allah di dalam Hadits Qudsi: “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-Ku”. Nabi s.a.w. bersabda:

“Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah akal.”

Ruh, cahaya, qalam, dan akal pada dasarnya adalah satu, yaitu hakikat Muhammad. Hakikat Muhammad disebut nur, karena bersih dari segala kegelapan yang menghalangi sebagaimana firman Allah:

“Telah datang kepadamu cahaya dan kitab penerang dari Allah”.

Hakikat Muhammad disebut juga akal, karena ia yang menemukan segala sesuatu. Hakikat Muhammad disebut qalam, karena ia yang menjadi sebab perpindahan ilmu seperti halnya mata pena sebagai pengalih ilmu di dalam huruf (pengetahuan yang tertulis). Ruh Muhammad adalah ruh yang termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sesuai dengan sabda Rasul s.a.w.:

“Aku dari Allah dan makhluk lain dari aku.”

Dan dari ruh Muhammad itulah Allah menciptakan semua ruh di alam Lahut dalam bentuk yang terbaik yang hakiki. Itulah nama seluruh manusia di alam Lahut. Alam Lahut adalah negeri asal setelah 4.000 tahun dari penciptaan Ruh Muhammad maka Allah menciptakan Arasy dari Nur Muhammad. Begitu pula seluruh makhluk lainnya diciptakan dari Nur Muhammad.

Selanjutnya ruh-ruh diturunkan ke alam yang terendah, dimasukkan pada makhluk yang terendah, yaitu jasad. Sebagaimana firman Allah: “Kemudian Ku turunkan manusia ke tempat yang terendah”. Proses turunnya adalah setelah ruh diciptakan di alam Lahut, maka diturunkan ke alam Jabarut dan dibalut dengan cahaya Jabarut. Sebagai pakaian antara dua haram lapis kedua ini disebut ruh Sultani. Selanjutnya diturunkan lagi ke alam Malakut dan dibalut dengan cahaya Malakut yang disebut ruh Ruhani. Kemudian diturunkan lagi ke alam Mulki dan dibalut dengan cahaya Mulki. Lapis keempat ini disebut ruh Jismani.

Selanjutnya Allah menciptakan badan (jasad) dan Mulki (bumi), sebagaimana firman Allah:

Dari bumi Aku mencipta kamu. Kepada bumi Aku mengembalikanmu. Dan dari bumi pulalah Aku mengelurkanmu.”

Setelah terwujud jasad, maka Allah memerintahkan ruh agar masuk ke dalam jasad dan ruh masuk ke dalam jasad, sebagaimana firman Allah: “Ku tiupkan ruh dari-Ku dalam jasad”.

Ketika ruh berada di dalam jasad dan merasa senang berada pada jaad, ruh lupa akan perjanjian awal di alam Lahut, yaitu hari perjanjian: “Alastu birabbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?) Ruh menjawab: “Benar, Engkau adalah Tuhan kami”. Karena ruh lupa pada perjanjian awal, maka ruh tidak dapat kembali ke dalam Lahut sebagai tempat awal. Dengan kasihnya Allah menolong mereka dengan menurunkan kitab-kitab samawi sebagai peringatan tentang negeri asal bagi mereka, sesuai dengan firman Allah: “Berikanlah peringatan pada mereka tentang hari-hari Allah”, yaitu hari pertemuan antara Allah dengan seluruh arwah di alam Lahut. Lain halnya dengan para nabi, mereka datang ke bumi, dan kembali ke akhirat badannya di bumi, sedangkan ruh intinya berada di negeri asal karena adanya peringatan ini. Sangat sedikit orang yang sadar dan kembali serta berkeinginan dan sampai ke alam asal.

Karena sedikitnya manusia yang mampu kembali ke alam asal, maka Allah melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad Rasulullah. Penutup penunjuk jalan dari kesesatan ke alam terang. Ia diutus untuk mengingatkan mereka yang lupa dan membuka hatinya. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai serta bertemu dengan Jamal Allah yang azali, sesuai dengan firman Allah:

“Katakanlah: ini adalah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah dengan pandangan yang jelas. Aku dan para pengikutku”.

Nabi bersabda:

“Para sahabatku seperti bintang-bintang, mengikut yang mana pun kamu akan mendapat petunjuk”.

Pada ayat tadi dijelaskan bahwa Nabi mengajak manusia kembali kepada Allah dengan pandangan yang jelas, yang di dalam Al-Quran disebut basyirah. Basyirah ini adalah ruh asli yang terbuka pada mata hati bagi para aulia. Basyirah tidak akan terbuka hanya dengan ilmu zahir sahaja, tetapi untuk membukanya harus dengan ilmu Ladunni batin (ilmu yang langsung dari Allah). Sesuai dengan firman Allah: “Kepada dia Ku berikan ilmu yang langsung dari Aku.” Untuk menghasilkan basyirah manusia mengambilnya dari ahli basyirah dengan mengambil talqin dari seorang wali mursyid yang dapat menunjukkan dari alam Lahut.

Wahai saudaraku, sadarlah dan bergegaslah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu, sebagaimana firman Allah:

“Bergegaslah kamu untuk mendapat ampunan dari Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Wahai saudaraku, masuklah pada tariq (jalan kembali kepada Allah) dan kembalilah kepada Tuhanmu bersama golongan ahli ruhani. Waktu sangat sempit, jalan hampir tertutup dan sulit mencari teman untuk kembali ke negeri asal (alam Lahut). Keberadaan kita di bumi yang hina dan yang akan hancur ini tidak hanya untuk berpangku dengan makan, minum dan memenuhi nafsu belaka.

Seorang ahli Sya’ir berkata: “Nabimu selalu menunggu, sangat khawatir memikirkanmu”. Sabda Nabi: “Aku mengkhawatirkan umatku yang ada di akhir zaman”.

Ada dua macam ilmu yang diturunkan kepada kita, yaitu:

  1. Ilmu zahir, yakni syariat.
  2. Ilmu batin, yakni ma’rifat.

Syariat untuk jasad kita dan ma’rifat untuk batin. Kedua-duanya harus dipadu dan dari perpaduannya membuahkan hakikat, seperti halnya pohon dan daun yang menghasilkan buah, sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-rahman ayat 19-20:

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”.

Dengan ilmu zahir sahaja manusia tidak akan mencapai hakikat dan tidak akan sampai pada inti tujuan ibadah. Ibadah yang sempurna hanya dapat diwujudkan oleh perpaduan antara ilmu zahir dan ilmu batin, sebagaimana firman Allah dalam surah Az-dzariyat ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan mereka supaya menyembah-Ku”.

Yang dimaksudkan dengan ibadah di sini ialah ma’rifat. Manusia tidak akan beribadah secara sempurna kepadanya tanpa ma’rifat yang sesungguhnya. Ma’rifat dapat berwujud setelah hilangnya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati dengan terus berupaya membersihkannya sehingga manusia dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam dan tertutup di dalam rasa di lubuk hati. Firman Allah dalam Hadits Qudsi:

“Aku adalah Kanzun Mahfiyya (yang terpendam dan tertutup). Aku ingin ditemukan dan dikenali. Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”.

Maka jelaslah bahwa tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia ma’rifat kepada Allah. Ma’rifat itu ada dua macam, yaitu ma’rifat sifat Allah dan ma’rifat zat Allah. Ma’rifat sifat adalah tugas jasad di dunia dan akhirat (di alam Lahut, sejak manusia hidup di dunia), sebagaimana firman Allah:

“Ku perkuat manusia dengan ruh Al-Qudsi” (Surat Al-Baqarah ayat 87).

Seluruh manusia dalam dirinya diperkuat oleh ruh Al-Qudsi. Ma’rifat sifat dan ma’rifat zat hanya dapat dicapai dengan perpaduan antara ilmu zahir dan ilmu batin. Rasul bersabda:

“Ilmu itu ada dua macam. Pertama: Ilmu lisan, sebagai hujjah Allah dan kepada hambanya. Kedua: Ilmu batin yang bersumber di lubuk hati, ilmu inilah yang berguna untuk mencapai tujuan pokok dalam ibadah”.

Mula-mula manusia memerlukan ilmu syariat agar badannya mempunyai kegiatan dalam mencari ma’rifat pada ma’rifat sifat, yaitu darajat. Kemudian memerlukan ilmu batin agar ruhnya mempunyai kegiatan untuk mencapai ma’rifatnya pada ma’rifat zat. Untuk mencapai tujuan ini manusia harus meninggalkan segala sesuatu yang menyalahi syariat dan tariqat. Hal ini akan dapat dicapai dengan melatih diri meninggalkan keinginan nafsu walaupun terasa pahit dan melakukan kegiatan ruhaniyyah dengan tujuan mencapai ridha Allah serta bersih dari riya’ (ingin dipuji orang lain) dan sum’ah (mencari kemasyhuran). Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 110:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal soleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Yang dimaksudkan dengan alam ma’rifat adalah alam Lahut, yaitu negeri asal tempat diciptakan ruh Al-Qudsi dalam wujud terbaik. Yang dimaksudkan ruh Al-Qudsi ialah hakikat manusia yang disimpan di lubuk hati; keberadaannya akan diketahui dengan taubat dan talqin dan mudawamah (mengamalkan dengan terus-menerus) kalimat “Laa Ilaha Illallah”. Pertama dengan lidah fisiknya, kemudian bila hatinya sudah hidup beralih dengan lidah hatinya. Ahli tasauf menamakan ruh Al-Qudsi dengan sebutan Tiflul Ma’ani (bayi ma’nawi) karena ia dari ma’nawiyah qudsiyyah. Pemberian nama tiflul ma’ani didasarkan kepada:

  1. Ia lahir dari hati, seperti lahirnya bayi dari rahim seorang ibu dan ia diurus dan dibesarkan hingga dewasa.
  2. Dalam mendidik anak-anak tentang keislaman, ilmu yang didahulukan adalah ilmu ma’rifat. Begitu pula bagi bayi ma’nawi ini.
  3. Bayi bersih dari segala kotoran dosa lahiriyah. Begitu pula bayi ma’nawi, ia bersih dari syirik (menyekutukan Allah) dan ghaflah (lupa kepada Allah).
  4. Perumpamaan bayi ma’nawi merupakan gambaran kesucian karena anak-anak lebih banyak yang suci daripada yang lainnya. Oleh karena itu bayi ma’nawi terlihat dalam mimpi dengan rupa yang indan dan tampan.
  5. Ahli surga disifati dengan sifat anak-anak, sebagaimana firman Allah: “Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap mudanya” (Surah Waqi’ah: 17). Firman Allah: “Anak-anak muda melayani mereka, bagai mutiara yang terpendam” (Ath-Thur: 24).
  6. Karena bayi ma’nawi itu halus dan suci.

Penggunaan nama tiflul ma’ani adalah majazi ditinjau dari kaitannya dengan badan, ia berwujud seperti rupa manusia, juga karena manisnya bukan karena kecilnya: dan dilihat dari awal adanya, ia adalah manusia hakiki karena dialah yang berhubungan langsung dengan Allah, sedangkan badan dan ruh jasmani bukan mahramnya bagi Dia berdasarkan Hadits Nabi s.a.w.: “Aku punya waktu khusus dengan Allah; malaikat terdekat, nabi dan rasul tidak akan dapat memilikinya”. Yang dimaksudkan dengan malaikat terdekat dalam hadits tadi adalah ruh ruhani yang diciptakan di alam Jabarut, seperti halnya malaikat dapat masuk ke alam Lahut. Sabda Nabi s.a.w.: “Allah memiliki surga yang tanpa bidadari dan istana serta tanpa madu dan susu. Kenikmatan di surga itu hanya satu, yaitu melihat zat Allah”. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran: “Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri” (Al-Qiyamah: 22). Juga dijelaskan dalam Hadits Nabi s.a.w.: “Kamu sekalian akan melihat Tuhanmu, seperti kamu melihat sinar bulan purnama”. Bila malak jasmani, yakni segala sesuatu selain ruh Al-Qudsi masuk di alam Lahut, maka pasti akan terbakar.

WIHDATUL WUJUD

Konsep Wihdatul Wujud adalah konsep yang dirumuskan oleh Ibnu Arabi, beliau mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya.

Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna, menurutnya.

Ibn Al-‘Arabi adalah pendiri faham Tauhid Wujudi bahkan ia merupakan panutan dalam pemikiran ini. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum fuqoha. Pemikiran inilah yang menjadi landasan konsep pendidikannya bahkan semua pola pikirnya berporos pada pemahaman ini. Perlu digaris bawahi bahwa Ibn Arabi belum pernah menyebutkan istilah wahdatul wujud dalam kitabnya namun istilah ini dicetuskan oleh orientalis/ kafirin. Namun dari berbagai ajarannya bisa dikatakan bahwa pemahamannya adalah wahdatul wujud.

Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud Ibn Arabi mengungkapkan:

“ketahuilah bahwa wujud ini satu namun Dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan asma (nama-nama), dan memiliki pemisah yang disebut dengan barzakh yang menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang dikenal dengan Insan Kamil”.

Ia juga menjelaskan:

“Ketahuilah bahwa Tuhan segala Tuhan adalah Allah Swt. Sebagai Nama Yang Teragung dan sebagai ta’ayun (pernyataan) yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama, dan tujuan terakhir dari segala tujuan, dan arah dari segala keinginan, serta mencakup segala tuntutan, kepadaNya lah isyarat yang difirmankan Allah kepada RasulNya Saw -bahwa kepada Tuhanmulah tujuan terakhir- karena Muhammad adalah mazhar dari pernyataan pertama (ta’ayyun awwal), dan Tuhan yang khusus baginya adalah Ketuhanan Yang Teragung ini. Ketahuilah bahwa segala nama dari nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah yang bernama dengan ‘mahiat’ atau ‘ain sabitah’ (esensi yang tetap). Setiap nama juga memiliki gambaran di luar yang diberi nama dengan mazahir (penampakan atau fenomena) dan segala nama tadi merupakan pengatur dari mazahir (fenomena-fenomena) ini. Sedang Haqiqat Muhammadiyah merupakan gambaran dari nama ‘Allah’ yang menghimpun segala nama ketuhanan yang darinya muncul limpahan atas segala yang ada dan Allah Swt sebagai Tuhannya. Haqiqat Muhammadiyah yang mengatur gambaran alam seluruhnya dengan Tuhan yang tampil padanya, disebut dengan Rab al-arbab (Allah Swt).”

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan Haqiqat Muhammadiyah di sini bukan hanya Nabi Muhammad sebagai manusianya namun Haqiqat Muhammadiayah adalah Asma dan Sifat Allah serta Akhlaqnya. Nabi muhammad disebut dengan Muhammad karena Beliau mampu berakhlaq dengan seluruh akhlaq ketuhanan tersebut.

Selanjutnya Ibn Arabi juga mengatakan:

“ketahuilah bahwa yang ada hanya sifat-sifatNya Allah, af’alNya maka semuanya adalah Dia, denganNya, dariNya dan kepadaNya. Kalaulah ia terhijab dari alam ini walaupun sekejap maka binasalah alam ini secara keselurhan, kekalnya alam ini dengan penjagaanNYa dan penglihatanNya kepada alam. Akan tetapi jika sesuatu sangat tampak jelas dengan cahayaNya hingga pemahaman tidak mampu untuk mengetahuinya maka penampakan itulah yang disebut dengan hijab.”

Jadi asma dan sifat itulah yang disebut dengan Haqiqat Muhammadiyah, dan alam muncul dari hakikat tersebut. Oleh sebab itu Ibn Arabi mengungkapkan:

“Alam pada hakikatnya adalah satu namun yang hilang dan muncul adalah gambarnya saja”.

Maksudnya hakikat alam tadi berasal dari Zat Yang Satu, yang pada dasarnya gambaran alam tadi hilang dan muncul, artinya alam itu pada hakikatnya tiada berupa gambar saja. Dalam hal ini ia menyatakan:

“Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu Dialah segala sesuatu tadi.”

Artinya penampakannya tiada lain Dia juga, yang tampil dariNya adalah Dia juga.

Lebih jelasnya Syaikh Abd Ar-Rauf Singkil menjelaskan dalam sebuah karyanya:

“wujud alam ini tidak benar-benar sendiri, melainkan terjadi melalui pancaran. Yang dimaksud dengan memancar di sini adalah bagaikan memancarnya pengetahuan dari Allah Ta’ala. Seperti halnya alam ini bukan benar-benar Zat Allah, karena ia merupakan wujud yang baru, alam juga tidak benar-benar lain dariNya. Karena ia bukan wujud kedua yang berdiri sendiri disamping Allah.”

Jadi alam bukanlah sebenarnya Allah namun pancarannNya dengan kata lain hijabnya. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan Willian dalam salah satu karyanya mengenai Ibn Arabi: “Hanya satu wujud dan seluruh eksistensi tiada lain adalah pancaran dari Wujud Yang Satu.” Kesimpulannya yang tampak itulah makhluk cipatanNya sedang ZatNya tetaplah ghaib. Hal ini dijelaskan oelh Ibn Arabi sebagai berikut:

“Allah nyata ditinjau dari penampakanNya pada cipatanNya dan batin dari segi Zatnya.”

Untuk lebih jelasnya, Tajalliyat Allah pada lingkatan wujud adalah merupakan penampakan Allah berupa kesempurnaan dan keagungan yang abadi. Zatnya merupakan sumber pancaran yang tak pernah habis keindahan dan keagunganNya. Ia merupakan perbendaharaan yang tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin membuka perbendahataan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan dan kesempurnaanNya dalam pentas alam yang maha luas.

Ibn Arabi berkata: “Alam maujud atau mengada denganNya”.

Tajalliyat al-Wujud dengan gambaran global dalam tiga hadirat: Hadirat Zat (Tajalliyat Wujudiya Zatiya) yaitu pernyataan dengan diriNya untuk diriNya dari diriNya. Dalam hal ini Ia terbebas dari segala gambaran dan penampakan. Ini dikenal dengan Ahadiyat. Pada keadaan ini tampak Zat Allah terbebas dari segala sifat, nama, kualitas, dan gambaran. Ia merupakan Zat Yang Suci yang dikenal dengan rahasia dari segala rahasia, gaib dari segala yang gaib, sebagaimana ia merupakan penampakan Zat, atau cermin yang terpantul darinya hakikat keberadaan yang mutlak. Tajalliyat Wujudiya Sifatiya yang merupakan pernyataan Allah dengan diriNya, untuk diriNya, pada penampakan kesempurnaanNya (asma) dan penampakan sifat-sifatNya yang azali. Keadaan ini dikenal dengan wahdah. Pada hal ini tampak hakikat keberadaan yang mutlah dalam hiasan kesempurnaan ini lah yang dikenal dedngan Haqiqat Muhammadiyah (kebenaran yang terpuji), setelah ia tersembunyi pada rahasia gaib yang mutlak denganjalan faid al-aqdas (atau limpahan yang paling suci karena ia langsung dari Zat Allah). Dalam keadaan ini tampillah al-A’yan as-Sabitah (esensi-esensi yang tetap) atau ma’lumat Allah. Tajalliyat Wujudiyah Fi’liyah (af’aliyah) yaitu pernyataan Haq dengan diriNya untuk diriNya dalam fenomena esensi-esensi yang luar (A’yan Kharijah) atau hakikat-hakikat alam semesta. Keadaan ini dikenal dengan mutlaq dengan ZatNya, sifatNya dan perbuatanNya dengan jalan limpahan yang suci (al-faid al-muqaddas). Allah pun tampak pada gambaran esensi-esensi luar (A’yan Kharijah), baik yang abstrak maupun yang kongkrit yang merupakan asal dari alam semesta seluruhnya.

 

Allah Swt merupakan awal dari tajalliyat wujud segala fenomenanya dan dimensinya. Jadi Dia tidak berasal dari ketiadaan dan tidak berakhir kepada ketiadaan pula. Ia merupakan karya absolut yang berada pada lingkatan yang absolut, ia berasal dari yang Haq dengan Haq dan kepada yang Haq, baik dalam tahap Zat, Sifat dan Af’al. semuanya adalah penampakan dari hakikat yang satu.

Namun apakah berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Bisa dikatakan ‘ya’ atau ‘tidak’, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam salah satu karyanya:

“Dalam hal ini ada sebagian golongan sufi yang terpeleset jatuh dalam kekhilafan dari yang sebenarnya, mereka berkata tidak ada kecuali apa yang engkau lihat bahwa alam adalah Allah dan Allah adalah alam tiada lain. Sebabnya kesaksian ini terjadi karena mereka belim benar benar mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqun. Kalau mereka mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqin maka meraka tidak akan berkata demikian dan menetapkan segala hakikat pada tempatnya dan mengetahuinya dengan ilmu dan penyingkapan.”

Disamping itu penyatuan antara manusia dan hamba adalah mustahil ataupun Allah bertempat adalah juga mustahil. Hal ini ia jelaskan dalam sebuah kitabnya:

“Ittihad adalah mustahil karena dua zat menjadi satu, tidak akan mungkin bertemu antara hamba dan Tuhan pada satu wajah selamanya ditinjau dari ZatNya.”

Dari pernyataan ini jelas beliau tidak berpaham panteisme, jadi bagaimana menafsirkan wahdatulwujud tersebut? Sebagaimana yang diungkapkan sebelumnya bahwa Zat Allah adalah sumber segalanya. Jadi yang disebut eksistensi atau wujud adalah Zat tersebut. Sedangkan keadaan yang dikenal dngan Haqiqat Muhammadiyah (A’yan sabitah, wahdah, tajalliyat wjudiyah sifatiyah) merupakan penampakan atau bayangan dari Zat Yang Suci yang bernama Allah. Kemudian keadaan yang bernama Wahdaniyat (tajalliyat wujudiyah fi’liyah atau a’yan kharijiyah) adalah bayangan dari wahdah atau Haqiqat Muhammadiyah. Jadi seluruhnya bayangan dari Zat Yang Suci. Lebih jelasnya alam ini (a’yan kharijiyah) penampakan atau bayangan dari Asma Allah yang dikenal dengan Haqiqat Muhammdiyah ataupaun A’yan Sabitah. Sedangkan Asma adalah penampakan dari Zat Yang Maha Suci. Jadi bayangan adalah sesuatu yang pada hakikatnya tiada namun ia ada bergantung kepada Zat Allah, sebagaimana bayangan suatu benda.

Penjelasan diatas dikuatkan dengan perkataan Ibn Arabi dalam kitab Futuhat:

Jika Engkau nyatakan: “Tiada sesuatupun yang setara denganNya maka hilanglah bayangan sementara bayangan terbentang maka hendaklah engkau memperhatikan lebih teliti.”

Dalam kitab Al-Jalalah beliau menjelaskan:

“Segala sesuatu memiliki bayangan dan bayangan Allah adalah Arasy. Akan tetapi bukanlah setiap bayangan terbentang. Arasy bagi Tuhan adalah bayangan yang tidak terbentang, apakah engkau tidak memperhatikan bahwa jisim yang memiliki bayangan apabila diliputi oleh cahaya maka bayangannya ada padanya.”

Bayanganyang dimaksud di sini adalah alam semesta. Manusia memiliki banyak bayangan jika dia disinari oleh beberapa cahaya yang datang dari berbagai arah, wajahnya akan muncul dalam berbagai cermin yang pada hakikatnya ia adalah satu namun dipatulkan oleh beraam cermin. Begitu pula Allah Esa dari segi ZatNya dan berbilang dari segi penampakanNya dalam gambaran serta bayanganNya dalam cahaya. Jadi jelas bahwa sebenarnya alam ini adalah bayangan yang hakikatnya tiada atau dikenal dengan batil. Ibn Arabi menjelaskan:

“sebenar-benar ungkapan yang dikatakan oleh orang Arab bahwa; “segala sesuatu selain Allah adalah batil” karena siapa yang keberadannya tergantung kepada yang lain maka dia adalah tiada.”

Ia juga mengungkapkan dalam Risalah al-Wujudiyah:

“Sesungguhnya engkau tidak pernah ada sama sekali dan bukan pula engkau ada dengan dirimu atau ada di dalamNya atau bersamaNya dan bukan pula engkau binasa ataupun ada.”

Untuk menjelaskan perkataan ini ia mengutip perkataan Abu Said Al-Kharraj menyatakan: “Aku mengenal Allah dengan menghimpun segala dua hal yang bertentangan.” Artinya Dialah Yang Lahir dan Yang Batin tanpa keadaan yang lain. Dijelaskan juga dalam kitabnya Ar-risalah Al-Wujudiyah:

“Dialah Yang Awal tanpa berawal, Yang Akhir tanpa berakhir, Yang Lahir tanpa jelas, Yang Batin tanpa tersembunyi.”

Hal ini jika difahami berarti bahwa manusia tidak memiliki keberadaanyang independen dalam arti kata keberadaannya pada hakikatnya adalah bayangan dari keadaan Allah. Karena pada hakikatnya manusia tiada yang ada Allah. Jadi manusia adalah penampakan, bayangan atau ayat Allah yang pada hakikata adalah tiada atau khayal. Karena suatu yang sifatnya khayal berjumpa dengan khayal seolah kelihatan nyata.

Dalam Fusus al-Hikam Ibn Arabi mengungkapkan:

“Ketahuilah bahwa hadirat khayal merupakan hadirat yang menghimpun dan mencakup segal seuatu dan yang bukan sesuatu.”

Jadi jelas bahwa alam ini adalah fana atau khayal danyang kekal dan tampak adalah ZatNya Yang Suci dengan penampakan-penampakan yang indah dan agung yang mewujudkan kesempurnaanNya yang tiada batas.”

Di lain bukunya Ibn Arabi mengungkapkan:

“Tidak ada dalam wujud ini selain Allah, kita walupun ada (Maujudun) maka sesungguhnya keberadaan kita denganNya, barang siap yang keberadaannya dengan selain Allah maka ia masuk dalam hukum ketiadaan.”

Maksudnya ialah bahwa Allah ada dengan sendiriNya dan tidak mengambil keberadaannya dari yagn lain. Sedangkan alam adalah ada karena Allah mengadakannya. Jadi alam adalah keberadaanyang mungkin ada yang pada hakikatnya tiada. Di sini kita harus membedakan antara wujud dan maujud. Wujud merupakan isim masdar yang berarti keadaan dan Maujud merupakan isim maf’ul berarti sesuatu yang mengada karena pengaruh lain . Bisa ditafsirkan bahwa Allah adalah keberadaan itu sendiri atau Zat Yang Maha Ada, sedang maujud adalah sesuatu yang menjadi ada disebabkan hal lain. Maujud merupakan ‘objek’ yang berarti sesuatu yang menerima pengaruh perbuatan yang lain. Jadi sesuatu yang menjadi ada karena adanya keberadaan yang lain bukanlah keberadaan yang sejati namun keberadannya bergantung kepada Wujud Yang Sejati. Keberadaannya disebut dengan khayal, artinya ia ada karena bergantung pada Wujud Sejati. Namun jia sesuatu tidak bergantung kepada Wujud Sejati tentu dia tiada, karena siapa yang akan memberikannya keberadaan? Jadi jelas yang dimaksud dengan Wahdat al-Wujud adalah bahwa wujud yang sejati adalah satu. Bukan berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam.

Dalam menerangkan wahdatulwujud Ibnu Arabi kadang mengutip kuplet berikut, sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Alif: Dalam segala sesuatu Dia memiliki ayat Menunjukkan kenyataan bahwa Dia adalah Satu.

 

Kesatuan wujud ini juga dapat difahami dari sebuah hadis yang sering dikutip Ibn Arabi dalam menerangkan masalah Wahdat al-Wujud yaitu: Kanallahu wala syai’a ma’ahu artinya ‘dahulu Allah tiada sesuatu apapun besertaNya’. Disempurnakan dengan perkataan wahuwal aana ‘ala makaana artinya ‘sekarang Ia sebagaimana keadaanNya dahulu’. Maksud dari kedua pernyataan ini tidak ada sesuatu apapun yang menyertai Allah selamanya dan segalaNya pada sisiNya adalah tiada. ‘Tiada Tuhan selain Allah’ artinya segala sesuatu berupa alam yang gaib dan nyata adalah bayangan Allah yang pada hakikatnya tiada. Karena segala sesuatu yang tiada bisa dijadikan Tuhan oleh manusia dan yang pada hakikatnya yang ada hanya Zat Allah Yang Maha Suci yang bernama Allah.

Yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas ialah, alam bisa dikatakan Allah dan bisa juga tidak. Dilihat dari keterbatasan alam dan hakikatnya yang merupakan khayal semata maka alam bukanlah Allah. Namun jika dilihat bahwa alam tidak akan muncul dengan sendirinya dan mustahil ada wujid disamping Allah ataupun diataNya atau dibawahNya atau ditengahNya atau didalamNya atau diluarNya maka alam adalah penampakan Allah. Penampakan itu tiada lain allah jua adanya.

Dibalik itu semua dalam memahami hal ini bukanlah cukup dengan logika namun harus dibuktikan dengan penyaksian sebagaimana pernyataan Ibn Arabi:

“Tauhid adalah penyaksian danbukan pengetahuan, barang siapa menyaksikan maka ia telah bertauhid barang siapa hanya mengetahui ia belum bertauhid.”

Jadi beginilah yang dapat difahami dari Wahdat al-Wujud. Permasalahan Tanzih dan Tasybih akan lebih menjelaskan konsep Wahdat Wujud.

 

Al-Hirah (Ketakjuban, Kebingungan, Laut Tanpa Pantai, Anggur Keabadian)

AL-Hirah merupakan ketakjuban dan puncak dari pengenalan akan Allah yang dalam hal ini Ibn Arabi menjelaskan:

“Uluhiyyat (ketuhanan) dapat dikatakan karena ia merupakan tawajjuh (kehendak) Zat untuk mewujudkan semua hal yang mungkin, adapun Zat tidaklah dapat dikatakan namaun disaksikan.”

Hal ini mungkin dapat dijelaskan sebagai berikut:

Zat Allah Esa dan Tunggal adanya namun tidaksatu makhlukpun dapat mengetahui hakikat Zat tersebut serta segala potensi yang ada pada Zat Allah. Penyaksian akan ZatNya bisa terjadi pada orang tertentu dan penyaksian itu bukanlah meluputi akan keadaan ZatNya. Ol;eh sebab itu tidak bisa dikatakan karena segalanya luluh dan fana ketika penyaksian itu terjadi. Sedangkan Uluhiyat bisa dikatakan karena Ia berhubungan dengan segala yang mungkin. Dalam al-Quran Allah berfirman:

Wayuhazzirukumullahu nafsah

Artinya: Allah melarang kamu untuk berpikir tentang diri (Zat)Nya. Ali Imran 28.

Pada ayat yang lain, Allah berfirman:

Wamaa qadarullahu haqqa qadrih

Artinya: dan mereka tidak mampu memperkirakan Allah dengan sebenar-benar perkiraan, Al-An’am 91.

Di samping itu Kalimat Allah atau seala yang mewujud karenaNya atau segala yang berasal dariNya tidak terhingga atau tidak terbats, oleh sebab itu tidak ada bats dalam mengenal Allah Swt. Jadi yang diketahui hanya keesaanNya sedang kuasaNya tanpa batas.

Ibn Arabi menjelaskan dalam tafsirnya mengenai ayat terakhir daru surat al-Kahfi:

“Katakanlah jika lautan huyuli (asal keberadaan alam semesta) yang menerima berbagi macam gambar yang mewuudkan segala ilmu Allah dijadikan sebagai tinta untuk menuliskan segala makna dan hakikat dan roh yang ada pada ZatNya maka air lautan akan habis sebelum habisnya kalimat Allah, karena ia tidak terhingga adanya. Tidak mungkin satu yang terbatas bisa mengibaratkan Yang Tidak Terbatas.”

Jika dikaitkan dengan dua aspek yaitu tanzih dan tasybih, maka aspek tanzihNya adalah ketidak terbatasan Zat Allah atau Maha SuciNya Ia dari segala ikatan dan keterbatasan. Sedang aspek tasybihNya adalah kalimatNya atau fenomena segala alam ini yang mewujud denganNya. Alam ini sendiri juga tidak terbatas, sebagaimana kalimat Allah tidak terbatas. Jadi puncak pengenalan akan Allah adalah ketidak mampuan untuk mengenalNya dan ketakjban akan keMaha BesaranNya. Sebagaimana Nabi bersabda:

Allahumma la nuhshi tsanaan ‘alaika anta kama atsnaita ‘ala nafsika

Artinya: “Ya Tuhan kami kami tidak mampu menghumpun pujian kepadaMua sebagaimana Engakau memuji diriMu Sendiri.”

Abu Bakar berkata: “ketidak sanggupan untuk mengenal Allah adalah pengenalan. Oleh sebab itu Abu Talib al-Makki berkata: “tidak mengenal Allah selain Allah.” Nabi Saw juga pernah bersabda: “Rabbi zidni fika tahayyuran” yang artinya : “Wahai Tuhanku tambakanlah kepadaku keta’juban.” Hal ini dita’wilkan oleh Ib Arabi sebagai kesinambunan takalliyat Allah kepada Nabi Saw. Kesinambungan tajalliyat adalah bertambahnya senantiasa ilmu pengenalan akan Allah dan itu tentunya tiada batas.

Nabi Muhammad Saw merupakan jalan petunjuk kepada ketakjubanyang membaw panji pujian kelak dihari kiamat. Ialah hamba yang paling mengenal Allah. Oleh sebab itu seorang tidak akan mampau mengenal Allah kecuali melalui jalan atau cermin Muhammad Saw. Ibn Arabi menjelaskan dalam kitab fusus al-Hikam:

“Allah berfirman: “sesungguhnya sahabatmu tidaklah sesat dan salah: an-an’am 2, atau Ia tidak takut dalam keheranannya karena Ia mengetahi bahwa puncak dalam pengenalan akan Allah adalah hirah (ketakjuban). Maka barang siapa yang sampai dalam keadaan ini maka ia telah beroleh petunjuk dan dia adalah yang menunjuki dan menjelaskan dalam penetapan ketakjuban.”

Ibn Arabi menyebutkan: “ Yang Haq adalah lautan dasarnya adalah azali pantainya adalah abadi.” Inilah lautan yang tiada tepi, ia melantunkan syair dalam ketakjuban: Aku terkesima pada Samudera dantap pantai dan Pantai tanpa samudera Pada Cahaya pagi tanpa kegelapan dan Malam tanpa fajar Pada dunia tanpa tempat yang diketahui oleh pagan dan pendeta Pada kubah biri langit, menjulang tinggi dan berputar Kemahakuasaan adalah pusatNya dan pada bumi yang subur tanpa kubah dan tempat, tersembunyi rahasia.

 

Tasybih dan Tanzih

Permasalahan Tasybi dan Tanzi juga merupakan polemik dari daulu ingga sekarang. Dalam al ini Ibn Arabi berpendapat bahwa dalam mengenal Allah manusia harus melihat TanzihNya (Kesecuian Allah dari segala sifat yang baharu) pada TasybihNya (KeserupaanNya dengan yang baharu) dan tasybihNya pada tanzihNya. Artinya untuk mengenal Allah harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus. Ibn Arabi sering mengutip perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj: “ Aku mengenal Allah dengan menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang menganal Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi kemutlakanNya. Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah seperti yang dilakukan ole kalangan Mu’tazila yang melucuti Tuhan dari segala sifat, hingga Allah menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Al ini mengakibatkan terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika hanya mengenal Allah dalam aspek tasybih saja seperti yang dilakukan kalangan al_mujassimah maka mengakibatkan keserupaan Tuhan dengan yang baharu.

Dalam kitab Fusus al-Hikam Ia mengatakan:

“Pensucian dari orang yang mensucikan merupakan pembatasan bagi yang disucikan, karena ia telah mengistimewakan Allah dan memisahkanNya dari sesuatu yang menyerupai, jadi pensucianNya dari suatu sifat yang wajib merupakan keterikatan dan keterbatasan, maka tidak ada di sana kecualai Yang terikat dan Maha Tinggi dengan kemutlakanNya dan ketidak terbatasanNya.”

‘Abd al_raziq al-Qasyani menjelaskan mengenai hal ini bahwa tanzih berarti mengistimewakan Allah dari segala yang baharu yang sifatnya materi dan dari segala yang tidak pantas baginya pensucian dari sigat materi, hal ini berarti bahawa setiap seuatu yang berbeda dari yang lain maka ia tentu memiliki sigat yang bertentangan dari yang lain tersebut. Dengan begitu ia menjadi teriakt denagn suatu sifat dan erbatas dengan satu batasan. Jadi tanzih tersebut merupakan pembatasan. Lebih jelasnya, bahwa yang mensucikan telah mensucikan Allah dari sifat materi dan menyamakanNya dengan sifat rohani yang suci. Dengan begitu ia telah mensucikan Allah dari keterbatasan namun dengan sendirinya ia telah membatasNya dengan kemutlakan, sedang Allah Maha Suci dari ikatan keterbatasan dan kemutlakan, akan tetapi Ia Maha Mutlaq tidak terikat oleh tanzih maupun tasybih juga tidak menafikan keduanya. Ibn Arabi juga menjelaskan:

“Tidak ada yang serupa denganNya” potongan ayat ini mengisyaratkan tanzih, dan “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” potongan ayat ini mengisyaratkan tasybih.

Abd Karim al-Jily menerangkan mengenai hal ini sebagai berikut:

“Yang mensucikan mengosongkan Tuhan dari segala sifat sehingga dia menghilangkan kuasa Tuhan, yang menyerupakan Tuhan menghiasaiNya dengan sifat yang tak pantas aritnya memakaikan Tuhan dengan sifat selainNya (Mujassimah) sedang yang berada di antara keduanya (tidak mengosongkan dan tidak memakaikan) artinya seorang yang ‘arif yang beada antara tasybih dan tanzih tidak menanggalkan apa yang pantas bagi Allah dan menyifatiNya dengan pakaian atau sifat yang tidak pantas bagiNya. Bahkan ia berkata Allah adalah Yang Lahir dan Yang Batin atau ia menyifati Allah dengan Lahir dan Batin. Aspek Batin merupakan hukum kesempurnaan bagiNya sedang aspek Lahir merupakan nyatanya Ia dalam segala yang ada.”

Ibn Arabi menjelaskan dalam sebuah syair: jika engkau mengatakan dengan tanzih maka engakau membuatNya terikat jika engkau mengatakan dengan tasybih engkau membuatNya terbatas jika engakau katana dengan dua hal tadi maka engkau benar engkau menjadi imam dalam ma’rifat dan menjadi penghulu.

 

Penafsiran Ibn Arabi tentang tanzih dan tasybih sesuai dengan doktrin ontologisnya tentang wahdatulwujud, yang bertumpu pada perumusan ambiguous:

“Dia dan bukan Dia” (huwa la huwa) sebagai jawaban atas persoalan apakah alam identik dengan Tuhan. Dalam perumusanini terkadnung dua bagian jawaban:

bagian positif, yaitu ‘Dia’ dan bagian negatif, yaitu ‘bukan Dia’.

Bagian pertama menyatakan bahwa alam identik dengan Tuhan. Bagian terakhir menegaskan aspek tanzih Tuhan. Dapat pula dikatakan bahwa penafsiran Ibn Arabi tentang tanzih dan tasybih sejalan denagn prinsip memadukan segala hal yang bertentangan. Misalnya antara Yang Satu dan yang banyak, Yang Lahir dan Yang Batin. Oleh sebab itu dinaytakan Hakikat Muhammad lah yang menghimpun antar aspek tanzih dan tasybih antara Qran dan Furqan antara Jama’ dan Tafsil.

Ada ungkapan-ungkapan kaum sufi yang mengisyaratkan tasybih yang dikenal dengan syatahat seperti ungkapan Biyazid: “Maha Suci Aku betapa Agung keadaanKu.” Begitu juga imam Junaid: “Tidak ada dalam jubah ini selain Allah.” Al-Hallaj juga berkata: “Ana al-Haq.” Abu Bakar as-Syibli berkata: “Aku adalah titik dibawah Ba.” Perkatan ini semua mengandung tasybih al-Haq dengan yang baharu. Ada sebagian kaum yang mengkafifkan orang yang berkata demikian dan ada yang menta’wilkan. Kaum sufi berkata demikian dalam keadaan iluminasi dan menyaksikan Wajah Yang Satu hingga mereka menyatakan ungkapan syatahat (ungkapanyang janggal dalam keadaan fana). Sedangkan Fir’aun mengatakannya dalam kesadaran penuh akan keberadaan nafsunya dan keberadaan dirinya sebagi Tuhan dan tidak mengaku adanya Allah.

Ini semua berkaitan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Sepanjang sejarah pembicaraan ini taidak pernah habisnya, karena kasus Keesaan Tuhan terus bergulir. Ulama salaf mengimani ayat mutasyabihat dalam batasan tdiak menta’wilkan sebagaimana ungkapan Imam Malik: “Istiwa’ itu diketahui artinya, kaifiyyahnya tidak diketahui,beriman dengannya wajib, bertanya mengenainya bid’ah.” Ulama khalaf menta’wilkannya, ada yang menta’wilkannya dengan berkuasa dan mengatur. Sedang kaum Mu’tazilah mensucikan Tuhandari segala sifat apa lagi sifat yang bahari dengan alsan jika sifat itu qadim maka akan banyaklah yang qadim. Kaum mujassimah menyamakanNya dengan yang baharu dan seterusnya.

Berkaitan dengan muhkamat dan mutasyabihat ini dijelaskan dalam al-Quran surat Ali-Imran ayat 7:

Huwal lazi anzala…..

Artinya: Dialah yang menurunkan al-Quran kepadamu diantaranya ada yang muhkamat itulah ummul kitab (induk kiab) dan yang lainnya mutasyabihat.”

Jadi ayat yang muhkamat mewakili aspek tanzih sedang yang mutasyabihat mewakili aspek tasybih. Mengenai ayat ini Ibn Arabi menafsirkan ayat muhkamat adalah yang mengandung makna yang satu yang merupakan asal kitab dan tidak dimasuki penyerupaan dengan yang baharu, sedang yang lain mutasyabihat. Mutasyabihat ini yang mungkin memiliki dua makna atau lebih atas samr di situ antara yang haq dan yang batil, hal ini dikarenakan bahwa Allah memiliki Wajah Yang Esa dan Kekal setelah fananya makhluk yang tidak mengandung pluralitas dan keterbilangan disamping itu Allah juga memiliki wajah-wajah yang banyak sesuai dengan cermin-cermin penampakanNya berdasarkan potensi penampakanNya dan seluruhnya bersumber dari Wajah Yang Satu tadi. Pada wajah yang banyak inilah samar antara Haq dan yang batil maka turunlah ayat al-Quran agar ayat-ayat mutasyabihat diletakkan pada wajah-wajah yang sesuai dengan potensinya hingga setiap sesuatu berkaitan dengan yang lain sesuai dengan kesiapannya. Maka dari sinilah timbul ujian dan cobaan. Adapun orang ‘arif yang muhaqqa yang mengenal Wajah Yang Kekal dalam berbagai gambaran dan bentuk mengenal wajah tersebut dari wajah-wajah yang mustasyabihat maka ia mengembalikannya kepada muhkamat melaksanakan perkataan penyari:

“Sungguh Wajah hanyalah Saturda

Namun jika engkau perbanyak cermin Ia menjadi terbilang.”

Adapun orang yang terhijab (atau orang yang bengkok hatinya) dari kebenaran maka dia akam mengikuti yang mutasyabihat karena ia terhijab dari Yang Satu oleh yang banyak dan memilih keyakinan sesuai dengan seleranya untuk menyebarkan fitnah.

Jalan untuk mengenal yang muhkamat dan mutasyabihat adalah lewat cermin Muhammad Saw mengikuti ajarannya dengan memasrahkan pengetahun mengenai hal tersebut kepada Allah agar Allah membukakan kepad akita dan mengenalkan diriNya kepada kita. Hal ini yang dijelaskan oleh Ibn Arabi dalam kitabya Fusus al-Hikam dalam Fas Nuh As:

“Ketahuilah bahwa Allah menuntut dari hambanya untuk mengenalNya sebagaimana yang telah diterangkan oleh Lisan segala syariat dalam menyifatiNya, maka akal tidaklah boleh melampauiNya sebelum datangnya syariat, ilmu mengenaiNya pensucian dari sifat-sifat baharu, jadi seorang ‘arif adalah orang yang memiliki dua pengenalan tentang Allah: pengenalan sebelum datangnya syariat dan pengenalan yang ia peroleh dari syara’, akan tetapi syaratnya hendaklah ia menyerahkan ilmu tersebut kepada Allah, jika Allah menyingkapkan baginya tentang ilmu itu maka hal itu merupakan anugrah dari pintu pemberian Zat Allah.”

Kesimpulannya Allah Mutlak dengan keterbatasanNya dan Terbatas dengan kemutlakanNya. Dalam kata lain Allah Mutlak dari segi ZatNya Yang Maha Suci dari seala sifat dan terbatas dalam kemutlakan dengan nama-nama, sifat-sifat, af’al, dan mazahir kauniyah (fenomena-fenomena alam) yang merupakan tajalliyatNya yang tak terhingga. Jadi penampakanNya itu sendiri tidak terbatas, karena kalimatNya tidak pernah habis. Inilah yang disebut sebagai lautan yang tak bertepi.Dialah Yang Maha Esa dalam banyak rupa dan rupa yang banyak adalah pada hakikatnya wajah-wajah dari Zat Yang Esa. Yang banyak adalah tiada dan yang ada hanya Zat yang Esa. Dialah jami’ atau penghimpun segalanya dan fariq yang membedakan segalanya dalam berbagai rupa. Aspek JamalNya (keindahan) mewakili tasybih dan aspek JalalNya (keagungan) mewakili tanzih keduanya mewujudkan Kamal (kesempurnaan) bagi ZatNya. Namun keseluruhannya itu menunjukkan kemutlakan yang tak terhingga.

Di atas semua itu pengenalan akan Allah adalah ketidak tahuan. Kelemahan untuk mengenalNya adalah pengenalan. Mengutip perkataan Abu Talib al-Makki: “Tiada ada yang mampu mengenal, “tidak ada yagn setata denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat” kecuali “Tidak ada yang setara denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.

 

WIHDATUL SYUHUD

Wahdat al-syuhud merupakan salah satu konsep dalam tasawuf falsafi, sebagaimana konsep ittihad-nya Abu Yazid al-Busthami, konsep hulul-nya Al-Hallaj, atau juga wahdat al-wujud-nya Ibn ‘Arabi. Kajian tentang wahdat al-syuhud oleh para ilmuwan menunjukkan bahwa konsep ini mirip dengan dan mendapat pengaruh besar dari paham wahdat al-wujud, ajaran yang dicetuskan oleh Ibn ‘Arabi.

Konsep ini bermula dari rasa cinta Ibn al-Faridh yang sangat mendalam kepada Tuhan hingga mencapai syauq (rindu-dendam), dan kemudian meningkat menjadi pengalaman uns (), yakni kegilaan dalam asyik-masyuk (intim) dengan Tuhannya. Dalam Risalah al-Qusyairiyah dinukil ungkapan para sufi sebagai berikut :

 

Pecinta itu syaratnya sampai mabuk (gila) cinta, bila belum sampai seperti itu, cintanya belum benar-benar (belum sempurna).

Jelasnya, mendalamnya cinta rindu terhadap Tuhan menurut ajaran tasawuf para sufi sampai mabuk cinta, sehingga meningkat menjadi wahdat al-syuhud, yakni segala yang mereka pandang tampak wajah Tuhan.

Kesatuan dalam terminology Ibn al-Faridh bukan penyatuan dua wujud, tetapi penyatuan dalam arti yang disaksikan hanya satu, yaitu Wujud Yang Maha Esa. Pluralitas yang tadinya nampak menjadi lenyap sehingga segala sesuatu nampaknya satu kesatuan karena ia telah mampu “menghadirkan” Tuhan dalam dirinya melalui tajalliyat Ilahi.

Menurut pemahaman Musthafa Helmi, tajalli dalam konsep Ibn al-Faridh ada dua segi, yaitu : pertama, tajalli secara zhahir, yakni melihat Yang Esa pada yang aneka; yang kedua, tajalli secara batin, yakni melihat yang aneka pada Yang Esa. Dengan kata lain, barangkali dapat dianalogikan dengan makro dan mikro. Dengan memperhatikan makro kosmos dapat “melihat” mikro kosmos dan sebaliknya. Pengalaman yang demikian dimungkinkan karena fananya yang asyik mencinta ke dalam yang dicinta sehingga ia tenggelam dalam kemanunggalan dan tidak merasakan serta tidak melihat (syuhud) sesuatu selain Allah Yang Maha Tunggal.

Dalam kumpulan syairnya al-Diwan, Ibn al-Faridh melukiskan proses fana secara jelas. Proses awal dari fana adalah melihat Tuhan secara jelas dan pasti dalam setiap benda yang ia lihat. Bahkan dalam setiap pandangannya ke arah mana saja, yang ia lihat hanya Tuhan. Pengalaman yang demikian menyebabkan Ibn al-Faridh merasa satu dengan yang ia cintai. Pada saat dia sadar dari fananya, yang tinggal dalam jiwa dan penghayatan hanyalah sang kekasih, yakni Allah. Inilah yang ia maksud dengan melalui fana ia mengalami kesatuan dengan Allah dan kemudian merasakan cinta yang sejati. Kefanaan bukan keleburan wujud jasmaninya, tetapi kefanaan dari kesadaran dan kemauan serta penanggapan indera keakuannya. Demikian juga dengan penyatuan di dalam Tuhan adalah searti dengan tersingkapnya tabir penghalang sehingga Dzat Yang Mutlak hadir dalam mata hatinya. Situasi yang demikian bukanlah sesuatu yang tidak mungkin karena si penyair (Ibn al-Faridh) sedang dalam kondisi spiritual yang mistis.

 

Wahdatu al-Syuhud yang secara harfiah mengandung arti keesaan penyaksian adalah satu paham dalam tasawuf tentang keesaan Tuhan sekaligus keesaan wujud yang tampak dalam penyaksian hati nurani. Menurut paham wahdatu al-Syuhud, keesaan Allah disaksikan oleh mata batin manusia yang mampu menfanakan dirinya di dalam Tuhan atau sesudah lenyapnya (fana) hijab atau dinding yang membatasi mata hati dengan Tuhan. Sebagai akibat dari penyaksian mata batin itu, keyakinan tentang keesaan Allah meningkat ke tarap yang tertinggi atau dengan kata lain lebih tinggi dari tarap keyakinan yang hanya berupa membenarkan berita al-Qur’an dan Hadis yang diperkuat dengan argumentasi rasional. Penyaksian keesaan Tuhan sekaligus berarti pengakuan satu-satunya wujud yang hakiki hanya Allah yang disaksikan oleh mata batin seseorang yang memperoleh kasyaf. Wujud semua alam empiris termasuk dirinya pada saat itu lenyap, baik dari mata batin maupun dari mata hati.

 

Kehadiran Tuhan dalam penyaksian batin seseorang telah menyebabkan lenyapnya kehadiran alam empiris dan dirinya sendiri yang dicontohkan seperti kehadiran matahari yang terang benderang yang menyebabkan lenyapnya bintang-bintang dari mata kepala manusia. Perona keindahan wuud Tuhan sehingga dapat menyerap segenap perhatian hati orang yang menyaksikannya dengan kepalanya. Kendatipun tempak masih terbuka dan berhadapan dengan alam empiris menjadi tertutup oleh kehadiran wujud-Nya dalam penyaksian mata hatinya. Keberadaan alam empiris dan dirinya menjadi tersembunyi di balik kehadiran wujud Tuhan. Hanya wujud Tuhan saja dengan berbagai rahasia-Nya yang tampak oleh penyaksian mata batinnya. Bila kasyaf atau penyaksian atau telah berakhir alam empiris dan dirinya kembali tampak oleh mata kepalanya atau hadir dalam kesadarannya yang biasa.

 

Dengan demikian semakin jelas terlihat, bahwa konsep wahdat al-syuhud ini berbeda dari doktrin al-hulul. Sebab, dalam konsep ini penyatuan itu bukan pada substansi manusia yang melebur ke dalam dzat Tuhan, tetapi fananya seluruh yang ada dari kesadaran dan penglihatan sehingga yang nampak ada hanyalah Dzat Yang Esa dan karenanya disebut wahdat al-syuhud bukan wahdat al-wujud. Dari sini nampak bahwa dalam pemahaman Ibn al-Faridh antara bukan wahdat al-wujud. Dari sini nampak bahwa dalam pemahaman Ibn al-Faridh antara wahdat al-syuhud dan wahdat al-wujud itu berbeda. Sementara dalam pemahaman Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wahdat al-syuhud merupakan bagian dari wahdat al-wujud. Menurut Ibn al-Faridh, bagi mereka yang sudah menemukan cinta Ilahi yang sejati, wahdat al-syuhud ini dapat dialami dalam keadaan sadar (al-mahwu) dan atau dalam situasi sakr.

 

D.Kesimpulan

Wahdat al-syuhud merupakan salah satu dari konsep-konsep yang ada dalam tasawuf falsafi. Konsepsi yang dibangun atas dasar rasa cinta yang mendalam kepada Allah ini dicetuskan pertma kali oleh Ibn al-Faridh. Berbeda dengan konsep wahdat al-wujud-nya Ibn ‘Arabi, konsep wahdat al-syuhud berpendapat bahwa kesatuan bukanlah meleburnya manusia dengan Tuhan secara jasmani, melainkan tersingkapnya rahasia wajah Tuhan setelah fananya kesadaran dan kemauan manusia, serta fananya segala penglihatan di sekitarnya, yang nampak hanyalah wajah Tuhan.

KONSEP WAHDATUL WUJŪD MENURUT IBN ‘ARÂBÎ
 
Ajaran sentral Ibn Arâbî adalah tentang wahdatul al-wujûd yang istilahnya bukan berasal dari Ibn Arâbî sendiri melainkan berasal da’i Ibnu taimiyah tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentralnya tersebut. Ibnu taimiyah telah berjasa dalam mempopulerkan wahdatul al-wujûd ke dalam masyarakat islam meskipun tujuannya negatif.
Kaum atheis dan golongan madzhab wahdatul wujûd mengemukakan fana wujud selain Allah dalam kitab “Fushûshul hikâm” dan orang-orang yang sepadan dengannya mengatakan bahwa wujud khalik adalah wujud makhluk. Dipahami dari ucapan mereka itu bahwa mereka tidak mengakui adanya wujud selain Allah. Ucapan ini hanya lahir dari mulut orang kafir seperti yahudi, nasarani, dan penyembah berhala, orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhan dan hamba tidak ada perbedaan antara keduanya, ucapan ini sebenarnya menunjukan kekafiran yang nyata terutama apabila yang dimaksudkan seluruh makhluk meskipun yang dimaksud adalah para wali Allah yang beriman dan bertaqwa, kita tidak bisa langsung memfonis Ibn Arâbî dan orang-orang sehaluannya adalah kafir, namun bukan berarti kita harus menerima mentah-mentah hasil ijtihad mereka dibidangnya masing-masing khusunya tasawuf ini, karena kita yakin bahwa mereka umumnya adalah terdiri dari mutjahid islam di bidangnya. Dari hasil pengkajian ijtihad dan maka ajaran tasawuf seperti ittihad, hûlûl, waḫdtul wujûd dan sejenisnya perlu di kaji ulang.
Menurut Ibnu taimiyah wahdatul wujûd adalah penyamaan Tuhan dengan alam, dia menilai bahwa ajaran Ibn Arâbî adalah dari aspek tasybihnya (penyerupaan) khalik dengan makhluknya.[1] Ia belum menilai dari aspek tanzihnya (penyucian khalik). Menuru Ibn Arâbî wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik pula, tidak ada perbedaan diantaranya dari segi hakikatnya, dan kalaupun di lihat dari sudut pandang panca indra. Wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah dan Allah adalah hakikat alam. Tidak ada perbedaan antara wujud yang qodim dengan yang baru atau dengan kata l;ain tidak ada perbedaan antara ‘abîd (menyembah) dan ma’bûd (yang di sembah)
Kalau khalik dan makhluk bersatu dalam wujudnya mengapa telihat dua? Menurut       Ibn Arâbî tidak memandangnya dari sisi satu, tetapi memandang keduanya bahwa khalik dari sisi satu dan makhluk dari sisi yang lain. Jika mereka memandang dari sisi yang lain mereka pasti mengetahui  hakikat keduanya yakni dzatnya satu yang tak terbilang dan terpisah. Wujud Tuhan juga wujud alam dan wujud Tuhan bersatu dengan wujud alam yang dalam istilah barat disebut panteisme, yang di definisikan oleh Henry C.Theissen. panteisme adalah teori yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terbatas adalah aspek modifikasi atau bagian dari satu wujud yang kekal dan ada dengan sendirinya.
Ibn Arâbî menyebut wujud, maksudnya adalah wujud yang mutlak yaitu wujud Tuhan, satu-satunya wujud menurut Ibn Arâbî adalah wujud tuhan, tidak ada wujud selain wujud-Nya. Kesimpulannya kata wujud tidak diberikan kepada selain tuhan. Dalam bentuk lain dapat dijelaskan bahwa makhluk diciptakan oleh tuhan dan wujudnya bergantung pada wujud tuhan.
Dengan demikian, Ibn Arâbî menolak ajaran yang mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dari tiada. Ia mengatakan bahwa nur Muhammad itu qodim dan merupakan sumber emanasi dengan berbagai kesempurnaan ilmiah dan alamiah yang terealisasikan pada dari pada nabi adam sampai nabi Muhammad dan dari nabi Muhammad pada diri pengikutnya yaitu para wali.
Dari konsep-konsep wahdat al-wujûd Ibn Arâbî ini muncul dua konsep yang sekaligus merupakan lanjutan atau cabang  dari konsep dari wahdatul al-wujud itu, yaitu konsep al-hakikat al-muhammadiyah dan konsep wahdat al-adyan (kesamaan agama).
Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujûd Ibn Arâbî mengungkapkan bahwa wujud ini satu, namun dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan asma yang memiliki pemisah yang disebut dengan barzah atau menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang di sebut dengan insan kâmil.[2]
            Ia juga menjelaskan bahwa tuhan segala tuhan adalah Allah SWT. Sebagai nama yang teragung dan sebagai ta’ayun (pernyataan) yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama dan tujuan akhir dari segala tujuan dan arah dari segala keinginan serta mencakup segala tuntutan, kepada-Nyalah isyarat yang difirmankan Allah kepada rasulnya, bahwa kepada Tuhan-Mu lah tujuan akhir karena Muhammad adalah mazhar dari pernyataan yang pertama, dan tuhan yang khusus baginya adalah ketuhanan yang agung ini. Ketahuilah bahwa segala nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah. Sedangkan hakikat muhammadiyah merupakan gambaran dari nama Allah yang menghimpun segala nama ketuhanan yang darinya muncul limpahan atas segala yang ada dan Allah sebagai tuhannya. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan hakikat muhammadiyah disini bukanlah nabi Muhammad sebagai manusianya, namun hakikat muhammadiyah adalah asma dan sifat Allah serta akhlaknya. Nabi Muhammad disebut dengan Muhammad karena beliau mampu berakhlak dengan seluruh akhlak ketuhanan tersebut.
Dalam Filsafat Hikmah Mulla Shadra juga mengemuka konsep wahdatul wujud. Sesuai dengan penjelasan para pemerhati Filsafat Hikmah, Mulla Shadra dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud banyak terpengaruh oleh pandangan Ibn Arâbî.
Perbedaan asasi antara Ibn Arâbî dan Mulla Shadra terletak pada penekanan Ibn Arâbî atas “thuri warai thur aql” konsep wahdatul wujud. Mulla Shadra meyakini bahwa konsep wahdatul wujud dapat dijelaskan secara filosofis. Atas dasar ini, sistem filsafat Mulla Shadra berdasarkan dan berpijak pada masalah kehakikian wujud (ashalatul wujud) dan wahdatul wujud.

Disebutkan bahwa masalah wahdatul wujud bagi urafa sekali-kali tidak dikemukakan sebagai satu konsep murni filosofis dan terpisah dari realitas kehidupan. Masalah wahdatul wujud merupakan pengungkap tertinggi derajat kemurnian dan ketulusannya dalam bertauhid kepada Allah Swt. Kehidupan yang sarat dengan cinta dan harapan urafa Ilahi sejatinya merupakan jelmaan kehidupan yang berdasarkan wahdatul wujud

PENYELESAIAN MASALAH

Wahdatul Wujud
Selama ini sering rancu apakah Wahdatul Wujud itu sama dengan Pantheisme. Konsep Wahdatul Wujud menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang mempunyai wujud yang hakiki atau mutlak kecuali Allah. Wujud Mutlak adalah wujud yang keberadaannya independen (tidak bergantung pada apapun), tidak berawal, tidak membutuhkan wujud lain untuk membuatNya berawal (karena Dia memang tidak berawal). Adanya Wujud Mutlak ini ialah keniscayaan bagi keberadaan wujud-wujud lain yang berawal. Alam semesta dan segala sesuatu selain Allah adalah wujud yang tidak hakiki, karena keberadaannya tergantung kepada Wujud Mutlak.
Oleh para sufi segala wujud selain Allah itu disebut wujud al mukmin. Berbeda dengan Wujud Mutlak, wujud al mukmin ini adalah wujud yang berawal, artinya baru ada pada waktu awal tertentu. Misalnya alam semesta yang baru ada pada saat Big Bang(terjadinya ledakan besar, yaitu yang dianggap awal mula terjadinya bumi oleh para ilmuwan), yang oleh para kosmolog diperkirakan terjadi 10 milyar tahun yang lalu. Oleh karena itu, alam semesta ialah wujud al mukmin, karena keberadaannya diwujudkan (maujud) oleh Allah.
Harus dipahami bahwa paham Ibnu ‘Araby ini tidak menyamakan segala sesuatu yang tampak sebagai bukan Allah itu dengan Allah. Sebab jika kita misalnya mengatakan bahwa manusia adalah Allah dan Allah adalah manusia, maka kita akan jelas-jelas terjebak ke dalam Pantheisme. Menurut Ibnu ‘Araby, keterbatasan persepsi manusia telah gagal untuk melihat kaitan intregal antara keberadaan selain Allah dengan keberadaan Allah sendiri.
Jelas ada perbedaan prinsipil antara Wahdatul Wujud dengan Pantheisme. Pantheisme menganggap bahwa wujud Tuhan itu bersatu dengan wujud makhluk, sedangkan Wahdatul Wujud menganggap bahwa wujud Tuhan itu terpisah dari wujud  makhluk. Jadi, bagi penganut Pantheisme, wujud Tuhan itu tidak ada, karena Tuhan adalah alam, dan alam adalah Tuhan. Jelas dari sisi logika maupun dalil kepercayaan Pantheisme ini adalah sesat.
Doktrin wahdatul wujud Ibnu ‘Araby bersifat monorealistik, yakni menegaskan ketunggalan yang ada dan mengada (tauhid wujudi). Teori Wahdatul Wujud menekankan pada unitas wujud yang hadir pada segala sesuatu yang disebut sebagai maujud. Tuhan berwujud, manusia berwujud, benda-benda mati berwujud, dsb. Maka akan timbul pertanyaan, apa yang membedakan antara wujud Tuhan dengan wujud selainnya ?
Untuk menjawab persoalan yang dikenal dengan istilah problem multiplisitas dengan unitas wujudiyah yang menerangkan tentang dua perkara yang cukup fundamental. Pertama, ada yang disebut dengan istilah maujud murakkab, dimana keberadaan entitas tersebut bergantung pada unsur-unsur pokoknya. Segala sesuatu yang masuk dalam kategori ini pasti akan terbatas. Kedua, maujud Basit, dimana jenis wujudnya tak pernah bergantung pada unsur-unsur. Karenanya Ia tidak pernah terbatas. Wujud ini (maujud Basit) hanya milik Allah SWT saja, dimana wujudnya merupakan maujudnya itu sendiri.
Menurut Ibnu Araby, tahap tertinggi yang bisa dicapai manusia adalah pengalaman langsung (dzauq).  Ibnu Araby memandang pengalaman langsung sebagai tujuan tertingginya. Menurutnya, saat mencapai tahap tersebut, jiwa berarti telah mencapai kondisi peniadaan-diri (fana’). Dan pada saat itulah ia akan mampu secara visual menyaksikan kesatuan segala sesuatu, yaitu kesatuan antara Yang Mencipta dengan yang dicipta, dan Yang Abadi dengan yang binasa.
Karya-Karya Ibnu Araby
Ibnu Araby menghasilkan banyak karya. Menurut penelitian para ulama dan orientalis, Ibnu Araby mempunyai sedikitnya 560 kitab dalam berbgai disiplin ilmu keagamaan dan umum. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa risalah-risalah kecil Ibnu Araby mencapai 2000 judul. Diantara semua kitab-kitab yang dikarangnya, Futuhat al Makkiyah adalah merupakan karya terbesarnya, yang mana di dalamnya terdapat uraian tentang inti dari ajaran mistismenya. Ada juga Fushus al Hikam yang membahas tentang penyingkapan hikmah ketuhanan para nabi. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al Kabir yang terdiri atas 90 jilid. Terdapat pula kitab yang berisi sekumpulan syair-syair cinta spiritual, yaitu Tarjumanul al Asywaq.
 
 
 
 
PENUTUP
 
Kesimpulan
Ibnu Araby merupakan tokoh sufi yang  berorientasi pada filsafat (tasawuf falsafi). Menurutnya tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yaitu: Bawa’its, Dawa’i, Akhlaq, dan Hakikat-hakikat.
Ibnu Araby sangat dikenal dengan konsep Wahdatul Wujud-nya. Beliau lah mengajarkan bahwa tidak ada sesuatupun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriyah dariNya.
Perkembangan puncak dari tasawuf falsafi, sebenarnya telah di capai dalam konsepsi Wahdatul Wujud sebagai karya piker mistik ibnu Araby. Sebelum ibnu Arab,  sudah muncul teori dari seorang sufi yakni penyaoir dari mesir ibnu Al-Faridh yang mengembangkan teori yang sama yaitu Wahda Asy-syuhud.
Tasawuf falsafi juga di kenal dengan nama tasawuf syi’I karena konsep-konsep tasawuf falsafi berkembang dari kaum syiah dan bermadzhabkan Mu’tazilah.
Konsep Wahdatul Wujud adalah bukan merupakan pantheisme. Pantheisme menganggap bahwa wujud Tuhan itu bersatu dengan wujud makhluk, sedangkan Wahdatul Wujud menganggap bahwa wujud Tuhan itu terpisah dari wujud makhluk
Konsep Wahdatul Wujud milik ibnu Arabi bukanlah suatu pemikiran yang menyesatkan pengikutnya.

  Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan makalah tersebut maka dapat  ditarik kesimpulan bahwa konsep tasawuf Ibn al-‘Arabi adalah wahdat al-wujud yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang maujud di alam ini pada hakikatnya adalah satu yaitu wujud Tuhan. Sedangkan maujud yang lain hanyalah merupakan bayang-bayang dari wujud yang satu tersebut.

 

23 Juli 2012

Nikmatnya Celaan

oleh alifbraja

sebuah Maqam yang harus dilewati oleh para penempuh jalan kebenaran, maqam yang tidak meng-enakkan yaitu Maqam Celaan. Jarang sekali ada pembahasan tentang maqam celaan walaupun hampir semua kita yang menekuni tarekat, berguru, pernah mengalami hal seperti itu. Saya menemukan ulasan lengkap tentang maqam celaan dalam sebuah kitab Tasawuf Klasik yang berjudul Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri.

Untuk lebih mudah memahami saya akan mengajukan pertanyaan kepada anda, “Pernahkah anda dihina orang? Dicela atau dilecehkan orang?” Jawabannya tentu saja ada. Pengalaman orang yang berguru, menekuni tarekat lebih khusus lagi, tiba-tiba saja tanpa sebab setelah berguru orang yang selama ini menjadi teman kemudian menjauhi anda, bahkan orang tua yang anda hormati jadi ikut membenci anda. Ketika orang tua anda mengetahui anda telah berguru kepada Wali Allah apakah mereka langsung setuju? Jawabannya hampir semua orang tua tidak setuju dengan sebab atau tanpa sebab kecuali orang tua anda benar-benar paham tentang tasawuf/tarekat.

Ditambah lagi orang-orang sekitar anda sangat tidak senang dengan Tarekat, maka semakin bertambah-tambah hinaan dan cacian yang anda terima. Ada yang bisa melewati itu semua dengan tabah dan bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya namun tidak mereka berputus asa menganggap menekuni tarekat membuat hidup jadi susah kemudian mengambil keputusan untuk tidak lagi berguru.

Pernahkah anda merenung kenapa anda dikucilkan dan dianggap aneh dan tidak hanya anda sayapun mengalami hal yang sama. Memang harus di akui ada faktor lain yang ikut menyuburkan kebencian dan ketidaksenangan orang terhadap Tarekat seperti tingkah laku pengamal tarekat sendiri yang terkesan eksklusif, tidak mau bergaul dengan lingkungan, tidak menjaga syariat dan lain-lain. Terlepas dari itu semua, saya juga melihat orang-orang yang bertingkah laku baik dan orang juga tidak tahu kalau dia pengamal tarekat namun anehnya orang tetap saja tidak senang. Setelah saya merenung dalam dalam akhirnya saya menemukan jawabannya dan saya uraikan secara singkat dalam empat point berikut ini :

Pertama, Kalau anda sebagai pengamal tarekat sebagai inti dari ajaran Islam dianggap aneh dan asing di zaman ini itu hal yang wajar karena telah terlebih dahulu Nabi mengingatkan dalam hadistnya :
“Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing”. (HR Muslim dari Abu Hurairah).
Kalau ada golongan lain yang merasa lebih “Islam” dari anda itupun wajar karena biasanya yang merasa itu berarti tidak memilikinya 

Kedua, anda menemukan mutiara yang dicari oleh seluruh dunia yaitu bertemu dengan Kekasih Allah. Kakasih Allah ibarat pengantin yang disembunyikan oleh Allah dan hanya diperkenalkan kepada orang-orang yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Anda harus mensyukuri nikmat dan karunia yang luar biasa ini. Banyak cara Allah untuk menyembunyikan kekasih-Nya, salah satunya manusia terhijab oleh kekurangan yang nampak pada diri seorang wali sebagaimana juga musuh musuh Islam melihat kekurangan yang Nampak pada diri Nabi. Kalau ada orang mengatakan Guru anda sesat, itu juga wajar karena dia melihat Guru anda dibalik hijab yang dibuat oleh Allah.

Anda begitu yakin Nabi Muhammad adalah seorang mulia dan dimuliakan Allah, apakah musuh-musuh Islam dari dulu beranggapan yang sama? Apakah Abu Lahab dan Abu Jahal menilai Nabi seperti anda menilai? Apakah orang yang menggambar karikatur Nabi dengan penuh kebencian melhat Nabi dengan kemulyaan? Tentu saja TIDAK, mereka melihat nabi dibalik hijab.

Rasulullah SAW, yang menjadi teladan dan pemimpin orang-orang yang mengikut jalan kebenaran, dan yang mengunguli derajat pecinta pecinta Tuhan, Kemulyaan Beliau diakui dan kebenaran Beliau menerima wahyu dari Allah tidak diragukan sedikitpun. Namun dalam pandangan orang yang tidak senang, Belau dituduh dengan berbagai macam tuduhan, “Orang yang suka mengada-ada”, “penyair” bahkan Beliau dituduh Gila dan pendusta.

Orang-orang beriman yang mengalami celaan dilukiskan dalam firman Allah :
“Mereka tidak takut celaan seseorang, itulah rahmat Tuhan yang Dia anugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, Tuhan Maha Pemurah lagi Maha bijaksana” (QS 5:59).

Ketiga, Coba anda bayangkan disebuah desa ada seorang gadis paling cantik dan anda termasuk penduduk desa tersebut. Gadis itu diperebutkan oleh banyak laki-laki dan anda termasuk salah seorang yang berusaha mengambil hati. Bisa anda bayangkan bagaimana susahnya anda merebut hati si gadis diantara puluhan pesaing. Kemudian bayangkan juga anda berada disebuah kota dan dikota tersebut ada seorang gadis paling cantik, primadona kota dan seluruh pemuda di kota tersebut berlomba-lomba merebut hati sang gadis.

Bisa anda bayangkan pengorbanan harta, pikiran dan tenaga untuk bisa mendapatkan gadis pujaan anda, bisa jadi anda ditolak dan mengalami sakit hati. Sekarang bayangkan yang ingin anda rebut cinta adalah dari Sang Maha Cinta yang diperebutkan oleh Manusia seluruh alam ini, ada 5 milyar saingan anda untuk memperoleh perhatian dan cinta Dia Yang Maha Esa. Sekarang coba anda bayangkan pengorbanan apa yang harus anda berikan agar bisa mendapatkan cinta dari Sang Maha Cinta tersebut?. Apakah harta anda cukup untuk bisa mendekati Dia? Apakah pikiran anda cukup untuk dikorbankan kepada-Nya dan apakah perasaan anda siap untuk kecewa dan sakit hati untuk mencapai Cinta-Nya? Saya tidak melanjutkan uraian ini dan saya yakin ada menemukan jawabannya. Yang diminta dari anda oleh Sang Kekasih adalah sedikit kesabaran dalam menggapai cinta tersebut, pantaskah anda berkeluh kesah?

Ke empat, Orang yang masuk tarekat pada hakikatnya adalah memulai hidup baru dalam Taubat kepada-Nya, melangkahkan kaki setahap demi setahap menuju kehadirat Allah. Anda, saya dan semua kita di dalam hati ini bersemayam Jin, setan yang sejak lahir (buka surat An Naas) telah menemani kita siang dan malam selama 24 jam sampai kita mengucapkan kata perpisahan dengan mereka ketika kita menyatakan diri menjadi murid seorang kekasih Allah. Setan dan dalam diri anda itu kemudian keluar dari tubuh anda, keluar dengan nada kesal dan kecewa. Lalu rasa kecewa tersebut kemudian dia masuk ke tubuh sahabat anda, tetangga anda atau bisa jadi orang tua anda sendiri, lewat mereka para jin/setan tersebut dengan bebas mencaci maki anda sebagai orang yang telah meninggakan mereka. Lalu kenapa anda jadi marah kalau dicaci oleh tetangga yang pada hakikatnya adalah telah di masuki oleh “diri anda”, sekutu yang sejak lahir menemami anda. Kalau ada yang mencaci anda karena anda mengamalkan tarekat, dalam hati ucapkan, “wahai kawan lama, maaf, aku tak bisa bersamamu lagi, sekarang aku sudah jadi murid Wali” he he.

Memegang kebenaran itu ibarat memegang bara api, kalau digenggam tangan akan terbakar kalau dilepas maka bara itu akan terlepas dan hilang. Guru memberikan rahasia kepada saya, “Pegang kuat-kuat bara itu dan nanti bara itu akan padam ditanganmu dan kamu harus punya prinsip tangan yang terbakar atau bara api yang padam dan jangan pernah kau melapaskan bara tersebut”. Ditempat lain Guru juga memberikan gambaran bahwa seorang penempuh jalan kebenaran persis seperti orang yang berada diantara buaya dan dinding terjal. Di depan ada dinding terjal sementara dibelakang ada buaya. Kalau mundur akan mati dimakan buaya sementara kalau maju harus melewati dinding yang terjal dan sangat sulit. Guru memberikan rahasia, “Kalau Aku akan terus maju walau harus merangkak”.

Seorang teman seperguruan bertanya kepada saya, “Menurut anda apakah Guru kita termasuk orang yang benar?”. Saya jawab, “Pertanyaan itu ketika tahun pertama berguru saya masih bisa menjawabnya, tapi sekarang setelah belasan tahun saya berguru pertanyaan tersebut tidak bisa lagi terjawab”. Dengan penasaran dia bertanya lagi, “kenapa bisa begitu?”. Saya jawab, “Bertahun-tahun saya mencari Wali Allah, begitu banyak saya menjumpai Guru yang mengaku Wali Allah dan dan hampir saja saya putus asa karena tidak menemukan orang yang benar-benar Wali Allah dan saya pikir tidak mungkin orang seperti saya bisa berjumpa dengan seorang Wali Allah. Setelah berguru awalnya timbul keraguan dalam hati, dan saya membuka Al Qur’an dan Hadist untuk mencari kebenaran dari apa yang disampaikan Guru. Bukan hanya itu saya juga mempelahari  ucapan-ucapan ulama, kitab-kita tentang Tauhid dan tasawuf untuk Menelusuri kebenaran yang di ajarkan oleh Guru. Setelah setahun saya mengambil kesimpulan bahwa Guru kita benar-benar seorang Wali Allah, Ulama Pewaris Nabi dan Beliau benar Khalifah Rasulullah yang menegakkan Agama ini yang kebenarannya tidak diragukan lagi.” Kemudian saya melanjutkan, “Kalau anda saudaraku hari ini bertanya tentang kebenaran Guru kita, saya tidak bisa menjawabnya karena bagi saya saat ini berguru bukan karena benar dan salah tapi karena kecintaan saya kepada Beliau sebagai seoranng pengemban amanah Allah. Andai seluruh dunia ini mengatakan Guru kita salah atau sesat dan siapapun jadi murid Beliau dikatakan masuk Neraka, saya tidak peduli dan saya akan tetap menjadi murid Beliau”. Kemudian saya melanjutkan, “Saudaraku, Kebenaran mutlak itu hanya ada pada Allah dan Guru kita telah mengantarkan saya kepada Allah, Sang Kebenaran Mutlak, jadi untuk apa saya harus mendengarkan kebenaran versi manusia yang sangat besar kemungkinan salahnya?

Siapapun anda wahai saudaraku, apakah kita satu Guru atau berbeda Guru, saya memberikan nasehat kepada anda, siapapun Guru anda, hormati Beliau sayangi Beliau dan teruslah melanjutkan Berguru karena sesungguhnya bersama Kekasih Allah itu adalah sebesar-besarnya rahmat dan karunia dan sesungguhnya Guru Mursyid itu adalah pintu yang langsung menuju kehadirat Allah SWT.

Walaupun pandangan orang negatif terhadap anda, digolongkan anda kapada pengikut aliran sesat, dituduh sebagai pembuat bid’ah bahkan orang mengatakan anda kafir jangan membuat pribadi anda berubah menjadi pribadi pendendam, pribadi yang putus asa dan kemudian malah bertingkah laku aneh sesuka hati. “ah saya sudah terlanjur dianggap sesat, mendingan buat yang aneh-aneh sekalian”. Kemulyaan dan ketinggian derajat seseorang tidak tergantung dari penilaian orang, manusia itu bersifat baharu dan penilaiannya pun akan berubah termasuk penilaiaan terhadap anda. Jadilah pribadi yang mulia karena anda mengemban amanah yang mulia, dalam diri anda telah tertanam Nur Allah dan kemanapun anda melangkah Allah dan seluruh alam ini akan ridho kepada anda. Jadilah pribadi yang ketika orang melihat dan menilai anda maka orang akan mengatakan, “orang ini benar dan Gurunya juga benar”.

Bersyukurlah karena masih ada orang yang menghina anda, karena yang paling berbahaya justru ketika anda dipuji karena pujian sering kali membuat orang lalai dan lupa dan kemudian tanpa sadar menjadi sombong dan angkuh sementara dua sikap itu yang paling tidak disenangi oleh Tuhan dan sikap itu membuat anda jauh dari Tuhan. Hinaan manusia akan membuat cinta anda kepada Tuhan semakin menggelora dan hati anda selalu terjaga untuk selalu mengingat dan membesarkan nama-Nya. Ketika semua orang mencaci dan menghina orang maka anda hanya memikirkan satu saja, semain fokus pada satu tujuan yaitu Allah SWT. Yakinlah bahwa Orang-orang yang menghina anda itu sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai lawan tanding agar anda bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam menggapai cintai-Nya. Suatu saat nanti anda akan menangis dan selalu bersyukur karena anda dihina orang dan hal itu hanya bisa terjadi ketika anda benar-benar bisa memaknai Nikmatnya Celaan. Salam

7 Juli 2012

LETAK SINGASANA ALLAH

oleh alifbraja

LETAK SINGASANA ALLAH

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…!.

Sahabat…!.
Dimana letak Singasana Allah Yang Agung….!.
Jika kalian wahai sahabat ada disana, berarti kita satu rumah…!.
Ketika kita satu rumah…, apa kata pikiranmu…?.
Apakah kita masih mengatakan:

“Oh Tuhan-ku Yang Maha Agung…, Aku diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah…!. Ana khairun minhu khalaqtani min naarin…”
Kalau masih…, maka dimanakah gerangan letak kesatuan RUH …??.
Namun begitu…, tanda-tanda untuk itu masih ada dalam suasana hati kita…!!.
Padahal katanya: “Aku ikut Allah saja…”.
Akan tetapi tanpa sadar kita pecah seperti orang syariat… lainnya,
Akan tetapi tanpa sadar kita pecah seperti orang hakekat… lainnya,
Kalau begitu pastilah diantara kita ada yang tidak duduk dalam ketundukpatuhan….!
Karena yang diperdebatkan adalah pikiran si Anu, pikiran Abu Sangkan, pikiran Deka…!
Kenapa kita tidak berada saja dalam satu rumah-NyaYang Maha Dekat…!.
Lalu kenapa kita tidak saling membaca dengan kerendahan hati…
Bahwa syariat itu disatukan oleh apa….?.
Bahwa hakekat itu juga disatukan oleh apa…?
Dua-duanya ternyata disatukan oleh RUH…!.
RUH lah yang membuat syariat mempunyai kedalaman makna…
Dan…, RUH jualah yang membuat hakekat mempunyai keindahan aturan-aturan…
Coba tengoklah sejenak sejarah nenek moyang kita…!.
Walau saat itu Adam, Malaikat, dan Iblis bersatu dalam Rumah-Nya Yang Maha Dekat…
Walau mereka masing-masing bermakrifat kepada Allah dengan kualitas yang prima sekali…
Walau Malaikat saat itu menyatakan: “Aku ikut Allah…”, namun nyaris saja mereka ikut pikirannya sendiri. Hanya kelembutan Allahlah yang menyelamatkan Malaikat dari keangkuhan pikirannya sendiri…

Walau Iblis saat itu menyatakan: “Aku ikut Allah…”, namun saat itu (bahkan sampai kapanpun) iblis ternyata masih keukeuh (ngotot) memakai fikirannya sendiri:

“Ana khairun minhu khalaqtani min naarin…”, katanya angkuh.

Lalu ada apa dengan kita…, wahai sahabat…?.
Kalau kita berani mengatakan : “Aku ikut Allah…”,
Lalu kenapa kita tidak mau ikut alur PIKIRAN ALLAH….?.

Dan tidaklah PIKIRAN ALLAH itu melainkan Al Qur’an…,
Dan tidaklah PIKIRAN ALLAH itu melainkan Syariat…,

Malaikat akhirnya ikut PIKIRAN ALLAH, dengan sujud menghormat kepada Adam…
Karena malaikat sadar ada RUH (milik) TUHAN yang meliputi Adam…
Dan bersujud, patuh, serta bertasbih itulah bentuk kepatuhan Malaikat dalam bersyariat…

Akan tetapi…, Iblis malah memilih untuk TETAP ikut pikirannya sendiri…
Akibatnya Sang Iblis dalam wilayah kemakrifatannya kepada Allah, justru jatuh menjadi makhluk yang sama sekali tidak bersyariat…

Semoga dalam Ramadhan ini kita semua berada dalam wilayah BUKAN syetan…
Wilayah yang BUKAN pikiran kita sendiri.

Oleh sebab itu, selama ramadhan ini targetkan dan raihlah agar kita berada diwilayah:

“Aku mau ikut Allah,
Dan …, Aku mau pula ikut PIKIRAN ALLAH…,
yaitu Al Qur’an dan Syariat (sunnah)…!”.
Inilah suasana Idul Fitri yang sebenarnya…!.
Suasana Kesadaran RUH…!.
Yang membuat Mailaikat harus sujud…!

29 Juni 2012

Penjelasan filsafat tentang alam barzakh terdapat penyempurnaan ilmu, namun tidak ada penyempurnaan amal

oleh alifbraja

VERSI 1

Penyempurnaan di alam barzakh merupakan suatu perkara yang pasti sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis dan sebagian teks ayat-ayat suci al-Quran juga berimplikasi demikian. Di samping itu, ungkapan-ungkapan yang dikutip dari Irfan yang bersumber dari mukâsyafah dan musyâhadah yang berkaitan dengan realitas penyempurnaan di alam barzakh.

Hal ini juga dikaji di dalam Filsafat.  Secara global dalam Filsafat terdapat kesepakatan tentang adanya kenyataan penyempurnaan di alam barzakh dan berdasarkan prinsip-prinsip bisa dikatakan bahwa tidak satupun Filsafat yang dapat mengingkari adanya kemungkinan penyempurnaan di alam barzakh.

Poin pertama yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tidak ada kemungkinan penyempurnaan amal dalam artian bahwa di alam barzakh manusia menyempurna dan menggapai derajat yang lebih tinggi dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan Ilahi, karena alam barzakh bukanlah alam ‘kewajiban’ (atau alam syariat) yang kondisi-kondisi dan hukum-hukum serta kaidah-kaidah tidak sebagaimana alam materi. Oleh karena itu, jika ada pembahasan tentang penyempurnaan di alam barzakh maka yang dimaksud adalah penyempurnaan ilmu yang secara tegas disebutkan dalam hadis-hadis. Tentang perilaku orang-orang shaleh dan lain sebagainya demikian juga kembalinya jiwa yang telah meninggal bukanlah pelbagai aktivitas dan amalan di alam barzakh, melainkan bersumber dari pengaruh-pengaruh suatu amal yang telah dikerjakan di dunia dan buah dari perbuatan itu baru nampak kemudian di alam barzakh.

Adapun sehubungan dengan masalah bentuk penyempurnaan di alam barzakh bahwa apakah sejenis gerak yang menurut definisi Filsafat tentangnya ataukah sejenis penyempurnaan lain dan mengalami perubahan? Tampaknya persoalan ini mengundang kritikan yang akan dicarikan solusinya secara filosofis.

Sumber kritikan berkenaan dengan probabilitas penyempurnaan di alam barzakh dan bagaimana penjelasan filosofisnya terkait dengan pembahasan potensialitas dan aktualitas serta definisi materi dan gerak dalam filsafat.

Uraian kritikan tersebut adalah sebagai berikut: gerak dalam perspektif Filsafat adalah keluarnya sesuatu secara bertahap dari kondisi yang bersifat potensial ke keadaan yang aktual, sementara materilah yang mengandung potensi dan bakat ini. Oleh karena itu, gerak bergantung kepada keberadaan materi dan kondisi yang bersifat potensial, gerak tidak bermakna tanpa kedua hal ini. Dengan kata lain, jika di suatu alam tidak terdapat materi maka akan berkonsekuensi pada tiadanya gerak dan penyempurnaan.     

Kritikan ini secara mendasar bersumber dari keterbatasan penggambaran tentang konsep penyempurnaan yang semata-mata hanya dipandang berada dan terkait di seputar materi. Jika kita memandang persoalan penyempurnaan dengan perspektif yang lebih universal dan melihat bahwa gerak menurun dan menaik di dalam tingkatan eksistensi sebagai gerak eksistensial serta meninjau bahwa jiwa-berakal manusia berasal dari mana dan akan kembali berproses ke sumbernya yang tertinggi, maka akan disaksikan bahwa keraguan dan kritikan ini tidak dapat dijadikan hukum universal untuk menolak adanya penyempurnaan di alam barzakh setelah berpindahnya jiwa dari alam materi ke alam barzakh.

Pernyataan tentang gerak berpijak kepada materi adalah benar sesuai dengan ruang-lingkupnya, karena jika tidak ada potensi dan bakat untuk menjadi sesuatu, maka tidak akan ada pula aktualitas baru dan gerak juga tidak akan bermakna. Poin ini perlu digaris bawahi bahwa jiwa manusia setelah melewati gerbang kematian, walaupun ia telah meninggalkan materi dan badan jasmaninya dan tidak lagi memiliki suatu gerak dalam makna filosofisnya, akan tetapi, pada saat yang sama setelah meninggal dan berpisah dengan badan materinya, jiwa manusia tidak langsung mencapai derajat kenonmateriannya yang sempurna. Karena itu, jiwa manusia mesti mengalami semacam penyempurnaan dan perubahan di alam barzakh, karena begitu banyak hijab-hijab yang meliputi jiwa masih belum sirna atau tersingkap.

Dengan kata lain, memang benar bahwa jiwa setelah melewati gerbang kematian, telah mengaktual dari aspek gerak materi, akan tetapi, jika dilihat hakikatnya yang terdalam maka ia masih diselimuti oleh hijab-hijab yang beragam. Oleh itu, jiwa yang masih memiliki potensi untuk lebih menyempurna jika dibandingkan dengan keadaan-keadaan berikutnya yang masih diliputi oleh hijab-hijab yang relatif lebih sedikit, mesti mengalami suatu bentuk penyempurnaan sedemikian sehingga ia kembali dalam keadaannya yang utama dalam bentuk nonmateri murni.

Dengan demikian, penyempurnaan di alam barzakh tidak bertolak belakang dengan kondisinya yang material (tidak berada di alam materi), karena walaupun materi tidak ada di alam barzakh, namun jiwa itu sendiri ketika dia meninggalkan badan materinya masih memiliki potensi-potensi yang disebabkan oleh adanya hijab-hijab yang meliputinya sewaktu hidup di alam materi, dan pada akhirnya jiwa akan mengaktual secara sempurna setelah penyempurnaan kekurangan-kekurangan dan penyirnaan hijab-hijabnya di alam barzakh.

Secara bertahap, jiwa akan berproses untuk mencapai kesempurnaan di alam barzakh dan alam-alam berikutnya atau tahapan-tahapan lebih tinggi, dan jalan ini akan berujung pada hari kiamat yang dipandang merupakan batas akhir dari perjalanan menyempurna.

Dari aspek inilah sehingga dikatakan: barzakh dan kebutuhan kepada penyempurnaan di alam barzakh adalah tidak sama bagi semua jiwa, karena sangat mungkin terdapat orang-orang sempurna yang selama hidup di alam materi telah mampu menyirnakan hijab kegelapan dan hijab cahaya yang meliputinya, karena itu, ia hanya sebentar saja berada dan berhenti di alam barzakh, orang-orang itu seperti para nabi, rasul, dan orang-orang suci lainnya yang telah ditegaskan oleh Allah Swt dalam al-Quran dan hadis nabi, dikarenakan derajat kedekatannya yang sangat tinggi kepada Tuhan dan kegemilangan cahayanya, setelah melewati kematian, mereka akan kembali ke tempat asalnya yang semula.

Begitu pula para arif mendapatkan kesempurnaan di alam barzakh dan akan masuk ke alam-alam malakuti yang lebih tinggi, namun begitu banyak jiwa-jiwa manusia akan mengalami proses penyirnaan hijab-hijab, perolehan aktualitasnya yang sempurna, penghilangan sifat-sifat buruk duniawi, dan pencapaian kenonmaterian murni di alam barzakh hingga hari kiamat.

Dengan penjelasan tersebut, kaidah-kaidah Filsafat yang telah terjabarkan untuk gerak dalam pembahasan potensi dan aktual tentunya tidak bertentangan dengan penyempurnaan yang ada di alam barzakh, dan satu-satunya penyelesaian dalam hal ini adalah tidak memandang gerak materi yang terjadi di alam materi bisa teraplikasi di alam barzakh, karena gerak materi ini telah sampai pada tujuannya, dan jiwa yang telah meninggalkan badan jasmaninya akan terus mengalami sejenis penyempurnaan di alam nonmateri dan barzakh supaya jiwa terbebas secara sempurna dari segala bentuk kotoran-kotoran, hijab-hijab, dan sifat-sifat buruk yang meliputinya.

Dari aspek inilah penyempurnaan di alam barzakh menjadi mungkin dan bahkan menjadi hal yang urgen mengingat jiwa mesti berjalan dan berproses untuk mencapai kesempurnaannya dalam bentuk nonmateri yang murni.

Oleh karena itu, sanggahan dan kritikan yang terlontar pada dasarnya berpijak kepada penyempurnaan yang semata-mata bergantung kepada materi dan badan jasmani, penggambaran ini juga bersumber dari anggapan sebagian orang yang menyatakan bahwa satu-satunya faktor yang mengantarkan jiwa dan ruh manusia ke derajat nonmateri sempurna adalah kebergantungannya kepada badan materi ini dan ketika jiwa berpisah dengan badan jasmaninya akan secara langsung berubah menjadi nonmateri sempurna dan tidak lagi membutuhkan suatu bentuk penyempurnaan di alam manapun. Anggapan ini keliru dan salah, jiwa tidak akan langsung mencapai aktualitas  terakhir, nonmateri sempurna, dan tidak lagi menyempurna seketika melewati gerbang kematian, walaupun kematian sejenis keterpisahan dari badan lahiriah yang menyebabkan jiwa tidak lagi terhalangi untuk mencapai kesempurnaannya, namun kematian bukanlah akhir dari suatu pergerakan, perubahan, dan penyempurnaan, bahkan –menurut Mulla Sadra- dipandang sebagai langkah awal gerak dan kembali jiwa manusia ke haribaan Ilahi.[1]

Dengan demikian, begitu banyak para filosof dan arif pada saat yang sama menerima prinsip-prinsip gerak, alam potensial dan aktual serta memustahilkan gerak dalam makna filosofisnya, namun sangat menekankan adanya penyempurnaan di alam barzakh dan mereka menggunakan istilah ‘penyirnaan hijab-hijab’, ‘penguatan cinta’, dan istilah-istilah semacamnya untuk menjelaskan penyempurnaan ini yang bukan sejenis gerak dalam istilah filsafat.

Hal seperti itu juga disinggung oleh Imam Khomeni Qs dalam catatan kakinya atas Syarh Fushushush al-Hikam[2] berkenaan dengan penyempurnaan di alam barzakh. Beliau menyebut penyempurnaan itu sebagai ‘penyirnaan hijab-hijab dan sifat-sifat kegelapan’ dan menegaskan bahwa penyempurnaan itu bukan sejenis gerak materi yang memiliki potensi dan bakat. Begitu pula Allamah Thabathabai Qs menamakan penyempurnaan di alam barzakh itu sebagai ‘penggapaian derajat cinta’ yang bijinya telah disemaikan di kebun alam materi.[3]

Poin lain yang dapat disimpulkan dari filsafat Mulla Sadra adalah jiwa di alam barzakh memiliki badan mitsal yang “materinya” sangat lembut.[4] Badan mitsal atau badan barzakh memiliki tingkat kelembutan yang sangat tinggi dibandingkan dengan badan duniawi, badan barzakh inilah yang mengandung potensi bagi jiwa di alam barzakh yang akan mengalami proses penyempurnaan dan pensucian dari segala bentuk kegelapan dan sifat-sifat buruk ke arah pencerahan sempurna. Karena itu, badan barzakh akan menyempurna di alam barzakh dikarenakan proses-proses penerimaan rahmat Ilahi dan pensucian yang dibutuhkan di alam barzakh, penjelasan yang lebih teliti ini mungkin akan memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada kita.

Di akhir uraian ini, demi memudahkan kita mengerti makna penyempurnaan di alam barzakh, akan diutarakan konsep-konsep yang lebih membumi (down to earth). Misalnya jiwa di alam mimpi yang pada saat yang bersamaan lepas dari kontrol dan pengaturan badan jasmani, dapat menggapai pengetahuan-pengetahuan yang lebih tinggi yang hal ini juga sejenis penyempurnaan dan perjalanan barzakh. Begitu pula mukâsyafah-nya para arif yang terjadi ketika berpisah dari badan jasmaninya (bukan kematian alami, namun kematian ihktiari) juga tergolong ke dalam sejenis penyempurnaan barzakh yang tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk gerak materi, dan penyempurnaan ini menyebabkan kesempurnaan jiwa.

Alam mimpi dan mukâsyafah juga sejenis kematian, namun memiliki derajat yang lebih rendah dari kematian alami. Kematian ini bermakna keterpisahan sementara dari materi dan badan jasmani dengan cara “meringankan” jiwa dan ruh. Jenis kematian ini dapat dilakukan dengan maksud memperoleh pengetahuan dan makrifat baru yang tidak lain adalah sejenis penyempurnaan di alam barzakh, kedua istilah ini tidak bertentangan satu sama lain. Sebagaimana pernyataan Mulla Sadra yang dipandang sebagai akhir sebuah gerak dan tercapainya tujuan dari satu sisi yang dikategorikan sebagai kematian, namun di sisi lain dipandang sebagai awal kelahiran dan permulaan suatu “gerak” kedua di alam yang lebih tinggi.

VERSI 2

Penyempurnaan di alam barzakh bisa diterima dengan berpijak kepada al-Quran dan hadis-hadis sahih. Hal ini juga dikaji dalam koridor Filsafat serta banyak lagi hal yang dibahas terkait dengan masalah alam barzakh (isthmus) dalam Filsafat.

Poin pertama yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tidak ada kemungkinan penyempurnaan amal dengan makna bahwa di alam barzakh manusia menyempurna dan menggapai derajat yang lebih tinggi dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan Ilahi, karena alam barzakh bukanlah alam ‘kewajiban’ (atau alam syariat) sebagaimana alam materi.

Oleh karena itu adalah jelas bahwa ketika ada pembahasan terkait dengan penyempurnaan di alam barzakh maka yang dimaksud adalah penyempurnaan ilmu sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis sahih.

Untuk menguraikan persoalan penyempurnaan ini dari perspektif filsafat, maka harus dikatakan: dari pandangan yang bersifat global, ruh nonmateri dan jiwa-berakal manusia berasal dari ruh Ilahi yang telah melewati jenjang dan derajat yang beragam secara menurun sedemikian sehingga sampai di alam materi dan badan jasmani, dan dalam perjalanan menaik juga melewati tingkatan-tingkatan yang berbeda. Perjalan menaik ini juga bisa dikatakan sebagai ‘penyempurnaan’.    

Fenomena kematian dan perpindahan ke alam barzakh merupakan suatu tahapan gerak dan perjalanan menuju Tuhan yang bukan merupakan kesempurnaan akhir manusia, namun masih tertinggal banyak tahapan perjalanan jiwa manusia untuk sampai ke alam nonmateri dan malakut yang sempurna. Akan tetapi dengan memperhatikan definisi gerak dalam filsafat yakni keluarnya sesuatu dari alam potensial ke alam aktual, maka sanggahan yang terlontar adalah bahwa materilah yang mengandung potensi dan cikal-bakal itu.

Oleh karena itu, gerak bersyarat kepada materi dan kondisi yang bersifat potensial, dengan demikian, di alam barzakh yang tidak terdapat materi (karena bukan alam materi) niscaya tidak ada gerak dan berkonsekuensi juga kepada tiadanya penyempurnaan.

Untuk menjawab sanggahan ini, dapat dikatakan bahwa walaupun jiwa manusia akan berpisah dengan materi dan badan jasmaninya setelah mengalami kematian dan mengaktual dari aspek gerak materi, akan tetapi jika dipandang dari hakikat jiwa (nonmateri sempurna) maka masih berada dalam hijab-hijab yang beragam. Oleh karena itu, dari satu sisi dapat dikatakan: jiwa dalam kondisi demikian (di alam barzakh) jika disandarkan dengan kondisi-kondisi setelahnya akan memiliki hijab-hijab yang semakin berkurang secara potensial dan mesti mengalami penyempurnaan sedemikian sehingga mencapai derajat nonmateri sempurna dan aktual murni (tidak lagi memiliki potensi).

Dengan dasar inilah mayoritas ulama tidak menamakan penyempurnaan ini sebagai gerak, tetapi menggunakan istilah-istilah lain seperti ‘penyirnaan hijab-hijab’, ‘pemusnahan jarak’, ‘pensucian kotoran-kotoran’, ‘penguatan cinta’,  dan yang semacamnya yang tidak bertentangan dengan kenonmaterian alam barzakh.

%d blogger menyukai ini: