Posts tagged ‘Tuhan’

24 Oktober 2012

MERASAKAN KEHADIRAN TUHAN dalam SHALAT

oleh alifbraja

Wahai Ahmad! Aku heran dengan tiga kelompok dari hambaku: hamba yang melakukan shalat dan dia tahu kepada siapa dia mengangkatkan tangannya serta di depan siapa dia berdiri, akan tetapi ngantuk dalam shalatnya dan aku heran dengan hamba yang memiliki kemampuan untuk bisa menyiapkan makanan hari ini akan tetapi dia hanya memikirkan untuk esok hari serta aku heran dengan hamba yang tidak tahu bahwa aku ridho atau kah marah kepadanya sementara dia tertawa”.

 

Dalam kelanjutan dari hadits mi’raj, Tuhan berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

Wahai Ahmad! Aku heran dengan tiga kelompok dari hambaku: Pertama: Aku heran dengan hamba yang melakukan shalat dan di tahu kepada siapa dia mengangkat tangan serta di depan siapa dia berdiri, akan tetapi dia ngantuk dalam shalatnya!…”

 

Kutipan dari hadits ini mengisyaratkan akan satu poin dimana kita semua atau kebanyakan dari kita terkena dengan ‘penyakit’ tersebut yaitu kita belum bisa menjalankan shalat yang sebenarnya; walaupun setiap orang yang memiliki kesadaran dan makrifat yang kuat maka dia akan lebih memiliki perhatian kepada shalat dan akan lebih memahami pentingnya shalat.

Kita semua tahu bahwa shalat kita dalam keutamaan dan kelayakannya tidak seperti shalat yang dilakukan oleh para para wali ilahi dan juga kita mengetahui bahwa efek dan buah dari shalat yang telah disebutkan dalam banyak ayat dan riwayat tidak dimiliki oleh shalat kita, akan tetapi banyak dari kita tidak mengetahui dengan betul kadar kekurangan dan kelemahan kita, oleh karenanya kita mesti berusaha untuk membenahi segala kekurangan dan kecacatan shalat kita. Kita harus menyadari kekurangan dan kecacatan shalat dengan ketidak hadiran hati dikarenakan kurangnya perhatian serta kita harus benar-benar tahu bahwa jika kita melakukan shalat dengan sempurna dan semestinya, betapa banyak faedah yang akan kita dapatkan dari kesempatan untuk menjalankan shalat dan betapa kita akan meraih hasil-hasil yang tinggi darinya dimana tanpa adanya kehadiran hati dan kesadaran untuk menjalankan shalat akan banyak hasil dan manfaat yang akan hilang dari kita serta dengan bahasa apa lagi supaya kita bisa sadar.

Sepantasnya kita disini menyinggung sedikit tentang shalatnya para wali Tuhan dan membandingkan shalat mereka dengan shalatnya kita sehingga kita bisa melihat kekurangan yang ada dalam shalat kita. Sebab dengan membandingkan yang lemah dengan yang kuat serta yang kurang dengan yang sempurna kita akan lebih mengetahui kekurangan dan kecacatan kita.

Alhasil, untuk membenahi kekurangan karena kurangnya perhatian kepada shalat, telah banyak disinggung oleh para tokoh agama dalam buku-buku mereka diantaranya buku “Asraar Al-Shalat” karya marhum Mirza Jawad Aqhae Tabrizi ra. juga buku “Asraar Al-Shalat” karya Imam Khumanei ra. Dan pada kesempatan ini kita akan menyinggung bagian dari poin-poin yang berkenaan dengan shalat:

 

 

Hakekat dan Essensi Shalat

Shalat artinya bahwa seorang hamba berdiri di depan Tuhan dan mengakui akan kehambaannya serta mengadukan seluruh permohonannya kepada Tuhan. Orang yang berdiri untuk melakukan shalat hendaklah dia merasakan kehadiran Tuhan hendaklah sadar didepan maqom apa dia berdiri dan ini akan membuat dia menjalankan tugas kehambaan dengan puncak ketundukan dan kekhusyuan.

Ketika kita berdiri untuk menjalankan shalat, sangat sedikit konsentrasi kita kepada shalat akan tetapi konsentrasi kita kepada masalah-masalah lain yang kita miliki, bahkan terkadang masalah tersebut berhubungan dengan puluhan tahun yang lalu yang masuk ke dalam benak kita. Malah ketika kita kita hendak mengucapkan salam baru kita sadar bahwa kita sedang menjalankan shalat! Betapa hal ini sangat buruk dan tidak sepantasnya karena kita sedang berdiri dihadapan Tuhan serta kita tidak sadar didepan siapa kita berdiri dan apa yang kita ucapkan! Tuhan memasukkan sifat-sifat ini tergolong kepada tanda-tanda orang munafik:

Ÿwurtbqè?ù’tƒno4qn=¢Á9$#žwÎ)öNèdur4’n<$|¡à2

dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas.[1]

 

Terdapat juga dalam sebauh riwayat bahwa barang siapa yang menjalankan shalat akan tetapi hatinya tidak terikat oleh shalat, apakah dia tidak takut kalau aku jadikan dia menjadi seperti keledai. Saking buruk dan tidak pantasnya seseorang tidak perhatian dan konsentrasi dalam shalatnya sehingga dia berhak dirubah menjadi seperti seekor keledai; pada hakekatnya dia bukanlah manusia. Bagaimana mungkin seseorang berdiri di depan seseorang pembesar, akan tetapi dia tidak perhatian kepadanya dan hatinya ditempat lain, apalagi dia berdiri di depan Tuhan alam semesta – Tuhan segenap wujud, seluruh kebaikan dan semua kenikmatan darinya – bahkan dia tidak perhatian kepadaNya melebihi ketidak perhatian dia kepada manusia biasa!.

Apakah ketika seseorang berdiri di depan yang lain dan berbicara dengannya, dia akan memalingkan mukanya? Jika berbuat demikian apakah secara akal dia tidak disebut gila? Alhasil, Tuhan tidaklah bersifat jisim sehingga kita mengarahkan muka kita ke arahnya, akan tetapi hubungan atau perhatan dengan Tuhan dilakukan lewat hati. Sebab dia melingkupi dan menguasai segala sesuatu dan hanya dengan hati kita bisa menghadapNya artinya jika kita hati kita berpaling dariNya dan tidak perhatian dalam shalat kita berarti kita berpaling dari Tuhan.

Apakah seseorang ketika Tuhan dengan karuniaNya memberikan izin dan kesempatan untuk berdiri di depanNya, berbicara denganNya dan menyampaikan segala isi hatinya serta bermunajat kepadaNya – bukannya memanfaatkan kesempatan ini dan bersyukur atas kenikmatan yang besar ini – malah dial alai dariNya? Orang-orang besar ( penting ) tidak sembarangan member izin dan kesempatan kepada sembarang orang untuk bisa menghadap kepadanya, akan tetapi Tuhan karena kecintaanNya yang tak terbatas dia membuka pintu rumahNya lebar-lebar untuk semua manusia dan mengizinkan mereka untuk menghadapNya. Maka kita mesti menggunakan kesempatan emas ini dan dengan segenap wujud kita menghadap kepadaNya dan perhatian kita hanya mengarah kepadaNya.

Jika seseorang tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan dan tidak meyakini bahwa dia berada dihadapanNya, jelas dia tidak akan perhatian kepadaNya, akan tetapi orang yang meyakini akan Tuhan dan tahu bahwa kita berdiri di hadapanNya maka ketidak perhatian kita adalah sebuah kejelekan dan sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Oleh karenanya dalam riwayat menggunakan kata “aku heran”:[2]Tuhan berfriman: aku heran kepada hambaku yang berdiri di depanku akan tetapi dia malas-malasan dan tidak perhatian.

 

Urgensi dan Nilai Shalat

Dikarenakan shalat memiliki urgensi yang cukup besar dan memberikan pengaruh yang sangat berarti bagi manusia, syetan pun dengan segala daya dan upaya berusaha mencegah manusia untuk bisa betul-betul memahami hakekat shalat serta menghalangi manusia untuk menjalankan shalat yang merupakan perbuatan baik disisi Tuhan. Oleh karenanya syetan berusaha memasukan kedalam fikiran manusia supaya dia mengingat apa-apa yang sudah terlupakannya sehingga hati manusia tidak lagi konsentrasi kepada shalat. Akan tetapi syetan hanya bisa menguasai orang-orang seperti kita yang mengizinkan dan memberikan dia tempat di hati kita serta tidak berusaha menjauhkannya dari diri kita akan tetapi malah melibatkannya, maka tentunya ketika menjalankan shalat kita disibukkan dengannya.

Jalan yang terbaik bagi manusia untuk meraih kesempurnaan dan dekat dengan Tuhan adalah shalat dan dalam rangka mencurahkan karuniaNya kepada manusia serta agar manusia bisa meraih kesempurnaan, Tuhan mewajibkan shalat dalam lima waktu. Bahkan sebagian dari fuqoha ( ahli fiqh ) berkata: barang siapa yang tenggelam di lautan maka dia tetap herus menjalankan shalat sesuai dengan keadaannya dan hendaklah hatinya konsentrasi kepada Tuhan walaupun syarat-syarat yang lain seperti menghadap kiblat bagi dia dimaafkan ( tidak disyaratkan ). Ini semua tidak lain melainkan karena shalat memiliki peran sangan mendasar dalam kesempurnaan dan kebahagiaan manusia, oleh karenanya Nabi saw. bersabda: “shalat adalah sebaik-baiknya perkara…”[3]serta imam Ridho as. berkata: “shalat adalah kurbannya setiap ketakwaan”.[4]

Syetan dengan jiwa permusuhan lamanya dengan manusia akan selalu berusaha untuk menghalangi manusia untuk mendapatkan apa yang paling baik dan yang paling penting baginya dia juga akan berusaha untuk membuat manusia lalai dari factor-faktor yang membuat mereka sempurna dan bahagia:

tA$s%y7Ï?¨“ÏèÎ6sùöNßg¨ZtƒÈqøî_{tûüÏèuHødr&

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya,[5]

 

 

Terkadang dua raka’at shalat walau itu shalat sunnah yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusu’an akan membuat dosa-dosa manusia terampuni, sebab tidak mungkin manusia yang melakukan shalat dengan penuh kesadaran dan kekhusu’an serta tahu di depan siapa dia berdiri akan tetapi dia tidak menyesali perbuatan-perbuatan buruk dan jahat yang telah dilakukannya serta tidak berniat untuk meninggalkan perbuatan tersebut.

Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad saw. bersabda: “Jika di depan rumah seseorang mengalir sungai dan lima kali dalam sehari dia melakukan mandi, apakah akan tersisa kotoran di badannya? Shalat pun demikian pula seperti sebuah sungai dan ketika manusia melakukan shalat maka semua dosa-dosanya akan diampuni”.[6]

Jika kita sudah sudah memahami essensi shalat dan betul-betul mengambil manfaat darinya maka tidak akan tersisa lagi dosa dalam diri kita. Akan tetapi sangat disayangkan kita tidak betul-betul memahami nilai-nilai yang ada dalam shalat dan kita menjalankannya dengan asal-asalan; oleh karenanya sama sekali kita tidak mendapat faedah darinya. Maka poin kedua adalah kita harus betul-betul memahami pentingnya serta pengaruh yang sangat berharga dari shalat sehingga kita sadar bahwa shalat yang dilakukan tanpa ada kesadaran, kekhusu’an dan kehadiran hati sama sekali tidak memiliki faedah serta keberkahan.

Jika dua raka’at shalat bisa membuat semua dosa-dosa manusia terampuni, konsekwen dalam menjalankan shalat-shalat yang berkualitas dan diterima oleh Tuhan, akan membuat manusia bisa meraih derajat yang paling tinggi yaitu “qurb ila Allah”. Maka dengan memperhatikan poin-poin tersebut, tidak akan tersisa bagi kita kecuali penyesalan dan kerugian diakibatkan karena kehilangan faedah serta manfaat yang besar tersebut.

Jika kita kehilangan uang sebesar seratus tuman ( mata uang Iran ) maka konsentrasi kita menjadi buyar dan jika kita kehilangan emas permata yang sangat berharga atau cincin yang bernilai seratus ribu tuman, selama beberapa hari akan selalu kepikiran dan tidak bisa tidur; sementara jika kita kehilangan dua raka’at shalat yang lebig berharga dari seluruh dunia dan kelezatannya, kita tidak merasakan penyesalan sama sekali.

Andai kita tahu bahwa bagaimana para wali Tuhan mengambil faedah dari shalat: sebagian para pembesar berkata – mungkin ini juga kandungan dari beberapa riwayat – jika para raja dunia mengetahui betapa lezatnya melakukan shalat maka dia akan menanggalkan tahtanya dan hanya akan melakukan shalat. ( Dari pernyataan dan ucapan mereka ini menunjukan akan tingginya derajat yang telah mereka raih ).

Betapa kita selalu berusaha siang dan malam untuk bisa meraih kelezatan-kelezatan dengan melengkapi diri dengan makanan dan pakaian serta dengan yang lainnya. Terkadang kita selama bertahun-tahun banting tulang dan mempersiapkan segala sesuatu untuk kita bisa merasakan kelezatan; seorang alim berkata: semua kelezatan yang dimiliki oleh para raja tidak ada apa-apanya dibanding dengan kelezatan yang dimiliki oleh seoarang mukmin dalam menjalankan shalat dua raka’at; akan tetapi mereka bahagia dengan kelezatan-kelezatan materi dan tidak mengetahui akan kelezatan-kelezatan bermunajat dengan Tuhan.

Untuk bisa memperbaiki semua kerugian-kerugian yang telah lalu dan betul-betul mengambil faedah dari shalat serta agar kita tidak kehilangan berkah-berkah dan faedah-faerah yang ada dalam munajat dengan Tuhan, kita harus betul-betul mengamalkan aturan-aturan yang ada dalam riwayat-riwayat atau ucapan-ucapan para ulama, para wali Tuhan dan nasehat-nasehat akhlaki dari para ulama akhlak dimana baik mereka sendiri sudah mengalami dan merasakan hal-hal tersebut atau mereka merujuk dari riwayat-riwayat. ( Nilai yang dimiliki oleh poin-poin ini sungguh tidak terbatas, akan tetapi karena ini kita bisa dapatkan dengan percuma dan dengan sangat murah, kita tidak bisa merasakannya. Setiap riwayat yang tertulis dalam buku-buku hadits lebih berharga dari semua harta benda dan semua kelezatan-kelezatan dunia ).

 

Merenungkan Tentang Shalat dan Kebesaran Tuhan

Termasuk kepada amalan-amalan yang bisa menghasilkan kehadiran hati dan konsentrasi adalah hendaklah seseorang beberapa saat sebelum menjalankan shalat dia duduk di mesjid atau di tempat shalat, berfikir dan mengkonsentrasikan diri hanya kepada Tuhan serta mengosongkan diri kita dari selainNya. Kosongkan hati kita dari pikiran-pikiran, khayalan-khayalan serta ingatan-ingatan dengan mengkonsentrasikan indra kita juga melupakan semua kecendrungan-kecendrungan duniawi dan berusahalah mengahdirkan hati. Alhasil, dengan tafakur dan penyesalan akibat kehilangan nilai-nilai maknawi dari shalat serta memperbaiki kerugian dan kekurangan yang telah lalu maka hal-hal di atas akan bisa diraihnya.

Sebelum melakukan shalat sebaiknya seseorang mengkontrol pikirannya dan sebisa mungkin konsentrasinya terpusat kepada shalat, tempat shalat dan tempat sujud. Atau jika dia melakukan shalat di tempat sepi dan tidak seorang pun yang melihatnya, hendaklah dia duduk santai sehingga tidak ada beban lagi dibadannya dan setelah mengkonsentrasikan indranya sebisa mungkin dia merasakan kehadiran Tuhan serta membawa dirinya berada dihadapan Tuhan yang maha tinggi.

Kita sering mengklaim bahwa berada di haribaan Tuhan begitu juga dengan alam ini, akan tetapi ini hanya di mutuk belaka sementara hati kita belum bisa meyakininya. Ketika kita sedang sendirian berada di kamar dan jauh dari pandangan orang lain, kita akan berbuat sesuatu perbuatan tertentu dan ketika kita sadar bahwa ada orang lain atau keluarga kita memperhatikan kita maka kita akan merubah perbuatan kita. Ketika manusia menjaga perbuatannya di hadapan orang lain serta kita akan selalu hati-hati dalam berbuat, maka jika dia betul-betuk meyakini bahwa kita berada di hadapan Tuhan serta tahu bahwa Dia melihat perbuatan kita maka tentu dia akan menjaga hatinya supaya tidak mengarah kepada sesana dan kemari. Jika manusia tahu bahwa dia berada di hadapan orang lain maka hatinya tidak akan merasa bebas untuk berbuat ini dan itu terutama ketika dia merasa bahwa dia berada di hadapan Tuhan serta merasakan kehadiranNya maka dia akan lebih mengkontrol hatinya serta akan betul-betul merasakan kehadirannya. Atau ketika dalam shalat dia mengucapkan “Allahu Akbar”dan dia meyakini bahwa Tuhan maha besar dari segala sesuatu dimana kebesarannya tidak terbatas maka sedetikpun dia tidak akan lalai akan kehadiranNya. Pada langkah pertama kita belum bisa merasakan kebesaran Tuhan, kita hanya melapalkan ucapan ini dan tidak bisa memenggambarkan kebesaran dan keagunganNya; apa itu kebesaran Tuhan? Atau sebesar apa kebesaran Tuhan sehingga Dia lebih besar dari manusia dan seluruh makhluk? Otak kita sama sekali tidak bisa menampung kebesaran Tuhan, walaupun dengan merenungi karya-karya Tuhan serta dengan usaha yang keras dalam rangka meniti tahapan-tahapan sampai akhirnya kita bisa merasakan kebesaran Tuhan.

Telah dinukil dari Imam Shadiq as. sebuah riwayat yang rinci bahwa seorang perempuan penjual minyak wangi bernama Zaenab datang ke rumah Nabi saw. dan menanyakan tentang kebesaran Tuhan, Rasul saw. menjawab pertanyaanya dengan memberikan perbandingan alam-alam, tujuh langit dan bintang-bintang dimana yang satu lebih kecil dibanding yang lain, diantaranya beliau bersabda: “bumi ini dengan apa yang ada di dalam serta yang ada di atasnya dibandingkan dengan langit pertama ibarat sebuah cincin yang berada di padang pasir yang luas”.[7]Perbanding ini juga berlaku antara satu alam dengan alam-alam yang ada di atasnya dan tidak ragu lagi bahwa perbandingan antara alam satu dengan alam yang lain serta perbandingan antara bintang-bintang di angkasa raya akan membawa manusia untuk bisa memahami keagungan Tuhan.

Bumi dengan segala kebesarannya sangat kecil dibandingkan dengan matahari begitu pula matahari tidak bisa dibandingkan dengan bintang-bintang yang lainnya dimana semuanya berputar di angkasa dan tidak terjadi benturan antara yang satu dengan yang lain. Ketika seseorang mengetahui ada susunan bintang baru, dia akan mengatahui bahwa sampainya cahaya dari satu bintang kepada bintang yang lain lamanya sampai berjuta-juta tahun. Cahaya yang memiliki kecepatan tiga ratus ribu kilo meter setiap detiknya, bayangkan jika selama setahun apalagi sampai satu juta tahun! Selain itu, dibelakang bintang-bintang ini terdapat alam-alam lain, sebab bintang-bintang yang bisa di lihat dengan mata lahir terletak di langit pertama. Tentang masalah ini Tuhan berfirman:

$¨Z­ƒy—uruä!$yJ¡¡9$#$u‹÷R‘‰9$#yxŠÎ6»|ÁyJÎ/

dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang.[8]

 

( Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang langit-langit yang lain serta tidak bisa memperkirakan luas dan besarnya langit tersebut ). Tidak ragu lagi bahwa ini semua menunjukan akan kebesaran serta keagungan tanpa batas Tuhan. Tuhan yang dengan ucapan “kun” ( jadilah ), Dia menciptakan semua wujud – pada hakekatnya inilah kita yang berkata begitu sementara Tuhan tidak butuh untuk menyucapkan kata “kun”dan kehendakNya cukup untuk menciptakan seluruh wujud – memiliki kebesaran dan keagungan yang maha tidak terbatas dimana alam semesta tercipta dengan kehendakNya dan akan tetap ada karenaNya pula serta jika Dia tidak berkehendak maka semuanya akan musnah.

Maka ketika manusia dengan memperhatikan kebesaran ciptaan, sampai batas tertentu dia mengetahui kebesaran Tuhan sepantasnya ketika dia melakukan shalat hendaklah sadar di depan siapa dia sedang berdiri. Apakah pantas ketika berdiri di depanNya pikiran kita kepada roti, air, pakaian, rumah atau peralatan yang lain? Seberapa nilai seluruh wujud, manusia, bumi, lautan dan gunung-gunung dibandingkan dengan wujud Tuhan sehingga manusia mau melepaskan Tuhan demi mencari isi perut, pakaian, wanita, anak-anak atau dunia? Apakah manusia yang berakal akan berbuat demikian?.

Oleh karenanya salah satu perkara yang mengakibatkan munculnya kehadiran hati dalam diri manusia adalah hendaklah dia sebelum shalat untuk merenungkan keagungan Tuhan serta betul-betul menyadari di depan siapa dia berdiri atau hendaklah dia membaca doa-doa baik sebelum ataupun sesudah shalat. Ketika shalat hendaklah berusaha untuk memahami makna dari kelimat-kalimat yang diucapkannya, berpikir dan merenungkan semuanya seperti apa yang ditekan oleh Marhum Mirza Jawad Oqo Tabrizi dalam bukunya “Asrar Al-Shalat”. Jelas ketika seseorang hendak berkata, langkah pertama dia akan menggambarkan dalam benaknya makna-makna dari lafadz yang hendak diucapkan kemudian baru dia berucap, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan bagi kita untuk cepat-cepat melakukan shalat sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan dan merenungkan makna-makna dari lafadz yang kita ucapkan.

Selayaknya manusia melakukan shalat dengan penuh konsentrasi dan jika sebelumnya dalam satu menit dia menyelesaikan satu raka’at hendaklah sekarang selesaikan dalam dua menit walaupun sebenarnya ini sangat sebentar bagi orang yang hendak pergi keharibaan ilahi. Lama kelamaan konsentrasi kepada makna-makna bacaan shalat akan menjadi ‘malakah’ baginya seperti hanya perhatian kepada lafadz shalat yang sudah menjadi ‘malakah’ baginya.

Imam Sajjad as. berkata:

“…dan ketika engkau menjalankan shalat, anggaplah bahwa ini adalah shalat terakhirmu!”.[9]

 

Ketika melakukan shalat kita tidak tahu apakah ini shalat terakhir bagi kita ataukah bukan, oleh karenanya Imam as. berkata hendaklah kita anggap bahwa ini adalah shalat terakhir bagi kita. Jika manusia mengetahui bahwa umurnya tidak tersisa kecuali sebanyak waktu dua raka’at shalat maka dia akan betul-betul mengkonsentrasikan dirinya dan berusaha untuk melakukan shalat sebaik mungkin dan sekhusu’ mungkin. Sementara ini kita tidak tahu kapan akan berakhir umur kita maka sebaiknya kita untuk selalu menganggap bahwa shalat yang kita lakukan adalah shalat terakhir. Anggapan ini akan membuat kita untuk selalu bertahan di hadapan syetan dan berusaha mengeluarkannya dari dalam diri kita serta betul-betul memanfaatkan kesempatan-kesempatan dan detik-detik dari shalat yang kita lakukan. Tidak diragukan bahwa keadaan seperti akan sangat berpengaruh kepada kita untuk bisa menghadirkan hati kita. Walau pun sebaiknya setelah selesai melakukan shalat manusia tidak lalai kepada Tuhan serta merasa diri tidak lagi berada dihadapan dan dilihat olehNya.

Apakah setelah beberapa tahun anda jauh dari teman dekat dan sekarang anda berhasil bertemu dengannya serta sangat menikmati pertemuan ini, akan tetapi setelah pertemuan tersebut anda langsung berdiri dan tanpa mengucapkan kata perpisahan pergi meninggalkannya begitu saja? Seseorang yang hanya sekedar mengucapkan “assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barokaatuh” dia langsung berdiri dan melanjutkan kembali pekerjaannya seolah-olah dia merasa diri terpenjarakan ketika bersama Tuhan dan menunggu waktu dan secepat mungkin untuk lepas dari penjara dan kurungan tersebut sehingga dirinya menjadi bebas?.

Seharusnya setelah melakukan shalat hendaklah kita membaca doa yang panjang baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Dalam sebuah riwayat Nabi saw. menukilkan bahwa Tuhan berfirman:

Barang siapa yang tertimpa hadas dan dia tidak melakukan wudlu sesungguhnya dia telah berpaling ( menjauh ) dariu, barang siapa yang terkena hadas lalu dia berwudlu akan tetapi tidak melakukan shalat dua raka’at sungguh dia telah berpaling dariku dan barang siapa yang terkena hadas lalu dia berwudlu setelah itu dia melakukan shalat dua rakaat dan berdoa, maka jika seandainya aku tidak menjawab permohonannya dariku tentang urusan agama dan dunianya sungguh aku telah menjauh darinya dan aku bukanlah tuhan yang menjauh (dari hambanya)”.[10]

 

Maka salah satu perkara yang menyebabkan perhatian kepada Tuhan dan menarik karuniaNya adalah kondisi yang selalu dalam keadaan wudlu. Terlebih lagi jika setelah melakukan wudhu dia menjalankan shalat dua raka’at lalu setelah itu dia berdoa dan memohon kepadaNya agar untuk beberapa saat dia bisa bersamaNya dan selalu mendapat taufik serta kebaikanNya.

Apakah untuk melakukan wudlu dan menjalankan dua raka’at shalat butuh waktu berapa lama? Serta apa susahnya untuk melakukan itu dimana Tuhan berfirman: jika doanya tidak aku kabulkan maka aku telah berbuat dhalim kepadanya, ini tidak lain kecuali karena karunia Tuhan dan jangan sampai dengan mudah karunia ini kita hilangkan.

Orang-orang yang selalu melakukan hal ini dan selalu dalam keadaan wudlu lalu setelah itu dia melakukan shalat dua raka’at dan diakhiri dengan berdoa, maka mereka telah mendapat banyak keuntungan karena pasti doa-doanya akan terkabulkan walaupun mungkin tidak secara langsung, karena hal itu sesuai dengan mashlahat yang ada di sisi Tuhan.

Kelanjutan dari hadits mi’raj tersebut, Tuhan berfirman:

dan aku heran dengan hamba yang memiliki kemampuan untuk bisa menyiapkan makanan hari ini akan tetapi dia hanya memikirkan untuk esok hari serta aku heran dengan hamba yang tidak tahu bahwa aku ridho atau kah marah kepadanya sementara dia tertawa”.


[1]Al-Taubah: ayat 54.

[2]Kondisi-kondisi seperti keheranan, takut, sedih dan sifat lain khusus bagi wujud material yang memiliki sifat materi. Tuhan terlindung dari keheranan karena seuatu atau sifat jiwa yang lain, ketika Dia menggunakan kata-kata tersebut, Dia ingin berbicara dengan bahasa kita.

[3]Jaami’ Ahadis Al-Syiah, jilid 4, hal. 6. Atau Al-Hikmah Al-Zaahirah, hal. 139.

[4]Kaafi, jilid 3, hal. 265.

[5]Shaad: ayat82.

[6]Wasaail Al-Syiah, jilid , hal. 7.

[7]Bihar Al-Anwar, jilid 60, hal. 83-85.

[8]Al-Fushilat: ayat 12.

[9]Bihar Al-Anwar, jilid 69, hal. 408.

[10]Bihar Al-Anwar, jilid 80, hal. 308.

16 Oktober 2012

Zikir Meliputi Perkataan, Perbuatan Dan Perasaan

oleh alifbraja

Sesungguhnya Aku adalah Allah! Tidak ada Tuhan melainkan Aku! Dan dirikanlah sembahyang bagi mengingati Aku! ( Ayat 14 : Surah Taha )

Sembahyang mengandungi perbuatan anggota zahir, perkataan yang dilafazkan dan penyertaan hati yang benar menghadap kepada Allah s.w.t dengan sepenuh jiwa raga. Mengingati Allah s.w.t melalui sembahyang merupakan zikir yang paling sempurna. Perbuatan menjadi zikir, perkataan menjadi zikir dan perasaan menjadi zikir. Sekalian maujud berada dalam suasana zikir. Zikir dalam sembahyang menggabungkan pengakuan bahawa yang diingatkan itu adalah Allah s.w.t; bahawa Allah s.w.t yang diingati itu adalah Tuhan; bahawa tiada Tuhan melainkan Dia; bahawa Allah adalah Tuhan yang disembah; bahawa menyembah Allah s.w.t adalah dengan perkataan, perbuatan dan perasaan; bahawa apa sahaja yang dilakukan adalah kerana mentaati-Nya dan kerana ingat kepada-Nya.

Zikir yang di dalam sembahyang menjadi induk kepada zikir-zikir di luar sembahyang. Menyebut nama-nama Allah s.w.t adalah zikir. Perkataan yang baik-baik diucapkan kerana Allah s.w.t adalah zikir. Nasihat menasihati kerana Allah s.w.t adalah zikir. Menyeru manusia ke jalan Allah s.w.t adalah zikir. Semua itu merupakan zikir perkataan. Zikir perbuatan pula meliputi segala bentuk amalan dan kelakukan yang sesuai dengan syarak demi mencari keredaan Allah s.w.t. Berdiri, rukuk dan sujud dalam sembahyang adalah zikir. Melakukan pekerjaan yang halal kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi peraturan yang Allah s.w.t turunkan, adalah zikir. Mengalihkan duri dari jalan kerana Allah s.w.t adalah zikir. Apa juga perbuatan yang tidak menyalahi peraturan syariat jika dibuat kerana Allah s.w.t maka ia menjadi zikir. Tidak melakukan apa-apa pun boleh menjadi zikir. Orang yang menahan anggotanya, lidahnya dan hatinya daripada menyertai perbuatan maksiat sebenarnya melakukan zikir jika dia berbuat demikian kerana Allah s.w.t. Semua itu menjadi zikir jika dibuat kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi perintah-Nya, kerana mencari keredaan-Nya dan kerana ingat kepada-Nya. Jadi, perbuatan dan perkataan terikat dengan amalan hati untuk menjadikannya zikir. Ia hanya dikira sebagai zikir jika ada zikir hati iaitu hati ingat kepada Allah s.w.t, ikhlas dalam melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya Tanpa zikir hati tidak ada zikir-zikir yang lain, kerana setiap amalan digantungkan kepada niat yang lahir dalam hati.

Zikir adalah mengingati Allah s.w.t sebaik dan seikhlas mungkin. Mengingati nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah zikir. Melihat matahari, bulan dan bintang di langit sambil mengenang kebijaksanaan Allah s.w.t merupakan zikir. Melihat kilat memancar dan mendengar guruh berdentum sambil mengenangkan keperkasaan Allah s.w.t adalah zikir. Melihat fajar subuh, melihat dan mencium bunga yang indah lagi harum sambil mengenang keelokan Allah s.w.t adalah zikir juga namanya. Jadi, zikir adalah pekerjaan sepanjang masa, setiap ketika, semua suasana, pada setiap sedutan dan hembusan nafas dan pada setiap denyutan nadi. Kehidupan ini merupakan zikir daim (zikir berkekalan) jika mata hati sentiasa memerhatikan sesuatu tentang Allah s.w.t.

Misalkan seorang sedang melakukan zikir hati dan perkataan; menyebut dan mengingati nama-nama dan sifat-sifat Allah s.w.t. Tiba-tiba datang seorang kanak-kanak di hadapannya. Anak kecil itu memegang sebotol racun. Anak kecil mahu meminum racun tersebut. Pada ketika itu ahli zikir tadi berkewajipan meninggalkan pekerjaan zikir yang sedang dilakukannya dan berpindah kepada zikir menyelamatkan anak kecil yang mahu meminum racun itu. Perpindahan perbuatan tidak memutuskan zikir atau ingatannya kepada Allah s.w.t. Dia menyebut nama Tuhan kerana ingat kepada Tuhan. Dia menyelamatkan anak kecil itu kerana mentaati perintah Tuhan. Tuhan yang mentakdirkan anak kecil itu mahu meminum racun di hadapannya. Tuhan juga mengadakan syariat yang mewajibkan membuang kemudaratan. Taat kepada perintah Tuhan dan reda dengan takdir Tuhan yang datang serta bertindak menurut peraturan syariat Tuhan merupakan zikir yang sangat mulia pada sisi Tuhan. Zikir yang begini termasuk di dalam golongan zikir yang berkekalan atau zikir daim.

Zikir daim sukar diperolehi. Kebanyakan manusia melakukan pekerjaan yang baik-baik yang seharusnya menjadi zikir tetapi dilakukan tanpa ingatan kepada Allah s.w.t dan bukan dengan penghayatan mematuhi syariat-Nya. Kekuatan dalaman perlu ditambah bagi memperolehi zikir daim. Bagi tujuan tersebut perlulah dilakukan zikir sebutan iaitu zikir nafi-isbat (ucapan kalimah “La ilaha illa Llah ”) dan zikir nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Zikir yang seperti ini memberi kesan kepada menguatkan rasa kecintaan dan ingatan kepada Allah s.w.t. Ia membuka kesedaran-kesedaran dalaman seperti yang telah dinyatakan pada tajuk yang membicarakan perjalanan Latifah Rabbaniah. Kekuatan kesedaran dalaman mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan ikhlas kerana Allah s.w.t yang dicintainya, yang hampir dengannya. Zikir nafi-isbat dan sebutan nama-nama serta sifat-sifat-Nya menjadi jalan kepada zikir dalam bentuk mentaati peraturan-Nya tanpa lupa kepada-Nya. Jadi, perlu dilakukan zikir secara sebutan untuk memudahkan zikir secara amalan atau perbuatan dan kelakuan. Mudah-mudahan terhasillah zikir yang berkekalan.

Zikir atau mengingati Allah s.w.t haruslah dilakukan menurut kadar kemampuan masing-masing. Zikir yang paling baik diucapkan adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w dengan sabda baginda s.a.w yang bermaksud: “Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa. Itulah ucapan kalimah ‘La ilaha illa Llah ’ .”

Orang yang tidak pernah berzikir adalah orang yang sangat keras hatinya dan kuat dikuasai oleh syaitan, hawa nafsu dan dunia. Cahaya api syaitan, fatamorgana dunia dan karat hawa nafsu membaluti hatinya sehingga tidak ada ingatannya kepada Allah s.w.t. Seruan, peringatan dan ayat-ayat Tuhan tidak diterima oleh hatinya. Beginilah keadaan orang Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Orang yang masih mempunyai kesedaran perlu memaksakan dirinya untuk berzikir, sekalipun hanya berzikir dengan lidah sedangkan hatinya masih lalai dengan berbagai-bagai ingatan yang selain Allah s.w.t. Pada tahap pemaksaan diri ini, lidah menyebut Nama Allah s.w.t tetapi hati dan ingatan mungkin tertuju kepada pekerjaan, harta, perempuan, hiburan dan lain-lain. Beginilah tahap orang Islam biasa. Orang yang berada pada tahap ini perlu meneruskan zikirnya kerana jika dia tidak berzikir dia kan lebih mudah dihanyutkan di dalam kelalaian. Tanpa ucapan zikir syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Zikir pada peringkat ini berperanan sebagai juru ingat. Sebutan lidah menjadi sahabat yang memperingatkan hati yang lalai. Berlakulah pertembungan di antara tenaga zikir dengan tenaga syaitan yang menutupi hati. Tenaga syaitan akan mencuba untuk menghalang tenaga zikir daripada memasuki hati. Tindakan syaitan itu membuatkan orang yang ingin berzikir itu menjadi malas dan mengantuk. Oleh yang demikian perlulah dilakukan mujahadah, memerangi syaitan yang menghalang lidah daripada berzikir itu. Zikir yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan berjaya melepasi benteng yang didirikan oleh syaitan. Tenaga zikir yang berjaya memasuki hati akan bertindak sebagai pencuci, menyucikan karat-karat yang ada pada dinding hati. Pada peringkat permulaannya zikir masuk ke dalam hati sebagai Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan yang diucapkan. Apabila karat pada dinding hati sudah berkurangan ucapan zikir akan disertai oleh rasa kelazatan. Hati yang sudah merasai nikmat zikir itu tidak perlu kepada paksaan lagi. Lidah tidak perlu lagi berzikir. Zikir sudah hidup dalam hati secara diam, jelira dan melazatkan. Perhatian bukan sekadar kepada nama-nama dan sifat-sifat yang diingatkan malah ia lebih tertuju kepada Yang Empunya nama dan sifat. Inilah kedudukan orang yang beriman.

Zikir yang lebih mendalam membawa hati berhadap kepada Hadrat Tuhan, menyaksikan Tuhan pada setiap masa dan suasana. Apa sahaja yang dilihat dan dibuat memperingatkannya kepada Tuhan. Inilah peringkat zikir daim yang dikurniakan kepada mereka yang beriman dan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. Kehidupan mereka dipenuhi oleh zikir sepanjang masa. Tidur mereka juga menjadi zikir.

Zikir yang diucapkan dengan perkataan membantu hati mengingati Tuhan. Bagi sebahagian manusia berzikir secara kuat lebih memberi kesan daripada berzikir secara perlahan, terutamanya bagi mereka yang baharu memulakan amalan zikir. Zikir secara senyap di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Hati menghayati apa yang dizikirkan dan terbentuklah alunan perasaan sesuai dengan apa yang dihayati. Pada tahap yang lebih mendalam zikir bukan lagi sebutan atau ingatan kepada Nama, tetapi hati menyaksikan Keperkasaan dan Keelokan Tuhan. Bila hati sudah boleh menyaksikan Keelokan dan Keperkasaan Tuhan, itu tandanya seseorang itu sudah ada hubungan semula dengan roh suci yang mengenal Tuhan. Pancaran cahaya makrifat daripada roh suci membuat hati dapat melihat kenyataan sifat-sifat Tuhan.

Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, ucapan serta ingatan dan perhatian yang berhubung dengan Tuhan menimbulkan keghairahan atau zauk. Zauk itu terjadi kerana kuatnya tarikan Hadrat Tuhan kepada hati. Ingatan dan penyaksian terhadap Hadrat Tuhan akan memberi kesan yang sangat kuat kepada hati. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Perkasa boleh menyebabkan seseorang itu menjadi pengsan kerana takutnya hati kepada keperkasaan Allah s.w.t. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Lemah-lembut akan mengalami rasa kenikmatan dan kebahagiaan yang amat sangat.

Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, hati diperkuatkan lagi supaya mampu menerima ‘sentuhan’ Hadrat Tuhan itu. Penyaksian terhadap Hadrat Tuhan tidak lagi melahirkan keghairahan atau zauk atau kegoncangan kepada hati. Hati mengalami suasana Hadrat Tuhan dalam keadaan damai dan sejahtera. Pada tahap ini hati akan mengenali Tuhan sebagai Raja Yang Maha Berkuasa. Berada pada sisi Raja tersebut membuat hati merasakan kesejahteraan dan keselamatan yang tidak terhingga, hilang rasa takut dan dukacita.

Pada tahap kesedaran yang paling dalam hati berhadap kepada Hadrat Tuhan yang bernama Allah s.w.t, yang menguasai semua Hadrat, yang melampaui segala nama dan sifat, segala kenyataan dan ibarat. Hati sampai kepada tahap jahil setelah berpengetahuan. Ilmu gagal menghuraikan tentang Allah s.w.t. makrifat gagal memperkenalkan Allah s.w.t. Apa sahaja yang terbentuk, tergambar, terfikir, yang disaksikan dengan mata luar dan juga mata dalam dan segala-galanya tersungkur di hadapan Hadrat Allah s.w.t, yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Perkasa. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menyamai Allah s.w.t, Dia Maha Esa. Hati yang berhadapan dengan Hadrat Allah s.w.t benar-benar mengalami dan mengenali maksud keesaan Allah s.w.t. Hati pun tunduk, menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t, Tuhan Maha Mencipta. Baharulah sempurna penyerahannya, baharulah lengkap perjalanan Islamnya.

Setelah itu rohnya menjadi seakan-akan roh yang baharu, seumpama baharu lahir. Roh yang baharu itu adalah Roh Islam yang telah mengenal Allah s.w.t yang melampaui segala sesuatu tetapi memiliki Hadrat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya, menyata kepada Roh Islam, iaitu Roh yang lebih tulen dan seni daripada semua roh-roh yang lain. Itulah roh yang telah menemui Kebenaran Hakiki. Pada roh tersebut bercantum tahu dengan tidak tahu, kenal dengan tidak kenal, nafi dengan isbat. Roh Islam itulah yang benar-benar mengerti maksud nafi dan isbat pada Kalimah Tauhid: “La ilaha illa Llah”.

Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki daripada hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan. ( Ayat 15 : Surah al-Mu’min

Roh Islam yang mengenderai hati Islam dan memiliki nafsu Islam, akal Islam dan pancaindera Islam kembali kepada kehidupan dunia untuk mengajak dan membimbing orang lain kepada Yang Haq, Kebenaran Hakiki. Roh Islam mengeluarkan yang Islam sahaja. Jiwanya Islam, perkataannya Islam, perbuatannya Islam, diamnya Islam, tidurnya Islam dan segala-gala yang mengenainya adalah Islam. Roh Islam yang paling sempurna adalah roh Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w merupakan contoh tauladan Islam yang paling sempurna, paling baik.

Zikir memainkan peranan yang penting dalam melahirkan Roh Islam. Bagi orang yang inginkan kebenaran dan melihat kebenaran, menjadi kewajipan baginya mengingati Allah s.w.t sebanyak mungkin.

Lantas apabila kamu telah selesaikan sembahyang (sembahyang di waktu perang ) itu, maka hendaklah kamu ingat kepada Allah s.w.t sambil berdiri, dan sambil duduk, dan sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu. Tetapi apabila kamu telah tenteram, maka hendaklah kamu dirikan sembahyang (seperti biasa), kerana sesungguhnya itu adalah bagi Mukminin satu kewajipan yang ditentukan mwaktunya. ( Ayat 103 : Surah an-Nisaa’ )

Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau. Lantaran itu peliharakanlah kami daripada seksa neraka”. ( Ayat 191 : Surah a-Li ‘Imran ) Setiap Muslim seharusnya mencari kehidupan berzikir; berzikir sambil duduk dan sambil berbaring; bekerja di dalam berzikir; berehat di dalam berzikir dan tidur di dalam berzikir. Lidah berzikir, anggota tubuh berzikir dan hati berzikir. Tentera Islam yang sedang berperang dengan musuh pun dituntut berzikir, apa lagi kaum Muslimin yang berada dalam suasana aman. Muslim sejati sentiasa berzikir, mengingati dan mentaati Allah s.w.t.

 

26 September 2012

PANDANGAN KESUFIAN TENTANG DIRI MANUSIA

oleh alifbraja
Elingana yen ana timbalan Yen wis budal ora kena wakilan, Ora kena wakilan Timbalane kang Maha Kuasa Gelem ora gelem bakale lunga (Ingatlah jika telah datang panggilan Kau harus pergi dan tak bisa kau wakilkan, tak bisa kau wakilkan Panggilan dari Yang Maha Kuasa Mau tak mau kau harus pergi jua)   Nyanyian puitis di atas adalah penggalan dari sebuah nyanyian keagamaan yang cukup panjang. Di Jawa, nyanyian itu disebut pujian atau erang-erangan. Pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah di langgar atau mesjid menjelang shalat Subuh, Maghrib atau Isya, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan salat berjamaah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis dan mudah dihapal maka pujian tersebut seringkali menjadi “nyanyian” populer yang dilakukan bukan hanya di mesjid dan langgar, tapi juga di sawah dan ladang ketika seseorang menggembalakan ternaknya, atau di rumah-rumah ketika ibu-ibu berusaha menidurkan anaknya.   Tidak jelas siapa pengarang pujian yang cukup populer tersebut, terutama di desa-desa bagian Jawa Tengah Selatan. Namun, orang mengenal bahwa pujian semacam itu disebarkan oleh kalangan pesantren. Perlu dicatat, para kyai pemimpin pesantren kebanyakan juga pemimpin tarekat, sehingga tidak mengherankan kalau pujian yang diciptakan sarat dengan pesan-pesan kesufian. Dan, dari pujian tersebut tercermin sebuah permintaan agar manusia menyadari bahwa suka atau tidak, ia harus memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kembali ke haribaannya. Panggilan Tuhan tersebut tidak dapat didelegasikan kepada siapapun juga.   Memang, di antara pesan kesufian yang terpenting adalah ajakan agar manusia menyadari sepenuhnya sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Oleh karena dunia bersifat fana dan yang kekal hanyalah Tuhan, maka dunia ini dipandang benar-benar bermakna hanya apabila ia senantiasa diorientasikan kepada Tuhan. Lalai dari kesadaran berketuhanan berarti manusia telah terjerat oleh perangkat serba kefanaan. Dalam “perangkap” seperti itu manusia cenderung berorientasi hanya kepada usaha mewujudkan kesenangan sementara yang segera dapat dinikmati kini dan di sini, di dunia yang fana ini. Ia lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena roh sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat di jasad atau raganya. Begitu sukma meninggalkan raga, ia dianggap sudah tiada.   TEORI CERMIN AL-GHAZALI   Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan. Dalam kenyataannya, mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka? Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir’ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu –Ihya’ ‘ulum al-Din. Menurut Imam Ghazali, hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya (lihat Ghazali, t.t., vol.I: h. 119-125).   Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan, itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan. Pertama, cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya. Kedua, di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. Yang termasuk dalam kategori ini, orang-orang yang menjadikan harta, tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya. Ketiga, cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan.   Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening, ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat, riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah –salat sunnah, puasa Senin, Kamis, puasa Nabi Daud, dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir merupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari mereka.   Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut:   Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku, akan Kunyatakan perang. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku, sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan. Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. Aku-lah matanya untuk melihat, Aku-lah tangannya untuk bekerja, dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri, dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah)   Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif, hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah.   Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi, dipandang sebagai kesombongan spiritual, yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). Dalam kaitan ini Imam Malik, salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal, mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh, ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf, ia fasiq (tak bermoral).   Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi, maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri: apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain?   Dalam kaitannya dengan upaya rohani seperti itulah kisah sufistik yang dicatat dari pesantren –Tarekat Qadariah-Naqshabandiyah di Jawa Timur— merupakan ilustrasi relatif menarik.   Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal oleh kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si Alim atas kesalehan dan kealimannya. Mendengar berbagai pujian tersebut si Alim jadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim. Pada suatu pagi ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. Sesampainya di pasar secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. Karena tertangkap basah maka iapun dipukuli banyak orang. Ayam dikembalikannya dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. Orang sepasar akhirnya bergumam: “Oh, ternyata ia hanya pura-pura alim, padahal sebenarnya ia tak lebih dari seorang maling!” Mendengar omongan seperti itu ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. Setibanya di rumah ia langsung sujud syukur “Alkhamdulillah, ya Allah, kini aku beribadah bukan karena manusia, tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata.”   Demikianlah, dari sudut pandang kesufian, hidup ini merupakan pergulatan terus-menerus dengan diri sendiri. Dengan demikian, keberanian untuk melakukan penggeledahan dan interogasi diri merupakan inti keberagamaan dan sekaligus bagaikan tangga naik yang akan mengantarkan diri seseorang kepada derajat yang terus meningkat dari suatu tingkat (maqam) tertentu ke tingkat rohani berikutnya yang lebih tinggi. Maqam-maqam tersebut dari yang terendah hingga yang tertinggi dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah-istilah sebagai berikut:   (1) Maqam Tawbat, yakni meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan dosa-dosa sepadannya demi menjunjung tinggi ajaran Allah dan mengingkari murka-Nya. (2) Maqam Wara’, yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dalam rangka menjunjung tinggi perintah-Nya. (3) Maqam Zuhud, yakni lepasnya pandangan keduniaan dan usaha memperolehnya dari diri orang yang sebetulnya mampu untuk memperolehnya. (4) Maqam Shabar, ialah ketabahan dalam menghadapi dan mendorong hawa nafsu. (5) Maqam Faqir, yaitu tenang serta tabah sewaktu melarat dan mengutamakan orang lain di kala berada. (6) Maqam Syukur, yaitu menyadari bahwa segala kenikmatan itu datangnya dari Allah semata. (7) Maqam Khauf, ialah rasa ngeri dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah. (8) Maqam Raja’, yakni hati yang diliputi rasa gembira karena mengetahui kemurahan dari Allah yang menjadi tumpuan harapannya. (9) Maqam Tawakkal, yaitu sikap hati yang bergantung hanya kepada Allah dalam menghadapi segala sesuatu baik yang disukai, dibenci, diharapkan, maupun ditakuti. (10)Maqam Ridla, ialah rasa puas di hati sekalipun menerima nasib pahit.   Mengenal selintas maqam-maqam tersebut seolah-olah mustahil nilai-nilai kesufian tersebut dapat diwujudkan dalan kehidupan yang sudah serba modern ini. Namun, jika maqam-maqam tersebut dipandang sebagai tidak lain dari upaya pendakian rohani menuju ridla Allah, maka maqam-maqam tersebut adalah acuan yang memang harus dimiliki mereka yan benar-benar merindukan leburnya diri kembali kepada Yan Maha Hakiki.   Menengok pada luka menganga yang menjangkiti dunia modern seperti konsumerisme yang seolah tak mengenal kata puas, hedonisme yang telah menyebabkan merajalelanya AIDS, serta materialisme yang cenderung mencekal nilai-nilai spiritual; semua itu mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pola kehidupan yang semata-mata dipimpin oleh otak (head) dan ketrampilan teknologis (hand) itu perlu diimbangi dan dikendalikan dengan kebeningan hati (heart). Dan, melalui sudut pandang kesufian kiranya kehidupan beragama akan marnpu mewujudkan pribadi-pribadi yang seimbang seperti itu.   Akhirnya, semua itu terpulang kepada manusia sendri apakah ia akan menundukkan sukmanya kepada kehidupan yang berorientasi pada kebutuhan jasadi yang bersifat kini dan di sini (sukma dhulmani, sukma yang berada dalam kegelapan), ataukah ia akan mengarahkan sukmanya sehingga sang sukmalah yang memimpin kebutuhan jasadi agar senantiasa berada dalam terpaan cahaya Ilahi.
 
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Ghazali, Imam, “Ihya’ ‘Ulum al-Din”, vol.I,
14 September 2012

DOA DARI ASMAUL HUSNA

oleh alifbraja

 


1. Yaa Allaahu anta robbunaa laa ilaaha illaa anta
* Ya Allah, Engkau Tuhan kami, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau

2. Yaa Rahmaanu narjuu rohmatak
* Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kami mengharap kasih sayang-Mu.

3. Yaa Rahiimu irhamnaa
* Ya Tuhan yang Maha Penyayang, kasih dan sayangilah kami.

4. Yaa Maaliku A’thinaa min mulkika
* Ya Tuhan yang Maha Raja (mempunyai kekuasaan), berikanlah kepada kami dari kekuasaan-Mu.

5. Yaa Qudduusu Qaddis Fithratanaa
* Ya Tuhan yang Maha Suci, sucikanlah fitrah kejadian kami

6. Yaa salaamu sallima min aafaatid dunyaa wa’adzaabil aakhirah
* Ya Tuhan Pemberi selamat, selamatkanlah kami dari fitnah bencana dunia dan siksa di akherat.

7. Yaa mukminu aaminaa wa-aamin ahlanaa wabaladanaa
* Ya Tuhan yang memberi keamanan, berikanlah kami keamanan, keluarga kami dan negeri kami.

8. Ya Muhaiminu haimin auraatinaa wa-ajsaadanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, lindungilah cacat dan jasad kami.

9. Yaa Aziizu Azziznaa bil’ilmi walkaroomah
* Ya Tuhan Yang Maha Mulia, muliakanlah kami dengan ilmu pengetahuan dan kemuliaan.

10. Yaa Jabbaaru hab lanaa min jabaruutika
* Ya Tuhan Yang Maha Perkasa, berikanlah kepada kami dari keperkasaan-Mu.

11. Yaa Mutakabbiru bifadhlika ij’alnaa kubaraa
* Ya Tuhan Yang Maha Megah, dengan anugerah-Mu jadikanlah kami orang yang megah.

12. Yaa Khooliqu hassin kholqonaa wahassin khuluqonaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menciptakan/Menjadikan, baguskanlah kejadian kami dan baguskanlah akhlak kami.

13. Yaa Baari’u abri’naa minasy syirki walmaradhi walfitnati
* Ya Tuhan yang Maha Membebaskan, bebaskan kami dari syirik, penyakit, dan fitnah.

14. Yaa Mushawwiruu shawirnaa ilaa ahsanil kholqi walhaali
* Ya Tuhan yang Maha Membentuk, bentuklah kami menjadi sebaik-baiknya makhluk dan sebaik-baik keadaan.

15. Ya Ghoffaaru ighfir lanaa dzunuubanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Pengampun , ampunilah dosa-dosa kami.

16. Yaa Qohhaaru iqhar aduwwanaa ilal istislami
* Ya Tuhan Yang Maha Memaksa, paksalah musuh kami untuk tunduk/menyerah

17. Ya Wahhaabu Hab lanaa dzurriyatan thayyibah
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi, berikanlah kepada kami anak keturunan yang baik

18. Ya Rozzaaqu urzuqnaa halaalan thoyyiban waasi’aa
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi rezeki, berikanlah rezki yang halal, bergizi dan banyak

19. Yaa Fattaahu iftah lanaa abwaabal khoiri
* Ya Tuhan yang Maha Membuka, bukakanlah buat kami semua pintu kebaikan.

20. Yaa aliimu a’limnaa maa laa na’lam
* Ya Tuhan Yang Maha Mengetahui, beritahukanlah kepada kami apa yang kami tidak mengetahuinya.

21. Yaa Qoobidhu idzaa jaa’a ajalunaa faqbidh ruuhanaa fii husnil khotimah
* Ya Tuhan Yang Maha Mencabut, jika telah sampai ajal kami, cabutlah ruh kami dalam keadaan khusnul khotimah.

22. Yaa baasithu ubsuth yadaaka alainaa bil athiyyah
* Ya Tuhan Yang Maha Meluaskan, luaskan kekuasaan-Mu kepada kami dengan penuh pemberian.

23. Ya khoofidhu ihkfidh man zholamanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menjatuhkan, jatuhkanlah orang yang menzalimi kami.

24. Ya roofi’u irfa darojaatinaa.
* Ya Tuhan Yang Maha Mengangkat, angkatlah derajat kami.

25. Ya Mu’izzu aatinaa izzataka.
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi kemuliaan, limpahkanlah kemulaiaan-Mu kepada kami.

26. Yaa mudzillu dzallilman adzallanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menghinakan, hinakanlah orang yang menghina kami.

27. Yaa samii’u isma syakwatanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Mendengar. dengarkanlah pengaduan kami.

28. Yaa bashiiru abshir hasanaatinaa
* Ya Tuhan Yang Maha Melihat, lihatlah semua amal kebaikan kami.

29. Yaa hakamu uhkum manhasada alainaa wa ghosysyanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menetapkan hukum, hukumlah orang-orang yang dengki dan curang kepada kami.

30. Yaa adlu i’dil man rahimanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menetapkan keadilan, berikan keadilan kepada orang yang sayang kepada kami.
31. Yaa khobiiru ihyinaa hayaatal khubaroo
* Ya Tuhan Yang Maha Waspada, jadikanlah hidup kami seperti kehidupan orang-orang yang selalu waspada (ahli peneliti).

32. Yaa haliimu bilhilmi zayyinnaa
* Ya Tuhan Yang Maha Penyantun, hiasilah hidup kami dengan sikap penyantun.

33. Yaa lathiifu ulthuf binaa
* Ya Tuhan Yang Maha Halus, bersikaplah halus kepada kami.

34. Yaa azhiimu ahyinaa hayaatal uzhomaa
* Ya Tuhan Yang Maha Agung, hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan orang-orang yang agung.

35. Yaa ghofuuru ighfir lanaa waisrofanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa kami dan keteledoran kami.

36. Ya syakuruu a’innaa ‘alaa syukrika
* Ya Tuhan Yang Maha Menerima syukur, berikanlah kami kemampuan untuk selalu bersyukur kepada-Mu.

37. Ya aliyyu uluwwaka nastaghiitsu
* Ya Tuhan Yang Maha Tinggi, kami mengharap ketinggian dari-Mu

38. Yaa kabiiru ij’alnaa kubarooa
* Ya Tuhan Yang Maha Besar, jadikanlah kami orang yang besar.

39. Yaa hafiizhuu ihfazhnaa min fitnatid dunya wasuuihaa
* Ya Allah Yang Maha memelihara, peliharalah kami dari fitnah dunia dan kejahatannya

40. Yaa muqiitu a’thinaa quwwataka laa haula walaa quwaata illabika
* Ya Allah Tuhan Yang Maha Memberi kekuatan, berikanlah kami kekuatan, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Engkau.

41. Yaa Hasiibu haasibnaa hisaaban yasiiroo
* Ya Tuhan Yang Maha Menghisab, hisablah kami nanti dengan hisaban yang ringan.

42. Yaa jaliilu ahyinaa hayaatal ajillaal.
* Ya Tuhan Yang Maha Luhur, hidupkanlah kami seperti orang-orang yang mempunyai keluhuran

43. Ya kariimu akrimnaa bittaqwaa
*Ya Tuhan Yang Maha Mulia, muliakanlah kami dengan ketaqwaan

44. Ya roqiibu ahyinna tahta riqoobatik
* Ya Tuhan Yang Maha Mengamati geark-gerik, hidupkanlah kami selalu dalam pengamatan-Mu

45. Ya mujiibu ajib da’watanaa waqdhi hawaaijanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Mengabulkan, kabulkanlah do’a dan ajakan kami, luluskanlah semua keperluan kami

46. Yaa waasi’u urzuqnaa rizqon waasi’aa wawassi shuduuronaa
* Ya Tuhan Yang Maha Meluaskan, berikanlah kami rizki yang luas dan luaskanlah dada kami.

47. Yaa hakiimu ahyinaa hayaatal hukamaai
* Ya Tuhan Yang Maha Bijaksana, hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan orang-orang yang bijaksana.

48. Yaa waduudu wuddaka ista’tsarnaa wa alhimma mawaddatan warohmah
* Ya Tuhan Yang Maha Mencintai, hanya cintamu kami mementingkan, dan ilhamkanlah kepada kami rasa cinta dan kasih sayang.

49. Ya majiidu a’thinaa majdaka
* Ya Tuhan Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami kemuliaan-Mu

50. Yaa baa’itsu ib’atsnaa ma’asysyuhadaai washshoolihiin
* Ya Tuhan Yang maha Membangkitkan, bangkitkanlah kami bersama orang-orang yang syahid dan orang yang shaleh.

51. Yaa Syaahiidu isyhad bi annaa muslimuun
* Ya Tuhan Yang Maha Menyaksikan, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada-Mu (Muslimin)

52. Yaa Haqqu dullanaa haqqon wa’thi kulla dzii haqqin haqqoo
* Ya Allah Tuhan Yang Maha Haq, tunjukilah kami kepada yang haq dan berikanlah hak pada setiap orang yang mempunyai haq

53. Yaa wakiilu alaika tawakkalnaa
* Ya Tuhan Yang Maha Memelihara penyerahan, kepada-Mu kami serahkan urusan kami

54. Yaa Qowiyyu biquwwatika fanshurnaa
* Ya Tuhan Yang Maha Kuat, dengan kekuatan-Mu tolonglah kami.

55. Yaa matiinu umtun imaananaa watsabbit aqdaamanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Kokoh, kokohkanlah iman kami dan mantapkan pendirian kami.

56. Yaa Waliyyu ahyinaa hayaatal auliyaa
* Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, hidupkanlah kami seperti hamba-hamba-Mu yang mendapat perlindungan (para wali)

57. Yaa haniidu urzuqnaa isyatan hamiidah
* Ya Tuhan Yang Maha Terpuji, limpahkan kepada kami kehidupan yang terpuji.

58. Yaa muhshii ahshinaamin zumrotil muwahhidiin
* Ya Tuhan Yang Maha Menghitung, hitunglah kami termasuk orang-orang yang meng-Esakan Engkau

59. Yaa mubdi’u bismika ibtada’naa
* Ya Tuhan Yang Maha Memulai, dengan nama-Mu kami memulai.

60. Yaa mu’iidu a’id maa ghooba annaa
* Ya Tuhan Yang Maha Mengembalikan, kembalikanlah semua yang hilang dari kami

61. Yaa muhyii laka nuhyii fahayyina bissalaam
* Ya Tuhan Yang Maha Menghidupkan, karena Engkau kami hidup, hidupkanlah kami dengan penuh keselamatan

62. Yaa mumiitu amitna alaa diinil Islaam
* Ya Tuhan Yang Maha Mematikan, matikanlah kami tetap dalam keadaan Islam

63. Yaa Hayyu ahyi wanammi sa’yanaa wasyarikatana waziro’atana..
* Ya Tuhan Yang Maha Hidup , hidupkanlah dan kembangkanlah usaha kami, perusahaan kami dan tanaman kami

64. Ya Qoyyuumu aqimnaa bil istiqoomah
* Ya Tuhan Yang Maha Tegak, tegakkanlah kami dengan konsisten

65. Yaa waajidu aujid maadhoo’a annaa
* Ya Tuhan Yang Maha Mewujudkan / Menemukan, ketemukanlah semua yang hilang dari kami.

66. Yaa maajidu aatinaa majdaka
* Ya Tuhan Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami kemuliaan-Mu

67. Yaa waahidu wahhid tafarruqonaa wajma’syamlanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Esa/Menyatukan, persatukanlah perpecahan kami dan kumpulkanlah keberantakan kami.

68. Yaa shomadu ilaika shomadnaa
* Ya Tuhan yang tergantung kepada-Nya segala sesuatu, hanya kepada-Mu kami bergantung.

69. Yaa qodiiru biqudrotika anjib min zhahrina zhurriyyatan thoyyibah
* Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan kekuasaan-Mu lahirkanlah dari tulnag pungung kami anak keturunan yang baik.

70. Yaa muqtadiru iqtadirlana zaujan wakhoiron kullahu
* Ya Tuhan Yang Maha Menentukan, tentukanlah untuk kami istri dan semua kebaikannya.

71. Ya mukoddimu qoddim hawaaijanaa fiddun-ya wal aakhiroh
* Ya Tuhan Yang Maha Mendahulukan, dahulukan keperluan kami di dunia dan di akherat.

72. Yaa muakhkhiru akhkhirhayaatana bishusnil khootimah.
* Ya Tuhan Yang Maha Mengakhirkan, akhirkanlah hidup kami dengan
husnul khotimah.

73. Yaa awwalu adkhilnal jannta ma’al awwalin
* Ya Tuhan Yang Maha Pertama, masukkanlah kami ke dalam syurga bersama orang-orang yang pertama masuk syurga

74. Yaa aakhiru ij’al aakhiro ‘umrinaa khoirohu.
* Ya Tuhan Yang Maha Akhir, jadikanlah kebaikan pada akhir umur kami.

75. Ya zhoohiru azhhiril haqqo ‘alainaa warzuqnattibaa’ah
* Ya Tuhan Yang Maha Nyata, tampakkanlah kepada kebenaran , berikan kami kesanggupan untuk mengikutinya.

76. Yaa baathinu abthin ‘uyuubanaa wastur ‘aurootinaa.
* Ya Tuhan Yang Maha Menyembunyikan, sembunyikanlah cacat kami dan tutuplah rahasia kami.

77. Yaa waali anta waali amrinaa faasri’ nushrotaka lanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menguasai, Engkau adalah Penguasa urusan kami, maka segerakanlah pertolongan-Mu kepada kami.

78. Yaa muta’aali a’li kalimataka wakhdzul man khodzalanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Terpelihara dari semua kekurangan (Maha Luhur), luhurkan/peliharalah kalimat-Mu dan hinakan orang yang merendahkan kami.

79. Yaa barru ashib barroka alainaa waahyinaa ma’al barorotil kiroom.
* Ya Tuhan Yang Maha Dermawan, limpahkan kedermawanan-Mu kepada kami dan hidupkanlah kami bersama orang-orang yang dermawan lagi mulia.

80. Yaa tawwaabu taqobbal taubatanaa wataqobbal ma’dzi-rotanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menerima taubat, terimalah taubat kami dan uzur kami.

81. Yaa afuwwu fa’fu annaa khothooyaanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Memaafkan , maafkanlah semua kesalahan kami

82. Ya rouufu anzil alainaa ro’fataka
* Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, turunkanlah kepada kami kasih/kelembutan-Mu

83. Yaa Maalikal mulki aati mulkaka man tasyaa-u minnaa
* Ya Tuhan Yang Memiliki Kerajaan/Kekuasaan, berikan
kerajaan/kekuasaan-Mu kepada siapa yang Engkau kehendaki dari kami.

84. Yaa Muntaqimu laa tantaqim ‘alaina bidzunuubinaa
* Ya Tuhan Yang Maha Menyiksa, janganlah kami disiksa lantaran dosa-dosa kami.

85. Yaa dzal jalaali wal ikroom akrimnaa bil ijlaali wattaqwaa
* Ya Tuhan Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan, muliakanlah kami dengan keagungan dan ketaqwaan.

86. Yaa Muqsithu tsabbit lanaa qisthon wazil ‘anna zhulman
* Ya Tuhan Yang Maha Mengadili, tetapkanlah kepada kami keadilan dan hilangkan dari kami kezaliman.

87. Yaa Jaami’u ijma’naa ma’ash shoolihiin.
* Ya Tuhan Yang Maha Mengumpulkan, kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang sholeh.

88. Yaa Ghoniyyu aghninaa bihalaalika ‘an haroomik
* Ya Tuhan Yang Maha Kaya, berikanlah kepada kami kekayaan yang halal dan jauh dari keharaman.

89. Yaa Munghnii bini’matika aghninaa
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi Kekayaan, dengan nikmat-Mu berikanlah kami kekayaan.

90. Yaa Maani’u imna’ daairotas suu-i taduuru ‘alainaa.
* Ya Tuhan Yang Maha Menolak, tolaklah putaran kejahatan yang mengancam kami.

91. Yaa Dhoorru la tushib dhorroka wadhorro man yadhurru ‘alainaa
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi Bahaya, jangan timpakan kepada kami bahaya-Mu dan bahaya orang yang akan membahayakan kami.

92. Yaa Naafi’u infa’ lanaa maa ‘allamtanaa wamaa rozaqtanaa
* Ya Tuhan Yang Maha Membri Manfaat, berikan kemanfaatan atas apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami dan kemanfaatan rizki yang Engkau berikan kepada kami.

93. Yaa Nuuru nawwir quluubanaa bihidaayatika
* Ya Tuhan Yang Maha Bercahaya, sinarilah kami dengan petunjukmu.

94. Yaa Haadii ihdinash shirothol mustaqim.
* Ya Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.

95. Yaa Badii’u ibda’ lanaa hayatan badii’ah
* Ya Tuhan Yang Maha Pencipta Keindahan, ciptakanlah kepada kami kehidupan yang indah.

96. Yaa Baaqii abqi ni’matakal latii an’amta ‘alainaa.
* Ya Tuhan Yang Maha Kekal, kekalkanlah nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.

97. Yaa Waaritsu ij’alnaa min waratsati jannatin na’iim.
* Ya Tuhan Yang Maha Pewaris, jadikanlah kami orang yang akan mewarisi syurga kenikmatan.

98. Yaa Rasyiidu alhimna rusydaka waahyinaa raasyidiin.
* Ya Tuhan Yang Maha Cendekiawan, limpahkanlah kecendekiawaan-Mu dan hidupkanlah kami sebagai orang-orang cendekia.

99. Yaa Shabuuru ij’alnaa shaabiriina
* Ya Tuhan Yang Maha Penyabar, jadikanlah kami orang-orang yang selalu bersabar.

11 September 2012

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso”

oleh alifbraja

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso”
Beragama yang Tidak Korupsi

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu:  pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?“

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.
“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

 

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga  harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid,
melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit,  dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.  Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat,
baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik VS Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.  Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.
Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.  Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.  Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri.  Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

2 Agustus 2012

KELAHIRAN NABI MUHAMMAD DALAM RAMALAN KAUM YAHUDI

oleh alifbraja

KELAHIRAN NABI MUHAMMAD DALAM RAMALAN KAUM YAHUDI

 
 

Sesungguhnya, kaum Yahudi mengetahui tentang kebenaran fakta sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas, namun mereka menyembunyikannya, bahkan semakin membangun kezaliman dan kecongkakan mereka pada setiap zaman.
 
Pengetahuan Yahudi tersebut sama dengan dahulu ketika mereka mengetahui dan mengimani kedatangan penutup para Nabi yaitu Muhammad bin Abdillah (saw). Mereka berbondong-bondong berhijrah menuju Jazirah Arabia untuk menunggu kedatangan Nabi terakhir. Mereka pun tahu waktu dan tibanya kelahiran Rasulullah, sebagian mereka mendiami kota Mekah dan berdagang di sana.
 
Dan ketika tiba malam dilahirkannya Rasulullah (saw), mereka mendatangi kaum Arab Quraisy dan berkata: ?Wahai Quraisy, apakah ada bayi dari kalian yang lahir pada malam ini? Kaum Quraisy menjawab? Demi Tuhan, kami tidak tahu?. Yahudi berkata,”Allah Maha Besar. Jika kalian memang tidak mengetahuinya, tidak menjadi soal. Tapi, tolong perhatikanlah dan jagalah dengan baik-baik apa yang kami katakan kepada kalian ini! Telah lahir pada malam ini Nabi terakhir untuk umat manusia yang di antara pundaknya ada sebuah tanda kenabian.?
 
Orang-orang Quraisy kemudian terperanjat heran mendengar perkataan orang-orang Yahudi tersebut. Ketika pulang ke rumah, mereka pun memberi kabar kepada sanak keluarga serta handai taulan. Lalu mereka mendapatkan kabar bahwa telah lahir putra dari Abdullah bin Abdul Muthalib yang diberi nama Muhammad.
 
Kemudian orang-orang Quraisy segera mendatangi Yahudi tadi dan memberi kabar berita kelahiran tersebut. Secara bersama-sama mereka pun mendatangi Aminah, ibunda Nabi dan meminta untuk ditunjukkan bayi itu kepada mereka. Dan di antara kedua pundak bayi itulah mereka mendapatkan sebuah tanda kenabian, sebagaimana yang telah disifatkan sebelumnya. Orang-orang Yahudi lalu memberikan ucapan selamat kepada kaum Qura isy.
 
“Selamat Wahai kaum Quraisy, telah pindah nubuwwah (kenabian) dari kami Bani Israil kepada kalian (kaum Quraisy), bergembiralah! Kelak kalian akan berkuasa dari Timur hingga Barat bumi ini”
 
Sebenarnya kaum Yahudi banyak mengetahui rahasia-rahasia besar. Hanya saja, mereka kerap menyembunyikan kebenaran dari rahasia tersebut.
2 Agustus 2012

HATI

oleh alifbraja

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…,
Setiap orang yang beriman pasti berharap memiliki hati bersih dan berkilau, sebab hati yang bersih dapat memantulkan cahaya ruhaniah, kemudian menjadi penglihatan batin (bashiratul qalbi) dalam memandang keelokan wujud Allah. Namun cahaya ruhaniah hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah melampaui pergulatan ruhani.

“Bagaimana hati dapat memantulkan cahaya, padahal gambar selain Allah terlukis dalam cermin hatinya? Atau bagaimana orang dapat berangkat menghadap Allah, padahal hatinya masih terbelenggu oleh syahwatnya? Atau bagaimana orang bisa antusias dapat masuk ke hadhirat Allah, padahal hatinya belum suci dari janabah kelalaiannya? Atau bagaimana bisa berharap dapat memahami kedalaman rahasia ruhani, padahal belum bertaubat dari semua kesalahannya?”.

Hati seorang hamba itu sebagai tempat Allah memantulkan cahaya-Nya, pantulan cahaya itu akan menerangi basyariah (raga) manusia. Jika sumber cahaya itu diibaratkan matahari, maka bumi yang menerima cahaya dari rembulan sebagai tempat pantulan cahaya matahari. Cahaya itu akan sampai ke bumi jika tidak ada hijab berupa awan atau mendung yang menghalangi.

Hati buram
Hati yang selalu diwarnai oleh berbagai persoalan dunia, menjadi buram dan gelap. Jika hakikat dunia disebut zhulmah (gelap), maka wujud Allah diibaratkan sumber cahaya yang menerangi hati. “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi” (An-Nuur: 35). Bagaimana hati bisa memantulkan cahaya Ilahi, jika masih tertutup oleh keadaan dan lukisan-lukisan dunia. Karena hati yang tertutup oleh awan dunia pasti jadi gelap gulita. Pada dasarnya, gelap dan terang itu suatu keadaan tak terpisah sekaligus tak bisa disatukan. Jika dianalogikan: Wujud gelap karena cahaya ada di baliknya, disebut terang karena cahaya beserta dengan gelap. Tetapi gelap dan terang hakikatnya satu namun tak menyatu, bisa juga dimaknai sebagai dua wujud tak terpisahkan.

Tatkala hati tidak mampu melihat dengan bashiratul qalbi (penglihatan hati), pasti ada yang menghalangi sumber cahaya tersebut, sehingga hati tidak dapat memantulkan cahayanya. Yang menghalangi wujud Allah ialah pandangan dan rasa kemanusiaan (basyariah) pada setiap wujud selain-Nya. Jika hati orang yang menuju Allah (salik) ada rasa cinta dan ambisi untuk memiliki dan menguasai sesuatu, maka rasa terhadap sesuatu itu juga tirai atau hijab. Kendatipun sesuatu itu hakikatnya tidak ada, tapi rasa basyariah yang mengusung sesuatu menjadi gambar dan lukisan di dalam hati, itulah hakikat Hijab!

Belenggu syahwat
Hati yang sarat dengan lukisan dunia akan menimbulkan letupan-letupan syahwat kehidupan. Hembusan angin gairah mengobarkan api tamak, menjilat dan membakar akal. Puing-puing nafsu berserakan menjadi sampah ruhani. Asap cinta memenuhi hati, menjelma rangkaian tali-tali pengikat yang membelenggu perjalanan (menuju Allah).

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”(Ali ‘Imran: 14).

Pada hakikatnya, fasilitas hidup yang Allah sediakan di dunia adalah tali-tali syahwat yang dapat menjerat hati. Keindahannya sebatas fatamorgana dan kenikmatannya mengukir persoalan hidup bagi orang yang berjalan menuju Allah. Persoalan demi persoalan datang silih berganti menghimpit hati dan melelahkan jiwa. Kendatipun harus dimaknai setiap persoalan sebagai ujian dan cobaan, yang semestinya tidak menghalangi perjalanan, namun tidak banyak yang mampu memahami.

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (Al Anbiyaa’: 35).

Kehidupan dunia bagi orang yang beriman adalah penjara. Maka siapa pun yang tidak mampu membebaskan diri dari penjara tersebut, niscaya akan terbelenggu oleh syahwat rasa memiliki dan menguasai yang berujung pada kegelisahan, seperti dihantui rasa takut kehilangan sesuatu yang dicintai.

Kemudian, bagaimana bisa berangkat menuju Allah jika tidak mampu melepaskan diri dari tirai syahwat yang membelenggu. Padahal Allah sudah memberi jalan kepada hamba-hamba-Nya untuk “berniaga ruhani”, dengan imbalan keuntungan berupa pembebasan diri (manusia) dari belitan syahwat dan penderitaan.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar” (Ash Shaff: 10-12).

Mandi ruhani
Pergualatan ruhani untuk mencapai “mahligai ilahi” adalah sebuah perjuangan bagi orang-orang yang merindukan perjumpaan dengan Rabbnya (baca: Allah). Namun perjuangan itu tak akan ada hasilnya, bila tidak disertai persiapan matang.

Bekal yang harus disiapkan untuk menuju kepada Allah antara lain adalah: Taqwa sebagai bekal, zikir sebagai senjata, semangat sebagai kendaraan, mursyid sebagai pembimbing, dan yang terakhir adalah saudara seiman sebagai teman seperjalanan. Persiapan tersebut harus dirangkai dengan pengabdian melalui media basyariah (raga) dan nafsaniah (jiwa).

Maka hati yang bersih dari berbagai kotoran dunia yang membuat lalai, menjadi syarat penting menuju Allah. Membersihkan hati sama dengan “mandi ruhani” (janabat), mengawalinya dengan sikap batin tidak syirik, dilanjutkan ibadah lahiriah (amalan shalih).

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, (dengan cara) dia ingat nama Tuhannya (zikir), lalu dia sembahyang (hubungan yang mesra)” (Al A’laa: 14-15).

Sikap tenang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, adalah tanda dari orang yang hati dan jiwanya sudah bersih.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku” (Al Fajr: 27-30).

Ampunan
Harapan setiap orang yang menuju Allahd adalah kemampuan memahami ilmu-ilmu-Nya yang menjadi pelita perjalanan. Karena ilmu itu sebagai jembatan untuk mencapai amal ibadah yang sempurna. Amal ibadah juga bisa jadi jembatan (dengan izin-Nya) untuk meraih ilmu-ilmu yang ada pada rahasia Allah (laduni). Namun untuk menyentuh rahasia ruhani yang halus dan penuh metafor (kinayah), harus melalui tahapan pembersihan hati dan jiwa dari maksiat lahir maupun batin (taubatan nasuha).

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (An Nisaa’: 17).

Tak ada satu pun manusia yang terlepas dari dosa masa lalu, juga tak ada jaminan terbebas dari kesalahan-kesalahan yang akan datang, kecuali Nabi Besar Muhammad saw. yang sudah jelas Ma’sum(terpelihara). Namun Allah tetap membuka pintu taubat untuk setiap dosa hamba-Nya, kecuali dosa syirik.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (An Nisaa’: 48).

Ampunan Allah akan mengalir laksana sumber air yang tak ada habisnya, tentu ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh membersihkan hati dari sampah dunia yang membuat lupa pada Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”(At Tahrim: 8).

Proses pertaubatan dilalui dengan rangkaian: menyesali, berhenti dan berjanji untuk tidak mengulanginya, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah ritual, baik yang fardhu (wajib) maupun yang nawafil (sunah). Jika proses pertaubatan telah dilalui, maka tidak menutup kemungkinan Allah akan membukakan rahasia-rahasia ruhaniah-Nya yang penuh metafor. Tak ada yang dapat menyentuh wilayah ruhani, kecuali orang-orang yang telah dibersihkan hatinya. Dengan demikian bisa pula dimaknai, kebersihan hati merupakan kunci untuk membuka gerbang alam ruhani.

Hijab
Berjalan menuju Allah tidak sama dengan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, seperti pergi ibadah haji misalnya. Jika berjalan menuju rumah Allah (Ka’bah) disebut “haji syari’at”, maka berjalan menuju Allah bisa disebut “haji hakikat”. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Al Kahfi: 110).

Berjalan menuju Allah butuh persiapan yang baik dan benar, tidak cukup hanya berbekal semangat yang membara, tanpa persiapan lahir dan batin. Bila persiapan yang dimiliki tidak optimal, maka tidak menutup kemungkinan akan terjebak di rimba nafsu yang akhirnya menjadi hijab antara dirinya dengan Allah. Meskipun pada hakikatnya Allah itu tidak terhijab oleh sesuatu apapun, bahkan Allah sendiri yang membuat hijab untuk menutupi diri-Nya dengan wujud yang fana (tidak ada) ” Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah” (Al Qashash: 88).

Persoalan hijab pada dasarnya hanya masalah rasa dan pandangan manusia dalam memaknai sesuatu. Akan ada wujud hijab, bila dipandang secara hissy (materi). Tetapi hijab itu jadi tidak ada, ketika dilihat secara maknawi. Karena pada hakikatnya selain Allah itu tidak ada.

“Setiap sesuatu itu binasa (fana) dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar Rahmaan: 26-27).

Ibnu ‘Athoillah menjelaskan di dalam Hikamnya: “Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kepadamu adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijabimu dari melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak ada wujud sertanya”.

Beliau juga merangkai ketakjuban dalam untaian kalimat indah berikut ini:

  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang menampakkan segala sesuatu.
  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang tampak nyata dengan segala sesuatu.
  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat di setiap sesuatu.
  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang tampak pada tiap-tiap sesuatu.
  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang nyata sebelum adanya tiap-tiap sesuatu.
  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih jelas dari segala sesuatu apapun.
  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia Esa, tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya.
  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.
  • Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal andaikan tak ada Dia, niscaya tak akan ada segala sesuatu.

Bila Allah hendak memberi petunjuk dan membuka hijab kepada seorang hamba tentang diri-Nya, maka Ia menutup pandangan hamba dengan tirai kesucian-Nya, sehingga hamba itu tidak mampu melihat sesuatu selain wujud-Nya. Karena pada hakikatnya wujud akwan (keadaan) itu bersifat adamiyyah (sesuatu yang tidak ada). Sebagaimana pula kata pujangga arab: “Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka. Dan tiap-tiap nikmat kesenangan dunia itu, pasti akan rusak lenyap”.

Tak ada hijab
Dapat ditarik kesimpulan, bahwa pada hakikatnya Allah itu tidak terhijab oleh sesuatu apapun, sebab keberadaan sesuatu yang bersifat adamiyah tidak mungkin dapat menghijabi Allah. Bahkan sebaliknya, makhluk yang bernama manusia itulah yang terhijab, sehingga tidak dapat melihat adanya Allah. Sebab sekiranya ada sesuatu yang mampu menghijabi Allah, berarti sesuatu itu dapat menutupi wujud Allah. Jika ada yang mampu menutupi-Nya, berarti wujud Allah dapat terkurung oleh sesuatu yang mengurung-Nya, maka sesuatu yang terkurung, sudah pasti dapat dikuasai oleh yang mengurung. Maha Suci Allah dari sangkaan orang-orang yang jahil (bodoh), padahal Allah yang berkuasa atas semua makhluk-Nya.

Para ‘arifin billah berkata: “Segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya tidak ada”. Maksudnya, keberadaan Allah tidak dapat disamakan dengan sesuatu apapun. Wujud sesuatu selain Allah tak ubahnya wujud bayangan yang selalu bergantung kepada yang memberi bayangan. Melihat bayangan tanpa mengetahui sumber bayangan, berarti terhijab oleh sesuatu yang hakikatnya tidak ada.

Wallahu alam bisowab…
Semoga bermanfaat buat diriku dan sahibku semuanya…
Selamat beraktifitas berselimut dzikrullah…

23 Juli 2012

MURAQABAH; SINYAL DARI ALLAH

oleh alifbraja

Saidi Syekh Sulaiman Zuhdi Al-Khalidi Ahli Silsilah ke-32 dalam kitabnya Ar Risalah Majemu’atul Khalidiyah An Naqsyabandiyah mengatakan : “Zikir Muraqabah ialah berkekalannya seoang hamba ingat pada dirinya senantiasa dimonitor oleh Tuhannya dalam seluruh keadaan tingkah lakunya”.

Muraqabah artinya saling mengawasi, saling mengintai atau saling memperhatikan. Dalam kajian Tasawuf/Tarekat, muraqabah dalam pengertian bahasa tersebut, terjadi antara hamba dengan Tuhan nya. Muraqabah bisa juga digambarkan sebagai intai mengintai antara hamba dengan Tuhan nya. Sebagian Syekh menggambarkan Muraqabah itu adalah saat dimana ucapan salam seorang hamba dijawab oleh Tuhan.

Firman Allah SWT :

  1. Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu (Q.S. Al Ahzab 33:52)
  2. Adakah Zat yang Maha Menjaga tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya (Q.S. Ar Ra’da 13:33).
  3. Apakah Manusia tidak mengerti bahwa Allah itu Maha Melihat? (Q.S. Al Alaq 96:14).
  4. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (Q.S. An Nisa 4:1).
  5. Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya (Q.S Bayyinah 98:8).

Sabda Rasulullah SAW :

Hendaknya engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jikalau engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia itu melihat engkau” (H.R. Muslim)

Dari ayat-ayat dan hadist tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa muraqabah berarti mawas diri seorang hamba terhadap khalik nya bahwa Allah mengawasi, mengintai dan memperhatikan kita, niat dan amal-amal hambanya. Sebaliknya seorang hamba harus mawas diri terhadap hati, niat dan amal yang telah dikerjakan untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Nya.

Al Qusyairi menyatakan, “Orang yang belum mengukuhkan rasa takutnya kepada Allah dan mawas dirinya terhadap-Nya, tidak akan mencapai kasyaf (terbuka tabir antara si hamba dengan Allah) dan syahadah (menyaksikan Allah”.

Saidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur Al-Khalidi mengutip hadist Nabi mengatakan bahwa di akhir zaman nanti ilmu akan di cabut oleh Allah dan banyak ulama yang meninggal. Makna Ilmu dicabut tersebut menurut Beliau adalah hilangnya Muraqabah dalam diri seseorang sehingga sinyal-sinyal yang dikirim oleh Allah SWT kepada manusia tidak dapat ditangkap lagi dikarenakan hati manusia telah kotor oleh dosa-dosa.

Muraqabah menurut Beliau adalah suatu karunia yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang selalu berubudiyah kepada-Nya, selalu mengekalkan zikir dimanapun dia berada dan terus menerus menjaga hatinya agar tidak dikotori dengan sifat-sifat tercela. Lebih lanjut Beliau mengatakan bahwa muraqabah adalah bersifat teknis dan seorang hamba akan selalu bisa merasakan keinginan Tuhan. “Tidak wara’ kalau tidak menunggu” begitulah Beliau selalu berfatwa kepada murid-muridnya. Apa yang ditunggu? Yang ditunggu adalah sebuah gerak yang merupakan Kudrah dan iradah Allah sebagai bentuk persetujuan Allah atas apa yang akan kita lakukan. Ketika kita hendak melangkah keluar dari rumah, terlebih dahulu kita mohonkan izin kepada Allah. Oleh karena itu ucapan Insya Allah merupakan ucapan yang sangat tinggi nilainya. Insya Allah berarti “kalau Allah mengizinkan”. Pertanyaannya kapan kita meminta izin kepada Allah? dan bagaimana kita tahu Allah telah memberikan izin kepada kita?. Kebanyakan dari kita ucapan Insya Allah itu  tidak lebih dari ucapan basa-basi saja karena kita belum memiliki ilmu Muraqabah yaitu ilmu meminta izin dan persetujuan dari Allah.

Saidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur Al-Khalidi yang bertempat tinggal di kota Batam mengatakan, “Apabila air tidak mengalir coba periksa ke hulu, barangkali ada sampah dan kotoran lain yang menyumbat sehingga air tidak sampai ke hilir. Singkirkan sampah itu barulah nanti air akan mengalir”. Jika muraqabah tidak datang dalam sehari, kita selaku murid sudah harus waspada, mengoreksi diri kesalahan apa yang kita perbuat sehingga sinyal Allah tidak bisa ditangkap oleh hati kita. Mungkin ubudiyah kita masih kurang, atau shadaqah kita masih belum ikhlas, mungkin juga zikir kita masih ada kurangnya. Berulangkali Beliau mengingatkan murid-muridnya bahwa, “Barang siapa yang tidak menjaga amalan zikirnya maka lambat laun akan hilang semua karunia Allah walau dia ahli Kasyaf (orang yang telah terbuka hijab) sekalipun

Muraqabah dalam pengertian teoritis berupa sikap mawas diri, tetap waspada terhadap ibadah yang dilakukan terhadap Allah bisa didapat lewat pelatihan, akan tetapi Muraqabah dalam pengertian praktek itu hanya bisa didapat atas karunia Allah tentu atas bimbingan dan syafaat dari  Guru Mursyid yang terus menerus mendo’akan murid nya agar selalu berada dalam karunia Allah SWT.

Ibnu Qayyim menjelaskan kronologi tentang proses turun nya wahyu dari Allah kepada Nabi salah satunya berupa bunyi gemerincing lonceng yang datang kepada beliau; peristiwa ini merupakan pengalaman yang paling berat bagi beliau dimana malaikat memakai cara ini hingga membuat keningnya mengerut bersimbah peluh. Ini terjadi di hari yang amat dingin. Demikian pula, mengakibatkan onta beliau duduk bersimpuh ke bumi bila beliau menungganginya. Dan pernah juga wahyu datang seperti kondisi tersebut dan saat itu paha beliau ditaruh diatas paha Zaid bin Tsabit yang seketika dirasakan olehnya (Zaid) demikian berat sehingga hampir saja remuk.

Bagaimana bunyi gemerincing lonceng tersebut? Apakah malaikat memukul lonceng seperti kode morse kemudian Nabi menterjemahkan dalam kata-kata? Atau kah sebuah kiasan tentang petunjuk atau sinyal yang dikirim oleh Allah SWT yang dikenal dengan muraqabah kemudian nabi menterjemahkan kehendak Allah tersebut kedalam kata-kata sehingga menjadi petunjuk kepada ummatnya.

Saya berandai-andai, misalnya bunyi gemerincing lonceng tersebut suaranya lebih besar di daerah perut kanan berarti tidak lama lagi akan ada yang mengantar makanan enak kepada Nabi, atau kalau suatu saat bunyi gemerincing lonceng tersebut dekat telinga kiri berarti musuh-musuh Nabi mempunyai rencana akan mencelakankan Nabi dengan demikian Beliau telah terlebih dahulu siap siaga.

Saya kan hanya berandai-andai dan tentu saja hanya Nabi sendiri yang mengetahui bagaimana bentuk bunyi gemerincing lonceng tersebut yang sangat berat bagi Beliau. Bisa jadi gemerincing lonceng yang saya maksudkan di atas salah namun bisa jadi benar juga.

Satu hal yang saya tahu bahwa orang-orang yang telah sampai kepada tahap Muraqabah seakan-akan mengetahui apa yang akan terjadi ke depan dan itulah karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Bahkan musuh akan datang pun akan bisa terbaca lewat muraqabah.

Apakah Muraqabah itu maqam tertinggi? Tentu saja tidak karena di atas muraqabah itu adalah lagi maqam yang lebih tinggi. Muraqabah itu hanya bisa merasakan tanda-tanda yang dikirim oleh Allah sedangkan maqam di atas nya adalah maqam dimana kita bisa berdialog langsung dengan Allah tanpa hijab.

Kalau Muraqabah merupakan aplikasi dari firman Allah Wa nahnu aqrabu Ilahi min hablil warrid (dan kami hampir kepadanya daripada urat lehernya) Surat Qaf ayat 16, maka maqam selanjutnya adalah Muqabalah dimana seseorang hamba dalam berzikir dalam tahap rohaninya berhadap-hadapan dengan zat Allah yang wajibul wujud sebagaimana firman Allah Dalam surat Al-Baqarah ayat 115, “Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka kemanapun kamu menghadap disitu wajah Allah”.

Dan tentu saja maqam tertinggi adalah Maqam Baqabillah sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Rahman ayat 27, “Dan akan tetap akan kekal Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemulyaan”. Para sufi mengatakan : “Fana dalam kebakaan Allah dan lenyap dalam kehadiran Allah”. Lalu bagaimana kita bisa sampai ke maqam baqabillah? Tentu harus melewati maqam fana fillah dimana seorang hamba berzikir dalam taraf lenyap/lebur rasa keinsanannya ke dalam rasa ketuhanan, ia telah fana dalam kebakaan Allah. Sebelum mencapai maqam fana fillah terlebih dahulu kita harus melewati maqam dimana hati kita selalu disertai oleh Allah dimanapun kita berada sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hadid ayat 4 “ Wa huwa ma’akum aina maa kuntum artinya Dia beserta kamu di mana pun kamu berada”.

Maqam Baqa Billah itu adalah maqam para wali dan maqam para Guru Mursyid yang setiap geraknya adalah gerak Allah sebagai firman Allah dalam hadist qudsi : “Mata-KU ada dimatanya kalau ia melihat, Tangan-KU ada ditangan-Nya kalau dia memegang…. Kalau dia berdoa niscaya AKU kabulkan

Selaku penempuh salik (penempuh jalan kebenaran) tidak layak rasanya kita bertanya kapan maqam kita dinaikkan? Kapan rohani kita diangkat oleh Guru, yang harus kita kerjakan hanyalah berbuat dan berbuat. Kalau ingin nomor 1 maka kerjakan perkerjaan nomor 1. Tujuan kita berguru hanyalah mengharapkan ridha-Nya semata-mata bukan untuk mendapatkan maqam yang mulia dan tinggi. Kalau pun maqam kita dinaikkan itu tidak lain karena kehendak Dia semata-mata bukan karena usaha kita.

Semoga Allah SWT berkenan menuntun kita agar bisa sampai kehadirat-Nya. Tanpa kekuatan dari-Nya kita tidak berdaya apa-apa. Kita hanyalah si daif yang tidak berdaya apa-apa yang selalu mengharapkan belas kasih-Nya. Kita hanyalah seorang pendosa yang terkadang sering kali angkuh dan merasa suci dihadapan-Nya. Semoga kita bisa menjadi hamba yang hina, daif dan papa dihadapan Zat Yang Maha Segala-gala nya. Amien Ya Rabbal ‘Alamin

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad!

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina wa maulana Muhammad!

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina wa nabiyina wa habiibina wa syafii’na wa zukhrina wa maulana Muhammad!

21 Juli 2012

Tuhan dan Pengalaman Keagamaan

oleh alifbraja

  Tuhan dan Pengalaman Keagamaan

 
 

 

   Pendahuluan

Neal Donald Walsh, dalam bukunya “Conversation with Godmenceritakan apa yang dialaminya dan apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Menurutnya Tuhan telah bertajalli dalam dirinya dan mengajak berdialog dengannya. Bagi Walsh, pengalaman yang dialaminya merupakan sebuah pengalaman yang sangat indah, yang harus disebarkan pada seluruh manusia, karena itu Walsh menganggap bukunya sebagai pemberian wahyu.

Sebelum kami menjelaskan sejarah singkat munculnya pengalaman keagamaan sebagai sebuah wacana, kami ingin mengetengahkan beberapa persoalan yang berkaitan dengan wacana tersebut. Sebagaimana yang anda ketahui bahwa wacana ini berkaitan erat dengan wacana lain, misalnya wacana tentang wahyu, maka apakah pengalaman keagamaan ini mirip dengan pengalaman keagamaan yang dialami oleh para Nabi? Apakah pengalaman keagamaan ini bisa menjustifikasi keabsahan sebuah agama? Apakah pengalaman keagamaan ini bisa membuktikan keberadaan Tuhan? Makalah ini berkenaan dengan persoalan terakhir, kami mencoba menganalisa persoalan tersebut, bahwa apakah pengalaman keagamaan  bisa membuktikan keberadaan Tuhan?

Sebelum kita menganalisa persoalan tersebut, kita harus bisa membedakan berbagai pengalaman-pengalaman spiritual yang ada, bahwa yang manakah yang dimaksud dengan pengalaman keagamaan, apakah ketika seorang membaca doa, dan menemukan makna tersirat dalam doa tersebut, sehingga membuat air mata ia mengalir bisa disebut sebagai pengalaman keagamaan? Ataukah pengalaman keagamaan seperti yang dialami Walsh, ketika ia berdialog dengan Tuhannya? Atau seperti pengalaman yang dialami oleh Ibn Arabi yang bertemu dengan Rasulullah dan mendapatkan darinya buku Fushus Al-Hikam? Yang manakah di antaranya disebut dengan pengalaman keagamaan? Apa tolok ukurnya sehingga pengalaman spiritual seseorang bisa disebut sebagai pengalaman keagamaan?

 

Sejarah Singkat Wacana Pengalaman Keagamaan

Sebagaimana yang kami ungkapkan sebelumnya, meskipun pengalaman keagamaan ini telah hadir sejak agama itu sendiri hadir ditengah masyarakat, namun ia baru saja hadir sebagai sebuah wacana oleh para filosof agama dan teolog. Wacana ini dipilih sebagai alternatif dalam memecahkan beberapa problema keagamaan.

Wacana ini hadir diakhir-akhir abad ke 17, yang dikemukakan untuk pertama kalinya oleh filosof Jerman Schleiermacher (1768-1834).  Wacana  pengalaman keagamaan pada saat itu dianggap sebagai substansi agama. Perhatian para filosof agama pada wacana tersebut, merupakan perubahan pemikiran di era modernite. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa era modernite  dimulai di abad ke 17 yang memiliki ciri sebagai berikut[1] :

  1. Humanisme, dalam artian bahwa ukuran segalanya adalah manusia.

  2. Sangat bertumpu pada kekuatan rasionalisme, manusia modern sangat meyakini bahwa akal dapat mengeluarkan dia dari keterbatasan-keterbatasan budaya, bahasa, dan menyaksikan segala eksistensi secara netral.

Masing-masing dari karakteristik era modern di atas menjadi faktor munculnya wacana pengalaman keagamaan dan memberikan pengaruh secara langsung pada agama. Tentunya, dengan dua efek yang berbeda, efek  positif dan  lainnya negatif.

Penjelasannya bahwa kebanyakan para pemikir setelah Descartes menafikan pandangan rasionalisme radikal. Di antara filosof yang ada, Hume termasuk salah satu tokoh yang memiliki peranan besar. Hume menganggap bahwa argumen dalam membuktikan Tuhan tidaklah sempurna. Trinitas dianggap sebagai sebuah perkara yang tidak memiliki argumen sama sekali. Ilmu pengetahuan dan doktrin-doktrin gereja adalah dua hal yang tidak pernah ketemu. Apalagi dengan penemuan Galileo yang sangat bertentangan dengan doktrin resmi gereja saat itu.

Kant juga memahami bahwa agama tidak sejalan dengan Rasionalisme radikal, Kant menerima pandangan Hume yang meyakini bahwa doktrin-doktrin agama tidak bisa dibuktikan dengan akal, bahkan Kant lebih lihai dari pada Hume dalam menjelaskan hal tersebut.

Alternatif yang diberikan Kant bahwa agama harus dikeluarkan dari wilayah akal teoritis, dan memasukkan kepada wilayah akal praktis, yaitu akhlak. Kant meyakini Tuhan hanya bisa dibuktikan dengan akal praktis, yaitu dalam wilayah akhlak, tidak dengan argumen yang dibangun oleh akal teoritis dalam membuktikan keberadaan Tuhan. Pandangan ini menyebabkan Kant meyakini bahwa hakikat agama adalah akhlak.  Bahwa akhlak dan agama adalah satu.

Kondisi Rasionalisme radikal yang begitu  kering, menjadi faktor munculnya mazhab Romantisme yang banyak bertumpu pada sentiment-sentimen dan emosional.  Schleiermacher yang hidup dalam lingkungan Romantisme menganggap hakikat agama berada pada sentimen-sentimen dan emosional, dan substansi agama adalah perasaan pada ketakterhinggaan dan perasaan akan ketergantungan secara mutlak.

Kesimpulannya bahwa kegagalan Rasionalisme radikal, dan juga kebuntuan alternatif yang ditawarkan oleh Kant yang merubah agama menjadi akhlak semata, menjadi pemicu usaha keras para tokoh gerejawan dalam mencari wilayah agama yang bebas dari argumentasi-argumentasi teologi. Dominasi wacana Humanisme pada saat itu yang merupakan inti pemikiran modernite, mempengaruhi para tokoh gerejawan dalam mencari alternetif, dan menganggap bahwa harapan pertolongan satu-satunya berada dalam diri jiwa manusia itu sendiri, dan hal tersebut adalah pengalaman keagamaan itu sendiri.

 

Apa itu pengalaman keagamaan?

Pengalaman adalah sebuah kejadian yang dialami seseorang (baik ia sebagai pelaku atau sebagai saksi), dimana seseorang tersebut sadar atau mengetahui akan kejadian tersebut. Pengalaman keagamaan berbeda dengan pengalaman lainnya. Pengalaman keagamaan berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya non-materi atau eksistensi non-materi; misalnya pengalaman keagamaan dalam merasakan hadirnya Tuhan, nirwana, atau merasakan manefestasi Tuhan pada sesuatu atau seseorang, seperti jika seseorang merasakan manifestasi hadhrat Isa yang hadir dalam diri seseorang, melihat malaikat atau berbicara dengannya. Pengalaman-pengalaman seperti ini biasanya disebut juga dengan pengalaman mistis atau pengalaman sufistik.

Penamaan pengalaman di atas dengan pengalaman mistis atau sufistik tidak begitu memberikan banyak masalah, namun dengan memperhatikan bahwa dalam era modern, terdapat juga mistisisme diluar ruang lingkup agama tertentu, maka kita harus memilah-milah, yang manakah yang bisa kita katagorikan sebagai pengalaman keagamaan. Oleh karena itu, kami menganggap bahwa pengalaman keagamaan tidak terbatas hanya pada pengalaman irfani.

Pengalaman keagamaan adalah sebuah pengalaman yang dianggap oleh pelaku pengalaman tersebut sebagai pengalaman keagamaan, artinya bahwa pelaku pengalaman tersebut meyakini bahwa dalam menjelaskan pengalaman tersebut, tidak cukup dengan penjelasan-penjelasan seperti pada umumya, tapi harus dijelaskan dengan doktrin-doktrin agama. Pelaku pengalaman tersebut tidak menerima jika pengalaman yang dialaminya disebabkan oleh faktor-faktor physiology atau lingkungan yang ada disekitarnya. Dia menganggap pengalaman yang dialaminya adalah hasil dari dialog Tuhan atau pertemuan Tuhan dengannya, dan pengalamannya dia tafsirkan berdasarkan doktrin-doktrin agama. Namun hal ini bukan berarti bahwa apa yang dialaminya betul-betul memiliki realitas, karena mungkin saja apa yang dialaminya telah bercampur dengan imajinasi-imajinasi dia sendiri, atau boleh jadi disesatkan oleh syaitan. Namun meskipun demikian halnya, pengalamannya masih bisa disebut dengan pengalaman keagamaan.

 

Pengalaman Keagamaan dan Pengalaman Mistis (Irfan)

Sebagian besar pengalaman-pengalaman mistis  terjadi dalam tradisi agama, oleh sebab itu, pengalaman tersebut mendapatkan konotasi agama, seluruh pengalaman mistis disebut dengan pengalaman keagamaan. Dalam pembahasan filsafat agama dan filsafat mistis, kita banyak menemukan objek pembahasan yang sama, yang menunjukkan bahwa kedua pengalaman tersebut, pada hakikatnya dari satu jenis pengalaman. Pengalaman melihat malaikat dan berbicara dengannya, pengalaman iluminasi cahaya dalam jiwa seorang sufi, pengalaman dalam menyaksikan tasbih seluruh keberadaan, pengalaman dalam menyaksikan kondisi surga dan neraka, mendapatkan ilham dalam mimpi, pengalaman dalam menemukan rahasia eksistensi, fana fillah  dan wusul ilallah, menemukan tajalli Tuhan dalam diri seseorang, bersatu dengan nirwana dan…, dengan seluruh perbedaan yang dimilikinya, semuanya disebut pengalaman keagamaan sekaligus disebut dengan pengalaman mistis.

 

Pengalaman Keagamaan dan Bashirah Agama

Yang ingin kita tekankan dalam kesempatan ini bahwa pengalaman keagamaan berbeda dengan bashirah agama. Pengalaman keagamaan adalah menyaksikan Tuhan atau realitas hakiki atau sesuatu yang berhubungan dengannya, serta merasakan kehadirannya, pengalaman keagamaan bersifat “intuitif” . Akan tetapi bashirah agama bersifat “pemahaman” atau “pengingatan”.

Dalam bashirah agama tidak diharuskan adanya unsur “kehadiran”, misalnya; ketika nenek tua melepaskan putaran pemintal benang, dengan seketika putaran itu pun berhenti, dari sini nenek tua memahami dan menganalogikakan bahwa Tuhan pun demikian halnya terhadap seluruh eksistensi, artinya seluruh eksistensi bergantung penuh pada kekuasaan Tuhan, jika Tuhan melepaskan kekuasaannya pada makhluk, maka makhluk sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang dialami nenek tua dengan analogi seperti ini disebut dengan bashirah agama, bukan pengalaman agama.

Sebagian kejadian yang dialami oleh masyarakat biasa, atau ketika kita berkontemplasi mengenai keberadaan alam, biasanya menyebabkan kita menemukan bashirah-bashirah agama, misalnya memahami akan adanya alam metafisik, memahami hubungan antara alam ini dengan alam metafisik, atau memahami hubungan antara eksistensi dengan Pencipta. Tapi yang harus digaris bawahi bahwa pemahaman-pemahaman di atas tidak dibarengi dengan pengalaman. Namun boleh saja terdapat hubungan di antara keduanya, dalam arti bahwa pengalaman keagamaan sumber bagi bashirah agama[2].

 

Pengalaman Keagamaan dan Perkara-Perkara Supra Natural

Pengalaman keagamaan tidak semuanya meliputi perkara-perkara supra natural. Pengalaman keagamaan berbeda dengan sihir, hipnotis, telepati, pemain sulap, pemelihara jin, menghadirkan ruh dan lain-lain. meskipun memungkinkan sebagian yang kami sebutkan di atas dengan pengalaman keagamaan memiliki titik kesamaan. Namun terdapat sesuatu dalam pengalaman keagamaan yang memisahkan dia dari hal-hal yang kami sebukan di atas. Dalam pengalaman keagamaan terdapat penyingkapan dan kasyf terhadap realitas hakiki, dan tidak disyaratkan adanya perkara-perkara supra natural. Dalam pengalaman keagamaan seorang arif – baik dia muslim, masehi atau yahudi – diharuskan mengalami sebuah pengalaman dalam bentuk berdialog dengan-Nya atau sampai  kepada asma-Nya, namun dalam sihir dan penguasaan jin tidak disyaratkan hal-hal seperti ini. Perkara-perkara supra natural pada hakikatnya hanyalah sebuah teknik khusus, yang jarang dimiliki oleh orang awam, namun jika orang awam mengamalkan teknik khusus tersebut, maka ia akan mendapatkan kekuatan tertentu. Namun pengalaman keagamaan merupakan inayah tertentu dari Tuhan, artinya tidak semua orang bisa sampai pada pengalaman tersebut.

Salah satu ciri pengalaman keagamaan pada umumnya adalah pemberian dari Tuhan, artinya untuk mendapatkan pengalaman ini tidak cukup dengan usaha dan pengajaran, tapi pengalaman ini adalah pemberian dari alam metafisik, iluminasi secara tiba-tiba yang memberikan cahaya pada jiwa dan psikis seseorang dan terjadi begitu cepat. Jika kita perhatikan kondisi seorang arif, terkadang kita melihat sang arif menunggu begitu lama pengalaman yang baru, dan larut dalam kesedihan karena telah berpisah dengan pengalaman sebelumnya.

Sekarang kita harus menjelaskan apakah hakikat dari pengalaman keagamaan? Sejenis apakah pengalaman keagamaan? Apakah pengalaman keagamaan bisa dianggap sebagai pengalaman-pengalaman indrawi? Ataukah pengalaman keagamaan tak lebih dari sentimen dan perasaan semata? Pertanyaan-pertanyaan ini akan kami jawab dalam pembahasan selanjutnya.

    Dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di atas, jika disesuaikan dengan beberapa pandangan yang ada, kita dapat membagi pertanyaan tersebut menjadi empat katagori; pertama, sebagian para filosof meyakini bahwa pengalaman keagamaan adalah sejenis sentimen atau perasaan. Kedua, pengalaman keagamaan temasuk katagori pengalaman-pengalaman indrawi. Ketiga, pengalaman keagamaan dalam pandangan pelaku pengalaman tersebut, dalam menjelaskannya membutuhkan penjelasan metafisik, namun bisa juga dijelaskan dengan penjelasan natural (non-metafisik). Keempat, pengalaman keagamaan secara hakiki betul-betul memiliki penjelasan metafisik, baik menurut pelaku pengalaman, ataupun dalam pandangan filosof agama[3].

 

1.    Kesentimentalan Pengalaman Keagamaan

Schleiermacher meyakini bahwa pengalaman keagamaan bukan sejenis pengalaman pengetahuan dan rasionalitas, namun perasaan ketergantungan secara mutlak dan perasaan mendalam pada mabda atau merasakan kekuatan yang berbeda dari alam. Pengalaman ini adalah sebuah pengalaman syuhudi yang mana pengiktibarannya tidak diambil dari tempat lain, pengiktibarannya bersandar pada substansinya sendiri.

Tidak ada sama sekali landasan pengetahuan yang dijadikan landasan bagi pengalaman keagamaan, dan karena pengalaman keagamaan ini sejenis perasaan atau sentimen, maka pengalaman ini melampaui wilayah pengetahuan, dan tidak dapat dideskripsikan.[4]   Schleiermacher dalam pendekatan analisanya, sangat dipengaruhi oleh pendekatan internal agama, dan memisahkan sisi deskripsi agama dan sisi penjelasannya. Apa yang dilakukan Schleiermacher adalah menciptakan sebuah strategi dalam menjaga agama, yaitu menjauhkan campur tangan ilmu modern kedalam agama, khususnya agama Kristen yang dalam pandangan ilmuan modern memiliki banyak ambiguitas atau kontradiksi.

Schleiermacher terkadang menganggap agama sebagai momen agama dalam kesadaran. Dia meyakini bahwa momen agama ini adalah sebuah prinsip, dalam arti bahwa pertama; hal tersebut bisa dianggap sebagai perasaan kebergantungan secara mutlak, kedua; hal tersebut membedakan momen-momen lain kesadaran diri yang tanpa perantara, ketiga; hal tersebut bukan kreasi dari pikiran, budaya dan pemahaman-pemahaman manusia. Bahasa agama diambil dari moment agama ini, bukan sebaliknya; artinya tidak semestinya pengalaman agama tersebut dijelaskan dengan pemahaman-pemahaman yang ada dalam bahasa, bahkan bahasa dan pemahaman-pemahaman tersebut harus dijelaskan dengan merujuk pada pengalaman.[5]

Ketika pengalaman keagamaan ini terjadi, dimana pengalaman tersebut terkatagorikan perasaan-perasaan, pengalaman tersebut menampakkan dirinya dalam bentuk tanda-tanda, sandi-sandi sakral, syair-syair dan ritual-ritual agama. Dalam tahapan ini belum terdapat kontemplasi dan refleksi pemikiran, yang ada hanyalah efek alamiah terhadap sebuah perasaan. Dengan berkembangnya individu dan budaya-budaya, perlahan-lahan mereka menampakkannya dalam bahasa dan doktrin-doktrin agama.

Bahasa agama memiliki dua tahapan; tahapan pertama, primer dan prinsipil. Tahapan kedua, sekunder dan derivasi. Dalam tahapan pertama terdapat dua jenis bahasa; pertama bahasa syair, dan kedua bahasa sastra dan orasi. Bahasa syair produk sebuah kondisi kejiwaan, yang disebabkan oleh faktor internal, bahasa sastra disebabkan oleh faktor eksternal. Bahasa primer meliputi kedua jenis bahasa tersebut.

Bahasa sekunder menciptakan jenis ketiga dari bahasa, yang merupakan bahasa akademis.

Bahasa akademis ini merupakan hasil usaha dalam memahami sesuatu, dimana sesuatu tersebut masih disajikan dalam bentuk syair atau sastra. Jika dalam bahasa primer terdapat sebuah kontradiksi, maka bahasa sekunder mencoba untuk menjelaskan pemahaman-pemahaman dan menyelesaikan kontradiksi. Bahasa sekunder ini bebas dari faktor-faktor yang menyebabkan munculnya bahasa primer. Ketika kontradiksi-kontradiksi muncul, maka kita merasakan sebuah kebutuhan pada bahasa primer. Pada saat inilah kita membutuhkan bahasa yang jelas, terdefenisi dan jauh dari hal-hal yang sifatnya kontradiktif. Bahasa ini hanya memiliki kejelasan dan keteraturan logika, dan bukan produk para analisis rasional. Bahkan secara umum bahasa ini berbeda dengan premis-premis teoritis dan dogmatis.

Pandangan Schleiermacher ini selanjutnya diikuti oleh banyak pemikir, yaitu mereka yang memiliki pandangan bahwa bahasa agama adalah sentimen dan rahasia, yang tidak membutuhkan justifikasi, dan aman dari segala kritikan dan pencarian argumentasi rasional. Ernest Cassirer, Jachim Wach dan Rudolf Otto adalah mereka yang mengikuti jalan pemikiran Schleiermacher.

Ludwig Wittgenstein (1889–1951) menyertai pandangan Schleiermacher dalam bentuk yang lain. Dia memaparkan analisa permainan bahasa, dimana dalam setiap permainan memiliki aturan tersendiri, kemudian mengatakan; anda jangan berbual dalam kehidupan ahli bahasa, karena anda tidak akan mampu mempersepsi pemahaman-pemahaman bahasa tersebut, atau dalam kata lain, bahasa agama tidak akan diketahui dengan bahasa lain. Pertama kita harus beriman dan kemudian memasuki kehidupan orang-orang yang beriman, barulah kemudian secara perlahan-lahan kita bisa mengerti makna-makna bahasa agama. Tanpa masuk ke dalam sebuah permainan dan memperhatikan aturan-aturan permainan tersebut, kita tidak akan mampu menganalisa dan mengkritik bahasa agama.

Menurut Otto, perkara nominous dapat dieksperimentasikan dalam tiga jenis perasaan; 1. Merasakan kebergantungan mutlak, 2. Merasakan takut, 3. Merasakan syauq (kecintaan) dan kehanyutan. Sakralitas Tuhan dapat dipersepsi melalui perasaan-perasaan tersebut, bukan melalui perantara akal, meskipun akal mampu menjelaskan sifat-sifat Tuhan dan memiliki pemahaman-pemahaman yang mampu mengisyaratkan pada-NYA, namun tak satu pun dari penjelasan akal yang mampu membawa kita pada substansi Tuhan, kecuali melalui perantara perasaan.

 

2.    Kesamaan Pengalaman Keagamaan dengan Pengalaman Indrawi

Pandangan lain dalam wacana pengalaman keagamaan, adalah mereka yang meyakini bahwa pengalaman keagamaan sejenis pengalaman indrawi, karakteristik yang ada dalam pengalaman indrawi terdapat juga dalam pengalaman keagamaan dengan sedikit perbedaan. Ikbal Lahore[6] salah satu pengikut pandangan ini. William Alston mengatakan; pengalaman atau mempersepsi Tuhan dalam hubungannya dengan kepercayaan-kepercayaan agama adalah memainkan peranan pengetahuan, sebagaimana persepsi indrawi dalam hubungannya dengan keyakinan-keyakinan terhadap alam materi memainkan peranan pengetahuan. Begitu juga persepsi indrawi adalah dasar utama dalam pengetahuan kita terhadap alam materi, pengalaman keagamaan pun adalah dasar utama pengetahuan kita terhadap Tuhan. Kepercayaan-kepercayaan dasar secara langsung merefleksikan pengalaman kita. Kepercayaan yang paling mendasar dalam wilayah pengalaman indrawi adalah kepercayaan kepada realitas alam materi, bersamaan dengan itu pula, kepercayaan yang paling mendasar dalam wilayah pengalaman keagamaan adalah kepercayaan kepada realitas transendental. Begitu juga, kepercayaan-kepercayaan partikular indrawi seperti; “saya melihat pohon yang besar yang ada didepanku”, terdapat juga dalam pengalaman keagamaan, yaitu kepercayaan-kepercayaan partikular pengalaman keagamaan seperti; “saya merasakan kehadiran Tuhan di sini”. Untuk lebih jelasnya, kita akan menjelaskan lebih jauh hal-hal yang mirip di antara kedua pengalaman tersebut, dan juga perbedaan di antara keduanya.

 

2.1. Dimensi-dimensi persamaan

a) Kedua pengalaman tersebut, merupakan sebagian dari kepercayaan-kepercayaan dasar yang secara langsung membantu menjustifikasi pengalaman yang dimaksud, dan kemudian sebagian kepercayaan-kepercayaan lainnya terjustifikasi berdasarkan hal tersebut dan dengan bantuan argumentasi-argumentasi. Alston menyebut kepercayaan-kepercayaan dasar yang bersandar pada pengalaman agama dengan “manifestation beliefs”.

b) Kedua pengalaman tersebut memiliki satu struktur, bahwa sebagaimana dalam pengalaman indrawi terdapat tiga unsur; persepsi, yang dipersepsi dan fenomena, dalam pengalaman keagamaan pun demikian halnya; orang yang mengalami pengalaman, Tuhan dan menefestasi Tuhan terhadap orang tersebut.

c)  Baik kepercayaan-kepercayaan yang bersandar pada pengalaman indrawi, maupun pengalaman-pengalaman yang bersandar pada pengalaman keagamaan, kedua-duanya memiliki justifikasi, dan mampu melegalisasi kepercayaan tersebut, terkecuali jika ada dalil tertentu yang kita temukan yang menunjukkan ketidakvaliditasan kepercayaan tersebut, misalnya Tuhan memerintahkan saya untuk membunuh orang yang tak berdosa, namun kepercayaan dan keyakinan agama saya  tidak mengijinkan untuk melakukan hal tersebut.

 

2.2. Dimensi-dimensi perbedaan

a)    Pengalaman indrawi bersifat umum, dan bisa berlaku untuk semua orang. Namun pengalaman keagamaan bersifat individu, dan tidak berlaku untuk semua orang.

b)    Pengalaman indrawi dalam segala kondisi bersifat umum, seseorang bisa saja mengalami beberapa kondisi yang berbeda – beda, berbeda dengan pengalaman keagamaan, kondisi – kondisi tersebut sangat jarang diraih.

c)     Pengalaman indrawi bersifat iktisabi (pencapaian), untuk memperolehnya bergantung pada usaha seseorang, akan tetapi pengalaman keagamaan umumnya bersifat “kedatangan”, dan pelaku pengalaman bukan faktor utama dalam meraih sebuah pengalaman. Terkadang seorang Arif menunggu sekian lama untuk mendapatkan sebuah pengalaman.

d)    Pengalaman keagamaan bersifat sementara, akan tetapi pengalaman keagamaan bersifat tetap.

e)    Pengalaman indrawi memberikan informasi yang rinci mengenai alam, namun pengalaman kegamaan biasanya disertai dengan keambiguitasan, dan hanya memberikan sedikit informasi mengenai Tuhan.

f)      Pengalaman indrawi bergantung pada kualitas-kualitas indrawi, berbeda dengan pengalaman keagamaan. Perkara-perkara yang dihasilkan oleh pengalamn indrawi seperti warna, bau, rasa, ukuran, berat, lembut, tipis dan lain-lain, sedangkan perkara-perkara yang dihasilkan oleh pengalaman keagamaan seperti kehadiran, spiritual, cinta, potensi, keindahan Ilahi.

g)    Pengalaman indrawi setiap orang, satu sama lain bisa saling membenarkan, namun pengalaman-pengalaman keagamaan seseorang tidak demikian. Lagi pula, dalam pengalaman indrawi memiliki persamaan persepsi dalam mempersepsi sesuatu, misalnya ketika berhadapan dengan sebuah meja, pada umumnya mereka memiliki kesamaan dalam menggambarkan meja tersebut. Akan tetapi dalam pengalaman keagamaan, manusia memiliki pengalaman yang berbeda-beda mengenai realitas hakiki atau kehadiran Tuhan, oleh sebab itu, mereka juga berbeda-beda dalam menggambarkan pengalamannya.

 

3.    Menganggap Metafisika Pengalaman Keagamaan

Proudfoot meyakini bahwa pengalaman keagamaan memiliki banyak keragaman, kita tidak mampu mendamaikan di antara pengalaman-pengalaman keagamaan yang beragam, apalagi menemukan substansi universal di antaranya. Dia sepakat dengan Katz yang mengatakan bahwa pengalaman keagamaan memiliki simpul budaya, dimana pengalaman keagamaan terjadi dalam budaya tersebut, dalam kata lain, tak ada satupun pengalaman keagamaan tanpa melalui perantara pemahaman-pemahaman dan kepercayaan-kepercayaan, dan struktur sebelum pengalaman memberikan pengaruh dalam  pengalaman, bahkan struktur tersebut bagian dari pengalaman.

Proudfoot mengatakan: jika pengalaman keagamaan kita anggap sejenis pengalaman indrawi, maka akan memestikan; baik pijakan pengalaman tersebut berada diluar, maupun pijakan tersebut sebagai sebab munculnya pengalaman (sebagaimana berlaku dalam pengalaman indrawi), dan jika bentuknya seperti ini, maka di antara pengalaman keagamaan yang ada, hanya satu jenis saja yang bisa dianggap sebagai pengalaman hakiki, karena tidak mungkin; baik Tuhannya agama monoteis memiliki realitas hakiki, juga Tuhannya politeisme, dan jika memang demikian halnya, kita tidak bisa lagi menganggap bahwa para pengikut agama memiliki pengalaman keagamaan.  Jalan keluar yang diberikan Proudfoot dalam menjawab kritikan tersebut, dengan mendeskripsikan pengalaman agama sedemikian rupa sampai bersifat universal, sehingga agama yang lainpun memiliki pengalaman keagamaan.

Berdasarkan hal di atas, Proudfoot mencoba memaparkan definisi mengenai pengalaman keagamaan. Menurutnya: “pengalaman keagamaan adalah sebuah pengalaman yang mana pelaku pengalaman tersebut, menganggap pengalamannya sebagai pengalaman keagamaan”, artinya pelaku pengalaman meyakini bahwa apa yang dialaminya tidak bisa dijelaskan dengan bersandar pada variable-variabel tabiat, namun harus dijelaskan dengan variabel metafisika, kendatipun anggapan tersebut semata-mata klaim individu  pelaku pengalaman dan sama sekali tidak memiliki realitas hakiki di luar. Dengan kata lain, pengalaman keagamaan bukan landasan bukti terhadap pijakannya sendiri, tapi hanya menunjukkan bahwa pelaku pengalaman keagamaan menganggap pijakan pengalamannya memiliki realitas, baik itu pada hakikatnya benar ataupun salah. Proudfoot dalam hal ini memisahkan antara sisi deskripsi dengan sisi penjelasan. Dalam sisi deskripsi, kita tidak bisa  mendeskripsikan pengalaman keagamaan tanpa memperhatikan pandangan-pandangan pribadi pelaku pengalaman. Pendeskripsian pengalaman keagamaan mengandung sebuah jenis tafsir, dan tafsir ini telah mengasumsikan akan adanya keberadaan metafisik. Dalam sisi deskripsi, pengalaman keagamaan tidak akan mengubah pengalaman-pengalaman lain manusia, seperti pengalaman indrawi. Akan tetapi dalam sisi penjelasan pengalaman keagamaan, bisa muncul dari sistem-sistem kepercayaan dan kecendrungan-kecendrungan pribadi pelaku pengalaman. Dan sama sekali tidak memiliki kemestian bahwa faktor yang memunculkan pengalaman keagamaan adalah betul-betul apa yang diklaim oleh pelaku pengalaman.

 

4.    Pengalaman Keagamaan Sebagai Hal Metafisikal

Mungkin pengalaman keagamaan bisa kita definisikan sebagai berikut: “Pengalaman keagamaan adalah sebuah pengalaman yang mana pelaku pengalaman tersebut menganggapnya sebagai pengalaman keagamaan, yang mana pengalaman tersebut tidak bisa dijelaskan dengan berdasarkan perkara-perkara tabiat (non-metafisik), dan untuk menjelaskan hal tersebut, membutuhkan keberadaan metafisik”. Dengan kata lain, baik dalam sisi mendeskripsikan pengalaman keagamaan butuh pada keberadaan metafisik yang telah diasumsikan, begitu juga dalam sisi menjelaskan hal tersebut.

Proudfoot dalam setengah perjalan pertama telah melewatinya dengan benar, namun dalam setengah perjalanan selanjutnya melangkah dengan salah, karena – sebagaimana yang dikatakan Proudfoot – dalam sisi penjelasan pengalaman keagamaan pun,  harus muncul dari sistem-sistem kepercayaan dan kecendrungan-kecendrungan pribadi pelaku  pengalaman, kita tidak dapat menganggap sebab munculnya pengalaman-pengalaman ini semata-mata dari perkara-perkara tabiat. Hingga saat ini, tidak ada satupun penjelasan tabiat (rasional) yang memuaskan sepanjang sejarah, dalam menjelaskan kejadian-kejadian yang dialami oleh para arif. Lagi pula, pendeskripsian para arif mengenai pengalaman-pengalaman yang dialaminya, secara umum tidak bisa dielakkan begitu saja. Pada umumnya, orang-orang arif pada zamannya sendiri adalah orang-orang yang memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, paling jujur dan paling teliti. Oleh karena itu, tanpa memiliki data yang jelas, kita tidak bisa menganggap pengalaman mereka sejenis fantasi atau imajinasi semata.

Hal lain yang tidak bisa kita ingkari juga bahwa sebagian besar dari para arif adalah orang-orang reformis, yaitu orang-orang yang bangkit dalam melawan nilai-nilai dan budaya yang mendominasi pada zamannya, bahkan mereka melakukan perlawanan. Sebagian dari mereka mengajak masyarakatnya ke arah ide-ide dan nilai-nilai yang tinggi. Oleh karena itu kita tidak dapat menklaim bahwa seluruh pengalaman para arif, sebelumnya telah dibingkai oleh sistem pemikiran, nilai dan budaya mereka.

 

Pengalaman Keagamaan dan Pembuktian Keberadaan Tuhan

Apakah kita dapat membangun argumentasi dalam membuktikan Tuhan dengan bersandar pada pengalaman-pengalaman keagamaan? Untuk menjawab persoalan ini, pertama-tama kita harus menggeledah substansi pengalaman keagamaan itu sendiri. Hal ini telah kita lakukan secara ringkas di atas. Kita akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menyesuaikan masing-masing pandangan pemikiran yang dipaparkan di atas.

        1. Kesentimentalan Pengalaman Keagamaan dan Pembuktian Tuhan

Bagi mereka yang menganggap bahwa pengalaman keagamaan adalah perkara sentimen atau perasaan, maka mereka tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan dengan menggunakan hal tersebut, dikarenakan; dengan bersandar pada perkara sentimen dan perasaan semata, maka kita tidak dapat memperolah pengetahuan terhadap sebuah realitas. Perasaan-perasaan bersifat ineffability (tidak dapat dijelaskan), tidak memiliki jaminan dan pemahaman-pemahaman akal serta pengetahuan yang cukup untuk membangun sebuah argumen. Setiap dalil dan argumen menggunakan mukaddimah yang memiliki pemahaman-pemahaman yang jelas. Sentimen semata, ambigu dan ineffability, tidak bisa sama sekali digunakan dalam mukaddimah rasional dan eksperimen dalam menyajikan sebuah argumentasi.

 

2. Keindrawian Pengalaman Keagamaan dan Pembuktian Tuhan

Berdasarkan dasar pemikiran  “kesamaan pengalaman keagamaan dengan pengalaman indrawi”, dapat membangun sebuah argumentasi dalam membuktikan keberadaan Tuhan. Sebagaimana kita menggunakan persepsi-persepsi indrawi  dalam membuktikan hal-hal yang bersifat materi, kita juga dapat membuktikan Tuhan dengan menggunakan persepsi-persepsi kita yang bersandar pada pengalaman keagamaan. Kedua-duanya memiliki kemungkinan mengalami kesalahan, namun hal ini tidak menyebabkan bahwa kita kehilangan kepercayaan terhadap persepsi-persepsi kita. Namun kita tidak harus melupakan bahwa meskipun kita menyamakan antara pengalaman keagamaan dan pengalaman indrawi, tetapi tetap saja berhadapan dengan beberapa masalah, misalnya terdapat perbedaan di antara persepsi-persepsi keagamaan yang berbeda. Dalam pengalaman-pengalaman indrawi, pengalaman-pengalaman individu yang berbeda-beda satu sama lain saling membenarkan, dan hal ini menyebabkan kepercayaan yang lebih terhadap pengalaman indrawi. Berbeda dengan pengalaman-pengalaman keagamaan yang satu sama lain saling tidak membenarkan dan terdapat perbedaan yang banyak di antaranya (perbedaan yang ketujuh atau “g” antara pengalaman keagamaan dan pengalaman indrawi). Jika Alston mampu keluar dari masalah ini, mungkin dia dapat menemukan jalan dalam membuktikan Tuhan melalui pengalaman keagamaan.

 

4. Menganggap metafisika Pengalaman Keagamaan  dan Pembuktian Tuhan

Teori Proudfoot  tidak menklaim dalam membuktikan sesuatu melalui pengalaman keagamaan, artinya teori Proudfoot berseberangan dengan teori yang meyakini bahwa kita dapat membuktikan Tuhan melalui pengalaman keagamaan.

 

5. Pengalaman Keagamaan Sebagai Hal Metafisikal dan Pembuktian Tuhan

Pandangan keempat meyakini bahwa kita dapat membangun sebuah argumen dalam membuktikan Tuhan melalui pengalaman keagamaan, karena pengalaman keagamaan adalah sebuah pengalaman yang mana pelaku pengalaman tersebut menganggapnya sebagai pengalaman keagamaan, yang mana tidak dapat dijelaskan dengan perkara tabiat (non-metafisik) dan untuk menjelaskannya butuh pada keberadaan metafisik. Dalam kesempatan ini, kami tidak ingin membuktikan misdak sesuatu berdasarkan sebuah definisi, akan tetapi dalam menjelaskan sebab pengalaman keagamaan, kita akan sampai pada keberadaan metafisik. Jenis pengalaman keagamaan tidaklah demikian halnya secara sederhana memancar dari sebab tabiat (non-metafisik). Jenis pengalaman-pengalaman para arif dan para Nabi, tidak bisa kita menganggapnya begitu saja bahwa pengalaman mereka adalah akibat dari faktor-faktor seperti; lingkungan, budaya, badan, makanan dan semacamnya. Sebuah pengalaman terhadap keagungan wahyu, berdialog dengan Tuhan, sebuah pengalaman seperti mendapatkan beberapa pengetahuan melalui alam gaib, yang mana tanpa bantuan Tuhan kemungkinan untuk sampai pada pengetahuan tersebut terhitung mustahil, pengalaman menyaksikan kehidupan benda mati, pengalaman  menyaksikan tasbih seluruh eksistensi,  dan ratusan pengalaman lain semacamnya, yang mana seluruh pengalaman tersebut tidak bisa kita abaikan pengaruh alam gaib, dan semata-mata menganggapnya sebagai fenomena kejiwaan. Pengalaman-pengalaman ini dikarenakan keragamannya, memberikan perubahan pada individu dan masyarakat, memberikan pengetahuan tentang alam dan manusia serta memiliki keobjektivitasan dan faktor eksternal (di luar dari jiwa seorang arif atau Nabi).

Sebab perolehan pengalaman-pengalaman seperti ini memiliki karekteristik yang melampaui karekteristik yang dimiliki oleh materi, maka ciri-ciri pengalaman keagamaan itu sendiri melampaui perkara-perkara materi dan tabiat. Dengan menggunakan pengalaman-pengalaman  keagamaan, kita dapat membuktikan keberadaan metafisik, yang suci, yang agung, penuh rahasia dan menakjubkan. Akan tetapi tidak membuktikan Tuhan dari salah satu agama tertentu. Dengan kata lain, apa yang ada di antara pengalaman-pengalaman keagamaan yang beragam, memiliki kesamaan, bahwa pengalaman tersebut tidak mampu membuktikan selain yang disebutkan di atas, bahwa apakah keberadaan tersebut, Tuhan personal atau universal, satu atau banyak, tetap atau berubah, dan sifat-sifat lainnya, melalui pengalaman-pengalaman keagamaan ini tidak dapat dibuktikan, untuk hal tersebut harus menggunakan dalil-dalil yang lain.

    


[1] . Justarhae kalame jadid, hal 156.

[2]. Aqle wa I’tiqade Diini, Michael Peterson, terjemahan Ahmad Naraqi dan Ibrahim Sulthani, hal 37.

[3]. Dar Amadi bar Kalame Jadid, Hadi Shadiqi, hal 133.

[4] . Aqle wa I’tiqade Dini, Michael Peterson, Penerjemah: Ahmad Naraqi, Hal. 41.

[5] . Aqle wa I’tiqade Diin, Michael Peterson, Penerjemah: Ahmad Naraqi, Hal. 41.

[6] . Muhammad Iqbal, menghidupkan pemikiran agama dalam islam, terjemahan Ahmad Aram, Tehran

 

20 Juli 2012

TUHAN PENCIPTA ADA DI SEKITAR ANDA

oleh alifbraja

 

TUHAN PENCIPTA ADA DI SEKITAR ANDA

 
 

    Pendahuluan

Sekiranya ada seseorang berkisah kepada Anda, bahwa ia pernah menyaksikan setumpuk kayu di tepi laut. Kemudian secara tiba-tiba kayu-kayu tersebut berubah menjadi sebuah kapal besar yang sangat indah dengan sendirinya.

Sekiranya saya bercerita kepada Anda; pada suatu hari, saya menyaksikan setumpuk tanah, batu-bata dan beberapa sak semen di tanah kosong yang terletak di depan rumah saya. Kemudian bahan-bahan bangunan tersebut berubah menjadi sebuah apartemen pencakar langit yang megah dengan sendirinya; tanpa seorang pun yang membangunnya.

 Mendengar kisah pertama dan kedua, apa komentar Anda?

Saya yakin, pasti Anda akan mengatakan kepada saya, bahwa kisah-kisah semacam itu hanya dibuat-buat dan fiktif belaka. Saya pun tidak merasa heran jika Anda mengatakan bahwa pembawa kisah tersebut kurang normal akal dan pikirannya. Karena siapapun yang berakal sehat -anak kecil sekalipun, bahkan setiap orang yang mengingkari eksistensi Tuhan sekalipun- akan mengatakan bahwa hal itu mustahil terjadi.

Ketika Anda melihat lukisan yang indah dan menarik, dapat dipastikan Anda akan berkomentar: “Oh, betapa indahnya lukisan ini, dan betapa pelukisnya mahir dalam menggoreskan berbagai cat yang berwarna-warni di atas kanvas”. Pasti tidak akan terlintas di benak siapapun yang menyaksikan lukisan indah tersebut, bahwa lukisan itu muncul dan menempel di dinding dengan sendirinya, tanpa seorang pun yang melukis dan menempelkannya di dinding tersebut. Karena fenomena semacam ini, merupakan persoalan yang sangat jelas dan gamblang, sehingga akal siapapun tidak akan mengingkari hal itu.

 Ketika Anda melihat tatanan sebuah kota yang begitu rapih, indah dan teratur, yang belum pernah Anda saksikan sebelumnya, dengan spontan Anda akan mengatakan: “Alangkah pandainya bapak insinyur yang mengatur dan menata kota ini”.

Ungkapan Anda semacam itu menunjukkan, bahwa setiap insan yang berakal sehat -secara naluri dan di sepanjang sejarah kehidupan- meyakini wujud pencipta, pembuat dan pengatur atas segala yang mereka saksikan. Terutama ketika menyaksikan sesuatu yang indah yang belum pernah ia saksikan sama sekali sepanjang hidupnya. 

 

    Keteraturan Alam

 Keteraturan dan keindahan alam raya yang kita saksikan ini, merupakan suatu realita yang tidak dapat diingkari oleh semua manusia. Karena mereka telah merasakan dan menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri akan keindahan alam semesta ini. Tidak logis dan mustahil, jika mereka mengatakan bahwa hal itu hanya fatamorgana belaka. Oleh karenanya, setiap orang yang mengamati penciptaan alam raya ini, tidak akan mengingkari atau menolak akan keteraturan dan kerapihannya.

Setelah dibuktikan bahwa alam semesta yang sangat teratur dan indah ini tidak muncul dan eksis dengan sendirinya, ketika itu hati nurani setiap insan yang berakal sehat akan bertanya-tanya: “Siapakah yang mengatur alam semesta ini, hari demi hari dan waktu demi waktu, ia bergerak sesuai dengan aturannya? Sebenarnya di balik pertanyaan tersebut terdapat sebuah keyakinan yang mendasar dan cukup urgen, bahwa alam semesta yang indah ini pasti ada yang menciptakan dan mengaturnya.

Kami yakin bahwa Anda -selaku mahasiswa dan aktivis- pernah membaca sebuah buku yang cukup menarik bagi Anda. Dengan berdecak penuh kekaguman Anda membacanya, karena susunan kata-kata dan pembahasannya yang begitu menarik dan sistematik. Apa komentar Anda ketika itu? Pasti Anda akan mengatakan: “Alangkah pandainya penulis buku ini”. Atau, mungkinkah Anda akan mengatakan bahwa penulis buku itu adalah orang bodoh, atau buku itu muncul di hadapan Anda secara kebetulan dan dengan sendirinya? Tidak, tidak mungkin Anda mempunyai pikiran dan suara hati semacam itu. Karena hal itu mustahil terjadi di belahan dunia manapun.

Indahkah seandainya rembulan dan bintang-bintang yang bertebaran di langit yang tinggi itu muncul pada siang hari? Kira-kira apa yang akan terjadi jika matahari, bumi dan planet-planet lainnya bergeser sedikit saja dari porosnya masing-masing?

Indahnya bulan purnama dan bintang-bintang gemerlap yang kita saksikan pada malam hari, dan teraturnya gerakan benda-benda langit tersebut sesuai dengan jalur dan jadwalnya masing-masing, menunjukkan kepada kita, bahwa semua itu tidak eksis dengan sendirinya, tidak muncul secara thafrah, shudfah ataupun spontanitas. Tetapi semua itu ada yang menciptakan dan mengaturnya.  

 

     Filosof Barat dan Tuhan Pencipta

 David Hume, salah seorang filosof Idealis Barat menulis dalam bukunya sebagai berikut: “Setiap hasil karya manusia itu dihasilkan dan dibuat oleh manusia itu sendiri. Sebuah bangunan tidak mungkin ada tanpa ada yang membangunnya. Perahu tidak akan ada tanpa ada yang membuatnya.

Adapun alam semesta berbeda dengan hasil karya dan buatan manusia. Alam semesta ini ada secara natural, karena hasil karya manusia dan alam semesta ini adalah dua hal yang berbeda. Karenanya, kita tidak mungkin menyimpulkan dan menyandarkan hukum satu terhadap hukum yang lainnya.

Benar, bahwa kita dapat mengadakan analisa terhadap hasil karya manusia. Dari situ dapat disimpulkan, bahwa semuanya itu merupakan hasil karya orang-orang pandai di bidangnya masing-masing. Tetapi kita tidak dapat melakukan analisa terhadap keterciptaan alam semesta ini. Karena keberadaannya tidak terulang lagi, sehingga manusia tidak dapat menganalisa keberadaan penciptanya. Atas dasar ini, maka manusia tidak dapat menetapkan dan menyimpulakan bahwa alam semesta ini ada yang menciptakannya.  

 Sekarang, apa komentar Anda terhadap pernyataan Bung David tersebut? Yang menjadi persoalan adalah: apakah untuk membuktikan atau menetapkan bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan atau tidak, harus melalui proses analisa terlebih dahulu?

Ketika seseorang melihat sebuah bangunan megah, perahu besar, buku yang menarik atau lukisan yang indah, dengan spontan akal sehatnya menghukumi akan adanya orang pandai yang membangun, membuat, menulis atau melukisnya. Dan hal itu tanpa melalui proses analisa terlebih dahulu. Karena secara refleks benak dan hatinya akan bertanya-tanya: Siapakah pembuatnya? Jika demikian, mungkinkah alam semesta yang luas dan sangat teratur rapih ini, yang jauh mengungguli hasil karya manusia, ada secara natural, dengan sendirinya dan tanpa ada yang menciptakannya? Bagaimana mungkin akal sehat dapat menetapkan dan menghukumi bahwa setiap hasil karya manusia itu pasti manusia itu sendiri yang membuatnya. Sementara ia (akal sehat) tidak dapat menetapkan dan menghukumi adanya sang pencipta bagi alam semesta dan jagad raya ini?

Apakah keberadaan bintang-bintang yang indah di malam hari dan perputaran bumi ini, ada secara natural dan spontanitas? Apakah matahari yang selalu terbit di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat, terjadi secara natural juga?

Tentu, akal sehat siapapun akan menolak ideologi semacam ini. Karena hal itu tidak logis. 

 

     Eksistensi Manusia

 Sebagaimana alam semesta ini ada yang menciptakan, menjaga dan mengaturnya, dan tidak mungkin tercipta dengan sendirinya, maka eksistensi manusia pun tidak mungkin ada secara natural atau spontanitas, karena manusia adalah makhluk istimewa dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain di alam semesta ini.

Benar, bahwa manusia -secara fisikal- merupakan makhluk yang lebih kecil bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya di alam yang luas ini. Tetapi di dalam wujud manusia tersimpan berbagai keajaiban yang luar biasa. Manusia adalah makhlkuk sempurna bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dan kesempurnaannya itu karena akalnya, sehingga dengan akal manusia mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk dan antara yang batil dan yang benar.

 Seluruh anggota tubuh manusia, seperti jantung, hati, sel-sel, urat saraf, otak dan yang lainnya, semuanya itu memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lainnya, meskipun masing-masing anggota tersebut memiliki cara, fungsi dan aturan kerja yang berbeda-beda. Lebih dari itu bukankah para pakar biologi telah menganalisa sel-sel yang ada pada diri manusia? jika sel-sel itu disambung antara yang satu dengan yang lainnya, maka panjangannya bisa menjadi tiga kali lipat lingkaran bumi. Sungguh betapa manusia makhluk yang menakjubkan.

Ada anggapan bahwa penciptaan manusia berasal dari kera, kemudian ia berproses menjadi manusia, seperti kita sekarang ini. Bertapa sederhana dan dangkalnya pemikiran dan pandangan semacam ini. Bukankah manusia adalah makhluk yang memiliki akal, sehingga mereka dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah? Bukankah manusia itu makhluk yang berbudaya? Pernahkah sejarah mencatat bahwa kera adalah makhluk yang berbudaya? Atau pernahkah sejarawan menemukan puing-puing bekas peninggalan kebudayaan kera? Tidakkah hakikat manusia berbeda dengan kera? Para ilmuan telah membuktikan bahwa kera merupakan makhluk yang sama sekali tidak berbudaya.

Dengan kebesaran dan keajaiban yang terdapat di dalam diri manusia, mungkinkah dapat dikatakan bahwa manusia itu ada dan eksis secara aksidental dan bersifat natural?

Tidak seorang pun yang ragu bahwa yang menciptakan manusia memiliki ilmu dan kekuasaan yang tidak terbatas dan tidak dapat dijangkau oleh siapapun. Dia mampu menciptakan manusia yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Kesempurnaan manusia itu terletak pada akalnya, sehingga dengan akal tersebut manusia dapat berpikir, bekerja dan menapaki langkah-langkah kemajuan teknologi mutakhir.

Sebenarnya tidak sebuah argumen apapun yang dapat menafikan eksistensi Sang Pencipta jagat raya ini. Namun kebanyakan umat manusia selalu berusaha mendustakan-Nya. Sementara di sekitarnya dan pada kehidupannya terdapat tanda-tanda Sang Pencipta sebagai petunjuk akan keberadaan-Nya. Tuhan, betapa Engkau ada di sekitar kami. Bahkan Engkau lebih dekat dari urat leher kami.

%d blogger menyukai ini: