Posts tagged ‘Uncategorized’

2 Agustus 2012

Sejarah Singkat Kyai Sengkelat

oleh alifbraja

Keris Kyai Sengkelat

Kyai Sengkelat adalah keris pusaka luk tiga belas yang diciptakan pada jaman Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri.
Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Ketika ditanya besi itu berasal darimana, dijawab lah bahwa besi itu milik Muhammad saw. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang.

Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama Kyai Sengkelat. Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.
Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.
Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan berhasil. Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit diberi tugas untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. Dalam menjalankan tugasnya, sang Mpu menyamar sebagai seorang pandai besi yang membuat berbagai alat pertanian dan mengganti namanya menjadi Ki Nambang.

Di samping pandai membuat alat pertanian, beliau juga membuat tombak, pedang dan keris yang kemudian dipamerkan di tempat-tempat keramaian, di Blambangan. Seketika pameran tersebut memancing perhatian banyak orang. Banyak sekali pesanan datang dari para pejabat kadipaten Blambangan. Termasuk patih Adipati Blambangan yang memesan Keris Carangsoka.
Akhirnya sang adipati Blambangan menyaksikan keris ciptaan Ki Nambang, sebilah keris Carangsoka yang sangat bagus dan ampuh. Ketika ditusukkan ke pohon pisang, seketika itu seluruh daun pisang menjadi layu. Karenanya sang mpu di undang untuk menghadap ke kadipaten guna membicarakan suatu hal yang rahasia dengan alasan agar percikan bunga api besi bahan kerisnya, tidak menjadi bencana bagi rakyat Blambangan.

Ternyata setelah Ki Nambang datang menghadap, didapatnya tugas untuk membuat “putran” atau tiruan Kangjeng Kyai Puworo (Keris Sengkelat). Ki Nambang dengan siasatnya meminta disediakan perahu untuk membuat tiruan Kyai Sengkelat dengan alasan percikan bunga api besi bahan kerisnya tidak menimbulkan bencana bagi rakyat Blambangan.
Singkat cerita, akhirnya rencana mendapatkan kembali keris pusaka Majapahit itu berhasil tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan pertumpahan darah. Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi seorang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri. Serta mendapatkan gelar kebangsawanan sebagai Kangjeng Pangeran berikut tanah perdikan di Desa Pitrang. Maka namanya pun berubah menjadi Kangjeng Pangeran Pitrang yang bekerja sebagai mpu kadipaten Blambangan.

Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit. Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan membuat keris.

Lima belas tahun kemudian setelah Mpu Pitrang meninggalkan Blambangan, datang lah seorang pemuda yang mengaku sebagai anak mpu Supa. Ketika ditanya, ia mengaku bernama Joko Suro. Mpu meminta bukti berupa besi bahan membuat keris. Namun ketika diserahkan oleh Joko Suro, besi bahan itu telah menjadi sebilah keris. Ternyata selama dalam perjalanan mencari ayahandanya, besi itu oleh Joko Suro dipijit-pijit dan ditarik olehnya hingga menjadi sebilah keris kecil. Maka keris itu pun dinamakan Keris Kyai Bethok yang mempunyai keampuhan menyingkirkan niat jahat.

8 Juli 2012

Wilayah (Kewalian) seorang Ibu dan Ghawts ul-A’zham

oleh alifbraja

Wilayah (Kewalian) seorang Ibu dan Ghawts ul-A’zham

Cerita ini dikisahkan oleh almarhum Syaikh Zakariya bin ‘Umar Bagharib Singapore (qaddasAllahu sirrahu wa nafa’anaa bibarakaatih), yang adalah putra dari Syaikh ‘Umar bin Abdullah Bagharib (qaddasAllahu sirrahu wa nafa’anaa bibarakaatih), seorang mursyid Tariqah Qadiriyah di Singapore.

Syaikh Zakariya Bagharib pernah bercerita bahwa suatu saat di masa hidup Ghawtsul A’zham Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailaniy1) (qaddasAllahu sirrahu wa nafa’anaa bibarakaatih), sang Sulthanul Awliya’ tengah berada di lingkungan Masjidil Haram. Saat berada di sana, beliau (Syaikh ‘Abdul Qadir) merasa takjub ketika melihat seorang wanita yang tengah melakukan thawafmengelilingi Ka’bah dengan hanya satu kakinya. Melalui firasat beliau, fahamlah Syaikh ‘Abdul Qadir bahwa wanita tersebut bukanlah wanita biasa, melainkan pastilah seorang Wali. Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailaniy pun mencoba mencari tahu level atau maqam atau kedudukan sang Wanita Waliyyah tersebut. Beliau pun mencoba ke level 1 (Wali ‘rendahan’), tak dijumpainya ruuhaniyyah wanita itu. Ke level 2, tak ada. Level 3, 4, … tak ada pula. Hingga sampai mendekati maqam Ghawtsiyyah beliau sendiri, tak juga ada. Akhirnya, menyerah juga, dan memohonlah beliau ke Hadirat Allah SWT yang kira-kira secara bebas
dapat dibahasakan sebagai berikut, “Yaa Allah, siapakah wanita ini yang tak dapat kulihat maqam wilayahnya?” (Sedangkan Syaikh Abdul Qadir Jailani terkenal dengan ucapannya ‘Kakiku berada di leher para Awliya”’)

“Yaa, ‘Abdal Qadir, ikutilah wanita itu bila engkau ingin mengetahui maqam wilayahnya”

Sang Ghawts pun membuntuti wanita tersebut, hingga akhirnya beliau mengetahui bahwa ternyata, wanita tersebut sebenarnya tidaklah buntung kaki yang satu. Yang terjadi adalah, wanita tersebut sebenarnya tengah menyusui anaknya. Anaknya yang kekenyangan tertidur di pangkuan kakinya. Dan dengan karamahnya sang Waliyyah ini ‘memutus’ sementara satu kaki agar anaknya tak terbangun, sementar ia pun menuju Masjidil Haram untuk berthawaf dengan hanya satu kaki. Dan ketika kembali ke anaknya yang masih terlelap dalam tidur, ia pun menyambungkan kembali kaki tadi.

Subhanallah. Itulah wilayah seorang wanita yang dicapai melalui kasih sayang keibuannya. Mawlana Syaikh Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani (qaddasAllahu sirrahu wa nafa’anaa bibarakaatih) pun sering menyebutkan betapa dekat seorang wanita dengan darajah Wali… lewat keibuan (motherhood). Sayangnya, banyak wanita di zaman ini, termasuk dari kalangan Muslimah meninggalkan keibuan/motherhooddan menganggapnya sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.
Dan sungguh ternyata kita tidak pernah tahu berapa dan betapa banyak hamba-hamba Allah (rijaalallah wa ‘ibaadallah) yang Ia SWT sembunyikan dalam kubah wilayah-Nya.

Catatan kaki:
Menurut almarhum Mawlana Syaikh Husayn ‘Ali ar-Rabbani (qaddasAllahu sirrahu wa nafa’anaa bibarakaatih), Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani memegang maqam Ghawtsiyyah selama 3 tahun. Sebelum beliau adalah Mawlana Syaikh Yusuf Al-Hammadaniy (qaddasAllahu sirrahu wa nafa’anaa bibarakaatih), dan setelah beliau adalah Mawlana Syaikh ‘Abdul Khaliq Al-Ghujdawani (qaddasAllahu sirrahu wa nafa’anaa bibarakaatih). Maqam Ghawtsiyyah adalam maqam tertinggi wilayah, sebagai representasi Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam.

8 Juli 2012

Rupanya Kartini Mati Dibunuh

oleh alifbraja

Rupanya Kartini Mati Dibunuh

Kartini adalah pahlawan Nasional SK Presdien RI (Ir. Soekarno) No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964. SK tersebut menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional menunai banyak kontroversi. Banyak latar yang mempertanyakan bahwa nilai kepahlawanannya tidak lepas dari politik etis zaman Belanda. RA kartini merupakan wanita berdarah biru, cerdas, pemberani, dan kurang menyukai hal-hal yang bersifat seremonial. Dia menentang perihal yang bersifat feodalism kerajaan maupun kolonial. Dan sangat memperhatikan nasib bangsa bumipertiwi khususnya kaum wanita dibidang pendidikan. Karena ia berpikir, hanya melalui pendidikan rakyat Indonesia lepas dari perbudakan kolonial penjajahan dan keratonism. Yakni sebuah pemikiran yang jarang dimiliki oleh putra bangsa —apalagi wanita— seperti Kartini. Sehingga nasehat Hugrogonje, orang seperti kartini harus didekati, karena pola pemikirannya sangat berbahaya bagi sistem kolonial Hindia Belanda. Maka dari itu JH Abendanon, Menteri Pendidikan penjajahan kala itu di zaman Kartini berupaya mendekati Kartini dari sudut pemikiran.
Pemikiran-pemikiran Kartini yang sedemikian berani, kritis, sistemik terlihat dari berbagai surat-surat dan artikel yang sudah menyebar di majalah-majalah wanita Eropa harus didampingi oleh orang Belanda agar tidak keluar dari visi penjajahan kerajaan belanda di Hindia Belanda. Khususnya pemikiran tentang gugatan emansipasi di zaman yang sudah mendunia kala itu bahwa pemikiran tentang kewanitaan sangat mengagetkan wanita-wanita Eropa. Penjajahan tidak hanya feodalisme dan kapitalis dunia, akan tetapi diskriminasi terhadap kaum wanita di seluruh dunia bisa dikatakan — bagi kaum wanita— merupakan era penjajahen gender, bahkan untuk negara penjajah sendiri seperti Belanda dan Eropa lainnya, kaum wanita merasa terjajah oleh sistem negerinya sendiri. Dan Kartini ibarat sinar yang mampu menggugah pemikiran wanita-wanita Eropa untuk bangkit menjadi kaum yang mandiri yang tidak hanya takluk oleh kaum pria dan sistem yang melingkupi budaya kewanitaan.
Sedemikian jauh dan cerdas, untuk sekian kalinya JH. Abendanon mengawal profil kehidupan dan pemikiran Kartini —-lihat dalam uraian surat-surat Kartini di buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” (door duisternis tot licht) — tidak mampu mengawal letupan-letupan gugatan Kartini terhadap sistem feodal kratonism dan kolonialism. Dalam rekayasa ini sangat terlihat intrik-intrik hitam pada detik-detik Kartini, ketika ada visi untuk menjatuhkan intlektual Kartini. Artinya, kartini di zaman itu bukan hanya di era indonesia dan segala kerajaannya, akan tetapi surat-surat dan artikel via pos. Kalau tidak berlebihan dikatakan, “ di zaman itu 1898 – 1902 Kartini menjadi tokoh dunia. Ia menjadi sentral tokoh-tokoh wanita Eropa di dunia.” Dan bagi kolonial Belanda di Indonesia menghabisi peran intlektual Kartini akan menjadi masalah internsional, karena masalah area kolonial atau penjajahan sangat bersaing ketat dengan Inggris.
Dari sini ada upaya “gerakan bawah tanah” untuk menghabisi RA Kartini. Gerakan itu bisa dirasakan dan mulai terlihat jelas ketika RA kartini hendak sekolah ke Luar Negeri, kemudian cita-citanya sekolah di Bandung, semua tumbang ditengah jalan akibat campur tangan JH Abendanon terhadap bapak Kartini. Demikian juga masalah pernikahan, sangat kental sekali upaya JH Abendanon terhadap bapak Kartini dan sistem keraton Jepara. Akhirnya Kartinipun menikah di usia 25 tahun. Kalau sudah menilah —bagi adat Jawa yang sudah dipelajarai penjajah Belanda —- tentu profil wanita Jawa tidak bisa berbuat banyak lagi.
Ketika memasuki area pernikahan dan hidup di Rembang bersama suami tercinta, rupanya sang suami sangat mendukung visi, misi, dan tujuan Kartini tentang Pendidikan, menulis buku —bahkan Kartini sudah membuat plot buku yang bertema Babat tanah Jawa, — atas dukungan suami tercinta. Buku itu belum selesai ditulis karena meninggal dunia. Juga ada seorang ulama Kyai Sholeh Darat menulis kitab tafsir untuk Kartini agar bagaimana Kartini memahami Islam, Kyai itupun wafat dengan misterius, sebab umat islam sengaja dijauhkan dari keilmuan agamanya sendiri. Dengan kata lain bahwa Kartini, walaupun sudah berstatus istri masih melakukan aktifitas-aktifitas intlektualnya atas bantuan suami dan orang terdekat dari kalangan pribumi.
Kutipan di salah satu buku saya, maaf !
“Betapa bahagianya Kartini melihat suaminya mendorong agar tetap bersemangat menulis. Suaminya menyampaikan ide agar menulis buku Babad Tanah Jawa. Diharapkan dari tulisan Kartini kelak masyarakat Jawa bisa melihat dengan jelas sejarah perkembangan tanah Jawa.
Dikatakan dalam satu suratnya tanggal 16 Desember.
Suami sangat inginnya melihat saya menulis kitab tentang cerita lama-lama dan babad tanah Jawa. Dia akan mengumpulkannya bagi saya; kami akan bekerja bersama-sama mengarang kitab itu. Senangnya hati mengenangkan yang demikian itu !
Masih banyak lagi hal yang hendak diperbuatnya bersama-sama dengan saya; di atas meja tulis saya telah ada beberapa karangan bekas tangannya. (Armijn Pane 1968, 238)

Hidup di Rembang sebagai permaisuri sekaligus wanita karir (sebutlah seperti di zaman modern ini) Kartini sudah mencapainya dengan baik sejak era 1900-an. Aspek sejarah manapun terbukti bahwa Kartini sudah membuka pintu yang luas untuk diri dan bangsanya. Menjadi kolomnis untuk majalah Eropa dan menjadi penulis buku bukan hal yang mudah di zaman penjajah. Tingkat kecerdasan masyarakat Jawa secara umum masih banyak yang belum bisa baca tulis. Akan tetapi Kartini gadis keraton dengan gaya pendidikan yang ketat (di keraton) tanpa mengalami kesulitan menulis buku atau membaca buku-buku. Ia memperoleh dukungan luar biasa dari suaminya.”
JH Abendanon dan orang-orang Belanda berpikir keras, bagaimana menghentikan gerakan intlektual Kartini terhadap bangsa melalui pemikiran dan wawasan kebangsaan Indonesia. Muncullah “gerakan bawah tanah” melalui dokter persalinan yang mengurusi persalinan RA. Kartini ketika melahirkan Susalit, dan fenomena itu bisa ditafsir ke seribu makna tentang kematian Kartini. Proses persalinan susalit tidak ada masalah. Badan sehat, tidak ada keluhan, namun pada minggu selanjutnya ketika DR itu datang, tiba-tiba perutnya sakit dan meninggal dunia.
Ada kutipan yang menarik. Sitiosemandari memberikan gambaran kecurigaan yang wajar.
Tanggal; 13 September 1904 bayinya lahir, laki-laki, kemudian diberi nama Raden Mas Soesalit. Tanggal 17 September, dr. Van Ravesteyn datang lagi untuk memeriksa dan dia tidak mengkhawatirkan keadaan Kartini. Bahkan bersama-sama mereka minum anggur untuk keselamatan ibu dan bayi.
Tidak lama setelah Ravesteyn meninggalkan Kabupaten, Kartini tiba-tiba mengeluh sakit dalam perutnya. Ravesteyn, yang sedang berkunjung ke rumah lain, cepat-cepat datang kembali. Perubahan kesehatan Kartini terjadi begitu mendadak, dengan rasa sakit yang sangat di bagian perut.
Setengah jam kemudian, dokter tidak bisa menolong nyawa pemikir wanita Indonesia yang pertama ini. Pembunuhan ? Racun ? Guna-guna ? Tentang hal ini, Soetijoso Tjondronegoro (Sutiyoso Condronegoro) berpendapat: “Bahwa ibu kartini sesudah melahirkan putranya, wafatnya banyak didesas-desuskan, itu mungkin karena intrik Kabupaten. Tetapi desas-desus itu tidak dapat dibuktikan. Dan kami dari pihak keluarga juga tidak mencari-cari ke arah itu, melainkan menerima keadaan sebagaimana faktanya dan sesudah dikehendaki oleh Yang Mahakuasa.” (Imron Rosyadi, 2010)

Ada pernyataan dari teman belanda, Jika hewan saya sakitpun, saya tidak percaya terhadap kompetensi dr. Van Ravesteyn.
Ada intrik yang mendalam, yakni permainan dalam sekam agar tidak terlihat upaya pembunuhan terhadap kartini. Orang berpura-pura berbelasungkawa, sesungguhnya dialah yang membawa pedang tikaman. Orang berteriak maling, sesungguhnya dialah malingnya. Akan tetapi keluarga kerajaan mengambil jalan bijak, dan menurut bahasa elit yang terkenal zaman itu, “Laat de doden met rust” (biarkan yang meninggal jangan diganggu – [Efatino Febriana, 2010]). Dan semuanya dianggap bagian dari perjuangan Kartini yang tertunda.

Tentang “intrik-intrik” sudah ada di zaman dulu hingga zaman sekarang. Manusia yang dianggap penting dan berkedudukan tinggi jika memperoleh target pembunuhan atau pemandulan peran karena pertimbangan tertentu, pasti dilakukan dengan hati-hati, karena dampak dari pembunuhan dan pemandulan itu akan diketahui publik dan berdampak pada eksistensi sosial yang tinggi juga, yang taruhannya akan terkena pada pembuat intrik tadi. Jadi selalu ada alasan lain sebagai “kambing hitam politik” sebagai korban untuk mengamankan zona yang lebih luas dan panjang. Termasuk RA. Kartini versus Belanda, ada zona yang lebih luas dan panjang jika Kartini dibiarkan hidup di era zaman belanda.
Jadi R.A. Kartini bukan pahlawan yang sengaja di-usung bangsa Belanda melalui politik etis, dan mengalahkan Cur Nyak dien, Sartika, dll yang tidak di”hari raya”kan sementara Kartini kenapa dijadikan momen 21 April sebagai Hari Kartini, dan tidak ada hari besar Cut Nyak Dien atau lainnya. Hari Besar itupun dihapus dengan alasan Kartini adalah pahlawan bawaan Belanda. Padahal Kartini adalah korban politik etis bangsa belanda secara terselubung, hanya kita yang buta, kenapa tidak mengetahui ada mutiara yang berserakan di tanah air sendiri dengan bicara yang tegas. Kita masih ada budaya menyalahkan kelompok lain bidang sosial, politik, atau keagamaan, yakni melalui pemikiran perbandingan intlektual pembenaran diri sendiri, dan menganggap lainnya salah yang tidak koheren dengan kita. Dan Kartini salah satu korban pahlawan di zaman dulu dan korban malpraktek pemikiran di zaman kekinian.

8 Juli 2012

HAL YANG GANJIL, Ditemukan Dalam Mata Uang Rp.10.000 !

oleh alifbraja

HAL YANG GANJIL, Ditemukan Dalam Mata Uang Rp.10.000 !

1. Siapkan uang Rp.10.000 yang bergambar Sultan Machmud Badarudin

2. Lalu lipat uangnya dari atas ke depan

3. Lipat juga bagian bawah ke depan

4. Lalu kita putar 180 derajat uang yang sudah dilipat tadi. dan lihatlah !

Segitiga yang terbentuk pada hasil lipatan tadi persis seperti:

Dengan lambang tulisan yang bentuknya bundar dan muter-muter seperti membentuk “mata” iluminati seperti pada uang dollar amerika :

Kemudian jika kita teliti & terus cermati gambar yang ada di pinggir gambar segitiga “illuminati” yang ada di uang Rp.10.000 kita, kita akan menemukan gambar:

Gambar yang ada dalam lingkaran merah itu adalah Dewa Matahari dalam mitologi Satanis:

Apakah Mata Uang dinegara tercinta kita Indonesia ini sudah dibawah kekuasaan Kaum Zionis Satanis..??

Wallahu’alam..

7 Juli 2012

Hamba Allah Sejati

oleh alifbraja

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

 

Hamba Allah yang sejati haruslah melaksanakan segala sesuatu apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarangan-Nya.
Hendaknya ia berusaha untuk menundukkan hawa nafsunya yang berupa amarah dan serakah. Hawa nafsu yang berlawanan dengan perintah agama itu ada dalam khayalan dan fikiran yang berlawanan dengan yang hakikat. Segala perbuatan yang dibenarkan oleh agama, itulah yang suka ditentangnya. Dan segala perbuatan yang bertentangan dengan agama, dengan senang hati dilakukannya. Itulah peranan hawa nafsu dalam diri manusia.
Dalam tingkat thariqah, ego atau nafsu itu mendorong seseorang untuk mengikuti ajaran-ajaran agama yang palsu dan seolah-olah para pengamal thariqah itu telah berjalan di atas ajaran yang benar, yakni ajaran dari Allah. Padahal seringkali jalan thariqah yang dianggapnya benar itu sebenarnya salah dan bathil, karena penuh dengan kekeliruan, berbenturan dengan tuntutan syari’at dan petunjuk Islam yang hakiki.
Dalam tingkat hikmah atau hakikat, masalah yang dihadapi lebih berat lagi, karena ego dan keinginan yang ada dalam diri seseorang selalu mendorong hasrat untuk mendakwa mereka sebagai Waliyullah. Bahkan, ada pula yang mau mengaku dirinya sebagai “tuhan”. Inilah dosa yang paling besar. Allah berfirman : “Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ?” (Q.S. Al-Furqan: 43)
Peringkat-peringkat tersebut sangat berbeda dengan peringkat ma’rifah. Peringkat ini tidak pernah dapat dijamah oleh nafsu dan iblis. Bahkan malaikatpun tidak mampu mencapainya. Apa dan siapa pun selain Allah bila dapat sampai ke dalamnya, niscaya ia akan hangus. Malaikat Jibril pernah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Jika selangkah saja aku masuk ke situ, maka hanguslah aku.”
Hamba Allah yang sebenarnya ialah hamba yang bebas dari gangguan ego dan nafsu setan, karena dirinya dilindungi oleh perisai keikhlasan dan kesucian hati dalam berma’rifah kepada Allah SWT.
Seorang alim berkata, “Jika sang hamba itu mentaati Allah dengan sepenuh hati dan perasaan, niscaya Allah akan mengaruniakan ma’rifah untuknya. Bahagialah ia memandang rahasia-rahasia Tuhan di balik Alam Malakut. Namun, bila kemudian ia berbalik hati, ingkar kepada syarat-syaratnya, karunia itu akan dicabut-Nya kembali. Hatinya yang penuh dengan cahaya ma’rifah akan kembali suram, gelap gulita seperti semula. Karena itulah, orang yang hatinya telah dipenuhi cahaya ma’rifah sangat khawatir bila cahaya itu akan dicabut seperti keadaannya yang dulu karena suatu kesalahan yang dibuatnya. Iblis laknatullah selalu menanti peluang untuk masuk dalam diri manusia. Apabila manusia lalai, mereka akan membelitnya dengan belalainya dan dijerumuskannya manusia ke lembah kehinaan sehingga semua amalan yang pernah diperolehnya dengan susah payah akan menjadi abu dan sia-sia.
Firman Allah : “Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku bersungguh-sungguh akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (yaitu orang yang ikhlas) di antara mereka.” (Q.S. Shaad: 82 – 83).
Lihatlah, betapa Iblis laknatullah sendiri mengaku di hadapan Allah SWT, bahwa ia tidak mampu menggoda orang yang mengikhlaskan dirinya hanya kepada Allah, sebagaimana bunyi ayat tersebut di atas.
Manusia tidak akan sampai ke peringkat tertinggi itu selagi ia belum suci, karena nafsu-nafsu dunia tidak akan melepaskannya hingga Zat Yang Maha Esa itu terlahir padanya. Inilah yang disebut dengan keihklasan.
Zat itu hendaknya dikenali dengan sempurna. Kejahilan akan hilang dari diri manusia bila ia menerima ilmunya secara langsung dari Allah. Ilmu yang semacam ini tidak dapat dicapai dengan cara belajar, karena ilmu itu adalah karunia dari Allah yang diberikan khusus kepada hamba pilihan (Waliyullah) tanpa perantara atau wasilah.
Apabila Allah SWT menjadi gurunya maka Dia akan memberikan berbagai sumber ilham ke dalam diri mereka, segala rahasia-rahasia yang halus akan dilontarkan Allah ke dalam hati mereka. Maka menjelmalah ia seperti Nabi Khidir atau hamba-hamba shaleh yang lain, yang selalu menerima sumber ilmu dari Yang Pemilik ilmu itu.
Keadaan semacam inilah yang disebut telah mencapai tingkat makrifah. Mereka telah mengenali Tuhan Penciptanya, dan senantiasa mengabdi kepada Tuhan yang sudah dikenali-Nya.
Orang yang mencapai peringkat ini akan melihat Ruh al-Quds (Ruh Suci) dan kekasih Allah, yaitu Rosulullohi Muhammad SAW. Ia boleh berbincang-bincang dengan kekasih Allah tentang segala perkara dari awal hingga akhir, dan Nabi-Nabi lainnya memberinya tanda atau isyarat yang baik tentang janji bahwa ia akan berkumpul bersama kekasih Allah itu. Hal ini tidak mengherankan karena mereka yang telah mencapai peringkat ini, semua keinginannya akan terpenuhi dengan kehendak Allah.
Firman Allah : “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang paling baik.” (Q.S. An-Nisaa’: 69)
5 Juli 2012

ORANG YANG DISESATKAN SYETAN

oleh alifbraja

Syetan adalah balatentara Iblis yang ditugaskan untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Balatentara Iblis ini terdiri atas syetan dari golongan manusia dan syetan dari golongan Jin, sebagaimana disebutkan Allah dalam surat Al An aam 112

 

112- Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (Al An Aam 112)

Syetan dari golongan manusia

Syetan dari golongan manusia bisa dilihat dengan kasat mata , karena dia adalah manusia yang sudah dipengaruhi oleh Iblis . Hidupnya hanya ditujukan pada kehidupan dunia mengabdi pada kepentingan syahwat dan memperturutkan hawa nafsu duniawi. Syetan dari golongan manusia ini banyak menimbulkan bencana dan kerusakan dimuka bumi ia aktif dan bergerak dibidang politik, ekonomi , pemerintahan, lingkungan hidup serta menimbulkan bencana dimana mana. Syetan dari golongan manusia ini karena berujud fisik harus dihadapi pula secara fisik. Dia bisa berujud sebagai seorang pejabat, pengusaha, politikus, pedagang, guru, profesor, teknisi , dokter dan lain sebagainya.

Dalam pergaulan sehari hari kita bisa menemui syetan dari golongan manusia ini dengan mudah, Ia dapat kita kenali dari ciri cirinya antara lain

  • Seluruh usaha dan kegiatannya hanya untuk mendapatkan harta dan kesenangan duniawi, tidak peduli halal dan haram untuk mendapatkannya
  • Mengukur keberhasilan dan sukses hanya dari ukuran duniawi
  • Tidak percaya pada Allah dan kehidupan akhirat
  • Menyebarkan perbuatan maksiat, judi, narkoba, perzinahan untuk mendapatkan kesenangan duniawi
  • Membenci dan berusaha menghalangi kegiataan keagamaan karena dianggap merintangi kegiatan dan usahanya
  • Melakukan pemujaaan terhadap syetan, berhala dan thoghut untuk mendapatkan harta , pangkat , kekuasaan dan lain sebagainya.

 

Syetan dari golongan Jin

Syetan dari golongan Jin tidak bisa dilihat dengan kasat mata , ia menghasut dan membujuk manusia untuk melakukan perbuatan maksiat dan durhaka pada Allah. Ia mendorong manusia untuk memperturutkan hawa nafsu, mencintai kehidupan dunia, melupakan Allah dan kehidupan akhirat, menjauhkan manusia dari dzikrullah dan kegiatan ibadah, menyuruh manusia menumpuk harta dan berlaku kikir. Syetan dari golongan Jin ini menjadikan manusia panjang angan angan dan menjanjikan berbagai kesenangan kepada orang yang mau mengikutinya . Syetan dari golongan Jin karena merupakan mahluk ruh tidak bisa dihadapi secara fisik. Ia harus dihadapi dengan tausiah, dakwah, kegiatan dzikrullah , membaca dan mentadabburi Qur’an , memperbanyak ibadah sunah yang dianjurkan Rasulullah, serta mohon perlindungan Allah dari godaan syetan yang terkutuk ini. Allah mengingatkan dalam surat Fushilat ayat 36:

36- Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Fushilat 36)

Orang yang jauh dari tuntunan Qur’an , enggan melaksanakan ibadah dan mengingat Allah, malas mendatangi tausiah dan pengajian, membangkang dan tidak mau patuh pada Allah dan RasulNya , sangat mudah ditipu dan diperdayakan syetan dari golongan Jin. Mereka menyangka berada pada jalan yang benar dan tidak menyadari bahwa syetan telah menyesatkan mereka dari jalan Allah yang lurus, sebagaimana disebutkan Allah dalam surat Az Zukhruf 36-37

36- Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. 37- Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 36-37)

Orang yang telah disesatkan syetan itu menyangka bahwa ia berada pada jalan yang benar, padahal syetan yang mendampinginya sudah menjerumuskannya pada jalan yang sesat dan ia tidak menyadari hal itu.

 

Perjanjian dengan syetan

Diantara manusia ada yang mengadakan perjanjian dengan syetan dari golongan Jin untuk memenuhi ambisinya dibidang politik, bisnis, kebutuhan syahwat dan lain sebagainya. Mereka rela mengorbankan keluarga dan dirinya demi memenuhi ambisi pribadi yang yang telah menutup mata hati dan fikiran sehatnya. Mereka mendatangi tempat pemujaan mengadakan perjanjian dengan Jin penguasa tempat pemujaan tersebut untuk mendapatkan hajat dan keinginan mereka.

Syetan Jin yang menguasai tempat pemujaan itu bersedia membantu orang yang bersangkutan asal mereka mau memenuhi persyaratan yang diajukan, antara lain mengorbankan orang yang dicintai seperti anak, istri, anggota keluarga dan lain sebagainya sebagai tumbal. Jika ia tidak bisa memenuhi perjanjian maka ia sendiri yang dijadikan tumbalnya. Orang yang sudah gelap mata tidak peduli dengan syarat itu, ia mau menerimanya asal keinginannya terpenuhi.

Orang yang kurang kuat imannya dan tidak tahan menghadapi ujian hidup , cenderung mengambil jalan pintas dengan mengadakan perjanjian dengan Syetan Jin yang menguasai tempat pesugihan tersebut untuk mendapatkan kekayaan. Mereka tidak peduli dengan peringatan saudara atau teman yang menasehati, mereka juga tidak menghiraukan peringatan kuncen penjaga pesugihan tentang resiko besar yang menghadang mereka.

Bisikan syetan pada manusia

Syetan menimbulkan panjang angan angan dan membisikan perbuatan maksiat serta menjanjikan berbagai kenikmatan dan kesenangan palsu pada manusia yang mau mengikuti bisikannya. Orang yang jauh dari tuntunan agama sangat mudah terbius bujukan syetan ini. Syetan menjajikan kenikmatan sementara, kesenangan palsu yang ujungnya hanya menimbulkan penyesalan dan kesengsaraan bagi orang yang mengikutinya.

Banyak kita saksikan orang yang terjebak perjudian, perzinahan, narkoba , baru menyadari kekeliruaannya setelah merasakan akibat yang merusak pada dirinya, namun mereka tidak bisa melepaskan diri diri kebiasaan buruk tersebut. Seorang artis tenar terpaksa berurusan dengan yang berwajib akhirnya masuk bui karena menyimpan dan mengkonsumsi narkoba. Seorang artis atau pejabat terkenal menjadi hancur karir dan masa depannya karena terlibat kasus zinah atau perselingkuhan. Seorang pejabat pemerintahan terpaksa meringkuk dalam penjara dan jeruji besi karena terlibat kasus korupsi. Itu baru kesengsaraan yang mereka terima didunia akibat mengikuti bujuk rayu syetan, kesengsaraan akhirat jauh lebih dahsyat dari itu.

Bagi orang yang mengalami kesengsaraan duniawi akibat mengikuti bujukan syetan kemudian menyadarinya, tentu masih ada jalan dan kesempatan untuk membebaskan diri dari sangsi akhirat yang lebih berat kelak, asal mereka mau bertaubat dan memperbaiki tingkah lakunya itu. Allah maha pengampun dan maha menerima taubat, asalkan mereka betul betul menyesali kekeliruannya dan mengadakan perbaikan dengan memperbanyak ibadah dan amal soleh. Bagi mereka yang tidak mau bertaubat dan tidak menyesali kekeliruannya serta tidak berusaha memperbaiki diri, tentu kelak akan menghadapi sangsi yang berat diakhirat .

Allah mengingatkan agar kita jangan tertipu dan terpedaya oleh bujuk rayu syetan yang menganjurkan melakukan perbuatan maksiat dan melawan hukum sebagaimana disebutkan dalam surat An Nur ayat 21

21- Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.                 ( An Nur 21)

Syetan hanya mengajak dan menganjurkan manusia untuk melakukan perbuatan keji dan munkar yang pada awalnya memang dirasakan nikmat, namun pada akhirnya akan membawa kehancuran hidup didunia maupun akhirat.

 

Mengambil jalan pintas

Allah pasti memberikan cobaan pada manusia dengan kesulitan dan kesenangan. Orang yang beriman ketika ditimpa kesulitan akan bersabar dan mohon pertolongan pada Allah, Jika mendapat kebahagiaan dan kenikmatan bersyukur dan berusaha membagikan kenikmatan itu pada orang lain. Orang yang tidak beriman jika ditimpa kesulitan jadi putus asa dan berkeluh kesah, jika mendapat kebahagian dan kenikmatan jadi sombong dan kikir tidak mau berbagi kenikmatan dengan orang lain.

Orang yang kurang teguh imannya dan tidak yakin akan datangnya pertolongan Allah, cenderung mengikuti bujukan syetan untuk mengambil jalan pintas dalam mengatasi berbagai kesulitan dan masalah yang dihadapi. Diantaranya ada yang mendatangi pesugihan mengadakan perjanjian dengan syetan untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi. Ada juga yang mengambil jalan pintas dengan merampok, mencuri, menipu, mengurangi timbangan dan lain sebagainya , yang pada akhirnya terpaksa berurusan dengan aparat hukum. Ada juga yang mengambil jalan pintas dengan aksi bunuh diri terjun dari gedung bertingkat atau menabrakan diri pada kendaraan yang melintas.

Orang yang bebas dari pengaruh syetan

Orang yang istiqomah yakin pada Allah dan kehidupan akhirat, selalu bertawakkal dan ikhlas dengan berbagai ketetapan Allah padanya tidak bisa dipengaruhi oleh syetan dari golongan Jin. Allah memberi jaminan terhadap orang yang beriman dan bertawakkal ini sebagai disebutkan dalam surat al Israak ayat 65 dan an Nahl 99

65- Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, Kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. (Al Israak 65)

99- Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. (An Nahl 99)

 

Iblis sebagai panglima tertinggi bala tentara syetan didunia ini juga mengakui bahwa ia tidak mampu menyesatkan hamba Allah yang ikhlas sebagai disebutkan dalam surat Shod ayat 82

82- Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, 83- kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (Shod 82-83)

Hanya orang yang ikhlas, istiqomah dan berpegang teguh pada tali Allah yang bebas dari pengaruh bujuk rayu syetan yang menyesatkan. Syetan dari golongan Jin dan manusia tidak dapat mengalahkan orang yang beriman dan bertawakkal pada Allah. Karena mereka mendapat jaminan dan perlindungan dari Allah dengan tentara Malaikat yang ada dilangit dan bumi, sebagaimana disebutkan dalam surat Fushilat ayat 30

30- Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” 31- Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta..(Fushilat 30-31)

4 Juli 2012

POTRET MEREKA YANG BERIBADAH DI KUBURAN

oleh alifbraja

INILAH POTRET MEREKA YANG BERIBADAH DI KUBURAN ( KUBURIYUN)

inilah Potret Mereka Yang Beribadah Di Kuburan [Kuburiyyun].

Orang Yahudi membaca kitab di (yang “konon” katanya) kuburan Nabi Daud

Kaum Yahudi membaca Kitab Talmud di sisi kuburan

Kaum Sufi bertawassul dan bertabarruk di sisi kuburan

Wanita Syi’ah sedang sujud di kuburan


Kaum Syi’ah beribadah di sisi kuburan, juga perhatikan tanah kecil yang berasal dari tanah Karbala yang dijadikan alas untuk sujud

Tradisi Paskah di Kalimantan Tengah. Selain selalu menyelenggarakan karnaval atau pawai di jalan, mereka punya kebiasaan ziarah ke makam. Ziarah ke makam yang biasa dilakukan banyak orang pada siang hari itu. Tetapi tradisi disini berbeda. Pada malam Paskah (Sabtu Suci) orang-orang berbondong-bondong mengunjungi makam keluarga mereka untuk menyalakan lilin dan menaburkan bunga diatas makam. Disitu keluarga berkumpul sepanjang malam hingga subuh. Pada waktu subuh sekitar pukul 5 pagi mereka mengadakan ibadah Paskah didekat makam yang dipasang tenda. Biasanya gereja yang membuat tenda itu untuk ibadah. Tidak heran jika hari Minggu Paskah di jam regular gereja-gereja terutama GKE (Gereja Kalimantan Evangelis) hanya didatangi sedikit jemaat, karena mereka rata-rata sudah ibadah subuh tadi.


Acara Cing Bing yang biasanya jatuh pada 5 April namun ada juga yang melakukan 10 hari sebelum dan 10 hari sesudah hari H. Layaknya perayaan Imlek masih tetap dilaksanakan untuk berkumpul keluarga menghormati arwah leluhur sebagai tanda bakti kepada orang tua atau mengingat anggota keluarga yang telah meninggal.

Pada kesempatan Cing Bing, biasanya keluarga besar berkumpul bahkan yang berada di luar kota menyempatkan pulang kampung.

Suasana makam menjadi sangat ramai karena kedatangan peziarah yang jumlahnya berlipat-lipat. Kemudian mereka membersihkan makam dan selanjutnya melakukan upacara penghormatan kepada arwah leluhur.

Peziarah biasanya akan membawa beberapa macam kue dan buah untuk persembahan. Selain itu melakukan bakar uang kertas (uang untuk sembahyang).


Orang Yahudi membaca kitab sucinya di kuburan

Sebagian ummat Islam ada juga yang membaca al Qur’an [ Yaasin ] di sisi kuburan

Nauzubillah ! Apakah agama Islam tidak ada bedanya dengan agama yang lain ?

_____________________________________

Dalam Shahih Muslim (no. 780) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;


“Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah.”

Pengertiannya adalah :


Rumah yang tidak dibacakan ayat-ayat Al Qur’an adalah seperti Kuburan. Arti secara kebalikannya [Mafhum Mukhalafah] bahwa Kuburan bukanlah tempat untuk membaca ayat-ayat Al Qur’an.


عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا


Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jadikanlah (sebagian dari) shalat kalian ada di rumah kalian, dan jangan kalian jadikan ia sebagai kuburan.” [HR. Bukhari]

Dari sahabat Jundab bin Abdullah Rasulullah sebelum meninggal pernah berwasiat:


أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا القُبُوْرَ مَسَاجِدَ فَإِنِّي أَنْهاَكُمْ عَنْ ذَلِكَ (رواه مسلم


“Ingat-ingatlah, maka janganlah kalian semua menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadat). Karena sesungguhnya aku melarang kalian semua dari perbuatan itu”. (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:


لاَ تَجْعَلُواْ بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا. وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِى عِيْدًا (رواه أبوداود


“Janganlah engkau jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan (sepi dari ibadah) dan jangan engkau jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan” (HR. Abu Dawud).

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا


“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

Wallahu a’lam

3 Juli 2012

PENJELASAN TENTANG WUJUD‘ARDH PADA MAHIYYAH

oleh alifbraja

PENJELASAN TENTANG WUJUD‘ARDH PADA MAHIYYAH

 

                                                     

 
                         Segala puji bagi Allah Swt, yang hakikat pujian hanya terbatas pada-Nya. Salawat dan salam atas rasul-Nya Muhammad Saw sebaik-baik makhluk-Nya dan salawat serta salam juga atas keluarga Nabi-Nya yang suci dari Ahlibait dan Fitrahnya As.

Definisi Hikmah Ilahiyyah:

Hikmah Ilahiyyah adalah suatu ilmu yang membahas keadaan eksisten sebagaimana ia eksisten(ahwalul maujud bima huwa maujud).

Subyek Hikmah Ilahiyyah:

Yang dibahas dalam disiplin ilmu ini yakni yang termasuk sebagai ’aradh dzatinya, yaitu eksisten sebagaimana ia eksisten(wujud mutlak).

Penjelasan: Dalam ilmu logika Aristotelian, predikat dibagi atas dua bagian:

1. Predikat dzati (’aradh dzati)

2. Predikat non-dzati (’aradh gharib)

Yang dimaksud dengan predikat dzati (esensial) adalah suatu predikat yang tidak dapat dipisahkan dari dzat subyek (mustahil dipisahkan dari dzat subyek). Sebab itu setiap kali kita hubungkan suatu predikat dengan dzat suatu subyek, dan kita lihat bahwa mempredikasikan predikat tersebut atas subyek itu adalah dharuri dan mustahil subyek itu diasumsikan tanpa memiliki predikat tersebut, maka predikat tersebut termasuk dzati subyek itu.

Sebaliknya suatu predikat yang dihubungkan dengan suatu subyek tidak menunjukkan hal seperti tersebut di atas, maka predikat ini termasuk predikat non-dzati atau predikat ini disebut sebagai ’aradh gharib (asing). Contoh bagi yang pertama (’aradh dzati) seperti imkan, hewan dan nâtiq dihubungkan pada manusia, sedangkan contoh bagi yang kedua (’aradh gharib) seperti warna hitam dan ukuran tinggi direlasikan pada manusia.

Tujuan Hikmah Ilahiyah:

Memahami eksisten-eksisten dalam bentuk universal (kulli) dan membedakan eksisten-eksisten hakiki dari non-hakiki (iktibari, persepsi mental).

Uraian pembahasan:

Sesungguhnya manusia mendapatkan dirinya, bahwa pada dirinya terdapat hakikat dan realitas, dan sesungguhnya di luar dirinya juga terdapat hakikat dan relitas. Manusia juga menemukan di dalam dirinya perasaan ingin tahu terhadap hakikat dan realitas tersebut. Oleh sebab itu manusia tidak mencari sesuatu (suatu obyek) dan tidak menjadi tujuannya kecuali dari sisi bahwa sesuatu itu (obyek itu) memiliki realitas, dan manusia tidak lari dari sesuatu dan tidak menghindar darinya (menolaknya) kecuali karena sesuatu itu memiliki hakikat.

Anak kecil (bayi) yang mencari susu ibu misalnya, sesungguhnya ia mencari sesuatu yang hakikatnya adalah susu, bukan sesuatu yang hanya merupakan tawahhum (imajinasi) bahwa itu adalah susu. Dan manusia yang lari dari singa, sesungguhnya ia lari dari sesuatu yang hakikatnya adalah singa, bukan sesuatu yang hanya tawahhum (imajinasi) dan khurafat (supertisi). Akan tetapi manusia terkadang salah dalam pandangannya, ia memandang sesuatu yang tidak benar adalah benar (hak) serta memiliki relaitas di luar seperti keberuntungan (lucky) dan raksasa khayalan, atau sebaliknya manusia meyakini sesuatu yang benar dan memiliki realitas di luar sebagai sesuatu yang batil dan khurafat seperti jiwa non-materi dan akal non-materi. Oleh sebab itu setiap kali manusia ingin menghukumi validitas sesuatu dan realitas sesuatu, ia harus dan mesti terlebih dahulu meneliti serta mengobservasi keadaan maujud sebagaimana ia maujud dan mendapatkan keadaan hakikat maujud, sehingga dengan perantaraan keadaan maujud (hakikat maujud) ia dapat membedakan sesuatu yang maujud secara rill dengan sesuatu yang tidak maujud secara rill. Dan ilmu yang bertanggung jawab membahas masalah ini, adalah hikmah ilahiyah.

Dengan demikian ilmu hikmah ilahiyah (filsafat) adalah ilmu yang membahas keadaan eksisten qua (sebagaimana ia) eksisten–al ahwâlul maujud- dan ilmu ini juga dinamakan sebagai falsafah uulâ (filsafat pertama) dan ilmu a`alâ (ilmu transendental). Subjek ilmu ini adalah eksisten qua (sebagaimana ia) eksisten–al maujud bima huwa maujud-. Tujuan hikmah ilahiyah adalah untuk membedakan maujud-maujud hakiki dari yang non hakiki, dan makrifat (kognisi) sebab-sebab `aliyah (transenden) bagi wujud, khususnya makrifat (kognisi) sebab pertama (kausa prima) yang kepada-Nya berakhir silsilah seluruh maujud, dan makrifat pada nama-nama-Nya yang baik (al-asmaul husnâ) dan sifat-sifat-Nya yang agung, dan Dia adalah Allah yang mulia nama-Nya

 

                                                                 

Maksud dari wujud ‘aaridh pada kuiditas (mahiyyah) adalah makna yang dipahami dari wujud, bukan (tidak sama) makna yang dipahami dari kuiditas (mahiyyah) (yakni kita dapat mengkonsepsi kata wujud dan kuiditas atau mahiyah secara terpisah di dalam mental, meskipun di alam luar keduanya tidak terpisahkan). Maka akal dapat mengabstraksikan mahiyah – dan ia (mahiyyah) apa yang dikatakan dalam menjawab pertanyaan : apa ia? (keapaan sesuatu) – dari wujud. Akal memperhitungkan kuiditas (mahiyyah) secara sendiri (terpisah) dari wujud, dan mengkonsepsinya, kemudian menyifatkannya dengan wujud -dan ini adalah makna dari ‘urudh -. Maka wujud bukanlah mahiyah itu sendiri, dan wujud bukan pula bagian dari kuiditas dan mahiyah.

Adapun dalil-dalilnya:

1. Menegaskan wujud dari mahiyah adalah benar (sahih), sekiranya wujud adalah kuiditas itu sendiri atau bagian dari kuiditas, maka penegasian wujud dari kuiditas tidak dapat dilakukan (tidak benar dilakukan), sebab mustahil sesuatu itu dinegasikan dari dirinya atau bagian dari dirinya.

2. Mempredikasikan wujud atas kuditas / keterangan yg butuh kepada dalil, maka itu wujud bukan kuiditas itu sendiri dan bukan bagian darinya, sebab dzatnya sesuatu dan esensinya (dzat) sesuatu jelas tsubut (tetap) baginya, yakni tidak butuh kepada dalil.

3. Dzat (esensi) pada insan adalah jelas tsubut-nya (tetapnya) bagi insan, dan dzati (jamaknya dzatiyyât) (esensial) seperti hewan dan nâtiq pada insan adalah juga jelas tsubut-nya bagi insan.

4. Kuiditas dinisbahkan terhadap wujud (ada) dan ‘adam (ketiadaan) adalah sama, sekiranya wujud adalah kuiditas itu sendiri atau bagian darinya maka mustahil kuditas dinisbahkan pada ‘adam yang merupakan kotradiksi dari wujud (kuiditas ditinjau dari sisi sebagaimana ia bukanlah sesuatu yang mustahil ada atau tidak ada, sebab itu kuiditas dinisbahkan pada wujud dan ketiadaan (‘adam) memiliki kondisi yang sama).

3 Juli 2012

HILANGNYA ILMU DAN TUMBUHNYA KEBODOHAN,

oleh alifbraja

HILANGNYA ILMU DAN TUMBUHNYA KEBODOHAN, SERTA PERINGATAN NABI MUHAMMAD SAW DAN PEMBERITAHUANNYA BAHWA ZAMAN AKHIR ADALAH ERA TERBURUK. DIMANA UMAT BELIAU AKAN MENGIKUTI MODEL – MODEL PEMBAHARUAN, BID’AH DAN HAWA NAFSU. AGAMA HANYA AKAN DIANUTOLEH MANUSIA-MANUSIA TERTENTU SAJA.

Imam Ibnu Hajar al – ‘Asqolani Rahimahu Allohu Ta’ala didalam kitab Fathul al – Baari berkata : Allah akan mencabut/ mewafatkan ulama dan besertaan dengan itu pula Allah melenyapkan ilmu. Pada saat itulah kaum intelektual muda belia saling timpang tindih, tunggang langgang dengan segala kontradiksinya, situasi ini ibarat onta menerjang dan melompati onta-onta yang lain sehigga orang-orang tua yang melahirkan mereka dianggap lemah tak berdaya.

Sebuah riwayat diceritakan oleh Abu Umamah RA : ketika berlangsung haji wada’ Rasulullah Saw berdiri di atas ontanya yang coklat seraya berpidato menyampaikan amanatnya :

ياايهاالناس خذوا من العلم قبل أن يقبض وقبل أن يرفع من الأرض , ألا إن ذهاب العلم ذهاب حملته فسأله أعر ابى فقال : يارسول الله كيف يرفع العلم منا , وبين اظهرنا المصاحـف وقد تعلمنا مافيها وعلمناها أبناءنا ونساءنا وخدمنا ؟ فرفع اليه رأسه وهو مغضب , فقال : وهذه اليهود والنصارى بين أظهرهم المصاحف ولم يتعلق منها بحرف فيما جآءهم به أنبياؤهم

“Wahai segenap manusia segeralah kau gengam ilmu sebelum ia dicabut dan sebelum ia lenyap dari permukaan bumi, Ingatlah bahwa sesungguhnya hilangnya ilmu itu bersamaan dengan kewafatan pembawanya. Seorang Baduwi lantas bertanya kepada Nabi, Ya Rasulullah, bagaimana ilmu itu dilenyapkan dari kita, sementara dihadapan kita terbentang mushaf-mushaf, sungguh kita telah mempelajari apa yang ada didalamnya, dan kami mengajarkannya kepada anak-anak kita, istri-istri kita dan pembantu-pembantu kita ? Rasulillah memfokuskan pandangannya kepada orang ‘Araby itu, beliau tampak marah dan berkata : Kaum Yahudi dan Nasrani ini dihadapannya juga terpampang kitab-kitab mereka tetapi mereka sedikitpun tidak berpegang teguh kepada apa-apa yang telah diajarkan oleh para Nabinya kepada mereka”.
Imam Ibnu Mas’ud RA berkata :

لايز ال الناس مشتملين خيرما أتاهم العلم من اصحاب محمد صلى الله عليه وسلم وأكابرهم , فاذا أتاهم العلم من قِبل أصاغرهم وتفرقت اهواؤهم هلكوا

“Tidaklah akan sirna eksistensi kemanusiaan selama ia masih berselimutkan dengan segala kebaikan (kemurnian) ilmu yang datang kepada mereka dari para sahabat Nabi Muhammad Saw dan para pembesarnya. Tetapi ketika ilmu yang diterima oleh mereka itu bersumber dari orang-orang rendahan diantara mereka dengan segala kepentingan hawa nafsu yang berbeda maka rusaklah manusia seluruhnya”.
Imam Bukhari dalam kitab shohinya meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah RA :

لاتقوم الساعة حتى تأ خذ أمتى بأ خذ القرون قبلها شبرا بشبر وذراعا بذراع, فقيل يا رسول الله كفارس والر وم , فقال ومن الناس إلاهم

“Tidaklah akan terjadi hari Qiamat sehingga umatku sedikit demi sedikit menjauh dalam mengambil tutuntunan hidup sebagaimana yang diambil oleh generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, lantas diucapkan Wahai Rasulillah ! sedemikian itu adalah sebagaimana yang terjadi pada kaum Persia dan Romawi ? Rasulillah menjawab : “Siapalagi manusia itu ? kalau bukan mereka ( kaum Persia dan Romawi) “!
Dari Said al – Khudri RA dari Nabi SAW beliau bersabda :


لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا شبرا وذراعا ذراعا حتى لودخلوا فى حجر ضب تتبعوهم , قلنا يارسول الله اليهود والنصارى ؟ قال فمن ؟

“Sungguh kalian semua pada saatnya nanti akan mengikuti tuntunan-tuntunan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta-demi sehasta, sehingga kalau saja mereka masuk ke dalam liang biawak, mereka tetap akan mengikutinya. Kemudian dikatakan : “Wahai Rasulillah, merekakah orang-orang Yahudi dan Nasrani? Rasul menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka”
Imam Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud RA dari Rasulillah Saw :

إن اول هذه الأمة خيارهم, واخرها شرارهم مختلفين متفرقين , فمن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فلتأته ميتته وهو يأتى الى الناس ما يحب أن يؤتى إليه

“Sesungguhnya generasi pertama dari ummatku ini adalah sebaik-baiknya generasi, dan periode akhirnya adalah seburuk-buruknya generasi umatku, mereka semua berselisih dan berpecah belah. Barang siapa mengimani Allah dan hari akhir maka segeralah menjemput kematiannya, sementara itu ia datang menghampiri manusia menyampaikan sesuatu yang ia menyenanginya bila hal itu didatangkan kepadanya”.

Sebuah kisah diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah RA suatu ketika ia mendengar ayahnya bercerita :

لم يز ل أمر بنى اسرائيل مستقيما حتى حدث فيهم المولدوا أبناء سبايا الأمم, فاحدثوا فيهم القول بالرأى وأضلوا بنى اسرائيل, قال وكان أبى يقول السنن السنن , فإن السنن قوام الدين

“Tidaklah pernah sirna perkara yang ada ditengah-tengah kaum Bani Israil, dan itu tetap kokoh dipegangi sehingga datang ditengah-tengah mereka anak-anak yang terlahirkan dari para tawanan umat mereka. Generasi baru itu melakukan pembaharuan ditengah-tengah mereka dengan mengemukakan/ menyampaikan pendapat mereka sendiri. Di saat itulah mereka menjerumuskan kaum Bani Israil, Hisyam berkata : Ayahku lantas mewasiatkan:“tetaplah kalian memegangi tuntunan, teguhkanlah dirimu untuk tetap berpegang teguh pada al- Sunnah, karena tuntunan itu merupakan tiang agama”.

Pada sebuah riwayat yang lain diceritakan dari Ibnu Wahbin dari Ibnu Shihab Al – Zuhri RA ia berkata :

ان اليهود والنصارى إنما انسلخوا من العلم الذى كان بأيديهم حين استقلوا الرأى وأخذوا فيه

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani mulai melepaskan diri dari keilmuan mereka yang selama ini ada pada genggaman mereka ,yakni pada saat mereka semua bebas sebebas-bebasnya untuk melontarkan pendapat-pendapat mereka sendiri dan menjadikannya sebagai pedoman hidupnya”.

وروى البخارى فى صحيحه عن عروة رضى الله عنه قال : حح علينا عبد الله بن عمرو رضي الله عنه سمعـت النبى صلى الله عليه وسلم يقول: إنّ الله لاينزع العلم بعد أن اعطاهموه إنتزاعا , ولكنّ ينتزعه منهم مع قبض العلماء بعلمهم فيبقى ناس جهّال يستفتون , فيفتون برأيهم فيَضلون ويُضلّون

Imam Bukhori di dalam kitab shohihnya meriwayatkan sebuah hadits dari Urwah Ra. Ia berkata: Abdullah bin Umar Ra. menunaikan haji bersama kita, lantas aku mendengar Nabi Muhammad SAW. Bersabda : “Sesungguhnya Allah swt. tidak akan mencabut ilmu, setelah ilmu itu ia berikan kepada suatu kaum dari dada mereka secara mendadak, tetapi Allah mencabutnya besertaan dengan kewafatan para ulama sebaagi pemegangnya, sehingga yang tersisa tinggallah manusia-manusia bodoh, kaumnya meminta fatwa pada mereka, dan merekapun menyampaikan fatwa atas dasar pendapatnya sendiri, sehingga mereka sendiri tersesat dan menyesatkan kaumnya, kesesatanpun merajalela.”

Hadits ini lantas aku ceritakan kepada Dewi Aisyah Ra, istri Rasululah saw. Kemudian ketika Sayyidina Abdullah bin Umar melaksanakan ibadah haji lagi pada tahun berikutnya. Dewi A’iyah menghampiriku : “Wahai putra saudara perempuanku, pergilah dan temuilah Abdullah dan mintalah pengukuhan sebuah hadits yang telah ia sampaikan kepadaku.” Maka sayapun datang dan menanyakannya. Kemudian Abdullah bin Umar menyampaikan sebuah hadits sebagaimana yang pernah ia tuturkan. Setibanya dari sana, saya datang kepada Dewi Aisyah untuk menginformasikan hasil pertemuanku dengan Abdullah bin Umar. Dewi Aisyah Ra. menyatakan pengukuhannya : “Demi Allah, sungguh Abdullah bin Umar menghafal hadits tersebut.”

Di dalam kitab Fathu al – Bahri juga diriwayatkan sebuah hadits dari Masruq dari Ibnu Mas’ud Ra. ia berkata :

لايأتى عليكم زمان الا وهو أشر مما كان قبله , إما أنى لاأعين أميرا خيرا من أمير ولا عاما خيرا من عام , ولكن علماؤكم وفقهاؤكم يذهبون ثم لا تجدون منهم خلفا , ثم يجئ قوم يفتون فى الامور برأيهم فيثلمون الاسلام ويهدمونه .

“Tidak akan datang sebuah zaman kepada kalian semua, kecuali zaman itu lebih buruk dari era sebelumnya, ingatlah sesungguhnya aku tidak akan menentukan seorang pemimpin yang lebih baik dari pemimpin yang lain juga tidak pada sebuah masyarakat yang lebih baik dari masyarakat yang lain. Tetapi ulama-ulama dan ahli fiqih kalian telah wafat meninggalkan kita, hingga tidak didapati lagi pengganti mereka. Kemudian datanglah sekelompok kaum yang menyampaikan fatwa tanpa sadar tentang suatu masalah menurut pendapatnya sendiri, mereka merusak Islam dan merobohkan sendi-sendi agama”.
3 Juli 2012

Pengertian wuquuful al-qolbi hadlir ila robby

oleh alifbraja
Hubungan segala sesuatu selain Allah (mahluk) sudah seharusnya tidak memalingkan perhatiannya dari Allah SWT, walau sesaat pun. Begitu terputus dari segala macam ikatan, hanya hubungan dengan Allah saja yang mesti ada dan tersisa dalam hati sanubari. Dalam ungkapan lain, semua hubungan mestilah berasal hanya dan cuma satu saja,,,, yang disebut oleh kaum Sufi tentang hadlir ilalloh terus-menerus ,,, senantiasa merasakan panggilan & KehadiranNYA di setiap gerak nafas mahluk  yang begitu dekat melebihi dekatnya sesuatu yang paling dekat dengan diri mahluk, atau Kontemplasi Ilahi. Seperti diungkapkan seorang penyair darwisy :

 

 

 

Kehidupan dan hatiku sibuk dengan diriMu,

 

 

 

dan mataku mengerling ke kanan dan ke kiri (muroqobah ma’iyah ‘ala haqiqoti al-ruh)
 
Agar saingan-sainganku tidak tahu … (fana’ kullun)

 

 

 

bahwa Engkaulah sesungguhnya KekasihKU

 

 

 

Sesudah mengutip ayat-ayat Alquran ini, saya akan menyebutkan beberapa hadis Nabi Muhammad mengenai kewajiban mengerti (‘arif)  Allah berikut segala keuntungan dan manfaat serta kefana’an diri yang diperoleh dariNYA barulah mahluk bisa mengingat dengan sebenar-benarnya mengingat.

 

 
Abdullah bin faqir
 
Seseorang berkata, “Ya Rasul Allah, aku demikian banyak terbebani oleh perintah-perintah dalam Syari’ah. Berilah aku nasihat ihwal sesuatu yang mesti kupegang erat-erat.” Nabi bersabda, “Hendaknya lidahmu tidak pernah berhenti mengingat dan menyebut-nyebut nama Allah

 

Sampai kau terpanggil dan fana’u al-fana’ ila baqo’u al-ilahiyah dengan seluruhnya

 

 

 

Telah diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :

 

 

 

“Maukah aku beritahukan kepadamu amalan-amalan yang dipandang oleh Tuhanmu sebagai lebih baik dan lebih utama, yang menjadi sarana menaikkan derajatmu dan yang lebih baik ketimbang memberi sedekah berupa emas dan perak dan bahkan lebih baik ketimbang memerangi musuhmu, entah dalam keadaan membunuh mereka atau terbunuh mereka ?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi bersabda, “Mengingat Allah / dzikrul ilaahi .”

 

 

 

Seperti diungkapkan seorang penyair :

 

 

 

Kuucapkan nama-Mu dan kubakar kehidupanku,

 

 

 

Hingga sampai titik keADAManku …

 

 

 

aku laksana lilin, dalam api, lantaran lidahKU ku mampu memujaMU …

 

 

 

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa Nabi Muhammad saw, bersabda :

 

 

 

“Tak ada sesuatu pun yang lebih efektif dalam menyelamatkan diri kita dari hukuman Allah selain mengingat-Nya.” Orang-orang bertanya, “Tidak jugakah berjuang di jalan Allah akan menyelamatkan diri kita ?” Beliau menjawab, “Tidak, tidak ada satu amalan pun bisa menyamai zikir atau mengingat Allah, sekalipun para prajurit menggunakan pedangnya sedemikian rupa sehingga pedang itu patah.”

 

 

 

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda :

 

 

 

“Orang-orang yang tidak terikat dan bebas (hurrin / merdeka lahir bathin pada kepasrahan) sudah lebih dulu unggul,” sabda Nabi SAW dan Orang-orang bertanya, “Ya Rasul Allah, siapakah orang-orang yang tidak terikat dan bebas itu ?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang tidak henti-hentinya ingat setelah ‘arif billah .”

 

 

 

Seperti diungkapkan oleh seorang penyair Sufi :

 

 

 

Hati seorang Mukmin beroleh kegembiraan

 

 

 

dari kebahagiaan iman,

 

 

 

Kebahagiaan iman memberikan kebahagiaan

 

 

 

kepada kaum Mukmin.

 

 

 

Semua kegembiraan lainnya pun terlupakan,

 

 

 

Disaat kaum ahli bathin memperoleh kebahagiaan

 

 

 

dari mengingat Allah…..

 

 

 

Anas meriwayatkan langsung, dari Rasulullah, “Allah SWT berfirman, ‘Aku senantiasa bersama pikiran hamba-Ku dan bersamanya manakala ia mengingat-Ku. Manakala ia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku juga mengingatnya dalam hati-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sebuah majelis dan majelis ini lebih baik dari majelisnya.

 

 

 

Janganlah melupakan Allah, agar engkau terpanggil menjadi kekasihNYA

 

 

 

Jika engkau pernah mengingat-NYA setelah melihatNYA, pasti engkau telah terpanggil & dipilih untuk menjadi KEKASIHNYA tanpa washilah

 

 

 

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah saw, bersabda “Allah SWT berfirman, ‘Aku bersama hamba-KU manakala ia mengingat-KU dan bibirNYA hanya bergerak menyebut-nyebut nama-KU…

 

 

 

Al-Qusyairi meriwayatkan dari Anas, “Nasib malang tidak akan menimpa orang yang mengatakan, BILLAAHI , LILLAAHI ,MA’ALLOHI, WA ILALLOHI KULLUHUM AJMA’IINA …..

 

 

 

Dalam sebuah hadis lain diriwayatkan. “Hari Kiamat akan terjadi jika Allah, Allah tidak lagi diucapkan di muka bumi.”

 

Seorang yang ‘ARIF billah bisa disamakan dengan orang hidup dalam kubah alloh (kesadaran), dan seorang yang tidak ‘Arif billah bisa disamakan dengan orang mati / mayat berjalan , yakni orang-orang  yang ‘ARIF billah adalah hidup dalam panggilan kefana’an tauhid  dan orang yang tidak ‘arif billah adalah mati (bangkai berjalan) ………..

 

Sesudah mengetahui titik nuqoth  yang ditegaskan pada BIKAANA BI YAKUUNU BIKUN … BIHI .. maka berbagai MANFAAT dan HIKMAH ,  bisa Kita fahami dengan sebenar’’NYA .

 

 

 

Dzikir adalah piagam Panggilan Allah. Barangsiapa diberi anugerah dzikir Haqqullah, maka yang demikian itu berarti bahwa ia sudah diberi perintah berikut, “Engkau memang benar-benar haqqi”

 

 

 

Di sini lalu timbul pertanyaan : Mengapa dzikir atau mengingat Allah, yang demikian  mudah dan sama sekali tidak susah, dipandang sebagai lebih bermanfaat dan lebih unggul ketimbang bentuk-bentuk ibadah lainnya yang memerlukan tindakan yang sulit dan sukar ?  Imam al Ghazali memberikan jawaban sebagai berikut :

 

 

 

Kenyataan ini bisa ditetapkan melalui pengetahuan & pengalaman mistis/sepiritual, akan tetapi, sejauh pengetahuan & pemahaman praktis aqal, bisa dikatakan bahwa hanya dzikir atau mengingat Allah saja yang efektif dan bermanfaat, yang senantiasa dan terus-menerus dilakukan disertai kehadiran (Allah) dalam jiwa dan pikiran. Akan halnya dzikir atau mengingat Allah secara verbal dan hati disibukkan dengan permainan dan senda gurau saja tanpa isi, dzikir panggilanNYA dalam keadaan suci ,batal,sibuk,bercanda bekerja,berdiskusi tanpa di batasi oleh gerak lahir & bathin …

 

 

 

Hadis Nabi memperkuat pandangan ini. Sebagaimana diungkapkan seorang penyair darwisy :

 

 

 

Jika engkau tidak mengerti di saat mengingat Allah,

 

 

 

Sebelum mengenali haqiqatnya (haqqu al-rububiyah)

 

 

 

Meskipun engkau sibuk sepanjang hayatmu,

 

 

 

Maka engkau tak beroleh apa-apa…. kecuali kesesatan belaka

 

Dan dirimu tiada sadar merasa mengingat sesuatu

 

Yang belum pernah engkau melihat dan mengenalinya

 

Namun engkau telah menyebut dan merasa telah dzikir kepadaNYA …

 

Itulah CIRI’’ haqiqat MUNAFIQ … belum mengenal

 

namun telah merasa mengingat al-haq

 

namun, mengingat dzat Kekasih dengan panggilanNYA kekasih

 

untuk kekasihNYA dalam kerelaan UBUDIYAH AL-RUBUBIYAH

 

senantiasa bermanfaat dan selalu berguna sepanjang masa

 

SALAM MAYAT LAKNAT LIANG LAHAT ….

  {يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا الأَلْبَابِ}  (البقرة/269).
 
“Allah berikan HIKMAH kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang diberi HIKMAH, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak” (Al Qur’an, Surah Al Baqoroh, 2:269)
%d blogger menyukai ini: