Posts tagged ‘zumar’

23 April 2013

makna dari ayat berikut, “Tuhan akan memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki dan akan menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki”?

oleh alifbraja

Pada beberapa masalah dalam Al-Quran al-Karim, Tuhan Yang Maha Tinggi mengetengahkan tentang persoalan hidayah dan kesesatan dengan penjelasan yang berbeda.

Sebelumnya penting untuk diperhatikan bahwa sebagian dari ayat-ayat al-Quran tidak bisa menafsirkan dan mengambil kesimpulan secara sendiri, melainkan untuk memahami makna hakikinya harus menggunakan peran ayat-ayat yang lain.

Berikut ini adalah beberapa ayat yang serupa:

Pada surah an-Nahl (16) ayat ke 93, Tuhan berfirman, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Pada surah al-Kahf (18) ayat ke 17, berfirman, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

Sedangkan surah al-A’raf (7) ayat ke 286, berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan, maka ia tidak memiliki orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kezaliman mereka.”

Demikian juga pada surah al-Zumar (35) ayat ke 36-37, Tuhan berfirman, “Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?”

Pada tafsir Al-Mizan ketika menjelaskan tentang ayat ke 93 dari surah An-Nahl (16), Alamah Thabathabai Ra berkata, “Maksudnya adalah bahwa Tuhan mampu menciptakan seluruh manusia dalam satu tingkatan dari sisi hidayah dan kebahagiaan. Sedangkan yang dimaksud dengan disesatkannya sebagian dan diberinya petunjuk pada sebagian yang lain bukanlah petunjuk dan kesesatan yang telah ditentukan sejak awal, melainkan merupakan kesesatan dan petunjuk yang bersifat imbalan dan konsekuensi, karena seluruh mereka, baik yang terhidayahi maupun yang tersesat, pada awalnya memiliki hidayah. Orang yang akan disesatkan oleh Tuhan adalah mereka yang memilih jalan kesesatannya sendiri, yaitu mereka yang melakukan maksiat dan tidak menyesali tindakannya, sedangkan orang yang dihidayahi oleh Tuhan adalah mereka yang tidak kehilangan hidayah fitrinya dan menapakkan langkahnya berdasarkan hidayah fitri tersebut, atau senantiasa berada dalam ketaatan, atau jikapun ia melakukan dosa dan maksiat, maka dia akan kembali ke jalan yang lurus dan kembali kepada sunnah Ilahi yang tidak akan mengalami perubahan.

Pada dasarnya ayat yang berbunyi, “Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”, merupakan sebuah kalimat untuk menghilangkan sangkaan yang mungkin saja akan muncul dalam benak manusia yaitu bahwa keberadaan hidayah dan kesesatan di tangan Tuhan akan membatalkan dan menghilangkan kebebasan manusia, selanjutnya dengan batalnya kebebasan ini maka persoalan kenabian dan risalah pun akan menjadi batal. Untuk menghilangkan sangkaan seperti ini maka jawabannya adalah, tidak, masalah ikhtiar dan kebebasan masih tetap ada, dan keberadaan hidayah serta kesesatan di tangan Tuhan tidak akan membatalkan kebebasan kalian, karena Tuhan tidaklah menetapkan kesesatan dan hidayah ini sejak awal, kesesatan yang diberikan oleh-Nya merupakan imbalan, yaitu seseorang yang menginginkan kesesatan untuk dirinya sendiri maka dia akan mendapatkannya, demikian juga seseorang yang menghendaki petunjuk dan hidayah, maka dia akan melangkah dalam hidayah, dan kesimpulannya adalah apapun yang kalian kehendaki, maka Tuhan akan membantunya dan Dia akan melangkah lebih awal dalam apa yang kalian pilih.”[1]

Keberadaan ayat-ayat al-Quran adalah saling menyempurnakan dan sebagian ayat akan menafsirkan ayat yang lainnya, di sini Tuhan yang berfirman, “Dia akan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya”, tak lain adalah Tuhan yang berfirman, “Allah akan menyesatkan orang-orang yang tersesat”[2], dan tak beda dengan Tuhan yang berfirman, “Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu”[3], atau berfirman, “Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir.”[4]

Dengan demikian benar apabila dikatakan bahwa Tuhan akan menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki, akan tetapi yang harus diketahui di sini adalah hamba seperti apakah yang terancam dalam kesesatan ini?

Tuhan hanya akan menyesatkan orang-orang yang zalim, pendusta, fasik, berlebih-lebihan, kafir, dan mereka yang tidak mentaati perintah-Nya. Jadi mukadimah dan pendahuluan dari penyesatnya Tuhan sebenarnya berada di tangan hamba-Nya itu sendiri. Demikian juga halnya dalam kaitannya dengan hidayah, dalam masalah inipun terdapat syarat-syaratyang harus terpenuhi. Jika Tuhan berfirman, “memberikan petunjuk kepada siapa yang dihendaki” hal ini dengan artian bahwa Dia akan memberikan petunjuk dan hidayah kepada siapapun yang dihendaki-Nya. Terdapat pula ayat-ayat yang membahas tentang syarat-syarat hidayah, di antaranya dalam salah satu ayat yang berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.”[5], sementara di tempat lain berfirman, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik”, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir”, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada mereka yang merencanakan penghianatan”, … yaitu Tuhan akan menafikan hidayah-Nya bagi mereka yang tidak berada dalam posisi terhidayahi.

Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa orang-orang yang shaleh dan bertakwa sama sekali tidak layak untuk tersesat dan mereka yang membangkang sudah pasti tidak akan layak untuk mendapatkan hidayah. Memaparkan poin berikut ini menjadi urgen bahwa penyajian metode berada dalam tanggung jawab Pencipta, sedangkan pelaksanaan dan kewajibannya berada di tangan makhluk, yaitu untuk mengambil jalan yang telah ditunjukkan kepadanya supaya sampai pada tujuan yang sesungguhnya, dan jika tidak demikian, apabila dia menyimpang dari jalannya dan hasilnya adalah pembangkangan, maka tanggung jawabnya berada di tangannya sendiri. Dalam al-Quran al-Karim Tuhan berfirman, “Allah menyeru (manusia) ke Dârus Salâm (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”[6], yaitu Tuhan memanggil seluruh ciptaan-Nya untuk menuju ke bumi kebahagiaan dan keselamatan. Demikian juga Dia berfirman, “Siapapun yang berkehendak, maka dia bisa memilih jalan Tuhannya, dan akan memperoleh kecenderungan dan kedekatan untuk mendatangi Kami dan Kami akan membimbing dan memberikan hidayah kepadanya”. Dan jika tidak demikian, mereka yang tidak memiliki keinginan dan kecenderungan untuk ke arah-Nya, menyimpang dari jalannya yang hak, dan tidak beriman kepada ayat-ayat, rasul-Nya, dan hari kiamat, maka dia akan termasuk dalam golongan ayat berikut, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka sesungguhnya dia tidak berdosa). Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah akan menimpanya dan baginya azab yang besar.”[7]

Jika kita cermati ayat-ayat di atas maka tidak akan tersisa sedikitpun keraguan bahwa Tuhan memberikan kebebasan, ikhtiar dan kemandirian kepada semuanya, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan (yang lurus) kepadanya; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”[8]

Dan kesimpulannya adalah bahwa Tuhan tidak akan memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang zalim, pendusta, dan orang-orang yang menyimpang, karena sesungguhnya kelompok ini telah berada dalam kesesatan yang nyata, dimana Tuhan berfirman, “Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah tersesat, dalam kesesatan yang nyata.”[9], jadi orang yang tidak taat kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dan berada dalam kesesatan yang nyata. Dengan demikian bagi mereka yang berhak untuk mendapatkan hidyah maka Tuhan akan menunjukkan jalannya ke surga dan tidak ada seorang pun yang akan mampu menyesatkannya, dan bagi mereka yang berhak untuk mendapatkan siksa dan terseret ke dalam api neraka, tidak akan ada seorangpun yang akan mampu menjaganya dari siksaan adzab ini. Akan tetapi baik mereka yang berhak mendapatkan adzab ataupun mereka yang berhak mendapatkan pahala, pilihan tersebut pada awalnya telah diserahkan di tangan manusia.

Jika seseorang menjadi zalim, maka Tuhan tidak akan memberinya petunjuk, berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang zalim”, dan jika seseorang berada dalam ketakwaannya maka Tuhan akan memberikan hidayah kepadanya, sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu (kekuatan) pembeda (antara yang hak dan yang batil di dalam hatimu), menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu.”[10]

Oleh karena itu memilih jalan yang baik ataupun yang buruk, sejak awal telah berada di dalam kewenangan kita dan hakikat ini diterima oleh kalbu setiap manusia yang manapun.

 


[1]. Al-Mizân, Alamah Thabathabai, Muhammad Husein, jil. 12, hal. 48 pada penjelasan ayat ke93 surah an-Nahl, dengan terjemahan bahasa Persia.

[2]. Qs. Ibrahim (14): 27.

[3]. Qs. Al-Ghafir (50): 34.

[4]. Qs.Al-Ghafir (50): 74.

[5]. Qs. Al-Ankabut (29):69.

[6]. Qs.Yunus (10):25.

[7]. Qs. An-Nahl (16): 106.

[8]. Qs. Ad-Dahr (76): 3.

[9]. Qs. Al-Ahzab (33): 36.

[10]. Qs. Al-Anfal (8): 29.

Iklan
28 September 2012

RAHASIA al-Qur’an 7

oleh alifbraja

Mengikuti Nasihat yang Diberikan

 

Perintah Allah lainnya kepada hamba-hamba-Nya yang menginginkan petunjuk kepada jalan yang lurus adalah sebagai ber­ikut:

 

“Dan sesungguhnya kalau mereka melak­sanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih mengu­atkan mere­ka. Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (Q.s. an-Nisa’: 66-8).

 

Orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah berusaha untuk membersihkan diri mereka dari kesalahan dan berusaha untuk memperoleh kesempurnaan akhlak yang menjadikan Allah ridha kepadanya. Namun, orang perlu bersikap rendah hati agar kesalahan-kesalahannya diampuni dan agar memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Orang yang rendah hati yang berusaha untuk membersihkan dirinya, pertama-tama akan bersungguh-sungguh mengikuti perin­tah-perintah Allah. Di samping itu, orang-orang beriman yang ikhlas saling menjadi teman dan pelindung bagi orang lain. Mereka memerintahkan yang benar dan melarang yang mungkar. Dengan demikian, karena mengetahui bahwa peringatan seorang yang beriman itu sangat penting bagi penghisaban seseorang di akhirat, maka orang-orang yang beriman juga harus saling mau menerima nasihat. Orang yang mau mengikuti nasihat yang baik akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang men­­jauhi bujukan setan dan menaati orang-orang yang menyeru kepada al-Qur’an dan perintah-perintah-Nya:

 

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.s. az-Zumar: 17-8).

 


NAFSU MANUSIA MEMERINTAHKAN

PERBUATAN FASIK

 

 

Nafsu manusia merupakan kekuatan dari dalam yang mendorong dan mengetahui kefasikan dan cara menjauhinya. Dengan kata lain, ia merupakan nafsu yang mengilhamkan kefasikan dan kejahatan. Allah menceritakan dua sifat nafsu ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

 

“Dan nafsu serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada nafsu itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan nafsu itu.” (Q.s. asy-Syams: 7-9).

 

Nafsu disebutkan dalam ayat tersebut sebagai sumber semua keburukan dan kesa­lah­an bagi manusia. Karena memiliki sifat seperti itu, nafsu merupakan salah satu di antara musuh manusia yang sangat berbahaya. Nafsu itu bersifat sombong dan memen­ting­kan diri sendiri; ia selalu ingin memuas­kan kehendaknya dan kesombongannya. Ia hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri, ke­pen­­­tingannya sendiri, dan hanya mencari kesenangan. Ia berusaha melakukan apa saja untuk memperdayakan manusia, karena nafsu selalu tidak mungkin dapat memenuhi ke­ingin­annya melalui cara yang benar. Ucapan Nabi Yusuf menjelaskan keadaan ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

 

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Yusuf: 53).

 

Bahwa nafsu seseorang dengan kuat meng­ilhamkan perbuatan fasik dan jahat merupa­kan rahasia penting yang diungkapkan kepa­da orang-orang beriman, dan takut kepada Allah. Dengan diungkapkannya rahasia ini, mereka dapat mengetahui bahwa nafsu tidak pernah berhenti bekerja, sekalipun hanya sede­tik. Melalui godaan, ia selalu berusaha menjerumuskan manusia dari jalan Allah. Berdasarkan rahasia ini, nafsu tidak akan per­nah diam; ia akan selalu membenarkan perbu­atannya dalam keadaan apa saja, ia akan selalu mencintai dirinya sendiri melebihi yang lain, ia semakin sombong, meng­ingin­kan benda apa saja dan menginginkan kenik­matan. Pen­dek kata, ia berusaha dengan cara apa saja agar seseorang melakukan perbu­atan yang berten­tangan dengan hal-hal yang diridhai Allah.

Sesungguhnya, perilaku dan perbuatan orang-orang kafir yang tidak sesuai dengan ajar­an al-Qur’an sepenuhnya dibentuk oleh nafsu mereka. Karena tidak takut kepada Allah, orang-orang kafir tidak memiliki ke­hen­­­dak untuk mengikuti hati nurani mereka, tetapi lebih cenderung untuk meng­ikuti nafsu mereka. Percekcokan, konflik kepen­tingan, dan ketidakbahagiaan yang melanda masyara­kat dan agama diabaikan, berakar dari indi­vidu-individu yang terjerat oleh nafsu mereka dan kepentingan diri mere­ka, sehingga akibatnya, mereka kehilangan sifat-sifat ma­nu­­sia seperti kasih sayang, saling menghor­mati, dan pengorbanan.

Itulah sebabnya mengapa rahasia yang diungkapkan oleh Allah ini sangat penting. Jika seseorang mencamkan rahasia ini dalam hatinya, ia dapat mewaspadai nafsu dan mela­kukan perbuatan yang benar. Nafsu dapat ditun­dukkan dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diperin­tahkan. Misalnya, ketika nafsu memerin­tahkan untuk bermalas-malas, kita harus bekerja lebih keras. Ketika nafsu memerin­tahkan untuk memen­ting­kan diri sendiri, kita harus lebih banyak berkorban. Ketika nafsu memerintahkan untuk berbuat kikir, kita harus menjadi lebih dermawan.

Di samping sisi nafsu yang jahat, dari surat asy-Syams kita mengetahui bahwa Allah juga mengilhamkan kepada nafsu hati nurani yang menjadikan seseorang dapat mengendalikan nafsunya agar tidak memuaskan keinginan­nya yang rendah. Yaitu, di samping nafsu itu mendordong kepada kefasikan, ia juga men­dorong kepada kebajikan. Setiap orang me­nge­tahui akan bisikan ini dan dapat menge­nali perbuatan fasik dan perbuatan baik. Namun, hanya orang-orang yang takut kepa­da Allah yang dapat mengikuti hati nurani mereka.

 


RAHASIA KEMAKMURAN DAN KEKAYAAN YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA

 

 

Seluruh alam raya ini adalah milik Allah, dan Dia memberikan apa saja yang Dia kehendaki kepada siapa saja yang Dia kehen­daki. Allahlah yang memberi rezeki kepada manusia, Dialah yang menjadikan mereka kaya, dan Dialah yang memberi panen yang berlimpah kepada mereka. Sebagaimana Allah menyatakan dalam sebuah ayat, Allah meluas­kan rezeki kepada hamba-hamba-Nya menu­rut kehendak-Nya, dan Dialah juga yang menyempitkan rezeki tersebut. Dia melaku­kan ini untuk alasan tertentu dan karena hikmah tertentu. Baik orang-orang yang reze­ki­nya diluaskan maupun yang rezekinya disempitkan, pada hakikatnya merupakan ujian dari Allah. Orang-orang yang tidak menjadi sombong dan boros karena apa yang telah diberikan kepada mereka, tetapi bersyu­kur kepada Allah atas segala sesuatu yang di­karuniakan kepada mereka, orang-orang yang bertawakal kepada Allah dan tetap bersabar ketika harta mereka disempitkan, mereka adalah hamba-hamba yang diridhai Allah. Ucapan Nabi Sulaiman yang diketengahkan dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada manusia pada hakikatnya merupakan bagian dari ujian:

 

“Seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab berkata, ‘Aku akan membawa singga­sana itu kepadamu sebelum matamu berke­dip.’ Maka ketika Sulaiman melihat singga­sana itu terletak di hadapannya, ia pun ber­kata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau ingkar. Dan barangsiapa yang bersyu­kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia’.” (Q.s. an-Naml: 40).

 

Ucapan Nabi Sulaiman yang menyatakan, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk men­coba aku apakah aku bersyukur atau ingkar,” menjelaskan salah satu alasan mengapa orang-orang diberi harta.

Apa yang Allah nyatakan sebagai “kese­nang­an dunia” dalam al-Qur’an — termasuk harta benda, anak-anak, istri, sanak keluarga, kedudukan, kehormatan, kecerdasan, kecan­tikan atau ketampanan, kesehatan, perdagang­an yang menguntungkan, keberhasilan, pendek kata segala sesuatu yang diberikan tersebut merupakan ujian bagi manusia.

 

 

Rahasia Kemakmuran yang Diberikan

kepada Orang-orang Kafir

 

Banyak manusia di dunia ini, meskipun tidak beriman kepada Allah, mereka menik­mati umur yang panjang, memiliki kekayaan yang tak terhitung banyaknya, memiliki kebun yang berbuah dan anak-anak yang sehat. Orang-orang seperti ini bukannya men­cari keridhaan Allah, tetapi semua karunia yang dinikmatinya tersebut justru menjauh­kan dirinya dari Allah. Orang-orang seperti ini, yang menjalani kehidupannya yang panjang dengan mendurhakai Allah dan yang melakukan dosa semakin banyak hari demi hari, menganggap bahwa apa yang mereka miliki itu merupakan kebaikan bagi mereka. Namun, al-Qur’an mengingatkan kita tentang rahasia lain dan tujuan Allah di balik nikmat dan waktu yang diberikan kepada mereka:

 

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keada­an kafir.” (Q.s. at-Taubah: 85).

 

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa Kami menang­guhkan mereka itu lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menang­guhkan mereka hanyalah supaya bertam­bah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).

 

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesat­annya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu Kami ber­segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Q.s. al-Mu’minun: 54-6).

 

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat terse­but, apa yang dimiliki orang-orang tersebut sesungguhnya bukanlah merupakan kebaikan bagi mereka. Waktu yang diberikan kepada mereka hanyalah untuk menambah dosa mereka. Ketika waktu yang diberikan kepada mereka sudah habis; kekayaan mereka, anak-anak mereka, atau kedudukan mereka, tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksa yang pedih. Sesungguhnya, Allah telah menceri­takan keadaan umat-umat terdahulu yang hidup dengan kekayaannya dan harta yang melimpah, namun mereka ditimpa azab yang pedih:

 

“Berapa banyak umat yang telah Kami binasa­kan sebelum mereka , sedang mereka lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Q.s. Maryam: 74).

 

Ayat berikut ini menjelaskan alasan me­nga­pa orang-orang tersebut diberi perpan­jangan waktu:

 

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo bagi­nya; sehingga apabila mereka telah me­lihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun Kiamat, maka mereka akan menge­tahui siapa yang lebih jelek keduduk­annya dan lebih lemah penolong-penolong­nya?” (Q.s. Maryam: 75).

 

Allah adalah Mahaadil dan Maha Penya­yang. Dia menciptakan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan kebaikan, dan setiap orang akan dibalas sepenuhnya atas apa yang mereka kerjakan. Menyadari hal ini, orang-orang yang beriman melihat berbagai peristiwa dengan maksud untuk melihat kebijaksanaan dan kebaikan yang diciptakan Allah dalam setiap peristiwa. Jika tidak, orang-orang akan menjalani hidupnya dengan tertipu dan jauh dari kenyataan.

 

RAHASIA MENGAPA ALLAH TIDAK SEGERA MENYIKSA ORANG-ORANG KAFIR

 

 

Salah satu rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah bahwa manusia tidak segera dibalas atas perbuatan buruk yang mereka lakukan, tetapi siksa tersebut ditang­guhkan hingga waktu tertentu. Hal ini dike­mukakan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

 

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia dise­babkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan mereka, sampai waktu tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Q.s. Fathir: 45).

 

“Dan Tuhanmulah Yang Maha Peng­am­pun lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung daripada­nya.” (Q.s. al-Kahfi: 58).

 

Bahwa banyak orang yang tidak segera dibalas atas perbuatan buruk mereka menye­babkan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan pernah diminta tanggung jawab atas perbuatan jahat mereka. Anggapan ini menyebabkan mereka tidak mau bertobat, merasa menyesal, dan memperbaiki kesalahan mereka. Di samping itu, hal tersebut semakin menambah keangkuhan mereka. Karena ter­jauh dari hikmah, mereka tidak dapat melihat bahwa apa yang mereka lakukan itu akan menyebabkan datangnya azab, bahkan azab ter­sebut semakin berat di akhirat kelak. Da­lam al-Qur’an, Allah menyatakan sebagai ber­ikut:

 

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tang­guh kepada mereka hanyalah supaya bertam­bah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).

 

Inilah penangguhan yang diberikan Allah untuk menguji manusia. Namun, tentu saja ada waktu yang telah ditetapkan Allah sehing­ga setiap orang akan dibalas atas apa yang mere­ka perbuat. Ketika waktu yang ditetap­kan ini tiba, maka waktu tersebut tidak dapat ditunda atau dipercepat, meskipun hanya sesaat. Allah memberi tahu kita bahwa setiap orang pasti akan memperoleh balasan:

 

“Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.” (Q.s. Thaha: 129).

 

“Dan Aku tangguhkan mereka. Sesung­guh­nya rencana-Ku amat teguh.” (Q.s. al-A‘raf: 183).

 


KESIMPULAN

 

 

Setiap orang yang membaca al-Qur’an kemudian dicamkan dalam hati dan jiwanya, yang memikirkan tentang kehidupan, ber­bagai peristiwa, dan orang-orang di sekitarnya dengan sikap seorang yang beriman, dan yang menganggap Allah sebagai satu-satunya penolong dapat melihat rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an. Tidak ada satu peristiwa pun, yang penting dan yang remeh, terjadi begitu saja; tak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan. Di balik sebuah rahasia terdapat tujuan yang baik, dan hikmah yang diciptakan oleh Allah. Jika manusia berbuat dengan ikhlas dan selalu berpaling kepada Allah, maka mereka dapat mengetahui rahasia-rahasia ini dan hikmah di balik rahasia-rahasia tersebut.

Orang yang dapat memahami rahasia-raha­sia al-Qur’an dan memperhatikan rahasia-rahasia dalam kehidupan ini semakin dekat kepada Allah dan hubungan dengan-Nya akan semakin kokoh. Orang-orang seperti ini sema­kin mengenal Rabbnya, Pencipta langit dan bumi dan akan semakin memahami keku­asaan-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya. Mereka menyadari bahwa tidak ada penolong atau pelindung selain Allah. Mereka merasa bergembira ketika melihat dan memahami hikmah dan rahasia yang diciptakan Allah setiap saat. Allah menyingkapkan lebih banyak rahasia-rahasia ciptaan-Nya kepada orang-orang seperti itu. Sekalipun kehidupan orang seperti itu tampaknya biasa-biasa saja bagi orang lain, namun sesungguhnya Allah menciptakan sesuatu yang luar biasa kepada orang tersebut setiap saat. Allah akan menun­jukkan hal ini kepada setiap orang yang dengan ikhlas ingin memahami hikmah dan rahasia dalam ciptaan-Nya.

Allah menyatakan dalam al-Qur’an:

 

“Sesungguhnya (dalam al-Qur’an) terda­pat peringatan yang jelas bagi orang-orang yang menyembah.” (Q.s. al-Anbiya’: 106).

 


KEPALSUAN TEORI EVOLUSI

 

 

Setiap bagian di alam semesta ini menun­jukkan adanya penciptaan yang luar biasa. Sebaliknya, faham materialisme, yang ber­usaha menolak fakta tentang penciptaan alam semesta, tidak lain hanyalah merupakan faham palsu yang tidak ilmiah.

Jika faham materialisme telah tumbang, maka semua faham lainnya yang berdasarkan pada filsafat ini juga tidak memiliki landasan. Hampir semua penganut faham ini adalah penganut Darwinisme, yakni teori evolusi. Teori ini, yang berpendirian bahwa kehidupan berasal dari benda mati, yang terjadi secara kebetul­an, telah ditumbangkan oleh kenya­taan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Ahli astrofisika Amerika, Hugh Ross, menya­ta­kan sebagai berikut:

Atheisme, Darwinisme, dan pada dasarnya semua “isme” yang muncul dari filsafat abad kedelapan belas hingga abad kedua puluh, yang dibangun berdasarkan asumsi, yakni asumsi yang tidak benar, bahwa alam semesta ini tak terbatas. Keajaiban alam semesta telah membawa kita berhadapan dengan sebab atau penyebab utama di balik/ di belakang/ di hadapan alam semesta dan semua isinya, termasuk kehidupan itu sendiri.1

Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan Yang merancangnya hingga ke bagian-bagiannya yang terkecil. Dengan demikian teori evolusi yang menyatakan bahwa makh­luk hidup itu tidak diciptakan oleh Allah, tetapi terjadi secara kebetulan, adalah teori yang sama sekali tidak benar.

Tidak heran jika kita memperhatikan teori evolusi, maka kita akan melihat bahwa teori ini dikecam oleh penemuan ilmiah. Rancang­an kehidupan ini sangatlah kompleks dan menakjubkan. Di dunia makhluk tak bernya­wa misalnya, kita dapat melihat betapa luar biasanya keseimbangan pada atom-atom. Belum lagi pada dunia makhluk bernyawa, kita dapat melihat betapa kompleksnya ran­cang­an dari kumpulan atom, dan betapa luar biasanya cara kerja dan struktur seperti pro­tein, enzim, dan sel, yang diciptakan di dalam­nya.

Rancangan yang luar biasa dalam kehidup­an ini menumbangkan Darwinisme pada akhir abad kedua puluh.

Kita telah membicarakan dengan sangat detail masalah ini dalam beberapa kajian kami lainnya, dan kami akan terus melakukannya. Namun mengingat pentingnya persoalan ini, tentunya akan bermanfaat jika pada kesem­patan ini diketengahkan ringkasannya.

 

 

Ilmu Pengetahuan Menumbangkan Darwinisme

 

Meskipun doktrin ini berasal dari zaman Yunani kuno, teori evolusi dikembangkan secara luas pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang menjadikan teori ini menjadi topik terbesar dalam dunia sains adalah buku karya Charles Darwin yang berjudul The Origin of Species, yang diterbitkan pada tahun 1859. Dalam buku ini, Darwin menolak bahwa berbagai spesies yang hidup di bumi, masing-masing diciptakan oleh Tuhan. Menurut Darwin, semua makhluk hidup me­mi­liki nenek moyang yang sama dan makh­luk-makhluk tersebut kemudian men­jadi beraneka ragam dengan berjalannya waktu melalui perubahan-perubahan kecil.

Teori Darwin tidak berdasarkan pada pembuktian ilmiah yang kongkret; sebagai­mana yang diakuinya sendiri, tetapi hanya berupa “asumsi”. Tambahan pula, sebagai­mana pengakuan Darwin dalam bab panjang dari bukunya yang berudul Difficulties of the Theory, teori tersebut tidak mampu meng­hadapi berbagai pertanyaan penting.

Darwin menumpukan semua harapannya pada penemuan-penemuan ilmiah baru, yang ia harapkan dapat memberikan pemecahan atas Difficulties of the Theory. Namun, ber­lawanan dengan harapannya, pembuktian ilmiah justru semakin memperluas dimensi dari kesulitan-kesulitan ini.

Kekalahan Darwinisme atas ilmu penge­tahuan dapat disimpulkan menjadi tiga topik dasar:

1) Teori tersebut sama sekali tidak men­je­las­kan tentang bagaimana asal mula kehidup­an di bumi.

2) Tidak ada pembuktian ilmiah yang me­nunjukkan bahwa “mekanisme evolusi­oner” yang diajukan dalam teori tersebut memiliki kekuatan untuk berkembang.

3) Apa yang dikemukakan dalam teori evolusi tersebut sama sekali bertolak belakang dengan Catatan fosil.

Dalam bagian ini, kita akan mengkaji tiga poin dasar tersebut secara garis besar:

5 Agustus 2012

Kaedah Fikih (3)

oleh alifbraja

Ketika Dua Maslahat Bertabrakan

Kaedah selanjutnya dalam kaedah fikih yang bisa diingat adalah mengenai pertimbangan maslahat. Jika kita bisa melakukan banyak kebaikan dalam satu waktu, maka alhamdulillah. Namun terkadang, kita mesti menimbang-nimbang kebaikan mana yang mesti kita lakukan karena mengingat tidak semuanya dilakukan bersamaan. Ketika bertabrakan antara melakukan shalat sunnah dan tholabul ilmi (menuntut ilmu agama), manakah yang mesti dipilih. Inilah yang akan kita bahas.

Syaikh As Sa’di mengatakan dalam bait syairnya,

فإن تزاحم عدد المصالح

يقدم الأعلى من المصالح

Apabila bertabrakan beberapa maslahat

Maslahat yang lebih utama itulah yang lebih didahulukan

 

Kaedah ini banyak tidak diperhatikan oleh kebanyakan orang. Ketika ada dua maslahat bisa dilakukan berbarengan, maka syukur Alhamdulillah. Namun suatu saat ada dua maslahat bertabrakan dalam satu waktu, maka kita bisa memilih manakah yang lebih manfaat.

Pengertian Kaedah

Yang dimaksud dengan kaedah di atas adalah jika seorang hamba tidak mungkin melakukan salah satu dari dua maslahat kecuali dengan meninggalkan maslahat yag lain, maka apa yang mesti ia lakukan saat itu? Kaedah di atas menunjukkan bahwa dalam kondisi seperti itu hendaklah kita pilih manakah yang lebih manfaat. Walau nantinya akan meninggalkan maslahat yang lebih ringan.

Dalil Pendukung

Dalil-dalil yang mendukung kaedah di atas adalah firman Allah Ta’ala,

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu” (QS. Az Zumar: 55).

فَبَشِّرْ عِبَادِ , الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az Zumar: 17-18). Ayat-ayat ini menunjukkan untuk mengikuti yang “ahsan”, artinya yang lebih  baik atau yang lebih banyak maslahatnya.

Penerapan Kaedah

Dalam masalah amalan demikian adanya. Ada amalan yang lebih utama dari yang lain. Di sini kami akan beri contoh beberapa penerapan kaedah di atas:

1. Maslahat untuk orang banyak lebih diutamakan daripada maslahat untuk diri sendiri. Menuntut ilmu agama akan bermanfaat untuk orang banyak. Oleh karenanya, menuntut ilmu jika bertabrakan dengan shalat sunnah, maka menuntut ilmu lebih didahulukan. Karena manfaat shalat sunnah akan kembali pada diri sendiri beda halnya dengan menuntut ilmu.

2. Shalat wajib lebih utama dari shalat sunnah. Oleh karenanya, jika shalat wajib telah ditegakkan, maka shalat tersebut lebih didahulukan dari shalat tahiyatul masjid, shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah lainnya.

3. Maslahat yang sifatnya khusus karena bertepatan dengan kondisi tertentu lebih diutamakan dari maslahat yang sifatnya umumu. Contoh, membaca Al Qur’an itu baik secara umum dan amalan ini adalah sebaik-baik dzikir. Namun setelah shalat yang dianjurkan adalah berdzikir, bukan membaca Al Qur’an. Begitu pula ketika pagi-petang, yang lebih diutamakan membaca dzikir pagi-petang jika dzikir tersebut belum ditunaikan.

4. Maslahat yang berkaitan dengan zat ibadah lebih didahulukan dari mashalat yang berkaitan dengan waktu dan tempat. Contoh dalam ibadah thowaf. Dianjurkan ketika thowaf saat tiga putaran pertama untuk melakukan roml (berjalan cepat). Ini adalah maslahat dalam zat ibadah thowaf. Ketika itu juga dianjurkan untuk lebih dekat Ka’bah. Ini anjuran yang berkaitan dengan tempat. Jika saat itu tidak bisa melakukan roml di dekat Ka’bah karena kondisi yang penuh sesak dan hanya bisa dilakukan jauh dari Ka’bah, maka lebih utama tetap melakukan roml meskipun jauh dari Ka’bah. Alasannya, maslahat yang berkaitan dengan zat yaitu roml, lebih didahulukan dari maslahat yang berkaitan dengan tempat, yaitu dekat dengan Ka’bah.

Kaedah ini bisa jadi pertimbangan untuk permasalahan fikih lainnya. Alhamdulillah, dengan memahami kaedah ini kita dapat beramal atau mengambil hukum dengan tepat. Kita berharap agar kebaikan yang ada bisa dilakukan berbarengan. Karena semakin banyak kebaikan yang dilakukan, itulah yang lebih baik. Namun jika tidak memungkinkan melakukan semuanya, maka jangan tinggalkan sebagian. Lakukanlah mana yang lebih maslahat.

Wabillahit taufiq.

23 Juli 2012

TAFSIR TARBAWI: MENUNTUT ILMU DAN KEDUDUKAN ILMUAN

oleh alifbraja
AYAT-AYAT PENDIDIKAN
MENUNTUT ILMU DAN KEDUDUKAN ILMUWAN
 
MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
TAFSIR TARBAWI

 

 

Di Susun oleh :
Moh. Duhri
 
 
DAFTAR ISI
 
 
HALAMAN SAMPUL …………………… …………… ……….. …………………….………………
 
KATA PENGANTAR…. ………………….…………………………………….. ….……………..
01
DAFTAR ISI  …………………………………………………………………………..………………
02
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………….
03
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………………
04
A. Menuntut Ilmu ………………………………………………………………………………
 
     Surat al-‘Alaq 1-5 …………………………………………………………………………………
05
     Surat al-Ghosyiyah 17-20…………………………………………………………………
12
     Surat ar-Rahman 33  ……………………………………………………………………….
13
B. Kedudukan Ilmuwan ………………………………………………………………………………..
 
    Surat al-Fathir 27-28 …………………… …………… ……….. …………………….………………
14
    Surat al-Mujadalah 11 …….……………….……………………………………….……………..
15
    Surat az-Zumar  ayat 9 ……………………………………………………………..………………
17
    Surat an-Naml ayat 40 …………………………………………………………………….
18
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………..
19
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
AYAT-AYAT PENDIDIKAN
TENTANG MENUNTUT ILUM DAN KEDUDUKAN ILMUWAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
      Seorang ibu berpesan bijak kepada anak kesayangannya yang cacat fisik, Anakku, engkau tidak berada di majlis suatu kaum melainkan engaku menjadi bahan ejekan dan tertawaan mereka, oleh karena itu, carilah ilmu, karena ilmu mengangkatmu.” Pesan sang ibu tidak meleset, karenga dikumudain hari si anak yang tidada lain adalah Muhammad bin Abdurrahman al-Auqosh menjadi hakim di mekah selama dua puluh tahun.
      Sang ibu tidak salah ucap, karena memang begitulah kenyataannya. Ilmu memang membuat orang menjadi mulia. Ilmu itu menjaga pemiliknya, demikian kata Ali bin Abu thalib R.A.
      “Denganya, Allah mengangkat suatu kaum, kemudian Allah menjadikan mereka sebagai pemimpin dalam hal yang baik dan sebagai suri tauladan bagi oeng lain. Mereka adalah penunjuk bagi dan kepada kebaikan. Jejak mereka ditapaktilasi .” kata Muadz bin Jabal R.A.
 
B. RUMUSAN MASALAH
      Dengan ilmu, kita tidak menjadi makhluk “telanjang” abadi seperti hwan, terlapisi keindahan fisik dan psikis, menjadi manusia bermutu, mampu bersaing dengan makhuluq alin, dapat mengungkap rahasia dan pesan-pesan Allah yang ada dalam kitab-Nya dan di alam semersa, kita dapat menjadi hamba Allah yang mulia, dapat menjadi umat yang berjaya atas makhluk yang lain seperti proyeksi awal Allah menciptakan kita.
 
C. TUJUAN
Berangkat dari kerangka di atas, dan memperhatikan ralita keterpurukan  kaum muslimin dewasa ini, kami mencoba mengupas ayat ilmu pengetahun, dengan harapan makalah ini sedikit banyak dapat menyadarkan kelengahan kita selama ini, mengangkat harkat dan martabat di sisi Allah dan makluk lain dan mengembalikan kita ke posisi semula sebagai “khalifah allah” di muka bumi.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
I. MENUNTUT ILMU
AL-‘ALAQ 1-5
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)  [العلق/1-5]
A. TERJEMAH
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[[1]],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
 
B. MUNASABATUL AYAT
Setelah pada surat sebelumnya disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang sempurnya ( أًحْسَنِ تَقْوِيْم     ) kemudian dalam surat ini disebutkan kejadian manusia dari segumpal darah sampai pada akhirnya disini di bahas keadaan manusia di akhirat.
 
C. ASBABUN NUZUL
Disebutkan bahwa Nabi S.A.W.  beribadah dalam gua Hira beberapa malam, kemudain turunlah ayat ini. Lima ayat ini deisepakati turun di makah sebelum Nabi S.A.W. hijrah, bahkan hampir semua ulama sepakat bahwa wahyu yang pertama diterima Nabi S.A.W. adalah lima ayat ini, Thahir Ibnu Asyur menyatakan bahwa lima ayat ini turun pada tanggal tujuh belas ramadhan dan hal ini banyak di ikuti oleh ulama.
Nama yang populer pada masa sahabat adalah surat iqra’ bismirabbika, dan nama yang banyak tercantum dalam mushaf adalah al-Alaq’ ada juga yang menamainya dengan surah iqra’.
 
D. PEMBAHASAN
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
           
a. Tafsir Mufrodat :
Kata (اقْرَأْ ) terambil dari kata kerja ( قَرَأَ  ) yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut maka anda telah menghimpunnya yakni membacanya. Dengan demikian realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengan oleh orang lain. Karenanya, dalam kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata tersebut. Antara lain : menyampaikan, menelaan, membaca, mendalami, meneliti, mengaetahui ciri-ciri sesuatu dan sebagainya, yang kesemuanya bermula dari arti menghimpun.
Ayat di atas tidak menyebutkan objek bacaan – dan jibril AS. ketika itu tidak juga membaca suatu teks tertulis, dan karena itu dalam satu riwayat dinyatakan bahwa Nabi S.A.W. bertanya : ( مَا أَقْرَأُ  ) apa yang harus saya baca ?
b. Penjelasan:
Beraneka ragam pendapat ahli tefsir tentang objek bacaan yang dimaksud, ada yang berpendapat wahyu (al-Qur’an) sehingga perintah itu dalam arti : “bacalah wahyu-wahyu (al-Qur’an)” ketika dia turun nanti. Ada juga yang berpendapat bahwa objeknya adalah ismi robbika sambil menilai huruf ba’ yang menyertai kata kata ismi adalah sisipan sehingga ia berarti bacalah nama tuhanmu atau berdzikirlah. Tapi jika demikian mengapa Nabi S.A.W.menjawab “ saya tidak dapat membaca “ seandainya yang dimaksud perintah berdzikir tentu beliau tidak menjawab demikian karena jauh sebelum datang wahyu beliau senantiasa melakukannya.
Muhammad Abduh memahami peritah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklif) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amar takwini yang mewujudkan kemampuan membaca secara actual pada diri pribadi Nabi Muhammad S.A.W. pendapat ini dihadang oleh kenyataan bahwa setelah turunnya perintah ini pun Nabi S.A.W. masih tetap dinamai oleh al-Qur’an sebagai seorang Ummy (tidak pandai membaca dan menulis), di sisi lain jawaban Nabi S.A.W. kepada malaikat jibril ketika itu, tidak mendukung pemahaman itu.
Huruf ( ب ) pada kata (بِاسْمِ ) ada juga yang memahaminya sebagai pernyertaan atau mulabasah, seingga dengan demikian ayat tersebut berarti “bacalah disertai dengan nama Tuhanmu”.
Sementara ulama memahami kalimat bismi rabbika bukan dalam pengertian harfiahnya, sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak masa jahiliah mengaitkan suatu pekerjaan dengan nama sesuatu yang mereka agungkan. Itu memberi kesan yang baik atau katakanlah “berkat” terhadap epkerjaan tersebut juga untuk menunjukkan bahwa pekerjaan tadi dilakukan semata-mata karena “dia” yang namanya disebutkan tadi. Dahulu, misalnya sebelum turunnya al-Qur’an, kaum musyrikin sering berkata “bismi al-lata” dengan maksud bahwa apa yang mereka lakukan tidak kecuali demi tuhan berhala al-lata, dan bahwa mereka mengharapkan anugrah dan berkah” dari berhala tersebut.
Mengaitkan pekerjaan membaca dengan nam Allah mengantarkan pelakunya untuk tidak melakukannya kecuali karena Allah, dan hal ini akan mengahsilkan keabadian, karena hanya Allah yang kekal abadi dan hanya aktifitas yang dilakukan secara ikhlas yang akan diterimanya, tanpa keikhlasan semua aktifitas akan berakhir dengan kegagalan dan kepunahan (baca Q.S. al-Furqon 25).
Menurut Syaikh al-Maroghi, اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ adalah jadilah kamu orang yang bisa membaca dengan kekuasaan Allah Tuhan penciptamu dan menginginkan kamu bisa membaca walaupun sebelumnya tidak, yang sesungguhnya saat itu Nabi S.A.W. tidak bisa baca tulis, dan telah datang perintah Ketuhanan bahwa Nabi S.A.W. hendaknya bisa membaca walaupun tidak bisa menulis dan akan diturunkan kepadanya al-Quran yang akan dia baca walaupun dia tidak menulisnya. Ringkasnya adalah Allah yang telah menjadikan alam semesta mampu menjadikan Nabi S.A.W. bisa membaca walaupun tidak didahului dengan belajar.
 
C. Kesimpulan
Menurut kaidah kebasaan menyatakan apabila ada suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Oleh karena itu bahwa kata iqro’ digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan dan sebagainya, dan objeknya bersifat umum, maka objek kata tersebut segala yang dapat terjangkau baik ia merupakan bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Al hasil perintah iqro’mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis baik suci maupun tidak.
Ayat ini menegaskan supaya kita bisa membaca.
 
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
A. Tafsir Mufrodat
Kata الْإِنْسَانَ terambil dari akar kata أنس, jinak dan harmonis atau dari kata نسي yang berarti lupa, ada juga yang berpendapatberasal dari kata نوس yakni gerak atau dinamika.
Makna di atas paling tidak memberikan gambaran sepintas tentang potensi atau sifat makhluk tersebut, yakni bahwa memiliki sifat lupa, dan kemampuan bergerak atau melahirkan dinamika.
Ia juga adalah makhluk yang selalu atau sewajarnya melahirkan rasa senang, harmonisme dan kebahagiaan kepada pihak lain.
B. Penjelasan
Kata insan menggambarkan manusia dengan berbagai keragaman sifatnya, kata ini berbeda dengan kata basyar yang juga diterjemahkan dengan manusia, tetapi maknanya lebih banyak mengacu kepada manusia dengan segi fisik serta nalurinya yang tidak berbeda antara seseorang manusia dengan mansia lain.
Manusia adalah makhluk pertama yang disebut Allah dalam al-Qur’an melalui wahyu pertama, bukan saja karena ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, atau segala sesuatu dalam alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah demi kepentingannya, tetapi juga karena kitab suci al-Qur’an ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita kehidupannya.
Salah satu cara yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk menghantar manusia menghayati pentunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya antara lain dengan menguraikan proses kejadiannya. Ayat ke 2 surat iqro’ menguraikan secara sangat singkat hal tersebut.
Kata ‘alaq dalam kamus bahasa arab digunakan dalam arti segumpal darah, juga dalam arti cacing yang terdapat di dalam air bila diminum oleh binatang maka ia tersangkut di kerongkonganya. Banyak ulama masa lampau memahami ayat di atas dalam pengertian pertama. Tetapi ada juga yang memahaminya dalam sesuatu yang tergantung di dinding rahim. Ini karena para pakar embriolog menyatakan bahwa setelah terjadinya pertemuan antara seperma dan indung telur ia berproses dan membelah menjadi dua, kemudian empat, kemudian delapan demikian seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong kehamilan dan melekat bertempat serta masuk ke dinding rahim.
C. Kesimpulan
Dari ayat 2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk mengantar manusia menghayati petunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya dengan menguraikan proses kejadiannya, karena kata ‘alaq bisa juga dipahami sebagai makhluk sosoial yang tidak dapat hidup sendiri tetapi selalu bergantung pada selainnya, ini serupa dengan firman Allah خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ  [الأنبياء/37] (Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.)
 
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
A. Tafsir Mufrodat
Kata الْأَكْرَمُ biasa diterjemahkan dengan yang maha atau paling pemurah atau semulia-mulia. Kata ini terambil dari kata كرم yang antara lain berarti memberikan dengan mudah dan tanpa pamrih, bernilai tinggi, terhormat, mulia, setia dan sifat kebangsawanan.
B. Penjelasan
Dalam al-Qur’an ditemukan kata karim terulang sebanyak 27 kali. Tidak kurang dari 13 subjek yang disifati dengan kata tersebut, yang tentu saja berbeda-beda maknanya dan karena itu pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kata ini digunakan untuk menggambarkan sifat terpuji yang sesuai dengan objek yang disifatinya. Ucapan yang karim adalah ucapan yang baik, indah terdengar, benar susunan dan kandungannya, mudah dipahami cara menggambarkan segala sesuatu yang ingin disampaikan oleh pembicara. Sedang rizki yang karim adalah yang memuaskan, bermanfaat serta halal.
Allah menyandang sifat karim menurut imam al-Ghozali sifat ini menunjuk kepadanya yang mengandung makna antara lain bahwa : Dia yang bila berjanji menepati janjinya, bila memberi melampoi batas memberi. Dia yang tidak rela bila ada kebutuhan yang dimohonkan kepada selain-Nya. Dia yang bila atau kecil hati, menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapapun yang menuju yang berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
Ibn al-Arabi menyebut 16 makna dari sifat Allah ini antara lain : yang disebut oleh al-Ghozali di atas, dan juga “ Dia yang bergembira dengan diterima anugrahnya, serta yang memberi sambil memuji yang diberinya, Dia yang memberi siapa yang mendurhakainya, bahkan memberi sebelum diminta dan lain-lain.
Kata al-Karim yang menyifati Allah dalam al-Qur’an kesemuanya menunjuk kepada-Nya dengan kata Robb bahkan demikian juga kata akrom sebagaimana terbaca di atas. Penyifatan kata Robb dan Karim menunjukkan bahwa kata karom atau anugrah kemurahannya dalam berbagai aspek, dikaitkan dengan rububiyahnya, yakni Pendidikan, Pemeliharaan dan Perbaikan makhluknya, sehingga anugrah tersebut dalam kadar dan waktunya selalu bebarengan serta bertujuan perbaikan dan pemeliharaan.
Sebagai makhluk, kita dapat menjangkau betapa besar karom Allah S.W.T. karena keterbatasan kita dihadapannya. Namun demikian sebagian darinya dapat diungkapkan sebagai berikut : “ bacalah wahai Muhammad, tuhanmu akan menganugrahkan dengan sifat kemurahannya pengetahuan tentang apa yang tidak engkau ketahui. Bacalah dan ulangi bacaan tersebut walaupun objek bacaannya sama, niscaya tuhanmu kan memberikan pandangan serta pengertian baru yang tadinya belum engkau belum peroleh pada bacaan yang sama dalam objek tersebut.” “Bacalah dan ulangi bacaan, tuhanmu kan memberi manfaat kepadamu, manfaat yang tidak terhingga karena dia akrom, memiliki segala macam kesempurnaan.”
C. Kesimpulan
Disini kita dapat melihat perbedaan antara perintah membaca pada ayat pertama dan ke tiga, yakni yang pertama menjelaskan syarat yang harus dipenuhi seseorang ketika membaca (dalam segala pengertian) yaitu membaca demi karena Allah, sedang perintah yang ke dua menggambarkan manfaat yang diperoleh dari bacaan bahkan pengulangan bacaan tersebut.
Dalam ayat ke tiga ini Allah menjanjikan bahwa pada saat seseorang membaca dengan ikhlas karena Allah maka Allah akan menganugrahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman, wawasan baru walaupun yang dibacanya itu-itu juga. Apa yang dijanjikan ini terbukti sangat jelas. Kegiatan “membaca” ayat al-Qur’an menimbulkan penafsiran baru atau pengembangan dari pendapat yang telah ada. Demikian juga kegiatan membaca alam raya ini telah menimbulkan penemuan baru yang membuka rahasia alam, walaupun objek bacaanya itu-itu juga. Ayat al-Qur’an yang dibaca oleh generasi terdahulu dan alam raya yang mereka huni adalah sama-tidak berbeda, namun pemahaman mereka serta penemuan rahasianya terus berkembang.
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) 
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
 
A. Tafsir Mufrodat
Kata الْقَلَمِ terambil dari kata kerja قلم yang berarti memotong ujung sesuatu. Memotong ujung kutu disebutتقليم , tombak yang dipotong ujungnya sehingga meruncing dinamai مقالم.
B. Penjelasan
Kata qolam disini dapat berarti hasil dan penggunaan alam tersebut, yakni tulisan, ini karena bahasa, sering kali menggunkan kata yang berarti alat atau penyebab untuk menunjuk akibat atau hasil dari penyebab atau penggunaan alat tersebut, misalnya, jika seseorang berkata “ saya hawatir hujan” maka yang dimasud dengan kata hujan adalah basah atau sakit, hujan adalah penyebab semata.
Makna di atas dikuatkan oleh firan Allah dalam surat al-Qolam (68):1, yakni firmannya “ Nuun, demi qolam dan apa yang mereka tulis”. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa awal surat al-Qolam turuns setelah akhir ayat ke lima surat al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya ke dual kata qolam tersebut berkaitan erat, bahwan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikain.
Pada ke dua ayat di atas terdapat apa yang dinamai ikhtiba’ yang maksudnya adalah tidak disebutkan sesuatu keterangan, yang sewajarnya ada pada dua susunan kalimat yang bergandengan, karena keterangan yang dimaksud telah disebut pada kalimat yang lain. Pada ayat 4 kata manusia tidak disebut karena telah disebut pada ayat lima, dan pada ayat 5 kalimat tanpa pena tidak disebut karena pada ayat empat telah disyaratkan ma’na itu dengan sebutkan pena. Dengan demikian kedua ayat di atas dapat berarti “ Dia(Allah) mengajarkan dengan pena (tulisan) (hal-hal yang telah diketahui sebelumya). Dia mengajarkan manusia (tanpa pena) apa yang belum diketahui sebelumnya. Kalimat “ yang telah diketahui sebelumnya disisipkan karena isyarat pada susunan kedua yaitu yang belum atau tidak diketahui sebelumnya”. Sedang kalimat “tanpa pena” ditambahkan karena ada kata “ dengan pena” dalam susunan pertama. Yang dimaksud dengan ungkapan “ telah diketahui sebelumnya adalah khozanah pengetahuan sebelumnya dalam bentuk tulisan.
C. Kesimpulan
Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kedua uraian di atas menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah S.W.T. dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena atau tulisan yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat.
Pada awal surat ini Allah telah mengenalkan diri sebagai yang maha kuasa, maha mengetahui dan maha pemurah. Pengetahuan-Nya melimputi segala sesuatu, sedangkan karom atau kemurahan-Nya tidak terbatas, sehingga dia berkuasa dan berkenan untuk mengajar manusia dengan atau tanpa pena.
Wahyu Ilahi yang diterima oleh manusia agung dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajarannya. Tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Nabi Muhammad S.A.W. dijanjikan oleh Allah dalam wahyunya yang pertama untuk termasuk dalam kelompok tersebut.
 
E. PELAJARAN YANG DAPAT DI AMBIL
1.      Ayat 1
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Ayat pertama ini mengandung arti bahwa :
a. Ummat Islam seharusnya pandai baca tulis
b. Ummat Islam harus antusias membaca dan meneliti, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan
c. Perintah m embaca ini meliputi yang tersurat (Al-Qur’an) dan yang tersirat (Alam semesta)
2.      Ayat 2
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Manusia disebut khusus dalam ayat ini, karena manusia manusia diberi kedudukan istimewa, dengan tubuh, panca indera, akal dan hati yang sempurna. Alaqah adalah zygote yang sudah menempel di rahim ibu, yang secara phisik tidak ada artinya dan lemah dan labil karena sewaktu-waktu dapat gugur dari rahim ibunya.
3.      Ayat 3
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
Perintah membaca ini untuk memantapkan bahwa pengetahuan yang dibaca, minimal satu objek dibaca dua kali, inipin diakui oleh para psikologi membaca.
4.      Ayat 4
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
Maksudnya : Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Allah menciptakan alam untuk dijadikan pena, dan memberikan kemampuan kepada manusia untuk menggunakan pena tersebut.
5.      Ayat 5
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dengan adanya baca tulis manusia berkembang ilmu pengetahunnya, agar dapat bermanfaat bagi generasi berikutnya .
Secara global Lima ayat yang telah lewat menunjukkan keutamaan membaca, menulis dan ilmu.
Demi Allah, jika tidaklah karena qolam (pena) niscaya kemu tidak akan mendapat ilmu, dan tidak dapat mengendalikan bala tentara, agamapun akan terbengkalai, orang yang akhir tidak dapat mengetahui keadaan orang yang terdahulu dari segi keilmuannya, pekerjaannya dan bidang-bidangnya. Dan ketika semua keadaan orang yang terdahulu sudah terbukukan baik yang baik maupun yang buruk, niscaya ilmu mereka menjadi pelita yang memberikan petunjuk bagi pereode berikutnya, dan menjadi tempat tolak untuk kemajuan kaum berikutnya dan kemajuan segala bidang.
Begitu juga ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah telah menjadikan manusia hidup, bisa berfikir dari yang sebelumnya tidak hidup dan tidak berfikir, tidak berbentuk dan tidak mempunyai rupa, kemudian Allah mengajarkan hal penting yaitu tulisan dan pengetahuan tentang segala sesuatu, betapa celakanya bagi orang-orang yang lalai tentang hal ini.
 
AL-GHOSYIYAH
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20) [الغاشية/17-20]
A. TERJEMAH
17. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,
18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
B. ASBABUN NUZUL
Dalam suatu riwayat dikukakan bahwa ketika Allah menggambarkan ciri-ciri surga, kaum yang sesat merasa heran, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran dan keajaiban Allah.
C. TAFSIR MUFRODAT
Penggunaan kata إِلَى  : kepada, yang digandeng dengan kata يَنْظُرُونَ : melihat, atau memerintahkan untuk mendorong sietiap orang melihat sampai batas akhir yang ditunjuk oleh kata إلى, masing-masing dalam hal ini adalah unta, langit, pegunungan dan bumi sehingga pandangan perhatian benar-benar menyeluruh, sempurna dan mantap agar dapat menarik darinya sebanyak mungkin bukti tentang kekuasaan Allah dan kehebatan Ciptaan-Nya.
D. PENJELASAN
Dalam tafsir al-Muntakhob yang disusun oleh satu tim yang terdiri dari beberapa pakar Mesir, ayat-ayat diatas dikomentari antara lain sebagai berikut: Penciptaan unta yang sangat sungguh luar biasa menunjukkan kekuasaan Allah dan merupakan suatu yang perlu ktia renungkan. Dari bentuk lahirnya, seperti kita ketahui, untuk benar-benar memiliki potensi untuk menjadi kendaraan di wilayah gurun pasir. Matanya terletak pada bagian kepala yang agak tinggi dan agak ke belakang, ditambah dengan dua lapis bulu mata yang melindunginya dari pasir dan kotoran. Begitu pula dua lubang hidung dan telinga yang dikelilingi dengan rambut yang maksud yang sama. Maka apabila badai pasir bertiup kencang, kedua lubang hidung itu akan tertutup dan kedua telinganya akan melipat ke tubuhnya, meski bentuknya kecil dan hampir tak terlihat. Sedangkan kakinya yang panjang adalah untuk membantu memperepat gerakannya, seimbang dengan lehernya yang panjang  pula. Telapak kakinya yang sangat lebar seperti sepatu berguna untuk memudahkannya dalam berjalan di atas pasir yang lembut. Unta juga mempunyai daging yang tebal di bawah dadanya dan bantalan-bantalan pada persendian kakinya yang memungkinkannya untuk duduk di atas tanah yang keras dan panas. Pada sisi ekornya yang panjang terdapat bulu yang melindungi bagian belakang yang lembut dari segala macam kotoran.
 
 
E. KESIMPULAN
Telah kita ketahui bersama, bahwa perbincangan sejak permulaan surah ini, bertujuan menegaskan tentang tujuan akhirat, serta apa saja yang berkaitan dengan manusia pada hari kiamat. Tentunya diantara orang-orang yang kepada mereka ayat-ayat ini ditujukan, terdapat pula para pengingkar yang menyangkalnya. Tetapi ada pula yang mengakui (kebenaranya) namun tetap dalam keadaan lalai, tidak melihat kemasa depan, tempat tujuan akhir yang akan mereka datangi. Maka Allah swt ingin menegakkan Hujjah-Nya terhadap mereka, serta mamperingatkan mereka dengan cara-cara menarik perhatian mereka, agar bersedia mengamati kuasa-Nya yang nyata diantara mereka, terutama yang berkaitan dengan ciptan-Nya yang dapat mereka saksikan setiap saat.    
Nilai-Nilai Pendidikan dari ayat ini :
  1. Siswa harus diperkenalkandahulu dengan lingkungan yang terdekat dan penting bagi mereka
  2. Pengetahuan dan penguasaan alam harus mengarah kepada keimanan
  3. Tugas guru membimbing bukan memaksa
  4. Materi pendidikan yang sebenarnya ayat-ayat Allah baik yang tersirat maupun yang tersurat.
 
AR-RAHMAN 33
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ (33) [الرحمن/33]
33. Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.
A. TAFSIR MUFRODAT.
فَانْفُذُوا
:
(maka lintasilah) Tembuslah ke penjuru langit dan bumi dan lepaskan dirimu, dikatakan tembusnya sesuatu  dari sesuatu yang lain, ketika sesuatu itu dilepaskan seperti melepaskan anak panah.
لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
:
(Dan kamu tidak mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan) mereka tidak mampu untuk menembusnya kecuali dengan kekuatan dan mereka tidak kuasa.
B. PENJELASAN.
Allah memerintahkan kepada golongan jin dan manusia untuk menembus (melintasi) ke penjuru langit dan bumi, arti perintah Allah ini hanya sekedar tantangan Allah untuk menguji dan melemahkan jin dan manusia. Jika mereka kuasan untuk keluar penjuru langit dan bumi dan semacamnya itu hanya ketentuan dan kekuasaan dari Allah S.W.T.
Mereka pun tidak mampu menembus (melintasi) kecuali dengan kekuatan, dan mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi dan juga mereka tidak kuasa.
Dan yang dimaksud سلطان di sini adalah Dzat yang mempunyai kekuatan dan menguasai untuk memerintah.
 
 
C. KESIMPULAN.
Allah memerintahkan kepada golongan jin dan manusia untuk menembus (melintasi) langit dan bumi tetapi mereka tidak mampu kecuali dengan kekuatan.
SURAT AL-FATIR 27&28
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28) [فاطر/27، 28]
27. Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.
28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
A. Tafsir mufrodat :
أَلَمْ تَرَ
:
(tidakkah kamu melihat) firman ini ditujukan kepada Rosululloh dan kepada orang-orang yang berbuat baik kepada Rosululloh.
مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا
:
(yang beraneka macam jenisnya) merupakan sifat buah-buahan, maksudnya  ألوانها yaitu berjenis-jenis dan berkelompok, sebagian dari alwan itu ada yang putih, merah, kuning, hijau dan hitam.
مُخْتَلِفٌ
:
(bermacam-macam) sebagian dari macam-macam warnanya itu ada merah, hitam, putih, hijau dan kuning.
Imam farro’ bekata : arti مختلف menjadikan bermacam-macam warna seperti perbedaannya warna buah dan gunung, sesungguhnya Allah S.W.T. menyebutkan segala sesuatu itu mempunyai perbedaan warna karena sesungguhnya perbedaan ini sebagai bukti keagungan, keadilan atas kekuasaan Allah dan bukti atas keindahan ciptaan Allah S.W.T.
الْعُلَمَاءُ
:
(Ulama) orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah,
B. PENJELASAN.
Dalam firman Allah ini, Allah mengingatkan kepada Rosululloh dan juga kepada orang yang berbuat baik kepada Rosul ( umata manusia ) bahwa Allah telah menurunkan hujan dari langit yang dengan hujan itu dapat mengahsilkan buah-buahan yang beraneka macam jenis dan kelompoknya, juga bermacam-macam warnanya antara lian putih, merah, kuning, hijau dan hitam. Selain itu Allah juga menjadikan gunung-gunung yang antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih yang beraneka macam warnanya ada pula yang hitam pekat.
Imam Jauhari mengatakan : hitam pekat artinya warna yang sangat hitam.
Firman Allah S.W.T. : dan demikian pula diantara manusia, binatang melata dan ternak itu bermacam-macam warna dan jenisnya, sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu dengan bermacam-macam warna dan berbeda-beda jenisnya, hal ini Allah ingin menunjukkan bukti sebagai keagungan, keadilan atas kekuasaan dan keindahan ciptaannya.
Dan ulama yang dapat mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah S.W.T.
C. KESIMPULAN
Dari ayat 27 dan 28 tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Tanda-tanda kekuasaan Allah ialah diturunkannya hujan, tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah-buahan yang beraneka ragam.
  2. Demikian juga manusia, binatang-binatang diciptakan Allah bermacam-macam warna jenisnya sebagai tanda kekuasaanNya.
  3. Yang benar-benar mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah dan mentaatinya hanyalah ulama, yaitu orang-orang yang mengetahui secara mendalam kebesaran Allah. Dia Maha Perkasa menindak orang-orang kafir, Maha Pengampun kepada hamba-hambanya yang beriman dan taat.
 
AL-MUJADALAH 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11)  [المجادلة/11]
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
A. TAFSIR MUFRODAT
تَفَسَّحُوا
:
Maksudnya adalah توسعوا  yaitu saling meluaskan dan mempersilahkan.
يَفْسَحِ
:
Maksudnya Allah akan melapangkan rahmat dan rizki bagi mereka.
فَانْشُزُوا
:
Maksudnya saling merendahkan hati untuk memberi kesempatan kepada setiap orang yang datang.
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ
 
Allah akan mengangkat derajat mereka yang telah memuliakan dan memiliki ilmu di akhirat pada tempat yang khusus sesuai dengan kemuliaan dan ketinggian derajatnya.
B. ASBABUN NUZUL
Ayat ini diturunkan pada waktu Rosululloh S.A.W. ingin memuliakan sahabat ahli perang badar dari pada sahabat muhajirin dan anshor. Ketika Rosululloh S.A.W. duduk di tempat yang sempit beliau ingin memuliakan sahabat ahli badar, maka datanglah sahabat ahli badar tersebut saling berdesakan dan berdiri di hadapan beliau sambil menanti kelapangan majlis (tempat duduk), Rosululloh memerintahkan sahabat yang bukan ahli badar yang berada disampingnya untuk berdiri.
C. PENJELASAN.
Dari ayat tersebut dapat diketahui, hal sebagai berikut:
Pertama : Bahwa para sahabat berupaya ingin saling mendekat pada saat berada di majelis Rasulullah saw, dengan tujuan agar ia dapat mudah mendengar wejangan dari Rasulullah saw. Yang diyakini bahwa dalam wejangannya itu terdapat kebaikan yang amat dalam serta keistimewaan yang agung.
Kedua : Bahwa perintah untuk saling meluangkan dan meluaskan tempat ketika berada di majelis, tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang dimungkinkan, karena cara demikian dapat menimbulkan keakraban diantara sesama orang yang berada di dalam majelis dan bersama-sama dapat mendengar wejangan Rasulullah saw.
Ketiga : Bahwa pada setiap orang yang memberikan kemudahan kepada hamba Allah yang ingin menuju pintu kebaikan dan kedamaian, Allah akan memberikan keluasan kebaikan di dunia dan akhirat.2 Singkatnya ayat ini berisi perintah untuk memberikan kelapangan dalam mendatangkan setiap kebaikan dan memberikan rasa kebahagiaan kepada setiap orang Islam. Atas dasar inilah Rasulullah saw, menegaskan bahwa Allah akan selalu menolong hambanya, selama hamba tersebut selalu menolong sesama saudaranya.3
Adapun arti potongan ayat dibawah ini adalah:
إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّخُوْا فِيْ الْمَجَالِسِ فَافْسَخُوْا
Maksudnya adalah apabila kamu diminta berdiri selama berada di majelis Rasulullah saw, maka segeralah berdiri, karena Rasulullah saw terkadang mengamati keadaan setiap individu, sehingga dapat diketahui setiap keadaan orang tersebut, atau karena Rasulullah saw, ingin menyerahkan suatu tugas khusus yang tidak mungkin tugas tersebut dapat dikerjakan oleh orang lain. Berhubungan dengan hal yang demikian, maka bagi orang yang datang terdahulu di majelis tersebut tidak boleh mempersilahkan orang yang datang belakangan untuk duduk di tempat duduknya.
Imam Malik, Bukhari, Muslim dan Turmudzi meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw, bersabda: La yuqimu al-rajulu min majlisi walakin tafassakhu wa tawassa’u. Yang artinya: seorang tidak sepantasnya mempersilahkan tempat duduknya kepada orang lain (yang datang belakangan). Tetapi cukup dengan memberikan kelapangan dan mempersilahkan lewat.
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا مِنْكُمْ، وَالَّذِيْنَ أُتُواالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
maksudnya adalah bahwa Allah akan mengangkat orang mukmin yang melaksanakan segala perintahnya dengan memberikan kedudukan yang khusus, baik dari pahala maupun keadilan-Nya. Singkatnya bahwa setiap orang mukmin dianjurkanagar memberikan kelapangan kepada sesama kawannyaitu datang belakangan, atau apabila dianjurkan agar keluar meninggalkan majelis, maka segera tinggalkanlah tempat itu, dan jangan ada prasangka bahwa perintah tersebut akan menghilanhkan haknya. Melainkan merupakan kesempatan yang dapat menambah kedekatan pada Tuhannya, karena Allah tidakakan menyia-nyiakan setiap perbuatan yang dilakukan hambanya. Melainkan akan diberikan balasan yang setimpal di dunia dan akhirat.
Sedangkan potongan ayat وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ maksudnya bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan yang baik dan buruk yang dilakukan hamba-Nya, dan akan membalasnya amal tersebut. Orang yang baik akan di balas dengan kebaikan. Demikian pula orang yang berbuat buruk akan dibalas buruk atau diampuni-Nya.4
Ayat tersebut diatas selanjutnya sering digunakan para ahli untuk mendorong diadakannya kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dengan cara menjunjung tinggi atau mengadakan dan menghadiri majelis ilmu. Orang yang mendapatkan ilmu itu selanjutnya akan mencapai derajat yang tinggi dari Allah.
D. KESIMPULAN.
1. Bersopan santun dalam menghadiri majlis rosulillah.
2. Kita dianjurkan berbuat lapang di suatu hal, maka Allah akan melapangkan kita.
3. Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan yang diberi ilmu pengetahuan.
 
AZ-ZUMAR 9
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ (9)  [الزمر/9]
9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
A.TAFSIR MUFRODAT
هُوَ قَانِتٌ
:
مطيع, خاضع, عابد الله تعالى ( taat, tunduk dan beribadah kepada Allah).
آنَاءَ اللَّيْلِ
:
ساعته (waktunya bersujud dan berdiri dan mengharap rahmat Tuhannya).
B. MUNASABAH DAN ASBABUN NUZUL
Firman Allah أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ … ibnu abbas berkata : dalam riwayat ‘atho ayat tersebut diturunkan pada sahabat abu bakar as-Shidiq. Menurut ibnu ‘umar diturunkan pada sahabat Usman bin Affan, menurut Muqotil diturunkan pada Amr bin Yasir
C. PENJELASAN
Ayat ini menerangkan perbedaan antara orang kafir dengan orang yang selalu taat menjalankan ibadah kepada Allah dan takut dengan siksa Akhirat yang selalu mengharapkan Rahmat (surga).
Tidak sama antara orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan mengEsakan Allah, mentaati semua perintah menjauhi larangan-Nya, yaitu Abu Bakar dan sahabatnya, dengan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan yaitu Abu Jahal dan sahabatnya.
Ayat di atas menunjukkan keutamaan ilmu daripada harta, karena orang yang mempunyai ilmu mengetahui kemanfaatan harta dan orang yang tidak berilmu tidak mengetahui kemanfaatan ilmu.
D. KESIMPULAN
1.      Perbandingan orang yang beruntung (selalu taat pada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya) dengan orang yang rugi (kafir).
2.      Tidak sama antara orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dengan orang bodoh.
 
SURAT AN-NAML 40
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40) [النمل/40]
40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[[2]]: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
A. TAFSIR MUFRODAT
الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ
:
آصف بن برخياء (كاتب سليمان) أو جبريل أو ملك آخر
طَرْفُكَ
:
ارفع بصرك وانظر مُدّ بصرك مما تقدر عليه، فإنك لا يكل بصرك إلا وهو حاضر عندك
B. PENJELASAN
Nabi Sulaiman dibantu anakbuahnya bernama Ashif bin Barkhiya yaitu seorang yang memiliki ilmu dan hikmah. Kemampuannya memindahkan tahta kerajaan ratu Bilqis lebih cepat daripada kemampuan jin Ifrith yang menjanjikan tahta itu pindah sebelum nabi sulaiman berdiri dari tempat duduknya, Ashif bin Barkhiya mampu memindahkan tahta itu hanya dalam waktu satu kedipan mata. Maka takluklah ratu Bilqis penguasa negeri Saba’ akhirnya dia menikah dengan Nabi Sulaiman dan hidup berbahagia hingga akhir hidupnya.
Nabi Sulaiman bersyukur kepada Allah ketika melihat singgasana itu terletak di hadapannya.
C. KESIMPULAN :
1.      Ashif bin Barkhiya seorang yang memiliki ilmu dan hikmah.
2.      Nabi sulaiman menunjukkan karomah umatnya, supaya kaumnya tidak mengingkari terhadap umat para Nabi yang diberi karomah.
 
 
 
 
DATAF PUSTAKA
 
 
–         Ahmad Al-Musthofa Al-Maroghi, Tafsir Al-Maroghi
–         An-Nawawi , Imam Abil Hasan Ali Ibni Ahmad Al-Wahidi, Muroh labid Tafsir
–         Al-Wahidi An-Naisaburi, Asbabun Nuzul
–         Ibnu Katsir al-Quraisy (Imaduddin abul Fada’ Isma’il bin Umar al-Bashry700-774H), Tasir Ibnu Katsir
–         Ibnu Qoyim Al-Jauzi,  Buah Ilmu.
–         Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani, Fathul Qodir
–         M. Quraisy Syihab, Tafsir al-Misbah Juz Amma.
%d blogger menyukai ini: