Posts tagged ‘abu muhammad’

11 November 2012

Ajaran Tasawuf

oleh alifbraja

Mahabbah, Syauq, Wushul, Qona’ah

Mahabbah: kecenderungan kepada Allah secara paripurna, mengutamakan urusan-Nya atas diri sendiri, jiwa dan hartanya, sepakat kepada-Nya lahir dan batin, dengan menyadari kekurangan diri sendiri (Syaikh alMuhasibiy). Rabi’ah berkata: “Orang yang mahabbah kepada Allah itu tidak habis rintihan kepada-Nya sampai ia dipanggil ke sisiNya.

Syauq: yaitu kerinduan hati untuk selalu terhubung dengan Allah dan senang bertemu dan berdekatan denganNya ( Abu Abdullah bin Khafif ). Sebagian Ulama’ berkata: ” Orang-orang yang Syauq merasakan manisnya kematian setelah dialami, sebab terbuka tabir yang memisahkan antara dirinya dengan Allah.

Unsu : tertariknya jiwa kepada yang dicintai ( Allah ) untuk selalu berada di dekatNya. ( Abu Sa’id al Karraz). Syeh Malik bin Dinar mengatakan, “Barangsiapa tidak unsu dengan muhadatsah kepada Allah, maka sedikitlah ilmunya, buta hatinya dan sia-sia umurnya.

Qurbun : dekat hatinya seseorang dengan Allah Ta’ala, sehingga dalam melakukan segala hal merasa selalu dilihat olehNya. Syeh Abu Muhammad Sahl mengatakan, “Tingkat paling rendah dalam tingkatan Qurb adalah rasa malu melakukan maksiat”

Haya’: Rasa malu dan rendah diri, demi mengagungkan Allah (Syaikh Syihabuddin), Syaikh dzun Nun alMisri mengatakan, “Mahabbah membikin orang berucap, Haya’ membikin diam, dan Khauf membikin gentar”.

Sakar:Gejolak mabuknya hati sewaktu disebut Allah (Syaikh Abu Abdullah)

Wushul: terbukanya tabir hati dan menyaksikannya pada hal-hal yang diluar alam ini (alam dhohir) (Syaikh Abu Husein anNuriy)

Qona’ah: menerima cukup dengan yang ada tanpa keinginan berusaha memperoleh yang belum ada (Syaikh Abu Abdullah).

29 Juli 2012

Ajaran Tasawuf: Mahabbah, Syauq, Wushul, Qona’ah

oleh alifbraja

* Ajaran Tasawuf:  Mahabbah: kecenderungan kepada Allah secara paripurna, mengutamakan urusan-Nya atas diri sendiri, jiwa dan hartanya, sepakat kepada-Nya lahir dan batin, dengan menyadari kekurangan diri sendiri (Syaikh alMuhasibiy). Rabi’ah berkata: “Orang yang mahabbah kepada Allah itu tidak habis rintihan kepada-Nya sampai ia dipanggil ke sisiNya.

* Ajaran Tasawuf  Syauq: yaitu kerinduan hati untuk selalu terhubung dengan Allah dan senang bertemu dan berdekatan denganNya ( Abu Abdullah bin Khafif ). Sebagian Ulama’ berkata: ” Orang-orang yang Syauq merasakan manisnya kematian setelah dialami, sebab terbuka tabir yang memisahkan antara dirinya dengan Allah.

* Ajaran Tasawuf Unsu : tertariknya jiwa kepada yang dicintai ( Allah ) untuk selalu berada di dekatNya. ( Abu Sa’id al Karraz). Syeh Malik bin Dinar mengatakan, “Barangsiapa tidak unsu dengan muhadatsah kepada Allah, maka sedikitlah ilmunya, buta hatinya dan sia-sia umurnya.

* Ajaran Tasawuf Qurbun : dekat hatinya seseorang dengan Allah Ta’ala, sehingga dalam melakukan segala hal merasa selalu dilihat olehNya. Syeh Abu Muhammad Sahl mengatakan, “Tingkat paling rendah dalam tingkatan Qurb adalah rasa malu melakukan maksiat”

* Ajaran Tasawuf Haya’: Rasa malu dan rendah diri, demi mengagungkan Allah (Syaikh Syihabuddin), Syaikh dzun Nun alMisri mengatakan, “Mahabbah membikin orang berucap, Haya’ membikin diam, dan Khauf membikin gentar”.

* Sakar: Gejolak mabuknya hati sewaktu disebut Allah (Syaikh Abu Abdullah)

* Ajaran Tasawuf Wushul: terbukanya tabir hati dan menyaksikannya pada hal-hal yang diluar alam ini (alam dhohir) (Syaikh Abu Husein anNuriy)

* Ajaran Tasawuf Qona’ah: menerima cukup dengan yang ada tanpa keinginan berusaha memperoleh yang belum ada (Syaikh Abu Abdullah).

29 Juni 2012

Qutb para wali dan empu rahasia Ilahi

oleh alifbraja

Qutb para wali dan empu rahasia Ilahi

Ibnu Al-Khidr bercerita, “setiap kali aku menghadap Syaikh Abdul Qadir di musim dingin yang menusuk, aku selalu mendapatkan beliau hanya mengenakan satu helai baju dan peci (thaqiyah). Namun, keringat bercucuran dari badannya dan selalu ada yang mengipasinya seperti sedang dalam musim panas yang luar biasa teriknya”.
Syaikh Abu Thahir Muhammad bin Al-Hasan Al-Anshari menyatakan bahwa ia pernah mendengar syaikh Abu AbduLlah Muhammad Al-Quraisy menyatakan bahwa dirinya juga pernah mendengar dari Aba Rabii’ Sulaiman Al-Maliki menyatakan bahwa tuan (sayyid) zamannya adalah Syaikh Abdul Qadir yang telah mencapai tingkat yang tidak terlukiskan. Dan di dalamnya terdapat ilmu agung, dikumpulkan di dalamnya berbagai makna”,
Kemudian syaikh Aba Thahir berkata kepada Syaikh Al-Qurasyi, “Apakah Syaikh Abdul Qadir sayyid zaman ini ?”. “Benar” jawabnya. Kemudian ai meneruskan, “Diantara para wali Dialah yang paling tinggi dan sempurna. Diantara para ulama dia lah yang paling wara’. Dan diantara para ‘aarif beliau lah yang paling dalam dan sempurna pengetahuannya. Sedangkan diantara para syaikh, dia lah yang paling kuat”.
Pada suatu hari syaikh Abu Muhammad Al-Qasim bin Abdul Bashri ditanya tentang Khidir AS, beliau menajwab,”Pada suatu saat aku bertemu dengannya. ‘Ceritakan padaku kisahmu dengan para wali’. Pintaku kepadanya waktu itu. Beliaupun bercerita pada suatu hari aku lewat di laut mediterania. Tiba-tiba aku melihat seseorang tidur berselimut jubahnya dan terbetik dalam hatiku bahwa ia adalah seorang wali. Aku menghampirinya dan membangunkannya dengan kakiku. Dia terbangun dan berkata kepadaku, “Apa yang engkau inginkan ?”. ‘bangkitlah untuk berkhidmad’. Kataku kepadanya. “Pergi dan urus urusanmu sendiri”. Katanya kepadaku. Kemudian ia berkata, “Hai Khidir, siapakah aku ?”. akupun menyerahkan urusan ini kepada Allah dan berkata, ‘Tuhanku, aku adalah kepala para wali’. Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari langit, “Khidir, engkau adalah kepala orang-orang yang mencintai-Ku. Sedangkan yang ini adalah orang yang Aku cintai. “ Mendengar hal itu aku memohon kepadanya untuk mendoakanku. Dia menjawab, ‘Semoga Allah memberikan kebaikan yang berlipat ganda kepadamu”.
Akupun kembali berjalan dan menemukan seorang perempuan di puncak bukit pasir tertidur berselimut jubah. Aku berniat membangunkannya dengan kakiku sambil berkata dalam hati, “agaknya ini adalah isteri dari orang yang aku jumpai tadi”. Tiba-tiba terdengar suara, ‘Bersiakp sopanlah kepada orang-orang yang Kami cintai’. Pada waktu ashar, orang perempuan tersebut bangun. Setelah membaca doa, dia berpaling memandangku dan berkata, “Akan lebih baik jika engkau bersikap sopan kepadaku tanpa harus dilarang (oleh Allah) terlebih dahulu”. Dan dia mendoakan seperti doa suaminya.’
Setelah Nabi Khidir selesai bercerita, aku bertanya kepadanya, “Apakah orang-orang yang dicintai tersebut memiliki seorang pemimpin yang dipatuhi perintahnya ?”. ‘Ada’ Jawabnya. Aku kembali bertanya kepadanya, “Pada saat sekarang ini siapakah dia ?”. Khidr AS menjawab, ‘Dia adalah Syaikh Abdul Qadir. Dia lah afrad para golongan yang dicintai dan qutb para wali serta empu rahasia Ilahi’”