Arsip Penulis

7 Juni 2019

Hadis Abu Hurairah yang Hilang

oleh alifbraja

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

 

حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ

 

Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua bejana ilmu. untuk satu bejana sudah saya sampaikan kepada kalian. Untuk bejana yang kedua, andai saya sampaikan kepada kalian maka kepalaku akan dipenggal. (HR. Bukhari 120)

 

Dalam riwayat lain, orang-orang mengkritik Abu Hurairah,

 

أَكْثَرْتَ أَكْثَرْتَ

 

“Kamu terlalu banyak menyampaikan hadis.”

 

Lalu Abu Hurairah mengatakan,

 

فَلَوْ حَدَّثْتُكُمْ بِكُلِّ مَا سَمِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَرَمَيْتُمُونِي بِالْقَشْعِ ، وَلَمَا نَاظَرْتُمُونِي

 

Andai aku sampaikan semua yang pernah aku dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kalian  akan melempariku dan kalian tidak akan mendebatku. (HR. Ahmad 10959 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

 

Hadis Apa Yang Disembunyikan Abu Hurairah?

 

Hadis yang disembunyikan Abu Hurairah bukanlah hadis yang berkaitan tentang hukum. Tapi hadis yang berkaitan dengan fitnah dan kejadian di masa mendatang. Yang informasi ini sama sekali tidak mempengaruhi agama seseorang. Dalam arti, ketika orang itu tahu, tidak akan menambah ketaqwaannya kepada Allah. bahkan bisa jadi, jika masyarakat awam itu tahu, justru akan menimbulkan kekacauan di tengah mereka.

 

Seperti, besok akan terjadi pemberontakan, pembunuhan, si A membnuh si B, ada fitnah di Karbala, fitnah peperangan, dst.

 

Berita-berita fitnah ini, ketika hanya diketahui oleh orang yang berilmu maka akan berada di posisi aman. Namun jika dipegang orang bodoh, akan bisa membahayakan. Karena itulah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu merahasiakannya sampai beliau meninggal. Karena jika beliau sampaikan, bisa jadi beliau akan dibunuh.

Al-Qurthubi mengatakan,

 

قال علماؤنا : وهذا الذي لم يبثه أبو هريرة وخاف على نفسه فيه الفتنة أو القتل إنما هو مما يتعلق بأمر الفتن ، والنص على أعيان المرتدين ، والمنافقين ، ونحو هذا مما لا يتعلق بالبينات والهدى ، والله تعالى أعلم

 

Para guru kami mengatakan, “Ilmu yang tidak disebarkan Abu Hurairah dan beliau khawatir akan terkena fitnah dengannya atau bahkan dibunuh, adalah pengetahuan tentang masalah fitnah yang akan terjadi. Atau keterangan  tentang orang-orang yang murtad, nama-nama orang munafik. Dan ilmu semacam ini tidak ada kaitannya dengan keterangan agama dan petunjuk taqwa. Allahu a’lam.” (al-Jami’ Li Ahkam al-Quran, 2/186).

 

Keterangan semisal juga disampaikan al-Hafidz Ibnu Hajar,

 

حمل العلماء الوعاء الذي لم يبثه على الأحاديث التي فيها تبيين أسامي أمراء السوء وأحوالهم وزمنهم ، وقد كان أبو هريرة يكني عن بعضهم ولا يصرح به خوفا على نفسه منهم

 

Para ulama memahami bahwa hadis-hadis yang tidak disebarkan Abu Hurairah, adalah hadis yang menyebutkan tentang nama-nama pemimpin yang jelek, keadaan mereka dan kondisi zaman ketika pemimpin itu berkuasa. Abu Hurairah terkadang menyebutkan sebagiannya secara isyarat dan tidak beliau tegaskan, karena beliau khawatir akan menimbulkan kekacauan di masyarakat dan ancaman masyarkat kepadanya.

 

Lalu al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan pendapat yang lain,

 

وقال غيره : يحتمل أن يكون أراد مع الصنف المذكور ما يتعلق بأشراط الساعة وتغير الأحوال والملاحم في آخر الزمان ، فينكر ذلك من لم يألفه ، ويعترض عليه من لا شعور له به

 

Ulama lain mengatakan, kemungnkinan, yang dimaksud dengan ilmu yang disembunyikan adalah informasi terkait tanda-tanda kiamat. Terjadi perubahan besar dan kekacauan di akhir zaman. Sehingga jika disampaikan akan diinkari orang yang tidak bisa menerimannya, dan ditolak oleh orang yang tidak menyadarinya. (Fathul Bari, 1/216)

.Bukankah ini Menyembunyikan Ilmu?

 

Menyembunyikan ilmu dalam arti menyembunyikan kebenaran adalah sesuatu yang tercela. Bahkan ini karakter Yahudi. Allah berfirman menceritakan karakter Yahudi,

 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

 

“Orang-orang yang menyembunyikan keterangan dan petunjuk yang Kami turunkan, setelah kami jelaskan kepada umat manusia dalam al-Kitab, mereka itulah orang yang dilaknat Allah dan dilaknat semua yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159)

 

Namun yang dimaksud menyemnunyikan ilmu di sini adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah iman dan hukum, yang jika orang itu tidak tahu, dia akan terjerumus ke dalam kesesatan atau dia akan melanggar syariat.

 

Sementara menyembunyikan ilmu dan informasi agama yang tidak ada hubungannya dengan ketaqwaan, orang tidak tahu sekalipun, tidakan akan membat dia jadi sesat atau melanggar syariat, maka menyembunyikan ilmu semacam ini tidak tercela.

 

Sebagaimana yang dialami Hudzaifah bin al-Yaman. Beliaulah satu-satunya sahabat yang mengetahui daftar oranng munafik di Madinah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, hanya Hudzaifah satu-satunya sahabat yang tahu daftar orang munafik di Madinah. Namun sampai Hudzaifah meninggal, beliau tidak membocorkan pengetahuan itu kepada orang lain. Karena itulah Hudzaifah digelari, ‘Shohibu sirrn Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

 

Ketika ad-Dzahabi menjelaskan tentang sikap Abu Hurairah ini, beliau mengatakan,

 

هذا دال على جواز كتمان بعض الأحاديث التي تحرك فتنة في الأصول أو الفروع ، أو المدح والذم ، أما حديث يتعلق بحل أو حرام فلا يحل كتمانه بوجه ، فإنه من البينات والهدى

 

Sikap Abu Hurairah ini dalil bolehnya menyembunyikan hadis yang bisa menimbulkan fitnah di masyarakat, baik terkait prinsip atau masalah cabang, isinya pujian atau celaan. Adapun hadis yang terkait masalah halal-haram, jelas tidak boleh disembunyikan sama sekali. Karena ini bagian dari ilmu dan kebenaran. (Siyar A’lam Nubala, 2/597)

.Pengakuan Orang Sufi

 

Orag sufi mengklaim bahwa hadisnya Abu Hurairah adalah hadis tentang wihdatul wujud atau ilmu bathin yang hanya diwariskan kepada wali-wali sufi. Mereka tidak pernah belajar hadis, tapi ngaku punya hadisnya Abu Hurairah melalui ilmu bathin. Kata para ulama, alasan ini dalam rangka menghiasi kebodohan sufi terhadap ilmu agama, agar mereka terlihat berilmu.

 

Benarlah apa yang disampaikan Imam as-Syafii,

 

أسس التصوف على الكسل

 

Ajaran-ajaran sufi dibangun di atas prinsip malas. (Hilyatul Auliya, 9/137)

 

Dalam islam tidak ada pembagian ilmu bathin dan ilmu dzahir. Karena semua ilmu yang berkaitan dengan iman dan taqwa seseorang, wajib untuk disampaikan.

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil keterangan Ibnul Munayir,

 

قال ابن المنير : جعل الباطنية هذا الحديث ذريعة إلى تصحيح باطلهم ، حيث اعتقدوا أن للشريعة ظاهرا وباطنا ، وذلك الباطن إنما حاصلة الانحلال من الدين

 

Ibnul Munayir mengatakan, kelompok sufi bathiniyah menjadikan hadis Abu Hurairah ini sebagai alasan untuk membenarkan kesesatan mereka, di mana mereka meyakini bahwa syariat dibagi dua: lahir dan batin. Dan ilmu yang bathin itu, terpisah dari agama. (Fathul Bari, 1/216).

 

Keterangan lain disampaikan Syaikh Rasyid Ridha,

 

فجهلة المتصوفة يزعمون أن ما عندهم من علم الحقيقة هو من قبيل ما في الوعاء الآخر من وعاءي أبي هريرة ، وبعضهم يظن أن لشيوخهم سندا في تلقي علم الباطن ، ينتهي إلى بعض الصحابة أو أئمة آل البيت عليهم الرضوان . والذي عليه المحققون أن أبا هريرة يعني بما كتم من الحديث أحاديث الفتن

 

Orang bodoh di kalangan sufi menganggap bahwa ilmu batin yang mereka miliki itu bersumber dari bejana Abu Hurairah yang tidak beliau sampaikan. Sebagian mereka bahkan meyakini bahwa imamnya (tokoh sufi) memiliki sanad dalam menerima ilmu batin yang sampai kepada sebagian sahabat dan imam ahlul bait radhiyallahu ‘anhum.

 

Padahal yang dijelaskan para ulama ahli tahqiq, bahwa hadis yang disembunyikan Abu Hurairah adalah hadis-hadis tentang fitnah. (Tafsir al-Manar, 6/390).

.Ketika ad-Dzahabi menjelaskan tentang sikap Abu Hurairah ini, beliau mengatakan,

“Sikap Abu Hurairah ini dalil bolehnya menyembunyikan hadis yang bisa menimbulkan fitnah di masyarakat, baik terkait prinsip atau masalah cabang, isinya pujian atau celaan. Adapun hadis yang terkait masalah halal-haram, jelas tidak boleh disembunyikan sama sekali. Karena ini bagian dari ilmu dan kebenaran. (Siyar Alam Nubala, 2/597).”

 

Iklan
6 Juni 2019

Tanda-tanda Waliyullah Menurut Ibnu Athaillah

oleh alifbraja

Setiap rasul mengandung sifat kerasulan, kenabian, dan kewalian. Hanya saja setelah Nabi Muhammad SAW, sifat kenabian dan kerasulan tertutup. Pintu terbuka hingga kini adalah kewalian. Sifat kewalian ini yang masih melekat pada beberapa orang di tengah-tengah kita.

 

Kalau para nabi dan rasul bersifat makshum (terjaga dari maksiat), maka para wali Allah bersifat mahfuzh (selalu dalam bimbingan Allah baik dalam taat maupun dalam khilaf).

 

Syekh Ibnu Athaillah mengatakan bahwa Allah menyatakan sebagian wali-Nya dan menyembunyikan sebagian lain di tengah masyarakat. Tetapi semua wali-Nya menjadi tanda bagi masyarakat atas kehadiran-Nya.

 

قال رضي الله عنه سبحان من لم يجعل الدليل على أوليائه إلا من حيث الدليل عليه ولم يوصل إليهم إلا من أراد أن يوصله إليه

 

Artinya, “Mahasuci Allah yang tidak menjadikan tanda bagi para wali-Nya selain tanda yang menunjukkan ada-Nya. Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”

 

Lalu bagaimana kita dapat mengerti kehadiran wali Allah? Ini yang sulit. Pasalnya, para wali juga manusia biasa seperti hamba Allah lainnya. Hal ini tercantum pada keterangan Syekh Ibnu Abbad berikut ini.

 

وسمعته يقول يعنى شيخه أبا العباس رضي الله عنه يقول معرفة الولي أصعب من معرفة الله فإن الله معروف بكماله وجماله وحتى ومتى تعرف مخلوقا مثلك يأكل كما تأكل ويشرب كما تشرب وقال فيه وإذا أراد الله أن يعرفك بولي من أوليائه طوى عنك وجود بشريته وأشهدك وجود خصوصيته اهـ

 

Artinya, “Aku (Syekh Ibnu Athaillah) mendengarnya (maksudnya adalah gurunya), Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Mengenal wali lebih sulit dari mengenal Allah. Allah dapat dikenali dengan kesempurnaan dan keindahan-Nya. tetapi kapan kau bisa mengenali tanda wali, makhluk sepertimu. Ia makan sebagaimana kamu makan, ia minum sebagaimana kamu minum.’ Ibnu Athaillah berkata di Latha’iful Minan, ‘Kalau Allah menghendakimu kenal dengan salah satu walinya, Allah melipat unsur manusiawinya di matamu dan Allah memperlihatkanmu keistimewaannya,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 2).

 

Meskipun demikian, secara umum para wali dapat teridentifikasi. Minimal mereka mengandung tiga sifat berikut ini sebagaimana keterangan Syekh Zarruq.

 

ثم الولي يعرف بثلاث: إيثار الحق، والإعراض عن الخلق، والتزام السنة بالصدق

 

Artinya, “Tetapi waliyullah itu dapat dikenali dengan tiga tanda: mengutamakan Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang pada syariat Nabi Muhammad SAW dengan benar,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 133).

 

Meskipun Syekh Zarruq menyebutkan demikian, kita tetap sulit menunjuk hidung siapa wali Allah di tengah kita. Mereka beribadah sebagaimana kita. Mereka juga kadang berbuat khilaf seperti kita. Mereka berpakaian seperti kita. Mereka juga entah apa profesi kesehariannya. Hanya bedanya, mereka terjaga dari penyakit batin dan mereka menjaga adab kepada Allah saat berbuat taat maupun saat berbuat maksiat karena kuasa-Nya atas bimbingan-Nya.

 

Mereka sama sekali tak terduga. Karena sulitnya menentukan mereka, kita hanya bisa berlaku husnuzzhan (berbaik sangka) kepada setiap orang. Semoga dengan menghormati para kekasih Tuhan itu, kita dapat kelimpahan rahmat-Nya. Amiiin, ya Rabbal alamin. Wallahu a‘lam.

Wali adalah hamba-hamba yang dicintai oleh Allah Swt. Mereka diangkat menjadi wali bukan karena ibadah mereka ditujukan untuk itu, akan tetapi karena ketaatan dan keiklasannya dalam beribadah. Mereka melakukan ibadah semata-mata karena kesadaran sebagai hamba Allah. Maka mereka mengerti maqomat ubudiyah, dan mengerti ilmu ke-Tuhanan.

 

 

 

Dengan semakin meningkatnya mereka mengenal Allah maka mereka semakin sadar akan kehambaan mereka. Mereka adalah teladan bagi kita semuanya. Sifat-sifat mereka disebutkan oleh Allah dalam Al Quran (Yunus: 62-63):

 

 

 

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

 

 

 

“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, iaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa”

Ketahuilah bahwa Aulia (para Wali Allah), tidak punya rasa takut kecuali terhadap Allah ta’alaa, karena tidak sekedar kadar keimanannya, dan tidak pula setengah-setengah keimanan dan keyakinannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Tadhoru-nya, ibadahnya, syukurnya, roja’nya itulah yang menjadikan mereka sempurna dalam kehambaannya. Yang kedua mereka tidak mempunyai rasa takut selain pada Allah Swt, karena mereka itu adalah الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ , orang-orang yang beriman.Tidak sedikitpun mengambil atsar (merasa ada yang bisa member efek psoitif danalam mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan) dari sesuatu selain Allah. Beliau-beliau bisa membedakan mana dorongan nafsunya, mana dorongan imannya. Beliau-beliau tidak tertipu dengan nafsunya sendiri, apalagi oleh Syaithan,

 

Beliau-beliau sangat menjauhi kesyirikan, syirik kecilpun sangat mereka hindari. Misalkan disuatu subuh turun hujan, adzan berkumandang hingga sholat tidak ada yang keluar untuk berjamaah. Setelah selesai sholat dia ngomong; ‘subuh-subuh di undang sholat sama Allah malah pada tidur’. Tanpa dia sadari dia sudah terperosok pada syirik kecil, bangga dengan amalnya dan mengecilkan yang lain. Padahal yang lain ada yang bekerja hingga larut malam, ada yang sakit, berat untuk bangun subuh awal.

Nah para wali-wali Allah Swt tidak mungkin seperti itu. Para beliau paham mana dorongan nafsu dan mana dorongan kasih sayang atau niatan taat kepada Allah. Nafsu itu menurut imam Qusyairi ibara anak kecil, waktu masih kecil kencing sembarangan tetap lucu dan menggemaskan, membuat kita tertawa tetapi ketika makin tumbuh besar usia 6 tahun kencing sembarangan kan membuat ibunya marah.

Selanjutnya yang membuat mereka diangkat oleh Allah menjadi wali karena mereka selalu ingat pada Allah Swt. Nafsu itu jika dituruti akan terus meminta lebih. Jadi para wali-wali Allah sangat menjauhi ajakan nafsu itu.

 

Nah para wali Allah itu sendalnya saja tidak pernah maksiat apalagi kakinya, kalau kita kaki kita terperosok kejurang maksiat apalagi sendalnya. Itu pengandaian saja bagaimana beliau-beliau bisa menahan diri dari menuruti nafsu.

Para aulia menjaga matanya karena merasa disaksikan terus oleh Allah Swt, hatinya tidak pernah suudzon. Para wali-wali Allah bila lalai lupa sama Allah sekejap saja saja belia-beliau wajib taubat. Mata dan mulut itu yang pertam kali busuk saat orang meninggal dunia.

 

Kunci berikutnya adalah taat kepada orang tuanya, sekalipun orang tua kita bodoh, beda agama sekalipun selama memberitahukan yang baik, ya ikuti. Jangan mentang-mentang beda agama kita bertindak sembarangan. Walaupun beda agama orang tua yang melahirkan kita tetap harus kita hormati. Lebih-lebih seagama. Termasuk mertua sekalipun.

 

Lihat seperti kisah Uwaisy Al Qarny, kenapa beliau di angkat menjadi wali. Karena taatnya beliau pada orang tua samapai beliau itu hidup pada jaman Nabi tapi beliau tidak pernah bertemu dengan Nabi Saw, karena kesibukannya mengurus ibunya yang sakit, dan siangnya beliau menggembala kambing. Bahkan beliau pernah menggendong ibunya dari Yaman sampai baitillah Al Haram untuk melakukan ibadah haji. Ditempat yang lain Rasulullah Saw, mewasiatkan kepada Sahabat Abu Bakar untuk menyampaikan salam dan memberikan gamis dan mengamanatkan Sahabat Abu Bakar untuk memintakan doa dari Uwais. Bayangkan Rasulullah Saw sangat tawadhu’nya meminta doa dari Uwais, seoang makhluk paling utama, dan para penghulu dari para Nabi. Meminta doa yang hakikatnya untuk umat, karena beliau sendiri sudah lebih-lebih. Ini pelajaran untuk kita agar rendah hati.

 

Pada masa Sahabat Abu Bakar belum bisa ditemukan, dan amanat Rasulullah Saw itu baru bisa disampaikan pada masa Sahabat Umar menjadi Khalifah, beliau sendiri dan Sayidina Ali yang menyampaikan salam dan titipan Rasulullah Saw itu. Karena dalamnya ma’rifatnya Uwais Al Qarni beliau mengenal siapa saja yang datang menghapirinya; katanya: Asalam Alaik Umar bin Khatab amirul mukminin, asalam alaika Amirul Mukminin Arabi’ Ali bin Abi Thalib. Itu Karena dalamnya ma’rifatnya beliau padahal belum pernah saling bertemu. Karena taatnya pada orang tua Uwais kenal dengan Allah. Karena taatnya pada orang tua Uwais diangkat menjadi wali, bahkan sayid at tabiin. Karena taat dan hormatnya Uwais sampai mendapatkan gamisnya (pakaian) dari Rasulullah Saw Padahal tidak pernah bertemu Beliau SAW

 

Yang kedua adalah taat Uwais kepada gurunya yang mengenalkan dirinya kepada Allah Ta’alaa. Guru yang menuntuk menjauhkan dari kesyirikan. Mana yang menjadi sifat Allah dan mana yang bukan, dan guru yang mengenalkan pada mana yang halal dan mana yang haram. Dan beliau khidmah pada gurunya sehingga menjadi wali. Kita membaca dan mengaji tentang wali dalam kitab ini bukan untuk menjadi wali tapi untuk meniru mereka, dalam tingkah laku. Mudah-mudahan kita mendapatkan keberkahan doa belia-beliau, dan juga keturunan-keturunan kita semua. Inysa Allah doa yang kita mohonkan pada Allah pada akhir majlis akan di Ijabah oleh Alla Swt. Wallah A’lam.

6 Juni 2019

Ayat yang Membuat Rasulullah Menangis

oleh alifbraja

Dikisahkan oleh Ibnu Mas’ud, seorang sahabat yang memiliki keakraban khusus dengan manusia pilihan itu.

 

Lelaki bernama Abdullah bin Mas’ud itu juga dikenal sebagai satu dari empat sahabat Nabi Saw. yang memiliki kecakapan dalam membaca Al-Quran. Tiga lainnya adalah Salim Maula Abi Huzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Muaz bin Jabal.

 

Suatu ketika dikisahkan, Rasulullah Saw. pernah meminta Ibnu Mas’ud membacakan ayat-ayat Al-Quran. Permintaan ini tentu saja membuat Ibnu Mas’ud heran, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (layak) saya membacakan Al-Quran untukmu sementara ia diturunkan kepadamu?”

 

“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku,” sahut Baginda Nabi Saw.

 

Mendengar itu, Ibnu Mas’ud pun membacakan Surat An-Nisa. Namun, Rasulullah Saw. tiba-tiba meminta Ibnu Mas’ud berhenti ketika sampai pada ayat:

 

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

 

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu),” (QS. An-Nisa’: 41).

 

Rasulullah Saw. berkata, “Cukup.”

 

Seketika Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya, lalu ia menoleh ke wajah Rasulullah Saw. Dan betapa terkejutnya Ibnu Mas’ud saat melihat wajah Rasulullah Saw. basah dengan cucuran air mata.

 

,…,…,……………,………..,………………..,………..

 

Kisah saat Rasulullah menangis di malam hari yang membuat Siti Aisyah menjadi bingung.

======

Siti Aisyah pernah bercerita bahwa di tengah malam, Rasulullah SAW pernah bangun. Dia menemuinya dan mengatakan: “Hai Aisyah, izinkanlah saya beribadah kepada Tuhanku.”

Aisyah berkata, “Ya Rasulullah, aku senang engkau dekat denganku. Tetapi aku juga lebih senang jika engkau beribadah kepada Tuhanmu.”

Lalu Rasulullah SAW mengambil gharibah (wadah air), satu-satunya perkakas rumah tangga di rumahnya untuk berwudhu dan menunaikan ibadah salat.

Siti Aisyah bercerita, segera saja setelah Rasulullah SAW mengangkat tangannya takbiratul ihram, ketika dia memasuki surat yang dibacanya, Rasulullah menangis terisak-isak.

Usai sholat, ketika Bilal memberitahukan bahwa sesaat lagi akan masuk waktu subuh, Rasulullah SAW masih terisak-isak menangis.

 

Bilal bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian?” Waku itu Rasululah SAW menjawab, “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Pada malam ini turun satu ayat suci Alquran. Celakalah orang yang membaca ayat Alquran ini, tetapi tidak merenungkan maknanya.”

Kemudian Rasulullah membacakan ayat: “Sesungguhnya dalam penciptaan angit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS 3:190).

Nabi SAW mengajarkan kepada kita bagaimana cara melakukan salat malam.

Pertama, ketika salat malam, sholatlah dua rakaat, karena Rasululah SAW paling sering melakukan sholat malam dua rakaat-dua rakaat (matsna-matsna).

Sesudah empat kali dua rakaat (berarti delapan rakaat), anda lakukan sholat dua rakaat lagi yang disebut dengan salat syafa’.

Pada rakaat pertama, dan baca Surah Al-Fatihah dengan Al-Kafirun, dan pada rakaat yang kedua, Anda baca Surah Al-Fatihah dengan Al-Ikhlash.

Kemudian tunaikanlah salat witir satu rakaat.

Bacalah Surah Al-Fatihah, Al-Falaq dan Surah An-Nas. Kemudian bacalah istighfar sebanyak tujuh puluh kali (astaghfi rullaha rabbi wa atubu ilaih). Aku memohon ampun kepada Allah Tuhanku dan kembali kepada-Nya.

Usai istighfar, sebelum rukuk bacalah doa: “Hadza maqamul ‘aidzi bika minannar” (Ya Allah, inilah saya yang berlindung kepada-Mu dari api neraka) sebanyak tujuh kali.

Setelah itu mohonkanlah ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat. Sebut nama mereka satu per satu. Paling sedikit empat puluh orang. Ucapkanlah rabbighfirli .. wa, .. dan seterusnya. Kemudian kita berdoa apa saja.

Lalu kita rukuk, iktidal, sujud, tasyahud dan seterusnya.

Rasulullah SAW hanya memperpanjang sholatnya pada saat beliau menunaikan ibadah salat malam.

Pada sholat fardhu, beliau tidak melazimkan sholat yang panjang.

Dalam sebuah hadist qudsy disebutkan ada empat tanda orang-orang yang diterima salatnya.

Pertama, dia datang untuk melaksanakan salat dengan merendahkan diri kepada-Nya. Kedua, tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Ketiga, tidak mengulangi lagi maksiatya kepadaAllah SWT. Keempat, menyayangi orang-orang miskin.

Artinya, kalau seeorang menemukan empat tanda-tanda di atas, insya Allah dia akan menemukan ke nikmatan salat dalam bentuk yang lan.

Dia merasakan manfaat di dalam kehidupannya. Ada kenikmatan tertentu yang dia peroleh dari ibadah salatnya. Bukan hanya kenikmatan menangis, tetapi juga kenikmatan yang lain.

(Sumber : Renungan-renungan Sufistik oleh Jalaluddin Rakhmat)

 

 

 

 

17 Agustus 2013

SUMBER ILMU

oleh alifbraja
Tafsir Surat Al Alaq Ayat 1-5
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Tentang Turunnya Ayat
Ayat ini adalah ayat yang pertama kali di turunkan kepada Rasulullah saw menurut sebagian besar ulama tafsir. Surat ini diturunkan kepada Nabi saw melalui malaikat Jibril as pada saat nabi sedang berada di gua Hira. Pada awalnya Jibril mengajarkan Nabi saw untuk menghafal lima ayat dari surat ini.

Pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra[1] bahwa wahyu yang pertama ditunjukkan kepada Nabi saw adalah ru’ya shadiqah (mimpi yang benar) datangnya malaikat kepada beliau dan membaca 5 ayat ini.
Pendapat lain mengatakan bahwa yang diturunkan pertama kali adalah surat al mudatsir[2]. Ada pula yang berpendapat bahwa yang pertama kali diturunkan adalah surat al fatihah.[3] Namun menurut as suyuthi[4] pendapat pertamalah yang benar, kemudian beliau mengemukakan alasan-alasannya.
Keutamaan Ayat
Permulaan ayat yang diturunkan kepada Rasulullah saw ini  memberikan dalil bahwa Allah adalah sumber segala sumber ilmu serta  memberikan penilaian tertinggi akan pentingnya membaca dan menulis bagi ummat Islam. Hingga pada saatnya Beliau saw dengan pengajarannya memalingkan wajah kehidupan manusia dari kejahiliyahan khamar, maisir, menumpuk-numpuk harta dengan segala macam cara, dusta dalam berniaga serta syahwat wanita dan kekuasaan kepada kerja besar membangun peradaban dunia yang modern dengan kekuasaan yang berkeadilan, penghormatan akan hak laki-laki dan perempuan, serta kecintaan akan kebaikan yang sesuai fitrah kemanusiaan. Nilai-nilai yang bahkan hingga saat ini menjadi pertanyaan besar bagi budaya materialis yang kering kerontang dari nilai.
Muhammad Abduh[5] menggambarkan dalam tafsirnya betapa pentingnya ayat ini bagi ummat Islam,
فَإنْ لَمْ يَهْتَدُ المُسْلِمُونَ بِهَذَا الهُدَى وَ لَمْ ينبههم النظر فيه الى النهوض الي تمزيق تلك الحجب التى حجبت عن أبصار هم نور العلم و كسر تلك الأبواب التى غلقها عليهم رؤساؤهم و حبسوهم بها في ظلمات من الجهل و إن لم يسترشدوا بفاتحة هذا المكتاب المبين و لم يستضيئوا بهذا لبضياء الساطع فلا أرشدهم الله أبدا
Jika ummat Islam tidak mendapat petunjuk dengan ayat ini dan tidak memperhatikan jalan-jalan untuk maju, merobek segala macam hijab yang menutup penglihatan mereka selama ini terhadap cahaya ilmu pengetahuan atau memecahkan pintu yang selama ini terkunci sehingga mereka terkurung dalam bilik kegelapan, sebab dikunci erat-erat oleh para pemimpin mereka sampai mereka meraba-raba dalam kegelapan kebodohan. Kalau ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati mereka, niscaya tidaklah mereka akan bangkit (mencapai kejayaan) lagi selama-lamanya.
               
Sumber Ilmu dalam al Qur’an
Berbeda dengan berbagai pemikiran filsafat, Islam menegaskan bahwa Allah adalah sumber ilmu dan kebenaran. Pada ayat-ayat ini Allah menegaskan bahwa dirinya adalah Rabb, pencipta serta pengajar manusia hal-hal yang tidak mereka ketahui.
Allah memerintahkan manusia untuk membaca dengan menyebut nama-Nya. Membaca adalah pembuka cakrawala ilmu pengetahuan. Melalui membaca kegelapan kebodohan akan menjadi terang benderang karena pengetahuan & rahasia-rahasia yang terselubung akan terungkap.
Maha suci Allah yang memerintahkan manusia untuk menyebut nama-Nya ketika membaca, karena Dia lah sumber segala bahan bacaan, Dia lah pencipta semesta. Dengan demikian segala proses membaca — pendekatan, observasi, penelitian dan uji coba —  untuk menjalani kehidupan di dunia adalah karena hakikat yang tak terbantahkan manusia yaitu Allah. Inilah iman, ketika kita meyakini bahwa segala sesuatu bermula, berjalan, tertuju dan kembali kepada-Nya.
Sayyid Quthb berkata,[6]توجه الرسول- صلى الله عليه وسلم- أول ما توجه، في أول لحظة من لحظات اتصاله بالملأ الأعلى، وفي أول خطوة من خطواته في طريق الدعوة التي اختير لها..توجهه إلى أن يقرأ باسم الله” surat ini mengarahkan Rasulullah saw untuk pertama kalinya, pada detik pertama di antara saat-saat hubungannya dengan Sang Penguasa Tertinggi serta pada langkah awal diantara langkah-langkahnya meniti jalan da’wah yang dirinya dipilih untuk mengembannya itu dengan mengarahkannya membaca dengan menyebut nama-Nya.
Inilah awal mula perubahan besar dalam peradaban manusia, pada saatnya kelak sejarah yang menjadi romantisme milik para raja-raja dan bangsawan itu mencatatkan kegemilangan pembangunan peradaban dunia yang modern namun kaya akan nilai-nilai spiritual. Dan itu semua dimulai oleh gerakan yang dipelopori seorang nabi yang ummi dan sekelompok kecil sahabatnya yang miskin dan tertindas pada masa itu. Karena mereka melandasi langkah-langkahnya dengan menyebut nama Allah.
Bacalah dengan menyebut nama Allah, perintah ini mengisyaratkan pula bahwa antara ilmu pengetahuan dan keimanan kepada Allah haruslah seiring.  Dr. Yusuf al Qaradhawi[7] menegaskan pula pandangan ini, bahwa iman adalah pembungkus ilmu “أن العلم في الإسلام إنما هو علم في حضانة الإيمان، فالعلاقة بينهما علاقة التواصل والتلاحم ، لا التقاطع والتنافر ، علاقة التكامل، لا علاقة التعارض.”  Ilmu dalam Islam terbungkus oleh keimanan, hubungan antara keduanya merupakan hubungan langsung dan senyawa, bukan hubungan yang terputus dan terpisah, juga merupakan hubungan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan.
Sebagai pencipta segala sesuatu, maka Allah adalah Zat pemilik seluruh pengetahuan tentang ciptaan-Nya. Demikian Sayyid Quthb[8] menegaskan dalam tafsirnya,
والله هو الذي خلق. وهو الذي علم. فمنه البدء والنشأة، ومنه التعليم والمعرفة.. والإنسان يتعلم ما يتعلم، ويعلم ما يعلم.. فمصدر هذا كله هو الله الذي خلق والذي علم.
Dialah Allah yang mencipta dan yang mengajarkan. Dari-Nyalah permulaan dan pertumbuhan. Dari-Nyalah pengajaran dan ilmu pengetahuan. Manusia bisa mempelajari apa yang dipelajarinya dan mengajarkan apa yang diajarkannya, namun sumber semuanya adalah Allah yang menciptakan dan mengajarkan.
Sa’id Hawwa mengutip perkataan al wasithy[9] tentang  makna kalimat rabb yaitu “هو الخالق ابتداءً و المربّي غذاءً و الغافر أنتهاءًRabb adalah Pencipta pada mulanya, Pemelihara setelah itu dan Pengampun pada akhirnya.
Dengan demikian sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengampun, Dialah sumber awal segala ilmu, karena-Nyalah pengetahuan manusia meningkat secara bertahap. Lihatlah bagaimana pemberitahuan Allah atas penglihatan manusia yang terbatas tentang gunung yang disangkanya diam,
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” An naml 88
Demikian pula koreksi Allah atas fatamorgana kehidupan dunia yang menipu yang manusia sangka adalah hakikat,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” Fathir 5
Karunia Allah atas Manusia
Ayat-ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah telah memuliakan manusia dengan berbagai karunia yaitu, menjadikannya ciptaan yang sempurna dan berakal, berlaku lemah lembut serta memuliakannya dengan melimpahkan kepada manusia ilmu pengetahuan.
Al Qurthubi[10] menjelaskan bahwa maksud penyebutan manusia yang diciptakan dari ‘alaqah adalah wujud karunia Allah kepada manusia.  “أَرَادَ أَنْ يُبَيِّنَ قَدْرَ نِعْمَتِهُ عَلَيْهِ، بِأَنْ خَلَقَهُ مِنْ عَلَقَةٍ مَهِينَةٍ، حَتَّى صَارَ بَشَرًا سَوِيًّا، وَعَاقِلًا مميزا” menjelaskan kadar kenikmatan yang diberikan kepada manusia. Dari segumpal darah yang hina, kemudian menjadi manusia yang sempurna, berakal sempurna.
Lebih lanjut al Qurthubi[11] mengutip pendapat al kalby yang menjelaskan bahwa makna kata al akram adalah berasal dari kata al Haliim “الْحَلِيمُ عَنْ جَهْلِ الْعِبَادِ، فَلَمْ يُعَجِّلْ بِعُقُوبَتِهِمْ” yaitu lemah lembut terhadap ketidak tahuan hamba-Nya, hingga mereka tidak disegerakan hukumannya ketika melakukan kesalahan.
Karunia Allah selanjutnya adalah Allah melimpahkan pengetahuan kepada manusia dengan mengajarkan manusia segala yang tidak diketahuinya melalui ilmu penulisan. Al Qurthubi[12] menuliskan dalam tafsirnya tentang keutamaan menulis, “وَلَوْلَا هِيَ مَا اسْتَقَامَتْ أُمُورُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا” tidak bisa tidak bahwa segala perkara kehidupan agama dan dunia tegak diatasnya.

Jika membaca merupakan pembuka cakrawala ilmu pengetahuan maka menulis adalah pengunci pengetahuan tersebut agar tidak hilang dan menjadi dasar pengembangan keilmuan selanjutnya. Bahkan ilmu pengetahuan itu akan bertambah-tambah jika di amalkan, sebagaimana sebuah atsar yang diriwayatkan dari Abdul Wahid bin Zaid,[13] ia berkata,”
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لَا يَعْلَمُ” barang siapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akam bukakan baginya apa-apa yang belum diketahuinya.
Demikianlah ayat-ayat yang diturunkan pertama kali ini merupakan pemberitaan besar akan hakikat Sang Penguasa Tertinggi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Ia melimpahkan kasih sayangnya kepada manusia berupa pengajaran ilmu pengetahuan agar mereka selamat menjalani kehidupannya, yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai hamba dan khalifah-Nya.
Hasbunallah wa ni’mal wakil


[1] Lihat Al Bukhari : Shahih al Bukhari, Daar Thuuq an Najah, 1422 H, Juz 1, hlm 7 Lihat pula Muslim : Shahih Muslim, Beirut: Daar Ihya at Turats al ‘Arabi, tt, Juz 1, hlm 139.
[2] Lihat  Shahih al Bukhari, Juz 1, hlm 7. Lihat pula Shahih Muslim, Juz 1, hlm 143.
[3] Abu Bakar al Baihaqi: Dalaail an Nubuwwah, Beirut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1405 H, Juz 2, hlm 156.
[4] Lihat As Suyuthi : al Itqan fi Ulum al Qur’an, al Haiah al Mishriyah al A’mmah lil Kitab, 1394 H, Juz 1, hlm 91-100.
[5] Muhammad Abduh : Tafsir al Qur’an al Karim (juz ‘amma), Mesir : Mathba’atu Mishr, 1341 H, hlm 124.
[6]Sayyid Quthb : Fi Dzilal al Qur’an, Beirut : Daar asy Syuruq, 1412 H, jilid 6, hlm 3938.
[7]Dr. Yusuf al Qaradhawi : al Hayat ar Rabbaniyyah wal ‘Ilm, Qahirah : Maktabah Wahbah, 1416 H, hlm 54.
[8] Fi Dzilal al Qur’an, hlm 3939.
[9] Sa’id Hawwa : al Asas fi Tafsir, Daar as Salam : Yordania, 1405 H, Jilid 1, hlm 41.
[10]Syamsuddin al Qurthubi : al Jami’ li Ahkam al Qur’an, Qahirah : Daar al Kutub al Mishriyyah, 1384 H, Juz 20, hlm 119.
[11] idem
[12]ibid, hlm 120.
[13] Abu Na’im al Ashbahany: Hilyatul Auliya wa Thobaqot al Ashfiya,  Beirut: Daar al Kitab al ‘Araby, 1394 H, juz 6, hlm 163
24 April 2013

NASAB NABI MUHAMMAD SAW

oleh alifbraja

Dalam Kitab al Barzanji (judul aslinya “al ‘Aqdul Jauhar Fii Maulidinna

biyyil Azhar”) karya: Assayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Kariem bin Muhammad bin Rasul bin Abdussayyid al Barzanji, lahir tahun 1126 H, wafat tahun 1177 H
ditulis sebagai berikut: وَبَعْدُ فَأَقُوْلُ هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ، حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةُ، اِبْنِ هَاشِمٍ وَاسْمُهُ عَمْرُو بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَاسْمُهُ الْمُغِيْرَةُ الَّذِيْ يَنْتَمِي الْإِرْتِقَاءُ لِعُلْيَاهُ، اِبْنِ قُصَيٍّ وَاسْمُهُ مُجَمِّعٌ سُمِّيَ بِقُصِيٍّ لِتَقَاصِيْهِ فِيْ بِلَادِ قُضَاعَةَ الْقَصِيَّةِ إِلَى أَنْ أَعَادَهُ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْحَرَمِ الْمُحْتَرَمِ فَحَمَى حِمَاهُ اِبْنِ كِلَابٍ وَاسْمُهُ حَكِيْمٌ، اِبْنِ مُرَّةَ، اِبْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ وَاسْمُهُ قُرَيْشٌ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ الْبُطُوْنُ الْقُرَشِيَّةُ وَمَا فَوْقَهُ كِنَانِيٌّ كَمَا جَنَحَ إِلَيْهِ الْكَثِيْرُ وَارْتَضَاهُ، اِبْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ اِلْيَاسَ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ أَهْدَى الْبُدْنَ إِلَى الرِّحَابِ الْحَرَمِيَّةِ وَسُمِعَ فِيْ صُلْبِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى وَلَبَّاهُ، اِبْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ وَهَذَا سِلْكٌ نَظَمَتْ فَرَائِدَهُ بَنَانُ السُّنَّةِ السَّنِيَّةِ Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihii wasallam:
bin Sayyid Abdullah
bin Abdul-Muth¬thalib (namanya Syaibatul Hamdi)
bin Hasyim (yang namanya Amr)
bin Abdu Manaf ( namanya Al-Mughirah)
bin Qushayy (namanya Mujammi’)
bin Kilaab (namanya Hakiem)
bin Murrah
bin Ka’b
bin Lu’ayy
bin Ghaa¬lib
bin Fihr ( namanya Quraisy dan menjadi cikal bakal nama suku Quraisy)
bin Maalik
bin An-Nadhr
bin Kinaanah
bin Khuzaimah
bin Mudrikah
bin Ilyaas
bin Mudhar
bin Nizaar
bin Ma’add
bin Adnaan Nasab berikutnya sebagaimana dalam kitab Tahqiiqul Maqaam ‘Alaa Kifaayatil ‘Awaamm Fii ‘Ilmil Kalaam, karya Syeikh Ibrahim al Baajuuri (lahir tahun 1198 H, wafat tahun 1277 H) halaman 85, cetakan al Ma’aarif Bandung: وَقَدْ ذَكَرَ الْعِرَاقِيُّ أَصَحَّهَا فِيْ أَلْفِيَةِ السِّيْرَةِ
وَحَاصِلُهُ أَنَّ عَدْنَانَ بْنُ أُدّ بْنِ أُدَدْ بْنِ مُقَوَّمِ بْنِ نَاحُوْرِ بْنِ تَيْرَخْ بْنِ يَعْرُبْ بْنِ يَشْجُبْ بْنِ نَابِتِ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ (عَلَيْهِمَا السَّلَامُ)
اِبْنِ تَارَخْ بْنِ نَاحُورْ بْنِ شَارُوخْ بْنِ أَرْغُوْ بْنِ فَالَخْ بْنِ عَيْبَرْ قَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ سَيِّدُنَا هُوْدٌ (عَلَيْهِ السَّلَامُ)
اِبْنِ شَالَخْ بْنِ أَرْفَخْشَدْ بْنِ سَامْ بْنِ نُوْحٍ (عَلَيْهِ السَّلَامُ) وَاسْمُهُ عَبْدُ الْغَفَّارِ
اِبْنِ لَامَكْ بْنِ مَتُّوْ شَلْخَ بْنِ خَنُوخْ قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ إِنَّهُ إِدْرِيْسُ فِيْمَا يَزْعُمُوْنَ
اِبْنِ يَرْدَ بْنِ مَهْلَايِيْلَ بْنِ قَيْنَنْ بْنِ يَانُشْ بْنِ شِيْثٍ (عَلَيْهِ السَّلَامُ)
اِبْنِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ. (Adnan)
bin Udd
bin Udad
bin Muqawwam
bin Naahuur
bin Tairakh
bin Ya’ruub
bin Yasyjub
bin Naabit
bin Nabi Isma’il ‘alaihissalaam
bin Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam
bin Taarakh
bin Naahuur
bin Syaaruukh
bin Arghuu
bin Faalakh
bin ‘Aibar (ada yang mengatakan beiau adalah Nabi Hud ‘alaihissalaam)
bin Syaalakh
bin Arfakhsyad
bin Saam
bin Nabi Nuh ‘alaihissalaam
bin Laamak
bin Mattuusyalkha
bin Khanuukh (ada yang mengatakan beliau adalah Nabi Idris ‘alaihissalaam)
bin Yard
bin Mahlaayiil
bin Qainan
bin Yaanusy
bin Nabi Syits ‘alaihissalaam
bin Nabi Adam ‘alaihissalaam Wallaahu A’lam

23 April 2013

makna dari ayat berikut, “Tuhan akan memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki dan akan menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki”?

oleh alifbraja

Pada beberapa masalah dalam Al-Quran al-Karim, Tuhan Yang Maha Tinggi mengetengahkan tentang persoalan hidayah dan kesesatan dengan penjelasan yang berbeda.

Sebelumnya penting untuk diperhatikan bahwa sebagian dari ayat-ayat al-Quran tidak bisa menafsirkan dan mengambil kesimpulan secara sendiri, melainkan untuk memahami makna hakikinya harus menggunakan peran ayat-ayat yang lain.

Berikut ini adalah beberapa ayat yang serupa:

Pada surah an-Nahl (16) ayat ke 93, Tuhan berfirman, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Pada surah al-Kahf (18) ayat ke 17, berfirman, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

Sedangkan surah al-A’raf (7) ayat ke 286, berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan, maka ia tidak memiliki orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kezaliman mereka.”

Demikian juga pada surah al-Zumar (35) ayat ke 36-37, Tuhan berfirman, “Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?”

Pada tafsir Al-Mizan ketika menjelaskan tentang ayat ke 93 dari surah An-Nahl (16), Alamah Thabathabai Ra berkata, “Maksudnya adalah bahwa Tuhan mampu menciptakan seluruh manusia dalam satu tingkatan dari sisi hidayah dan kebahagiaan. Sedangkan yang dimaksud dengan disesatkannya sebagian dan diberinya petunjuk pada sebagian yang lain bukanlah petunjuk dan kesesatan yang telah ditentukan sejak awal, melainkan merupakan kesesatan dan petunjuk yang bersifat imbalan dan konsekuensi, karena seluruh mereka, baik yang terhidayahi maupun yang tersesat, pada awalnya memiliki hidayah. Orang yang akan disesatkan oleh Tuhan adalah mereka yang memilih jalan kesesatannya sendiri, yaitu mereka yang melakukan maksiat dan tidak menyesali tindakannya, sedangkan orang yang dihidayahi oleh Tuhan adalah mereka yang tidak kehilangan hidayah fitrinya dan menapakkan langkahnya berdasarkan hidayah fitri tersebut, atau senantiasa berada dalam ketaatan, atau jikapun ia melakukan dosa dan maksiat, maka dia akan kembali ke jalan yang lurus dan kembali kepada sunnah Ilahi yang tidak akan mengalami perubahan.

Pada dasarnya ayat yang berbunyi, “Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”, merupakan sebuah kalimat untuk menghilangkan sangkaan yang mungkin saja akan muncul dalam benak manusia yaitu bahwa keberadaan hidayah dan kesesatan di tangan Tuhan akan membatalkan dan menghilangkan kebebasan manusia, selanjutnya dengan batalnya kebebasan ini maka persoalan kenabian dan risalah pun akan menjadi batal. Untuk menghilangkan sangkaan seperti ini maka jawabannya adalah, tidak, masalah ikhtiar dan kebebasan masih tetap ada, dan keberadaan hidayah serta kesesatan di tangan Tuhan tidak akan membatalkan kebebasan kalian, karena Tuhan tidaklah menetapkan kesesatan dan hidayah ini sejak awal, kesesatan yang diberikan oleh-Nya merupakan imbalan, yaitu seseorang yang menginginkan kesesatan untuk dirinya sendiri maka dia akan mendapatkannya, demikian juga seseorang yang menghendaki petunjuk dan hidayah, maka dia akan melangkah dalam hidayah, dan kesimpulannya adalah apapun yang kalian kehendaki, maka Tuhan akan membantunya dan Dia akan melangkah lebih awal dalam apa yang kalian pilih.”[1]

Keberadaan ayat-ayat al-Quran adalah saling menyempurnakan dan sebagian ayat akan menafsirkan ayat yang lainnya, di sini Tuhan yang berfirman, “Dia akan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya”, tak lain adalah Tuhan yang berfirman, “Allah akan menyesatkan orang-orang yang tersesat”[2], dan tak beda dengan Tuhan yang berfirman, “Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu”[3], atau berfirman, “Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir.”[4]

Dengan demikian benar apabila dikatakan bahwa Tuhan akan menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki, akan tetapi yang harus diketahui di sini adalah hamba seperti apakah yang terancam dalam kesesatan ini?

Tuhan hanya akan menyesatkan orang-orang yang zalim, pendusta, fasik, berlebih-lebihan, kafir, dan mereka yang tidak mentaati perintah-Nya. Jadi mukadimah dan pendahuluan dari penyesatnya Tuhan sebenarnya berada di tangan hamba-Nya itu sendiri. Demikian juga halnya dalam kaitannya dengan hidayah, dalam masalah inipun terdapat syarat-syaratyang harus terpenuhi. Jika Tuhan berfirman, “memberikan petunjuk kepada siapa yang dihendaki” hal ini dengan artian bahwa Dia akan memberikan petunjuk dan hidayah kepada siapapun yang dihendaki-Nya. Terdapat pula ayat-ayat yang membahas tentang syarat-syarat hidayah, di antaranya dalam salah satu ayat yang berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.”[5], sementara di tempat lain berfirman, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik”, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir”, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada mereka yang merencanakan penghianatan”, … yaitu Tuhan akan menafikan hidayah-Nya bagi mereka yang tidak berada dalam posisi terhidayahi.

Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa orang-orang yang shaleh dan bertakwa sama sekali tidak layak untuk tersesat dan mereka yang membangkang sudah pasti tidak akan layak untuk mendapatkan hidayah. Memaparkan poin berikut ini menjadi urgen bahwa penyajian metode berada dalam tanggung jawab Pencipta, sedangkan pelaksanaan dan kewajibannya berada di tangan makhluk, yaitu untuk mengambil jalan yang telah ditunjukkan kepadanya supaya sampai pada tujuan yang sesungguhnya, dan jika tidak demikian, apabila dia menyimpang dari jalannya dan hasilnya adalah pembangkangan, maka tanggung jawabnya berada di tangannya sendiri. Dalam al-Quran al-Karim Tuhan berfirman, “Allah menyeru (manusia) ke Dârus Salâm (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”[6], yaitu Tuhan memanggil seluruh ciptaan-Nya untuk menuju ke bumi kebahagiaan dan keselamatan. Demikian juga Dia berfirman, “Siapapun yang berkehendak, maka dia bisa memilih jalan Tuhannya, dan akan memperoleh kecenderungan dan kedekatan untuk mendatangi Kami dan Kami akan membimbing dan memberikan hidayah kepadanya”. Dan jika tidak demikian, mereka yang tidak memiliki keinginan dan kecenderungan untuk ke arah-Nya, menyimpang dari jalannya yang hak, dan tidak beriman kepada ayat-ayat, rasul-Nya, dan hari kiamat, maka dia akan termasuk dalam golongan ayat berikut, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka sesungguhnya dia tidak berdosa). Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah akan menimpanya dan baginya azab yang besar.”[7]

Jika kita cermati ayat-ayat di atas maka tidak akan tersisa sedikitpun keraguan bahwa Tuhan memberikan kebebasan, ikhtiar dan kemandirian kepada semuanya, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan (yang lurus) kepadanya; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”[8]

Dan kesimpulannya adalah bahwa Tuhan tidak akan memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang zalim, pendusta, dan orang-orang yang menyimpang, karena sesungguhnya kelompok ini telah berada dalam kesesatan yang nyata, dimana Tuhan berfirman, “Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah tersesat, dalam kesesatan yang nyata.”[9], jadi orang yang tidak taat kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dan berada dalam kesesatan yang nyata. Dengan demikian bagi mereka yang berhak untuk mendapatkan hidyah maka Tuhan akan menunjukkan jalannya ke surga dan tidak ada seorang pun yang akan mampu menyesatkannya, dan bagi mereka yang berhak untuk mendapatkan siksa dan terseret ke dalam api neraka, tidak akan ada seorangpun yang akan mampu menjaganya dari siksaan adzab ini. Akan tetapi baik mereka yang berhak mendapatkan adzab ataupun mereka yang berhak mendapatkan pahala, pilihan tersebut pada awalnya telah diserahkan di tangan manusia.

Jika seseorang menjadi zalim, maka Tuhan tidak akan memberinya petunjuk, berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang zalim”, dan jika seseorang berada dalam ketakwaannya maka Tuhan akan memberikan hidayah kepadanya, sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu (kekuatan) pembeda (antara yang hak dan yang batil di dalam hatimu), menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu.”[10]

Oleh karena itu memilih jalan yang baik ataupun yang buruk, sejak awal telah berada di dalam kewenangan kita dan hakikat ini diterima oleh kalbu setiap manusia yang manapun.

 


[1]. Al-Mizân, Alamah Thabathabai, Muhammad Husein, jil. 12, hal. 48 pada penjelasan ayat ke93 surah an-Nahl, dengan terjemahan bahasa Persia.

[2]. Qs. Ibrahim (14): 27.

[3]. Qs. Al-Ghafir (50): 34.

[4]. Qs.Al-Ghafir (50): 74.

[5]. Qs. Al-Ankabut (29):69.

[6]. Qs.Yunus (10):25.

[7]. Qs. An-Nahl (16): 106.

[8]. Qs. Ad-Dahr (76): 3.

[9]. Qs. Al-Ahzab (33): 36.

[10]. Qs. Al-Anfal (8): 29.

23 April 2013

Mengapa Tuhan tidak menggunakan mukjizat untuk mencegah terbunuhnya Imam Husain As?

oleh alifbraja

Tidak diragukan bahwa alam semesta merupakan ciptaan dan makhluk Tuhan. Pengaturan semesta berada di bawah kehendak dan pelbagai sunnah Ilahi. Tuhan adalah Penyebab segala sebab yang ada. Artinya Dia berdasarkan satu hikmah yang akurat menjadikan sebagian hal sebagai sebab bagi yang lain. Dia juga kuasa dalam pelbagai situasi untuk menafikan hubungan sebab-akibat ini. Sebagaimana Tuhan menjadikan api sebagai penyebab panas dan untuk membakar akan tetapi tatkala para penyembah berhala ingin melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api Tuhan mengeliminir tipologi membakar api ini sehingga Nabi Ibrahim selamat tidak terbakar.

Dan sebagaimana golok tajam Nabi Ibrahim tidak memotong (Tuhan mencegah supaya tidak memotong) dan menyelamatkan Nabi Ismail menjadi korban dari pengabdian ayahnya. Iya, kita meyakini bahwa Allah Swt juga memiliki kekuasaan untuk membuat seluruh pedang dan belati para antek-antek Yazid tidak berfungsi dan menggunakan mukjizat untuk menjaga keselamatan jiwa Imam Husain As dan para sahabatnya. Akan tetapi mukjizat seperti ini tidak terjadi. Lantaran tidak seluruh pekerjaan harus dikerjakan melalui jalan mukjizat dan tindakan adikodrati. Sunnah Ilahi menuntut bahwa seluruh perbuatan berdasarkan sunnah-sunah dan kaidah-kaidah dan aturan-aturan natural. Di samping itu, terdapat selaksa tujuan dan falsafah penting tragedi Asyura dan kesyahidan Imam Husain As yang hanya dapat diraih melalui proses wajar dan natural revolusi Asyura. Sebagian dari tujuan-tujuan tersebut adalah:

1.             Dengan memperhatikan situasi politik yang berkembang pada masa itu dari pihak Muawiyah dan Yazid yang melakukan segala sesuatu atas nama agama yang sejatinya bertentangan dengan agama dan demikian juga untuk mengidentifikasi hak dan batil, kebenaran dan kepalsuan merupakan suatu hal yang sangat pelik, dan satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan dan menyebarkan agama Allah Swt untuk sekian kalinya adalah kesyahidan Imam Husain As dan anak-anaknya beserta para sahabatnya.[1]

2.             Apa yang dinukil dari riwayat dalam hal ini dan telah disinggung sebelumnya bahwa kesyahidan telah ditakdirkan bagi Imam Husain As sehingga melalui kesyahidannya tujuan utama Imam Husain yaitu mereformasi (islah) umat Rasulullah Saw[2] dapat tercapai.

3.             Imam Husain As memandang kesyahidan merupakan seindah-indah dan semulia-mulia kematian. Hal ini telah dijelaskan pada khutbah dalam perjalanannya dari Mekah menuju Irak. “Hiasan kematian bagi anak-anak Adam laksana hiasan liontin yang bergantung pada seorang mempelai wanita.”[3] Artinya kematian tidak mencekik dan tidak ditimpakan melainkan berupa liontin dan hiasan; mengapa manusia tidak menggunakan liontin ini di lehernya di jalan Allah? Dan kematian di jalan agama bagi Imam Husain merupakan kelezatan dan kenikmatan.[4] Kesyahidan bukanlah kekurangan melainkan kesempurnaan.[5] Dengan mencegah kesyahdian Imam Husain As maka sesungguhnya mencegah tercapainya kesempurnaan ini.

4.             Memenuhi perjumpaan Ilahi dan persuaan dengan para nabi bagi Imam Husain As. Perjumpaan Ilahi dan para nabi ini merupakan lebih utama bagi Imam Husain As daripada harus tinggal di dunia. Imam Husain As memandang dirinya merenjana rindu untuk bersua dengan orang-orang saleh; sebagaimana hal ini terungkap dari kelanjutan khutbahnya di Mekah dimana Imam Husain As bersabda: “Kecondongan dan kerinduanku untuk berziarah kepada orang-orang saleh laksana kerinduan Ya’qub kepada Yusuf.”[6]

5.             Imam Husain As tidak ingin menggunakan mukjizat dan keramat, karena menggunakan mukjizat dan keramat berseberangan dengan apa yang ditugaskan kepadanya untuk menunaikanya secara lahir. Nilai dan kedudukan Imam Husain As di samping memiliki kedudukan yang menjulang bagi kaum Muslimin juga mendapat tempat istimewa bagi para pencari kebebasan dan keadilan di dunia, atas dasar itu, beliau mengerjakannya dengan cara-cara natural dan normal. Dengan membawa Ahlulbait As kepada satu perang yang tidak seimbang, tertawan dan terhina menjadi sebab revolusi Imam Husain menjadi abadi dan perenial.[7] Padahal Imam Husain mampu menumbangkan Yazid tanpa harus mengusung revolusi dan menggunakan keramat namun hal itu tidak banyak berarti dalam membongkar penyimpangan dan tujuan keji Bani Umayah.

6.             Kisah Asyura dan perang melawan tirani Imam Husain As merupakan teladan dari revolusi di hadapan pelbagai penyimpangan dan inovasi (bid’ah) yang boleh jadi terjadi di setiap masa pada hukum-hukum dan aturan-aturan agama Tuhan. Seluruh kaum Muslimin dan manusia memiliki tugas untuk mencegah pelbagai inovasi dan bid’ah. Apabila sekiranya Imam Husain As menunaikan tugas berat ini dengang menggunakan kekuasaan mukjizat dan wilayah takwini maka ia tidak lagi dapat menjadi teladan bagi setiap manusia di setiap masa. Atas dasar itu, para nabi dan imam As bertugas untuk melaksanakan pekerjaan keseharian mereka dengan pengetahuan dan kekuasaan natural serta tidak menggunakan kekuatan mukjizat dan adikodrati, kecuali pada hal-hal tertentu dan sesuai dengan izin Allah Swt apabila terdapat kemaslahatan dan petunjuk di dalamnya.[8]  Dan juga Allah Swt menghendaki bahwa seluruh nabi dan imam menjadi guru, pengajar dan teladan praktis bagi manusia. Manusia membina diri mereka dengan memetik pelajaran dari kehidupan dan perilaku mereka dan sekiranya Imam Husain As selamat dari syahadah dengan menggunakan mukjizat maka kehidupannya dan Ahlulbait As demikian juga orang-orang yang ditinggalkan tidak dapat menjadi teladan dan model perlawanan, kesabaran, ketabahan dan pengorbanan bagi manusia dalam kehidupannya.


[1]. Silahkan lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Adzarkhisyi Digar az Asemân-e Karbalâ, hal. 44-66, Intisyarat-e Muassasah wa Pazyuhesy Imam Khomeini, Cetakan Kelima, 1380.

[2]. Bihâr al-Anwâr, jil. 44, hal. 329.

[3]. Bihar al-Anwâr, jil. 44, hal. 366; Muhaddits Arbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 2, hal. 29. Bani Hasyim, Tabriz, Cetakan Pertama, 1381; Luhûf, hal. 110 dan 111.

[4]. Silahkan lihat, Abdullah Jawadi Amuli, Syukufâ-ye Aql dar Partu-e Nehdhat Husaini, hal. 28-30, Markaz-e Cap-e wa Intisyarat-e Isra, Cetakan Kelima, 1387 S.

[5]. Syukufâi-ye Aql dar Partu-e Nehdhat Husaini, hal. 27.

[6]. Bihâr al-Anwâr, jil. 44, hal. 366; Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 2, hal. 29. Luhûf, hal. 110 dan 111.

23 April 2013

kisah tentang dicabutnya panah dari kaki Imam Ali As pada waktu salat itu

oleh alifbraja

Kisah ini banyak disebutkan dan dinukil pada literatur hadis dengan nukilan dan kutipan yang beragam. Meski literatur-literatur dan buku-buku yang mengutip kisah ini tidak termasuk sebagai literatur dan buku derajat pertama, namun perlu diingat bahwa pertama, kisah ini disebutkan dalam beragam literatur, baik literatur Syiah atau pun Sunni; seperti Irsyâd al-Qulûb Dailâmi, al-Anwâr al-Nu’mâniyah, al-Manâqib al-Murtadhawiyah, Hilyat al-Abrâr, Muntahâ al-Âmal, al-Mahajjat al-Baidhâ demikian juga pada buku-buku fikih seperti al-Urwat al-Wutsqâ.[1]

Kedua, para penyusun buku dan periwayat kisah ini adalah ulama popular dan telah dikenal. Ketiga, kandungan kisah ini tidak bertentangan dengan akal dan riwayat, bahkan akal dan riwayat justru mendukung kemungkinan terjadinya peristiwa seperti ini; karena itu, menurut hemat kami, tidak ada masalah menjelaskan inti peristiwa ini berdasarkan kriteria-kriteria dan standar-standar ilmiah riwayat.

Dalam menjelaskan pandangan rasional masalah ini terdapat dua dalil yang dapat disebutkan:

1.    Di antara tipologi dan karakter penting Ali bin Abi Thalib As adalah gemar dan cinta pada ibadah sedemikian sehingga Ibnu Abi al-Hadid Mu’tazili dalam Syarh Nahj al-Balâghah menulis, “Baginda Ali adalah orang yang paling abid dalam urusan ibadah; salat dan puasanya lebih banyak dari kebanyakan orang. Orang-orang belajar darinya salat malam dan dzikir-dzikir serta amalan-amalan mustahab.”[2]

Imam Ali As sedemikian khusyu dalam ibadah dan perhatiannya tercurah sepenuhnya pada Allah Swt sehingga untuk mengeluarkan anak panah yang menghujam di kakinya pada perang Shiffin dan tidak mampu dicabut dari kakinya dalam kondisi normal, maka pada waktu salat, dalam kondisi sujud anak panah itu dicabut dari kakinya. Tatkala Imam Ali As usai menunaikan salat, beliau sadar bahwa anak panah telah dicabut dari kakinya. Beliau bersumpah bahwa ia tidak merasakan bagaimana anak panah itu dicabut;[3] Mengingat bahwa salat adalah tiang agama, pilar mikraj dan munajat maka orang yang mengerjakan salat sejatinya berada dalam kondisi ‘uruj (melesak) menuju Allah Swt dan berbisik-bisik dengan-Nya. Karena itu, mata, telinga, tangan dan kaki seluruhnya dalam kekuasaan Allah Swt dan tidak berada dalam kekuasaan orang yang mengerjakan salat.

Di samping itu, iman Ali bin Abi Thalib adalah iman yang berdasarkan pada pengenalan hakiki dan memandang ibadah kepada Tuhan sebagai ziarahnya demikian juga salat sebagai bukti-bukti Ilahi dan ziarah kepada Tuhan. Imam Ali Abin Thalib memandang Tuhan sebagai kieindahan mutlak. Karena itu, tentu saja beliau tidak lagi melihat dirinya. Imam Ali As menyembah Tuhan dalam kondisi merdeka dan terlepas dari segala bentuk keterikatan dan ketergantungan pada selain-Nya.[4]

2.    Pelbagai kondisi para nabi, para imam dan para wali Allah dalam salat tidak semuanya harus sama. Terkadang dengan menjaga kehadiran hati (hudhur al-qalb), mereka juga tetap menaruh perhatian terhadap alam majemuk (dunia) dan pelbagai manifestasi material. Mereka tidak melalaikan hal ini. Apabila terjadi sebuah masalah, mereka menunjukkan reaksi apabila diperlukan. Dan terkadang mereka tenggelam dalam samudera alam malakut dan tidak melihat segala sesuatu selain Zat Suci Allah Swt. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan mereka sama sekali melupakan badannya sendiri sehingga seolah-olah panca indra mereka tidak lagi berfungsi tatkala tersedot magnet cinta dan irfan Rabbani. Mereka tidak merasakan segala sesuatu yang berhubungan dengan badan. Ditariknya anak panah yang menancap di kaki Imam Ali As pada waktu salat dalam kondisi sujud juga demikian adanya.[5]

Karena itu, dengan memperhatikan nukilan dan riwayat yang beragam dalam masalah ini yang sebagian secara lahir terasa aroma ghuluw (kecendrungan mendudukan Imam Ali pada maqam rububiyah) namun hal itu tidak akan menciderai inti kejadian kisah ini. Dan nampaknya inti cerita adalah yang disebutkan pada buku Syarh Nahj al-Balâghah dan Hayât-e Ârifân-e Imam Ali As sebagaimana yang telah kami jelaskan pada penjelasan bagian pertama di atas.

Kisah ini, tidak hanya tidak akan mendegradasi kedudukan dan derajat Imam Ali As bahkan akan menyebabkan pemuliaan dan pengagungan terhadap Imam Ali As; karena sebagaimana para wanita Mesir yang terpesona dan fana ketika menyaksikan paras rupawan Nabi Yusuf As sehingga tanpa sadar mereka memotong jari-jari mereka sendiri, kisah Imam Ali As juga demikian adanya. Karena Imam Ali As hanya melihat keindahan mutlak, sedemikian apa adanya sehingga seluruh anggota badannya tidak dirasakan dan sepenuhnya berada dalam wewenang Ilahi. Dalam kondisi seperti ini, Imam Ali tidak lagi melihat dirinya dan menaruh perhatian terhadap kemilau dunia. Dengan demikian, wajar ketika anak panah itu dicabut dari kaki Imam Ali dalam kondisi sujud, Imam Ali As tidak merasakan apa pun.

 


[1]. Dailami, Irsyâd al-Qulûb, jil. 2, hal. 25 & 26, Intisyarat-e Nashir, Qum, Cetakan Pertama, 1376 S. Sayid Ni’matullah Jazairi, al-Anwâr al-Nu’maniyah, jil. 2, hal. 371, Syerkat Cap Tabriz; Muhammad Saleh Kasyfi Hanafi, al-Manâqib al-Murtadhawiyah, hal. 364. Sayid Hasyim Bahrani, Hilyat al-Abrâr, jil. 2, hal. 180; Syaikh Abbas Qummi, Muntahâ al-Âmal, hal. 181, Capkhane Ahmadi, Cetakan Kesembilan, 1377; Faidh Kasyani, al-Mahajjat al-Baidhâ, jil. 1, hal. 397 & 398, Beirut; Anwâr al-Nu’mâniyah, hal. 342. Demikian juga buku-buku fikih seperti al-Urwat al-Wutsqâ, Muhammad Kazhim Yazdi, Ibadat, Bab al-Shalat.

[2]. Abdul Hamid ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 1, hal. 27, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah.

[3]. Habibullah Khui, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 8, hal. 152; Abdullah Jawadi Amuli, Hayât-e ‘Ârifân-e Imâm Ali As, hal. 63 & 64. Markaz Intisyarat-e Isra, Cetakan Keempat, 1385; referensi-referensi yang disebutkan pada catatan kaki No. 1.

[4]. Abdullah Jawadi Amuli, Hayât-e ‘Ârifân-e Imâm Ali As, hal. 62 & 64, dengan sedikit perubahan dan ringkasan.

[5]. Disadur dari Hayât-e ‘Ârifân-e Imâm Ali As, hal. 62 & 64; Murtadha Muthahhari, Imâmat wa Rahbari, Qum, Sadra, Cetakan Keempat, 1365 S, hal. 180-181.

23 April 2013

shalawat akan melambungkan derajat dan kedudukan Rasulullah Saw?

oleh alifbraja

Shalawat kita kepada Rasulullah Saw memiliki sisi beragam yang akan kita singgung sebagian darinya berikut ini:

  1. Shalawat merupakan perintah Allah Swt dalam al-Quran yang menyatakan, “InnaLlaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala al-nabi. Yaayyuhalladzina amanu shallu ‘alaihi wa shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.” Artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk nabi dan ucapkanlah salam serta tunduklah (kepada perintahnya).” (Qs. Al-Ahzab [33]:56) Oleh itu, hamba Allah Swt memiliki tugas untuk menaati perintah Allah Swt dan mengirimkan salam kepadanya.

  2. Shalawat dan salam pada hakikatnya adalah bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kita atas segala jerih payah dan usaha Rasulullah Saw dan Ahlulbaitnya yang selama bertahun-tahun lamanya hidup di tengah masyarakat dengan baik dan benar. Mereka rela menanggung seluruh kesusahan dan penderitaan demi memberi petunjuk kepada manusia dan menjadi teladan serta panutan manusia. Atas dasar itu, mereka tentu saja sangat layak menerima apresiasi dan ucapan terima kasih sedemikian sehingga bentuk rasa syukur yang paling minimal adalah menyampaikan shalawat kepada mereka. Bahkan apabila mereka tidak membutuhkan shalawat ini, kita sebagai orang yang menikmati hasil jerih payah mereka memiliki tugas untuk menyampaikan rasa syukur kita kepada mereka.

  3. Apa manfaat shalawat bagi keluarga Rasulullah Saw? Mereka tidak membutuhkan salam dan shalawat kita.

Allamah Thabathabai memberikan jawaban sublim kepada seseorang yang mengajukan pertanyaan seperti ini bahwa shalawat yang kita kirimkan pertama kita tidak memberikan sesuatu dari diri kita melainkan persembahkan kita kepada Allah Swt dan kita memohon kepada-Nya untuk melimpahkan rahmat khusus kepada Rasulullah Saw dan keluarganya. Kedua, meski keluarga ini tidak butuh kepada kita namun mereka membutuhkan Allah Swt dan emanasi Ilahi harus senantiasa tercurah ke atas mereka.  Kita dengan shalawat ini sejatinya ingin mendekatkan diri kita kepada keluarga ini. Setelah itu, Allamah Thabathabai mengimbuhkan, “Apabila seorang penjaga kebun bekerja pada sebuah taman (kebun) yang seluruh bunga dan buahnya dimiliki oleh pemilik kebun dan menerima gaji dari pemilik kebun, pada hari raya, tukang kebun itu menyiapkan setangkai bunga dari kebun dan mempersembahkannya kepada pemilik kebun apakah perbuatannya itu tidak akan mendekatkan penjaga kebun itu kepada pemilik kebun? Tentu saja iya. Perbuatan ini menunjukkan adab dan etika penjaga kebun. Shalawat juga mengukuhkan adab dan etika kita karena kalau tidak demikian kita tidak memiliki sesuatu dari diri kita. Kita memohon kepada Allah Swt untuk meninggikan derajat dan kedudukan mereka. Dan penghormatan ini bagi kita menyebabkan kedekatan kita kepada mereka dan kepada Allah Swt.[1]


[1]. Diadaptasi dari Faidah Shalawat atas Keluarga Rasulullah Saw; Manfaat Shalawat.

14 April 2013

keazalian dan keabadian Tuhan melalui argumentasi rasional

oleh alifbraja

Di antara sifat dzati (esensial) Allah Swt adalah keazalian (azaliyah) dan keabadian (abadiyah). Kedua sifat ini bermakna bahwa keberadaan Tuhan tidak berpermulaan dan juga tidak berkesudahan. Terkadang dua sifat ini juga disebut oleh para teolog dengan nama sarmadi. Dia adalah Awal dan juga Akhir.[1] Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, Dia-lah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Zahir dan Yang Maha Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(Qs. Al-Hadid [57]:3)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda, “Keazalian-Nya tidak berawal, dan kebaqaan-Nya tidak berakhir. Ia adalah yang pertama dan azali. la kekal tanpa batas.”[2] 

Imam Shadiq As ditanya tentang makna “awwal” dan “akhir”, beliau bersabda, “Dia pertama sebelum bermulanya segala sesuatu sedangkan permulaan tidak mendahului-Nya. Dia akhir yang tidak berpenghujung sebagaimana yang dipahami dari sifat-sifat makhluk. Allah Swt adalah qadim, awwal dan akhir. Dia senantiasa ada dan akan ada, tanpa berpermulaan dan berpenghujung; fenomena tidak akan terjadi pada-Nya dan tidak mengalami perubahan dari satu keadaan ke keadaan yang lain; Pencipta segala sesuatu.”[3]

 Sebagai kesimpulannya, keawalan-Nya bermakna bahwa Dia tidak berpermulaan sebagaimana keakhiran-Nya juga bermakna bahwa Dia tidak berpengakhiran. Keluasan eksistensial-Nya mencakup masa dan sebelum masa; karena wujud-Nya adalah metamasa dan berada di atas masa.

Setelah makna keazalian dan keabadian Tuhan menjadi jelas, sekarang giliran untuk menetapkan dua sifat ini bagi Allah Swt. Salah satu dalil terpendek dalam masalah ini terbentuk berdasarkan Wâjib al-Wujud (Wujud Mesti) Allah Swt. Karena itu, sebelum menetapkan keazalian dan keabadian Tuhan, kita akan menyebutkan abstrak salah satu dalil rasional yang paling kuat untuk menetapkan keberadaan Tuhan (Wajib al-Wujud), yaitu argumen imkan dan wujub:

“Di alam luaran (khârij) sudah barang tentu dan niscaya terdapat sebuah entitas (realitas). Apabila entitas ini Wâjib al-Wujûd maka ideal kita tertetapkan (dimana Wâjib al-Wujud ini adalah wujud Tuhan itu sendiri). Apabila entitas tersebut adalah mumkin al-wujud (contingen being), mengingat kebutuhannya terhadap sebab dan kemustahilan tasalsul (infinite circle) dan daur (circular reasoning), maka ia membutuhkan entitas yang wujudnya bukan merupakan akibat dari entitas lainnya, dan entitas semacam inilah yang layak menyandang predikat sebagai Wâjib al-Wujûd (baca: Tuhan)”[4]

Adapun penetapan keazalian dan keabadian (sarmadi) Tuhan dapat dilakukan melalui argumen wujub dan imkan sebagaimana berikut: Tatkala kita telah menetapkan bahwa Allah Swt itu Wâjib al-Wujud dan tetapnya wujud bagi Tuhan bersifat mesti dan mustahil keberadaan-Nya dapat dinafikan dari Zat-Nya, maka karena itu, kemestian wujud meniscayakan mustahilnya penafian wujud dari Zat Ilahi.[5] Hal ini bermakna bahwa Zat Ilahi tidak didahului oleh ketiadaan sebagaimana ketiadaan juga tak akan menyusulnya. Dan hal ini tidak lain adalah keazalian dan keabadian Tuhan. Khaja Nashiruddin Thusi dengan kalimat pendek menyinggung burhan ini, “Wa wujub al-wujud yadullu ‘ala sarmadiyatihi” (Bahwa Wâjib al-Wujud bagi Tuhan menunjukkan keabadian dan keazalian-Nya [sarmadi]).[6]

Penjelasan lebih jauh, bahwa Zat Allah Swt adalah sebuah eksisten bersifat mesti, yang sama sekali tidak dapat dinegasikan dan dinafikan. Keberadaan adalah identik dengan Zat-Nya. Karena itu, dengan memperhatikan bahwa Allah Swt itu adalah Wâjib al-Wujud maka hal itu merupakan pemandu bagi kita pada keabadian dan keazalian-Nya; karena ketiadaan sebuah entitas pada satu penggalan masa menunjukkan kebutuhannya, maka wujud yang demikian adalah wujud kontingen. Sementara Zat Allah Swt adalah sebuah entitas (eksisten) yang pertama: Keberadaan-Nya tidak diterima dari luar sehingga kita berkata pada suatu masa keberadaan diberikan kepada-Nya. Kedua, keberadaaan-Nya juga bukan merupakan pinjaman, sehingga suatu masa akan diambil dari-Nya (melainkan keberadaan adalah identik dengan Zat-Nya). Karena itu, entitas seperti ini senantiasa ada dan akan senantiasa ada.[7]

 Di samping itu, berdasarkan argumen wujub (burhan wujub), Wâjib al-Wujud adalah satu dan tidak ada duanya; karena itu Dia tidak memiliki non-wujud sehingga wujud dapat dinegasikan dari Tuhan; karena seluruh entitas pada keberadaannya butuh kepada-Nya; sebagaimana mustahil Wâjib al-Wujud meniadakan diri-Nya; karena wujud-Nya bersifat mesti dan niscaya. Dan apabila Dia ingin mengambil kemestian ini dari diri-Nya maka akan terjadi pergolakan dalam esensi-Nya dan hal ini tidak sesuai dengan status Wâjib al-Wujud Allah Swt.[8] Dan demikianlah makna keazalian dan keabadian Tuhan.

 Poin lain yang dapat disimpulkan dari argumentasi ini adalah bahwa keabadian dan keazalian dengan makna yang telah disebutkan di atas bersifat mesti di antara keduanya (mutual). Apabila sebuah entitas itu adalah azali maka tentu saja ia akan abadi.[9]

 Dalam pandangan para filosof Ilahi, “Karena Allah Swt adalah Wâjib al-Wujud secara esensial, maka tidak terdapat pada diri-Nya ketiadaan—sebelum dan sesudah-Nya. Apabila kita meninjau masalah ini dari sudut pandang ketiadaan sebelumnya, maka hal itu disebut sebagai keazalian dan qidam. Dan bilamana kita melihatnya tidak memiliki kesudahan, maka hal itu disebut sebagai keabadian dan baqa. Dan bilamana kita memandang keduanya (qidam dan baqa), maka kita mencirikannya sebagai sarmadi. Terkadang sarmadiyat (keabadian dan keazalian) bersinonim dengan keabadian dan baqa.”[10]

 


[1]. Para penafsir dalam menafsirkan dua redaksi ayat “awwal” dan “akhir” mengemukakan beberapa kemungkinan, nampaknya yang dimaksud dari dua sifat ini adalah sifat azali dan abadi. Makna ini disokong oleh beberapa riwayat.  

 

[2]. Nahj al-Balâghah, Khutbah 162.

لَیْسَ لاِوَّلِیَّتِهِ ابْتِداءٌ، وَ لا لاِزَلِیَّتِهِ انْقِضاءٌ.هُوَالاْوَّلُ لَمْ یَزَلْ، وَ الْباقى بِلا اَجَل

 

[3]. Ushûl al-Kâfi, jil. 1, hal. 90.  

 

[4]. Diadaptasi dari Pertanyaan 1286 (Site: 1330), Indeks: Dalil-dalil Wujud dan Proses Penciptaan Tuhan.  

 

[5]. Karena setiap entitas yang memiliki latar belakang ketiadaan (‘adam) atau ada kemungkinan sirnanya (zawal) maka ia tidak dapat menjadi Wâjib al-Wujud.  

 

[6]. Nashiruddin Muhammad bin Hasan Thusi, Kasyf al-Murâd,  Maqshad Sewwum, Fashl Duwwum, Masalah Ketujuh, Korektor Allamah Hasan Zadeh Amuli, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Qum, 1407 H.  

 

[7]. Nashir Makarim Syirazi, Payâm-e Qur’ân, jil. 4, hal. 194.  

 

[8]. Muhammad Ridha Kasyif, Majmu’e Pursesy-hâ wa Pâsukh-hâ, Khudâsyinâsi wa Parjâm, hal. 77.  

 

[9]. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Âmuzesy ‘Aqâid (Iman Semesta), jil. 1, hal. 84-85.  

 

[10]. Kasyf al-Murâd, Maqshad Sewwum, Fashl Duwwum, Masalah Ketujuh. 

%d blogger menyukai ini: