Posts tagged ‘KISAH TAULADAN’

23 Juli 2012

Rabi’ah Al-Adawiyah dan Cintanya kepada Allah

oleh alifbraja

Wahai Tuhanku, sesudah aku mati masukkanlah daku ke neraka
dan jadikan jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka
sehingga tak ada orang lain dapat dimasukkan ke sana

Wahai Tuhanku, bilamana daku menyembahMu karena takut neraka
jadikan neraka kediamanku
dan bilamana daku menyembahMu karena gairah nikmat surga
maka tutupkan pintu surga selamanya bagiku

tetapi apabila daku menyembahMu demi Dikau semata
maka jangan larang daku menatap keindahanMu Yang Abadi

(Doa Rabi’ah dari Basrah)
-hlm.vii-

Sekalipun hidupnya sangat menderita, namun Rabi’ah tetap Rabi’ah. Ia tak merubah pendirian. Betapapun pahitnya kehidupan yang dijalani, tetap diterimanya dengan tabah dan sabar. Salat malam tetap dilakukan secara rutin, dan lisannya tak pernah berhenti dari zikir. Istighfar merupakan senandung yang selalu didendangkan. Musibah dan penderitaan silih berganti. Batinnya tersiksa tiada henti. Dipukul dan ditendang dengan kaki. Dihina dan dicaci maki. Semua dihadapi dengan tabah dan tahan uji. Ternyata, dibalik ujian dan cobaan, ada suatu kebahagiaan sangat besar. Mendapatkan derajat yang sangat mulia di sisi Allah.
-hlm.23-24-

Tuhanku,
selagi Engkau tidak murka kepadaku,
aku tak akan memperdulikan segala cobaan dan penderitaan.
Walau bagaimanapun,
pertolongan-Mu pasti lebih luas untukku.
Aku berlindung dengan nur wajahMu
yang menerangi tujuh lapis langit,
dan yang menyinari kegelapan.
Aku berlindung dari kemurkaan dan kebencianMu.
Engkaulah yang berhak memurkaiku.
Dan tiada daya upaya serta kekuatan
kecuali atas pertolonganMu.
-hlm.28-

Rabi’ah tak pernah sedih dicaci, dan tidak pula bangga dipuji. Apa pun kata orang dibiarkan berlalu tanpa harus ditanggapi. Yang penting ia mendapatkan keridhaan Allah. Allah mencintainya. Itu yang selalu diharapkan. Karena kemurkaanNya sangat ditakuti. Sementara kemurkaan manusia, sama sekali tak ada artinya. Cobaan demi cobaan yang silih berganti takpernah berhenti menimpa. Semua ia hadapi dengan sabar. Keyakinannya terhadap qadar Allah sangat mantap. Selama ada yang baik, tentu ada yang jelek. Namun, ia terima dengan perasaan antara yang baik dan yang buruk. Ia tidak pernah berpikir untuk protes, membangkang kepada kenyataan yang dihadapi. Ia senantiasa berprinsip, bahwa Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya.
-hlm.29-

Cinta Rabi’ah tidak mengharap balasan pahala dan tidak pula menunggu imbalan duniawi. Cintanya kepada Allah bukan sekadar melatarbelakangi berhasilnya permohonan, namun terlepas dari ambisi dan keinginan duniawi. Cintanya mengalir dari kesadaran yang teramat dalam.
-hlm.55-

Rabi’ah tidak pernah terpengaruh dalam perlombaan mencari keduniaan dengan berbagai kesenangan di dalamnya. Padahal, pada umumnya manusia tidak segan-segan melakukan penipuan, pengkhianatan, dan saling membunuh dalam mengejar keduniaan yang bersifat sangat sementara itu.
-hlm.96-

Dunia kebanyakan manusia adalah yang dihias dengan harta, wanita, anak, kemegahan, dan kerakusan. Sedangkan, dunia Rabi’ah hanya sepotong roti kring ditambah sedikit garam, sekadar cukup untuk mempertahankan hidup. Dan pakaiannya pun sekadar dapat menutup aurat, ditambah sehelai tikar sebagai tempat duduk, dan bejana dari tanah liat sebagai tempat minum bila rasa haus datang.
-hlm.96-

Hidupnya (Rabi’ah*) tidak pernah berbenturan dengan harta, tidak pernah mengejar kemegahan dan kesenangan. Juga tak pernah mengharap sanjungan dan pujian dari sesama makhluk. Seluruh hidupnya diserahkan kepada Allah, dihabiskan dengan beribadah dan berusaha keras menuju keridhaanNya.
-hlm.96-

Rabi’ah tidak pernah susah memikirkan penampilan dan kecantikan dirinya. Padahal, penampilan dan kecantikan senantiasa diimpikan oleh kebanyakan wanita. Rabi’ah bisa melakukan hal tersebut, karena ia sama sekali tidak pernah menginginkan perhiasan dunia. Baginya, sehelai kain yang dapat menutup aurat, sudah cukup memadai.
Rabi’ah sama sekali tidak menginginkan rumah besar yang indah, diisi dengan berbagai perabot dan perhiasan yang mahal, sebagaimana impian sepasang pengantin yang sedang berbulan madu. Hal semacam itu pernah ditawarkan kepadanya, tetapi dengan tegas ia menolaknya. Ia lebih suka tinggal di gubuk tua yang sederhana. Di dalamnya, ia dapat menikmati segala arti keindahan dan kemewahan keagungan Allah.
Keridhaan dan ketenangan Rabi’ah dalam menerima kesederhanaan hidup bukan karena terpaksa, tetapi didasari kesadaran yang tinggi. Kalau ia mau, tentu dapat memilih pola hidup baik hidup yang bergelimang emas permata maupun penuh sanjungan dan penghormatan. Hidup di istana sebagai permaisuri, atau menjadi istri seorang zuhud, wirai, danalim. Tetapi semua itu bukan menjadi pilihan Rabi’ah. Kesederhanaan yang selalu ia dambakan, sekalipun di mata orang lain dianggap sebagai suatu penderitaan dan kehinaan. Bahkan, kepahitan dan kesusahan itulah yang menyebabkan Rabi’ah merasa bahagia.
Keridhaan terhadap segala ketentuan Allah telah mendarah daging dalam diri Rabi’ah. Itu tergambar dari sikapnya yang selalu bersabar dan bersyukur. Bukan saja ia bersabar menghadapi ujian dan cobaan yang menimpa dirinya, tetapi juga selalu bersyukur ketika menerima musibah dan nikmat yang diberikan Allah. Sebab ia tahu, bahwa musibah dan cobaan pada hakikatnya adalah kunci keberhasilan dan kebahagiaan bagi insan beriman.
-hlm.136-137-

Apapun masalah yang datang menghadang di depan Rabi’ah, tentu dihadapinya dengan wajah berseri. Hal mana terbukti ketika ia memperoleh ujian sakit dan menghadapi kesusahan dalam perjalanan hidupnya. Semua ia hadapi dengan sabar dan tabah. Tenang, seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Setiap ujian yang datang, tentu ia lalui dengan kemenangan.
-hlm.137-

“Tuhanku, tenggelamkanlah diriku ke dalam samudera keikhlasan mencintaiMu, sehingga tidak ada sesuatu yang menyibukkanku, kecuali berzikir kepadaMu.”
-hlm.143-

Di Keikhlasan dalam beribadah menjadikan dirinya (Rabi’ah*) selalu mengingat Allah, setiap saat. Ia merasakan kenikmatan tersendiri, tenang dalam zikir, dan gembira mendekatkan diri kepada hatinya tumbuh kerinduan untuk bertemu denganNya. Mereka yang dapat merasakan nikmatnya keikhlasan itu akan bisa merasakan kelezatan yang tiada duanya.
Untuk mencapai keikhlasan itu, hendaklah hati, jiwa, seluruh anggota badan, dan indera sepenuhnya tunduk pada Allah secara total. Menjauhkan diri dari masalah keduniawiaan. Karenanya, kemana pun ia melangkah, di sana ia temui kebesaran dan keagungan Allah.
Keikhlasan dalam ibadah bagai semerbak wangi bunga-bunga. Semerbak wangi itu memang takdapat dilihat atau disentuh. Tapi, bau wangi inilah yang menjadikan amal ibadah seseorangistimewa dan tinggi nilainya. Ikhlas inilah yang menyebabkan buku catatan si hamba dan istimewa, bagai mahalnya nilai sebuah taman yang dihiasi bunga-bunga yang menyebarkan keharuman.
Ikhlas nerupakan kekuatan yang amat perkasa. Ia mampu mengusir setiap bentuk riya dalamhati.
-hlm.161-162-

“Wahai Rabi’ah, bagaimana pandangan Anda tentang cinta?”
Menjawab pertanyaan seperti ini, Rabi’ah berkata :
“Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu, terlbih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.”

Kemudian Rabi’ah membacakan syair ini :

Alangkah sedihnya perasaan yang dimabuk cinta
hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
cinta digenggam walau apa yang terjadi
kalau terputus, ia sambung seperti mula
liku-liku cinta terkadang bertemu surga
menikmati pertemuan indah dan abadi
tapi tak jarang bertemu neraka
dalam pertarungan yang tiada berpantai
-hlm.188-189-

Tuhanku, kepadaMu orang-orang bertaqarrub. Karena kebesaranMu pula, ikan-ikan di lautan bertasbih. Dan dengan kemuliaanMu ombak-ombak bergulung di tepi pantai. KepadaMu kegelapan malam dan cahaya siang bersujud. Begitu pula perputaran siang, laut dengan segala isinya, bulan dan planet-planet lainnya, semuanya berjalan menurut ketentuanMu. Hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa.
-hlm.193-

Wahai Tuhanku, jika aku menyembahmu karena takut akan nerakaMu, maka bakarlah aku dengannya. Jika aku menyembahMu karena mengharap surgaMu, haramkanlah aku memasukinya. Tapi, jika aku menyembahMu semata karena cinta padaMu, janganlah kecewakan aku, jangan tutup diriMu dari pandanganku.

Iklan
12 Juli 2012

Abu Yazid Al Bustami

oleh alifbraja
Abu Yazid Sang Raja Para Mistik

Abu Yazid Thoifur bin Isa bin Surusyan al-Busthami. Lahir di Bustham yang terletak di bagian timur Laut Persi. Meninggal di Bustham pada tahun 261 H/874 M. Beliau adalah salah seorang Sulton Aulia, yang merupakan salah satu Syech yang ada di silsilah dalam thoriqoh Sadziliyah, Thoriqoh Suhrowardiyah dan beberapa thoriqoh lain. Tetapi beliau sendiri menyebutkan di dalam kitab karangan tokoh di negeri Irbil sbb:” …bahwa mulai Abu Bakar Shiddiq sampai ke aku adalah golongan Shiddiqiah.”
MASA REMAJA
Kakek Abu Yazid al Busthami adalah seorang penganut agama Zoroaster. Ayahnya adalah salah satu di antara orang-orang terkemuka di Bustham. Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia masih berada dalam kandungan. “Setiap kali aku menyuap makanan yang kuragukan kehalalannya” , ibunya sering berkata pada Abu Yazid, “engkau yang masih berada didalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu kumuntahkan kembali”. Pernyataan itu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.

Setelah sampai waktunya, si ibu mengirimkan Abu Yazid ke sekolah. Abu Yazid mempelajari Al Qur-an. pada suatu hari gurunya menerangkan arti satu ayat dari surat Lukman yang berbunyi, “Berterimakasihlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu”. Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid. Abu Yazid meletakkan batu tulisnya dan berkata kepada gurunya, “Ijinkanlah aku untuk pulang,. Ada yang hendak kukatakan pada ibuku”.

Si guru memberi ijin, Abu Yazid lalu pulang kerumahnya. Ibunya menyambutnya dengan kata-kata,”Thoifur, mengapa engkau sudah pulang? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah sesuatu kejadian istimewa?”

“Tidak” jawab Abu Yazid “Pelajaranku sampai pada ayat dimana Alloh memerintahkan agar aku berbakti kepadaNya dan kepadamu. Tetapi aku tak dapat mengurus dua rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Maka wahai ibu, mintalah diriku ini kepada Alloh sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkanlah aku kepada Alloh semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata”.

“Anakku” jawab ibunya “aku serahkan engkau kepada Alloh dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadapku. Pergilah engkau menjadi hamba Alloh.

Di kemudian hari Abu Yazid berkata, “Kewajiban yang semula kukira sebagai kewajiban yang paling ringan, paling sepele di antara yang lain-lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah kuperoleh segala sesuatu yang kucari, yakni segalasesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Alloh.

Kejadiannya adalah sebagai berikut:Pada suatu malam, ibu meminta air kepadaku. Maka akupun mengambilnya, ternyata didalam tempayan kami tak ada air. Kulihat dalam kendi, tetapi kendi itupun kosong. Oleh karena itu, aku pergi kesungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku sudah tertidur”.”malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibu terjaga, ia meminum air yang kubawa itu kemudian memberkati diriku. Kemudian terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tangaku kaku.

“Mengapa engkau tetap memegang kendi itu?” ibuku bertanya.
“Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena”, jawabku.Kemudian ibu berkata kepadaku, “Biarkan saja pintu itu setengah terbuka”
“Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan perintah ibuku. Hingga akhirnya fajar terlihat lewat pintu, begitulah yang sering kulakukan berkali-kali”.

(Wahai ingatkah kita di Qur’an Surat Al-Baqoroh 255) Sedang Alloh tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Selalu terjaga. Mengapakah kita masih sering terlena??

Setelah si ibu memasrahkan anaknya pada Alloh, Abu Yazid meninggalkan Bustham, merantau dari satu negri ke negri lain selama tiga puluh tahun, dan melakukan disiplin diri dengan terus menerus berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan. Di antara guru-gurunya itu ada seorang yang bernama Shadiq. Ketika Abu Yazid sedang duduk dihadapannya, tiba-tiba Shadiq berkata kepadanya,”Abu Yazid, ambilkan buku yang di jendela itu”.

“Jendela? Jendela yang mana?”, tanya Abu Yazid.
“Telah sekian lama engkau belajar disini dan tidak pernah melihat jendela itu?”
“Tidak”, jawab Abu Yazid, “apakah peduliku dengan jendela.Ketika menghadapmu, mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak datang kesini untuk melihat segala sesuatu yang ada di sini”.”Jika demikian”, kata si guru,” kembalilah ke Bustham. Pelajaranmu telah selesai”.

(Wahai, bagaimanakah saat kita sholat? Bukankah saat itu kita menghadap pada Sang Maha Kuasa?) Mengapakah masih peduli terhadap lainnya? Pikiran masih melantur kemana-mana, hati masih diskusi sendiri?” Celakalah engkau yang sholat, yaitu engkau yang di dalam sholatmu lalai” Fawailulil musholin aladzinahum ansholatihim sahun”. “Inna sholati li dzikri”

Abu Yazid mendengar bahwa di suatu tempat tertentu ada seorang guru besar. Dari jauh Abu Yazid datang untuk menemuinya. Ketika sudah dekat, Abu Yazid menyaksikan betapa guru yang termasyhur itu meludah ke arah kota Mekkah (diartikan menghina kota Mekah), karena itu segera ia memutar langkahnya.
“Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Alloh”, Abu Yazid berkata mengenai guru tadi,”niscaya ia tidak akan melanggar hukum seperti yang dilakukannya”
Diriwayatkan bahwa rumah Abu Yazid hanya berjarak empat puluh langkah dari sebuah mesjid, ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan menghormati masjid itu.

(syari’at tanpa hakekat adalah kosong sedang hakekat tanpa syari’at adalah batal)

Setiap kali Abu Yazid tiba di depan sebuah masjid, sesaat lamanya ia akan berdiri terpaku dan menangis.
“Mengapa engkau selalu berlaku demikian?” tanya salah seseorang kepadanya. “Aku merasa diriku sebagai seorang wanita yang sedang haid. Aku merasa malu untuk masuk dan mengotori masjid”, jawabnya.

(Lihatlah do’a Nabi Adam atau do’a Nabi Yunus a.s”Laa ilaha ila anta Subhanaka inni kuntum minadholimin”, Tidak ada tuhan melainkan engkau yaa Alloh, sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang dholim. Atau lihat do’a Abunawas,’ Ya Alloh kalau engkau masukkan aku ke dalam sorga, rasanya tidaklah pantas aku berada di dalam sorga.

Tetapi kalau aku kau masukkan ke dalam neraka, aku tidak akan tahan, aku tidak akan kuat ya Alloh, maka terimalah saja taubatku)

Perjalanan Abu Yazid menuju Ka’bah memakan waktu dua belas tahun penuh. Hal ini karena setiap kali ia bersua dengan seorang pengkhotbah yang memberikan pengajaran di dalam perjalanan itu, Abu Yazid segera membentangkan sajadahnya dan melakukan sholat sunnah dua roka’at. Mengenai hal ini Abu Yazid mengatakan: “Ka’bah bukanlah serambi istana raja, tetapi suatu tempat yang dapat dikunjungi orang setiap saat”.

Akhirnya sampailah ia ke Ka’bah tetapi ia tidak pergi ke Madinah pada tahun itu juga. “Tidaklah pantas perkunjung an ke Madinah hanya sebagai pelengkap saja”, Abu Yazid menjelaskan, “Saya akan mengenakan pakaian haji yang berbeda untuk mengunjungi Madinah”.

Tahun berikutnya sekali lagi ia menunaikan ibadah Haji. Ia mengenakan pakaian yang berbeda untuk setiap tahap perjalanannya sejak mulai menempuh padang pasir. Di sebuah kota dalam perjalanan tersebut, suatu rombongan besar telah menjadi muridnya dan ketika ia meninggalkan tanah suci, banyak orang yang mengikutinya

“Siapakah orang-orang ini?”, ia bertanya sambil melihat kebelakang.
“Mereka ingin berjalan bersamamu”, terdengar sebuah jawaban.
“Ya Alloh!”, Abu Yazid memohon, “Janganlah Engkau tutup penglihatan hamba-hambaMu karenaku”.

Untuk menghilangkan kecintaan mereka kepada dirinya dan agar dirinya tidak menjadi penghalang bagi mereka, maka setelah selesai melakukan sholat shubuh, Abu Yazid berseru kepada mereka, “Ana Alloh ,Laa ilaha illa ana, Fa’budni”. Sesungguhnya Aku adalah Alloh, Tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka Sembahlah Aku”

“Abu Yazid sudah gila!”, seru mereka kemudian meninggalkannya.

Abu Yazid meneruskan perjalanannya. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tengkorak manusia yang bertuliskan, Tuli, bisu, buta …mereka tidak memahami. Sambil menangis Abu Yazid memungut tengkorak itu lalu menciuminya.”Tampaknya ini adalah kepala seorang sufi”, gumamnya,” yang menjadi tauhid di dalam Alloh … ia tidak lagi mempunyai telinga untuk mendengar suara abadi, tidak lagi mempunyai mata untuk memandang keindahan abadi, tidak lagi mempunyai lidah untuk memuji kebesaran Alloh, dan tak lagi mempunyai akal walaupun untuk merenung secuil pengetahuan Alloh yang sejati. Tulisan ini adalah mengenai dirinya”.

Suatu ketika Abu Yazid di dalam perjalanan, ia membawa seekor unta sebagai tunggangan dan pemikul perbekalannya.”Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Sungguh kejam!”, seseorang berseru.
Setelah beberapa kali mendengar seruan ini, akhirnya Abu Yazid menjawab, “Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta ini yang memikul beban”.
Kemudian si pemuda meneliti apakah beban itu benar-benar berada di atas punggung onta tersebut. Barulah ia percaya setelah melihat beban itu mengambang satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikitpun tidak memikul beban tersebut.

“Maha besar Alloh, benar-benar menakjubkan!”, seru si pemuda.
“Jika kusembunyikan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepadaku”, kata Abu Yazid kepadanya.
“Tetapi jika kujelaskan kenyataan-kenyataan itu kepadamu, engkau tidak dapat memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku kepadamu?”

(Menuruti orang itu memang nggak ada benernya, seperti kisah Luqman saat mendidik anaknya, diajaknya anaknya kepasar dengan membawa keledai. Awalnya Luqman yang naik keledai itu. Lewatlah di suatu desa. Orang-orang disitu berteriak mencemooh. “Lihatlah itu, seorang Bapak yang tega pada anaknya. Udara panas begini, anaknya disuruh jalan kaki sedang Bapaknya enak-enak di atas keledai.” . “Catat itu anakku “kata Luqman, kemudian ganti dia yang berjalan sedang anaknya dinaikkan keledai. Lewatlah mereka di satu desa lagi. Orang-orang di desa itu melihat mereka dengan mencemooh,”Lihat itu , jaman sudah edan, itulah contoh anak durhaka pada orang tua, anaknya enak-enak naik keledai, sedang Bapaknya yang sudah tua disuruh jalan kaki diudara panas seperti ini”.”Catat itu anakku”, kata Luqman lagi.

Kini, dua-duanya berjalan kaki. Jadi iring-iringan bertiga dengan keledainya berjalan kaki. Lewatlah mereka di satu desa. Orang-orang di desa itu mencemooh,”Lihat itu, orang-orang bodoh, mereka bercapek-capek jalan kaki sementara ada tunggangan keledai dibiarkan saja”.”Catat itu anakku”kata Luqman . Mereka mencari bambu panjang, dan sekarang keledainya mereka panggul berdua. Lewatlah mereka disatu desa lain. Orang-orang di situ melihat mereka dan mencemooh,”Lihat itu Bapak dan anak sama-sama gila, Keledai tidak apa-apa dipanggul. Enaklah jadi keledainya.” Lukman berkata pada anaknya” Catat itu waahai anakku. Kalau engkau menuruti omongan orang-orang, maka tidak akan pernah benar. Maka kuatkanlah keyakinanmu.)

MI’ROJ
Abu Yazid mengisah, “Dengan tatapan yang pasti aku memandang Alloh setelah Dia membebaskan diriku dari semua makhluq-Nya, menerangi diriku dengan Cahaya-Nya, membukakan keajaiban-keajaiban rahasiaNya dan menunjukkan kebesaranNya kepadaku.

Setelah menatap Alloh akupun memandang diriku sendiri dan merenungi rahasia serta hakekat diri ini. Cahaya diriku adalah kegelapan jika dibandingkan dengan CahayaNya, kebesaran diriku sangat kecil jika dibandingkan dengan kebesaranNya, kemuliaan diriku hanyalah kesombongan yang sia-sia jika dibandingkan dengan kemuliaanNya. Di dalam Alloh segalanya suci sedang didalam diriku segalanya kotor dan cemar.

Bila kurenungi kembali, maka tahulah aku bahwa aku hidup karena cahaya Alloh. Aku menyadari kemuliaan diriku bersumber dari kemuliaan dan kebesaranNya. Apapun yang telah kulakukan, hanya karena kemahakuasaanNya. Apapun yang telah terlihat oleh mata lahirku, sebenarnya melalui Dia. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Segala kebaktianku bersumber dari Alloh, bukan dari diriku sendiri, sedang selama ini aku beranggapan bahwa akulah yang berbakti kepadaNya.
Aku bertanya, “Ya Alloh, apakah ini?”

Dia menjawab, “Semuanya adalah Aku, tidak ada sesuatupun juga kecuali Aku. Dan sesungguhnya tidak ada wujud selain wujudKu”Kemudian Ia menjahit mataku sehingga aku tidak dapat melihat. Dia menyuruhku untuk merenungi akar permasalahan, yaitu diriNya sendiri. Dia meniadakan aku dari kehidupanNya sendiri, dan Ia memuliakan diriku.
Kepadaku dibukakanNya rahasia diriNya sendiri sedikitpun tidak tergoyahkan oleh karena adaku. Demikianlah Alloh, Kebenaran Yang Tunggal menambahkan realitas kedalam diriku. Melalui Alloh aku memandang Alloh, dan kulihat Alloh didalam realitasNya.

Di sana aku berdiam dan beristirahat untuk beberapa saat lamanya. kututup telinga dari derap perjuangan. Lidah yang meminta-minta kutelan ke dalam tenggorokan keputusasaan. Kucampakkan pengetahuan yang telah kutuntut dan kubungkamkan kata hati yang menggoda kepada perbuatan-perbuatan aniaya. Di sana aku berdiam dengan tenang. Dengan karunia Alloh aku membuang kemewahan-kemewahan dari jalan yang menuju prinsip-prinsip dasar.

Alloh menaruh belas kasih kepadaku. Ia memberkahiku dengan pengetahuan abadi dan menanam lidah kebajikanNya ke dalam tenggorokanku. Untuk diciptakanNya sebuah mata dari cahayaNya, semua makhluk kulihat melalui Dia. Dengan lidah kebajikan itu aku berkata-kata kepada Alloh, dengan pengetahuan Alloh kuperoleh sebuah pengetahuan, dan dengan cahaya Alloh aku menatap kepadaNya.

Alloh berkata kepadaku, “Wahai engkau yang tak memiliki sesuatupun jua namun telah memperoleh segalanya, yang tak memiliki perbekalan namun telah memiliki kekayaan”.

“Ya Alloh”jawabku” Jangan biarkan diriku terperdaya oleh semua itu. Jangan biarkan aku puas dengan diriku sendiri tanpa mendambakan diri Mu. Adalah lebih baik jika Engkau menjadi milikku tanpa aku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa Engkau.Lebih baik jika aku berkata-kata kepadaMu melalui Engkau, daripada aku berkata-kata kepada diriku sendiri tanpa Engkau”.

Alloh berkata, “Oleh karena itu perhatikanlah hukumKu dan janganlah engkau melanggar perintah serta laranganKu, agar Kami berterima kasih akan segala jerih payahmu”

“Aku telah membuktikan imanku kepadaMu dan aku benar-benar yakin bahwa sesungguhnya Engkau lebih pantas untuk berterimakasih kepada diriMu sendiri dari pada kepada hambaMu. Bahkan seandainya Engkau mengutuk diriku ini, Engkau bebas dari segala perbuatan aniaya”

“Dari siapakah engkau belajar?”, tanya Alloh.

“Ia Yang Bertanya lebih tahu dari ia yang ditanya”,jawabku,” karena Ia adalah Yang Dihasratkan dan Yang Menghasratkan, Yang Dijawab dan Yang Menjawab, Yang Dirasakan dan Yang Merasakan, Yang Ditanya dan Yang Bertanya”.

Setelah Dia menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar seruan puas dari Aloh. Dia mencap diriku dengan cap kepuasanNya. Dia menerangi diriku, menyelamatkan diriku dari kegelapan hawa nafsu dan kecemaran jasmani. Aku tahu bahwa melalui Dialah aku hidup dan karena kelimpahanNya-lah aku bisa menghamparkan permadani kebahagiaan di dalam hatiku.

“Mintalah kepadaKu segala sesuatu yang engkau kehendaki”, kata Alloh. “Engkaulah yang kuinginkan”,jawabku, “karena Engkau lebih dari kemurahan dan melalui Engkau telah kudapatkan kepuasan di dalam Engkau. Karena Engkau adalah milikku, telah kugulung catatan-catatan kelimpahan dan kemurahan. Janganlah Engkau jauhkan aku dari diriMu dan janganlah Engkau berikan kepadaku sesuatu yang lebih rendah daripada Engkau”.

Beberapa lama Dia tak menjawab. Kemudian sambil meletakkan mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku, berkatalah Dia,:”Kebenaranlah yang engkau ucapkan dan realitaslah yang engkau cari, karena itu engkau menyaksikan dan mendengarkan kebenaran”. “Jika aku telah melihat”.,kataku pula, “melalui Engkau-lah aku melihat, dan jika aku telah mendengar, melalui Engkaulah aku mendengar. Setelah Engkau, barulah aku mendengar”.

Kemudian kuucapkan berbagai pujian kepadaNya. Karena itu Ia hadiahkan kepadaku sayap keagungan, sehingga aku dapat melayang-layang memandangi alam kebesaranNya dan hal-hal menakjubkan dari ciptaanNya. Karena mengetahui kelemahanku dan apa-apa yang kubutuhkan, maka Ia menguatkan diriku dengan perhiasan-perhiasanNya sendiri.

Ia menaruh mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan membuka pintu istana ketauhidan untukku. Setelah Ia melihat betapa sifat-sifatku tauhid ke dalam sifat-sifaNya, dihadiahkanNya kepadaku sebuah nama dari hadiratNya sendiri dan berkata-kata kepadaku dalam wujudNya sendiri. Maka terciptalah Tauhid Dzat dan punahlah perpisahan.

“Kepuasan Kami adalah kepuasanmu”, kataNya, “dan kepuasanmu adalah kepuasan Kami. Ucapan-ucapanmu tak mengandung kecemaran dan tak seorangpun akan menghukummu karena ke-aku-anmu”.

Kemudian Dia menyuruhku untuk merasakan hunjaman rasa cemburu dan setelah itu Ia menghidupkan aku kembali. Dari dalam api pengujian itu aku keluar dalam keadaan suci bersih. Kemudian Dia bertanya,: “Siapakah yang memiliki kerajaan ini”
“Engkau”, jawabku
“Siapakah yang memiliki kekuasaan?”

“Engkau”, jawabku
“Siapakah yang memiliki kehendak?”
“Engkau”, jawabku

Karena jawaban-jawabanku itu persis seperti yang didengarkan pada awal penciptaan, maka ditunjukkanNya kepadaku betapa jika bukan karena belas kasihNya, alam semesta tidak akan pernah tenang, dan jika bukan karena cintaNya segala sesuatu telah dibinasakan oleh keMahaPerkasaanNya. Dia memandangku dengan mata Yang Maha Melihat melalui medium Yang Maha memaksa, dan segala sesuatu mengenai diriku sirna tak terlihat.

Di dalam kemabukan itu setiap lembah kuterjuni. Kulumatkan tubuhku ke dalam setiap wadah gejolak api cemburu. Kupacu kuda pemburuan di dalam hutan belantara yang luas. Kutemukan bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada kepapaan dan tidak ada yang lebih baik dari ketidak berdayaan (fana-red). Tiada pelita yang lebih terang dari pada keheningan dan tiada kata-kata yang lebih merdu dari pada kebisuan. Dan tiada pula gerak yang lebih sempurna dari pada diam. Aku menghuni istana keheningan, aku mengenakan pakaian ketabahan, sehingga segala masalah terlihat sampai keakar-akarnya. Dia melihat betapa jasmani dan rohaniku bersih dari kilasan hawa nafsu, kemudian dibukakanNya pintu kedamaian di dalam dadaku yang kelam dan diberikanNya kepadaku lidah keselamatan dan ketauhidan.

Kini telah kumiliki sebuah lidah rahmat nan abadi, sebuah hati yang memancarkan nur ilahi, dan mata yang ditempa oleh tanganNya sendiri. Karena Dia-lah aku berbicara dan dengan kekuasaanNya-lah aku memegang. Karena melalui Dia aku hidup, karena Dia-lah Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Menghidupi, maka aku tidak akan pernah mati. Karena telah mencapai tingkat keluhuran ini, maka isyaratku adalah abadi, ucapanku berlaku untuk selama-lamanya, lidahku adalah lidah tauhid dan ruhku adalah ruh keselamatan, ruh Islam,. Aku tidak berbicara mengenai diriku sendiri sebagai seorang pemberi peringatan. Dia-lah yang menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendakNya, sedang aku hanyalah seseorang yang menyampaikan. Sebenarnya yang berkata-kata ini adalah Dia, bukan aku.

Setelah memuliakan diriku Dia berkata, “Hamba-hambaKu ingin bertemu denganmu”. “Bukanlah keinginanku untuk menemui mereka”, jawabku. “Tetapi jika Engkau menghendakiku untuk menemui mereka, maka aku tidak akan menentang kehendakMu. Hiaslah diriku dengan ke-esaanMu, sehingga apabila hamba-hambaMu memandangku yang terpandang oleh mereka adalah ciptaanMu. Dan mereka akan melihat Sang Pencipta semata-mata, bukan diriku ini”.

Keinginanku ini dikabulkanNya. DitaruhNya mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan Ia membantuku mengalahkan jasmaniku.

Setelah itu Dia berkata, “temuilah hamba-hambaKu itu”.Akupun berjalan selangkah menjauhi hadiratNya. Tetapi pada langkah yang kedua aku jatuh terjerumus. Terdengarlah seruan,:

“Bawalah kembali kekasihKu kemari. Ia tidak dapat hidup tanpa Aku dan tidak ada satu jalanpun yang diketahuinya kecuali jalan yang menuju Aku”.

Setelah aku mencapai taraf tauhid Dzat-itulah saat pertama aku menatap Yang Esa-bertahun-tahun lamanya aku mengelana di dalam lembah yang berada dikaki bukit pemahaman. Akhirnya aku menjadi seekor burung dengan tubuh yang berasal dari ke-esa-an dan dengan sayap keabadian. Terus menerus aku melayang-layang di angkasa kemutlakan. Setelah terlepas dari segala sesuatu yang diciptakanNya, akupun berkata, ” Aku telah sampai kepada Sang Pencipta. Aku telah kembali kepadaNya”.

Kemudian kutengadahkan kepalaku dari lembah kemuliaan. Dahagaku kupuaskan seperti yang tak pernah terulang di sepanjang zaman. Kemudian selama tiga puluh ribu tahun aku terbang di dalam sifatNya yang luas, tigapuluh ribu tahun di dalam kemuliaan perbuatanNya, dan selama tiga puluh ribu tahun di dalam keesaan DzatNya. Setelah berakhir masa sembilan puluh ribu tahun, terlihat olehku Abu Yazid, dan segala yang terpandang olehku adalah aku sendiri.

Kemudian aku jelajahi empat ribu padang belantara. Ketika sampai diakhir penjelajahan itu terlihat olehku bahwa aku masih berada pada tahap awal kenabian. Maka kulanjutkan pula pengembaraan yang tak berkesudahan di lautan tanpa tepi itu untuk beberapa lama, aku katakan, “Tidak ada seorang manusiapun yang pernah mencapai kemuliaan yang lebih tinggi daripada yang telah kucapai ini. Tidak mungkin ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini”.

Tetapi ketika kutajamkan pandangan ternyata kepalaku masih berada di tapak kaki seorang Nabi. Maka sadarlah aku bahwa tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh manusia-manusia suci hanyalah sebagai tingkatan awal dari kenabian. Mengenai tingkat terakhir dari kenabian tidak dapat kubayangkan.

Kemudian ruhku menembus segala penjuru di dalam kerajaan Alloh. Surga dan neraka ditunjukkan kepada ruhku itu tetapi ia tidak peduli. Apakah yang dapat menghadang dan membuatnya peduli?. Semua sukma yang bukan Nabi yang ditemuinya tidak dipedulikannya. Ketika ruhku mencapai sukma manusia kesayangan Alloh, Nabi Muhammad SAW, terlihatlah olehku seratus ribu lautan api yang tiada bertepi dan seribu tirai cahaya. Seandainya kujejakkan kaki ke dalam lautan api yang pertama itu, niscaya aku hangus binasa. Aku sedemikian gentar dan bingung sehinga aku menjadi sirna. Tetapi betapapun besar keinginanku, aku tidak berani memandang tiang perkemahan Muhammad. Walaupun aku telah berjumpa dengan Alloh, tetapi aku tidak berani berjumpa dengan Muhammad.

Kemudian Abu Yazid berkata, “Ya Alloh, segala sesuatu yang telah terlihat olehku adalah aku sendiri. Bagiku tiada jalan yang menuju kepadaMu selama aku ini masih ada. Aku tidak dapat menembus keakuan ini, apakah yang harus kulakukan?”

Maka terdengarlah perintah, “Untuk melepas keakuanmu itu ikutilah kekasih Kami, Muhammad, si orang Arab. Usaplah matamu dengan debu kakinya dan ikutilah jejaknya.

Maka terjunlah aku ke dalam lautan api yang tak bertepi dan kutenggelamkan diriku kedalam tirai-tirai cahaya yang mengelilingi Muhammad. Dan kemudian tak kulihat diriku sendiri, yang kulihat Muhammad. Aku terdampar dan kulihat Abu Yazid berkata,” aku adalah debu kaki Muhammad, maka aku akan mengikuti jejak Muhammad.

PERANG TANDING ANTARA ABU YAZID DAN YAHYA BIN MU’ADZ

Yahya bin Mu’adz-salah seorang tokoh sufi, aulia, waliyulloh, jaman itu, menulis surat kepada Abu Yazid,” Apakah katamu mengenai seseorang yang telah mereguk secawan arak dan menjadi mabuk tiada henti-hentinya?”
“Aku tidak tahu”, jawab Abu Yazid.”Yang kuketahui hanyalah bahwa di sini ada seseorang yang sehari semalam telah mereguk isi samudra luas yang tiada bertepi namun masih merasa haus dan dahaga”.

Yahya bin Mu’adz menyurati lagi,” Ada sebuah rahasia yang hendak kukatakan kepadamu tetapi tempat pertemuan kita adalah di dalam surga. Di sana, di bawah naungan pohon Tuba akan kukatakan rahasia itu kepadamu”.

Bersamaan surat itu dia kirimkan sepotong roti dengan pesan,”Syech harus memakan roti ini karena aku telah membuatnya dari air zam-zam”.

Di dalam jawabannya Abu Yazid berkata mengenai rahasia yang hendak disampaikan Yahya itu,” Mengenai tempat pertemuan yang engkau katakan, dengan hanya mengingatNya, pada saat ini juga aku dapat menikmati surga dan puhon Tuba. tetapi roti yang engkau kirimkan itu tidak dapat kunikmati. Engkau memang telah mengatakan air apa yang telah engkau pergunakan, tetapi engkau tidak mengatakan bibit gandum apa yang telah engkau taburkan”.

Maka Yahya bin Mu’adz ingin sekali mengunjungi Abu Yazid. Ia datang pada waktu sholat Isya’. Yahya berkisah sebagai berikut,:” Aku tidak mau mengganggu Syech Abu Yazid. Tetapi aku pun tidak dapat bersabar hingga pagi. Maka pergilah aku ke suatu tempat di padang pasir di mana aku dapat menemuinya pada saat itu seperti dikatakan orang-orang kepadaku. Sesampainya ditempat itu terlihat olehku Abu Yazid sedang sholat Isya’. Kemudian ia berdiri di atas jari-jari kakinya sampai keesokan harinya. Aku tegak terpana menyaksikan hal ini. Sepanjang malam kudengar Abu Yazid berkata di dalam do’anya.,” Aku berlindung kepadamu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan ini”.

Setelah sadar, Yahya mengucapkan salam kepada Abu Yazid dan bertanya apakah yang telah dialaminya pada malam tadi. Abu Yazid menjawab,” lebih dari dua puluh kehormatan telah ditawarkan kepadaku. Tetapi tak satupun yang kuinginkan karena semuanya adalah kehormatan-kehormatan yang membutakan mata”.

“Guru, mengapakah engkau tidak meminta pengetahuan mistik, karena bukankah Dia Raja diantara raja yang pernah berkata,”Mintalah kepadaKu segala sesuatu yang engkau kehendaki?” Yahya bertanya.”Diamlah!”, sela Abu Yazid,” Aku cemburu kepada diriku sendiri yang telah mengenalNya, karena aku ingin tiada sesuatupun kecuali Dia yang mengenal diriNya. Mengenai pengetahuanNya, apakah peduliku. Sesungguhnya seperti itulah kehendakNya, Yahya. Hanya Dia, dan bukan siapa-siapa yang akan mengenal diriNya.

“Demi keagungan Alloh”, Yahya bermohon,”berikanlah kepadaku sebagian dari karunia-karunia yang telah ditawarkan kepadamu malam tadi”.

“Seandainya engkau memperoleh kemuliaan Adam, kesucian Jibril, kelapangan hati Ibrahim, kedambaan Musa kepada Alloh, kekudusan Isa, dan kecintaan Muhammad, niscaya engkau masih merasa belum puas. Engkau akan mengharapkan hal-hal lain yang melampaui segala sesuatu”, jawab Yazid.” Tetaplah merenung Yang Maha Tingi dan jangan rendahkan pandanganmu, karena apabila engkau merendahkan pandanganmu kepada sesuatu hal, maka hal itulah yang akan membutakan matamu”

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Abu Yazid menyingkir kepinggir untuk memberi jalan kepada binatang itu.

Salah seorang murid tidak menyetujui perbuatan Abu Yazid ini dan berkata,” Alloh Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhlukNya. Abu Yazid adalah “Raja diantara kaum mistik”, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing. Apakah pantas perbuatan seperti itu?”

Abu Yazid menjawab,” Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku,’Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja diantara para mistik?’. Begitulah yang sampai dalam pikiranku dan karena itulah aku memberi jalan kepadanya”.

Suatu ketika Abu yazid melakukan perjalanan menuju Ka’bah di Makkah, tetapi beberapa saat kemudian ia pun kembali lagi. “Di waktu yang sudah-sudah engkau tidak pernah membatalkan niatmu. Mengapa sekarang engkau berbuat demikian?”, tanya seseorang kepaa Abu Yazid.

“baru saja aku palingkan wajahku ke jalan”, jawab Abu Yazid,”terlihat olehku seorang hitam yang menghadang dengan pedang terhunus dan berkata,”Jika engkau kembali, selamat dan sejahtera-lah engkau. Jika tidak, akan kutebas kepalamu. Engkau telah meninggalkan Alloh di Bustham untuk pergi kerumahNya.

Hatim Tuli-salah seorang waliyulloh masa itu-, berkata kepada murid-muridnya,” Barang siapa di antara kamu yang tidak memohon ampunan bagi penduduk neraka di hari berbangkit nanti, ia bukan muridku”.

Perkataan Hatim ini disampaikan orang kepada Abu Yazid. kemudian Abu yazid menambahkan,” Barang siapa yang berdiri di tebing neraka dan menangkap setiap orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, kemudian mengantarnya ke surga lalu kembali ke neraka sebagai pengganti mereka, ia adalah muridku”.

ABU YAZID DAN SEORANG MURIDNYA
Ada seorang pertapa di antara tokoh-tokoh suci terkenal di Bustham. Ia mempunyai banyak pengikut dan pengagum, tetapi ia sendiri senantiasa mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Abu Yazid. Dengan tekun ia mendengarkan ceramah-ceramah Abu Yazid dan duduk bersama sahabat-sahabat beliau.

Pada suatu hari berkatalah ia kepada Abu Yazid,”pada hari ini genaplah tigapuluh tahun lamanya aku berpuasa dan memanjatkan do’a sepanjang malam sehingga aku tidak pernah tidur. Namun pengetahuan yang engkau sampaikan ini belum pernah menyentuh hatiku. Walau demikian aku percaya kepada pengetahuan itu dan senang mendengarkan ceramah-ceramahmu”.

“Walaupun engkau berpuasa siang malam selama tiga ratus tahun, sedikitpun dari ceramah-ceramahku ini tidak akan dapat engkau hayati”.

“Mengapa demikian?”,tanya si murid.
“Karena matamu tertutup oleh dirimu sendiri”, jawab Abu Yazid.
“Apakah yang harus kulakukan?”,tanya si murid pula.
“Jika kukatakan, pasti engkau tidak mau menerimanya”, jawab Abu Yazid.
“Akan kuterima!. Katakanlah kepadaku agar kulakukan seperti yang engkau petuahkan”.
“Baiklah!”, jawab Abu Yazid.”Sekarang ini juga, cukurlah janggut dan rambutmu. Tanggalkan pakaian yang sedang engkau kenakan ini dan gantilah dengan cawat yang terbuat dari bulu domba. Gantungkan sebungkus kacang dilehermu, kemudian pergilah ke tempat ramai. Kumpulkan anak-anak sebanyak mungkin dan katakan pada mereka,”Akan kuberikan sebutir kacang kepada setiap orang yang menampar kepalaku”. Dengan cara yang sama pergilah berkeliling kota, terutama sekali ke tempat dimana orang-orang sudah mengenalmu. Itulah yang harus engkau lakukan”.

“Maha besar Alloh!Tiada Tuhan kecuali Alloh”, cetus simurid setelah mendengar kata-kata Abu Yazid itu.
“Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu niscaya ia menjadi seorang Muslim”,kata Abu Yazid.”Tetapi dengan mengucapkan kata-kata yang sama engkau telah mempersekutukan Alloh”.
“Mengapa begitu?”,tanya si murid.
“Karena engkau merasa bahwa dirimu terlalu mulia untuk berbuat seperti yang telah kukatakan tadi. Kemudian engkau mencetuskan kata-kata tadi untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang penting, dan bukan untuk memuliakan Alloh. Dengan demikian bukankah engkau telah mempersekutukan Alloh?”.

“Saran-saranmu tadi tidak dapat kulaksanakan. Berikanlah saran-saran yang lain”, si murid berkeberatan.
“Hanya itu yang dapat kusarankan”,Abu Yazid menegaskan.
“Aku tak sanggup melaksanakannya”, si murid mengulangi kata-katanya.
“Bukankah telah aku katakan bahwa engkau tidak akan sanggup untuk melaksanakannya dan engkau tidak akan menuruti kata-kataku”,kata Abu Yazid.
(Duhai, sadarlah aku bahwa kesombongan dalam diriku begitu tebal, betapa pentingnya aku, betapa mulianya aku, betapa orang lain berada lebih rendah dari aku…..lihat nggantengku, lihat kekayaanku, lihat kepandaianku,…lihat kekuatanku….lihat kekuasaanku……! Besi mesti dipanasi untuk dijadikan pedang, besi mesti ditempa untuk dibuat menjadi tajam. Batu kotor mesti digosok supaya jadi berlian. “Gosoklah berlian imanmu dengan Laa illaha ilalloh”. ‘Jadidu Imanakum bi Laa illaha ilalloh’ )

“Engkau dapat berjalan di atas air”, orang-orang berkata kepada Abu Yazid. “Sepotong kayupun dapat melakukan hal itu”, jawab Abu Yazid.

“Engkau dapat terbang di angkasa”. “Seekor burung pun dapat melakukan itu”

“Engkau dapat pergi ke Ka’bah dalam satu malam”. ” Setiap orang sakti dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam”.

“Jika demikian apakah yang harus dilakukan oleh manusia-manusia sejati?”, mereka bertanya kepada Abu Yazid. Abu Yazid menjawab,”Seorang manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada siapapun dan apapun kecuali kepada Alloh”.

Abu Yazid ditanya orang,”Bagaimanakah engkau mencapai tingkat kesalehan yang seperti ini?”
. “Pada suatu malam ketika aku masih kecil,”, jawab Abu Yazid,”aku keluar dari kota Bustham. Bulan bersinar terang dan bumi tertidur tenang. Tiba-tiba kulihat suatu kehadiran. Di sisinya ada delapan belas ribu dunia yang tampaknya sebagai sebuah debu belaka. hatiku bergetar kencang lalu aku hanyut dilanda gelombang ekstase yang dahsyat. Aku berseru “Ya Alloh, sebuah istana yang sedemikian besarnya tapi sedemikian kosongnya. Hasil karya yang sedemikian agung tapi begitu sepi? ” Lalu terdengar olehku sebuah jawaban dari langit.” Istana ini kosong bukan karena tak seorangpun memasukinya tetapi Kami tidak memperkenankan setiap orang untuk memasukinya. Tak seorang manusia yang tak mencuci muka-pun yang pantas menghuni istana ini”.

“Maka aku lalu bertekat untuk mendo’akan semua manusia. Kemudian terpikirlah olehku bahwa yang berhak untuk menjadi penengah manusia adalah Muhammad SAW. Oleh karena itu aku hanya memperhatikan tingkah lakuku sendiri. Kemudian terdengarlah suara yang menyeruku.,” Karena engkau berjaga-jaga untuk selalu bertingkah laku baik, maka Aku muliakan namamu sampai hari Berbangkit nanti dan ummat manusia akan menyebutmu

RAJA PARA MISTIK

Abu Yazid menyatakan,” Sewaktu pertama kali memasuki Rumah Suci (Ka’bah), yang terlihat olehku hanya Rumah Suci itu. Ketika untuk kedua kalinya memasuki Rumah Suci itu, yang terlihat olehku adalah Pemilik Rumah Suci. Tetapi ketika untuk ketiga kalinya memasuki Rumah Suci, baik si Pemilik maupun Rumah Suci itu sendiri tidak terlihat olehku”.

Sedemikian khusyuknya Abu Yazid dalam berbakti kepada Alloh, sehingga setiap hari apabila ditegur oleh muridnya, yang senantiasa menyertainya selama 20 tahun, ia akan bertanya,” Anakku, siapakah namamu?” Suatu ketika si murid berkata pada Abu Yazid,”Guru, apakah engkau memperolok-olokkanku. Telah 20 tahun aku mengabdi kepadamu, tetapi, setiap hari engkau menanyakan namaku”.

“Anakku”,Abu Yazid menjawab,”aku tidak memperolok-olokkanmu. Tetapi nama-Nya telah memenuhi hatiku dan telah menyisihkan nama-nama yang lain. Setiap kali aku mendengar sebuah nama yang lain, segeralah nama itu terlupakan olehku”

Abu Yazid mengisahkan:

Suatu hari ketika sedang duduk-duduk, datanglah sebuah pikiran ke dalam benakku bahwa aku adalah Syaikh dan tokoh suci zaman ini. Tetapi begitu hal itu terpikirkan olehku, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Aku lalu bangkit dan berangkat ke Khurazan. Di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum Alloh mengutus seseorang untuk membukakan diriku.

Tiga hari tiga malam aku tinggal di persinggahan itu. Pada hari yang ke-empat kulihat seseorang yang bermata satu dengan menunggang seekor unta sedang datang ke tempat persinggahan itu. Setelah mengamati dengan seksama, terlihat olehku tanda-tanda kesadaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar unta itu berhenti lalu unta itu segera menekukkan kaki-kaki depannya. Lelaki bermata satu itu memandangiku.

“Sejauh ini engkau memanggilku”, katanya,” hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?”

“Aku jatuh lunglai. Kemudian aku bertanya kepada orang itu,”Dari manakah engkau datang?”

“Sejak engkau bersumpah itu telah beribu-ribu mil yang kutempuh”, kemudian ia menambahkan,”berhati-hatilah Abu Yazid, Jagalah hatimu!”

Setelah berkata demikian ia berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu.

MASA AKHIR
Diriwayatkan bahwa Abu Yazid telah tujuh puluh kali diterima Alloh ke hadhiratNya. Setiap kali kembali dari perjumpaan dengan Alloh itu, Abu Yazid mengenakan sebuah ikat pinggang yang lantas diputuskannya pula.

Menjelang akhir hayatnya Abu Yazid memasuki tempat sholat dan mengenakan sebuah ikat pinggang. Mantel dan topinya yang terbuat dari bulu domba itu dikenakannya secara terbalik. Kemudian ia berkata kepada Alloh:

” Ya Alloh, aku tidak membanggakan disiplin diri yang telah kulaksanakan seumur hidupku, aku tidak membanggakan sholat yang telah kulakukan sepanjang malam. Aku tidak menyombongkan puasa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku tidak menonjolkan telah berapa kali aku menamatkan Al Qur’an. Aku tidak akan mengatakan pengalaman-pengalaman spiritual khususku yang telah kualami, do’a- do’a yang telah kupanjatkan dan betapa akrab hubungan antara Engkau dan aku. Engkaupun mengetahui bahwa aku tidak menonjolkan segala sesuatu yang telah kulakukan itu.

Semua yang kukatakan ini bukanlah untuk membanggakan diri atau mengandalkannya. Semua ini kukatakan kepadaMu karena aku malu atas segala perbuatanku itu. Engkau telah melimpahkan rahmatMu sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri. Semuanya tidak berarti, anggaplah itu tidak pernah terjadi. Aku adalah seorang Torkoman yang berusaha tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah memutih di dalam kejahilan.

Dari padang pasir aku datang sambil berseru-seru,’Tangri-Tangri’ Baru sekarang inilah aku dapat memutus ikat pinggang ini. Baru sekarang inilah aku dapat melangkah ke dalam lingkungan Islam. Baru sekarang inilah aku dapat menggerakkan lidahku untuk mengucapkan syahadat. Segala sesuatu yang Engkau perbuat adalah tanpa sebab. Engkau tidak menerima ummat manusia karena kepatuhan mereka dan Engkau tidak akan menolak mereka hanya karena keingkaran mereka. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepadaMu limpahkanlah ampunanMu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku karena akupun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhiMu.

Kemudian Abu Yazid menghembuskan nafas terakhirnya dengan menyebut nama Alloh pada tahun 261 H /874 M.

9 Juli 2012

AJARAN CINTA (Rabi’ah al-Adawiyah)

oleh alifbraja
Pendahuluan
           
Cinta yang dalam tasawuf dikenal dengan istilah mahabbah, adalah pilar utama bagi ehidupan seorang sufi, karena dasar setiap gerak dan diam adalah cinta. Tiada kehidupan tanpa cinta dan dengan cinta kehidupan tercipta.
            Cinta Allah kepada seorang hamba ditunjukkan dengan kedekatan-Nya pada hamba itu, sedangkan cinta hamba kepada Allah ditunjukkan dengan taat melakukan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan mempersembahkan kepasrahan total di hadapan-Nya.
            Puncak cinta berakhir dengan disingkapkannya hijab Allah, dibukanya pintu, dan dipersilahkannya seorang hamba masuk ke hadirat Allah bersama para ahbab, para pecinta yang mempunya maqam khusus di hadapan-Nya.
 
Biografi Singkat
 
Salah seorang penyair Sufi perempuan yang terkenal pada abad ke-2H, atau ke-8M di Bashrah Iraq, adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Seorang perempuan yang menghijabi dirinya dengan keikhlasan agama, seorang yang selalu membara oleh api cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Seorang yang selalu terpikat oleh kecenderungannya untuk selalu dekat dengan Tuhannya dan dilumatkan oleh keagungan menyatu dengan-Nya, seorang perempuan yang telah menanggalkan dirinya guna menyatu dengan Yang Agung.[1]
Pada malam lahirnya al-Adawiyah ke dunia, tidak ada apapun yang pantas untuk menyambut kelahiran sang bayi. Ayahnya begitu miskin, hingga tidak memiliki lampu untuk penerangan  ruangan. Juga tidak setitik minyak saminpun karena habis Ia mempunyai tiga orang putri, maka putri yang ke empat diberi nama Rabi’ah. Ayahnya menamakan Rabi’ah,  yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu.
Dalam hidupnya ayah Rabi’ah adalah seorang hamba yang soleh, yang telah berjanji untuk tidak meminta bantuan pada sesama manusia (kecuali pada Tuhan), namun karena desakan keadaan dan permohonan seorang isteri juga karena merasa kasihan kepada sang anak ia pergi ke rumah-rumah tetangga dan mengetuk pintunya hendak meminta bantuan, tetapi tak ada satu jawaban apapun dari balik pintu, Ismail (ayah Rabi’ah) pun terpaksa pulang dengan tangan hampa.
Saat Ismail tertidur untuk menunggui putri keempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”
Ayah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan janggutku.[2]
Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Keinginan untuk memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karena keluarga Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan. Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.
Suatu ketika, Rabiah al-Adawiyah beserta keluarganya sedang mengadakan acara makan bersama. Sebelum menyantap makanan, Rabi’ah memandang ayahnya seraya berkata, “wahai Ayah, perkara yang haram selamanya tak akan menjadi halal. Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepada kami.” Seketika itu Ismail dan istrinya terkejut mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Rabi’ah.  Sehingga makanan yang sudah di mulut akhirnya tak jadi dimakan. Ia memandangi  Rabi’ah dengan pandangan yang lembut dan penuh kasih sayang. Sambil tersenyum, si ayah lalu berkata, “Rabi’ah, bagaimana pendapatmu, jika ayah tidak menemukan makanan apa pun kecuali barang yang haram?” Dengan cerdas Rabi’ah menjawab: “kita harus banyak bersabar karena menahan rasa lapar di dunia, ini jauh lebih ringan dan lebih baik daripada harus menanggung siksa kelak dalam api neraka. Ismail merasakan ketenangan dengan jawaban rabi’ah, wajahnya berseri-seri. Pada umumnya, anak seusia Rabi’ah  belum bisa memberikan jawaban setegas jawaban yang diberikan oleh Rabi’ah. Hal itu merupakan cermin keimanan yang sangat mendalam yang telah tertanam sejak usia dini.[3]
 
Rabi’ah Dewasa
Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia. Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan suadara-saudaranya terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itu sendirian.
Pada suatu hari, ketika Rabi’ah sedang berejalan sendirian menelusuri lorong jalanan di kota Basrah, tiba-tiba seseorang menyekap dan menculiknya. Mulut Rabi’ah juga dibungkam dengan sehelai kain. Kemudian ia dibawa dan dijual seharga enam dirham.[4]
Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Pada saat ia keluar untuk membeli keperluan rumah tanpa didampingi oleh majikannya ke pasar yang tempatnya tidak jauh dari tempat majikannya. ada seorang laki-laki asing yang selalu memperhatikan gerak-gerik Rabi’ah seraya laki-laki itu ingin melakukan sesuatu atau dengan kata lain mempunyai niat buruk dan ingin mencelakai Rabi’ah. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu menjauh dan berlari dan kemudian jatuh terpeleset. Tangannya patah dan mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata:
“Tuhan, tanganku kini patah, aku benar-benar telah menanggung kepedihan. Kepedihan lahir dan batin. Aku telah ditinggalkan oleh kedua orangtua. Dan aku akan selalu menerima cobaan apapunyang hendakl Engkau timpakan ke atas diriku. Aku akan selalu sabar menerima. Tuhan, apakah Engkau masih ridha dalam menerima keadaanku yang dhaif ini. Tuhan aku akan selalu bertanya apakah Engkau masih mencintaiku?[5]
 
Dengan pertolongan Allah swt Rabi’ah akhirnya selamat dari kejaran laki-laki yang mempunyai niat buruk tersebut. Setelah itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari.
Keadaan rabi’ah sebagai anak yatim piatu, perbudakan, penyiksaan, penghinaan, dan cobaan-cobaan yang lainnya yang telah dialami oleh Rabi’ah bukanlah sesuatu yang harus diresahkan. Akan tetapi, keridhaan dan kemurkaan Allah swt. yang selalu membuatnya resah. Apabila dibandingkan antara cobaan dan keridhaan Allah swt. keridhaan Allah swt. lebih mahal, sehingga ia sanggup menanggung setiap bentuk penyiksaan, asalkan ia tidak mendapat murka Allah. Kemurkaan Allah sajalah yang ia takuti dalam hidupnya.  [6]
Pada suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah.
Dalam shalatnya Rabi’ah berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Engkau senantiasa mengetahu bahwa cahaya mataku ini khidmah kepada-Mu. Seandainya urusan ini berada dalam kekuasaanku, niscaya tak sesaatpun  terlewat dari munajat kepada-Mu. Tetapi Engkau telah membiarkan diriku berada dalam pemeliharaan makhluk yang tidak mau beribadah kepada-Mu.[7]
 
Tatkala Rabi’ah masih khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya Rahmat Tuhan) dari seorang Muslimah suci. Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ke tempat tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.
Kehidupan Rabi’ah setelah terbebas dari perbudakan, merupakan pelajaran yang bermanfaat dan menjadi nasehat yang sempurna. Sebab ia telah menyebarkan nasehat yang bijak dengan kata-kata yang mulia, dikalangan generasi laki-laki dan perempuan pada masanya. Rabi’ah menapaki jalan dimana ia memulai langkah hidup. Sebuah jalan yang erat kaitannya dengan ridha Allah Swt.[8]
Rabi’ah memahami betul bahwa Tuhan dunia  ini juga Tuhan dihari kemudian. Oleh karena itu, jika Ia meridhai kita, menjadi yang pertama dari semua, Ia akan menganugerahi kita di dunia ini dan akan melimpahkan anugerah dihari kemudian.[9]
Jalan Menuju Mahabbah Kepada Allah
1.      Tidak Menikah
Sebagaimana yang banyak ditulis dalam biografi Rabi’ah al-Adawiyah, wanita suci ini sama sekali tidak memikirkan dirinya untuk menikah. Sebab, menurut Rabi’ah, jalan tidak menikah merupakan tindakan yang tepat untuk melakukan pencarian Tuhan tanpa harus dibebani oleh urusan-urusan keduniawian. Padahal, tidak sedikit laki-laki yang berupaya untuk mendekati Rabi’ah dan bahkan meminangnya. Di antaranya adalah Abdul Wahid bin Zayd, seorang sufi yang zuhud dan wara. Ia juga seorang teolog dan termasuk salah seorang ulama terkemuka di kota Basrah. 
Suatu ketika, Abdul Wahid bin Zayd sempat mencoba meminang Rabi’ah. Tapi lamaran itu ditolaknya dengan mengatakan, “Wahai laki-laki sensual, carilah perempuan sensual lain yang sama dengan mereka. Apakah engkau melihat adanya satu tanda sensual dalam diriku?”
Laki-laki lain yang pernah mengajukan lamaran kepada Rabi’ah adalah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basrah (w. 172 H). Untuk berusaha mendapatkan Rabi’ah sebagai istrinya, laki-laki itu sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan juga memberitahukan kepada Rabi’ah bahwa ia masih memiliki pendapatan sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan. Tetapi dijawab oleh Rabi’ah, ”Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari Allah meskipun hanya untuk beberapa saat.”[10]
Dalam kisah lain disebutkan, sahabat Rabi’ah bernama Hasan al-Bashri bercakap-cakap dengan Rabi’ah perihal pernikahan. Hasan al-Bashri bertanya “wahai Rabi’ah apakah engkau akan menikah? kemudian Rabi’ah menjawab “Jika engkau dapat menjawab empat pertanyaanku, aku pun akan menikah.” Hasan al-Bashri berkata, “Bertanyalah, dan jika Allah mengizinkanku, aku akan menjawab pertanyaanmu.” “Pertanyaan pertama,” kata Rabi’ah, “Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.” “Pertanyaan kedua, pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat Malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.” “Pertanyaan ketiga, pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan menerima buku catatan amal di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?” Hasan kembali menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Tahu.” “Pertanyaan terakhir, pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain masuk neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?” Hasan lagi-lagi menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu. Selanjutnya, Rabi’ah mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaiman aku harus bersuami yang kepadanya aku menghabiskan waktuku dengannya?” Dalam penolakannya itu pula, Rabi’ah lalu menyenandungkan sebuah sya’ir yang cukup indah.[11]
Damaiku, wahai saudara-saudaraku,
Dalam kesendirianku,
Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,
Karena cintanya itu,
Tak ada duanya,
Dan cintanya itu mengujiku,
Di antara keindahan yang fana ini,
Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,
Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,
Jika aku mati karena cintaku,
Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,
Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,
Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,
Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur jiwaku,
Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,
Engkau-lah sumber hidupku,
Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,
Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini dariku,
Harapku dapat menyatu dengan-Mu,
Karena itulah hidup kutuju.[12]
Bebrapa masalah yang dilontarkan rabi’ah dalam dialog di atas itu termasuk dalam persoalan ghaib yang tidaak bisa diketahui kecuali oleh Allah. Karena itulah, orang-orang yang hadir pada saat itu terdiam. Sesaat kemudian ia berkata, “ Kami sama sekali tidak mengerti apa yang engkau maksudkan, wahai Rabi’ah.”
Jawab Rabi’ah; “Kalau aku berdukacita memikirkan hal-hal tersebut, apakah mungkin aku memerlukan suami. Padahal kenyataannya, bila aku bersuami, sebagian waktuku akan disita olehnya.[13]
Begitulah, meskipun sebagai manusia, Rabi’ah tak pernah tergoda sedikit pun oleh berbagai keindahan dunia fana. Sampai wafatnya, ia hanya lebih memilih Allah sebagai Kekasih sejatinya semata ketimbang harus bercinta dengan sesama manusia.
 
2.      Zuhud
Ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah Sebagaimana diungkapkan terdahulu, Rabi’ah sejak kecil sudah memiliki karakter yang tidak begitu banyak memperhatikan kehidupan duniawi. Hidupnya sederhana dan sangat besar kehati-hatiannya terhadap makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Bahkan saking zuhudnya, Rabi’ah sering menolak setiap bantuan yang datang dari para sahabatnya, padahal andai saja ia bersedia menerima pemberian orang lain, tentu dalam waktu sekejap ia akan kaya raya karena banyak sekali baik dari para pedagang atau para hartawan yang ingin membenatu dia, namun mereka selalu kecewa setiap kali menawarkan hadiah atau bantuan kepada Rabi’ah setiap itu juga Rabi’ah menolaknya, dan Rabi’ah malah menyibukkan diri untuk melayani Tuhannya.
Selepas dirinya dari perbudakan, Rabi’ah memilih hidup menyendiri di sebuah gubuk sederhana di kota Basrah tempat kelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah. Tampaknya, keinginan untuk hidup zuhud dari kehidupan duniawi ini benar-benar ia jalankan secara konsisten.
Aku shalat seakan-akan ini terkahir kalinya, dan pada siang hari aku mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, aku takut mereka akan menarikku dari diri-Nya, maka aku katakan, “Ya Tuhan, sibukkanlah hati ini dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkau biarkan mereka menarikku dari-Mu.”
Sebagai seorang zahid, Rabi’ah senantiasa bermunajat kepada Allah agar dihindarkan dari ketergantungannya kepada manusia. Namun, perjalanan zuhud yang dialami Rabi’ah tampaknya tidak mudah begitu saja dilalui. Di depan, banyak tantangan dan cobaan yang harus ia hadapi. Kenyataan-kenyataan itu memang wajar, karena sebagai manusia, tak mungkin dirinya hanya bergantung kepada Allah semata.
Meskipun demikian, Rabi’ah tetap berusaha untuk menghindari apapun bantuan yang datang selain dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam kemiskinan (faqr), namun kemiskinannya dianggap sebagai bagian dari kasih sayang Allah kepada Rabi’ah.
Dalam satu kisah misalnya disebutkan, sahabatnya Malik bin Dinar pada suatu waktu mendapati Rabi’ah sedang minum air dar bejana yang pecah, di atas tikar yang telah usang, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki teman-teman yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, ucapanmu itu sangat tidak menyenangkan hatiku, dan itu memang ucapan yang salah . yang memberi rizki kawan-kawanmu yang kaya raya itu adalah Allah, yang juga telah memberi rizki kepadaku. Apakah engkau akan mengatakan bahwa hanya orang-orang kaya saja yang memperoleh rizki, sedangkan orang-orang miskin tidak? Jika Allah mentakdirkan kita seperti ini, maka tugas yang perlu kita laksanakan adalah menerimanya dengan tawakkal.”[14]
Sikap zuhud yang ditampilkan Rabi’ah sesungguhnya tiada lain agar ia hanya lebih mencintai Allah ketimbang makhluk-makhluknya. Karena itu, hidup dalam kefakiran baginya bukanlah halangan untuk beribadah dan lebih dekat dengan Tuhannya. Dan, toh, Rabi’ah menganggap bahwa kefakiran adalah suatu takdir, yang karenanya ia harus terima dengan penuh keikhlasan. Kebahagiaan dan penderitaan, demikian menurut Rabi’ah, adalah datang dari Allah. Dan dalam perjalanannya sufistiknya itu, Rabi’ah sendiri telah melaksanakan pesan Rasulullah: “Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia akan mencintaimu.”
 
Konsep tentang Cinta Rabi’ah
 Cinta Ilahi (al-Hubb al-Ilah) Rabi’ah al-Adawiyah  dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Bahkan kedudukan antara mahabbah dan ma’rifat merupakan kembar dua yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itu timbul dari pandangan dan pengetahuan mereka tentang cinta abadi dan tanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu timbul tanpa ada maksud dan tujuan apa pun.
Rabi’ah mengisyaratkan adanya dua bentuk cinta. Pertama, cinta yang lahir dari kesaksian kepada kemurahan Tuhan dalam bentuk kecukupan hajat hidup insaniyah dan kenikmatan inderawi (Hissiyah) serta kehormatan harga diri (ma’nawiyah), sehingga tiada disangkal jika hati cenderung dan tergirirng untuk mencintai Dzat pemberi kemurahan itu. Cinta seperti inilah yang disebut dengan hubbul-hawa, cinta karena kecenderungan hati.
Kedua, cinta yang lahir dari kesaksian hati kepada kepada adanya kesempurnaan. Jika hijab yang menyelimuti hati seorang hamba dibuka oleh Allah, maka tampaklah oleh hamba tersebut keindahan dan kesempurnaan Tuhan dalam segala hal. Pada saat demikian, secara otomatis lahir rasa cinta yang kokoh seorang hamba kepada Allah.
Cinta kedua inilah yang sesungguhnya paling hakiki, karena seorang hamba tidak lagi melihat seberapa besar Allah memberikan kecukupan hajat hidupnya, melainkan sebuah cinta yang melintasi segala ruang dan waktu serta mengatasi segala keadaan, baik suka maupun duka, baik ketika berkecukupan maupun papa.[15]
Apa yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-nya, sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf (takut) dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan al-Bahsri mengabdi kepada Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka dan harapan untuk masuk surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia mengabdi kepada Allah bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasan surga, namun ia mencinta Allah lebih karena Allah semata. Sikap cinta kepada dan karena Allah semata ini misalnya tergambar dalam sya’ir Rabi’ah sebagai berikut:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku.[16]
 
Cinta Rabi’ah kepada Allah sebegitu kuat membelenggu hatinya, sehingga hatinya pun tak mampu untuk berpaling kepada selain Allah. Pernah suatu ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah Rabi’ah tidak mencintai Rasul?” Ia menjawab, “Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintaku kepada Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya.” Rabi’ah juga ditanya tentang eksistensi syetan dan apakah ia membencinya? Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikit pun dalam diriku untuk rasa membenci syetan.” Allah adalah teman sekaligus Kekasih dirinya, sehingga ke mana saja Rabi’ah pergi, hanya Allah saja yang ada dalam hatinya. Ia mencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu, ia sering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup.
Menurut kaum sufi, proses perjalanan ruhani Rabi’ah telah sampai kepada maqam mahabbah dan ma’rifat setelah ia berhasil melewati beberapa tahapan atau maqam. Tahapan-tahapan ini ia lampaui seiring dengan perwujudan Cintanya kepada Tuhan. Tapi pada tahap tertentu, Cinta Rabi’ah kepada Tuhannya seakan masih belum terpuaskan, meski hijab penyaksian telah disibakkan. Oleh karena itu, Rabi’ah tak henti-hentinya memohon kepada Kekasihnya itu agar ia bisa terus mencintai-Nya dan Dia pun Cinta kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS. 5: 59).
Dalam kegamangannya itu, Rabi’ah tak putus-putusnya berdoa dan bermunajat kepada Allah. Bahkan dalam doanya itu ia berharap agar tetap mencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya. Doanya:
Tuhanku, malam telah berlalu dan
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.[17]
 
Cinta bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya hingga ia telah melupakan segalanya selain Allah. Tapi bagi Rabi’ah, Cinta tentu saja bukan tujuan, tetapi lebih dari itu Cinta adalah jalan keabadian untuk menuju Tuhan sehingga Dia ridla kepada hamba yang mencintai-Nya. Dan dengan jalan Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridla kepadanya dan kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari Cintanya kepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya, dan kemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan juga di akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan Cinta itu dirinya berharap Tuhan memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya. Dalam sya’irnya Rabi’ah mengatakan:
Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
sama sekali tiada puji bagiku dalam cinta manapun
Tapi bagi-Mulah segala puji itu.[18]
 
Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz. Sepanjang sejarahnya, konsep Cinta Ilahi (Mahabbatullah) yang diperkenalkan Rabi’ah ini telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan. Sebab, konsep dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali misalnya mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla)”.
Demikian pula, sebelum mencapai cinta kepada Allah, tidak ada jenjang kecuali hanya sebagai salah satu pendahuluannya saja, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lain sebagainya.[19] Rabi’ah telah mencapai puncak dari maqam itu, yakni Mahabbahtullah.
 
Pengaruh Doktrin dan Ajaran Mahabbah
 Kisah di atas menggambarkan kemuliaan akhlak Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang nama dan ajaran-ajarannya telah memberi inspirasi bagi para pecinta Ilahi. Rabi’ah adalah seorang sufi legendaries. Sejarah hidupnya banyak diungkap oleh berbagai kalangan, baik di dunia sufi maupun akademisi. Rabi’ah adalah salah seorang sufi yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi).
Sesungguhnya peran Rabi’ah al-Adawiyah dalam dunia sufisme sangatlah kuat, sehingga di atas langkah-langkahnya, berjalan seorang tokoh Ibn al-Faridl, serta Al-Hallaj.
Rabi’ah telah membingungkan para tokoh orientalis. Sebab mereka adalah golongan yang selalu mengklaim bahwa tasawuf bukanlah berasal dari Islam, bahwa materi spiritual yang ada pada tasawuf merupakan “pinjaman” dari spiritualitas Yunani. Mereka juga mengklaim bahwa tasawuf adalah hasil adopsi Islam dari konsep agama dan budaya di luar Islam. Menurut mereka Islam adakh agama pedang bukan agama jiwa dan hati, bukan pula agama asketik dan cinta.
Lalu datanglah Rabi’ah al-Adawiyah, seorang wanita bangsa Arab dari kota Basrah yang tumbuh di akhir abad pertama hijriah yang memberikan jawaban terhadap tudingan orang-orang orientalis tentang Islam. Ia memberikan konsep yang sempurna tentang Cinta Ilahi. Konsep Cinta ini merupakan tangga yang diletakkan di bawah kakinya untuk menapak naik ke puncak yang tertinggi.
Islam adalah sebuah kekuatan spiritual yang dimengerti dengan sangat baik oleh kaum orientalis, walaupun mereka mengingkarinya dan menganggap sebagai anacaman. Mereka sangat cemas, apalagi ketika itu materialisme Eropa sudah runtuh dalam berbagai betuk.tidak ada lagi di dunia ini kekuatan yang muncul dengan sinar cerah diawal kebangkitannya yang lebih besar ketimbang potensi spiritualisme Islam.
Rabi’ah adalah perintis kaum sufi yang mengumandangkan cinta murni, cinta yang tidak dibatasi oleh keinginan selain cinta kepada Allah. Rabi’ah telah menjadikan cinta kepada Allah sebagai inti kehidupan, tabi’at kehidupan, dan tujuan hidup yang paling tinggi. Cinta yang mempertautkan hati seorang hamba dengan penciptanya ini adalah inti dari totalitas makrifat dan ilham sufistik. Bahkan sesungguhnya cinta akan memindahkan materi-materi alam secara keseluruhan kepada ruh-ruh yang dapat merasakan dan selalu bertasbih serta mengabdi kepada Allah. Karena sesungguhnya materi-materi tersebut diciptakan dengan cinta, tegak dengan cinta,  bertasbih dengan cinta, serta membisikkan ungkapan, “Sesungguhnya tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya.” (Q.S. al-Isra:44)
Dengan cinta pula alam ini menjadi teratur secara keseluruhan di dalam wilayah spiritual yang indah dan bersinar, kehidupan menjadi suci, indah dan sempurna. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di alam ini berasal dari ketentuan Allah yang terbaik.[20]
 
Rabi’ah dan menjelang hari kematiannya
Dikisahkan, Rabi’ah telah menjalani masa hidup selama kurang lebih 90 tahun. Dan selama itu, ia hanya mengabdi kepada Allah sebagai Pencipta dirinya, hingga Malaikat Izrail menjemputnya. Tentu saja, Rabi’ah telah menjalani pula masa-masa di mana Allah selalu berada dekat dengannya. Para ulama yang mengenal dekat dengan Rabi’ah mengatakan, kehadiran Rabi’ah di dunia hingga kembalinya ke alam akhirat, tak pernah terbersit sedikit pun adanya keinginan lain kecuali hanya ta’zhim (mengagungkan) kepada Allah. Ia juga bahkan sedikit sekali meminta kepada makhluk ciptaan-Nya.
Kematian Rabi’ah telah membuat semua orang yang mengenalnya hampir tak percaya, bahwa perempuan suci itu akan segera meninggalkan alam fana dan menjumpai Tuhan yang sangat dicintainya. Orang-orang kehilangan Rabi’ah, karena dialah perempuan yang selama hidupnya penuh penderitaan, namun tak pernah bergantung kepada manusia. Setiap orang sudah pasti akan mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang telah berjumpa dengan Tuhannya.

Kini Rabi’ah telah tiada. Penyair kasmaran itu telah meninggalkan  kita semua, perempuan kekasih Ilahi itu meninggal untuk selamanya, dan akan kembali hidup bersama Sang Kekasih di sisi-Nya. Jasad kasarnya hilang ditelan bumi, tetapi ruh sucinya terbang bersama para sufi, para wali, dan para pecinta Ilahi. Namun tapak-tapaknya dalam cinta menuju Allah telah menjadi tonggak terpenting dalam falsafah sufiah tentang cinta Ilahi, dan mempengaruhi penyair sufi sesudahnya seperti Al-Bakhi, at-Tsuri, al-Ghazali, juga mempengaruhi al-Hallaj, as-Syibli, ibn Faridh, dan bahkan al-Aththar, ar-Rumi dan Ibn Arabi.

9 Juli 2012

Kisah Kota MANUSIA yang Rajanya Roh

oleh alifbraja

Ketika Allah SWT menciptakan khalifahNya, Dia juga mendirikan sebuah kota baginya, dimana sang Khalifah itu boleh tinggal bersama rakyat jelatanya dan pegawai pemerintahannya. dia memberi nama kota itu Manusia.

Ketika Allah SWT menyiapkan pembangunan kota itu, Dia berikan sebuah tempat khusus dipusat kota kepada khalifahNya yang dinamakan hati. Ada kabar angin mengatakan apakah khalifah benar2 akan menetap di kota itu atau hanya menggunakannya sebagai pusat pentadbirannya. Apakah ia merupakan ruangan singgasana atau balai istana atau hanya tempat bersuara doang, tidaklah penting.

Allah SWT mendirikan kota dari bahan –bahan yang terdiri dari tanah, air, api dan angin. Pemimpin utama menyatakan dalam riwayat yang bernama firman Tuhan yang bermaksud:

Langit dan bumi yang kuciptakan tak dapat meliputinya, namun hati hamba Ku yang beriman meliputimya.

Manakala pemimpin kita Rasulullah juga bersabda yang bermaksud:

Allah SWT tidak memandang pada rupa parasmu atau perbuatan mu, tetapi hati mu.
Allah SWT selalu mengingati, memerhatikan dan mecermati nya setiap saaat
Dia yang meciptakan wakilnya, sudah pasti memerhatikan wakilnya itu, apa yang dibuatnya terhadap amanat yang telah diserahkannya.

Allah SWT mecipatkan roh sebagai khalifahnya atas tubuh, jadi Allah SWT membuat roh bertanggungjawab terhadap tubuh. Ingat lah firman Allah SWT yang bermaksud:

…Karena sesunggugguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati di dalam dada

Manusia yang mengembara di seluruh pelosok dunia ini. Dalam kesempatan hidup mereka , mereka dapat melihat dengan jelas. Mereka melihat yang hidup dan yang mati, yang dibangunkan dan yang dihancurkan. Mereka punya mata untuk melihat, punya telinga untuk mendengar, jadi tidak mau mengambil iktibar dari apa yang dilihat dan didenganya. Jika mereka lalai, itu karena mereka buta.

Rasulullah bersabda:

Ada sekerat daging dalam tubuh manusia. Jika bersih ia dan baik , niscaya seluruh tubuh akan menjadi baik. Jika segumpal daging itu rusak, niscaya tubuh akan rusak. Segumpal daging itu adalah hati.

Hati merupakan istana khalifah Allah, tempat meyimpan rahasia, ia merupakan peti besi tempat menyimpan catatan rahasia, hukum dan titah/perintah sang khalifah.

Ingat jika sang pemimpin kota baik, niscaya rakyat jelata pun baik, jika sang pemimpin ini tersesat, para sahabat dan rakyatnya juga tersesat.

Ketika Allah SWT menajdikan roh manusia sebagai pemimpin utama kota manusia. Dia mengajar tentang perangai, perilaku dan fikiran para penduduk kota itu. Jadi, karena ia memahami rakyatnya, maka rakyatnya menghormatinya, percaya kepadanya dan rela membelanya. Jika khalifah Allah SWT ini, tidak setia dan khianati amanatnya, niscaya penduduknya akan rusak dan juga tidak setia kepadanya. Di pihak lain jika ia bertaqwa dan memuliakan yang memberikan kepadanya kekuasaan, maka para sahabat dan rakyat akan mempercayai dan menghormatinya.

Jadi perhatikan diri anda sendiri. Jika anda bertaqwa, adil dan baik, maka roh anda pun akan jadi demikian pula. Anda sebagaimana roh anda.

Orang melihat begitu banyak hal dalam dirinya tanpa menyadari mengapa semua itu ada. Siapakah semuanya itu terjadi sejak permulaaan atau terjadi sesudahnya atau akan tetap seperti itu pula pada bila-bila. Sebab orang tidak mengetahui kerahasiaaan pemerintahan Allah SWT di dalam hati atau bagaimana melindungi gumpal daging kecil yang bernama hati tadi. Jika salah langkah boleh merusakan kita semua.

Allah SWT mendirikan menara di tanah tinggi di kota manusia. Dia membangunkannya dengan bahan-bahan yang terpilih, merancangnya untuk mengawasi seluruh kota dan meyebutnya dengan nama fikiran.

Dia juga membuka jendela besar di puncaknya tersebut untuk menikmati empat sudut kota dan menamainya mata, telinga, mulut dan hidung.
Di bagian tengah menara pula, Dia membangunkan sebuah ruang untuk mneyimpan khazanah khayalan dan dalamnya tersimpan perbendaharaan yang tersusun sempurna.

Para pemimpin panca indera ini, dapat manfaatkan ruang maklumat ini untuk kemudiannya menambah akan data-data baru kepadanya. Mimpi dalam tidur pun berasal dari ruang ini. Di sini juga, semua kekayaan dari kutipan cukai dikumpulkan oleh para pemungut cukai di dalam kota manusia, di mana hasil uang dipisahkan berdasarkan halal dan yang haram.

Allah SWT juga membangunkan ruang lain di dalam menara fikiran itu yg dinamakan ruang akal. Barang-barang di dalam ruang itu berasal dari dari ruang khayalan. Di sini barang-barang ditimbang dan diukur. Di mana apa-apa yang benar yang disimpan dalam ruang, manakala yang salah dikembalikan pada ruang pertamax tadi.

Pada sebuah sudut fikiran, dibangunkan pula ruang lain , tempat menyimpan kenangan. Penjaga kenangan ini adalah seorang pegawai yang bernama akal.

Ada kawasan lain, di dalam kota manusia yang dijadikan tempat tinggal yang bernama nafsu, sang puteri mahkota khalifah Allah. Tempat ini dikenal sebagai mementingkan diri sendiri. Disinilah terdapat berbagai pertentangan, di sini juga tersimpan perintah Allah SWT maupun laranganNya. Pada malam agung tertentu, Perintah yang Maha Agung diturunkan di sini. Tempat itu, dilindungi sendiri oleh Allah,

sebab ia berada dibawah tempat pijak, tempat kakinya yang suci berpijak yaitu roh।(khalifah Allah) yang berada di bawah dan dilindungi oleh singgasanaNya।Mengikut Imam Al Ghazali , beliau berkata:

Manusia adalah anak yang ayahnya adala roh dan ibunya adalah jiwa. Dia berpendapat bahwa Tuhan menjaga roh pada pada tingkatan tertinggi di bawah singgasanaNya dan ibu kita, jiwa pada tingkatan lebih rendah di bawah kakinya. Jadi Dia adalah Tuhan kedua orang tua kita, Dia lah Tuhan raga, roh dan jiwa. Kaum sufi mengetahui bahwa semua ucapan dan perbuatan jiwa, benar atau salah telah ditakdirkan oleh Tuhan. Satu-satunya bagian manusia yang tak terkena suratan takdir ialah roh, yang mereka mengikutinya pada masa depan.

Sebenarnya manusia memiliki tiga jenis jiwa yaitu jiwa tumbuhan yang dikelompokkan dalamnya benda-benda mati. Jenis kedua ialah jiwa haiwani, yang di dalamya dikelompokkan golongan hewan, jenis ketiga ialah jiwa rasional, yang di dalamnya di bedakan dari kedua-dua makhluk sebelumnya. Dengan dikaitkan dengan manusia. Dengan jiwa yang ketiga tadi manusia menjadi lebih unggul dari malaikat.

Seterusnya dalam kerajaan manusia, Allah SWT mencipatakan kekuatan lain yang sifatnya selalu memberontak dan ingin merebut kuasa roh dan akal. Ia dinamakan sebagai hawa nafsu dan menteri kanannya bernama syahwat.

Suatu hari, syahwat menyamar dalam pasukan kerajaan manusia, berjalan-jalan di sebagian taman indah. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan nafs, yaitu isteri tersayang sang khalifah, Kemudian saling berpandangan dan syahwat kemudian jatuh cinta kepada nafs, Untuk bersatu dengannya, syahwat telah mengerjakan berbagai perbuatan licik, Dia menggunakan cara rayuan, bersolek , memberi hadiah indah-indah apa-apa yang dimilikinya. Utusannya yang bernama angan-angan dan dutanya yang bernama terpedaya pun kehilir kehulu di antara kedua-duanya sehingga sang isteri khalifah tadi pun jatuh cinta kepada syahwat. Sayangnya, khalifah sendiri tidak menyedarinya. Tetapi, akal mengetahuinya keadaan ini, coba menutup sebelah mata dan menyembunyikannya agar sang khalifah tidak menaruh curiga.

Bahkan dalam keadaan tertentu, nafs atau jiwa telah pun di bawah pengaruh nafsu dan syahwat begitu mencengkam. Meskipun roh mengetahui bahaya godaaan jiwa yang selalu memerintahkan kepada kejahatan. Manusia tetap berada pada keadaan yang amat sulit. Manusia tadi, terombang ambing di antara dua buah pengaruh yang kuat, roh menyerunya ke arah kebaikan, tetapi jiwa selalu terus menerus menyeru kepada kejahatan,
Tetapi semua dugaan ini telah diizinkan Allah. Sebagaimana firmannya bermaksud dalam surah al-syamas:91. Bermaksud:
Dan jiwa serta penyermpurnaannya , maka Allah SWT mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kepada kefasikan dan ketaqwaan.

Manusia yang selalu mmentingkan diri sendiri dan kepada jiwa ia terpengaruh kepada hasutan, kepada kejahatan. Jika ia tergoda, hilanglah kesuciannya. Semuanya datang dari sisi Allah, Di mana Ia menjadikan jiwa yang selalu menyeru kepada kearah kejahatan dan Dia pula yang menjadikan sikap ego manusia yang condong kepada kejahatan dan kabaikan, silih berganti. Ketika jiwa berfikir, merenung dan insyaf, ia menjadi murni dan normal kembali. Kemudian jiwa ini disebut dengan jiwa yang tenang.

Meskipun Allah SWT telah mencipatkan khalifahnya dengan sifat-sifat yang sangat sempurna namun Dia tetap memandangnya lemah, tak ada daya dan upaya. Allah SWT ingin agar khalifahNya menyadari bahwa khalifahnya akan menemui kekuatan hanya dengan pertololongan dan bantuan Tuhannya. Dia menciptakan halangan dan dugaan-dugaan yang kuat baginya itu untuk mehghalangi kepada kesadaran. Ini lah rahasia dua kemungkinan yang saling berlawanan bagi diri manusia tadi.

Roh dan nafsu adalah suami isteri yang sah. Jika sang suami memanggil isterinya, namun isterinya tidak menyahut, orang akan berkata, mengapa isterinya tidak datang kepada mu. Maka si suami bertanya kepada pembantu yang dikasihinya yaitu akal, mengapa isterinya bersikap diam, Akal mengatakan kepada tuannya, hai tuanku yang baik hati, engkau menyeru yang kedudukannya adalah setara dengan kekdudukanmu sendiri, yang mempunyai wilayah pemeritahannya sendiri, dengan kekuatan dan berada di bawah perintah Yang Maha Kuasa juga. Dia disebut sebagai nafsu duniawi, jiwa ini selalu menyeru ke arah kejahatan. Tidaklah begitu mudah untuk menaklukinya.

Roh megirimkan sepucuk surat kepada isterinya melalui penasihat kanannya, yang mejelaskan perasaanya kepadanya. Namun nafsu telah menangkap dan memenjarakan utusan roh. Akal sebagai penasihat kanan roh, telah ditakluki di bawah tekanan nafsu .

Ketika akal kini di bawah pengaruh nafsu, telah diizinkan kembali ke tuannya roh, dia telah menyampaikan pesanan bahwa dia bukan saja kehilangan isterinya malah telah banyak juga pegawai-pegawainya dan pasukannya telah berpihak kepada isterinya. Hanya segelintir saja yang tetap setia kepadanya.

Fikiran telah memberitahu kepada roh bahwa musuhnya telah memasuki halaman istana, telah siap siaga menghancurkan pemerintahannya, merebut takhta kerajaan dan mengambil alihnya. Akal telah memberitahu tugas sucinya adalah untuk memperingatkan kepada roh sebelum mereka berdua binasa.

Kini, dengan peringatan dari akal, roh mengetahui bahawa dia telah dilumpuhkan, Dia sudah tak berdaya dan kini pasrah diri kepada Tuhannya pemilik segala sesuatu. Kini Roh sudah mengetahui, dia sudah tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Kini dia tahu di saat cemas beginilah apa erti makna Tuhan kepadanya yang maha perkasa.

Ketika khalifah Allah SWT yang bernama roh mengadap junjung kasih kepada Tuhannya untuk meiminta pertolongan.

Tuhan telah menjadi perantara antara roh dan nafsu. Kemudian nafsu menahan dirinya dan tidak lagi melakukan penguasaan menyeluruh atas kerajaan manusia tadi.

Menyahuti dan meghormati akan kekuasaan Tuhan, maka roh dan nafsu menundukkan kepala mereka dalam ketaatan, puas dengan keridhaan Allah SWT sebagaimana Firman Allah SWT berbunyi: dalam surah Al- fajar:27-30, yang bermaksud:

Hai jiwa yang tenang (Muthamainnah), kembalilah kepada Ku, dengan hati yang puas lagi diredhai, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaku Ku dan masuklah ke dalam syurga Ku

Kini perbezaan antara kedua-duanya telah lenyap. Mereka akhirnya bersatu kembali.

Tuhan menamai jiwa yang tenan sebab pada diri nafsu telah menyedari potensi dan kemampuan yang sebenarnya. Jika ia tergoda oleh kejahatan, ia menentang kodratnya sendiri, seperti dalam, firman Allah SWT surah an nisa:78 yang bermaksud:

Semuanya dari sisi Allah

Juga, dalam surah al-isra’ :20, yang bermaksud:
Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

Ketika Dia memanggil roh dan nafsu kepada diriNya sendiri dengan puas lagi diredhaiNYa, tersirat bahawa kedua-duanya saling meridhai dan serasa. Ketika Dia megundang mereka berdua ke syurgaNya, sebenarnya Dia mengundang mereka menuju keselamatan di sebuah tempat yang damai, jauh dari tempat-tempat yang tidak diredhai Tuhan. Ketika ia diminta datang ke dalam syurga bersama para hambaNya yang dicintaiNYa, dimasukkanNya mereka ke dalam golongan orang yang taat patuh kepada Nya dan telah mengikat kukuh hati mereka tunduk kepadaNya.

Di dalam kerajaan manusia, di bawah pemeritahan roh, khalifah Allah SWT terdapat empat golologan penduduk:

Mukmin sejati yang mamatuhi hukum-hukum Tuhan mereka dan, mereka mampu melindungi diri sendiri dari semua kejahatan
Golongan kedua, mereka pada dasarnya beriman, namun terkadang tersasar berbuat maksiat
Golongan ketiga, kumpulan munafik iaitu yang menampakkan keimanan padahal sebenarnya mereka tidak beriman
Golongan keempat . Golongan kafir yang memandang diri mereka sendiri sebagai Tuhan

Inilah kenyataan yang ada pada kerajaan manusia, di tengah-tengah berlakunya kejahatan, rasa dengki, perang antara roh dan nafsu. Fikiran dan jiwa yang selalu mengarahkan kepada kejahatan

29 Juni 2012

Qutb para wali dan empu rahasia Ilahi

oleh alifbraja

Qutb para wali dan empu rahasia Ilahi

Ibnu Al-Khidr bercerita, “setiap kali aku menghadap Syaikh Abdul Qadir di musim dingin yang menusuk, aku selalu mendapatkan beliau hanya mengenakan satu helai baju dan peci (thaqiyah). Namun, keringat bercucuran dari badannya dan selalu ada yang mengipasinya seperti sedang dalam musim panas yang luar biasa teriknya”.
Syaikh Abu Thahir Muhammad bin Al-Hasan Al-Anshari menyatakan bahwa ia pernah mendengar syaikh Abu AbduLlah Muhammad Al-Quraisy menyatakan bahwa dirinya juga pernah mendengar dari Aba Rabii’ Sulaiman Al-Maliki menyatakan bahwa tuan (sayyid) zamannya adalah Syaikh Abdul Qadir yang telah mencapai tingkat yang tidak terlukiskan. Dan di dalamnya terdapat ilmu agung, dikumpulkan di dalamnya berbagai makna”,
Kemudian syaikh Aba Thahir berkata kepada Syaikh Al-Qurasyi, “Apakah Syaikh Abdul Qadir sayyid zaman ini ?”. “Benar” jawabnya. Kemudian ai meneruskan, “Diantara para wali Dialah yang paling tinggi dan sempurna. Diantara para ulama dia lah yang paling wara’. Dan diantara para ‘aarif beliau lah yang paling dalam dan sempurna pengetahuannya. Sedangkan diantara para syaikh, dia lah yang paling kuat”.
Pada suatu hari syaikh Abu Muhammad Al-Qasim bin Abdul Bashri ditanya tentang Khidir AS, beliau menajwab,”Pada suatu saat aku bertemu dengannya. ‘Ceritakan padaku kisahmu dengan para wali’. Pintaku kepadanya waktu itu. Beliaupun bercerita pada suatu hari aku lewat di laut mediterania. Tiba-tiba aku melihat seseorang tidur berselimut jubahnya dan terbetik dalam hatiku bahwa ia adalah seorang wali. Aku menghampirinya dan membangunkannya dengan kakiku. Dia terbangun dan berkata kepadaku, “Apa yang engkau inginkan ?”. ‘bangkitlah untuk berkhidmad’. Kataku kepadanya. “Pergi dan urus urusanmu sendiri”. Katanya kepadaku. Kemudian ia berkata, “Hai Khidir, siapakah aku ?”. akupun menyerahkan urusan ini kepada Allah dan berkata, ‘Tuhanku, aku adalah kepala para wali’. Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari langit, “Khidir, engkau adalah kepala orang-orang yang mencintai-Ku. Sedangkan yang ini adalah orang yang Aku cintai. “ Mendengar hal itu aku memohon kepadanya untuk mendoakanku. Dia menjawab, ‘Semoga Allah memberikan kebaikan yang berlipat ganda kepadamu”.
Akupun kembali berjalan dan menemukan seorang perempuan di puncak bukit pasir tertidur berselimut jubah. Aku berniat membangunkannya dengan kakiku sambil berkata dalam hati, “agaknya ini adalah isteri dari orang yang aku jumpai tadi”. Tiba-tiba terdengar suara, ‘Bersiakp sopanlah kepada orang-orang yang Kami cintai’. Pada waktu ashar, orang perempuan tersebut bangun. Setelah membaca doa, dia berpaling memandangku dan berkata, “Akan lebih baik jika engkau bersikap sopan kepadaku tanpa harus dilarang (oleh Allah) terlebih dahulu”. Dan dia mendoakan seperti doa suaminya.’
Setelah Nabi Khidir selesai bercerita, aku bertanya kepadanya, “Apakah orang-orang yang dicintai tersebut memiliki seorang pemimpin yang dipatuhi perintahnya ?”. ‘Ada’ Jawabnya. Aku kembali bertanya kepadanya, “Pada saat sekarang ini siapakah dia ?”. Khidr AS menjawab, ‘Dia adalah Syaikh Abdul Qadir. Dia lah afrad para golongan yang dicintai dan qutb para wali serta empu rahasia Ilahi’”

27 Juni 2012

Legenda AJISAKA

oleh alifbraja

Legenda AJISAKA, mengungkap zuriat NABI ISHAQ di NUSANTARA

Dalam prasasti Kui (840M) disebutkan bahwa di Jawa terdapat banyak pedagang asing dari mancanagara untuk berdagang misal Cempa (Champa), Kmir (Khmer-Kamboja), Reman (Mon), Gola (Bengali), Haryya (Arya) dan Keling.

Untuk kebutuhan administrasi, terdapat para pejabat lokal yang mengurusi para pedagang asing tersebut, misal Juru China yang mengurusi para pedagang dari China dan Juru Barata yang mengurusi para pedagang dari India. Mereka seperti Konsul yang bertanggung jawab atas kaum pedagang asing.

Di dalam catatan sejarah, kita mengenal gelar “Sang Haji (Sangaji)” merupakan gelar dibawah “Sang Ratu”, seperti contoh Haji Sunda pada Suryawarman (536M) dari Taruma, Haji Dharmasetu pada Maharaja Dharanindra (782M) dari Medang. Haji Patapan pada Maharaja Samaratunggadewa (824M) dari Medang. Sumber : History of Java Nusantara

Legenda Ajisaka

Dalam legenda tanah Jawa, kita mengenal nama tokoh Ajisaka. Ajisaka sangat mungkin, berasal dari kata Haji Saka, bermakna Perwakilan Negara (Duta) atau Konsul yang bertanggung jawab atas para pedagang asing, yang berasal dari negeri Saka (Sakas).

Lalu dimanakah Negeri Sakas itu?

Di dalam sejarah India, dikenal negara Sakas atau Western Satrap (Sumber : Western Satrap, Wikipedia). Pada tahun 78M Western Satrap (Sakas) mengalahkan Wikramaditya dari Dinasti Wikrama India. Kemenangan pada tahun 78M dijadikan sebagai tahun dasar dari penanggalan (kalender) Saka. Wilayah Western Satrap mencakup Rajastan, Madya Pradesh, Gujarat, dan Maharashtra.

Para raja dari Western Satrap biasanya memakai dua bahasa yaitu Sankrit (Sansekerta) dan Prakit serta dua aksara yaitu Brahmi dan Yunani dalam proses pembuatan prasasti dan mata uang logam kerajaan. Sejak pemerintahan Rudrasimha (160M-197M), pembuatan mata uang logam kerajaan selalu mencantumkan tahun pembuatannya berdasarkan pada Kalender Saka.

Keberadaan Sakas dengan Kalender Saka-nya, nampaknya bersesuaian dengan Legenda Jawa, yang menceritakan Ajisaka (Haji Saka), sebagai pelopor Penanggalan Saka di pulau Jawa.


Dewawarman I, bukan Ajisaka

Di dalam Naskah Wangsakerta, kita mengenal seorang pedagang dari tanah India, yang bernama Dewawarman I. Beliau dikenal sebagai pendiri Kerajaan Salakanagara. Ada sejarawan berpendapat, bahwa Dewawarman I adalah indentik dengan Haji Saka (Ajisaka). Akan tetapi apabila kita selusuri lebih mendalam, sepertinya keduanya adalah dua orang yang berbeda.

Ajisaka (Haji Saka), tidak dikenal sebagai pendiri sebuah Kerajaan, melainkan dikenal membawa pengetahuan penanggalan, bagi penduduk Jawa. Sebaliknya Dewawarman I adalah pendiri Kerajaan Salakanagara, dan tidak ada riwayat yang menceritakan, bahwa beliau pelopor Kalender Saka.

Dewawarman I di-indentifikasikan berasal dari Dinasti Pallawa (Pahlavas), beliau berkebangsaan Indo-Parthian, yang berkemungkinan salah satu leluhurnya adalah Arsaces I (King) of PARTHIA. Dan jika diselusuri silsilahnya akan terus menyambung kepada Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia binti Cyrus II “The Great” of Persia (Zulqarnain). Sumber : The PEDIGREE of Arsaces I (King) of PARTHIA dan Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah

Sementara Ajisaka (Haji Saka), di-identifikasikan berasal dari Sakas (Western Satrap), beliau berkebangsaan Indo-Scythian, dimana susur galurnya besar kemungkinan, menyambung kepada keluarga kerajaan di India Utara (King Moga/Maues). Sumber : Indo-Scythians  dan Maues, Wikipedia

Namun ternyata, kedua Leluhur masyarakat Sunda dan Jawa ini, memiliki satu persamaan, yakni : Dewawarman I (Indo-Parthian) dan Ajisaka (Indo-Scythian), sesungguhnya merupakan Zuriat (Keturunan) dari Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim (Bani Ishaq), yaitu melalui dua anaknya Nabi Yakub (Jacob) dan Al Aish (Esau). Sumber : THE TWO HOUSES OF ISRAEL, Who were the Saxons/Saka/Sacae/Scythians? Sons of Isaac, Komunitas Muslim, dari Bani Israil dan (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ?

Huruf Jawa

 


Karya klasik berbentuk puisi tembang macapat, dan berbahasa Jawa Baru. Isi teks tentang cerita mitos yang dimulai dengan kedatangan Aji Saka dari Arab ( bumi Majeti ) ke Tanah Jawa atau Medhang Kamulan. Diceritakan pula tentang kematian Prabu Dewatacengkar oleh Aji Saka yang kemudian menggantikannya sebagai raja di Medhang Kamulan dengan gelar Prabu Jaka. Cerita ini diakhiri dengan peperangan antara para Adipati Brang Wetan (pesisir timur) melawan Prabu Banjaransari di Kerajaan Galuh.Aji Saka dalam perjalanannya ke Medhang Kamulan singgah di rumah seorang janda bernama Sengkeran. Ditempat inilah banyak orang yang berguru kepada Aji Saka. Raja Medhang Kamulan, Prabu Dewatacengkar, senang sekali melihat banyak orang ditempat tersebut kesukaannya memakan daging manusia. Oleh karena itu orang-orang menjadi takut.Aji Saka menawarkan dirinya lewat Patih Trenggana agar dihadapkan sebagai santapannya. Ia mengajukan persyaratan meminta tanah seluas ikat kepala yang dimilikinya untuk dibentangkan di tanah tersebut.

Raja Dewatacengkar menyanggupinya sehingga ikat kepala yang dibentangkan tadi memenuhi wilayah Medhang Kamulan. Dewatacengkar terdesak dan akhirnya sampaidi pantai selatan hingga tercebur dalam samudera dan berubah wujud menjadi buaya putih. Selanjutnya Aji Saka kembali ke Medhang Kamulan dan menggantikan kedudukannya sebagai raja dengan gelar prabu Jaka atau Prabu Anom Aji Saka. Sepeninggal Dewatacengkar kerajaan Medhang Kamulan menjadi aman tenteram dan damai kekuasaan Aji Saka. Ia dapat membuat manusia dengan tanah dan menciptakan aksara Jawa yang disebut Dhentawyanjana. Diceritakan pula mengenai naga Nginglung yang mengaku dirinya sebagai putra prabu Jaka. Ia disuruh untuk membunuh buaya putih di samudera yang merupakan penjelmaan Dewatacengkar. Naga tersebut dapat membunuh buaya putih sehingga diakui sebagai putranya dan diberi nama Tunggul Wulung.

Raden Daniswara di Panungkulan bermaksud ingin merebut Kerajaan Medhang. Ia disarankan oleh Hyang Sendhula agar meminta bantuan kepada ratu Kidul yang bernama Ratu Angin-Angin. Ia kemudian dapat menjadi raja di tanah Jawa dengan sebutan Raja Daniswara atau Srimapunggung. Ki Jugulmudha dijadikan patih dengan gelar Adipati Jugulmudha. Langkah selanjutnya adalah ingin menaklukan pesisir mencanegara. Setelah selesai tugasnya ia kembali ke Panungkulan dan selanjutnya berniat menaklukan Medhang. Akhirnya Aji Saka moksa bersama dengan kerajaannya sedangkan Medhang dibawah kekuasaan Srimapunggung. Setelah Srimapunggung moksa kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sri Kandhihuwan. Setelah Sri Kandhihuwan moksa kemudian digantikan oleh prabu Kelapagadhing.

Selanjutnya kekuasaan secara berturut-turut digantikan oleh :
(1) Prabu Andhong,
(2) Sri Andhongwilis,
(3) Prabu Banakeling,
(4) Sri Banagaluh,
(5) Sri Awulangit,
(6) Ratu Tunggul,
(7) Selaraja,
(8) Mundhingwangi,
(9) Mundhigsari,
(10) Jajalsengara,
(11) Gilingwesi,
(12) Sri Prawatasari,
(13) Wanasantun,
(14) Sanasewu,
(15) Raja Tanduran,
(16) Rama Jayarata,
(17) Raja Ketangga,
(18) Raja Umbulsantuin,
(19) Raja Padhangling,
(20) Ratu Prambanan,
(21) Resi Getayu,
(22) Lembu Amiluhur,
(23) Raden Laleyan,
(24) Raden Banjaransari).
Pusat kerajaan di Medhang Pangremesan atau Jenggala.

Pada saat pemerintahan Raden Banjaransari, ia mendapatkan wangsit dari dewa Sang Hyang Narada agar meninggalkan kerajaan untuk pergi ke arah barat yang akhirnya sampai di Gua Terusan untuk bertapa. Ditempat inilah ia dapat bertemu dengan kakeknya, Sang Hyang Sindula, yang akhirnya dapat menjadi raja di Kerajaan Galuh. Disebutkan pula mengenai peperangan antara para Adipati Brang Wetan melawan Prabu Banjarsari di Kerajaan Galuh.

Cerita Ajisaka tersebut diatas ada yang mengartikan perlambang atau bermakna sebagai berikut :
1. Ajisaka – Aji = Raja ( pegangan raja ) Saka = Pilar
2. Majeti – Ma = Diterima ( keterima ) Jet = Grenjet ( bijaksana ) Ti = Pangesti ( doa khusuk )
Artinya : Doa orang yang bijak, yang melakukan dengan khusuk akan diterima.
3. Medang Kamolan – Kamolan = Mula = tempat asal muasal kehidupan
Beberapa resensi tentang Ajisaka terdapat pada serat Jatiswara dan Serat Centhini yang memuat sebuah episode mengenai nama Ajisaka ( Raja Jawa Pertama ) pada abad ke. 17.

Sekarang saya akan sedikit bercerita tentang salah satu budaya Jawa. Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah sedikit bercerita tentang budaya Jawa, yaitu penggunaan kata-kata untuk melambangkan bilangan: Candra dan Surya Sengkala. Sekarang saya masih akan bercerita tentang budaya Jawa yang masih ada kaitannya dengan tulis-menulis, yaitu tentang sejarah huruf Jawa atau kadang disebut huruf Hanacaraka dan juga makna filosofisnya. Mengingat panjangnya cerita tentang huruf Jawa ini maka saya akan menulis makna filosofis huruf Jawa di posting selanjutnya. Ada berbagai macam versi tentang riwayat huruf Jawa tersebut, ada yang menyebutkan bahwa yang pertama mencetuskan (mau pakai kata menciptakan ataupun menemukan rasanya tidak pas) huruf Jawa tersebut adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo dari kerajaan Mataram di Yogyakarta tetapi ada juga yang menyebutkan kalau huruf Jawa sebenarnya dikenalkan oleh Aji Saka. Nah, tentang riwayat Aji Saka itu sendiri juga ada beberapa versi karena ada yang mengatakan bahwa Aji Saka sebenarnya adalah seorang ulama dari Mekkah (tidak tahu nama aslinya) dan ada juga yang menyatakan bahwa Aji Saka adalah ksatria asli Jawa.

Karena kebanyakan orang menyatakan bahwa Aji Saka-lah yang mengenalkan huruf Jawa pertama kali maka sekarang saya akan menceritakan salah satu versi sejarah munculnya huruf Jawa yang lumayan populer. Salah satu versi cerita menyatakan bahwa huruf Jawa tersebut sebenarnya menceritakan bagian dari sepenggal kisah perjalanan Aji Saka. Huruf Jawa tersebut menceritakan tentang kesetiaan dua orang pengikut Aji Saka. Kira-kira secara garis besar ceritanya seperti ini (saya yakin ada banyak versi lainnya): Aji Saka adalah seorang pengembara yang terkenal sebagai penakluk seorang raja penuh angkara murka, yaitu Prabu Dewata Cengkar. Dalam mengembara Aji Saka senantiasa diikuti dua orang pengikut setianya (maaf lupa namanya ). Ketika pengembaraan pada suatu tempat Aji Saka meninggalkan senjata pusakanya dan menyuruh salah seorang pengikutnya untuk menjaga senjata pusaka tersebut (ada versi lain yang menyatakan bahwa Aji Saka pergi mengembara dan senjata pusakanya ditinggalkan di keraton untuk dijaga salah seorang pengikutnya). Aji Saka menyuruh sang abdi untuk menjaga senjata pusaka baik-baik dan tidak boleh menyerahkan senjata pusaka tsb selain kepada Aji Saka sendiri. Aji Saka kemudian melanjutkan pengembaraan bersama seorang abdi yang lain hingga pada suatu tempat Aji Saka meminta abdinya yang kedua untuk mengambil senjata pusakanya yang ditinggalkan. Pergilah abdi yang kedua untuk mengambil pusaka, tetapi abdi pertama tidak mau menyerahkan pusaka karena dia memegang teguh perintah Aji Saka (hanya boleh menyerahkan pusaka kepada Aji Saka). Di lain pihak, abdi yang kedua juga bersikeras untuk menunaikan tugas dari Aji Saka untuk mengambil pusaka. Karena kedua orang abdi berusaha menjalankan tugasnya masing-masing maka akhirnya terjadilah pertarungan yang cukup seimbang yang mengakibatkan kematian kedua orang utusan tsb.

Sehingga akhirnya kisah tersebut diabadikan dalam huruf Jawa sebagai berikut:
Ha na ca ra ka –> Hana caraka = Ada utusan
Da ta saw a la –> Data sawala = saling berselisih
Pa dha ja ya nya –> Padha jayanya = sama kuatnya
Ma ga ba tha nga –> Maga bathanga = sama-sama mati/ menjadi bathang (mayat)

27 Juni 2012

“SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW DILAHIRKAN”.

oleh alifbraja

PERISTIWA PENTING:

Kisah menjelang Nabi Muhammad SAW dilahirkan diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al Fiil 105:1-5 yang menceritakan Kejadian yang Luar Biasa yang dialami oleh Tentara Bergajah yang hendak MENGHANCURKAN KA’BAH.

Sedangkan….

Rincian Kisahya terdapat di dalam kitab Sirah Ibnu Hisham, pencatat riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yang terkenal.
Begitu juga dengan Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka juga menceritakan hal ini.

Kisah yang diuraikan dibawah ini, sekaligus menjawab Fitnah Kristen yang mengatakan Orang tua Nabi masuk Neraka.

Karena Kisahnya sangat lengkap dan panjang, langsung aja kita mulai…….

Selamat membaca…

Ketika itu Tanah Arab bagian Selatan adalah di bawah kekuasaan Kerajaan Habsyi. Najasyi (Negus) menanam wakilnya di Arabia Selatan itu bernama Abrahah.

Sebagaimana kita ketahui, Kerajaan Habsyi adalah pemeluk Agama Kristen. Untuk menunjukkan jasanya kepada Rajanya, Abrahah sebagai Wakil Raja atau Gubernur telah mendirikan sebuah gereja di Shan’aa diberinya nama Qullais.

Gereja itu dibuat sangat indahnya sehingga jaranglah akan tandingnya di dunia di masa itu. Setelah selesai dikirimlah berita kepada Najasyi:

“Telah aku dirikan sebuah gereja, ya Tuanku!, dan aku percaya belumlah ada raja-raja sebelum Tuanku mendirikan gereja semegah ini, namun hatiku belumlah puas melihat orang Arab yang selama ini berhaji ke Makkah, aku akan palingkan hajinya ke gereja Tuanku itu”.

Surat dengan isi berita yang sangat pongah ini sampai ke telinga bangsa Arab, sehingga mereka gelisah. Maka bangkitlah marah seorang pemuka Arab karena tempat mereka berhaji akan dialihkan dengan kekerasan.

Menurut Ibnu Hisyam orang itu ialah dari kabilah Bani Faqim in ‘Adiy. Maka pergilah dia sembunyi-sembunyi ke gereja itu, dia masuk ke dalam, dan di tengah-tengah gereja megah itu diberakinya. Setelah itu dia pun segera pulang ke negerinya.

Berita ini disampaikan kepada Abrahah. Lalu dia bertanya: “Siapakah yang membuat pekerjaan kotor ini?” Ada orang menjawab: “Yang berbuat kotor ini adalah orang yang membela rumah yang mereka hormati itu, tempat mereka tiap tahun naik haji, di Makkah. Setelah dia mendengar maksud Paduka Tuan hendak memalingkan haji orang Arab dari rumah yang mereka sucikan kepada gereja ini orang itu marah lalu dia masuk ke dalam gereja ini dan diberakinya, untuk membuktikan bahwa gereja ini tidaklah layak buat pengganti rumah mereka yang di Makkah itu.”

Sangatlah murka Abrahah melihat perbuatan itu, dan bersumpahlah dia; akan segera berangkat ke Makkah, untuk meruntuhkan rumah itu!

Dikirimnya seorang utusan kepada Bani Kinanah, mengajak mereka mempelopori naik haji ke gereja yang didirikannya itu. Tetapi sesampai utusan itu ke negeri Bani Kinanah dia pun mati dibunuh orang.

Itu pun menambah murka dan sakit hati Abrahah.

Maka disuruhlah tentara Habsyinya bersiap. Setelah siap mereka pun berangkat menuju Makkah. Dia sendiri mengendarai seekor gajah, diberinya nama Mahmud.

Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah telah keluar hendak pergi meruntuh Ka’bah sangatlah mereka terkejut dan seluruh kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka’bah dari serbuan itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan Baitullah Al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia: “Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi tuan membiarkan saya tinggal hidup.” Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan tetaplah Dzu Nafar dibelenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.

Abrahah pun meneruskan perjalanannya. Sesampai di negeri orang Khats’am tampil pula pemimpin Arab bernama Nufail bin Habib Al-Khats’amiy memimpin dua kabilah Khats’am, yaitu Syahran dan Nahis dan beberapa kabilah lain yang mengikutinya. Mereka pun berperang pula melawan Abrahah, tetapi Nufail pun kalah dan tertawan pula. Ketika dia akan dibunuh dia pun berdatang sembah: “Tak usah saya tuan bunuh, bebaskanlah saya supaya saya menjadi petunjuk jalan tuan di negeri-negeri Arab ini.”

Dua kabilah ini, Syahran dan Nahis adalah turut perintah Tuan. Permintaannya itu pun dikabulkan oleh Abrahah dan tetaplah dia berjalan di samping Abrahah menjadi penunjuk jalan, sehingga sampailah tentara itu di Thaif.

Sampai di Thaif pemuka Tsaqif yang bernama Mas’ud bin Mu’attib bersama beberapa orang pemuka lain datang menyongsong kedatangan Abrahah, lalu mereka menyatakan ketundukan.

Dia berkata:
“Wahai Raja! Kami adalah hamba sahaya Tuan, kami tunduk takluk ikut perintah, tidak ada kami bermaksud melawan Tuan. Di negeri ini memang ada pula sebuah rumah yang kami puja dan muliakan (yang dimaksudnya ialah berhala yang bernama Al-Laata). Namun kami percaya bukanlah berhala kami ini yang Tuan maksud akan diruntuhkan. Yang Tuan maksud tentulah Ka’bah yang di Makkah. Kami bersedia memberikan penunjuk jalan buat Tuan akan menuju negeri Makkah itu.”

Lalu mereka berikan seorang penunjuk jalan bernama Abu Raghaal! Lantaran itu Abrahah pun melanjutkan perjalanan dengan Abu Raghaal sebagai penunjuk jalan, sampai mereka akhirnya istirahat di satu tempat bernama Mughammis, suatu tempat sudah dekat ke Makkah dalam perjalanan dari Thaif.

Sesampai di Mughammis itu tiba-tiba matilah Abu Raghaal si penunjuk jalan itu. Kubur Abu Raghaal itu ditandai oleh orang Arab, maka setiap yang lalu lintas di dekat situ melempari kubur itu.

Setelah Abrahah berhenti dengan tentaranya di Mughammis, diutusnya seorang utusan dari bangsa Habsyi ke negeri Makkah. Nama utusan itu Aswad bin Maqfud. Dia pergi dengan naik kuda.

Setelah dia sampai di wilayah Makkah dirampaslah (merampok) harta-benda penduduk Tihamah dari Quraisy dan Arab yang lain.
Termasuk 200 ekor unta kepunyaan Abdul Muthalib bin Hasyim, yang ketika itu menjadi orang yang dituakan dan disegani dalam kalangan Quraisy. Melihat perbuatan dan perampasan yang dilakukan oleh patroli Abrahah yang bernama Aswad bin Maqfud itu naik darahlah orang Quraisy, orang Kinanah dan Kabilah Huzail yang semuanya hidup disekeliling Makkah yang berpusat kepada Ka’bah, sehingga mereka pun telah menyatakan bersiap hendak berperang melawan Abrahah.

Tetapi setelah mereka musyawarahkan dengan seksama, mereka pun mendapat kesimpulan bahwa tidaklah seimbang kekuatan mereka hendak melawan dengan besarnya angkatan perang musuh. Sebab itu perang tidaklah dijadikan.

Lalu Abrahah mengirim lagi perutusannya di bawah pimpinan Hunathah Al-Himyariy ke Makkah, hendak mencari hubungan dengan pemuka-pemuka Makkah dan ketua-ketuanya.

Lalu utusan itu menyampaikan pesan Abrahah: “Kami datang ke mari bukanlah untuk memerangi kalian. Kedatangan kami hanyalah semata-mata hendak menghancurkan rumah (Ka’bah) ini. Kalau kalian tidak mencoba melawan kami, selamatlah nyawa dan darah kalian.”

Dan Abrahah berpesan pula: “Jika Kalian memang penduduk Makkah tidak hendak melawan kami, suruhlah salah seorang ketua Makkah datang menghadapnya ke Mughammis!”

Hunathah itu pun datanglah ke Makkah menyampaikan titah raja yang tegas itu. Setelah orang yang ditemuinya menyatakan bahwa pemimpin dan ketua mereka ialah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu datanglah dia menuju Abdul Muthalib dan menyampaikan titah raja yang tegas itu.

Mendengar pesan raja itu berkatalah Abdul Muthalib:

“Demi Allah tidaklah kami bermaksud hendak berperang dengan dia. Kekuatan kami tidak cukup untuk memeranginya. Rumah ini adalah Rumah Allah, Bait Allah Al-Haram, dan Rumah Khalil Allah Ibrahim. Kalau Allah hendak mempertahankan rumah-Nya dari diruntuhkan, itulah urusan Allah sendiri. Kalau dibiarkannya rumah-Nya diruntuh orang, apalah akan daya kami. Kami tak kuat mempertahankannya.”

Berkata Hunathah: “Kalau begitu tuan sendiri harus datang menghadap baginda. Saya diperintahkan mengiringkan Tuan.”

“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.

Maka beliau pun pergilah bersama Hunathah menghadap Raja. Beliau diiringkan oleh beberapa orang puteranya sehingga sampailah mereka ke tempat perhentian laskar itu. Lalu dinyatakannya keadaan Dzu Nafar yang tertawan itu, sebab dia adalah sahabat lamanya, sehingga dia pun diizinkan menemuinya dan masuk ke dalam tempat tahanannya.

Dia (Abdul Muthalib) bertanya kepada Dzu Nafar: “Hai Dzu Nafar! Adakah pendapat yang dapat engkau berikan kepadaku tentang kemusykilan yang aku hadapi ini?”

Dzu Nafar menjawab:
“Tidak ada pendapat yang dapat diberikan oleh seorang yang dalam tawanan raja, yang menunggu akan dibunuh saja, entah pagi entah petang. Tak ada nasihat yang dapat saya berikan. Cuma ada satu! Yaitu pawang gajah selalu menjaga gajah raja itu, Unais namanya. Dia adalah sahabatku. Saya akan mengirim berita kepadanya tentang hal-mu dan saya akan memesan bahwa engkau sahabatku supaya dia pun mengerti bahwa engkau ini orang penting.
Moga-moga dengan perantaraannya engkau dapat menghadap raja. Supaya engkau dapat menumpahkan perasaanmu di hadapannya, dan supaya Unais pun dapat memujikan engkau di hadapan baginda. Moga-moga dia sanggup.”

“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.

Lalu Dzu Nafar mengirim orang kepada Unais pengawal gajah raja. Kepada Unais itu Dzu Nafar memesankan siapa Adbul Muthalib. Bahwa dia adalah ketua orang Quraisy, yang punya sumur Zamzam yang terkenal itu, yang memberi makan orang yang terlantar di tanah rendah dan memberi makan binatang buas di puncak-puncak bukit.
Untanya 200 ekor dirampas hamba-hamba raja, dia mohon izin menghadap baginda, dan engkau usahakanlah supaya pertemuan itu berhasil.

“Saya sanggupi”, kata Unais. Maka Unais pun datanglah menghadap raja mempersembahkan darihal Abdul Muthali itu: “Daulat Tuanku, beliau adalah Ketua Quraisy.”

Dia telah berdiri di hadapan pintu Tuanku, ingin menghadap. Dialah yang menguasai Zamzam di Makkah.
Dialah yang memberi makanan manusia di tanah rendah dan memberi makanan binatang buas di puncak gunung-gunung.
Beri izinlah dia masuk, Tuanku.
Biarlah dia menyampaikan apa yang terasa di hatinya.”

“Suruhlah dia masuk”, titah Raja.

Abdul Muthalib adalah seorang yang rupawan, berwajah menarik dan berwibawa, besar dan jombang.

Baru saja dia masuk, ada sesuatu yang memaksa Abrahah berdiri menghormatinya dan menjemputnya ke pintuk khemah. Abrahah merasa tidaklah layak orang ini akan duduk di bawah dari kursinya.
Sebab itu baginda sendirilah yang turun dari kursi dan sama duduk di atas hamparan itu berdekatan dengan Abdul Muthalib.

Kemudian itu bertitahlah baginda kepada penterjemah: “Suruh katakanlah apa hajatnya!”

Abdul Muthalib menjawab dengan perantaraan penterjemah: “Maksud kedatanganku ialah memohonkan kepada raja agar unta kepunyaanku, 200 ekor banyaknya, yang dirampas oleh hamba sahaya baginda, dipulangkan kepadaku.”

Raja menjawab dengan perantaraan penterjemah:
“Katakan kepadanya: Mulai dia masuk aku terpesona melihat sikap dan rupanya, yang menunjukkan dia seorang besar dalam kaumnya. Tetapi setelah kini dia mengemukakan soal untanya 200 ekor yang dirampas oleh orang-orangku, dan dia tidak membicarakan sama-sekali, tidak ada reaksinya sama-sekali tentang rumah agamanya dan rumah agama nenek-moyangnya (Ka’bah) yang aku datang sengaja hendak meruntuhkannya, menjadi sangat kecil dia dalam pandanganku.”

Abdul Muthalib menjawab:
“Saya datang ke mari mengurus unta itu, karena yang punya unta itu ialah aku sendiri. Adapun soal rumah (Ka’bah) itu, memang sengaja tidak saya bicarakan. Sebab rumah (Ka’bah) itu ada pula yang punya, yaitu Allah. Itu adalah urusan Allah.”

Dengan sombong Abrahah menjawab:
“Allah itu sendiri tidak akan dapat menghambat maksudku!”

Abdul Muthalib menjawab:
“Itu terserah Tuan, aku datang ke mari hanya mengurus untaku.”

Akhirnya, Unta yang 200 ekor itu pun disuruh dikembalikan oleh Abrahah.
Abdul Muthalib pun segeralah kembali ke Makkah, memberitahukan kepada penduduk Makkah pertemuannya dengan Abrahah.
Lalu dia memberi nasihat supaya seluruh penduduk Makkah segera meninggalkan Makkah, mengelakkan diri (menghindar) ke puncak-puncak bukit disekeliling Makkah, agar jangan sampai terinjak oleh tentara bergajah yang akan datang mengamuk.

Setelah itu, dengan diiringi oleh beberapa pemuka Quraisy, Abdul Muthalib pergi ke pintu Ka’bah dipegangnya teguh-teguh gelang pada pintunya lalu mereka berdoa bersama-sama menyeru Allah, memohon pertolongan, dan agar Allah memberikan pembalasannya kepada Abrahah dan tentaranya. Sambil memegang gelang pintu Ka’bah itu dia bermohon:

Ya Tuhanku! Tidak ada yang aku harap selain Engkau! Ya Tuhanku! Tahanlah mereka dengan benteng Engkau! Sesungguhnya siapa yang memusuhi rumah ini adalah musuh Engkau. Mereka tidak akan dapat menaklukkan kekuatan Engkau.

Setelah selesai bermunajat kepada Tuhan dengan memegang gelang pintu Ka’bah itu, Abdul Muthalib bersama orang-orang yang mengiringkannya pun mengundurkan diri, lalu pergi ke lereng-lereng bukit, dan di sanalah mereka berkumpul menunggu apakah yang akan diperbuat Abrahah terhadap negeri Makkah bilamana dia masuk kelak.

Keesokan harinya bersiaplah Abrahah hendak memasuki Makkah dan dipersiapkanlah gajahnya.

Gajah itu diberinya nama Mahmud. Dan Abrahah pun telah bersiap-siap hendak pergi meruntuhkan Ka’bah, dan kalau sudah selesai pekerjaannya itu kelak dia bermaksud hendak segera pulang ke Yaman.

Dihadapkannya gajahnya itu menuju Makkah, mendekatlah seorang tawanan yang dijadikan penunjuk jalan, dari Kabilah Khats’am yang bernama Nufail bin Habib itu.
Dia dekati gajah tersebut, lalu dipegangnya telinga gajah itu dengan lemah-lembutnya dan dia berbisik:
“Kalau engkau hendak dihalau berjalan hendaklah engkau tengkurup saja, hai Mahmud! Lebih cerdik bila engkau pulang saja ke tempat engkau semula di negeri Yaman. Sebab engkau sekarang hendak dikerahkan ke Baladillah Al-Haram (Tanah Allah yang suci lagi bertuah).”

Selesai bisikannya itu dilepaskannyalah telinga gajah itu. Dan sejak mendengar bisikan itu gajah tersebut terus tengkurup, tidak mau berdiri. Nufail bin Habib pun pergilah berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu, menuju sebuah bukit.

Maka datanglah saat akan berangkat. Gajah disuruh berdiri tidak mau berdiri. Dipukul kepalanya dengan tongkat penghalau gajah yang agak runcing ujungnya, supaya dia segera berdiri.

Namun dia tetap duduk tak mau bergerak. Diambil pula tongkat lain, ditonjolkan ke dalam mulutnya supaya dia berdiri, namun dia tidak juga mau berdiri.
Lalu ditarik kendalinya dihadapkan ke negeri Yaman; dia pun segera berdiri, bahkan mulai berjalan kencang.
Lalu dihadapkan pula ke Syam. Dengan gembira dia pun berjalan cepat menuju Syam.
Lalu dihadapkan pula ke Timur, dia pun berjalan kencang.
Kemudian dihadapkan dia ke Makkah, dia pun duduk kembali, tidak mau bergerak.

Padahal Abrahah sudah siap berangkat, tentaranya pun sudah siap.

Dalam uraian Ibnu Hisyam dalam Siirahnya;
Nampaklah di udara beribu-ribu ekor burung terbang menuju mereka. Datangnya dari arah laut.

Burung itu membawa tiga butir batu; sebutir di mulutnya dan dua butir digenggamnya dengan kedua belah kakinya. Dengan serentak burung-burung itu menjatuhkan batu yang di bawanya itu ke atas diri tentara-tentara yang banyak itu. Siapa saja yang kena, terpekik kesakitan karena saking panasnya.
Berpekikan dan berlarianlah mereka, simpang siur tidak tentu arah, karena takut akan ditimpa batu kecil-kecil itu yang sangat panas membakar itu. Lebih banyak kena daripada yang tidak kena.

Semua menjadi kacau-balau dan ketakutan. Mana yang kena terkaparlah jatuh, dan orang yang tidak kena segera lari kembali ke Yaman. Mereka cari Nufail bin Habib untuk menunjuki jalan menuju Yaman, namun dia tidak mau lagi, malahan dia bersyair:

“Kemana akan lari, Allahlah yang mengejar, Asyram (Abrahah) yang kalah, bukan dia yang menang.”

Kucar-kacirlah mereka pulang. Satu demi satu orang yang kena lontaran batu itu jatuh. Dan yang agak tegap badannya masih melanjutkan pelarian menuju negerinya, namun di tengah jalan mereka berjatuhan juga.

Adapun Abrahah sendiri tidak terlepas dari lontaran batu itu namun masih sempat naik gajahnya menuju Yaman, di tengah jalan keadaannya bertambah parah. Terkelupas kulitnya, gugur dagingnya, sehingga sesampainya di negeri Yaman boleh dikatakan sudah seperti anak ayam menciap-ciap. Lalu mati dalam kehancuran.

Maka tahun itu dikenal dengan nama “Tahun Gajah”.

Menurut keterangan Nabi SAW sendiri dalam sebuah Hadis yang shahih, beliau dilahirkan dalam tahun gajah itu.
Demikianlah disebutkan oleh Al-Mawardi di dalam tafsirnya. Dan tersebut pula di dalam kitab I’lamun Nubuwwah, Nabi SAW dilahirkan 12 Rabiul Awwal, 50 hari saja sesudah kejadian bersejarah kehancuran tentara bergajah itu.

Setelah Nabi kita SAW berusia 40 tahun dan diangkat Allah menjadi Rasul SAW masih didapati dua orang peminta-minta di Makkah, keduanya buta matanya. Orang itu adalah sisa dari pengasuh-pengasuh gajah yang menyerang Makkah itu.

Usaha besar yang begitu sombong, seperti jawaban Abrahah kepada Abdul Muthalib, bahwa:
Allah sendiri tidak akan sanggup bertahan kalau dia datang menyerang. Segala maksudnya hendak menghancurkan itu sia-sia belaka, dan gagal belaka.

Tersebut dalam riwayat bahwa;
Abdul Muthalib yang tengah meninjau dari atas bukit-bukit Makkah tentang apa yang akan dilakukan oleh tentara bergajah itu melihat burung berduyun-duyun menuju tentara yang hendak menyerbu Makkah itu.
Kemudian hening tidak ada gerak apa-apa. Lalu diperintahnya anaknya yang paling bungsu, Abdullah (ayah Nabi kita Muhammad SAW) pergi melihat-lihat apa yang telah terjadi, ada apa dengan burung-burung itu dan ke mana perginya.

Maka dilakukanlah perintah ayahnya dan dia pergi melihat-lihat dengan mengendarai kudanya. Tidak beberapa lamanya dia pun kembali dengan memacu kencang kudanya dan menyingsingkan kainnya. Setelah dekat, dengan tidak sabar orang-orang bertanya: “Ada apa, Abdullah?”

Abdullah menjawab: “Hancur-lebur semua!” Lalu diceriterakannya apa yang dilihatnya, “Bangkai bergelimpangan dan ada yang masih menarik-narik nafas akan mati dan sisanya telah lari menuju negerinya.”

Maka berangkatlah Abdul Muthalib dengan pemuka-pemuka Quraisy itu menuju tempat tersebut, tidak berapa jauh dari dalam kota Makkah. Mereka dapati apa yang telah diceriterakan Abdullah bin Abdul Muthalib itu.

Tentara yang hancur itu meninggalkan kuda-kuda kendaraan, ataupun pakaian-pakaian perang yang mahal-mahal, alat senjata peperangan, pedangnya, perisainya dan tombaknya dan emas perak banyak sekali.
Maka sepakatlah kepala-kepala Quraisy itu memberikan kelebihan pembagian yang banyak untuk Abdul Muthalib, sebab dia dipandang sebagai pemimpin yang bijaksana.

Kemudian, 50 hari sesudah kejadian itu, Nabi Muhammad SAW pun lahir ke dunia. Ayahnya (Abdullah) dalam perjalanan ke Yatsrib, meninggal dunia sebelum puteranya lahir.

Al-Qurthubi menulis dalam tafsirnya:
“Hikayat tentara bergajah ini adalah satu mu’jizat dari Nabi kita, walaupun beliau waktu itu belum lahir”.
karena TIDAK ADA ORANG YANG AKAN DAPAT MELUPAKAN KEJADIAN INI dan nenek-kandungnya mengambil peranan penting pada kejadian ini.

Dari kisah diatas tergambar bahwa Abdul Muthalib menganut ajaran yang hanif sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Ibrahim. Begitu pula dengan Abdullah yang merupakan putra kesayangan dari Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikuti ajaran yang dianut oleh Ayahandanya yang merupakan pembesar Quraisy yang termasyur keseluruh penjuru. Apalagi Siti Aminah yang merupakan wanita shalihah dan istri dari Abdullah bin Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikut ajaran Nabi Ibrahim As.

Tidak pernah terdengar dalam berbagai kisah-kisah sejarah maupun hadist serta Al-Quran yang mengungkapkan bahwa Abdul Muthalib dan keluarganya menyembah berhala (Batu Pahatan) yg berada disekeliling Ka’bah seperti yang dilakukan oleh kabilah-kabilah lainnya.

As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’l Al Mashadir Al Ashliyah.

Meskipun pada waktu hegemoni paganisme di masyarakat Arab sedemikian kuat, tetapi masih ada beberapa orang yang dikenal sebagai Al Hanafiyun atau Al Hunafa’. Mereka tetap berada dalam agama yang hanif, menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Diantara mereka adalah :
Qiss bin Sa’idah Al lyaadi, Zaid bin ‘Amru bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Shalt, Abu Qais bin Abi Anas, Khalid bin Sinan, An Nabighah Adz Dzubyani, Zuhair bin Abi Salma, Ka’ab bin Luai bin Ghalib, Umair bin Haidab Al Juhani, ‘Adi bin Zaid Al ‘Ibadi, penyair Zuhair bin Abi Salma, Abdullah Al Qudhaa’i, Ubaid bin Al Abrash Al Asadi, Utsman bin Al Huwairits, Amru bin Abasah Al Sulami, Aktsam bin Shaifi bin Rabaah dan Abdul Muthalib kakek Rasulullah

BERDASARKAN KISAH DIATAS, TERJAWAB SUDAH FITNAH UMAT KRISTIANI YG MENGATAKAN ORANG TUA NABI BERADA DALAM NERAKA KARENA BELUM MEMELUK ISLAM TIDAK BERDASAR SAMA SEKALI, SEBAB NENEK MOYANG NABI MERUPAKAN KETURUNAN NABI IBRAHIM AS.

Tulisan ini, sunan tutup dengan ayat suci Al-Qur’an yaitu:

QS. 3 Ali Imran : 67-68.
“IBRAHIM BUKAN SEORANG YAHUDI DAN BUKAN (PULA) SEORANG NASRANI, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” SESUNGGUHNYA ORANG YANG PALING DEKAT KEPADA IBRAHIM IALAH ORANG-ORANG YANG MENGIKUTINYA DAN NABI INI (MUHAMMAD), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”.

Qs.2 Baqarah 136
“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “KAMI BERIMAN KEPADA ALLAH dan apa yang diturunkan kepada kami, dan APA YANG DITURUNKAN KEPADA IBRAHIM, ISMA’IL, ISHAQ, YA’QUB DAN ANAK CUCUNYA, DAN APA YANG DIBERIKAN KEPADA MUSA DAN ISA SERTA APA YANG DIBERIKAN KEPADA NABI-NABI DARI TUHANNYA. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

_________________
[url=just see]http://laskarislam.indonesianforum.net/ [/url]

Bejat
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS
Male
Number of posts: 1377
Location: Kabupaten Landak
Job/hobbies: Comicers
Humor: Yesus, Paulus, Amonius, Albertus, semua pake ujung -Us, sama kayak Anus.
Reputation: -5
Points: 2364
Registration date: 2011-02-13

Back to top Go down

Re: “SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW DILAHIRKAN”.

Post by kuku bima on Tue 06 Mar 2012, 03:31

Bejat wrote:PERISTIWA PENTING:

Kisah menjelang Nabi Muhammad SAW dilahirkan diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al Fiil 105:1-5 yang menceritakan Kejadian yang Luar Biasa yang dialami oleh Tentara Bergajah yang hendak MENGHANCURKAN KA’BAH.

Sedangkan….

Rincian Kisahya terdapat di dalam kitab Sirah Ibnu Hisham, pencatat riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yang terkenal.
Begitu juga dengan Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka juga menceritakan hal ini.

Kisah yang diuraikan dibawah ini, sekaligus menjawab Fitnah Kristen yang mengatakan Orang tua Nabi masuk Neraka.

Karena Kisahnya sangat lengkap dan panjang, langsung aja kita mulai…….

Selamat membaca…

Ketika itu Tanah Arab bagian Selatan adalah di bawah kekuasaan Kerajaan Habsyi. Najasyi (Negus) menanam wakilnya di Arabia Selatan itu bernama Abrahah.

Sebagaimana kita ketahui, Kerajaan Habsyi adalah pemeluk Agama Kristen. Untuk menunjukkan jasanya kepada Rajanya, Abrahah sebagai Wakil Raja atau Gubernur telah mendirikan sebuah gereja di Shan’aa diberinya nama Qullais.

Gereja itu dibuat sangat indahnya sehingga jaranglah akan tandingnya di dunia di masa itu. Setelah selesai dikirimlah berita kepada Najasyi:

“Telah aku dirikan sebuah gereja, ya Tuanku!, dan aku percaya belumlah ada raja-raja sebelum Tuanku mendirikan gereja semegah ini, namun hatiku belumlah puas melihat orang Arab yang selama ini berhaji ke Makkah, aku akan palingkan hajinya ke gereja Tuanku itu”.

Surat dengan isi berita yang sangat pongah ini sampai ke telinga bangsa Arab, sehingga mereka gelisah. Maka bangkitlah marah seorang pemuka Arab karena tempat mereka berhaji akan dialihkan dengan kekerasan.

Menurut Ibnu Hisyam orang itu ialah dari kabilah Bani Faqim in ‘Adiy. Maka pergilah dia sembunyi-sembunyi ke gereja itu, dia masuk ke dalam, dan di tengah-tengah gereja megah itu diberakinya. Setelah itu dia pun segera pulang ke negerinya.

Berita ini disampaikan kepada Abrahah. Lalu dia bertanya: “Siapakah yang membuat pekerjaan kotor ini?” Ada orang menjawab: “Yang berbuat kotor ini adalah orang yang membela rumah yang mereka hormati itu, tempat mereka tiap tahun naik haji, di Makkah. Setelah dia mendengar maksud Paduka Tuan hendak memalingkan haji orang Arab dari rumah yang mereka sucikan kepada gereja ini orang itu marah lalu dia masuk ke dalam gereja ini dan diberakinya, untuk membuktikan bahwa gereja ini tidaklah layak buat pengganti rumah mereka yang di Makkah itu.”

Sangatlah murka Abrahah melihat perbuatan itu, dan bersumpahlah dia; akan segera berangkat ke Makkah, untuk meruntuhkan rumah itu!

Dikirimnya seorang utusan kepada Bani Kinanah, mengajak mereka mempelopori naik haji ke gereja yang didirikannya itu. Tetapi sesampai utusan itu ke negeri Bani Kinanah dia pun mati dibunuh orang.

Itu pun menambah murka dan sakit hati Abrahah.

Maka disuruhlah tentara Habsyinya bersiap. Setelah siap mereka pun berangkat menuju Makkah. Dia sendiri mengendarai seekor gajah, diberinya nama Mahmud.

Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah telah keluar hendak pergi meruntuh Ka’bah sangatlah mereka terkejut dan seluruh kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka’bah dari serbuan itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan Baitullah Al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia: “Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi tuan membiarkan saya tinggal hidup.” Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan tetaplah Dzu Nafar dibelenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.

Abrahah pun meneruskan perjalanannya. Sesampai di negeri orang Khats’am tampil pula pemimpin Arab bernama Nufail bin Habib Al-Khats’amiy memimpin dua kabilah Khats’am, yaitu Syahran dan Nahis dan beberapa kabilah lain yang mengikutinya. Mereka pun berperang pula melawan Abrahah, tetapi Nufail pun kalah dan tertawan pula. Ketika dia akan dibunuh dia pun berdatang sembah: “Tak usah saya tuan bunuh, bebaskanlah saya supaya saya menjadi petunjuk jalan tuan di negeri-negeri Arab ini.”

Dua kabilah ini, Syahran dan Nahis adalah turut perintah Tuan. Permintaannya itu pun dikabulkan oleh Abrahah dan tetaplah dia berjalan di samping Abrahah menjadi penunjuk jalan, sehingga sampailah tentara itu di Thaif.

Sampai di Thaif pemuka Tsaqif yang bernama Mas’ud bin Mu’attib bersama beberapa orang pemuka lain datang menyongsong kedatangan Abrahah, lalu mereka menyatakan ketundukan.

Dia berkata:
“Wahai Raja! Kami adalah hamba sahaya Tuan, kami tunduk takluk ikut perintah, tidak ada kami bermaksud melawan Tuan. Di negeri ini memang ada pula sebuah rumah yang kami puja dan muliakan (yang dimaksudnya ialah berhala yang bernama Al-Laata). Namun kami percaya bukanlah berhala kami ini yang Tuan maksud akan diruntuhkan. Yang Tuan maksud tentulah Ka’bah yang di Makkah. Kami bersedia memberikan penunjuk jalan buat Tuan akan menuju negeri Makkah itu.”

Lalu mereka berikan seorang penunjuk jalan bernama Abu Raghaal! Lantaran itu Abrahah pun melanjutkan perjalanan dengan Abu Raghaal sebagai penunjuk jalan, sampai mereka akhirnya istirahat di satu tempat bernama Mughammis, suatu tempat sudah dekat ke Makkah dalam perjalanan dari Thaif.

Sesampai di Mughammis itu tiba-tiba matilah Abu Raghaal si penunjuk jalan itu. Kubur Abu Raghaal itu ditandai oleh orang Arab, maka setiap yang lalu lintas di dekat situ melempari kubur itu.

Setelah Abrahah berhenti dengan tentaranya di Mughammis, diutusnya seorang utusan dari bangsa Habsyi ke negeri Makkah. Nama utusan itu Aswad bin Maqfud. Dia pergi dengan naik kuda.

Setelah dia sampai di wilayah Makkah dirampaslah (merampok) harta-benda penduduk Tihamah dari Quraisy dan Arab yang lain.
Termasuk 200 ekor unta kepunyaan Abdul Muthalib bin Hasyim, yang ketika itu menjadi orang yang dituakan dan disegani dalam kalangan Quraisy. Melihat perbuatan dan perampasan yang dilakukan oleh patroli Abrahah yang bernama Aswad bin Maqfud itu naik darahlah orang Quraisy, orang Kinanah dan Kabilah Huzail yang semuanya hidup disekeliling Makkah yang berpusat kepada Ka’bah, sehingga mereka pun telah menyatakan bersiap hendak berperang melawan Abrahah.

Tetapi setelah mereka musyawarahkan dengan seksama, mereka pun mendapat kesimpulan bahwa tidaklah seimbang kekuatan mereka hendak melawan dengan besarnya angkatan perang musuh. Sebab itu perang tidaklah dijadikan.

Lalu Abrahah mengirim lagi perutusannya di bawah pimpinan Hunathah Al-Himyariy ke Makkah, hendak mencari hubungan dengan pemuka-pemuka Makkah dan ketua-ketuanya.

Lalu utusan itu menyampaikan pesan Abrahah: “Kami datang ke mari bukanlah untuk memerangi kalian. Kedatangan kami hanyalah semata-mata hendak menghancurkan rumah (Ka’bah) ini. Kalau kalian tidak mencoba melawan kami, selamatlah nyawa dan darah kalian.”

Dan Abrahah berpesan pula: “Jika Kalian memang penduduk Makkah tidak hendak melawan kami, suruhlah salah seorang ketua Makkah datang menghadapnya ke Mughammis!”

Hunathah itu pun datanglah ke Makkah menyampaikan titah raja yang tegas itu. Setelah orang yang ditemuinya menyatakan bahwa pemimpin dan ketua mereka ialah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu datanglah dia menuju Abdul Muthalib dan menyampaikan titah raja yang tegas itu.

Mendengar pesan raja itu berkatalah Abdul Muthalib:

“Demi Allah tidaklah kami bermaksud hendak berperang dengan dia. Kekuatan kami tidak cukup untuk memeranginya. Rumah ini adalah Rumah Allah, Bait Allah Al-Haram, dan Rumah Khalil Allah Ibrahim. Kalau Allah hendak mempertahankan rumah-Nya dari diruntuhkan, itulah urusan Allah sendiri. Kalau dibiarkannya rumah-Nya diruntuh orang, apalah akan daya kami. Kami tak kuat mempertahankannya.”

Berkata Hunathah: “Kalau begitu tuan sendiri harus datang menghadap baginda. Saya diperintahkan mengiringkan Tuan.”

“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.

Maka beliau pun pergilah bersama Hunathah menghadap Raja. Beliau diiringkan oleh beberapa orang puteranya sehingga sampailah mereka ke tempat perhentian laskar itu. Lalu dinyatakannya keadaan Dzu Nafar yang tertawan itu, sebab dia adalah sahabat lamanya, sehingga dia pun diizinkan menemuinya dan masuk ke dalam tempat tahanannya.

Dia (Abdul Muthalib) bertanya kepada Dzu Nafar: “Hai Dzu Nafar! Adakah pendapat yang dapat engkau berikan kepadaku tentang kemusykilan yang aku hadapi ini?”

Dzu Nafar menjawab:
“Tidak ada pendapat yang dapat diberikan oleh seorang yang dalam tawanan raja, yang menunggu akan dibunuh saja, entah pagi entah petang. Tak ada nasihat yang dapat saya berikan. Cuma ada satu! Yaitu pawang gajah selalu menjaga gajah raja itu, Unais namanya. Dia adalah sahabatku. Saya akan mengirim berita kepadanya tentang hal-mu dan saya akan memesan bahwa engkau sahabatku supaya dia pun mengerti bahwa engkau ini orang penting.
Moga-moga dengan perantaraannya engkau dapat menghadap raja. Supaya engkau dapat menumpahkan perasaanmu di hadapannya, dan supaya Unais pun dapat memujikan engkau di hadapan baginda. Moga-moga dia sanggup.”

“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.

Lalu Dzu Nafar mengirim orang kepada Unais pengawal gajah raja. Kepada Unais itu Dzu Nafar memesankan siapa Adbul Muthalib. Bahwa dia adalah ketua orang Quraisy, yang punya sumur Zamzam yang terkenal itu, yang memberi makan orang yang terlantar di tanah rendah dan memberi makan binatang buas di puncak-puncak bukit.
Untanya 200 ekor dirampas hamba-hamba raja, dia mohon izin menghadap baginda, dan engkau usahakanlah supaya pertemuan itu berhasil.

“Saya sanggupi”, kata Unais. Maka Unais pun datanglah menghadap raja mempersembahkan darihal Abdul Muthali itu: “Daulat Tuanku, beliau adalah Ketua Quraisy.”

Dia telah berdiri di hadapan pintu Tuanku, ingin menghadap. Dialah yang menguasai Zamzam di Makkah.
Dialah yang memberi makanan manusia di tanah rendah dan memberi makanan binatang buas di puncak gunung-gunung.
Beri izinlah dia masuk, Tuanku.
Biarlah dia menyampaikan apa yang terasa di hatinya.”

“Suruhlah dia masuk”, titah Raja.

Abdul Muthalib adalah seorang yang rupawan, berwajah menarik dan berwibawa, besar dan jombang.

Baru saja dia masuk, ada sesuatu yang memaksa Abrahah berdiri menghormatinya dan menjemputnya ke pintuk khemah. Abrahah merasa tidaklah layak orang ini akan duduk di bawah dari kursinya.
Sebab itu baginda sendirilah yang turun dari kursi dan sama duduk di atas hamparan itu berdekatan dengan Abdul Muthalib.

Kemudian itu bertitahlah baginda kepada penterjemah: “Suruh katakanlah apa hajatnya!”

Abdul Muthalib menjawab dengan perantaraan penterjemah: “Maksud kedatanganku ialah memohonkan kepada raja agar unta kepunyaanku, 200 ekor banyaknya, yang dirampas oleh hamba sahaya baginda, dipulangkan kepadaku.”

Raja menjawab dengan perantaraan penterjemah:
“Katakan kepadanya: Mulai dia masuk aku terpesona melihat sikap dan rupanya, yang menunjukkan dia seorang besar dalam kaumnya. Tetapi setelah kini dia mengemukakan soal untanya 200 ekor yang dirampas oleh orang-orangku, dan dia tidak membicarakan sama-sekali, tidak ada reaksinya sama-sekali tentang rumah agamanya dan rumah agama nenek-moyangnya (Ka’bah) yang aku datang sengaja hendak meruntuhkannya, menjadi sangat kecil dia dalam pandanganku.”

Abdul Muthalib menjawab:
“Saya datang ke mari mengurus unta itu, karena yang punya unta itu ialah aku sendiri. Adapun soal rumah (Ka’bah) itu, memang sengaja tidak saya bicarakan. Sebab rumah (Ka’bah) itu ada pula yang punya, yaitu Allah. Itu adalah urusan Allah.”

Dengan sombong Abrahah menjawab:
“Allah itu sendiri tidak akan dapat menghambat maksudku!”

Abdul Muthalib menjawab:
“Itu terserah Tuan, aku datang ke mari hanya mengurus untaku.”

Akhirnya, Unta yang 200 ekor itu pun disuruh dikembalikan oleh Abrahah.
Abdul Muthalib pun segeralah kembali ke Makkah, memberitahukan kepada penduduk Makkah pertemuannya dengan Abrahah.
Lalu dia memberi nasihat supaya seluruh penduduk Makkah segera meninggalkan Makkah, mengelakkan diri (menghindar) ke puncak-puncak bukit disekeliling Makkah, agar jangan sampai terinjak oleh tentara bergajah yang akan datang mengamuk.

Setelah itu, dengan diiringi oleh beberapa pemuka Quraisy, Abdul Muthalib pergi ke pintu Ka’bah dipegangnya teguh-teguh gelang pada pintunya lalu mereka berdoa bersama-sama menyeru Allah, memohon pertolongan, dan agar Allah memberikan pembalasannya kepada Abrahah dan tentaranya. Sambil memegang gelang pintu Ka’bah itu dia bermohon:

Ya Tuhanku! Tidak ada yang aku harap selain Engkau! Ya Tuhanku! Tahanlah mereka dengan benteng Engkau! Sesungguhnya siapa yang memusuhi rumah ini adalah musuh Engkau. Mereka tidak akan dapat menaklukkan kekuatan Engkau.

Setelah selesai bermunajat kepada Tuhan dengan memegang gelang pintu Ka’bah itu, Abdul Muthalib bersama orang-orang yang mengiringkannya pun mengundurkan diri, lalu pergi ke lereng-lereng bukit, dan di sanalah mereka berkumpul menunggu apakah yang akan diperbuat Abrahah terhadap negeri Makkah bilamana dia masuk kelak.

Keesokan harinya bersiaplah Abrahah hendak memasuki Makkah dan dipersiapkanlah gajahnya.

Gajah itu diberinya nama Mahmud. Dan Abrahah pun telah bersiap-siap hendak pergi meruntuhkan Ka’bah, dan kalau sudah selesai pekerjaannya itu kelak dia bermaksud hendak segera pulang ke Yaman.

Dihadapkannya gajahnya itu menuju Makkah, mendekatlah seorang tawanan yang dijadikan penunjuk jalan, dari Kabilah Khats’am yang bernama Nufail bin Habib itu.
Dia dekati gajah tersebut, lalu dipegangnya telinga gajah itu dengan lemah-lembutnya dan dia berbisik:
“Kalau engkau hendak dihalau berjalan hendaklah engkau tengkurup saja, hai Mahmud! Lebih cerdik bila engkau pulang saja ke tempat engkau semula di negeri Yaman. Sebab engkau sekarang hendak dikerahkan ke Baladillah Al-Haram (Tanah Allah yang suci lagi bertuah).”

Selesai bisikannya itu dilepaskannyalah telinga gajah itu. Dan sejak mendengar bisikan itu gajah tersebut terus tengkurup, tidak mau berdiri. Nufail bin Habib pun pergilah berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu, menuju sebuah bukit.

Maka datanglah saat akan berangkat. Gajah disuruh berdiri tidak mau berdiri. Dipukul kepalanya dengan tongkat penghalau gajah yang agak runcing ujungnya, supaya dia segera berdiri.

Namun dia tetap duduk tak mau bergerak. Diambil pula tongkat lain, ditonjolkan ke dalam mulutnya supaya dia berdiri, namun dia tidak juga mau berdiri.
Lalu ditarik kendalinya dihadapkan ke negeri Yaman; dia pun segera berdiri, bahkan mulai berjalan kencang.
Lalu dihadapkan pula ke Syam. Dengan gembira dia pun berjalan cepat menuju Syam.
Lalu dihadapkan pula ke Timur, dia pun berjalan kencang.
Kemudian dihadapkan dia ke Makkah, dia pun duduk kembali, tidak mau bergerak.

Padahal Abrahah sudah siap berangkat, tentaranya pun sudah siap.

Dalam uraian Ibnu Hisyam dalam Siirahnya;
Nampaklah di udara beribu-ribu ekor burung terbang menuju mereka. Datangnya dari arah laut.

Burung itu membawa tiga butir batu; sebutir di mulutnya dan dua butir digenggamnya dengan kedua belah kakinya. Dengan serentak burung-burung itu menjatuhkan batu yang di bawanya itu ke atas diri tentara-tentara yang banyak itu. Siapa saja yang kena, terpekik kesakitan karena saking panasnya.
Berpekikan dan berlarianlah mereka, simpang siur tidak tentu arah, karena takut akan ditimpa batu kecil-kecil itu yang sangat panas membakar itu. Lebih banyak kena daripada yang tidak kena.

Semua menjadi kacau-balau dan ketakutan. Mana yang kena terkaparlah jatuh, dan orang yang tidak kena segera lari kembali ke Yaman. Mereka cari Nufail bin Habib untuk menunjuki jalan menuju Yaman, namun dia tidak mau lagi, malahan dia bersyair:

“Kemana akan lari, Allahlah yang mengejar, Asyram (Abrahah) yang kalah, bukan dia yang menang.”

Kucar-kacirlah mereka pulang. Satu demi satu orang yang kena lontaran batu itu jatuh. Dan yang agak tegap badannya masih melanjutkan pelarian menuju negerinya, namun di tengah jalan mereka berjatuhan juga.

Adapun Abrahah sendiri tidak terlepas dari lontaran batu itu namun masih sempat naik gajahnya menuju Yaman, di tengah jalan keadaannya bertambah parah. Terkelupas kulitnya, gugur dagingnya, sehingga sesampainya di negeri Yaman boleh dikatakan sudah seperti anak ayam menciap-ciap. Lalu mati dalam kehancuran.

Maka tahun itu dikenal dengan nama “Tahun Gajah”.

Menurut keterangan Nabi SAW sendiri dalam sebuah Hadis yang shahih, beliau dilahirkan dalam tahun gajah itu.
Demikianlah disebutkan oleh Al-Mawardi di dalam tafsirnya. Dan tersebut pula di dalam kitab I’lamun Nubuwwah, Nabi SAW dilahirkan 12 Rabiul Awwal, 50 hari saja sesudah kejadian bersejarah kehancuran tentara bergajah itu.

Setelah Nabi kita SAW berusia 40 tahun dan diangkat Allah menjadi Rasul SAW masih didapati dua orang peminta-minta di Makkah, keduanya buta matanya. Orang itu adalah sisa dari pengasuh-pengasuh gajah yang menyerang Makkah itu.

Usaha besar yang begitu sombong, seperti jawaban Abrahah kepada Abdul Muthalib, bahwa:
Allah sendiri tidak akan sanggup bertahan kalau dia datang menyerang. Segala maksudnya hendak menghancurkan itu sia-sia belaka, dan gagal belaka.

Tersebut dalam riwayat bahwa;
Abdul Muthalib yang tengah meninjau dari atas bukit-bukit Makkah tentang apa yang akan dilakukan oleh tentara bergajah itu melihat burung berduyun-duyun menuju tentara yang hendak menyerbu Makkah itu.
Kemudian hening tidak ada gerak apa-apa. Lalu diperintahnya anaknya yang paling bungsu, Abdullah (ayah Nabi kita Muhammad SAW) pergi melihat-lihat apa yang telah terjadi, ada apa dengan burung-burung itu dan ke mana perginya.

Maka dilakukanlah perintah ayahnya dan dia pergi melihat-lihat dengan mengendarai kudanya. Tidak beberapa lamanya dia pun kembali dengan memacu kencang kudanya dan menyingsingkan kainnya. Setelah dekat, dengan tidak sabar orang-orang bertanya: “Ada apa, Abdullah?”

Abdullah menjawab: “Hancur-lebur semua!” Lalu diceriterakannya apa yang dilihatnya, “Bangkai bergelimpangan dan ada yang masih menarik-narik nafas akan mati dan sisanya telah lari menuju negerinya.”

Maka berangkatlah Abdul Muthalib dengan pemuka-pemuka Quraisy itu menuju tempat tersebut, tidak berapa jauh dari dalam kota Makkah. Mereka dapati apa yang telah diceriterakan Abdullah bin Abdul Muthalib itu.

Tentara yang hancur itu meninggalkan kuda-kuda kendaraan, ataupun pakaian-pakaian perang yang mahal-mahal, alat senjata peperangan, pedangnya, perisainya dan tombaknya dan emas perak banyak sekali.
Maka sepakatlah kepala-kepala Quraisy itu memberikan kelebihan pembagian yang banyak untuk Abdul Muthalib, sebab dia dipandang sebagai pemimpin yang bijaksana.

Kemudian, 50 hari sesudah kejadian itu, Nabi Muhammad SAW pun lahir ke dunia. Ayahnya (Abdullah) dalam perjalanan ke Yatsrib, meninggal dunia sebelum puteranya lahir.

Al-Qurthubi menulis dalam tafsirnya:
“Hikayat tentara bergajah ini adalah satu mu’jizat dari Nabi kita, walaupun beliau waktu itu belum lahir”.
karena TIDAK ADA ORANG YANG AKAN DAPAT MELUPAKAN KEJADIAN INI dan nenek-kandungnya mengambil peranan penting pada kejadian ini.

Dari kisah diatas tergambar bahwa Abdul Muthalib menganut ajaran yang hanif sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Ibrahim. Begitu pula dengan Abdullah yang merupakan putra kesayangan dari Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikuti ajaran yang dianut oleh Ayahandanya yang merupakan pembesar Quraisy yang termasyur keseluruh penjuru. Apalagi Siti Aminah yang merupakan wanita shalihah dan istri dari Abdullah bin Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikut ajaran Nabi Ibrahim As.

Tidak pernah terdengar dalam berbagai kisah-kisah sejarah maupun hadist serta Al-Quran yang mengungkapkan bahwa Abdul Muthalib dan keluarganya menyembah berhala (Batu Pahatan) yg berada disekeliling Ka’bah seperti yang dilakukan oleh kabilah-kabilah lainnya.

As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’l Al Mashadir Al Ashliyah.

Meskipun pada waktu hegemoni paganisme di masyarakat Arab sedemikian kuat, tetapi masih ada beberapa orang yang dikenal sebagai Al Hanafiyun atau Al Hunafa’. Mereka tetap berada dalam agama yang hanif, menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Diantara mereka adalah :
Qiss bin Sa’idah Al lyaadi, Zaid bin ‘Amru bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Shalt, Abu Qais bin Abi Anas, Khalid bin Sinan, An Nabighah Adz Dzubyani, Zuhair bin Abi Salma, Ka’ab bin Luai bin Ghalib, Umair bin Haidab Al Juhani, ‘Adi bin Zaid Al ‘Ibadi, penyair Zuhair bin Abi Salma, Abdullah Al Qudhaa’i, Ubaid bin Al Abrash Al Asadi, Utsman bin Al Huwairits, Amru bin Abasah Al Sulami, Aktsam bin Shaifi bin Rabaah dan Abdul Muthalib kakek Rasulullah

BERDASARKAN KISAH DIATAS, TERJAWAB SUDAH FITNAH UMAT KRISTIANI YG MENGATAKAN ORANG TUA NABI BERADA DALAM NERAKA KARENA BELUM MEMELUK ISLAM TIDAK BERDASAR SAMA SEKALI, SEBAB NENEK MOYANG NABI MERUPAKAN KETURUNAN NABI IBRAHIM AS.

Tulisan ini, sunan tutup dengan ayat suci Al-Qur’an yaitu:

QS. 3 Ali Imran : 67-68.
“IBRAHIM BUKAN SEORANG YAHUDI DAN BUKAN (PULA) SEORANG NASRANI, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” SESUNGGUHNYA ORANG YANG PALING DEKAT KEPADA IBRAHIM IALAH ORANG-ORANG YANG MENGIKUTINYA DAN NABI INI (MUHAMMAD), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”.

Qs.2 Baqarah 136
“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “KAMI BERIMAN KEPADA ALLAH dan apa yang diturunkan kepada kami, dan APA YANG DITURUNKAN KEPADA IBRAHIM, ISMA’IL, ISHAQ, YA’QUB DAN ANAK CUCUNYA, DAN APA YANG DIBERIKAN KEPADA MUSA DAN ISA SERTA APA YANG DIBERIKAN KEPADA NABI-NABI DARI TUHANNYA. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah telah keluar hendak pergi meruntuh Ka’bah sangatlah mereka terkejut dan seluruh kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka’bah dari serbuan itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan Baitullah Al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia: “Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi tuan membiarkan saya tinggal hidup.” Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan tetaplah Dzu Nafar dibelenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.

26 Juni 2012

Imam Abu Hanifah

oleh alifbraja

Imam Abu Hanifah adala salah seorang imam yang pendapat dan pemikirannya diperhitungkan dalam dunia Islam.
Mungkin saja sebagian kita tidak memahami sebagian dari pemikiran dan pendapat beliau. Namun usahlah kita mencari perbedaan yang terjadi di antara para ulama, sebagaimana pula perbedaan itu terjadi di kalangan para shahabat ra.

 

 

At Taj As subki berkata :
Hendaklah kalian :

–          bersama orang yang sedang mencari ilmu, mengikuti jalan budi pekerti bersama para imam

–          janganlah kalian memedulikan kabar miring tentang mereka yang sengaja disebarkan tanpa bukti yang nyata

–          Jika kalian bisa berbaik sangka padanya, maka lakukanlah

–          Kalian tidak diciptakan untuk hal ini ( menggunjing orang)

–          Perhatikanlah saja tugas kalian ( belajar) dan tinggalkan perkara yang bukan urusan kalian.

–          Janganlah kalian terusik dengan apa yang terlah menjadi kesepakatan anatara abu hanifah dengan Sufyan Ats Tsauri, atau antara Imam Malik dan Ibnu Abi Dza’b..dst…Karena jika kalian menyibukkan diri dengan hal-hal seperti itu, aku khawatir kalian akan mengalami kegagalan dalam mencai ilmu.

 

 

Kita tentu tidak sepakat dengan pendukung fanatic beliau yang mendewakan sang imam diatas semua ulama. Dan sama tidak sepakatnya dengan orang yang mencela, mencemarkan nama baiknya, dan menuduhnya dengan perkataan yang tak pernah dikatakannya.

 

Dialah salam seorang mujtahid yang selalu diberi p ahala ; terkadang 2 pahala jika pendapatnya benar dan terkadang 1 jika pendapatnya salah.

 

 

 

 

*BEBERAPA PANDANGAN TERHADAP BELIAU*

  1. “….Jika aku memandangnya, aku tahu bahwa wajahnya itu adalah orang yang takut kepada Allah ( Yahya Bin Ma’in)
  2. “Tidak ada seorang pun yang dating ke Mekkah sampai saat ini yang paling banyak shalatnya dari Imam Abu Hanifah..” ( Sufyan bin Uyainah)

 

*BIOGRAFI SINGKAT*

 

Nama asli beliau adalah :

 

al-Nu’man bin TSabit bin Zauthi At tamimi Al Kufi

 

Namun beliau digelari Abu Hanifah. Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab:
1.  Ada yang mengatakan karena ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah, maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah.
2.  Karena semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya, maka ia dianggap seorang  yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama. Itulah sebabnya ia masyhur dengan gelar Abu Hanifah.
3.  Menurut bahasa Persia, Hanifah bererti tinta. Imam Hanafi sangat rajin menulis hadith-hadith, ke mana, ia pergi selalu membawa tinta. Kerana itu ia dinamakan Abu Hanifah.
Imam Abu Hanifah adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. Sekaligus merupakan imam pertama sebelum Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab.

Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam.

Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain, iaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.

 

 

KELAHIRANNYA

 

Beliau dilahirkan di Kufah , Irak

Pada tahun 80 H/699 M pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan

Orang tuanya berasal dari keturunan Persia dan ketika ia masih dalam kandungan di bawa pindah ke Kufah dan menetap disina hingga Abu Hanifah lahir.

 

 

Imam Abu Hanifah hidup dalam keluarga pedagang di Kufah. Yaitu pedagang kain Khozz (salah satu jenis sutera). keluarga Imam Abu Hanifah juga telah menyerukan agama islam setelah bapaknya (Tsabit) bertemu dengan  Ali r.a.
Belia kemudian meneruskan warisan ayahnya dalam berbisnis hingga beliau bertemu dengan seorang ulama, yang beliau ceritakan dalam kisah berikut :

Dalam salah satu riwayat dari Imam, beliau berkata: “Suatu hari aku berjalan melintasi depan as Sya’bi, Dia duduk lalu memanggil dan berkata kepadaku :”mau pergi kepada siapa?” Aku menjawab :” saya mau pergi ke pasar”. Dia berkata :”maksud saya bukan pergi ke pasar, melainkan mau pergi kepada ulama’ “. Maka saya berkata :” saya sedikit sekali berbaur dengan para ulama’”. Dia berkata kepadaku lagi:” jangan lupa bahwa kewajibanmu adalah belajar ilmu dan mendatangi majlis para ulama’. Sesungguhnya aku melihat semangat kewaspadaan dan keterampilan ada dalam dirimu”.Imam Abu Hanifah berkata:” perkatannya telah masuk di dalam hatiku. Maka aku menangguhkan pergi ke pasar dan berpaling kepada ilmu. Maka Allah SWT memberikan manfaat kepadaku melalui perkataan itu”.

Sejak itu, beliau hanya menekuni dunia thalabul ilmi. Belajar kepada berbagai guru.

 

GURU-GURU BELIAU

 

1. HAMMAD BIN SULAIMAN

    Hamad bin Abi Sulaiman merupakan guru Imam Abu Hanifah yang pertama di dalam ilmu fiqih.

    Imam Abu Hanifah belajar darinya tentang segala macam ilmu fiqih dan metodenya selama kurang lebih 18 tahun sehingga pada suatu hari Hamad bin Abi Sulaiman pun bertanya kepada Imam Abu Hanifah :”apakah kamu ingin melampauiku wahai Abu Hanifah?”. Ini merupakan sindiran bagi Abu Hanifah yang begitu lama mengambil ilmu darinya.

Sedangkan Hamad bin Abi Sulaiman berguru kepada Ibrahim an Nakh’i. Dan Ibrahim an Nakh’i berguru kepada ‘Alqomah an Nakh’i yang berguru kepada Abdulloh bin Mas’ud seorang sahabat yang terkenal dengan ilmu fiqih dan pendapatnya yang banyak.

 

2. Beliau juga belajar dari  beberapa ulama’ tabi’in antara lain :

a.        Atho’ bin Abi Rabah

b.      Nafi’ Maula Abdulloh bin Umar.

c.       Ashim bin Abi An Najwad

d.      Alqamah bin Martsad

e.       Al Hakam bin Utaibah, dan masih banyak lagi
Imam Abu Hanifah juga berusaha keras dalam mendalami ilmu fiqih khususnya pada empat macam fiqih yaitu : fiqihnya ‘Umar bin Khottob yang terangkum dalam kemashlahatan, fiqihnya Ali bin Abi Tholib yang terangkum dalam masalah istimbath dan hakikat dari syari’ah, ilmu Abdullah bin Mas’ud yang terangkum dalam Takhrij, dan ilmu Abdullah bin Abbas yaitu ilmu al qur’an dan pemahamannya.

ABU HANIFAH TERMASUK TABI’IN

 

Beliau termasuk Tabi’in karena semoat melihat Shahabat Anas bin Malik ketika beliau dating ke kufah

 

SIFAT-SIFATNYA:

–          Perawakan sedang / tinggi

–          Berpostur tubuh ideal

–          Paling bagus logat bicaranya

–          Berkulit sawo matang ( Hammad, puteranya)

–          Tampan dan berwibawa ( Hammad, puteranya)

–          Tidak banyak bicara kecuali menjawab pertanyaan yang dilontarkan ( Hammad, puteranya)

–          Tidak mau mencampuri persoalan yang bukan urusannya( Hammad, puteranya)

–          Berpakaian rapih ( Ibnul Mubarak)

–          Memakai kopiah panjang berwarna hitam

 

PENDAPA PARA ULAMA TERHADAP BELIAU

 

  1. AL FUDHAIL BIN IYADH

–          “ seorang ahli fikih yang terkenal dengan keilmuannya

–          Terkenal denga sifat wara’nya

–          Banyak harta

–          Sangat sabar dalam menuntut ilmu siang dan malam

–          Sangat menghormati dan memuliakan orang di sekitarnya

–          Banak bangun malam

–          Tidak banyak bicara selain untuk menjelaskan halal haramnya sesuatu kepada masyarakat

–          Sangat piawai dalam menjelaskan kebenaran hokum

–          Tidak suka dengan harta penguasa

 

2.      Ibnu Ash-Shabah :

– “Jika ada masalah yang ditanyakan kepadanya, dia berusaha menjawabnya dengan hadits shahih dan menggunakannya sebagai dalil walaupun berasal dan sahabat dan tabi’in. Jika tidak ada, maka dia akan menggunakan qiyas, dan dia adalah orang yang piawai dalam menggunakan qiyas.”

   3. Abdullah bin Al-Mubarak berkata :

Aku telah melihat orang yang paling ahli dalam ibadahnya, aku telah melihat orang yang paling wira’i, aku telah melihat orang yang paling banyak ilmunya dan aku telah melihat orang yang paling ahli dalam bidang fikih.

Adapun orang yang paling banyak ibadahnya adalah Abdul Aziz bin Abi Ruwwad,

orang yang paling wira’i adalah Al-Fudhail bin Iyadh

orang yang banyak ilmunya adalah Sufyan atsTsauri.

Sedangkan, orang yang paling ahli dalam bidang fikih adalah Imam Abu Hanifah”.

Kemudian dia berkata, “Aku belum pernah melihat orang yang ahli dalam fikih seperti dia.”

“Kalaulah Allah tidak menolongku melalui Imam Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri, niscaya aku akan seperti orang kebanyakan (tidak berilmu).”

4. Yahya bin Mu’in :

      “Abu Hanifah adalah orang yang dapat dipercaya, dia tidak meriwayatkan hadits kecuali yang telah dia hafal, dan dia tidak juga berbicara tentang hadits kecuali yang telah dia hafal.”

5. Dari Qais bin Ar-Rabi’:

    “Abu Hanifah adalah orang yang wirai dan takut kepada Allah ‘. Di samping dia adalah seorang yang sangat menonjol dan dan disenangi saudara-saudaranya.”

Dari Syarik, dia berkata, “Imam Abu Hanifah lebih banyak diam dan banyak akalnya (cerdas).”

6. Yazid bin Harun berkata :

 “Aku belum pernah melihat seorang pun lebih sabar dan mampu menahan amarah dari Abu Hanifah.”

7. Dan Abu Mu’awiyah Adh-Dharir :

 “Abu Hanifah sangat komitmen dengan Sunnah Rasulullah”.

8. Imam Asy-Syaf’i :

 “Dalam ilmu fikih, orang-orang (para ulama) adalah satu keluarga dengan Imam Abu Hanifah.”

9. Adz-Dzahabi berkata, “Dia adalah orang yang paling cerdas di antara Anak Adam, mampu menguasai ilmu fikih, seorang yang ahli ibadah, wira’i dan dermawan. Di samping itu dia juga tidak mau menerima hadiah dan para pejabat pemerintahan.”

*IBADAHNYA*

1. Dari asad bin amr dia berkata:
    sesungguhnya imam abu hanifah melakukan sholat isya dan shubuh dengan satu wudhu slama 40 tahun.
2. Al Mutsanna bin raja’ :
    Abu hanifah bernah  bersumpah kepada Allah untuk slalu bersedekah dengan dinar, dan setiap beliau belanja untuk keluarganya maka dia akan bershodaqoh sbesar yang dia belanjakan untuk keluarganya
 
3.Abu ‘Ashim An Nabil berkata :
Abu Hanifah disebut juga al watid ( orang yang kuat) karena banyaknya shalat yang dilakukannya
 
 
4. Yahya bin abdul hamid Al Himmani :
    “Aku berlum pernah melihatnya shalat subuh kecuali dengan wudhu shalat isya.Dia selalu menyudahi shalat malamnya menjelang waktu sahur” (Dikatakan setelah beliau menemani Imam Abu Hanifah selama 6 bulan)
 
5. Ibnu Abi Ruwwad :
    Aku belum pernah melihat yang lebih sabar darinya untuk berthawaf dan beribadah di Makkah. Dia selalu berdoa kepada Allah agar mendapat keselamatan di akhirat nanti. Aku juga tidak pernah menyaksikannya tidur selama 10 malam dan tidak pernah aku melihatnya mau istirahat pada siang hari. Dia selalu shalat, thawaf dan belajar” 
 
6. Sufyan bin Uyainah 
    “Tidak seorang pun yang dating ke Makkah yang lebih banyak shalatnya pada masa kami dari Abu Hanifah.”
 
*SIFAT WARA’NYA*
 
1. Abdullah bin Mubarak :
    “ Aku dating ke kufah, lalu aku bertanya tentang orang yang paling wira’I di daerah tersebut, mereka berkata. Abu hanifah”
 
2. Ali bin Hafsh Al Bazzar mengatakan :
Pada suatu kerika Abu Hanifah memberikan barang  dagangan kepada temannya. Didalam barang dagangan itu ada sehelai kain yang cacat. Abu Hanifah mensyaratkan kepada temannya tersebut supaya menerangkan cacat kain itu jika menjualnya. Tetapi temannya lupa memberitahukan cacat tersebut kepada  pembeli. Dan ia tidak mengetahui kepada siapa barang itu dijualnya. Ketika Abu Hanifah mengetahui hal itu maka ia segera bersedekah sebanyak 30.000 dirham. 
 
 
*TOLERANSI DAN KEMULIAANNYA*
 
  1. Qais bin Ar Rabi’ :
      “Dia adalah seorang wira’I dan ahli fikih. Namun banyak pula yang mendengkinya. Dia banyak melakukan kebaikan kepada setiap orang yang ditemuinya serta menghormati teman-temannya.”
 
2. Hafs bin Hamzah :
    “Abu hanifah adalah orang yang paling bisa memuliakan lawan bicaranya”
 
 
*KOMITMEN BELIAU TERHADAP SUNNAH”
  1. Fudhail bin iyadh:
     “ Jika dalam suatu permasalahan terdapat jawaban yang berdasar pada hadits yang shahih, maka dia mengikutinya, walaupun hadits itu berasal dari para shahabat atau tabi’in. Jika tidak ada, maka ia melakukan qiyas dengan qiyas yang terbaik.”
 
2. Ibnul Mubarak  dari Abu hanifah:
   “Tidak berhak bagi seorang pun untuk memberikan fatwa dengan pendapatnya sendiri padahal ada kitabullah, sunnah Rasulullah dan pendapat para shahabat yang disepakati. Adapun pendapat mereka yang diperselisihkan, maka dipilih pendapat mereka yang paling dekat dengan Al Qur’an dan As sunnah, kemudian kami berijtihad dan tidak lebih dari itu.” 

 

PEMIKIRAN BELIAU DIBUKUKAN OLEH MURID-MURIDNYA

 

Tidak ada buku fiqih karya abu Hanifah. Meskipun demikian tulisan murid-muridnya telah merekam secara lengkap semua pandangan fiqih Abu Hanifah hingga menjadi panutan kaum muslimin.

 

Muridnya antara lain :

  1. Putranya, Hammad
  2. Abu Yusuf bin Ibrahim Al-Auza’I
  3. Zafr bin Al – Ajil bin Qois
  4. Muhammad bin Hasan bin Farqad al-syaibani
  5. al-Hasan bin Ziyad al-lu’lu’I

 Murid-murid inilah yang merekam dan menulis pemikiran Abu Hanifah, baik bidang akidah maupun bidang hukum.

Di antara murid beliau yang terkenal adalah Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, yang merupakan guru dari Imam Syafi’iy.

Pemikiran-pemikiran beliau  yang sampai kepada kita adalah kitab al-Fiqul Akbar, Kitab Al-Risalah, kitab Al- ‘Alim wal Mutallim dan kitab Al-washiyah.

 

* KECERDASAN BELIAU *

1.      Ali bin Ghasim :

“ kalaulah ilmu Abu Hanifah ditimbang dengan ilmu orang-orang pada masanya, pastilah ilmunya lebih banyak dari mereka”

2.      Jarir berkata, Mughirah berkata kepadaku :

“ Duduklah bersama Abu Hanifah, niscaya anda akan faham, karena sesungguhnya jika Ibrahim An nakha’I masih hidup ( sezaman dengannya), pasti dia akan duduk beresamanya.”

3.      Adz Dzahabi :

“ Kepemimpinan dalam masalah fikih dan seluk beluknya yang rumit diserahkan kepada imam ini. Ini sudah menjadi rahasia umum.

BEBERAPA GAMBARAN TENTANG KECERDASAN BELIAU :

1. Dialog dengan ahli fitnah

    Suatu ketika ada seorang laki-laki dari Kufah yang berpandangan sesat. Dia termasuk orang terpandang dan didengar omongannya. ­Laki-laki itu menuduh di hadapan orang-orang bahwa Utsman bin Affan asalnya adalah Yahudi, lalu menganut Yahudi lagi setelah Islam­nya.

Karena ingin mendengar langsung  berita tersebut, Abu Hanifah bergegas menjum­painya dan berkata: “Aku datang kepadamu untuk meminang putrimu yang bernama fulanah untuk seorang sahabatku.” Dia berkata: “Selamat atas kedatangan anda. Orang seperti anda tidak layak ditolak keperluannya wahai Abu Hanifah. Akan tetapi, siapakah peminang itu?” Beliau menja­wab: “Seorang yang terkemuka dan terhitung kaya di tengah kaumnya, dermawan dan ringan tangan, hafal Kitabullah ‘Azza wa jalla, menghabiskan malam dengan satu rukuk dan sering menangis karena takwa dan takutnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.”

sontak saja Laki-laki itu berkata, “Wah .. wah .. , cukup wahai Abu Hanifah, seba­gian saja dari yang anda sebutkan itu sudah cukup baginya untuk meminang seorang puteri Amirul Mukminin.”

kemudian Abu Hanifah berkata: “Hanya saja ada satu hal yang perlu anda pertimbangkan.” Dia ber­tanya: “Apakah itu?” Abu Hanifah berkata; “Dia seorang Yahudi.” Men­dengar hal itu, orang itu terperanjat dan bertanya-tanya: “Yahudi?! Apakah anda ingin saya menikahkan putri saya dengan seorang Yahudi wahai Abu Hanifah? Demi Allah aku tidak akan menikahkan putriku dengannya, walaupun dia memiliki segalanya dari yang awal sampai yang akhir.”

Lalu Abu Hanifah berkata: “Engkau menolak menikahkan puterimu dengan seorang Yahudi dan engkau mengingkarinya dengan kerasnya, tapi kau sebarkan berita kepada orang-orang bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menikahkan kedua puterinya dengan Yahudi (yakni Utsman bin affan )

Seketika orang itu langsung gemetaran tubuhnya lalu berkata: “Astaghfirullah, Aku memohon ampun kepada Allah atas kata-kata buruk yang aku ucapkan. Aku bertaubat dari tuduhan busuk yang saya lontarkan.”

2. Dialog dengan orang khawarij

 Suatu ketika seorang Khawarij bernama Adh-Dhahak Asy­Syari pernah datang menemui Abu Hanifah dan berkata:

Adh-Dhahak : “Wahai Abu Hanifah, bertaubatlah Anda.”
Abu Hanifah : “Bertaubat dari apa?”
Adh-Dhahak : “Dari pendapat Anda yang membenarkan diadakan­nya tahkim antara Ali dan Mu’awiyah.
Abu Hanifah : “Maukah anda berdiskusi dengan saya dalam persoalan ini?”
Adh-Dhahak : “Baiklah, saya bersedia.”
Abu Hanifah: “Bila kita nanti berselisih paham, siapa yang akan men­jadi hakim di antara kita?”
Adh-Dhahak : “Pilihlah sesuka anda.”

Abu Hanifah menoleh kepada seorang Khawarij lain yang menyertai orang itu lalu berkata:

Abu Hanifah : “Engkau menjadi hakim di antara kami.” (dan kepada orang pertama beliau bertanya:) “Saya rela kawanmu menjadi ha­kim, apakah engkau juga rela?”

Adh-Dhahak : “Ya saya rela.”

Abu Hanifah : “Bagaimana ini, engkau menerima tahkim atas apa yang terjadi di antara saya dan kamu, tapi menolak dua sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang bertahkim?”

Maka orang itu pun mati kutu dan tak sanggup berbicara sepatah katapun.

 

3. Dialog dengan orang atheis

Kasus yang lain, sewaktu Abu Hanifah berjumpa dengan orang-­orang atheis yang mengingkari eksistensi Al- Khaliq Subhanahu wa ta’ala.

Beliau bercerita kepada mereka: “Bagaimana pendapat kalian, jika ada sebuah kapal diberi muatan barang-barang, penuh dengan barang-barang dan beban. Kapal terse­but mengarungi samudera. Gelombangnya kecil, anginnya tenang. Akan tetapi setelah kapal sampai di tengah tiba-tiba terjadi badai besar. Anehnya kapal terus berlayar dengan tenang sehingga tiba di tujuan sesuai rencana tanpa goncangan dan berbelok arah, padahal tak ada nahkoda yang mengemudikan dan mengendalikan jalannya kapal. Masuk akal­kah cerita ini?”

Mereka berkata: “Tidak mungkin. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal, bahkan oleh khayal sekalipun, wahai syeikh.” Lalu Abu Hanifah berkata: “Subhanallah, kalian mengingkari adanya kapal ­yang berlayar sendiri tanpa pengemudi, namun kalian mengakui bahwa alam semesta yang terdiri dari lautan yang membentang, langit yang penuh bintang dan benda-benda langit serta burung yang beterbangan tanpa adanya Pencipta yang sempurna penciptaan-Nya dan menga­turnya dengan cermat?! Celakalah kalian, lantas apa yang membuat kalian ingkar kepada Allah?”

4. Dialog dengan pemimpin Jahmiyah

Contoh yang lain lagi, bahwa Jahm bin Sofwan, pentholan kelom­pok Jahmiyah yang sesat, penyebar bid’ah dan ajaran sesat , pernah mendatangi Abu Hanifah seraya berkata,

Jahm :              “Saya datang untuk membicarakan beberapa hal yang sudah saya  persiapkan.”

Abu Hanifah: “Berdialog denganmu adalah cela dan larut dengan apa yang engkau bicarakan berarti neraka yang menyala-nyala”

Jahm: “Bagaimana bisa anda memvonis saya demikian, padahal Anda belum pernah bertemu denganku sebelumnya dan belum mendengar pendapat-pendapat saya?”

Abu Hanifah: “Telah sampai kepada saya berita-berita tentangmu yang telah berpendapat dengan pendapat yang tidak layak keluar dari mulut ahli kiblat (muslim).

Jahm: “Anda menghakimi saya secara sepihak?”

Abu Hanifah: “Orang-orang umum dan khusus sudah mengetahui perihal Anda, sehingga boleh bagiku menghukumi dengan sesuatu yang telah mutawatir kabarnya tentang Anda.

Jahm: “Saya tidak ingin membicarakan atau menanyakan apa-apa ke­cuali tentang keimanan.”

Abu Hanifah: “Apakah hingga saat ini kamu belum tahu juga tentang masalah itu hingga perlu menanyakannya kepada saya?”

Jahm : “Saya memang sudah paham, namun saya meragukan salah satubagiannya.”

Abu Hanifah : “Keraguan dalam keimanan adalah kufur.”

Jahm: “Anda tidak boleh menuduh saya kufur sebelum mendengar tentang apa yang menyebabkan saya kufur.”

Abu Hanifah : “Silakan bertanya!”

Jahm: “Telah sampai kepadaku tentang seseorang yang mengenal dan mengakui Allah dalam hatinya bahwa Dia tak punya sekutu, tak ada yang menyamai-Nya dan mengetahui sifat-sifat-Nya, lalu orang itu mati tanpa menyatakan dengan lisannya, orang ini dihukurni mukmin atau kafir?”

Abu Hanifah: “Dia mati dalam keadaan kafir dan menjadi penghuni neraka bila tidak menyatakan dengan lidahnya apa yang diketahui oleh hatinya, selagi tidak ada penghalang baginya untuk menga­takannya.”

Jahm: ”Mengapa tidak dianggap sebagai mukmin padahal dia mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya?”

Abu Hanifah: “Bila anda beriman kepada Al-Qur’an dan mau men­jadikannya sebagai hujjah, maka saya akan meneruskan bicara. Tapi jika engkau tidak beriman kepada Al-Qur’an dan tidak memakainya sebagai hujjah, maka berarti saya sedang berbicara dengan orang yang menentang Islam.”

Jahm: “Bahkan saya mengimani Al-Qur’ an dan menjadikannya sebagai hujjah.”

Abu Hanifah: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan iman atas dua sendi, yaitu dengan hati dan lisan, bukan dengan salah satu saja darinya. Kitabullah dan hadits Rasulullah jelas-jelas menyatakan hal itu:

            “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepa­da Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-­kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah ber­iman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke daIam golongan orang-orang yang saIeh?” Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di daIamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan ituIah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS Al Maidah: 83-85)

Karena mereka mengetahui kebenaran dalam hati lalu menyata­kannya dengan lisan, maka Allah Subhanahu wa ta’ala memasukkannya ke dalam jan­nah yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir karena pernyataan keimanannya itu. Allah juga berfirman: “Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami,

FITNAH YANG MENIMPA BELIAU
  Adanya fitnah seringkali menjadi sarana Allah untuk menilai kualitas iman seseorang. Hal ini juga tak luput dari perikehidupan seorang Imam Abu Hanifah. Berbagai riwayat menceritakan tentang fitnah yang menimpa beliau yang menampakkan kegigihan beliau dalam menetapi sesuatu yang diyakininya benar.
 
Terdapat berbagai versi tentang hal tersebut :
1.      Dikatakan dari Ubidillah bin Amir bahwa :
Sesungguhnya Ibnu Hubairah (Pejabat pemerinntahan di masa Khalifah Marwan) telah mencambuk Abu hanifah sebanyak 110 cambukan dengan cemeti agar dia mau memegang jabatan sebagai hakim. Namun beliau lebih memilih untuk menolaknya.  

              Kisahnya :

               Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari.

               Pernah pada suatu ketika Abu  Hanifah akan diangkat menjadi ketua Baitul mal, tetapi pengangkatan itu ditolaknya.  Sampai berulang kali Gabenor Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.

Pada waktu yang lain Gubernur Yazid menawarkan pangkat Qadi (hakim) tetapi juga ditolaknya.

Oleh kerana itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera.

Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya.

Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq, dikumpulkan di muka istananya. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. Ibnu Syblamah, Daud bin Abi Hind dan lain-lain. Kepada mereka, masing-masing diberi jabatan oleh Gubernur.

Gubernur dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah, “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu niscaya ia akan dihukum dengan pukulan.”

Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Abu Hanifah tetap menolak jawatan itu, bahkan ia tetap tegas tidak mau menjadi pejabat kerajaan dan tidak mau campur tangan dalam urusan negara.

Kerana sikapnya itu, akhirnya ditangkap oleh gubernur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu, dengan tidak dipukul.

Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan, setelah itu baru dibebaskan.

Beberapa hari sesudah itu gubernur menawarkan menjadi Qadi, juga ditolaknya. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.

2. Basyar bin Al Walid mengatakan :

    Abu Ja’far Al Manshur meminta Abu Hanifah untuk menjadi hakim dalam pemerintahannya, namun beliau menolaknya dan hal itulah yang menyebabkan beliau dijebloskan ke dalam penjara. Sampai waktu tertentu.

  Kisahnya :

Pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al Manshur, Imam Abu Hanifah mendapat panggilan dari Baginda di Bagdad. Sesampai di istana, beliau di tunjuk dan diangkat menjadi hakim (qadhi) kerajaan di Baghdad. Baginda bersumpah keras bahwa beliau harus menerima jabatan itu. Tawaran jabatan setinggi itu beliau tolak dan bersumpah tidak akan sanggup mengerjakannya.

Di tengah pertemuan ada seorang yang pernah menjadi santrinya dan sekarang menjadi pegawai kerajaan, tiba-tiba memberanikan diri berkata kepada beliau: “Apakah guru akan tetap menolak kehendak Baginda, padahal Baginda telah bersumpah akan memberikan kedudukan tinggi kepada guru.

Abu Hanifah dengan tegas menjawab: “Amirul mu’minin lebih kuat membayar kafarat sumpahnya dari pada saya membayar kafarat sumpah saya.”

Oleh karena tetap menolak pengangkatan itu, maka sebagai ganjarannya Baginda merintahlan agar Imam Abu HAniafah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Baghdad. Ada yang mengatakan beliau di penjara sampai batas waktu tertentu.

  * Kisah yang lain

     Mughits bin udail menagatakan :

      Abu Ja’far Al Manshur memanggil Abu Hanifah untuk menjabat sebagai hakim, tetapi dia menolaknya. Dan itulah yang menyebabkan beliau dipenjara.

Suatu hari, ada perintah menghadap dari istana, kemudian  bertanya kepada beliau: “Adakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?”

Jawabnya tenang, “Semoga Allah memperbaiki Amirul Mu’minin! Wahai Amirul Mu’minin takutlah engkau kepada Allah, dan janganlah engkau bersekutu dalam kepercayaan engkau dengan orang yang tidak takut kepada Allah! Demi Allah, saya bukanlah orang yang boleh dipercaya di waktu tenang. Maka bagaimana mungkin saya menjadi orang yang boleh dipercaya diwaktu marah? Sungguh saya tidak sepatutnya diberi jabatan yang sedemikian itu!”

Baginda berkata: “Kamu berdusta, karena kamu patut memegang jabatan itu!”

“Ya Amirul Mu’minin! Sesungguhnya baginda telah menetapkan sendiri (bahwa saya seorang pendusta). Jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut menjabat itu, dan jika saya berdusta, maka bagaimana Baginda akan mengangkat seorang hakim yang berdusta?

  1. Ada yang mengatakan bahwa Abu Hanifah menerima jabatan sebagai hakim, kemudian ia memutuskan oerkara hingga dua hari, lalu ia sakit selama 6 hari dan akhirnya meniggal dunia
  2. Al Faqih Abu Abdullah As Shumairi mengatakan :

Dia tidak mau menjalankan sumpah sebagai hakim kemudian ia dipukuli dan ditahan hingga meninggal dunia di tahanan.

*   AKHIR HIDUP BELIAU  *

Mengenai akhir hidup beliau, terdapat beberapa versi.

  1. Imam Adz Dzahabi mengatakan :

Khalifah Abu Ja’far al Manshur memberi minuman beracun kepada Imam Abu Hanifah dan ia pun meninggal sebagai syahid.

  1. Al haitsami berkata :

Beberapa perawi meriwayatkan bahwa ia diberi semangkuk minuman beracun agar diminumnya, kemudian minuman itu disiramkan paksa ke dalam mulutnya, hingga akhirnya beliau meninggal dunia.

  1. Dikatakan juga bahwa :

Ketika merasa kematiannya telah dekat, Imam Abu hanifah bersujud hingga ruhnya keluar dalam keadaan ia sedang bersujud.

  1. Diriwayatkan juga bahwa :

Sesungguhnya kematian beliau bukan disebabkan oleh penolakannya menjadi hakim.

Melainkan adanya beberapa orang yang memusuhi al imam dan menfitnah beliau sebagai orang yang memperngaruhi Ibrahim bin Abdullah bin Al hasan bin Al Husain bin Ali bin Abi thalib untuk memeranginya di Basrah.

Al Manshur sangat khawatir jika membunuh Al imam tanpa sebab. Karena itulah beliau memintanya sebagai hakim, karena ia tahu bahwa Al imam tidak mungkin menerimanya sehingga ia memiliki alasan untuk membunuhnya.

Para ahli sejarah sepakat bahwa beliau meninggal dunia pada tahun 150 H/ 769 M pada usia 70 tahun.

Ada yang mengatakan beliau wafat pada bulan rajab, ada yang mengatakan bulan sya’ban dan ada yang mengatakan bulan syawal.

Demikianlah biografi singkat Al Imam Abu Hanifah.  Kehidupan yang penuh makna, yang membuat nama beliau masih kita kenal hingga abad ini. Semoga dapat dijadikan pelajaran oleh siapapun yang memilih untuk hidup dan mati fi sabilillah..

Wallahu a’lam bis shawab.

25 Juni 2012

Sifat Sufi Syaidina Abu Bakr R.a

oleh alifbraja

Sifat Sufi Syaidina Abu Bakr R.a

 


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal’khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal’hadi ila shirotikal mustaqiim wa’sholallahu alaiihi wa’ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.

Diriwayatkan dari Rasulullah saw. Bahwa beliau pernah bersabda. “Umatku yang paling belas-kasih kepada sesama umat adalah Abu Bakr r.a., yang paling kokoh dan kuat memegang agama Allah adalah Umar r.a., yang paling pemalu adalah Utsman r.a., yang paling tahu tentang ilmu faraidh (hukum waris) adalah Zaid bin Tsabit r.a., yang paling faham tentang hukum halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal r.a., yang paling adil dalam memberikan keputusan hukum adalahAli r.a., Sedangkan sahabatku Abu Dzar r.a. adalah orang yang dialek bicaranya memiliki ketajaman dan kebenaran.” (H.r. Ahmad, Tirmidzi dari Anas, ath-Thabrani dari Jabir, dari Ibnu adi dari Ibnu Umar).

Adapun yang menyangkut masalah batin, maka kami akan memulainya dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw.:

Ikutilah dua orang setelahku yaitu: Abu Bakr dan Umar r.a.” (H.r. Tirmidzi dari Hudzaifah, Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Abd dari Anas)

Sementara kami memulainya dengan Abu Bakr r.a lebih dahulu kemudian baru Umar r.a.

Sebagaimana berita yang saya terima dari Abu Utbah al-Halwa-ni—-rahimahullah—yang pernah berkata, “Bolehkah aku memberitahu kalian tentang kondisi spiritual para sahabat Rasulullah? Pertama, bertemu dengan Allah lebih mereka senangi daripada hidup di dunia. Kedua, mereka tidak pernah takut musuh, baik mereka dalam jumlah sedikit maupun banyak. Ketiga, mereka tidak pernah takut miskin dan selalu yakin, bahwa Allah selalu memberinya rezeki. Keempat, jika dilanda wabah penyakit, mereka tidak pernah lari dari tempat tinggal sampai Allah memutuskan nasibnya. Mereka sangat khawatir dengan kematian dalam makna yang sebenarnya.”Dikisahkan dari Muhammad bin Ali al-Kattani -rahimahullah- yang berkata, “Orang-orang dalam kurun waktu pertama Islam selalu bermuamalah denga agama sehingga agama itu menipis. Kemudian pada kurun kedua mereka bermuamalah dengan wafa’ (kesetian dan tepat janji), sehingga kesetiaan itu pun sirna. Kemudian pada kurun ketiga mereka bermuamalah dengan muru’ah (kesatria) sehingga kesatria itu pun lenyap. Pada kurun keempat bermuamalah dengan rasa malu, sampai akhirnya rasa malu itu pun hilang. Pada akhirnya manusia bermuamalah dengan landasan rasa suka dankekhawatiran.”

Keistemewaan Abu Bakr As-Shiddiq RA

Diriwayatkan dari Mutharraf bin Abdullah asy-Syukhair -rahimahullah- yang berkata: Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. berkata “Andaikan ada seseorang memanggil dari langit bahwa tidak ada yang masuk surga kecuali satu orang, maka aku berharap satu orang itu adalah aku. Dan andaikan ada seseorang memanggil dari langit bahwa tidak ada yang masuk neraka kecuali satu orang, maka aku sangat takut orang tersebut adalah aku.”

Mutharraf -rahimahullah- berkata, “Demi Allah ini adalah ungkapan rasa takut yang sangat besar dan harapan yang sangat tinggi.”

Diriwayatkan dari Abu al-Abbas bin Atha’ -rahimahullah- bahwa, ia pernah pernah ditanya tentang firman Allah:

“Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu mempelajarinya.” (Q.s. Ali Imran: 79)

Maka ia menjawab, “Artinya, jadilah kalian seperti Abu Bakr ash-Shiddiq. Karena saat Rasulullah wafat hati kaum muslimin goncang akibat wafatnya Rasul. Namun kepergian Rasulullah sama sekali tidak mempengaruhi lubuk hati Abu Bakr. Ia keluar dan berkata kepada umat Islam. ‘Wahai umat manusia, barang siapa menyembah Muhammad maka sesunggunhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah adalah Dzat yang senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati. Orang yang memiliki sifat rabbani ini, kejadian apapun sama sekali tidak mempengaruhi lubuk hatinya, meskipun orang-orang takut tergoncang.”

Abu Bakr al-Wasithi -rahimahullah- berkata, “Lisan (bahasa) kaum sufi yang pertama kali muncul dikalangan umat memalui lisan Abu Bakr adalah bahasa isyarat, yang kemudian oleh orang-orang yang memilikik kemampua pemahaman yang tajam diambil makna-makna lembut yang sering kali orang-orang yang berakal terkecoh dalam memahaminya.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Apa yang dikatakan oleh al-Wasithi, bahwa lisan kaum sufi yang muncul pertama kali melalui lisan Abu Bakr ialah saat ia mengeluarkan seluruh harta miliknya yang diinfakkan demi agama Allah. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakr menjawab, “Allah dan Rasul-Nya”. (H.r. Tirmidzi dari Umar). Ia menjawab pertama kali dengan Allah, kemudia Rasul-Nya. Hal ini merupakan suatu isyarat yang sangat agung bagi para ahli tauhid dalam hakikat-hakikat panauhidan kepada Allah. Namun bukan berarti ini saja isyarat yang keluar dari lisan Abu Bakr. Masih sangat banyak isyarat-isyarat lain yang darinya bisa diambil kesimpulan-kesimpulan yang sangat lembut.

Isyarat-isyarat tersebut dapat diketahui dan dipahami oleh para ahli hakikat untuk mereka jadikan referensi dan cermin dalam berakhlak. Di antaranya ialah pidato Abu Bakr ketika ia naik diatas mimbar setelah rasulullah wafat, dimana hati para sahabat saat itu goncang dan khawatir kalau Islam akan hilang karena wafat dan hilangnya Rasulullah dari lingkungan mereka. Kemudian Abu Bakr berkata, “Barangsiapa menyembah Muhammad maka ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat, dan barangsiapa menyembah Allah swt. Maka sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha hidup dan tidak akan pernah mati.” (H.r Ahmad, Abdurrazzaq dari Aisyah dan Ibanu Abbas, dan Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Umar).

Makna yang sangat halus dalam ungkapan tersebut ialah keteguhan dalam bertauhid dan berusaha memperkokoh hati para sahabat dalam bertauhid.

Diantara ungkapan yang lain ialah saat Perang Badar, ketika Rasulullah berdo’a:
“Ya Allah, jika sekelompok manusia (dari umat Islam) ini Engkau hancurkan, maka setelah itu Engakau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.”

Kemudian Abu Bakr berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah tinggalkanlah permohonanmu kepada Tuhan, sebab -demi Allah- Dia pasti mengabulkan apa yang dijanjikan kepada-Mu.”(H.r. Muslim dan Tarmidzi dari Ibnu Abbas dan Umar).

Dimana janji itu adalah firman Allah swt., “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyuka kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman’. Kelak akan Aku jadikan rasa ketakutan kedalam hati orang-orang kafir.” (Q.s. al-Anfal: 12)

Di sini tampak satu keistimewaan Abu Bakr, dimana ia telah memiliki hakikat tashdiq ( pembenaran ) terhadap kemenangan yang dijanjikan Allah kepada umat Islam . Dimana hati para sahabat yang lain goncang . Ini menunjukkan hakikat keimanan dan keistimewaan Abu Bakr.

Jika ada orang yang bertanya “ Apa makna perubahan Rasulullah dan keteguhan hati Abu Bakr , sementara Rasulullah jauh lebih sempurna daripada Abu Bakr dalam segala kondisi spiritual?”

Maka jawabannya adalah karena Rasulullah lebih tahu tentang Allah daripada Abu Bakr . Sementara itu, Abu Bakr lebih kuat imannya daripada para sahabat Rasulullah yang lain . Keteguhan Abu Bakr mencerminkan hakikat keimanannya terhadap kebenaran janji Allah . Sedangkan perubahan pada diri Nabi adalah karena beliau lebih tahu tentang Allah. Sehingga beliau tahu dari Allah apa yang tidak diketahui Abu Bakr dan juga sahabat yang lain. Apakah Anda tidak tahu , bahwa ketika angin bertiup kencang maka warna kulit beliau berubah, sementara tidak seorang pun dari sahabatnya yang warna kulitnya berubah ?

Rasulullah juga bersabda ,” Andaikan kalian tahu apa yang aku ketahui tentu kalian kurang bisa tertawa, banyak menangis, keluar menuju ke berbagai jalan { untuk mencari perlindungan kepada Allah }, dan tidak akan tenang di atas tempat tidur .” ( H.r. Bukhari, al-Hakim dan ath-Thabrani, lihat kembali hlm. 247).

Abu Bakr juga memiliki kekhususan di antara para sahabat dalam hal firasat dan ilham . Itu bisa diketahui dalam tiga kasus :

Pertama, ketika pendapat para sahabat Rasulullah telah mencapai titik sepakat untuk tidak memerangi orang-orang murtad yang tidak mau membayar zakat setelah wafat Rasulullah saw. Namun Abu Bakr tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk memerangi mereka . Kemudian ia berkata,”Demi allah , andaikan mereka tidak mau membayarku zakat unta dan kambing yang pernah mereka bayarkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka dengan pedang.” Sementara pendapat Abu Bakr inilah yang benar. Kemudian para sahabat berkata.” Sesungguhnya yang benar adalah pendapatnya sekalipun ia berbeda pendapat dengan sahabat-sahabat yang lain tentang apa yang mereka kemukakan.” Akhirnya sahabat-sahabat yang lain merujuk kepada pendapat Abu Bakr, dimana mereka melihat bahwa pendapat dialah yang benar.
Kedua, Saat ia berbeda pendapat dengan sebagaian besar sahabat mengenai penarikan mundur pasukan Usamah. Dan ia berkata,” Demi Allah, saya tidak akan mengingkari janji yang pernah disepakati oleh Rasullah.”
Ketiga, ialah ucapan Abu Bakr kepada Aisyah. “Sesungguhnya aku akan memberimu dua saudara laki-laki dn dua perempuan.” Aisyah saat itu hanya tahu bahwa ia hanya memiliki dua saudara laki-laki dan seorang perempuan.

Pada saat itu Abu Bakr memiliki seorang budak perempuan yang sedang hamil. Maka ia berkata,” Hati nuraniku mengatakan bahwa janin yang ada dalam rahimnya adalah perempuan.”

Ini menunjukkan firasat dan ilham yang sangat tajam dan sempurna.

Nabi saw bersabda:

“ Hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin karena ia melihat dengan Nur Allah.” (H.r. ath-Thabrani dari Abu Umamah, Tirmidzi dari Abi Said, Abu Nu’aim dan al-Bazzar dari Anas).

Sementara itu pada diri Abu Bakr masih terdapat makna-makna lain yang banyak dijadikan referensi para ahli hakikat dan mereka yang mampu mengendalikan hati nurani. Dan jika disebutkan semua maka kitab ini akan menjadi sangat tebal.

Di ceritakan dari Bakr bin Abdullah al-Muzani yang mengatakan,”Abu Bakr tidak melibihi semua sahabat Rasul yang lain dalam hal banyak berpuasa dan shalat, namun ia memiliki kelebihan yang ada di dalam hatinya.”

Sebagian kaum sufi mengatakan, bahwa apa yang terjadi didalam hati Abu Bakr adalah cintanya kepada Allah Azza wa Jalla dan nasihat karena-Nya.

Disebutkan, Tatkala tiba waku shalat, Abu Bakr berkata, “Wahai anak Adam bangunlah ke neraka yang kalian nyalakan, kemudian padamkanlah.”

Diriwayatkan, bahwa suatu saat ia pernah makan makanan yang ada syubhatnya. Ketika ia tahu bahwa itu ada syubhatnya, maka ia muntahkan sembari berkata, “Demi Allah andaikan makanan itu tidak bisa keluar kecuali dengan mengorbankan jiwa (ruh)ku maka akan aku keluarkan juga, Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda, “Tubuh yang diberi makan dari barang haram maka neraka lebih pantas untuknya.” (H.r. Tirmidzi danIbnu Hibban dari Ka’ab bin ‘Ajarah).

Abu Bakr pernah berkata, “Aku ingin menjadi tumbuhan hijau yang dimakan oleh binatang, dan tidak pernah diciptakan, karena aku takut siksa Allah dan ketakutan di hari Kiamat.”

Diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq yang mengatakan: Ada tiga ayat dalam kitab Allah yang menyibukkanku dari yang lain:

Pertama:
“Jika Allah menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghalanginya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan untukmu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (Q.s. Yunus: 107)

Maka aku tahu bahwa, apabila Allah menghendaki kebaikan untukku, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghilangkannya dariku selain Dia sendiri. Dan jika Dia menghendaki kejelekan untukku, maka tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkannya selain Dia sendiri.

Kedua:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (Q.s. al-Baqarah: 152)

Maka demi Allah, sejak aku membaca ayat ini tidak lagi pernah memikirkan masalah rezekiku.”

Disebutkan pula, bahwa bait syair berikut adalah dari Abu Bakr ash-Shiddiq:

Wahai orang yang membanggakan dunia dan perhiasannya
Bukankah kebanggaan itu mengangkat tanah denga tanah

Jika Anda ingin melihat manusia yang paling mulia
Maka lihatlah seorang raja yang mengenakan pakaian orang miskin

Itulah yang besar kasih sayangnya dimata manusia
Itulah yang berguna bagi dunia dan agama.

Dikisahkan dari al-Junaid yang mengatakan, “Kalimat tentang tauhid yang paling mulia adalah apa yang dikatakan Abu Bakr, ‘Mahasuci Dzat Yang tidak membuka jalan untuk ma’rifat-Nya kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup mengetahui-Nya’

24 Juni 2012

SYEKH BELA BELU & Sunan Panggung/Syekh Malang Sumirang

oleh alifbraja

SYEKH BELA BELU & Sunan Panggung/Syekh Malang Sumirang.

%d blogger menyukai ini: