Posts tagged ‘Choi Minho’

25 Agustus 2012

Menghadirkan Allah dalam Hati

oleh alifbraja

Menghadirkan Allah dalam Hati

 
Langit tak dapat menampung-Ku,
bumipun tidak dapat memuat-Ku,
begitupula ruang di antara keduanya.
Hanya hati orang berimanlah
yang dapat meliputi-Ku.
Hadis Kudsi
Imam al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumiddin, menuturkan bahwa suatu hari Imam ‘Ali Zain al-‘Abidin berwudu hendak salat. Tubuhnya bergetar. Orang-orang bertanya, “Apa yang menimpa Anda?” Imam menjawab, “Engkau tidak tahu di hadapan siapa sebentar lagi aku akan berdiri.” Hatinya dipenuhi rasa takut yang luar biasa karena ia akan mene-mui Allah Swt. di dalam salatnya. Wajahnya menjadi pucat pasi dan hatinya berguncang keras.
Dalam kitab Futuhat Makkiyyah, karya Ibn ‘Arabi, juga diceritakan pelbagai kisah tentang orang yang khusyuk. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari tasawuf pada gurunya.
“Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi la berkata, “Semalam aku khatamkan Alquran dalam salat malamku.” Gurunya berkomentar, “Bagus. Kalau begitu, aku sarankan nanti malam bacalah Alquran dan hadirkan seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu.” Esok harinya, pemuda itu mengeluh, “Ya Ustad, tadi malam aku tidak sanggup menyelesaikan Alquran lebih dari setengahnya.” Gurunya menjawab, “Kalau begi¬tu, nanti malam bacalah Alquran dan hadirkan di hadapan¬mu para sahabat Nabi yang mendengarkan Alquran itu langsung dari Rasulullah saw.” Keesokan harinya, pemuda itu berkata, “Ya Ustad, semalam aku tak sanggup menye¬lesaikan lebih dari sepertiga Alquran.”
Nanti malam,” kata gurunya, “bacalah Alquran dengan menghadirkan Rasu¬lullah saw. di hadapanmu, yang kepadanya Alquran itu diturunkan.” Esok paginya pemuda itu bercerita, “Tadi malam aku hanya bisa menyelesaikan satu juz saja. Itu pun dengan susah payah.” Sang guru kembali berkata, “Nanti malam, bacalah Alquran itu dengan menghadirkan Jibril a.s., yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al¬quran kepada Rasulullah saw.”
Esoknya pemuda itu ber¬cerita bahwa ia tidak sanggup menyelesaikan satu juz pun dari Alquran. Gurunya lalu berkata, “Nanti kalau membaca Alquran, hadirkan Allah Swt. di hadapanmu. Karena se-betulnya yang mendengar bacaan Alquran itu adalah Allah Swt. Dialah yang menurunkan bacaan kepadamu.”
Esok harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, “Apa yang terjadi?” Anak muda itu menjawab, “Aku tidak bisa menyelesaikan bahkan al-Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan iyydka na’budu, wa iyydka nasta’in, lidahku kelu. Bibirku tak sanggup melafalkannya, karena aku tahu hatiku tengah berdusta. Dalam mulut, kuucap¬kan, Tuhan, kepada-Mu aku beribadah,’ tapi dalam hatiku aku tahu aku sering memperhatikan selain Dia. Ucapan itu tidak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan iyydka na’budu wa iyydka nasta¬’in” Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.
Sebetulnya yang diceritakan oleh guru tadi kepada muridnya adalah ara memperoleh hati yang khusyuk. Hati yang khusyuk adalah hati yang sanggup menghadirkan Allah SWT dihadapan kita. Hal itu membutuhkan olah rohani (ryadhoh) terlebih dahulu. Maka , dapat dipahami mengapa didalam tarekat, seseorang harus menghadirkan guru didalam doa-doa kita. Hal itu sebenarnya sebuah latihan dan jalan karena sangatlah sulit bagi kita untuk menghadirkan Allah SWT
Iklan
25 Agustus 2012

Makkah Sebagai Pusat Bumi

oleh alifbraja

Makkah—juga disebut Bakkah—tempat di mana umat Islam melaksanakan haji itu terbukti sebagai tempat yang pertama diciptakan. Telah menjadi kenyataan ilmiah bahwa bola bumi ini pada mulanya tenggelam di dalam air (samudera yang sangat luas).

Kemudian gunung api di dasar samudera ini meletus dengan keras dan mengirimkan lava dan magma dalam jumlah besar yang membentuk ‘bukit’. Dan bukit ini adalah tempat Allah memerintahkan untuk menjadikannya lantai dari Ka’bah (kiblat). Batu basal Makkah dibuktikan oleh suatu studi ilmiah sebagai batu paling purba di bumi.

Jika demikian, ini berarti bahwa Allah terus-menerus memperluas dataran dari tempat ini. Jadi, ini adalah tempat yang paling tua di dunia.

Adakah hadits yang nabawi yang menunjukkan fakta yang mengejutkan ini? Jawaban adalah ya.
Nabi bersabda, ‘Ka’bah itu adalah sesistim tanah di atas air, dari tempat itu bumi ini diperluas.’ Dan ini didukung oleh fakta tersebut.

Menjadi tempat yang pertama diciptakan itu menambah sisi spiritual tempat tersebut. Juga, yang mengatakan nabi yang tempat di dalam dahulu kala dari waktu menyelam di dalam air dan siapa yang mengatakan kepada dia bahwa Ka’bah adalah pemenang pertama yang untuk dibangun atas potongan dari ini tempat seperti yang didukung oleh studi dari basalt mengayun-ayun di Makkah?

Makkah Pusat Bumi

Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.

Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.

Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi.

Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).

Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.

Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.

Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:

‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam.

Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.

Makkah atau Greenwich

Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.

Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit

Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33)

Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.

Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada di tengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit.

Selain itu ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka‘bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi)
Nabi bersabda, ‘Wahai orang-orang Makkah, wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian berada di bawah pertengahan langit.’

Thawaf di Sekitar Makkah

Dalam Islam, ketika seseorang thawaf di sekitar Ka’bah, maka ia memulai dari Hajar Aswad, dan gerakannya harus berlawanan dengan arah jarum jam. Hal itu adalah penting mengingat segala sesuatu di alam semesta dari atom hingga galaksi itu bergerak berlawanan dengan arah jarum jam.

Elektron-elektron di dalam atom mengelilingi nukleus secara berlawanan dengan jarum jam. Di dalam tubuh, sitoplasma mengelilingi nukleus suatu sel berlawanan dengan arah jarum jam. Molekul-molekul protein-protein terbentuk dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam. Darah memulai gerakannya dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam.

Di dalam kandungan para ibu, telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. Sperma ketika mencapai indung telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. Peredaran darah manusia mulai gerakan berlawanan dengan arah jarum jamnya. Perputaran bumi pada porosnya dan di sekeliling matahari secara berlawanan dengan arah jarum jam.

Perputaran matahari pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam. Matahari dengan semua sistimnya mengelilingi suatu titik tertentu di dalam galaksi berlawanan dengan arah jarum jam. Galaksi juga berputar pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam.

25 Agustus 2012

MASJIDUL BAIT (MASJID DI DALAM RUMAH) URGENSI DAN FUNGSINYA

oleh alifbraja

Rumah merupakan salah satu nikmat besar dari Allah Azza wa Jalla bagi setiap muslim. Allah Azza wa Jalla telah mengingatkan besarnya nikmat ini dan fungsi pentingnya bagi para penghuninya. Jiwa-jiwa dan hati mereka akan merasa tenang ketika sudah berada di dalamnya. Rumah akan menjadi tempat melepas lelah, menutup aurat, dan menjadi tempat menjalankan berbagai aktifitas yang bermanfaat, untuk dunia maupun akherat.

Allah Azza wa Jalla mengingatkan besarnya nikmat rumah bagi manusia dengan berfirman.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا

“dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal” [an-Nahl/16 : 80]

Termasuk pertanda bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla atas nikmat rumah tempat naungan ini, hendaknya Allah Azza wa Jalla ditaati di dalamnya dengan menjadikannya sebagai tempat ibadah, dzikir, shalat-shalat sunnah dan ibadah-ibadah lainnya. Bukan sebaliknya, malah menjadi pusat maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, dipenuhi berbagai perangkat yang melalaikan orang dari beribadah kepada-Nya.

Di antara faktor yang mendukung keluarga untuk beribadah, dibuat tempat khusus untuk beribadah bagi seluruh penghuni rumah, sebagai tempat berdzikir dan tempat mengerjakan shalat-shalat sunnah. Satu tempat yang mereka gunakan untuk menikmati bermunajat dengan Rabb mereka, Allah Azza wa Jalla Dzul jalali wal ikram.

MEMBUAT MASJID DI DALAM RUMAH, MUSTAHAB
Yang dimaksud dengan masjidul bait seperti tertera dalam judul tulisan ini berdasarkan penjelasan Ulama yaitu tempat atau ruangan yang dikhususkan dan diperuntukkan oleh pemilik rumah sebagai tempat mengerjakan shalat-shalat sunnat dan ibadah-ibdah nafilah lainnya [1]

Bagaimanakah sebenarnya hukum membuat masjidul bait dalam rumah bagi seorang muslim? Membuat tempat khusus di dalam rumah sebagai tempat menjalankan shalat sunnat dan mengerjakan amalan-amalan ibadah lainnya mustahab (dianjurkan). Para ulama telah membicarakan pembahasan ini dalam kitab-kitab fikih dan hadits karya mereka.

Dari Ummu Humaid Radhiyallahu anhuma, istri Humaid al-Sa’idi Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia mendatanggi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku sangat suka shalat (berjamaah) bersamamu”. Beliau berkata, “Aku sudah tahu engkau menyukai shalat bersamaku, (akan tetapi) shalatmu di masjid rumahmu (tempat paling dalam –red) lebih baik daripada shalatmu di kamar, shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di dalam rumahmu, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu, shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalamu di masjidku (Masjid Nabawi)”. Selanjutnya Ummu Humaid meminta dibuatkan masjid (tempat shalat) di tempat paling ujung dalam rumahnya dan yang paling gelap. Ia mengerjakan shalat di situ sampai menjumpai Allah (ajal datang) [2]

Amirul Mukminin dalam Hadits, Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah menyatakan dalam kitab shahihnya : “Bab masjid-masjid di dalam rumah dan shalatnya al-Bara bin Azib Radhiyallahu anhu di masjid rumahnya dengan berjama’ah”.

Sehubungan dengan fungsinya sebagai tempat ibadah, maka harus diperhatikan aspek kebersihan dan keharumannya. [3] Apalagi mengingat fungsi-fungsi positifnya dalam membina dan mendidik anak-anak serta menanamkan nilai-nilai Islam yang luhur pada generasi yang akan datang tersebut.

TIDAK MESTI RUANGAN ATAU KAMAR KHUSUS
Ada dua bentuk masjidul bait pada masa lalu seperti tertuang pada beberapa nash dan atsar berikut ;

1,Berbentuk kamar khusus di dalam rumah
Bentuk pertama ini berdasarkan riwayat dari Ummu Humaid Radhiyallahu anhuma yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwasanya ia mendatangi Nabi seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku sangat suka shalat (berjama’ah) bersamamu”. Beliau berkata, “Aku sudah tahu engkau menyukai shalat bersamaku, (akan tetapi) shalatmu di tempat paling dalam di rumahmu lebih baik dari pada shalatmu di kamar…. Selanjutnya Ummu Humaid meminta dibuatkan masjid (tempat shalat) di tempat paling ujung dalam rumahnya dan yang paling gelap. Ia mengerjakan shalat di situ sampai menjumpai Allah (ajal datang). [4]

2.Tempat khusus di salah satu pojok kamar
Jika kurang memungkinkan bagi seorang muslim untuk mengadakan ruangan khusus sebagai masjidul bait untuk tempat shalat sunnah dan ibadah-ibadah nafilah lainnya, maka tidak masalah bila ia hanya menentukan pojok tertentu dari kamar yang dapat dipergunakan untuk tujuan tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang lelaki dan kaum Anshar memohon Rasulullah datang (ke rumahnya) untuk berkenan menggarisi tempat sebagai masjid di dalam rumahnya untuk dia jadikan tempat shalatnya. Itu dilakukan setelah ia mengalami kebutaan dan kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhinya. [5]

Dalam al-Musnad, Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari ‘Itban bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, air bah telah menghalangiku untuk mendatangi masjid di kampung (untuk shalat fardhu). Aku ingin engkau mendatangiku dan kemudian mengerjakan shalat disuatu tempat (yang nantinya) aku jadikan sebagai masjid (masjidul bait)”. Nabi menjawab, “Baiklah”. Keesokan harinya, Rasulullah mendatangi Abu Bakar dan memintanya untuk mengikuti beliau. Ketika memasuki (rumah ‘Itban), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dimana tempat engkau inginkan?” Maka aku (‘Itban) menunjuk ke satu pojok rumahnya. Kemudian Rasulullah berdiri dan shalat (disitu). Dan kami berbaris di belakang beliau. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat bersama kami”. [6]

Dalam riwayat al-Bukhari, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin (masuk rumah), kemudian beliau aku persilahkan (masuk). Beliau tidak duduk sampai berkata, “Dimana tempat yang engkau ingin aku shalat di rumahmu?”. Kemudian ia (‘Itban) menunjuk tempat yang ia ingin Nabi shalat di situ..”[7]

DAHULU, SEMUA RUMAH PUNYA MASJIDUL BAIT
Generasi salaf dari kalangan sahabat Nabi dan Tabi’in, mereka berada di puncak tinggi dalam ibadah, menghambakan diri kepada Allah Azza wa Jalla, dan konsentrasi meraih akhirat. Begitu banyak ibadah sunnah yang mereka kerjakan, sementara di malam hari, mereka isi dengan berdiri, ruku dan sujud yang sangat panjang. Ketaatan mereka sangat besar. Di antara faktor yang mendukung mereka untuk keperluan tersebut ialah adanya masjidul bait, di rumah-rumah mereka.

Ternyata mereka telah memiliki masjidul bait di rumah mereka masing-masing. Hal ini berdasarkan pernyataan sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berikut :

مَا مِنْكُمْ إِلاَّ وَلَهُ مَسْجِدْ فِيْ بَيْتِهِ

“Setiap kalian telah mempunyai masjid di dalam rumahnya” [8]

Hal ini dikarenakan konsentrasi mereka yang besar terhadap kehidupan akhirat, yang telah memenuhi relung hati mereka paling dalam. Meski rumah tinggal mereka sederhana dan tidak luas, mereka masih mengkhususkan satu tempat dari rumah mereka sebagai tempat menjalankan ibadah-ibadah sunnat dan nafilah. Malam mereka lalui di dalamnya dalam keadaan berdiri, ruku dan sujud, mengharapkan rahmat Allah Azza wa Jalla dan takut dari siksa-Nya, mengingatkan mereka akan tujuan hidup mereka, dan kampung akhirat. Bahkan sebagian dari mereka, seperti Abu Tsa’labah al-Khusyanni Radhiyallahu anhu meninggal di dalam masjidul bait dalam keadaan bersujud.

MANFAAT MASJIDUL BAIT
Keberadaan masjidul bait mendatangkan berbagai macam manfaat dan dampak positif bagi keluarga itu sendiri. Inilah yang memotivasi generasi Salaf dalam mengkhususkan tempat untuk itu. Di antara manfaatnya

• Sebagai tempat menguatkan hubungan dengan Allah Azza wa Jalla
• Sebagai tempat membina jiwa untuk lebih ikhlas dalam berbicara dan berbuat. Sebab ibadah yang dikerjakan jauh dari pandangan manusia akan lebih mendatangkan ikhlas.
• Sebagai tempat mengerjakan shalat bagi keluarga.
• Sebagai tempat pembinaan anak-anak untuk lebih taat beragama dan rajin beribadah.
• Sebagai pendorong untuk beribadah dan mengingatkannya.
• Menghidupkan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
• Sebagai media mengokohkan hubungan keluarga.
• Sebagai tempat shalat fardhu bagi yang memiliki udzur

SHALAT-SHALAT SUNNAT DI MASJIDUL BAIT
Shalat fardhu telah menjadi salah satu kewajiban terpenting atas setiap muslim dan muslimah. Dan khusus bagi para lelaki, syariat telah menetapkan pelaksanaan shalat fardhu tersebut secara berjama’ah di masjid. Adapun shalat nafilah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan pelaksanaannya di dalam rumah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

عَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِيْ بُيُوْ تِكُمْ فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِفِيْ بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْ بَة

“Shalatlah kalian di dalam rumah kalian. Sungguh sebaik-baik shalat seseorang adalah (yang dikerjakan) di dalam rumahnya kecuali shalat fardhu” [9]

Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِذَا قَضَى أَحَدُ كُمْ الصَّلاَةَ فِيْ مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيْبًا مِنْ صَلاَتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِيْ بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْرًا

“Jika salah seorang kalian telah menyelesaikan shalat di masjid, maka hendaknya ia memberikan bagian shalatnya di dalam rumahnya. Sesungguhnya Allah akan menjadikan kebaikan di dalam rumahnya melalui shalatnya (yang dilakukan di rumah)”. [10]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh sahabat Hizam bin Hakim Radhiyallahu anhu perihal tempat mengerjakan shalat, apakah di rumah atau di masjid. Meski rumah beliau dengan masjid sangat dekat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan berkata :

وَلأَِنْ أُصَلِيَ فَيْ بَيْتِيْ أَحَبُّء إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّي فِيْ مَسْجِدِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَة

“Aku mengerjakan shalat di dalam rumahku lebih aku sukai daripada shalat di masjid kecuali shalat fardhu” [11]

Penekanan shalat wajib di masjid secara berjama’ah atas kaum lelaki akan bertambah jelas melalui nasehat sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu yang berharga berikut ini. Beliau mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian yang mau bergembira berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, hendaknya memelihara shalat lima waktu yang telah diwajibkan saat diserukan untuk menjalankannya.

Sesungguhnya shalat lima waktu termasuk jalan-jalan hidayah, dan sungguh Allah telah menetapkan berbagai macam jalan hidayah. Setiap kalian telah mempunyai masjid di dalam rumahnya. Jika kalian mengerjakan shalat (lima waktu) di masjid rumah kalian seperti mutakhollif (orang yang tidak terbiasa datang ke masjid untuk shalat berjama’ah) yang suka menjalankan shalat (fardhu) di rumahnya (saja), berarti kalian telah meninggalkan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kalian, dan jika kalian meninggalkan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kalian, niscaya kalian akan tersesat.

Aku sudah menyaksikan bahwa yang sudah terbiasa tidak ke masjid (untuk shalat berjama’ah) ialah orang munafik yang telah dimaklumi kenifakannya. Aku dahulu menyaksikan seseorang dipapah oleh dua orang agar bisa berdiri di shaf (shalat fardhu)” [13]

Disebutkan dalam Hasyiyah Ibni Abidin (2/441), “… Sesungguhnya dianjurkan bagi seorang lelaki untuk mengkhususkan satu tempat dari rumahnya sebagai tempat megerjakan shalat nafilah. Adapaun shalat fardhu dan I’tikaf, sudah dimaklumi hanya dikerjakan di masjid”.

Dengan demikian kebaikan dan keberkahan dari Allah Azza wa Jalla akan mendatangi rumah yang bercahaya dengan ibadah dan dzikir tersebut, sehingga rumah bercahaya tidak gelap seperti kuburan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

اجْعَلُوْا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْرًا

Kerjakanlah sebagian shalatmu di dalam rumah-rumah kalian. Jangan menjadikan rumah seperti kuburan” [Muttafaqun ‘alaih]

SHALAT NAFILAH (SUNNAT) BERJAMA’AH DI MASJIDUL BAIT
Disyariatkan bagi seorang muslim untuk mengerjakan shalat sunnat berjama’ah dengan anggota keluarganya, bahkan hukumnya mustahab. Manfaatnya sebagai ajang pembinaan bagi keluarga pun tampak jelas. Akan tetapi, tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan dan rutinitas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “berkumpul dalam menjalankan shalat sunnat secara berjamaah termasuk perkara yang dianjurkan selama tidak dijadikan sebuah kebiasaan..” [13]

Diriwayatkan Imam al-Bukhari rahimahullah dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu : “Aku dan seorang anak yatim yang ada di rumah pernah mengerjakan shalat di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara ibuku dan Ummu Sulaim di belakang kami”. [14]

Imam al-Bukhari rahimahullah menyimpulkan satu judul bab dalam kitab Shahihnya dengan judul Bab shalatul nawafili jama’atan. (bab shalat sunnat yang dikerjakan secara berjama’ah).

MENYEDIAKAN MUSHAF DAN BUKU DI MAJIDUL BAIT
Tujuan disyariatkannya mengadakan masjidul bait di rumah ialah sebagai tempat menjalankan ibadah sunnat dan nafilah, dzikir, serta membaca al-Qur’an.

Untuk itu, perlu disediakan hal-hal yang akan mendukungnya seperti adanya mushaf al-Qur’an yang seyogyanya sesuai dengan jumlah anggota keluarga, ditambah dengan buku-buku agama dan buku dzikir.

Tempat ini juga tepat untuk mengajari anak-anak dan orang-orang tua belajar membaca al-Qur’an, Hadits, hukum-hukum fikih dan adab-adab Islam.

MENGAPA SEBAGIAN MELUPAKANNYA?
Namun, mengapa perkara ini terlupakan? Padahal bangunan-bangunan rumah kalian luas, berisi banyak kamar ; kamar tidur, kamar (tempat) makan keluarga, kamar tamu, tempat untuk mencari nafkah (toko), kamar keluarga yang terkadang dihiasi dengan TV dan perangkat hiburan lainnya, tempat santai keluarga, kamar mandi, kolam ikan, tempat berolahraga, bahkan terkadang juga ada kolam renang di dalam rumah. Atau sebagian kamar bahkan juga disewakan untuk orang lain. Mana ruangan khusus untuk ibadah di rumah tersebut? Kenapa tidak disediakan tempat khusus dimana keluarga akan menjalankan aktifitas ibadah di situ?

Perhatian dan orientasi (sebagian) manusia telah berubah. Ketika dunia menjadi bidikan utama dan perkara yang paling meliputi jiwa, maka rumah disesaki oleh hal-hal yang melalaikan Allah Azza wa Jalla dan akhirat.

Mari menghidupkan salah satu sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini di dalam rumah-rumah kita. Wallahul muwaffiq

(Diadaptasi oleh Abu Minhal dari Masajidul Buyut, Ahkamuha wa Adabuha (Ghurfatush Shalati fil Baiti Sunnatun Ghaibah). DR Khalid bin Ali al-Anbari, Darul Atsariyyah, Amman Yordania)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XV/1432/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______

[1]. Bada’i Shana’i 5/126, Hasyiyah Ibnu Abidin 1/657, 2/44, As-Sirajul Wabhaj 1/147
[2]. Hadits Hasan riwayat Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban
[3]. Lihat Hasyiyah Ibni Abidin 1/657
[4]. Hadits hasan riwayat Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban
[5]. Hadits shahih riwayat Ibnu Majah
[6]. HR. Ahmad no. 15886
[7]. HR. al-Bukhari no. 795
[8]. Atsar berderajat shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i
[9]. HR. al-Bukhari no. 6113 dan Muslim no. 781
[10]. HR. Muslim no. 778
[11]. Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Majah
[12]. Atsar berderajat shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i
[13]. Mukhtashar Fatawa al-Mishriyyah hlm.81
[14]. HR. al-Bukhari no. 727

23 Agustus 2012

Jangka Jayabaya

oleh alifbraja

Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal -usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabaya-lah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.

“Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.”

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah “Perdikan” yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu Beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam’iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.[sunting] Analisa

Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut “Kitab Asrar” Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.

Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Silam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedatan”. Giri Kedatan ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun, demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai “Ratu Bobodo”) ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).

Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan “JANGKA JAYABAYA” dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.

Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama “REPUBLIK INDONESIA”!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.

Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini. (Kitab Musasar Jayabaya)

Asmarandana

1. Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.

2. Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.

3. Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.

4. Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.

5. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.

6. Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai Kitab Musarar.

7. Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.

8. Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.

9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,

10. Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.

11. Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.

12. Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.

13. Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu.

14. Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.

15. Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.

16. Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya.

17. Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.

18. Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.

19. Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.

20. Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya.

21. Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.

Sinom

1. Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.

2. Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman Catur semune segara asat.

3. Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan.

4. Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.

5. Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.

6. Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.

7. Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.

8. Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.

9. Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.

10. Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.

11. Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.

12. Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.

13. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.

14. Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.

15. Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.

16. Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.

17. Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.

18. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.

19. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.

20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).

21. Nakhoda(Orang asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya).

22. Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.

23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.

24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.

25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.

26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.

27. Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.

28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.

29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

Isi Ramalan
1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.

2. Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.

3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalan di angkasa.

4. Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan mata air.

5. Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.

6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.

7. Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.

8. Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.

9. Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.

10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.

11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik

12. Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.

13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.

14. Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.

15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi— Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.

16. Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.

17. Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.

18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.

19. Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.

20. Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.

21. Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.

22. Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.

23. Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.

24. Nantang bapa— Menantang ayah.

25. Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.

26. Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.

27. Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.

28. Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.

29. Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil

30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil

31. Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil

32. Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.

33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justru merasa malu.

34. Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.

35. Wegah nyambut gawe — Malas untuk bekerja.

36. Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.

37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.

38. Wong bener thenger-thenger — Orang (yang) benar termangu-mangu.

39. Wong salah bungah — Orang (yang) salah gembira ria.

40. Wong apik ditampik-tampik— Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).

41. Wong jahat munggah pangkat— Orang (yang) jahat naik pangkat.

42. Wong agung kasinggung— Orang (yang) mulia dilecehkan

43. Wong ala kapuja— Orang (yang) jahat dipuji-puji.

44. Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.

45. Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanan

46. Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.

47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.

48. Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.

49. Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.

50. Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar istri/suami.

51. Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.

52. Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.

53. Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).

54. Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.

55. Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.

56. Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.

57. Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.

58. Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.

59. Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.

60. Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.

61. Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.

62. Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.

63. Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.

64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapaknya.

65. Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.

66. Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.

67. Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.

68. Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.

69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Perempuan lacur dimana-mana.

70. Akeh laknat— Banyak kutukan

71. Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.

72. Anak mangan bapak—Anak makan bapak.

73. Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.

74. Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.

75. Guru disatru—Guru dimusuhi.

76. Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.

77. Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.

78. Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.

79. Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.

80. Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.

81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.

82. Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.

83. Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.

84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.

85. Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.

86. Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.

87. Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.

88. Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.

89. Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.

90. Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.

91. Sing curang garang— Yang curang berkuasa.

92. Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.

93. Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.

94. Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.

95. Akeh barang haram—Banyak barang haram.

96. Akeh anak haram—Banyak anak haram.

97. Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.

98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.

99. Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.

100. Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.

101. Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.

102. Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.

103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.

104. Sing kebat kliwat—Yang tangkas lepas.

105. Sing telah sambat—Yang terlanjur menggerutu.

106. Sing gedhe kesasar—Yang besar tersasar.

107. Sing cilik kepleset—Yang kecil terpeleset.

108. Sing anggak ketunggak—Yang congkak terbentur.

109. Sing wedi mati—Yang takut mati.

110. Sing nekat mbrekat—Yang nekat mendapat berkat.

111. Sing jerih ketindhih—Yang hati kecil tertindih

112. Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur

113. Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.

114. Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.

115. Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.

116. Wong tani ditaleni—Orang (yang) bertani diikat.

117. Wong dora ura-ura—Orang (yang) bohong berdendang.

118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.

119. Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.

120. Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.

121. Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.

122. Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.

123. Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.

124. Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.

125. Anak lali bapak—Anak lupa bapa.

126. Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.

127. Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.

128. Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.

129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.

130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.

131. Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.

132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.

133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.

134. Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.

135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.

136. Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.

137. Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.

138. Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.

139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.

140. Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.

141. Wong bener saya thenger-thenger—Si benar makin tertegun.

142. Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.

143. Akeh bandha musna ora karuan lungane—Banyak harta hilang entah ke mana

144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe—Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.

145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.

146. Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.

147. Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.

148. Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.

149. Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.

150. Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.

151. Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.

152. Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.

153. Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.

154. Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

155. Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.

156. Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.

157. Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.

158. Bandha dadi memala—Hartabenda menjadi penyakit

159. Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.

160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang

161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.

162. Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.

163. Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi.

164. Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci.

165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.

166. Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.

167. Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri duduk berperut gendut.

168. Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.

169. Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.

170. Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.

171. Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.

172. Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh

173. Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.

174. Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.

175. Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.

176. Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.

177. Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.

178. Agama ditantang—Agama ditantang.

179. Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.

180. Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.

181. Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.

182. Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.

183. Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan.

184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.

185. Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.

186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.

187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.

188. Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.

189. Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.

190. Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.

191. Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.

192. Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.

193. Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.

194. Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga

195. Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.

196. Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.

197. Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.

198. Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.

199. Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.

200. Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.

201. Buruh mangluh—Buruh menangis.

202. Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.

203. Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.

204. Senenge wong jahat—Berbahagialah si jahat.

205. Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.

206. Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.

207. Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.

208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.

209. Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal setengah.

210. Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.

211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.

212. Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.

213. Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.

214. Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.

215. Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.

216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka—Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

23 Agustus 2012

Intisari Bhagavad Gita

oleh alifbraja

I.

Why do you worry without a cause?

Whom do you fear without reason?

Who can kill you?

The soul is neither born, nor does it die.

Mengapa kamu khawatir tanpa alasan?
Siapa yang kamu takutkan tanpa alasan?
Siapa yang bisa membunuh Anda?
Jiwa tidak dilahirkan, juga tidak pernah mati.

Whatever happened,

Happened for good,

Whatever is happening,

Is happening for good,

Whatever will happen,

Will also for good only.

Apa pun yang terjadi,
adalah untuk kebaikan,
apapun yang sedang terjadi,
adalah untuk kebaikan,
apapun yang akan terjadi,
juga akan untuk kebaikan saja.

II.

You need not have any regrets for the past,

You need not worry for the future,

The present is happening,

What did you lose that you cry about?

Anda tidak perlu menyesal untuk masa lalu,
Anda tidak perlu khawatir untuk masa depan,
sekarang ini sedang  terjadi,
Apa yang Anda kehilangan dan membuat Anda menangis?

What did you bring with you

which you think you have lost?

Apa yang Anda bawa
yang membuat Anda pikir telah kehilangan?

III.

What did you produce

which you think got destroyed?

Apa yang Anda hasilkan
yang menurut Anda dihancurkan?

You did not bring anything,

what you have, you received from here,

whatever you have given, you have given only here.

Anda tidak membawa apa-apa,
apa yang Anda miliki, Anda terima dari sini,
apapun yang telah Anda berikan, Anda hanya diberikan di sini.

Whatever you took, you took from God,

Whatever you gave, you gave it to Him,

You came empty handed,

You will leave empty handed.

Apa pun yang Anda ambil, Anda mengambil dari Allah,
Apa pun yang Anda berikan, Anda memberikannya kepada-Nya,
Kau datang dengan tangan kosong,
Anda akan pergi dengan tangan kosong.

IV.

What is yours today,

belonged to someone else yesterday,

and will belong to someone else

the day after tomorrow.

Apa yg disebut milik Anda hari ini,
adalah milik orang lain kemarin,
dan akan menjadi milik orang lain

pada lusa nanti

You are mistakenly enjoying the thought,

that this is yours.

Anda keliru menikmati pikiran,
bahwa ini adalah milikmu.

It is this false happiness that is

the cause of your own sorrows.

Inilah kebahagiaan palsu yang
penyebab penderitaan Anda sendiri.

V.

Change is the law of the universe.

What you think of as death,

is indeed life.

Perubahan adalah hukum alam semesta.
Apa yang Anda anggap sebagai kematian,
sebenarnya adalah “hidup”.

In one instance you can be a millionaire,

and in other instance, you can steeped in poverty.

Dalam satu contoh Anda bisa menjadi jutawan,
dan dalam hal lain, Anda bisa tenggelam dalam kemiskinan.

22 Agustus 2012

SUNGSANG BAWANA BALIK

oleh alifbraja

Sebelum perang dunia II yang berarti “Alam semesta terjungkir balik”. Isi cerita tersebut dianggap pula sebagai Ilmu Kesempurnaan Hidup (Ngelmu Kasampurnan). Pencipta cerita itu ialah Ks. Wiryasusastra. Ajaran ini yang terkandung didalamnya khusus meliputi mahkluk hidup pada umumnya, dan manusia pada khususnya, dengan maksud memberi petunjuk jalan kepada umat manusia dalam usahanya mencapai kesempurnaan hidup. Satu sama lain digambarkannya secara plastis (dengan sesuatu wujud), sesuai dengan keadaan wajar dalam masyarakat (Jawa), sebagai berikut :

Dalam lukisan tersebut yang memegang peranan penting, peranan utama, ialah Rahsa Jati (le moi subti), yang mewujudkan “asas Ketuhanan Yang Maha Esa” (Goddelyk levensbeginsel atau Wiji), ataupun “Rahasia Hidup”. Seolah-olah Rahsa jati itu merupakan seorang manusia. Dalam pada itu “Jati” berarti hidup yang menghidupkan. Rahasia dan hidup (jati) itu baik, dialam fana maupun baka, satu sama lain tak dapat dipisahkan. Tegasnya pengertian yang satu tak dapat dipisahkan daripada pengertian yang lain. Senantiasa berdampingan satu sama lain. Dengan perkataan lain hidup itu pada hakekatnya selalu diliputi oleh, atau sama nilainya dengan rahasia!. Sedangkan tiap rahasia, yaitu tiap hal yang belum atau tidak diketahui, sedikit banyak selalu berdaya dan berlaku menurut kodrat alam. Sebagai perangsang membangkitkan semangat, menggerakkan pelbagai hasrat sehingga menjadi sesuatu kegiatan kearah terbukanya rahasia bersangkutan. Tegasnya menyadari hal-hal yang tersembunyi dibelakang rahasia tersebut. Secara wajar atau tidak, ataupun bersifat batiniah belaka.

Paling sedikit pada umat manusia peristiwa itu merupakan salah satu sifat yang khas. Perangsangan adalah suatu hal yang esensiil terhadap hidup. Tiada hidup tanpa perangsangan ! Dalam hubungan ini kiranya, dapat dikemukakan pula; bahwa kegiatan/pergerakan (pada manusia) itu merupakan salah satu keistimewaan (essentialia) hidup. Falsafah hidup menurut konsepsi Wiryasusastra tersebut ternyata sangat mirip dengan yang diilhami oleh falsafah hidup bangsa Arab, dalam hal ini menurut ajaran Agama Islam, sebagai berikut :

I.   Pada suatu hari oleh sang Jati dengan para pembantu utamanya, antara lain patih “rahsajati” dan para menteri bupati “Sukma Wisesa”, “Sukma Purba”, Sukma Langgeng”, dan “Sukma Luhur”, dimusyawarahkan kebijaksanaan terbaik yang harus diambil demi penyebaran “Wiji” (benih) atau asas hidup itu.

Keempat tokoh tersebut diatas bersama menguasai yang disebut “Alam Papat” (lihat bagan). Dalam perinciannya masing-masing menguasai nafsu luawamah, amarah, mutmainah dan supiah, dibawah pimpinan dan pengawasan Rahsajati atau mulhimah. Dalam kesusastraan Jawa terkenal dengan “Sedulur Papat Lima Pancer”.

Sementara itu dalam musyawarah tersebut diambil kesimpulan untuk mengirim Rahsajati beserta keempat menteri bupatinya tadi kebumi (dunia fana) guna melaksanakan tujuan tersebut diatas.

Kemudian Sang Jati mengundurkan diri kembali keistananya.

Dalam perjalanannya kebumi selanjutnya mereka yang bertugas terpaksa melintasi wilayah kediaman para Jin (badan halus, lelembut) dalam hal ini berarti rintangan, hambatan, godaan, dsb. Wilayah itu dalam kesusastraan Arab dinamakan kediaman Malaikat, bidadara dan bidadari, yang dalam kesusastraan Arab disebut Alam hidayat, Alam nuriyah dan Alam Siriyah. Alam-alam tersebut meliputi “Alam Sipat Loro” (bhs Jawa), yang dalam kesusastraan Arab disebut Ashadhu’anna dan Waashadhu’anna.

Stelah meninggalkan “Alam” tersebut tibalah mereka dalam Alam ruhiyah dan Alam jawaliyah, yang dalam kesusastraan jawa disebut “Alam Telu”. Pada tempat ini mereka berhenti sejenak. Dalam kesempatan ini itu mereka mulai membentuk sebuah tabir. Guna keperluan mereka kelima bersama. Bahan-bahan bangunannya terdiri dari zat-zat (essenties) yang diperlukannya dari keempat unsur poko hidup. Dalam hal ini bumi (bantala), api (agni), angin (udaka) dan air (tirta).

Setelah karya tersebut selesai mereka meneruskan perjalanannya, melalui sifat kamal, jamal, jalal dan sifat kahar. Sifat-sifat ini bersama dalam kesusastraan Jawa dinamakan “Sipat Papat” menuju kearah alam nasut, malakut, jabarut dan Alam lahut. Sifat-sifat atau alam-alam ini dalam “Ilmu Kejawen” terkenal sebagai Alam Papat.

Menurut Kanjeng Sunan Kalijaga alam-alam tersebut dalam “Ilmu Kejawen” terkenal sebagai “Alam Papat”. Kelak akan dialami setiap orang dalam akhirat. Makananya sajan rasa, “Alam Papat” itu bersifat “langgeng” atau abadi, dalam hal ini tidak berubah lagi sedikitpun juga, sepanjang masa. Pengertian itu tergolong pada kerohanian, bersifat mujarad, mengandung pengertian Ketuhanan Yang Maha Esa.

Alam Papat tersebut diatas, menurut pandangan hidup suku bangsa Jawa kuno, terdiri atas :

  1. Alam rohiyah atau Alam hidayat. Dikuasai oleh nyawa, jiwa (ziel, soul).

  2. Alam Suriyah atau Alam Nasut (berarti kelalaian). Dikuasai oleh perasaan atau sifat Lauwamah, Amarah, Supiah dan Mutmainah.

  3. Alam nuriyah, dalam 2 (dua) tingkat (nuriyah dan nuriyah luhur). Dikuasai oleh Pramana dan atau Hidayat, yang berarti kewaspadaan dan petunjuk. Didalamnya termasuk Alam Iskat, yang dikuasi oleh syahwat atau libido sexual.

  4. Alam uluhiyah. Dalam 3 (tiga) tingkat : Uluhiyah, Uluhiyah Luhur dan Uluhiyah yang paling luhur. Dikuasai oleh rasa Ketuhanan Yang Maha Esa. Tingkat hidup ini pada lain kesempatan disebut pula Makrifating makrifat.

Kemudian perjalanan “para utusan” tersebut diatas (=roh) langsung menuju ke-Alam aba’iyya (Alam akhadiyat), wabda (Alam wahdat), wahidirya (Alam wakhidiyat), arwah (Alam arwah), mitsal (Alam misal), ajsam (Alam ajsam), insan kamil (manusia sempurna). Alam-alam ini bersama dalam kesusastraan Jawa disebut “Alam Pitu”.

Jalan yang terkhir itu melalu daerah tandus, hutan rimba belantara, sambil mendaki gunung yang penuh dengan jurang dan lereng, yang dalam atau tidak dalam, besar kecil. Arti kiasannya ialah pelbagai rintangan, tantangan dan kesulitan yang harus diatasi selama hidupnya. Dengan perkataan lain jalan itu pada galibnya (ataukah harus), mau tidak mau, melalui perjuangan yang hebat.

Jalan melalui “Alam Pitu” itu menuju kearah sebuah gua yang penuh dengan berbagai rahasia.

Gua tersebut memperlambangkan “Hubungan Antara Kelamin” (antara pria dan wanita), yang penuh diliputi hal-hal yang pada hakekatnya kerapkali merupakan suatu tanda tanya besar (rahasia).

Pada suatu ketika Rahsajati dan rombongan masuk kedalam gua tersebut. Saat ini memperlambangkan titik persetubuhan tatkala sang alat kelamin laki-laki (penis) melintasi pinti gerbang luar liang peranakan (introitus vaginae). Saat itu dinamakan “Jayengdriya” (bhs Jawa), dalam bahasa Arab Bait al-mukadas, yang berarti “peningkatan, pemusatan atau penguasaan pancaindra kita” (titil timbulnya puncak syahwat = orgasme).

Dalam gua tersebut “para utusan” tadi melintasi berbagi jalan yang satu sama lain sejajar letaknya. Jalan-jalan tersebut bersambung satu sama lain dengan 20 buah pintu berganda !. Nama-nama jalan tersebut masing-masing sama dengan nama SIFAT KETUHANAN YANG MAHA ESA (dalam bahasa Jawa : Sifat rongpuluh), yaitu :

1. Wujud, 2. Qidam, 3. Baqa, 4. Muhalafalil Hawadis, 5.Qiyamuh Binafsihi, 6. Wahda Niyat, 7. Qodrat, 8. Irodat, 9. Ilmu, 10. Hayat, 11. Samak, 12. Bashar, 13. Qalam, 14. Qadiran, 15. Muridan, 16. Aliman, 17. Hayan, 18. Samian, 19. Basiran, 20. Mutakalinan.

Dipandang sepintaslalu pernyataan tersebut diatas itu bertentangan dengan pengertian “TAN KENA KINAYA NGAPA”! ada sifatnya, tetapi tidak ada wujudnya, misalnya ! Mungkinkah ini????.

Menurut “Ilmu Kejawen” (Serat Wirid Hidayat Jati) SIPAT DUA PULUH  itu meliputi :

~SATU~

  1. Allah (Tuhan Yang Maha Esa atau Tuhan Yang Maha Suci), dalam hal ini berarti “Hidup yang menghidupkan segenap makhluk hidup”.

  2. Kun (bhs Arab), berarti firman Tuhan.

  3. Nukat gaib, berarti “Benih yang bersifat rahasia”.

~DUA~

  1. Dzat, berarti intisari (essence) (Tuhan Yang Maha Esa).

  2. Sifat (bhs Jawa), berarti warna atau cahaya (Tuhan Yang Maha Esa).

  3. Asma, berarti nama, julukan Tuhan Yang Maha Esa.

  4. Angpal, berarti budipekerti  Tuhan Yang Maha Esa.

~TIGA~

  1. Dzat mutelak, berarti jasad atau badan wadag.

  2. Dzat subekti, berarti jiwa (roh, badan halus).

  3. Dzat Salikin, berarti perasaan.

  4. Dzat suhud, berarti nukad gaib (=sub 1c).

~EMPAT~

  1. Kahar atau agung, berarti segala keluhuran insani.

  2. Jalal atau elok, berarti “tiada bandingnya” perihal sifat kelaminnya. Dalam artkata “bukan pri, bukan wanita, bukan banci”. (Sukar dibayangkan untuk dan oleh seorang manusia biasa).

  3. Jamal atau wisesa, berarti “nartani” (bhs Jawa) = segala keadaan.

  4. Kamal atau sempurna, berarti sempurna budipekertinya, menimbulkan keadaan yang wajar.

~LIMA~

  1. Alam nasut, berarti alam jasad atau jasmani (=wajar).

  2. Alam malakut, berarti alam jiwa atau rohani.

  3. Alam jabarut, berarti rasa.

  4.  Aalam lahut, berarti Cahaya/Pamor (=Tuhan Yang Maha Esa).

~ENAM~

  1. Wujud, berarti badan.

  2. Ilmu, berarti rasa.

  3. Nur, berarti cahaya.

  4. Suhud, berarti sempurna.

~TUJUH~

  1. Nur, berarti Cahaya (Tuhan Yang Maha Esa).

  2. Sir, berarti rasa.

  3. Roh, berarti jiwa atau nyawa (bhs Jawa).

  4. Jasad, berarti badan.

~DELAMAPAN~

  1. Mutmainah, dinamakan pula “Nafsu Putih”, ialah lambang hidung atau alat pembau lainnya.

  2. Supiah, dinamakan pula “Nafsu Kuning”, lambang mata atau alat penglihatan lainnya.

  3. Amarah, dinamakan pula “Nafsu Merah”, lambang telinga atau alat pendengar lainnya.

  4. Lauwamah, dinamakan pula “Nafsu Hitam”, lambang alat-alat pembentukan kata-kata, suara dsb. = alat-alat untuk berbicara.

~SEMBILAN~

  1. Napas, berarti jalan udara pernapasan tatkala berbicara (angin ing lesan).

  2. Tanapas, berarti jalan udara pernapasan tatkala mendengarkan sesuatu (angin ing karna).

  3. Anpas, berarti jalan udara pernapasan tatkala melihat sesuatu (angin ing netra).

  4. Nupus, berarti jalan udara pernapasan tatkala mencium, membau (angin ing grana).

~SEPULUH~

Jisim halus terdiri dari :

  1. Roh Illapi, berarti hidup keperbauan (gesanging grana).

  2. Roh Rahmani, berarti hidup kepenglihatan (gesanging netra).

  3. Roh Nurani, hidup kependengaran (gesanging karna).

  4. Roh Rohmani, berarti hidup kepembicaraan (gesanging lesan).

~SEBELAS~

Jisim wadak terdiri dari :

  1. Roh Rabbani, meliputi faedah hidung atau membau.

  2. Roh Nabati, meliputi faedah mata atau melihat.

  3. Roh Hewani, meliputi telinga atau mendengar.

  4. Roh Jasmani, meliputi lesan atau perasaan.

~DUA BELAS~

  1. Sarengat, diliputi pergerakan badan.

  2. Tarekat, diliputi pergerakan angan-angan atau hati sanubari.

  3. Hakekat, meliputi pergerakan jiwa.

  4. Makripat, diliputi pergerakan rasa atau perasaan.

~TIGA BELAS~

  1. Mani, berarti kejantanan rasa luhur yang sebenarnya (Sejatining rasa = concritisering van het gevoel).

  2. Wadi, berarti tempat (penimbunan) rasa.

  3. Madi, berarti hakekat rasa.

  4. Manikam atau Manikem, berarti pengumpulan rasa (kempaling raos).

Semuanya terpusat dalam badan (Janaloka), diperlambangkan dengan “Seganten Kidul” (Samudra Selatan = Samudra Indonesia, penuh dengan gelombang-gelombang besar dan karenanya tidak pernah “tentram”, selalu “bergerak”, menggetar, tepat seperti hidup dan kehidupan manusia. Samudra tersebut dikuasai oleh Nyai Roro atau Ratu Kidul)

~EMPAT BELAS~

  1. Sidik, berarti benar.

  2. Amanat, berarti kepercayaan.

  3. Tabligh, berarti mendatangkan.

  4. Patonah, berarti bijaksana.

~LIMA BELAS~

  1. Dzikir Satariyah atau Dzikir Sarengat, berarti dzikir badaniah, dengan diiringi ucapan-ucapan tertentu. Dalam alam nasut. Pada lahiriahnya tidak sulit.

  2. Dzikir Isbandiyah atau dzikir Tarekat, berarti dzikir dalam batin, dalam alam malakut. Pada lahiriahnya tidak terasa.

  3. Dzikir Bardiyah atau Dzikir Hakekat, dalam alam jabarut. Pada umumnya perbuatannya tidak disadari.

  4. Azikir Jalalah atau Dzikir Makripat, dalam alam lahut. Pada lahiriah tidak terasa apa-apa.

~ENAM BELAS~

  1. Sembahyang Jema’at, berarti sembahyang sarengat (jasmaniah).

  2. Sembahyang Kusta atau sembahyang tanpa lisan, atau dalam keadaan “Heneng”.

  3. Sembahyang Kaji atau sembahyang yang dipusatkat pada telinga, atau dalam keadaan “Hening” (murni).

  4. Sembahyang Ismungali atau sembahyang yang dipusatkan pada mata, atau dalam keadaan “Hawas” (waspada).

  5. Sembahyang Daim atau sembahyang yang berpusat pada hidung atau dalam keadaan “Heling” (=selalu ingat…… kepada Tuhan Yang Maha Esa).

~TUJUH BELAS~

  1. Johar, berarti sesotya.

  2. Adam, berarti tidak (ora atau dihin).

  3. Adjebuldanbi, menuruti kehendak rasa sendiri.

  4. Insan Kamil, berarti kesempurnaan manusia.

~DELAPAN BELAS~

  1. Dalil memuat firman Allah, ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

  2. Kadis (hadith) memuat sabda Nabi Muhammad s.a.w, ditujukan kepada para “Sahabatnya” (disciplen).

  3. Ijemak memuat wejangan yang ditujukan kepada para “Sahabat” tadi.

  4. Kiyas memuat ajaran para wali yang ditujukan kepada para mukmin.

~SEMBILAN BELAS~

  1. Lapal, diucapkan dengan perkataan bahasa Ara.

  2. Makna, berarti “arti” diucapkan dalam bahasa Daerah (Jawa, Sunda, Madura, Madura, Batak, Aceh dan lain-lai).

  3. Murad, berarti “wredi” diucapkan dalam bahasa Daerah atau lain terjemahan.

  4. dMaksud (surasa), diucapkan dalam bahasa daerah atau lain terjemahan.

~DUA PULUH~

  1. Ekram (bhs Jawa = eling), berarti selalu ingat. Dalam artikata selalu memusatkan pikirannya kepeda Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini selalu mentaati segala perintahnya.

  2. Mikrat, berarti mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.

  3. Munajat, berarti ucapannya hanya meliputi dan diliputi rasa Ketuhanan Yang Maha Esa.

  4. Ngubadul atau Molah, berarti menghapus segala tindakan yang bersifat keduniawia. Segala tindakannya, perbuatannya bersifat Ketuhanan, dan ditujukan semata-mata kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masalah tersebut diatas kiranya dapat disederhanakan melalui tafsiran sebagai berikut.

1.     Kita harus mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa yang tunggal, atau mengakui adanya hanya satu “Hidup yang menghidupkan segala makluk hidup.

“Benih” atau permulaannya bersifat rahasia dan diberi nama Sesotya yang terhormat atau “Permata yang bersinar-sinar” (Nukat Gaib, Nur Muhammad, Karatoning Kabatinan), sedangkan bahasanya disebut KUN (bhs Arab) atau Firman Tuhan. Firman Tuhan itu mengandung “Perintah Tuhan Yang Maha Esa” dalam bentuk bahasa yang dapat dimengerti umat manusia yang bersangkutan, masing-masing bangsa dalam bahasanya sendiri-sendiri. Alhasil terhadap bangsa Arab misalnya dalam bahasa Arab, bang Yunani dalam bahasa Yunani demikian seterusnya, dengan terjemahannya kedalam bahasa yang lain.

Firman Allah yang asli berbentuk Ilham, bersifat gaib. Ilham itu hanya dapat tertangkap para Nabi, avatar dsb (pada umumnya).

2.     Inti-pati (essence) Tuhan Yang Maha Esa dinamakan DZAT. Dzat itu mempunyai sifat (bhs Jawa sipat) atau “warna” atau “cahaya” (=Cahaya Tuhan Yang Maha Esa), juliukan (asma), sedangkan “budi-pekertinya” disebut Angpal atau Af’al (berarti menurut garis-garis fa’ali), yang selalu bersifat baik, bijaksana dan budiman.

3.     Dalam keadaan kongkrit Dzat tersebut dinamakan Dzat Mutelak atau Jazad (organisme). Dalam tiap jasad terkandung secara integral Dzat subekti (jiwa atau roh). Dzat salikin (perasaan) dan Nukat Gaib.

4.     Dalam keadaan tersebut terkandung pula segala keluhuran, keagungan makhluk hidup (Kahar), keelokan yang tiada bandingnya (Jalal), kekuasaan tertinggi atas segala keadaan dan peristiwa (Jamal atau Wisesa), bersifat serba sempurna (Kamal.

5.     Tiap jasad berada dalam alam yang wajar, materiil atau “Alam jasmani” (Alam Nasut), diliputi oleh jiwa atau “Alam rohani” (Alam Malakut), perasaan (Alam Jabarut) dan “Alam Cahaya Tuhan (Alam Lahut).

6.     Tiap jasad mempunyai badan (Wujud), yaitu bentuk yang wajar atau mujarad, rasa atau perasaan, ataupun “arti” (Ilmu), cahaya atau sesuatu yang memancar (Nur), yang serba sempurna (Suhud).

7.     Sebaliknya tiada cahaya tanpa rasa atau perasaan, ataupun arti jiwa dan jasad.

8.     Tiap jasad memiliki 4 nafsu : Nafsu Mutmainah, Supiah, Amarah dan Lauwamah.

9.     Sesuai dengan kedudukannya sebagai “Tetalining urip” (segala sesuatu yang melekat pada masalah hidup), berdasarkan kegiatan alat-alat pancaindera kita.

Jalannya pernapasan mempunyai 4 macam bentuk :

a.     Tatkala mendengarkan (angining karna), dinamakan Tanapas.

b.     Tatkala melihat (angining netra), dinamakan Anpas.

c.      Tatkala membau (angining grana), dinamakan Nupus.

d.     Tatkala berbicara (angining lesan), dinamakan Napas.

10.      Adapun “hidupnya” (berfungsinya) alat :

a.     Pembau (gesanging grana) dijiwai oleh Roh Ilapi.

b.     Penglihat (gesanging netra) diliputi oleh Roh Rahmani.

c.      Pendengaran (gesanging karna) dijiwai oleh Roh Nurani.

d.     Lisan atau daya berbicara (gesanging lesan) dijiwai oleh Roh Rohmani.

Roh-roh tersebut (sub a s/d d) tergolong pada yang dinamakan “Jisim” atau “Badan Halus”.

11.      Mengenal kefaedahannya, maka :

a.     Membau (berfungsinya alat-alat pembau) dijiwai Oleh Roh Rabbani .

b.     Melihat (berfungsinya alat-alat penglihatan), jiwai oleh Roh Nabati.

c.      Mendengar (berfungsinya alat-alat pendengar) dijiwai oleh Roh Hewani.

d.     Berbicara (berfungsinya alat-alat bicara), dijiwai oleh Roh Jasmani.

Roh-roh tersebut (sub a s/d d) tergolong pada yang dinamakan “Badan Wadaq”.

12.      Untuk mencapai faedah tersebut diatas (dapat berfungsi sebagaimana mestinya) dibutuhkan gerakan atau kegiatan:

a.     Jasmaniah (Saerengat).

b.     Rohaniah (kebatinan melalui angan-angan atau perasaan, ataupun hati sanubari (Tarekat).

c.      Falsafah (Hakekat).

d.     Melalui jalan tasawuf atau mistik (Makripat).

13.      Hal-hal tersebut diliputi oleh “rasa kenyataan” (Mani atau cocretisering), membutuhkan “tempat rasa” (Wadi), menimbulkan “Hakekat Rasa” (Madi) dan akhirnya “Pusat Pengumpulan Rasa” (Manikem atau “Kumpulaning Rasa”, Jayengdriya atau Bait Al-Mukadas).

14.      Hal-hal tersebut harus dilakukan secara tepat atau benar dengan seksama (sidik), dengan penuh kepercayaan (amanat) serta sempurna. Tegasnya janganlah setengah-setengah hendaknya. Jika dirasakan belum sempurna, wajid diusahakan (didatangkan = tabligh) sedemikian, hingga semurna penuh, secara bijaksana (patonah) antara lain dengan :

15.      I. a. Dzikir Sataryah atau Dzikir sareat, yang berarti badaniah, diiringi ucapan-ucapan tertentu. Berlangsung dalam alam nasut. Dalam artikata secara lahiriah dapat disaksikan fihak ketiga pula. Perbuatan itu pada galibnya tidak sulit adanya.

b. Dzikir Isbandiah atau Dzikir tarekat, yang berlangsung dalam batin atau Alam Malakut. Pada lahiriahnya tidak terasa.

c. Dzikir Bardiyah atau Dzikir Hakekat, yang berarti melaksanakan jiwa dzikir saja. Berlangsung dalam Alam Jabarut. Terlaksananya pada galibnya tidak disadari oleh yang melaksanakannya.

d. Dzikir Jalalah atau Dzikir Makrifat. Pada peristiwa ini pada galibnya tiada apa-apa. Berlangsung pada Alam Lahut.

Dalam pada itu “dzikir” berarti pujaan atau pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan berulang-ulang mengucapkan kata-kata dalam bentuk lagu (berirama) sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa.

16.      II. a. Sembahyang pada hari Jum’at atau “sembahyang sarengat” ataupun “sembahyang jasmaniah”.

b. Sembahyang Kusta atau sembahyang tanpa lisan atau sambil berdiam diri dan tidak berbicara sama sekali. Manusia yang bersangkutan ada dalam keadaan “Heneng”.

c. Sembahyang Kaji, dipusatkan ditelinga (karna dan atau pendengaran. Cara ini menimbulkan kemurnian batin, atau pikiran. Manusia bersangkutan ada dalamkeadaan “Hening”.

d. Sembahyang Ismungalim, dipusatkan pada mata (netra) atau penglihatan. Cara ini menimbulkan kewaspadaan atau keadaan “Hawas”.

e. Sembahyang Daim, dipusatkan pada hidung atau alat-alat pembau lainnya. Cara ini mampu memperingatkan orang yang bersangkutan kepada sesuatu hal, ataupun menarik perhatian. Dalam pada itu orang tersebut ada dalamkeadaan “Heling”.

Dalam suasana ini sembahyang berarti pernyataan bakti dan perkataan tertentu, dalam suasana “Heneng, Hening, Heling, Hawas”!!

17.      Perlu ditandaskan lebih jauh, bahwa “Sesotya yang terhormat” atau Nukat gaib” ataupun “Johar”, itu berarti tiada yang mendahuluhinya (Adam). Pengertian ini dapat tercapai atas dasar rasa yang kuat (addjebuldanbi) dan rasa perikemanusiaan yang sempurna (Insan Kamil).

18.      Sebagai pedoman hendaknya selalu dipakai firman Tuhan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. (Dalil). Selanjutnya sabda Nabi Muhammad s.a.w. kepada para muroidnya yang pertama dan terutama atau “Sahabat Nabi” (Abubakar, Umar, Usman, Ali) (Kadis, Hadits), wejangan yang ditujukan kepada para “Sahabat Nabi” tersebut (Ijemak), dan ajaran para “Waliyullah” (auliya atau orang suci penyebar Agama Iaslam kepada para pendeta atau mukmin (Kiyas).

19.      Hendaknya diperhatikan pula perkataannya dalam bahasa Arab (lapal), arti kata-kata tersebut dalam bahasa daerah (makna), penjelasaannya (wredi) dan tujuannya (maksud).

20.      Singkatnya kita harus selalu ingat (eling), dalam artikata memusatkan perhatian kita kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ikram), mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa (murad), yang harus dicerminkan pada ucapannya yang selalu diliputi dan meliputi perihal Ketuhanan (munajat) dan budipekerti yang nyata. Tegasnya menghapuskan segala tindakan / perbuatan yang bersifat keduniawian, sambil mengutamakan tindakan / perbuatan yang bersifat kerohanian. Dalam artikata ditujukan semata-mata kepada, tegasnya menembah, Tuhan Yang Maha Esa (Ngubadil atau Molah).

Sumber :

Buku “Gagasan Tentang Hakekat Hidup dan Kehidupan Manusia”, oleh Dr. A. Sena Sastroamidjojo, Penerbit Bhratara, Jakarta 1971.

22 Agustus 2012

Keadilan Tuhan….

oleh alifbraja

Seorang pengembara yang mencari kebenaran, suatu ketika berhenti di sebuah pohon beringin besar….pengembara ini kemudian duduk bersandar pada batang pohon beringin tersebut…tanpa sengaja matanya menatap buah yang tergantung pada ranting pohon beringin tersebut yang tampak tidak sebanding dengan pohonnya yang begitu gagah dan besar…dia lalu bergumam dalam hatinya…Betapa tak adilnya Tuhan .membikin pohon beringin dengan pohon yang besar tetapi berbuah kecil..
Ketika agak lama bersandar tiba-tiba di lihatnya seekor kuda yang berjalan dikendarai seseorang.Pengembara itupun kemudian membati alam hatinya..ah betapa tak adilnya tuhan…burung yang kecil diberi sayap tetapi kuda yang besar malah tak diberi sayap,di antara angin sepoi ditambah dengan tubuh yang letih tanpa disadari kemudian tertidurlah pengembara itu dengan tetap bersandar pada batang pohon beringin.
Tak lama kemudian jatuhlah sebiji buah beringin dan tepat mengenai hidung si pengembara…terbangunlah si pengembara dari tidurnya….sambil memijit-mijit hidungnya..ketika berjalan baru beberapa langkah..jatuh tepat mengenai pundaknya kotoran burung pipit..
pengembara itu pun merenung..lalu terbayanglah olehnya…seandainya saja buah beringin itu besar..tentu tewaslah ia karena kejatuhan buahnya..untunglah buah beringin kecil…seandainya kuda bersayap..lalu buang kotoran dari udara..tentu betapa akan menjadi kacau mereka yang di bawah…lalu menangis dan memohon ampunalah si pengembara..atas kekurangajarannya telah mengomentari yang tidak-tidak terhadap keadilan Tuhan….
sahabat…renungi kisah diatas….kadang kita sering merasa tuhan tidak adil pada kita…atas apa-apa yang menimpah kita entah itu bernama putus cinta. lambat jodoh,..hidung kurang mancung,..orangtua ,.atau orang yang kita kasihi pergi,..atau kecelakaan….,tetapi setelah kelak kabut ke tak fahaman mulai hilang dari akal fikiran kita,barulah kita dapat melihat betapa semua peristiwa didunia terjadi atas keadilanNya yang sangat sempurna.
.” Tuhanku…tiadalah sesungguhnya Engkau ciptakan ini dengan sia-sia..
Maha Suci Engkau….”( Q>S Al Imron 190-191)

15 Agustus 2012

antara ikhlas dan ridho

oleh alifbraja

Ikhlas berasal dari kata akhlasha yang merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yang diambil dari kata kerja intransitif khalasha (خَلصَ) dengan menambahkan satu huruf ‘alif (أ). Bentuk mudhâri‘ (saat ini) dari akhlasha (اَخْلَصَ) adalah yukhlishu (يُخْلِصُ) dan bentuk mashdarnya yaitu ikhlash (إِخْلاص). Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan syariat yang ditujukan hanya kepada Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain.

Menurut tata bahasa Arab kata ikhlas merupakan bentuk mashdar dari kata akhlasha yang berasal dari akar kata khalasha. Kata khalasha ini mengandung beberapa macam arti sesuai dengan konteks kaliamatnya. Ia bisa berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala (sampai), dan I’tazala (memisahkan diri). Bila diteliti lebih lanjut, kata ikhlas sendiri sebenarnya tidak dijumpai secara langsung penggunaannya dalam al-Qur’an. Yang ada hanyalah kata-kata yang berderivat sama dengan kata ikhlas tersebut. Secara keseluruhan terdapat dalam tiga puluh ayat dengan penggunaan kata yang beragam. Kata-kata tersebut antara lain : kata khalashuu, akhlashnaahum, akhlashuu, astakhlish, al-khaalish, dan khaalish masing-masing sebanyak satu kali. Selanjutnya kata khaalishah lima kali, mukhlish (tunggal) tiga kali, mukhlishuun (jamak) satu kali, mukhlishiin (jamak) tujuh kali, mukhlash (tunggal) satu kali, dan mukhlashiin (jamak) sebanyak delapan kali.Dalam kata ikhlas terkandung makna jujur, bersih, murni, rela

Terkadang ridho disama artikan dengan ikhlas. Namun sebenarnya ridho dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Ridho (رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya.

Tapi, yang mana pun itu, aku ingin memahami keduanya. Karena, dalam hidup, terkadang kita menemukan titik di mana kita merasa berat menjalaninya. Titik di mana kita merasa hidup tidak adil. Titik di mana kita hanya bisa merasakan duka.

Dan, ketika semua itu datang, yang ingin kumiliki adalah ikhlas. Dengan keikhlasan, insya Allah semua tidak terasa berat, tidak ada yang tidak adil, dan aku tetap bisa merasakan suka cita meski sedang dirundung duka.

Ikhlas dan ridho bahwa semua adalah ketentuan Allah. Dan, karena tujuan akhir kehidupan sesungguhnya adalah ridho-Nya. Maka sebagai manusia, kita pun ridho atas segala yang ditetapkan oleh-Nya atas diri kita.

MAKNA IKHLAS

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa makna Al-Ikhlas? Dan, bila seorang hamba menginginkan melalui ibadahnya sesuatu yang lain, apa hukumnya?

Jawaban
Ikhlas kepada Allah Ta’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :

Pertama.
Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.

Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu ; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya” [1]

Kedua
Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Hud : 15-16]

Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadapn dirinya.

Ketiga
Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jama’ah haji.

“Artinya : Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” [Al-Baqarah : 198]

Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu. Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina. Maka tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya.

“Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat ; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” [At-Taubah : 58]

Di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata : ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana bila ,-penj) seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” [2]

Demikian pula hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahihain dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya mendapatkan tujuan dari hijrahnya tersebut” [3]

Jika persentasenya sama saja, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan non ibadah ; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang lebih persis untuk kasus seperti ini adalah sama juga ; tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal karena Allah dan karena selain-Nya juga.

Perbedaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahwa tujuan yang bukan untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara otomatis. Jadi, keinginannya tercapai malalui perbuatannya tersebut secara otomatis seakan-akan yang dia inginkan adalah konsekuensi logis dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.

Jika ada yang mengatakan, “Apa standarisasi pada jenis ini sehingga bisa dikatakan bahwa tujuannya yang lebih dominan adalah beribadah atau bukan beribadah?”

Jawabannya, standarisasinya bahwa dia tidak memperhatikan hal selain ibadah, maka hal itu tercapai atau tidak tercapai, telah mengindikasikan bahwa yang lebih dominan padanya adalah niat untuk beribadah, demikian pula sebaliknya.

Yang jelas perkara yang merupakan ucapan hati amatlah serius dan begitu urgen sekali. Indikasinya, bisa hadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai tangga ash-Shiddiqin, dan sebaliknya bisa pula mengembalikannya ke derajat yang paling bawah sekali.

Sebagian ulama Salaf berkata, “Tidak pernah diriku berjuang melawan sesuatu melebihi perjuangannya melawan (perbuatan) ikhlas”

Kita memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua agar dianugrahi niat yang ikhlas dan lurus di dalam beramal.

[Kumpulan Fatwa dan Risalah dari Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 98-100]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Albalad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note.
[1]. Shahih Muslim, kitab Az-Zuhd (2985)
[2]. Sunan Abu Daud kitab Al-Jihad (2516), Musnad Ahmad, Juz II, hal. 290, 366 tetapi di dalam sanadnya terdapat Yazid bin Mukriz, seorang yang tidak diketahui identitasnya (majhul) ; lihat juga anotasi dari Syaikh Ahmad Syakir terhadap Musnad Ahmad no. 7887
[3]. Shahih Al-Bukhari, kitab Bad’u Al-Wahyi (1), Shahih Muslim, kitab Al-Imarah (1907)

12 Agustus 2012

Silsilah Sunan Kalijaga

oleh alifbraja

 

Sunan Kalijaga

 

Nama dan Asal-Usul

Pada waktu muda Sunan Kalijaga bernama Raden Said atau Jaka Said. Kemudian ia disebut juga dengan nama Syekh Malaya, Lokajaya, Raden Abdurraman dan Pangeran Tuban. Di dalam Babad Tanah Jawi disebut bahwa Raden Said adalah putra Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban. Sedangkan Arya Wilatikta, ayah Sunan Kalijaga, menurut Babad Tuban, adalah putra Arya Teja. Disebutkan pula bahwa Arya Teja bukanlah seorang pribumi jawa. Ia berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama. Ia berhasil mengislamkan Raja Tuban, Arya Dikara, dan memperoleh seorang putrinya. Dengan jalan ini ia akhirnya berhasil menjadi kepala negara Tuban, menggunakan kedudukan mertuanya. Akan tetapi Babad Tuban tidak menjelaskan mengenai asal-usul Arya Wilatikta, ayahanda Sunan Kalijaga itu.

Dalam Babad Cerbon naskah Nr. 36 koleksi Brandes, dijumpai keterangan bahwa ayahanda Sunan Kalijaga bernama Arya Sidik, dijuluki “Arya ing Tuban” Arya Sadik dipastikan merupakan perubahan dari nama Arya Sidik, dan nama ini merupakan nama asli dari ayahanda Sunan Kalijaga, yang menurut Babad Tuban bukan seorang pribumi jawa, melainkan berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama.

Tahun kelahiran serta wafat Sunan Kalijaga belum dapat dipastikan, hanya diperkirakan ia mencapai usia lanjut. Diperkirakan ia lahir ± 1450 M berdasarkan atas suatu sumber yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga kawin dengan putri Sunan Ampel pada usia ±20 tahun, yakni tahun 1470. Sedangkan Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 dan mempunyai anak wanita yang dikawini oleh Sunan Kalijaga itu pada waktu ia berusia 50 tahun.

Masa hidupnya mengalami 3 masa pemerintahan, yaitu masa akhir Majapahit, zaman Kasultanna Demak dan Kasultanan Pajang. Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478 M, kemudian disusul Kasultanan  Demak berdiri pada tahun 1481-1546 M, dan disusul pula Kasultanan Pajang yang diperkirakan berakhir pada t ahun 1568 M. diperkirakan, pada tahun 1580 M Sunan Kalijaga wafat. Hal ini dapat dihubungkan dengan gelar kepala Perdikan Kadilangu semula adalah Sunan Hadi, tetapi pada Mas Jolang di Mataram (1601-1603), gelar itu diganti dengan sebutan Panembahan Hadi. Dengan demikian, Sunan Kalijaga sudah diganti putranya sebagai Kepala Perdikan Kadilangu sebelum zaman mas Jolang yaitu sejak berdirinya kesultanan Mataram pemerintahan Panembahan Senopati atau Sutawijaya (1675-1601). Dan pada awal pemerintahan Mataram, menurut Babad Tanah Jawi versi Meisma, dinyatakan Sunan Kalijaga pernah datang ke tempat kediaman Panembahan Senopati di Mataram memberikan saran bagaimana cara membangun kota.

Dengan demikian, Sunan Kalijaga diperkirakan hidupnya lebih dari 100 tahun lamanya yakni sejak pertengahan abad ke-15sampai dengan akhir abad 16.

Tentang asal-usul keturunannya, ada beberapa pendapat, ada yang menyatakan keturunan arab asli, yang lain menyatakan keturunan Cina, dan ada pula yang menyatakan keturunan Jawa asli. Masing-msing pendapat mempunyai sumber yang berbeda.

Dalam buku “De Handramaut et les Colonies Arabes dan’l Archipel Indian” Karya Mr. C.L.N. Van den Berg, Sunan Kalijaga disebutkan sebagai keturunan Arab asli. Bahkan di dalam buku tersebut tidak hanya Sunan Kalijaga saja yang dinyatakan sebagai keturunan Arab, tetapi juga semua Wali di Jawa.

Menurut buku tersebut, silsilah Sunan Kalijaga adalah sebagai berikut: Abdul Muthalib (nenek moyang Muhammad saw) berputra Abbas, berputra Abdul Wakhid, berputra Mudzakir, berputra Abdullah, berputra Kharmia, berputra Mubarrak, berputra Abdullah, berputra Madhra’uf, berputra Arifin, berputra Hasanudin, berputra Jamal, berputra Akhmad, berputra Abdullah, berputra Abbas, berputra Kouramas, berputra Abdur rakhim (Aria Teja, Bupati Tuban) berputra Teja Laku (Bupati Majapahit), berptra Lembu Kusuma (Bupati Tuban), berputra Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunann Kalijaga).

Kemudian pendapat yang menyatakan Sunan Kalijaga sebagia keturunan Cina di dasarkan atas buku “Kumpulan Cerita Lama dari kota Wali (Demak)” yang ditulis oleh S. Sunan Kalijaga sewaktu kecil bernama Said. Dia adalah keturunan seorang cina bernama Oei Tiktoo yang mempunyai putra bernama Wiratikta (Bupati Tuban). Bupati Wiratikta ini mempunyai anak laki-laki bernama Oei Sam Ik, dan terakhir di panggil Said.

Sedangkan pendapat yang menyatakan Sunan Kalijaga berdarah jawa asli, didasarkan atas sumber keterangan yang berasal dari keturunan Sunan Kalijaga sendiri. Silsilah menurut pendapat ketiga ini menyatakan bahwa moyang “Kalijaga adalah salah seorang panglima Raden Wijaya, raja pertama majapahit, yakni Ronggolawe yang kemudian diangkat menjadi Bupati Tuban. Seterusnya adipati Ronggolawe (Bupati Tuban), berputra Aria Teja I (bupati Tuban) berputra Aria Teja II (Bupati Tuban), berputra Aria Teja III (Bupati Tuban), berputra Raden Tumenggung Wilwatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunan Klijaga). Menurut keterangan berdasar bukti yang ada pada makam, Aria Teja I dan II masih memeluk agama Syiwa, sedangkan Aria Teja III sudah memeluk Islam.

Terhadap pendapat-pendapat tersebut, terdapat sanggahan-sanggahan, terutama terhadap endapat yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga, dan juga para wali yang lain, adalah keturunan cina. Di antara para ahli yang menyatakan bahwa pendapat itu tidak benar adalah Prof. D.W.J. Drewes. Beliau adalah bekas guru Besar Sastra Arab di Fakultas der Aleteren pada Universitas Leiden dan berkas ketua Oosters Genooschap di Nederland, lahir pada tahun 1899 pernah memimpin balai pustaka (1930) di Jakarta danmenjadi guru besar Hukum Islam di Indonesia, dan sampai tahun 1970 beliau menjadi Guru Besar di Universitas Leiden, Nederland. Tanggapannya terhadap Prof. Dr. Slamet Mulyono yang menyatakan bahwa para wali adalah keturunan bahwa para wali adalah keturunan Cina adalah tidak benar, karena tidak mempunyai bukti. Sumber-sumber yang diambil yakni dari Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Kronik Cina dari Klenteng Semarang dan Talang, semua sumber itu tidak pernah dipeakai oleh padra sarjana sejarah. Sementara, sumber dari Reseden Poortman sudah lewat tangan ketiga.

Kemudian Prof. Dr. Tujimah, Guru Besar dalam Bahasa Arab dan Sejarah Islam di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, juga tidak sependapat atas kesimpulan yang mengatakan bahwa para wali adalah keturunan Cina. Beberapa alasan yang dikemukakan adalah:

1.    Sumber-sumber dari kesimpulan itu dari Babad Tanah Jawi, Serta Kanda, Kronik Cinta Semarang dan Talang yang belum banyak dipakai sarjana.

2.    Prof. Slamet Mulyana mendapat sumber dari tangan ketiga (dua orang) yaitu lewat Residen Poortman dan Ir. Parlindungan.

3.    Sumber-sumber babad itu penuh dengan dongeng dan legenda.

4.    Sumber-sumber Portugis yang ada digunakan

5.    Lebih memberatkan dan menerima 100% sumber Cina, atau membesar-besarkan pengaruh Cina.

6.    Mungkin ada nama-nama pribumi asli yang dibaca atau ditulis menurut Lidah Cina. Pengaruh setiap bahasa dan lidah sesuatu bangsa lain memungkinkan terjadi penyesuaian ejaan, seperti khabar menjadi kabar (bahasa Arab), lebih-lebih pendatang baru bangsa Cina yang disebut tokelja, sabar menjadi sabal, dan sebagainya. Akhirnya terjadilah seperti yang dikira, terdapat nama-nama yang berubah dari nama asalnya, seperti di dalam naskah Poortman, Kertabumi menjadi King ta Bu Mi, Su Hi Ta menjadi Su King Ta, Trenggana menjadi Tung Ka Lo, Mukmin (putra Trenggana) menjadi Muk Ming, Sunan Bonang menjadi Be Nang, Ki Ageng Gribig menjadi Na Pao Cing, Aceh menjadi Ta Cih, Bintoro menjadi Bing To Lo, Bangil menjadi Jiaotung, Majakerta menjadi Jangki, Palembang menjadi Ku Kang, Sultan tayyib menjadi Too Yat, dan sebagainya. Ternyata banyak nama-nama Indonesia yang diberi nama dengan bahasa Tionghoa.

7.    Salah satu kelemahan, antara lain ialah Sunan Gunung Jati diidentifikasikan dengan Toh A Bo, dalam bukunya Prof. Slamet Mulyana hal. 219. tetapi pada halaman 220 dikatakan bahwa Tung Ka Lo (trengganda mempunyai dua orang putra, yaitu muk Ming (Pangeran Mukin atau Pangeran Prawoto) dan putra kedua pangeran A Bo dinyatakan dalam Babat Tanah Jawi bahwa dia menjadi Bupati Madiun. Jika Panglima Perang Demak pada tahun 1526, yang berhasil membawa kemenganna sama dengan Panglima Perang yang dikirim ke Majapahit apda tahun 1527, maka Panglima Perang yang memimpin armada Demak ke Cirebon dan ke Sunda Kelapa adalah Toh A Bo Putra Tung Ka Lo sendiri. Dengan demikian, maka Toh A Bo identik dengan Fatahillah. Demikianlah tulis Prof. Dr. Slamet Mulyana. Tetapi pada halaman 224 Prof. Slamet Mulyana menulis lagi bahwa Fatahillah sebagai Sultan Banten / Cirebon dan Ipar sulatan Trenggana, dan pula menjadi Sultan Cirebon / Banten. Inilah kejanggalannya, bahwa Fatahillah disamakan dengan Toh A Bo, yang menjadi putra Sultan Trenggana dan sekali itu juga menjadi ipar Sultan Trenggana. Juga menjadi Bupati Madiun dan juga menjadi Sultan Cirebon / Banten. Apakah bisa? Aneh bukan, satu oknum menjadi putra dan sekaligus menjadi ipar Sultan Trenggana, jug amenjadi Bupati Madiun dan juga menjadi Sultan Cirebon / Banten.

 

Dengan adanya beberapa pendapat tentang silsilah itu, maka bagaimanapun juga tampak bahwa masih terdapat ketidakjelasan tentang silsilah Sunan Kalijaga. Tampak pula bahwa terdapat maksud-maksud tertentu dari penyusunan silsilah. Hal itu sebagaimana pengungkapan tentang silsilah raja-raja jawa dalam Babad Tanah jawi  yang menyatakan bahwa silsilah tokoh Senopati, raja Islam Mataram II, putra Ki Gede Pemanahan. Bahwa Ki Gede Pemanahan adalah keturunan langsung ratu-ratu Majapahit, kerjaan hindu yang dipuji orang jawa. Ia adalah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela putra Ki Ageng Getas Pendawa, Selanjutnay ia putra Bondan Kejawen (Lembut Peteng), dan Bondan Kejawen ini mempunyai dua saudara lagi yakni Arya Damar (Bupati Palembang yang masuk Islam) dan terakhir adalah raden Patah, Mereka bertiga adalah putra Hayam Wuruk, Putra Raden Sesusuh, putra Kuda Lalean, putra Raden Panji (Hikayat Panji Semarang dan Galuh Candrakirana). Raden Panji Putra Getayu, putra Prabu Jayabaya, keturunan Parikesit putra Abimanyu, putra Aejuna, putra Barahmana, putra Bhatara Guru, ptra Sang Hyang Tunggal, putra Sang Hyang Wening, yang berasal dari Sang Hyang Nur Cahya. Dengan demikian maka Senopati dihubungkan dengan dewa-dew dan cerita wayang. Tampak bahwa dari penyusun silsilah Sunan Kalijaga yang berbeda-beda terdapat kemungkinan adanya maksud-maksud tertentu.

Tentang asal-usul nama Kalijaga, terdapat pula perbedaan penafsiran, satu pendapat menyatakan bahwa Kalijaga berasal dari kataJaga Kali (bahasa jawa). Pendapat lain mengatakan bahwa kalijaga berasal dari kata Arab, Wodli Dzakka (penghulu suci), dan pendapat yang lain lagi menyatakan Kalijaga berasal dari nama dusun Kalijaga yang terletak di daerah Cirebon.

Penafsiran yang pertama mengacu kepada nama jawa asli bahwa Kalijaga artinya menjaga kali, dari asal kata kali yang berarti sungai dan kata Jaga yang b berarti menjaga. Boleh jadi tafsiran ini didasarkan atas suatu riwayatnya sebagaimana dinyatakan dalam Babad Tanah Jawi bahwa beliau pernah berkhalwat setiap malam di sebuah sungai yang berada di tengah hutan yang sepi, seakan beliau menjaga kali itu. Secara kebetulan hutan itu bernama Kalijaga di daerah Cirebon.

Tetapi terdapat suatu penafsiran pula bahwa menjaga kali diartikan sebagai kemampuan Sunan Kalijaga dalam menjaga aliran atau kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menunjuk sikap anti pati terhadap semua aliran atau kepercayaan yang tidak sesuai dengan islam, tetapi dengan penuh kebijaksanaan aliran-aliran kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat itu dihadapi atau digauli dengan sikap penuh toleransi. Konon, menurut cerita, memang Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang faham dan mendalami segala pergerakan dan aliran atau agama yang hidup di kalangan rakyat.

Dalam suatu sumber di dapatkan tentang asal-usul perkataan kaljaga yang berasal dari perkataan jagakali termasuk juga bagaimana Raden Said mendapatkan julukan yekh Malaya”.  Keterangan ini dijumpai dalam Babad Dipanegara, sebuah naskah sejarah yang ditulis oleh Pangeran Dipanegara di tempat pengasingannya di Menado. Menurut penuturan Pangeran Dipanegara, waktu Sunan Bonang teringat ihwal Raden Sahid yang tealh dpendamnay, Sunan Bonang ingin mengeluarkannya. Sunan Bonang segera pergi ke temapt Raden Sahid dipendam, sembari membawa sahabatnya. Raden Sahid dikeluarkan dari pendamnanya, raden Sahid telah menjadi mayat. Sekalipun demikian sudah menjadi kehendak Tuhan tubuh jasmaninya masih dalam keadaan utuh, tidak membusuk. Hanya tinggal tulang dan kulit. Mayat Raden Sahid dibawa ke Ngampel Gading.

Mayat raden sahid dikembalikan kekuatannya. Sunan giri telah dapat dan ikut mengerjakannya. Semua wali ikut mengembalikan kekuatan Raden Sahid. Tuhan pun memberikan pertolongan-Nya. Penglihatan Raden Sahid muncul lagi, kemudian nafasnya, setelah itu detak jantungnya. Ayah dan ibu raden Sahid telah datang, demikian juga adik Raden Sahid, Dewi Rasawulan, telah sengaja datang dari hutan langsung menuju Ngampel Gading. Bersama waktu datangnya ayah dan ibunya, nafas yang keluar dari tubuh raden sahid semakin besar, para wali berdoa, lalu datanglah kembali semua kekuatan Raden Sahid. Raden Sahid telah siuman, bagai tealh lama tidur. Raden Sahid duduk dikitari para wali, Raden Sahid sadar, kemudian bersembah sujud kepada semua wali dan ayahnya, sedangkan Dewi raswulan bersembah sujud kepadanya. Bagaikan mimpi saja, semuanya telah menakjubkan semua orang yang pada susah hati melihatnya, sangat ajaib, sangat mengesankan.

Semua kekuatan Raden Sahid tealh kembai seperti sediakala, hanay tinggal rasa lesu saja. Kata Sunan Makdum: “Anak-anakku semua, patuhilah kata-kataku ini. Aku akan menjuluki si Sahid “Syekh Malaya”. Disamping itu, Sunan Makdum Berkata lagi “Mumpung lengkap semua, Wilatikta anakku, aku akan mengambil kedua anakmu. Syekh Malaya akan kukawinkan dengan putriku yang bungsu, sedang Nini Rasawulan akan kukawinkan dengan ananda di Giri.” Keduannya kemudian dikawinkan, disaksikan semua wali.

Para wali kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, sementara Syekh Malaya belum merasa puas hatinya. Beliau minta diri kepada adiknya, ingin pergi berkelana. Lalu pergi meninggalkan Ngampel Gading, menyusuri daerah Pengisikan, berhenti bertapa mati raga di pinggir kali dengan bersandar pda pohon jati yang telah mati, yang batangya condong ke kali itu. Demikian lama Syekh Malaya bertapa mati raga, hingga pohon jati yang semula mati telah hidup kembali berimbun daun.

Alkisah, waktu itu Kanjeng Sunan Bonang berkelana, beliau telah sampai di pohon jatiitu. Beliau melihat ada orang bertapa mati raga dengan bersandar pada pohon jati tersebut. Lama-kelamaan Kanjeng Sunan Bonang tidak lupa lagi, orang itu tidak lain adalah adiknya sendiri. Kanjeng Sunan Bonang segera duduk mendekatinya. Syekh Malaya waktu itu sedang tidur, dibangunkan olehnya. “Bangunlah adikku,” katanya. Syekh Malaya terkejut melihat kedatangan kakaknya, lalu mencium kaki bersembah bakti. “Sudahlah, duduklah adinda. Sekarang namamu kuberi tambahan, yakni Jagakali, Sunan Kalijaga. Demikianlah namamu yang patut. Disamping itu, bertempat tinggallah dan dirikanlah pedesaan ditempat ini. Aku yang akan membantumu, sedang istrimu akan kuundang”. Sunan Kalijaga. Tidak menolak perintah kakaknya.

Kanjeng Sunan Bonang mengirim utusan ke Ngampel memanggil adiknya sembari mohon izin kepada ayahnya. Tidak diceritakan, istri Sunan Kalijaga telah datang, sedang desa tempat Sunan Kalijaga juga telah siap, dibuatkan oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Bonang lalu kembali ke tempat tinggalnya.

Telah lama bertempat tinggal di desa itu Sunan Kalijaga mempunyai seorang putra yang roman mukanya tidak berbeda dengan ayahnya, bernama kanjeng Sinuhun Adi.

Penafsiran kedua mengacu kepada nama Arab bawa kalijaga berasal dari bahasa Arab yang telah berubah menurut pengucapan lidah orang jawa, yaitu Qadli Zakkah yang berarti hakim suci atau penghulu sici. Nama itu merupakan nama sanjungan yang diberikan pagnera Modang, Adipati Cirebon, tatkala mereka berdiskusi tentang masalah hukum Islam di Cirebon. Dari kata sanjungan Qadli Zakka itulah kemudian desa tempat tinggal Penghulu Suci itu dikenal dengansebutan Kalijaga, Nama yang masih melekat pada suatu desa di daerah kabupaten Cirebon hingga sekarang.

Lain lagi dengan pendapat ketiga yang menyatakan bahwa nama kalijaga berasal dari nama desa tempat tinggal yang pernah didiami oelh Raden Sahid. Pendapat ketiga cenderung menyanggah kedua pendapat terdahulu itu. Prof. Dr. Hoesein Djajaningrat menyatakan, kisah legendaries menetapnya Sunan Kalijaga di sebuah ssungai merupakan sebuah ikhtisar yang kaku untuk menerangkan si muasal nama Sunan Kalijaga. Prof. Hoesein Djajaningrat mengingatkan, dalam masalah ini orang telah memberikan artian nama kalijaga dengan “Penjaga Kali” atau “penjaga di kali”, akan tetapi orang lupa, bahwa dengan demikian orang mendapatkan susunan (perkataan) yang tidak bercorak jawa. Oleh karena menurut logat bahasa jawa “penjaga kali” toh disebut “(wong) jaga Kali”. Menurut pendapatnya, asal-muasal nama kalijaga justru tidak bisa di pulangkan pada Sunan Kalijaga, artinya tidak bisa dinyatakan bahwa nama itu telah muncul oleh karena pada awal mulanya Sunan Kalijaga telah berjaga, bertapa atau menetap di dekat kali. Tetapi sebaliknya, nama Sunan Kalijaga justru lahir karena yang bersangkutan telah menetap di desa kalijaga. Dengan demikian sebelum Sunan Kalijaga datang desa itu telah bernama kalijaga.

Pendapat yang sama dipegangi juga oleh G.P.H. Hadiwidjaja, yang ditulis dalam brosurnya berjudul Kalijaga, sebuah tulisan yang disampaikan dalam tulisan ceramahnya di Radya Pustaka, Solo, tanggal 7 Mei 1956. dalil yang dipakai bukan nama desa yang mengikuti nama wali itu, tetapi telah dikenal sebelumnya. Dan nama desa yang dimaksud adalah desa kalijaga yang telah dikenal sebelumnya. Dan nama desa yang dimaksud Cirebon. Dalam tulisannya itu ia sekaligus menunjukkan kesalahan kedua pendapat di atas. Dasar pendapatnya adalah sebuah kidungan yang pernah didengarnya pada zaman sebelum perang di daerah Pasundan, yang berbunyi:

 

 

Sing sapa reke bisa nglakoni,

Amutih lawan anawaha,

Patang puluh dina wawe

Lan tangi wegtu subuh,

Lan den sabar sakuring ati

Ing sa-Allah tinekan,

Sakarsanireku,

Tumrap sanak rajatinira

Saking sawabe ngelmu pangiket kami,

Duk aneng kalijaga.

 

Artinya:

Barangsiapa bisa menjalani

Melakukan mutih dan minum air tawar

Empat puluh hari saja,

Dan bangun waktu subuh,

Dan sabar berhati sukur,

Kepada Tuhan terlaksanalah

Sekehendakmu,

Pada saudara keluargamu,

Dari sawab ngelmu yang kami ikat, waktu berada di Kalijaga.

 

Dari kidung itu K.G.P.H. hadiwidjaja berpendapat bahwa yang membuat kidungan itu adalah Sunan Kalijaga sendiri, sebagaimana disebutkan “duk aneng Klaijaga” – “Waktu berada di kalijaga”. Dia menunjukkan serangkaian bukti bahwa kalijaga sebenarnya bukan nama orang, melainkan nama desa di kawasan Cirebon sebagai berikut:

1.    Pokok isi naskah sejarah Banten yang termuat dalam disertasinya Prof D.R.R.A Hoesein Djajaningrat yang berjudul Critiche Beschouwingen Van De Sadjarah Banten yang menyatakan, raden Said lalu pergi berkelana sampai ke Palembang, bertemu dengan Dara Petak. Kemudian mereka bersama pergi ke Pulau Upih, berguru kepada Syekh Sutabris. Setelah selesai disuruh pulang kembali ke tanah Jawa bertempat tinggal membuat pedukuhan di Cirebon di dekat Sungai kecil, sembari berjualan atap ilallang agar mereka diketahui oleh yang empun negeri. Di berlakng hari pedukuhan tersebut disebut kalijaga.

2.    Kitab Wali Sepuluh Karangan Kargosudjono, diterbitkan Tan Koen Swie tahun 1950, menyatakan: “Tuan Sunan Kalijaga dulu keratonnya adalah di tanah Puserbumi (Cirebon).” Nama Keratonnya tidak disebutkan, tetapi letaknya ada di Cirebon, sama dengan disebut pada nomor satu di atas. Hanya saja, mengenai disebutnya Puserbumi, K.G.P.H. Hadiwijaya baru mengetahuinya. Menurutnya, yang disebut Puserbumi itu adalah Mekkah, yang karena Multasyam-nya, matahari tidak pernah mengunggulinya. Ada pun pusarnya tanah jawa adalah gunung tidar di Magelang.

3.    Kidungan Musium dalam bentuk cetakan dan kidungan milik K.G.P.H. Hadiwijaya sendiri dalam bentuk naskah, menyebutkan:

“….Saking sawabe ngelmu pengiket kami, du aneng kalijaga”.

Artinya:

“….Dari sawah ngelmu ikatan kami, waktu di kalijaga.”

4.    Serat Syeh Malaja, koleksi musium Sana Pusaka, milik K.G.P.H. Hadiwijaya sendiri dalam bentuk naskah:

1)    Pupuh Asmarandana pada 4:

Anulnya kinen angasih,

Pitekur ing kalijaga,

Mila karan kakasihe…….

 

 

Artinya:

Lalu disuruh pindah bertafakur di Kalijaga oleh karena itu namanya disebut ……….

Di sini jelas nyata bahawa kalijaga bukan nama orang tetapi nama desa. Sedang yang menyuruh pindah adalah Sunan Bonang, setelah Kalijaga diberi wejangan.

2)    Bersamaan Pupuhnya pada 12:

“Wus telas denya wawarti,

ajeng Sunan Bonang samna,

jangkar sing kalijagane”

artinya:

“Telah selesai memberikan keterangan,

Kanjeng Sunan Bonang waktu itu,

Berangkat dari Kalijagane….”

5.    Serat Walisanga, Milik K.G.P.H. Hidiwijaya pupuh pucung pada 29:

“inggalipun,

wus raharjo ponang dukuh,

katah kang awismo.

Pradesane wus sawasri,

Sinung aran padukuhan kalijaga.”

Kemudian menceritakan kembalinya dari samudra diwejang kanjeng nabi Kidir, Tembang Gambuh pada 33:

Umpami sekar kuncup,

Mangke samun mangsane cumucup,

Ngambar-ambar gandane kastri jati,

Ing wasana lajang kondur,

Tan wangsul maring Cirebon.”

Artinya:

“bagaikan bunga yang kuncup,

sekarang telah waktunya mekar,

semerbak harumnya kasturi tulen,

akhirnya lalu pulang,

tidak kembali ke Cirebon.”

 

Pada 34:

“Mring padukuhanipun,

Kalijaga pun Lumajang misuwur…”

 

Artinya:

“Ke Pedukuhannya,

Kalijaga yang lalu termasyur…”

 

Pada 35:

“She Malaya kasetbut,

papan saking padamelanipun,

nengsih Sunan Kalijaga Wewangi…”

 

Artinya:

“Syekh Malaya tersebut,

dari sebab pekerjaannya,

nengsih Sunan Kalijaga mewangi…

 

Menurut K.G.P.H. Hadiwijaya, dengan bukti-bukti tersebut jelas bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut berasal dari nama desa, yakni desa Kalijaga di kawasan Cirebon.

Tentang penolakan K.G.P.H. Hadiwijaya terhadap perkataan “Qadli Zakka” yang berarti penghulu suci, bahwa tidak mungkin ada desa yang bernama penghulu agung suci, seperti halnya pengulon yang berarti tempat kediaman penghulu; Modinan yang berarti tempat kediaman Modin; Kauman yang berarti tempat kediaman kaum dan lain sebagainya. Demikian jug a perkataan “kali” tidaklah bisa dikatakan begitu saja berasal dari Arab, sebab nama desa yang memakai perkataan “Kali”, misalnya Kalijanes, Kaliwingka, Kaliyasa, Kalisara, Kaliwungu dan lain sebagainya.

K.G.P.H. Hadiwijaya juga merujuk nama-nama Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ngudung, Syekh Lemah Abang, Semua itu adalah nama-nama yang diberikan berdasarkan tempat tinggal dan tidak diberikan dari asl perkataan Arabnya, sehingga, oleh karenanya, kata “Kalijaga” menurutnya merupakan “tembung jaawa klutuk”, perkataan Jawa Asli. Penyebutakn kalijaga sebagai berasal dari perkataan Arab “Qadl Zakkah” merupakan perbuatan orang jawa sendiri secara paksa. Hal yang sama dikemukakan juga oleh K.G.P.H. Hadiwijaya berkenaan dengan nama-nama wayang, Petruk Berasal dari Fatruq, Janaka berasal dari Zinaka, Narada berasal dari nurhuda dan sebagainya.

Berbeda dengan pendapat Ki M.A Machfoed, dia juga tampak kurang sependapat tentang asal-usul nama Kalijaga yang dihubungkan dengan perilaku bertapa di kali laksana orang “Jaga Kali” yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga sebagaiaman dituturkan dalam Sejarah Kadilangu. Dia lebih cenderung memegangi apa yang dituturkan dalam babad demak versi Cirebon, bahwa nama kalijaga berasal dari bahasa Arab “Qadli Zakkah” yang berarti penghulu suci, sebgaiman telah dikemukakan terdahulu. Dengan demikian , Ki M.A. Machfoed berpendapat bahwa kalijaga dapat lebih dipegangi sebagai nama orang, bukan nama desa yang semula bernama kalijaga sehingga nama itu menjadi sebutan bagi wali tersebut. Dia beranalog sama halnya dengan nama K.G.P.H. Hadiwijaya bukanlah nama yang diberikan karena bel;iau itu bertempat tinggal di kampung Hadiwijaya, karena menurut pengakuran beliau, nama Hadiwiaya adalah nama pemberian ayahandanya yakni Sri Susuhunan Paku Buana X.

Tentang nama Raden Said atau Jaka Said sebagai nama Sunan Klaijaga pada waktu mdua adlah nama pemberian Sunana Ampel Denta. Kata Said (Sa’id) yang berasal dari bahasa arab berarti bahagia. Sunan Ampel sendiri mempunyai hubungan dekat dengan ayahanda raden Said, dan setiap saat bersilaturrahmi di istana adipati Tuban itu, berdiskusi  tentang masalah-masalah keagamaan.

Sejalan dengan arti sa’id, bahagia, maka Sunan Kalijaga dikenal juga dengan nama Lokajaya. Hanya saja sebutan Lokajaya lebih mengacu kepadea bahasa jawa, yang terdiri dari dua kata loka artinya tempat dan jaya berarti bahagia, menang. Menurut Pustaka Daerah Agung, nama baru itu adalah pemberian Syekh Sutam, tetapi tanpa penjelasan siapa Syekh Sutam itu. Dalam Babad Demak, nama Syekh Sutam juga tidak dikenal, kendatipun nama lokajaya disebut-sebut tatkala mengenalkan Raden Said sebagai pelayan, kemudian sebagai pengadu ayam, dan kemudian sebagai penyamun. Perannya sebagai pelayan dimulai setelah pergi meninggalkan kadipaten ketika semua uang emas berkalnya lenyap, entah dicuri orang dalam rumah penginapan, entah jatuh diperjalanan. Dalam Babad Demak versi Matara disebutkan bahwa bekal emas Raden Said habis karena diperjudikan. Tetapi lain halnya apa yang disebut oleh Babad Demak versi Cirebon, emas bekal calon wali itu habis karena telah dihadiahkan kepada anak gembala kerbau sebagai tanda terima kasih atas doa anak gembala itu dalam bentuk nama lokajaya.

Dalam perantauannya Lokajaya sampai lah pada suatu hari disebuah desa yang diantara penghuninya ada seorang janda tua beranak banyak, dan mata pencahariannya sebagai pedagang serabi, semacam kue apem. Meskipun hasil perdagangan itu sudah tidak mencukupi keperluan hidup hariannya bersama lima orang anak-anaknya yang belum ada satupun yang dewasa, namun janda tua yang berwatak murah hati itu ternyata suka menerima Lokajaya sebgai seorang penumpang hidup padanya. Mengerti betapa pemarah dan baik hati orang yang ditumpangi hidupnya itu, maka Lokajaya dengan setia dan jujur melayani pedagang serabi, memasak, memikul barang-barang keperluan memasak dan menjual serabi ke pasar, memikul barang-barang itu dari pasar pulang kembali ke rumah. Dan disadari oelh wanita janda tua itu, betapa pesat kemajuan dagangannya yang tampak sudahmenjadi besar dan tidak lagi miskin, sejak lokajaya menumpang hidup sebagai pelayan padanya. Maka lokajaya amatlah disayangi dan diperlakukan sebgai anak kandungnya. Uang pun diberikan secukupnya pada sembarang waktu diperlukan, termasuk juga untuk membeli seekor ayam aduan dan untuk bertaruh di kala ayam itu dibawa lokajaya ke dalam gelanggang peraudan ayam.

Ayam aduan Lokajaya itu diberi nama Ganden dan kenyataannya tak terkalahkan. Setiap kali Ganden keluar dari gelanggang, tetaplah senantiasa sebgai pemenang. Semua taruhan kemengangannya yang tak sedikit jumlahnya selalu Lokajaya berikan kepada janda tua, itu akuannya itu.

Apda suatu hari, rumah pedagang serabi tersebut dikunjungi seorang setengah baya berserta anak muda yang membawa sebuah krusu berisi seekor ayam aduan. Mereka datang perlu menantang Lokajaya mengadu ayamnya yang bernama Tatah dengan Ganden, ayam aduan milik Lokajaya itu. Tantangan itu tentunya diterima Lokajaya dengan gembira hati, karena memang sudah agak lama menunggu adanya ayam aduan yang berani melawan ganden.

Lokajaya merujuk ketika mendengar tantangannya mengenai soal  taruhannya yaitu rumah tempat tinggal pedagang serabi itu seisinya yang dikira oleh tamu penantang itu menaruh sebuah kantong besar berisi emas, sebagai taruhannya. Melihat keraguan Lokajaya dan melihat sekantong emas yang nilainya jelas lebih besar dari pada harga rumah seisinya itu, dengan mengingat bahwa ssealma ini Ganden terbukti tak pernah terkalahkan, maka janda tua akuannya itu menganjurkan agar Lokajaya dengan berbesar hati menerima tantangannya. Dan Ganden sergeralah berhadap-hadapan dengan Tatah dalam sebuah Gelanggang di halaman depan rumah yang dikerumuni banyak penggemar adu jago. Pertarungan antar aGanden dan Tatah berlangsung hebat sekali, namun tidak begitu alma pertarungan itus udah selesai. Ganden Kalah, mati terkapar di tengah gelanggang.

Janda serabi dan kelima anak-anaknya menangis kekalahan Ganden yang menimbuni segenap keluarga dengan malapetaka. Lokajaya tinggal berdiri tegak saja dengan hati gusar pandangannya mengikuti kepergian tamunya setelah menerima tawaran bahwa kelak tamunya akan kembali untuk menempati rumah teruhannya, dan diharap Lokajaya sekeluarga sudah tidak berada di dalam rumah dan halaman itu, tetapi Lokajaya diperbolehkan mengambil dan membawa isi dari rumah dan halaman apa saja yang disukai.

Pada senja hari, lokajaya minta diri pada ibu akuannya akan pergi mencari pengganti rumah tinggal dan semua harta kekayaan ibunya yang telah lenyap dalam pertaruhan tadi pagi, dengan pesan agar ibu dan kelima anaknya jangan meninggalkan rumah itu sebelum dia pulang kembali dan supaya menuntut kehidupan seperti biasanya. Seolah-olah di situ tidak ada perubahan apapun. Kemudian Lokajaya pergi ke satu-satunya jalan lalu lintas di tengah hutan menghadang di sana sebagai penyamun. Tujuan hari siang dan malam dia menyamun di sana. Pada pagi hari yang kedelapan, dia telah bertukar niat hendak pergi merampok saja dipedesaan, tetapi mendadak terlihatlah olehnya orang setengah baya dan seorang muda yang mengantarkannya akan lewat di dijalan penyamunannya. Walau calaon  korbannya itu berpakaian seorang ualma, namun tiada panglinglah Lokajaya bahwa calon korbannya itu adalah si pemilik tatah tempo hari. Pakaian keulamaannya tampak serba indah, serba mahal harganya. Lokajaya segera menghentikan mereka, diminta pakaian mereka dan semua yang mereka bawa atau nyawa mereka yang akan direnggutnya kalau mereka berani menolak permintaannya. Tetapi alangkah terperanjatnya Lokajaya ketika orang setengah baya itu menyebut namanya di minta agar ia melihat pohon aren yang ada disebelah kanannya, bahwa semua tirisan buah kolang-kaling sesungguhnya ems murni dan bisa diambil kalau memang bermaksud menghimpun kekayaan duniawi. Tampak pada pandangan mata Lokajaya semua tirisan buah kolang-kaling itu adalah emas yang kilau-kemilau yang indah dalam sinar matahari. Seketika lokajaya berjongkok di hadapan orang setengah baya itu sambil menyembah, minta ma’af, menyerahkan diri kepadanya serta minta diterima sebagai muridnya. Dengan senang hati permintaan itu diterima orang setengah baya itu, yang kemudian memberi perintah kepada Lokajaya agar segera pulang lebih dahulu kepada ibu akuannya untuk minta diri dan berkata kepadanya atas nama calon gurunya itu menghadiahkan rumah tinggal seisinya dan halaman itu dan selanjutnya disuruh menyusul ke pondok bonang.

Sesungguhnya, orang setengah baya itu tak lain adalah Sunan Bonang, dan anak muda pengiringnya itu adalah adik kandung bungsunya, yang kemudian hari tampil sebagai Sunan Drajat. Keduannya adalah putra sulung dan putra bungsu Sunan Ampel Denta yang diutus ayahandanya supaya mencari dan menemukan Raden Said.

Sunan Kalijaga dikenal juga sebagai syekh Malaya, nama pemberian dari sunan bonang, setelah dia selesai menjalankan khulwat yang merupakan ujian pertama kesanggupan berguru kepada Sunan Bonang itu. Demikian itu sebagaimana dituturkan dalam Babad Diponegara, babad demak versi Cirebon maupun Babad demak versi lain-lainnya. Hanya saja, terdapat perbedaan antara pengertian maupun praktik tapa ngluwat atau tapa mendem yang digambarkan dalam Babad Diponegoro sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, demikian juga berbeda dengan pengertian dan praktik tapa mendem sebagaimana yang digambarkan dalam Babad Demak yang lain, atau juga Babad Majapahit dan Para Wali. Inti ajaran tentang khulwat  dalam Babad Demak versi Cirebon yakni menyekap diri lahir-batin dalam kesepian dari segala apa pun, kecuali harsu senantiasa hudlur ma’ Allah, demikian itu selama 40 hari, siang dan malam. Sedangkan tapa ngluwat sebagai mana digambarkan dalam Babad Diponegoro, Babat Majapahit dan Para Wali  dan Babad Demak  yang lain, adalah menguburkan diri dalam tanah. Disebutkan bahwa Raden Said dipendam dalam tanah selama 100 hari.

Agak berbeda dengan cerita tersebut, dalam Babad Tanah Jawi terbitan Balai Pustaka, di sana dinyatakan, sebagai ujian kepatuhan raden Said untuk berguru pada Sunan Bonang maka raden Said diminta untuk menunggui tongkatnya. Sedemikian patuhnya raden Said dalam  memenuhi permintaan Sunan Bonang sehingga satu tahun kemudian Sunan Bonang menjenguknya kembali. Keadaan tempat telah menjadi hutan, dan hanya dengan mengucapkan salam Sunan Bonang dapat melenyapkan hutan itu sehingga tampaklah raden Said. Akan tetapi Raden Said hanya diraba denyut jantungnya , kemudian ditinggalkan lagi selama satu tahun lagi sehingga genaplah dua tahun Raden Said bertapa menunggui tongkat Sunan Bonang . setelah diajari ajaran-ajaran tentang ilmu, diminta pergi dan agar senantiasa taat pada Tuhan. Selama satu tahun kemudian Raden Said berkhulewat dan setelah itu dia pergi ke arah barat menuju Cirebon dan bertempat tinggal di sebuah hutan sepi yang disebut kalijaga. Di situlah dia bertapa dengan dua orang temannya dengan cara menjaga sungai di malam hari yakni berendam di dalam sungai. Setelah berhenti bertapa dan telah menjadi orang sakti Raden Said berganti nama menjadi Sunan Kalijaga.

Riwayat Hidup

1.    Guru-guru Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga pertama berguru kepada Sunan Bonang, yang dikenal juga dengan nama Makdum Ibrahim. Menurut sumber-sumber sejarah, sebenarnya antara Sunan Bonang dengan Sunan Kalijaga mempunyai hubungan kekerabatan, karena Sunan Ampel Denta, ayah Sunan Bonang, memperistri Nyi Gede Manila, yakni Ibun Sunan Bonang yang tidak lain adalah anak perempuan Wilatikta. Tetapi dalam Babad Tanah Jawi versi yang mana pun, seakan mereka sebelumnya tidak pernah mengenal, setidak-tidaknya Raden Said tidak mengenal Sunan Bonang, sementara menurut salah satu sumber, Sunan Bonang sendiri memang secara sengaja disuruh ayahandanya agar mencari dean menemukan serta mempertobatkan Raden Said dan mengesankan bahwa Sunan Bonang sudah mengenal sebelumnya.

Pertemuan yang pertama adalah ketika mereka mengadu ayam, sebagaimana telah dikemukakan pada uraian terdahulu. Dalam banyak cerita tentang pertemuan-pertemuan pertama antara kedua orang itu menyatakan bahwa di bawah asuhan Sunan Bonang, Sunan Kalijaga pada awal mulanya merupakan seorang anak muda yang nakal, akhirnya dapat ditobatkan hingga jadi waliullah.

Kemudian Sunan Kalijaga juga berguru kepada Syekh Sutabris di Pulau Upih. Yang dimaksud pulau Upih ialah bagian kota malaka yang terletak di sebelah utara sungai, yang pada akhir abad XV merupakan daerah perdagangan yang paling ramai di kota itu, di mana banyak pedagang dari pulau jawa yakni dari daerah Tuban dan Jepara bertempat tinggal. Demikianlah, sebagaimana dinyatakan dalam naskah sejarah Banten dan menurut naskah ini, Sunan Kalijaga berguru pada Syekh Sutabris. Sunan Kalijaga menetap di tepi sungai kecil di Cirebon dan oleh karenanya kemudian disebut orang pangeran Kalijaga. Menurut sumber lain, kepergian Sunan Kalijaga sampai ke pulau Upih sebenarnya dalam perjalanan menyusul Sunan Bonang naik haji ke makkah. Tetapi sampai di pulau Upih itu oleh Syekh Maulana Maghribi disarankan untuk kembali ke jawa membangun masjid, menjadi penggenap wali sembilan. Disarankan oleh Syekh Maulana agar menunggu gurunya itu di   atas kayu ditepi kali. Kembalilah Sunan Kalijaga ke jawa dan menetap di suatu desa di Cirebon, dan disinilah kemudian ia bertemu kembai dengan Sunan Bonang, setelah menunggu selama 100 hari. Desa yang dimaksud itu adalah desa kalijaga.

Menurut Serat Kandaning ringgit Purwa, Sunan Kalijaga pergi naik haji bukan menyusul Sunan Bonang, tetapi justru kepergiannya atas saran Sunan Bonang setelah mendapatkan berbagai ajaran pengetahuan agama dan belum dianggap sempurna kebajikan lahiriyahnya kalau belum pergi haji ke makkah.

Di Cirebon, setelah membuat pemukiman baru lengkap dengan perumahan nya, oleh Sunan Bonang diajak pergi ke Giripura menghadap Sunan Gunung Giri yang dianggap sebagai ketua para wali di jawa agar menerima Sunan Kalijaga sebagai wali yang kedelapan.

Adapun gurunya yang ketiga adalah Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dalam beberapa sumber seperti Babad Dipanegara, Babad Tdanah Jawi maupun Babad Demak selain versi Cirebon, kehadiran Sunan Kalijaga di Cirebon adalah dalam usahanya untuk menambah pengetahuan dengan berkelana, bertapa dari tempat ke tempat lain, sehingga sampailah di desa kalijaga. Menurut salah satu naskah Sunan Kalijaga sebagai Syekh Malaya ditemukan oleh Pangeran Modang yakni Sunan Gunung Jati, dalam keadaan seolah-olah tidak menyadaridirinay bertapa di perempatan jalan di dekat pasar, terlentang tanpa pakaian seama sekali. Tatkala keempat istri pangeran modang tidak mampu menggagalkan / membangunkan Sunan Kalijaga maka Pangeran Modang sendirilah yang berkunjung ke temapt, dan dia baru bisa membangunkan seteah menunggu selama tujuh hari. Akan tetapi, menurut Babad Demak versi Cirebon, kehadiran Sunan Kalijaga ke Cirebon adalah dalam rangkaian dakwahnya sejak dari Rembang-Purwodadi-Salatiga-Kartasura-Kutaarja-Kebumen-Banyumas dan akhirnya sampai ke Cirebon. Disini Sunan Kalijaga sebagai Syekh Malaya diterima sebagai tamu terhormat yang ahli dalam bidang ilmu agama, sebagai penghulu suci. Sedangkan menurut naskah sejarah Hikayat Hasanuddin, kedatangan Sunan Kalijaga Dicirebon tidak lepas dari usahanya menyebarkan agama Islam, sekaligus menuntut ilmu pada Sunan Gunung Jati. Dalam fragment itu dituturkan, Sunan Bonang dan Adipati Demak telah pergi berziarah mengunjungi Sunan Gunung jati. Sunan Bonang, Pangeran Adipati Demak dan kaum keluarganya berguru kepada Sunan Gunung Jati. Demikian halnya Pangeran Kalijaga dan pangeran Kadarajad, putra Sunan Ampel yang dibelakang hari terkenal dengan nama Sunan Drajad. Penyebutdan Sunan Kalijaga dengan nama Pangeran Kalijaga dengan jelas menunjukkan, pada waktu itu Sunan Kalijaga masih belum menjadi wali. Tidak ubahnya dengan Sunan Derajad, yang pada waktu itu masih disebut dengan nama Pangeran Kadarajad.

Pada akhirnya dinyatakan dalam berbagai naskah, Sunan Kalijaga di ambil menantu Sunan Gunung Jati yakni memperoleh adik kandungnya, tetapi apda sumber lain menyebutkan Sunan Kalijaga menikah dengan Ratu Syarifah Jamilah, kakak kandung Sunan Gunung Jati. Selanjutnya Sunan Kalijaga membuka pondok pesantren di daerah kaki bukit gunung jati, yaitu daerah hutan yang baru dibuka menjadi desa, namun belum lagi bernama.

Pertanyaan, bagaimanakah para guru-guru Sunan Kalijaga memberikan pengajaran, serta apa pula yang diajarkan mereka. Dalam beberapa sumber nampaknya memang tidak disebutkan. Kalaulah ada, ternyata pula bahwa masing-masing versi sumber menuturkannya dalam alur cerita maupun sudut pandang yang berbeda. Terdapat kecenderungan orang memahami cerita dari sumber babad secara harfiah, tetapi kecenderungan lain beranggapan bahwa banyak hal yang harus dipahami secara tersirat, oleh karena hal itu merupakan cerita sandi ataupun pasemon. Dalam hal ini, untuk memahami cara-cara yang dipergunakan oleh para guru Sunan Kalijaga dalam memberikan ajarannya maupun inti pelajarannya, sebagian pendapat dengan cara menafsirkan cerita sandi ataupun pasemon. Dalam hal ini, untuk memahami cara-cara yang dipergunakan oleh para guru Sunan Kalijaga dalam memberikan ajrannya maupun inti pelajarannya, sebagian pendapat dengan cara menafsirkan cerita sandi itu menyatakan antara lain sebagai berikut: dalam beberapa sumber diceritakan bahwa Sunan Kalijaga pada waktu muda senang berjudi, membegal orang, menjadi perampok dan mencuri. Semua itu sebenarnya hanya perlambang, Sunan Kalijaga seorang bangsawan yang senang sekali menambah pengetahuannya. Tidak peduli dengan cara mencuri, artinya jika ada orang memberi wejangan pada muridnya,  beliau pun ikut memperhatikannya. Dan itulah yang disebut “mencuri pengetahuan”. Cerita selanjutnya menyatakan, jika perlu Sunan Kalijaga menjadi perampok, yang dimaksud tidak lain masuk ke rumah orang yang kaya pengetahuan dan dengan paksa minta wejangan. Jika sudah memperolehnya lalu dijadikan bekal berjudi, artinya digunakan untuk mengadakan musyawarah atau perdebatan, yang sudah tentu ada kalanya menang. Jika kalah malah beruntung, oleh karena bisa mendapatkan pengetahuan yang belum diketahui. Oleh karena itu Sunan Kalijaga dikatakan orang senang berjudi, oleh karena dengan jalan demikian pengetahuannya menjadi bertambah banyak.

Kebetulan waktu Sunan Kalijaga beradu jago dengan Sunan Bonang, jago Sunan Kalijaga bernama ganden, jago Sunan Bonang bernama tatah. Masudnya, waktu Sunan Kalijaga berbantahan dengan Sunan Bonang pengetahuan Sunan Kalijaga masih kurang tajam. Oleh karenanya diibaratkan Ganden melawan Tatah. Oleh karena kekalahan Sunan Kalijaga mengancam dan membegal Sunan Bonang, dengan maksud mau membegal pengetahuannya. Waktu bertemu, Sunan Bonang diceritakan memakai pakaian dan perhiasan yang sangat berharga. Maksudnya adalah, Sunan Bonang ternyata menanggapi maksud Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga diberi beberapa keterangan ihwal kenikmatan tuhan yang berupa panca indera, yang diibaratkan berupa buah kolang-kaling yang telah berujud menjadi emas, intan berlian dan batu permata berharga, semua itu dari keindahan wejangan dan dari nikmatnya Sunan Kalijaga menerimanya. Sunan Kalijaga merasa terpikat, oleh karenanya Sunan Kalijaga lalu mengikuti Sunan Bonang. Sunan Bonang sendiri waktu melihat keinginan Sunan Kalijaga, lalu menerimanya menjadi muridnya, disuruh menjadi cantrik di pondok bersama santri yang lain. Itulah yang dimaksud tapa pendam, bertapa dengan memendam diri, artinya mencegah hawa nafsu dan tidak berhubungan dengan orang-orang yang pada umumnya melakukan perilaku maksiat. Selanjutnya, Sunan Kalijaga telah ditumbuhi gelagah dan alang-alang, artinya selama di pondok,  hati Sunan Kalijaga telah ditumbuhi banyak sekali pertanyaan yang belum dimengerti olehnya. Oleh karena itu, Sunan Bonang kemudian menebangi gelagah dan alang-alang itu, maksudnya adalah memberikan banyak sekali keterangan mengenai persoalan-persoalan yang timbul dalam hati Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merasa puas, kemudian disuruh bertapa di sungai, maksudnya tidak lain, Sunan Kalijaga disuruh mensucikan hatinya dengan air tauhid, agar supaya hatinya teguh, tidak terkena bujukan orang lain, tetap dan mantap hati dan perasaannya. Dalam suatu fragmen dituturkan bahwa atas perintah Sunan Ampel Denta, Sunan Kalijaga agar diberi wejangan tentang ilmu filsafat tinggi oleh Sunan Bonang. Ilmu itu diberikan di atas perahu di tengah rawa. Seekor cacing yang ada dalam tanah yang dipakai untuk menambal bagian perahu yang bocor ikut mendengarkan ilmu tersebut kemudian berubah menjadi manusia, dialah Syekh Siti Jenar. Yang dimaksud cacing dalam tanah tersebut adalah tukang satang yakni juru pendayung perahu. Hal itu karena sudah menjadi perlambang ibarat bahwa pada umumnya orang bodoh disebut termasuk jenis hewan. Akan tetapi jika telah pandai, berarti telah purnalah kemanusiaannya. Demikian itu pula halnya dengan juru pendayung perahu yang dimaksud itu, yang sebneranya tidak mengerti alif ba ta, akan tetapi begitu mendengar wejangna adiluhung berasal dari Al-Qur’an seketika itu juga sadar akan kemanusiaannya, malah menjadi manusia sejati.

Demikian masih banyak lagi berbagai penuturan dalam naskah babad yang manapun, yang mau tidak mau terpaksa harus menafsirkan apa saja maksud tersurat, oleh karena itu merupakan bahasa kinayah dan terkadang sulit untuk dicerna dengan akal sehat.

Adapun initi ajran yang pertama kali diwejang kepada Sunan Kalijaga sesampainya dipondok Bonang sebagaimana banyak disebut dalam banyak naskah kuno tentang Sunan Kalijaga, adalah ilmu “Sangkan Paraning Dumadi”. Ilmu ini pada dasarnya menerangkan soal:

a.    Dari mana asal-usul kejadian alam semesta seisinya, termasuk di dalamnya tentang manusia.

b.    Kemana perginya nanti dalam kelenyapannya sesudah adanya,

c.    Apa perlunya semua itu adanya sebelum lenyapnya nanti,

d.    Apa perlunya manusia itu hidup dan

e.    Apa hidup itu sejatiya. Ilmu sangkan paraning dumadi

Inilah yang kemudian juga menjadi wejangan Sunan Kalijaga kepada para putra-wayah dan para muridnya sebagai dasar dan permulaan segala wejangan-wejangan.

 

2.    Menjadi Wali

Menurut sumber naskah sejarah yang mana pun Sunan Kalijaga disebut sebagai salah satu waliyullah yang termasuk dalam walisongo. Kedudukannya sebagai seorang wali, menurut Babad Majapahit  dan Para Wali, dikukuhkan di hadapan Sunan Giri yang dianggap sebagai ketua para wali di jawa. Dengan demikian, penetapan sebagai wali itu sesuai dengan ramalan semula semenjak Sunan Bonang diutus oleh ayahnya, Sunan Ampel Denta untuk mencari dan mempertobatkan Sunan Kalijaga sebagai upaya mempercepat proses ke arah kedudukannya sebagai wali.

Sebagai waliyullah, Sunan Kalijaga termasuk orang yang dikasihi allah, sebagaimana pengertian waliyullah adalah “kekasih allah”, Oleh karena itu sebagiaman lazimnya para wali, Sunan Kalijaga memiliki “karamah” pemberian dari Allah berupa keunggulan lahir dan batin yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Di samping itu, sebagai tanda kewalian, ia bergelar “Sunan” sebagaimana wali-wali yang lain. Menurutu salah satu penafsiran, kaata “sunan” berasal dari bahasa Arab, kata jamak dair “sunnat” yang berarti tingkah laku, adat kebiasaan. Adapun tingkah laku yang dimaksud adalah yang serba baik, sopan santun, budi luhur, hidup yang serba kebijakan menurut tuntunan agama islam. Oleh karena itu, seorang sunan akan senantiasa menampilkan perilaku yang serba berkebajikan sesuai dengan tugas  mereka berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar, memerintah atau mengajak ke arah kebaikan dan melarang perbuatan munkar.

Peran Sunan Kalijaga dalam berdakwah tampak dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan agama secara langsung ataupun dalam pemerintahan dan kegiatan seni dan budaya pada umumnya.

Diantara kasus kegiatan yang berkenaan dengan keagamaan, sebagaimana banyak disebut dalam naskah babad, adalah kegiatan Sunan Kalijaga bersama-sama wali yang lain dalam mendirikan masjid agung demak. Sudah jelas bahwa fungsi masjid, di samping menjadi sarana peribadatan, juga dipakai sebagai pusat kegiatan dakwah ketika itu sehingga dirasakan perlu adanya, kendatipun sulit untuk menentukan secara pasti kapan masjid tersebut di dirikan. Banyak keterangan antar satu dengan yang lain saling bertentangan. Di antaranya pendapat-pendapat tersebut adalah:

1.    Menurut Candra Sangkala “naga Salira Wani” berasal dari gambaran petir di pintu tengah, adalah tahun 1388 saka atau tahun 1466 M.

2.    Ada yang mengatakn berdirinya masjid demak itu pada tahun 1401 saka, ataupun tahun 1479 M. berdasarkan gambaran binatang bulus (penyu) di dalam tembok pengimaman (mihrab) masjid demak, karena gambar bulus itu diartikan sebagai berikut:

Kepala bulus     : 1

Empat kaki     : 4

Badan Bulus     : 0

Ekor Bulus     : 1

 

3.    Ada lagi yang mengatakan, bahwa berdasarkan tulisan dalam bahasa jawa yang terpacang di pintu muka sebelah atas, bunyinya adalah “Hadegipun masjid yasanipun para wali, nalika tanggal 1 dulka’idah tahun 1428”, yakni bertepat dengan h ari kamis Kliwaon malam ju’at legi atau tahun 1501 M.

4.    Menurut “Serta Kanda”, jadinya masjid Demak pada thun 1328 saka atau tahun 1407 M. hal ini sebenarnya lebih tidak masuk akal, karena raden patah mulai menjadi raja adalah sekitar 1477 M. dengan demikian, jarak antara waktu mendirikan masjid (tahun 1407 menurut serat kanda) dengan diangkatnya menjadi raja (tahun 1477) adalah 70 tahun. Waktu 70 tahun adalah lam bagi jarak antara berdirinya masjid dengan diangkatnya menjadi raja. Yang lebih masuk akal adalah jarak antaramenetapnya raden patah di Glagah Wangi dengan saat mendirikan masjid serta menjadi raja itu dalam masa yang berurutan, dan dalam masa yang dekat atau tidak begitu lama.

5.    Menurut buku Babad Demak , berdirinya masjid Demak itu dapat diambil dari arti kata-kata “Lawang Trus Gunaning Janma”, yang menunjukkan angka tahun saka 1399 atau bertepatan dengan tahun 1477 M. keterangan ini kalu disesuaikan dengan gambar bulus, agak mendekati, karena mungkin tahun 1399 saka (=1477) itu sewaktu mulai meletakkan batu pertama, mulai membangun. Setelah dua tahun berjalan, maka jadilah masjid itu pada tahun 1401 Saka (=1479 M)sebagaimana yang dilambangkan dalam  gambar bulus, diperingati menurut Candra Sangkala Memet.

 

Masjid Agung Demak menjadi terkenal, tidak saja karena masjid ini dibangun oleh wali, tetapi karena salah satu saka gurunya terdiri dari serpihan kayu-kayu tatal karya dari Sunan Kalijaga yang dikenal dengan sebutan “soko tatal”. Keikutsertaan Sunan Kalijaga tidak hanya mengupayakan bahan-bahannya, tetapi juga ikut bermusyawarah sebelumnya.

Dituturkan dalam salah satu sumber bahwa pembangunan masjid Demak berjalan lancar, masing-masing wali mendapat tugs membwawa empat tiang besar, yaitu Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Purwaganda, Sunan Gunung Jati, Pangeran Palembang, Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Hanya Sunan Kalijaga sendirilah yang membawa tiga  buah. Jumlah semuanya delapan puluh tiga kurang satu, tatkala semuanya sudah siap, dan waktu mendirikan masjid tinggal satu hari, sementara saka guru kurang satu, maka Sunan Bonang menanyakan kepada Sunan Kalijaga akan tugasnya menyiapkan tiang saka guru itu. Sunan Kalijaga menyanggupinya, malam-malam menunggui orang mengapak (jawa:methel) kulit bagian luar, dikumpulkan serpihan-serpihan kayu itu, disusun, dilekatkan dengan lem Damar, kemenyan, blendok trembalo, lantas dibalut. Jadilah sebuah tiang dari tatal.

Adanya soko tatal ini adalah suatu kesengajaan, sebagai lambang kerohanian, bahwa pembuatan Soko tatal sebagai lambang kerukunan danpersatuan. Konon sewaktu mendirikan masjid agung demak, masyarakat Islam ditimpa perpecahan antara golongan, bahkan dalam bekerja mendirikan masjid itu pun terjadi perselisihan-perselisihan berbagai masalah kecil dan sepele. Sunan Kalijaga mendapat ilham, suasut petunjuk dari tuhan dan disusunlah tatal-tatal menjadi sebuah tiang yang kokoh.

Kasus lain juga bersamaan para wali yang lain adalah upaya memberantas ajaran akidah yang tidak benar atau pun sesat, yakni ajaran Pantheisme yang disebarkan oleh salah seorang yang semua termasuk dalam kelompok wali yaitu Syekh Siti Jenar. Dalam Serat Kandaning Ringgit Purwa maupun Babad Tanah Jawi dituturkan bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati di hadapan sidang pengadilan para wali, termasuk Sunan Kalijaga. Hukum itu dijatuhkan kepada Syekh Siti Jenar oleh karena pengakuannya bahwa dirinya adalah Allah. Ajarannya ten tang ketuhanan yang bersifat Pantheisme di pandang sangat membahayakan karena mengakibatkan masyarakat islam ketika itu meninggalkan Syara’. Faham itu disebut juga faham Wahdatul Wujud manunggaling Kawula Gusti.

Dengan kasus hukuman mati terhadap Syekh Siti Jenar tersebut, Sunan Kalijaga bersama wali lainnya tidak kompromi dengan keyakinan yang memang sangat membahayakan, meskipun pendekatan yang dipakai para wali dalam berdakwah juga dengan menggunakan pendekatan sufistik, tetapi sufisme yang diantu oleh Kalijaga bukanlah sufisme yang beraliran pantheisme, tetapi sufisme yang tetap menganut aqiah ahlussunah wal jamaah.

Sebenarnya pandangan Sunan Kalijaga jika dibanding dengan pandangan Sunan Ampel maupun Sunan Giri terhadap sisa-sisa keyakinan agama lama itu lebih toleran, dalam arti tidak mau memberantasnya seketika. Sunan Kalijaga berpendirian, bahwa rakyat akan lari begitu dihantam dan diserang pendiriannya. Dakwah harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Adat istiadat rakyat jarang terus diberantas, tetapi hendaknya dipelihara dan dihormati sebagai suatu kenyataan. Adapun cara merubah nya adalah sedikit-demi sedikit, member warna yang baru kepada yang lama, mengikuti sambil mempengaruhi yang nanti diharapkan bila rakyat telah mengerti dan paham akan agama akhirnya mereka akan membuang sendiri mana yang tidak perlu dan merombak atau menghilangkan sendiri mana yang tidak sesuai dengan agama. Para wali sebaiknya bertindak mengikuti dari belakang sambil mempengaruhi, atau mengikuti kebudayaan lama sambil mengisi jiwa Islam.

Sikap seperti itu telah pada berbagai karyanya yang kalau dilihat dari kacamata kebudayaan cenderung mengarah pada akulturasi antara kebudayaan lama dengan kebudayaan yang baru hasil kreasinya ke arah yang lebih islami. Sementara itu, kalau dilihat dari segi akidah, Sunan Kalijaga cenderung pada sinkritisme. Sebagai contoh, pendirian seperti itu tampak salah satunya pada penciptaan lambang gambar bulus di Mihrab masjid agung Demak yang bisa dipandang sebgai hasil karyanya, sebagaimana ide pembuatan soko tatal. Bulus adalah binatang yang hidup di dua alam di daratan dan di air, dan menurut masyarakat Islam hukumnya haram,tetapi mengapa gambarnya ditempatkan pada mihrab masjid yang justru tempat suci bagi orang Islam. Ternyata itu juga merupakan suatu bentuk kebijaksanaan berdakwah ketika itu dimana pemeluk agama lama di ingatkan bahwa di dalam masjid juga ada suatu lambang kesucian dan keabadian, sebagaimana kepercayaan agama lama (Budha) memandang bulus sebagai binatang suci. Hanya saja, kesucian dan keabadian dalam Islam diperoleh dengan cara melaksanakan shalat berbakti ke pada Allah Yang Maha Esa, biar hidup abadi di alam baqa nanti dengan bahagia.

Dalam media dakwah yang lain juga tampak sikap Sunan Kalijaga yang demikian itu, baik dalam penciptaan seni pakaian, seni suara, seni ukir, seni gamelan, termasuk juga kesenian wayhang. Bahkan terhadap kesenian wayang. Bahkan terhadap kesenian wayang ini Sunan Kalijaga dipandang sebagai tokoh yang telah menghasilkan kreasi baru, yaitu  dengan adanya wayang kulit dengan segala perangkat gamelannya. Wayang kulit ini merupakan pengembangan baru dari wayang b eber yang memang sudah ada sejak zaman Erlangga. Di antara wayang ciptaan Sunan Kaijaga bersama Sunan Bonang dan Sunan Giri adalah wayang Punakawa Pandawa yang terdiri dari semar, Petruk, Garang dan Bogong. Wayang itu sebagai media dakwah yang senantiasa dipergunakan oleh Sunan Kalijaga dalam kesempatan dawahnya di berbagai daerah, dan ternyata wayang ini merupakan media yang efektif, dapat mendekatkan dan menarik simpati rakyat terhadap agama. Kemampuan Sunan Kalijaga dalam mendalang (Memainkan wayang) begitu memikat, sehingga terkenalah berbagai nama samaran baginya dikenal dengan nam Ki Dalam Sida Brangti, bila mendalang  di Tegal dikenal dengan nama Ki Dalang Bengkok, tetapi bila mendalang di daerah Purbalingga terkenal dengan nama Ki Dalang Kumendung.

Peranannya dalam politik pemerintahan sudah dimulai sejak awal berdirinya kesultanan Demak sampai akhir Kesultanan itu. Bersama-sama dengan para wali yang lain, dalam suatu kelembagaan walisongo di mana salah seorang anggotanya adalah Sultan Demak sendiri, menunjukkan betapa penting peran wali ini dalam politik dan pemerintahan waktu itu. Dalam rangka dakwah Islam maka fungsi para waliyul amri itu adalah memberi nasihat tentang pelaksanaan tata pemerintahan agar senantiasa dijiwai roh Islam. Sebagai contoh, konon di antara wejangan Sunan Kalijaga teknik pembangunan kota Kabupaten maupun Kotapraja yang selamanya tampak di dalamnya terdapat empat bangun yaitu: 1) istana Keraton atau Kabupaten, 2) alun-alun, 3) satu atau dua pohon beringin, 4) masjid. Letaknya juga sangat teratur, yaitu letak kabupaten atau kraton selalu memangku alun-alun dengan pohon beringin di tengah alun-alun, membelakangkan gunung atau menghadap laut, dan letak masjid selalu di sebelah baratnya. Tata letak yang sedemikian itu di dasarkan atas falsafath baldatun thoyyibatun wa rabun Ghafur, negeri yang sejahtera diridhai oleh Tuhan. Akan tetapi peran para wali yang terdiri dari delapan orang waliyul amri dan seorang imam itu pada zaman kesultanan pajang sudah tidak berfungsi lagi, karena pada masa ke kesultanan ini lembaga walisongo telah dibubarkan dan diganti dengan lembaga baru yang terdiri dari seorang Sultan Dan delapan orang nayaka atau pelayanan.

3.    Akhir Hayat Sunan Kalijaga

Tidak jelas kapan Sunan Kalijaga wafat, tetapi secara umum masyarakat memaklumi bahwa makam Sunan Kalijaga berada di desa Kadilangu. Tiap tahun tanggal 10 Dzulhijah diadakan ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran dari Masjid Agung Demak ke makam Kadilangu. Memang Babad Tanah Jawi menuturkan kepindahan Sunan Kalijaga dari Cirebon ke demak dan menetap di Kadilangu. Kepindahan itu atas permintaan sultan. Setiap bulans ekali Sunan Kalijaga datang ke Demak dari tempat tinggalnya di Kalijaga, Cirebon. Dituturkan dalam buku itu bahwa yang menjemput adalah Sultan sendiri dengan disertai dua puluh ribu pengikut. Di Kadilangu pekerjaan Sunan Kalijaga mengajar mengaji agama Rasul, sehingga banyak pula murid yang menetap di dusun itu.

Akan tetapi adalah pendapat lain yang mengatakan bahwa Sunan Kalijaga dimakamkan di Cirebon. Kira-kira dalam jarak 2 ½ Km. Ke arah barat daya darikotad Cirebon di sana terdapat pula sebuah desa bernama Kadilangu. Di desa inilah Sunan Kalijaga dimakamkan dan memang desa itu pula merupakan tempat tinggal resmi sewaktu beliau masih hidup. Makam Sunan Kalijaga dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan ramai diziarahi orang sebagai mana makma di Kadilangu Demak. Mereka yang mempercayai bahwa Sunan Kalijaga di makamkan di Cirebon mengajukan bukti bahwa masjid kesepuhan alun-alun Cirebon terdapat soko tatal seperti halnya yang terdapat di Demak. Dan menurut kepercayaan mereka, yang dimakamkan di Kadilangu Demak itu hanyalah benda-benda peninggalan nya saja. Beberapa sumber yang membenarkan keterangan itu antara lain:

1.    Serat Sejarah Banten, oleh Prof. Dr. R.A. Hoesein Djajadiningrat.

2.    Serat Walisongo, dari Sadu Budi, 1955

3.    Serat Syekh Malaya, dari Musium Sana Pustaka

4.    Babad Cirebon, Penghulu Abdul Qohar

5.    Kitab Wali Sepuluh, oleh Tan Koen Swie, 1950

6.    Menurut K.G.P.H. Hadiwijaya, Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang berasal dari harjamukti, sebuah dusun yang berjarak kira-kira 2 ½ Km. Sebelah selatan kota Cirebon. Ia menetap di dusun itu dan dimakamkan di sana pula.

Kenyataan adanya dua makam bagi Sunan Kalijaga bukanlah merupakan hal yang mengherankan, karena beberapa tokoh wali yang lain dipercayai oleh masyarakat mempunyai makam di berberapa tempat. Namun, menurut para ahli, bila terdapat makam dari satu pribadi di dua tempat, maka jasad nya tetap dimakamkan di satu tempat saja, sedangkan makam yang lain hanyalah merupakan petilasan atau penguburan barang-barang peninggalan tokoh yang bersangkutan.

 

Catatan Kaki

 

1.    Lembaga Riset dan Survai IAIN Walisongo semarang, Bahan-bahan Sejarah Islam di Jawa Tengah Bagian Utara, Laporan Penelitian, 1982, hlm. 17

2.    Amen Budiman, Walisanga Antar Legenda dan Fakta Sejarah, Penerbit Tanjung Sari, Semarang, 1982, hlm. 69

3.    Ibid, hlm. 70

4.    Lembaga Research & Survey IAIN Walisongo Semarang, Op.Cit, hlm. 17

5.    Umar Hasyim, Sunan Kalijaga, Penerbit Menara, Kudus, 1974, hlm. 4

6.    Ibid,

7.    Ibid, hlm. 5

8.    Ibid, hlm. 9

9.    Ibid, hlm 10-11

10.    Amen Bidiman, Op.Cit, hlm, 66-69

11.    Ki M.A. Machfoed, Sunan Kalijaga, Jilid I, Penerbit Yayasan An-Nur, Yogyakarta, 1970, hlm. 23-24

12.    Amen Budiman, Op.Cit. hlm. 68

13.    G.P.H. Hadiwidjoyo, Kalidjaga, Saresehan Radyapustaka, Surakarta, 7Mei 1956, hlm. 5

14.    Ibid, hlm. 14-16

15.    Ibid, hlm. 8

16.    Ibid, hlm. 13

17.    Ki M.A. Machfoed, Op. Cit. hlm. 14-17

18.    Ibid, hlm. 19

19.    Amen Budiman, Op. Cit. hlm. 69

20.    Ki M.A. Machfoed, Op. Cit, hlm. 21

21.    Amen Budiman, Op. Cit. hlm. 18

22.    Ki. M.A. Machfoed, Op. Cit. hlm. 18

23.    Umar Hsyim, Op. Cit. hlm. 67

11 Agustus 2012

AL-QURAN & MODERNISASI

oleh alifbraja

Titik simpul pertautan Alquran dengan modernisasi terletak pada penggunaan akal pikiran manusia. Baik Alquran maupun modernisasi sangat mengagungkan akal pemikiran atau dimensi rasionalitas.

Perbedaannya, kalau modernisasi mengagungkan akal pikiran secara absolut sedangkan dalam Alquran akal pikiran itu memperoleh bimbingan wahyu.

Modernisasi adalah sebuah era tercapainya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat penting untuk diapresiasi oleh seluaruh umat manusia, khususnya umat Islam. Dalam modernisasi, yang sangat penting adalah bagaimana melakukan transformasi ilmu pengetahuan modern guna menalar Alquran secara historis. Dengan lain perkataan, memahami Alquran secara historis, korelasinya dengan perubahan sosial kehidupan yang sangat cepat di era globalisasi dan modernitas dewasa ini memiliki signifikansi yang sangat penting.

Dimensi historis ini tidak bisa diabaikan. Tujuannya agar manusia, khususnya umat Islam, tidak terjebak pada kongklusi-kongklusi parsial dan apologi-apologi. Alquaran memiliki karakteristik yang sangat khas dan berbeda dibandingkan dengan dokumen lain yang merupakan hasil kreasi umat manusia. Pendek kata, Alquran memiliki dimensi historis, ruang, dan waktu yang berbeda. Oleh karena itu, bacaan kita terhadap Alquran membutuhkan pengetahuan yang bersifat interdispliner. Apalagi, kalau kita berupaya untuk menghubungkan atau mencari korelasi antara Alquran dan modernisasi. Tidaklah mudah mencari pertautan antara keduanya.

Secara epistemologis, Alquran merupakan kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Salah satu fungsinya sebagai petunjuk bagi umat manusia, hudan li al-Nas dan orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah/2: 1-2, 185), terutama untuk mengetahui dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu, sebagai petunjuk dan secara ontologis Alquran hanya bersifat global. Konsekuensi logisnya, jika ada persoalan kehidupan yang penjelasannya tidak ditemukan di dalam Alquran maka tugas manusia itu sendiri untuk mencari jawabannya. Dengan lain perkataan, Alquran hanya memberi landasan-landasan moral atau petunjuk yang bersifat global.

Secara historis Alquran turun untuk merespons berbagai problematika sosial kehidupan yang terjadi di dalam masyarakat Arab saat itu, memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau memberi ketetapan hukum sebagai doktrin teologis yang harus ditaati. Sementara proses turunnya, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abbas yang dikutip Al-Sayuti dalam Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, melalui dua tahapan: turun secara serentak di lauh al-mahfudz menuju langit bumi dan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.

Di antara hikmah turunnya Alquran secara bertahap ini agar materi hukum Tuhan itu dapat diterapkan secara evolutif sesuai dengan kondisi objektif sosio-kultural masyarakat. Pada sisi yang lain, secara teknis materi Alquran akan lebih mudah dipahami, dihafalkan, maupun proses penerapan hukum-hukumnya akan lebih mudah untuk diterima. Inilah argumen logis bahwa Tuhan, dalam konsep Islam, tidak menghendaki sesuatu yang menyulitkan kehidupan umat manusia (QS Al-Baqarah/2: 185).

Perlu dicatat bahwa mengubah perilaku atau tradisi sosial yang sudah mapan itu tidak mudah. Seperti untuk menghapus sistem perekonomian yang eksploitatif dengan sistem riba misalnya paling tidak dibutuhkan tiga ayat untuk menjelaskan, yaitu: QS Al-Nisa/4:160-161, QS Al-Imran/3: 130 dan QS Al-Rum/30:39). Demikian halnya dengan tradisi minuman keras. Untuk menghapus tradisi ini, Alquran melibatkan empat ayat, yaitu: QS Al-Nahl/16:67, QS Al-Nisa/4:43, QS Al-Baqarah/2:219 dan QS Al-Maidah/5:90-91). Artinya, meskipun Alquran tidak menjelaskan secara detail tentang sistem-sistem sosial kehidupan, seperti mekanisme politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya, tidak secara otomatis sistem-sistem sosial kemasyarakatan itu tidak ada di dalam Alquran. Justru inilah satu entry point penting Alquran yang memberi rangsangan berkembangnya kecerdasan intelektualitas atau terciptanya dinamika sosial kehidupan. Dengan terbatasnya ayat-ayat yang mengatur mekanisme sosial berarti Tuhan memberi peluang kepada akal pikiran manusia untuk mengatur dan menentukan model-model relasi sosial kehidupannya yang lebih luas sesuai dengan perkembangan sosio-kultural dan peradabannya.

Pendek kata, Alquran bukanlah dokumen yang sarat dengan detail-detail hukum sosial melainkan sebuah buku yang mengandung prinsip-prinsip dasar dan moralitas kemanusiaan universal. Penting penulis tegaskan bahwa semakin banyak hukum absolut yang mengatur pola kehidupan, maka ritme peradaban manusia akan menjadi sangat kaku dan statis. Stagnanasi peradaban ini sangat dimungkinkan apabila doktrin teologis menjadi sangat taken for granted.

Dalam perspektif ini, siapapun, sesungguhnya tidak bisa mengklaim bahwa Alquran merupakan sumber segalanya, apalagi mengatakan sarat dengan teori-teori sains (science theory). Menurut penelitian para ahli, ayat Alquran yang berbicara tentang sains hanya sekitar 150 ayat. Menurut pandangan ini, ayat-ayat tersebut secara paradigmatik tidak cukup untuk dijadikan dasar pemikiran bahwa Alquran merupakan kitab yang sarat dengan teori sains, apalagi teknologi modern yang di dalamnya sarat dengan detail-detail. Lebih tepat, jika dikatakan bahwa Alquran itu mengandung motivasi atau prinsip-prinsip moral yang bersifat normatif untuk melakukan aktivitas sains dan teknologi.

Pertautan Alquran dengan modernisasi
Titik simpul pertautan Alquran dengan modernisasi terletak pada penggunaan akal pikiran manusia. Baik Alquran maupun modernisasi sangat mengagungkan akal pemikiran atau dimensi rasionalitas. Perbedaannya, kalau modernisasi mengagungkan akal pikiran secara absolut sedangkan dalam Alquran akal pikiran itu memperoleh bimbingan wahyu.

Menurut Alex Inkeles (1986:90-93), manusia dapat dikategorikan sebagai modern, jika bersedia menerima dan terbuka terhadap pembaharuan atau perubahan, mampu bersikap demokratis dan bersedia menerima bentuk keragaman realitas sosial yang niscaya. Pandangan hidup masyarakat modern senantiasa difokuskan pada masa kini dan masa depan, memiliki perencanaan hidup, menjunjung tinggi kemampuan manusia, dapat memperhitungkan waktu bahwa proses kehidupan ini ditentukan bukan karena nasib.

Di samping itu, orang atau masyarakat modern memiliki harga diri dan bersedia untuk menghargai orang lain, percaya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki prinsip keadilan. Kategorisasi manusia modern dalam pandangan Alex ini tanpa menafikan pandangan yang lain sejatinya memiliki kesesuaian dengan prinsip-prinsip kehidupan yang terkandung di dalam Alquran.

Akan tetapi, umat Islam sendiri terkesan sangat lamban dalam merespons permasalahan-permasalahan kontemporer dan tidak jarang terjebak pada pemikiran-pemikiran simplistis yang bersifat apologi. Memang, persoalan umum yang terus dirasakan umat Islam, paling tidak di kalangan kaum intelektualnya adalah fenomena tidak singkronnya antara Islam sebagai doktrin dan prilaku umat dalam realitas sosialnya. Fenomena inilah yang melahirkan modernisme di dalam dunia Islam.

Islam modernis mencoba melihat kembali persoalan-persoalan yang dihadapi umat dan bersikap apresiatif terhadap kamajuan yang dicapai dunia Barat, seperti semangat untuk mengembangkan rasionalitas, kerja keras, cinta terhadap sains dan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya yang merupakan kata kunci kemajuan masyarakat Barat selama ini. Fazlur Rahman dalam Islam: Past Influence and Present Challenge (1979:315-125) mengkategorikan gerakan pemikiran Islam menjadi revivalisme awal, neo-revivalisme, modernisme klasik, dan neo-modernisme.

Pertanyaannya, mengapa umat Islam terkesan tidak akomodatif dan bahkan antipati terhadap pola hidup dan pemikiran-pemikiran Barat, tentu saja pemikiran positif yang tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam? Padahal, semangat inilah yang pernah mengantarkan kemajuan dunia Islam pada abad pertengahan, ketika masyarakat Barat masih terbelakang.

Namun demikian, kita harus tetap optimistis untuk masa yang akan datang karena kaum Islam modernis tampak semakin apresiatif terhadap perkembangan modernisasi dan masyarakat secara umum mulai banyak yang berpendidikan. Meminjam penjelasan Alex Inkeles (1986:91), semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin terbuka lebar kemungkinan negaranya menjadi maju di masa depan. Pendidikan merupakan salah satu elemen faktor yang memberi angin segar bagi proses perubahan dan perkembangan menuju terciptanya masyarakat yang civilized.

%d blogger menyukai ini: